Tampilkan postingan dengan label M Najih Arromadloni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label M Najih Arromadloni. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 November 2017

Terorisme dan Bom Masjid di Sinai

Terorisme dan Bom Masjid di Sinai
M Najih Arromadloni ;  Pemerhati Timur Tengah,  Penulis buku Bid'ah Ideologi ISIS
                                                DETIKNEWS, 27 November 2017



                                                           
Jumat 24 November 2017, tepat di hari peringatan dua tahun bom di ibu kota Tunisia, sebuah bom teroris kembali meledak di Mesir, tepatnya di Masjid al-Rawdah di Bi'r al-Abid, Kota al-Arish, Provinsi Sinai Utara. Bom yang disertai penembakan membabi buta ini menewaskan 235 orang dan mencederai 109 orang (detikcom, 24/11/2017). Ledakan bom ini terjadi di saat jamaah tengah menunaikan ibadah Salat Jumat. Dan, di saat sebagian jamaah berhamburan keluar masjid, para pelaku yang menunggu di luar masjid memberondong jamaah Salat Jumat tersebut dengan tembakan peluru, disertai teriakan takbir.

Para pelaku yang berjumlah sekitar 40 orang itu mengepung empat bagian sisi masjid dengan kendaraan ATV, juga menanam bom di luar masjid dan memblokir akses keluar masjid. Mereka bahkan menembaki ambulan yang mencoba mendekat ke lokasi. Penembakan ini berlangsung selama kurang lebih 20 menit (al-Watan, 24/11/2017). Serangan ini bisa dibilang amat brutal karena menarget warga sipil yang tengah beribadah dan tidak memperkirakan sama sekali akan adanya serangan.

Serangan ini juga bukan yang pertama kali terjadi di masjid yang sama. Pada Oktober setahun lalu, seorang imam masjid tersebut yang merupakan pemimpin tarekat sufi di Sinai, Syeikh Sulaiman Abu Haraz, diculik oleh kelompok teroris ISIS dan diumumkan tiga hari setelahnya. Satu bulan kemudian ISIS merilis video yang memperlihatkan syeikh tersebut disembelih oleh salah satu anggotanya dengan tuduhan telah musyrik dan menyebarkan khurafat.

Di sisi lain, Sinai utara merupakan kawasan yang dikenal sebagai basis berbagai kelompok militan, mulai dari Ikhwanul Muslimin, ISIS, sampai dengan al-Hazimiah. Mereka tidak membentuk afiliasi, karena satu sama lain saling mengkafirkan. Pertanyaannya adalah, kenapa mereka menyerang Masjid al-Rawdlah Sinai?

Sebelum ISIS dideklarasikan secara resmi pada November 2014, kelompok yang menjadi embrionya sudah ada di Sinai, dan pasca-deklarasi mereka menegaskan bahwa musuh utamanya adalah tiga; aparat keamanan, umat Kristiani, dan kelompok Sufi. Dan, Masjid al-Rawdlah ini adalah sebuah masjid besar yang merupakan pusat kegiatan tarekat al-Jaririah, sebuah kelompok tarekat sufi yang ada Sinai dan mempunyai pengikut puluhan ribu di Mesir, Palestina dan Yordania, serta negara-negara teluk.

Pendiri tarekat ini, Syeikh 'Id Abu Jarir merupakan salah satu tokoh sufi pertama di Sinai dan mempunyai peran penting dalam perlawanan rakyat Mesir terhadap pendudukan Israel atas Sinai.

Bagi ISIS, menyerang sebuah masjid kaum sufi mempunyai dua misi; ideologis dan politis-keorganisasian. Berkaitan dengan ideologi, menarget kaum sufi adalah bagian dari metodologi teror mereka, di wilayah mana pun. Bagi mereka kaum sufi berbahaya karena mempunyai kekuatan pengikut yang besar dan amat potensial menjadi basis perlawanan kultural bagi ideologi radikalisme-terorisme. Majalah al-Naba', resmi diterbitkan oleh ISIS, memuat ancaman mereka; "Kami mendeklarasikan, kepada semua surau-surau sufi, guru dan pengikut kaum sufi, baik di Mesir maupun di luar, kami melarang praktik tarekat sufi di Sinai secara khusus, dan di Mesir secara umum."

Adapun misi politik-keorganisasian atau kemiliteran, menyerang kaum sufi adalah bagian dari realisasi atas metodologi prioritas serangan terhadap musuh dekat (near enemy), dibanding musuh jauh (far enemy). Ini berarti mereka mengutamakan target musuh yang dekat, baik sipil maupun militer, dibandingkan dengan menyerang musuh yang jauh berupa negara-negara Barat.

Menyerang kelompok sufi ini juga merupakan tahapan pertama dari pedoman mereka dalam Manajemen Kekerasan (Idarat al-Tawahusy) oleh ideolog Abu Bakar al-Naji, yang disebut dengan al-Syawkah wa al-Nikayah, yaitu merealisasikan sebuah serangan teror terhadap kelompok tertentu yang mempunyai pengaruh dengan tujuan menggelorakan perpecahan dan gejolak sosial, dan di ujung tahapan ini adalah pendirian khilafah islamiyah.

Masjid al-Rawdah Sinai ini bukan merupakan masjid sufi yang pertama kali mendapatkan serangan dari kelompok-kelompok teroris berlabel Islam, karena sebelumnya kelompok teroris sudah berkali-kali melakukan penyerangan terhadap masjid dan menarget para ulama dan umat Islam yang taat serta berpendidikan. Mengutip 'Ala Abu al-'Azaim, ketua Persatuan Tarekat Sufi Internasional, "Serangan di masjid Sinai ini merupakan rangkaian dari rencana kelompok teroris menarget tarekat-tarekat sufi di dunia Islam. Mereka telah menarget guru-guru tarekat di Yaman, Libya, Pakistan, Somalia, Suriah, dan Irak."

Meneror Masjid

Terorisme bukan hanya tidak punya agama, tetapi juga musuh agama. Buktinya adalah serangan-serangan mereka atas banyak masjid dan tempat ibadah agama-agama selain Islam sejak awal sejarah, pembunuhan Sayyidina Ali sesaat setelah beliau menunaikan Salat Subuh di masjid bisa menjadi contohnya. Di Indonesia, serangan teror menarget masjid pernah terjadi di masjid Polresta Cirebon pada 15 April 2011. Dan, peristiwa paling mutakhir adalah 1 Juli 2017 ketika dua orang teroris menusuk dua jamaah Salat Isya di Masjid Falatehan di Kebayoran Baru Jakarta.

Sepanjang 2015 sampai dengan 2017, paling tidak ada tiga puluh serangan teror yang dilakukan di masjid di seluruh dunia, baik yang berbentuk pemboman, penusukan, maupun penembakan terhadap jamaah salat. Misalnya di sebuah masjid kota Mubi Nigeria (21 November 2017), terjadi serangan bom bunuh diri menewaskan sedikitnya 50 orang dengan target jamaah Salat Subuh. Pelakunya adalah kelompok teroris Boko Haram.

Sebuah serangan teror juga menyasar Masjid Dar al-Ri'ayah al-Islamiyah di London utara, ketika sebuah truk menabrak jamaah yang selesai menunaikan salat tarawih pada 19 Juni 2017. Begitu pula di Kanada; lima orang terbunuh dan banyak yang terluka, ketika terjadi sebuah serangan bersenjata ditujukan kepada jamaah Salat Isya di masjid Pusat Kebudayaan Islam pada 30 Januari 2017. Peristiwa teror di dalam masjid juga terjadi di Somalia, Afghanistan, Pakistan, Yaman, Arab Saudi, dan Kuwait.

