Danton
Goenawan Mohamad ;
Esais,
Mantan Pemimpin Redaksi Majalah Tempo
|
TEMPO.CO.ID,
06 April 2015
Betapa
meletihkannya politik. Terutama bagi mereka yang tak bisa bertahan dalam
antagonisme. Menjelang sore 5 April 1794, di Paris, seorang tokoh revolusi
yang kalah dalam pertarungan digiring untuk dihabisi guillotine. Dalam
perjalanan ke pemancungan ia berkata, "Ah, lebih baik jadi seorang
nelayan miskin ketimbang ikut campur dalam pemerintahan manusia."
Danton, pada
umur 34 tahun, mati dengan rasa capek politik. Sejak muda ia aktif, dan
berkembang dari seorang advokat muda dari perdusunan di Champagne jadi tokoh
Revolusi Prancis di Paris -- Revolusi yang ia kobarkan dan akhirnya
membinasakan dirinya sendiri. Bakat terbesarnya menggerakkan massa dengan
pidato yang bergelora dan bergema. Ketika pasukan Prusia masuk ke wilayah
Prancis untuk mencegah revolusi menjalar ke seluruh Eropa, Danton datang
berseru dengan pekik peperangan yang kemudian ditirukan di mana-mana:
"Berani, sekali lagi berani, selalu berani!"
Maka pasukan
Prusia pun dipukul balik, dan Prancis baru lahir: sebuah negeri yang bukan
milik raja, melainkan milik tiap warga, citoyen, yang siap mempertahankannya.
Prancis dan
revolusinya mengukuhkan diri dalam format dan semangat itu. Danton terjun di
dalamnya, membujuk atau membakar semangat para warga -- dan dengan itu
membinasakan musuh. Suatu saat, sekitar 1.400 orang disekap dan kemudian
dibantai atas nama rakyat. Danton membantah ia berada di balik pembunuhan
itu. Tapi waktu itu ia menteri kehakiman dan ia tak mencegah kekerasan selama
tiga hari itu. Bahkan ia mengatakan, "Aku tak peduli dengan para tahanan
itu. Rakyat telah bangkit. Mereka telah bertekad mengambil alih hukum ke
tangan mereka."
Gerak yang
gemas rakyat melawan ketidakadilan -- dengan kata lain: politik -- di
hari-hari itu jadi antagonisme yang tak pernah reda. Musuh selalu ada, selalu
diciptakan, militansi digembleng, "Montagnard" melawan
"Girondin", "Kiri" melawan "Kanan". Retorika
jadi buas. Musuh Danton menyebutnya "ikan gendut yang disumpal"
yang harus dirobek perutnya, dan sang orator membalas: ia akan ganyang otak
si lawan dan berak di tengkoraknya.
Tapi berbeda
dengan banyak orang di masa yang disebut "Teror" itu, Danton lebih
sering hanya melontarkan kata-kata. Ia jarang melaksanakan ancamannya. Dalam
hidup pribadinya, ia orang yang hangat, suka bersenang-senang, mau
mendengarkan orang lain -- dan juga pandai cari celah dalam pergaulan untuk
meningkatkan posisi. Ia pintar merayu. Tapi diam-diam ia juga orang yang
mudah mengalami depresi dan menyimpan pesimisme tentang masa depan Revolusi.
Ia tak amat teguh memegang prinsip: sebagai seorang tokoh Revolusi, ia
seharusnya menolak segala bagian Gereja Katolik, tapi ia menikahi Louise
dengan pemberkatan pastor. Ke dalam ia lunak, ke luar ia keras.
Danton tahu
bahwa politik adalah apa yang ditampakkan ke luar, ke mata publik. Politik
perlu pentas. Ketika ia datang untuk mengucapkan pekik peperangannya yang
terkenal itu, ia mengenakan kostum istimewa: sebuah jas panjang merah darah.
Sampai akhir hayatnya ia menyadari perlunya ditonton dan pentingnya penonton.
Menjelang lehernya ditebas dan kepalanya lepas disaksikan orang ramai di
lapangan eksekusi itu, ia berpesan kepada algojonya: "Tunjukkan kepalaku kepada orang ramai itu: ada nilainya."
Kepala yang
copot dan berlumur darah itu jauh dari menarik. Danton bukan lelaki rupawan.
Di masa kecil, hidup di peternakan kakeknya di perdusunan Champagne, ia
beberapa kali terluka: bibirnya robek dan hidungnya retak diseruduk sapi jantan,
pipinya berbekas luka, juga pelupuk matanya, diterjang barisan babi. Kemudian
cacar menyerangnya. Dengan tubuh tambun dan muka buruk, Danton menemukan
kelebihannya dalam hal lain yang juga untuk ditampilkan: kecakapannya berbicara.
"Danton,
bibirmu punya mata."
Kalimat itu
diucapkan Marion, seorang pelacur simpanan Danton, dalam lakon Georg
Büchner, Kematian Danton (Dantons Tod),
yang ditulis pada 1835. Pada umur 21 tahun, dramawan Jerman ini sanggup
menampilkan paradoks tokoh Revolusi Prancis itu secara puitis dan mendalam.
Kalimat di Babak Ketiga itu, "bibirmu punya mata", mengungkapkan
bagaimana fasihnya mulut Danton menangkap dan mengungkap keadaan, dan
bagaimana pula bibir itu pandai mengeluarkan kata-kata yang mengenai sasaran.
Dengan kata lain: kata-kata Danton adalah peranti politik sebagai
antagonisme.
Tapi juga
kalimat itu menunjukkan sisi lain orang ini: bibir itu menandai sesuatu yang
selamanya mencari sasaran untuk dikecup dan dikulum -- bagian tubuh yang
sensual, yang selalu mencari kenikmatan.
Tubuh, bagi
Danton yang ditampilkan Büchner, bisa menjangkau dunia lebih pas ketimbang
rasio. Ia menghargai tubuhnya, sebagai ia menghargai seorang gadis yang
selamanya menari.
Di babak
terakhir lakon Büchner, di malam menjelang Danton digiring ke lapangan
guillotine, ia mendengar detak jam dengan resah. "Tiap kali detiknya
berbunyi, aku merasa tembok makin menjepitku, sesempit peti mati. Aku merasa
membusuk. Bangkaiku sayang. Aku tutup hidungku dan berpura-pura melihatmu
seperti seorang gadis yang berkeringat bau sehabis menari, dan aku
memujimu."
Dalam paradoks
antara politik yang terlihat di pentas dan tubuh yang menari sendiri, Danton
berangsur-angsur lelah. Sebagaimana tercatat dalam biografinya, ia memang
berkali-kali ingin istirahat. Ia ingin kembali ke perdusunan Champagne. Ia
ingin jadi nelayan yang tak berpunya.
Yang
dilupakannya ialah bahwa nelayan yang miskin itu tiap kali bisa ketabrak dan
merasakan sakitnya ketidakadilan. Dan dengan itu politik bergerak. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar