Tampilkan postingan dengan label Arswendo Atmowiloto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arswendo Atmowiloto. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Maret 2016

Kulit Kabel

Kulit Kabel

Arswendo Atmowiloto ;   Budayawan
                                               KORAN JAKARTA, 05 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Saya bisa membayangkan kulit durian, tapi tetap susah membayangkan kalau jumlahnya mencapi 17 truk, atau sekitar 60 meter kubik. Saya bisa membayangkan jumlah yang sama untuk kulit kacang, tapi tetap tak bisa membayangkan jumlah sebesar itu—untuk apa atau dari proses apa. Apalagi kalau benda itui adalah kulit kabel, yang tak berhubungan langsung dengan kehidupan kita sehari-hari, dibandingkan kulit durian atau kulit kacang, atau krupuk kulit sekalipun.

Kulit kabel kini dipersoalkan. Benda ini berbentuk seperti pita, spiral, dengan lebar 2-5 sentimeter. Terbuat dari logam yang dilapisi plastik atau karet. Ketika ditemukan karet kabel ini sudah bercampur lumpur, dan berada dalam gorong-gorong, atau got yang di jalan Medan Merdeka.

Kulit kabel inilah yang menyumbat gorong-gorong dan dari sinilah diperkirakan terjadinya banjir Istana. Atau dalam bahasa dramatis : Istana Negara, dan Istana Merdeka, akan tenggelam.

Ini memang dramatis, gawat dan menakutkan. Karena yang muncul adalah pertanyaan : siapa gerangan yang melakukan sabotase ini? Siapa yang demikian jahat, dan terencana, dan mampu melumpuhkan simbol politis dan kekuasaan negeri ini?

Saya bisa membayangkan ada kejahatan, tapi yang ini—kalau sengaja, agaknya demikian—sungguh sangat jahat. Menyumbat gorong-gorong, untuk menimbulkan banjir, dan memperoleh keuntungan harta atau politis dari aksinya ini.

Saya membandingkan, dengan skala yang berbeda tapi kadar yang sama pekat jahatnya, pada mereka yang menaruh paku di jalanan, dengan harapan pengendara motor akan mengalami pecah ban, dan meminta jasanya sebagai tukang tambal ban.

Sedemikian jahat sehingga apapun dilakukan, hanya untuk memperoleh rejeki dengan pengorbanan orang lain yang besar. Seperti mala petaka banjir yang merugikan banyak sekali keperluan, hanya untuk keuntungan pribadi. Seperti juga penambal ban yang berharap dapat pekerjaan dengan menyebar paku—yang bisa saja menimbulkan kecelakaan yang fatal. Seperti juga, dalam perbandingan yang lain, mereka yang tega menipu dengan kedok penyelenggara tour – dalam kaitan agama. Dan atau kekejian lain, yang menjadi tega luar biasa, dan merendahkan kemanusian.

Saya suka bertanya dalam diri : kenapa ada orang yang bisa begitu tega menyebar paku di jalan raya? Apakah justru karena kita manusia kita dimungkinkan berbuat demikian jahat? Ataukah ini sisa-sisa naluri dan sifat kebinatangan yang kita miliki di masa purba dulu? Saya tak tahu jawabannya. Tapi saya ingin mengetahui sebab bagaimana mungkin kulit kabel sebanyak itu bisa ada di tempat itu. Siapa, atau siapa saja, yang melakukan itu.

Penyelidikan yang rumit tapi juga jelas sasaran akan memungkinkan mengungkapkan tabir. Karena jenis komponen kabel, jenis siapa yang menjadi pemilik, pekerja dari mana, bisa ditelusuri.

Hanya dengan penjelasan yang masuk akal, dan bukan sikap “masuk angin” yang menjadikan masalah itu menjadi terang, dan kita semua belajar dari kulit kabel ini. Kalau tidak bisa terungkap dan hanya menguap, barang kali kita masih dalam posisi kejahatan yang tak pernah kita sadari sejak kita masih purba.

Saya berusaha sabar, menunggu kabar penyelesaian kulit kabel. Saya membayangkan ini akan ada penjelasan yang masuk akal, dan bukan terhenti pada gorong gorong gelap. ●

Senin, 29 Februari 2016

Blur

Blur

Arswendo Atmowiloto ;   Budayawan
                                            KORAN JAKARTA, 27 Februari 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Kadang terasa, suatu kata itu menjelaskan dirinya sendiri, dan menemukan jalannya untuk menjadi popular. Blur contohnya. Kata itu mengandung makna kabur, remang-remang, bluret atau blurred, menjadikan kabur. Kabur pada seluruh atau sebagian. Istilah yang juga digunakan di dunia fotografi. Misalnya gambar menjadi tidak fokus ketika kamera bergerak, panning, atau membidik dekat, zoom. Bisa dilakukan secara sengaja, memblur bagian depan atau belakang suatu obyek, dengan tujuan mempertegas bagian yang lain.

Kini kata blur menjadi lebih popular lagi. Terutama karena kini banyak gambar atau foto yang diblur. Misalnya gambar atau foto yang dinilai terlalu sensual. Bagian yang seksi itulah yang disamarkan. Menjadi tidak jelas itu gambar apa. Dan karena blurnya asal menutupi, menjadi kontras dan karenanya menarik perhatian.

Makin diperbincangkan terus dan diucapkan karena saat ini banyak sekali tayangan di televisi yang diblur. Awalnya hanya terbatas hal yang betulbetul mengganggu—misalnya adegan yang memperlihatkan orang tengah merokok. Atau norma-norma kekerasan. Tapi kemudian ketika dikaitkan dengan masalah sensualitas men jadi berbeda. Karena kini bukan hanya pemilihan ratu kecantikan—yang bahkan pakai kebaya pun kena blur bagian belahan dada,melainkan juga adegan dalam jenis kartun. Tokoh kartun dalam adegan di laut—atau pantai, kena blur karena memakai celana renang misalnya. Sedemikian banyaknya blur ini sehingga saya bertanya-tanya apakah yang dipermasalahkan ini benar-benar terjadi, atau bahan meme, gambar lucu untuk mengolok-olok.

Misalnya saja adegan anak kecil belajar memerah sapi yang diblur. Apakah ini sungguh-sungguh terjadi? Kalau benar sungguh banyak pertanyaan yang bisa dimajukan. Kalau tidak betul-betul terjadi, berarti memasuki wilayah mentertawakan yang bisa menyakitkan. Seperti yang menurut saya benar-benar cara mengolok-olok diri sendiri, bahwa gambar pentil ban mobil diblur. Persis seperti gambar adanya taufan besar, dengan tulisan dan tanda blur. Pentil ban dan puting adalah nama jenis yang kurang lebih sama artinya. Dan karena nama itu dianggap vulgar, atau kasar, makanya perlu diblur.

Tak bisa dielakkan bahwa rajinnya menyensor dengan memblur ini terkait dengan maraknya menghindarkan promosi besar yang dilakukan komunitas LGBT. Komunitas atau kelompok yang terdiri dari kaum lesbi, pecinta sesama jenis kaum perempuan, gay, pencinta sesama jenis kaum lelaki, atau biseks, bisa berhubungan intim dengan sesama atau lawan jenis, atau trangender, mereka yang mengubah jenis kelaminnya, biasanya dari lelaki menjadi perempuan.

Pembahasan dan atau penolakan terhadap LGBT memang sedang meluap, dan itu sebenarnya ada benarnya, namun pendekatan atau cara-cara yang terlihat menyudutkan kelompok tertentu. Misalnya saja untuk menghindarkan pengaruh pada penonton televisi, maka dilaranglah tampilan “lelaki berpenampilan wanita”. Satu istilah ini sudah membuat ruwet rumusan yang pada akhirnya memerlukan banyak sekali penjelasan. Dan sedemikian penjelasan akan makin membuat tidak jelas, dan karenanya tidak operasional. Itulah sebabnya tampilan “lelaki seperti perempuan” bisa dari segi pakaian, cara berjalan, cara berkata, dan sebagainya. Yang menimbulkan pertanyaan lain : bagaimana nasib seni tradisional seperti ludruk, atau bahkan wayang orang misalnya? Apakah termasuk yang kena blur?

Dengan kata lain kita masuk ke dalam putaran pendekatan yang harus bisa dilakukan dengan lebih jernih dan lebih fasih. Dan ini berarti juga gaduh yang riuh yang sebenarnya mengingatkan agar tak bergeser terlalu jauh, menjadi konfrontatif.

Di tengah berbagai kemungkinan itu, masih juga kita dengar lelucon. Bahwa sebenarnya yang perlu kena blur bukan gambar atau foto yang merangsang, yang sadis saja, melainkan juga gambar mantan. Karena mantan juga termasuk menganggu.

Kita tertawa, tapi itu tak menyembunyikan perih. Juga luka dalam kok makin munikasi yang perlu ditata. Agar tidak makin blur di antara kita. ●

Minggu, 14 Februari 2016

Patung Arjuna

Patung Arjuna

Arswendo Atmowiloto  ;   Budayawan
                                            KORAN JAKARTA, 13 Februari 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Patung tokoh wayang Arjuna di kecamatan Wanayasa, Purwakarta terbakar, atau dibakar, Kamis lalu. Apa salah Arjuna, atau bentuk patung setinggi 7 meter itu? Bupati Dedy Mulyadi dua hari sebelumnya baru saja menerima anugrah budaya yang diberikan saat Hari Pers Nasional di Lombok, bersama pejabat lainnya yang dianggap berjasa dalam bidang budaya. Bupati yang mulai jadi bahan perbincangan nasional ini mengatakan bahwa sejak tahun 2010 ada perusakan patung-patung wayang di derah sekitarnya . Atau dirobohkan , seperti keberadaan patung Semar, Bima , Nakula dan Sadewa.

Itu tokoh-tokoh dalam dunia wayang. Arjuna adalah tokoh dari keluarga Pandawa yang digambarkan sangat sakti, dan… memiliki istri terbanyak dibandingkan tokoh lain dalam dunia perwayangan. Patung Arjuna juga banyak ditampilkan di Jakarta, atau Boyolali, Jawa Tengah dei tempat yang ramai dan mudah dilihat. Dalam wayang kulit, atau wayang orang Jawa, Arjuna digambarkan lemah lembut, sementara dalam film televise produksi India, Arjuna yang sering dimainkan perempuan dalam wayang orang, digambarkan berdada six pack. Senjata andalannya berupa panah, maka patungnya sering memperlihatkan adegan tengah memanah. Patung yang sama ada di kompleks olah raga Bung Karno, Senayan, Jakarta meskipun mungkin bukan Arjuna yang dimaksud. Di Solo sendiri nama stadionnya Manahan—dengan simbol ksatria yang tengah memanah.

