|
Juara Setelah 35 Tahun Menunggu Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 06 Oktober 2026
|
Malam itu
lampu GBK dipadamkan. Ribuan telepon berubah menjadi lilin, dan Indonesia
akhirnya menemukan kembali pialanya setelah 35 tahun menunggu. Stadion Gelora Bung Karno tadi malam
benar-benar bergelora. Bukan karena lampu stadion menyala terang, tetapi
justru karena lampu itu dipadamkan. Puluhan ribu telepon genggam kemudian
menyala di tangan penonton. Dari kejauhan, cahaya kecil itu tampak seperti
ribuan lilin yang ditanam di tengah kegelapan. Lalu terdengar alunan syahdu “Tanah
Airku”, lagu ciptaan Ibu Sud, dinyanyikan Anggun C Sasmi dengan suara
tegarnya. Dalam gelap, lagu itu terdengar lebih khidmat. Seolah-olah
Indonesia sedang menyanyikan dirinya sendiri. Stadion seolah tak membutuhkan tata
cahaya canggih untuk menciptakan suasana. Ia hanya membutuhkan manusia yang
merasa memiliki sesuatu. Malam itu, yang dimiliki bersama bukan
sekadar pertandingan sepak bola. Ada perasaan yang lebih tua dan lebih besar:
tanah air. Dan tanah air memang sering menjadi paling terasa ketika seseorang
takut kehilangannya. Beberapa jam sebelumnya, GBK adalah
arena pertandingan. Indonesia menghadapi Thailand dalam final FIFA ASEAN Cup
2026. Setelah 90 menit, skor 1-1. Perpanjangan waktu kembali melahirkan
drama: Thailand unggul 2-1, Indonesia menyamakan menjadi 2-2. Akhirnya,
pertandingan harus diselesaikan lewat adu penalti. Di situlah sepak bola berubah menjadi
ujian saraf nasional. Tendangan maut Kevin Diks masuk. Gol. Dean James. Gol.
Elkan Baggott. Gol. Shayne Pattynama. Gol. Di pihak Thailand, dua penendang
terakhir gagal. Emil Audero menjadi penjaga gerbang terakhir. Indonesia pun menang 4-2 dalam adu
penalti dan, dengan skor pertandingan keseluruhan 6-4, mengangkat trofi yang
selama ini hanya boleh dipandangi dari jauh. Malam itu Indonesia akhirnya mempunyai
juara senior di Asia Tenggara. Penantian 35 tahun selesai. Tiga puluh lima tahun bukan waktu
sebentar. Anak yang lahir ketika Indonesia terakhir merebut gelar pada 1991
sudah bisa menjadi orang tua ketika Garuda kembali mengangkat piala. Karena itu, kemenangan ini terasa
seperti seseorang akhirnya membayar utang yang sudah lama dianggap macet. Tetapi sepak bola Indonesia memang
punya hubungan unik dengan kata “menunggu”. Kita sudah terlalu sering
menunggu. Menunggu juara. Menunggu lolos. Menunggu stadion penuh. Menunggu
pemain matang. Kita terlalu lama menunggu pembinaan
membaik. Menunggu kompetisi sehat. Bahkan kadang menunggu pelatih baru sambil
berharap pelatih lama tiba-tiba menjadi lebih baik. Malam ini, setidaknya satu penantian
selesai. Karena itu pula kemenangan ini penting bagi Presiden Prabowo
Subianto, yang hadir di tengah penonton. Prabowo baru akan genap dua tahun
menjabat pada 20 Oktober 2026. Ia dilantik bersama Gibran Rakabuming Raka
pada 20 Oktober 2024. Jadi final ini berlangsung sekitar dua pekan sebelum
ulang tahun kedua pemerintahannya. Timing semacam itu sulit diabaikan.
Pemerintah tentu membutuhkan cerita keberhasilan yang dapat dirasakan publik
secara langsung. Piala sepak bola punya kelebihan yang
tidak dimiliki banyak indikator pembangunan: ia dapat dirayakan bersama-sama,
tanpa perlu membaca tabel statistik terlebih dahulu. Orang tak perlu mengerti pertumbuhan
ekonomi untuk ikut berteriak ketika penalti Thailand gagal. Tak perlu
memahami APBN untuk memeluk orang di sebelahnya ketika Baggott mencetak gol.
Mereka sudah merasa bangga. Itulah kekuatan olahraga. Ia mengubah
statistik menjadi emosi. Namun justru di sinilah pemerintah
harus berhati-hati. Jangan sampai kemenangan Garuda diperlakukan seperti
stiker prestasi yang ditempelkan ke laporan dua tahun pemerintahan. Piala itu milik para pemain, pelatih,
suporter, federasi, dan seluruh ekosistem sepak bola yang bekerja jauh
sebelum malam final. Presiden boleh ikut bangga. Negara
wajib memberi apresiasi. Tetapi jangan mencuri seluruh cahaya dari mereka
yang memang berlari di bawah lampu stadion. Sebab kemenangan sepak bola juga
mengajarkan satu hal yang sering dilupakan birokrasi: hasil akhir lahir dari
kerja panjang yang tidak selalu masuk kamera. Malam ini kita melihat empat penendang
penalti. Kita tidak melihat seluruh latihan yang membawa mereka sampai ke
titik itu. Kita melihat Emil Audero menepis bola.
Kita tidak melihat seluruh proses yang membuat seorang penjaga gawang mampu
berdiri tenang ketika satu tendangan dapat menentukan nasib jutaan orang. Begitu pula sebuah bangsa. Kita sering
ingin hasil cepat. Jalan cepat, sekolah cepat bagus, ekonomi cepat tumbuh,
prestasi cepat datang. Padahal pembinaan selalu bekerja
seperti akar pohon: lama, sunyi, dan tidak menarik untuk ditonton. Orang baru
bertepuk tangan ketika buahnya muncul. Sepak bola Indonesia akhirnya
memperlihatkan buah itu malam ini. Yang lebih menarik, pesta kemenangan
ditutup dengan “Tanah Airku”. Lagu Ibu Sud itu tidak bicara tentang
kemenangan atas Thailand. Ia bicara tentang kerinduan kepada tanah air. Tentang
pergi sejauh apa pun, tetapi tetap membawa kampung halaman di dalam kalbu. Maka ketika lampu stadion dipadamkan
dan ribuan telepon menyala seperti lilin, simbolnya menjadi sangat kuat. Indonesia malam itu tidak tampak
seperti negara yang sedang memamerkan kemajuan teknologi. Ia tampak seperti
sekumpulan manusia yang sedang menjaga api kecil di dalam dirinya. Api itu bernama Indonesia. Dan mungkin inilah alasan sepak bola
tetap penting, meskipun ia tidak menyelesaikan kemiskinan, tidak memperbaiki
sekolah, tidak membereskan korupsi, dan tidak otomatis membuat harga
kebutuhan pokok turun. Sepak bola memberi bangsa sebuah ruang
untuk merasa menjadi satu. Tugas pemerintah kemudian sederhana, tetapi berat:
jangan biarkan rasa persatuan itu berhenti di stadion. Kalau pemerintah serius menjadikan
olahraga sebagai bagian dari pembangunan manusia, kemenangan malam ini harus
diteruskan ke lapangan-lapangan kecil. Perbanyak lapangan publik. Perbaiki
kompetisi usia muda. Pastikan sekolah sepak bola memiliki pelatih
bersertifikat. Bangun sistem pencarian bakat yang transparan. Lindungi pemain muda dari politik dan
transaksi yang merusak. Dan yang paling penting, pastikan prestasi tidak
bergantung pada satu generasi emas saja. Sebab piala pertama setelah 35 tahun
jangan menjadi pesta penutup. Ia harus menjadi pintu pembuka. Malam ini GBK memang bergelora.
Thailand sudah pulang membawa kekalahan. Indonesia membawa piala. Tetapi setelah lampu dinyalakan
kembali, para pemain pulang, dan telepon genggam berhenti menjadi lilin,
pekerjaan sesungguhnya dimulai. Kita sudah selesai menunggu piala.
Sekarang jangan sampai Indonesia kembali menunggu terlalu lama untuk
mempertahankannya. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |