Tampilkan postingan dengan label Refleksi Hari Natal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi Hari Natal. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Desember 2013

Kebersamaan Natal

Kebersamaan Natal
Putu Setia  ;   Wartawan Senior Tempo
TEMPO.CO,  26 Desember 2013




Ritual Natal sudah berlalu. Yang tersisa adalah rangkaian perayaannya yang lebih bersifat silaturahmi. Tentu tak ada kata terlambat untuk mengucapkan "Selamat Hari Raya Natal" kepada umat Nasrani, semoga bumi ini semakin damai dan persaudaraan tetap abadi.

Mengucapkan selamat Natal bagi saya tak ada masalah. Saya menyampaikan selamat kepada orang lain, bukan kepada diri sendiri. Artinya, yang khusyuk dengan ritual Natal itu orang lain. Saya hanya berdoa agar mereka selamat dalam menunaikan ibadah itu, tanpa ikut ritualnya. Bukankah sangat wajar dalam pergaulan modern? Saya sebut pergaulan modern karena, saya amati di desa-desa, ucapan formal begini tak penting amat. Yang suka formal itu gubernur, bupati, ketua DPRD, dan seterusnya, dengan memasang iklan di media massa. Sekarang, pada saat menjelang pemilu, para calon legislator pun mengobral ucapan selamat itu di spanduk-spanduk sambil memajang tampang mereka.

Di pedesaan, jika penduduknya beragam keyakinan, ada silaturahmi yang sangat menonjolkan kearifan lokal. Di Bali, misalnya, di desa yang penduduknya beragam agama, perayaan hari keagamaan apa pun seperti dimiliki oleh seluruh warga. Sehari menjelang Natal, umat Kristiani mengantar makanan kepada pemeluk Hindu. Tradisi ini disebut "ngejot", arti sesungguhnya adalah "membawa oleh-oleh makanan ke tetangga". Pada hari menjelang Galungan, umat Hindu yang "ngejot" ke pemeluk Kristen atau Katolik. Tradisi "ngejot" antara umat Nasrani dan Hindu lebih semarak lantaran tak mengharamkan daging babi, dan jenis masakan pun hampir sama. Tak berarti di kalangan umat muslim Bali diharamkan "ngejot" atau menerimanya. Warga muslim di Kepaon (Denpasar), Pegayaman (Buleleng), dan Melaya (Bali Barat), yang komunitasnya berbudaya Bali, melestarikan juga tradisi "ngejot" ini dengan makanan yang disesuaikan ajaran agamanya.

Yang ingin saya katakan adalah budaya itu tetap bisa lestari sesuai dengan warisan leluhur meski agama atau keyakinan berbeda-beda. Umat Kristiani di Bali pergi ke gereja yang berukir ornamen Bali, datang dengan berkain adat Bali lengkap dengan destarnya. Tentu saja, karena mereka orang Bali. Dan pakaian adat plus destar itu bukanlah "pakaian agama tertentu", itu budaya lokal. Tak ada "pakaian Hindu". Umat Hindu Jawa tak memakai destar jika sembahyang, apalagi umat Hindu Kaharingan atau etnis India. 

Sebaliknya, dengan menghormati budaya lokal, banyak pejabat yang datang ke Bali mengenakan pakaian adat Bali, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang gambarnya banyak terpajang di baliho sekarang ini. Tak ada yang menyebut Presiden Yudhoyono mengenakan "pakaian Hindu" dan saya yakin keimanan Presiden tak sedikit pun ternoda oleh kekhasan budaya lokal ini.

Budaya Nusantara begitu beragam, indah nan mempesona. Budaya yang datang dari luar memang tak bisa dibendung dalam era global ini. Budaya Timur Tengah atau budaya India, misalnya, boleh saja diimpor dan beradaptasi dengan budaya lokal. Tapi, memaksakan budaya itu untuk dipakai dengan dalih bahwa dari negeri itulah asal muasal agama dan turunnya kitab suci agaknya berlebihan. Ajaran agama harga mati untuk pengikutnya, tapi budaya lokal yang tak bertentangan dengan ajaran agama tentu berhak dilestarikan. 

Dengan tetap melanggengkan budaya lokal sembari memberikan kebebasan umat dalam memeluk keyakinan,  hari-hari raya keagamaan seperti milik bersama. Dan itulah yang terasa pada setiap Natal di Tanah Air ini, khususnya di Bali, ada kebersamaan pada hari yang kudus itu, sebagaimana kebersamaan pada Idul Fitri dan hari raya Hindu. ●

Solidaritas dari dalam Kandang

Solidaritas dari dalam Kandang
Ida Bagus Made Nada  ;   Anggota Dewan Paroki St Clara, Bekasi
KORAN JAKARTA,  25 Desember 2013

  

Saat ini, para elite ramai-ramai duduk di tahta untuk dilayani. Para birokrat pun tidak kalah. Mereka juga berada di singgasana menanti pelayanan.
Ya, sangat disayangkan banyak pejabat publik atau kaum elite yang tidak tahu posisinya bahwa mereka itu pelayan, tetapi pada kenyataannya justru hadir minta dilayani. Hal ini bertolak belakang dengan kehadiran Yesus Sang Penebus yang datang untuk melayani.

Dia hadir bukan untuk dilayani, melainkan melayani. Kelahiran Yesus di dalam kandang hewan yang bau, dingin, dan pengap merupakan bentuk paling nyata dari sebuah kisah solidaritas dengan kaum papa. Solider dengan mereka yang terbuang, tidak punya papan untuk tinggal, kedinginan, dan kelaparan.

Allah hadir dalam bentuk Putra Manusia untuk merasakan sendiri hidup terbuang, diasingkan, dan bahkan diancam. Sebagaimana diceritakan, Herodes Agung memburu bayibayi mungil di Bethlehem untuk dibunuh.

Dia marah karena tidak dapat menemukan bayi Yesus untuk dibunuh. Herodes lalu memerintahkan untuk memenggal seluruh bayi laki-laki di daerah tersebut dengan harapan salah satunya adalah Yesus. Itulah genosida pertama penguasa kepada rakyatnya.

