Kamis, 29 Oktober 2026

 

Partai Arab Menguat

Ahmadie Thaha :  Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an.

CATATAN CAK AT, 29 Oktober 2026

 

                                                

 

Partai-partai Arab mengantongi 17 kursi dan bisa membantu menggulingkan Netanyahu. Mengapa oposisi masih ragu mengajak mereka berkoalisi?

 

Bayangkan sebuah restoran yang menyediakan 120 kursi. Dua kelompok berebut hak menguasai meja utama. Kelompok pertama membawa 54 kursi, kelompok kedua 49. Tiba-tiba datang rombongan yang menguasai 17 kursi. Secara hitungan, rombongan itu bisa menentukan siapa yang duduk di kursi kekuasaan.

 

Namun, kedua kelompok utama masih hitung-hitungan untuk mengajak mereka makan bersama. Begitulah kira-kira drama politik Israel setelah pemilu parlemen 28 Oktober 2026: suara warga Arab-Palestina menguat, tapi pintu pemerintahan belum sepenuhnya terbuka bagi wakil-wakil mereka.

 

Hasil sementara yang dilaporkan Al Jazeera memperlihatkan kebuntuan. Blok Perdana Menteri Benjamin Netanyahu diproyeksikan memperoleh 54 kursi, sedangkan blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot meraih 49 kursi. Partai-partai Arab diperkirakan mengantongi total 17 kursi.

 

Namun, belum ada blok yang mencapai 61 kursi, jumlah minimal untuk membentuk mayoritas di Knesset, parlemen Israel yang memiliki 120 anggota. Dalam sistem parlementer Israel, partai yang memperoleh suara terbanyak tidak otomatis berhak memerintah.

 

Pemerintahan hanya lahir melalui koalisi, yakni kesepakatan sejumlah partai untuk mengumpulkan dukungan mayoritas. Karena itu, perolehan kursi Likud, partai pimpinan Netanyahu, tak langsung menentukan nasibnya. Penentunya, kemampuan menggalang dukungan politik untuk membentuk pemerintahan.

 

Maka, meskipun pemilu telah selesai, pertarungan kekuasaan belum mencapai garis akhir. Netanyahu kini menghadapi pesaing kuat dari Gadi Eisenkot, mantan kepala staf militer Israel yang mendirikan partai Yashar pada 2025.

 

Eisenkot memimpin blok oposisi yang berusaha mengakhiri pemerintahan Netanyahu. Tapi ia masih harus meyakinkan partai-partai sekutunya dari kalangan Yahudi agar bersedia berkoalisi dengan partai-partai Arab.

 

Jika Eisenkot berhasil menjalin kesepakatan dengan partai-partai Arab, gabungan mereka berpotensi mencapai 66 kursi, melampaui ambang mayoritas 61 agar bisa membentuk pemerintahan.

 

Namun, politik tidak bekerja seperti soal matematika di papan tulis. Setiap partai memiliki kepentingan, batas kompromi, dan pemilih yang harus mereka pertanggungjawabkan.

 

Eisenkot harus meyakinkan tokoh-tokoh penting dalam bloknya, termasuk Naftali Bennett dan Avigdor Lieberman, agar menerima dukungan partai-partai Arab.

 

Masalahnya, Eisenkot mengajukan sejumlah persyaratan, termasuk pengakuan terhadap Israel sebagai negara Yahudi dan demokratis serta kewajiban menjalani dinas nasional bagi seluruh warga.

 

Persyaratan tersebut membuat peluang kerja sama agak rumit. Pihak Arab pun mempertanyakan mengapa mereka harus melewati ujian loyalitas yang tidak selalu diterapkan dengan cara serupa kepada partai-partai Yahudi.

 

Dua kekuatan utama mewakili pemilih Arab dalam pemilu ini. Joint List, aliansi partai-partai Arab, yang dipimpin Yousef Jabareen. Dan partai Ra’am, yang dipimpin Mansour Abbas.

 

Abbas merupakan politikus tangguh. Ia pernah mengambil langkah bersejarah dengan membawa partainya ke koalisi pemerintahan Naftali Bennett pada 2021. Dukungan Ra’am ikut membantu pembentukan pemerintahan yang mengakhiri masa jabatan Netanyahu.

 

Pengalaman tersebut membuktikan bahwa kerja sama partai Arab dengan pemerintahan Israel memiliki preseden. Hambatan terbesarnya terletak pada kemauan politik para pemimpin partai.

 

Abbas bahkan membuka kemungkinan mendukung pemerintahan Eisenkot dengan syarat partainya memperoleh peran dalam penanganan persoalan keamanan internal.

 

Jabareen dan Ahmad Tibi juga menyatakan kesiapan memanfaatkan kekuatan politik mereka untuk mengakhiri pemerintahan Netanyahu. Jika partai-partai Arab masuk koalisi dengan kesepakatan program yang jelas, mereka berpeluang memperjuangkan kepentingan konstituennya secara lebih langsung.

 

Daniel Shek, mantan duta besar Israel, melihat kebangkitan suara Arab sebagai salah satu fenomena terpenting dalam pemilu ini. Besarnya dukungan tersebut mengirim pesan bahwa politik Israel tidak dapat terus mengabaikan bagian besar dari pemilihnya.

 

Namun, Honaida Ghanam, Direktur Jenderal Palestinian Forum for Israeli Studies di Ramallah, menyoroti hambatan yang lebih mendasar: penolakan politik terhadap warga Arab sebagai mitra pemerintahan.

 

Netanyahu secara terbuka menyebut pemerintahan yang bergantung pada partai-partai Arab anti-Zionis sebagai sesuatu yang memalukan.

 

Bennett juga menegaskan keinginannya membentuk pemerintahan yang hanya melibatkan partai-partai Zionis.

 

Sebaliknya, Yair Golan, pemimpin Partai Democrats yang berada dalam blok Eisenkot, menyerukan agar kubunya menghentikan pemisahan politik berdasarkan suara Yahudi dan Arab.

 

Perbedaan sikap itu memperlihatkan bahwa oposisi terhadap Netanyahu tidak otomatis berarti kesamaan pandangan tentang representasi warga Palestina.

 

Sejumlah partai oposisi menginginkan perubahan kepemimpinan, tetapi tetap mempertahankan batas ideologis dalam memilih mitra pemerintahan.

 

Mereka menghadapi dilema: menerima dukungan partai-partai Arab demi mencapai mayoritas, atau mempertahankan prinsip koalisi meskipun pilihan itu mempersempit jalan menuju kekuasaan.

 

Lalu, bagaimana akhir drama ini? Para pengamat menyebut beberapa kemungkinan: pemilu ulang, pemerintahan minoritas yang memperoleh dukungan dari luar partai-partai Arab, perpindahan sejumlah anggota parlemen ke kubu Netanyahu, atau pemerintahan persatuan nasional.

 

Semua opsi itu bergantung pada negosiasi yang masih berlangsung. Proyeksi hasil dan hitungan kursi belum cukup untuk memastikan siapa yang akhirnya membentuk pemerintahan.

 

Pemilu ini memperlihatkan bahwa kemenangan elektoral dan kemenangan politik dapat berjalan pada jalur berbeda. Partai-partai Arab berhasil memperbesar representasi mereka, tetapi keberhasilan itu belum menjamin akses ke pusat kekuasaan.

 

Pertanyaan utamanya ialah siapa yang bersedia mengakui hak pihak lain untuk ikut menentukan arah pemerintahan.

 

Di restoran politik Israel, rombongan pemilik 17 kursi sudah tiba. Persoalannya, apakah mereka akan memperoleh tempat di meja perundingan, atau hanya diminta menunggu di luar ketika menu kekuasaan dibagikan? ●

 

Sumber :   Tulisan Cak AT ini diterima langsung dari Ahmadie Taha

 

 

Djauhari Irawan

Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos

DISWAY, 29 Oktober 2026

 

 

 

Tidak saya sangka: masih bisa bertemu Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok, Djauhari Oratmangun di Beijing. Bulan lalu saya baca berita: Presiden Prabowo sudah menunjuk duta besar baru yang akan menggantikannya. Namanya: Irawan Ronodipuro, putra seorang diplomat legendaris Indonesia, M. Yusuf Ronodipuro, pengurus pusat Gerindra.

 

Memang untuk jabatan duta besar tidak bisa langsung bertugas. Setelah diangkat ia masih harus diusulkan ke pemerintah negara yang akan ditempati. Dalam hal Irawan, pemerintah Tiongkok harus lebih dulu menyetujui penempatannya. Itu perlu waktu. Bisa cepat, bisa lambat. Rata-rata perlu proses enam bulan.

 

Berarti Dubes Djauhari masih akan tetap di Beijing, setidaknya, mungkin, sampai April tahun depan. Karena itu ketika saya dan rombongan pengusaha ke Beijing masih bisa bertemu.

 

Ada yang baru di Kedubes RI di Beijing. Kini ada jabatan baru di sana: wakil duta besar. Wanita. Muda. Langsing. Tinggi. I-nyi lima. Namanyi satu kata: Irene.

 

"Saya lahir di Jayapura," ujar wadubes. Bapaknyi orang Pekanbaru. Ibunyi wanita Jakarta. Dia seorang dokter yang jadi diplomat. Pendidikan S-2 nyi di Universitas Pertahanan: bidang diplomasi pertahanan.

 

Dokter Irene unik: pendidikan SMA-nyi di kota Dalian –satu kota cantik di provinsi Liaoning –di seberang Korea. Dalian adalah kota pertama di Tiongkok yang berhasil mengubah kekumuhan menjadi kota yang amat cantik. Setelah Dalian berubah barulah kota-kota lain di seluruh Tiongkok mengikuti jejak kecantikannya.

 

Djauhari Oratmangun memang legenda hidup. Ia duta besar terlama dalam sejarah diplomasi modern Indonesia: sembilan tahun.

 

Dua tahun lalu, ketika bertemu dengannya, saya menyangka ia sudah tercatat sebagai duta besar terlama. Ternyata ia mengoreksi penilaian saya itu. "Duta besar yang di UEA masih lebih lama. Beda satu bulan," katanya.

 

Satu bulan setelah pertemuan itu sang duta besar UAE diganti. Berarti dua bulan kemudian Djauhari sudah pemegang rekor terlama. Apalagi dua tahun berikutnya pun belum diganti. Akan kian sulit mengejar rekornya.

 

Selama Djauhari menjabat duta besar, hubungan perdagangan Indonesia-Tiongkok naik tiga kali lipat. Menjadi yang terbesar. Pun bila dibanding dengan seluruh negara Eropa dijadikan satu. Yang lebih hebat lagi: kini perdagangan Indonesia surplus dari Tiongkok –seperti mustahil dicapai mengingat banjirnya barang Tiongkok ke Indonesia.

 

Saya amat jarang mampir ke salah satu kedutaan kita di luar negeri. Lain dengan Beijing. Saya tergolong sering ke Keduataan Besar Republik Indonesia di Beijing. Ada saja urusan. Pernah karena sulit cari tempat berlebaran Idul Fitri –saat kami kebetulan di Beijing. Ke Kedutaanlah yang pasti ada ketupat Lebaran.

 

Pernah karena diundang untuk mengisi acara Ramadan di situ –ketika didengar saya sedang di Beijing. Pernah juga karena harus mengantar pasien transplantasi hati untuk minta legalisasi dokumen.

 

Selasa malam kemarin kebetulan ada acara penting di Kedubes RI Beijing: resepsi diplomatik. Yang diundang kedutaan seluruh dunia di Beijing. Rombongan Disway Business Adventures Vol. 5 kebetulan ke Beijing. Sekalian diundang.

 

Meski acara itu mundur satu minggu kami tetap dijadwalkan ke Kedubes: makan malam. Horeee. Gratis. Kebetulan sudah tiga hari rombongan dibombardir masakan setempat. Sudah kangen masakan Indonesia. Bu Wiwik Oratmangun, istri duta besar, pandai sekali masak –di samping sangat pandai menyanyi.

 

Yang terakhir itulah yang kadang membuat saya takut ketemu pak Dubes Djauhari: takut disuruh menyanyi. Pernah saya harus ada acara di Kedubes RI di Beijing. Saking takutnya saya terpaksa mengajak teman yang bisa menyanyi: suami Janet. Aman.

 

Selasa malam kemarin saya lebih aman. Dalam rombongan kami banyak yang bisa menyanyi. Bahkan, salah satunya bisa menyanyi lagu yang saya belum pernah mendengar, pun judulnya: Sesuatu di Jogja. Ia seorang doktor ahli politik kesultanan Indonesia. Ia peneliti sultan-sultan yang pernah dan masih ada. Termasuk mengapa ada sultan yang bisa terpilih jadi DPRD/DPR/DPD di Pemilu. Mengapa pula tidak. Bahkan ada sultan yang di Gowa yang sudah enam kali ikut Pemilu selalu kalah dari keluarga dinasti baru Syahrul Limpo.

 

Nama anggota rombongan yang satu ini: Dr Bayu Dardias Kurniadi. Ia tahu jerohan kesultanan di seluruh Indonesia. Sangat mendalam. Apalagi kesultanan Jogja dan Solo.

 

Keluarga Bayu pengusaha pasir batu yang besar di Sumedang. Istrinya juga ilmuwan langka: doktor antropologi kedokteran. Dua-dua dari UGM. Mereka tinggal berdua di rumahnya di Jogja. Dua anaknya kuliah dan kerja di Belanda. Sudah setahun Dr Bayu menjabat asisten staf khusus Mas wapres.

 

Anggota rombongan lainnya, Sumantoro Radjiman, menyanyi lagu My Way yang dipelesetkan jadi Disway. Danishara Maria Ulfa, putri pengusaha Demak Bu Mur, menyanyi lagu mandarin. Dengan jilbab hitamnya dia menyanyikan lagu Qing Fei De Yi.

 

Di barisan depan saya lihat Yosephin, putri pengusaha AC kereta dari Solo menggerak-gerakkan kaki saat Danishara menyanyi. Saya tarik Yosephin ikut nimbrung. "Saya tidak bisa menyanyi," katanyi. Banyaknyi yang memaksanyi tampil. Ia cantik. Lulusan dan masih tinggal di Brisbane, Australia. Begitu dia mau tampil ternyata hot: dia yang geraknya paling atraktif.

 

Tentu kita semua menunggu tuan rumah menyanyi. Bu dubes menyanyi lagu Jawa dan Mandarin. Pak dubes menyanyi Yue Liang. Wadubes dr Irene yang sudah hampir setahun menjabat wakilnya Pak Djauhari, menyanyikan lagu Killing Me Softly.

 

"Saya senang sempat berguru ke Pak Djauhari," ujar dr Irene merendah. "Beliau adalah guru saya. Mentor saya," tambahnyi.

 

Menu malam itu istimewa: pepes ikan, rendang, pecel Wonosobo, dan aksesorinya.

 

"Lho ada ya Pecel Wonosobo," tanya saya ke Bu dubes. "Saya pikir di dunia ini hanya ada Pecel Madiun," tambah saya.

 

"Ini dinamakan Pecel Wonosobo hanya karena yang masak saya," jawab Bu dubes lantas tersenyum.

 

Ada yang terasa aneh di Pecel Wonosobo made in Bu dubes ini: sayurnya kacang panjang, kecambah, irisan wortel, dan daun yang sangat hijau. Belum pernah ada pecel dengan sayur seperti itu. "Maafkan, sulit cari sayur seperti di Madiun. Ini pakai sayur kale," ujar Bu dubes.

 

Ups... pecel dengan sayur kale. Di Indonesia sayur kale itu mahal sekali. Biasanya untuk salad. Inilah kali pertama makan pecel dengan sayur kale. Ternyata sangat cocok dengan bumbu pecelnya. "Saya akan minta istri kalau bikin pecel pakai sayur kale," kata saya kepada Bu dubes.

 

Ludes.

 

Saya bangkit dari meja makan. Saya ingin tambah pecel dengan sayur kale. Sudah habis. Rupanya semua memperebutkan pecel. Sejauh-jauh bangau terbang akhirnya pecel juga. ●

 

Sumber :    https://disway.id/catatan-harian-dahlan/976201/djauhari-irawan