|
Titah
dan Retorika Robertus Robet : Sosiolog
Universitas Negeri Jakarta. Ia salah satu anggota tim evaluator editorial
Tempo. |
TEMPO MINGGUAN, 09 Agustus 2026
|
· Demokrasi mengubah kekuasaan titah raja
menjadi deliberasi yang melibatkan percakapan publik. · Dalam sejarah, para penguasa diam-diam
tetap ingin melanggengkan titah karena lebih efektif dan efisien. · Karena itu, muncul kekuasaan
anti-intelektualisme yang mengesampingkan dialog dan percakapan di ruang
publik. “JADILAH
terang. Lalu terang itu jadi.” Tradisi politik klasik menyerupai ayat dalam Kitab Kejadian.
Ucapan penguasa disamakan dengan firman/sabda. Kata-kata mereka berarti
tindakan, bukan sekadar opini. Bahasa Melayu mengenalkan kata “titah” yang
secara historis mencerminkan pandangan bahwa kata-kata penguasa memiliki daya
performatif: ucapan adalah penetapan dan penciptaan. Raja bertitah mengangkat
atau menghukum seseorang, sejak itu nasib dan status orang tersebut berubah. Sistem
yang bertumpu pada mulut di kepala raja ini pada akhirnya lenyap. Perubahan
besar yang dibawa revolusi-revolusi besar mencabut titah dari mulut para
penguasa. Rule of men menjadi rule of law. Instansi kedaulatan tertinggi
bukan lagi tuhan atau raja, melainkan rakyat. Dengan
munculnya demokrasi, presiden bukan lagi sumber hukum, ucapannya tidak lagi
otomatis menjadi keputusan negara. Keinginan, hasrat, dan ucapan presiden
harus diurut menjadi kebijakan, dan kebijakan dicapai dalam prosedur
konstitusional, administratif, dan sering kali via persetujuan lembaga lain. Dari
sini, makna “titah” bergeser dari performatif total menjadi sekadar performa
dari performa: “dengan ini saya melantik saudara…”. Titah tidak lagi
mencipta, tapi hanya “meresmikan” realitas yang sudah disaring, disepakati,
dinegosiasikan, atau diberi limitasi. Kata
Agamben, bahasa tidak mungkin diapropriasi secara total. Selemah-lemahnya
orang, apa pun kondisinya, bahasa tidak mungkin direbut darinya. Ini bisa
jadi dua arti: pertama, bahwa kapasitas manusia untuk mencipta makna tidak dapat
direnggut. Kedua, bahasa memiliki kemampuan otonom untuk hidup dan
bergentayangan di rimba makna. Dalam soal titah, yang terjadi adalah yang
kedua. Praktik lama di belakangnya sudah hilang, tapi sebagai kata ia terus
hidup. Titah jelas tak lagi berlaku dalam demokrasi, tapi keampuhannya masih
terus jadi dambaan. Demokrasi
modern, kata Lefort, membawa serta ampas teologi-politis di dalamnya. Para
penguasa diam-diam ingin memiliki kuasa bahasa dalam titah mereka dengan
mengekang fantasi bahwa kata-katanya suatu saat bisa setara lagi dengan kisah
penciptaan dunia di hari pertama. Di masa
kini, fantasi tentang titah dan keputusan pemimpin diperjuangkan di dalam
retorika. Secara historis, retorika, baik sebagai ilmu maupun praktik, tumbuh
berbarengan dengan munculnya demokrasi di Athena. Demokrasi
mensyaratkan kapabilitas diskursif dan linguistik: untuk bersepakat, orang
harus dipersuasi, bukan dipaksa dengan senjata. Dari situ kemampuan retorik
menjadi salah satu kualitas yang mesti dimiliki politikus. Harus
diingat, pada masa Yunani Kuno, demokrasi dipraktikkan sebagai republik,
ketika politikus secara langsung berdialog dengan publik. Dalam republik,
politik dialami secara bersama dalam tindakan diskursif. Demokrasi
perwakilan mengubah keperluan ini. Penguasa tidak lagi berbicara langsung di
depan publik, tapi berbicara kepada rakyat melalui wakil-wakilnya di lembaga
legislatif atau parlemen. Itu sebabnya, dalam sejarah awal Amerika Serikat,
para pendirinya menekankan retorika yang formal, sederhana, dan terbatas.
Pidato dilakukan hanya pada saat peristiwa tertentu di depan forum
kenegaraan. Sejarah
retorika kepresidenan di Amerika berubah secara radikal pada musim panas
1979. Presiden Carter, yang approval rating-nya anjlok, mendadak membatalkan
pidato televisi dan di depan para pembantunya. Ia mengakui telah salah
memahami fungsi kepresidenannya. Ia mengakui jatuh dalam jebakan “head of
government” ketimbang “leader of the people”. Sejak
itu, ia mengubah semua tema dan gaya publiknya dengan memperbanyak orasi yang
“membangkitkan”. Carter mengawali perubahan paradigmatik mengenai fungsi
retorik dalam sejarah kepresidenan Amerika: dari yang resmi dan terlembaga
menjadi lebih populis informal. Dari era
Carter, fungsi retorika dalam sejarah Amerika berubah karena tiga peristiwa:
perubahan doktrin kepemimpinan presiden, pertumbuhan media massa, dan
perubahan dalam pengorganisasian kampanye presiden. Dari situ, gerbang untuk
retorika, baik yang terang maupun gelap, terbuka lebar. Sejak era Carter
hingga presiden setelahnya, semua pidato presiden mulai dipandang sebagai
“pergulatan linguistik” alih-alih konfrontasi ide-ide orisinal. Para
pakar kepresidenan di sana mulai mendeteksi: sementara di era Carter ada
anggapan “retorika adalah solusi atas masalah”, kini mereka berpendapat
“retorika presiden itu sendiri sumber masalah”. Sementara pada masa Yunani
Kuno retorika dimaksudkan sebagai pameran gagasan, di masa kini retorika
malah berperan sebaliknya: memperkuat anti-intelektualisme dalam politik. Hofstadter
mendefinisikan anti-intelektualisme sebagai “rasa benci dan curiga terhadap
kehidupan akal budi serta mereka yang dianggap mewakilinya”. Elvin T. Lim,
dalam The Anti-Intellectual Presidency (2008), menemukan fakta bahwa retorika
kepresidenan anti-intelektualisme di Amerika muncul sebagai akibat dari
pilihan retorik sebagai upaya yang disengaja; penentangan terhadap penggunaan
“retorika yang rumit dan berbunga-bunga” serta kuatnya preferensi terhadap
kesederhanaan bahasa. Kombinasi ketiga hal ini yang mendorong sikap
anti-intelektualisme di kalangan presiden mengindikasikan logika pengambilan
keputusan yang bersifat tiranis. Presiden-presiden
saat ini pada dasarnya “kepresidenan opini publik” yang berfokus pada
retorika. Retorika berfungsi pedagogis bagi rakyat bila dipakai sebagai jalan
konfrontasi ide. Dengan kata lain, syarat retorika hebat adalah
intelektualisme pemimpinnya. Tidak pernah ada pemimpin hebat datang dari
retorika anti-intelektualisme, kecuali tiran. Retorika anti-intelektualisme
adalah ekspresi putus asa akibat hilangnya mantra dan keampuhan titah. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/titah-raja-retorika-penguasa-demokrasi-2280876 |