Tampilkan postingan dengan label Pilkada Jakarta - Peta Dukungan Pemilih Berubah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pilkada Jakarta - Peta Dukungan Pemilih Berubah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Februari 2017

Potensi Perubahan Konfigurasi Dukungan

Potensi Perubahan Konfigurasi Dukungan
Yohan Wahyu ;  Litbang Kompas
                                                     KOMPAS, 10 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Meski kecenderungan loyalitas pilihan terhadap tiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta semakin menguat, masih terbuka celah yang memungkinkan perubahan konfigurasi dukungan. Penguasaan pemilih yang masih bimbang dan yang belum menentukan pilihan menjadi kunci keberhasilan bagi pasangan calon di Pilkada DKI.

Hasil survei Litbang Kompas menunjukkan, dalam dua bulan terakhir, sikap responden terhadap para kandidat menunjukkan perubahan drastis. Survei terbaru, awal Februari 2017, elektabilitas pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni 28,2 persen responden atau turun 8,9 persen dibandingkan dengan survei pada Desember 2016. Sementara itu, jika pada survei Desember 2016 tingkat elektabilitas pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat 33 persen, kali ini menjadi 36,2 persen. Peningkatan elektabilitas yang signifikan dialami pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, dari 19,5 persen menjadi 28,5 persen.

Dalam survei ini juga terungkap bahwa pemilih yang sebelumnya masih belum menentukan pilihan kali ini cenderung semakin yakin dalam menentukan siapa calon pilihannya. Sebanyak 92,9 persen responden pemilih sudah menentukan siapa yang akan dipilih. Dengan demikian, tersisa 7,1 persen responden pemilih yang belum menentukan pilihan (undecided voters).

Namun, semakin kecilnya proporsi responden pemilih yang belum menentukan pilihan tidak berarti menutup peluang perubahan bagi setiap calon. Pasalnya, dari kelompok pemilih yang sudah menentukan pilihan, jika dibedah lebih lanjut, terdapat dua kategori, yakni pemilih yang sudah kuat dan mantap pilihannya (strong voters) dan pemilih yang masih berpeluang berubah pilihan atau dalam kondisi mengambang (swing voters). Dari angka elektabilitas ketiga pasangan calon, semuanya menyimpan potensi pemilih mengambang. Kategori pemilih mengambang yang bisa berubah atau bisa tetap dengan pilihannya ini akan menambah barisan pemilih yang sejak awal belum menentukan pilihannya.

Karakter

Dengan menggabungkan kategori pemilih yang mengambang dan belum menentukan pilihannya, didapat 28,7 persen pemilih. Di tengah adanya kristalisasi dukungan dan pilihan inilah, penguasaan terhadap kelompok pemilih mengambang dan belum menentukan pilihan menjadi kunci perubahan konfigurasi di hari-hari terakhir menjelang pencoblosan.

Pertanyaannya, siapa dan bagaimana karakteristik para pemilih yang mengambang dan belum memilih pilihan tersebut? Keseluruhan kategori pemilih itu umumnya berasal dari kelompok pemilih sosial ekonomi menengah atas dan berpendidikan tinggi yang dihadapkan pada pergulatan pilihan: apakah lebih mengutamakan aspek rasional atau aspek emosional dan sosiologis.

Jika ditelusuri lebih lanjut, dari kelompok pemilih yang belum menentukan pilihan (7,1 persen pemilih), mayoritas berasal dari kelompok pemilih dengan latar belakang sosial ekonomi menengah ke atas, berpendidikan tinggi, dan mengaku pendukung PDI-P, Demokrat, Golkar, Gerindra, dan beberapa partai lain. Kelompok ini antusias mengikuti isu-isu pilkada dan 42,1 persen di antaranya mengikuti dan menonton penuh acara dua kali debat publik yang digelar KPU DKI Jakarta.

Kelompok itu cenderung akan menentukan pilihan hingga mendekati hari pencoblosan. Bagi ketiga pasangan calon, kelompok ini menjadi peluang meningkatkan proporsi dukungan.

Potensi perebutan juga bisa berasal dari limpahan dukungan pemilih setiap pasangan calon. Inilah pemilih mengambang yang berpotensi berubah pilihan atau setidaknya masih ragu dengan pilihannya. Kategori pemilih ini ada di ketiga pasangan calon. Pemilih mengambang dari pemilih pasangan Agus-Sylvi lebih banyak dari kelas menengah atas dan sebagian besar mengaku sebagai pemilih PDI-P dan Demokrat.

Hal yang sama juga terjadi pada pemilih mengambang pasangan Basuki-Djarot dan Anies-Sandi. Pada Basuki-Djarot, pemilih mengambang juga lebih banyak dari kelas atas, berpendidikan atas, dan lebih banyak berlatar belakang pemilih PDI-P.

Kelompok pemilih mengambang pada pasangan Anies-Sandi juga berasal dari kelompok menengah atas meskipun kelompok pemilih menengah-bawahnya relatif lebih banyak dibandingkan dengan dua pasangan lain. Latar belakang pendidikan dari pendidikan tinggi dan lebih banyak berlatar belakang pemilih Partai Gerindra, salah satu partai pengusung utama pasangan ini.

Lima hari tersisa menjelang pencoblosan, pertarungan ketiga pasangan calon akan berada pada perebutan suara dari pemilih yang belum menentukan pilihan dan saling merebut suara dari pemilih setiap pasangan calon yang mengambang. Jika melihat karakteristik pemilih ini yang banyak dari kelas menengah atas, pasangan Basuki-Djarot dan Anies-Sandi lebih berpeluang mencuri perhatian kelompok ini. Namun, pasangan Agus-Sylvi yang banyak didukung kelas bawah juga tetap berpeluang mendapat limpahan suara.

Sementara dari kelompok pemilih mengambang dari setiap calon, pertarungan sengit berpotensi terjadi antara pasangan Agus-Sylvi dan Anies-Sandi. Kedua pasangan ini punya tingkat kerentanan perubahan pilihan lebih tinggi dibandingkan dengan pemilih dari Basuki-Djarot. Tingkat loyalitas pemilih sudah mantap dan tidak akan berubah dari Basuki-Djarot mencapai 85 persen. Sementara Agus-Sylvi (62 persen) dan Anies-Sandi (77 persen).

Tentu dengan karakter pemilih yang berpendidikan tinggi dan kelas sosial atas, akan lebih memperhatikan isu-isu yang berkembang di sekitar perhelatan pilkada. Debat publik terakhir Pilkada DKI Jakarta pada malam ini akan menjadi media pertarungan setiap calon untuk merebut simpati kelompok pemilih mengambang dan belum menentukan pilihan. Ibarat sirkuit, inilah lap terakhir yang harus dilalui ketiga pasangan calon di Pilkada DKI Jakarta. ●

Jumat, 10 Februari 2017

Peta Dukungan Pemilih Berubah

Peta Dukungan Pemilih Berubah
Sultani ;  Litbang Kompas
                                                     KOMPAS, 09 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Menjelang pemungutan suara, 15 Februari 2017, peta persaingan tiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta dalam meraih dukungan pemilih semakin dinamis. Dua bulan terakhir, terjadi perubahan signifikan preferensi pemilih yang tidak hanya berdampak pada tingkatan keterpilihan, tetapi juga pada posisi keunggulan setiap pasangan calon.

Survei Litbang Kompas tentang kepemimpinan di Jakarta berhasil merekam dinamika politik yang terjadi pada publik Jakarta selama masa penyelenggaraan pilkada. Dalam dua bulan terakhir, sikap responden terhadap para kandidat menunjukkan perubahan yang drastis. Para pemilih yang sebelumnya sudah menentukan pilihan sebagian mengalihkan dukungan mereka kepada kandidat lain. Pemilih yang sebelumnya masih bimbang (undecided voters), kali ini semakin yakin dalam menentukan siapa kandidat pilihannya.

Hasilnya, survei kali ini pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni meraih dukungan 28,2 persen responden pemilih. Proporsi demikian menurun hingga 8,9 persen jika dibandingkan dengan survei Desember 2016. Analisis terhadap penurunan yang dialami pasangan ini mengungkapkan, terdapat sekitar 25 persen responden yang mengalihkan dukungannya kepada pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, 9 persen memilih Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, dan 4 persen berubah menjadi pemilih bimbang (lihat grafik). Meskipun tergerus, pasangan ini tetap didukung 62 persen responden yang pada survei Desember 2016 lalu memilih pasangan ini.

Kondisi sebaliknya justru terjadi pada pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang berhasil meningkatkan proporsi dukungan secara signifikan. Apabila pada Desember 2016 pasangan ini hanya meraih dukungan 19,5 persen, kali ini melonjak menjadi 28,5 persen. Penelusuran terhadap semua responden yang memilih pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno pada Desember 2016, 77 persen di antaranya menyatakan tetap loyal memilih pasangan ini pada survei terakhir. Tercatat hanya 8 persen pendukung pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang beralih kepada pasangan Agus Yudhoyono-Sylviana Murni dan tidak kurang 12 persen yang beralih kepada pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat. Para pemilih pasangan ini yang berubah menjadi bimbang 3 persen.

Kenaikan dukungan juga dialami pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat. Apabila pada survei Desember 2016 pasangan calon ini meraih dukungan 33 persen, kali ini menjadi 36,2 persen. Dibandingkan dengan kedua pasangan lain, responden yang memilih pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat relatif terjaga loyalitasnya. Membandingkan dengan survei sebelumnya, 85 persen responden pemilih Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat tetap loyal memilih pasangan ini. Keinginan mengganti pilihan tetap ada meski proporsinya sangat kecil. Calon alternatif pemilih pasangan ini, 6 persen ke Agus Yudhoyono-Sylviana Murni dan 7 persen memilih Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Pemilih pasangan ini yang kemudian berubah bimbang hanya 2 persen.

Perubahan pola dukungan tidak lepas dari situasi politik yang berkembang di masyarakat dan berbagai aksi kampanye yang semakin memperjelas sosok dan komitmen mereka dalam memimpin Jakarta. Hasil survei menunjukkan, preferensi responden terhadap para kandidat terpolarisasi pada kutub sentimen primordialisme yang menggugah sisi emosional pemilih dan kutub rasionalitas yang bersandar pada hasil penilaian kinerja setiap pasangan kandidat.

Sejak penyelenggaraan Pilkada DKI dimulai sampai sekarang, sentimen primordialitas keagamaan menjadi isu dominan yang menguasai wacana publik Jakarta. Persoalan demikian cenderung memilah warga Jakarta ke dalam dua kelompok dukungan, pendukung kandidat yang memiliki kesamaan identitas keagamaan dengan pendukung kandidat yang mengusung pluralitas kebangsaan.

Semakin menguat

Hasil survei ini juga mengungkapkan penguatan sikap responden dalam memilih pasangan calon. Penguatan ini dilihat dari tren jawaban responden yang mulai bergerak pada pilihan yang semakin jelas dan kuat. Ekspresi yang dimaksud adalah keberanian responden menyatakan kemantapan hati mereka memilih pasangan kandidat. Penguatan ini merupakan pergeseran pilihan dari sikap "kemungkinan masih bisa berubah pilihan" dan "masih ragu untuk memilih paslon" menjadi "tidak akan berubah pilihan" atau semakin mantap memilih.

Tidak kurang dari tiga perempat responden pemilih Agus Yudhoyono-Sylviana Murni dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno merasa semakin yakin tetap memilih kedua pasangan ini. Sementara pada responden pemilih Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat tercatat 81 persen yang menyatakan tidak akan mengalihkan dukungannya (lihat grafik).

Hasil survei ini juga mengungkapkan pertimbangan responden memilih kandidat. Dari sejumlah kriteria yang disebutkan, kriteria yang populer disebutkan responden antara lain pengalaman memimpin daerah/instansi pemerintah, latar belakang pendidikan, serta reputasi dan perjalanan karier.

Semua kriteria yang disebutkan responden akhirnya tervisualisasi melalui penampilan terbuka ketika kampanye atau debat publik. Bagi responden yang hadir dalam kampanye atau menyaksikan debat, preferensi mereka untuk memilih pasangan calon semakin kuat. Penampilan kandidat secara terbuka menjadi penting bagi publik untuk menilai dan mempertebal keyakinan pada sosok yang diidealkan menjadi pemimpin. ●