|
Pagi
ini Jakarta masih gelap ketika ia pergi. Seorang seniman yang namanya sendiri
terdengar seperti bunyi langit menjelang hujan: Guruh.
Pukul
04.16 WIB, di Rumah Sakit MRCCC Siloam Semanggi, napasnya berhenti. Kota
belum sepenuhnya terjaga. Tetapi sebuah zaman kebudayaan Indonesia seperti
ikut menutup mata.
Ada
kematian yang hanya menghentikan tubuh. Ada pula kematian yang membuat kita
tiba-tiba mendengar kembali lagu lama, lalu menyadari sebagian hidup kita
tersimpan di sana.
Guruh
termasuk yang kedua. Sebab karya memiliki jam biologis yang berbeda dari
manusia. Penciptanya berhenti bernapas. Melodi yang ditinggalkannya justru
memulai kehidupan berikutnya.
Karena
itu, mengenang Guruh bukan terutama mengenang putra Bung Karno. Kita
mengenang seorang Indonesia yang sepanjang hidupnya menjawab satu kegelisahan
besar.
Bagaimana
menjadi modern tanpa kehilangan Indonesia?
-000-
Pada
1980-an, sebagai aktivis mahasiswa yang membaca Bung Karno, saya beberapa
kali menonton Swara Maharddhika. Ada sesuatu yang terasa baru ketika itu.
Nasionalisme
yang biasanya hadir dalam pidato, buku sejarah, dan demonstrasi, mendadak
menjelma cahaya, musik, kostum, tubuh, dan koreografi.
Saya
masih mengingat keterkejutan itu. Anak-anak muda bertepuk tangan untuk tari
tradisi dengan kegairahan yang biasanya diberikan kepada konser musik modern.
Guruh
seperti menyampaikan manifesto tanpa berkhotbah: mencintai Indonesia tidak
berarti memuseumkan Indonesia.
Tradisi
bukan benda tua di balik kaca. Ia adalah api. Setiap generasi harus
memberinya udara baru agar terus menyala.
Bertahun-tahun
kemudian, saya berkesempatan bercakap langsung dengannya. Guruh bercerita
tentang filosofi di balik keseniannya: warisan budaya Indonesia harus terus
dihidupkan, tetapi dengan aura modern.
Kita
tidak perlu memilih antara menjadi Indonesia dan menjadi modern. Keduanya
justru dapat saling memperkaya.
Saya
menangkap satu keyakinan dalam dirinya: akar diperlukan bukan agar pohon
terpenjara di masa lalu, melainkan agar ia cukup kokoh untuk tumbuh tinggi
menuju masa depan.
Itulah
Guruh.
Ia
mengambil bunyi, gerak, busana, dan imajinasi Nusantara, lalu memberinya
bahasa baru. Di tangannya, tradisi tidak menjadi renta. Tradisi menjadi muda
kembali.
Ketika
berjumpa lagi dengannya pada 2007, Guruh menyalami saya erat sekali.
Saat
itu, saya bersama istri, Mulia Jayaputri, juga sedang menempuh jalan serupa
dalam dunia berbeda. Kami membangun Bunga Rampai, menghadirkan kuliner
Indonesia dengan suasana dan kualitas berkelas internasional.
Saya
masih mengingat genggaman tangan Guruh, memberi semangat. Kini, setelah ia
tiada, salam itu memperoleh makna yang berbeda.
Dulu
saya menyaksikannya membawa kebudayaan Indonesia ke panggung modern. Bertahun
kemudian, saya mencoba membawa semangat serupa ke meja makan.
Dari
Guruh saya semakin memahami satu hal: mencintai tradisi bukan berarti
berjalan mundur menuju masa silam.
Mencintai
tradisi adalah memberinya masa depan.
Guruh
tidak mengajak Indonesia pulang ke masa lalu. Ia mengajak masa lalu Indonesia
berjalan bersama kita menuju hari esok.
-000-
Anak Istana yang Memilih Panggung
Guruh
lahir di Jakarta, 13 Januari 1953, sebagai anak bungsu Soekarno dan
Fatmawati. Darah kesenian tampak sangat dini dalam perjalanan hidupnya.
Arsip
Nasional Republik Indonesia mencatat, sejak sekitar usia lima tahun ia sudah
mempelajari tari Jawa, Sunda, dan Bali, belajar piano, bahkan membentuk
kelompok musik anak-anak.
Bayangkan
paradoks kecil itu. Seorang anak lahir begitu dekat dengan pusat kekuasaan,
tetapi dunia yang pertama memanggilnya justru gerak, bunyi, warna, dan
panggung.
Kemudian
sejarah berubah. Kekuasaan ayahnya runtuh. Istana yang pernah menjadi rumah
keluarga berubah menjadi bagian masa lalu yang penuh luka politik.
Pada
awal 1970-an, Guruh belajar arkeologi di Universiteit van Amsterdam selama
sekitar tiga tahun.
Ada
simbolisme indah di sana. Seorang anak Indonesia pergi ke Eropa mempelajari
masa silam, lalu kembali untuk membuat warisan masa silam berdansa bersama
masa depan.
Tradisi,
di tangannya, bukan jenazah kebudayaan. Ia adalah akar: tak terlihat dari
kejauhan, tetapi menentukan seberapa tinggi pohon dapat bertumbuh.
-000-
Lalu Meledaklah Guruh Gipsy
Pertengahan
1970-an melahirkan salah satu eksperimen penting dalam musik Indonesia. Guruh
berkolaborasi dengan Gipsy, kelompok yang di antaranya beranggotakan Chrisye
dan Keenan Nasution.
Album
Guruh Gipsy, yang dirilis pada 1977 setelah proses rekaman panjang,
mempertemukan rock progresif dengan berbagai idiom musik tradisional,
terutama gamelan Bali.
Lagu
pembukanya, Indonesia Maharddhika, berdurasi hampir 16 menit. Pada 2009,
Rolling Stone Indonesia memasukkannya ke dalam daftar 150 lagu Indonesia
terbaik sepanjang masa.
Yang
penting bukan sekadar hadirnya gamelan. Siapa pun dapat menempelkan instrumen
tradisional pada musik modern, lalu menyebut hasilnya perpaduan Timur dan
Barat.
Guruh
melakukan sesuatu yang lebih dalam. Dua dunia estetika dibuat berbicara
sebagai pihak yang setara. Tradisi tidak ditempatkan sebagai ornamen eksotis
bagi modernitas.
Pada
masa ketika modernisasi sering diam-diam disamakan dengan westernisasi,
eksperimen itu membawa pernyataan kebudayaan yang kuat: Indonesia tidak perlu
menjadi tiruan.
Kita
dapat menjadi modern justru dengan menggali semakin dalam siapa diri kita. Modernitas
terbaik bukan penghapusan memori, melainkan keberanian mengolahnya kembali.
-000-
Swara Maharddhika: Indonesia Naik ke Panggung
Pada
Minggu, 27 Maret 1977, lahirlah Swara Maharddhika, organisasi kesenian anak
muda yang kemudian menjadi laboratorium besar bagi eksperimen artistik Guruh.
Di
sana tari tradisional bertemu gerak modern. Musik daerah berjumpa tata suara
kontemporer. Warna Nusantara memasuki pertunjukan yang gemerlap, teatrikal,
dan kosmopolitan.
Puluhan
anak muda belajar sesuatu yang penting: mencintai Indonesia tidak harus
dilakukan dengan wajah muram. Nasionalisme juga boleh hadir sebagai
kegembiraan dan keindahan.
Lingkungan
itu ikut membentuk nama-nama seperti Denny Malik, Titi DJ, Memes, Marissa
Haque, dan Soraya Haque.
Pergelaran
Karya Cipta Guruh 1979 menjadi salah satu tonggaknya. Arsip Nasional
menggambarkannya sebagai pertunjukan yang mengolah unsur tradisional menjadi
kreasi yang lebih populer.
