Tampilkan postingan dengan label Brexit - Dampaknya Bagi Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Brexit - Dampaknya Bagi Indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Juli 2016

Brexit dan Pengaruhnya ke Indonesia

Brexit dan Pengaruhnya ke Indonesia

Adler Haymans Manurung ;   Penulis Kolom INVESTASI Kompas Sabtu
                                                         KOMPAS, 02 Juli 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Seminggu lalu, banyak berita terkait Brexit dan banyak pihak bertanya apakah Brexit tersebut? Bagaimana pengaruhnya terhadap ekonomi Indonesia dan juga investasi investor? Apakah perlu membeli produk investasi sekarang ini atau menjual? Pertanyaan tersebut yang muncul dari semua pihak dalam seminggu terakhir dan banyak berita atau informasi yang muncul di media massa.

Brexit merupakan kependekan dari British Exit atau Britain Exit (huruf Br dari British atau Britain dan digabungkan dengan kata exit) yang menyatakan Inggris akan keluar dari kelompok Uni Eropa. Uni Eropa merupakan kelompok ekonomi negara-negara di Eropa yang beranggotakan 28 negara, termasuk Inggris.

Sebenarnya ada dua kelompok yang saling berargumentasi, yaitu kelompok Brexit dan Bremain, tetapi istilah Brexit yang sangat populer. Untuk menentukan tetap bertahan di Uni Eropa atau keluar dari Uni Eropa, Pemerintah Inggris meminta pendapat rakyatnya dan membuat hari pemilihan pada 23 Juni 2016. Semua rakyat ramai-ramai pergi ke kotak suara.

Sebelum adanya pemilihan suara pilihan Brexit atau Bremain, Perdana Menteri Inggris David Cameron dan 1.200 konglomerat Inggris, termasuk Richard Brenson, mengingatkan rakyat Inggris dampak negatif jika keluar dari Uni Eropa sebagai pilihan dan terus didengungkan.

Pilihan rakyat Inggris atas referendum tersebut adalah menginginkan keluar dari Uni Eropa (51,9 persen) dan mendukung Uni Eropa (48,1 persen). Padahal, sebelumnya, dalam jajak pendapat, yang pro Uni Eropa lebih besar. Kenyataannya berbeda dengan jajak pendapat tersebut. Berbagai berita menyebutkan, pilihan itu lebih banyak karena keputusan orang-orang yang sudah lebih senior, bukan anak muda.

Perdana Menteri Inggris saat ini, David Cameron, berdiri pada posisi mendukung Uni Eropa. Setelah pengumuman kemenangan Brexit, Cameron mengundurkan diri sebagai perdana menteri. Tindakan yang mengejutkan dunia dan contoh sebagai pemimpin. Tidak seperti pemimpin di Indonesia yang masih mau bertahan walaupun sudah melakukan kesalahan besar.

Efek

Keputusan rakyat Inggris ini memberikan kejutan kepada dunia karena banyak pengaruhnya pada perekonomian Inggris, Eropa, dan dunia, bahkan negara sedang berkembang, seperti Indonesia. Banyak pemimpin negara meminta rakyat Inggris tidak keluar dari kelompok Uni Eropa karena dampaknya negatif bagi kedua pihak, baik Inggris maupun Uni Eropa.

Departemen Keuangan Inggris memperkirakan bahwa tindakan keluar dari Uni Eropa akan merugikan negara sekitar 5.900 dollar AS per rumah tangga. Pajak yang diterima oleh Inggris akan berkurang 41,03 miliar dollar AS. Bahkan, George Soros memperkirakan nilai mata uang poundsterling akan mengalami kemerosotan sebesar 15-20 persen dan lebih buruk dari ”Black Wednesday” pada tahun 1992.

Dampak lain keputusan Brexit ini membuat bayaran pemain bola akan lebih mahal karena nilai poundsterling merosot. Penduduk Inggris dan negara di Eropa yang anggota Uni Eropa tidak bebas lagi berpindah-pindah bekerja. Jika Inggris melakukan ekspor, mereka harus melakukan aktivitas administrasi yang selama ini tidak sulit menjalankannya.