Kisah dalam wayang sudah sejak awal hidup di dalam masyarakat Jawa. Sudah beradaptasi dengan budaya setempat—kalau disebut asalnya dari India. Bahkan nama salah satu senjata paling sakti, tak ada yang sanggup menandingi, dinamakan Jimat Kalimasada. Ajimat yang tidak berbentuk senjata seperti kerius, atau panah, atau gada, atau tombak, itu konon menggambarkan kesaktian Kalimat Syahadat. Ajian itu bahkan ditempatkan dalam ikat kepala raja “berdarah putih” Puntodewa, putra sulung keluarga Pandawa.

Bentuk wayang juga pernah menjadi penyelamat komik di Indonesia. Kisahnya di tahun 1952-1955 ketika buku komik di negeri ini didominasi jenis superhero yang fiktif, termasuk lahirnya Sri Asih, Garuda Putih, Lungga dan tokoh fiktif lainnya. Oleh pihak pemerintah hal ini dianggap tidak mendidik, dan membuat anak-anak tidak mau belajar. Maka penerbitan komikkomik ini dirazia. Akibatnya buku komik lenyap dari pasaran. Dalam kondisi terjepit dan sekarat itu para komikus, seniman komik membuat komik wayang—yang sebetulnya lebih fiktif dan lebih kaya khayal. Wayang telah diterima sebagai bagian budaya yang sah dan aman. Begitulah komik jenis wayang, waktu itu dipakai istilah komik klasik, muncul dan diterima di masyarakat. Bukan hanya penerbit Jakarta dan Bandung saja yang menerbitkan komik wayang, melainkan juga di kota Medan—pusat penerbitan komik setelah Jawa. Yang menggembirakan adalah bersama dengan itu munculah jenis komik dari kisah-kisah tradisional, hero lokal yang tadinya hanya ada di pentas ketoprak. Dalam pengertian ini Arjuna dan tokoh-tokoh pewayangan yang lain, pernah menjadi penyelamat komik Indonesia dan membuka pilihan pada kisah atau cerita tradisional. Tanpa selingan dengan wayang, komik di Indonesia tak berlanjut ketika dirazia. Atau setidaknya perkembangannya menjadi berbeda.

Maka ketika patung Arjuna ter, atau di, bakar pada pagi hari muncul beberapa pertanyaan. Karena wayangnyakah? Karena patungnyakah? Karena apa atau yang mana menjadi penting untuk diketahui jawabannya, karena bisa menjadi bahan pelajaran dan pengajaran bagaimana sebaiknya pendekatan dalam mengembangkan atau mengadakan seni wayang, atau seni patung, atau seni penempatan, atau tata ruang budaya kita ini. Apakah hanya di Purwakarta, atau juga tempat lain.

Secara pribadi saya lebih senang mendengar dibangunnya patung sebagai karya seni, dibanding dengan berita penghancurannya. ●

Senin, 25 Januari 2016

Regina

Regina

Arswendo Atmowiloto  ;  Budayawan
                                             KORAN JAKARTA, 23 Januari 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Saya tak mengenal Regina, dan Regina tak mengenal saya. Saya mendengar banyak kisah Regina, sebagaimana masyarakat lain yang dibuai dunia entertainment, dunia sajian hiburan. Regina Andriane Saputri, muncul dalam dunia gaul, yang disebut dengan dunia sosialita. Kita mungkin banyak mendengar kisahnya, walau tetap samar.

Misalnya awal karier—kalau bisa dikatakan karier, sebagai wakil sekretaris tingkat DPC sebuah partai politik. Di sini kemudian bertemu dengan suami yang memberi satu anak, dan menjadi masalah karena suami ini masih menjadi suami perempuan lain. Sang suami ini yang mengenalkan kepada sosok lain, Farhat Abbas, mantan atau waktu itu masih suami Nia Daniaty, yang sahabat sesama lelaki. Hubungan Regina dengan Farhat juga berbau politik diawalnya, karena kampanye di Koala, Sulawesi Tenggara.

Farhat gagal, tapi hubungan dengan Regina jalan terus. Lalu kawin siri—dan Regina mengulangi apa yang pernah dialami. Regina merekam lagu—karena Farhat selain calon presiden termuda juga, katanya, pengorbit artis, dan kemudian menjadi juru bicara ketika perseteruan dengan tokoh lain, Ahmad Dhani. Dari perjalanan ini kita tahu akan banyak cerita, banyak berita karena menyangkut namanama yang dimanja media hiburan.

Termasuk perjanjian suami Regina dengan Farhat, bahwa Regina akan bekerja secara professional, dan bukan untuk diselingkuhi. Kisah berlanjut, bak benang kusut bagi yang suka merunut. Selepas dari kawin siri dengan Farhat, Regina menikah lagi, –kemungkinan juga siri, dengan Krisna Murti. Yang juga pengacara dan juga sudah punya—atau statusnya masih,beristri. Dari latar ini, pastilah akan banyak komentar, karena kini pihak yang berkomentar makin melebar. Istri Krisna, saudara-saudaranya, ibunya, lalu balasan komentar dari Regina, jadilah hingar bingar, membakar telinga dan kesadaran, juga kesabaran.

Misalnya Krisna menikahi Regina karena dipelet, atau juga karena mau dibayari hutangnya. Misalnya istri Krisna tadinya mengeluhkan terjadinya KDRT, kekerasan dalam rumah tangga, lalu mengatakan baik-baik saja setelah berkumpul bersama suaminya di suatu hotel. Juga dilengkapi komentar Adik dan atau Kakak, atau Paman Krisna… dan lain sebagainya, termasuk teori konspirasi yang canggih adanya.