Di
tangan Guruh, panggung berubah menjadi republik kecil. Bali bertemu Jakarta.
Gamelan bertemu synthesizer. Masa lampau bertemu masa depan tanpa saling
meniadakan.
Di
sanalah salah satu kekuatan Guruh. Identitas tidak dipertahankan dengan
menguncinya. Identitas justru bertahan ketika memiliki keberanian untuk
berubah.
-000-
Lagu yang Diam-Diam Menjadi Ingatan
Lalu
datang lagu-lagu itu. Kala Sang Surya Tenggelam. Zamrud Khatulistiwa. Melati
Suci. Kembalikan Baliku. Renjana. Judul-judul yang akhirnya menjadi bagian
dari ingatan kolektif.
Ada
lagu yang memenangkan festival lalu menghilang. Ada pula lagu yang tahun
kelahirannya kita lupakan, tetapi diam-diam menetap puluhan tahun di kepala.
Lagu-lagu
Guruh termasuk jenis kedua. Renjana meraih penghargaan di Festival Lagu
Populer Tingkat Nasional 1976. Pada 1987, Kembalikan Baliku, dibawakan Yopie
Latul, meraih Kawakami Award dan Audience Selections Award di World Popular
Song Festival, Tokyo.
Tetapi
piala bukan ukuran terdalam seorang pencipta. Ukurannya adalah kemampuan
karya menyeberangi generasi tanpa meminta paspor dari zaman yang
melahirkannya.
Itulah
yang terjadi ketika Kala Sang Surya Tenggelam kembali terdengar lewat suara
Nadin Amizah dalam serial Gadis Kretek pada 2023, 45 tahun setelah Chrisye
memperkenalkannya dalam album Sabda Alam.
Generasi
baru mendengarnya tanpa beban nostalgia. Lagu itu lahir kembali.
Karya
besar memang mempunyai sifat ganjil: ia menua, tetapi tidak menjadi tua.
-000-
Ketika Seniman Memasuki Politik
Perjalanan
Guruh kemudian bergerak semakin jauh ke dalam politik. Ia duduk di DPR pada
1992–1997, kemudian kembali sejak 1999 hingga 2024.
Ia
berada di PDI, kemudian PDI Perjuangan. Dalam wawancara dengan The Jakarta
Post pada 2010, Guruh memandang seni dan politik sebagai alat perjuangannya
untuk membawa perubahan.
Di
sinilah muncul pertanyaan yang sulit dihindari. Apakah politik akhirnya
mengambil terlalu banyak waktu Guruh dari dunia kesenian?
Pertanyaan
itu sah. Tetapi jawabannya tidak boleh disederhanakan. Korelasi waktu bukan
bukti sebab-akibat. Kehidupan seorang seniman lebih rumit daripada kronologi.
Memang,
ledakan kreativitas Guruh paling terlihat sejak 1970-an hingga dekade-dekade
berikutnya. Musik, koreografi, pergelaran, bahkan film seperti Untukmu
Indonesiaku! (1980) memenuhi ruang kebudayaan Indonesia.
Ketika
keterlibatan politiknya semakin intensif, karya-karya barunya tidak lagi
hadir di ruang publik dengan frekuensi dan daya ledak seperti masa
sebelumnya.
Namun
mengatakan politik “mematikan” kreativitasnya akan melampaui bukti. Pada
2024, Guruh masih bercerita bagaimana sebuah lagu dapat muncul spontan,
bahkan selesai dalam hitungan menit.
Rumusan
yang lebih adil barangkali ini: bukan berarti kreativitas Guruh telah padam.
Yang berubah adalah intensitas kehadiran karya barunya di ruang publik
Indonesia.
-000-
Ada
yang dapat mengatakan bahwa kita terlalu romantis terhadap Guruh. Bukankah
perpaduan tradisi dan modernitas bukan ciptaannya seorang diri?
Tentu
benar. Kebudayaan Indonesia selalu merupakan perjumpaan. Keroncong, dangdut,
batik pesisir, arsitektur, bahasa, bahkan kuliner kita lahir dari persilangan
panjang berbagai dunia.
Kritik
yang lebih tajam datang dari arah lain. Bukankah panggung gemerlap dapat
mengubah tradisi menjadi tontonan eksotis, indah dipandang tetapi tercerabut
dari makna ritualnya?
Kekhawatiran
itu sah untuk setiap seni pertunjukan modern. Namun Guruh belajar kepada para
maestro tari dan karawitan Bali dan Jawa. Ia memperlakukan tradisi sebagai
tata bahasa, bukan sekadar hiasan.
Kebesaran
seniman tidak selalu terletak pada menemukan gagasan yang belum pernah ada.
Ia dapat terletak pada kekuatan perwujudannya.
Guruh
memberi perjumpaan tradisi dan modernitas bentuk yang spektakuler bagi
generasinya. Ia membuat tradisi bukan sekadar diwarisi, tetapi kembali
diinginkan anak muda perkotaan.
Ia
menjadikan Indonesia bukan objek nostalgia, melainkan bahan baku masa depan.
Museum
menjaga benda. Seniman membuatnya hidup kembali.
-000-
Dua Buku untuk Memahami
Guruh. Pertama, buku berjudul Beyond Exoticism: Western
Music and the World. Penulisnya Timothy D. Taylor, Duke University Press,
2007.
Buku
ini langsung membahas perjumpaan musik Barat dengan kebudayaan lain, termasuk
persoalan eksotisme dan ketimpangan dalam kolaborasi.
Taylor
menelusuri bagaimana musik Barat berjumpa dengan kebudayaan lain, dari
kolonialisme hingga globalisasi. Pertemuan itu membawa kreativitas, tetapi
juga ketimpangan: siapa mencipta, siapa menentukan nilai?
Ia
menunjukkan bahwa bunyi dari luar Barat sering diperlakukan sebagai sesuatu
yang eksotis. Bahkan kolaborasi modern dapat mengulang hubungan lama, ketika
perbedaan budaya menjadi komoditas.
Buku
ini mengajak kita mendengar lebih kritis: apakah perpaduan musikal memberi
ruang kepada suara lain, atau hanya meminjam keindahannya untuk memperkaya
panggung yang sudah berkuasa?
Dalam
membaca Guruh, perspektif tersebut mempertajam pertanyaan tentang gamelan dan
rock: apakah keduanya berdialog setara? Di situlah keberanian artistiknya
perlu didengar, dipahami, dan dinilai kembali.
The
Invention of Tradition, Eric Hobsbawm dan Terence Ranger, eds., Cambridge
University Press, 1983.
Buku
ini menunjukkan sesuatu yang mengejutkan: sebagian tradisi yang dianggap
sangat tua ternyata dibentuk, dirumuskan kembali, bahkan diciptakan pada masa
yang relatif modern.
Pesannya
penting. Tradisi tidak selalu berupa benda beku yang diwariskan utuh dari
leluhur. Setiap generasi menyeleksi, menafsirkan, dan terkadang menciptakan
kembali bentuk tradisinya.
Dari
sudut ini, eksperimen Guruh memperoleh makna lebih besar. Ia tidak
mengkhianati tradisi ketika memodernkannya.
Ia
melakukan pekerjaan yang selalu dilakukan kebudayaan yang hidup: berubah
tanpa kehilangan ingatan.
-000-
Putra Bung Karno yang Menjadi Dirinya Sendiri
Menjadi
anak manusia besar adalah anugerah sekaligus beban. Nama ayah dapat membuka
banyak pintu, tetapi juga menciptakan bayangan yang panjang sekali.
Bagaimana
seorang anak memperoleh namanya sendiri ketika ayahnya sudah menjadi nama
sebuah zaman?
Pertanyaan
itu barangkali mengikuti semua anak tokoh sejarah.
Guruh
menemukan jawabannya secara artistik. Ia tidak berusaha menjadi Soekarno
kedua. Ia menerjemahkan nasionalisme ayahnya ke dalam bahasa yang sepenuhnya
berbeda.
Jika
Soekarno menggerakkan nasionalisme melalui pidato, arsitektur, politik massa,
dan simbol negara, Guruh menggerakkannya melalui melodi, kostum, koreografi,
dan cahaya panggung.
Ayahnya
membuat Indonesia berdiri. Anaknya membantu Indonesia menari.
Di
sanalah kemerdekaan pribadi Guruh terasa paling indah. Ia lahir membawa nama
Soekarnoputra, tetapi karya memberinya hak untuk dikenang cukup dengan satu
nama.
Guruh.
-000-
Kala Sang Surya Tenggelam
Ada
sesuatu yang hampir profetik pada judul salah satu lagunya yang paling indah:
Kala Sang Surya Tenggelam. Hari ini metafora itu memperoleh makna baru.
Sang
surya akhirnya tenggelam. Namun matahari memiliki paradoks yang juga dimiliki
seniman besar: sesudah cakramnya hilang, cahayanya masih tinggal di langit.
Begitulah
karya. Tubuh tunduk kepada waktu. Karya dapat menolak penyerahan itu, bukan
dengan mengalahkan kematian, melainkan dengan terus dilahirkan kembali.
Besok
seseorang akan memainkan Zamrud Khatulistiwa. Di tempat lain, seorang remaja
menemukan Guruh Gipsy dan terkejut bahwa eksperimen seberani itu dibuat
hampir setengah abad silam.
Seorang
penari yang tak pernah bertemu Guruh mungkin bergerak dengan sebagian tata
bahasa artistik yang diwariskan generasi Swara Maharddhika kepada panggung
Indonesia.
Itulah
keabadian kecil yang diberikan kebudayaan kepada manusia.
Kita
hanya dapat menjalani satu kehidupan. Karya memungkinkan sebagian kehidupan
itu berulang.
-000-
Pagi
ini Guruh pergi. Jakarta masih gelap ketika ia mengembuskan napas terakhir.
Namun sesungguhnya ia telah lama menitipkan sebagian dirinya kepada
Indonesia.
Ia
menitipkannya kepada gamelan yang dipertemukan dengan rock, kepada anak muda
yang diajak menari, dan kepada panggung yang membuat tradisi kembali
memesona.
Warisan
itu membawa pesan yang semakin penting ketika globalisasi menyeragamkan
selera: untuk menjadi warga masa depan, kita tidak perlu menghapus alamat
kebudayaan sendiri.
Mungkin
itulah yang dahulu saya rasakan ketika menyaksikan Swara Maharddhika pada
1980-an.
Indonesia
tidak sedang mengenang masa lalu.
Indonesia
sedang membayangkan dirinya sendiri.
Kini
penciptanya telah pergi. Musik tinggal. Tarian tinggal. Gagasannya tinggal.
Dan pertanyaan yang ia jawab sepanjang hidup tetap menjadi pertanyaan kita.
Bagaimana
Indonesia memasuki dunia yang semakin modern tanpa menjadi orang asing di
rumah kebudayaannya sendiri?
Jawaban
Guruh tidak ditulis sebagai teori. Ia menjawabnya dengan gamelan dan rock,
tubuh penari dan kostum, cahaya panggung dan lagu yang melampaui zamannya.
Tubuh
Guruh telah berhenti. Tetapi bumi kebudayaan yang pernah digetarkannya tak
pernah kembali sepenuhnya sama.
Sang
surya boleh tenggelam.
Namun
cahaya yang pernah mengajarkan sebuah bangsa mengenali keindahan dirinya
sendiri tidak ikut malam bersamanya. ●
REFERENSI
Timothy
D. Taylor. Beyond Exoticism: Western Music and the World. Duke University
Press, 2007.
Eric
Hobsbawm dan Terence Ranger, eds. The Invention of Tradition. Cambridge
University Press, 1983.
Sumber :
https://www.facebook.com/share/p/1DhaozfA3u/
|