Senin, 24 Agustus 2026

 

Wawancara Jokowi tentang Prabowo hingga Pemilu 2029

Stefanus Pramono :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 23 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Jokowi sering bertemu dengan konglomerat dan politikus. Ada yang mengeluhkan kondisi saat ini.

 

·      Ia pernah memberi saran penanganan demonstrasi Agustus 2025 kepada Presiden Prabowo.

 

·      Jokowi juga menjelaskan soal kemerosotan demokrasi pada masa pemerintahannya.

 

DI sela-sela kunjungan mantan presiden Joko Widodo ke Lampung pada Sabtu, 27 Juni 2026, ajudannya, Syarif Muhammad Fitriansyah, menghubungi jurnalis Tempo, Francisca Christy Rosana. Polisi berpangkat ajun komisaris besar itu mengatakan Jokowi ingin bertemu dengan tim siniar Bocor Alus Politik (BAP) di Solo, Jawa Tengah.

 

Dalam hitungan menit, kabar itu meriuhkan grup WhatsApp BAP. Siang itu juga kami mengadakan rapat online. Pertanyaan pertama yang muncul dalam diskusi itu sederhana: akankah kami menerima tawaran tersebut? Empat jurnalis Tempo yang juga host BAP, yakni Francisca alias Cica, Hussein Abri Dongoran, Raymundus Rikang, dan Stefanus Pramono, satu suara setuju bertemu dengan Jokowi.

 

Sudah lama kami ingin mewawancarai Jokowi. Ia tokoh politik yang setara dengan Presiden Prabowo Subianto dan dua mantan presiden lain, yaitu Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono. Sejak Prabowo memimpin, baru Yudhoyono yang mau kami wawancarai. Itu pun secara tertulis.

 

Terakhir kali Jokowi menerima permintaan wawancara Tempo pada Agustus 2019. Setelah itu, ia tak menanggapi tiap permintaan wawancara khusus meski kami berulang kali menulis tentang kebijakan dan manuvernya. Sejak Jokowi menjadi presiden hingga pensiun pada 20 Oktober 2024, Tempo telah 113 kali menampilkan wajah dan sosoknya di halaman muka dalam bentuk karikatur atau foto.

 

Setelah Jokowi pensiun, kami masih menjadikannya sebagai laporan utama. Terakhir pada edisi 21 Juni 2026 dengan judul cover “Panas-Dingin Prabowo-Jokowi”. Edisi itu bercerita soal relasi yang memburuk antara Jokowi dan penerusnya. Lagi-lagi permintaan wawancara yang dikirim lewat Syarif tidak mendapat tanggapan.

 

Tentu kami tidak memberikan cek kosong kepada Jokowi. Bagaimanapun, ia tokoh politik yang tak ujug-ujug menerima permintaan wawancara jurnalis. Apalagi di tengah relasinya dengan Presiden Prabowo yang mulai merenggang. Kami pun berusaha mencari tahu motif politik di balik keinginan Jokowi.

 

Dua orang dekatnya bercerita, Jokowi sempat bertanya kepada beberapa koleganya soal rencana menerima permintaan interviu Tempo. Jokowi masih ragu karena kami kerap mengkritiknya. Ia mendapat saran menerima tim Tempo karena bisa berdampak positif untuk citranya, yaitu bersedia meladeni wawancara dengan media yang selama ini gencar mengkritiknya.

 

Akhirnya Syarif mengatakan Jokowi bisa bertemu pada Rabu, 22 Juli 2026. Selama sekitar dua jam, Jokowi meladeni pertanyaan empat host BAP. Ia memberikan berbagai informasi off the record. Di ujung pertemuan, Jokowi menyatakan bersedia diwawancarai secara on the record. “Tapi saya tidak mau menjawab soal kebijakan Presiden Prabowo. Tidak etis,” katanya.

 

Pertemuan di Solo pun viral—mungkin juga sengaja diviralkan oleh media dan kreator konten yang selama ini meliput di depan rumah Jokowi. Banyak yang penasaran. Tak sedikit yang menyayangkan karena Tempo selama ini dikenal kritis kepada Jokowi.

 

Syarif meminta daftar pertanyaan. Semuanya diterima, kecuali soal kebijakan pemerintah. Ajudan Jokowi juga sempat menanyakan kemungkinan melihat hasil penyuntingan tayangan Bocor Alus sebelum dirilis. Tentu saja permintaan itu kami tolak.

 

Pada Ahad, 9 Agustus 2026, Syarif menyatakan Jokowi bersedia menerima permintaan wawancara on the record dua hari lagi atau Selasa, 11 Agustus 2026. Menurut Syarif, Jokowi akan mengosongkan waktu satu hari, tapi sesi wawancara di depan kamera dibatasi hanya 30 menit. Nyatanya, interviu berjalan selama sekitar 1 jam 15 menit. Selama wawancara, Jokowi sama sekali tak menyentuh teh hangat yang tersaji di depannya.

 

Dalam wawancara, Jokowi beberapa kali menggetarkan kaki sehingga membuat tubuhnya goyah ketika menjawab pertanyaan. Ia menjelaskan manuver politiknya selama dan setelah menjadi presiden. Misalnya keterlibatan dia serta istrinya dalam pencalonan dan pemenangan putra mereka, Gibran Rakabuming Raka, sebagai wakil presiden. Jokowi juga membeberkan hubungannya dengan Presiden Prabowo dan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri

 

Kami juga tetap menanyakan program Prabowo, meski tim Jokowi sempat meminta tak membahas topik tersebut. Pertanyaan mengenai kebijakan Prabowo, seperti makan bergizi gratis dan koperasi merah putih, disisipkan ketika membahas situasi ekonomi dan penurunan tingkat kepuasan publik terhadap Ketua Umum Partai Gerindra itu. “Jangan pemerintahan terus,” ujar Jokowi ketika rehat wawancara.

 

Wawancara dalam versi cetak dan digital memiliki beberapa perbedaan dengan tayangan Bocor Alus Politik. Versi tertulis mengalami penyuntingan agar percakapan lebih mengalir tanpa mengubah substansi. Wawancara ini juga dilengkapi dengan penelusuran kami terhadap jawaban Jokowi.

 

Anda pernah bilang akan kembali ke Solo sebagai rakyat biasa. Nyatanya, Anda terus berpolitik.

 

Saya sudah kembali ke Solo sebagai rakyat biasa, jadi orang kampung, orang daerah. Saya ingin sedikit berkontribusi pada kehidupan sosial-politik di lingkungan saya, di daerah, mungkin di tingkat nasional.

 

Mengapa Anda menerima banyak sekali tamu?

 

Rumah saya terbuka untuk siapa pun. Pintu depan, pintu belakang, pintu samping terbuka untuk siapa pun, apalagi untuk Bocor Alus Politik.

 

Selama Anda berkuasa, Tempo lebih dari 100 kali memuat wajah Anda. Isi laporannya mengkritik Anda.

 

Yang sering komplain cucu saya. “Mbah, kok digambar seperti itu.” Buat saya biasa saja. Katanya demokrasi.

 

Banyak tamu datang diam-diam?

 

Saya ngomong apa adanya, ya. Ada yang datangnya siang secara terbuka, tapi ada juga yang minta datang malam karena tidak mau terekspos.

 

Sejumlah menteri kabinet Prabowo juga berkunjung ke rumah Anda. Apa saja yang Anda bicarakan?

 

Dengan para menteri, saya membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan tugas beliau-beliau. Kalau urusan ekonomi, bicara soal pertumbuhan ekonomi, inflasi, neraca perdagangan, dan neraca pembayaran.

 

Kami mendapat informasi, banyak konglomerat juga menemui Anda.

 

Karena mereka pelaku bisnis, ya, berbicara mengenai investasi, ekonomi, umum saja. Enggak mungkin konglomerat berbicara mengenai politik.

 

Kabarnya mereka mengeluh karena dipaksa membeli Patriot Bond....

 

Enggak sampai ke hal yang sangat teknis seperti itu. Saya juga enggak akan ikut campur ke masalah itu karena wilayahnya sudah berbeda. Saya bukan pejabat pemerintah lagi. Kalau itu, ya, berbicara kepada pemerintah, kepada Presiden Prabowo.

 

Sejumlah kepala daerah mengaku bertemu dengan Anda dan mengeluhkan kondisi saat ini karena dana transfer ke daerah dipotong signifikan. Pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik di daerah menjadi terganggu.

 

Ya, saya dengar. Yang datang ke sini kan bukan hanya satu, dua, tiga, empat, lima. Tapi semua pemerintahan memiliki policy yang berbeda-beda. Pasti ada tujuannya. Saya enggak mau intervensi, nanti dibilang cawe-cawe.

 

Setelah lengser, Anda diterpa isu ijazah palsu. Sebenarnya Anda lulus dari Universitas Gadjah Mada atau tidak?

 

Itu sudah saya jawab berkali-kali. Yang pertama, Ova Emilia, Rektor UGM, sebagai lembaga yang menerbitkan ijazah, sudah menyampaikan bahwa ijazah saya sah dan asli dari UGM. Dekan Fakultas Kehutanan Sigit Sunarto juga menyampaikan sah dan asli. Laboratorium Forensik Polri juga sudah mengecek dan menyampaikan bahwa ijazah saya identik dan otentik. Ketika dibandingkan dengan ijazah teman seangkatan saya, sama.

 

Menjawab tudingan itu sebenarnya mudah saja. Anda tinggal menunjukkan ijazahnya....

 

Menunjukkan itu gampang. Tapi orang yang menuduh itu yang harus membuktikan. Sekarang masih proses di pengadilan. Nanti di pengadilan dia harus membuktikan. Mereka melihat ijazah saya saja belum pernah tapi sudah mengatakan palsu.

 

Anda bersedia menunjukkan kepada kami?

 

Ijazahnya ada di kepolisian, sekarang sudah di kejaksaan. Nanti, jika diundang ke pengadilan, saya akan menunjukkan ijazah dari sekolah dasar sampai S-1.

 

Anda akan datang ke pengadilan?

 

Iya, dong. Kan, saya yang mengadukan. Enak sebetulnya yang menuduh itu. Tinggal tunjukkan buktinya. Tapi mereka malah menggugat praperadilan. Ini sebenarnya masalah ringan, tapi “digoreng” bertahun-tahun.

 

Ada anggapan bahwa isu ijazah ini dibiarkan agar orang terus membicarakan Jokowi....

 

Ini sudah menjadi masalah hukum. Sekarang sudah masuk di pengadilan, ya, kita tunggu saja bukti-bukti hukum yang mereka miliki. Jangan-jangan mereka punya ijazah asli.

 

Omong-omong, banyak orang bertanya-tanya soal kondisi kesehatan Anda. Ada yang bilang Anda sakit medis, ada juga nonmedis, bahkan ada isu Anda disantet.

 

Biasanya nyantet, kok, disantet. Ha-ha-ha.... Ndak, ndak, ndak. Saya sudah setahun lebih mengalami alergi kulit. Kulit saya pecah-pecah, enggak tahu apa penyebabnya, dan terus didampingi dokter. Saya sehat, belum 100 persen, tapi sudah 95 persen. Nyatanya saya sudah keliling ke Tegal (Jawa Tengah), Lampung, Nusa Tenggara Timur.

 

•••

 

Hubungan dengan Prabowo

 

MENJAWAT tangan Joko Widodo setelah upacara peringatan Hari Kemerdekaan pada Senin, 17 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto mengajak predesesornya itu duduk bersamanya. Prabowo memanggil Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dan memintanya menyiapkan kursi. Bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Prabowo dan Jokowi duduk bersebelahan.

 

Kepada jurnalis di Istana Negara, Prasetyo mengatakan ide Prabowo untuk posisi duduk tersebut muncul secara spontan. “Presiden Prabowo dan Pak Jokowi akrab, di media sosial disebut bestie,” kata Prasetyo.

 

Pejabat negara yang dekat dengan Prabowo bercerita, Presiden sengaja duduk bersama Jokowi untuk menunjukkan hubungan mereka tak bermasalah. Adapun orang dekat Jokowi mengatakan eks Gubernur Jakarta itu tak banyak mengobrol dengan Prabowo. Jokowi, yang pada pemilihan presiden 2024 mendukung Prabowo-Gibran, langsung pergi dari Istana setelah acara rampung.

 

Dalam setahun terakhir, Prabowo dan Jokowi jarang bertemu empat mata. Mereka terakhir kali berbicara secara khusus di rumah peninggalan orang tua Prabowo di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, pada awal Oktober 2025. Selebihnya, Prabowo dan Jokowi hanya bercengkerama ketika bertemu dalam acara kenegaraan atau resepsi perkawinan yang diadakan sejumlah pejabat.

 

Dua kolega Jokowi mengatakan bahwa mantan Wali Kota Solo itu lima kali meminta waktu bersua dengan Prabowo. Namun permintaan yang disampaikan melalui Sekretaris Kabinet Letnan Kolonel Teddy Indra Wijaya, yang bertugas mengatur semua jadwal Prabowo, tak bersambut.

 

Narasumber yang sama mengatakan Jokowi ingin memberi saran kepada Prabowo soal proyek makan bergizi gratis. Kepada sejumlah orang dekatnya, Jokowi menyebut desain MBG tak sesuai dengan rencana awal. Anggaran yang semula Rp 30 triliun meroket jadi Rp 335 triliun per tahun. Dampaknya, sejumlah program pemerintahan Jokowi, seperti Ibu Kota Nusantara, terbengkalai.

 

Jokowi sempat menghubungi menteri di sektor ekonomi dan menyampaikan risiko jika anggaran MBG melonjak. Ketua Umum Projo, kelompok pendukung Jokowi, Budi Arie Setiadi mengkonfirmasi kabar bahwa Jokowi mencermati berbagai situasi ekonomi pada masa pemerintahan Prabowo. “Tapi bukan intervensi,” tutur mantan Menteri Koperasi itu pada Selasa, 18 Agustus 2026.

 

Hubungan Jokowi dengan Prabowo juga merenggang akibat perlakuan Presiden dan orang-orang dekatnya terhadap Gibran, putra sulungnya. Tiga menteri dan dua mantan pejabat mengatakan Prabowo melarang anak buahnya menggelar rapat dengan Gibran. Istana pun membuat aturan tak tertulis yang mewajibkan pejabat meminta izin Istana jika hendak bertemu dengan Gibran.

 

Sejumlah koleganya bercerita bahwa Jokowi juga kecewa terhadap posisi duduk Gibran dalam sidang kabinet pada 20 Juli 2026. Saat itu Gibran duduk sejajar dengan para menteri dan tak bersebelahan dengan Presiden.

 

Menurut mereka, Jokowi juga menilai orang-orang di sekitar Prabowo memberi pengaruh buruk dan menutup akses bertemu dengan Presiden. Hingga Sabtu, 22 Agustus 2026, Teddy Indra Wijaya dan Prasetyo Hadi tak merespons permintaan wawancara Tempo untuk mengkonfirmasi informasi tersebut.

 

Anda sudah lama tidak berbicara empat mata dengan Presiden Prabowo.

 

Saya sudah lama sekali tidak berbicara dengan Presiden Prabowo. Jarang terjadi. Cuma empat kali. Terakhir ketemu di acara kawinan (resepsi anak pengusaha Garibaldi Thohir pada 26 Juli 2026) atau di Hari Bhayangkara. Ya, kami salaman.

 

Apa yang membuat pertemuan empat mata tak terjadi lagi?

 

Pak Prabowo sangat sibuk. Saya juga, meskipun pensiunan, bukan pengangguran. Dari pagi sampai tengah malam saya kerja terus. Semuanya memiliki kesibukan masing-masing. Saya memberi kesempatan kepada Pak Prabowo untuk memimpin dan mengelola negara ini dengan baik.

 

Kami mendapat informasi bahwa Anda ingin memberikan berbagai masukan terhadap Presiden, misalnya soal kondisi ekonomi.

 

Enggak, saya enggak mau memberikan saran kecuali diminta. Nanti dibilang intervensi, dibilang cawe-cawe. Presiden punya tim ekonomi yang kuat, ekonom dan profesor yang semuanya pintar. Saya tidak perlu memberi masukan karena beliau sudah tahu semua.

 

Anda melihat indikator ekonomi hari ini lebih parah ketimbang pada masa pandemi Covid-19?

 

Pertumbuhan ekonomi sangat baik. Pada kuartal pertama tumbuh 5,6 persen. Mungkin, dibandingkan dengan negara-negara G20, kita nomor satu atau dua. Bahwa ada tantangan-tantangan yang dihadapi, saya kira semua negara sekarang menghadapi tantangan dan hambatan yang besar. Pertama karena perubahan iklim yang mengakibatkan banjir bandang di mana-mana dengan jumlah korban tidak sedikit. Lalu ada kondisi geopolitik seperti perang Rusia-Ukraina, perang Iran melawan Israel dan Amerika yang mempengaruhi harga minyak.

 

Penelusuran Tempo menunjukkan angka pertumbuhan ekonomi sudah diutak-atik agar lebih tinggi dari kondisi riil. Lembaga seperti Fitch Ratings juga memangkas outlook utang Indonesia menjadi negatif.

