Minggu, 18 Oktober 2026

 

Jika Santiago Memancing di Laut Indonesia

Azhari Dasman Darnis :  Pekamus, bekerja di Badan Bahasa.

TEMPO MINGGUAN, 04 Oktober 2026

 

 

                                                           

·      Novel Lelaki Tua dan Laut Ernest Hemingway mengenalkan kata marlin untuk menyebut ikan yang dipancingnya.

 

·      Marlin menjadi populer dari dipakai dalam percakapan bahasa Indonesia secara umum.

 

·      Tradisi dan kebudayaan nelayan Indonesia sudah memiliki nama yang lebih spesifik, yakni setuhuk.

 

SUDAH delapan puluh empat hari Santiago melaut tanpa membawa pulang seekor pun ikan. Pada hari kedelapan puluh lima, nelayan tua dalam novel The Old Man and the Sea karya Ernest Hemingway itu akhirnya mendapatkan ikan raksasa yang menyeret perahunya jauh ke laut. Hemingway menyebut ikan itu marlin.

 

Marlin kemudian hinggap dan akrab di telinga orang Indonesia, entah karena kesaktian Hemingway berkisah entah lantaran kata itu yang mudah diucapkan dan diserap. Kamus Besar Bahasa Indonesia pun telah mendokumentasikan kata itu sejak edisi kedua (1991). Namun, andaikan Santiago seorang nelayan Indonesia, belum tentu hanya nama itu yang dikenalnya. Dalam khazanah perikanan kita terdapat setuhuk, selain layaran, jangilus, dan sejumlah nama yang digunakan masyarakat pesisir.

 

Menariknya, setuhuk bukan nama yang hanya hidup dalam percakapan nelayan. Jejaknya justru kuat dalam bahasa teknis perikanan Indonesia. Pedoman statistik perikanan, misalnya, membedakan setuhuk biru, setuhuk hitam, dan setuhuk loreng. Dokumen Kementerian Kelautan dan Perikanan juga sudah lazim menggunakan kata yang sama. Pun penelitian perikanan di Indonesia.

 

Dalam register teknis perikanan, setuhuk berfungsi sebagai nama Indonesia, sedangkan marlin kerap hadir sebagai nama internasional atau padanannya dalam bahasa Inggris. Dalam dokumen mutakhir tentang perikanan, keduanya bahkan muncul berdampingan, setuhuk/marlin, sebagai nama payung. Artinya, marlin memang dikenal, tapi setuhuk pun bukan kata lama yang telah kehilangan pemakaiannya.

 

Hubungan marlin dengan setuhuk ternyata tidak selalu sederhana. Atlas produk perikanan pemerintah, misalnya, menempatkan marlin sebagai kelompok yang mencakup setuhuk biru, setuhuk hitam, dan setuhuk loreng. Karena itu, marlin dan setuhuk tidak melulu diperlakukan sebagai sinonim mutlak untuk setiap spesies. Hal tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa setuhuk mempunyai kedudukan yang mapan dalam nomenklatur perikanan Indonesia.

 

Di sini ada hal lain yang tidak kalah penting. Kehadiran setuhuk dalam bahasa Indonesia bukan sekadar persoalan mencari padanan kata asing marlin. Namun, lebih dari itu, ia membawa konsep dan pengalaman masyarakat yang melahirkannya. Masyarakat pesisir mengenali ikan dari bentuk, warna, daerah tangkapan, cara menangkap, hingga manfaatnya. Ketika nama yang lahir dari pengetahuan tersebut digunakan dalam bahasa Indonesia, yang bertambah bukan hanya satu kata, melainkan juga pengetahuan masyarakat penuturnya.

 

Bahasa Indonesia tidak tumbuh dengan menyingkirkan bahasa-bahasa daerah, tapi justru dapat menjadi makin kaya karena menyerap kelangkaan konsep melalui bahasa daerah. Sampai saat ini, KBBI mencatat sebanyak 3.000 konsep yang berasal dari bahasa daerah. Angka sebenarnya jauh di atas itu. Setuhuk adalah contoh kecil ketika pengetahuan masyarakat pesisir dapat memperoleh ruang dalam konteks bahasa Indonesia.

 

Masalahnya adalah tidak semua kata yang hidup dalam masyarakat mempunyai jejak yang kuat dalam korpus. Percakapan nelayan di perahu, nama ikan di pelelangan, dan istilah yang diwariskan dalam masyarakat pesisir belum tentu pernah masuk koran, buku, atau laman Internet yang kemudian dihimpun dalam korpus yang digunakan pekamus sebagai sumber data.

 

Fauna endemis Papua berikut ini dapat menjadi pembanding. Masyarakat mengenal ndomea, mbaiso, dan wakera untuk konsep kanguru yang hidup di pohon, meskipun sulit ditemukan dalam korpus. Dokumen resmi menyandingkan penggunaan kata tersebut dengan frasa kangguru pohon. Dengan demikian, nama dalam dokumen resmi belum tentu merupakan satu-satunya nama yang digunakan masyarakat setempat.

 

Contoh tersebut menunjukkan tantangan khusus dalam mendokumentasikan nama flora dan fauna. Korpus penting, tapi korpus saja tidak cukup. Korpus hanya memperlihatkan bahasa yang sempat terekam. Padahal sebagian kekayaan kata hidup dalam tradisi lisan dan pengetahuan masyarakat yang tidak banyak meninggalkan jejak tertulis. Karena itu, pekerjaan kamus perlu disempurnakan dengan turun ke lapangan, bukan untuk menggantikan korpus, melainkan melengkapi titik butanya.

 

Bagi KBBI, marlin tentu layak dipertahankan karena telah produktif dalam pemakaian umum dan ilmiah. Namun setuhuk juga mempunyai alasan kuat untuk didokumentasikan: ia hidup dalam terminologi perikanan, diperinci menjadi beberapa nama jenis, serta digunakan oleh lembaga dan peneliti Indonesia. Keduanya tidak harus saling menyingkirkan. Kamus justru dapat menunjukkan hubungan makna dengan penggunaannya. Lebih dari itu, memberi ruang kepada setuhuk berarti memberi ruang kepada kekayaan konsep yang tumbuh dari pengalaman masyarakat Indonesia.

 

Santiago tentu tidak memikirkan persoalan lema ketika berhari-hari bertarung dengan setuhuk di tengah laut. Baginya, ikan itu adalah lawan yang besar, kuat, sekaligus layak dihormati. Namun, bagi kita, ikan yang sama dapat mengingatkan bahwa laut Indonesia tak hanya menyimpan kekayaan hayati, tapi juga kekayaan kata. Marlin sudah mendapat tempat dalam KBBI. Mungkin sudah waktunya setuhuk ikut naik ke perahu. ●

 

Sumber :   https://www.tempo.co/kolom/padanan-nama-ikan-marlin-setuhuk-2299697

 

 

Dalam Hidup yang Absurd, Bagaimana Cara Menjadi Sederhana

Iwan Kurniawan :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 11 Oktober 2026

 

 

                                                           

·      Ketiadaan sendok menjadi premis absurd yang menggerakkan pentas Cara Menjadi Sederhana di Taman Ismail Marzuki pada akhir pekan lalu.

 

·      Percakapan yang ditampilkan kelompok teater Ngaos Art dari Tasikmalaya itu menyelipkan isu sosial politik, termasuk komentar soal pidato Presiden Prabowo.

 

·      Pertunjukan ini menghibur sekaligus memancing tafsir, tapi masih menyisakan pertanyaan soal genre, apakah termasuk absurd atau satire.

 

KETIADAAN sendok menjadi perdebatan panjang sepasang suami-istri di meja makan dalam pertunjukan teater Cara Menjadi Sederhana yang dibawakan Ngaos Art di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Hal kecil seperti sendok ternyata bisa memicu situasi yang absurd dan jenaka.

 

Kelompok seni asal Tasikmalaya, Jawa Barat, ini menggunakan properti yang sederhana. Panggung hanya diisi sebuah meja makan dan tiga kursi. Sang istri (diperankan Mimi) duduk di satu kursi dan sang suami (Fauzi) di kursi lain yang agak jauh. Di atas meja ada lilin yang menyala dan setangkai mawar. Lalu muncul pelayan (Miqdam) yang menyajikan makanan, minuman, dan beberapa buah. Suasananya mirip makan malam di sebuah restoran mewah.

 

Di meja makan itulah perkara sendok menjadi perdebatan. “Kita memesan sendok?” kata sang suami. “Aku tidak tahu,” sang istri menjawab.

 

“Kalau tidak tahu, ngapain juga musti kita tunggu,” ujar sang suami. “Kalau kita tidak tunggu, bagaimana sendok itu bisa tahu kalau kita ini membutuhkannya?” sang istri membalas.

 

Percakapan itu terus bergulir sepanjang hampir satu jam. Sesekali sang pelayan muncul menuangkan minuman dan melakukan hal-hal ganjil, seperti memasangkan helm di kepala sang suami dan memakaikan jas hujan transparan kepada sang istri.

 

Pertunjukan berlangsung dalam enam babak. Setiap babak diberi judul yang ditampilkan di layar di belakang para aktor dan meja makan, seperti “Menunggu Sendok”, “Sesuatu yang Tak Berguna”, “Binatang yang Suka Berpidato”, dan “Sidang Sendok”. Kemunculan judul-judul ini sekaligus menjadi jeda antarbabak.

 

Pokok masalah utama dalam pertunjukan ini jelas, yakni menunggu sendok yang tak juga datang. Makanan dan minuman sudah tersaji, tapi sendoknya tak juga disediakan sehingga ritual makan tak bisa dimulai. Upaya mereka untuk “menyidangkan sang sendok” dengan menginterogasi sebuah kursi kosong tak menyelesaikan masalah.

 

A.B. Asmarandana, penulis dan sutradara pertunjukan, menuturkan bahwa naskah Cara Menjadi Sederhana baru berusia tiga bulan dan ditulis berdasarkan pengalaman pribadinya. “Dilahirkan di rumah sakit,” tutur Abe—begitu dia biasa disapa—dalam bincang-bincang seusai pertunjukan.

 

Asmarandana, yang lahir dengan nama Budi Darma, adalah sutradara senior yang lahir di Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Dia juga akademikus yang sekarang mengajar di Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya. Dia bergiat di Ladang Budaya di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, sebelum mendirikan Ngaos Art, komunitas seni di Tasikmalaya.

 

Beberapa bulan lalu, Abe terserang stroke dan harus dirawat di rumah sakit selama dua pekan. Selama dia dirawat, tak boleh ada orang yang mendampinginya. Ini menjadi persoalan ketika pada suatu hari dia mendapat ransum makan berupa bubur tapi perawat tidak menyediakan sendok. “Sehingga saya harus menunggu. Saya menunggu lama banget sehingga jadilah naskah ini,” ujarnya.

 

Abe bercerita, naskah Cara Menjadi Sederhana pertama kali dia tulis menggunakan telepon seluler, satu-satunya gawai yang diizinkan dia pegang selama masa perawatan. Dalam perjalanannya, pengalaman menunggu sendok itu berkembang menjadi naskah teater yang mengolah percakapan yang absurd, satire tentang dunia media sosial, dan sentilan berbagai isu sosial-politik di sana-sini.

 

Dalam satu babak, beberapa potongan pidato Presiden Prabowo Subianto terdengar membahana. Hal ini memicu komentar suami-istri di panggung. Misalnya ada suara “Saudara-saudara, hari ini kita berkumpul untuk membicarakan masa depan”. Pasangan suami-istri itu tertawa terkikik-kikik. “Masa depan itu di mana?” kata sang suami. “Gelap sekali, Pakde,” ujar sang istri.

 

Lalu muncul suara “Kita harus berubah!” dengan tekanan yang kuat. Sang istri menanggapi kata “berubah”. “Menjadi apa?” kata sang suami. “Wantimpres,” sang istri menimpali, lalu penonton pun gerrr. Sentilan para aktor itu ternyata cukup ampuh memancing tawa para penonton, yang membuat pertunjukan menjadi tidak tegang dan membosankan.

 

Belakangan ini tidak banyak kelompok teater yang menampilkan naskah bertema absurditas. Umumnya mereka menampilkan naskah absurd terkenal karya dramawan luar negeri, seperti Eugène Ionesco dan Samuel Beckett. Ngaos Art dan Abe menawarkan karya absurd lokal yang cukup menantang untuk didiskusikan, mengingat masih jadi pertanyaan apakah kondisi absurd memang menjadi fenomena dalam masyarakat Indonesia sekarang.

 

Ngaos Art mementaskan Cara Menjadi Sederhana pertama kali di studio mereka di Tasikmalaya. Naskah ini kemudian dibawakan dalam Festival Teater Dosen Indonesia di Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang antara lain mengangkat karya bertema absurditas pada akhir Agustus 2026. Pentas di Jakarta ini adalah pertunjukan pertama di hadapan publik luas di luar studio mereka.

 

Meskipun dialog para aktor terdengar absurd, Cara Menjadi Sederhana tampak belum membangun kesia-siaan hidup sebagai semesta cerita yang khas dalam teater absurd, seperti yang digambarkan Beckett melalui Waiting for Godot. Dalam karya Beckett, tokoh Vladimir dan Estragon bertahan dalam kesia-siaan menunggu Godot, sesuatu yang entah siapa atau apa, yang tak pernah datang.

 

Dalam Cara Menjadi Sederhana, menunggu sendok menjadi tesis utama yang menggerakkan cerita bahwa tak adanya sendok membuat tujuan mereka tak tercapai. Namun di bagian akhir ada adegan sang suami akhirnya makan juga meski dengan tangan. Dalam hal ini, kesia-siaan menunggu seperti dipecahkan karena tujuan dapat dicapai tanpa sarana yang sedari awal ditunggu-tunggu. Bisa jadi pula pertunjukan ini sebenarnya adalah satire terhadap absurditas, sama halnya ketika ia membuat satire terhadap kebiasaan warganet di media sosial yang mengomentari potongan-potongan pidato Presiden. “Ini memang naskah yang belum matang dan masih bisa berkembang,” tutur Abe.

 

Sudah lazim penulis naskah mengembangkan naskahnya dengan berbagai pertimbangan. Untuk saat ini, naskah tersebut terbukti mampu menghibur dan memancing berbagai tafsir penonton. Bisa jadi, bila nanti dikembangkan lebih matang, karya ini akan terlihat lebih jelas apakah menjadi naskah absurd ataukah satire. Bisa juga keduanya. ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/teroka/teater-cara-menjadi-sederhana-pidato-presiden-2299710