Serangan teroris yang ditujukan kepada jamaah salat di masjid kemungkinan dilatarbelakangi keputusasaan dan ketidakmampuan mereka menyerang aparat keamanan di Mesir. Di Irak, teroris menarget pemboman jamaah masjid dengan memanfaatkan ideologi partisan Sunni dan Syiah yang bertikai di sana. Kasus di Mesir dan Irak bisa berbeda dengan di Indonesia, karena teroris di sini masih menjadikan target utamanya adalah polisi. Fakta ini bisa berubah apabila masyarakat bisa dengan mudah mereka pecah belah dengan propaganda dan fitnah, karena agenda utama terorisme adalah menimbulkan gejolak, kekacauan dan meruntuhkan tertib sosial.

Untuk mewujudkan agenda tersebut, mereka mempropagandakan bahwa aparatur pemerintah tidak becus mengelola dan menjaga keamanan negara, dan mereka bisa menggiring masyarakat untuk melawan pemerintah yang mereka anggap taghut.

Maka sejatinya, bagi teroris tidak ada beda menyerang umat muslim maupun non-muslim, karena yang menjadi musuh mereka adalah persatuan, kebhinnekaan, ketertiban, dan keamanan. Mereka sendiri tidak membedakan latarbelakang ormas atau agama target, karena bagi mereka, semua yang ada di luar kelompok adalah kafir dan berhak dijadikan musuh.

Teror di Hari-hari Besar Umat Islam

Sesuatu yang patut diamati pula dari serangan bom dan penembakan di Masjid al-Rawdlah Sinai utara ini adalah pelaksanaannya di hari Jumat, tepat di bulan Rabiul Awal, momentum lahirnya Nabi Muhammad SAW, di mana akan ada banyak perayaan Maulid Nabi di seluruh dunia. Tercatat, ada banyak peristiwa teror yang terjadi di hari Jumat dan di hari atau bulan istimewa umat Islam. Kenapa? Karena kelompok-kelompok teroris --secara keliru-- beranggapan bahwa hari Jumat adalah hari yang paling utama untuk memperoleh kesyahidan.

Faktanya, di bulan Ramadan biasanya tren amaliah terorisme juga meningkat. Lagi-lagi pertanyaannya adalah kenapa? Karena mereka menganggap bulan puasa adalah bulan ibadah dan dilipatgandakannya pahala. Dan, mereka percaya ibadah paling utama adalah jihad, sedangkan jihad diartikan oleh mereka pure serangan fisik. Pola pikir seperti ini tentu adalah pikir yang sesat dan menyesatkan. Bukankah bulan Ramadhan Nabi Muhammad dalam sejarahnya dipenuhi dengan salat, tadarus Alquran, menahan nafsu dan berbagi dengan orang yang membutuhkan?

Di Mesir misalnya, sepanjang 2016-2017 saja paling tidak terdapat dua puluh serangan teror yang dilakukan pada hari Jumat. Misalnya, pada 26 Mei 2017 terjadi serangan teror terhadap umat Koptik, dan pada 17 Ramadan terjadi pembantaian di Rafah, saat beberapa aparat keamanan Mesir berada di posnya sedang menunggu adzan Maghrib untuk berbuka, tiba-tiba muncul sekelompok anggota kelompok teror dan membantai 16 aparat keamanan tersebut. Media Mesir menyebut peristiwa ini dengan "Penjagalan Rafah I".

Serangan di bulan puasa juga terjadi di masjid Madinah saat aparat keamanan tengah berbuka puasa, pada 4 Juli 2016. Sehari berselang dari peristiwa tersebut, masih di bulan puasa, adalah upaya bom bunuh diri di Solo yang menewaskan pelaku di depan kantor Mapolresta Solo dan membuat salah satu petugas luka ringan (5 Juli 2016).