 

Itu namanya negative thinking. Tapi, kalau punya data mengenai itu, sampaikan saja. Kita berpikiran positif, lah. Menurut saya, angka-angka itu riil. Memang kadang-kadang ada petani yang diuntungkan, penjual di pasar dirugikan. Perputaran uang di daerah mungkin berkurang, tapi di Jakarta bertambah. Tapi memang kalau kita hanya bergantung pada APBN dan APBD, sangat tidak cukup untuk negara sebesar ini, sehingga diperlukan capital inflow, investasi.

 

Informasi yang kami peroleh, Presiden masih meminta pendapat Anda. Misalnya saat terjadi demonstrasi Agustus 2025, Anda menyatakan unjuk rasa itu lebih ringan dari yang pernah Anda hadapi dan menyarankan Presiden tak menerapkan darurat militer.

 

Saya hanya berbicara, enggak usah khawatir, Pak. Biasa dalam negara besar ada demonstrasi. Kita kan katanya berdemokrasi. Biasa saja ada demonstrasi.

 

Kami mendapat informasi, salah satu penyebab hubungan Anda dengan Presiden berjarak adalah orang-orang Anda disingkirkan atau pengaruhnya dibatasi. Misalnya Budi Arie Setiadi, Sri Mulyani, dan Erick Thohir.

 

Itu kewenangan dan hak prerogatif presiden. Saya enggak ingin berkomentar atau ikut campur.

 

Program prioritas Anda seperti pembangunan Ibu Kota Nusantara sepertinya lamban berjalan pada masa pemerintahan Prabowo.

 

Itu sudah menjadi tugas pemerintah berikutnya. Saya kira setiap pemerintahan memiliki prioritas dan policy sendiri-sendiri. Semuanya pasti sudah lewat kalkulasi, sudah lewat hitungan. Jangan kita terlalu berharap ini dijadikan prioritas atau ini dimasukkan ke skala yang sangat penting. Sudah saya sampaikan berulang-ulang, IKN itu butuh 15-20 tahun.

 

Dalam wawancara dengan Tempo, pemilik Agung Sedayu Group, Sugianto Kusuma, pernah mengatakan bahwa ia berinvestasi di IKN untuk menyelamatkan wajah Presiden, yaitu Anda. Apakah itu berarti investasi di IKN memang tak menguntungkan?

 

Untung dan rugi itu kalau dilihat sekarang. Kita semua mesti berhitung juga prospek ke depan seperti apa. IKN itu sudah diputuskan lewat undang-undang, disetujui oleh 93 persen fraksi di Dewan Perwakilan Rakyat, dan sudah dilaksanakan. Tapi memang itu bukan proyek jangka pendek. Kalau kita lihat Brasília di Brasil dan Astana di Kazakstan, semuanya jadi setelah 15-20 tahun. Kita baru 3-4 tahun.

 

Anda yakin IKN bakal selesai?

 

Saya yakin IKN akan selesai tahap demi tahap. Lebih cepat lebih baik. Tapi enggak usah kita bermimpi cepat selesai. Berjalan alami saja. Saya kira yang paling penting bagaimana agar investor datang dan mau berinvestasi di IKN. Sekarang investor dari Korea Selatan sudah memulai konstruksi. Dari Dubai juga. Yang terakhir dari Cina juga sudah mulai berinvestasi.

 

Dengan pembangunan IKN yang tak menjadi prioritas pemerintah saat ini, hubungan Anda dengan Presiden sepertinya cukup berjarak.

 

Enggak, baik-baik saja.

 

Anda mendukung Prabowo-Gibran dalam pilpres 2024. Sejumlah hasil survei menunjukkan approval rate dan elektabilitas Prabowo merosot jauh.

 

Apa pun itu, hasil survei harus menjadi evaluasi dan koreksi. Saya enggak secara detail melihat angka-angkanya. Tapi perlu evaluasi.

 

Apa yang paling harus dievaluasi?

 

Saya enggak tahu. Survei biasanya komplet. Bisa karena urusan ekonomi, sosial-politik, penegakan hukum. Saya kira dilihat semuanya. Biasanya, kalau disurvei, detail sekali itu angka-angkanya. Yang mana yang harus dievaluasi, dikoreksi, dan diperbaiki.

 

Ada dua program yang dianggap membuat tingkat kepuasan dan elektabilitas Prabowo merosot, yaitu makan bergizi gratis dan koperasi desa merah putih. Anda menilai dua program itu harus dievaluasi total?

 

Sudah dievaluasi. Kepala Badan Gizi Nasional sudah berganti tiga kali. Ada perbaikan di sana-sini. Saya kira itu evaluasi. Ini program besar, program unggulan. MBG itu Rp 335 triliun tahun ini. Koperasi desa itu seingat saya Rp 240 triliun. Program besar memang harus direncanakan dan diorganisasi dengan baik. Kalau ada hal-hal yang kurang dan harus diperbaiki, ya wajar.

 

•••

 

Dinasti Politik

 

DENGAN helikopter kepresidenan, Gibran Rakabuming Raka tiba di Desa Kendawi, Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, pada Kamis, 6 Agustus 2026. Wakil presiden yang juga putra sulung Joko Widodo itu meninjau jembatan putus di Kendawi yang membuat anak-anak menyeberangi sungai dengan meniti tali baja.

 

“Wakil Presiden memberikan beasiswa untuk beberapa anak,” kata Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, yang mendampingi Gibran, dalam wawancara lewat sambungan telepon pada Rabu, 19 Agustus 2026.

 

Kunjungan ke Aceh menambah panjang daftar daerah yang disambangi Gibran. Belum dua tahun menjadi wakil presiden, ia telah blusukan ke lebih dari 100 lokasi. Jumlah kunjungan Gibran terhimpun dalam dokumentasi anggota staf Sekretariat Wakil Presiden yang ditemui Tempo pada Juni 2026.

 

Empat orang dekat Jokowi yang pernah berdiskusi dengan Gibran mengatakan mantan Wali Kota Solo itu memilih bepergian karena tak mendapat penugasan khusus dari Presiden Prabowo Subianto. Presiden mempercayakan pemantauan program prioritas kepada orang dekatnya, seperti Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.

 

Dalam kunjungannya, Gibran dibantu Tim 9 Iswara. Tim beranggota sembilan orang ini dipimpin Devid Agus Yunanto, mantan sekretaris pribadi Jokowi. Seorang pejabat di Istana Wakil Presiden bercerita, Tim 9 Iswara memprioritaskan kunjungan Gibran ke daerah basis pendukung Jokowi pada 2014-2024.

 

Setiap kali Gibran blusukan, Tim 9 Iswara membawa paket bantuan sosial. Bingkisan itu dikemas di dalam tas biru bertulisan “Bantuan Wapres Gibran”. Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah melihat kemasan biru dibagikan kepada penduduk. Namun ia tak melihat tulisan “Bantuan Wapres Gibran”. “Saya hanya melihat alat tulis yang diberikan kepada anak-anak,” tuturnya.

 

Dua pejabat pemerintah dan orang dekat Gibran yang mengetahui isi berbagai rapat perencanaan blusukan menuturkan, Gibran tak mau pembagian paket itu tersorot kamera. Alasannya, ia ingin menjaga hubungannya dengan Prabowo.

 

Jalan politik Gibran mendampingi Prabowo tak lepas dari berbagai kontroversi. Pada Oktober 2023, Mahkamah Konstitusi—saat itu masih dipimpin Anwar Usman, adik ipar Jokowi—mengeluarkan putusan yang membolehkan kepala daerah berusia kurang dari 40 tahun menjadi calon presiden atau wakil presiden. Gibran saat itu berusia 36 tahun.

 

Presiden Prabowo Subianto diapit Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Jokowi di Istana Merdeka saat perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2026. Tempo/Imam Sukamto

 

Laporan Tempo pada 19 November 2023 mengungkap peran istri Jokowi, Iriana, dalam pencalonan Gibran. Iriana menggalang dukungan dari keluarga Jokowi dan berbagai pihak untuk memastikan kemenangan Gibran. Dua kerabat Jokowi menyebutkan Iriana juga menyampaikan rencana pencalonan Gibran dalam pemilihan presiden 2024 kepada pengusaha senior di Solo.

 

Majunya Gibran, juga manuver Jokowi untuk memenangkan putranya itu, membuat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan memecat keduanya. “Jokowi dan Gibran biarlah menjadi sejarah dan masa lalu partai,” ujar Ketua Bidang Kehormatan Partai PDIP Komarudin Watubun saat dihubungi pada Rabu, 19 Agustus 2026.

 

Seberapa sering Anda berdiskusi dengan Gibran soal kondisi mutakhir?

 

Saya enggak pernah berbicara mengenai itu karena sibuk dengan urusan saya sendiri. Mas Wapres juga sangat sibuk dengan tugas pemerintah, tugas dari presiden. Dia sekarang sudah berkeluarga, sudah punya anak dan istri. Ngapain saya diberi tahu? Kalau ada hal yang penting dan dia telepon, saya tanggapi. Tapi itu jarang sekali. Yang satu di Solo, satu lagi di Jakarta.

 

Anda pernah bilang “ojo kemajon” kepada Gibran. Apa maksudnya?

 

Ojo kemajon itu artinya jangan terlalu maju. Jangan sering mendahului karena kebijakan dan kewenangan itu ada di presiden. Seratus persen ada di presiden. Wakil presiden itu pembantu utama presiden. Kalau diminta membantu, ya, bantu. Kalau enggak, ya, enggak. Enggak bisa wakil presiden membuat kebijakan sendiri atau bekerja seenaknya sendiri.

 

Siapa yang pertama kali punya ide menjadikan Gibran sebagai calon wakil presiden untuk Prabowo?

 

Tim Pak Prabowo. Kami enggak pernah menenteng Gibran dan menawar-nawarkan jadi calon wakil presiden.

 

Benarkah Prabowo lima kali meminang Gibran....

 

Betul. Yang terakhir dia sampaikan bahwa koalisi akan pecah kalau Gibran enggak diambil. Saya kira memang koalisi akan pecah kalau Prabowo tidak berpasangan dengan Gibran.

 

Apa yang Anda sampaikan ketika Prabowo meminta Gibran menjadi pendampingnya?

 

Saya sampaikan, “Betul sudah dihitung, Pak? Jangan sampai nanti kalau kalah yang disalahkan Gibran. Saya enggak mau seperti itu. Jangan sampai nanti saat menang dan pemerintahan berjalan, kalau ada hal-hal yang kurang dan membebani, nanti juga yang disalahkan Mas Wapres.”

 

Sejumlah narasumber menyebutkan bahwa sebelum ada putusan MK, Anda menilai Gibran belum saatnya maju....

 

Kita boleh memiliki rencana-rencana. Tapi, apa pun itu, kehendak Allah yang menentukan. Qadarullah. Juga kehendak rakyat yang memutuskan.

 

Adik ipar Anda, Anwar Usman, saat itu menjadi Ketua MK....

 

Itu baru berjalan delapan bulan menikah dengan adik saya.

 

Laporan Tempo menunjukkan Istana terlibat dalam putusan MK. Benarkah Anda mengutus Menteri Sekretaris Negara Pratikno untuk memantau sidang MK?

 

Enggak ada. Menteri Sekretaris Negara selalu memantau semua hal yang berkaitan dengan pemerintahan, dengan sosial-politik. Tapi saya enggak mengintervensi. Boleh dicek secara detail.

 

Banyak kerabat dan orang dekat menyebutkan istri Anda cawe-cawe dalam pencalonan Gibran.

 

Enggak ada peran Bu Jokowi selain doa seorang ibu untuk anak-anaknya. Dia tidak ikut campur dalam urusan politik. Sewaktu saya berbisnis, Bu Jokowi juga enggak pernah ikut campur. Jangan percaya pada isu dan gosip. Bu Jokowi itu urusannya tanaman, mengurus anggrek, urusan keluarga.

 

Penelusuran kami menunjukkan Anda sebagai presiden juga cawe-cawe memenangkan Prabowo-Gibran. Misalnya mengerahkan penegak hukum dan Kementerian Agama untuk menggalang dukungan.

 

Enggak ada. Target pada Kementerian Agama, target pada kepolisian, enggak ada. Natural saja. Kalau memang rakyat berkehendak, ya, jadi. Saya enggak mengorganisasi lembaga-lembaga seperti itu. Enggak ada. Tunjukkan saja dengan bukti dan fakta. Mungkin ada satu-dua oknum yang membantu untuk mencari muka. Dalam politik, itu hal biasa. Tapi saya tidak memberikan perintah.

 

Anda juga meningkatkan jumlah bantuan sosial untuk memenangkan Prabowo-Gibran.

 

Enggak ada. Tidak ada kenaikan drastis. Coba dicek lagi. Saya hafal, kok, angkanya. Seingat saya, untuk subsidi dan bantuan sosial itu Rp 490 triliun mungkin sudah berjalan tiga-empat tahun dengan angka yang hampir mirip. Bahwa ada kenaikan kadang-kadang sejak 2014 ya, 5 persen itu sesuai dengan kenaikan di APBN. Itu berjalan rutin setiap tahun.

 

Sekarang Gibran sangat sering dikritik di media sosial. Anda menyesal menyetujui pencalonan Gibran?

 

Biasa saja. Dalam demokrasi, biasa ada kritik, ada yang mem-bully. Tapi ya saya titip, kita ini negara Timur. Adat ketimuran, tata krama, sopan-santun itu kita ingat. Jangan sampai mengata-ngatai presiden dan wakil presiden dengan diksi yang sangat kasar sekali. Itu bukan adat ketimuran. Enggak ada yang sempurna di dunia ini. Kadang-kadang saya geleng kepala melihat media sosial. Yang sudah terbiasa seperti saya, ya, biasa saja.

 

Banyak yang mengaitkan Gibran dengan Fufufafa (akun di Kaskus yang menyerang Prabowo sebagai calon presiden saat berlaga melawan Jokowi)....

 

Ini dunia medsos, apalagi sekarang ditambah AI (akal imitasi). Kadang-kadang melihat, ini benar atau AI, ini foto benar atau foto rekayasa. Semuanya sulit dibedakan. Tapi, sekali lagi, marilah kita mengisi ruang publik itu yang sehat dan saling menghargai. Ruang publik yang menghormati dan berempati satu dengan yang lain.

 

Anda masih berharap Prabowo-Gibran maju dua periode?

 

Ya, seperti yang sudah sering saya sampaikan. Kalau diajak.

 

Kalau enggak diajak?

 

Ya, enggak jadi masalah. Keputusan ada di Presiden Prabowo.

 

Elektabilitas Prabowo kini merosot jauh. Anda berpikir untuk menyandingkan Gibran dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang elektabilitasnya jauh di atas Prabowo?

 

Pemilihan presiden masih jauh, masih 2029. Enggak usah dibicarakan sekarang. Yang paling penting menurut saya visi besar negara ini, keberlanjutan, continuity, melalui tahapan besar untuk kompetisi pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia, kemudian tahapan yang terakhir pembangunan teknologi dan inovasi, sehingga nanti kita masuk sebagai negara maju dengan income di atas US$ 13 ribu per kapita.

 

Gibran sempat didudukkan sejajar dengan para menteri, bukan di samping Presiden Prabowo. Apa tanggapan Anda?

 

Secara konstitusional, presiden dan wakil presiden itu satu paket. Ada juga undang-undang dan aturan keprotokoleran. Memang Presiden dan Wakil Presiden harus bersebelahan.

 

Anda marah melihat Gibran diperlukan seperti itu?

 

Enggak. Saya hanya mengatakan ada konstitusi dan undang-undangnya.

 

Gibran menjabat wakil presiden. Menantu Anda, Bobby Nasution, jadi Gubernur Sumatera Utara. Kaesang Pangarep memimpin PSI. Banyak orang bilang Anda bahkan sedang mempersiapkan jalan untuk cucu Anda, Jan Ethes. Anda membangun dinasti politik?

 

Enggak. Saya tidak membangun dinasti politik. Ini urusan demokrasi. Kalau dinasti itu kekuasaan diwariskan dengan surat sakti, dengan penunjukan. Ini kan semuanya dipilih oleh rakyat. Semua atas kehendak rakyat. Kalau dinasti, saya ketemu sama anak-anak kayak rapat kabinet. Enggak ada itu di pikiran saya.

 

•••

 

Manuver Politik Menuju 2029

 

PEMILIHAN Umum 2029 masih tiga tahun lagi, tapi Joko Widodo sudah mencuri start buat Partai Solidaritas Indonesia. Saat banyak ketua umum partai politik sungkan berkampanye secara terbuka, Jokowi telah berulang kali menggalang dukungan untuk PSI. Ayah Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep itu pun sering menerima pengurus partai di rumahnya.

 

Ketua Bidang Politik PSI Bestari Barus bercerita, Jokowi mendorong penguatan struktur kepengurusan. “Pak Jokowi meminta PSI kuat hingga tingkat ranting atau desa,” kata Bestari menceritakan pesan Jokowi—mantan anggota Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan—yang disampaikan saat ia datang ke Solo pada Senin, 13 Juli 2026.

 

Orang dekat Jokowi bercerita, strategi membangun struktur PSI sampai tingkat ranting dilakukan dengan mendekati kepala desa. Narasumber yang sama menyebutkan kolega Jokowi tengah membangun komunikasi dengan pengurus asosiasi pemerintah desa. "PSI terbuka bukan hanya untuk kepala desa karena siapa pun bisa bergabung," ujar Bestari.

 

Dua kali ikut pemilu, PSI gagal melaju ke Dewan Perwakilan Rakyat karena perolehan suaranya di bawah ambang batas parlemen. Pada 2024, perolehan suara partai itu hanya 2,8 persen, jauh dari parliamentary threshold 4 persen. Dalam Rapat Kerja Nasional PSI di Makassar, Sulawesi Selatan, awal tahun ini, Jokowi menyatakan bakal membantu memenangkan PSI.

 

Pada Februari 2026, ia menyambangi Tegal, Jawa Tengah. Jokowi kemudian bersafari ke Lampung menjelang akhir Juni 2026. Pada 31 Juli-2 Agustus 2026, ia menyambangi Nusa Tenggara Timur, provinsi yang memberi 90 persen suara untuk Jokowi dalam pemilihan presiden 2019.

 

Salah satu strategi yang ditempuh PSI agar masuk Senayan adalah membajak kader partai lain. Ketua Harian PSI Ahmad Ali, misalnya, adalah mantan Wakil Ketua Umum Partai NasDem. Di daerah pun sama. Ketua PSI Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Tri Wicahyo Sudrajat, mengatakan sejumlah pengurus Partai Golkar tingkat kecamatan telah “hijrah”. “Masih banyak yang akan bergabung,” katanya.

 

Pada Januari 2026, mantan Ketua Golkar Badung, Bali, I Wayan Suyasa, juga bergabung dengan PSI. Sekretaris Jenderal Golkar Muhammad Sarmuji tak mempersoalkan jika pengurus partainya pindah haluan. Ia menilai Golkar dan PSI punya pemilih yang berbeda. Pemilih Golkar melihat faktor partai, sedangkan voter PSI memperhatikan ketokohan.

 

Dua politikus Partai Demokrat mengatakan ada beberapa kawan mereka yang diajak pindah ke PSI dengan janji mendapat dana kampanye. Kepala Badan Komunikasi Strategis Demokrat Herzaky Mahendra Putra membantah kabar itu. “Mungkin pengurus atau kader yang tak aktif,” ujarnya pada Kamis, 20 Agustus 2026. Bestari Barus menyangkal kabar bahwa PSI menjanjikan duit kampanye.

 

Hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada 5-19 Juli 2026 menunjukkan elektabilitas PSI mencapai 4,1 persen. Pendiri SMRC, Saiful Mujani, menilai Jokowi berperan penting dalam menaikkan elektabilitas PSI. “Tidak ada partai lain yang ketua dan tokoh besarnya turun secara terbuka,” tuturnya pada Kamis, 30 Juli 2026.

 

Jokowi kini digadang-gadang bakal menakhodai PSI. Ketua Umum Projo, kelompok pendukung Jokowi, Budi Arie Setiadi, telah mendiskusikan rencana itu dengan Jokowi. Budi pun menyatakan siap membawa anggota Projo masuk barisan PSI. “Syaratnya, Jokowi harus jadi ketua umum,” kata Budi pada Selasa, 18 Agustus 2026.

 

Dari PDIP, Anda pindah ke PSI, partai yang belum lolos ke Senayan. Mengapa Anda memilih PSI?

 

Saya ingin berkontribusi sedikit dalam kehidupan sosial-politik. Saya ingin berusaha keras mendorong PSI agar menjadi partai masa depan, partai anak muda, orang kampung, dan keluarga-keluarga Indonesia.

 

Mengapa Anda tidak langsung saja menjadi Ketua Umum PSI?

 

Kerja itu perlu optimistis. Soal saya ketua atau ketua dewan pembina, di PSI ada mekanismenya. Ikuti saja mekanismenya.

 

Kalau diminta jadi Ketua Umum PSI, Anda bersedia?

 

Di PSI ada mekanisme partai yang harus saya ikuti. Mekanisme partai belum berjalan. Memutuskan juga belum. Jangan berandai-andai, lah.

 

Anda punya ambisi politik apa untuk 2029?

 

Visi besar negara ini harus berjalan. Itu akan mengantarkan kita ke Indonesia Emas dan maju.

 

Ada efek elektoral untuk Gibran ketika Anda berkampanye buat PSI?

 

Enggak. Ini wilayah yang berbeda. Mas Gibran bukan anggota, pengurus, ketua, atau bagian Dewan Pembina PSI. Mas Gibran punya tugas sebagai wakil presiden, ya bekerja untuk pemerintah, negara, rakyat. Wilayah partai biar urusannya Ketua Umum Kaesang.

 

Atau untuk mempersiapkan Gibran maju pada 2029?

 

Enggak, enggak, enggak. Enggak sejauh itu. Saya berusaha keras mendorong PSI agar ada di dalam wilayah perpolitikan Indonesia. Saya ini menyenangi data, survei, dan angka-angka. Data menunjukkan baru 78 persen masyarakat mengenal PSI dan baru 48 persen yang tahu logo PSI adalah gajah. Jadi perlu dipromosikan, terus didorong, bekerja keras agar memiliki struktur partai yang komplet sampai ke tingkat desa.

 

Lebih terkenal partai dengan logo kepala banteng atau kepala garuda, ya....

 

Itu partai lama. Ini partai baru, masih nonparlemen. Yang tadi kan partai-partai besar. Jangan dibandingkan.

 

Anda yakin PSI masuk Senayan?

 

Saya enggak ingin menyampaikan targetnya berapa. Tapi, kalau Senayan, insyaallah masuk. Saya enggak akan bicara sekarang. Apakah rakyat berbondong-bondong memberikan dukungan untuk PSI atau tidak, kita lihat pada 2029.

 

Masuk lima besar?

 

Ya, nanti dilihat. Ini baru memulai, baru keliling ke tiga wilayah, sebagai titik awal simbolis berkeliling Indonesia. Nanti, kalau sudah 15 atau 20 wilayah, baru kita hitung efek politiknya.

 

PSI banyak merekrut kader partai lain, seperti NasDem, Golkar, dan Demokrat....

 

Yang namanya pemilu itu adalah kompetisi politik.

 

Anda dipecat dari PDIP. Bagaimana Anda menggambarkan hubungan dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri sekarang?

 

Hubungan saya dengan semua ketua partai baik-baik saja. Sering bertemu, kadang juga lewat telepon. Tapi dengan Bu Mega sampai saat ini belum ketemu. Saya yakin suatu saat pasti akan bertemu.

 

Anda sudah mencoba merekonsiliasi hubungan dengan Megawati? Mungkin lewat orang-orang di PDIP....

 

Sekali lagi, suatu saat pasti akan bertemu untuk kepentingan yang lebih besar, yaitu bangsa dan negara.

 

Anda marah dipecat dari PDIP?

 

Biasa saja.

 

Kami mendapatkan informasi bahwa Anda sempat berupaya agar tidak dipecat.

 

Enggak ada. Tahu-tahu dapat surat. Itu saja. Dipecat.

 

Versi Anda, apa sebenarnya faktor yang membuat Anda dipecat?

 

Itu sudah kejadian. Enggak usah dibicarakan.

 

Anda tidak setuju terhadap isi kontrak politik antara PDIP dan Ganjar Pranowo?

 

Sudah. Jangan dibicarakan.

 

•••

 

Demokrasi dan Populisme

 

JOKO Widodo sekali waktu pernah mengklaim berkomitmen terhadap demokrasi. Bertemu dengan para cendekiawan, akademikus, dan seniman di Istana Merdeka pada akhir September 2019, ia berjanji menegakkan demokrasi. “Jangan sampai ada dari Bapak dan Ibu yang meragukan komitmen saya dalam menjaga demokrasi,” ujar Jokowi.

 

Pertemuan itu terjadi di tengah gelombang demonstrasi mahasiswa yang menolak revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Bertajuk #ReformasiDikorupsi, aksi tersebut mendesak Jokowi mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang untuk mengoreksi Undang-Undang KPK baru yang mempreteli independensi lembaga itu.

 

Revisi Undang-Undang KPK menjadi salah satu titik balik demokrasi era Jokowi. Pemerintahan Jokowi memakai pendekatan represif dalam menangani para pengkritiknya. Lima orang di Jakarta dan Kendari, Sulawesi Tenggara, tewas. Salah satunya Immawan Randi, mahasiswa Universitas Halu Oleo, yang tewas karena ditembak polisi.

 

Setelah revisi Undang-Undang KPK berlaku, pelemahan demokrasi terus terjadi dalam pemerintahan Jokowi. Penelusuran Tempo menunjukkan Jokowi berupaya memperpanjang masa jabatan menjadi tiga periode dan membangun dinasti politik.

 

Puncaknya, Jokowi diduga cawe-cawe dalam pencalonan dan pemenangan anaknya, Gibran Rakabuming Raka. “Jokowi merusak banyak sendi demokrasi, khususnya Mahkamah Konstitusi,” kata R. William Liddle, profesor emeritus dari Ohio State University, Amerika Serikat, dalam wawancara khusus dengan Tempo pada November 2023.

 

Penurunan kualitas demokrasi dalam sepuluh tahun kepemimpinan Jokowi terpotret dalam riset indeks demokrasi yang dibuat The Economist Intelligence Unit (EIU). Pada 2015, saat Jokowi memimpin setahun, indeks demokrasi Indonesia bernilai 7,03. Angka itu merosot jadi 6,44 pada tahun terakhir pemerintahannya. Indonesia pun masuk kategori demokrasi cacat.

 

Laporan Indeks Demokrasi 2024 yang dibuat EIU menyebutkan Jokowi diam-diam mendukung Prabowo Subianto dalam pemilihan umum. Koalisi Jokowi dan Prabowo itu, menurut EIU, telah membentuk sentralisasi kekuasaan serta melemahkan sistem pengawasan dan pengimbangan. Namun Jokowi menunjuk informasi bohong sebagai biang keladi penurunan kualitas demokrasi.

 

Saat Anda menjadi presiden, indeks demokrasi Indonesia terus memburuk dan masuk kategori cacat. Anda juga dianggap membangun dinasti politik. Apa tanggapan Anda?

 

Pada level global, saya mengamati demokrasi mengalami penurunan sejak 2006. Ini terjadi hampir di semua negara. Penyebabnya adalah populisme dan keterbukaan di media sosial. Sekarang ditambah intervensi hoaks, deepfake (konten palsu peniru wajah, suara, dan gerakan seseorang bikinan AI). Kita terjebak pada berita bohong, informasi palsu. Ini justru yang merusak demokrasi.

 

Populisme pula yang mengantar Anda menjadi presiden....

 

Ya, karena itu saya pun menggunakan media sosial dalam pemilihan Wali Kota Solo, dengan Facebook. Saya politikus Facebooker yang pertama kali berkampanye di media sosial. Pada saat pemilihan Gubernur Jakarta, saya menggunakan Twitter. Itu yang diambil sisi positifnya. Tapi populisme dengan hoaks dan deepfake itu harus dikurangi. Populisme kalau diambil sisi positifnya juga sangat baik. Media sosial bisa positif kalau digunakan dengan baik. Tapi kalau yang muncul fitnah, saling menjelekkan, mengolok-olok, demokrasi apa itu?

 

Banyak pendukung Anda, termasuk para buzzer, menyerang demokrasi itu sendiri....

 

Saya tidak berbicara soal pendukung dan bukan pendukung. Secara umum kejadiannya seperti itu. Itu yang harus kita perbaiki.

 

Sekarang militerisme menguat. Kebebasan berbicara menipis. Anda gusar terhadap kondisi demokrasi saat ini?

 

Demokrasi itu biasa naik-turun.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/wawancara/wawancara-jokowi-tempo-2283417