Sebagai informasi, Inggris mempunyai penduduk nomor tiga, sebesar 64,3 juta jiwa, setelah Jerman 80 juta jiwa dan Perancis 68 juta jiwa. Dalam jumlah produk domestik bruto, Inggris menempati urutan kedua sebesar 2.254 miliar euro setelah Jerman pada level 2.900 miliar euro. Dalam kontribusi keuangan di Uni Eropa, Inggris menempati urutan keempat sebesar 11,3 miliar euro setelah Jerman 25,8 miliar euro, Perancis sebesar 19,6 miliar euro, dan Italia 14,4 miliar euro. Dominasi Jerman sangat besar di kelompok Uni Eropa tersebut.

Keputusan rakyat Inggris membuat dunia mengalami kejutan karena hampir semua pasar saham mengalami penurunan, termasuk Amerika Serikat dan Indonesia. Dalam pasar valuta asing, nilai poundsterling mengalami kemerosotan terhadap semua mata uang, termasuk terhadap rupiah. Akibatnya, ada peluang negatif atau positif yang diperoleh atas kejadian ini.

Barang ekspor Indonesia akan lebih mahal karena rupiah mengalami peningkatan akibat persoalan keuangan (valuta asing) yang dihadapi Inggris. Bayangkan saja rupiah mengalami apresiasi bukan karena kualitas barang yang mengalami peningkatan, melainkan karena kemerosotan nilai tukar yang terjadi akibat keputusan rakyatnya yang kurang cermat.

Barang-barang ekspor dari Indonesia akan lebih susah bersaing dibandingkan dengan barang-barang dari Eropa sendiri. Dalam proses ekspor dan impor, Indonesia akan mengalami persoalan. Dalam bidang administrasi, pengusaha Indonesia akan melakukan tindakan dua kali kerja karena ke Inggris dengan administrasi sendiri dan Uni Eropa juga tersendiri. Bahkan dapat diduga, barang ekspor bisa berkurang sebab selama ini Indonesia hanya melakukan ekspor ke Inggris dan sekaligus ke negara anggota Uni Eropa yang dilakukan oleh pengusaha Inggris. Namun, setelah adanya Brexit, akan dilakukan sendiri dan harus mencari pasar tersebut.

Pada sisi lain, produk dari Inggris akan hampir sama harganya dengan produk Indonesia, tetapi kualitasnya berbeda. Konsumen Indonesia bisa menikmati produk yang berkualitas dengan nilai yang diharapkan. Anak-anak Indonesia akan membayar lebih murah untuk biaya pendidikan dibandingkan negara-negara lain. Kualitas pendidikan anak Indonesia tamatan Inggris lebih baik melihat selama ini kualitas pendidikan di sana cukup bagus. Pada tahun ini pasti ada pergeseran pilihan pendidikan untuk anak-anak Indonesia yang ingin sekolah ke luar negeri.

Salah satu keuntungan dari adanya Uni Eropa adalah kebebasan penduduk anggota negara di Uni Eropa bisa berpindah-pindah dan tidak perlu banyak administrasi yang dilakukan, termasuk visa. Akan tetapi, dengan adanya Brexit, akan terjadi perubahan yang mendasar dan ini yang tidak diinginkan oleh penduduk Inggris.

Penduduk Indonesia yang masih muda dan mau bekerja kasar akan lebih bisa hidup di Inggris karena rakyat Inggris pada umumnya tidak mau kerja kasar. Artinya, ada peluang pasar untuk kerja, tetapi harus menjalani proses lebih rumit karena dibutuhkan kemampuan berbahasa Inggris. ●

Jumat, 01 Juli 2016

Brexit dan Indonesia

Brexit dan Indonesia

Muhamad Chatib Basri ;   Guru Besar Tamu Australian National University
                                                         KOMPAS, 01 Juli 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

“Tidak tepat rasanya jika saya tetap mencoba untuk menjadi nakhoda yang akan membawa negeri ini ke tujuan berikutnya." Dengan kalimat dramatis itu, Perdana Menteri Inggris David Cameron menyatakan pengunduran dirinya. Dan Jumat, 24 Juni 2016, dicatat sebagai hari kelabu dalam sejarah integrasi Eropa. Hari itu, referendum rakyat Inggris memutuskan bahwa Inggris keluar dari Uni Eropa.

Fenomena ini dikenal dengan istilah Brexit. Seketika ketidakpastian terjadi, dunia seperti kehilangan arah, dan jam berikutnya kita melihat pasar uang bergejolak, poundsterling ambruk. Direktur Pelaksana Bank Dunia Sri Mulyani Indrawati mengirim pesan pendek kepada saya: "UK memutuskan untuk keluar dari EU. Ini mengejutkan. Ini akan mengubah tatanan politik dan ekonomi dunia".

Saya kira Sri Mulyani benar.

Dampak perdagangan

Bagaimana dampak Brexit terhadap Indonesia? Jujur, terlalu pagi untuk membuat sebuah kesimpulan akhir atas sebuah isu yang masih cair dan terus bergerak. Terlalu pagi untuk menyimpulkan. Meski demikian, mungkin ada beberapa indikasi awal yang bisa dicatat dan dijadikan rujukan.

Pertama, dampak perdagangan (trade channel). Dapat diduga, Brexit akan mengurangi akses perdagangan Inggris ke Uni Eropa. Ini tidak berarti bahwa Inggris akan berhenti berdagang dengan Uni Eropa. Namun, dengan Inggris yang berada di luar Uni Eropa, tentu intensitas perdagangan Inggris dan Uni Eropa menurun. Penurunan intensitas perdagangan ini akan membuat pertumbuhan ekonomi Inggris melemah.

Peraih Nobel Ekonomi Paul Krugman memperkirakan bahwa Brexit akan menurunkan pendapatan riil Inggris sebesar 2 persen. Perlambatan ekonomi Inggris akan menurunkan permintaannya terhadap produk ekspor dari negara lain, termasuk Indonesia. Seberapa besar dampaknya? Saya kira, terbatas. Mengapa? Karena pangsa dari ekspor negara-negara Asia, termasuk Indonesia, ke Inggris relatif kecil. Ekspor Indonesia ke Inggris kurang dari 2 persen.

Yang lebih perlu diperhatikan bukanlah dampak perdagangan dari Inggris terhadap Indonesia, melainkan justru dari Uni Eropa. Suka atau tidak suka, Inggris adalah salah satu mitra dagang Uni Eropa yang amat penting. Karena itu, Brexit akan membuat pertumbuhan ekonomi Uni Eropa melambat walaupun mungkin tak sedrastis penurunan pertumbuhan ekonomi Inggris. Implikasinya: ekspor ke Uni Eropa juga melambat, termasuk ekspor dari negara Asia seperti Indonesia. Seberapa besar dampaknya?

Saya kira kita harus melihat lebih cermat. Pangsa pasar ekspor negara Asia ke Uni Eropa relatif besar. Tengok saja data berikut: Tiongkok (16 persen), India (12 persen), Indonesia (8 persen). Selain itu, perlambatan ekspor Tiongkok akan membawa dampak tak langsung lagi bagi Indonesia. Karena itu, analisis yang lebih dalam perlu dibuat untuk melihat dampak perlambatan Uni Eropa terhadap Asia dan Indonesia. Kita juga perlu memperhitungkan dampak tak langsung dari perlambatan ekspor Tiongkok ke Uni Eropa.

Perlambatan ekspor Tiongkok akan membuat ekspor Indonesia ke Tiongkok juga melambat. Dampak Uni Eropa inilah yang harus diperhatikan dengan lebih dalam. Walaupun saya menduga dampaknya juga akan terbatas, mengingat perlambatan ekonomi Uni Eropa mungkin tidak akan sedrastis penurunan pertumbuhan ekonomi Inggris.

Dampak harga komoditas

Kedua, dampak terhadap harga energi dan komoditas. Perlambatan ekonomi Inggris, Uni Eropa, Tiongkok, dan India akan membuat pertumbuhan ekonomi dunia melambat. Implikasinya, permintaan terhadap energi dan komoditas akan tetap lemah. Dan kita tahu, karena sekitar 60 persen dari ekspor kita terkait dengan energi dan komoditas, maka akan ada tekanan pada ekspor kita. Selain itu, kita juga mencatat bahwa pembayar pajak kita banyak berasal dari perusahaan yang terkait dengan sumber daya alam.

Dalam kondisi seperti ini, ditambah perlambatan ekonomi yang kita alami, penerimaan pajak pemerintah juga bisa tertekan. Seberapa besar dampaknya? Tentu akan tergantung seberapa jauh harga energi dan komoditas mengalami penurunan. Implikasinya, kemampuan untuk memberikan stimulus fiskal menjadi terbatas.

Dampak keuangan

Ketiga, dampak keuangan (financial channel). Dampak yang lebih besar saya kira akan muncul melalui pasar keuangan. Brexit akan mendorong investor untuk mencari investasi yang lebih aman (flight to quality). Opsinya adalah Amerika Serikat (AS) dan Jepang atau emas. Kita bisa melihat bagaimana dollar AS, yen Jepang, atau harga emas melonjak. Penguatan dollar AS ini membuat nilai tukar mata uang sejumlah negara, termasuk rupiah, melemah. Dampak lain adalah gejolak di pasar modal dan pasar obligasi.

Namun, saya melihat bahwa gejolak ini bagi Indonesia mungkin akan bersifat sementara. Mengapa? Karena dampak dari penerapan suku bunga negatif di Eropa dan Jepang masih terjadi. Suku bunga negatif ini masih akan mendorong investor untuk mencari imbal yang relatif tinggi, dan saat ini, Indonesia menjanjikan imbal yang tinggi. Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang 5 persen-walaupun kita tak menyukainya-relatif lebih tinggi dibandingkan negara lain. Itu sebabnya, dalam artikel saya terdahulu di Kompas, saya menyebut Indonesia sebagai one of the least unattractive countries in the world (negara yang tidak seburuk negara lain di dunia).

Dengan gambaran itu, kita bisa melihat bahwa dampak Brexit terhadap Indonesia mungkin akan relatif terbatas dan bersifat jangka pendek. Sayangnya, realitas tak selalu sesederhana analisis ekonomi atau perhitungan kuantitatif di atas.

"Animal spirits"

Ada beberapa faktor yang menurut saya harus diperhatikan baik-baik di luar analisis di atas. Dan inilah kuncinya. Dalam ilmu ekonomi, salah satu variabel yang tak bisa sepenuhnya dikendalikan adalah ekspektasi yang tidak rasional.

Saya teringat kepada sebuah buku yang sangat menarik ditulis oleh dua peraih Nobel Ekonomi, George Akerlof dari University of California Berkeley, dan Robert Shiller dari Yale University. Judulnya: Animal Spirits: How Human Psychology Drives the Economy, and Why It Matters for Global Capitalism. Mereka berdua merujuk kepada sebuah terminologi yang diperkenalkan ekonom besar John Maynard Keynes: animal spirits. Konsepnya kurang lebih begini: dalam situasi yang tidak pasti, individu akan mencoba mengurangi risiko dengan bergerak mengikuti pola kelompoknya.

Contoh yang paling sederhana adalah jika dalam satu kerumunan yang padat, ketika seseorang berteriak, "Awas api!" lalu berlari meninggalkan kelompoknya, maka kerap kali orang akan ikut berlari tanpa sebenarnya tahu apakah benar ada api atau tidak. Inilah yang disebut herd behaviour. Ingat bagaimana rombongan binatang berlari bersama-sama mengikuti kepala kelompoknya? Tindakan ini dilakukan bersama-sama, tetapi tanpa koordinasi. Kita bisa melihat pola ini di pasar keuangan. Dalam situasi panik-seperti Brexit-ketika semua orang menghindari risiko, maka produk keuangan mulai dilepas dan harga jatuh. Sekali ini dimulai, berduyun-duyun orang akan menjual produk tersebut-sering tanpa sepenuhnya memiliki informasi lengkap.

Dalam kondisi seperti ini, tidak banyak ruang bagi pemerintah dan Bank Indonesia untuk melakukan eksperimen dengan kebijakan. Kebijakan pemerintah atau Bank Indonesia yang dianggap menimbulkan ketidakpastian dapat direspons negatif oleh pasar dengan melepas portofolio mereka. Oleh karena itu, menurut saya, penting sekali menjaga stabilitas ekonomi makro. Misalnya, menjaga kehati-hatian agar defisit anggaran dapat terjaga merupakan faktor penting. Kalau tidak, ini dapat memicu ketidakpastian di pasar keuangan, dan jika itu terjadi, dampak dari Brexit bisa jauh lebih buruk dari analisis di atas. Dalam situasi pasar yang sensitif dan gamang, sikap konservatif menjadi penting, dan itu perlu diwujudkan dengan kebijakan dan informasi yang jernih dan rasional untuk mencegah agar animal spirits tak mengalahkan perilaku rasional. Di sini, pesan Akerlof dan Shiller menjadi penting.

Hal lain yang saya kira harus diperhatikan adalah dampak dominonya terhadap Uni Eropa. Kita mulai mendengar suara-suara lain yang muncul untuk keluar dari Uni Eropa. Terlalu pagi untuk menyimpulkan. Namun, dampak domino seperti ini perlu terus dicermati. Kita memang hidup dalam dunia yang tidak pasti. Dalam ketidakpastian, pelaku pasar akan menghindari risiko, bahkan untuk hal yang kecil sekalipun. Pasar keuangan memang ruang yang luas, sayangnya di hari-hari ini ia tak memberikan ruang bagi kita untuk membuat kesalahan.

Minggu, 26 Juni 2016

Brexit dan Dampaknya Bagi Indonesia

Brexit dan Dampaknya Bagi Indonesia

Dradjad H Wibowo ;   Ekonom; Chairman Sustainable Development Indonesia
                                                    KOMPAS.COM, 25 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Rakyat Inggris sudah mengambil keputusan. Perjudian David Cameron gagal, dan dia secara ksatria mundur per Oktober nanti. Referendum yang menjadi salah satu janji kampanye Cameron, membantunya memenangkan 330 dari 650 kursi Parlemen dalam Pemilu Mei 2015. Ini salah satu kemenangan terbesar Partai Konservatif. Tapi referendum juga yang mengakhiri kepemimpinan Cameron.

Saya tidak akan mengulas mengapa Inggris memilih Brexit. Meski demikian, saya bisa merasakan sentimen negatif rakyat kota-kota kecil dan pedesaan Inggris terhadap imigrasi. Sentimen ini ditambah persepsi bahwa Inggris terlalu banyak memberi kepada Uni Eropa, baik kedaulatan maupun uang. Sentimen ini saya rasakan mulai dari Yorkshire hingga Canterbury. Tidak aneh jika mereka memilih "biru" (keluar dari UE).

Tapi di kota besar dan beberapa kota pendidikan, yang dominan adalah sentimen sebagai "warga negara global". Karena itu, kota seperti London, Manchester, Liverpool, Cambridge, dan Oxford berwarna kuning (Tetap di EU). Leicester yang klub sepakbolanya dimiliki konglomerat Thailand dan menjadi juara Liga Primer, juga memilih kuning.

Inggris terbelah. Kota vs desa. Muda vs tua, karena mayoritas remaja dan anak muda adalah kuning. Globalisme vs nasionalisme. Tapi nasionalisme ini bisa menjadi bumerang bagi Inggris Raya. Skotlandia dan Irlandia Utara sangat kuning. Skotlandia bisa mengadakan referendum kemerdekaan lagi, Irlandia Utara referendum bergabung ke Republik Irlandia.

Saya tidak tahu apakah Wali Kota Sadiq Khan akan menuruti petisi "London Merdeka". Petisi ini sekarang hanya berupa luapan emosional dari anak-anak muda kubu kuning. Meski dari sisi ancaman, London lah yang paling dirugikan oleh Brexit. Statusnya sebagai pusat keuangan global dipertanyakan. Beberapa bank dan hedge funds besar sudah menyiapkan perubahan struktur korporasi mereka, termasuk memindahkan kantor pusat ke Frankfurt.

Per hari ini Khan bersikap "London harus berperan kunci dalam negosiasi keluar dari EU agar kepentingan London terjaga". Tapi jika remaja progresif London sudah punya hak pilih, dinamika politik bisa saja berubah.

Sekadar catatan, jika merdeka, dengan PDB sekitar 626 triliun dollar AS (2015), London akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-21 di dunia. Lebih besar dari anggota UE seperti Swedia, Polandia, Belgia, Austria, Denmark, Portugis, Yunani, dan negara kecil UE lainnya.

Secara ekonomi, London sangat mampu hidup sebagai negara-kota seperti Singapura. PDB-nya lebih dari dua kali lipat Singapura yang "hanya" 293 triliun dollar AS (2015). Penduduknya 8,5 juta, lebih tinggi dari Singapura yang 5,5 juta. Sumber daya manusianya berkualitas sangat tinggi. Universitasnya termasuk terbaik di dunia. Reputasi dan brand London juga dalam kelas terbaik di dunia. Tetap menjadi magnet bagi sektor jasa keuangan dan turisme dunia. London punya semuanya.

Itu secara ekonomi. Secara politik, London Merdeka masih berupa spekulasi emosional. Tapi pada 2015, Brexit juga hanya spekulasi emosional. Ancaman krisis imigrasi UE membuat Brexit menjadi kenyataan politik. Kita lihat saja apakah akan ada ancaman besar yang bisa menjadi pemicu London Merdeka.

Dampak bagi Indonesia

Yang sudah muncul sekarang, adalah ancaman keuangan global. Brexit ini salah satu pukulan terbesar bagi pasar keuangan dunia. Saham bank-bank besar UK seperti Barclays dan RBS rontok 2,8 persen, bahkan sempat 30 persen pada sesi awal. Pasar modal dunia berguguran.

Yang menjadi masalah, pelaku pasar tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dan berapa besar magnitude-nya. Karena, belum pernah ada kejadian seperti Brexit. Negosiasi perceraian Inggris dari UE bisa memakan waktu minimal dua tahun. Banyak hal yang tidak jelas, seperti tentang rincian perjanjian bidang industri, perdagangan, keuangan, tenaga kerja, dan seterusnya. Mungkin akan ada ratusan, bahkan ribuan perjanjian yang harus dinegosiasikan. Terlalu banyak sumber risiko yang sekarang tidak bisa diukur dengan akurat. Ketidaktahuan ini yang membuat pasar global lebih nervous.

Apalagi dari sisi politik, terlalu banyak spekulasi buram yang muncul. Di Inggris Raya, ada isu Skotlandia, Irlandia Utara, dan yang paling kecil peluangnya adalah London Merdeka. Di UE, partai-partai kanan Perancis, Italia, dan Belanda mulai menyerukan referendum yang sama. Partai-partai ini semuanya anti-imigrasi.

Repotnya, pelaku pasar global sering terkecoh dalam menebak arah politik. Sekarang pasar masih memberi probabilitas yang kecil terhadap referendum di Perancis dan Italia.

Tapi mereka juga tidak mau salah lagi seperti dalam Brexit. Apalagi, ekonomi Perancis dan Italia adalah kedua dan ketiga terbesar di daratan Eropa (tidak memasukkan Inggris).

Secara singkat, terlalu banyak "the unknowns" akibat Brexit. Ini membuat volatilitas, ketidakpastian dan risiko global naik drastis.

Biasanya, jika sudah demikian, dana akan lari ke aset-aset yang dianggap aman (flight to safety). Mungkin lari ke emas. Mungkin lari ke properti dan pasar keuangan AS, sampai jelas siapa yang terpilih sebagai Presiden AS.

Dan biasanya, dalam kondisi seperti ini Indonesia menjadi korban. Karena, kita hanya pemain sangat kecil di pasar keuangan global. Perekonomian Indonesia memang terbesar ke-16 di dunia. Tapi di sektor keuangan, kita liliput.

Karena flight to safety di atas, harga utang pemerintah dan swasta makin mahal. Ekspor makin terpukul karena pasar Eropa terguncang, sementara China belum pulih.

Penerimaan pajak makin berat naiknya karena kinerja perusahaan melemah. Perbankan lebih sulit dalam menggalang dana dari luar negeri.

Memang saat ini masih terlalu awal untuk menganalisis dampak sepenuhnya dari Brexit dan efek dominonya. Namun, sebaiknya pejabat ekonomi pemerintah dan BI tidak bersikap "sok pede" dengan bahasa klasik: "fundamental kuat".

Lalu ditambahi, ekspor ke Inggris kecil. Memangnya hanya ekspor dan hanya ke Inggris yang kena?

Kita semua sama-sama berada dalam "ketidaktahuan" yang saya sebut di atas. Di sisi lain, pejabat ekonomi sudah terlalu sering keliru, terlalu optimistis membaca situasi.

Kinerja ekonomi kita jauh di bawah ekspektasi. Saya tidak tahu kenapa kok angka pengangguran dan kemiskinan tidak melejit tinggi.

Karena itu saran saya kepada pemerintah: kencangkan ikat pinggang melalui displin anggaran, dan bantu dunia usaha semaksimal mungkin untuk menjaga kinerja mereka.

Pemerintah dan dunia usaha harus bersatu menghadapi volatilitas, ketidakpastian dan risiko global yang melonjak. Tidak perlu panik, karena saya rasa pasar dunia nantinya "bisa menerima realitas". Tapi juga jangan anggap remeh, supaya tidak keliru lagi.