|
Tolstoy, Muhammad, dan Perjalanan Panjang Mencari Tuhan Satrio Arismunandar : Lulusan S3 Filsafat FIB Universitas Indonesia. |
ORBIT INDONESIA, 13 September 2026
|
Ada ironi dalam kehidupan
manusia: semakin banyak yang kita ketahui, kadang-kadang semakin sadar kita
bahwa sesungguhnya kita belum mengetahui apa-apa. Sastrawan besar Rusia, Lev
Tolstoy mengalami ironi itu pada usia tua. Ia telah menjadi salah
satu manusia paling terkenal di dunia. Ia menulis War and Peace dan Anna
Karenina. Ia telah menyelami sejarah, politik, perang, cinta, keluarga,
kematian, dan berbagai lapisan jiwa manusia. Tetapi ketika usianya semakin
mendekati akhir, Tolstoy justru semakin gelisah terhadap pertanyaan yang
tidak dapat dijawab oleh sastra. Untuk apa manusia hidup?
Apa arti menjadi manusia yang baik? Apakah Tuhan benar-benar ada? Jika Tuhan
ada, bagaimana manusia seharusnya hidup di hadapan-Nya? Dan yang paling
penting: adakah kebenaran yang lebih besar daripada batas-batas agama,
bangsa, gereja, dan kebudayaan? Pertanyaan-pertanyaan
itulah yang kemudian membawa Tolstoy kepada Muhammad. Bukan Muhammad sebagai
tokoh yang jauh di Timur. Bukan Muhammad sebagaimana digambarkan oleh
polemik-polemik Eropa. Tetapi Muhammad sebagai seorang pembawa ajaran moral. Pada usia senja, Tolstoy
tampaknya tidak lagi terlalu tertarik pada perbedaan nama. Ia sedang mencari
inti. Dan pencarian itu membawanya membaca sabda-sabda Nabi Muhammad SAW. Sebuah Buku tentang
Muhammad dari India Menariknya, Tolstoy tidak
memulai perjalanannya kepada Muhammad dari Al-Qur'an dalam bahasa Arab. Salah
satu sumber penting yang digunakannya adalah sebuah buku berbahasa Inggris
berjudul The Sayings of Muhammad, yang disunting oleh Abdullah al-Mamun
al-Suhrawardy, seorang intelektual Muslim dari India. Buku itu terbit di
London pada 1905. Tolstoy menerima dan
membacanya. Dalam suratnya kepada Suhrawardy pada 1907, Tolstoy menunjukkan
bahwa ia tertarik pada kumpulan sabda tersebut dan ingin memanfaatkan
sebagian isinya dalam proyek tulisannya tentang kebijaksanaan manusia. Dokumen-dokumen Tolstoy
memperlihatkan bahwa ia memang mempunyai perhatian luas terhadap pemikiran
Timur. Ia membaca pemikiran Hindu, Buddha, Laozi, Konfusius, dan
tradisi-tradisi lainnya. Bagi Tolstoy, kebijaksanaan tidak dimonopoli oleh
satu peradaban. Maka Muhammad pun masuk ke dalam peta pencarian tersebut. Tolstoy kemudian memilih
dan menyusun sejumlah sabda Muhammad. Kumpulan itu diterbitkan dalam bahasa
Rusia dengan judul “Izrecheniya Magometa, ne voshedshie v Koran”—“Sabda-Sabda
Muhammad yang Tidak Masuk ke Dalam Al-Qur'an”. Buku kecil itu diterbitkan
oleh penerbit Posrednik di Moskow. Edisi bibliografisnya
dicatat sebagai 1910, tetapi catatan resmi Tolstoy menyebut buku tersebut
terbit pada 19 Oktober 1909. Situs resmi Museum Tolstoy bahkan mencantumkan
karya tersebut dalam kumpulan karya Tolstoy, jilid ke-40. Dengan demikian,
satu hal perlu ditegaskan sejak awal: buku Tolstoy mengenai Muhammad itu
nyata. Yang tidak tepat adalah
menyebutnya sebagai “manuskrip rahasia” yang baru ditemukan setelah lebih
dari seratus tahun. Karya itu sudah diterbitkan pada masa Tolstoy masih
hidup. Yang membuatnya terasa seperti buku tersembunyi adalah karena karya
kecil tersebut kemudian kalah terkenal dibanding novel-novel besarnya. Tetapi
justru karya kecil itu memberi kita jendela untuk melihat Tolstoy yang lain.
Bukan Tolstoy sang novelis. Melainkan Tolstoy sang pencari. Muhammad sebagai Seorang
Guru Moral Ada sesuatu yang sangat
khas dalam cara Tolstoy membaca agama. Ia tidak terlalu tertarik pada agama
sebagai identitas. Ia lebih tertarik pada agama sebagai jawaban atas
pertanyaan: bagaimana manusia harus hidup? Itulah sebabnya ia dapat membaca
ajaran Kristus, Buddha, Konfusius, Laozi, dan Muhammad dalam satu proyek
intelektual. Dalam pandangan Tolstoy,
agama-agama besar mungkin berbeda dalam doktrin dan sejarahnya, tetapi di
balik berbagai bentuk tersebut terdapat pencarian moral yang serupa: manusia
harus keluar dari egoisme dan kekerasan, menemukan hubungan yang benar dengan
Tuhan, serta hidup dengan kasih terhadap manusia lain. Karena itu, ketika
Tolstoy membaca ucapan-ucapan Muhammad, ia tidak terutama mencari argumentasi
teologis untuk memenangkan perdebatan antara Islam dan Kristen. Ia mencari
kebijaksanaan. Dalam jawabannya kepada
penulis Tatar Mirsayaf Krymbaev pada Maret 1909, Tolstoy secara khusus
menyebut The Sayings of Muhammad karya Suhrawardy dan menyatakan bahwa buku
tersebut berisi ajaran Muhammad yang sangat mendalam secara spiritual. Ini bukan sekadar rasa
ingin tahu seorang sastrawan. Ini bagian dari pencarian yang lebih besar.
Tolstoy sedang berusaha menemukan apakah mungkin ada suatu kebenaran moral
yang dapat mempertemukan manusia sebelum manusia terpecah oleh institusi
agama, politik, nasionalisme, dan kepentingan kelompok. Dengan kata lain, ia
sedang mencari “agama di balik agama.” Bukan agama baru, melainkan inti moral
yang menurutnya terkandung dalam berbagai agama. Semakin Tua, Semakin
Menjadi Pencari Di sinilah kisah Tolstoy
menjadi filosofis. Biasanya manusia membayangkan usia tua sebagai masa ketika
seseorang telah mengumpulkan jawaban. Tolstoy justru mengalami kebalikannya.
Semakin tua, semakin banyak pertanyaan. Ia telah membaca begitu
banyak buku. Ia telah melihat begitu banyak manusia. Ia telah mengalami
ketenaran, konflik, kekayaan, keluarga, penderitaan dan penyakit. Tetapi
semua pengalaman itu tidak membuatnya merasa telah menemukan kebenaran. Justru sebaliknya. Ia
semakin curiga terhadap jawaban-jawaban yang terlalu mudah. Pada suatu titik,
manusia mungkin menyadari bahwa pengetahuan tentang dunia tidak otomatis
membuat hidup menjadi bermakna. Kita bisa mengetahui
bagaimana alam semesta bekerja, tetapi belum tentu tahu bagaimana kita harus
hidup. Kita bisa memahami sejarah, tetapi belum tentu memahami diri sendiri.
Kita bisa menulis buku tentang manusia, tetapi belum tentu tahu bagaimana
menjadi manusia. Tolstoy tampaknya sampai
pada kesadaran itu. Karena itu ia kembali belajar. Dan salah satu gurunya,
pada masa tua itu, adalah Muhammad. Apakah Tolstoy Kemudian
Menjadi Muslim? Pertanyaan ini hampir
selalu muncul ketika kisah Tolstoy dan Muhammad dibicarakan. Ada banyak
cerita yang menyebut Tolstoy sebenarnya masuk Islam menjelang kematiannya.
Ada pula anggapan bahwa ia sengaja menyembunyikan keislamannya karena konflik
dengan Gereja Ortodoks Rusia. Spekulasi tersebut mudah
dipahami. Tolstoy memang sangat kritis terhadap Gereja Ortodoks. Ia juga
memiliki hubungan intelektual dengan sejumlah Muslim. Ia membaca literatur
Islam. Ia menulis buku tentang sabda Muhammad. Ia memuji sejumlah aspek
ajaran Islam. Dan dalam beberapa suratnya, ia bahkan berbicara sangat positif
tentang Islam. Tetapi dari sini kita
harus membedakan antara kekaguman spiritual dan konversi agama. Tidak ada
bukti historis yang kuat bahwa Tolstoy pernah secara formal mengucapkan
syahadat atau menyatakan dirinya masuk Islam. Bahkan surat-suratnya
menunjukkan sesuatu yang lebih rumit. Tolstoy tidak sedang berpindah begitu
saja dari Kristen ke Islam. Ia sedang membangun sebuah pandangan religius
yang sangat personal. Ia menolak banyak doktrin Gereja Ortodoks, tetapi ia
juga tidak menerima begitu saja seluruh doktrin Islam. Yang ia cari adalah
apa yang dianggapnya sebagai kebenaran moral universal. Pada 1908, ketika
menjawab seorang imam Ortodoks yang berbicara tentang kembali kepada Gereja,
Tolstoy mengatakan bahwa ia merasa tidak terpisah dari “gereja” dalam
pengertian yang jauh lebih luas—yakni komunitas manusia yang sungguh-sungguh
mencari Tuhan, dari berbagai tradisi, termasuk Buddha, Laozi, Konfusius dan
Kristus. Kalimat itu sangat
penting. Sebab di situlah kita menemukan kunci untuk memahami Tolstoy. Ia
tidak sedang mencari pintu untuk berpindah dari satu institusi ke institusi
lain. Ia sedang mencari Tuhan. Jadi, apakah spekulasi
itu sepenuhnya salah? Tidak juga. Spekulasi bahwa Tolstoy memiliki kedekatan
khusus dengan Islam mempunyai dasar faktual. Ia memang membaca pemikiran
Islam. Ia memang menulis tentang Muhammad. Ia memang menghargai ajaran moral
Islam. Dan ia memang berkorespondensi dengan umat Islam. Bahkan jauh sebelum
bukunya tentang Muhammad itu diterbitkan, Tolstoy telah berhubungan dengan
tokoh-tokoh Muslim. Pada 1903, misalnya, ia berkorespondensi dengan Mufti
Muhammad Sadig dan membahas persoalan agama secara cukup serius. Tolstoy
mengatakan bahwa dunia membutuhkan ajaran agama yang rasional dan kehidupan
yang baik sebagai pembuktian agama tersebut. Jadi, ada alasan mengapa
sebagian orang Muslim melihat Tolstoy sebagai seorang intelektual yang sangat
dekat dengan Islam. Tetapi kedekatan intelektual tidak sama dengan konversi.
Dan justru di sinilah kita harus menolak godaan untuk membuat sejarah menjadi
lebih indah daripada kenyataannya. Tolstoy tidak perlu dijadikan Muslim agar
penghormatannya kepada Muhammad menjadi bermakna. Mungkin Justru di Sinilah
Letak Pelajarannya Kita sering membaca agama
melalui pertanyaan: “Apakah dia masuk agama saya?” Pertanyaan itu manusiawi. Tetapi Tolstoy mungkin
mengajarkan pertanyaan yang berbeda: “Apa yang bisa saya pelajari dari kebenaran
yang saya temukan dalam agama orang lain?” Ini perbedaan yang sangat
besar. Pertanyaan pertama mencari identitas. Pertanyaan kedua mencari
kebenaran. Dan Tolstoy, pada masa tuanya, tampaknya lebih tertarik pada yang
kedua. Ia tidak harus menjadi
Muslim untuk menganggap Muhammad seorang guru moral yang penting. Ia tidak
harus menjadi Buddha untuk menemukan kebijaksanaan dalam Buddha. Ia tidak
harus menjadi pengikut Laozi untuk membaca Laozi. Dan ia tidak harus kembali
sepenuhnya kepada Gereja untuk tetap berbicara tentang Tuhan. Dalam dunia yang semakin
gemar membangun tembok identitas, cara membaca Tolstoy terasa sangat relevan.
Ia membaca agama lain bukan untuk menghancurkan agamanya sendiri, tetapi
untuk menguji kedalaman keyakinannya sendiri. Barangkali inilah bentuk
kerendahan hati intelektual yang paling sulit. Berani membaca sesuatu yang
berbeda tanpa merasa identitas kita terancam olehnya. Pertanyaan yang Belum
Selesai Mungkin kalimat ini
terdengar paradoksal. Tolstoy bukan terutama sedang mencari Islam. Ia sedang
mencari kebenaran. Dan dalam perjalanan itu, ia bertemu dengan Muhammad. Ia menemukan bahwa
seorang nabi yang hidup berabad-abad sebelumnya berbicara tentang persoalan
yang masih menghantuinya: Tuhan, manusia, moralitas, keserakahan, kekerasan,
cinta dan kehidupan yang benar. Itulah sebabnya kisah
Tolstoy dan Muhammad sebenarnya lebih besar daripada cerita tentang seorang
sastrawan Rusia yang pernah menulis buku kecil tentang Nabi. Ia adalah kisah
tentang manusia yang telah mencapai puncak pengetahuan tetapi masih berani
mengakui dirinya sebagai pencari. Ada sesuatu yang sangat
indah dalam posisi itu. Sebab mungkin ukuran kedalaman spiritual seseorang
bukanlah seberapa banyak jawaban yang ia miliki. Melainkan seberapa jujur ia
mengakui bahwa masih ada pertanyaan yang belum selesai. Tolstoy meninggal pada
1910. Ia pergi tanpa menyelesaikan seluruh pertanyaannya. Tetapi mungkin
memang tidak semua pertanyaan harus selesai. Sebagian pertanyaan justru
menjaga manusia tetap rendah hati. Dan salah satu pertanyaan
terbesar Tolstoy—bagaimana manusia harus hidup di hadapan Tuhan—membawanya
membaca sabda Muhammad pada tahun-tahun terakhir kehidupannya. Ia tidak
menemukan sebuah label baru. Ia menemukan seorang guru dalam perjalanan. Dan mungkin, pada
akhirnya, itulah arti paling dalam dari pencarian spiritual: bukan menemukan
kelompok tempat kita merasa paling benar, tetapi menemukan kebenaran yang
membuat kita menjadi manusia yang lebih baik. ● |