Kamis, 30 April 2015

Tak Ada Superhero

Tak Ada Superhero

Indra Tranggono  ;  Pemerhati Kebudayaan
KOMPAS, 29 April 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Dalam cerita fiksi, orang jujur selalu memenangi pertarungan melawan orang jahat. Seorang pendekar dielu-elukan warga setelah jurusnya yang mematikan mampu merobohkan gembong penjahat. Warga akhirnya lega mendapat pembebasan dari sang superhero. Kehidupan normal kembali. Pembaca lega dan bisa tidur nyenyak.

Begitulah peran dan fungsi  superhero sebagai pembebas, seolah-olah sudah dibakukan alias menjadi konvensi karakter tokoh dalam cerita silat versi komik. Si Buta dari Gua Hantu (Ganes TH) mampu mengalahkan hegemoni Si Mata Malaikat. Begitu pula Panji Tengkorak (Hans Djaladara), Parmin, Pendekar Gunung Sembung (Djair), dan para superhero lain ciptaan Teguh Santosa, Jan Mintaraga, Hasmi, serta komikus lain. Superhero serupa institusi nilai di mana para pembaca komik menemukan sosok ideal, panutan moral.

Era kejayaan komik silat khas Indonesia memang telah lewat, berkat ketakpedulian negara memproteksi. Namun, komik telah membentuk kultur naratif generasi pembacanya mengenali konflik nilai, benturan berbagai watak tokoh, sekaligus penyelesaian konfliknya. Dalam diri pembaca, minimal tersisa keyakinan bahwa kejahatan bisa di- hancurkan oleh kebenaran. Imajinasi selalu lebih kaya daripada realitas di mana manusia menemukan kembali dunia  ideal.

Berhadapan dengan realitas yang dikonstruksi kekuatan politik, ekonomi, sosial, dan budaya, publik tidak menemukan sosok superhero. Persoalan terlalu kompleks. Jika ribuan Si Buta dari Gua Hantu, Panji Tengkorak, atau Gundala Putra Petir didatangkan pun, mereka tak mampu menghadapi gembong penjahat riil yang mengangkangi berbagai lini kehidupan, baik di level negara maupun di level masyarakat. Dunia realitas adalah dunia darah-daging yang dikendalikan kuasa politik, modal, sosial, dan budaya yang tak tunduk pada etika dan moralitas. Dunia komik adalah dunia fiksi: nilai-nilai ideal dihadirkan untuk secara sengaja dimenangkan  sang kreator.

Di dalam fiksi, orang boleh bermimpi tentang segala yang ideal, surgawi. Namun, di dalam realitas, imajinasi mereka diatur dan ditertibkan oleh kekuasaan yang tak menghendaki nilai-nilai ideal itu terwujud. Justru di dalam distorsi atau jungkir-balik nilai-nilai itu, para penguasa, para penghamba materi dapat untung. Bahkan, distorsi nilai itu sengaja dibuat agar seluruh sistem ideal hidup bermasyarakat dan bernegara tak jalan, stagnan, beku, atau macet. Di sini para penguasa dan perekayasa sosial, politik, hukum, ekonomi, dan budaya meraih kemenangan.

Mengakali peraturan

Jangan kaget jika kita menemukan hakim yang sangat cerdik, tetapi pura-pura bodoh ketika ia mengakali peraturan dan undang-undang, demi memenangkan seorang koruptor berseragam resmi atau berdasi. Jangan heran pula jika institusi antikorupsi sengaja dilumpuhkan karena terlalu berbahaya bagi kaum koruptor berkuasa. Bagi para penyelenggara bermental korup, negeri ini tak lebih dari koloni kekayaan untuk dijarah. Sambil melantunkan lagu "Indonesia Raya", mereka membobol APBN, APBD, atau mengeksploitasi jabatan dan kekuasaannya meraup untung pribadi.

Negeri ini sudah bangkrut nilai, etik, dan moral. Banyak orang berubah jadi predator yang melaksanakan kekejaman dengan cara sopan. Karena itu, tak terlalu bermakna ketika muncul sedikit orang baik sebagai pemimpin. Sepuluh atau seratus orang baik tak akan mampu berbuat apa-apa menghadapi ratusan ribu bahkan jutaan orang bermental korup. Kekuasaan selalu berurusan dengan perimbangan kekuatan.

Krisis nilai negeri ini disebabkan korupsi yang dilakukan politik kartel, oligarki, maupun mafia. Negeri ini amat membutuhkan ribuan bahkan jutaan penyelenggara negara ala Eliot Ness,  penegak hukum jujur berani  yang mampu melumpuhkan gembong mafia Al Capone (film Untouchables karya Brian De Palma, 1987). Negeri ini telah dikuasai jutaan Al Capone. "Al caponisme" merasuk ke dalam darah dan sumsum para penjarah. Prinsip "tak tersentuh hukum"  mereka wujudkan dengan cara apa pun. Kaum al-capone itu harus dihadapi bersama: penyelenggara negara jujur bisa bersatu dengan jutaan rakyat melakukan gropyokan korupsi/koruptor, serupa komunitas petani menggropyok tikus-tikus di sawah mereka.

Kita tidak berada di dunia komik, di mana kita bisa tidur nyenyak karena masih ada superhero. Jangan sampai anak cucu kita bangga berkata, "Saya adalah keturunan koruptor sejati, kaya raya, dan tak tertangkap!"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar