Tampilkan postingan dengan label Yusri Fajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yusri Fajar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 April 2018

Kota Asing dalam Sastra Indonesia

Kota Asing dalam Sastra Indonesia
Yusri Fajar ;  Penulis dan Dosen Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Brawijaya, Malang
                                                         KOMPAS, 21 April 2018



                                                           
Apa yang memungkinkan kota-kota di mancanegara menjadi bagian dalam karya-karya sastra Indonesia? Beberapa karya sastra Indonesia yang mengangkat latar kota-kota di luar negeri dan berbagai peristiwa di dalamnya ditulis oleh para pengarang Indonesia yang tengah atau pernah berada di mancanegara.

Sebagian dari mereka mengikuti studi lanjut, seperti Budi Darma di Amerika. Ada juga sastrawan yang sudah menetap di Jerman, seperti Suprijadi Tomodiharjo yang banyak berkisah tentang eksil Indonesia di Eropa. Di Belanda pengarang asal Indonesia, Joss Wibisono, tinggal di sana dan menuliskan cerita-cerita bertema pascakolonial. Novelis Iwan Setyawan berada di Amerika untuk bekerja dan menarasikan kisah berlatar negeri Paman Sam. Sementara Aan Mansyur terinspirasi kisah dalam film Ada Apa dengan Cinta 2 yang juga mengangkat latar Amerika hingga Aan menulis Tidak Ada New York Hari Ini.

Selain karena kesempatan para pengarang Indonesia pergi dan tinggal di Eropa dan Amerika, kemunculan kota-kota di dua wilayah mancanegara tersebut dalam karya sastra Indonesia sering kali merupakan konsekuensi relasi historis antarbangsa yang melahirkan narasi penjajahan, migrasi, komunitas diaspora, dan fenomena eksil. Kota-kota besar, seperti New York dan Amsterdam, dikenal sebagai kota-kota modern yang multikultural, karena dinamis, terus berkembang, dan dihuni juga oleh para pendatang.

Jika Budi Darma banyak mengeksplorasi tokoh-tokoh kulit putih secara dominan, misalnya dalam novel Olenka dan kumpulan cerpen Orang-orang Bloomington, pengarang Indonesia yang melahirkan buku tahun 2000-an, seperti Joss Wibisono, Iwan Setyawan, dan Aan Mansyur, lebih terfokus untuk menggambarkan kota-kota tersebut sebagai ruang bagi dinamika kehidupan Indonesia.

Tumpuan asa

Kota-kota di Eropa dan Amerika banyak menjadi tumpuan harapan para pendatang. Ruang metropolitan di negara-negara pelaku penjajahan yang dalam kajian post-colonial disebut ”pusat” menjadi bagian dari obsesi dan mimpi orang-orang dari negeri yang (pernah) dijajah. Dalam novelet Nai Kai (2017) karya Joss Wibisono, gambaran tentang seorang dari Indonesia yang sukses di Amsterdam membuktikan bahwa orang dari negeri terjajah bisa mengaktualisasikan diri dan meraih kesuksesan.

Nai Kai adalah budak dari Indonesia yang dibawa ke Belanda oleh seorang tuan Belanda. Di ”Negeri Kincir Angin” itu Nai Kai sukses menjadi penyanyi orkestra dan menjadi artis berpengaruh. Di mata Nai Kai, Amsterdam adalah kota yang indah dan mewah.

Pernyataan tersebut di satu sisi memang menunjukkan penilaian terhadap Amsterdam sebagai kota yang mengagumkan. Namun, di sisi lain dia seperti ingin mengkritisi perkembangan ibu kota Belanda itu. Sebagai negara bekas penjajah Indonesia, Belanda telah mengeruk banyak keuntungan dari eksploitasi alam Indonesia yang sangat mungkin digunakan untuk membangun kota-kota di Belanda.

Sebagai orang yang berasal dari bumi Indonesia, Nai Kai tak mau begitu saja menyerahkan seluruh hatinya untuk Belanda, untuk kota Amsterdam, seperti pernyataannya, ”Dari Kanal, Amsterdam tampak lebih mewah, ya? … lebih menarik lagi mencari tahu dari mana keindahan dan kekayaan ini berasal.”

