Tampilkan postingan dengan label Makna Paus Baru Non-Eropa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makna Paus Baru Non-Eropa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Maret 2013

Paus Baru dan Teologi Pembebasan Kaum Miskin


Paus Baru dan Teologi Pembebasan Kaum Miskin
Tom Saptaatmaja ;  Alumnus STFT Widya Sasana Malang
dan Seminari St Vincent de Paul
KORAN TEMPO, 22 Maret 2013


Paus baru, yang memakai nama Fransiskus I, harus menginspirasi kita untuk melakukan praksis perubahan, yakni pembebasan kaum miskin, bukan malah memperkaya diri sendiri. 
Takhta Suci Vatikan akhirnya mempunyai paus baru, yang berhasil dipilih oleh 115 kardinal pada sidang konklaf pada Kamis dinihari (14 Maret) pukul 01.00 WIB. Sosok paus baru ini bernama asli Jorge Mario Bergoglio, yang lahir pada 17 Desember 1936 dan sebelumnya menjadi Uskup Agung Buenos Aires, Argentina (periode 1998-2012). Dialah paus pertama dari Amerika Latin. Sementara Santo Petrus adalah paus pertama, Bergoglio adalah paus ke-266. Bergoglio memilih nama Paus Fransiskus I. (Tempo.co, 14 Maret).
Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan para pemimpin dunia menyampaikan ucapan selamat, disusul ucapan serupa dari para pemimpin dunia. Kini ratusan ribu umat Katolik sedunia terus membanjiri Vatikan, menyambut puas baru. Ratusan ribu warga Argentina turun ke jalan, dan jutaan lainnya merasakan sukacita seperti ketika Diego Maradona menjuarai Piala Dunia 1986 di Meksiko. Maklum, baru kali ini ada paus dari negeri itu, bahkan Obama pun menyebut Paus Fransiskus I sebagai paus pertama dari Amerika.
Profil dan Minatnya
Bergoglio adalah anak pertama dari lima bersaudara. Meski telah memegang gelar master di bidang kimia dari Universitas Buenos Aires, dia justru lebih memilih masuk seminari dan mengabdikan hidupnya sebagai pastor atau pelayan umat. Dia melayani sebagai pastor pada 1973, lalu menjadi rektor seminari San Miguel hingga 1986, dan puncaknya menjadi Uskup Agung Buenos Aires sampai 2012. Dia mengundurkan diri dari jabatan tersebut karena pertimbangan usia. Bergoglio dipromosikan menjadi kardinal pada 2001, dan dalam sidang Konklaf 2004 yang memilih Ratzinger menjadi Paus Benediktus, Bergoglio meraih suara terbanyak. Barulah dalam sidang Konklaf 2013, dia terpilih sebagai paus baru.
Meski banyak hal bisa ditulis tentang paus baru, penulis tertarik mengelaborasi mengapa Bergoglio memilih nama Fransiskus dan mencari relevansinya bagi kita di Indonesia. Sebagaimana diketahui, paus berdarah Italia dan berkebangsaan Argentina itu memilih nama Fransiskus. Ada beberapa nama penting dalam sejarah gereja bernama Fransiskus. Boleh jadi, ada sebagian kalangan berspekulasi, nama Fransiskus dikaitkan dengan Fransiskus Xaverius, pendiri Ordo Jesuit yang pernah mengabarkan Injil sampai di Nusantara. 
Namun pakar soal Vatikan, John Allen, sebagaimana dikutip CNN, berpendapat bahwa nama Fransiskus ini merujuk pada salah satu tokoh yang paling dihormati di Gereja Katolik, yakni Santo Fransiskus dari Asisi, yang hidup pada abad XIII di Italia. Orang suci ini dikenal sebagai pelindung hewan dan hidup dalam kemiskinan. Menurut Allen, pilihan nama ini sangat menakjubkan. Fransiskus selama ini menjadi lambang untuk kemiskinan, kerendah-hatian, kesederhanaan, dan pembangunan kembali Gereja Katolik. 
Pilihan nama Fransiskus seakan juga memiliki kemiripan dengan hidup Sang Uskup Agung Buenos Aires (untuk periode 1998-2012), yang juga dikenal rendah hati dan sederhana. Meski bisa tinggal di kediaman Uskup Agung yang fasilitasnya tentu lebih baik, Bergoglio memilih tinggal di apartemen kecil dan tiap hari berangkat ke kantornya dengan naik angkutan umum (bus).
Khotbah-khotbahnya memang kerap menyikapi dengan kritis kebijakan pemerintah yang kerap hanya ramah kepada yang punya modal dan abai terhadap yang kecil. Di Argentina, sebagaimana di negeri kita, segelintir orang kaya bisa memiliki kekayaan sangat berlimpah, di tengah kondisi kebanyakan rakyat hidup dalam kemiskinan. Paus baru sejak lama sudah mengkaulkan hidup miskin dan memihak kaum miskin (option for the poor). Populorum Progressio atau Ajaran Sosial Gereja artikel 23 sungguh menjadi spiritualitasnya: "Barangsiapa memiliki harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya, maka kasih Allah tidak akan tinggal dalam dirinya." 
Praksis Pembebasan
Nah, menyimak hal itu, jelas paus baru ini amat dipengaruhi oleh Teologi Pembebasan. Teologi ini pertama kali lahir dalam latar belakang kaum miskin di Amerika Latin pada dekade 1960-an dan 1970-an, serta terjadi dalam lingkup Gereja Katolik. Titik aksentuasi dalam teologi pembebasan adalah praksis pembebasan. Beda teologi pembebasan dengan teologi lainnya memang terletak pada praksis (teori dan praktek) pembebasan ini. Jadi, kita diajak melakukan praktek pembebasan secara nyata dan tidak berhenti pada wacana, di tengah kesenjangan sosial yang sangat menganga.
Menurut teolog pembebasan dari San Salvador Ignacio Illacuria, teologi pembebasan memang bisa memberi solusi untuk pemecahan problem-problem kemanusiaan. Sebab, kontribusi teologi pembebasan pertama-tama bukan dalam ranah politik, melainkan dalam ranah kritik profetisnya (baca Martin Maier: "Theologie de Befreiung", dalam "Stimmen der Zeit", 1991, halaman 711-712).
Jelas teologi pembebasan ini amat relevan dengan kondisi negeri kita hari-hari ini. Maka, para pejabat gereja dan umat Katolik Indonesia diingatkan akan tanggung jawabnya untuk melakukan praksis pembebasan seiring terpilihnya paus baru kali ini. Jika di Argentina, semasa menjadi uskup agung, Bergoglio kritis terhadap pemerintah sebagaimana disebutkan di atas, di negeri ini pesan profetis semacam itu juga harus terus disuarakan.
Dengan kata lain, kita tidak boleh diam ketika di tengah kegaduhan politik yang hanya dipenuhi korupsi dan kemunafikan dari segenap elite kita yang sejahtera, nasib kaum miskin justru kian sengsara. Meski dalam kunjungan ke Jerman baru-baru ini Presiden SBY seolah berbangga akan pertumbuhan ekonomi lewat jargon "The Indonesian Way", kita jangan menutup mata atas adanya fakta mengenaskan di sekitar kita. 
Di tengah impian menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia, warga miskin di negeri ini sama sekali tidak punya akses ke sektor ekonomi yang terus bertumbuh. Pertumbuhan dan keuntungan dari pertumbuhan itu hanya bisa dinikmati oleh mereka yang kuat. Di tengah meningkatnya kekayaan orang kaya, makin banyak orang miskin baru. Di tengah naiknya angka penjualan mobil atau rumah mewah serta banjir apartemen di Surabaya, masih ada kasus gizi buruk terjadi. Kesenjangan sosial masih menyesakkan. Itulah ironi ekonomi kita yang neoliberal, sehingga memungkinkan mereka yang kuat semakin berjaya, sementara yang miskin kian terimpit akibat dicabutnya berbagai subsidi untuk mereka. Mekanisme pasar bebas hanya ramah kepada yang berdaya beli, sementara warga miskin hanya bisa gigit jari. 
Paus baru, yang memakai nama Fransiskus I, harus menginspirasi kita untuk melakukan praksis perubahan, yakni pembebasan kaum miskin, bukan malah memperkaya diri sendiri. Mari menjadikan pesan teolog pembebasan Gustavo Gutierez, "Beriman kepada Tuhan berarti mempraktekkan keadilan", sebagai pegangan.  ● 

Selasa, 19 Maret 2013

Harapan Baru Mewujudkan Keadilan dan Perdamaian Dunia


Harapan Baru
Mewujudkan Keadilan dan Perdamaian Dunia
Benny Susetyo ;  Rohaniwan, Sekretaris Eksekutif Komisi HAK KWI
KORAN SINDO, 19 Maret 2013
  

Kardinal Jorge Mario Bergoglio, Uskup Agung Buenos Aires, terpilih sebagai Paus, Rabu (13/3/2013), dalam konklaf hari kedua. Ia adalah Paus pertama dari Amerika Latin dan merupakan Paus pertama yang bukan berasal dari kawasan Eropa. 

Paus Fransiskus menggantikan Paus Benediktus XVI. Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) menyambut baik terpilihnya Kardinal Jorge Mario Bergoglio. Paus Fransiskus merupakan pilihan terbaik untuk perkembangan gereja Katolik di masa mendatang dan menjadi figur harapan baru untuk mewujudkan keadilan dan perdamaian dunia. 

Dengan terpilihnya Bapak Suci ini memberi harapan bagi negara berkembang khususnya Indonesia, Amerika Latin dan Afrika termasuk Asia. Terutama karena Paus Fransiskus dikenal sebagai Paus yang sederhana, Paus kaum buruh, pejuang kemanusiaan dan keadilan. Paus yang dalam kesehariannya sering naik kendaraan umum, rumahnya juga sederhana dan dekat dengan kalangan miskin. 

Harapan utama kita agar Bapak Suci ini membawa perubahan baru bagi Gereja, sebagaimana sosok Paus Yohanes Paulus II yang karismatik. Dengan Paus Fransiskus, kita berharap arah pastoral Gereja akan terfokus pada persoalan keadilan dan perdamaian. Tata dunia baru sebagaimana yang dikatakan Paus Yohanes Paulus II akan menjadi nyata. Kita bisa banyak belajar dari terpilihnya Paus Fransiskus ini. 

Yang paling utama bahwa pemimpin agama seharusnya memberikan teladan yang baik untuk menciptakan perubahan. Teladan yang baik menjadi salah satu ciri yang harus dimiliki. Itu merupakan sumber kesaksian hidup para pemimpin yang dapat menularkan dan menggerakkan orang muda. Apalagi, saat ini dapat kita saksikan publik lebih simpatik terhadap figur pemimpin yang punya kesatuan dan kesesuaian antara kata dan perbuatan. Ini bisa kita pelajari juga pada masa Paus Yohanes Paulus II. 

