Hidup
Otentik di Era Agama sebagai Warisan Milik Bersama (2)
|
MEMILIH HIDUP SECARA OTENTIK: MENGAPA PENTING DAN BAGAIMANA Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 02 November 2026
|
Pada
9 Oktober 2012, seorang gadis berusia lima belas tahun duduk di dalam bus
sekolah di Lembah Swat, Pakistan. Ia sedang dalam perjalanan pulang. Hari
itu seharusnya berjalan seperti biasanya. Namun dua lelaki bersenjata
menghentikan kendaraan tersebut. Salah seorang mencari gadis yang dianggap
terlalu berani memperjuangkan pendidikan. Namanya
Malala Yousafzai. Lelaki itu menembaknya. Peluru menghantam kepala Malala.
Dalam sekejap, perjalanan pulang dari sekolah berubah menjadi perjalanan
antara kehidupan dan kematian. Apa
kesalahan gadis itu? Ia ingin anak-anak perempuan memperoleh pendidikan. Ia
menolak menerima bahwa tempat kelahirannya harus menentukan batas masa depan
seorang manusia. Malala
tidak pernah memilih tumbuh di lembah yang jatuh ke bawah bayang-bayang
Taliban. Ia tidak memilih zaman ketika sekolah anak perempuan ditutup paksa. Namun
ada sesuatu yang masih dapat ia perjuangkan: bagaimana dirinya menjawab
keadaan yang tidak pernah dipilihnya, sekalipun jawaban itu mempertaruhkan
nyawanya sendiri. Malala
selamat. Ia melanjutkan perjuangannya, mendirikan Malala Fund bersama ayahnya
pada 2013, dan menerima Nobel Perdamaian pada 2014, ketika baru berusia tujuh
belas tahun. Kisahnya
menyimpan pertanyaan yang jauh melampaui Pakistan. Jika kita tidak dapat
memilih dunia tempat dilahirkan, sejauh mana kita dapat memilih menjadi
manusia seperti apa? Kita
tidak memilih awal kehidupan. Tetapi kita dapat belajar memilih arah, nilai,
dan makna yang hendak kita berikan kepada kehidupan itu. -000- 1. Mengapa Kita Perlu Memilih Hidup Secara
Otentik? Søren
Kierkegaard, filsuf Denmark abad ke-19, mengingatkan manusia tentang tragedi
yang sering tidak disadari: seseorang dapat menjalani seluruh hidupnya,
tetapi gagal menjadi dirinya sendiri. Dalam
The Sickness Unto Death (1849), Kierkegaard membahas keputusasaan sebagai
persoalan mendasar hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan, dalam
pemikirannya, dengan Tuhan. Manusia
dapat memiliki kekayaan, jabatan, keluarga, dan penghormatan masyarakat,
tetapi tetap merasa asing terhadap dirinya sendiri. Ia berhasil di mata
dunia, namun kehilangan hubungan dengan batinnya. Bayangkan
seseorang menghabiskan puluhan tahun mengejar jabatan tertinggi. Ia bekerja
tanpa henti, menunda kebahagiaan, dan mengorbankan waktu bersama orang-orang
yang paling dicintainya. Akhirnya
jabatan itu berhasil diraih. Karangan bunga memenuhi ruangan. Orang-orang
memberi selamat. Namanya disebut dengan penghormatan, bahkan oleh mereka yang
dahulu meragukannya. Namun
malam itu, ketika semua tamu telah pulang, ia duduk sendirian. Di antara
bunga yang mulai layu, muncul pertanyaan yang selama ini dihindarinya. Apakah
ini sungguh kehidupan yang saya inginkan? Ia
tiba-tiba menyadari bahwa selama puluhan tahun dirinya berlari mengikuti peta
yang digambar orang lain. Bahkan garis akhirnya tidak pernah ia tentukan
sendiri. Betapa
tragis jika seseorang memenangkan perlombaan, tetapi baru di garis akhir
menyadari bahwa perlombaan itu bukan miliknya. Dalam
esai pertama, kita telah merenungkan kehidupan yang tidak kita pilih. Orang
tua, tanah kelahiran, bahasa, agama keluarga, bahkan zaman, semuanya hadir
sebelum kita mampu bertanya. Tetapi
manusia bukan sekadar penerima warisan. Ia mampu merenungkan, menguji,
menerima kembali, atau mengubah arah kehidupan berdasarkan kesadaran dan
pertimbangan moralnya. Inilah
hidup otentik: keberanian menjalani kehidupan berdasarkan nilai yang secara
sadar kita yakini, dengan kejujuran terhadap alasan pilihan dan tanggung
jawab atas akibatnya. Otentisitas
bukan kewajiban menjadi berbeda, meninggalkan agama keluarga, atau menolak
tradisi. Warisan yang dipilih kembali dengan kesadaran justru dapat menjadi
keyakinan yang lebih mendalam. Seorang
petani, guru, ibu rumah tangga, pengusaha, atau pemuka agama dapat hidup
otentik. Ukurannya bukan kemasyhuran, melainkan keselarasan antara nilai,
pilihan, dan tindakan. -000- 2. Tiga Penjara yang Sering Tidak Kita Sadari Ada
penjara yang memiliki dinding dan jeruji. Namun ada pula penjara yang tidak
terlihat. Kita dapat tinggal di dalamnya bertahun-tahun sambil merasa bebas. Penjara
pertama adalah kebutuhan akan pengakuan sosial. Kita
hidup di zaman ketika keberhasilan semakin sering diukur melalui kekayaan,
jabatan, penghargaan, jumlah pengikut, dan perhatian yang diberikan orang
lain. Media
sosial memperlihatkan kehidupan yang telah disunting. Kita membandingkan
kebahagiaan orang lain yang dipilih untuk ditampilkan dengan kehidupan
sendiri yang kita kenal bersama seluruh kekurangannya. Perlahan
kita berhenti bertanya apakah sesuatu sungguh bernilai. Kita hanya ingin
mengetahui apakah ia membuat orang lain terkesan. Tepuk tangan menggantikan
suara hati. Penjara
kedua adalah kenyamanan teknologi yang melemahkan kemandirian berpikir. Kecerdasan
buatan dapat membantu manusia menemukan pengetahuan, bekerja lebih produktif,
dan memecahkan persoalan rumit. Namun kemudahan itu juga menghadirkan
tantangan baru. Algoritma
mempelajari kebiasaan kita. Sistem rekomendasi membentuk apa yang terlihat,
sementara kecerdasan buatan dapat menyajikan jawaban bahkan sebelum kita
sungguh memahami pertanyaannya. Persoalannya
bukan teknologi selalu mengendalikan manusia. Bahayanya muncul ketika manusia
menyerahkan kemampuan menimbang dan memilih kepada alat yang semula
diciptakan untuk membantunya. Penjara
ketiga adalah identitas yang tidak pernah diperiksa. Keluarga,
bangsa, agama, dan kebudayaan memberikan akar kepada manusia. Namun akar
dapat menjadi belenggu apabila seseorang dilarang mempertanyakan tanah tempat
akar itu tumbuh. Seseorang
dapat menjalankan agama keluarganya melalui pemahaman mendalam. Orang lain
mungkin menjalankannya terutama karena takut kehilangan penerimaan sosial.
Dari luar, keduanya tampak serupa. Sebaliknya,
meninggalkan agama keluarga tidak otomatis menandakan kebebasan. Seseorang
dapat meninggalkan tradisi lama hanya untuk menjadi tawanan kelompok baru
yang sama-sama melarang pertanyaan. Manusia
tidak menjadi bebas hanya karena mengganti penjaganya. Kebebasan dimulai
ketika ia berani memeriksa alasan di balik keyakinan dan pilihannya sendiri. -000- 3. Otentisitas Bukan Sekadar Mengikuti Keinginan Ada
semboyan populer yang terdengar membebaskan: jadilah dirimu sendiri. Tetapi
siapakah diri sendiri itu? Apakah setiap keinginan benar-benar lahir dari kesadaran
yang bebas? Bukankah
banyak keinginan dibentuk oleh keluarga, pendidikan, iklan, persaingan
sosial, dan ketakutan yang bahkan belum pernah kita akui kepada diri sendiri? Bayangkan
dua anak bercita-cita menjadi ahli hukum. Anak pertama ingin membela mereka
yang diperlakukan tidak adil. Anak kedua ingin memenuhi harapan besar
keluarganya. Keduanya
dapat menjadi ahli hukum yang baik. Namun masing-masing perlu memahami alasan
pilihannya sebelum keputusan itu menentukan perjalanan panjang kehidupan mereka. Mungkin
setelah merenung, anak kedua justru menemukan kecintaan sejati kepada
keadilan. Ia tetap menjalani harapan keluarganya, tetapi kini dengan
kesadaran yang berbeda. Tidak
selalu diperlukan pemberontakan atau perubahan pekerjaan. Kadang yang berubah
hanyalah hubungan batin seseorang dengan kehidupan yang selama ini telah
dijalaninya. Otentisitas
juga tidak berarti mengikuti setiap dorongan hati. Keinginan membalas
penghinaan atau mengkhianati kepercayaan mungkin terasa kuat, tetapi kekuatan
hasrat bukan ukuran kebenaran. Kebebasan
memerlukan tanggung jawab. Ketulusan memerlukan kemampuan mengoreksi diri.
Tanpa keduanya, apa yang disebut keaslian diri dapat berubah menjadi
pembenaran atas kesewenang-wenangan. Hidup
otentik membutuhkan dua keberanian sekaligus: mengatakan, inilah yang saya
yakini, dan mengakui dengan rendah hati, mungkin ada sesuatu yang belum saya
pahami. -000- 4. Dua Pemikir: Makna Hidup dan Kebebasan
Identitas Dua
buku membantu memperdalam pemahaman tentang otentisitas. Yang pertama
bertanya mengapa kehidupan bermakna. Yang kedua menjelaskan hubungan
kebebasan individu dengan identitas sosial. Buku
pertama: Meaning in Life and Why It Matters, Susan Wolf, Princeton University
Press, 2010. Wolf
berpendapat bahwa kehidupan bermakna muncul ketika keterlibatan pribadi
bertemu dengan sesuatu yang memang layak dihargai. Kesenangan subjektif saja
belum mencukupi. Seseorang
dapat menikmati aktivitas yang miskin nilai. Sebaliknya, pekerjaan yang
sangat bermanfaat dapat terasa hampa apabila dijalani tanpa keterlibatan
batin. Gagasan
Wolf mengingatkan bahwa hidup otentik tidak cukup menjawab apakah pilihan itu
sungguh milik kita. Kita juga perlu bertanya apakah pilihan tersebut layak
diperjuangkan. Buku
kedua: The Ethics of Identity, Kwame Anthony Appiah, Princeton University
Press, 2005. Appiah
menjelaskan bahwa identitas manusia terbentuk melalui hubungan antara
kebebasan individu dan kehidupan bersama. Tidak seorang pun membangun dirinya
dari ruang kosong. Agama,
keluarga, bangsa, dan kebudayaan menyediakan bahasa serta kemungkinan hidup.
Namun identitas sosial tidak seharusnya meniadakan ruang individu untuk
memilih dan berkembang. Kebebasan
tidak berarti menghancurkan semua ikatan. Kita dapat menghormati warisan
sambil memeriksa tuntutannya, mempertahankan yang berharga, dan memperbaiki
yang membatasi martabat. Dua
buku ini saling melengkapi. Wolf menanyakan nilai dari pilihan kita. Appiah
mengingatkan bahwa pilihan tersebut berlangsung di tengah hubungan sosial
yang membentuk diri. Kita
tidak perlu kehilangan akar untuk bertumbuh. Tetapi kita perlu memastikan
akar itu memberi kehidupan, bukan menghalangi kita menerima cahaya. -000- 5. Harga Sebuah Pilihan Kebebasan
selalu memiliki harga. Kadang harga termahal bukan kehilangan pekerjaan atau
kedudukan, melainkan mengecewakan orang-orang yang paling kita cintai. Bayangkan
seorang perempuan muda yang keluarganya telah berkorban agar ia memperoleh
pendidikan terbaik. Orang tuanya berharap ia mendapatkan pekerjaan dengan
penghasilan tinggi. Namun
perempuan itu menemukan panggilan berbeda. Ia ingin mengabdikan dirinya bagi
pendidikan anak-anak miskin, sekalipun jalan tersebut menjanjikan kehidupan
yang lebih sederhana. Ia
mencintai keluarganya, tetapi juga ingin setia kepada panggilan batinnya. Dua
nilai yang sama-sama baik kini menuntut keputusan yang tidak mudah. Apa
yang harus dilakukan? Ia dapat berdialog, mencari jalan tengah, dan menimbang
tanggung jawab keuangan. Otentisitas tidak mengharuskannya memutus hubungan
dengan keluarga. Namun
ia juga tidak dapat selamanya menyerahkan pertanyaan tentang hidupnya kepada
orang lain, betapapun besar cinta dan pengorbanan mereka. Di
sinilah pergulatan paling sulit muncul. Kadang kita harus memilih bukan
antara kebaikan dan keburukan, melainkan antara dua kebaikan yang tidak
sepenuhnya dapat dipertahankan bersama. Tetapi
tidak semua manusia memiliki kebebasan yang sama. Kemiskinan, penyakit,
diskriminasi, dan tanggung jawab keluarga dapat mempersempit pilihan secara
nyata. Karena
itu, hidup otentik tidak boleh menjadi alasan menghakimi mereka yang terpaksa
bertahan dalam keadaan sulit. Keberanian memiliki banyak wajah. Kadang
keberanian berarti meninggalkan jalan lama. Kadang justru berarti tetap
bertahan, tanpa membiarkan penderitaan merampas martabat dan kejujuran diri. -000- 6. Pengalaman Personal: Perjalanan Panjang
Mencari Makna Hidup Sejak
mahasiswa, saya dihantui sebuah pertanyaan sederhana yang ternyata
membutuhkan puluhan tahun untuk direnungkan: untuk apa sesungguhnya kita
hidup? Apakah
sekadar lahir, belajar, bekerja, membangun keluarga, mengejar keberhasilan,
lalu menghilang dari ingatan dunia? Mengapa manusia masih merasa hampa
setelah meraih segalanya? Pertanyaan
itu membawa saya menjelajahi agama, filsafat, spiritualitas, hingga ilmu
pengetahuan modern. Saya mencari jawaban yang mencerahkan pikiran sekaligus
menghangatkan jiwa. Saya
mendalami enam tradisi besar: Islam, Kristen, Buddha, Hindu, Taoisme, dan
Khonghucu. Saya juga menyusuri pemikiran Jiddu Krishnamurti, Anthony de
Mello, Swami Vivekananda, Dada J. P. Vaswani, Osho, hingga Ki Ageng
Suryomentaram. Mereka
tidak selalu sependapat. Namun dari perbedaan itu saya belajar bahwa
kebijaksanaan tidak tinggal dalam satu rumah, melainkan dapat ditemukan
melalui banyak jendela. Pencarian
saya kemudian memasuki neurosains. Saya menemukan bahwa kesenangan tidak
selalu sama dengan kebahagiaan, dan kebahagiaan belum tentu menghadirkan
makna. Sains
membantu menjelaskan mekanisme pengalaman bahagia. Namun pertanyaan mengenai
tujuan hidup, nilai, dan tanggung jawab moral tidak selesai hanya melalui
penjelasan biologis. Kebahagiaan
membuat hidup terasa menyenangkan. Makna memberi alasan mengapa kita tetap
ingin menjalaninya, bahkan ketika kebahagiaan sedang menjauh. -000- Setelah
perjalanan panjang itu, saya sampai pada pemahaman yang mengubah cara saya
memandang agama: agama sebagai warisan milik bersama umat manusia. Dari
kesadaran itu, saya ikut mendirikan Esoterika, sebuah forum spiritual yang
membuka ruang perjumpaan lintas tradisi untuk mencari kebijaksanaan di tengah
perbedaan. Saya
juga mengembangkan Power of Giving, sebuah ikhtiar menempatkan tindakan
memberi sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih bermakna dan bermanfaat. Sebab
spiritualitas tidak cukup berhenti pada doa, meditasi, atau perdebatan
teologis. Apa gunanya memahami begitu banyak jalan menuju Tuhan, jika hati
tetap tertutup terhadap penderitaan manusia yang berdiri di hadapan kita? Kini,
ketika menoleh ke masa mahasiswa, saya menyadari bahwa pencarian makna tidak
berakhir pada satu jawaban yang sempurna. Ia justru mengubah pertanyaan hidup
saya. Dahulu
saya bertanya: Apa makna hidup saya? Kini pertanyaannya berubah: Apa makna
kehadiran saya bagi kehidupan orang lain? Apakah
kehadiran saya mengurangi penderitaan? Apakah ia memperluas kasih sayang,
membuka kesempatan, atau meninggalkan sedikit lebih banyak kebaikan daripada
yang saya terima? Barangkali
di sanalah pencarian panjang itu menemukan rumahnya. Bukan pada kepastian
memiliki semua jawaban, melainkan pada kesediaan menghidupi nilai yang
diyakini. -000- 7. Lima Langkah Menjalani Hidup Otentik Bagaimana
gagasan tersebut dapat diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari? Saya
mengusulkan lima latihan sederhana, bukan sebagai rumus kesempurnaan,
melainkan sebagai jalan memperdalam kesadaran. Pertama,
periksa siapa yang menentukan impian kita. Tuliskan
tiga hal yang paling ingin dicapai dalam kehidupan. Kemudian tanyakan apakah
semuanya sungguh dianggap berharga, atau sekadar cara memperoleh pengakuan
orang lain. Tidak
setiap impian warisan perlu dibuang. Namun impian yang tidak pernah diperiksa
dapat menjadikan manusia pelaksana kehidupan yang dirancang oleh orang lain. Kedua,
bedakan nilai dari keinginan sesaat. Keinginan
dapat berubah mengikuti suasana hati. Nilai memberikan arah ketika kehidupan
menjadi sulit, terutama saat keuntungan pribadi bertabrakan dengan kejujuran
dan tanggung jawab. Otentisitas
bukan sekadar mengetahui apa yang kita inginkan. Ia juga berarti memahami
prinsip apa yang tidak bersedia kita korbankan, betapapun besar godaannya. Ketiga,
periksa kembali hubungan kita dengan tradisi. Kita
dapat mempertahankan keyakinan karena menemukan kebenaran di dalamnya,
menafsirkan kembali sebagian ajarannya, atau mengubah keyakinan setelah
pertimbangan yang sungguh-sungguh. Tidak
satu pun pilihan itu otomatis lebih luhur. Yang menentukan adalah kejujuran
proses pencarian serta penghormatan terhadap martabat mereka yang memilih
berbeda. Keempat,
wujudkan nilai melalui tindakan kecil. Jika
mencintai keluarga, sediakan waktu mendengarkan. Jika menghargai keadilan,
jangan mengambil keuntungan dari ketidakadilan. Jika menjunjung kasih,
hadirlah ketika seseorang membutuhkan pertolongan. Nilai
yang hanya diucapkan dapat menjadi hiasan identitas. Nilai yang dijalankan
setiap hari perlahan berubah menjadi watak, dan watak membentuk jejak
kehidupan. Kelima,
berikan diri kita hak untuk memperbaiki pilihan. Pengetahuan
bertambah dan pengalaman mengoreksi keyakinan. Mengubah pendapat setelah
menemukan alasan yang lebih kuat bukan kelemahan, melainkan tanda kerendahan
hati intelektual. Kita
tidak harus setia kepada setiap pendapat masa lalu. Kita perlu setia kepada
kejujuran yang memungkinkan kita mengakui kesalahan dan memperbaikinya. -000- 8. Apakah Hidup Otentik Akan Melahirkan
Individualisme? Ada
keberatan yang patut direnungkan. Jika setiap orang didorong memilih jalan
hidup sendiri, apakah keluarga kehilangan wibawa dan masyarakat berubah
menjadi kumpulan individu yang egoistis? Kekhawatiran
itu penting karena manusia tidak hidup sendirian. Kasih keluarga, kesetiaan
sahabat, dan pengorbanan antargenerasi merupakan bagian mendasar dari
kehidupan yang bermakna. Charles
Taylor, dalam The Ethics of Authenticity (1991), menjawab keberatan serupa.
Otentisitas yang dipahami dengan benar tidak berpusat pada diri sendiri.
Identitas terbentuk melalui dialog dengan orang lain dan dengan nilai yang
melampaui keinginan pribadi. Karena
itu, hidup otentik yang matang tidak meminta manusia memutus semua ikatan. Ia
justru mengajak kita menghayati hubungan tersebut dengan kesadaran dan
tanggung jawab. Anak
yang merawat orang tuanya karena memahami nilai kasih tidak kehilangan
kebebasan. Ia sedang menggunakan kebebasannya untuk memenuhi tanggung jawab
yang diyakini berharga. Kebebasan
juga bukan relativisme moral. Ketulusan meyakini sesuatu tidak otomatis
menjadikannya benar. Keyakinan tetap perlu diperiksa melalui alasan, bukti,
dan pertimbangan kemanusiaan. Mereka
yang menembak Malala mungkin meyakini tindakannya benar. Namun keyakinan
tidak memberikan hak untuk merampas keselamatan dan kebebasan orang lain. Hidup
otentik bukan kebebasan melakukan apa saja. Ia adalah kebebasan yang bersedia
bertanggung jawab atas pengaruh tindakan kita terhadap kehidupan sesama. -000- 9. Agama sebagai Warisan Milik Bersama Kini
kita sampai pada benang merah rangkaian esai ini. Jika agama keluarga
merupakan bagian dari kehidupan yang diwariskan, bagaimana iman dapat menjadi
sesuatu yang sungguh dihayati? Seorang
Muslim dapat semakin mendalami Islam melalui pembacaan, perenungan, dan
pengalaman spiritual. Seorang Kristen dapat semakin menghayati imannya
melalui pemeriksaan dan keterlibatan dalam kehidupan sesama. Hal
serupa berlaku bagi pemeluk Hindu, Buddha, Khonghucu, serta tradisi spiritual
lainnya. Manusia yang tidak beragama pun dapat memeriksa nilai yang mendasari
kehidupannya. Namun
ada kemungkinan lain yang patut dibuka: agama tetap menjadi rumah iman
seseorang, sekaligus menjadi sumber kebijaksanaan yang dapat dipelajari oleh
seluruh umat manusia. Seorang
Muslim dapat mempelajari welas asih Buddhisme tanpa meninggalkan tauhid.
Seorang Kristen dapat memahami disiplin batin Hindu tanpa menerima seluruh
pandangan metafisikanya. Belajar
tidak berarti menyetujui. Menghormati tidak berarti menyamakan. Agama-agama
memiliki klaim kebenaran, sejarah, ritual, dan pandangan teologis yang tidak
selalu dapat dipersatukan, dan perbedaan itu perlu dihormati secara jujur. Di
sinilah saya membayangkan kematangan baru dalam kehidupan beragama. Keyakinan
yang mendalam tidak harus menjadikan perbedaan sebagai ancaman terhadap
identitas diri. Agama
dapat menjadi rumah tempat seseorang menetap. Namun rumah yang kokoh tidak
perlu menutup seluruh jendelanya. Cahaya dari luar tidak selalu merobohkan
rumah. Kadang
cahaya itu justru membantu penghuninya melihat lebih jelas keindahan yang
telah lama berada di dalam, tetapi sebelumnya tidak pernah sungguh
diperhatikan. Dengan
demikian, hidup otentik dan keterbukaan spiritual saling memperkaya. Kita
dapat berakar pada tradisi sendiri, sekaligus membuka hati terhadap
kebijaksanaan yang ditemukan orang lain. -000- 10. Sebelum Waktu Kita Habis Ada
alasan mengapa seluruh perenungan ini tidak boleh ditunda selamanya. Kita
tidak memiliki waktu yang tidak terbatas, meskipun sering hidup seakan-akan
memilikinya. Suatu
hari nanti, kita berjanji akan mengunjungi orang tua. Suatu hari nanti, kita
akan meminta maaf. Suatu hari nanti, kita akan mulai menjalani kehidupan yang
dicintai. Namun
masa depan tidak pernah menandatangani perjanjian bahwa ia pasti datang. Ada
percakapan yang tertunda sampai orang yang ingin diajak berbicara telah
tiada. Ada
orang yang bekerja seumur hidup untuk mewariskan kekayaan kepada
anak-anaknya, tetapi terlambat menyadari bahwa mereka lebih merindukan
kehadiran daripada warisan. Barangkali
kita terlalu sering mengukur kehidupan melalui sesuatu yang dapat
ditambahkan: lebih banyak harta, lebih tinggi jabatan, lebih luas pengaruh,
dan lebih besar penghargaan. Padahal
kedalaman hidup kadang justru tumbuh melalui sesuatu yang berani dilepaskan:
kesombongan untuk meminta maaf, kesibukan untuk mencintai, atau keinginan
menang untuk mendengarkan. Bayangkan
jika hari ini merupakan salah satu hari terakhir kehidupan kita. Siapa yang
ingin kita peluk? Kepada siapa kita perlu meminta maaf? Kebaikan apakah yang
terus ditunda, seolah waktu selalu tersedia untuk menebusnya? Hidup
otentik tidak mengharuskan keputusan dramatis. Kadang ia dimulai melalui
percakapan yang jujur, sebuah kunjungan, atau kebaikan yang selama ini
tertunda. Di situlah kebajikan memperoleh tubuh melalui tindakan. -000- Penutup: Dari Hidup yang Diterima Menuju Hidup
yang Dipersembahkan Kembali
kita mengenang Malala. Pada usia lima belas tahun, ia menghadapi peluru
karena memperjuangkan pendidikan, sesuatu yang seharusnya menjadi hak setiap
anak. Ia
tidak memilih tempat kelahirannya. Ia tidak memilih ancaman yang mengepung
kehidupannya. Tetapi ia memperjuangkan jawaban yang ingin diberikannya
terhadap keadaan tersebut. Kita
mungkin tidak menghadapi ancaman serupa. Namun setiap manusia mempunyai
pergulatannya sendiri, termasuk pertarungan sunyi antara keinginan diterima
dan keberanian menjadi diri sendiri. Kini
saya melihat perjalanan otentisitas melalui tiga tahapan yang saling
berhubungan, seperti perjalanan manusia dari kelahiran menuju kedewasaan
batin. Pertama,
kehidupan yang tidak kita pilih. Kita
menerima dunia beserta keluarga, tradisi, bahasa, agama, dan sejarahnya.
Semuanya membentuk diri sebelum kita memiliki kesempatan untuk menentukan
arah kehidupan. Kedua,
kehidupan yang kita sadari. Kita
mulai bertanya, memeriksa, dan memilih. Kita belajar membedakan warisan yang
patut dijaga, ketakutan yang perlu diatasi, dan nilai yang layak
diperjuangkan. Ketiga,
kehidupan yang kita persembahkan bagi sesama. Kita
menyadari bahwa menjadi diri sendiri bukanlah tujuan terakhir. Kebebasan
memperoleh kedalaman ketika ia digunakan untuk mencintai, menolong, dan
memperluas kemungkinan hidup orang lain. Pada
akhirnya, ukuran hidup bukan semata berapa banyak yang berhasil kita
kumpulkan, melainkan berapa banyak kebaikan yang tetap bekerja setelah kita
pergi. Kita
tidak memilih dari mana kehidupan bermula. Tetapi kita dapat memilih nilai
yang menuntunnya, dan kepada siapa kehidupan itu akhirnya kita persembahkan. Sebab
kehidupan yang paling otentik bukan hanya kehidupan yang akhirnya menjadi
milik kita sendiri. Ia juga menjadi hadiah bagi orang lain. Namun
satu pertanyaan masih menunggu. Jika kebijaksanaan dapat dipelajari lintas
iman, di mana batas antara belajar dan mengambil alih? Bagaimana kita belajar
dari rumah iman orang lain tanpa kehilangan rumah sendiri, dan tanpa merampas
rumah mereka? ● REFERENSI 1. Kierkegaard, Søren.
The Sickness Unto Death. 1849. Terjemahan Inggris oleh Howard V. Hong dan
Edna H. Hong. Princeton University Press, 1980. 2. Wolf, Susan.
Meaning in Life and Why It Matters. Princeton University Press, 2010. 3. Appiah, Kwame
Anthony. The Ethics of Identity. Princeton University Press, 2005. 4.
Taylor, Charles. The Ethics of Authenticity. Harvard University Press, 1991. |