Amsterdam dengan demikian adalah ruang bagi Nai Kai untuk mengkritisi sekaligus beraktualisasi diri, meraih asa, dan berkreativitas. Nai Kai tidak hanya berekspresi di gedung kesenian Belanda, seperti di gedung Felix Meritis di Keizersgracht, Amsterdam, tetapi juga di Jerman. Dengan melakukan lawatan untuk konser ke sejumlah kota di Eropa, Nai Kai telah mendekonstruksi stereotip budak dan julukan inlander yang dulu dilekatkan pada diri, kemudian menjelma figur yang diterima dan diapresiasi oleh masyarakat Eropa

Membangkitkan kenangan

Para pendatang dari Indonesia yang tinggal di luar negeri sering kali tak bisa melepaskan diri dari berbagai kenangan selama mereka di Indonesia. Kenangan-kenangan yang muncul dalam pikiran tentang negeri asalnya, Indonesia, bisa menjadi obat kerinduan. Dalam novel 9 Summers 10 Autums karya Iwan Setyawan (2011), kota New York menjadi ruang bagi ”aku”, tokoh utama dan sahabatnya, seorang bule asal Kanada, untuk mengenang kembali waktu yang telah mereka lewati ketika berada di Indonesia. Sang sahabat, Nico, adalah pelajar asal Kanada yang dulu pernah mengikuti student exchange di kota asal sang tokoh utama, yaitu Batu, Jawa Timur.

Sementara itu, penyair Aan Mansyur melalui puisinya ”Tak Ada New York Hari Ini” (2016) menggambarkan aku liris yang tak bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu. Aku liris seperti teraleniasi di New York: Tidak ada New York hari ini/Tidak ada New York kemarin/Aku sendiri dan tidak berada di sini/Semua orang adalah orang lain/Bahasa ibu adalah kamar tidurku/Kupeluk tubuhku sendiri,/Dan cinta—kau tak ingin aku/Mematikan mata lampu/ Jendela terbuka/Dan masa lampau memasukiku sebagai angin…. Menegasikan ”New York”, aku liris seperti ingin menjauh dari kota itu, menghapuskan ingatan dan pengalamannya. Namun, kenangan, masa lalu di tanah airnya, tak pernah bisa dilupakannya.

Baik Aan Mansyur maupun Iwan Setyawan menggunakan New York dalam karya mereka, tetapi keduanya menampilkan Central Park secara berbeda. Aan Mansyur menampilkan Central Park secara muram karena sang aku liris tengah larut dalam kesedihan. Sementara Iwan Setyawan menggambarkan Central Park di musim semi yang menjadi latar pertemuan dua sahabat yang tengah merasakan bahagia karena bisa bertemu setelah lama berpisah. Upaya keduanya untuk mengingat kembali masa-masa indah yang telah dilewati menunjukkan harmoni alam (Central Park) dan orang-orang di dalamnya.

Dalam puisi Aan Mansyur yang berjudul ”Pagi di Central Park” suasana terasing dan kesepian juga terasa. Aku liris seperti kesulitan untuk menumbuhkan rasa bahagia di New York. Kesedihan aku liris dalam penggalan puisi di atas dikonstruksi melalui suasana yang tidak menyenangkan, seperti melalui gambaran gelandangan yang tidak dikenal. Lebih jauh, suasana alam di Central Park juga tidak mendukung, ”kolam yang dalam dan diam” bukanlah lanskap keindahan yang membuat riang. Suasana ini diperparah dengan memori aku liris atas seseorang di Indonesia. Pada konteks ini, kota New York telah menjadi bagian yang mengonstruksi kondisi psikologis aku liris yang terasing dan mengalami kegalauan.

Membaca karya sastra Indonesia yang menggambarkan kota-kota di Amerika dan Eropa, kita akan diantarkan dalam narasi lintas batas dengan gambaran yang tidak hanya geografis, tetapi juga sosial dan kultural tentang tokoh-tokoh berlatar Indonesia. Sering kali kota-kota itu di satu sisi menjadi ruang yang membuat orang Indonesia terjebak dalam kenangan. Sementara di sisi lain kota-kota itu juga menjadi ruang bagi orang-orang Indonesia untuk beraktualisasi diri dan meraih impian.

Minggu, 27 Oktober 2013

Sastra dan Kuliner

Sastra dan Kuliner
Yusri Fajar  Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya
KOMPAS, 27 Oktober 2013


Sastra dan kuliner berhubungan tidak hanya dalam hal yang bersifat material dan fisikal, seperti bagaimana tokoh-tokoh dalam karya sastra mengonsumsi dan menikmati makanan, tetapi juga bersifat sosial kultural, yaitu bagaimana tokoh-tokoh tersebut mengonstruksi identitas budaya dan prinsip hidup mereka melalui makanan. Khazanah kuliner lokal, tradisional hingga modern, membangun citra tokoh dan lanskap kultural dalam karya sastra.

Dalam kajian sastra dan kuliner (literary and culinary studies), makanan dapat dilihat sebagai medium untuk membangun karakterisasi tokoh. Identitas lokal dan nasional dari tokoh bisa digambarkan melalui kecenderungan melestarikan makanan berakar lokal dan nasional dengan cara memasak, menghidangkan, hingga menikmatinya. Namun, dalam karya sastra bertema urban dan metropolitan, berbagai jenis makananfast food bisa menggambarkan gaya hidup tokoh-tokohnya sehingga citra tokoh menjadi modern dan kosmopolitan. Dalam sastra Indonesia, kajian sastra kuliner akan menarik karena kalau ditelisik beberapa karya mengandung isu-isu kuliner yang menyatu dengan tema yang digarap pengarang.

Dalam novel Pulang (KPG, Desember, 2012) karya Leila S Chudori, misalnya, dunia kuliner memainkan peran penting karena novel ini berkisah tentang kehidupan para eksil politik Indonesia di Eropa, khususnya Paris, Perancis, yang tidak bisa dilepaskan dari tradisi dan budaya tanah air mereka, Indonesia. Untuk membangun relasi antara tanah kelahiran dan negeri tempat pengasingan serta menghidupkan memori dan nostalgia di kampung halaman, kuliner khas Indonesia digambarkan dengan dipadu unsur budaya lain, kesenian tradisional Indonesia, seperti wayang dan musik/lagu tradisional. 

Kecintaan dan kerinduan tokoh eksil seperti Dhimas Suryo (dalam novel Pulang), yang menikah dengan perempuan Perancis bernama Vivienne, terhadap Indonesia dijembatani dengan deskripsi kebiasaan Dhimas untuk mengonsumsi dan memasak makanan-makanan khas Indonesia.

Kuliner dan identitas budaya

Pada konteks konstruksi identitas budaya, eksil Indonesia berupaya mempertahankan identitas dan selera kulinernya dengan membuka restoran Indonesia ”Tanah Air” di Paris yang menyajikan makanan-makanan khas Indonesia, seperti nasi kuning, tempe kering, ayam goreng kuning, kentang iris pedas, rendang padang, gulai pakis, dan gulai anam. Di tengah dominasi makanan khas Eropa dan kehidupan Barat yang harus dihadapi serta diadaptasi, tokoh-tokoh eksil yang digambarkan Leila S Khudori memiliki militansi untuk menunjukkan budaya Indonesia dan tetap mempraktikkannya. Perjuangan berat para eksil politik 1965 dalam menghadapi tekanan dan teror Pemerintah Orba terasa makin berat di Paris karena untuk mengobati kerinduan melalui makanan mereka harus mengeluarkan biaya lebih mahal demi membeli bumbu-bumbu semacam cabai merah, bawang merah, kunyit, jahe, daun jeruk, daun salam, dan bawang putih. Apalagi, tidak mudah mendapatkan bahan-bahan untuk bumbu tersebut.

Negosiasi identitas melalui kuliner digambarkan oleh Leila melalui tokoh gadis keturunan Indonesia-Perancis bernama Lintang (anak Dhimas Suryo dan Vivienne) yang berkata, ”Un très bon plat, Ayah!” (”enak sekali, Ayah!”) (hal 101) ketika dia menikmati masakan khas Indonesia yang dibuat Dhimas Suryo. Superioritas Barat yang dalam tradisi post-kolonial masih sering melekat dalam diri orang-orang Barat dan inferioritas budaya yang sering distereotipkan untuk orient dengan sendirinya terdekonstruksi dalam hal ini. Lebih jauh, Dhimas Suryo menunjukkan superioritasnya dalam urusan meracik bumbu (resep makanan Indonesia/oriental) dengan melarang Vivienne mengotak-atik urusan bumbu.

Identitas Indonesia yang ingin ditunjukkan tokoh eksil Indonesia melalui urusan bumbu ini memberikan kesan bahwa praktik budaya membutuhkan pengetahuan dan kebiasaan dari pelaku budaya yang membawa akar budaya Indonesia. Bahkan dikisahkan, untuk menggerus bumbu tersebut, Dhimas menggunakan ulekan batu yang dikirim dari Indonesia. Begitu penting representasi kuliner di negeri orang hingga Leila S Chudori memberikan narasi dalam novel Pulang bahwa ”Restoran Tanah Air adalah duta kebudayaan di Paris yang sesungguhnya.” (hal 122).

Metafora kuliner

Jika novel Pulang lebih menekankan bagaimana kuliner mengonstruksi identitas kultural tokoh-tokoh di dalamnya, cerpen karya Damhuri Muhammad yang bertajuk Lelaki Ragi dan Perempuan Santan (Kompas, 29 September 2013) bisa digunakan sebagai contoh karya yang menggunakan khazanah kuliner sebagai metafora yang menjiwai cerita. Cerpen Damhuri berkisah tentang dinamika cinta dua anak manusia yang termetaforakan melalui makanan khas Sumatera Barat bernama lemang-tapai yang harus disantap secara berpasangan. Filosofi ”lemang” berhubungan dengan kesementaraan. 
Sementara ”tapai” mewakili keabadian yang jika keduanya dipadukan akan saling melengkapi. Si pemuda dalam cerpen ini memilih bersetia menanti gadis pujaannya yang selalu mengirimkan lemang-tapai. 

Pilihan yang melambangkan kesetiaan atas penantian dan keabadian cinta. Sang pemuda tak menghiraukan kiriman gulai kentang yang melambangkan pinangan dari gadis-gadis lain sebagaimana ditegaskan Damhuri dalam cerpen ini, ”Kuah yang kental, kentang yang kempuh sempurna, bagai mencerminkan kesungguhan niat dan ketulusan perasaan keluarga yang hendak beroleh menantu.” Penggalian makna kuliner berakar lokal yang dilakukan Damhuri makin memperkuat aspek estetis cerpen.

Metafora ”lelaki ragi” dan ”perempuan santan” mencapai kulminasi metaforisnya ketika tapai dan santan dikaitkan dengan perkembangan hubungan kedua anak manusia dari satu daerah itu yang mengalami keretakan. Si gadis pergi setelah mendapatkan godaan pekerjaan, yang masih ada kaitannya dengan dunia makanan, yaitu sebagai kasir restoran dan akhirnya menikah dengan induk semang tanpa memberitahu si pemuda yang setia menantinya. Lemang yang ditanak dengan santan digunakan Damhuri untuk menggambarkan ketidakabadian, bahkan pengkhianatan yang dilakukan oleh si gadis. 

Dan, ragi yang menjadi bahan wajib untuk membuat tapai (yang makin diperam makin manis rasanya) menjadi metafora jati diri dan kesetiaan si pemuda dalam mencintai si gadis. Si pemuda bahkan hingga di akhir cerita memilih untuk tidak menikah sehingga ibunya sampai memiliki asumsi bahwa anaknya itu masih memendam rasa cinta dan ingin menunggu si gadis pujaannya yang telah menikah.


Metafora kuliner dalam cerpen Damhuri dengan demikian memiliki peran penting, tidak hanya berkaitan dengan bagaimana meracik estetika dan teknik penceritaan melalui metafora makanan yang dikaitkan dengan karakterisasi tokoh, tetapi juga untuk menggerakkan plot dan menghadirkan ketegangan serta konflik dalam cerpen. Sebagai bagian dari fenomena kebudayaan yang telah lama mengakar di bumi Nusantara, tentunya kuliner Nusantara bisa menjadi bahan kreatif penulisan yang makin memperkaya identitas sastra Indonesia. ●

Jumat, 17 Mei 2013

Peneliti Lokal Versus Peneliti Asing


Peneliti Lokal Versus Peneliti Asing
Yusri Fajar Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya
KOMPAS, 17 Mei 2013


Berita di Kompas edisi 16 Maret lalu tentang dominasi peneliti asing dalam penelitian wayang golek dan wayang cepak di Jawa Barat menarik perhatian.

Dalam berita itu, Endo Suanda, Direktur Yayasan Seni Tikar, mengatakan, banyak peneliti lokal tak didukung data lengkap sehingga hanya membahas permukaan. Lili Suparli, dosen STSI Bandung, juga dalam berita itu mengatakan, peneliti asing unggul karena mereka memiliki bekal metode penelitian yang lumrah terjadi di negara asalnya sejak ratusan tahun lalu.

Superioritas peneliti asing

Ironis bahwa peneliti Indonesia (dinilai) kalah kualitas dari peneliti asing. Seharusnya peneliti lokal lebih tahu dan mampu mengeksplorasi serta menjiwai khazanah seni budaya Indonesia. Pernyataan Endo dan Lili menjadi tantangan dan pekerjaan rumah bagi para peneliti lokal dan pemangku kebijakan. Saya tak akan membahas penelitian wayang golek dan cepak di Jawa Barat, tapi lebih ingin mendiskusikan posisi dan peran peneliti asing dan peneliti lokal dalam penelitian seni budaya Indonesia.