Kisah Regina, atau nama yang terkait dengannya, adalah kisah dengan data dan fakta yang bisa berubah. Dan itu urusan yang bersangkutan, yang melakoni ini semua, mungkin dengan riang ria, dan memang begitulah tata nilai yang diinginkan. Yang dirugikan adalah tata nilai yang selama ini diyakini masyarakat.

Tata nilai pernikahan, misalnya. Selama ini tata nilai dalam pernikahan adalah sakral, hubungan suami-istri adalah saling setia dan saling menghormati, dalam susah dan senang selalu bersama, menjadi berantakan. Karena realitas lain yang dimunculkan soal kawin siri, soal rebutan suami, soal rebutan harta, soal-soal yang tadinya tercela.

Dua tata nilai yang berbeda— untuk tidak saling berlawanan, inilah yang mengharu biru dalam kehidupan kita sehari hari, mempengaruhi sikap dan penilaian kita selama ini.Dan itu bukan hanya oleh Regina—karena akan selalu ada nama lain, selalu ada “tokoh tanpa pekerjaan tapi manja gaul” yang muncul.

Kita butuh hiburan karena hidup yang penat. Dan menyikapinya dengan santai sebagaimana tulisan di media sosial, pada bagian komentar tertuliskan justru iklan ingin hamil, atau penawaran pakaian, atau hal yang tak berhubungan dengan kisah seru dan saru. Dan begitulah cara menjaga kewarasan kita, keseimbangan dalam hidup yang ramai ini. ●

Minggu, 13 Desember 2015

“Ora Sudi”

“Ora Sudi”

Arswendo Atmowiloto  ;   Budayawan
                                             KORAN JAKARTA, 12 Desember 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Presiden Republik Indonesia,Joko Widodo, marah. Suaranya bergetar, wajahnya serius, jari-jari tangannya menuding memberi tekanan kata yang diucapkan. Dan diakhiri dengan mendadak. Presiden tidak menggunakan bahasa terselubung, tidak memakai kata bersayap ala Presiden Soeharto dengan istilah “setan gundul” yang terkenal itu. Presiden Joko Widodo bicara mloho, telanjang, apa adanya. Bahwa dirinya bisa disebut gila, koppeg, tapi lembaga kepresidenan tak bisa dilecehkan. Tak boleh direndahkan, apalagi dicatut dalam soal minta saham ke PT Freeport.

Mungkin sekali baru sekarang ini, setelah satu tahun mengenal beliau sebagai presiden, kemarahan itu diekspresikan secara terbuka. Mungkin sekali beliau menganggap apa yang terjadi dengan pencatutan nama sudah keterlaluan. Sebagian masyarakat Indonesia juga geram, marah. Beberapa tokoh politik menyuarakan hal yang senada. Beberapa waktu sebelum kemarahan terbuka ini, Menteri ESDM Sudirman Said ketika melapor kasus yang melibatkan Ketua DPR dan pengusaha migas, terucap bahwa Presiden mengatakan “ora sudi”.

Dalam terjemahan secara umum bisa diartikan tidak mau, ogah, tidak sudi. Namun sebenarnya yang terungkap dalam bahasa Jawa ini lebih dalam dari sekadar penolakan. Kalimat utuhnya dalam bahasa Jawa adalah “Ora sudi. Dadia godong emoh nyuwek, dadia banyu emoh nyawuk”. Terjemahan per kata adalah “Tidak sudi. (Kalaupun kamu) berupa daun (aku tak mau) menyobek, (kalau kamu) berupa air (aku tak mau) menyentuh.” Dengan pengertian senada bisa dikatakan sebagai penolakan dalam bentuk apapun. Bahkan kalau itu berwujud daun, tangan ini terlalu halus untuk menyobeknya.

Kalau itu berwujud air, tetap tak ingin bersentuhan. Dalam bahasa dunia persilatan, kata “ora sudi” mirip dengan upacara “minum arak perdamain”. Yaitu upacara dua jago silat—atau lebih, yang tadinya bersahabat, atau bahkan bersaudara, atau satu kelompok, satu perguruan— yang meminum arak bersama. Itu sebagai tanda bahwa setelah upacara minum arak perdamaian, kedua akan berlaga. Duel atau pun keroyokan.

Dalam hal ini segala tata nilai dan tata krama sebelumnya tidak berlaku. Nilai persaudaraan, perkawanan, perkoalisian, perpartaian, tidak berlaku lagi. Hukum baru yang berlaku. Hukum “ora sudi.”

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Dan kemarahan begini tidak boleh berakhir sia-sia, yang berhenti pada kemarahan semata. Harus ada tindak lanjutnya. Hal yang sama ketika masyarakat merasakan kemarahan, ketersinggungan yang sama, kecemasan besar atau perilaku yang menghinakan kemanusiaan, kemarahaan mereka tak harus sia-sia. Ini yang sekarang ditunggu. Apapun itu. ●

Senin, 07 Desember 2015

Serakah

Serakah

Arswendo Atmowiloto  ;  Budayawan
                                             KORAN JAKARTA, 05 Desember 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Serakah, mungkin saja mengawali tindak korupsi. Atau korupsi itu sendiri. Secara bahasa serakah diartikan sebagai sifat yang selalu ingin memiliki lebih dari yang bisa dimiliki. Dalam kamus Bahasa Indonesia bahkan diberi contoh : Meskipun sudah kaya, ia masih serakah, hendak mengangkangi harta saudaranya. Serakah, sama dengan loba, tamak, rakus, menjadi sifat atau sikap tercela mana kala dijalankan melalui cara-cara yang jahat, yang melanggar aturan.

