Minggu, 30 Agustus 2026

 

Bagaimana Merencanakan Pembangunan Rumah di Gang Sempit

Savero Aristia Wienanto :  Jurnalis Tempo.

TEMPO HARIAN,  29 Agustus 2026

 

 

 

·      Arsitek Yu Sing memberikan tip dan trik pembangunan rumah di lahan sempit, termasuk di dalam gang.

 

·      Menurut dia, kehebatan dan keindahan desain arsitektur akan kalah dengan keindahan ciptaan Tuhan, yaitu pohon.

 

·      Bila anggaran kurang, sejak awal direncanakan rumahnya sebagai rumah tumbuh.

 

GANG sempit tak selalu menjadi batas bagi sebuah rumah untuk tampil estetik. Di antara jalan selebar tubuh dan deretan permukiman padat, arsitek justru dituntut mencari cara agar ruang tetap nyaman, terang, dan memiliki karakter. Keterbatasan lahan memaksa setiap meter persegi dipikirkan dengan cermat, dari tata letak ruang, bukaan, ventilasi, hingga pemilihan material.

 

Rumah di gang sempit tak harus identik dengan ruang pengap dan gelap. Untuk mendapatkan hunian yang nyaman sekaligus estetik, persoalannya bukan semata-mata soal luas bangunan. Perhitungan desain, kondisi tapak, material, hingga anggaran menjadi bagian yang saling berkaitan.

 

Arsitek Yu Sing telah menghadapi persoalan serupa jauh sebelum rumah-rumah mungil di gang menjadi perbincangan. Pada 2012, ia membangun Rumah Uway di Bandung, Jawa Barat, dengan luas hanya 2 x 24 meter persegi. Pada tahun dan wilayah yang sama, Yu Sing juga mengerjakan sebuah rumah seluas 34,5 meter persegi yang berdampingan dengan Warung Sitinggil seluas 67,4 meter persegi.

 

Bagi Yu Sing, pendiri Studio Akanoma yang dikenal berfokus pada arsitektur berkelanjutan dan rumah murah, lahan yang terbatas bukan alasan untuk mengabaikan kualitas ruang. Justru dari keterbatasan itulah kebutuhan penghuni, kondisi iklim, fungsi setiap ruang, serta hubungan rumah dengan lingkungan sekitar harus dirumuskan sejak awal.

 

Dalam percakapan dengan Tempo, ia membagikan sejumlah pertimbangan untuk membangun rumah estetik di gang sempit, dari pencahayaan dan ventilasi alami hingga cara menyiasati ruang, material, serta anggaran.

 

Berikut petikan wawancaranya:

 

Apa yang membuat sebuah rumah menjadi estetik?

 

Estetika ini sebetulnya bukan standar pasti dan sangat relatif. Namun saya setuju dan menganut standar estetika yang disampaikan Romo Mangunwijaya bahwa keindahan adalah pancaran dari kebenaran. Kalau benar, pasti indah. Benar dalam hal ini banyak aspeknya, misalnya sesuai/adaptif iklim, tata ruang rumah sehat, penggunaan material sesuai dengan spesifikasinya, struktur rumahnya adaptif gempa dan rapi, proporsi sesuai dengan fungsinya, sistem sanitasi dan air bersih yang baik, dll. Tanpa acuan kebenaran, sering kali estetika yang disebut banyak orang sifatnya hanya tempelan, tidak substantif, dibuat-buat, atau hanya bersifat sementara, lalu setelah beberapa bulan atau tahun tidak terlihat indah lagi.

 

Unsur apa yang paling penting dalam arsitektur rumah estetik?

 

Apa pun kehebatan desain arsitektur, keindahannya akan kalah dengan keindahan ciptaan Tuhan, yaitu pohon. Pohon akan membuat lingkungan menjadi indah, teduh, segar, ekosistem lebih kompleks, air tanah terjaga, dll. Tanam pohon: cara paling ampuh untuk meningkatkan keindahan rumah dan sekaligus punya banyak tambahan manfaat positif.

 

Apa hal utama yang harus dipertimbangkan dalam membangun rumah estetik?

 

Paling utama standar rumah sehat dulu. Untuk konteks Indonesia, pencahayaan dan ventilasi alami di semua ruangan, termasuk kamar mandi. Justru kamar mandi itu ruang yang paling lembap, berarti paling membutuhkan ventilasi dan pencahayaan yang baik agar tetap sehat.

 

Bagaimana jika dibangun di lahan sempit?

 

Walaupun lahannya kecil, tetap diperlukan ruang terbuka agar ventilasi dan pencahayaan bisa lancar. Ruangan yang nyaman tidak bergantung pada ukurannya yang lebih besar, tapi pada pengalaman ruangnya. Penempatan ruang-ruang terbuka membuat kualitas ruang meningkat lebih baik daripada ruangan besar tapi pengap. Kadang kala kami menyisakan hanya 30 sentimeter di samping lahan, menjadi taman kering dalam rumah, agar rumah tidak menempel dengan tetangga dan ventilasi pencahayaan lancar. Pada ruang terbuka, penting juga menanam pohon sesuai dengan besar kecilnya ruang terbuka. Baik pohon rambat, perdu, ataupun pohon besar yang akarnya tunggang atau tidak merusak bangunan.

 

Bagaimana cara mendapatkan suhu ideal?

 

Insulasi atau desain penahan panas matahari pada atap atau dinding juga penting agar rumah bisa lebih teduh. Ventilasi termasuk memikirkan bagaimana udara panas yang masuk atau ada di dalam rumah bisa dibuang keluar dan udara dingin bisa leluasa masuk. Karena itu, diperlukan ventilasi silang–dengan dua atau lebih bukaan pada sisi dinding berbeda.

 

Bagaimana dengan penyesuaian desain ruangan?

 

Pada lahan terbatas, ukuran ruangan juga harus didesain seefisien mungkin dengan proporsi ruang yang tepat. Misal ruang tidur kecil saja karena fungsi utamanya hanya untuk tidur. Misalnya ukuran kamar anak bisa dibuat hanya 1,2 m x 2-3 m. Ini juga berhubungan dengan penyesuaian barang-barang yang lebih sedikit/seperlunya. Bahkan mungkin juga kamar anak didesain bertumpuk seperti hotel kapsul. Ukuran ruang-ruang yang kecil, seperti kamar tidur dan kamar mandi, memberikan kesempatan ruang keluarga multifungsi menjadi cukup besar. Kalau lebih dari satu lantai, lebar tangga tidak perlu 1 meter, minimal 60 sentimeter saja sudah cukup.

 

Sebagai arsitek, kesulitan apa saja yang paling sering Anda temui dalam membangun rumah mini di gang sempit tapi harus tetap estetik?

 

Paling sulit sebetulnya keterbatasan anggaran. Kalau anggaran cukup besar, desain terbuka dengan banyak kemungkinan eksplorasi. Desain lebih mudah bila anggaran lebih besar. Sering kali pada lahan sempit, justru anggarannya pun kurang. Sedangkan kerelaan pemilik untuk beradaptasi dengan rumah kecil sering kali belum sinkron.

 

Anda dikenal sebagai arsitek yang mengedepankan konsep ramah lingkungan. Apa gagasan utama yang Anda tawarkan?

 

Paling utama adalah rumah sehat dengan syarat minimal ventilasi dan pencahayaan alami. AC hanya sebagai pilihan, bukan yang utama. Walaupun terpaksa pakai, nyalanya hanya sebentar.

 

Lebih banyak pohon akan lebih baik karena pohon dapat menurunkan suhu lingkungan atau minimal mengurangi penyimpanan panas pada semua material perkerasan pada halaman, dinding, atau atap bangunan. Penanaman pohon lebih berdampak pada penurunan suhu lingkungan daripada bangunan hijau.

 

Bila kondisi tanah memungkinkan, sumur resapan sangat diperlukan untuk mengurangi banjir. Bahkan lebih baik lagi kalau rumah berupa panggung. Lantai dasar rumah tidak menempel tanah. Kolong rumah dibiarkan kosong, material tanah sangat baik menyerap kelembapan untuk mengatasi iklim tropis lembap. Bila kolong rumah bersih/kosong dengan tinggi minimal 60 cm, tidak akan jadi sarang binatang dan bisa dibersihkan bila perlu. Bisa juga sekeliling kolong rumah ditutup loster/kawat galvanis agar binatang liar tidak masuk.

 

Material yang awet juga penting, apalagi kalau bisa menggunakan banyak material lokal.

 

Bagaimana tip memperhitungkan bujet untuk membangun rumah estetik di dalam gang?

 

Anggaran ini yang paling sulit. Namun prinsipnya jangan percaya harga yang jauh di bawah harga pasar. Patokannya adalah luas rumah dikali harga pasar per meter persegi. Bila harganya terlalu rendah di bawah harga pasar, pasti banyak yang dikorbankan, misalnya kualitas, keawetan, sampai desain yang membuat rumah pengap dan tidak sehat. Tip lain, bila anggaran kurang, sejak awal direncanakan rumahnya sebagai rumah tumbuh. Anggaplah tahap awal hanya membangun 1-2 kamar kos sudah cukup, lalu nanti bisa bertumbuh. Kalau direncanakan sejak awal, desainnya bisa dipikirkan agar, ketika tumbuh, tidak banyak bongkaran atas apa yang dibangun lebih dulu.

 

Bagaimana dengan waktu pengerjaan?

 

Waktu pengerjaan sangat bergantung pada sistem bangunan konvensional atau pracetak/prefabrikasi ataupun penyediaan anggaran. Makin banyak tukang yang mengerjakan, makin cepat, tapi risiko kebocoran anggaran juga makin besar. Tukang sedikit bisa lebih lama, tapi anggaran bisa lebih efisien. ●

                                                                                

Sumber : https://www.tempo.co/teroka/filosofi-dan-perhitungan-harga-pembangunan-rumah-dalam-gang--2284380

 

 

 

 

 

Tinggal di Gang Sempit Rumah Tetap Estetik

Savero Aristia Wienanto :  Jurnalis Tempo.

TEMPO HARIAN,  29 Agustus 2026

 

 

 

·      W House dibangun di gang sempit dengan memanfaatkan lahan seluas 45 meter persegi.

 

·      Kedekatan dengan stasiun Yogyakarta menjadi alasan pemilik Omah Manyar membangun rumah di gang.

 

·      Rumah di gang menjadi pilihan bagi mereka yang ingin tetap tinggal di tengah kota.

 

DI sebuah gang sempit di kawasan Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, sebuah rumah terlihat berbeda dengan hunian di sekitarnya. Rumah tiga lantai yang dinamai W House itu di bangun secara vertikal di atas lahan selebar 3 meter dan sepanjang 15 meter. Warna putih dan abu-abu mendominasi fasadnya yang minimalis.

 

Butuh waktu sekitar 5 menit berjalan kaki dari jalan raya ke arah selatan untuk mencapai W House, melewati gang meliuk yang lebarnya sekitar 1 meter. Hanya sepeda motor yang bisa melewati tiap tikungan yang bertebaran di permukiman ini.

 

Meski berada di permukiman padat, rumah milik seorang penata busana ini mendapat pencahayaan yang cukup dan sirkulasi udara yang lancar. Di lantai paling atas, tak jauh dari kamar utama, terdapat rooftop menjadi ruang terbuka tambahan.

 

W House merupakan bangunan yang dirancang Scala Design. Perancangnya ialah arsitek Mazharulhaq Mattugengkeng, Siti Nurhasanah, Hans Ramadiyansyah, dan Dimas Rendi Putranto. Mazharulhaq mengatakan rumah tersebut dibangun pada 2021, ketika pandemi Covid-19 masih merebak. Proses desain dimulai sebelum pandemi, tapi rencana pembangunan pernah ditunda. “Pembangunannya delapan bulan sampai setahun,” kata Mazharulhaq kepada Tempo pada Jumat, 28 Agustus 2026.

 

Bangunan itu berdiri di atas lahan bekas rumah satu lantai yang dibongkar total. Pertimbangan dalam merancang tampilan bangunan ialah tetap modern tanpa terlalu menonjol di tengah permukiman. “Rumah itu kami desain enggak mau terlalu mencolok, makanya warnanya abu-abu aja. Lalu bentuknya juga kayak rumah monokrom,” ujar Mazharulhaq.

 

Keterbatasan lahan menjadi tantangan utama. Pemilik rumah hanya membutuhkan ruang keluarga, dapur, area kerja, kamar utama, dan kamar tamu. Karena itu, Mazharulhaq memilih konsep open layout dengan sekat seminimal mungkin.

 

Lantai pertama menjadi area publik dengan ruang keluarga di bagian depan dan dapur di belakang. Area kerja sekaligus workshop untuk aktivitas fashion berada di lantai dua bersama kamar tamu. Lantai ketiga digunakan sebagai kamar utama dan rooftop.

 

Massa bangunan dibagi menjadi bagian depan dan belakang. Bagian belakang dibuat dengan konsep split level. Di antara keduanya terdapat tangga spiral yang sekaligus berfungsi sebagai atrium untuk memasukkan cahaya dan mengalirkan udara ke bagian tengah rumah.

 

Menurut Mazharulhaq, lubang di tengah bangunan diperlukan karena bentuk rumah yang memanjang membuat pencahayaan dan sirkulasi udara tidak cukup hanya mengandalkan bagian depan dan samping.

 

Desain tersebut membuat hampir semua ruangan memiliki akses terhadap cahaya dan udara alami. Mazharulhaq sengaja mengurangi ketergantungan pada pendingin udara dengan memastikan terjadinya ventilasi silang dan memanfaatkan bukaan di berbagai sisi bangunan. “Kami ingin menghadirkan desain dengan standar kenyamanan untuk udara dan pencahayaan alami,” tuturnya.

 

Menurut Mazharulhaq, tantangan terbesar pembangunan rumah di gang sempit adalah akses material. Lebar jalan membatasi kendaraan yang bisa masuk sehingga material harus dikirim menggunakan kendaraan kecil dan dipindahkan secara bertahap ke lokasi.

 

“Aksesnya kecil gitu. Jadi harga bangunnya lebih besar karena memang waktunya lebih panjang. Masukin material ke sini aja udah menantang banget,” ucapnya.

 

Peran Media Sosial

 

Rumah di dalam gang menjadi pilihan bagi sebagian warga yang ingin tetap tinggal di tengah kota. Hunian ini menawarkan kemudahan akses untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Kedekatan dengan tempat kerja, transportasi publik, pusat belanja, sekolah, hingga tempat makan membuat waktu tempuh menjadi pertimbangan penting.

 

Survei JakPat terhadap 1.194 responden generasi Z pada 2023 menunjukkan 79 persen mempertimbangkan lokasi dan akses ketika memilih properti, termasuk kedekatan dengan pusat kota dan fasilitas publik. Rumah di gang sempit menjadi semacam kompromi: lahan yang didapat mungkin terbatas, tapi penghuninya tetap dekat dengan pusat aktivitas harian.

 

W House hanya satu dari banyak rumah cantik yang nyempil di gang. Belakangan unggahan tentang rumah-rumah mungil nan estetik di gang sempit kian ramai berseliweran di Instagram, TikTok, dan YouTube. Video house tour yang memperlihatkan lorong sempit sebelum membuka pintu ke ruang tamu yang rapi dan bergaya menarik perhatian karena menghadirkan kontras yang tak terduga.

 

Ketika harga tanah dan hunian di Jakarta kian meroket, juga ketika hunian di daerah pinggiran memberi tantangan kemacetan dan waktu tempuh, rumah di dalam gang menjadi salah satu alternatif yang kian dilirik.

 

Keterbatasan lahan kemudian disiasati melalui desain yang efisien dan perhatian pada detail. Dengan bantuan arsitek atau referensi dari platform visual seperti Pinterest, rumah mungil di dalam gang dapat diolah menjadi hunian yang nyaman sekaligus menarik secara estetika. Ruang yang terbatas mendorong pemilik memaksimalkan setiap sudut, sementara permainan cahaya, material, warna, dan tata letak membuat rumah yang berada di gang sempit tidak lagi identik dengan hunian seadanya.

 

Media sosial turut mengubah cara rumah-rumah semacam ini dipandang. Konten renovasi, dekorasi, dan house tour memperlihatkan proses mengubah lahan terbatas menjadi hunian yang memiliki karakter. Video yang dimulai dari lorong sempit lalu berakhir pada interior yang tertata apik menciptakan kejutan sekaligus inspirasi.

 

Keunikan Omah Manyar

 

Fenomena rumah estetik di gang juga bermunculan di daerah. Di Yogyakarta, misalnya, rumah seperti ini salah satunya bisa ditemui di Tegalrejo, Yogyakarta. Omah Manyar namanya. Bangunan tersebut memanfaatkan material bekas, mengutamakan ventilasi alami, serta menyisakan ruang terbuka di antara dua massa bangunan.

 

Pemilik Omah Manyar, Yus Ardhiansyah, mengatakan lokasi rumah itu dipilih salah satunya karena dekat dengan stasiun. Saat masih tinggal di Jakarta, ia kerap bolak-balik ke Yogyakarta pada akhir pekan. “Jadi pertimbangan lokasinya lebih ke soal itu, akses terhadap stasiun gitu, ya,” kata Yus kepada Tempo.

 

Arsitek Omah Manyar ialah Titik Puji Lestari, istri Yus. Rumah itu mulai dibangun pada 2019 di atas lahan yang sebelumnya ditempati rumah limasan kayu. Bangunan lama tersebut kemudian dibongkar, sementara bagian tertentu, seperti pagar dan genteng, dimanfaatkan kembali. Pembangunan sempat terhenti ketika pandemi Covid-19 terjadi dan pembatasan aktivitas berlangsung.

 

Yus mengatakan keluarganya mulai menempati lantai bawah pada Agustus 2020, meski lantai dua belum sepenuhnya selesai. Pemasangan pintu dan jendela dilakukan secara bertahap hingga beberapa ruangan dapat digunakan.

 

Omah Manyar terdiri atas dua massa bangunan yang dipisahkan taman. Di dalamnya terdapat dua kamar, ruang kerja, ruang keluarga, dapur, serta beberapa area servis.

 

Menurut Yus, ruang terbuka yang luasnya relatif seimbang dengan ruang terbangun menjadi salah satu karakter utama rumah tersebut. Keberadaan taman juga berfungsi sebagai bagian dari sistem sirkulasi udara. “Sejak awal saya memang request, kalau bisa, banyak area hijau-hijauan, area taman gitu, ya,” ujarnya.

 

Omah Manyar tidak menggunakan penyejuk udara. Yus mengatakan desain rumah mengandalkan ventilasi silang dengan memanfaatkan banyak bukaan pada pintu dan jendela. Kamar mandi juga dirancang menjadi bagian dari sistem pertukaran udara. Pada bagian kamar tamu, sejumlah panel pintu dan kisi-kisi juga dibuat agar pertukaran udara berlangsung lebih lancar.

 

Lebih lanjut, Yus mengatakan ingin tanaman lebih menonjol dibanding bangunan karena rumah berada di tengah kampung. “Kami tidak ingin menonjol,” tuturnya. “Keberadaan pohon itu juga menjadi sangat signifikan, terutama di cuaca yang panas,” ia mengimbuhkan.

 

Omah Manyar juga menggunakan sekitar 90 persen pintu dan jendela bekas. Yus menyebutkan sebagian pintu dan jendela bahkan sudah dimiliki sebelum gambar rumah dibuat. Material tersebut kemudian disesuaikan dengan rancangan bangunan.

 

Menurut Yus, konsep rumah itu dipengaruhi tiga pendekatan: arsitektur tropis, Jepang, dan brutalisme. Arsitektur tropis diterapkan melalui naungan dan ventilasi. Pengaruh Jepang terlihat antara lain pada jendela bundar yang terinspirasi oleh Nakagin Capsule Tower di Tokyo serta penyimpanan sandal di dekat pintu.

 

Sementara itu, brutalisme terlihat dari keputusan menampilkan material mentah. Posisi tangga di luar bangunan juga menjadi salah satu elemen yang terinspirasi oleh pendekatan tersebut.

 

Namun pembangunan rumah di dalam gang menghadirkan tantangan sendiri. Yus mengatakan persoalan utama terletak pada suplai material karena kendaraan besar tidak dapat masuk ke gang. “Suplai material itu kan enggak bisa pakai kendaraan-kendaraan besar. Jadi memang pakai mobil-mobil kecil,” tuturnya. ●

 

Klik links Lampiran “Tinggal di Gang Sempit Rumah Tetap Estetik” berikut :

https://images-tm.tempo.co/all/2026/08/28/919886/919886_1200.jpg

https://images-tm.tempo.co/all/2026/08/28/919887/919887_1200.jpg

https://images-tm.tempo.co/all/2026/08/28/919862/919862_1200.jpg

https://images-tm.tempo.co/all/2026/08/28/919853/919853_1200.jpg

                                                                                         

Sumber : https://www.tempo.co/teroka/rumah-estetik-di-gang-permukiman-padat-2284365