Sekarang ini, apakah praktik genosida masih berjalan? Tentu saja praktik "pembunuhan besar-besaran" tetap berlangsung di dunia ketika para penguasa membiarkan rakyat miskin mati kelaparan, sementara mereka berfoya-foya menghabiskan anggaran.

Para elite terlibat "genosida" karena tanpa malu-malu mereka korupsi bersama teman, sanak saudara, dinasti, bahkan dengan anak, istri, dan suami, uang yang seharusnya untuk menyejahterakan rakyat.

Dana untuk pemberdayaan masyarakat beralih ke kantong sendiri, keluarga, dan teman-teman. Manusia telah menjadi "Herodes- Herodes Agung" ketika mereka tidak berbela rasa kepada kaum kesrakat.

Manusia tidak lagi peduli dan empati kepada orang miskin karena kehidupan dunia semakin menjadi "sesembahan". Kehidupan dunia telah menjadi berhala baru dan menutup hati bagi orang-orang yang berkekurangan. Harta dan kekayaan dunia menjadi tujuan hidup itu sendiri.

Manusia lupa bahwa mereka seharusnya kembali kepada Sang Pencipta, akan tetapi mereka malah menuju kepada dunia. Maka, Natal ini merupakan peluang terbaik bagi setiap manusia untuk kembali menimba kebeningan dan kebersihan hati agar dimurnikan lagi, dilahirkan kembali berkat pengorbanan dan solidaritas Sang Bayi di Betlehem.

Natal kali ini harus menjadi pilihan manusia untuk merefl eksikan kembali makna kehidupan, kembali menggeluti hidup suci. Manusia harus menimba semangat solidaritas dari dalam gua yang sunyi, sepi, dan bau.

Ini analogi bahwa manusia harus kembali menjadi sepi ing pamrih rame ing gawe (kerja keras tanpa pamrih) dan sunyi dari keinginan berlebih yang bukan haknya serta mau berkotor-kotor melayani masyarakat yang bau (orang yang bau biasanya adalah orang miskin), Kehidupan dunia semakin memprihatinkan karena tambah menjauh dari "gua" yang sunyi, tenang, mungkin juga dingin, tetapi di situlah ditemukan keabadian.

Namun, manusia justru memilih kefanaan dengan memuja hidup duniawi. Glamouria uang telah menjerumuskan banyak anak manusia ke dalam kegelapan korupsi. Mereka terjerat ke dalam kesenangan sesaat, tidak abadi.

Hidup menjadi semakin indiviualistis dan materialistis. Semua diukur demi kepentingan sendiri. Materialistis dalam artian orientasi hidup adalah mengejar kekayaan duniawi. Dalam semangat ini, mereka tak segan menyingkirkan saingan yang mengganggu tujuan.

Reorientasi 

Natal ini hendaklah menjadi titik balik reorientasi cara hidup dari berfokus pada sentrum diri sendiri harus diarahkan demi mementingkan sesama. Reorientasi harus menjadi fokus penimbaan kesederhanaan makna Natal. Kembalikan seluruh harta yang diambil dengan tidak legal kepada mereka yang berhak.

Hanya dengan melepaskan hartaharta ilegal, hidup menjadi lebih bersih. Itulah semangat Natal sesungguhnya: berbagi. Bagikan kepada sesama yang miskin dan papa harta benda yang dimiliki agar manusia tidak terlalu lekat pada milik. Berbagi harus menjadi buah reorientasi dari hidup tamak menjadi sosial, dari kedengkian menjadi pembagi kegembiraan.

Hendaklah dunia bersukacita karena telah datang Anak Manusia yang dinanti-nantikan sebagai juru bebas kelekatan manusia pada dunia. Dia datang untuk mengambil kembali milik-Nya, yaitu manusia, dari cengkeraman dunia. Manusia telah dibajak dunia dari tangan Allah.

Untuk itu, Allah mengutus Putra-Nya untuk menebus manusia. Anak Manusia menjadi tebusan dengan mengorbankan diri demi mengambil manusia dari gadai. Manusia telah tergadai dalam dosa, tergadai ke dunia. Hanya, tidak semua menyadari bahwa kehadiran-Nya untuk menyelamatkan, membebaskan, dan menebus.

Maka tidak sedikit manusia yang menolaknya. Bahkan, mereka berusaha membunuhnya seperti diwakili bangsa Yahudi tempo dulu. Herodes Agung menjadi potret nyata manusia yang menolak diselamatkan.

Dia semakin dalam terjerembap ke dalam cengkeraman dunia karena terbelenggu kekuasaan. Dia menjadi gambar asli manusia yang berorientasi pada kekuasaan sehingga hatinya tak dapat melihat kedatangan Juru Selamat.

Hidup dengan semangat baru merupakan jawaban nyata dari tiap manusia dalam menyambut Natal. Hidup baru haruslah menjadi habitus dengan lebih peduli, lebih berbela rasa, dan lebih murah hati kepada sesama. Dengan kata lain, manusia harus meninggalkan hidup lama sebagai pendosa yang rakus, tamak, korup, dan iri hati serta intoleran.

Natal adalah toleransi Yang Mahatinggi kepada manusia lemah. Maka Natal juga harus menjadi tempat menimba ilmu toleransi bangsa Indonesia agar semakin sadar bahwa sesama harus diperlakukan sebaik mungkin.

Bangsa yang tidak toleran tidak perlu mengaku sebagai masyarakat agamis. Sebab kaum beragama mutlak bertoleransi. Marilah merayakan Natal agar bisa bertoleransi, ber-tepo seliro dan berserah diri. Selamat Natal. ●

Rabu, 25 Desember 2013

Kabar Baik bagi yang Kecil

Kabar Baik bagi yang Kecil
Tom Saptaatmaja  ;   Teolog,
Alumnus STFT Widya Sasana Malang dan Seminari St Vincent de Paul
KORAN SINDO,  25 Desember 2013
  


Tema Natal Bersama PGIKWI 2013 adalah ”Datanglah, ya Raja Damai”. Tema ini mengandung kerinduan agar Yesus, Sang Raja Damai, berkenan datang di dunia yang tidak damai dan penuh masalah ini.

 Damai pun mungkin hanya utopia karena untuk mewujudkannya butuh beberapa syarat di antaranya tercipta lebih dahulu kesejahteraan, keadilan, dan tidak ada jurang kaya dan miskin. Tidak heran, untuk mewujudkan damai, apalagi damai sejati, tampaknya mustahil. Dalam level individu, jangankan berdamai dengan orang lain. Berdamai dengan diri sendiri pun sulit. 

Banyak yang tidak damai lalu memilih bunuh diri. Baru-baru ini ada seorang polisi di Nganjuk memilih bunuh diri setelah mencuri dompet tetangganya senilai Rp600.000. Ironis, seorang aparat keamanan yang seharusnya memperjuangkan keamanan atau perdamaian justru merasa damai dalam dirinya sendiri. 

Potret Kegalauan 

Di media pula kita bisa membaca berita seputar kegalauan banyak orang, khususnya ”wong cilik” . Perasaan galau berarti hati merasa gelisah, cemas, dan tidak damai. Maklum, harga-harga kebutuhan pokok semakin mencekik leher karena uang di dompet tak mencukupi lagi. Yang kelas menengah pun sama galaunya karena inflasi tinggi membuat gaji mereka tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan selama sebulan, apalagi yang punya banyak keinginan dan gemar bergaya hidup mewah.

Pertengahan bulan bahkan ada yang galau, lalu memilih jalan pintas dengan utang, entah lewat kartu kredit atau menodong teman. Yang duduk di birokrasi memilih tetap korupsi. Dunia kita hingga penghujung 2013 ini memang tetap sebuah dunia yang galau. Mau berharap kepada politisi atau wakil rakyat untuk meredakan galau juga tambah repot. Politisi kita lebih sibuk membuat manuver politik untuk Pileg dan Pilpres 2014. Mereka lebih fokus mencari dana buat biaya kampanye citra daripada meringankan beban warga. 

Sedangkan para kepala daerah terus dipenuhi hasrat menumpuk kekayaan lewat cara korupsi atau sibuk membangun dinasti politik lewat praksis politik yang tak beretika. Makin menjadi lengkaplah penderitaan ”wong cilik” atau orang-orang kecil. Sebagian umat Kristiani pun merasakan nuansa ”blue Christmas” (Natal yang sendu dan galau), padahal Natal seharusnya dirayakan dengan sukacita. Sayang, sukacita itu hanya menjadi milik para pedagang yang bisa memanfaatkan momentum Natal. 

Di berbagai mal tersedia pohon, kue, dan berbagai pernak-pernik Natal. Di kota besar seperti Jakarta atau Surabaya juga tersedia busana atau hidangan Natal sekali makan seharga Rp10 juta. Penulis jadi ingat salah satu lagu almarhum Gombloh, penyanyi legendaris Surabaya yang berkisah tentang seorang gelandangan yang hanya bisa melihat semua kemewahan kota dengan tatapan kosong serta tubuh menggigil akibat kehujanan. 

Kisah Dostojewskij 

Lagu Gombloh itu mengingatkan pula pada kisah Dostojewskij, tentang seorang anak gelandangan yang kedinginan di Pettersburg. Dia melihat sebuah boneka tertawa dan memanggilnya dari dalam etalase. Sayang ketika masuk, bahu anak gelandangan itu dicengkeram oleh satpam dan menendangnya keluar. Anak itu lalu jatuh di jalan. Tiba-tiba ia mendengar seperti suara ibunya. Ia masuk ke ruangan dan menjumpai banyak anak. Mereka saling mencium, tertawa, dan gembira. Ia segera tahu teman-temannya adalah anak-anak yang senasib seperti dirinya. 

Di tempat yang hangat ini, Yesus memberi mereka pohon Natal. Anak itu lalu menciumi ibunya. Ibunya menangis, lalu menyeka air matanya. Keesokan paginya, penjaga toko menemukan seorang anak tergeletak membeku. Anak itu mati. Dialah anak gelandangan bersama ibunya yang juga telah mati kedinginan dalam musim dingin di penghujung Desember. Kisah pilu gelandangan itu atau kisah keresahan wong cilik itu seharusnya bisa menyadarkan umat Kristiani akan Natal pertama, ketika Yesus lahir di kandang hewan di Betlehem. 

Dalam kondisi hamil tua, Maria dan Jusuf harus mencari tempat menginap. Sayang tak ada tempat. Memang selalu sukar menyediakan tempat bagi kaum lemah seperti mereka. Yesus terpaksa lahir di kandang. Bisa saja orang tua Yesus berpikir Allah tampaknya sangat jauh dari diri mereka. Buktinya tidak ada yang mau peduli dengan pengalaman pahit mereka. Pasar, perdagangan, politik berjalan seperti biasa. Hidup mengikuti jalannya sendiri. Ketiga orang itu seperti masuk dalam pusaran hidup yang keras dan tanpa makna. 

Pengalaman nestapa Natal pertama tak beda dengan pengalaman wong cilik yang dilanda galau di tengah struktur yang tidak adil. Anehnya, hanya dengan spirit menjadi lemah dan miskin seperti dimiliki Maria, Jusuf atau bayi Yesus itu, umat Kristiani bisa menggali makna sejati Natal. Kondisi lemah dan miskin seperti ini dilukiskan dengan bagus oleh Ernesto Cardenal, penyair dari Amerika Latin. 

