Jumat, 05 Januari 2018

Banyak Jalan Menuju Surga

Banyak Jalan Menuju Surga
Nasaruddin Umar ;  Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta
                                          MEDIA INDONESIA, 22 Desember 2017



                                                           
JALAN menuju surga menurut sejumlah agama tidak tunggal. Dalam agama Hindu dikenal ada tiga jalan utama menuju surga, yaitu penyatuan diri secara spiritual dengan Tuhan. Pertama, Yana Yoga, yaitu melalui pemahaman dan penghayatan mendalam yang dalam Islam mirip dengan istilah ma’rifah. Jalan ini lebih efisien dan efektif tetapi amat sulit dicapai orang-orang awam. Diperlukan perenungan mendalam atau kontemplasi yang sangat tinggi untuk mencapai puncak melalui jalur ini. Kedua, Karma Yoga, yaitu melalui praktik ajaran berupa amalan-amalan berupa fisik, seperti ibadah-ibadah formal dan ritual. Ketiga, Bhakti Yoga, yaitu melalui amal-amal sosial yang diniatkan sebagai ibadah.

Seseorang bisa mempunyai pilihan terbaik sesuai dengan kemampuannya untuk mendekat­kan diri sedekat-dekatnya kepada Tuhan. Jika tidak sanggup melalui cara pertama, bisa memilih melalui cara kedua atau ketiga, walaupun juga tidak tertutup menggabungkan ketiga-tiganya, tentu itu paling sempurna.

Dalam Islam terdapat sejumlah ayat dan hadis meng­isyaratkan adanya banyak jalan menuju ke surga, tetapi jalan-jalan itu tetap ada substansi ajaran yang harus menjadi jalan universal dan standar yang harus dilewati atau wajib diakomodasi di dalamnya. Yaitu apa yang disebut dengan rukun iman dan rukun Islam. Jalan mana pun yang dipilih, tetapi yang bersangkutan harus tetap berpegang teguh kepada standar tersebut. Sesufi apa pun seseorang harus menginternalisasikan unsur fikih di dalam dirinya. Sebaliknya, sekuat apa pun fikihnya tetap harus menginternalisasikan unsur tasawuf di dalamnya.

Yang paling ideal ialah menggabungkan di antara keduanya seperti ditegaskan Ibn ‘Atha’illah, “Man tafaqqaha wa lam yatashawwafa faqad tfassaqa wa man tashwwufa wa lam yatafaqqah faqad tadzandaq, wa man jama’ah baina huma faqad tahaqqaqah (Barangsiapa yang berfikih tanpa bertasawuf maka ia fasik, barang siapa bertasawuf tanpa berfikih maka ia zindiq. Barangsiapa yang mengintegrasikan keduanya maka itu yang benar).”

Ada sebuah pernyataan menarik juga yang perlu disimak di dalam Alquran, yaitu “… Ja­nganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain, namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun daripada (takdir) Allah.” Nasihat Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya itu menarik untuk diperhatikan. Sang ayah terkesan demokratis dan jauh dari kesan fanatisme. Ia memberikan kemerdekaan penuh kepada anak-anaknya, tetapi ia tetap menekankan arti sebuah tanggung jawab dan tawakal kepada Tuhan.

Kemerdekaan tanpa tanggung jawab akan melahirkan kebablasan dan tanggung jawab tanpa tawakal kepada Tuhan akan melahirkan keangkuhan dan kesombongan. Nasihat ini memberi warna terhadap kebijakan sang anak ketika Yusuf menjadi pemimpin negeri Mesir. Ketika negara-negara asing menyatakan ketergantungan pangannya kepada negeri Mesir akibat kemarau berkepanjangan, Nabi Yusuf tidak membawa negerinya sebagai negeri angkuh yang mendiktekan berbagai kepentingannya kepada negara sekutu. Ia malah memberikan kelonggaran untuk membangun perekonomian negeri mereka yang sedang morat-marit. Memutlakkan pendapat sendiri justru bisa kontraproduktif dengan tujuan yang hendak dicapai.

Dialog ialah cara yang paling sering dicontohkan di dalam Alquran dalam menyelesaikan masalah. Allah SWT sendiri yang kita kenal mahakuasa juga tetap mencontohkan dialog. Ironisnya, dialog bukan hanya dengan hambanya yang baik seperti malaikat dan manusia, Allah SWT juga berdialog dengan iblis. Yang paling menakjubkan dari Nabi Yusuf ialah kemampuan untuk memaafkan orang-orang yang pernah bermaksud jahat terhadapnya meskipun itu ialah saudara kandungnya sendiri. Ketika memanggil dan menerima saudara-saudara­nya dalam suasana dramatis, Nabi Yusuf tidak tergambar sedikit pun rasa dendam di wajahnya. Padahal, merekalah yang pernah dengan keji melemparkannya masuk ke dasar sumur. Untung saja Yusuf dipungut saudagar lalu dijual ke pembesar Mesir.

Nabi Yusuf bahkan memberikan pernyataan yang sangat indah, ‘Dia (Yusuf) berkata: “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (12:92). Kepribadian Nabi Yusuf sangat dibutuhkan di dalam sebuah masyarakat yang mengalami krisis multidimensi.

Tidak perlu mencurahkan segenap waktu dan pikiran datang jauh-jauh belajar menyelesaikan krisis dari negara-negara lain. Konsep problem solving berbagai krisis sebenarnya sangat kaya di dalam Alquran. Hanya, kita tidak mau serius mendalaminya. Sudah saatnya kita harus berusaha menyelesaikan persoalan sendiri tanpa bergantung pada teori dan sistem yang diimpor dari luar yang justru bisa menambah beban dan menimbulkan masalah baru. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar