Tampilkan postingan dengan label Terorisme di Masjid Mesir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terorisme di Masjid Mesir. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Desember 2017

Terorisme di Sinai dan Kegagalan Mesir

Terorisme di Sinai dan Kegagalan Mesir
Ibnu Burdah  ;  Pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam;
Dosen Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta
                                                   JAWA POS, 28 November 2017



                                                           
AKSI terorisme kembali terjadi di wilayah Provinsi Sinai, Mesir. Tapi, serangan kali ini berbeda. Sebelumnya korban aksi terorisme di daerah tersebut adalah para perwira, tamtama, atau paramiliter Mesir. Jika bukan itu, kelompok-kelompok minoritas seperti Kristen Koptik yang jadi sasaran.

Kali ini sasaran aksi teroris adalah jamaah salat Jumat di masjid yang dikenal sebagai simpul kelompok sufi Jaririyah Ahmadiyah. Sebuah kelompok sufi yang mengakar kuat di daerah pedesaan dan gurun di provinsi tersebut. Korban serangan brutal itu sangat besar, mencapai 305 orang tewas. Sekitar tiga perempat dari jamaah salat Jumat itu meninggal dan sisanya terluka. Mengingat jumlah penduduk Desa Al Rawdha, Bi’rul ’Abd, sangat sedikit, masuk akal pula ketika ada yang menyebut tragedi itu sebagai sebuah genosida.

Daerah Al Arish dan sekitarnya di Sinai merupakan tempat tumbuhnya gerakan-gerakan ekstrem. Mulai kelompok-kelompok ekstremis lokal, ”nasional”, hingga transnasional seperti ISIS (Tandzim Al Dawlah) atau Al Qaeda (Tandzim Al Qaedah). Kelompok yang berafiliasi ke ISIS sesungguhnya tumbuh karena persoalan lokal dan nasional; atau bilateral tapi kemudian tertarik untuk berbaiat kepada pimpinan ISIS di Mosul.

Kelompok itu dahulu bernama Anshar Baitl Maqdis yang kemudian bermetamorfosis menjadi ISIS Provinsi Sinai. Sedangkan yang berafiliasi ke Al Qaeda adalah Brigader Abdullah Azzam dan Tawhid Al Jihad. Masih banyak kelompok ekstrem lain di tempat tersebut yang mengusung isu dan agenda yang beragam.

Mengapa militer Mesir gagal mengontrol keamanan Sinai? Mengapa mereka dengan jumlah sekitar 50.000 personel itu tak mampu mencegah terjadinya gelombang terorisme yang semakin brutal, khususnya di masjid tarekat sufi tersebut? Bahkan, militer dan aparat keamanan di wilayah itu justru sering jadi korban. Khusus di Masjid Al Rawdah itu, anasir ISIS telah beberapa kali memperingatkan penduduk desa untuk tidak berkolaborasi dengan pihak keamanan Mesir dan segera meninggalkan praktik-praktik sufisme, termasuk peringatan Maulid Nabi yang dilaksanakan Kamis malam, sehari sebelum kejadian, di masjid tersebut. Sebab, itu semua dianggap bidah dan bertentangan dengan ajaran Islam yang benar.

Dengan informasi tersebut, pihak keamanan Mesir seharusnya lebih sigap dalam mencegah kemungkinan terjadinya aksi terorisme di desa yang berada di jalur jalan besar antara Al Arish dan Bi’r Al Abd ini. Seandainya intelijen Mesir bekerja dengan baik, tragedi mengerikan itu seharusnya bisa dicegah.

Tak Komprehensif

Ahmad Salim, seorang pengamat Mesir asal Kota Arish, menyebut kegagalan aparat keamanan mencegah gelombang terorisme di Sinai sebagai akibat logis dari karakter rezim Mesir saat ini. Juga karena pendekatannya yang militeristis dalam penyelesaian masalah Sinai. Sebagaimana dimaklumi, karakter rezim di bawah pimpinan Jenderal Al Sisi adalah militer, kendati pemerintahan ini juga menjalankan proses pemilu sebagai ”ritual” demokrasi.

Karena itu, kebebasan berpendapat dan berbicara menjadi barang sangat mahal di negeri tersebut. Padahal, kesadaran masyarakat Mesir akan hak-hak mereka untuk menentukan nasib sendiri sangat tinggi. Itu terbukti dengan kemampuan rakyat Mesir menumbangkan rezim Mubarak yang berkuasa sekitar tiga dekade melalui gerakan rakyat.