Dalam ”Das Buch von der Liebe, Lateinamerikanische Pslamen”, Ernesto menulis: ”Kemiskinan dan kondisi lemah adalah keadaan asli manusia di Firdaus, ketika manusia pertama Adam telanjang, berkawan dengan binatang yang juga telanjang. Sesudah jatuh dalam dosa, manusia tak lagi telanjang. Sesungguhnya kemiskinan dan kondisi lemah adalah kebenaran, sementara kekayaan adalah tipuan yang menutupi kebenaran. Kita menghiasi diri dengan baju materi untuk menutupi jiwa kita yang telanjang. Kepalsuan adalah sinonim bagi kelekatan akan harta. Busana mahal, rumah mewah adalah penipu yang memalsukan keadaan material, layar yang menutupi kesederhanaan. Dalam kemiskinan bersinar cahaya kesejatian. Dalam kekayaan, cahaya itu dipudarkan. Kemiskinan membuat diri kita nyata”.
Meski begitu, kemiskinan dan kelemahan seperti itu jangan pernah ditafsirkan seolah iman Kristen antiharta atau antiuang. Tidak! Menurut Ernesto, itu semua hanya upaya penyadaran akan eksistensi sejati kaum beriman di hadapan Sang Khalik. Di hadapan-Nya, kita bukan apaapa. Harta yang ada misalnya hanyalah pinjaman. 

Dengan sikap seperti ini, seharusnya yang kaya menjadi rendah hati dan tidak arogan. Lalu yang cerdik pandai tidak menganggap yang lain bodoh dan sebagainya. Yang berkuasa tidak lagi ingin dilayani, tapi sungguh melayani rakyat. Jika sikap seperti itu tak bisa diupayakan, Evangeli Gaudium (Kebahagiaan Injil) yang dikenal sebagai ”seruan apostolik,” Paus Fransiskus menyerukan pejabat gereja berubah dan mendorong umat mengenyahkan kapitalisme modern. 

Kapitalismelah yang menyebabkan ketidakadilan dan kesenjangan serta memicu konflik sosial sehingga perdamaian makin sulit diwujudkan. Jika ini terjadi, perdamaian akan lebih mungkin untuk diwujudkan. Maka itu, Paus meminta para uskup dan pastor tidak hanya berkutat di istana keuskupan atau paroki, tapi mau keluar dan mengajarkan kabar baik bagi yang kecil di lorong-lorong kota dan desa agar mereka juga bisa menikmati kabar gembira bahwa Sang Raja Damai telah lahir dan datang. 

Dia yang sebenarnya bisa enak-enakan di surga mau datang di tengah dunia agar semua diselamatkan. Selamat Natal 2013.  ●

Makna Hidup dalam Natal

Makna Hidup dalam Natal
Benny Susetyo  ;   Rohaniwan
KORAN SINDO,  25 Desember 2013

  

Natal adalah momentum untuk memperbarui diri menuju manusia dengan solidaritas sosial yang kokoh. Itulah yang diajarkan Yesus yang datang ke bumi ini dengan sinar terangnya. 

Di balik penderitaan dan pengorbanan Yesus datang dengan semangat kehidupan baru yang lebih baik. Kehidupan yang damai dan lebih baik ditandai dengan toleransi dan saling menyadari kekurangan masingmasing. Manusia tidak bisa hidup sendiri-sendiri. Karena itulah, diajarkan untuk saling berbagi kepada pihak lain yang kekurangan. Solidaritas semacam ini upaya untuk memperbaiki kehidupan agar berjalan seimbang. 

Kehilangan Cahaya 

Berbagai fakta ketidakadilan selama ini yang menyelimuti sudah seolah-olah tak lagi memberi harapan akan masa depan. Dunia menurut mereka sudah kehilangan cahaya. Dunia sudah tidak berdaya karena kerakusan dan ketamakan. Merasakan penderitaan kaum miskin merupakan semangat terdalam pembaruan diri agar kita tidak takut melawan kekuasaan yang kerap berbuat tidak adil kepada rakyatnya. 

Para elite politik hendaknya semakin banyak belajar dari kemelaratan rakyatnya. Bukankah Yesus telah mengidentikkan dirinya dengan mereka yang miskin dan tertindas? Bukankah Ia juga mengatakan bahwa apa yang kamu lakukan untuk saudara-Ku yang paling hina ini yakni mereka yang miskin dan tertindas berarti kamu berbuat untuk Aku? Yesaya mengatakan bahwa ibadat yang berkenan di hati Allah adalah ibadat yang di dalamnya ada solidaritas sosial antarsesama manusia. 

”Aku menghendaki supaya engkau membagi-bagikan rotimu kepada orang lapar, membawa orang miskin tidak punya rumah, orang telanjang kamu harus memberi pakaian.” Rakus dan tamak. Dua sifat inilah yang saat ini mencerminkan hati elite politik negeri ini. Mereka seolah tidak lagi memiliki nurani dan empati kepada yang lemah dan miskin. Kebijakan ekonomi tidak lagi menunjukkan keberpihakan kepada rakyat. Politik hanya ditampilkan dalam bentuk kemasan dan kosmetik. 

Politik tanpa ideologi perjuangan yang bervisi, berkarakter, dan berpihak kepada masyarakat. Politik tidak lagi memberi sinar terang bagi martabat kemanusiaan. Kekerasan menjadi pemandangan biasa di mana-mana. Kebebasan menjalankan ibadat dirampas. Negara absen dan tak mampulagi melindungi. Berbagai praktik kekerasan pun seolah-olah mendapatkan imunitas. Hukum tak lagi berdaya menghadapi para gengster, mafia, dan jawara. Kekayaan negeri dikuras habis oleh para koruptor. 

Koruptor berubah menjadi kekuatan dahsyat yang mampu menyulap beragam kebijakan politik untuk melindungi dirinya. Hilangnya keadaban publik membuat fungsi silang negara, pasar, dan warga tidak lagi berjalan efektif. Kita terkurung oleh lingkaran kepedulian untuk kelompok, agama, partai politik, golongan, dan suku sendiri-sendiri. Mata hati pun tidak berfungsi dan harapan akan masa depan pelan-pelan hilang. 

Terang Datang 

Dalam situasi seperti demikianlah Kristus lahir. Zaman Kristus ditandai dengan situasi yang hampir sama seperti gambaran di atas. Saat kekuasaan tidak lagi berdaulat dan berdaya memberikan perlindungan kepada warganya. Dia lahir di tengah kehilangan keadaban politik yang melahirkan penindasan, penghisapan, dan eksploitasi. Dia hadir membawa terang dan masa depan. 

Dia lahir membawa kabar gembira kepada umat akan ada perubahan. Dia lahir ke dunia ini untuk membawa terang sejati. Dia datang bukan menawarkan jalan kemuliaan dengan jalan pintas. Dia datang membuka mata hati manusia dan mengembalikan nurani kemanusiaan yang sudah hancur. Nurani yang membebaskan manusia dari perbudakan tahta dan kuasa: dua hal yang membuat mata hati tidak berfungsi secara jernih dalam membedakan gelap dan terang. 

Dia datang untuk menyelamatkan kemanusiaan yang jatuh. Kini fajar harapan telah tiba. Dia sudah datang mengubah kemanusiaan lama yang dipenuhi iri hati, dengki, kemunafikan, penyuapan, dan politik tanpa hati menjadi kemanusiaan baru yang penuh dengan cinta. 

Dunia Damai 

Unsur kejahatan kemanusiaan yang membuat rakyat terhisap dan tertindas ini disadarkan kembali dan diluruskan ke jalan yang benar. Kesadaran akan Allah yang hadir dalam diri para gembala dan kawula alit adalah semangat untuk berubah menuju dunia yang lebih baik, dunia yang penuh damai dan cinta kasih. Di dalam merayakan Natal sekarang ini, kita semua kembali diingatkan bahwa Terang Sejati itu sedang datang dan sungguh-sungguh ada di dalam kehidupan kita. 

Terang itu, Yesus Kristus, berkarya dan membuka wawasan baru bagi kesejahteraan umat manusia serta keutuhan ciptaan. Inilah semangat yang selayaknya menjiwai kita sendiri serta suasana di mana kita sekarang sedang menjalani pergumulan hidup ini. Dalam Natal ini kita hendaknya merayakannya dalam suasana pengembaraan untuk mencari makna hidup damai yang hilang. Dalam situasi inilah kita mencoba menemukan kembali Terang Sejati. Kita perlu menemukannya kembali sebab terang itu sudah pudar karena perilaku kita kurang bersyukur atas anugerah Allah. Anugerah Allah yang begitu besar bagi bangsa ini telah digadaikan segelintir elite politik demi ambisi kekuasaan. 

Natal membangkitkan harapan dalam hidup dan sekaligus memanggil kita tetap mengupayakan kesejahteraan semua orang. Kita juga dipanggil dan diutus untuk menjadi terang yang membawa pengharapan dan terus bersamasama mencari serta menemukan cara-cara yang efektif dan manusiawi untuk memperjuangkan kesejahteraan bersama. Inilah yang ingin ditekankan dalam Natal kali ini.  Selamat Natal. ●

Natal di Zaman Edan

Natal di Zaman Edan
Amanda Adiwijaya  ;   Seorang Pendeta,
Lulusan International Biblical College, Yerusalem
KORAN JAKARTA,  24 Desember 2013

  

Manusia saat ini hidup dalam suatu zaman peralihan penuh gonjangganjing yang dalam khazanah Jawa disebut kalatida-kalabendu (zaman keraguan-zaman hukuman).

Pujangga Jawa, Raden Ngabehi Ronggowarsito, menyebut zaman demikian sebagai kegilaan atau edan. Tanpa perlu survei khusus, di sekitar ada banyak kegilaan yang tengah berlangsung. Di level dunia, perang berebut kekuasaan seperti di Suriah telah membuat ratusan ribu nyawa melayang dan jutaan lainnya mengungsi.

Mereka yang merasa paling benar dalam meyakini agamanya, bisa terjebak menjadi hakim kejam yang menebarkan teror, kekerasan, dan kebencian. Berbagai kekerasaan mengatasnamakan Tuhan dan agama masih membelenggu. Akibatnya, perdamaian masih menjadi sesuatu langka.

Di berbagai penjuru Tanah Air terdapat begitu banyak teriakan ketidakpuasan, bahkan kekecewaan akan pemerintahan sekarang. Politik dan demokrasi bukan demi kebaikan bersama (bonum commune), tapi hanya untuk kepentingan segelintir orang bahkan demi kepentingan keluarga atau dinasti tertentu.

Hukum sebagai dasar utama, masih penuh rekayasa dan menjadi alat transaksi jual-beli jabatan. Meski konstitusi menjamin kebebasan beragama, di dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara, masih terasa banyak tindakan intoleran yang mengancam kerukunan.

Biasanya dengan menghembuskan isu mayoritas dan minoritas di tengah-tengah masyarakat oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan kekuasaan.
Kondisi memprihatinkan karena Natal yang seharusnya memberi dan menciptakan suasana damai, kini malah makin merepotkan. Di mana-mana ada ribuan polisi yang harus selalu berjaga di seputar gereja.

Padahal, dulu tidak seperti ini. Tentu ini tak lepas dari ulah para teroris yang pernah menebar 38 bom pada malam Natal 2000. Selain itu, di depan mata juga tampak perusakan alam melalui cara-cara hidup keseharian yang tidak mengindahkan kelestarian lingkungan. Masyarakat kurang peduli terhadap sampah dan polusi.

Mereka juga eksploitasi besarbesaran terhadap alam melalui proyekproyek yang merusak lingkungan (Pesan Natal KWI-PGI 2013, alienea 3). Lalu, apa artinya perayaan Natal di tengah kondisi seperti itu? Apalagi tema pesan Natal bersama KWI-PGI tahun ini "Datanglah Ya Raja Damai."

Jejak 

Natal sebenarnya lahir dari inkulturasi budaya Eropa. Peringatan hari Natal tahun 336 Sesudah Masehi pada kalender Romawi kuno, yaitu 25 Desember. Pemilihan 25 Desember terkait pesta penyembahan Dewa Matahari (Sol Invictus).

Pada tanggal ini, matahari naik lagi di cakrawala ke utara atau terbenam kembali yang merupakan awal musim dingin. Tidak heran, jika atribut-atribut Natal kental dengan warna salju, pohon cemara dan sebagainya.

Sebagai bagian dari perayaan, masyarakat menyiapkan makanan khusus, menghiasi rumah dengan daun-daunan hijau, menyanyi bersama dan tukar-menukar hadiah. Kebiasaan itu lama-kelamaan menjadi tradisi yang melekat dengan perayaan Natal. Tahun 1100, Natal telah menjadi perayaan keagamaan terpenting di Eropa.

Meski demikian, sebenarnya Yesus sendiri tak persis lahir 25 Desember atau 6 Januari. Yang penting bagi iman Kristen, Yesus berkenan lahir di dunia.
Boleh jadi, dalam momen demikian, manusia bisa membiarkan Yesus kembali datang dan menyampaikan misi khusus-Nya yang relevan dengan kehidupan sekarang. Belakangan, agama terus disorot dari banyak pihak karena agama di negeri ini dinilai gagal membawa perubahan berarti.

Seperti diketahui dari Injil, Yesus hidup dalam tatanan masyarakat Yahudi yang memeluk agama monotheis pertama. Sayang, praktik beragama dari orang-orang Yahudi pada zaman itu telah terjebak dalam formalisme yang keterlaluan.
Agama hanya ditonjolkan segi hukumnya, sementara inti terdalamnya sebagai pembawa damai dan kasih diabaikan. Ini disebabkan banyaknya perintah yang diberikan para ulama dan pejabat keagamaan Yahudi dengan memberi kewajiban ini-itu sehingga sangat membebani umat. Yesus lalu datang dengan kritik amat pedas terhadap praktik keberagamaan yang hanya mengutamakan rutinitas lahiriah seperti itu.

Pesan Yesus 

Yesus pun lalu diimani para pengikut- Nya sebagai Juru Selamat. Nah, jika manusia mengimani-Nya sebagai Juru Selamat, ini juga mengandung konsep bahwa penyelamatan-Nya juga mencakup pembebasan dari cara-cara dan praktik beragama yang keliru.

Bagi Yesus, agama Yahudi ketika itu hanya jadi sesuatu yang membuat orang banyak teralienasi. Agama yang sejatinya berfungsi merukunkan manusia dengan manusia lain, manusia dengan Sang Pencipta, dalam praktiknya justru jadi pemecah belah.

Dengan ritus, tabu, larangan, dengan formalisme ini-itu, agama justru jadi kekuatan yang mengasingkan manusia dari kemanusiaannya. Lewat kritik-kritik pedasnya, Yesus sebenarnya ingin mengembalikan agama pada esensinya. Dia menuntut spiritualitas sejati, kesucian yang bukan basa-basi.

"Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu (Yoel 2:13). Lewat pesan-pesan ini, Yesus ingin membebaskan umat baik pria atau wanita dari kekuasaan kultus, dari kecenderungan membuat agama jadi semacam ghetto yang tampak suci dari luar, tapi bobrok di dalam.

Dengan demikian, agama seharusnya menjadi membebaskan dan membawa sukacita sejati. Kalau orang kembali membaca Injil, pesan-pesan Yesus itu jelas masih ada. Akibat dari praktik seperti itu, lembaga keagamaan (seperti gereja) hanya menjadi semacam perusahan atau institusi profan yang sibuk dengan urusan duniawi seperti sarana mencari uang.

Konyolnya para pejabat gereja juga tak beda jauh dengan para birokrat yang lebih ingin dilayani daripada melayani. Mereka juga lebih suka menyemarakkan acara ritual (liturgi) semata, serta tidak peka secara sosial.

Padahal, makna terdalam ritual (liturgi) seharusnya merupakan perayaan iman yang tak terpisah dari kehidupan nyata. Suka duka kehidupan umat itulah yang tercermin dalam liturgi sehingga ibadat bukan hanya ekspresi iman yang penuh basa-basi seremonial.

Mudah-mudahan Natal ini Sang Raja Damai Yesus Kristus berkenan datang dan lahir dalam hidup manusia. Ini sungguh akan membawa perubahan karena Dia pasti mengajak semua kembali menghayati spirit asli dari agama yang harus memperjuangkan kejujuran lahir batin, mempromosikan persaudaran dan perdamaian.

Maka, jangan hanya sibuk pada urusan pernak-pernik Natal seperti menghias christmas tree atau menyetel lagu, sementara esensinya luput dari genggaman. Esensi Natal, Yesus berkenan datang, lahir, dan bertahta di dalam hati. Christus natus est. Ia telah lahir. Selamat Natal.  ●

Moralitas Pengharapan Natal

Moralitas Pengharapan Natal
Aloys Budi Purnomo  ;   Rohaniwan, Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan, Tinggal di Semarang
KOMPAS,  24 Desember 2013

  

KEPRIHATINAN sosial, politik, ekonomi, ekologis, dan interreligus masih menantang kita semua untuk menghayati moralitas pengharapan di tengah kehidupan bersama. Siapa pun yang merayakan Natal, terpikul di pundaknya imperatif mewujudkan moralitas pengharapan!

Sejak Natal perdana hingga hari ini, kelahiran Yesus Kristus secara tak terbantahkan menghadirkan moralitas pengharapan, bukan saja bagi yang merayakan, melainkan juga bagi siapa pun yang berkehendak baik.

Tuntutan mewujudkan moralitas pengharapan Natal kian mendesak, mengingat zaman kita ditandai dengan berbagai keprihatinan, terutama atas kehidupan sesama umat manusia.

Pesan Natal bersama yang disampaikan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) tahun ini menyebutkan sejumlah keprihatinan seperti tindakan-tindakan intoleran yang mengancam kerukunan dalam berbagai bentuk.

Di depan mata kita juga tampak kerusakan alam seperti kurang peduli terhadap sampah, polusi, maupun dalam bentuk eksploitasi besar-besaran terhadap alam.
Hal yang juga masih terus mencemaskan kita adalah kejahatan korupsi yang makin menggurita. Hal lain yang juga memprihatinkan adalah lemahnya integritas para pemimpin bangsa.

Bahkan, dapat dikatakan bahwa integritas moral para pemimpin bangsa ini kian hari kian merosot.
Disiplin, kinerja, komitmen, dan keberpihakan kepada kepentingan rakyat digerus oleh kepentingan politik kekuasaan. Namun, kita bersyukur karena masih ada beberapa figur pemimpin yang patut dijadikan teladan.

Meretas tirani ego

Aspek utama moralitas pengharapan Natal adalah meretas tirani ego. Itu sebabnya Yesus Kristus lahir ke bumi, bukan di istana raja atau di tempat elite; melainkan di kandang binatang dan dibaringkan di palungan (Lukas 2:7).

Di tengah situasi muram, kita bersyukur sebab masih menyaksikan spontanitas masyarakat mewujudkan moralitas pengharapan dengan meretas tirani ego! Ada begitu banyak kehendak baik yang masih mau merajut kerja sama dalam rangka mewujudkan persaudaraan sejati, bahkan yang bersifat lintas iman, lintas budaya, dan lintas agama.

Kita mengakui bahwa di hamparan keprihatinan yang tersebar di negeri ini terdapat pengalaman penderitaan. Bahkan, seperti dituturkan JB Metz, sejarah umat manusia telah menjadi sejarah penderitaan.

Di balik kisah kemenangan dan penaklukan militer, kejayaan kebudayaan besar, dan penemuan-penemuan yang mengagumkan, tersembunyi penderitaan yang menyertai semua kisah sukses.

Tidaklah mengherankan kalau kisah sedih dan tragis para TKI, khususnya TKW, tidak pernah ditangani tuntas atas nama keadilan dan kemanusiaan.

Demikian pula dengan para korban kekerasan dan ketidakadilan yang terserak di seluas republik ini! Mereka bukan bagian dari sejarah sukses, dus, tidak memiliki kepentingan historis! Inilah sesat pikir yang masih menguasai elite politik dan penguasa kita.

Padahal, sesungguhnya, sebagaimana diserukan Albert Nolan dalam Jesus Today, Sprituality of Radical Freedom (2006:54), sejarah dari setiap peperangan dan kekerasan selalu ”menyisakan” orang-orang yang terluka, menjadi cacat, dilumat, dibunuh, dianiaya, direndahkan, dan dibiarkan mati di parit-parit pertahanan.

Mutatis mutandis, hal yang sama berlaku untuk setiap kekerasan dan ketidakadilan yang banyak terjadi di negeri kita; termasuk perilaku koruptif para elite!

Globalisasi pengharapan

Dewasa ini, tumbuh kekuatan yang sedang berkembang secara luar biasa cepat dan menegaskan fakta kehadiran globalisasi pengharapan.

Globalisasi pengharapan itu mewajah dalam kekuatan perdamaian, bela rasa, kesetaraan, dan keadilan. Ia menjadi semacam gerakan perdamaian universal yang menyentuh realitas plural tanpa membedakan latar belakang agama, etnis, suku, dan golongan.

Globalisasi pengharapan mekar laksana bunga di musim semi dan mengembangkan solidaritas terhadap para korban bencana, kekerasan, dan ketidakadilan!

Ini membenarkan pernyataan Renè Girard, dalam bukunya I See Satan Fall Like Lightning (2001:161-169) yang mengatakan, ”Sekarang ini, sejumlah orang mulai mengalami perasaan-perasaan bela rasa pada semua korban di mana pun mereka berada. Ketika sementara orang di dunia tidak menemukan bela rasa, kita telah membuat bela rasa semakin mendunia!”

Bela rasa yang mengglobal tampak dalam gerakan dan komunitas yang berjuang demi keadilan ekonomis, keseimbangan ekologis, kesetaraan hak-hak asasi manusia, dan kerja sama kehidupan bersama lintas iman. Mereka juga berjuang bagi hak anak-anak, kaum perempuan, kaum minoritas tertindas, bahkan melawan neoglobalisasi liberal.

Bahkan, kendatipun pemrakarsa globalisasi pengharapan itu hanya sekelompok kecil orang saja, meminjam penuturan Arnold Toynbee, mereka akan menjadi ”minoritas kreatif” untuk masa depan kehidupan umat manusia!

Cepat atau lambat, gerakan bersama atas nama perdamaian, keadilan, bela rasa, dan hak-hak asasi manusia akan meruntuhkan struktur-struktur kekuasaan dan dominasi ketidakadilan dan menjadi gelombang implementasi moralitas pengharapan bagi kita.

Maka, perayaan Natal yang tidak mengimplementasikan moralitas pengharapan hanya akan menjadi pepesan kosong dan jauh dari pesan sejati kelahiran Yesus Kristus bagi umat manusia seluas dunia sepanjang masa. Selamat Natal!  ●

Selasa, 24 Desember 2013

Natal dan Tangis Kemanusiaan

Natal dan Tangis Kemanusiaan
Dominikus Saku ;   Uskup Atambua
KOMPAS,  24 Desember 2013

  

Natal datang lagi. Kumandang lagu-lagu natal, kreasi kartu dan ucapan natal serba canggih, bahkan kembang api yang sudah dirancang khusus telah didistribusikan ke segala pelosok Tanah Air, untuk menyemarakkan suasana Natal dan Tahun Baru.

Mari kita tinggalkan segala keramaian, merunduk sebentar sambil bermenung diri, untuk mendengarkan seluruh kemanusiaan kita dalam isak tangis penuh makna sang Bayi Natal.

Dialah sang bayi mungil dari kesunyian Bethlehem, yang telah meninggalkan rahim surgawi nun jauh di sana. Sungguh mengharukan bahwa Yesus rela dikandung dengan cara ajaib dalam rahim sang Bunda Perawan.

Kelahiran Yesus tentu saja menimbulkan rasa sakit yang tiada tara bagi sang ibu. Namun, inilah jalan yang harus dilewati untuk penyempurnaan manusia dan dunia. Dalam senandung sukacita itulah, Maria membiarkan bayi Yesus menangis.

Kerasnya tangisan bayi Yesus untuk merasakan sakitnya dunia. Kerasnya tangisan bayi Yesus untuk membuat manusia mengerti mengapa tangis dan air mata selalu saja terjadi di sepanjang peredaran sejarah kehidupan manusia.
Tangisan Yesus menjadikan manusia berani memasuki perjuangan merajut tatanan kehidupan yang lebih baik.

Kalah pada godaan

Kenyataannya, manusia dengan pongah masih mengumbar tawa ria saat bersepakat dengan ular, si penabur benih kematian. Berawal dari keputusan Adam dan Hawa memakan buah kurdi di taman Eden—yang menjadi dosa asal—manusia akhirnya terhukum mati karena berani melawan putusan surgawi.
Maka, manusia pun menjalani kehidupan yang hina dina, rapuh, dan terbatas setelah dengan dada membusung dan kepala mencongak jatuh dalam godaan: menjangkau kemuliaan surgawi dan menghina Sang Pemilik Agung.

Akibatnya, bersama Adam dan Hawa, manusia terhukum dan terhalau keluar, memasuki dunia yang penuh ratap tangis dan kertak gigi. Maka, kedatangan bayi Yesus untuk menghentikan tangisan manusia dan membebaskan mereka dari cengkeraman maut. Tanpa tangisan Ilahi ini, pastilah sia-sia segala usaha manusia meretas jalan ke sumber kehidupan.

Yesus menjadi manusia karena hendak terlibat secara intens dalam sepak terjang kehidupan manusia. Ia siap mengalami dinamika suka duka kehidupan dunia yang fana. Ia siap tunduk dan patuh setia pada tatanan dan tuntutan hukum kehidupan.

Maka, sebagaimana digambarkan dalam kitab suci, Yesus menjadi manusia yang sesungguhnya. Ia pun menanggung rasa lapar, haus, panas dingin, takut, lelah, dan terkapar.

Dunia fana

Inilah dunia, tempat orangtua tega meninggalkan bayinya di pintu gereja. Inilah dunia, tempat manusia sering kali memutus tali persaudaraan dan berperang satu sama lain.

Tangisan bayi Yesus adalah keprihatinan melihat manusia belum bekerja sama mengatasi situasi kemiskinan yang sangat absolut. Yesus pun menangisi ketidakadilan: ketika ibu-Nya tidak mendapatkan dispensasi dan perlakuan khusus dalam pelaksanaan kewajiban cacah jiwa saat itu, dan beberapa ketidakadilan lain yang melanda umat manusia saat ini. Hukum yang berpihak kepada si elite dan si kaya, kesempatan yang tak pernah menyapa mereka yang kekurangan.

Zaman Yesus lahir hingga sekarang ternyata sama saja. Di hadapan penguasa, keadaan nyata setiap orang, termasuk mereka yang sedang sakit dan tak berdaya, tidak penting untuk diperhitungkan. Bagi penguasa, yang penting perintah bersifat wajib untuk dijalankan oleh semua orang, tanpa kecuali!

Maka, bayi Yesus menangis karena merasakan penderitaan ibu-Nya, merasakan kekhawatiran sang ayah. Yosef memang mencemaskan nasib Maria, yang terancam hukum agama Yahudi lantaran sudah hamil sebelum mereka melangsungkan pernikahan. Namun, yang lebih penting lagi, Yesus menangis karena Ia memberikan pertanda bahwa sejak saat kelahiran-Nya, Ia rela menderita demi kebenaran agung yang sering kali tidak sanggup ditangkap para pembesar dan penguasa.

Paradoks kehidupan

Dalam kehidupan manusiawinya kemudian, Yesus memang menjalani paradoks kehidupan. Ia dihina sekaligus dipuja. Ia dihujat sekaligus dihormati. Ia diuji dan menjawab dengan paradigma baru bahwa Tuhan Mahamengampuni dan manusia punya cinta yang menguatkan.

Namun, bayi Yesus juga menangis karena salib telah terpampang di depan mata. Salib adalah paradoks kehidupan yang lain lagi. Ia menarik garis tentang yang benar dan salah, yang sejati dan yang palsu, yang sering kali dijungkirbalikkan hanya karena kepentingan sesaat.

Tangis Yesus adalah kepolosan jiwa dan kesahajaan hidup, yang akan tercabik-cabik akibat korban agung yang harus dipersembahkan agar kebenaran dan keadilan dapat tegak di Bumi.

Dengan tangis dan air mata, dengan seluruh diri yang hancur, sebenarnya Yesus ingin menyatakan komitmen pribadi-Nya untuk kebenaran, keadilan, damai-sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus yang harus dibayar mahal.

Demi kebenaran

Tangisan dan air mata Yesus seolah kembali menegaskan apa yang pernah diucapkan filsuf Yunani Aschylus (525-456 SM): ”Kita harus berjuang dan menderita, menderita demi kebenaran. Kita tidak dapat tidur, dan hati kita selalu diliputi kepedihan, betapa pun kita menolak, agar kita bisa belajar apa itu kemanisan.”

Sang Bapa surgawi telah mengutus Yesus ke tengah manusia agar manusia belajar bahwa manusia pun memiliki panggilan luhur ”untuk berjuang demi kebenaran”. Itulah yang harus dibayar dengan darah dan air mata manusia.

Maka, pada perayaan Natal ini, marilah kita sambut Sang Bayi yang menangis agar Ia menangis bersama orang-orang yang didepak ke perbatasan-perbatasan dan daerah kumuh di seantero negeri ini, yang sangat jauh dari sumber-sumber kemajuan.

Menangislah bersama manusia yang terpinggirkan, yang dipaksa berderap bersama arus kemajuan, lalu menjadi salah tingkah, diobyekkan, dan akhirnya menempuh jalan-jalan sesat.

Kelahiran-Nya adalah untuk manusia yang masih terlanda aneka bentuk pemiskinan dan pembodohan sehingga kadang manusia tidak bisa membedakan apa yang pantas ditangisi dan apa yang layak ditertawakan.

Yesus, selamat lahir lagi. Semoga kami menjadi manusia-manusia sejati yang tahu makna terdalam kehidupan dan menjalaninya dengan sukacita.  ●