Tapi masalahnya kadang perlu memperdebatkan apakah serakah yang salah, atau sebaliknya dianggap “serakah yang gagah.”. Ungkapan melegenda itu dalam dialog, greed is good, yang terkenal dalam film Wall Street, yang disutradarai Oliver Stone, 1987. Sedemikian ngetopnya, hingga tahun 2010 ada lanjutan cerita, dengan pemeran masih Michael Douglas sebagai Gordon Gekko. Gekko, konon diinspirasikan oleh ayah sang sutradara, adalah tokoh yang bersemboyan “serakah itu gagah.” Apa saja halal dilakukan untuk menggarong, mengelabui kawan atau lawan, dan gaya hidup super mewah adalah tanda sukses. Moral, etika, sopan santun tak masuk perhitungan selama sukses dalam segi harta.

Dalam hal cerita, kisah-kisah tradisional tentang serakah lebih jelas garis dan batasnya. Pada cerita rakyat yang berjudul Uthak-uthak Ugel, tokoh ini digambarkan sangat serakah. Ia menggelikan tingkahnya, agak menjijikkan, karena kerakusannya. Segala apa yang ditemui dimakan. Termasuk hutan dan isinya, termasuk laut dan isinya.

Uthak-uthak Ugel tak mengenal puas, tak mengenal kenyang. Meskipun sudah dinasehati untuk berhenti, ia nekad terus. Sampai akhirnya perutnya meletus karena kekenyangan, karena ada kepiting yang tertelan menjapit pusarnya dari dalam. Raksasa yang sakti, berkuasa, tak terkalahkan sebelumnya terkapar. Ia tak menyangka bahwa ternyata ada kelemahan dalam perut di balik segala kekuatan yang dimiliki. Uthak-uthak Ugel lebih sederhana keserakahannya, lebih hitam putih. Juga ketika oleh sang empunya cerita dikalahkan oleh seekor kepiting. Namun kenyataan sehari-hari, barang kali lebih menampilkan Gekko. Yang tak serta merta dianggap salah, dan mudah dibuat kalah. Dalam dunia kapitalis, dunia yang memuja harta dan mengabaikan apa saja, Gekko adalah pahlawan, adalah tokoh besar, menguasai tuntutan zaman. Dan masih bisa dihidupkan dalam sekual lanjutan.

Hari-hari ini Mahkamah Kehormatan Dewan, MKD, DPR RI, kini tengah bersidang panjang mendudukan persoalan etika apakah ada yang dilanggar atau tidak. Tokoh yang diadukan adalah Ketua DPR, Setya Novanto, dengan pengadu Menteri ESDM, Sudirman Said. Namun dalam persidangan yang disiarkan langsung oleh sedikitnya lima stasiun siar televisi yang berjam-jam itu terkesan kuat pertikaian kubu-kubu politik. Ada kubu pro dan ada kubu kontra. Ada yang ngotot dan ada yang sangat ngotot.

Ada keluhan dan ada kengototan. Dan pendapat yang berbenturan di media, khususnya media sosial yang bisa lebih terus terang dan nakal. Tontonan di layar televisi seakan sebuah sinetron horor karena kengerian akibat yang terjadi sangat menakutkan, namun juga tersaji dalam pendekatan komedi. Ada humor langsung, dan humor yang tercipta dari istilah penyebutan Yang Mulia misalnya.

Bagian terberat sebagai penonton adalah menahan diri atau ikut berkomentar. Bagian yang lebih berat lagi terasakan kalau menginginkan ada penyelesaian. Bukan hanya kasus ini, atau kasus etika, melainkan kasus keserakahan dalam bentuk yang lain, yang terasa menekan di banyak bidang.

Adakah kita bisa menghibur diri dengan mengandaikan bahwa sebenarnya sekarang ini kepiting sedang bekerja? Atau sebaliknya, menjadi terbiasa dan merasa gagah ketika melakukan serakah.? Entahlah. ●

Senin, 16 November 2015

Kita Bisa Bersama

Kita Bisa Bersama

Arswendo Atmowiloto ;  Budayawan
                                             KORAN JAKARTA, 14 November 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Semboyan yang biasa adalah “Bersama Kita Bisa” , yang mengumandang di masa pemerintahan Presiden Yudhoyono. Sebagaimana biasanya, semboyan, atau motto, atau tagline, atau “kata mutiara” yang menjadi pegangan bersama, tata nilai serta tata kramanya menjadi ungkapan yang ampuh. “Bersama Kita Bisa” bahkan masih menjadi tema yang diperjuangkan sebuah perusahaan besar dalam merayakan ulang tahun dan diliput media massa.

Tak ada yang salah dengan itu, dan semboyan tidak untuk disalahkan. Namun penekanannya bisa menjadi beda, misalnya diubah menjadi “Kita Bisa Bersama”. Ini yang terlintas dalam kelebatan peristiwa akhir-akhir ini. Semboyan “Kita Bisa Bersama”, sangat diperlukan oleh misalnya Partai Golkar. Selama ini perselisihan dua kubu menjadi berlarut-larut penuh carut. Menjelang Pilkada serentak sebentar lagi, yang lebih diperlukan kebersamaan lebih dulu, sebelum bisa—bisa memenangkan pilkada, atau kemenangan yang lain. Bagaimana “bisa” mendapatkan sesuatu, kalau “bersama” saja belum mewujud.

Ini bukan hanya terjadi dalam diri Partai Golkar, atau juga Partai Persatuan Pembangunan yang berada dalam nasib “belum bersama”, melainkan juga berlaku pada organisasi dan atau komunitas yang lain, termasuk kabinet dalam kabinet pemerintah saat ini . Yang memerlukan kebersamaan lebih dulu, untuk menunjukkan eksistensinya, menunjukkan keberadaannya. Baik dalam kaitan partai politik, lembaga dan atau usaha bisnis. Bahkan kebersamaan harusnya juga sama berharganya dengan keberhasilan. Bahwa kebersamaan menjadikan kuat, bukan hanya karena hasil – yang kemudian dibagi bersama.

Mungkin agak berlebihan, namun contoh di provinsi Sumatera Utara yang melibatkan pihak eksekutif dan legislatif dan juga yudikatif yang terseret badai korupsi adalah bentuk lain dari “bersama kita bisa”—bisa menyelesaikan dan menutupi masalah korupsi. Dan nyaris demikian adanya, kalau kemudian Komisi Pemberantasan Korupsi melakukan tangkap tangan. Dari sini, kotak “Pandora” terbuka dan menganga memperlihatkan apa yang selama ini tersembunyi. Dan masyarakat geram, marah, karena peri laku dan martabat para penguasa – juga pengacara, yang rendah. Dan masih merasa tidak bersalah,merasa perlu lebih gerah pada lawannya.

“Kita Bisa Bersama”, menempatkan diri dari sudut pandang yang berbeda, dan dengan demikian menghasilkan gambar yang berbeda pula. Demikian dulu sebagaian masyarakat kita di Jawa dibesarkan dengan slogan jer basuki mawa bea. Yang artinya segala sesuatu memerlukan beaya. Yang arti lain, dalam bahasa lain “tak ada makan siang gratis” . Yang sebenarnya bisa ditekankan pada titik perlunya usaha keras, perlunya penyediaan beaya, perlu perencanaan untuk dianggarkan hal-hal yang kelihatannya bisa berlangsung dengan sendirinya. Dalam bentuk lain kata yang sama bisa juga diartikan negatif.

Misalnya kata indah itu diterjemahkan sebagai “uang rokok”, sebagai pembenaran adanya “upeti”, atau istilah lain dengan nama gratifikasi, atau suap, yang dalam tatanan hukum meletakkan dalam kaitan dan bukti korupsi.

“Kita Bisa Bersama”, lebih mementingkan kebersamaan, lebih menuntut lapang dada, berpikir lebih panjang dari batang hidung, sehingga “kebersamaan” menjadi kekuatan yang menyatukan. Dan bukan mengejar “bisa” atau sukses, dan karenanya malah membuat perpecahan, pertikaian, yang pada gilirannya tak menghasilkan apa-apa. Kita hidup dengan slogan, termasuk menciptakan yang baru. ●

Selasa, 10 November 2015

Sang Model

Sang Model

Arswendo Atmowiloto  ;   Budayawan
                                               KORAN JAKARTA, 31 Oktober 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Ketika Adam, manusia pertama di bumi, memetik daun untuk menutupi bagian tubuhnya yang telanjang, juga tubuh Hawa, ketika itu tercipta mode pertama kalinya. Peristiwa yang terus berkembang dengan penemuan pakaian, sampai kemudian menjadi industri busana. Salah satu profesi yang terangkat ke permukaan adalah desainer, sang perancang. Dan yang sering lebih menarik perhatian adalah sang model. Atau memperagakan pakaian, juga dikenal sebagai peragawati. Namun istilah model lebih popular. Barang kali lebih pendek pengucapannya, barang kali punya banyak makna. Karena model bisa dikaitkan dengan lukisan—misalnya menjadi model lukisan. Biasanya untuk pelajaran anatomi.

Model juga berarti barang tiruan dengan ukuran yang lebih kecil dari aslinya. Misalnya model rumah atau model pesawat terbang. Model dalam artian orang yang pekerjaannya memperagakan contoh pakaian termasuk dalam sorotan besar. Banyak yang terkait dengan nama besar—yang berarti juga bayaran besar melebihi gaji menteri, banyak yang merangkap kerja sebagai artis, atau seleb yang sekaligus model iklan. Lobi dan hasil gaulnya juga kelas tinggi—kalau tidak tinggi sekali.

Penampilannya selalu elok, di bawah lampu terang, bau harum, dari jenis pakaian yang sangat anggun, atau sensual. Dan menarik perhatian, kadang melebihi pakaian yang diperagakan. Sangat mungkin sekali karena para model ini memiliki tinggi badan tertentu. Dengan kaki menjulang, dengan gaya melenggang yang menawan, dengan nyaris tanpa senyum, menciptakan aura tersendiri.

Dengan demikian para model ini memang tidak seperti kebanyakan dari kita yang bukan model. Wajar juga kalau dinamika mereka berbeda, termasuk sikap dan pendekatan dalam kehidupan atau bermasyarakat. Juga tak terlalu aneh kalau kemudian para model ini dikaitkan dengan gosip, dengan berita miring, dengan isu berkaitan dengan kisah cinta atau kisah nafsu, atau dua-duanya.

Yang menurut saya juga sangat mungkin terjadi sebagaimana profesi lain di dunia yang serbe gemerlap, serba bling, serba jadi sorotan. Profesi mana pun kalau dikuliti pasti juga terlihat lubang pori-porinya. Belum lama ini saya “menjebakkan diri” dalam kegiatan peragaan busana. Berada di belakang panggung bersama sekitar 50 model ternama, juga beberapa dari luar negeri. Di sinilah terlihat nyata bahwa untuk persiapan diperlukan jam-jam yang kelewat panjang. Dengan latihan seperti pemain teater, dengan berhias jam-jam sebelumnya, dengan asisten dan kesibukkan yang sangat tinggi.