Peneliti asing dari Eropa, Asia, dan Australia telah lama diagung-agungkan dan diposisikan superior karena karya mereka yang dinilai fenomenal dan membuka banyak tabir kekayaan budaya Indonesia yang lama tak tereksplorasi secara ilmiah dan serius.

James L Peacock (peneliti ludruk), Clara Brakel-Papenhuyzen (tari jawa), Andrew N Weintraub (dangdut), dan Ellen Rafferty (teater Indonesia), sebagai contoh, telah membawa kekayaan seni budaya dari sejumlah daerah di Indonesia ke negara mereka masing-masing dan menginternasionalkan khazanah seni budaya Nusantara.

Ilmuwan-ilmuwan asing ini berperan mengukuhkan superioritas Barat sebagai pusat dari wilayah yang, dalam kajian poskolonial, dicitrakan sebagai pinggiran yang eksotik. Barat dalam konstruksi pencitraannya harus dijadikan rujukan karena superi- oritas kepakaran dan sejumlah lembaga risetnya.

Konstruksi yang sering kali distortif semacam ini berdampak negatif karena para peneliti asing dan pusat studi Indonesia di sejumlah universitas ternama di luar negeri dianggap sebagai sumber pengetahuan tentang Indonesia yang paling layak sehingga banyak akademisi dan peneliti Indonesia berkiblat ke sana. Biaya studi ke sana yang besar akan membawa untung bagi kelangsungan sejumlah institusi luar negeri dalam mengembangkan riset tentang Indonesia.

Padahal, pengembangan dan penguatan pusat-pusat studi seni tradisi dan berbagai program studi di perguruan tinggi di Indonesia yang terkait disiplin seni budaya Indonesia dibutuhkan. Konstruksi dan cara pandang yang memosisikan peneliti lokal secara inferior hanya akan menyemaikan mental inlander yang seharusnya dipupus habis.

Dukungan dan kebijakan

Dukungan nyata diperlukan untuk meningkatkan peran dan kompetensi para peneliti lokal. Kebijakan memberikan peluang lebar bagi penelitian seni budaya harus terus ditingkatkan. Bukan berarti ketika penelitian bidang teknologi dan sains dianggap lebih penting dan bermanfaat, penelitian bidang seni, budaya, dan humaniora dianaktirikan. Melalui penelitian, kekayaan seni budaya Indonesia bisa digali dan didokumentasikan. Lebih dari itu, strategi pelestarian serta identifikasi kegunaannya bagi kemajuan serta pembentukan identitas bangsa di tengah era global bisa dirumuskan.

Pandangan bahwa penelitian kuantitatif, yang diklaim lebih terukur, jelas indikator dan keluarannya, bukan alasan untuk memandang sebelah mata dan memarjinalkan penelitian kualitatif, etnografi, sastra, dan berbagai penelitian seni budaya yang bertumpu pada deskripsi dan interpretasi. Dana penelitian bidang seni budaya harus terus ditingkatkan agar kuantitas dan kualitas penelitian bidang ini bisa berkembang serta melahirkan peneliti-peneliti muda Indonesia yang cemerlang.

Dominasi dan sepak terjang peneliti asing bisa ditandingi dengan peran serius peneliti lokal. Selain itu, peraturan seperti Permendagri No 49/2010 tentang Pemantauan Orang Asing dan Organisasi Masyarakat Asing di Daerah, terutama Pasal 13 dan 14 yang khusus mengatur tentang peneliti asing, bisa menjadi kontrol. Pasal 14 menyatakan, berkaitan dengan rencana penelitian peneliti asing, pemerintah daerah berhak menyetujui atau menolak. Tentu jika peneliti asing tidak memberikan konstribusi positif terhadap kepentingan nasional, bahkan merugikan, maka tak ada alasan menyetujuinya.

Terlepas dari peraturan itu, peran peneliti lokal harus dimak- simalkan. Peneliti lokal yang akan meneliti khazanah kesenian tradisi dan kebudayaan Indonesia harus diutamakan daripada peneliti asing. Jika sejumlah kebijakan dan dukungan telah nyata dilakukan, dominasi peneliti asing seperti pada penelitian wayang di Jawa Barat tidak akan terjadi. Dialektika dan kompetisi dengan peneliti asing diperlukan untuk menaikkan daya saing dan kualitas peneliti lokal.