|
Transformasi PLN di Era Suroso: Benahi Bisnis hingga Pasokan Muhammad Naufal : Jurnalis Tirto.id. |
TIRTO.ID, 16 Oktober 2026
|
Sektor ketenagalistrikan
nasional diguncang perubahan besar secara struktural. Presiden Prabowo
Subianto secara tegas menginstruksikan perombakan total pada model bisnis PT
PLN (Persero). Langkah agresif tersebut
ditempuh demi memangkas inefisiensi fiskal dan mengakselerasi megaproyek PLTS
100 GW. PT PLN diminta mempercepat transformasi perusahaan, termasuk
membenahi model bisnis, meningkatkan efisiensi, dan mempercepat penggunaan
energi. Arahan dari Kepala Negara
disampaikan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani,
usai rapat terbatas bersama Prabowo Subianto dan sejumlah kementerian/lembaga
terkait di Istana, Jakarta, Rabu (14/10/2026). Rosan berujar, Badan
Pengelola Investasi (BPI) Danantara akan berkoordinasi dengan PLN untuk
menyusun kajian menyeluruh mengenai transformasi perusahaan. Hasil kajian itu
disebut akan disampaikan kepada Prabowo untuk ditindaklanjuti. "Kita juga diminta
oleh Bapak Presiden agar transformasi di PLN ini baik terutama dari segi
bisnis modelnya itu untuk dibuat dan untuk segera dipaparkan kepada beliau,
untuk segera kita tindaklanjuti," sebutnya. Menurut dia, perusahaan
listrik negara itu diminta dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitasnya,
sehingga pada akhirnya akan mampu menekan beban subsidi listrik. Evaluasi tersebut juga
akan dilakukan menyusul arahan Presiden agar transformasi PLN dipercepat dan
dijalankan secara menyeluruh. “Sehingga ini juga bisa
mengurangi subsidi dan atau dalam rangka meningkatkan efisiensi dan juga
produktivitas di PLN,” ucap Rosan. Ia melanjutkan, sebagai
tindak lanjut, pihaknya akan melakukan asesmen terhadap model bisnis
perusahaan listrik pelat merah tersebut sebelum mengajukan usulan kepada
Presiden. Namun, Rosan belum
merinci bagian model bisnis yang akan dievaluasi maupun skema transformasi
yang akan diterapkan. “Ya terutama sih lebih di
inilah di apa kita akan revisit (meninjau ulang) lagi kita akan lihat-lihat
lagi mengenai bisnis modelnya, bagaimana ini lebih tepatnya agar lebih
efisien lebih baik dan juga berdampak positif terhadap perekonomian kita
secara keseluruhan,” ujarnya. Sejalan dengan desakan
transformasi itu, Darmawan Prasodjo dicopot dari kursi direktur utama PLN.
Lewat Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PLN, Suroso Isnandar,
ditetapkan sebagai direktur utama perusahaan berpelat merah tersebut. Sebagai direktur utama,
Suroso Isnandar memiliki segudang pekerjaan rumah (PR) yang kian menumpuk.
Beberapa di antaranya, temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dalam Ikhtisar
Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) I 2026, pemenuhan kewajiban pasokan batu
bara dalam negeri (domestic market obligation/DMO). Lalu, rencana pembangunan
pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 GW, serta persoalan teranyar,
yakni pemadaman listrik di Batam. Pemadaman listrik terjadi
di sebagian besar wilayah Kota Batam dan sekitarnya sejak Senin (12/10/2026)
pagi. Gangguan tersebut berdampak pada sejumlah kawasan permukiman dan
fasilitas pelayanan publik. PT PLN Batam menyatakan
tengah mengerahkan tim teknis dan operasional untuk menangani gangguan serta
memulihkan pasokan listrik secara bertahap. Hingga pembaruan
informasi pukul 08.49 WIB, sejumlah jaringan distribusi telah berhasil
dinormalkan dan kembali menyalurkan listrik ke beberapa wilayah di Batam. Meski demikian, penyebab
utama gangguan masih dalam proses investigasi karena PLN memprioritaskan
pemulihan sistem kelistrikan terlebih dahulu. Menanggapi kejadian
tersebut, PLN Batam mengerahkan tim teknis dan operasional untuk
mengidentifikasi titik gangguan serta melakukan penanganan secara terpadu. Perusahaan menjalankan
proses pemulihan secara bertahap dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan
dan keandalan sistem kelistrikan. Pada saat yang sama, investigasi dilakukan
untuk mengetahui penyebab utama gangguan yang mengakibatkan pemadaman meluas
tersebut. Dalam pemberitahuan resmi
tertanggal 12 Oktober 2026, PLN Batam menyampaikan bahwa proses penanganan
dan pemulihan masih berlangsung. Imbas pemadaman ini,
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengaku akan
memanggil pihak PLN. Saat itu, ia mengaku
belum berkoordinasi dengan PLN terkait pemadaman listrik di Batam.
"Belum saya rapat dengan PLN. Nanti, abis ini, saya rapat sama
PLN," ucapnya di Jakarta Pusat, Senin. Dalam kesempatan itu,
Bahlil menyatakan, pihaknya bakal mengecek soal pemadaman listrik di Batam
bersama PLN. "Saya coba cek di PLN ya, nanti saya cek [terkait pemadaman
listrik di Batam]," tutur Bahlil. Badan Pemeriksa Keuangan
(BPK) mencatat sejumlah temuan dalam pemeriksaan pengelolaan kompensasi
listrik PLN pada 2025. Total nilai temuan tersebut mencapai Rp923,57 miliar
dan Rp1.069,706,67 miliar. Temuan itu tercantum
dalam Lampiran 4.3 IHPS I 2026. BPK juga mencatat 15 rekomendasi dan 4
rekomendasi untuk menindaklanjuti sejumlah permasalahan yang ditemukan dalam
pemeriksaan tersebut. BPK menyimpulkan
pengelolaan kompensasi listrik PLN telah sesuai kriteria dengan pengecualian. Direktur Jenderal Mineral
dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Tri Winarno,
menyebutkan pihaknya menetapkan kebutuhan batu bara PLN pada 2026 sebesar 154
juta metrik ton. Untuk memenuhi kebutuhan
tersebut, pemerintah menugaskan badan usaha pertambangan dengan total volume
212 juta metrik ton. “Untuk memenuhi kebutuhan
PLN sebesar 154 juta metrik ton, kami telah memberikan penugasan kepada badan
usaha pertambangan dengan total volume 212 juta metrik ton,” sebut Tri dalam
keterangan resmi, 11 Juli 2026. Hingga Mei 2026, sebanyak
144 juta metrik ton penugasan telah dikontrakkan dengan perkiraan realisasi
pengiriman mencapai 130,5 juta metrik ton. Sementara itu, dalam
laporan mereka, Trend Asia menyoroti tata kelola DMO batu bara yang dinilai
belum menjamin prioritas pasokan bagi pembangkit listrik untuk kebutuhan
publik. Laporan bernama Indonesia
Blackout: Mengungkap Masalah Struktural Rantai Pasok Batubara ini menuliskan,
pengiriman batu bara ke sektor PLTU captive di kawasan industri lebih besar
daripada pengiriman untuk PLTU milik PLN dan produsen listrik independen
(independent power producer/IPP). Berdasar data pengiriman
batu bara antar-pelabuhan pada Januari 2025-Juni 2026, sebanyak 113,92 juta
ton batu bara tercatat disalurkan ke sektor metalurgi dan smelter (captive).
Lalu, pengiriman untuk PLTU PLN dan IPP mencapai 64,94 juta ton. Dalam tabel yang sama,
pengiriman untuk kategori sektor lainnya tercatat 7,67 juta ton. Sementara itu, dalam data
alokasi DMO tahun 2025, alokasi untuk sektor captive sebesar 78,5 juta ton.
Sedangkan, untuk PLN dan IPP sebesar 145,5 juta ton. Trend Asia juga menyoroti
perbedaan skema harga dalam kebijakan DMO. Harga batu bara untuk PLTU PLN dan
IPP dipatok sebesar 70 dolar AS per ton. Namun, harga untuk sektor smelter
mengikuti harga batu bara acuan (HBA). Beban berat PLN turut
bertambah saat Presiden Prabowo Subianto mendorong pembangunan PLTS 100 GW
sebagai bagian dari program transisi energi. Bahlil Lahadalia
mengatakan, tahap pertama pembangunan akan dimulai dengan pembangunan PLTS
berkapasitas 30 GW pada 2026. Menurut dia, proses
tender untuk pembangunan PLTS tersebut akan mulai dilakukan tahun ini. Hal
itu disebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mendorong penggunaan energi
baru terbarukan dalam bauran energi nasional. "Tahun ini kita akan
sudah mulai di tahun 2026, kita akan mulai tahap pertama dengan pembangunan
30 gigawatt. Kita sudah bahas. Tendernya kita akan mulai lakukan
sekarang," tuturnya dalam kegiatan The 12th Indonesia International
Geothermal Convention & Exhibition di Jakarta, Rabu (19/8/2026). Sementara itu, Rencana
Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034 menetapkan rencana
tambahan kapasitas pembangkit dan penyimpanan energi sebesar 69,5 GW. Rencana tersebut mencakup
tambahan kapasitas PLTS sebesar 17,1 GW dan PLTA sebesar 11,7 GW. Merespons rencana
ambisius ini, Chief Executive Officer (CEO) Institute for Essential Services
Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menyatakan pemerintah perlu membentuk mekanisme
khusus untuk mengawal pelaksanaan proyek tersebut. Salah satunya, yakni
dengan membentuk project management office (PMO) di bawah Kemenko Hilirisasi
dan Transisi Energi. Menurut dia, pembangunan PLTS itu juga memiliki sejumlah
hambatan. Misalnya, terkait kebutuhan lahan. "Tinggal nanti
dibentuk di bawah Kemenko itu semacam project management office. Project
management office-nya memang mengawal implementasi dari 100 PLTS 100 gigawatt
ini," ujarnya. "100 gigawatt PLTS juga
butuh lahan yang cukup banyak, karena kalau kita mau membangun misalnya
setiap tahun itu 20 giga utility-scale PLTS, itu memang butuh [lahan banyak].
Nah, lahannya itu harus disediakan oleh pemerintah supaya cepat
dieksekusi," sambung Fabby. Lalu, ia menyatakan,
pekerjaan rumah dalam jangka pendek yang perlu segera diselesaikan adalah
penerbitan peraturan presiden (perpres) terkait target PLTS 100 GW. Regulasi
tersebut membutuhkan koordinasi dengan berbagai kementerian dan lembaga. Untuk diketahui, tim
Tirto telah berupaya mengonfirmasi pihak PLN untuk menanyakan upaya
perusahaan dalam memperbaiki model bisnis mereka. Akan tetapi, pihak PLN
belum merespons hingga berita ini ditayangkan. ● Sumber :
https://tirto.id/transformasi-pln-di-era-suroso-benahi-bisnis-hingga-pasokan-hDVB |