|
Motif Listyo Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 04 November 2026
|
Listyo Sigit
pernah menjadi ajudan Jokowi, lalu menjadi Kapolri atas pilihan Jokowi. Kini
ia tersangka dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo. Kepada siapa
sebenarnya loyalitas seorang pejabat negara? Sebuah pertanyaan menggantung di
langit politik Indonesia hari ini: siapa yang sebenarnya menyuruh Listyo
Sigit Prabowo menyadap Presiden Prabowo Subianto? Pertanyaan itu terasa semakin berat
setelah Bareskrim Polri menetapkan mantan Kapolri tersebut sebagai tersangka
dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden, sejumlah pejabat negara, tokoh
politik, media, organisasi masyarakat, LSM, dan pengusaha. Dua perwira tinggi Polri lainnya ikut
terseret dalam perkara ini. Kabareskrim Komjen Asep Safrudin menyebut dugaan
penyadapan berlangsung sepanjang 2025–2026. Penyidik juga menduga para
tersangka menghapus jejak log pada Oktober 2026. Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM,
Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra mendapat pertanyaan tentang
motif di balik perkara ini. Jawabannya, saat jumpa pers di kantornya,
singkat: Wallahu a'lam. Tentu Allah lebih mengetahui. Jawaban
itu memang aman secara hukum. Namun, publik tentu membutuhkan jawaban yang
lebih membumi: siapa yang memerintahkan, untuk kepentingan siapa, dan ke mana
hasil penyadapan mengalir? Publik dengan enteng menghubungkan
Listyo Sigit Prabowo dengan mantan presiden Joko Widodo alias Jokowi.
Kariernya menanjak berkat hubungannya dengan Jokowi sejak di Solo. Untuk jelasnya, mari kita mundur
sedikit, melihat perjalanan seorang jenderal yang kini menghadapi perkara
luar biasa serius dan mengguncang jagat nasional. Listyo Sigit Prabowo lahir di Ambon
pada 5 Mei 1969. Ia lulus Akademi Kepolisian pada 1991. Kariernya bergerak
melalui sejumlah jabatan kepolisian, termasuk Kapolres Solo pada 2011. Ketika Jokowi masih memimpin Kota
Solo, Listyo bertugas di sana. Pada 2014, setelah Jokowi menjadi Presiden,
Listyo mendapat tugas sebagai ajudan Presiden hingga 2016. Sesudah itu, ia memimpin Polda Banten,
menjadi Kadiv Propam, lalu Kabareskrim. Pada 13 Januari 2021, Jokowi
mengusulkan namanya sebagai calon tunggal Kapolri kepada DPR. Dua pekan kemudian, pada 27 Januari
2021, Jokowi melantiknya menjadi Kapolri. Dalam waktu 30 tahun, ia sudah di
puncak. Riwayat jabatan itu tercatat dalam profil resmi Polri. Rangkaian tersebut memperlihatkan
hubungan profesional yang panjang antara Listyo dan Jokowi. Ia menjadi
ajudan, menduduki sejumlah jabatan strategis, sampai akhirnya menerima
tongkat komando kepolisian tertinggi dari presiden yang sama. Tentu, perjalanan karier seseorang
tidak otomatis membuktikan hubungan patronase politik, meskipun publik dengan
tak sabar mengira kuat begitu. Jokowi berhak memilih Kapolri
berdasarkan pertimbangan dan kewenangan konstitusionalnya. Listyo juga berhak
memperoleh promosi berdasarkan prestasi dan pengabdiannya. Namun, kedekatan historis itu tetap
relevan ketika publik berusaha memahami kemungkinan motif di balik sebuah
perkara yang melibatkan mantan Kapolri dan Presiden yang sedang menjabat. Menariknya, selama dua presiden
berkuasa, dialah yang menjadi Kapolri. Ketika Jokowi mengakhiri masa
jabatannya, Listyo tetap duduk di kursi Kapolri. Prabowo Subianto yang mulai memimpin
pemerintahan pada Oktober 2024 mempertahankan Listyo selama hampir dua tahun.
Masa kepemimpinan Listyo bahkan berlangsung sampai 1 Oktober 2026. Di sinilah muncul pertanyaan yang
lebih menarik. Ketika penyidik menyebut dugaan penyadapan berlangsung pada
2025–2026, itu berarti masa ketika Prabowo sudah menjadi Presiden. Secara struktural, Kapolri bertanggung
jawab kepada Presiden. Namun, menurut keterangan Bareskrim, nomor telepon
Presiden sendiri masuk dalam daftar target penyadapan ilegal Listyo. Bayangkan ironi itu. Orang yang
memimpin lembaga penegak hukum diduga memerintahkan pemantauan komunikasi
orang yang secara konstitusional berada di puncak pemerintahan. Jika penyidik kelak membuktikan dugaan
tersebut, perkara ini akan memperlihatkan betapa berbahayanya ketika
kekuasaan teknis dan kekuasaan politik bertemu tanpa pengawasan yang memadai. Prabowo akhirnya mengganti Listyo pada
1 Oktober 2026. DPR menyetujui Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri pada hari
yang sama, lalu Prabowo melantiknya di Istana Negara hari itu juga. Peralihan itu berlangsung begitu
cepat. Dalam hitungan hari, Listyo berpindah dari pucuk pimpinan Polri ke
lingkungan Istana. Ia boleh jadi tak sempat mengemas dokumen miliknya dari
meja. Dari sini, dugaan Listyo berusaha
melakukan penghapusan jejak penyadapannya dari server Polri pada Oktober 2026
menemukan konteksnya. Bahkan, ia justru menimbulkan pertanyaan baru. Kita boleh bertanya, apakah perubahan
kekuasaan di tubuh Polri ikut memengaruhi tindakan para tersangka? Apakah
mereka merasa kehilangan kendali atas sistem yang selama ini mereka gunakan? Publik berharap, penyidik dapat
menjawab pertanyaan itu melalui bukti digital, kesaksian, dan alur perintah.
Kita belum boleh mengubah urutan waktu menjadi kesimpulan sebab-akibat. Di sini lain, Listyo sulit lepas dari
bayang-bayang patron lamanya. Di sinilah nama Jokowi sulit dihindari. Orang bisa bertanya: apakah Listyo
masih memelihara loyalitas politik kepada patron lama yang mengangkatnya?
Apakah ia menjalankan agenda tertentu yang tidak sejalan dengan pemerintahan
baru? Masih banyak pertanyaan yang mesti
dijawab. Apakah penyadapan itu berkaitan dengan kepentingan politik,
pengamanan jaringan, pengumpulan informasi, atau sekadar penyalahgunaan
kewenangan oleh sekelompok pejabat? Semua pertanyaan itu layak masuk dalam
penyelidikan. Namun, sampai sekarang, informasi yang tersedia belum
membuktikan Jokowi memerintahkan penyadapan atau menerima hasilnya. Karena
itu, menuding Jokowi sebagai dalang mesti kita tunda. Meski demikian, penyidik juga tidak
boleh menutup pintu pemeriksaan hanya karena sebuah nama pernah menduduki
jabatan tertinggi negara. Jika aliran komunikasi, perintah,
pembiayaan, atau penerima hasil sadapan mengarah kepada pihak tertentu,
penyidik harus menelusurinya. Hukum tidak mengenal masa kedaluwarsa untuk
mengajukan pertanyaan kepada orang yang pernah berkuasa. Motif menjadi bagian paling penting
dari perkara ini. Orang menyadap seseorang biasanya ingin memperoleh
informasi yang tidak tersedia melalui saluran biasa. Informasi itu bisa menyangkut
keputusan politik, strategi pemerintahan, percakapan pribadi, hubungan
antarpejabat, atau rencana yang sedang disusun. Namun, siapa yang membutuhkan
informasi tentang komunikasi Presiden? Apakah kelompok tertentu ingin
mengetahui langkah Prabowo? Apakah seseorang ingin mengantisipasi perubahan
kebijakan? Yang tak kalah penting, apakah ada
pihak yang ingin memetakan hubungan Presiden dengan para pembantunya? Atau
apakah tindakan itu lahir dari kepentingan lain yang sama sekali berbeda?
Kepentingan asing, misalnya. Kita belum mengetahui jawabannya.
Justru karena itu, penyidikan harus bergerak melampaui perangkat dan nomor
telepon. Penyidik perlu memeriksa siapa yang
menyusun daftar target, siapa yang memasukkan nomor hp Prabowo ke server
LIMS, siapa yang mengakses hasil sadapan, siapa yang mengunduh atau
menyalinnya, serta siapa yang menerima dan memanfaatkan informasi tersebut. Jumlah data hasil penyadapan yang
mungkin tersimpan selama periode 2025–2026 juga menimbulkan persoalan besar.
Saya membayangkan jumlahnya bisa bertera-tera. Berapa banyak nomor yang masuk? Berapa
lama sistem merekam komunikasi? Apakah hasilnya tersimpan di server, perangkat
lain, atau media penyimpanan eksternal? Apakah seseorang sempat menyalin data
sebelum penyidik mengamankan barang bukti? Sebelas telepon genggam, satu iPad,
dan empat flashdisk yang disita Bareskrim perlu menjadi pintu untuk
menelusuri seluruh rantai data itu. Pemeriksaan forensik digital harus
menjelaskan isi perangkat, jejak akses, waktu penghapusan, dan kemungkinan
perpindahan data. Sebab, jangan-jangan Listyo sudah punya salinannya. Karena itu, penyelidikan jangan
berhenti pada tiga nama. Apalagi, ada pengamat yang menyebut puluhan nama
yang terlibat. Jika sudah banyak begitu, apakah mereka berencana makar?
Hingga Selama malam, pengamanan Jakarta tampak ditingkatkan. Yusril menyatakan bahwa sejauh ini
penyidik belum menemukan indikasi makar. Ia menegaskan bahwa perkara yang
ditangani berkaitan dengan penyadapan dan pelanggaran hukum terkait informasi
elektronik. Kita perlu menghormati batas hukum
tersebut. Penyadapan ilegal terhadap Presiden memang perkara serius, tetapi
penyidik tetap harus membuktikan setiap unsur tindak pidana sebelum publik
menjatuhkan vonis. Namun, penyidikan jangan berhenti pada
tiga tersangka. Jika ketiganya bertindak berdasarkan perintah orang lain,
siapa pemberi perintah itu? Siapa dalang atau otak inetelektual yang
sesungguhnya. Jika mereka bertindak atas inisiatif
sendiri, apa kepentingan yang mendorong mereka? Siapa yang menikmati hasil
sadapan? Apakah ada pihak di luar Polri yang mengetahui atau memanfaatkan
data tersebut? Polri juga harus membuka informasi
yang memungkinkan publik mengawasi proses hukum tanpa membocorkan materi
penyidikan. Publik perlu mengetahui jumlah target,
kategori sasaran, prosedur yang dilanggar, dan langkah pengamanan data.
Identitas korban tentu perlu mempertimbangkan keselamatan dan privasi mereka. Perkara ini menyangkut jantung
kekuasaan negara. Karena itu, penyidik harus bekerja dengan transparan,
independen, dan profesional. Jangan sampai lembaga yang sedang membersihkan
rumahnya sendiri justru hanya menyapu debu ke bawah karpet. Satu lagi pertanyaan terakhir. Listyo
Sigit pernah mengucapkan sumpah untuk setia kepada negara dan menjalankan
peraturan perundang-undangan. Jokowi pernah memilihnya menjadi
Kapolri. Prabowo pernah mempertahankannya, kemudian menggantinya, bahkan
memberinya jabatan baru di Istana. Kini, nama yang sama muncul dalam
perkara dugaan penyadapan terhadap Presiden. Riwayat ini menghadirkan
pertanyaan tentang loyalitas yang jauh lebih besar daripada persoalan pribadi
seorang jenderal. Kepada siapa seorang pejabat negara
harus setia? Kepada presiden yang mengangkatnya? Kepada presiden yang sedang
memerintah? Kepada jaringan yang membesarkan kariernya? Atau kepada
konstitusi dan negara? Jawabannya seharusnya sederhana:
kepada negara dan hukum. Namun, perkara ini menunjukkan bahwa jawaban
sederhana itu membutuhkan pembuktian yang tidak sederhana. Siapa yang menyuruh Listyo Sigit
menyadap Presiden Prabowo? Apakah ia bertindak sendiri? Apakah ada jaringan
yang lebih besar? Apakah nama Jokowi akan muncul dalam penyidikan? Wallahu a'lam. Tetapi kali ini, kita tidak cukup
hanya menyerahkan jawabannya kepada Allah. Penyidik harus menemukannya.
Publik berhak mengetahuinya. Dan siapa pun yang berada di balik perkara ini
harus mempertanggungjawabkannya di hadapan hukum. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |