Tampilkan postingan dengan label Wulan Widi Ifafah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wulan Widi Ifafah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 September 2013

Pertanian India versus Indonesia

Pertanian India versus Indonesia
Wulan Widi Ifafah ;   Penerima Beasiswa Unggulan RI Jurusan Sosiologi
University of Pune, India
DETIKNEWS, 30 Agustus 2013


Indonesia adalah bagian Asia Tenggara, yang dilintasi garis khatulistiwa yang beriklim tropis, memiliki tanah yang subur serta luas yang selalu dijuluki sebagai Negara agraris.

Konsep negara agraris sendiri merupakan sebuah negara yang terkenal dengan hasil pertanian atau negara "Petani". Mentri pertanian Dr. Ir. H. Suswono pernah mengatakan, "Tak ada negara yang dapat mengabaikan sektor pertanian. Secanggihnya teknologi saat ini, belum ada yang mampu menggantikan pangan" Senin, (17/9).

Indonesia yang dijuluki sebagai Negara agraris tentunya harus mampu memenuhi kebutuhan pangan sendiri bahkan menjadi salah satu pengekspor terbesar komoditas pangan dunia.

Namun perjalanan pembangunan pertanian di Indonesia hingga saat ini masih belum dapat menunjukkan hasil yang maksimal jika dilihat dari segi kesejahteraan petani dan kontribusinya pada pendapatan nasional.

Pada masa Orde Baru, Indonesia berhasil berswasembada pangan dengan bantuan gerakan revolusi hijau. Namun, keberhasilan tersebut hanya bertahan selama lima tahun yaitu pada tahun 1984 hingga 1989.

Kini Indonesia dihadapi berbagai macam permasalahan terkait dengan pertanian berupa kesenjangan ekonomi, penurunan kualitas dan kuantitas sumber daya lahan, minimnya ketersediaan infrastruktur penunjang pertanian, lemahnya sistem alih teknologi, keterbatasan akses layanan usaha, panjangnya mata rantai tata niaga pertanian dan lain sebagainya.

Sebaliknya, India yang sebelumnya mengimpor komoditas pangan untuk memenuhi kebutuhan negaranya, kini menjadi salah satu penghasil terbesar komoditas pangan di dunia.
Bahkan sebagai juara eksportir beras dunia mengalahkan Vietnam dan Thailand. Mengapa India dengan jumlah penduduk terbesar ke-2 di dunia itu mampu menjadi penghasil terbesar komoditas pangan tingkat dunia? 

Kemajuan Pertanian di India

Sebelum pertengahan 1960-an India mengandalkan impor dan bantuan pangan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Namun, dua tahun kekeringan yang parah yaitu pada tahun 1965 dan 1966 meyakinkan India untuk mereformasi kebijakan pertanian dan bahwa India tidak bisa bergantung pada bantuan asing untuk memenuhi kebutuhan pangan negerinya.

India mengadopsi reformasi kebijakan yang difokuskan pada tujuan swasembada gandum yang merupakan bahan makanan pokok disamping beras. Hal ini menghantarkan pada Revolusi Hijau di India.

Dimulai dari keputusan mengadopsi bibit unggul, varietas gandum tahan hama dan dengan pengetahuan pertanian yang lebih baik, India berupaya meningkatkan produktivitas pertaniannya.

Lebih dari 50 tahun sejak kemerdekaannya, India telah membuat kemajuan besar menuju ketahanan pangan. Upaya yang dilakukannya ialah medukung kebijakan makro di bidang pertanian baik dari segi infrastruktur maupun dari segi sumber daya manusianya.

India sangat tergantung musim karena secara geografis beberapa wilayah di India memiliki iklim yang berbeda-beda sehingga produktifitasnya pun berbeda-beda.
Dari segi infrastruktur, India memfokuskan pada sistem irigasi yang memerlukan modal dalam jumlah besar seperti bendungan besar, kanal panjang dan sistem irigasi skala besar lainnya yang berbasis pada investasi publik.

Antara tahun 1951 dan 1990, hampir 1.350 irigasi besar dan menengah dimulai dan sekitar 850 telah diselesaikan hampir di seluruh wilayah India.

Jika bukan karena keterlibatan pemerintah yang besar dalam menyimpan air untuk irigasi pertanian, maka dipastikan banyak daerah yang akan mengalami kekeringan karena pertanian di india sangat bergantung pada musim. Ketergantungan pada musim hujan ini cukup berisiko karena rata-rata curah hujan yang diterima bervariasi di setiap daerah.

Dari segi sumber daya manusianya, India mendirikan institusi dan universitas pertanian dalam jumlah yang banyak.

Ada sekitar 22 institusi atau universitas khusus cakupan pertanian di India seperti Indian Agricultural Research Institute, Allahabad Agricultural Institute, National Dairy Research Institute, Maharashtra Animal & Fishery Sciences University, Tamilnadu Veterinary And Animal Sciences University, Orissa University of Agriculture and Technology dan lain sebagainya.

Belum lagi jurusan pertanian yang ada pada universitas pada umumnya. Sedangkan di Indonesia hanya ada satu yaitu Institute Pertanian Bogor. Lainnya bersumber dari jurusan pertanian yang ada pada universitas pada umumnya. 

Kebijakan Pertanian Indonesia
Jakarta - Menurut Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BBP2TP) Dr. Agung Hendriadi, Produktivitas pangan di Indonesia dalam 10 tahun terakhir masih tetap tidak meningkat secara signifikan.

Salah satunya disebabkan kondisi infrastruktur irigasi yang sudah rusak parah, penyerapan tenaga kerja yang menurun drastis, faktor kepemilikan lahan dan teknologi pengolahan pasca panen.

Sekitar 52 persen infrastruktur irigasi yang sudah dibangun di era Orde Baru berada dalam kondisi rusak parah. Penyerapan tenaga kerja bidang pertanian menurun drastis dari tahun 1976 yang mencapai 64,16 persen dan kini hanya mampu menyerap 33 persen saja.

Adapun faktor minimnya kepemilikan lahan dan juga teknologi pasca panen masih menjadi kendala terbesar. Seperti contohnya saat musim panen bulan Mei, Juni, dan Juli produktivitas jagung nasional mencapai surplus namun kelebihan stok tersebut tidak mampu mencukupi kebutuhan selama sembilan bulan setelahnya.

Adapun kebijakan Impor beras disaat panen raya terjadi di negeri tercinta ini. Disaat produksi komoditas pertanian Indonesia selama tahun 2005-2009 menunjukkan prestasi sangat baik.

Antara lain produksi padi dari 57,16 juta ton pada tahun 2007 menjadi 60,33 juta ton pada tahun 2008 dan target produksi padi tahun 2009 sebesar 63,5 juta ton, sementara berdasarkan ARAM III (Juni 2009) produksi padi telah 63,8 juta ton atau mencapai 100,5% dari target tahun 2009.

Bulog sebagai badan stabilisator malah melakukan kebijakan impor beras dengan nilai impor tertinggi yaitu sebesar US$ 861,23 juta.

Kebijakan ini menuai kritik dari berbagai kalangan termasuk sejumlah ekonom Institut for Development of Economics and Finance (Indef) yang menyebutkan bahwa kebijakan ini anomali, karena pemerintah dalam hal ini Bulog melakukan impor beras disaat panen raya (surplus beras). Selain itu, anggaran untuk pertanian di Indonesia sangat minim.

Misalnya saja untuk rehabilitasi irigasi. "Pencapaian target surplus 10 juta ton beras pada tahun 2014 dapat terealisasi apabila seluruh saluran irigasi yang rusak diperbaiki. Sayangnya, anggaran yang tersedia untuk perbaikan irigasi kementerian pekerjaan umum hanya Rp. 3 triliun", kata Suswono kepada pers dalam kunjungan kerjanya di Batang, Jawa Tengah, Sabtu (8/6). Padahal, dana yang dibutuhkan mencapai 21 Triliun.

Petani Menjerit

Latif Adam (Pakar Ekonimi LIPI) mengatakan "Tulang punggung ketahanan pangan adalah petani. Namun, mereka selalu dalam posisi sulit, terutama jika terkait dengan harga pangan dalam Negeri." Petani sering tidak menerima keuntungan besar meskipun harga pangan dalam negeri naik tinggi.

Disisi lain, apabila harga pangan dianggap terlalu tinggi dan membahayakan konsumen, kebijakan yang diambil pemerintah seringkali tidak berpihak pada kepentingan petani. Contohnya kebijakan impor yang justru membuat produksi petani kurang laku.

Sebenarnya pemerintah mengalami kesulitan dalam mengambil kebijakan karena harus sama-sama memikirkan konsumen dan petani dan juga merealisasikan target yang sudah ditetapkan.

Namun seberat apapun masalahnya pasti bisa terpecahkan. Pasti ada jalan keluar. Buktinya, India dengan Negara berpenduduk 1,2 miliar yang kegiatan pertaniannya bergantung pada musim jangan sampai kita yang berpenduduk 230 juta dengan tanah yang subur dan iklim yang menunjang bergantung kepada impor.

