Selasa, 27 Oktober 2026

 

Periksa Suhu

Ahmadie Thaha :  Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an.

CATATAN CAK AT, 27 Oktober 2026

 

                                                

 

Dulu memeriksa dunia, sekarang memeriksa diri. Apa yang ditemukan 175 wartawan senior ketika menjalani cek kesehatan gratis?

 

Aula Siwabessy Kementerian Kesehatan, Jakarta, terasa berbeda dari ruang-ruang yang kami datangi semasa masih aktif menjadi wartawan. Dulu kami mencari berita tentang kesehatan. Sekarang, kami mencari tahu kesehatan sendiri.

 

Senin, 26 Oktober 2026, sebanyak 175 wartawan senior berkumpul untuk urusan yang jauh lebih mendasar: memeriksa kesehatan. Sebagian datang bersama istri atau suami.

 

Sejak pukul tujuh pagi, beberapa kawan bahkan sudah hadir. Rupanya, kalau urusannya kesehatan sendiri, para pemburu berita pun tak mau ketinggalan.

 

Di ruangan itu, wajah-wajah tua berseliweran. Sebagian besar wajah para ayah, dengan rambut memutih, kulit mengendur, dan sorot mata yang menyimpan puluhan tahun cerita. Namun, banyak juga yang berdandan gagah, seolah hendak menghadiri pelantikan pemimpin redaksi baru.

 

Mereka pernah meliput perang, mengejar pejabat, membongkar skandal, memimpin redaksi, bahkan menentukan berita apa yang pantas dibaca jutaan orang. Wartawan radio, televisi, koran, dan tabloid berbaur.

 

Kini, mereka mengantre untuk diperiksa tekanan darah, kadar gula, kolesterol, jantung, dan mata. Dulu mereka sibuk memelototi dunia. Sekarang, giliran dunia medis memelototi mereka.

 

Serikat Wartawan Senior Indonesia (SWSI), yang dikenal pula sebagai SW60+, menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan gratis ini bersama Kementerian Kesehatan.

 

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid hadir. Kawan-kawan rupanya masih lihai mempertemukan dua kementerian yang mengurus dua kebutuhan mendasar manusia: kesehatan dan komunikasi.

 

Yang satu menjaga agar tubuh tetap berfungsi, yang lain menjaga agar informasi tetap sampai. Keduanya membutuhkan pemeriksaan berkala supaya gangguan terdeteksi sebelum berkembang menjadi masalah besar. Bedanya, kalau berita keliru bisa segera diralat, tubuh yang telanjur rusak kadang tak mudah diperbaiki.

 

Budi Gunadi menyampaikan tugas dari Presiden Prabowo untuk meningkatkan rata-rata usia harapan hidup penduduk Indonesia dari 72 menjadi 76 tahun.

 

Ia menyoroti stroke, penyakit jantung, kanker, dan gagal ginjal yang dapat memperpendek usia jika terlambat terdeteksi. Penyakit-penyakit itu perlu mendapat perhatian serius, terutama pada kelompok lanjut usia.

 

Menkes juga membagikan resep sederhana yang tak membutuhkan biaya mahal: tidur sekitar tujuh jam empat puluh menit setiap hari, berolahraga minimal 30 menit selama lima hari dalam sepekan, dan makan secukupnya.

 

Ia menganjurkan pemeriksaan kesehatan rutin, termasuk melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digelar pemerintah sejak 2025.

 

Nasihat itu terasa dekat bagi kami. Wartawan senior umumnya sudah tak sekuat dulu. Memanggul kamera, berlari mengejar narasumber, menunggu berjam-jam di depan ruang pejabat, atau berdiri lama di tengah kerumunan bukan lagi pekerjaan yang bisa dilakukan dengan enteng.

 

Dulu, tubuh kami perlakukan seperti kendaraan dinas yang boleh dipacu sepanjang hari. Berita harus selesai, halaman harus naik cetak, siaran harus tayang. Urusan makan, tidur, dan istirahat bisa menunggu. Sekarang, kendaraan itu mulai sering meminta masuk bengkel.

 

Meutya Hafid mengingatkan sisi lain yang tak kalah penting: kesehatan mental wartawan. Ia menyinggung tekanan psikologis yang muncul ketika wartawan meliput konflik atau menyaksikan peristiwa traumatis.

 

Pengalaman Meutya sendiri saat disandera kelompok bersenjata di Irak pada 2005, ketika bertugas sebagai wartawan Metro TV, memberi konteks nyata pada persoalan tersebut.

 

Meliput konflik, menghadapi ancaman, dan terus-menerus menyerap kabar buruk dapat memengaruhi pikiran, emosi, serta suasana hati. Meutya menyarankan agar wartawan memberi jeda antara satu liputan berat dan liputan berat berikutnya.

 

Nasihat ini berlaku pula bagi wartawan yang sudah pensiun. Sebab, meskipun kartu pegawai sudah lama disimpan, sebagian dari mereka masih membawa ruang redaksi di dalam kepala.

 

Di grup WhatsApp, misalnya, para suhu masih ramai membicarakan keadaan bangsa. Polarisasi pendapat sudah biasa. Seseorang mengkritik pemerintah, yang lain membela kebijakannya, sementara peserta ketiga menyodorkan sudut pandang berbeda.

 

Tak perlu ada yang membanting pintu grup atau mengirim pesan panjang berisi kemarahan. Mereka sudah saling mengenal, memahami pengalaman lapangan masing-masing, dan tahu bahwa perbedaan pendapat merupakan bagian dari kehidupan demokratis.

 

Mereka kenyang berdebat soal berita di ruang redaksi, menguji argumen narasumber, bahkan mempertaruhkan reputasi demi sebuah laporan.

 

Perbedaan pandangan politik di grup terasa lebih ringan karena mereka memahami bahwa persahabatan tak harus tumbang hanya gara-gara perbedaan pilihan.

 

Namun, obrolan yang panjang dan kebiasaan terus memikirkan berita tetap perlu diimbangi istirahat. Negara bisa menunggu sebentar. Tekanan darah jangan sampai ikut naik karena perdebatan yang tak kunjung selesai.

 

-000-

 

Sejak April lalu, ketika SW60+ mempertemukan para suhu kewartawanan, saya sudah merasakan bahwa organisasi ini bakal menjadi tempat yang menarik. Para anggotanya datang dari puluhan lembaga media, dengan pengalaman yang membentang dari reporter lapangan hingga pemimpin redaksi.

 

Dalam tulisan Para Suhu di Ujung Waktu, saya bercerita tentang para pendekar berita yang sudah melewati berbagai jenjang profesi. Mereka pensiun dari perusahaan, tetapi sulit pensiun dari naluri kewartawanan.

 

Kali ini, naluri itu membawa kami ke meja pemeriksaan kesehatan. Objek liputan bergeser: dari keadaan negara ke keadaan tubuh sendiri.

 

Pemeriksaan mata menjadi salah satu pengalaman yang menarik bagi saya. Saya duduk cukup lama menunggu giliran. Petugas mengukur daya penglihatan dan memeriksa angka minus-plus. Hasil pemeriksaan saya menunjukkan minus tiga untuk mata kanan dan minus 2,75 untuk mata kiri. Kok berbeda, ya? He-he-he.

 

Padahal, keduanya sudah puluhan tahun bekerja sama membaca huruf kecil, memeriksa dokumen, menatap layar komputer, dan mengejar kalimat yang kadang lebih licin daripada narasumbernya. Rupanya, mata pun punya catatan kinerja masing-masing.

 

Di meja sebelah, petugas memeriksa katarak. Di sinilah saya mulai curiga bahwa profesi wartawan menyimpan risiko yang tak tercantum dalam surat keputusan pengangkatan.

 

Seumur hidup membaca teks dan memelototi gambar, mata kami terus bekerja melewati lima dasawarsa. Kini, sebagian kawan mendapat indikasi katarak, dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.

 

“Saya masih bisa melihat, kok kena katarak, ya?” keluh seorang kawan. Pertanyaan itu mengandung salah paham yang cukup lazim.