Dia memberi keteladanan yang baik dan keberanian, sehingga banyak orang muda waktu itu yang tertarik padanya. Keteladanan itulah yang menggerakkan orang muda. Ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa para pemimpin agama harus bisa menjadi contoh untuk kaum muda. 

Kata dengan perbuatan mereka harus satu visi. Pemimpin agama juga harus berani mengambil jarak dengan kekuasaan sehingga ada keberanian untuk mengkritik kebijakan negara jika ada salah. Selain itu seorang pemimpin harus bisa menjadi oase kedamaian. 

Mengembangkan Dialog 

Berbagai agenda pun sudah menanti Paus baru. Salah satunya tetap mengembangkan dan meningkatkan dialog antaragama. Dialog dibutuhkan bagi dunia yang saat ini menghadapi berbagai macam persoalan. Dialog amat penting dilakukan dalam menghadapi keangkuhan kapitalisme global yang sering kali mereduksi isu kemanusiaan, dan ketika kemanusiaan tidak lagi melekat sebagai cara pandang utama negara maju dalam melihat negara miskin. 

Dibutuhkan cara pandang baru mengenai manusia. Manusia bukanlah semata-mata alat ekonomi/produksi melainkan manusia harus diperlakukan dalam segala aspeknya. Kemanusiaan adalah paradigma dasar bagi kebersamaan untuk mengembangkan keharmonisan antara majuterbelakang, miskinkaya, mayoritas-minoritas, serta tertindas-penguasa. Dalam kemanusiaan itu, manusia mampu menemukan akar kebersamaan sejati. 

Kemanusiaan pula yang akan menjadi dasar dalam membangundialog antaragama, yang sering mudah diucapkan tapi sulit direalisasikan. Dialog antaragama akan berkembang dan menemukan tujuannya yang tepat bila orientasinya terarah pada problem-problem kemanusiaan yang dihadapi manusia saat ini. Di abad komunikasi ini, dunia mengalami pergeseran orientasi nyata ketika nilai-nilai kebersamaan bergerak secara revolusioner menuju individualisme. 

Perubahan ini membawa akibat orientasi kemanusiaan semakin menipis. Masyarakat cenderung hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri, agama, dan kelompoknya sendiri. Dapat ditebak pasti, kecenderungan ini dikhawatirkan akan menguatkan sentimen pribadi, keagamaan dan kesukuan. Kenyataan itu membuat dialog antaragama sulit menjawab persoalan-persoalan global, seperti hancurnya peradaban manusia. 

Hancurnya peradaban itu menyebabkan manusia semakin terasing dengan dirinya dan lingkungan sekitar. Lingkungan hidup tidak lagi menjadi tempat tinggal yang damai, karena tanah, air, udara mulai tercemar mulai dari limbah fisik sampai nonfisik. Persaudaraan tidak lagi menjadi bagian hidup dalam menjalin relasi dengan sesama. Relasi hanya ditentukan oleh transaksi uang dan kekuasaan. Siapa kuat ia menang, persis ketika zaman manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya. 

Krisis Global 

Kalangan agamawan tidak bisa tinggal diam untuk terus berperan dalam mencegah krisis global. Selain itu, juga untuk menegaskan keberpihakan kepada kaum lemah. Globalisasi telah membuat yang lemah kian tersingkir. Globalisasi telah menjadi agama baru manusia modern. Seolah tidak ada yang bisa menolak. Seolah harus dipandang sebagai sebuah keniscayaan. Jika memang demikian, bagaimana agama berperan melindungi kaum miskin yang pasti hancur akibat globalisasi ini? 

Globalisasi bisa membawa kemajuan bila di dalamnya terdapat keadilan dan cinta kasih. Namun jika diorientasikan semata-mata untuk perolehan keuntungan dan persaingan, serta penghambaan buta kepada uang, maka globalisasi akan menjadi malapetaka karena hilang aspek keadilannya Ini tugas agama secara bersama-sama untuk memikirkan kembali tugas barunya, yakni menjawab persoalan yang dihadapi demi menyelamatkan dunia dari ambang kehancuran. 

Agama harus bersatu untuk memikirkan alternatif baru membangun tata dunia baru. Tata dunia yang ada sekarang adalah tata dunia ketidakadilan dan eksploitasi. Tata dunia seperti inilah yang membuat radikalisme agama akan muncul. Radikalisme hanya diatasi bila agama bersatu untuk merumuskan etika bersama. 

Etika itu menyangkut nilai-nilai kebersamaan yang orientasinya adalah memberdayakan kaum miskin dan tertindas. Kemiskinan itulah musuh bersama kaum beragama. Kemiskinan itulah yang membuat kemanusiaan tak berdaya menghadapi persaingan dunia. Di sini agama dituntut untuk mengubah wajahnya bukan lagi doktrinal, yang sibuk dengan klaim kebenaran. 

Agama harus mengubah wajahnya menjadi lebih profetis terhadap persoalan kehidupan manusia yang kompleks. Pengakuan ini penting demi terwujudnya dunia yang baru tanpa prasangka buruk terhadap yang lain. Cita-cita inilah seharusnya dijadikan titik temu dalam membangun kebersamaan. Hans Kung mengatakan tiada perdamaian sejati tanpa perdamaian di dalam agama itu sendiri. Semoga pertemuan merajut kebersamaan ini. ● 

Paus Fransiskus dan Era Baru


Paus Fransiskus dan Era Baru
Abdul Mu’ti ;  Sekretaris PP Muhammadiyah, Dosen IAIN Walisongo, Semarang 
KORAN SINDO, 18 Maret 2013
  

Sidang Konklaf gereja Katolik Roma akhirnya memilih Kardinal Jorge Mario Bergoglio dari Argentina sebagai paus ke-266 menggantikan Paus Benediktus XVI yang mengundurkan diri. 

Hasil pemilihan Sidang Konklaf ini memang agak mengejutkan. Bergoglio yang berusia 76 tahun termasuk sosok yang relatif muda. Dia pertama kali dikukuhkan sebagai kardinal pada 2001 oleh Paus Yohanes Paulus II. Terpilihnya Bergoglio membuka sejarah baru kepausan. Dia paus yang pertama kali menggunakan nama Fransiskus. Karena itu, dia “bergelar” Fransiskus. Walaupun memiliki darah Italia, Fransiskus adalah paus non-Eropa pertama sejak 1300 tahun sejarah kepausan. Selain itu, Fransiskus juga paus pertama dari kalangan Jesuit. 

Sosok Sederhana 

Lahir dari keluarga pegawai kereta api di perkampungan kelas menengah Flores, Argentina, Fransiskus adalah sosok yang sederhana dan dekat dengan rakyat kecil. Selama bertahun- tahun melayani umat di Argentina, khususnya Buenos Aires, Fransiskus dikenal sebagai figur pendiam, tetapi kritis. Sebagai seorang Jesuit, Fransiskus yang berlatar belakang pendidikan kimia terkenal cerdas dan mahir berbahasa Italia, Spanyol, dan Jerman. 

Meskipun sejak remaja hidup dengan satu paru-paru, Fransiskus selalu bepergian dengan bus umum dan sampai pada saat terpilih tinggal di apartemen sederhana. Pada 2001 dia mencuci kaki dan mencium seorang penderita AIDS. Hal ini menunjukkan kedekatan dan komitmennya dalam penyembuhan penyakit mematikan tersebut. Kedekatan dan kepedulian Fransiskus kepada rakyat kecil terekam jelas sejak dia bertugas di Argentina. 

Fransiskus memang dituduh terlibat melakukan pembiaran atas kekerasan yang terjadi selama “Dirty War” pada 1976-1983. Presiden junta militer waktu itu melakukan pembunuhan keji dan penahanan rakyat yang tidak berdosa. Fransiskus membantah tuduhan tersebut. Tetapi, Gereja Katolik Argentina meminta maaf kepada rakyat atas sikap gereja yang tidak tegas sehingga kekerasan terjadi. 

Tuduhan tersebut tidak membuat reputasi Fransiskus sebagai pemimpin agama yang prorakyat pudar. Di tengah kesenjangan ekonomi yang kian menganga di Argentina, Fransiskus berbicara lantang kepada Presiden Argentina Ernesto Kirchner. Menurut Fransiskus, pelanggaran hak asasi manusia (HAM) tidak hanya disebabkan oleh terorisme, penindasan, dan pembunuhan. 

Struktur ekonomi yang tidak adil sebagai penyebab kesenjangan sosial juga pelanggaran hak asasi manusia. Karena itulah, Fransiskus melarang rakyat Argentina terbang ke Roma hanya untuk merayakan pelantikannya sebagai paus. Daripada menghabiskan uang untuk membeli tiket pesawat, lebih baik dananya disumbangkan kepada rakyat miskin. Fransiskus salah seorang pendukung Liberation Theology di Argentina yang lekat dengan perjuangan melawan pemiskinan. 

Dari sisi keagamaan, Fransiskus seorang tokoh yang memegang teguh prinsip gereja. Dia menentang aborsi, pernikahan sesama jenis, dan adopsi anak oleh pasangan homoseksual. Pandangannya terhadap kontrasepsi cukup terbuka. Menurutnya, karena alasan kesehatan, penggunaan kontrasepsi diperbolehkan.

Arah Kepausan 

Dunia menyambut antusias atas terpilihnya Paus Fransiskus I. Dari Amerika Serikat, Presiden ObamamengharapkanagarPaus Fransiskus I dapat memajukan perdamaian, keamanan, penghormatan terhadap kemanusiaan yang universal tanpa memandang latar belakang iman. Harapan senada juga disampaikan Sekjen PBB Ban-Ki-moon. Selama kepemimpinan Paus Benediktus XVI, Vatikan telah menjalin kerja sama dan dialog antariman. 

Salah satu momentum penting adalah dialog Islam- Katolik yang diprakarsai Raja Abdullah. Sebagai seorang yang berpandangan terbuka, besar kemungkinan Paus Fransiskus I akan memperkuat program inter-faithsebagai prioritasnya. Yang tentu akan lebih kuat adalah keberpihakan gereja terhadap kaum papa. Di tengah krisis ekonomi yang mendera dunia, khususnya Eropa, jumlah orang miskin terus meningkat. 

Banyak kalangan berharap Paus Fransiskus akan melanjutkan perjuangannya sebagai “Paus Jalanan” yang melayani para gelandangan. Di tengah tata kehidupan ekonomi yang semakin sulit, peran penting gereja dalam memberantas kemiskinan dan melawan pemiskinan sangat diharapkan. Memang tidak akan mudah. Dilapangan, masalah pemberantasan dan pengentasan kemiskinan seringkali menjadi pemicu ketegangan. 

Tidak jarang, pelayanan sosial dituding sebagai alat misionaris berkedok bantuan kemanusiaan. Semua agama mengajarkan pentingnya kepedulian sosial, bantuan kemanusiaan, pencerdasan umat manusia, kesejahteraan hidup, dan perdamaian dunia. Kesamaan misi universal agama ini bisa menjadi jalan yang mempersatukan umat beragama. Di bawah kepemimpinan Paus Fransiskus I, sekitar 1,2 miliar umat Katolik sejagat akan menyambut arah baru kepausan dengan memperkuat dialog dan kerja sama antariman untuk kemanusiaan, persaudaraan, perdamaian, dan tata kehidupan yang adil-bermartabat. ●

Sabtu, 16 Maret 2013

Spirit Fransiscus dan Muslim


Spirit Fransiscus dan Muslim
Sumiati Anastasia  ;  Alumnus Program Master University of Birmingham,
Studi Relasi Islam-Kristen
JAWA POS, 16 Maret 2013

  
KARDINAL Jorge Mario Bergoglio akhirnya terpilih sebagai paus. Sebagaimana pemilihan paus terdahulu, liputan media kali ini begitu luar biasa. Ini menunjukkan betapa paus dan negara kecil Vatikan secara geopolitik memiliki posisi signifikan dalam percaturan global dewasa ini.

Menarik bahwa paus berdarah Italia dan berkebangsaan Argentina itu memilih nama Fransiskus. Sebagaimana dikutip CNN, pakar soal Vatikan John Allen berpendapat, nama Fransiskus itu merujuk pada salah seorang tokoh yang paling dihormati di Gereja Katolik, yakni Santo Fransiskus dari Asisi, Italia. Dia adalah lambang kerendahhatian, kesederhanaan, dan keberanian untuk melintas batas-batas agama (passing over) demi menjalin persaudaraan dengan semua orang.

Jika kita flashback dalam sejarah relasi Islam dan Kristen, Fransiskus punya peran monumental. Pada 1219, ketika Perang Salib tengah berkecamuk antara kaum Kristen dan kaum muslim guna memperebutkan hegemoni atas Yerusalem (Al-Quds), Fransiskus dengan ketulusan dan kerendahan hati pergi ke tepi Nil, Mesir, menemui Sultan Malik al-Khamil yang notabene adalah musuh gereja. Al-Khamil adalah keponakan Sultan Salahuddin Al Ayyubi (Saladin), pahlawan muslim legendaris melawan kaum salib.

Fransiskus hadir sambil mengaku diri sebagai orang Kristen. Tentu itu sebuah tindakan berani, mengingat ketika itu permusuhan sedang panas. Fransiskus ternyata diterima untuk berdiskusi beberapa hari dan membuktikan Islam ternyata cinta damai (Islam dari kata aslama, berarti damai). Bahkan, menurut situs www.hidupkatolik.com, Fransiskus sangat terkesan pada lantunan azan di tengah masyarakat muslim. Dia ingin penanda semacam itu dilakukan di wilayah kristiani. Digunakanlah lonceng angelus sore hari sebagai penanda doa.

Langkah ikhtiar damai yang diambil Fransiskus berhasil menginspirasi banyak pihak, terutama gereja, untuk mulai membuka diri dari eksklusivisme. Spirit hidup Fransiskus mewarnai gereja sehingga pada zaman ini gereja punya cara pandang baru terhadap Islam.

Cara pandang gereja yang positif dan apresiatif itu bisa dilihat dalam dokumen Nostra Aetate, yang merupakan salah satu hal penting dalam Konsili Vatikan II. Dalam dokumen Nostra Aetate yang diketok pada 28 Januari 1965, Gereja Katolik berani mengakui kebenaran dalam agama-agama lain. Bahkan, menyangkut relasinya yang buruk pada masa lalu, Gereja Katolik berani mengakui kesalahan dan mengajak setiap umat beragama ke depan untuk lebih berfokus mengusahakan saling pengertian, memajukan keadilan sosial, nilai-nilai moral, perdamaian, dan persaudaraan antarmanusia. 

Dokumen Konsili Vatikan II, antara lain, berbunyi: ''Orang-orang Islam yang mengikuti akidah Nabi Ibrahim menyembah bersama kita kepada Tuhan yang Tunggal, yang maha penyayang, yang akan mengadili manusia pada hari akhir.''

Teladan Kanjeng Rasul 

Nah, cara pandang positif itu sebenarnya sudah lama menjadi sikap dan cara hidup junjungan umat Islam Kanjeng Rasul Muhammad SAW. Pada abad VI, Kanjeng Rasul sudah mengajarkan bagaimana kita harus menyikapi perbedaan agama tanpa bersikap diskriminatif. Dalam hal interaksi dengan ''ahlul kitab'' (termasuk Kristen), Kanjeng Nabi sangat terkenal dengan toleransinya. Itu bisa dilihat dari adanya Piagam Madinah yang terkenal tersebut. 

Harold Coward juga menulis dalam bukunya Pluralisme-Tantangan bagi Agama-Agama bahwa, ''Muhammad memahami wahyunya sebagai kelanjutan dan pemenuhan dari tradisi alkitabiah Yahudi dan Kristen. Rasa hormat beliau terhadap tradisi alkitabiah sungguh diperlihatkan dalam ajarannya.''

Relasi Muhammad dengan orang Kristen dimulai sejak awal Islam. Pernah dikisahkan, suatu hari Khadijah mengajak Muhammad, suaminya, mengunjungi saudara sepupunya, Waraqah ibnu Naufal, yang menjadi rahib Kristen. Waraqah itulah yang menjelaskan makna kedatangan Gabriel atau malaikat Jibril sebagai isyarat bahwa Muhammad telah diangkat menjadi seorang rasul. 

Ketika sekarang seolah relasi antara Islam dan Kristen tengah memburuk, sebenarnya kita perlu melanjutkan spirit Nabi Muhammad dan spirit Fransiskus untuk saling mengapresiasi. Di tengah isu terorisme dan kekerasan yang menodai Islam dan memburukkan nama Islam di Barat, sehingga memunculkan islamofobia atau ketakutan terhadap Islam, Gereja Katolik justru menampilkan solidaritas kepada Islam. 

Bahkan, paus kerap mengecam pihak yang menghina Islam. Ketika meledak kemarahan karena kartun Nabi Muhammad dalam surat kabar Jyllands-Posten, Denmark, edisi 30 September 2005, Paus Benediktus XVI menyatakan, kebebasan berekspresi bukan berarti kebebasan menghina umat agama lain (Islam). Demikian juga di tengah kasus film The Innocence of Muslims di  Youtube yang jelas-jelas amat menghina pribadi Nabi Muhammad, Paus Benediktus menilai film itu merupakan produk yang tidak beradab.

Kita berharap Paus Fransiskus I juga melanjutkan kebijakan para pendahulunya yang apresiatif pada Islam, demi sebuah dunia yang lebih baik, damai, dan saling menghormati. Bagaimanapun, junjungan kaum kristiani, yakni Almasih, adalah salah satu rasul utama yang teguh hati atau ulul azmi bagi kaum muslim. ● 

Paus Baru Angin Segar dari Selatan


Paus Baru Angin Segar dari Selatan
Paul Budi SVD  ;  Rohaniwan Katolik, Berkarya di Roma
MEDIA INDONESIA, 15 Maret 2013


TERKEJUT, itulah reaksi pertama kebanyakan orang ketika mengeta hui siapa yang terpilih sebagai Paus ke-266 Gereja Katolik menggantikan Benediktus XVI yang mengundurkan diri 28 Februari lalu. Semua prediksi media massa ternyata meleset.

Para kardinal memutuskan memilih seorang kardinal yang tidak banyak tampil, kendati pernah disebut-sebut sebagai salah satu calon delapan tahun lalu, dalam konklaf yang akhirnya memilih Joseph Ratzinger sebagai paus.

Georg (Jorge) Bergoglio memang bukan orang media. Dia lebih banyak tampil dalam kesederhanaan tanpa banyak peliputan. Kendati demikian, dia membuat langkah-langkah yang berani untuk mendekatkan gereja dengan orang-orang miskin dan terpinggirkan.

Keprihatinan utamanya ialah jurang yang kian melebar antara yang kaya dan miskin, yang sangat nyata bukan hanya di Argentina dan negaranegara lain di Amerika Latin, melainkan juga kini menjadi realitas yang terjadi di Eropa dan Amerika Utara.

Baginya, option for the poor bukan cuma slogan yang perlu didengungkan dalam wejangan dalam ibadat atau renungan saleh untuk para pejabat agama. Keberpihakan gereja terhadap kaum miskin pun tidak disampaikan sebagai janji yang menghibur para miskin.

Georg Bergoglio mengambil langkah konkret untuk opsi itu. Saat menjadi Uskup Buenos Aires, Argentina, dia memutuskan untuk meninggalkan istana mewah yang telah disiapkan sebagai tempat tinggal uskup dan memilih tinggal di sebuah apartemen sederhana.

Jika bepergian, selama memungkinkan, dia menggunakan kendaraan umum. Sang kardinal pun lebih merasa nyaman disebut sebagai padre (bapa) Georg daripada dengan sapaan monsignore (tuanku).
Kesederhanaan seperti itu bukanlah sesuatu yang dibuatbuat. Sejak kecil dia sudah mengalaminya. Dia dilahirkan sebagai salah seorang dari tujuh anak sebuah pasangan imigran Italia. Ayahnya ialah seorang karyawan kereta api, ibunya mengurus rumah tangga. Dia dilahirkan 17 Desember 1936.

Tidak ada kemewahan di rumah. Keluarganya tidak termasuk dalam lingkaran keluarga turunan Eropa pemilik lahan kaya di Argentina. Cita-citanya ketika masih remaja ialah menjadi ahli kimia. Maka, setelah tamat SMA, dia pun melanjutkan studinya dalam bidang kimia dan menjadi insinyur kimia. Karena itu, dia dekat dan mengenal baik suka duka para mahasiswa yang harus berjuang menyelesaikan studi di perguruan tinggi umum.

Namun kemudian, dia memutuskan untuk bergabung dengan para Yesuit. Pendidikan dasarnya sebagai Yesuit dibuatnya di Cile. Di sana dia pun belajar psikologi dan sastra. Setelah kembali dari Cile, dia mengajar psikologi dan d sastra di Santa Fe dan Buenos s Aires. Studi teologi ditempuhnya pada 1967 sampai 1970.

Paham Kepahitan Umat

Georg Bergoglio yang ketika masih muda suka menari dan menjadi penggemar bola kaki ini ditahbiskan imam pada 1969. Setelah itu, dia diberi kepercayaan baik sebagai pengajar di seminari maupun sebagai pastor paroki. Dengan itu, dia memiliki pengalaman yang luas, yang amat diperlukan untuk menjadi pemimpin dalam gereja.

Seorang pemimpin perlu mengetahui dan berpengalaman dalam pendidikan para calon pastor. Akan tetapi, dia sejatinya akrab pula dengan kehidupan, kegembiraan dan harapan, kecemasan dan kepahitan yang dihadapi jemaat. Dengan latar belakang seperti itu, dia mulai diberi tugas kepemimpinan.

Mula-mula dalam serikat Yesuit, kemudian dalam hierarki gereja. Pada 1992 dia diangkat menjadi uskup pembantu di Auca Buenos Aires. Enam tahun kemudian, pada 1998 dia ditetapkan Paus Yohanes Paulus II menjadi Uskup Agung Buenos Aires, dan menjadi kardinal pada 2001. Ia juga pernah menjabat Ketua Konferensi Para Uskup Argentina (20052011). Di Vatikan dia antara lain menjadi salah satu anggota dewan kepausan untuk keluarga dan komisi kepausan untuk Amerika Latin.

Apakah latar belakang seperti itu merupakan sesuatu yang demikian istimewa sehingga pilihan para kardinal jatuh kepadanya, menyisihkan nama-nama yang santer terdengar dan tertulis di media massa? Boleh jadi yang menjadi pertimbangan utama para kardinal ialah apa yang mereka diskusikan sebagai tantangan utama gereja dewasa ini: evangelisasi baru.

Maksudnya, bagaimana mewartakan kembali pesan inti kekristenan kepada orang-orang yang pernah dibaptis, tetapi kemudian menjadi adem-adem dengan keyakinannya. Itulah realitas yang di hadapi gereja dewasa ini.
Secara kuantitas jumlah orang Katolik mencapai 1,2 miliar di seluruh dunia. Namun, sebagian besar dari mereka tidak lagi menghayati kekristenan secara sungguh-sungguh.

Apa yang dapat ditawarkan Paus Fransiskus I untuk program besar evangelisasi baru? Boleh jadi bukan dengan penampilan yang memukau di publik dan media massa seperti Yohanes Paulus II. Bukan pula dengan refleksi-refleksi mendalam sebagaimana dibuat Benediktus XVI.

Kesederhanaan dalam penampilan, sikap dan kata, serta keberpihakan yang jelas kepada orang-orang miskin dan tersisih, itulah semangat evangelisasi baru yang dibawa paus baru ini.

Seperti yang pernah dikatakannya, gereja telah mempunyai ajaran yang bagus. Sekarang bagaimana mempraktikkannya, dan praktik itulah yang menjadi daya gugah bagi orang-orang dewasa ini. Manusia modern tidak terutama merasa tertarik pada ajaran, tetapi pada kesaksian hidup yang sepadan dengan apa yang diajarkan.

Jika satu agama menyatakan diri sebagai agama kasih, karya-karya kasih mesti menjadi kekhasannya dalam praksis.

Bila satu agama menyerukan damai, dia mesti memelihara damai dan tidak menjadi penyulut kebencian dan kekerasan. Semangat dan sikap dasar itu tampak dalam nama yang dipilihnya, Fransiskus I. Paus pertama dari ordo Yesuit ini menggunakan sebuah nama yang sangat populer di kalangan orang-orang Kristen dan masyarakat luas.

Fransiskus dari Asisi ialah seorang tokoh pembaru gereja. Menurut cerita, dalam sebuah penglihatan di Asisi, Fransiskus mendapat pesan dari Kristus untuk memulihkan gereja yang sedang terancam kehancuran. Langkah untuk itu ialah kesederhanaan dan semangat kedermawanan. Fransiskus yang karena kesederhanaan yang radikal dapat menarik banyak kaum muda pada masanya, dan tetap menjadi idola orang-orang muda hingga sekarang.

Untuk menghadapi situasi gereja dewasa ini yang sedang menghadapi krisis kepercayaan karena terungkapnya berbagai skandal, tampaknya tidak ada contoh yang lebih tepat daripada tokoh dari Asisi ini. Pembaruan melalui semangat kesederhanaan dan kerendahan hati dalam bela rasa terhadap orang-orang yang miskin dan tersisih.

Gereja, dan agama mana pun, yang menghidupi semangat sederhana dan rendah hati akan dengan jujur mengakui kesalahannya di masa lalu dan mendengar anjuran yang disampaikan orang lain. Agama seperti itu pun akan lebih terbuka untuk bekerja sama dengan kelompok-kelompok lain, sebab dalam kesederhanaan dia sadar akan keterbatasan dirinya dan mengakui keharusan untuk berjejaring. Jika itu terjadi, gereja Katolik bersama agama-agama lain sungguh memberikan kontribusi besar bagi peningkatan mutu hidup umat manusia. ● 

Jumat, 15 Maret 2013

Makna Paus Baru Non-Eropa


Makna Paus Baru Non-Eropa
Paulus Mujiran  ;  Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan
Keluarga Soegijapranata Semarang
JAWA POS, 15 Maret 2013

  
SIDANG 115 kardinal di seluruh dunia atau konklaf di Kapel Sistina, Kompleks Basilika Santo Petrus, menghasilkan kejutan. Pada hari kedua atau putaran kelima pemungutan suara terpilih Kardinal Jorge Mario Bergoglio SJ sebagai paus baru untuk memimpin 1,2 miliar umat Katolik sedunia menggantikan Paus Emeritius Benediktus XVI. Pemilihan itu ditandai dengan mengepulnya asap putih dari cerobong asap Kapel Sistina, Rabu, 13 Maret 2013 pukul 01.10 WIB atau 18.10 waktu Roma. 

Munculnya asap putih langsung disambut tepuk tangan dan teriakan ribuan peziarah umat Katolik di lapangan Basilika Santo Petrus, Vatikan. Selain tepuk tangan, lonceng-lonceng basilika didentangkan menyambut terpilihnya paus baru. "Habermas Papam" (Kami memiliki paus baru) saat umat menunggu dengan melambaikan bendera dari seluruh dunia. 

Meski diyakini menjadi "kuda hitam" dalam pemilihan paus 2005 nama Jorge Mario Bergoglio tidak begitu dikenal. Demikian pula nama ini tidak difavoritkan untuk dipilih bila dibandingkan dengan para kardinal, seperti Marz Quellet (Kanada), Peter Tuckson (Ghana), atau Angelo Scola (Milan, Italia) yang menjadi dekan para kardinal. Dalam sejarahnya konklaf pemilihan paus memang selalu menghasilkan kejutan dan bertolak belakang dengan spekulasi media. 

Ini sejalan dengan adagium: siapa yang masuk sebagai "paus" justru akan keluar sebagai kardinal. Artinya, kardinal yang diharapkan menjadi paus justru tidak terpilih. Dalam sejarah gereja Katolik siapa yang "digadang-gadang" sebagai paus memang tidak terpilih kecuali Kardinal Joseph Ratzinger yang kemudian menjadi Paus Benediktus XVI. 

Jorge Mario Bergoglio SJ lahir pada 17 Desember 1936. Jorge menjabat Uskup Agung Buenos Aires sejak 1998 dan diangkat menjadi kardinal Argentina pada 2001 dan konklaf 2013 memilihnya menjadi paus ke-266. Nama Francis yang disandangnya merupakan sikap hormatnya kepada Santo Franciscus dari Asisi, Italia (1181-1182). Santo Franciscus Asisi dikenal sebagai sosok yang sangat peduli kepada rakyat miskin. 

Paus Francis I yang baru saja terpilih mendapat sambutan positif dari penjuru dunia. Presiden AS Barack Obama menyampaikan salam hangat dan harapan agar paus baru melanjutkan pendahulunya dalam menggalang dialog perdamaian. Paus baru diharapkan melanjutkan dalam memelihara perdamaian, terutama relasi Islam-Kristen. Paus Fransiskus dikenal sebagai orang yang sederhana dan penuh kasih dalam melayani kaum papa miskin di Amerika Latin.

Terpilihnya paus dari Argentina atau non-Eropa pertama di era modern tentu mengirim pesan bahwa pembaruan dan penyegaran gereja harus dimulai dari negara-negara Amerika Latin yang masih harus berjuang dengan kemiskinan dan ketidakadilan. Jika Paus Benediktus XVI cenderung antifeminisme dan teologi pembebasan, gereja-gereja di Amerika Latin justru menjadikan teologi sebagai ajang pembebasan dari ketertindasan politik dan kemiskinan. 

Kesederhanaan paus -konon memasak sendiri di apartemennya- tentulah memberikan keteladanan bagaimana gereja harus berpihak kepada persoalan kemiskinan. Hal itu harus dimulai dari para pemimpinnya.

Di internal gereja Katolik terpilihnya paus baru memberikan harapan bagi penyegaran dalam kehidupan beriman. Kemerosotan kualitas dan kuantitas hidup beriman di seluruh dunia sudah barang tentu menjadi gejala dan perhatian serius. Skandal seks sesama jenis, pedofilia, dan korupsi menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan. Lunturnya hidup beriman yang ditandai berkurangnya jumlah umat, merosotnya panggilan imam dan biarawan/wati serta kosongnya gereja pada hari Minggu menjadi tantangan serius. Paus baru terpilih di tengah anomali antara gereja Katolik konservatif yang setia pada ajaran-ajaran iman dengan modernisasi dan menggejalanya konsumerisme. 

Pada saat yang sama Paus Francis I diharapkan mampu "menambal" beberapa kekurangan Paus Benediktus XVI, terutama soal administrasi. Kebocoran dokumen rahasia Tahta Suci dan skandal sesama jenis yang menimpa seorang kardinal di lingkaran Vatikan kiranya menjadi koreksi. Paus baru diharapkan lebih tertib administrasi sekaligus bersikap tegas terhadap isu-isu aktual, seperti perkawinan sesama jenis yang ditolak keras oleh pendahulunya Benediktus XVI. 

Selama ini Bergoglio dikenal sebagai orang lurus dan konservatif. Dia berdebat dengan Presiden Argentina Cristina Fernandes de Kirchner soal perkawinan sesama jenis dan peredaran alat kontrasepsi. Paus Benediktus XVI menyebut feminisme merusak martabat keluarga. Terhadap skandal pedofilia yang menimpa beberapa pastor di Amerika Serikat dengan terbuka Paus Benediktus XVI menyampaikan penyesalan dan meminta maaf. 

Itulah sebabnya, paus baru di era modern ini mesti tampil dengan sikapnya yang konservatif, tetapi juga mampu berdiri di atas semua kepentingan. Bagi Indonesia, umat Katolik, terpilihnya paus dari sesama negara berkembang tentu menjanjikan harapan. Harus diakui, negara-negara berkembang menjadi tumpuan gereja Katolik semesta di masa mendatang, terutama kepedulian terhadap soal kemiskinan. 

Umat Katolik di negara berkembang menemukan Paus yang senasib dengan persoalan yang dihadapi mayoritas umat. Paus non-Eropa di era modern ini tentu menjadi inspirasi bagi negara-negara di belahan Amerika Latin, Afrika, dan Asia. Kiprah Paus baru memang masih harus dibuktikan dalam periode kegembalannya. Tetapi, gereja Katolik Indonesia lega karena sang Gembala itu akhirnya terpilih dan berarti perayaan Paskah mendatang kita sudah memiliki paus. Selamat datang Paus Francis I! 
●