Sistem pemerintahan militeristis di Mesir tidak hanya membungkam oposisi. Tapi juga membungkam masyarakat, termasuk kekuatan-kekuatan sipil dan kebebasan media massa. Khusus di Sinai, situasinya lebih keras daripada suasana di Mesir secara umum. Sebab, status daerah itu adalah kawasan perang. Militerisme di kawasan Sinai jauh lebih represif daripada di kawasan-kawasan lain di Mesir. Kawasan tersebut dikabarkan harus steril dari para jurnalis dan para pekerja di organisasi internasional karena itu dianggap kawasan perang.

Akibatnya, solusi yang dikembangkan pemerintahan tersebut terhadap masalah Sinai juga militeristis. Padahal, persoalan Sinai sangat kompleks. Baik itu masalah ekonomi, ketidakadilan, sangat rendahnya tingkat kesejahteraan, maupun sosial. Namun, cara yang digunakan untuk penyelesaian Sinai bukan melalui pendekatan yang komprehensif, tapi justru militeristis. Militer Mesir cenderung melakukan hukuman kolektif setiap terjadi aksi kekerasan di kawasan tersebut. Aksi penggusuran yang disertai pembongkaran tempat tinggal sering kali diambil untuk menghadapi aksi kekerasan yang melibatkan segelintir warga. Padahal, kebanyakan warga tidak terlibat.

Bisa dibayangkan, daerah yang jumlah penduduknya tak seberapa itu harus menerima kehadiran sekitar 50.000 personel militer, sebagian bersenjata berat. Sementara kelompok-kelompok bersenjata juga tersebar di daerah tersebut, bahkan sebagian menyusup ke dalam penduduk-penduduk desa. Dengan sikap represif militer Mesir dan situasi sulit yang dihadapi masyarakat Sinai, tak mengherankan jika para pemudanya yang frustrasi dengan keadaan memilih bergabung dengan kelompok-kelompok ekstremis.

Bisa jadi itu bukan pilihan mereka. Keadaanlah yang kemudian memaksa mereka mencari solusi atas persoalan kompleks yang mereka hadapi. Dan kelompok-kelompok ekstrem tersebut menawarkan solusi yang jelas kepada mereka, yaitu mengangkat senjata. Karena itu, selama pendekatan militer adalah satu-satunya jalan yang diandalkan sebagai solusi, sementara kesejahteraan dan keadilan untuk mereka tak diberikan, persoalan ekstremis di Sinai akan sangat sulit diselesaikan.

Selasa, 28 November 2017

Terorisme dan Bom Masjid di Sinai

Terorisme dan Bom Masjid di Sinai
M Najih Arromadloni ;  Pemerhati Timur Tengah,  Penulis buku Bid'ah Ideologi ISIS
                                                DETIKNEWS, 27 November 2017



                                                           
Jumat 24 November 2017, tepat di hari peringatan dua tahun bom di ibu kota Tunisia, sebuah bom teroris kembali meledak di Mesir, tepatnya di Masjid al-Rawdah di Bi'r al-Abid, Kota al-Arish, Provinsi Sinai Utara. Bom yang disertai penembakan membabi buta ini menewaskan 235 orang dan mencederai 109 orang (detikcom, 24/11/2017). Ledakan bom ini terjadi di saat jamaah tengah menunaikan ibadah Salat Jumat. Dan, di saat sebagian jamaah berhamburan keluar masjid, para pelaku yang menunggu di luar masjid memberondong jamaah Salat Jumat tersebut dengan tembakan peluru, disertai teriakan takbir.

Para pelaku yang berjumlah sekitar 40 orang itu mengepung empat bagian sisi masjid dengan kendaraan ATV, juga menanam bom di luar masjid dan memblokir akses keluar masjid. Mereka bahkan menembaki ambulan yang mencoba mendekat ke lokasi. Penembakan ini berlangsung selama kurang lebih 20 menit (al-Watan, 24/11/2017). Serangan ini bisa dibilang amat brutal karena menarget warga sipil yang tengah beribadah dan tidak memperkirakan sama sekali akan adanya serangan.

Serangan ini juga bukan yang pertama kali terjadi di masjid yang sama. Pada Oktober setahun lalu, seorang imam masjid tersebut yang merupakan pemimpin tarekat sufi di Sinai, Syeikh Sulaiman Abu Haraz, diculik oleh kelompok teroris ISIS dan diumumkan tiga hari setelahnya. Satu bulan kemudian ISIS merilis video yang memperlihatkan syeikh tersebut disembelih oleh salah satu anggotanya dengan tuduhan telah musyrik dan menyebarkan khurafat.

Di sisi lain, Sinai utara merupakan kawasan yang dikenal sebagai basis berbagai kelompok militan, mulai dari Ikhwanul Muslimin, ISIS, sampai dengan al-Hazimiah. Mereka tidak membentuk afiliasi, karena satu sama lain saling mengkafirkan. Pertanyaannya adalah, kenapa mereka menyerang Masjid al-Rawdlah Sinai?

Sebelum ISIS dideklarasikan secara resmi pada November 2014, kelompok yang menjadi embrionya sudah ada di Sinai, dan pasca-deklarasi mereka menegaskan bahwa musuh utamanya adalah tiga; aparat keamanan, umat Kristiani, dan kelompok Sufi. Dan, Masjid al-Rawdlah ini adalah sebuah masjid besar yang merupakan pusat kegiatan tarekat al-Jaririah, sebuah kelompok tarekat sufi yang ada Sinai dan mempunyai pengikut puluhan ribu di Mesir, Palestina dan Yordania, serta negara-negara teluk.

Pendiri tarekat ini, Syeikh 'Id Abu Jarir merupakan salah satu tokoh sufi pertama di Sinai dan mempunyai peran penting dalam perlawanan rakyat Mesir terhadap pendudukan Israel atas Sinai.

Bagi ISIS, menyerang sebuah masjid kaum sufi mempunyai dua misi; ideologis dan politis-keorganisasian. Berkaitan dengan ideologi, menarget kaum sufi adalah bagian dari metodologi teror mereka, di wilayah mana pun. Bagi mereka kaum sufi berbahaya karena mempunyai kekuatan pengikut yang besar dan amat potensial menjadi basis perlawanan kultural bagi ideologi radikalisme-terorisme. Majalah al-Naba', resmi diterbitkan oleh ISIS, memuat ancaman mereka; "Kami mendeklarasikan, kepada semua surau-surau sufi, guru dan pengikut kaum sufi, baik di Mesir maupun di luar, kami melarang praktik tarekat sufi di Sinai secara khusus, dan di Mesir secara umum."

Adapun misi politik-keorganisasian atau kemiliteran, menyerang kaum sufi adalah bagian dari realisasi atas metodologi prioritas serangan terhadap musuh dekat (near enemy), dibanding musuh jauh (far enemy). Ini berarti mereka mengutamakan target musuh yang dekat, baik sipil maupun militer, dibandingkan dengan menyerang musuh yang jauh berupa negara-negara Barat.

Menyerang kelompok sufi ini juga merupakan tahapan pertama dari pedoman mereka dalam Manajemen Kekerasan (Idarat al-Tawahusy) oleh ideolog Abu Bakar al-Naji, yang disebut dengan al-Syawkah wa al-Nikayah, yaitu merealisasikan sebuah serangan teror terhadap kelompok tertentu yang mempunyai pengaruh dengan tujuan menggelorakan perpecahan dan gejolak sosial, dan di ujung tahapan ini adalah pendirian khilafah islamiyah.

Masjid al-Rawdah Sinai ini bukan merupakan masjid sufi yang pertama kali mendapatkan serangan dari kelompok-kelompok teroris berlabel Islam, karena sebelumnya kelompok teroris sudah berkali-kali melakukan penyerangan terhadap masjid dan menarget para ulama dan umat Islam yang taat serta berpendidikan. Mengutip 'Ala Abu al-'Azaim, ketua Persatuan Tarekat Sufi Internasional, "Serangan di masjid Sinai ini merupakan rangkaian dari rencana kelompok teroris menarget tarekat-tarekat sufi di dunia Islam. Mereka telah menarget guru-guru tarekat di Yaman, Libya, Pakistan, Somalia, Suriah, dan Irak."

Meneror Masjid

Terorisme bukan hanya tidak punya agama, tetapi juga musuh agama. Buktinya adalah serangan-serangan mereka atas banyak masjid dan tempat ibadah agama-agama selain Islam sejak awal sejarah, pembunuhan Sayyidina Ali sesaat setelah beliau menunaikan Salat Subuh di masjid bisa menjadi contohnya. Di Indonesia, serangan teror menarget masjid pernah terjadi di masjid Polresta Cirebon pada 15 April 2011. Dan, peristiwa paling mutakhir adalah 1 Juli 2017 ketika dua orang teroris menusuk dua jamaah Salat Isya di Masjid Falatehan di Kebayoran Baru Jakarta.

Sepanjang 2015 sampai dengan 2017, paling tidak ada tiga puluh serangan teror yang dilakukan di masjid di seluruh dunia, baik yang berbentuk pemboman, penusukan, maupun penembakan terhadap jamaah salat. Misalnya di sebuah masjid kota Mubi Nigeria (21 November 2017), terjadi serangan bom bunuh diri menewaskan sedikitnya 50 orang dengan target jamaah Salat Subuh. Pelakunya adalah kelompok teroris Boko Haram.

Sebuah serangan teror juga menyasar Masjid Dar al-Ri'ayah al-Islamiyah di London utara, ketika sebuah truk menabrak jamaah yang selesai menunaikan salat tarawih pada 19 Juni 2017. Begitu pula di Kanada; lima orang terbunuh dan banyak yang terluka, ketika terjadi sebuah serangan bersenjata ditujukan kepada jamaah Salat Isya di masjid Pusat Kebudayaan Islam pada 30 Januari 2017. Peristiwa teror di dalam masjid juga terjadi di Somalia, Afghanistan, Pakistan, Yaman, Arab Saudi, dan Kuwait.

Serangan teroris yang ditujukan kepada jamaah salat di masjid kemungkinan dilatarbelakangi keputusasaan dan ketidakmampuan mereka menyerang aparat keamanan di Mesir. Di Irak, teroris menarget pemboman jamaah masjid dengan memanfaatkan ideologi partisan Sunni dan Syiah yang bertikai di sana. Kasus di Mesir dan Irak bisa berbeda dengan di Indonesia, karena teroris di sini masih menjadikan target utamanya adalah polisi. Fakta ini bisa berubah apabila masyarakat bisa dengan mudah mereka pecah belah dengan propaganda dan fitnah, karena agenda utama terorisme adalah menimbulkan gejolak, kekacauan dan meruntuhkan tertib sosial.

Untuk mewujudkan agenda tersebut, mereka mempropagandakan bahwa aparatur pemerintah tidak becus mengelola dan menjaga keamanan negara, dan mereka bisa menggiring masyarakat untuk melawan pemerintah yang mereka anggap taghut.

Maka sejatinya, bagi teroris tidak ada beda menyerang umat muslim maupun non-muslim, karena yang menjadi musuh mereka adalah persatuan, kebhinnekaan, ketertiban, dan keamanan. Mereka sendiri tidak membedakan latarbelakang ormas atau agama target, karena bagi mereka, semua yang ada di luar kelompok adalah kafir dan berhak dijadikan musuh.

Teror di Hari-hari Besar Umat Islam

Sesuatu yang patut diamati pula dari serangan bom dan penembakan di Masjid al-Rawdlah Sinai utara ini adalah pelaksanaannya di hari Jumat, tepat di bulan Rabiul Awal, momentum lahirnya Nabi Muhammad SAW, di mana akan ada banyak perayaan Maulid Nabi di seluruh dunia. Tercatat, ada banyak peristiwa teror yang terjadi di hari Jumat dan di hari atau bulan istimewa umat Islam. Kenapa? Karena kelompok-kelompok teroris --secara keliru-- beranggapan bahwa hari Jumat adalah hari yang paling utama untuk memperoleh kesyahidan.

Faktanya, di bulan Ramadan biasanya tren amaliah terorisme juga meningkat. Lagi-lagi pertanyaannya adalah kenapa? Karena mereka menganggap bulan puasa adalah bulan ibadah dan dilipatgandakannya pahala. Dan, mereka percaya ibadah paling utama adalah jihad, sedangkan jihad diartikan oleh mereka pure serangan fisik. Pola pikir seperti ini tentu adalah pikir yang sesat dan menyesatkan. Bukankah bulan Ramadhan Nabi Muhammad dalam sejarahnya dipenuhi dengan salat, tadarus Alquran, menahan nafsu dan berbagi dengan orang yang membutuhkan?

Di Mesir misalnya, sepanjang 2016-2017 saja paling tidak terdapat dua puluh serangan teror yang dilakukan pada hari Jumat. Misalnya, pada 26 Mei 2017 terjadi serangan teror terhadap umat Koptik, dan pada 17 Ramadan terjadi pembantaian di Rafah, saat beberapa aparat keamanan Mesir berada di posnya sedang menunggu adzan Maghrib untuk berbuka, tiba-tiba muncul sekelompok anggota kelompok teror dan membantai 16 aparat keamanan tersebut. Media Mesir menyebut peristiwa ini dengan "Penjagalan Rafah I".

Serangan di bulan puasa juga terjadi di masjid Madinah saat aparat keamanan tengah berbuka puasa, pada 4 Juli 2016. Sehari berselang dari peristiwa tersebut, masih di bulan puasa, adalah upaya bom bunuh diri di Solo yang menewaskan pelaku di depan kantor Mapolresta Solo dan membuat salah satu petugas luka ringan (5 Juli 2016).

Dengan melakukan pengeboman dan penembakan di dalam masjid di hari-hari besar umat beragama, dengan target warga sipil sebuah negara berdaulat semakin menegaskan bahwa terorisme bukan hanya tidak punya agama, tidak punya rasa kemanusiaan dan tidak punya tanah air, melainkan ia adalah musuh agama, musuh kemanusiaan dan musuh negara! Al-Fatihah untuk para korban... ●