Bahkan kalau pun hanya untuk tampil satu atau dua menit— dengan memperagakan pakain dari ujung ke ujung dan balik lagi, tidak mengurangi jam-jam yang dihabiskan untuk persiapan. Itu semua berlangsung dalam udara yang diatur dingin, ketika jenis pakaian yang diperagakan tidak disiapkan untuk itu. Atau malah jenis pakaian yang sangat berbeda. Dengan kata lain untuk perhelatan yang hanya satu jam, diperlukan belasan jam untuk latihan, dan terutama koordinasi dari sekian banyak orang yang mendampingi, merias, menyisir. Ini belum termasuk yang menyiapkan panggung dengan tata cahaya atau tata musik atau tata slide, atau apa saja yang diperlukan.

Sungguh kegiatan kreatif yang tidak sederhana. Kegiatan kreatif yang sama dengan proses membuat film, memroduksi pementasan, termasuk pertunjukkan musik. Tuntutan industri, dengan perhitungan menit demi menit, koordinasi sekian ratus orang, peranan masing-masing penanggung jawab yang saling tergantung satu sama lain. Untuk kesuksesan—atau kegagalan. Pendekatan inilah yang kini diaktualkan dengan istilah ekonomi kreatif yang menjadi sumber pendapatan Negara.

Di tengah kesibukan dinamis yang demikian tinggi, tuntutan untuk kesempurnaan dan daya saing yang keras, tiba-tiba hal yang menyangkut kisah kurang sedap para model, adalah hal yang tak penting-penting amat. Dalam artian industri kreatif akan terus berjalan , mesin telah menyala, argo terus menghitung angka-angka, dan dunia usaha busana, tak menjadi reda karena kasus satu atau seratus modelnya. Karena selain Adam, kita semua membutuhkan daun yang anggun untuk menutupi ketelanjangan kita dan menampilkan daya tarik melalui itu. ●

Rabu, 14 Oktober 2015

Asap

Asap

Arswendo Atmowiloto  ;   Budayawan
                                               KORAN JAKARTA, 10 Oktober 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Kalau tak ada api, tak mungkin ada asap. Peribahasa itu kini bahkan menemukan bentuknya yang paling wadag, paling realitis. Terutama di Sumatera dan Kalimantan. Berlangsung lama, mendatangkan bencana, juga rasa marah. Ada korban meninggal dunia karena asap, ratusan ribu menderita pernapasan dan dirawat, dan kerugian materi lebih banyak. Mulai dari perjalanan pesawat terbang tertunda atau batal, sampai yang nonmateri. Seperti halnya anak-anak sekolah yang terpaksa diliburkan.Juga keputus-asaan.

Dengan dampak mengerikan dan masih berlanjut, wajar kalau masyarakat menuntut jawaban. Apa dan siapa yang bertanggung jawab. Dan ternyata jawabannya tidak sederhana. Misalnya ketika pembakaran ini dilakukan oleh pengusaha yang memilih jalan pintas. Dari pada mengeluarkan beaya mahal membuldoser lahan yang ribuan atau jutaan hektar, lebih murah membakar—hanya dengan modal korek api. Itu tak sepenuhnya tuduhan salah.

Namun dalam hal ini para pengusaha, yang berkaitan dengan korporasi yang memiliki lahan luas di banyak provinsi, juga bisa berdalih : bukan mereka. Atau membela dengan mengatakan bahwa masyarakatlah yang membakar lahan gambut—dan itu dimungkinkan karena begitulah tata kramanya, aturan yang berlaku. Masyarakat boleh membakar lahan gambut dengan luas satu hektar misalnya. Dan cukup izin dari kepala rukun tetangga atau kepala desa. Api itu yang menjalar ke tempat lain yang luas. Lahan luas yang biasanya dimiliki korporasi— yang luasnya bisa ribuah atau puluhan ribu kilometer persegi. Mungkin ini ada benarnya.

Namun serentak dengan itu masalahnya jadi berliku dan tumpang tindih. Bagaimana sesungguhnya prosedur menyewa atau menggunakan lahan itu? Kenapa bahkan jutaan kilometer persegi dinyatakan sebagai lahan illegal? Bisakah kemudian ditelusuri bagaimana proses perizinan itu turun dan diberlakukan dan bagaimana pengawasannya? Kalau ribuan titik api bisa diawasi dengan mudah bisa dideteksi dan dipetakan, tidak demikian dengan prosedur pengelolaan lahan.

Dalam pikiran yang awam ini, pastilah orang tertentu yang memiliki akses bisa memperoleh lahan ratusan ribu kilometer. Dan begitulah kenyataannnya. Para pejabat terlibat atau mantan pejabat, dan tokoh yang memiliki akses. Akses pada pemegang kuasa, atau pemegang modal. Tidak berarti ini salah, kalau sudah sesuai dengan prosedur. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa masalah mendasar lebih mudah terdeteksi. Jumlah mereka ini tak terlalu banyak, dan bisa menjadi contoh cara mengelola kebun sawit atau penambangan tanpa tragedi yang dihujat. Jangan bermain api kalau tak mau terbakar. Ini juga peribahasa yang bagus direnungkan.

Api memang panas dan membakar. Seharusnya dijaga agar tidak menyebar. Kalau tidak awas, kurang waspada, bisa berbahaya. Saya memakai perumpamaan, kalau gelas di pinggir meja, harus diangkat dan kembali diletakkan ke tengah. Karena kelengahan itu akan dibayar mahal ketika gelas jatuh dan pecah. Nah termasuk di dalam “mengembalikan gelas ke tengah meja” ini adalah pengawasan kembali sejak izin usaha, pengelolaan, sampai dengan hasil setelah panen. (Ini juga kenyataan : saat sawit akan panen, atau selama panen, tak ada kebakaran lahan). Dalam kesempatan ini saya ingin mengingatkan optimism yang terjadi di saat kehancuran mengerikan ini.

Banyak sekali bantuan, banyak sekali solidaritas terbentuk secara spontan. Baik perorangan maupun kelompok yang terbentuk. Mereka ini adalah saudara-saudari kita juga yang peduli, yang memengerti perasaan dan keadaan mereka yang menderita. Sikap peduli yang tak dibatasi oleh unsur lain, selain kemanusiaan itu sendiri. Ini sungguh sikap yang membanggakan di tengah kepedihan yang panjang. Sikap ini menjadi sempurna, jika saja saat-saat ini hujan lebat turun. Alam menyatu dengan niat baik. ●

Kamis, 08 Oktober 2015

Batik itu Baik

Batik itu Baik

Arswendo Atmowiloto ;   Budayawan
                                               KORAN JAKARTA, 03 Oktober 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Batik kini tidak hanya identik dengan kondangan. Batik kini bisa dipakai ketika berolah raga. Baik sebagai celana, kaos ataupun asesori. Ini perjalanan panjang sejak abad 17 ketika Keraton Solo dan Yogya yang terbelah, menjadikan batik sebagai pakaian resmi. Dalam gambar resmi para raja tampil mengenakan kain batik, walau mulai mengenakan celana panjang yang diperlihatkan sedikit, di balik kain.

Waktu awal warna batik biru putih yang disebut kelengan. Kemudian sekali, masuk warna coklat, dari warna kulit pohon soga. Bahkan kemudian soga menjadi identik warna coklat. Proses ini rumit, panjang, karena dalam mewarnai bisa beberapa kali, belasan kali. Padahal ini baru soal mewarnai dan kemudian dicuci justru melunturkan warna.

Dari segi proses kreatif dan produksi, batik menuntut alur yang tidak biasa. Juga dari segi permodalan. Pasar Klewer di Solo yang dulu dikenal sebagai pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara, dikenal karena produk batiknya. Juga para juragan yang dikenal dengan sebutan Mbokmase, sebutan untuk kaum perempuan yang bertindak selaku produser, distributor, perangcang, dan sekaligus “model iklan.” Pada posisi ini kehadiran menunjukkan kekhasan dan sekaligus keistimewaan yang tak sama dengan industri lain.

Bahkan letak dan gaya bangunan pabrik batik—dengan pintu sempit bagian belakang tempat transaksi dan tak mengunakan pintu depan— menyimpan riwayat cara pandang berdagang. Boleh dikatakan industri batik ini membuat tatatan sosial yang ideal antara majikan dengan buruh.

Para buruh umumnya berdiam di pabrik, mendiami secara mager sari, tanpa sewa. Hubungan saling percaya ini yang sekarang susah ditemukan bentuknya ketika buruh memilih jalan demontrasi misalnya. Saya pernah menuliskan riwayat batik dan buruh dan Mbokmase dalam novel berjudul Canting pernah menjadi sinetron seri. Terakhir tahun lalu Canting dipentaskan secara musikal oleh mahasiswa- I Indonesia yang kuliah di Singapura. Dan memang dalam proses membatik, proses produksi banyak intrik, banyak kisah asmara, baik yang terbuka atau tertutup.

Banyak misteri, seperti juga ketika menatap kain batik. Banyak tafsiran ini corak apa, kenapa begitu banyak cerek, titik, dalam lukisan, dan kenapa motif tertentu cocok untuk keluarga pengantin, dan motif lain cocok untuk melayat. Dalam selembar kain batik ada yang harganya mencapai puluhan, atau bahkan ratusan juta rupiah, dan sebaliknya ada baju yang bagus harga di bawah seratus ribu rupiah.

Maka adanya Hari Batik Nasional yang dirayakan setiap 2 Oktober itu baik adanya. Karena dalam selembar kain batik terdapat proses budya yang luas. Dulu pun saya termasuk yang memrotes kenapa mata uang kertas terkecil bergambar perempuan pembatik. Apakah para buruh batik harus identik dengan kemiskinan? Mungkin saja masih selalu problem di negeri ini. Ada kontradiksi dalam kenyataan.

Kalau sekarang kita mengelukan, membuat hari batik, apakah ini menyejahterakan para buruh pabrik? Ataukah justru memberi jalan batik buatan Tiongkok yang diproduksi secara massal? Novel saja mempermasalahkan masuknya batik printing, batik yang dicetak, bukan yang dengan canting atau dicap. Karena ketika proses produksi dengan mesin, seniman batik tulis tak diperlukan. Dan mata rantai yang menyertai, seperti kehidupan keluarga.

Sekarang ini pun pabrik batik yang dulunya jaya, bangunan megah, halaman luas, sudah banyak berubah fungsi. Kadang saya berharap banget, batik yang diwariskan nenek moyang ini bukan sekadar warisan adi luhung, haute cuture, belaka. Melainkan juga mempunyai, atau terkait dengan nilai-nilai ekonomis. Dan karena itu semua, batik itu baik. ●