Diharapkan pemerintah dapat mengambil kebijakan pro-petani karena meski bagaimanapun kita bergantung pada petani. Jika kita tidak menghargai petani maka wajarlah jika kebijakan impor terus dilakukan pemerintah tanpa melihat adanya dampak jangka panjang yang akan mengancam kestabilan dan kemakmuran bangsa. 

Selain kebijakan yang pro-petani, Konsumen pun harus senantiasa mengkonsumsi produk-produk lokal Indonesia. Dengan membeli hasil bumi lokal berarti kita ikut menghidupi para petani dan turut mengembangkan senyum serta memberi secercah harapan bagi keluarga petani Indonesia.  ●  

Seorang Dokter yang Kontroversial

Seorang Dokter yang Kontroversial
Wulan Widi Ifafah ;   Penerima Beasiswa Unggulan RI Jurusan Sosiologi
University of Pune, India
DETIKNEWS, 29 Agustus 2013


Ketika itu saya hendak berlibur bersama teman saya di sebuah desa di India yang bernama Ahmednagar. Ahmednagar adalah sebuah desa yang asri dimana tempatnya sangat cocok bagi orang yang ingin melepas lelah sembari menikmati keindahan alam.

Oleh karena saya mengetahui bahwa bapak ibu teman saya itu dokter, dibenak saya rumah mewah, mobil mewah, pokoknya paling menonjol di antara rumah-rumah lain di desa itu.

Sesampainya di depan pintu gerbang, saya menunjuk kearah rumah mewah yang ada di depan mata saya. " waah, ini rumahmu ya? Besar sekali… bagus bagus…" namun ternyata teman saya membalas "Bukan yang itu tetapi yang sebelahnya".

Beliau menunjuk rumah yang sangat sederhana, bahkan tidak dicat! Hanya olesan semen kering dan sebuah kursi dari anyaman bambu yang tampak dari luar. Saya kaget bukan main, orang tua dua-duanya dokter.

Fenomena seperti ini hampir tak pernah ditemukan di Indonesia. Begitu masuk, ibunya menyambut kedatangan saya dengan hangat. Tak disangka, penampilannya pun sangat sederhana, dengan pakaian khas santai India yang terlihat seperti sudah lama tak diganti.

Tak lama kemudian saya diajak masuk ke dalam, sama sekali tidak ada kesan mewah di rumah itu. Bahkan tidak ada satu pun AC. Kamar mandinya pun berlantaikan semen seperti orang yang tak mampu membeli kramik. Keesokan harinya saya diajak keliling-keliling kampung.

Oleh karena saya ingin mengamati pertanian di daerah sana, maka saya berpesan kepada teman saya untuk mengajak saya ke tempat perkebunan dan areal persawahan. Kebetulan daerah itu terkenal dengan pertaniannya. Ayahnya sengaja menyewa supir khusus untuk saya dan teman saya sehingga dapat keliling-keliling sawah dan perkebunan sesuka hati.

Ternyata kebun dan sawah yang luas yang kami hampiri itu milik ayahnya. Setelah berkeliling sambil mendengarkan paparan ilmu teknologi pertanian dari kawan saya itu, kami melanjutkan perjalanan ke sebuah sekolah Dasar. Disana anak-anaknya sangat bersemangat dan sekolahnya pun terbilang bagus.

Lagi-lagi sekolah itu milik ayahnya. Sekolah itu bernama "IZAK English Medium School" yang diambil dari nama keluarganya yaitu "KAZI" Sekolah itu berpengantar dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan Hindi (bahasa India).

Sekolah itu berdampingan dengan pemukiman kumuh lagi menyedihkan. Ternyata anak-anak yang bersekolah disana berasal dari keluarga kurang mampu. Semua biaya sekolah ditanggung oleh ayah teman saya itu. Kala itu, waktunya makan siang. Anak-anak dengan semangatnya berlari untuk mengambil makanan.

"Nasi yang mereka makan berasal dari nasi pungutan sehingga harganya sangat murah" tutur teman saya itu. Mereka makan dengan sangat lahap dan dengan muka yang sumringah. Lauknya terlihat lezat. Yaitu kari kentang dan kacang panjang. Oleh karena di daerah pertanian, maka sayurannya pun bisa dibeli dengan harga murah.

Sebagian besar orangtua mereka adalah buruh tani, penggembala, atau buruh lainnya. "orang tua penggembala itu pulang setiap 6 tahun sekali karena harus mengembara dari lahan yang kering ke lahan yang subur selama bertahun-tahun. Makanya anak-anak ini perlu diperhatikan khusus" kata teman saya itu. Betapa kerasnya kehidupan disana, anak-anaknya pun dituntut untuk hidup mandiri.

Tidak sampai disitu, setelah itu saya diajak ke sekolah lainnya yang lebih besar lagi. Kali ini sekolah berpaket, mulai dari SD, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi. Dugaan saya benar, lagi-lagi sekolah tersebut milik ayahnya. "jika mereka lulus dari sini mereka akan mendapat sertifikat perguruan tinggi sehingga mereka dapat bekerja dengan layak nantinya" tutur teman saya itu.

Semua sekolah yang dimiliki ayahnya tidak untuk mencari keuntungan namun sekolah tersebut dibangun untuk anak-anak yang kurang mampu. Sekitar 2000 siswa-siswi bersekolah dengan Cuma-Cuma.

"Ayah saya selalu menyisihkan 80% penghasilannya untuk kegiatan sosial, sisanya 20% untuk hidup". Ia menambahkan "Setiap kali kami meminta uang untuk membeli buku saja, selalu ditanya berapa harganya dan tidak pernah diberi uang lebih".

Hal ini membuat teman saya tidak pernah berfoya-foya dengan uang karena sangat sulit untuk mendapatkannya. "Ayah percaya bahwa anak-anaknya akan mendapatkan uang bagaimana pun caranya" tuturnya lagi.

Pemikiran seperti ini sangat jarang kita temui di zaman sekarang. Menurut informasi yang saya dengar, dahulu ayahnya berasal dari keluarga kurang mampu. Dengan kecerdasan yang ia miliki, ia lulus kedokteran dengan bantuan dana dari pemerintah.

"Ia memulai karir di bawah pohon dengan menggelar tikar. Membuka pengobatan dengan cara tradisional. Karena keahliannya, banyak pasien yang datang dan beliau mulai membangun rumah sakit".

Lantas apa yang menjadi kontroversial? Banyak orang yang menertawakan beliau, karena beliau mendirikan sekolah untuk semua agama. Ia membangun rumah sakit untuk semua agama. Menurut cerita yang saya dapat, kalangan yang terlalu ekstrem atau fanatik yang mengenal beliau berkata "ia tidak akan mendapat apa-apa karena membantu agama lain".

Namun beliau tetap percaya dengan apa yang ia lakukan. Menurut beliau, jika kita membantu sesama manusia, sang pencipta pun akan mengasihi kita dan bahkan orang-orang akan mencontoh agama kita. 

Demikianlah orang-orang yang mudah-mudahan akan mendapatkan balasan yang baik di akhirat kelak. Amin. ●  

Sabtu, 24 Agustus 2013

Pendidikan Murah Tak Sekadar Impian

Pendidikan Murah Tak Sekadar Impian
Wulan Widi Ifafah ;    Penerima beasiswa unggulan RI jurusan Sosiologi
di University of Pune, India
SINAR HARAPAN, 23 Agustus 2013


Betapa antusiasnya anak-anak Indonesia ketika mengatakan “aku ingin jadi dokter”, “aku ingin jadi pilot”, “aku ingin jadi presiden”, dan lain sebagainya. Namun impian mereka sering kali berhenti pada mahalnya biaya pendidikan.

Meskipun banyak beasiswa yang menawarkan jaminan pendidikan hingga periode tertentu, beasiswa tersebut belum dapat meringankan beban seluruh masyarakat miskin di Indonesia yang ingin bersekolah.

Dengan demikian, tetap saja banyak anak Indonesia yang putus sekolah dan merelakan cita-citnya kandas di tengah jalan. Sering kali orang tua mereka harus menjual tanah, rumah, kendaraan, emas, demi menyekolahkan anaknya. Begitu mahalnya biaya pendidikan di negara kita. Mari kita tengok pendidikan di India.

Di India, biaya pendidikan termasuk sangat murah. Bayangkan saja, untuk semua warga negara India, biaya kuliah dipatok hanya Rp 500.000-2 juta per tahun. Jika tidak mampu maka dapat mengajukan permohonan sehingga mendapatkan pendidikan gratis.

Bukan saja murah, tetapi berkualitas. Hampir di setiap kampus, berbagai fasilitas tersedia seperti gym, lapangan basket, aula, lapangan bola, ruang belajar, perpustakaan, ruang santai, kantin, taman, asrama, dan lain-lain di mana jika dibayangkan hampir mustahil dengan biaya Rp 500.000-2 juta per orang per tahun.

Selain itu, hampir seluruh instansi pendidikan di India menggunakan bahasa Inggris sehingga dapat menyetarakan kualitas belajar skala internasional. Kesuksesan India dalam memberikan pendidikan murah dan berkualitas membuat mahasiswa asing banyak belajar di India.

Buku dan Laptop Murah

Cara India memajukan sistem pendidikannya sangat relevan dibandingkan Indonesia. Di Indonesia, hanya kurikulum saja yang dipertimbangkankan dan diubah-ubah yang membutuhkan waktu sangat lama dan membuat siswa kaget dan stres.

Sementara di India, mereka menurunkan biaya buku dengan bahan yang tidak terlalu bagus sehingga harganya bisa lebih murah, membuat percetakan khusus buku yang bekerja sama dengan luar negeri sehingga harga buku-buku skala internasional dapat dijangkau di kalangan siswa/mahasiswa.

Mereka juga meluncurkan laptop dengan harga murah seharga INR 500 (sekitar Rp 120.000) yang merupakan bagian dari program pemerintah dalam menyediakan konektivitas siswa sekolah dengan gurunya dan lain sebagainya yang mana tujuan dan output dari kebijakan India untuk memajukan pendidikan lebih relevan dibandingkan dengan Indonesia.

Menurut World Bank, jumlah anak yang mengenyam pendidikan dasar di India meningkat dari 57 juta jiwa menjadi 197 juta jiwa hanya dalam kurun waktu enam tahun yaitu sejak 2003-2009. Sementara jumlah anak putus sekolah menurun 25 juta jiwa menjadi 8 juta jiwa pada kurun waktu yang sama.
India benar-benar memikirkan bagaimana cara meningkatkan kualitas pendidikan serta melihatnya sebagai investasi jangka panjang. Bagi India, teknologi dan pendidikan sangat penting untuk memajukan negaranya.

"Berpikir adalah kemajuan. Tidak berpikir merupakan stagnasi bagi individu, organisasi, dan negara. Berpikir mengarahkan pada tindakan. Pengetahuan tanpa tindakan tidak ada gunanya dan tidak relevan. Pengetahuan dengan tindakan mengubah kesengsaraan menjadi kesejahteraan," kata Dr Abdul Kalam, mantan Presiden India.

Sejak 1951

Sejak awal kemerdekaan, pemerintah India konsisten mengembangkan pusat-pusat keunggulan di tingkat universitas. Tiga tahun setelah kemerdekaannya, yaitu pada 1951, parlemen India menetapkan Institut Teknologi India di Karagpur sebagai pusat keunggulan nasional. Semua dana pembangunan dan operasional sepenuhnya disokong oleh pemerintah pusat. Institut teknik yang sama dibentuk di lima kota lain yang tersebar di sejumlah wilayah dari utara sampai selatan di negeri itu.

Keberadaan IIT yang didukung penuh secara finansial oleh pemerintah pusat itu sangat besar peranannya menciptakan kumpulan besar teknisi dan pakar teknologi di India.

Orang-orang India berbondong-bondong belajar dan bekerja di negara maju dan sebagian kembali ke 
India membentuk perusahaan-perusahaan perangkat lunak komputer. Pada 2002 industri piranti lunak di India menghasilkan US$ 10 miliar, dengan pasar domestik US$ 2 miliar dan memberikan sumbangan 16 persen dari total ekspor dari negara itu.

"Kekuatan teknologi bangsa ini yang menjadi kunci untuk mencapai status negara maju. Perhatian yang memadai perlu diberikan untuk membangun kader-kader sumber daya manusia khusus di negara ini," kata Kalam dalam sebuah bukunya.

Banyak sekali ilmuwan di Indonesia yang tak kalah dengan ilmuwan di negara maju. Namun ilmunya sebatas menjadi tinta hitam di atas putih tanpa adanya realisasi karena kurangnya dukungan dan sokongan sepenuhnya dari pemerintah. Mahalnya biaya pendidikan di Indonesia juga tak sebanding dengan kualitas yang didapat.


Selain soal infrastruktur, seperti ruang kelas yang rusak, serta sarana perpustakaan dan laboratorium yang kurang, kondisi guru dalam peningkatan mutu pendidikan juga tak kunjung baik kualitasnya. Namun semua persoalan pasti ada cara pemecahannya, tidak hanya sebatas meningkatkan anggaran untuk pendidikan, namun juga pengawasan mutu dan juga strategi yang tepat diperlukan karena sudah banyak bercampur dengan kepentingan politik. ●