Dengan melakukan pengeboman dan penembakan di dalam masjid di hari-hari besar umat beragama, dengan target warga sipil sebuah negara berdaulat semakin menegaskan bahwa terorisme bukan hanya tidak punya agama, tidak punya rasa kemanusiaan dan tidak punya tanah air, melainkan ia adalah musuh agama, musuh kemanusiaan dan musuh negara! Al-Fatihah untuk para korban... ●

Kamis, 19 Januari 2017

Memahami Konflik Suriah, Tragedi Kemanusiaan Terbesar Abad 21

Memahami Konflik Suriah,
Tragedi Kemanusiaan Terbesar Abad 21
M Najih Arromadloni  ;  Alumni Universitas Kuftaro Damaskus; 
Sekjen Ikatan Alumni Syam Indonesia (Alsyami)
                                                  DETIKNEWS, 18 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Sampai detik ini, saya tidak pernah lupa peristiwa di tanggal 27 Februari 2011. Itu adalah bulan kedelapan saya di Suriah. Di hari itu, terjadi penangkapan 15 siswa secara kasar di kawasan Hawran Provinsi Dar'a Suriah oleh polisi Suriah, karena membuat grafiti yang menyerang Presiden Basyar al-Assad; sebuah fenomena yang kemudian mengubah kondisi sosial, politik, keamanan, dan apalagi ekonomi di Suriah secara keseluruhan.

Tindakan blunder polisi yang represif ini kemudian membuat masyarakat yang mudah tersulut untuk turun ke jalan pada Selasa dan Jumat (15 dan 18 Maret 2011), menuntut Presiden Basyar al-Assad untuk mundur. Aksi dilakukan di ibukota Damaskus dan secara sporadis merambah ke kota-kota lainnya. Aksi lanjutannya dilakukan biasanya setiap hari Jumat dan dengan mempolitisasi masjid sebagai titik kumpul, berkembang menjadi perang sipil.

Dan di tahun yang keenam ini, kisruh yang merupakan rentetan musim Semi Arab (al-Rabi' al-Arabi/Arab Spring) dan awalnya mengusung slogan perubahan, demokrasi, dan pembebasan rakyat dari thaghut, serta penerapan syariat (kadang-kadang: khilafah), nyatanya telah menjadi musim musibah bagi Suriah, dan rakyat Arab secara keseluruhan.

Akibat krisis ini lebih dari 470 ribu jiwa tewas, dan lebih dari satu juta terluka. Sementara 85% mereka yang masih hidup harus kehilangan pekerjaannya dan seperlima angkatan kerjanya terpaksa mencari uang dari perang, seperti dengan menjarah dan menculik. Kondisi ini diperparah dengan langkanya bahan makanan, jika ada pun harganya selangit. Di dunia pendidikan, jutaan anak tidak bisa menikmati kebutuhan sekolah mereka, sementara ibu mereka harus menghadapi kerasnya hidup menjanda. Sebelas jutaan pengungsi dari Suriah menyebar ke seluruh penjuru, jumlah yang menurut UNHCR terbesar setelah Perang Dunia ke II.

Yang saya tulis di atas adalah sebuah fenomena yang amat menyakitkan, dan yang terjadi di balik fenomena atau nomenanya jauh lebih rumit, bahkan amat rumit. Bisa jadi fenomena penangkapan 15 siswa itu sekadar momentum mewujudkan sebuah konspirasi yang telah disusun jauh-jauh hari. Tetapi sekompleks apa pun kita perlu memahaminya. Dibutuhkan sebuah perspektif yang utuh agar kita tidak hanya fokus dan terjebak pada fenomena. Untuk itu dibutuhkan pikiran yang terbuka, dan pembacaan yang jeli atas sejarah dan geopolitik, serta sumber daya alam negeri berjuluk "the cradle of civilization" ini, termasuk kebijakan luar negerinya terhadap Israel dan negara-negara teluk.

Saking kompleksnya, jika ingin memahami dengan benar tentang Konflik Suriah, Anda harus lebih jeli dan menyeluruh dalam melakukan pembacaan dari beragam sumber. Karena pemberitaan seputar konflik Suriah selama ini sudah jauh dari kata obyektif dan berimbang. Fabrikasi berperan sedemikian besar. Al-Jazeera dan al-Arabiya dalam satu kasus, pernah memberitakan secara manipulatif bahwa telah terjadi penembakan demonstran di Distrik Rukn al-Dien Ibukota Damaskus, padahal saya yang tinggal di distrik kecil tersebut tidak pernah melihat apa-apa.

Parahnya, hal ini dilakukan pula oleh media besar semisal BBC, Reuters, Guardian dan CNN. Di Indonesia pun demikian, media massa umum, sebagian, untuk tidak menyebut rata-rata, men-quote berita dari kantor berita besar dunia yang juga melakukan pemberitaan serupa. Pemberitaan yang tidak obyektif dan berimbang tentu menimbulkan dampak yang merugikan. Tapi apa daya, media telah turut menjadi alat perang.

Faktor Konflik Suriah

Ada banyak perspektif mengenai apa saja faktor yang melatarbelakangi pecahnya konflik Suriah. Sebuah konflik memang terjadi tidak disebabkan oleh sebab tunggal. Konflik selalu lahir dari sebab yang kompleks dan diliputi oleh banyak faktor dan kepentingan. Dan jika melihat peta konflik Suriah yang terjadi, terlalu sederhana (simplikatif) untuk menyatakan bahwa konflik tersebut tirani versus demokrasi, atau apalagi berlatar belakang teologis: perseteruan antara Sunni dan Syiah. Karena sejarah Suriah adalah harmoni antar sekte dan umat beragama. Itu pula yang saya rasakan selama hidup di sana.

Ada empat faktor yang terlibat dalam sebuah konflik, yaitu triggers (pemicu), pivotal (akar), mobilizing (peran pemimpin) dan aggravating (faktor yang memperburuk atau memperuncing situasi konflik). Untuk mengetahui keempat faktor tersebut diperlukan sebuah analisis berupa kajian sistematis terhadap profil, sebab-sebab, aktor, dan dinamika konflik. Klasifikasi faktor juga bisa dilakukan dengan melihat yang primer, sekunder dan tersier.

Intinya, secara global faktor penyebab konflik Suriah bisa dipetakan dalam dua hal:

1. Masalah internal (dalam negeri) Suriah, berupa terbatasnya kesempatan pergerakan/mobilitas sosial dan politik, kesenjangan, korupsi, dan represi aparat keamanan, serta tuntutan reformasi atas rezim klan Assad yang telah berkuasa selama 40 tahun. Anehnya, tuntutan reformasi ini tidak terjadi di delapan negara monarki yang juga tergabung dalam liga Arab yang tidak lebih demokratis. Jadi sejatinya yang terakhir ini tidak cukup kuat.

2. Masalah eksternal (luar negeri), berupa kepentingan politik, keamanan, dan ekonomi. Ini tidak lepas dari fakta bahwa Suriah adalah negara yang kuat secara militer dan selalu menunjukkan sikap perlawanan dan ancaman terhadap Israel sejak awal sejarahnya, termasuk dengan bersekutu bersama Iran, Hamas dan Hizbullah. Kondisi demikian membuat Israel, Amerika, NATO dan sekutunya di Timur Tengah turut berkepentingan mereformasi dan menumbangkan Assad. Demikian ringkasnya kebutuhan politik dan keamanan negara sekeliling Suriah.

Sementara dari sisi ekonomi, di balik koalisi Barat dan sekutu Arab, serta Turki terdapat kepentingan untuk mengeksploitasi cadangan minyak, di samping gas, dengan ketebalan sekitar 350 meter, berkali lipat rata-rata ketebalan kandungan minyak dunia yang hanya sekitar 10-20 meter di tanah milik Suriah. Sumber ini berisi miliaran barel yang kandungannya dapat membuat negara mana pun menjadi pemain minyak penting.

Dengan demikian, mengacu pada penjelasan singkat tersebut, di balik kompleksitas masalah domestik Suriah, kita bisa mengetahui adanya eksistensi negara-negara yang berkepentingan mengobarkan api peperangan di Suriah.

Aktor Konflik Suriah

Mengenai siapa saja aktor yang mempunyai peran penting melanggengkan konflik Suriah, perkenankan saya mengutip Bassel Oudat, seorang kolumnis dari Damaskus. Dalam artikelnya yang berjudul "Syria's Impasse" ia menyatakan bahwa aktor konflik bisa dibagi menjadi tiga: lokal, regional, dan global.

Pada tataran lokal melibatkan rezim al-Assad, organisasi Dawlah al-Islamiyah (ISIS), dan kelompok pemberontak yang afiliasinya amat beragam, misalnya:

1) Free Syrian Army (FSA), Syrian National Council (SNC) dan Syrian National Council for Opposition and Revolutionary Forces (SNCORF) yang dibentuk atas inisiatif Amerika di Doha, Qatar dan berafiliasi kepada Ikhwanul Muslimin;

2) Kelompok yang berafiliasi dengan al-Qaeda yang mempunyai agenda membentuk khilafah, yaitu Jabhat al-Nusrah, Ahrar al-Sham, Kataeb, Liwa' al-Tauhid, Ahrar Souria, Halab al-Shahba, al-Harakah al-Fajr al-Islamiyah, Dar al-Ummah, Liwa Jaish Muhammad, Liwa' al-Nasr, Liwa' Dar al-Islam dan lain-lain. Para milisi mereka datang dari sekitar 100 negara;

3) Kelompok oposisi yang tidak menempuh kekerasan, yang tergabung dalam koalisi bernama National Coordination Body for Democratic Change.

Pada tataran regional, persaingan antara Iran dan Arab Saudi, serta Qatar, Turki, dan Israel di kawasan membuat mereka saling berebut pengaruh politik, pengamanan, dan kue ekonomi dengan mengorbankan rakyat negara yang tercabik-cabik itu. Dalam hal ini perseteruan bukan antara Persia dan Arab, karena dengan kerjasama Arab Saudi dan Israel menyerang Suriah, sesungguhnya solidaritas Arab telah runtuh.

Sementara pada tingkat internasional, tampak bahwa krisis Suriah telah terjerambab dalam keretakan diplomasi internasional atas tarik ulur Amerika dan Rusia, serta para pemegang veto di PBB.

Dari paparan di atas diketahui, bahwa kisruh Suriah adalah tentang beragam peperangan dunia nyata dan maya yang destruktif, dan telah menjadi peluang politik dan sumber keuntungan bagi banyak pihak yang berseteru di dalamnya, dengan mengabaikan nasib jutaan rakyat jelata yang meregang nyawa.

Ini tidak hanya dilakukan oleh negara besar, namun juga oleh sekitar 90.000 milisi berlabel agama dengan profil anggota yang tidak homogen, mulai oportunis yang tidak percaya Tuhan, kelompok pragmatis, para pencari profit dari perang, adventurism, suku-suku yang pragmatis hingga ke kelompok takfiri sejati.

Dari sini kita juga bisa menyimpulkan bahwa sampai hari ini masih bergentayangan perkomplotan (termasuk kapitalis global) yang melibatkan banyak negara untuk melakukan eksploitasi di atas penderitaan negara lain, termasuk dengan memanfaatkan segala potensi ekstremitas sosio-politik sebuah kelompok sosial untuk dibenturkan dengan komunitas sosial lainnya.

Apa yang Sebenarnya Terjadi di Aleppo?

Sejak konflik Suriah berkobar, kasus Aleppo beberapa kali menyedot eskalasi perhatian masyarakat internasional, pada tahun 2016 ini terjadi selama akhir April, Februari, dan pertengahan Desember. Pertanyaannya kenapa pemberitaan tentang Aleppo selalu lebih masif dari, semisal pembantaian di Palmyra?

Jika dilihat sejarahnya, Aleppo sudah diserang pemberontak/oposisi selama lima tahun terakhir. Dan di masa itu pula rezim al-Assad beberapa kali melakukan serangan balasan mengembalikan kedaulatan negara mereka. Terakhir, rezim mengepung Aleppo selama enam bulan, dan berhasil merebut kembali kota tersebut. Nah, sejumlah itu pula pemberitaan tentang Aleppo muncul secara masif.

