|
Ikhtiar Mengetuk Pintu Hujan Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 23 Oktober 2026
|
Pramono
berharap hujan turun sebelum festival lari dan konser besar Jakarta. Tetapi
bisakah manusia benar-benar memesan hujan? Hujan belum turun juga di Jakarta dan
sekitarnya. Udara tetap kering, panas, dan pengap membuat rumah terasa
seperti oven yang lupa dimatikan. Pagi sempat mendung, lalu agak siangan
matahari kembali menyengat. Bersama itu, warga mengeluhkan
kualitas udara, dan sebagian orang merasa khawatir menghirup udara Jakarta
terlalu dalam. Hujan yang kita harapkan untuk menyegarkan kota kini kembali
menjadi urusan serius pemerintah. Padahal, dua hari lalu Gubernur DKI
Jakarta Pramono Anung mengumumkan rencana Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada
22–23 Oktober. Ia bahkan membuka kemungkinan operasi dimulai lebih awal dan
meminta upaya tersebut berlanjut hingga 25 Oktober. Tujuannya membantu menurunkan polusi
udara menjelang konser Ye (Kanye West)
bertajuk "Ye Live in Jakarta 2026". Gelaran ini akan
diselenggarakan pada Sabtu, 24 Oktober 2026, di Stadion Utama Gelora Bung
Karno (GBK), Jakarta. Kemudian, hujan juga diharapkan
mendinginkan cuaca kota metropolitan menjelang momen Jakarta Running
Festival, 25 Oktober. Hujan sudah menjadi hajat hidup kita semua. Jika Pramono punya maksud begitu,
kemudian berusaha menurunkan hujan, wartawan pun sempat bertanya padanya,
"Jadi siapa yang menurunkan hujan?" Pramono Anung menjawab santai,
"Ya Allah lah. Mosok saya." Pertanyaan dan jawaban semacam itu
tidak sekadar menyangkut iman. Ia juga menyangkut batas kemampuan teknologi,
tanggung jawab pemerintah, dan cara kita memahami alam. OMC Jakarta sebelumnya sudah
berkali-kali diusahakan. Terakhir, pada 18–25 September. Dalam operasi
tersebut, BPBD DKI bekerja bersama BMKG untuk membantu menambah curah hujan,
mengurangi polusi udara, dan meningkatkan ketersediaan air baku PAM Jaya. Pada 25 September, petugas menyemai hujan
di awan dengan menebar sekitar satu ton natrium klorida (NaCl) berbentuk
bubuk di udara Jakarta. Pemprov DKI mengambil anggaran dari dana sekitar Rp31
miliar yang dialokasikan untuk kegiatan OMC sepanjang 2026. Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui
Tausiyahnya secara resmi mengajak umat Islam, ulama, serta pengurus masjid di
seluruh Indonesia untuk melaksanakan shalat sunnah Istisqa berjamaah sebagai
ikhtiar spiritual mengetuk pintu langit. Di Jakarta, gerakan ini di antaranya
dipelopori oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI) bersama Yayasan Pesantren Islam
(YPI) Al Azhar. Mereka telah melaksanakan shalat Istisqa berjamaah secara
serempak di delapan Masjid Al Azhar, Jakarta. Kini, kurang dari sebulan kemudian,
pemerintah kembali menyiapkan operasi modifikasi cuaca. Masalahnya bahkan
lebih mendesak karena warga mengeluhkan udara yang memburuk menjelang acara
olahraga internasional. Pramono menyebut asap kebakaran hutan
dan lahan (karhutla) sempat terdeteksi memasuki wilayah Jakarta berdasarkan
citra satelit BMKG pada 16 Oktober. Keluhan warga juga bermunculan di media
sosial. Salah satu unggahan menampilkan indeks
kualitas udara atau AQI sebesar 188, yang termasuk kategori tidak sehat.
Angka dari unggahan tersebut perlu dibaca sesuai waktu dan lokasi
pengukurannya. Tapi apa pun keluhan warga, itu
menunjukkan bahwa persoalan udara bersih memang membutuhkan perhatian serius.
Pemerintah berharap hujan membantu memperbaiki keadaan. Harapan itu masuk akal, tetapi kita
perlu membedakan harapan dari jaminan. OMC tidak dapat memastikan hujan turun
tepat pada waktunya, tepat di lokasi yang diinginkan, dan dalam jumlah yang
dibutuhkan. Sebab, manusia tidak menciptakan hujan
dari udara kosong. Pesawat OMC mencari awan yang memiliki potensi
menghasilkan hujan. Petugas kemudian menyemai bahan tertentu untuk
memengaruhi proses mikrofisika di dalam awan. Teknik yang digunakan menyesuaikan
kondisi atmosfer dan sasaran operasi. NaCl merupakan salah satu bahan semai
yang lazim digunakan. Operasi di wilayah lain juga mengembangkan
pendekatan berbeda, termasuk pemanfaatan dry ice untuk membantu mengurai
kabut asap yang terperangkap di lapisan atmosfer tertentu. Semua itu menunjukkan bahwa manusia
terus mempelajari cara memengaruhi proses alam. Namun, teknologi tersebut
tetap bergantung pada kondisi atmosfer. Tanpa awan yang sesuai, penyemaian
tidak otomatis menghasilkan hujan. Tanpa kondisi yang mendukung, pesawat
tidak bisa memerintah langit agar menurunkan air. Ibarat petani, manusia dapat membajak
sawah, memilih benih, mengatur irigasi, dan merawat tanaman. Ia mengusahakan
panen dengan pengetahuan dan keterampilannya. Namun, petani tidak menciptakan
matahari, tanah, air, ataupun hukum pertumbuhan tanaman. Ia bekerja dengan
memanfaatkan semua itu. Begitu pula dengan OMC. Manusia
mengusahakan hujan melalui proses yang dipahaminya, tapi tidak menguasai
seluruh faktor yang menentukan hasilnya. Gelombang Kelvin ikut berperan dalam
cerita hujan ini. Kelvin bukan nama seorang operator cuaca. Istilah itu
berasal dari William Thomson, ilmuwan Inggris yang kemudian dikenal sebagai
Lord Kelvin. Dalam meteorologi, Gelombang Kelvin
merupakan salah satu gelombang atmosfer tropis yang bergerak ke arah timur di
sekitar ekuator. Gelombang ini dapat memengaruhi angin, tekanan, kelembapan,
dan gerakan naik massa udara, sehingga pada kondisi tertentu mendukung
pertumbuhan awan hujan. BMKG dalam prakiraan periode 20–26
Oktober 2026 menyebut Gelombang Kelvin diperkirakan aktif di sejumlah
wilayah, termasuk sebagian Sumatera bagian selatan dan Jawa. Namun, prakiraan tersebut tidak
berarti seluruh wilayah Jakarta otomatis akan diguyur hujan. Peluang hujan
tetap bergantung pada kondisi atmosfer setempat dan berbagai faktor lain. Kita dapat membayangkan atmosfer
sebagai sistem raksasa yang terus bergerak. Berbagai gelombang, angin,
kelembapan, suhu, dan tekanan saling berinteraksi. Gelombang Kelvin menjadi salah satu
bagian dari sistem tersebut. Ia bukan awan, bukan hujan, dan bukan tombol
yang bisa ditekan untuk mengirimkan air ke Jakarta. Di sinilah teknologi berhadapan dengan
batasnya. Manusia dapat membaca sebagian pola atmosfer, memperkirakan peluang
hujan, lalu melakukan intervensi ketika kondisi memungkinkan. Tetapi manusia
tidak dapat mengatur seluruh sistem tersebut sesuka hati. Kalau pemerintah benar-benar mampu
membuat hujan sesuai pesanan, urusannya tentu sederhana. Hujan bisa
dijadwalkan menjelang festival lari, ditunda ketika ada konser, lalu
diturunkan kembali ketika waduk kekurangan air. Petugas cukup mengirimkan jadwal
kepada awan. Sayangnya, langit tidak membaca agenda acara. Karena itu, ketika
hujan turun setelah OMC, kita perlu berhati-hati dalam menyimpulkan sebabnya. Operasi mungkin berkontribusi terhadap
proses pembentukan hujan, tetapi hujan yang terjadi bersamaan dengan
penyemaian belum otomatis membuktikan bahwa seluruhnya merupakan hasil
operasi. Peneliti perlu memeriksa data
atmosfer, pelaksanaan penerbangan, sebaran hujan, dan kondisi pembanding
untuk menilai efektivitasnya. Sikap ilmiah seperti itu justru memperkuat
ikhtiar manusia. Pemerintah dapat menilai apakah operasi berhasil mencapai
sasaran, apakah biaya yang dikeluarkan sebanding dengan manfaatnya, dan
apakah strategi perlu diperbaiki. Anggaran publik tidak cukup
dipertanggungjawabkan dengan laporan bahwa pesawat telah terbang atau bahan
semai telah dilepaskan. Pemerintah perlu menunjukkan hasil yang terukur. Lantas, apakah pengakuan terhadap
kemampuan teknologi bertentangan dengan keyakinan bahwa Allah menurunkan
hujan? Tidak. Dalam pandangan Islam, manusia
diperintahkan berikhtiar. Keyakinan kepada Allah tidak mengharuskan manusia
meninggalkan usaha. Al-Qur’an justru mengajak manusia
memperhatikan hujan sebagai tanda kekuasaan Allah. Dalam Surah Al-Waqi'ah
ayat 68–70, Allah mengajak manusia memikirkan air yang mereka minum dan siapa
yang menurunkannya dari awan. Pertanyaan itu mengarahkan perhatian
kita dari air yang terlihat menuju kekuasaan yang memungkinkan seluruh proses
tersebut berlangsung. Ilmu pengetahuan menjelaskan bagaimana
air menguap, membentuk awan, mengalami kondensasi, lalu jatuh sebagai hujan. Iman mengajak manusia merenungkan
siapa yang menciptakan alam beserta hukum-hukumnya. Penjelasan ilmiah tentang
mekanisme hujan tidak dengan sendirinya meniadakan keyakinan teologis tentang
Allah sebagai Pencipta. Justru semakin jauh manusia
mempelajari alam, semakin banyak keterbatasan yang ia temukan. Model cuaca
dapat memperkirakan peluang hujan, tetapi prakiraan tetap memiliki batas. Radar dapat membaca pergerakan awan,
tetapi tidak menjamin hasil penyemaian. Pesawat dapat membawa bahan semai ke
lokasi sasaran, tetapi tidak dapat memastikan awan tumbuh sesuai keinginan
manusia. Manusia semakin pandai memanfaatkan
sebab-sebab alam. Namun, kemampuan itu tidak menjadikannya penguasa mutlak
atas alam. Ada persoalan lain yang tidak boleh
luput dari perhatian. Pemerintah menginginkan hujan agar udara membaik
sebelum Jakarta Running Festival dan konser Ye. Tetapi apakah hujan dengan
sendirinya menjamin udara aman bagi para peserta? Hujan dapat membantu mengurangi
sebagian partikel polutan di udara, tetapi pengaruhnya bergantung pada jenis
polutan, intensitas hujan, kondisi angin, dan sumber pencemaran. Setelah hujan berhenti, polusi dapat
muncul kembali jika sumber emisinya tetap bekerja. Asap karhutla, emisi
kendaraan, kegiatan industri, dan pembakaran sampah membutuhkan penanganan
yang sesuai dengan sumber masing-masing. Karena itu, pemerintah perlu
menggabungkan OMC dengan pemantauan kualitas udara, pengendalian emisi,
informasi kesehatan, dan langkah perlindungan bagi masyarakat. Penyelenggara acara olahraga juga
perlu memperhatikan kondisi udara saat kegiatan berlangsung, bukan hanya
berharap hujan turun sehari sebelumnya. Pesawat bisa mengejar awan. Pemerintah
juga harus mengejar sumber polusi. Teknologi dapat membantu menurunkan
hujan. Kebijakan publik harus memastikan warga tetap terlindungi ketika hujan
tidak turun. Semua itu merupakan ikhtiar yang layak
dihargai sekaligus perlu dievaluasi. Bagi orang beriman, manusia tidak
menciptakan seluruh sistem yang membuat ikhtiar itu bekerja. Air, atmosfer, hukum fisika, dan
berbagai mekanisme alam berada dalam ciptaan Allah. Manusia belajar memahami
sebagian darinya, lalu menggunakannya dengan kemampuan yang terbatas. Manusia mengusahakan sebab. Allah
menciptakan alam beserta hukum-hukumnya. Dan ketika hujan akhirnya turun, kita
patut bersyukur. Namun, jika hujan belum datang, kita juga harus tetap
bekerja: memperbaiki kualitas udara, menjaga sumber air, mengendalikan emisi,
dan melindungi warga. Sebab ikhtiar manusia tidak berhenti
ketika pesawat mendarat. Ia baru menunjukkan manfaatnya ketika kehidupan
masyarakat benar-benar menjadi lebih baik. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |