|
Gibran sebagai Ancaman Dimas Supriyanto : Jurnalis Senior. |
ORBIT INDONESIA, 11 Oktober 2026
|
Ada satu hal yang
mengganggu saya dari cara sebagian orang membicarakan Gibran. Kesimpulan
tentang dirinya sering kali sudah dibuat lebih dahulu, kemudian fakta dicari
untuk membenarkan kesimpulan tersebut. Gibran disebut “kosong”,
tidak punya hasrat politik, kekanak-kanakan, sulit dikendalikan, bahkan
dikaitkan dengan dugaan gangguan psikologis. Tetapi apa dasar untuk
sampai pada kesimpulan sejauh itu? Sebagai Wakil Presiden dia sudah tampil di
forum internasional di G20. Dia juga menyambut tamu-tamu negara dan
berkomunikasi lancar dengan mereka. Bagaimana dia disebut
"kosong"? Saat menjadi Wali kota
Solo, Gibran tidak menunjukkan bahwa dirinya tidak mampu memimpin. Bahkan dia
membuat sejumlah terobosan. Ada kritik terhadap
kebijakannya, tentu. Ada pula keputusan yang bisa diperdebatkan. Tetapi
bukankah itu perkara yang wajar dalam pemerintahan? Kalau memang ia
sedemikian bermasalah, mestinya persoalan serius itu terlihat dari rekam
jejak pemerintahannya, bukan dicari dari mobil yang ditinggalkan di mal,
mainan yang dibawa ke kantor, atau gaya bicaranya yang santai. Kini ia menjadi wakil
presiden. Dia menyelamatkan Prabowo atas pertikaian di antara ketum partai
koalisinya. Sampai sejauh ini pun,
orang boleh tidak menyukai gaya politiknya, boleh mengkritik kebijakannya,
bahkan boleh menilai kapasitasnya. Tetapi mengatakan bahwa
ia “sangat bermasalah” membutuhkan bukti yang jauh lebih serius. Yang menarik justru
pertanyaan sebaliknya: mengapa Gibran terus-menerus dijadikan sasaran? Saya tidak hendak
mengatakan semua kritik terhadap Gibran adalah rekayasa politik. Kritik tetap
diperlukan. Perkara ijazah, misalnya, kalau ada dugaan pelanggaran hukum,
silakan diuji melalui prosedur hukum. Yang perlu dipersoalkan
adalah mengapa perkara yang seharusnya dapat dibuktikan dengan dokumen dan
fakta kemudian melebar menjadi penilaian terhadap kepribadian, kecerdasan,
bahkan kesehatan psikologis seseorang. Di sinilah logikanya
menjadi terbalik. Gibran belum terbukti
sebagai wakil presiden yang melakukan pelanggaran serius. Dia bahkan bisa
menjalani tugas nasional dan internasional hadir di forum-forum berwibawa. Ia juga bukan sosok yang
ketika menjadi wali kota meninggalkan jejak pemerintahan yang membuatnya
harus disingkirkan. Tetapi justru karena ia sekarang menduduki posisi yang
sangat strategis, berbagai tuduhan terhadap dirinya memperoleh panggung yang
jauh lebih besar. Saya malah melihat
kemungkinan politik yang lebih sederhana. Gibran adalah figur yang
secara elektoral dan politik potensial menjadi ancaman bagi mereka yang sudah
mulai menghitung pertarungan 2029. Seorang wakil presiden
muda, anak presiden, memiliki pengalaman sebagai wali kota, kemudian masuk ke
panggung nasional pada usia relatif muda. Suka atau tidak suka, fakta itu
membuatnya memiliki modal politik. Maka persoalannya bukan
semata-mata apakah Gibran pintar atau bodoh, matang atau kekanak-kanakan,
suka mainan atau tidak. Persoalan politiknya
adalah: siapa yang akan diuntungkan dan siapa yang dirugikan apabila Gibran
tetap bertahan sampai akhir pemerintahan dan kemudian memilih maju pada 2029? Di sinilah kita harus
berhati-hati. Jangan sampai kritik berubah menjadi upaya pembunuhan karakter
("character assassination"). Jangan sampai kegagalan
membuktikan kesalahan politik digantikan dengan diagnosis psikologis dari
kejauhan. Lebih berbahaya lagi
kalau dugaan seperti ADHD atau down syndrome dipakai untuk menjelaskan
perilaku seorang pejabat tanpa pemeriksaan medis dan tanpa dasar yang dapat
dipertanggungjawabkan. Itu bukan kritik politik.
Itu spekulasi terhadap kondisi pribadi seseorang. Saya tidak sedang
mengatakan Gibran tidak boleh dikritik. Justru sebaliknya. Karena dia wakil
presiden, kritik terhadapnya harus lebih keras sekaligus lebih bermutu. Nilailah keputusan,
kebijakan, kemampuan memimpin, integritas, kinerja, dan pertanggungjawaban
publiknya. Jangan menilai seseorang
hanya karena ia tidak berbicara seperti yang kita harapkan. Ada satu pertanyaan
sederhana yang menurut saya perlu diajukan kepada para pengkritiknya: kalau
Gibran memang benar-benar “kosong”, tidak punya kemampuan, tidak punya daya
politik, dan sama sekali bukan ancaman bagi siapa pun, mengapa harus ada
begitu banyak energi untuk menjatuhkannya? Dia sudah tampil di forum
internasional dan menyambut kedatangan tamu negara - bagaimana disebut
"kosong"? Mungkin justru di situlah
letak persoalannya. Bisa jadi yang sedang
dipersoalkan bukan semata-mata siapa Gibran hari ini, melainkan siapa Gibran
yang mungkin menjadi pada 2029. Dan dalam politik,
seseorang sering kali mulai dianggap berbahaya bukan ketika ia sudah
berkuasa, melainkan ketika orang lain mulai melihat kemungkinan bahwa ia akan
mendapatkan kekuasaan. ● Sumber : https://orbitindonesia.com/detail/4Y2ZYBqTUu/dimas-supriyanto-gibran-sebagai-ancaman
|