 

Selama masih bisa membaca tulisan di layar ponsel, kita merasa penglihatan baik-baik saja. Selama masih bisa berjalan ke warung, kita menganggap kaki sehat. Selama masih sanggup makan tiga kali sehari, kita merasa lambung tak punya masalah.

 

Kita sering baru percaya ada gangguan ketika tubuh mengirim surat teguran dengan kop rumah sakit.

 

Padahal, mata yang masih bisa melihat belum tentu bebas katarak. Begitu pula tekanan darah yang tak menimbulkan pusing belum tentu normal.

 

Gangguan kesehatan kerap berkembang diam-diam, seperti tikus yang menggerogoti kabel di balik dinding. Rumah masih tampak utuh, lampu tetap menyala, tetapi kerusakan terus berlangsung.

 

Wahyu Muryadi, ketu umum SW60+ yang juga mantan pemimpin redaksi Tempo, menyampaikan catatan awal dari pelaksanaan CKG. Menurut pengamatannya, lebih dari separuh peserta mengalami hipertensi.

 

Mayoritas juga terindikasi katarak dan obesitas, sementara hasil pemeriksaan EKG portabel menunjukkan beberapa peserta perlu menjalani pemeriksaan jantung lebih mendalam.

 

Angka-angka itu masih berupa pengamatan awal, bukan laporan epidemiologis lengkap. Namun, cukup untuk membuat kami berhenti sejenak dan berpikir.

 

Selama bertahun-tahun, kami terbiasa memeriksa angka dalam laporan keuangan, data pemilu, statistik kemiskinan, dan hasil survei. Kini, angka-angka yang perlu kami perhatikan justru muncul dari hasil pemeriksaan tubuh sendiri.

 

Budiman Tanurejo, sekum SWSI, menyampaikan terima kasih atas antusiasme para peserta. Ia melihat CKG sebagai kesempatan untuk memeriksa kesehatan sekaligus memulihkan memori masa lalu.

 

Ruang Siwabessy hari itu menjadi tempat bertemunya kawan-kawan yang mungkin sudah belasan, bahkan puluhan tahun tak saling berjumpa secara langsung.

 

Seorang kawan mengungkapkan rasa syukur karena pemeriksaan jantung dan paru-parunya tak menunjukkan masalah berdasarkan pemeriksaan yang ia jalani.

 

Ia juga berterima kasih atas nasihat Menkes agar patuh pada petunjuk dokter dan minum obat untuk mengendalikan tekanan darah.

 

Pengalaman itu mengingatkan kita bahwa pemeriksaan kesehatan baru memberi manfaat penuh jika hasilnya diikuti tindakan yang tepat.

 

Kawan-kawan lain menyampaikan rasa terima kasih kepada pengurus dan panitia. Bagi mereka, kegiatan ini melampaui urusan medis.

 

Acara tersebut menjadi reuni lintas media, mempertemukan kembali para wartawan yang dahulu berbagi suka-duka saat meliput peristiwa, mengejar narasumber, dan menyelesaikan berita di bawah tekanan tenggat.

 

Di usia kepala tujuh dan kepala delapan, pertemuan semacam itu punya arti tersendiri. Persahabatan yang lama terputus tersambung kembali. Cerita lama kembali hidup, sementara pengalaman baru dibagikan dengan lebih santai.

 

Kali ini, tak ada redaktur yang berteriak meminta naskah segera dikirim. Yang ada justru petugas medis yang meminta kami mengulurkan lengan untuk mengukur tekanan darah.

 

-000-

 

Program CKG ini mengusung semboyan “Wartawan Senior Sehat, Negara Lebih Kuat.” Semboyan itu mengandung gagasan yang layak diperluas.

 

Wartawan yang sehat dapat terus menyumbangkan pengalaman, membimbing jurnalis muda, membantu masyarakat memahami informasi, dan menjaga ruang publik dari kabar bohong.

 

Pemeriksaan yang disediakan meliputi tekanan darah, gula darah, kolesterol, skrining risiko TBC dan hepatitis, pemeriksaan jantung, konsultasi dokter, serta tes IVA untuk deteksi dini kanker serviks bagi peserta perempuan yang memilih mengikutinya.

 

Peserta yang menunjukkan indikasi risiko kesehatan dapat menjalani pemeriksaan lanjutan di puskesmas atau rumah sakit dengan memanfaatkan fasilitas BPJS Kesehatan.

 

Namun, satu kali pemeriksaan belum menyelesaikan seluruh urusan kesehatan. Hasilnya perlu ditindaklanjuti, obat harus diminum sesuai petunjuk dokter, dan kebiasaan hidup perlu diperbaiki.

 

SW60+ dapat mengambil peran lebih jauh dengan mengingatkan anggota agar rutin memeriksa kesehatan, mengadakan diskusi kesehatan mental, menyelenggarakan kegiatan jalan pagi, dan membantu anggota memahami akses layanan kesehatan.

 

Dengan begitu, kegiatan ini tak berhenti sebagai acara seremonial yang fotonya ramai beredar sehari, lalu terlupakan pada hari berikutnya. Pemeriksaan kesehatan perlu menjadi pintu masuk menuju kebiasaan hidup yang lebih baik.

 

Saya membayangkan para suhu itu kelak kembali berkumpul. Mereka tetap memperdebatkan politik, pers, dan masa depan negeri. Bedanya, di sela-sela perdebatan, mereka saling bertanya apakah tekanan darah sudah diperiksa, apakah obat sudah diminum, dan kapan terakhir kali mata diperiksakan.

 

Pertanyaan seperti itu mungkin terdengar kurang gagah dibandingkan membahas pergantian kabinet. Namun, bagi orang yang sudah melewati usia 60 tahun, perhatian semacam itu jauh lebih berharga daripada seribu komentar di grup WhatsApp.

 

Saya juga memberi hormat kepada kawan paling senior yang tetap berkenan hadir meski menggunakan tongkat: Abdullah Alamudi, 86 tahun. Juga Usamah Said, 84 tahun.

 

Kehadiran mereka menunjukkan bahwa semangat berkumpul dan menjaga persahabatan tetap hidup, meski tubuh tak lagi sekuat masa muda.

 

Usia panjang memang menyimpan keberuntungan karena kita masih diberi waktu. Namun, waktu itu juga menuntut tanggung jawab: menjaga tubuh agar tetap mampu menjalankan hal-hal yang ingin kita kerjakan.

 

Kita tak bisa menawar semua risiko penyakit, tetapi kita bisa memeriksakan diri, memperbaiki pola makan, bergerak teratur, tidur cukup, dan mengikuti saran dokter.

 

Pada akhirnya, para wartawan senior tak perlu lagi membuktikan keberanian dengan berlari mengejar narasumber. Mereka sudah melewati masa itu.

 

Kini, tantangannya ialah menjaga tubuh agar tetap sanggup mengabdi. Mereka telah menghabiskan puluhan tahun memeriksa dunia. Sekarang, mereka belajar memeriksa diri sendiri.

 

Kalau ada yang bertanya apa berita paling penting dari pertemuan 175 wartawan senior itu, jawaban saya sederhana: hari itu, para pemburu berita bersedia menjadi berita bagi diri mereka sendiri.

 

Mereka datang membawa pengalaman panjang, lalu pulang dengan hasil pemeriksaan yang mungkin menyenangkan, mungkin juga mengkhawatirkan.

 

Keduanya sama-sama berguna. Sebab, bagi wartawan, fakta harus diterima sebagaimana adanya, termasuk fakta yang muncul dari tubuh sendiri.

 

Kita boleh pensiun dari kantor, tetapi jangan buru-buru pensiun dari kehidupan. Selama masih ada yang bisa ditulis, diajarkan, diperjuangkan, dan dibagikan kepada generasi berikutnya, para suhu masih punya pekerjaan.

 

Hanya saja, sebelum terus menjaga akal sehat bangsa, mereka perlu memastikan bahwa mata, jantung, dan tubuhnya sendiri masih sanggup diajak bekerja sama. ●

 

Sumber :   Tulisan Cak AT ini diterima langsung dari Ahmadie Taha

 

 

Gas Asap

Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos

DISWAY, 27 Oktober 2026

 

 

 

Di samping mengeluh dan marah, apa yang dilakukan orang Singapura selama dapat kiriman asap dari kebakaran hutan di Indonesia?

 

Dari enam orang yang makan bersama saya di salah satu restoran Sichuan Singapura tidak satu pun yang tidak beli penjernih udara. Itu untuk dipasang rumah masing-masing. Harga mesin purifier pun langsung naik dua kali lipat. Yang paling laris merek Xiaomi. Enam orang enam Xiaomi.

 

"Sekarang AC di rumah saya hidup 24 jam sehari," ujar Robert Lai, sahabat Disway di sana. Ia warga Singapura kelahiran Hong Kong. "Itu karena kami tidak berani buka jendela agar tidak ada asap masuk rumah. Kalau AC tidak menyala ruangan jadi panas," tambahnya.

 

Berita terkini

 

"Juga beli purifier?"

 

"Iya."

 

"Juga merek Xiaomi?"

 

"Iya."

 

Perubahan hidup lainnya: kian banyak orang yang ke ''bilik O2''. Ukuran biliknya tidak sampai 1x1 meter. Hanya cukup untuk satu orang. Ke dalam bilik itu dimasukkan oksigen murni. Yakni setelah orang masuk ke dalamnya.

 

Ada sekitar 10 stasiun ''bilik O2'' di seluruh Singapura. Satu stasiun ada yang punya enam bilik. Awalnya bilik O2 untuk kebugaran paru dan kulit. Juga untuk kelengkapan klinik kecantikan. Tapi sejak ada kiriman asap dari Indonesia, bilik itu juga untuk pasok oksigen tambahan ke dalam paru.

 

"Satu jam SGD500," ujar seorang wanita yang sudah beberapa kali masuk bilik O2.

 

Ketika dia mengucapkan itu otak saya berhitung: sebelum ada kiriman asap apakah dia juga bayar O2 sebanyak 500x24 ke alam. Saya tidak berani mengucapkannya.

 

Masih ada kebiasaan baru lainnya orang Singapura: lebih rajin minum madu. Maka madu Selandia Baru jenis Manuka laris –dipercaya mengandung anti oksidan tinggi. "Sudah sebulan tiap hari kami sekeluarga minum madu," katanyi.

 

Itu belum cukup. Masih harus rajin minum obat herbal dari Tiongkok. Sudah berbentuk kapsul. Ditambah satu obat batuk non herbal –yang warnanya stabilo mencolok.

 

Tidak hanya paru dan tenggorokan orang Singapura yang terganggu asap. Banyak restoran yang juga batuk-batuk: begitu aplikasi penanda kualitas udara menunjukkan angka 270 psi banyak orang tidak mau keluar rumah: restoran ikut sepi.

 

Maka bertambahlah yang marah-marah di medsos. Marah ke Indonesia. Sebaliknya banyak juga orang Indonesia yang balas marah-marah ke Singapura. Saling berbalas marah.

 

Maka ketika ada berita Indonesia menghentikan pasok gas ke Singapura dibilang itu bagian dari marah-pembalasan dari pihak Indonesia.

 

Tanggal 24 Oktober kemarin Indonesia memang memangkas pasok gas ke Singapura. Mulai berlaku hari itu juga. Jumlah pangkasannya 31 juta kaki kubik per hari. Yakni dari Natuna 15 juta dan dari Sumatra 16 juta kaki kubik.

 

Gas itu sampai di Singapura untuk pembangkit listrik milik swasta di sana. Jumlah itu bisa untuk menghasilkan listrik 120 MW. Itu memang tidak ada artinya dibanding kebutuhan listrik seluruh Singapura sekitar 8.500 MW.

 

Memangkas pasok gas itu mudah: tinggal menutup atau mengecilkan kran di pipa di percabangan ke arah Singapura. Di bawah laut sana pipa gas itu bercabang-cabang. Tiap percabangan dipasang kran buka-tutup.

 

Pipa gas dari Indonesia ke Singapura itu datang dari dua arah: dari arah Natuna dan dari arah Sumatera. Ratusan kilometer panjangnya. Yang dari Sumatera datang dari dua arah pula: dari Lampung-Palembang dan dari arah Riau. Di dekat Batam ada cabang pipa ke Batam.

 

Yang dari arah Natuna ke Singapura juga ada cabang ke Batam. Yang dari arah Natuna itu tersambung pula dengan pipa yang dari arah Riau.

 

Di Lampung sana pipa itu tersambung ke arah Cilegon, Jakarta, Cirebon, Semarang, Cepu, Gresik, sampai ke ujung Madura. Di Gresik bercabang ke Surabaya sampai mentok di Probolinggo (Leces).

 

Idealnya, yang dari arah Lhokseumawe, Aceh, menuju Medan juga tersambung dengan jaringan pipa Riau. Sekarang masih terputus di Bagansiapiapi.

 

Maka ketika pemerintah memutuskan menghentikan pasok gas ke Singapura, petugas tinggal menutup kran di percabangan ke Singapura.

 

Apakah Singapura tidak tambah marah?

 

Saya mengamati itu selama di Singapura. Belum ada reaksi keras dari pihak Singapura. Yang ada baru sebatas pernyataan bahwa penyaluran gas ke Singapura itu ada perjanjian kontraknya. Pun baru diperpanjang tahun 2022. Singapura masih sebatas minta agar semua pihak menghormati kontrak.

 

Di medsos ada omelan: Indonesia kelihatannya ketularan Donald Trump. Begitu kepentingan dalam negeri terganggu, keputusan sepihak dilakukan.

 

Indonesia memang lagi kekurangan gas. Agak akut. Batam kekurangan gas. Pabrik pupuk Sriwijaya kekurangan gas –untuk diubah jadi amoniak dan akhirnya jadi pupuk. Industri di Jawa Barat menjerit-jerit tidak ada kepastian harga maupun pasokan gas.

 

Indonesia bikin keputusan sepihak. Kali ini semua pihak di Indonesia kelihatannya memuji keputusan Prabowo-Bahlil dalam mengatasi kekurangan gas dalam negeri.

 

Bahwa Singapura teriak-teriak biarkan saja. Toh pasokan gas dari Indonesia itu tidak sampai 1 persen kebutuhan gas Singapura. Karena itu Singapura tidak mau menunjukkan rasa panik untuk menjaga ketenangan kalangan bisnis mereka.

 

Sebagian besar gas untuk negeri itu didatangkan dari Qatar dan Australia. Qatar sudah lama punya terminal LNG kelas raksasa. Australia punya terminal LNG baru di dekat Darwin.

 

Bagi Singapura kehilangan gas dari Indonesia tinggal menambah permintaan ke Qatar –kalau Iran tidak sedang blokade selat Hormuz. Masalahnya: bagaimana kalau harga gas Qatar lebih mahal dari gas Natuna. Mungkin akan terjadi kompromi. Selisih kemahalan tersebut dibuat sharing pain.

 

Atau Indonesia tidak mau tahu. Pokoknya produksi gas dalam negeri diutamakan untuk keperluan dalam negeri. Bisa juga dalam kontrak memang ada klausul seperti itu.

 

Apakah Indonesia juga akan berani menyetop pasok gas dari LNG Tangguh ke Tiongkok –lewat terminal LNG di pantai Putian, Fujian? Dengan alasan toh investasi Tangguh sudah terbayar kembali? Dan harga jual gas di zaman Presiden Megawati tersebut dianggap kelewatan murahnya?

 

Juga beranikah menghentikan ekspor gas dalam bentuk LNG ke Jepang –dari terminal LNG Donggi Senoro dekat Luwuk Banggai?

 

Perang sosmed soal asap kelihatannya akan berlanjut ke perang medsos soal gas. Tidak ada pabrik senjata yang diuntungkan ketika yang meletus adalah perang di medsos. ●

 

Sumber :    https://disway.id/catatan-harian-dahlan/975781/gas-asap