|
Seni Membongkar Kedok Kebohongan Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 25 Oktober 2026
|
Satu Menit
Tatapan, Tiga Jam Kecurigaan. Nathan Fielder menatap Elizabeth Holmes.
Pertanyaannya sederhana, tetapi film ini membuat batas antara kenyataan,
kebohongan, dan pertunjukan semakin kabur. Selama beberapa pekan, satu menit
adegan film You Can See Everything membuat dunia dokumenter, komedi, dan
penipuan medis ramai membicarakannya. Nathan Fielder, komedian absurd,
kembali mempermainkan batas antara kenyataan dan rekayasa. Fielder menatap mata biru Elizabeth
Holmes. Wajah Holmes-Fielder berjarak beberapa sentimeter. Keduanya nyaris
tak berkedip. Lalu Fielder bertanya, “Are you being real right now?” Benarkah
kau sedang sungguh-sungguh sekarang? Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Tapi di hadapan Holmes, seorang terpidana penipuan yang pernah menjanjikan
revolusi pemeriksaan darah melalui perusahaan Theranos ia menjelma menjadi
pintu menuju labirin yang membuat penonton sulit membedakan kejujuran,
akting, dan siasat. Film dokumenter You Can See Everything
garapan Nathan Fielder dan Lance Oppenheim memanfaatkan pertanyaan itu untuk
membawa penonton memasuki permainan psikologis yang jauh lebih rumit daripada
dugaan mereka. Film berdurasi tiga jam ini mengundang
rasa ingin tahu sekaligus kegelisahan. Siapa sebenarnya yang sedang mengamati
siapa? Apakah kamera merekam kehidupan apa adanya, atau justru membantu para
tokohnya menyusun citra baru? Dan ketika seseorang mengaku ingin
memperlihatkan seluruh kehidupannya kepada publik, You Can See Everything,
apakah keterbukaan itu menjamin kebenaran? Elizabeth Holmes pernah menjadi
bintang Silicon Valley. Ia mendirikan Theranos dengan janji mengubah layanan
kesehatan melalui teknologi yang mampu melakukan banyak pemeriksaan darah
hanya menggunakan sedikit sampel. Investor, politisi, dan tokoh bisnis
terpikat oleh ambisinya. Majalah-majalah bisnis menempatkannya sebagai ikon
perempuan muda yang berani menantang industri medis. Dengan rambut pirang, suara berat yang
khas, dan gaya bicara penuh keyakinan, Holmes membangun citra seorang
inovator yang siap mengubah dunia. Namun, penyelidikan mengungkap jurang
besar antara janji perusahaan dan kemampuan teknologinya. Theranos tidak
mampu memenuhi banyak klaim yang dipromosikan kepada publik. Perusahaan itu
runtuh, dan Holmes menghadapi proses pidana. Pada 2022, pengadilan federal Amerika
Serikat menyatakannya bersalah atas empat dakwaan terkait penipuan terhadap
investor. Pengadilan menjatuhkan hukuman penjara 135 bulan pada November
tahun yang sama. Kisahnya menjadi salah satu skandal
paling terkenal dalam sejarah industri teknologi modern: sebuah perusahaan
yang menjual masa depan, tetapi gagal membuktikan bahwa masa depan itu
benar-benar bekerja. Di sinilah You Can See Everything
menemukan bahan bakar dramatisnya. Pada 2023, ketika Holmes sudah menghadapi
hukuman penjara, ia dan suaminya, Billy Evans, mengundang tim film untuk
merekam kehidupan keluarga mereka bersama dua anak kecil. Evans menyatakan bahwa cara terbaik
agar publik mengenal Holmes ialah memberikan akses seluas mungkin ke
kehidupan sehari-hari mereka. Pernyataan itu terdengar meyakinkan.
Namun, ketika seseorang yang pernah terlibat dalam skandal besar menawarkan
akses tanpa batas, penonton wajar bertanya: akses untuk memahami kenyataan
atau akses untuk mengendalikan cerita? Pilihan Holmes dan Evans terhadap dua
pembuat film itu terasa ganjil sekaligus menggoda. Lance Oppenheim dikenal melalui gaya
dokumenternya yang menampilkan keanehan kehidupan biasa dengan komposisi
gambar yang mencolok, bingkai rapat, dan gerakan kamera yang perlahan
mendekati wajah. Fielder, sementara itu, membangun
reputasi melalui komedi yang menguji kecanggungan sosial, manipulasi, dan
batas kenyataan. Serial HBO The Rehearsal memperlihatkan bagaimana ia
menggunakan simulasi dan latihan berlapis untuk menelusuri perilaku manusia. Ia gemar menciptakan situasi yang
membuat orang bertanya apakah mereka sedang menjalani pengalaman nyata atau
memainkan peran dalam skenario yang telah disusun. Bayangkan seorang terdakwa penipuan
mengundang pembuat film yang terkenal karena mengungkap kejanggalan perilaku
manusia. Bayangkan pula pembuat film itu membawa kamera ke rumah sang
terdakwa, merekam percakapan keluarga, dan mengajukan pertanyaan yang mungkin
tak ingin dijawab tuan rumah. Pertemuan itu seperti mengundang rubah
untuk mengawasi kandang ayam, lalu berharap laporan pengawasannya dapat
memulihkan reputasi pemilik kandang. Sejak awal, ketegangan sudah bersemayam
di dalam pilihan para tokoh. Kekuatan film ini terletak pada cara
Oppenheim dan Fielder mengolah ketegangan tersebut. Mereka merekamnya seperti
film thriller, memberi suasana dramatik melalui musik, lalu menahan kamera
cukup lama untuk membuat setiap ekspresi terasa mencurigakan. Tatapan Holmes dapat menunjukkan
keramahan, tetapi juga memancing pertanyaan tentang apa yang ia sembunyikan.
Jawaban Evans dapat terdengar lugas, tetapi penonton tetap mencari celah
antara kata-katanya dan gerak tubuhnya. Kamera tidak memberikan sertifikat
kebenaran. Ia justru memperbesar ketidakpastian. Penonton yang mengenal karya Fielder
tentu mengharapkan perubahan arah yang tak terduga. Komedian itu membangun
cerita melalui situasi yang awalnya tampak biasa, kemudian berkembang menjadi
eksperimen sosial yang semakin ganjil. Dalam film ini, metode tersebut
menemukan lawan yang sepadan. Holmes telah lama membangun citra publik
melalui pengendalian informasi, penampilan, dan narasi perusahaan. Ia
memahami pentingnya meyakinkan orang lain. Sementara Fielder memahami pentingnya
mempertanyakan keyakinan yang telanjur terbentuk. Keduanya memasuki arena
dengan kemampuan masing-masing untuk mengatur persepsi. Namun, penonton perlu membedakan
kecakapan mengatur persepsi dari kemampuan membuktikan kebenaran. Seseorang
dapat terlihat tenang ketika berbohong, sementara orang yang berkata jujur
bisa tampak gugup. Tatapan mata, intonasi, dan bahasa
tubuh tidak menyediakan alat ukur yang andal untuk menentukan kebohongan
secara mandiri. Karena itu, daya tarik film ini tidak
bergantung pada kemampuan penonton menebak siapa yang berbohong dari satu
gerakan alis. Film ini lebih kuat ketika memperlihatkan betapa mudahnya
manusia membangun kesimpulan dari potongan perilaku yang terbatas. Skandal Theranos juga membuka
persoalan yang melampaui karakter Holmes. Mengapa begitu banyak investor dan
tokoh berpengaruh mempercayai perusahaan itu? Mengapa janji teknologi yang
terdengar revolusioner memperoleh tempat begitu besar sebelum perusahaan membuktikan
kemampuan produknya? Jawabannya berkaitan dengan budaya
yang memuja pendiri perusahaan, pertumbuhan cepat, dan narasi tentang masa
depan. Dalam ekosistem seperti itu, orang
dapat menganggap keraguan sebagai tanda bahwa seseorang kurang visioner.
Padahal, dalam bidang kesehatan, satu klaim yang keliru dapat memengaruhi
keputusan medis dan membahayakan pasien. Kasus Theranos memperlihatkan
bagaimana pesona pribadi dan reputasi dapat mengalahkan pemeriksaan bukti.
Holmes mampu membangun hubungan dengan investor dan tokoh berpengaruh,
sementara teknologi perusahaannya gagal memenuhi berbagai klaim yang
dipasarkan. Kisah ini sejalan dengan masalah yang
kerap muncul dalam tata kelola perusahaan: ketika pengawasan lemah, konflik
kepentingan tersembunyi, dan pemimpin terlalu kuat mengendalikan informasi,
organisasi mudah kehilangan kemampuan untuk mengoreksi kesalahannya sendiri.
Keyakinan seorang pendiri akhirnya menggantikan pengujian yang seharusnya
menjadi dasar keputusan. Film Fielder dan Oppenheim menarik
karena membawa persoalan tersebut ke ruang domestik. Penonton tidak hanya
melihat nama perusahaan, dokumen hukum, atau pernyataan resmi. Mereka
menyaksikan kehidupan keluarga, percakapan sehari-hari, dan upaya para tokoh
mengelola kesan. Perpindahan ruang itu mengubah skandal
bisnis menjadi pertanyaan tentang manusia. Apakah seseorang bisa memisahkan
dirinya dari kebohongan yang pernah ia lakukan? Apakah keluarga dapat menjadi
tempat perlindungan dari penghakiman publik? Dan apakah kamera yang terus
merekam sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut? Di titik ini, film dokumenter
menunjukkan paradoksnya sendiri. Semakin banyak penonton melihat Holmes,
semakin besar pula bahan yang mereka gunakan untuk menafsirkan dirinya. Namun, banyaknya gambar tidak otomatis
menghasilkan pemahaman yang utuh. Kamera dapat merekam wajahnya selama
berjam-jam, tetapi tidak bisa langsung membuka seluruh isi pikirannya.
Penonton mungkin memperoleh akses yang belum pernah mereka bayangkan, sementara
kepastian tentang kebenaran tetap menjauh. Kita melihat semakin banyak,
tetapi belum tentu memahami semakin dalam. Judul You Can See Everything pun
terasa ironis. Kita bisa melihat semuanya, setidaknya begitulah janji
judulnya. Namun, penglihatan memiliki batas. Kita melihat perilaku, mendengar
pengakuan, dan menilai konsistensi cerita. Untuk menetapkan fakta, kita tetap
membutuhkan bukti yang dapat diperiksa, dokumen yang dapat diuji, dan proses
hukum yang mengikuti aturan. Film dapat membantu kita memahami
kompleksitas manusia, tetapi tidak menggantikan pekerjaan pengadilan atau
investigasi jurnalistik. Karya ini juga menantang etika
dokumenter. Ketika pembuat film membiarkan kamera merekam kehidupan seseorang
yang sedang menghadapi krisis reputasi, mereka harus mempertimbangkan
hubungan kuasa antara pembuat gambar dan subjeknya. Siapa yang mengendalikan penyuntingan?
Siapa yang menentukan konteks? Apakah keterbukaan subjek sungguh-sungguh
sukarela, atau ia berharap memperoleh keuntungan reputasional? Pertanyaan itu semakin penting ketika
subjek memiliki kepentingan untuk membentuk ulang pandangan publik terhadap
dirinya. Fielder sendiri bukan pengamat yang
sepenuhnya netral. Ia hadir sebagai tokoh dalam film, mengajukan pertanyaan,
menciptakan ketegangan, dan memengaruhi suasana. Justru keterlibatannya membuat film
ini menarik. Ia tidak berpura-pura bahwa kamera hanya menjadi jendela bening
menuju kenyataan. Kamera merupakan bagian dari situasi yang direkam. Kehadiran pembuat film mengubah
perilaku orang yang mereka rekam, lalu perubahan itu menjadi bagian dari
cerita. -000- Bagi penonton Indonesia, kisah ini
relevan dalam konteks yang lebih luas. Kita juga hidup di tengah budaya yang
mengangkat figur karismatik sebagai jaminan keberhasilan. Pengusaha, tokoh publik, dan pemimpin
organisasi dapat memperoleh kepercayaan melalui pidato yang memukau, citra
keluarga harmonis, atau janji perubahan besar. Media sosial mempercepat proses
tersebut. Foto yang meyakinkan dan video yang emosional menyebar jauh lebih
cepat daripada laporan pemeriksaan yang panjang. Karena itu, masyarakat perlu membangun
kebiasaan memeriksa klaim, mencari sumber independen, dan membedakan
popularitas dari kompetensi. Film You Can See Everything menawarkan
pengalaman sinematik yang menegangkan sekaligus mengganggu. Film ini
mempertemukan pembuat film yang senang membongkar kecanggungan sosial dengan
perempuan yang pernah membangun kerajaan bisnis melalui janji revolusi medis. Pertemuan mereka menghasilkan
permainan cermin yang membuat setiap orang tampak sekaligus sebagai pengamat
dan objek pengamatan. Penonton menikmati kejutan, tetapi juga dipaksa
memeriksa cara mereka sendiri menilai orang lain. Saya sengaja tidak menguraikan
perubahan besar yang muncul dalam film, sebab kejutan merupakan bagian
penting dari pengalaman menontonnya. Bagi siapa pun yang tertarik pada
dokumenter, komedi absurd, budaya bisnis, atau psikologi kebohongan, film ini
layak masuk daftar tontonan. Durasi tiga jamnya menuntut kesabaran,
tetapi ketegangan yang dibangun membuat waktu terasa seperti perjalanan ke
rumah penuh cermin: setiap pantulan menunjukkan sesuatu, tetapi tak satu pun
menjamin bahwa kita telah melihat keseluruhan kenyataan. Pada akhirnya, pelajaran terbesarnya
sederhana. Jangan menyerahkan penilaian kepada pesona seseorang, betapapun
meyakinkannya penampilan mereka. Periksa bukti, pertanyakan klaim, dan beri
ruang bagi keraguan yang sehat. Di dunia yang gemar menjual citra,
kebenaran membutuhkan kerja lebih keras daripada sekadar menatap mata
seseorang. Sebab kita mungkin bisa melihat hampir segalanya, tetapi untuk
mengetahui apa yang benar, kita tetap harus belajar membedakan tontonan dari
kenyataan. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |