Tampilkan postingan dengan label M Abrar Parinduri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label M Abrar Parinduri. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 September 2013

Sulitnya Mencari Tuhan di Tengah Keramaian

Sulitnya Mencari Tuhan di Tengah Keramaian
M Abrar Parinduri ;  Dosen Universitas Ibnu Chaldun Jakarta,
Wakil Sekretaris Majelis Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Indonesia
OKEZONENEWS, 17 September 2013
  


Sepertinya rasa ke-Tuhanan dalam diri manusia hari ini berupa kelembutan, kasih sayang, keikhlasan dan kejujuran telah hilang dalam diri kita. Benarkah ini pertanda bahwa Tuhan telah sulit dicari dalam keramaian.

Hari ini hampir seluruh umat manusia mengalami "perang kosmik" (cosmic war) pada diri manusia-di mana kerinduan spiritual pada yang bersih dan suci sering kali dikuasai dan diperbudak dengan nafsu amarah yang membawa kepada kualitas hidup yang rendah. Sejalan dengan itu, menjelang akhir millennium kedua dan memasuki millennium ketiga kita melihat dengan jelas bahwa dunia yang kita kenal sedang sekarat (meminjam istilah Karen Amstrong). Selama beberapa dekade kita hidup dengan pengetahuan bahwa kita telah menciptakan senjata-senjata yang setiap saat bisa menyapu kehidupan manusia di bumi.

Perang dingin mungkin telah berakhir, namun tatanan dunia baru tampak tak kalah  mengerikan dibanding yang lama. Kita sedang menghadapi kemungkinan terjadinya bencana ekologis. Narkoba dan Virus AIDS mengancam menyebarkan wabah penyakit dengan proporsi yang tidak dapat dikendalikan. Dalam dua atau tiga generasi mendatang , jumlah penduduk akan menjadi terlalu besar bagi planet bumi. Ribuan orang berada di ambang ajal karena kelaparan dan kekeringan. Generasi-generasi sebelum kita telah merasakan bahwa akhir dunia sudah dekat, tetapi kita tampaknya sedang menghadapi masa depan yang tak terbayangkan. Lalu bagaimana kiranya pandangan kita tentang Tuhan akan bertahan dalam tahun-tahun mendatang.

Tuhan yang dimaksud penulis dalam hal ini adalah lebih kepada sifat-sifat ke-Tuhanan yakni pemurah, penyayang dan Tuhan yang kita kenal tidak pernah melakukan kesalahan dan pelanggaran. Sedangkan keramaian yang penulis maksud adalah manusia itu sendiri, baik ketika dia berada dirumah, ditempat kerja, di tempat umum ataupun di tengah-tengah masyarakat. Tuhan berbeda dengan manusia, karena manusia tidak pernah luput dari kesalahan dan dosa. Lantas yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, apakah manusia yang telah terlanjur melakukan kesalahan dan dosa tersebut dibiarkan begitu saja tanpa harus ada upaya untuk menyadarkannya sehingga lama-kelamaan ia akan kehilangan sifat ke-Tuhanan dalam dirinya? Dan bayangkan jika semua manusia mengalami hal yang sama (hilangnya sifat ke-Tuhanan dalam dirinya), maka bisa dipastikan kehidupan ini akan berjalan dengan liar dan buas karena tidak ada lagi norma-norma yang mengatur tatanan kehidupan sosial manusia.

Penyebab Sulitnya Mencari Tuhan di Keramaian

Selama 4.000 tahun gagasan tentang Tuhan telah mampu menjawab tuntunan zaman, tetapi rasanya pada abad kita ini, semakin banyak orang yang merasakannya tak lagi bermanfaat bagi mereka, dan ketika sebuah gagasan keagamaan kehilangan fungsi, ia pun akan terlupakan. Mungkin Tuhan memang merupakan gagasan masa silam. Ilmuwan Amerika, Peter Berger mencatat bahwa kita acap menggunakan standar ganda tatkala membandingkan masa lalu dengan masa kita sekarang ini. Jika masa lalu dianalisis dan direlatifkan, masa sekarang dipandang kebal terhadap proses itu dan kedudukan kita saat ini dimutlakkan.

Setidaknya ada 4 (empat) hal yang menyebabkan sulitnya mencari Tuhan di keramaian. Pertama, Manusia lebih suka terhadap hal yang instan. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa kecenderungan gaya hidup manusia hari ini memang lebih menyukai sesuatu yang instan dan cepat. Sebagai contoh sederhana, hampir semua makanan dan minuman yang merupakan kebutuhan pokok manusia kini sudah dikemas dalam kemasan instan dan bisa dinikmati  kapanpun kita mau. Kecenderungan ini pun mengarah kepada pemikiran kita bahkan ironisnya sudah mulai memasuki ranah keimanan kita kepada Tuhan seperti apa yang dicontohkan oleh beberapa saudara-saudara kita yang mengelola sebuah masjid di Jakarta dan memasang tarif Rp 100.000 jika ingin di doakan untuk keselamatan dunia dan akhirat, dan lagi-lagi pihak masjid menggunakan dalih pembangunan untuk melegalkan hal tersebut. Ini baru satu contoh, dan mungkin banyak hal lain yang belum terungkap di tengah-tengah masyarakat. Ini semua tentu berangkat dari lemahnya keimanan seseorang dan kecendrungan pola kehidupan instan yang dia jalani selama ini sehingga mereka pun berasumsi bahwa mungkin dengan cara tersebut ia dapat dengan mudah menyelesaikan persoalan kehidupannya.

Kedua, Manusia berpikir bahwa bicara agama tempatnya hanya dirumah ibadah. Alasan kedua ini juga terkadang menjadi pemicu sulitnya menemukan Tuhan di tengah keramaian. Ada sekelompok manusia yang menyatakan bahwa bicara Agama itu hanya dirumah ibadah saja dan tidak pantas untuk membawa-bawa agama dalam urusan dunia.  Argumen semacam ini sangat menyesatkan sekali, bukankah sumbangsih agama terhadap kemerdekaan sebuah Negara atau bangsa sangat tidak bisa di nafikkan begitu saja. Ada begitu banyak Negara yang mengalami kemerdekaan karena peran penting sebuah agama. Agama tidak bisa dipisahkan dengan urusan dunia karena keduanya sangat berkaitan erat. Seluruh aktifitas kehidupan manusia semuanya harus berlandaskan agama, jika tidak manusia itu akan beringas dan kita hidup layaknya seperti di hutan rimba, siapa yang kuat dia yang akan menang. Agama mengatur kehidupan manusia sangatlah arif dan bijaksana, tidak hanya untuk kehidupan yang sesaat tetapi untuk kehidupan yang lebih laama dan yang lebih kekal. Tidak ada aturan yang hebat, elegan dan manusiawi, selain aturan yang dibuat oleh agama. Sekalipun dalam ajaran Islam ada aturan yang keras seperti potong tangan bagi seorang pencuri, tapi pernakah kita temukan sebuah literatur Islam bahwa Rasulullah pernah melakukan hukum potong tangan tersebut? Boleh jadi peraturan tersebut memang ada, namun ada hukuman pengganti yang diberikan Rasulullah yang tetap menimbulkan efek jera bagi pelaku pencurian pada waktu itu. 

Ketiga, Manusia berpikir bahwa kesalehan itu bersifat individual. Alasan ketiga ini juga menjadi pemicu sulitnya mencari Tuhan di tengah keramaian. Ketika ditanya, siapa yang ingin menjadi orang baik, tentu semua akan menjawab sama yakni berkeinginan untuk menjadi orang baik. Namun pada kenyataan dikehidupan, kita sering menemukan fakta bahwa sulitnya menemukan orang baik yang mau menularkan kebaikannya kepada orang lain dan yang ada malah kebaikan yang bersifat individu. Saya sering menyampaikan kepada mahasiswa di kampus, bahwa kalau semua orang baik berpikir sama yakni cuek dan tidak peduli terhadap orang yang berbuat jahat/kemungkaran, apalagi hal itu jelas nyata berada ditengah-tengah kehidupan kita maka bisa dipastikan lama-kelamaan orang baik itu akan menjadi tidak baik karena kejahatan yang terorganisir itu akan dengan mudah mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir. Kita tidak bisa saleh secara individual, melainkan harus juga saleh secara sosial karena memang manusia diciptakan untuk hidup berdampingan dan saling tolong menolong. Sejarah perjalanan kemerdekaan bangsa Indonesia ini sesungguhnya juga dibangun atas dasar kesalehan sosial yakni sama-sama memikirkan nasib bangsa kedepan. Maka sudah sepantasnyalah manusia itu tidak hanya saleh secara individu namun juga saleh secara sosial dan tetap menghargai perbedaan keyakinan yang berlaku dalam suatu Negara tersebut.

Ke-Empat, Manusia beranggapan bahwa Tuhan hanyalah sebuah perasaan imajinatif yang terbentuk di dalam dirinya. Alasan terakhir ini cukup mengkhawatirkan kita yang mungkin sudah memiliki keyakinan agama yang kuat dan mendalam dan didapat dari perenungan yang cukup lama. Naluri ke-Tuhanan yang ada dalam diri manusia sesungguhnya ia bukan perasaan imajinatif yang berdiri sendiri dan didapat begitu saja, namun sesungguhnya ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Jika ada manusia yang bersikukuh menyatakan hal ini bahwa Tuhan hanyalah sebuah perasaan imajinatif yang terbentuk dalam diri manusia itu sendiri, kalau begitu coba tanyakan saja kepada dirinya kira-kira siapa yang melahirkan dia ke permukaan bumi ini, yang memberikan  nyawa, rezeki, anugrah panca indera dan yang menghamparkan alam semesta nan indah ini? Jangan sampai untuk satu urusan kita mengakui akan keberadaan dan peran Tuhan dalam kehidupan kita, namun pada urusan lain kita mengenyampingkan keberadaan Tuhan dalam kehidupan kita. Ketenangan, kasih sayang dan cinta, itu semua adalah sebagian kecil dari sifat ke-Tuhanan yang diturunkan kedalam diri manusia. Semua itu diturunkan oleh Tuhan adalah untuk memelihara kehidupan manusia di permukaan bumi ini agar menjadi lebih indah dan tenteram sekaligus sebagai batu uji kepada manusia, apakah dia mampu menggunakan sifat itu dalam dirinya. Jika dia berhasil tentu ada ganjaran kebaikan yang di dapat,dan jika tidak berhasil tentu ada ganjaran keburukan yang didapat. Semua ganjaran itu didapat manusia bukan hanya di alam akhirat kelak, tetapi di duniapun akan sudah dapat kita rasakan.

Lewat tulisan ini mari kita merenung kembali tentang naluri ke-Tuhanan yang ada dalam diri kita agar kita mampu menjaga keseimbangan alam di permukaan bumi ini. Sulitnya mencari Tuhan di tengah keramaian seharusnya tidak lagi kita temukan jika semua manusia menyadari bahwa kehadiran dirinya di permukaan bumi ini adalah dalam rangka pengabdian kepada Tuhan dengan tidak meninggalkan kebaikan kita terhadap sesama manusia. ●

Jumat, 30 Agustus 2013

Menjadi Pendidik yang Ikhlas

Menjadi Pendidik yang Ikhlas
M Abrar Parinduri ;   Dosen Universitas Ibnu Chaldun Jakarta,
Wakil Sekretaris Majelis Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Indonesia
OKEZONENEWS, 29 Agustus 2013



Secara formal mendidik memang tanggung jawab seorang guru/dosen akan tetapi secara moral mendidik adalah tanggung jawab kita semua umat manusia.

Abu Abdurrahman Abdullah Ibn Umar Ibn Al Khattab mendengar Rasulullah berkisah tentang tiga orang dari umat terdahulu yang tengah menempuh perjalanan dan terjebak  dalam sebuah gua. Ketiganya tidak bisa keluar karena mulut gua tertututp batu besar. Lalu, ketiganya berdoa sambil mengingat dan mempersaksikan dalam doanya kepada Allah tentang perbuatan baiknya yang pernah dilakukan sepanjang ia hidup.

Lalu seorang di antara ketiganya berdoa sambil mengisahkan amalannya. Orang yang pertama berdoa, Ya Allah dahulu saya memiliki orang tua yang harus diurus dengan baik. Saya tidak melakukan aktivitas apapun sebelum memberi minum, makan dan melayani kedua orang tua saya. Suatu kali aku pergi mencari kayu bakar hingga kemalaman dan sewaktu pulang ke rumah, saya mendapatkan kedua orang tua sudah tertidur padahal saya belum menyiapkan minuman air susu untuk mereka. Dengan cepat saya menyiapkan susu untuk kedua orang tua saya dan sepanjang malam berada di dekat mereka dan berharap tengah malam mereka terjaga dari tidurnya agar saya bisa menyerahkan air susu ini kepada mereka. Sepanjang malam saya memegang wadah itu, hingga terbit fajar barulah kedua orang tua saya bangun dan meminumnya. Ya Allah, jika aku melakukan itu semua dengan mengharapkan keridhoan-Mu dan tercatat dalam amalan soleh disisi-Mu maka bebaskanlah kami dari himpitan batu besar ini. Maka batu itu pun bergeser sedikit, tetapi mereka bertiga belum dapat keluar dari gua tersebut.

Orang yang kedua pun berdoa, Ya Allah dahulu aku punya seorang paman dan ia memiliki anak perempuan yang sangat cantik. Suatu hari pamanku tidak sanggup membayar utang yang aku pinjamkan kepadanya lalu aku meminta anak perempuannya yang cantik itu sebagai penebus utang tersebut. Dan ketika aku bersama anak pamanku didalam sebuah kamar dan ia pun pasrah atas apa yang akan aku lakukan kepadanya, namun aku tidak jadi melakukan perbuatan maksiat itu dan segera bergegas bangkit karena teringat kepada-Mu dan aku bebaskan utang pamanku tanpa bayaran apapun,  maka jika itu tercatat dalam amalan soleh disisi-Mu keluarkanlah kami dari gua ini. Dan batu besar itu pun bergeser kembali, namun mereka bertiga masih belum dapat keluar dari gua tersebut.
 
Sekarang giliran orang yang ketiga berdoa, Ya Allah dahulu saya memiliki pekerja dan sebagai majikan saya selalu membayar upahnya dengan baik dan tepat waktu. Suatu hari pekerja saya pergi dengan waktu yang bagitu lama dan tidak sempat mengambil upahnya kepada saya. Dari upahnya itu aku kembangkan usahaku dan mendapat keuntungan yang banyak. Hingga suatu hari pekerja itu datang dan ingin meminta upahnya. Lalu aku serahkan semua hasil usaha yang berkembang dari upah tersebut. Ya Allah, jika perbuatan yang aku lakukan itu tercatat dalam amalan soleh disisi-Mu, maka keluarkanlah kami dari gua ini. Dan batu besar itu bergeser hingga akhirnya ketiga orang tersebut berhasil keluar dari gua.

Kisah ketiga orang dari umat terdahulu yang dikisahkan Nabi kepada para sahabat itu, merupakan contoh tentang amal kebaikan yang dilandasi ikhlas, ternyata berbuah pahala kebaikan dari Allah sehingga terbebas dari musibah. Allah memang memiliki kehendak dan kekuasaan-Nya untuk memberi kemudahan bagi orang yang ikhlas dalam berbuat dan beramal. Kisah ini muktabar dinukilkan dalam kitab Riyahdus Shalihin, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Banyak kisah lainnya, yang menunjukkan kemuliaan perbuatan ikhlas.

Ikhlas adalah kondisi ruhani yang melahirkan niat tulus dalam berbuat semata-mata karena Allah, tidak karena motif dan kepentingan lainnya. Dengan niat dan tujuan hanya karena Allah, maka baik ringan maupun berat setiap orang yang melakukannya akan dengan senang hati. Bukan hanya dalam berbuat kebaikan, bahkan dalam menjauhi keburukan dan menghadapi musibah atau masalah yang berat sekalipun, akan dihadapi dengan lapang hati. Orang ikhlas telah menyerahkan sepenuh jiwa raga dan nasibnya kepada Allah, setelah berikhtiar dan berdoa. Orang yang ikhlas akan terpancar dalam dirinya keteduhan, ketenangan, kedamaian, dan cahaya lahir maupun batin. Hidup dan perjuangan apapun dijalaninya dengan suka hati tanpa mengeluh, menghujat, dan sumpah serapah.

Indikator Pendidik Yang Ikhlas

Setelah kita memahami dengan seksama pengertian dari ikhlas maka selanjutnya kita perlu mengetahui apa defenisi dari pendidik. Berdasarkan UU No. 20 tahun 2003, pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Selain hal tersebut di atas, menurut hemat penulis pendidik juga harus memiliki persyaratan sebagai berikut  yakni bertaqwa kepada Allah SWT, berilmu, sehat jasmani dan berkelakuan baik.

Menurut hemat penulis, setidaknya ada tiga indikator yang harus dimiliki oleh seorang pendidik agar memiliki jiwa ke-ikhlasan yakni pertama, niatkan semata-mata karena Allah. Menjadi pendidik dalam hal ini guru/dosen tidak menutup kemungkinan bahwa akan terjadi orientasi yang berbeda-beda. Sebagai seorang dosen, saya juga tidak menafikkan diri bahwa selain ingin mencari keridhoan Allah kita bekerja juga ingin mendapatkan hasil/upah yang layak untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Rasanya sulit untuk menemukan seseorang yang jika ia bekerja hanya ingin mencari keridhoan Allah, dan tentu ini tidak sesuai dengan tuntunan syariat islam bahwa kita diwajibakan untuk membayar upah pekerja sebelum keringatnya kering. Artinya, bahwa ada tanggung jawab pemenuhan hak kemanusiaan yang harus kita penuhi. Akan tetapi sungguh keliru rasanya jika ada yang menjadi pendidik hanya dengan satu niat yakni mendapatkan imbalan atau upah yang besar mengingat guru/dosen sudah mengalami peningkatan dari sisi upah karena memiliki tunjangan sertifikasi, dan lain sebagainya. 

Saya ingin bertanya kepada kepada para pembaca, selain pengorbanan yang ikhlas antara orang tua dan anaknya coba sebutkan lagi pengorbanan siapa yang paling hebat di dunia ini untuk ukuran manusia? Jawabnya adalah pengorbanan Abu Thalib terhadap Rasulullah saw. Masih ingatkah kita ketika Abu Thalib menawarkan Rasulullah saw untuk dinikahkan dengan wanita paling cantik pada masa itu serta diberikan harta yang melimpah, tetapi dengan syarat ia (Rasulullah) harus memberhentikan dakwahnya? Tapi apa yang terjadi ketika Rasulullah menolak tawaran dari sahabat pamannya tersebut (golongan kafir quraisy). Abu thalib berkata, kalau memang engkau menolaknya wahai anakku maka silahkan lanjutkan dakwahmu dan aku (Abu Thalib) tidak akan membiarkan tubuhmu tersentuh pedang kafir quraisy sedikitpun. Subhanallah betapa ikhlasnya Abu Thalib melindungi dan mendukung dakwah Rasulullah saw, tetapi ada yang salah pada diri Abu Thalib yakni keikhlasannya bukan didasarkan karena Allah swt sehingga di akhir hayatnya dia tidak memeluk agama Islam. Dari contoh ini menjadi perhatian bagi kita perlunya menempatkan niat yang ikhlas semata-mata karena Allah dalam aktifitas pekerjaan yang kita lakukan, dan insya Allah dengan sendirinya kita akan mendapatkan buah dari keikhlasan itu seperti bertambahnya gaji, naik pangkat atau jabatan dan lain sebagainya.

Kedua, mengajarkan ilmu adalah hal yang mulia disisi Allah. Hal ini merupakan indikator kedua untuk menjadi pendidik yang ikhlas. Seorang pendidik haruslah menyadari bahwa ilmu yang dia ajarkan kepada anak didik adalah sebuah kemuliaan dihadapan Allah dan menjadi penolongnya kelak ketika di akhirat. Bisa kah kita membayangkan apa yang akan terjadi dengan kehidupan kita di dunia ini, jika tidak ada satupun manusia yang mau mengajarkan ilmu kepada manusia lainnya, tentu kita akan kembali menjalani kehidupan jahiliyah sebagaimana yang pernah terjadi sebelum Rasulullah diutus ke dunia ini. Tidaklah berlebihan jika Allah sangat memuji orang-orang yang berilmu dan akan mengangkat derajatnya dalam kehidupan dunia dan akhirat karena mereka laksana pelita yang menerangi kehidupan. Lihat saja orang-orang berilmu yang telah pergi mendahului kita, namanya tetap hidup di tengah-tengah kehidupan kita bahkan mereka menjadi inspirasi dalam keberlangsungan kehidupan kita hari ini.  

Ketiga, mendidik adalah tanggung jawab bersama sebagai manusia. Ini merupakan indikator terakhir untuk menjadi seorang pendidik yang ikhlas. Secara formal mendidik memang tanggung jawab seorang guru/dosen akan tetapi secara moral mendidik adalah tanggung jawab kita semua umat manusia. Kesadaran ini harus tertanam dalam diri kita masing-masing, andaipun ada orang yang belum tahu bahwa tugas mendidik adalah tanggung jawab semua manusia maka kita sebagai pendidik haruslah mampu memberikan pemahaman itu kepada mereka orang-orang yang belum tahu. Jika hal ini tidak kita perhatikan, maka kematian yang terjadi pada peristiwa tawuran pelajar di Jakarta beberapa bulan yang lalu tentu bisa terulang kembali. Selain karena faktor kurangnya perhatian dari keluarga, salah satu penyebab terjadinya tawuran tersebut adalah dikarenakan tidak adanya perhatian dari masyarakat sekitar terhadap para pelajar yang terlibat dalam peristiwa tawuran. 

Andaikata masyarakat yang meihat peristiwa tawuran tersebut sadar bahwa memberhentikan tawuran pelajar itu adalah tanggung jawab mereka sebagai manusia yang diberikan akal pikiran untuk berbuat kebaikan, maka tentu tidak akan ada nyawa yang melayang. Inilah kesadaran yang harus terus terbangun dalam diri kita manusia dan lebih-lebih kita sebagai pendidik harus mengetahui bahwa mendidik anak-anak menjadi manusia yang baik bukanlah hanya tugas guru agama saja akan tetapi tugas semua guru bidang studi dan tugas kita semuayang telah menakdirkan dirinya sebagai seorang pendidik.

Demikianlah indikator pendidik yang ikhlas yang akan mewarnai wajah pendidikan kita hari ini. Andai semua pendidik menyadari hal tersebut, tentu kita tidak menemukan lagi tawuran antar pelajar, kekerasan dalam dunia pendidikan dan kebangkrutan moral peserta didik dan pendidik. Maka mari sama-sama kita menjadi pendidik yang ikhlas, yang insya Allah akan mengantarkan bangsa dan Negara ini menjadi bangsa yang lebih baik, bermoral, berbudaya dan berkarakter. ●  

Minggu, 21 Juli 2013

Azas-Azas Pendidikan yang Terabaikan

Azas-Azas Pendidikan yang Terabaikan
M Abrar Parinduri ;  Dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ),
Wakil Sekretaris Majelis Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Indonesia
OKEZONNEWS, 16 Juli 2013



Permasalahan yang terjadi dalam dunia pendidikan kita adalah karena kita (pendidik dan orang tua) mengabaikan  azas-azas pendidikan yang dahulu pernah diungkapkan oleh  Ki Hajar Dewantara.

Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia yang berpikir bagaimana menjalani kehidupan dunia ini dalam rangka mempertahankan hidup dan penghidupan manusia yang mengemban tugas dari Sang Kholiq untuk beribadah.

Di negara-negara yang sudah berkembang ataupun yang sudah mengalami stabilitas politik dan agama, pendidikan menjadi perhatian penting bagi masyarakat. Bahkan pada sekitar waktu peluncuran pesawat ruang angkasa pertama kali, sebagian besar masyarakat dunia tidak lagi hanya memperhatikan, melainkan menjadi demam memikirkan pendidikan. Masyarakat mulai ramai memperdebatkan fungsi dan tujuan pendidikan.

Berdasarkan undang-undang Sisdiknas No.20 tahun 2003 Bab I, bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Para pakar yang giat memperdebatkan pendidikan, mereka lebih cenderung berprinsip bahwa tujuan pendidikan dasar adalah mempersiapkan generasi muda untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pendidikan tinggi akhirnya dimaksudkan untuk mempersiapkan para mahasiswa untuk dapat memperoleh sukses dalam karir dan kehidupan pribadi, serta mampu berpartisipasi di dalam pembangunan masyarakat. Hal ini dimaksudkan untuk menjadikan Negara lebih maju dari Negara-negara yang lain. Kosasih Djahiri mengatakan bahwa Pendidikan adalah merupakan upaya yang terorganisir, berencana dan berlangsung kontinyu (terus menerus sepanjang hayat) kearah membina manusia/anak didik menjadi insan paripurna, dewasa dan berbudaya (civilized).

Akhir-akhir ini pendidikan diarahkan untuk menaggulangi permasalahan putus sekolah, kenakalan anak-anak, pengangguran dan dunia kerja. Bagi Negara-negara yang sedang berkembang masih dihadapkan dengan beban yang lain yakni mengatasi kemiskinan dan kebodohan. Indonesia termasuk Negara yang sudah mulai menekankan fungsi pendidikan formal sebagai tempat latihan serta persiapan tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan lapangan akan  tenaga kerja. Langkah ini sangat berguna, dalam usaha mengatasi masalah kurangnya daya tampung pendidikan tinggi. 

Akan tetapi banyak pihak yakni masyarakat dan generasi muda yang menjadi bingung ketika mereka mengenyam bangku pendidikan. Bahkan sebagian diantara mereka ada yang meragukan tentang fungsi dan arti pendidikan kita. Mereka telah bersusah payah menempuh dan membiayai pendidikan, namun pada akhirnya tidak dapat bekerja menurut pengalaman  serta lapangan yang ada. Dengan pendidikan, pada akhirnya mereka tidak dapat menemukan kebahagiaan atau kesehjateraan hidup.

Permasalahan di atas semakin diperparah lagi dengan tingkah laku yang tidak baik yang dicontohkan oleh seorang pendidik kepada anak didiknya. Dari mulai kasus korupsi yang menyeret beberapa guru, kepala sekolah dan pimpinan perguruan tinggi serta kasus asusila yang dilakukan oleh seorang pendidik terhadap peserta didiknya, kondisi ini menambah sederet derita panjang suramnya dunia pendidikan Indonesia. Maka kondisi yang terjadi ini sesungguhnya menurut hemat penulis adalah karena ketidak pahaman kita (pendidik dan orang tua) terhadap azas-azas pendidikan yang dahulu pernah diungkapkan oleh Bapak Pendidikan yakni Kihajar Dewantara.

Azas-Azas Pendidikan yang Terabaikan

Pendidikan dengan pendekatan manusiawi/humanistik adalah upaya konkrit yang harus dilakukan oleh pendidik karena meliputi keseluruhan aspek/potensi anak didik serta utuh dan bulat (aspek fisik–non fisik : emosi–intelektual ; kognitif–afektif psikomotor). Pendekatan humanistik adalah pendekatan dimana anak didik dihargai sebagai insan manusia yang potensial, (mempunyai kemampuan kelebihan – kekurangannya dll), diperlukan dengan penuh kasih sayang – hangat – kekeluargaan – terbuka – objektif dan penuh kejujuran serta dalam suasana kebebasan tanpa ada tekanan/paksaan apapun juga.

Melalui pendekatan humanistik ini diharapkan proses pendidikan yang berlangsung dapat menyentuh lima azas pendidikan sebagaimana yang dicetuskan oleh Kihajar Dewantara yang saat ini mulai terabaikan yakni: 

Pertama, pendidikan hendaknya mampu memenuhi azas kemerdekaan. Yang dimaksud kemerdekaan disini adalah memberikan kemerdekaan kepada anak didik, tetapi bukan kebebasan yang leluasa, terbuka (semau gue), melainkan kebebasan yang dituntun oleh kodrat alam, baik dalam kehidupan individu maupun sebagai anggota masyarakat. Orang Tua dan pendidik hendaknya memahami bahwa anak adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa kepada kita dan masing-masing anak terlahir dengan kemampuan yang unik. Orang Tua boleh berkeinginan untuk membentuk anaknya menjadi ilmuwan, politikus, aparat pemerintah atau yang lainnya tetapi orang tua juga harus menyadari bahwa setiap anak memiliki bakat tersendiri dan hal itu harus diperhatikan agar jangan sampai kia merebut kemerdekaan individu yang ada dalam diri sang anak. Jika cita-cita orang tua ternyata tidak sesuai dengan cita-cita anak, maka perlu dilakukan dialog dalam keluarga tersebut. Orang tua tidak boleh memaksakan kehendaknya, karena tugas orang tua adalah mengembangkan dan memelihara potensi anak bukan sebaliknya yakni mematikan potensi anak tersebut. Sepanjang cita-cita itu masih baik dan tidak menyimpang dari aturan agama, sebaiknya orang tua terus mendukung serta mendoakan anaknya.

Kedua, pendidikan hendaknya mampu memenuhi azas kodrat Alam; Pada dasarnya manusia itu sebagai makhluk yang menjadi satu dengan kodrat alam, tidak dapat lepas dari aturan main (Sunatullah), tiap orang diberi keleluasaan, dibiarkan, dibimbing untuk berkembang secara wajar menurut kodratnya. Orang tua dan pendidik tidak boleh memaksakan seorang anak untuk tumbuh dan berkembang sebelum waktunya dalam artian mengajarkan sesuatu hal yang belum saatnya untuk ia dengar. Sebagai contoh sederhana, kita sangat prihatin dengan beberapa penyanyi cilik Indonesia yang diajarkan untuk menyanyikan lagu-lagu orang dewasa apalagi berhubungan dengan percintaan dan asmara. Media hiburan tanpa terasa sudah merampok kodrat alam yang dimiliki seorang anak dan anehnya hal ini mendapat persetujuan dari orang tua bahkan ia bangga ketika anaknya pandai menyanyikan lagu-lagu orang dewasa. Seharusnya media dan orang tua berperan lebih baik lagi, kalau dia masih anak-anak tentu harus diajarkan menyanyikan lagu anak-anak agar tidak bertentangan dengan kodrat alam yang ada dalam dirinya.

Ketiga, pendidikan hendaknya memperhatikan azas kebudayaan. Maksudnya adalah pendidikan yang diajarkan harus berakar dari kebudayaan bangsa, namun tidak gagap mengikuti kebudayaan luar yang telah maju sesuai dengan zaman. Kemajuan dunia terus diikuti, namun kebudayaan sendiri tetap menjadi acuan utama (jati diri). Kalau orang Korea berhasil menularkan budaya K-Pop nya kepada anak muda di dunia , seharusnya kita (bangsa Indonesia) harus mampu menularkan kebudayaan yang positif bagi negara lain sebagai contoh pendidikan karakter yang menjadi program pemerintah. Bagaimana Indonesia mampu menciptakan seorang ilmuwan yang cerdas namun memiliki moral dan wawasan keagamaan yang baik pula. Bukankah Indonesia telah banyak melahirkan ilmuwan-ilmuwan tersebut yang mampu menyeimbangkan antara kecerdasan intelektual, emosional dan spritual, dan jika ini kita pamerkan ke Negara lain, maka pendidikan Indonesia akan menjadi perhatian bagi seluruh dunia.

Keempat, pendidikan hendaknya memperhatikan azas kebangsaan. Maksudnya adalah membina kesatuan kebangsaan, perasaan satu dalam suka dan duka, perjuangan bangsa, dengan tetap menghargai bangsa lain, menciptakan keserasian dengan bangsa sendiri. Sebagai contoh para pendidik hendaknya mampu memberikan pemahaman yang baik kepada anak didiknya kenapa masyarakat Yogyakarta tidak mau Gubernur dan Wagub dipilih tersendiri oleh masyarakat dan bukan berasal dari Kraton Yogyakarta yakni Sultan Hamengkubuwono dan Paku Alam. Masyarakat Yogyakarta bukan tidak patuh terhadap pemerintah Indonesia, tetapi mereka khawatir kalau Gubernur dan Wagub dipilih tersendiri, mereka (Gubernur dan Wagub) tidak melindungi ekonomi masyarakat jogja yang rata-rata memiliki ekonomi lemah dan hidupnya bergantung dari ketrampilan yang dimiliki secara turun menurun. Sultan Hamengkubuwono dan Paku Alam selama ini sangat perhatian dan juga senantiasa melindungi ekonomi masyarakat jogja dari perusahaan dan industri yang bisa menghancurkan ekonomi masyarakatnya. Kondisi ini perlu disampaikan dengan baik oleh pendidik kepada peserta didik agar tidak muncul kesalah pahaman antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Kelima, pendidikan hendaknya memperhatikan azas kemanusiaan. Mendidik anak menjadi manusia yang manusiawi sesuai dengan kodratnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Sebagaimana yang pernah penulis ungkapkan dalam tulisan terdahulu, bahwa peserta didik bukanlah robot yang bisa kita perintah sesuka hatinya apalagi memanfaatkan ketidak tahuannya untuk kejahatan. Mereka (peserta didik) adalah manusia yang punya akal dan pikiran serta masa depan yang masih panjang, maka sudah selayaknya kita memperlakukan mereka dengan baik pula minimal dengan memberikan keteladanan yang baik bagi peserta didik tersebut. Jikalau peserta didik melakukan kesalahan, maka silahkan para pendidik untuk memberikan hukuman yang mampu mendidiknya dengan baik sekaligus mengajarkan kepada mereka (peserta didik) bahwa yang dituntut dalam pendidikan bukan hanya pengetahuan semata tetapi moral dan tingkah laku menjadi modal dasar bagi mereka untuk menjadi generasi muda Indonesia yang tangguh, pintar dan berakhlak mulia. Inilah cita-cita ideal pendidikan kita di Indonesia. ● 

Sabtu, 20 April 2013

Pendidikan Indonesia, Mengabaikan Kepribadian


Pendidikan Indonesia, Mengabaikan Kepribadian
M Abrar Parinduri  ;  Dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ),
Wakil Sekretaris Majelis Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Indonesia
OKEZONENEWS, 19 April 2013

  
Kita hidup di zaman edan. Setiap hari menyaksikan tingkah laku kebanyakan manusia Indonesia yang melanggar aturan, merusak disiplin dimana-mana. Naik mobil Mercy tapi membuang sampah ke jalan raya, punya HP bagus tapi tutur katanya kampungan. Inilah bangsa kita. Manusia dengan mental kepribadian yang sakit.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern dalam berbagai aspek kehidupan manusia semakin nyata, sebagai teknologi muncul, dan mulanya dirancang untuk kesenangan dan memenuhi kebutuhan manusia, namun kenyataan justru banyak menyengsarakan dan menghancurkan manusia itu sendiri, baik secara fisik maupun secara moral sehingga merasakan manusia. Diketahui, bahwa kemajuan tersebut juga telah mampu membawa perubahan tata nilai dan sikap serta gaya hidup manusia sangat dirasakan terhadap perubahan sikap mental manusia.

Apalagi dalam menghadapi sikap mental anak (peserta didik) saat ini menjadi dilema sosial tersendiri, karena anak yang paling mendapat perhatian masyarakat adalah golongan remaja yang sedang mengalami perubahan sikap mental dari masa anak-anak ketingkat dewasa. Dalam mengalami perubahan itu, di topang oleh pengaruh teknologi modern yang berorientasi ke barat, perubahan mental sikap anak mengalami kegoncangan yang luar biasa sehingga dapat merusak kehidupan sosial bangsa Indonesia.

Secara mikro menurut E. Mulyasa bahwa Pendidikan Nasional bertujuan membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beretika (beradab dan berwawasan budaya bangsa Indonesia ), memiliki nalar (maju, cakap, cerdas, kreatif, inovatif, dan bertanggung jawab), berkemampuan komunikasi sosial (tertib dan sadar hukum, kooperatif dan kompotitif, demokrasi), dan berbadan sehat sehingga menjadi manusia mandiri. 

Dalam menjalankan pendidikan di sekolah salah satu tujuan yang ingin dicapai oleh seseorang siswa adalah mendapatkan prestasi yang baik, baik atau tidaknya prestasi yang diperoleh siswa dapat diketahui setelah siswa tersebut mengikuti proses pembelajaran. Kita tidak dapat mengatakan bahwa bila anak menampilkan prestasi yang buruk di sekolah dikarenakan kurang mampu mengikuti pembelajaran atau ia adalah anak yang bodoh. Karena banyak sekali faktor – faktor yang mempengaruhi prestasi anak.

Dalam melaksanakan tujuan pendidikan, tidak sepenuhnya tergantung dari proses belajar-mengajar di sekolah. Akan tetapi tujuan pendidikan tersebut dapat ditentukan pula oleh peserta didik dalam mengikuti proses belajar-mengajar yang berlangsung. Dalam diri manusia terdapat berbagai macam kemampuan yang telah ada sejak manusia itu lahir. Kemampuan dasar itu perlu diasah secara maksimal agar bisa berkembang sesuai tingkat yang wajar. Sehingga seseorang dapat berbuat dan berfikir serta mampu mengingat sesuatu yang pernah dilihat, didengar dan dirasakan. Dan istilah yang sering kita dengar untuk mewakili itu semua adalah kepribadian.

Kepribadian adalah salah satu persoalan yang banyak menyita pemikiran para ahli. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menjelaskan bagaimana kepribadian seseorang, baik yang bersifat ilmiah maupun non ilmiah. Diantara usaha yang bersifat ilmiah itu adalah Psikologi Kepribadian. Secara bahasa kepribadian adalah terjemahan dari kata personality  dalam bahasa Inggris yang berasal dari kata persona dalam bahasa latin yang berarti kedok atau topeng. Dalam dunia sandiwara, topeng yang berupa tutup muka sering dipakai oleh pemain panggung dengan tujuan untuk menggambarkan pribadi orang yang sedang dimainkan perannya, bukan pribadinya sendiri.

Hal ini secara tidak langsung menegaskan bahwa sebenarnya manusia dalam kehidupannya sehari-hari sering menggunakan topeng. Dengan topeng itu, seseorang dapat menutupi kekurangan dan kelemahannya dan bersamaan dengan itu ia dapat menunjukkan kelebihannya. Perlu ditegaskan bahwa kepribadian itu selalu berhubungan dengan tingkah laku yang ditampilkan.

Indikator Pendidikan Indonesia yang Mengabaikan Kepribadian

Setelah kita mengerti apa itu kepribadian dan mencoba memahami bagaimana kepribadian itu ada dan berkembang dalam diri manusia, maka setidaknya ada 4 indikator yang menurut hemat penulis bahwa Pendidikan di Indonesia cenderung mengabaikan kepribadian peserta didik, antara lain : Pertama, Pendidikan masih mengandalkan nilai tertinggi. Hal ini merupakan faktor pertama yang dapat menjadi indikator dari alpanya pendidikan kita dalam memahami kepribadian manusia. Pendidikan Indonesia hari ini lebih berorientasi untuk mendapatkan nilai tertinggi. Guru dan orang tua sering kali marah ketika mendapatkan siswa/ anak didiknya memperoleh nilai rendah pada mata pelajaran tertentu, padahal boleh jadi kesalahan tersebut bukan pada diri anak melainkan cara guru menerangkan materi pembelajaran kepada siswa yang tidak dapat dimengerti dan tuntutan orang tua di rumah agar anaknya pulang dari sekolah harus memperoleh nilai tertinggi, dan parahnya lagi ketika nilai anak itu anjlok orang tua tidak ikut berperan atau mendampingi sang anak untuk bangkit (memberi motivasi) bahwa kamu pasti bisa berhasil. Dan sebenarnya ungkapan yang ingin didengar sang anak dari orang tuanya adalah “bagi ayah/ibu, nilai rendah tidak begitu penting karena hal itu bisa ditingkatkan lagi tapi yang terpenting adalah kamu jujur mengerjakan tugas sekolahnya dan tidak mencontek, karena kejujuran awal dari keberhasilan selanjutnya”.

Kedua, Pendidikan Indonesia mengabaikan proses siswa mendapatkan ilmu. Hal ini merupakan faktor kedua dari alpanya pendidikan Indonesia dalam memahami kepribadian peserta didik. Semua orang berhak mendapatkan ilmu pengetahuan dan bukankah dalam aturan perundang-undangan kita di Indonesia bahwa semua masyarakat / warga Negara diberi kesempatan yang sama dalam mendapatkan pendidikan walaupun pada prakteknya masih berjalan semrawut/asal jadi dan terseok-seok karena masih ada kasta-kasta sosial yang sengaja/tidak sengaja terbentuk di sekolah-sekolah yang ‘katanya’ menyandang gelar sekolah terbaik. Proses evaluasi dalam pendidikan kita hampir tidak pernah melihat bagaimana proses peserta didik dalam mendapatkan ilmu pengetahuannya atau mendapatkan nilai di setiap mata pelajaran. Yang ada justru guru melihat hasil akhir nya saja, yang boleh jadi peserta didik itu melakukan kecurangan. Proses evaluasi seperti test ujian yang berbentuk multiple choice (pilihan berganda) seharusnya dibuat seperlunya saja dan sebaiknya lebih banyak menggunakan essay test dan soal yang diberikan juga tidak monoton seperti jelaskan pengertian, apa yang dimaksud dan sebutkan, tetapi bagaimana pendapat anda, apa yang anda pikirkan, apa yang anda pahami dengan begitu kita bisa melihat sejauh mana peserta didik memahami materi ajar yang disampaikan oleh guru. Jika hal ini bisa dilaksanakan, tentu pendidikan kita bisa lebih menghargai proses peserta didik dalam mendapatkan ilmu pengetahuannya daripada sekedar melihat nilai akhirnya saja.

Ketiga, Pendidikan Indonesia tak menyentuh ranah superego. Hal ini merupakan faktor ketiga dari alpanya pendidikan Indonesia dalam memahami kepribadian peserta didik. Menurut Freud, kepribadian terdiri atas tiga sistem yakni id, ego dan superego. Masing-masing sistem memiliki fungsinya sendiri, namun ketiga-tiganya berinteraksi dalam mengendalikan perilaku. Superego adalah representasi nilai-nilai dan norma-norma moral masyarakat didalam batin seperti yang diajarkan kepada si anak oleh orang tua maupun orang lain. Superego menilai apakah suatu tindakan itu benar atau salah menurut norma masyarakat. Jadi superego berfungsi sebagai semacam suara hati. Pada mulanya orangtua mengendalikan perilaku si anak secara langsung dengan hadiah dan hukuman. Kemudian melalui penyatuan standar orangtua kedalam superego, perilaku di kendalikan oleh si anak sendiri. Sebagai contoh, seorang anak tidak butuh diberitahukan lagi bahwa mencuri itu dilarang, karena sudah ada suara hati dan pendidikan awal dari orang tua sehingga si anak akan menjauhi perbuatan mencuri itu. Kenyataan tersebut berbanding terbalik dengaan fakta yang ada di lapangan terlebih-lebih dalam dunia pendidikan kita. Lihat saja bagiamana pelaksaan Ujian Nasional di semua sekolah, hampir keseluruhan melegalkan kecurangan dari mulai kepala sekolah sampai dengan orang tua siswa. Bukankah mencontek, meberikan jawaban ketika ujian, sama halnya dengan mencuri. Tapi kenapa seolah kita membeda-bedakan permasalahan tersebut. Kalau hal ini terus dibiarkan, akan muncul kegundahan dalam diri peserta didik, disatu sisi mereka diajarkan untuk jujur tapi disisi lain guru dan orang tua memaksa mereka untuk curang dalam ujian atau paling minimal diam dan tidak usah menjadi orang yang sok jujur.

Keempat, Pendidikan Indonesia tidak mengadopsi teori Humanistik. Hal ini merupakan faktor terakhir dari alpanya pendidikan Indonesia dalam memahami kepribadian peserta didik. Psikologi humanistik memandang manusia sebagai eksistensi yang positif dan menentukan. Manusia dipandang sebagai makhluk yang unik yang memiliki cinta, kreativitas, nilai, dan makna serta pertumbuhan pribadi. Pusat perhatian teori humanistik, adalah pada makna kehidupan, dan masalah ini dalam psikologi humanistik disebut sebagai Homo Ludens, yaitu manusia yang mengerti makna kehidupan. Kita hidup di zaman edan. Setiap hari menyaksikan tingkah laku kebanyakan manusia Indonesia yang melanggar aturan, merusak disiplin dimana-mana. Naik mobil Mercy tapi membuang sampah ke jalan raya, punya HP bagus tapi tutur katanya kampungan. Inilah bangsa kita. Manusia dengan mental kepribadian yang sakit. Pada konteks ini pendidikan Indonesia nyaris tidak memandang manusia sebagai sosok yang humanistik yakni manusia yang memiliki cinta, kreativitas, nilai dan makna hidup. Lihat saja kekerasan yang terjadi dalam dunia pendidikan saat ini dari mulai tawuran antar pelajar, geng pelajar, sampai dengan kasus asusila yang dilakukan antara peserta didik serta yang dilakukan oleh guru terhadap anak didiknya. Ini semua menggambarkan betapa jauhnya sistem pendidikan kita dalam memandang manusia makhkuk yang harus memiliki nilai dan makna hidup. Peserta didik bukanlah botol kosong yang harus diisi dengan air ilmu pengetahuan oleh guru dan orang tuanya, akan tetapi ia adalah makhluk hidup yang memiliki akal dan pikiran untuk tumbuh dan berkembang serta melakukan kontemplasi terhadap makna kehidupannya. Sepertinya pendidikan kita harus dimulai dari nilai dan makna hidup itu, agar setiap bidang studi yang akan diajarkan kepada siswa menjadi lebih bermakna dalam kehidupannya.

Pendidikan di Indonesia harus kembali melakukan ruwetan/revitalisasi terhadap proses penanaman nilai-nilai dan makna hidup. Pendidikan juga harus memperhatikan aspek kepribadian peserta didik agar masing-masing kita para guru, dosen dan orang tua menyadari sepenuhnya bahwa anak-anak yang diberikan Tuhan kepada kita memiliki potensi yang unik dan berbeda-beda. Dengan memperhatikan hal tersebut, pendidikan kita akan lebih jauh bermakna dan lebih menempatkan manusia sebagai manusia yang sesungguhnya dan bukanlah robot yang tidak memiliki akal dan pikiran sehingga kita dapat berbuat sesuka hatinya. ●