Penyerangan lewat media pro oposisi ini menjadi pola yang berulang kali dilakukan oleh oposisi setiap kali mereka dalam posisi terjepit, guna menggalang dukungan atau bahkan menarik intervensi dunia internasional. Aleppo adalah garis depan zona pertahanan oposisi, dan merupakan basis pertahanan mereka dan jalur penghubung dari Palmyra/Tadmor ke Latakia dan Idlieb, sehingga dengan hilangnya Aleppo maka menyebabkan jaringan mereka terputus.

Aleppo bergitu menarik bagi oposisi karena merupakan kota kedua terbesar di Suriah. Dengan menguasai kota itu (Aleppo) pemberontak bisa menampilkan diri sebagai alternatif yang kredibel dibanding pemerintahan di ibukota Damaskus. Posisi Aleppo secara geografis juga amat strategis dilihat dari berbagai segi.

Dengan melihat posisi penting Aleppo maka bisa dipahami mengapa kota tersebut selalu menjadi rebutan, dan secara otomatis menjadi palagan yang kini luluh lantak. Seorang kawan di Aleppo secara subyektif berkomentar, "Dalam kondisi perang, semua datang membawa neraka, meskipun neraka rezim masih lebih baik dari neraka pemberontak, bersama sekutu Baratnya."

Polemik Bantuan Kemanusiaan

Informasi tentang adanya penyimpangan bantuan kemanusiaan ke Suriah yang jatuh ke tangan kelompok teroris, sempat membuat masyarakat Indonesia resah, ini terjadi setelah Euro News memberikan laporannya dari Aleppo pasca ditinggal pemberontak (14/12/16). Tapi bagi WNI yang tinggal di Suriah, kasus ini bukan merupakan fenomena yang baru.

Berdasarkan informasi dari KBRI Damaskus, sejak permulaan konflik pemerintah Suriah memang amat ketat dan protektif dalam hal memberikan izin masuk bantuan kemanusiaan. Hal ini wajar karena berbagai lembaga bantuan kemanusiaan atau NGO sering kali dijadikan kedok dan memiliki rekam jejak dengan agenda terselubung. Info dari KBRI Damaskus pula, bahwa lembaga kemanusiaan Indonesia yang sejak awal berkoordinasi dengan KBRI adalah afiliasi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) dan MER-C.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa mayoritas bantuan kemanusiaan dari Indonesia yang masuk ke Suriah adalah ilegal. Menyalurkan bantuan kemanusiaan di medan perang memang tidak mudah. Lembaga bantuan kemanusiaan seperti IHR dan ACT misalnya, tidak menyalurkan sendiri donasi yang mereka dapat, melainkan melalui link IHH (Insani Yardim Vakfi). Sedangkan IHH adalah sebuah LSM Turki yang memiliki ikatan kuat dengan grup teroris Free Syrian Army, begitu pula dengan al-Qaeda.

Harian Turki, Hurriyet, melaporkan hasil investigasi (3/1/2014) yang menemukan amunisi dan senjata dalam jumlah besar dari truk IHH yang menuju Suriah, dengan kawalan personel intelijen Turki. Terkait IHH, Dubes Rusia untuk PBB pernah berkirim surat ke DK PBB (18/3/2016), bahwa IHH bersama-sama dengan Besar Foundation dan The Iyilikder Foundation mensuplai persenjataan dan logistik kepada ISIS atau Islamic State (IS).

Penutup

Krisis Suriah yang begitu memilukan seharusnya mengetuk hati kita untuk lebih peduli dan melihatnya melalui perspektif kemanusiaan. Turut mendorong dihentikannya perang, bukan malah ikut menyulutnya, atau bahkan mengimpornya ke sini. Untuk itulah penting bagi kita untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di Suriah.

Konflik Suriah memberikan sebuah pelajaran yang amat berharga bagi kita tentang nikmat kebhinekaan dan kewajiban mutlak bersatu padunya antar entitas generasi bangsa, untuk mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur... ●