|
Dua Kemerdekaan Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 17 Agustus 2026
|
Agustus
bukan cuma bulan kemerdekaan Indonesia. Dunia teknologi juga merayakan
lahirnya Linux—sebuah “hobi” mahasiswa yang kini menjadi otak komputer modern. Bulan Agustus bagi saya punya dua
ulang tahun yang menentukan. Pertama, ulang tahun Republik Indonesia pada 17
Agustus 1945. Di hari kemerdekaan yang bertepatan
dengan Jumat keramat itu bangsa kita berteriak lantang ke dunia, "Kami
mau mengatur hidup kami sendiri!" Kita merayakannya dengan upacara dan
aneka lomba. Ulang tahun Agustusan kedua tak pakai
upacara. Ia terjadi di dunia komputer. Pada 25 Agustus 1991, seorang
mahasiswa Finlandia bernama Linus Torvalds menulis pesan di internet. Ia
mengumumkan sedang membuat sistem komputer. Nama sistem itu kemudian memakai
akronim namanya, Linux. Jutaan orang menggunakannya dengan halal. Maka bagi saya, pesta Agustusan
mempunyai dua cerita kemerdekaan. Indonesia merdeka dari penjajah. Sementara
Linux menjadi simbol merdeka di dunia komputer, memerdekakan saya dari
Windows yang harus bayar. Linux, termasuk turunannya Android, bebas kita
pakai. Sementara sistem operasi Windows harus kita bayar. Indonesia memulai kemerdekaannya dari
Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta. Sementara Linus memulai kemerdekaan
komputernya dari pesan singkat di internet. Keduanya mengajari kita satu hal,
bahwa perubahan besar tidak harus mulai dari gedung megah. Perubahan mulai
dari orang yang berani berkata, "Saya mau coba cara lain!" Kisah Linux sebenarnya sangat
sederhana, sangat jauh dari kisah bangsa Indonesia. Tak ada pula perusahaan
kaya yang mendanai proyek ini. Tak ada ratusan insinyur hebat. Tak ada rapat
bos besar. Adanya cuma seorang mahasiswa di Universitas Helsinki, satu komputer
tipe 386, rasa ingin tahu yang sangat besar, dan ketekunan. Pada tahun 1991, jangan bayangkan
komputer secanggih sekarang. Komputer bertenaga prosesor buatan Intel, PC 386,
sangat keren bagi mahasiswa yang mampu membelinya. Mesin ini pintar. Linus
membeli komputer itu bukan untuk mendirikan perusahaan kaya atau menguasai
dunia. Ia cuma ingin belajar cara kerja bagian dalam mesinnya. Linus belajar memakai sistem operasi
bernama MINIX buatan Profesor Andrew Tanenbaum. Andrew membuat MINIX sebagai
piranti pembelajaran di kelasnya. Ia bagus tapi sangat sederhana. Di rumah,
Linus memakai MINIX untuk mencoba hal baru. Tapi lama-lama, Linus merasa
fitur MINIX kurang memenuhi kebutuhannya. Di kepala, Linus punya banyak ide
baru. Ia pun mulai membuat program kecil terminal. Program ini menghubungkan
komputer di rumahnya dengan komputer besar di kampus lewat kabel telepon dan
modem. Dari awal cuma dimaksud mainan, Linus terus memperbaikinya. Program
itu pun berubah menjadi alat berkirim pesan yang hebat. Cerita ini dekat dengan pengalaman
saya. Pada akhir tahun 1980-an, saya sudah membeli komputer XT 386 untuk
membantu kerja saya sebagai wartawan TEMPO. Lalu pada 1993, saat orang Indonesia
belum kenal internet, saya memakai software BBS (Bulletin Board System). Saya memilih BBS untuk memudahkan
pengiriman berita dari kantor-kantor berita koran Republika di berbagai kota.
Dahulu, untuk berkirim teks berita, kami harus memakai sambungan telepon dan
modem. Bunyinya “kriik-kriik” sangat bising. Tapi bagi kami waktu itu, layar
komputer itu seperti jendela ajaib melihat dunia luar. Saya sangat paham perasaan Linus waktu
itu. Di rumah ada komputer, modem, kabel telepon, dan komputer kampus yang
jauh. Bedanya, Linus tidak cuma mau memakai komputer kampus. Linus bertanya
pada dirinya sendiri, "Bagaimana kalau saya membuat sendiri sistem untuk
mengendalikan komputer ini?" Pertanyaan kecil ini sangat hebat!
Hampir semua penemuan besar di dunia mulai dari pertanyaan sederhana seperti
ini. Linus lalu mulai menulis paket aplikasi yang kita kenal sebagai kernel.
Inilah otak paling inti dari komputer. Otak ini bertugas mengatur memori,
mesin, dan semua program. Linus mula-mula mengetik kodenya pada
April 1991. Lima bulan kemudian, pada 25 Agustus — tanggal lahirnya Linux —
ia berkirim pesan ke teman-temannya di internet. Pesannya sangat terkenal
sampai sekarang. Ia berkata sedang membuat sistem komputer gratis. "Cuma
hobi," katanya. Ia bilang sistem ini tidak akan jadi proyek besar. Tapi sejarah membuktikan hal lain!
Sesuatu yang Linus sebut "cuma hobi" itu sekarang menjadi otak bagi
jutaan komputer di dunia. Linux sekarang bekerja di dalam server internet,
komputer raksasa, alat jaringan, hingga HP Android yang kita pakai
sehari-hari. Tanpa kita sadari, Linux ada di mana-mana! Tapi, ada cerita Linux yang jauh lebih
seru. Cerita tentang pertengkaran ide. Linus merasa tersanjung karena
karyanya mendapat reaksi dari seorang gurubesar. Pada Januari 1992, Profesor
Andrew Tanenbaum menulis pesan pedas: "Linux sudah kuno!" Tanenbaum
bukan orang sembarangan. Ia profesor ahli komputer yang sangat pintar. Menurut sang Profesor asal Belanda
itu, cara Linus membuat Linux itu salah besar. Profesor berteori. Ia lebih
menyukai cara baru bernama microkernel — mengecilkan otak utama komputer agar
tidak mudah rusak. Sedangkan Linus membuat Linux dengan cara lama bernama
monolithic — menumpuk semua tugas di dalam satu otak utama. Bagi Profesor, Linus berjalan mundur
ke zaman kuno. Profesor juga marah karena Linux cuma bisa bekerja di komputer
tipe 386. Menurut Profesor, sistem komputer yang baik harus bisa bekerja di
semua jenis mesin. Secara teori yang mengacu buku
sekolah, Profesor itu benar. Tapi Linus mempunyai jawaban yang bikin sang
Profesor gigit jari. Ia menjawabnya dengan berkata, "Tapi program saya
nyata dan bisa dipakai sekarang!" Linus mengaku secara teori ide
Profesor lebih indah. Tapi ada masalah. Sistem ideal milik Profesor belum
jadi! Sedangkan Linux buatan Linus sudah bisa dipakai hari ini di komputer
386 miliknya. Linus bicara seperti anak lapangan: "Teori bilang kita harus
lewat jalan A. Tapi jalan B sudah selesai dan bisa saya lewati
sekarang." Itulah inti pertengkaran mereka. Sang
Profesor berbicara tentang teori masa depan yang sempurna. Linus berbicara
tentang alat yang harus bisa bekerja dan dipakai hari ini juga. Pertengkaran mereka makin panas.
Profesor mengejek Linux yang cuma bisa jalan di mesin 386. Linus menjawab
santai, "Saya cuma punya komputer 386 di meja saya!" Linus bahkan
bercanda, "Orang yang suka pindah-pindah mesin itu orang yang tidak bisa
bikin program baru!" Tentu saja itu cuma candaan anak muda
yang membela mainannya. Dan lihat apa yang terjadi kemudian! Linux yang dulu
diejek tidak bisa pindah mesin, sekarang justru menjadi sistem paling
fleksibel di dunia. Linux bisa hidup di dalam komputer saku, HP, server
raksasa, sampai superkomputer paling cepat di bumi. Profesor Tanenbaum tidak sepenuhnya
salah. Linus juga tidak sepenuhnya benar. Kedua orang pintar yang hidup di
dua negara berjauhan ini cuma manusia biasa yang menebak masa depan dengan
lampu yang agak remang. Ada pelajaran penting di sini: Dunia
tidak selalu memenangkan ide yang paling indah di atas kertas. Dunia memenangkan
karya nyata yang bisa kita pakai hari ini, lalu kita perbaiki bersama-sama.
Linux menjadi sangat besar karena Linus membuka kodenya lebar-lebar bagi
siapa saja. Awalnya Linus tidak punya anak buah.
Ia cuma punya internet dan teman-teman yang suka mencoba hal baru.
Orang-orang dari seluruh dunia ikut mengetik dan memperbaiki kode Linux,
padahal mereka tidak saling kenal. Linus membebaskan siapa saja untuk mengambil,
mengubah, dan membagikan ulang kode Linux. Di sinilah letak kemerdekaan Linux! Merdeka
di sini bukan cuma arti kata "gratisan". Merdeka di sini artinya
keterbukaan. Jika komputer rusak, kita bisa melihat kodenya. Jika kita butuh
fitur baru, kita bisa membuatnya sendiri. Kita tidak perlu membeli izin dari
perusahaan kaya cuma untuk tahu cara kerja mesin kita. Ini bedanya program gratis dengan
program terbuka. Program gratisan biasa bisa jadi seperti kotak hitam yang
terkunci rapat. Program terbuka memberi kita kunci untuk membuka isi kotak
itu. Dan bagi saya, Linux bukan sekadar
kenangan masa lalu. Sampai hari ini, saya masih suka mengulik komputer. Dari BBS tahun 1993 di kantor
Republika, perjalanan itu terus berlanjut. Hari ini, Linux menjadi teman
kerja saya sehari-hari. Saya memakai Linux untuk mengelola data, merapikan
dokumen, membangun perpustakaan kitab digital, membuat suara dan video, hingga
menjalankan program Kecerdasan Buatan (AI). Saya sangat senang melihat komputer di
rumah bisa melakukan pekerjaan berat yang dahulu cuma bisa dilakukan oleh
komputer mahal milik perusahaan raksasa. Inilah warisan Linux yang paling
berharga. Merdeka secara teknologi bukan berarti
semua orang harus belajar menjadi programer. Anda tidak perlu menghafal
rumus-rumus rumit untuk memakai Linux. Tapi, makin kita paham cara kerja alat
yang kita pakai, makin kita tidak mudah dibodohi oleh orang lain. Inilah teknologi yang harus kita
perjuangkan. Bukan teknologi yang pamer harga mahal, melainkan teknologi yang
membuat kita makin pintar dan mandiri. Indonesia merayakan merdeka setiap
Agustus. Dunia komputer mengingat lahirnya Linux setiap Agustus. Keduanya
memberi kita satu nasihat, bahwa kemerdekaan tidak selesai setelah
dideklarasikan. Kemerdekaan harus kita jaga setiap hari dengan keberanian
menentukan nasib sendiri. Kemerdekaan negara butuh warga yang
mau berpikir. Kemerdekaan teknologi butuh pengguna yang tidak cuma tahu cara
memencet tombol. Pelajaran dari Linus Torvalds ini
sangat penting bagi kita di zaman AI sekarang. Hari ini, kita berhadapan
dengan "kotak hitam" baru bernama AI. Perusahaan-perusahaan kaya
membuat program AI yang sangat canggih. Kita tinggal mengetik pertanyaan,
lalu jawaban muncul begitu saja. Sangat mudah dan nyaman! Tapi, jangan sampai kenyamanan ini
membuat kita menjadi malas berpikir. Kita harus tetap berani bertanya.
Bagaimana cara kerja alat ini di belakang layar? Siapa yang menguasainya?
Apakah kita bisa memeriksanya? Apakah kita bisa menjalankannya sendiri di rumah? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang
dahulu mengubah Linus dari mahasiswa biasa menjadi pencipta Linux. Perjalanan
besar itu tidak bermula dari mimpi untuk menjadi raksasa dunia. Perjalanan
itu bermula dari niat sederhana, yaitu ingin membuat komputernya bekerja
sesuai keinginannya sendiri. Profesor Tanenbaum dulu bilang Linux
sudah kuno. Linus membalas ucapan itu dengan bukti nyata. Lebih dari 35 tahun
kemudian, Linux masih hidup dan makin kuat. Linux ada di dalam HP di
genggaman Anda, di dalam server internet, hingga di dalam mesin-mesin AI yang
sedang mengubah dunia. Seorang mahasiswa dulu berkata,
"Ini cuma hobi." Lalu seluruh dunia datang ikut mengerjakannya.
Begitulah sejarah dibuat, bukan oleh orang yang merasa dirinya hebat sejak
awal, melainkan oleh orang biasa yang tidak pernah berhenti mencoba. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |