Tampilkan postingan dengan label Candra Malik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Candra Malik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Februari 2018

Menua dan Terlambat Menyadari Kasih Sayang Orangtua

Menua dan Terlambat
Menyadari Kasih Sayang Orangtua
Candra Malik ;    Budayawan Sufi
                                                  DETIKNEWS, 15 Februari 2018



                                                           
Saya terlahir dari keluarga pemeluk agama Islam. Ibu bercerita, bapak bersegera mengumandangkan azan, yang di dalamnya terkandung dua kalimat syahadat, ke pendengaran saya. Sejak saat itu, kedua orangtua dan keluarga saya meyakini saya pun beragama Islam seperti mereka. Dan, saya mensyukuri ini sebagai berkah tiada tara: hidayah dari Allah yang bahkan saya terima sejak sebelum sanggup berpraduga dan berpikir.

Saya tak hendak berandai-andai: apa yang terjadi jika terlahir dari keluarga yang berbeda. Memang, Rasulullah Muhammad SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, bersabda, "Setiap manusia tidaklah dilahirkan melainkan dalam keadaan fitrah, lalu orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi." Namun, saya lebih memilih mensyukuri fitrah yang Allah berikan pada saya daripada menilai orang lain dan agamanya.

Setiap manusia tidak bisa memilih untuk dilahirkan atau tidak dilahirkan, pun tidak ada bayi yang bisa memilih ibu dan bapak. Bukankah kedewasaan akan mengantar kita pada pilihan dan keputusan terbaik dalam hidup? Ya, memang. Namun, jika pun demikian, manusia tak dapat menentukan akan wafat dalam keadaan bagaimana. Ia, pun saya dan Anda, hanya berharap kelak segalanya berakhir dengan baik, bahkan lebih baik dari permulaannya.

Setiap kita berangkat ke dunia tanpa pengetahuan, apalagi pengalaman. Manusia dilahirkan dari mulut rahim ibu dalam keadaan yang sama, yaitu tidak tahu dan tidak bisa apa-apa. Seperti tersurat dalam Q.S. An Nahl ayat 78, kemudian Allah jadikan pendengaran, penglihatan, dan hati, agar manusia bersyukur. Kita sama-sama memulai karier sebagai manusia dari nol. Lantas kita belajar tentang banyak hal, yang seluruhnya dimulai dari akhlak mulia.

Dari ibu dan bapak, serta orang-orang di sekitar kita sejak dilahirkan, kita telah belajar bahwa yang bersimbah kotor harus dibersihkan, yang telanjang harus diberi pakaian, yang menangis harus ditenangkan, yang lapar harus diberi asupan, yang lemah harus dilindungi, yang kesepian harus ditemani, yang belum bisa harus diajari, yang keliru harus dibenarkan, yang kurang harus dicukupi, dan seterusnya, dengan cara yang welas asih, baik, dan benar.

Saya tidak ingat bagaimana rasanya menjadi bayi, tapi saya tidak lupa pada kasih sayang ibu dan bapak, serta orang-orang tercinta dan terdekat di dalam hidup saya sejak kecil. Entah bagaimana waktu memberinya bekas pada setiap usia saya, namun saya tahu betul jejak mereka tak akan pernah hilang dari sanubari. Saya yakin, oleh karena saya pernah ditimang-timang saat bayi, saya pun menimang anak-anak kami ketika bayi. Dengan cinta.

Namun, yang saya pahami kemudian tatkala sudah dewasa, ternyata kasih sayang pun mengandung tega. Jika atas nama kasih sayang lantas orangtua terus-menerus menggendong anaknya, maka kaki dan tangan anak itu akan melemah, mengecil, bahkan melumpuh. Anak harus kita lepas pula agar ia belajar merangkak, berdiri, berjalan, dan terjatuh, lantas bangkit lagi. Itulah fitrah kasih sayang. Itulah fitrah kemanusiaan manusia.

Kisah setiap anak tentu berbeda. Ada yang merasa dekat dengan orangtua, ada yang tidak. Namun, sejauh-jauh anak menjauh dari orangtua, tetap saja ia tidak bisa menghapus darah daging dalam dirinya mengandung jiwa raga ibu dan bapaknya. Memang tak ada dosa bawaan atau dosa turunan, tapi agama mengajarkan pada saya adanya kebaikan dan pahala berkelanjutan. Kebaikan dan pahala anak niscaya tak bisa dipisahkan dari budi orangtua.

Fitrah ilahiah (ketuhanan) dan fitrah insaniyah (kemanusiaan) tidak terpisah dari kerasulan Muhammad SAW. Sebab, putra Abdullah dan Aminah inilah yang menghubungkan dan menyambungkan umat manusia dengan Tuhannya. Nabi Muhammad inilah perwujudan nyata dari Rahmat Allah — sebagaimana ia diutus sebagai rahmatan lil 'alamin, anugerah bagi alam semesta. Dan ia bersabda, sesungguhnya ia ditugaskan untuk menyempurnakan akhlak mulia.

Sesuai fitrah insaniah, akhlak mulia yang ilahiah inilah yang diteteskan dan dititiskan orangtua pada anaknya. Dan inilah diinul Islam, jalan hidup yang lurus dan berserah kepada Allah. Tak pernah benar-benar ada orangtua yang ingin murka pada anaknya, pun tak pernah benar-benar ada anak yang ingin durhaka pada orangtuanya. Jika pun ada, niscaya disebabkan manusia ingin melawan fitrahnya sendiri, dan bahkan ingin mengingkari fitrah Allah.

Allah berfirman, "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada ad-diin, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah ad-diin yang lurus, namun kebanyakan manusia tak mengetahui," sebagaimana termaktub dalam Q.S Ar Ruum ayat 30. Tapi, apa itu ad-diin? Apakah yang dimaksud adalah agama? Ya. Rasulullah SAW bersabda, "Ad-diin an nashiihah, agama adalah nasihat."

Sabda itu diriwayatkan Muslim dalam hadits yang termaktub di dalam kitab Arba'in, ringkas namun padat. Nasihat, tentu saja, berisi tentang kebaikan dan kebenaran, kearifan dan kebijaksanaan, ketulusan dan kemurnian, serta kasih dan sayang. Bukan ujaran kebencian, kedengkian, keangkuhan, permusuhan, dan keburukan-keburukan lainnya. Dan, bukankah itu pula yang dinasihatkan, bahkan diajarkan dan dididikkan, serta dicontohkan orangtua pada anaknya?

Seburuk-buruk orangtua --mohon maaf menulis yang tidak pantas seperti ini-- tidak menginginkan anaknya buruk, atau sama buruk, apalagi lebih buruk dari dirinya. Orangtua mengharapkan kebaikan untuk anaknya. Orangtua berharap anaknya baik-baik saja. Orangtua berusaha dan berdoa agar anaknya menjadi anak yang baik, yang bahkan lebih baik dari dirinya. Itulah fitrah insaniah, bersumber dari fitrah ilahiah, akar dari akhlak mulia.

Oleh karena itulah, kedudukan orangtua, terutama ibu, teramat mulia di sisi Allah, yang oleh karena itu Rasulullah berpesan agar setiap anak hormat dan patuh pada orangtua. Dan, oleh karena itu pulalah, anak saleh menempati kedudukan yang mulia pula di sisi-Nya, yaitu anak yang bahkan masih berbakti pada orangtuanya yang telah wafat, dengan tetap mendoakannya. Setiap orangtua pada hakikatnya anak dan selama-lamanya anak orangtuanya.

Saya menulis ini menjelang usia 40 tahun dan dalam keadaan merenung terus-menerus, menyadari betapa hidup ternyata singkat dan kepergian kedua orangtua saya terasa terlalu cepat. Belum cukup rasanya, dan tak pernah cukup, belajar dari ibu dan bapak tentang akhlak mulia, fitrah ilahiah dan insaniah, akhlak mulia, diinul Islam, dan hal-hal lain tentang kehidupan. Dan, betapa anak tak akan bisa membalas kasih sayang orangtua.

Sebagaimana anak-anak kami pada saya, saya juga pernah bertanya pada ibu dan bapak, "Di manakah Allah?" Jawaban mereka berkembang, seperti sengaja disesuaikan pertumbuhan dan perkembangan kedewasaan anaknya. Saat saya akil baliqh, bapak memberi jawaban, "Allah itu dekat, tak pernah jauh, apalagi menjauh. Kita saja yang mungkin merasa jauh atau menjauh, namun tak pernah mampu menghapus kedekatan Allah pada makhluk-Nya."

Penjelasan itu sesuai Q.S. Al Baqarah ayat 186, dan ibu menyempurnakan jawaban bapak dengan mengingatkan kami agar senantiasa berdoa pada-Nya. Ya, saya haqqul yaqin Allah sungguh dekat dengan makhluk-Nya. Namun, seiring waktu, saya semakin khawatir pada diri saya sendiri. Saya khawatir merasa dekat dengan Allah. Dan saya lebih khawatir saya merasa lebih dekat dengan Allah dibanding orang lain, bahkan menganggap mereka jauh.

Terutama pada saat-saat seperti inilah saya rindu pada ibu dan bapak, yang telah berpulang. Juga pada saat-saat seperti ini pulalah saya merindukan Rasulullah, sosok suri teladan yang tak pernah saya jumpai dalam rentang usia saya ini. Pun saya rindu pada Allah, yang rahmat-Nya bahkan melampaui kemurkaan-Nya. Tapi, saya belum siap mati. Saya tak pernah siap mati. Apa yang hendak saya bawa jika menjadi baik saja belum. Masih terlalu jauh.

Semakin ke sini semakin saya sadari bahwa ulang tahun sesungguhnya tidak setiap tahun. Sebab, siapa tahu tahun ini adalah ulang tahun terakhir saya. Dan, dari kabar kematian demi kabar kematian yang setiap hari kita terima, saya menjadi semakin paham betapa ajal tidak berdasarkan urutan umur, namun berdasarkan urutan waktu. Jika telah tiba waktu bagi kita, maka tiada yang dapat menunda. Di masa tunggu ini, apa yang bisa saya siapkan?

Ya, Allah memberi balasan atas setiap perbuatan kita, bahkan surga dengan segala kenikmatannya, termasuk para bidadari yang dijanjikan. Namun, saya lebih rindu pada Allah, Rasulullah SAW, dan ibu-bapak. Ya, ibu dan bapak. Bagi saya, ibu dan bapaklah kekasih-kekasih Allah yang sesungguhnya. Kasih sayang orangtua melebihi pelita bagi anaknya. Ibu-bapak menyayangi anak setiap hari, tapi anak sering terlambat menyadari. Kini, saya pun cuma bisa menyesali. ●

Senin, 10 Juli 2017

Pada Akhirnya, Kita Hendak Mudik ke Mana?

Pada Akhirnya, Kita Hendak Mudik ke Mana?
Candra Malik  ;   Budayawan Sufi
                                                     DETIKNEWS, 23 Juni 2017



                                                           
Akhirnya, sampailah saya di titik terakhir safari Ramadan tahun ini: Tasikmalaya. Sore itu, menjelang beduk maghrib, saya duduk santai bareng Ipang Lazuardi di dalam tenda transit. Dia menceritakan kacamata baru yang dibelinya dari Vicky 'Burgerkill'. Tapi, berbeda dengan saya yang sudah usai perjalanan tur, Ipang dan kawan-kawan masih satu titik lagi waktu itu: Arcamanik, Bandung. Vokalis BIP itu pun bertanya," Mudik, Gus?"

Saya jawab dengan pertanyaan balik, "Mas Ipang mudik ke mana?" Rocker berambut gimbal yang suka tampil kasual itu tertawa renyah. "Saya tidak pernah mudik, Gus. Ya Jakarta ini kampung halaman saya," ungkapnya. Ipang sesungguhnya lahir di Bandung, namun tumbuh dan besar di Jakarta. Begitu pun istrinya. Dia dan anak-anaknya tinggal di ibukota. "Jadinya irit, dan tidak pernah kena macet mudik," seloroh empu lagu 'Ada Yang Hilang' itu.

Mudik. Ya, menjelang hari-hari terakhir Bulan Ramadan, kesibukan kita beralih ke rutinitas tahunan pulang kampung. Tidak hanya setahun sekali, sebenarnya, tapi pulang kampung untuk merayakan Hari Idul Fitri memang terasa istimewa. Walau harus terjebak kemacetan panjang pun, tak ada yang benar-benar mengeluh dan memutuskan untuk tidak akan mudik lagi dalam gelombang manusia rindu pulang. Lebaran tetap di perantauan, duh sakit!

Berliyan, karib saya yang tahun lalu sudah menikah dan kini menanti kelahiran anak pertamanya, menyusul sang istri yang sudah lebih dulu mudik ke Lampung. Dia, pada tahun-tahun sebelumnya, mudik ke Malang, kampung halamannya. Kini tak lagi sama sejak berumah tangga. Yang bikin saya geleng kepala, Berliyan akan bermotor ke Lampung. Padahal, kampung halaman istrinya masih tujuh jam lagi dari pusat kota. Tapi, semua itu toh dijalani.

Kampung halaman. Sesungguhnya, di manakah kampung halamanmu? Tidak jarang kita diingatkan bahwa dunia bukan kampung halaman kita yang sejati. Ada adagium Jawa yang meneguhkan, "Urip iku mung mampir ngombe. Hidup (di dunia) hanya mampir minum." Banyak yang berpetuah bahwa kehidupan dunia itu fana. Sementara belaka. Tidak abadi. Bahkan: fatamorgana. Tampak nyata, tapi ternyata maya. Bukan kehidupan sejati.

Tapi, orang-orang tidak menjawab ketika saya bertanya, "Di mana alamat akhirat?" Setuju atau tidak, percaya atau tidak, suka atau tidak, siap atau tidak, setiap yang bernapas niscaya akan menjumpai ajal. Satu di antara nikmat dari Allah yang tidak dapat kita pegang, karena ia selalu seketika pergi sejak tiba, ialah waktu. Ya, waktu tidak pernah lebih cepat, tidak pula lebih lambat. Waktu selalu tepat waktu. Dan, batas waktu bagi usia adalah ajal.

Akhirat. Di mana itu? Di dunia saja, kita memerlukan alamat untuk menuju ke titik perjumpaan tertentu. Sudah ada alamat pun, kita masih membutuhkan ancar-ancar untuk lebih memudahkan mencapai tujuan. Itu pun masih ditambah lagi: jika ada pengantar yang pernah ke tujuan itu, maka kita lebih lega. Nah, bagaimana dengan akhirat? Di mana alamatnya, ada atau tidak ancar-ancarnya, dan adakah pengantar yang bisa kita harapkan?

Ketika orang-orang bahkan sudah berani mengkapling-kapling surga, bahkan lagi dengan mengkafir-kafirkan orang lain dan mengolok-olok mereka sebagai ahli neraka, pertanyaan saya masih sama: di mana akhirat? Di mana surga? Di mana neraka? Anda tahu? Saya tidak sedang mempertanyakan hal-hal mengenai iman. Saya sedang mempersoalkan betapa kita sesungguhnya tidak mengenal batas dan bahkan kelewat sering melampauinya.

Kita sungguh-sungguh tidak tahu apa-apa. Ya, saya di Jakarta. Jakarta di Jawa. Jawa di Indonesia. Indonesia di Asia. Asia di bumi. Bumi di Tata Surya. Tata Surya di Galaksi Bima Sakti. Galaksi Bima Sakti di Alam Semesta. Alam Semesta di mana? Ketika pertanyaan itu telah terjawab oleh ilmu pengetahuan dan teknologi pun, saya tak akan berhenti bertanya: di mana itu? Tolonglah saya. Sesungguhnya kita di mana? Ke mana kita harus mudik?

Satu-dua tahun yang lalu, saya pernah menanyakan hal serupa kepada anak sulung saya, Bima. "Lalu, di manakah Alam Semesta itu, Kak?" Bima, yang waktu itu masih berumur 11-12 tahun tertegun. Tidak lama kemudian dia menjawab, "Di dalam Allah! Bukankah Allah Pemilik dan Pengatur Alam Semesta?" Senyum saya mengembang. Anak saya mengerti, Allah meliputi segala sesuatu. Tiada yang di luar dan keluar dari Kemahaagungan-Nya.

Saya masih berharap ada yang menjawab di mana alamat akhirat, namun saya tidak memintanya sekarang. Harapan saya, kita masih memiliki waktu yang cukup untuk memiliki jawabannya, dan betapa jawaban itu sungguh penting khususnya bagi kita sendiri. Sebab, bukan soal waktu yang telah berlalu, namun lebih tentang waktu yang masih tersisa. Kita sama-sama tidak tahu kapan akhir waktu bagi usia masing-masing. Saat itulah kita akan mudik.

Mudik? Di mana kampung halamanmu yang sejati? Yusuf, sahabat saya yang lain, pernah sampai menangis demi beroleh jawaban atas pertanyaan itu. Alih-alih bisa merasa lega, ia justru mendapat perkara baru: jika kau memang penghuni rumah itu, bukankah seharusnya kau tahu di mana alamatnya? Ah, rumah asal, rumah asal. Pergiku telah terlampau jauh dan lupaku sudah terlalu akut sampai-sampai tidak ingat lagi di mana rumah asalku sendiri. Di sini, di dunia ini, setiap Lebaran tiba, aku selalu diingatkan untuk pulang ke Kesejatian.

Senin, 05 Juni 2017

Jeihan, Suwung dan Jalan Kebudayaan

Jeihan, Suwung dan Jalan Kebudayaan
Candra Malik  ;   Budayawan Sufi
                                                     DETIKNEWS, 02 Juni 2017



                                                           
Berbicara dengan Jeihan Sukmantoro adalah berbicara dengan kedua pias mata yang bolong. Laksana lorong menuju ke kedalaman tanpa batas. Dengan kuas dan cat hitam, pelukis sufi ini menghidupkan kanvas menjadi semesta kegaiban yang mengundang tatapan kita untuk merasuk. Juga sore itu, ketika saya bercengkerama dengannya. Tentang mitologi.

Duduk berdua saja, di antara keriuhan di studio lukis Jeihan di Padasuka, Bandung kami mengobrolkan suwung, dimensi di mana waktu tak lagi bergerak dan ruang tak lagi berubah. "Saya membaca buku Anda yang berjudul Makrifat Cinta. Ya, bagus, sangat bagus, tapi masih lemah. Anda harus naik lagi ke maqam suwung," kata pelukis kelahiran Solo, 26 September 1938 ini.

Menurutnya, meski telah mencapai tataran makrifat, cinta tetap saja labil dan tak pelak menyebabkan seorang sufi masih bisa goyah. "Ketika yang kita cintai juga dicintai orang lain, kita cemburu. Ketika cinta terkena virus, sebut saja benci, kita melemah, bahkan bisa lantas berubah," jelas Jeihan. Berbeda dengan suwung yang tiada sesuatu di dalamnya selain kosong.

Kosong itu di atas suwung. Jika kosong itu kosong, alias tanpa isi, maka suwung justru berisi penuh. Berisi apa? Nah, ini dia. Suwung adalah kekosongan yang penuh dengan kekosongan itu sendiri. "Di titik inilah, kita berasa dalam keadaan tan kena kinaya ngapa atau tidak lagi dapat dijelaskan dan tan kena owah gingsir atau tidak lagi berubah," kata Si Mata Kucing.

Membuka pameran tunggal lukisan dan peluncuran buku berjudul Suwung pada Kamis 1 Juni 2017, Jeihan menyihir para hadirin dengan gerak kuas di sebidang kanvas. Pada mulanya, lelaki tinggi kurus itu bermain gurat-gurat, lantas menuliskan aksara Jawa, ha-na-ca-ra-ka. Namun, ia kemudian menghapusnya dengan sayat-sayat gundah. Seperti hendak menutupi kelebat kegelisahan yang menyeruak.

"Di dalam suwung, tak ada lagi yang bisa kita katakan. Bahkan, kita tak boleh lagi berbicara. Kita menyimpan ucapan dalam diam," ucap Jeihan. Sebagaimana Jeihan, pelukis Nasirun juga merasakan daya magis ketika diberi kehormatan melukis serentak bersama pelukis Tisna Sanjaya. "Saya tak tahu hendak melukis apa. Saya hanya mengikuti kata hati," terangnya.

Nasirun membiarkan cat dan air untuk menelusuri jalan takdirnya sendiri di atas kanvas. Hanya dalam bilangan menit, ia telah menyelesaikan lukisan yang kalau diamati akan tampak keseimbangan dan kesetimbangan di sana. Yin dan Yang. Di sisi lain, Tisna melukis pula lingkaran hitam yang bertabur ayat-ayat Al Qur'an.

Bagi Tisna, Jeihan sudah lama selesai dengan urusan syariat melukis. Bahkan, sejak awal Jeihan telah menunjukkan ciri khas kesufian dalam berkarya, sebelum akhirnya identik dengan mata hitam. "Jeihan adalah Maestro Dunia Nyata dan Dunia Maya. Ia tak banyak bergaul dan bicara namun tidak berhenti menjelajah ke wilayah-wilayah terdalam manusia."

Sesungguhnya, menurut Jeihan, hidup adalah tentang mitologi dan metodologi. Mitologi diciptakan dengan spiritualitas, sedangkan metodologi diciptakan dengan kebudayaan. "Suatu bangsa menjadi besar jika ia hidup dengan mitologi. Kita tidak bisa menyepelekan mitos. Bangsa ini semakin melemah karena menganggap mitos itu kuno dan tidak logis. Itu salah besar," tegasnya.

Jeihan mencontohkan Jepang dengan mitos Amaterasu atau Dewa Matahari dan Jerman dengan mitos keturunan Bangsa Arya yang digemakan Hitler. "Anak-anak bangsa ini justru menyepelekan mitos. Dianggap dongeng belaka atau klenik. Padahal, mitos memiliki kekuatan yang teramat besar dari dalam diri manusia untuk membangkitkan spiritualitas kita sebagai bangsa," ungkap Jeihan.

Tidak hanya memamerkan lukisan Syekh Siti Jenar, yang dipajang bersebelahan dengan lukisan Sunan Kalijaga, Jeihan juga memamerkan sebuah lukisan besar seorang perempuan. "Ini adalah lukisan Ratu Laut Nusantara. Dialah ratu dari seluruh ratu di pantai dan laut bangsa maritim ini," paparnya. Perempuan di kanvas Jeihan itu pun bermata gelap.

Setelah menjelaskan soal mitologi, Jeihan bicara soal metodologi. "Bangsa ini harus kembali menempuh jalan kebudayaan. Mengenal jatidirinya sendiri, berikhtiar meluruskan sejarah, dan menyembuhkan yang terluka," ucap lelaki berumur 79 ini. Dan, kata Jeihan, kita memerlukan dialog yang terus-menerus untuk mencapai perdamaian dan kedamaian.

"Jangan suka bermusuhan, bahkan jangan memusuhi yang memusuhi kita. Rangkul, ajak bicara baik-baik. Itulah kita. Itulah Nusantara," pungkas Jeihan.

Senin, 29 Mei 2017

Semoga Masih Ada Napas Sampai Ramadan

Semoga Masih Ada Napas Sampai Ramadan
Candra Malik  ;   Budayawan Sufi
                                                      DETIKNEWS, 24 Mei 2017



                                                           
Ramadan memang sebentar lagi tiba. Namun, kita belum tentu sampai ke sana, ke bulan suci puasa itu, termasuk saya. Ajal adalah rahasia terbesar dalam hidup. Adakah yang tahu kapan ia akan wafat?

Pernah suatu ketika saya bertanya pada para peserta kelas meditasi yang saya asuh. "Apa yang sesungguhnya paling kita butuhkan di dunia ini?" Aneka jawaban muncul, dan tak berlebihan jika ada yang menjawab: kebahagiaan. Ya, siapa yang tidak membutuhkan kebahagiaan?

Lalu, ada seorang perempuan yang menyodorkan jawaban yang berbeda dari orang kebanyakan. Jawaban yang saya punya ternyata juga ia miliki. "Napas!" Ah, betapa benar jawaban ini. Napas!

Tanpa napas, kita niscaya mati. Oleh karena itulah, Allah dalam Al Quran menyandingkan napas dengan ajal, jiwa dengan maut, diri dengan kematian. Ayat 35 dari Surat Al Anbiya ini sungguh terkenal, yaitu "kullu nafsin dzaaiqatul maut." Tanpa napas, tamatlah kita.

Namun, ternyata tidak setiap orang sadar bahwa dirinya sedang bernapas. Atau, tidak setiap orang bernapas dengan kesadaran. Sejak dilahirkan, kita mulai bernapas begitu saja. Tak setiap dari kita belajar ilmu bernapas. Ilmu pernapasan.

Kita baru ngeh terhadap napas ketika ngos-ngosan atau napas tersengal-sengal; baik karena olah raga atau karena sedang naik pitam. Kita baru merasa napas itu penting ketika keadaan darurat. Segala upaya diusahakan, entah itu pernapasan buatan dari mulut ke mulut atau dari selang oksigen ke lubang hidung.

Saya kok ragu ada yang secara verbal berdoa meminta napas kepada Allah. Padahal, jika Allah tidak mengaruniakan napas sesaat saja, niscaya kita megap-megap. Betapa napas adalah karunia yang teramat besar bagi kita, namun ternyata kita lalai untuk mensyukurinya.

Bulan Ramadan sudah mendekat, namun belum tentu kita tidak menjauh darinya. Menjauh? Ya, menjauh. Allah memanggil orang-orang beriman untuk memenuhi kewajiban berpuasa, namun tidak setiap kita memenuhi panggilan itu. Jika pun berpuasa, acapkali kita berpuasa untuk memenuhi panggilan kita sendiri.

Jelas-jelas diamanatkan dalam sebuah Hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa, "Setiap amalan manusia adalah untuk dirinya sendiri, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa adalah untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalas ganjarannya," namun terang-terangan kita memperlihatkan betapa puasa ini untuk kita sendiri.

Dari mulai menu sahur hingga menu buka puasa, tabiat yang menuntut dihormati karena sedang berpuasa, tingkat konsumsi yang justru meninggi di bulan yang seharusnya lebih ekonomis itu, hingga puncaknya yang berupa aneka hal-hal baru yang diada-adakan atas nama perayaan Lebaran, menunjukkan betapa puasa kita masih untuk kita sendiri. Bukan untuk Allah.

Dinamika penetapan 1 Ramadan yang mungkin saja berlainan, selisih pandang tentang jumlah rakaat dalam Tarawih, beragam komentar soal toa masjid ketika tiba waktu salat, beda pendapat mengenai apakah mereka yang berbeda agama juga berhak mendapat zakat, hingga penetapan 1 Syawal, sebaiknya dimaknai sebagai ikhtiar masing-masing dari kita dalam mempersembahkan puasa untuk Allah. Tak perlu bertengkar.

Mumpung masih ada napas, mari kita berdoa masih diberi napas hingga dapat memasuki Bulan Ramadan dan tulus berpuasa. Bahkan tanpa perlu menunggu bulan suci itu benar-benar datang, kita pun bisa mensyukuri setiap tarikan dan embusan napas dengan merasukkan zikir di dalamnya.

Semoga Masih Ada Napas Sampai RamadanIlustrasi: Edi Wahyono
Bagi saya, Ramadan adalah salah satu di antara sekian banyak bukti betapa Islam itu rahmatan lil 'alamin. Bacalah sekali lagi Surat Al Baqarah ayat 183 yang selalu kita kutip di bulan malam seribu bulan itu. Allah berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa."

Spesifik Allah memanggil siapa pun yang beriman, dan kita sama-sama tahu bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Jadi, jika Anda kumur-kumur saja, atau membasuh muka, apalagi sampai mandi, yang adalah untuk menjaga kebersihan, maka Allah memberikan kewajiban berpuasa itu kepada Anda --tentu ini tak berlaku bagi perempuan yang sedang berhalangan.

Dan, lebih dari itu, puasa adalah tradisi. Lebih tepatnya lagi layak disebut tradisi kebaikan. Sinyalemen itu muncul dari kalimat "sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian". Ya, Allah memerintahkan kepada siapa pun yang beriman untuk melestarikan tradisi kebaikan untuk mencapai ketakwaan.

Secara pribadi, saya mengartikan takwa sebagai kesadaran penuh dalam setiap napas. Senantiasa menghirup dan mengembus napas dalam keadaan ingat kepada Allah, dan selebihnya --tentu saja-- berikhtiar mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya selama napas masih dikandung badan. Semoga, kali ini kita berhasil mencapai tujuan berpuasa yaitu agar kita bertakwa. Marhaban ya Ramadan.

Minggu, 20 September 2015

Ketuhanan dalam Kehutanan

Ketuhanan dalam Kehutanan

Candra Malik  ;  Praktisi Tasawuf
                                               KORAN TEMPO, 19 September 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Tuhan dan hutan ialah satu-kesatuan yang utuh. Di Indonesia, tema tentang Tuhan mendapat perhatian lebih, tapi tema hutan masih kurang. Padahal hutan adalah kekayaan luar biasa negeri ini yang diperhitungkan oleh bangsa dan negara lain. Hutan belum menjadi isu sentral, apalagi ketika pemerintah sekarang menjadikan kemaritiman sebagai tema utama mendefinisikan ulang identitas dan integritas keindonesiaan kita.

Sufi besar Jalaluddin Rumi menulis kitab Fihi Ma Fihi (Di Dalamnya Apa yang di Dalamnya) tentang segala sesuatu sesungguhnya menyatu, yang relevan menunjukkan hubungan antara Tuhan dan hutan. Di dalamnya apa yang di dalamnya: di dalam benih, ada pohon; di dalam pohon, ada benih. Satu dan lainnya tidak terpisahkan. Tak ada benih, tak ada pohon. Tak ada pohon, tak ada benih. Benih dari pohon. Pohon dari benih. Benih adalah pohon, pohon adalah benih. Pohon adalah kehidupan, Tuhan pun meliputinya. Allah Maha Hidup menghidupkan, mematikan, dan menghidupkan segala sesuatu, termasuk pohon. Pepohonan, dalam jumlah yang besar dan ragam yang beraneka, yang lalu kita sebut sebagai hutan, tentu melambangkan pula kehadiran Tuhan. Ketuhanan dalam kehutanan adalah kesadaran hayati manusia sebagai khalifah fil ardli.

Pohon mengajarkan kepada manusia sejumlah hal luar biasa. Bahwa untuk hidup, kita harus mengakar, menunjang dari mulai batang, dahan, ranting, daun, bunga, sampai buah. Akar pula yang menyerap air, yang merupakan sumber kehidupan. Bahwa untuk hidup, kita harus kokoh laksana batang pokok, menjaga dahan-ranting tanpa mudah lapuk dan patah. Bahwa untuk hidup, kita menyerap energi semesta seperti dedaunan terhadap sinar matahari. Bahwa untuk hidup, kita memberi yang terbaik sebagaimana bunga. Tak hanya elok dipandang, tapi juga sedap dihirup aromanya. Bahwa untuk hidup, seperti pohon, kita pada akhirnya berbuah, yang di dalamnya terkandung biji yang tak lain adalah benih bagi kehidupan berikutnya. Dari pohon kita belajar pula kapan pun kita pasti kembali ke tanah. Bisa karena diterpa angin dan gugur, bisa pula roboh karena usia.

Pohon mengajarkan pula untuk bersikap hidup percaya kepada kebaikan semesta. Berdiri tanpa kaki, tercipta untuk tidak melangkah, pun tidak berlari, tapi rezeki tidak akan tertukar kepada yang tidak berhak, pun demikian sesungguhnya konsep ini berlaku sama bagi setiap makhluk. Jika kemudian pepohonan ditebang sembarangan dan tidak ada upaya menanam kembali pohon-pohon baru, sesungguhnya kita berbuat bodoh memadamkan pelita hidup.

Betapa Tuhan dalam Al-Quran pun menggunakan pohon sebagai kiasan, yaitu jika kayu dan daun dari pohon di seluruh penjuru bumi dijadikan kertasnya-dan lautan sebagai tinta-maka niscaya tidak cukup untuk menuliskan Ilmu Allah. Dan, sabda Nabi Muhammad SAW, ilmu adalah cahaya. Jika pohon-pohon ditebang sembarangan, dan pohon-pohon baru tidak ditanam, sesungguhnya kita memadamkan pijar kehidupan. Jika surga digambarkan dalam ayat-ayat suci sebagai taman-taman nan sejuk, dengan berbagai buah-buahan dan pepohonan rindang, sungai yang mengalir jernih dengan bebatuan yang selalu tepercik kesegaran air, bukit-bukit yang indah, burung-burung yang bebas beterbangan dan hinggap di mana pun, bukankah itu semua lukisan Tuhan tentang keagungan hutan?

Air adalah sumber kehidupan, dan tak ada bantahan tentang itu. Pohon telah melakukan segala hal untuk menjadi rumah bagi empat anasir terpenting jagat besar, yaitu angin, air, api, dan tanah. Pohon menghasilkan O2 (oksigen) pada siang hari dan CO2 (karbondioksida) pada malam hari. Akar pohon menghunjam tanah, batang pokok menjulang ke arah di mana sinar matahari terpancar, tak berbeda dengan falsafah di mana bumi dipijak, di sanalah langit dijunjung. Laut, sungai, danau, bendungan, waduk, dan wadah maupun aliran apa pun namanya yang menghimpun air, tidak akan pernah menafikan pohon sebagai kantong penyimpanan air yang sangat diandalkan.

Pohon bukan hanya paru-paru dunia, tapi juga segala organ vital lain. Lihatlah, betapa dari pohon, kita mengambil sangat banyak penunjang kehidupan. Akar, batang, dahan, ranting, daun, bunga, dan buah telah kita jadikan apa saja sesuai dengan kebutuhan manusia. Hutan telah memberi kita teramat banyak, tapi kita ternyata meminta lebih banyak lagi. Celakanya, kita kurang memberi kepada hutan, atau bahkan tidak memberi apa pun untuk melestarikannya. Pada mulanya, hutan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Kini, hutan terasa semakin jauh dan manusia seperti sengaja membentangkan jarak terhadapnya. Jika pun ada yang merambah hutan, lebih banyak yang berbuat merusak serusak-rusaknya.

Orang-orang pedalaman yang masih hidup dengan hutan sebagai habitat kini semakin tidak nyaman, bahkan semakin lama semakin terusir dari rumahnya sendiri. Orang-orang kota tak lagi melihat hutan selain dari layar televisi, terutama ketika asap telah mengepung kota sejak kebakaran hutan. Lihatlah hutan di Tanah Air; setiap tahun entah terbakar, entah dibakar. Sebagai manusia bertuhan dan beragama, kita ternyata tidak berbuat cukup untuk menyelamatkan hutan. Masyarakat kita kini terpisah dari hutan, atau bahkan memisahkan diri. Padahal nun di dalam hutan, tersimpan anugerah dan keajaiban.

Di manakah posisi kita yang bertuhan dan beragama ini dalam merawat semesta?

Rabu, 01 Oktober 2014

Lokomotif Reformasi dan Gerbong Demokrasi

Lokomotif Reformasi dan Gerbong Demokrasi

Candra Malik  ;   Peminat Tasawuf
KORAN TEMPO,  01 Oktober 2014

                                                                                                                       


Batang pokok demokrasi, yaitu hak rakyat untuk memilih atau tidak memilih--selain hak untuk dipilih-secara langsung, telah ditebang oleh DPR. Sampai sekarang memang tak jelas benar mengapa anggota parlemen disebut sebagai wakil rakyat. Mereka lebih cocok disebut wakil konstituen, jika bukan wakil partai politik. Padahal tak jelas betul pula apakah setiap pemilih yang mencoblos gambar wajah mereka dulu sewaktu pemilu adalah konstituen atau anggota partai politik mereka.

Sesampai di gedung parlemen, tak banyak yang benar-benar menyuarakan aspirasi rakyat. Yang ada pun lantas tak populer. Dari yang sedikit itu, masih juga tergeser ke pojokan karena ketajamannya dikeroyok oleh batu dan besi. Kalaupun tak menjadi tumpul, mata pisau wakil-wakil rakyat yang benar-benar wakil rakyat serta-merta bengkok atau patah setiap membentur perlawanan dari wakil-wakil partai politik. Pertarungan menjadi tidak seimbang. Suara rakyat dikalahkan.

Banyak orang baik di lingkaran politik, sesungguhnya. Mereka adalah orang-orang yang berangkat dari rumah-rumah idealisme untuk cita-cita yang luhur membangun harkat dan martabat bangsa dan negara. Namun kutukan dewa hukum bahwa kekuasaan cenderung untuk korup telah membuat orang-orang baik itu patah arang.

Bangsa ini memang suka euforia. Jika senang, mereka mudah menjadi terlalu senang sampai lupa diri. Reformasi yang pada zamannya dielu-elukan sebagai sukses besar perjuangan rakyat, baru hari-hari ini diratapi sebagai prestasi kebablasan. Tak ada yang serius mengingatkan sesama rakyat untuk tidak terlalu lama berpesta. Diam-diam, pelan tapi pasti, lokomotif reformasi membawa gerbong-gerbong demokrasi achteruit (baca: atret).

Jika kepala daerah dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, lalu siapa yang memilih anggota DPRD? Mengapa tidak sekalian saja dipilih oleh partai politik? Tak perlu lagi bawa-bawa nama rakyat. Ya, ini kalimat patah hati, melampaui patah arang. Sesungguhnya bangsa ini dibawa ke arah kehancuran ketika oleh wakil rakyat diseret mundur. Semakin tidak jelas ke mana bangsa ini digerakkan para pengendali negara dan pemerintah. Runyam jika kepala negara dan pemerintah pun mengkhianati rakyat.

Gerakan pemunduran bangsa ini bahaya laten. Rakyat dipaksa oleh kenyataan di gedung legislatif, yudikatif, dan eksekutif untuk tidak lagi percaya pada negara dan pemerintah. Wakil rakyat yang jauh lebih paham tentang politik beserta seluruh adagiumnya yang seolah adiluhung itu tentu cakap benar bersilat lidah di depan rakyat yang dianggapnya awam. Mereka bukan saja menutup mata dan telinga sendiri, tapi juga mulai menutup mata dan telinga rakyat--bahkan diam-diam telah berusaha membungkam mulut rakyat.

Sejarah menulis bangsa ini rentan untuk dipecah belah. Politik adu domba lebih menakutkan daripada serangan fisik. Politik kebencian menyerang langsung ke ulu hati rakyat dan pecahlah kebersatuan: sama bangsa tapi saling mencurigai, bahkan saling memusuhi. Jika bangsa adalah suatu kumpulan manusia yang dipersatukan oleh persamaan, bangsa ini justru dipersatukan oleh perbedaan. Ini kokoh sekaligus ringkih. Tapi, jika partai politik berusaha menjajah rakyat, mereka membangunkan singa golongan putih.

Minggu, 24 Agustus 2014

Ketidakpercayaan Sosial

                                          Ketidakpercayaan Sosial

Candra Malik  ;   Peminat Tasawuf
KORAN TEMPO, 23 Agustus 2014
                                                
                                                                                                                                   

Kehilangan terbesar adalah kehilangan rasa percaya diri. Namun, kehilangan yang lebih besar lagi adalah kehilangan kepercayaan dari orang lain, apalagi jika disusul dengan sanksi sosial. Yang kurang-lebih sama besarnya adalah kehilangan kepercayaan kepada orang lain, yang bisa menyebabkan sikap antisosial. Satu dan lainnya sama-sama berpotensi mencerabut kodrat kita sebagai makhluk sosial. Kita menjadi penyendiri. Kita menyendiri.

Saat ini, kita hidup dalam suasana batin yang mengarah ke sana ketika gotong-royong semakin mahal. Siskamling mulai digantikan oleh portal-portal di mulut gang, baik di kampung-kampung maupun kompleks-kompleks perumahan, terutama di kota-kota. Ketidakbersediaan sebagian warga untuk begadang di gardu ronda memicu kesepakatan untuk membuka peluang kerja jasa keamanan, dan kita cukup membayar kompensasi ketidakbersediaan untuk meronda malam.

Padahal, sesungguhnya kita sedang mengalami kehilangan; kehilangan rasa percaya diri, kehilangan kepercayaan kepada orang lain, dan kehilangan kepercayaan dari orang lain. Kita tidak lagi saling percaya. Pagar-pagar rumah semakin tinggi, pintu-pintu rumah siang-malam dikunci, dan penghuni rumah tidak serta-merta membukakan pintu jika diketuk. Jangankan pengamen, tamu pun kesulitan mendapat akses untuk ditemui oleh tuan rumah.

Di sebagian rumah, penghuninya masih menyambut ucapan salam dari luar rumah. Sebagian lainnya telah menutup pintu rapat-rapat dan hanya memberi lonceng mesin suara. Semakin sulit menemukan rumah dengan keakraban penghuninya, bahkan kepada orang-orang yang lalu-lalang, melalui bahasa pelepas dahaga, yaitu ketersediaan kendi air minum di pagar. Rukun tetangga dan rukun warga menjadi alat sosial belaka untuk mengurus surat-surat.

Musyawarah warga menjadi barang mewah. Warga menjadi berkelompok berdasarkan selera sosial, entah itu dalam kegiatan beragama, berkesenian, berolahraga, atau berekreasi. Masih ada pemersatu itu yang, syukurlah, bisa bertahan meski batasannya makin longgar. Bukan lagi melulu berdasarkan tempat tinggal, tapi lebih pada kesamaan selera sosial. Dinamika ini meretas keberagaman sekaligus keseragaman sosial.

Menjadi beragam karena memang aneka rupa selera sosial memunculkan warna-warni itu. Menjadi seragam karena setiap komunitas kemudian melahirkan simbol-simbol identitas. Jika dalam wilayah sosial yang melintas batas itu terus terjadi krisis kehilangan kepercayaan, kondisinya bisa semakin runyam. Keberagaman justru bisa memicu kecurigaan antarkomunitas dan kerukunan antarmanusia menjadi semakin jauh panggang dari api.

Lahirnya tokoh-tokoh sosial yang mendobrak kebekuan itu sungguh melegakan, dan kita butuh lebih banyak dan lebih banyak lagi tokoh-tokoh itu. Mereka tidak harus aparatur negara, tidak harus wakil rakyat. Apalagi kita sama-sama tahu betapa birokrasi dan protokol begitu menyebalkan dan melelahkan. Masyarakat memerlukan terobosan dan kepemimpinan untuk menjaga nyala api Bhinneka Tunggal Ika dan gotong-royong agar tidak padam.

Selasa, 08 Juli 2014

Rakyat Pemimpin Rakyat

                                         Rakyat Pemimpin Rakyat

Candra Malik  ;   Pemilih
KORAN TEMPO,  07 Juli 2014
                                                


Politik konon menghalalkan segala cara. Toh tidak ada dalil hukum langit yang diterapkan untuk mengadili perebutan kekuasaan di bumi. Wajar jika politikus tidak takut dosa politik. Menabrak nalar dan rasa, mereka mainkan isu suku, agama, ras, dan aliran. Bayangkan, bagaimana bisa calon presiden dicap keturunan Cina, beragama Kristen, Freemasonry, Illuminati, sekaligus Zionis, antek Amerika, Syiah, merangkap Komunis? Pasti ia hebat betul, tak jatuh meski diserang dari berbagai penjuru.

Komplet benar stempel yang dibubuhkan kepadanya. Salut kepada kinerja tim sukses yang tidak kenal lelah, baik itu tim sukses yang sadar tugasnya menyukseskan klien maupun tim sukses yang secara sadar bekerja untuk menyukseskan diri sendiri. Salut juga kepada tim sukses kategori terbaru, yaitu tim sukses yang beranggotakan susupan dari tim lawan yang bertugas menjalankan misi kontraproduktif. Berkat tim sukses tipe terbaru inilah, sesekali muncul manuver kejutan.

Kampanye hitam, putih, negatif, positif, atau apa pun itu, tetaplah bermaksud mempengaruhi rakyat pemilih. Tim sukses menyadari betul adanya tiga kategori rakyat pemilih. Pertama, rakyat yang mengalami sejarah dan menolak lupa. Kedua, rakyat yang mengalami sejarah tapi mengabaikannya. Ketiga, rakyat yang tidak mengalami sejarah dan terputus dari akses informasi rekam jejak. Kuantitas rakyat kategori dua dan tiga ini besar, tapi kualitas pengetahuan dan kesadaran politiknya kecil.

Kesadaran berbangsa dan bernegara merosot ke titik kulminasi terendah manakala kesadaran berpolitik dan berkuasa dominan. Menjadi sangat mengkhawatirkan ketika informasi yang dipasok oleh tim sukses dan diterima oleh rakyat pemilih ternyata beracun. Bermuatan fitnah, adu domba, syak wasangka, dan ranjau: diinjak, meledak. Ya, ranjau-ranjau kampanye ditanam di mana-mana dan makin dekat 9 Juli 2014 makin tidak terlacak sebarannya. Ranjau kampanye mengancam keluarga kita.

Keluarga dalam definisi bagaimana pun--perkawanan dan persahabatan juga memenuhi makna itu--berada pada keadaan tidak nyaman ketika bicara jurang politik. Tak sedikit yang mengeluh keharmonisannya dengan kerabat menjadi berantakan sejak beda pendapat dan pilihan. Ada yang mendadak arif bijak ketika berpolitik, sampai-sampai orang dekatnya tak mengenal lagi. Politik menyediakan topeng beraneka watak dan terus-menerus memproduksi topeng baru.

Tidak ada kawan abadi dalam politik. Berseberangan pun bukan berarti tak bisa menyeberang. Jembatan sudah disiapkan jika sewaktu-waktu realitas politik menghendaki pindah haluan. Segalanya halal dalam politik, dan ini bukan cuma konon. Setelah pemilihan legislatif, rakyat cuma bisa bengong melihat partai pilihannya berkoalisi dengan partai lain yang berlawanan arah dan arus politik. Elite politik bisa secepat itu melupakan akar rumput.

Maka, ketika ada seseorang yang bukan elite politik bisa menghimpun akar rumput dalam jumlah besar, tanpa pengibaran bendera partai politik mana pun, ini menunjukkan angin perubahan tidak sedang ingin mengibaskan bendera partai politik, tidak pula ingin mengibarkan calon presiden belaka.

Selasa, 20 Mei 2014

Mental Revolusi

Mental Revolusi

Candra Malik ;   Praktisi Tasawuf
TEMPO.CO,  20 Mei 2014
                                                
                                                                                         
                                                      
Kita tidak punya musuh bersama. Karena itulah, kita saling memusuhi. Yang pada mulanya kawan, pada akhirnya menjadi lawan. Takdir betapa tiada yang abadi dalam politik, selain kepentingan, telah membuat kita menjadikan segala sesuatu sebagai politik. Setidaknya, segala sesuatu itu wajar jika kita politisasi. Atas nama kepentingan, kita enteng menghalalkan segala cara. Bahkan dengan menciptakan musuh bersama, meski ia bersih dari dosa sejarah.

Politik pencitraan berhadap-hadapan dengan kampanye hitam. Politik bukan lagi tentang siapa bermain cantik, namun lebih tentang siapa berperan sebagai wasit. Tapi, wasit ternyata tidak ada dalam politik. Semuanya, bahkan termasuk para penonton, adalah pemain. Setiap penonton dihargai satu suara, yang dirumuskan dalam demokrasi sebagai "one man one vote". Tidak ada peluit, kartu merah, kartu kuning, off-side, penalti, atau pelanggaran apa pun.

Hampir semuanya kita langgar, baik secara terang-terangan maupun diam-diam. Kemenangan dalam tanding politik sesungguhnya hanya seperti adu skor yang bisa kita atur sejak awal. Selebihnya hanya formalitas. Tak mengherankan kita menyebutnya pesta demokrasi. Padahal, tidak ada pesta dalam demokrasi, selain nyanyi lagu ulang tahun-kita toh memang terus-menerus mengulang tradisi politik kotor tahun demi tahun-lalu tiup lilin dan potong kue kekuasaan.

Pesta demokrasi tidak berlaku bagi rakyat. Jikapun menerima uang dari politikus, rakyat dihantui kewajiban untuk mencoblos mereka. Kalaupun menerima uang, tapi menolak pesan sponsor, rakyat tetap dijebloskan ke dalam permainan uang panas. Tidak ada keberkahan dari kertas bernomor seri entah asli entah palsu itu. Sejak mau menerima duit politik, sejak itu kita telah terjerumus dalam lingkaran setan. Kemurnian suara dari rakyat toh juga sirna sejak dilebur dalam koalisi.

Tak ada keterwakilan dalam lembaga legislatif. Kalaupun ada yang dibela, mereka bukan rakyat. Mereka adalah konstituen. Dan, bagi wakil rakyat, itu artinya pundi-pundi kepentingan. Tak ada kepemimpinan dalam lembaga eksekutif pula. Kalaupun ada yang dipimpin, mereka bukan kabinet. Tapi gerombolan penyamun dari gangster berlabel partai politik. Jual-beli nama dan suara sudah terlalu menjenuhkan untuk dibicarakan, karena sudah basi. Kita belum bergerak ke tema baru.

Revolusi mental mudah dipatahkan oleh mental revolusi. Ya, kita memang anak bangsa dengan mental revolusi. Kita kuat bergerilya lama, bahkan demi pertempuran yang sejak awal kita ketahui akan berakhir dengan kekalahan. Kalaupun tahu diri tak akan menang, kita masih akan menawarkan peran merecoki, memecah konsentrasi, atau merusak kesepakatan. Dan, itu ada harga tersendiri dalam politik. Toh, kita sama tahu politik bukan milik politikus, melainkan milik pebisnis.

Pemilu diadakan sesuai dengan kepentingan, antara lain untuk judi, arisan, lelang, atau jual-beli. Yang penting, pebisnis yang ikut bermain harus memiliki saham di perusahaan besar bernama negara-lengkap dengan kop surat, stempel, dan tanda tangan eksekutif. Dan, setiap pebisnis pada hakikatnya adalah petani: menanam politikus sejak benih karena yakin akan panen kekuasaan. Lokomotif reformasi saja bisa kita jual ke mereka, apalagi cuma bordes dan restorasi. Kita siap terima order.