|
Singa Podium Pemadu Mazhab Gontor-Sidogiri Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 19 Oktober 2026
|
Singa Podium
Telah Pergi, Siapa Berani Menegur Penguasa? KH Syukron Ma’mun meninggalkan
pelajaran penting tentang dakwah, politik, dan keberanian moral. Pagi kemarin, Ahad, 18 Oktober 2026,
kabar duka datang dari Jakarta. Prof. KH Syukron Ma’mun, pengasuh Pondok
Pesantren Daarul Rahman, mengembuskan napas terakhir setelah menjalani
perawatan di Rumah Sakit Pondok Indah. Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.
Usianya 84 tahun. Umat Islam kehilangan seorang ulama yang suaranya
menggelegar, kritiknya tajam, dan keberaniannya berhadapan dengan kekuasaan
meninggalkan kesan mendalam. Saya membayangkan kembali suara
seraknya yang khas. Ketika Kiai Syukron naik ke podium, jamaah segera
mengenali karakter suaranya. Ia berbicara dengan tenaga penuh, membawa
persoalan besar ke hadapan orang banyak dan menuntut jawaban. Julukan Singa Podium melekat karena
kemampuannya menguasai forum sekaligus keberaniannya menyampaikan pendirian.
Pendidikan muhadlarah di Gontor menempanya menjadi orator ulung, yang di
mimbar selalu menempatkan soal kekuasaan sebagai inti dakwahnya. -000- Kiai Syukron lahir di Sampang, Madura,
pada 21 Desember 1941. Ia tumbuh dalam keluarga pesantren. Ibunya mengajarkan
Al-Qur’an dan kitab-kitab klasik. Setelah menempuh pendidikan dasar dan
madrasah, ia belajar di Pesantren Sidogiri, Pasuruan, kemudian melanjutkan
pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo. Ia menyelesaikan pendidikan Kulliyatul
Mu’allimin dan melanjutkan studi di Institut Pendidikan Darussalam Gontor
hingga memperoleh gelar sarjana muda. Sidogiri mewakili kekuatan tradisi
salafiyah dengan pengkajian kitab kuning yang mendalam. Gontor mengembangkan
sistem pendidikan modern, kedisiplinan, penguasaan bahasa, dan pembentukan
karakter. Dari pengalaman itulah, pada 11
Januari 1975, Kiai Syukron mendirikan Pesantren Daarur Rahman di Jakarta
Selatan. Pesantren ini memadukan pengajaran kitab-kitab klasik dengan
pendidikan modern, termasuk penguasaan bahasa Arab dan Inggris. Lembaga itu kemudian berkembang
melalui sejumlah cabang. Dengan menggabungkan Mazhab Sidogiri dan Mazhab
Gontor, Kiai Syukron boleh dibilang sebagai perintis perpaduan dua sistem
pendidikan tersebut. Pada peringatan 50 tahun Daarur Rahman
tahun lalu, Kiai Syukron secara simbolis mempertemukan keluarga pesantren
Sidogiri dan Gontor sebagai bagian dari pengenalan sanad keilmuan kepada
santri dan alumni. Perpaduan tersebut mempunyai makna
lebih luas. Pesantren perlu menjaga akar keilmuan, tetapi juga harus
mempersiapkan santri menghadapi masyarakat yang terus berubah. Tradisi memberi kedalaman; sistem
modern membantu santri mengembangkan keterampilan. Keduanya dapat berjalan
bersama apabila pesantren memiliki visi yang jelas. Pengaruh Kiai Syukron tumbuh melalui
tiga jalur: mimbar dakwah, lembaga pendidikan, dan organisasi politik.
Ketiganya saling berhubungan, meskipun masing-masing mempunyai ukuran
keberhasilan berbeda. Melalui mimbar, ia menyampaikan ajaran
Islam kepada jamaah lintas daerah. Melalui Daarur Rahman, ia membangun
lingkungan pendidikan yang membentuk generasi santri. Melalui organisasi dan
partai, ia memasuki ruang politik sebagai ruang dakwah. Pesantrennya juga melahirkan jaringan
alumni yang tersebar di berbagai bidang. Kementerian Agama pernah mencatat
bahwa lulusan Daarur Rahman melanjutkan pendidikan dan bekerja di sejumlah
negara, seperti belajar tentang pesawat tempur di Moskow, Rusia. Itu mengingatkan kita bahwa pendidikan
pesantren tidak harus membatasi cakrawala santri. Seseorang dapat belajar
kitab fikih sekaligus menekuni ilmu penerbangan, teknologi, ekonomi, atau
ilmu sosial. Dalam politik, pengaruh Kiai Syukron
tampak melalui kiprahnya mendirikan dan memimpin PPNUI. Upaya tersebut
memperlihatkan keyakinannya bahwa umat membutuhkan saluran untuk menyampaikan
aspirasi. Tapi, pengalaman politik Indonesia
juga mengajarkan bahwa popularitas ulama dan besarnya jaringan santri tidak
dengan sendirinya menghasilkan kekuatan elektoral yang besar. Karena itu, kita perlu membedakan
pengaruh moral dari kekuatan politik praktis. Seorang ulama mungkin tidak
memenangkan banyak kursi, tetapi suaranya tetap dapat memengaruhi cara
masyarakat menilai pejabat dan kebijakan. -000- Di tangan Kiai Syukron, mimbar
keagamaan berubah menjadi tempat menguji tanggung jawab pemimpin,
mengingatkan pejabat, dan membela kepentingan rakyat. Dari mimbar yang satu
ke mimbar yang lain, ia berbicara konsisten. Selalu begitu. Enam tahun lalu, misalnya, Kiai
Syukron menyampaikan ceramah dalam acara haul KH Abdul Hamid bin Abdullah
Umar di Pesantren Salafiyah, Pasuruan. Di hadapan ribuan jamaah, ia
mengingatkan pemerintah dan pejabat agar tidak mempersulit kehidupan rakyat. Ia juga menyampaikan pesan yang
penting bagi kehidupan demokrasi. Baginya, kiai mengkritik pemerintah justru
cinta Indonesia. Karena itu, masyarakat dan penguasa tidak semestinya
menganggap kritik sebagai permusuhan. Pesan itu sederhana, tetapi menghantam
kebiasaan buruk politik kita. Sebagian pejabat senang menerima pujian, tetapi
cepat meradang ketika seseorang menunjukkan kesalahan mereka. Mereka
menghendaki ulama menjadi pemberi restu, bukan pengingat. Padahal, ketika seorang pemimpin
menyimpang, siapa yang lebih berkepentingan mengingatkannya selain orang yang
masih mempunyai keberanian moral? Kiai Syukron mengembalikan kritik ke
tempatnya: sebagai bagian dari tanggung jawab mencintai negeri. Logikanya terang. Jika seorang pejabat
membuat kebijakan yang menyulitkan rakyat, orang yang mencintai Indonesia
harus berani menyatakannya. Membiarkan kesalahan terus berjalan demi menjaga
hubungan baik dengan penguasa justru merugikan bangsa. Ia juga mengingatkan, kritik terhadap
pemerintah tidak otomatis menjadikan seseorang musuh negara. Demokrasi
membutuhkan perbedaan pendapat, sementara kekuasaan membutuhkan pengawasan.
Tanpa itu, pemerintahan mudah berubah menjadi ruangan tertutup. Kiai Syukron mempunyai gaya komunikasi
yang khas. Ia tidak selalu membungkus kritik dengan metafora panjang. Ia
cenderung menyampaikan persoalan secara langsung, dengan intonasi kuat dan
argumentasi keagamaan yang tegas. Sikap itu tampak pula dalam
keterlibatannya pada politik praktis. Ia ikut mendirikan Partai Persatuan
Nahdlatul Ummah Indonesia (PPNUI), yang dideklarasikan pada 5 Maret 2003, dan
pernah memimpin partai tersebut. Sebelumnya, ia telah berkecimpung
dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU), termasuk lama didapuk sebagai Ketua
Umum Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama. Ia juga pernah menjadi penasihat Partai
Persatuan Pembangunan. Riwayat ini menunjukkan bahwa ia
memahami politik dari dekat. Ia mengenal dunia dakwah, organisasi, dan
persaingan partai. Pengalaman tersebut memberinya ruang melihat bagaimana
kekuasaan bekerja dan kepentingan politik memengaruhi sikap tokoh agama. Tentu, keterlibatan politik tidak
otomatis membuat seseorang selalu benar. Ulama juga perlu menguji keputusan
politiknya sendiri. Justru karena itu, keberanian
mengkritik pemerintah menjadi semakin berarti apabila seorang pengkritik
bersedia menerapkan ukuran moral yang sama kepada kelompok dan kepentingannya
sendiri. Di sinilah warisan Kiai Syukron perlu
kita baca secara utuh. Kita dapat menghargai keberaniannya tanpa menganggap
setiap pilihan politiknya kebal dari penilaian. Salah satu kesaksian yang menyentuh
datang dari Ray Rangkuti, pengamat politik sekaligus mantan santri Daarur
Rahman. Dalam kenangannya, Ray menceritakan perhatian khusus yang diterimanya
dari sang kiai. Kiai Syukron mengetahui bahwa Ray
membaca buku-buku yang ketika itu tidak lazim dikonsumsi sebagian besar
santri. Rak bukunya menyimpan karya Nurcholish Madjid, Kuntowijoyo, Muhammad
Abduh, Hamka, dan sejumlah pemikir lain. Suatu sore, ketika Kiai Syukron
memberikan pengajaran umum kepada santri kelas enam, Ray mengajukan tiga
pertanyaan sekaligus mengenai dinul Islam. Sang kiai merespons dengan suara
keras, dengan tujuan menarik perhatian santri lain agar menyimak jawaban
serius atas pertanyaan serius. Di akhir pengajaran, Kiai Syukron bahkan
mempersilakan Ray mengunjungi perpustakaan pribadinya. Ray memang tak sempat memenuhi
undangan itu, tetapi ia menangkap pesan penting dari pengalaman tersebut.
Sang guru memberi ruang bagi santri yang ingin membaca dan berpikir lebih
jauh. Dalam kenangan yang sama, Ray menyebut
bahwa dari Kiai Syukron ia belajar menjaga independensi, memegang prinsip,
bersabar, dan menolak kompromi terhadap kekuasaan yang menindas. Kesaksian itu penting. Kita sering
mengukur keberhasilan pesantren dari banyaknya hafalan, ketertiban ibadah,
atau jumlah alumninya. Semua itu bernilai. Namun, pendidikan juga harus
menghasilkan manusia yang mampu berpikir mandiri, menguji pendapat, dan
mempertahankan kebenaran ketika berhadapan dengan tekanan. Ray kemudian dikenal sebagai pengamat
politik dan aktivis yang kritis. Pengalaman pendidikannya memperlihatkan
bagaimana pesantren dapat menyediakan ruang bagi tumbuhnya keberanian
intelektual. Kiai yang baik tidak merasa terancam
ketika santrinya membaca buku yang berbeda. Ia justru membantu mereka
memahami perbedaan dengan ilmu dan akal sehat. Kiai Syukron kini telah tiada.
Keluarga dan para penerus Daarur Rahman mempunyai tanggung jawab besar
menjaga keberlanjutan pendidikan yang telah ia bangun. Mereka perlu merawat tradisi keilmuan,
memperkuat mutu pengajaran, membuka ruang dialog, dan memastikan alumni tetap
memiliki hubungan yang sehat dengan masyarakat. Para ulama lain juga dapat mengambil
pelajaran dari ketegasan Kiai Syukron. Mimbar keagamaan mempunyai tanggung
jawab sosial. Dari sana, ulama perlu membantu masyarakat memahami persoalan
sekaligus mengingatkan penguasa dengan argumentasi yang kuat. Keberanian itu perlu berjalan bersama
ketelitian. Kritik harus bertumpu pada fakta. Tuduhan harus mempunyai bukti.
Perbedaan politik tidak boleh menghapus adab. Dengan cara itu, suara ulama
dapat menjadi penuntun masyarakat. Kiai Syukron, si Singa Podium itu kini
telah pergi. Namun, suara yang berani membela kepentingan rakyat tidak boleh
ikut terkubur. Kita membutuhkan lebih banyak ulama yang menjaga jarak kritis
terhadap kekuasaan. Semoga Allah SWT mengampuni KH Syukron
Ma’mun, menerima amal ibadahnya, melapangkan kuburnya, dan memberikan
ketabahan kepada keluarga, santri, serta seluruh pihak yang berduka. Selamat jalan, Pak Kiai. Semoga ilmu
dan keberanian yang engkau wariskan terus hidup dalam generasi yang engkau
didik. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |