Sabtu, 29 Agustus 2026

 

332 Juta Buku Dolly Parton

Ahmadie Thaha :  Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an.

CATATAN CAK AT, 29 Agustus 2026

 

                                                

 

Penyanyi Dolly Parton wafat dalam usia 80 tahun, meninggalkan warisan musik legendaris dan gerakan sosial yang masif. Melalui Imagination Library, ia mendistribusikan lebih dari 325 juta buku gratis untuk anak-anak di berbagai negara.

 

Tak sedikit penyanyi yang suaranya begitu lekat di telinga hingga publik dapat mengenalnya secara otomatis. Tak sedikit pula bintang yang citra visualnya melampaui namanya sendiri. Dolly Parton mencakup keduanya.

 

Rambut pirate pirang yang menjulang, gaun gemerlap, tawa renyah, dan karakter vokal khas Tennessee menjadikannya ikon yang seolah sengaja diciptakan untuk panggung hiburan. Namun, perjalanan hidupnya tak sesederhana tata panggung.

 

Kabar kewafatan Dolly Parton pada 25 Agustus 2026 dalam usia 80 tahun diumumkan. Ia meninggal dunia setelah berjuang singkat melawan kanker. Kehilangan ini terasa lebih dalam dari sekadar hilangnya seorang ikon musik country.

 

Sebab, pencipta lagu legendaris I Will Always Love You dan Jolene itu terasa anomali dalam industri hiburan Amerika. Sepanjang hidup, ia mengalirkan kekayaannya ke masyarakat melalui gerakan literasi, layanan kesehatan, dan bantuan bencana.

 

Dalam memori publik, kerap ada kekeliruan kecil yang menyandingkan I Will Always Love You ciptaan Dolly sebagai lagu tema film Titanic. Lagu yang identik dengan film tersebut sebenarnya My Heart Will Go On yang dibawakan Celine Dion.

 

Namun kekeliruan itu memahami satu hal. Tembang ciptaan Dolly tahun 1973 itu memiliki jalan hidup yang amat panjang sebelum dibawakan ulang oleh Whitney Houston dengan penuh ekspresif.

 

Dolly menulis lagu tersebut sebagai perpisahan profesional ke mitra panggungnya, Porter Wagoner. Itu bukan ratapan asmara. Dari sini terlihat watak dasar Dolly. Ia memang menyanyikan cinta, tapi ia ejawantahkan dalam tindakan sosial yang nyata.

 

Dolly lahir dari kemiskinan ekstrem di Sevier County, Tennessee, AS, sebagai salah satu dari 12 bersaudara. Ayahnya, Robert Lee Parton, seorang buta huruf pekerja keras di bidang pertanian dan konstruksi.

 

Pengalaman empiris keluarga inilah yang kelak menuntun ikhtiar sosial terbesarnya. Ia mendirikan Imagination Library pada 1995 dengan satu program yang memastikan anak-anak memegang buku sebelum kemiskinan menghalangi imajinasi mereka.

 

Konsepnya rasional dan tanpa birokrasi rumit. Setiap anak di wilayah kelahirannya menerima satu buku gratis yang disesuaikan dengan usianya setiap bulan, sejak lahir hingga berusia lima tahun.

 

Tidak ada seleksi berkas, tidak ada verifikasi tingkat ekonomi orang tua, dan tidak ada penilaian akademik. Buku dikirim langsung ke alamat rumah sebagai bentuk kepercayaan awal pada masa depan anak.

 

Ia ingin memastikan anak-anak memiliki buku di rumah. Bagi Dolly, pengakuan sebagai “sang ibu buku” (the book lady) oleh anak-anak penerima program jauh lebih membanggakan ketimbang deretan piala penghargaan musik.

 

Inisiatif lokal tersebut kemudian berkembang luas melintasi batas negara. Hingga wafatnya, Imagination Library tercatat telah mendistribusikan lebih dari 332 juta buku di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Australia, dan Republik Irlandia.

 

Setiap bulan, sekitar 3,5 juta buku dikirimnya kepada anak-anak melalui Imagination Library. Biaya rata-rata buku sekaligus pengirimannya sekitar US$2,20 per anak. Artinya, dalam setahun, program ini menggerakkan dana sekitar US$92 juta —lebih dari Rp1,4 triliun.

 

Dolly Parton tidak membiayai semuanya sendirian. Ia membangun ekosistem pendanaan bersama komunitas lokal. Tapi justru di situlah kecerdasannya. Ia tidak sekadar menyumbangkan uang, melainkan menciptakan sebuah mesin kebaikan yang terus bekerja.

 

Keberhasilan filantropi ini terletak pada pilihannya untuk membangun sistem ketimbang sekadar membuat gestur karitatif yang bising di media. Ia mengalokasikan modalnya menjadi infrastruktur sosial yang bekerja secara teratur.

 

Ia selalu mengecek buku sampai di rumah, dibacakan oleh orang tua, untuk memperkaya kosakata, dan menanamkan imajinasi pada anak. Pada titik ini, filantropi mencapai bentuk terbaiknya ketika identitas sang pemberi tak lagi menjadi pusat perhatian.

 

Di samping kepekaan sosialnya, Dolly adalah pengusaha yang berorientasi pada kalkulasi bisnis yang matang. Ia memahami nilai hak cipta, manajemen katalog lagu, industri penyiaran, hingga potensi bisnis pariwisata.

 

Keputusan krusial dalam kariernya adalah menolak menjual hak cipta lagu-lagunya, sebuah langkah cerdas yang menjamin kemandirian finansialnya. Pada 1986, ia mengambil-alih kepemilikan taman hiburan Silver Dollar City di Tennessee yang kemudian dikembangkan menjadi Dollywood.

 

Keuntungan dari portofolio bisnisnya dialokasikan untuk membiayai berbagai program yayasan kemanusiaan. Saat kebakaran hebat melanda kawasan Great Smoky Mountains pada 2016, yayasannya menyediakan dana bantuan langsung bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.

 

Pada 2020, ia mendonasikan satu juta dolar AS ke Vanderbilt University Medical Center yang berkontribusi pada riset awal vaksin Covid-19 Moderna.

 

Namun, bagian yang paling merefleksikan dimensi kemanusiaan Dolly justru terlihat dari komitmen personalnya di luar panggung publik, khususnya dalam relasinya bersama suaminya, Carl Dean.

 

Pindah ke Nashville pada 1964 saat berusia 18 tahun, Dolly bertemu Carl di sebuah tempat pencucian baju umum (laundromat), lalu menikah dua tahun kemudian. Berbeda dari iklim industri hiburan, Carl adalah pengusaha bidang pengaspalan yang sangat menjaga privasi dan tidak tertarik pada gemerlap popularitas istrinya.

 

Konsistensi Carl untuk tidak hadir di ruang publik bahkan sempat melahirkan selentingan jenaka bahwa sosok sang suami hanyalah rekaan. Pasangan ini menjalani pernikahan hampir enam dekade hingga Carl wafat pada Maret 2025 dalam usia 82 tahun.

 

Selepas kepergian Carl, satu babak kehidupan yang sunyi terkuak ke publik. Dolly selama ini ternyata menjalani peran sebagai pendamping dan perawat (caregiver) utama bagi suaminya selama masa sakit.

 

Fenomena ini menarik realitas kehidupan selebritas ke dalam ranah persoalan domestik yang dihadapi jutaan keluarga. Di banyak masyarakat, pekerjaan perawatan informal dilakukan tanpa kompensasi finansial oleh anggota keluarga —istri, suami, anak, atau kerabat dekat.

 

Mereka menjalankan fungsi medis dan medis-sosial sehari-hari tanpa pelatihan formal, mulai dari pengaturan dosis obat, pendampingan navigasi medis, hingga bantuan fisik harian.

 

Peran vital inilah yang menopang sistem kesehatan publik, namun sering kali diabaikan dalam hitungan ekonomi makro karena dianggap semata-mata sebagai kewajiban moral kekeluargaan.

 

Implikasi dari beban perawatan informal tersebut kerap berdampak langsung pada kondisi fisik dan mental sang perawat. Selepas kematian Carl, Dolly mengakui dalam sebuah wawancara bahwa selama periode panjang merawat suaminya, ia abai terhadap kondisi kesehatannya sendiri dan melewatkan berbagai pemeriksaan medis rutin.

 

Hambatan ini mengonfirmasi kecenderungan umum di mana seorang caregiver sering kali memprioritaskan keselamatan orang yang dirawat di atas daya tahan tubuhnya sendiri. Cinta dan dedikasi kekeluargaan kerap diperlakukan sebagai sumber daya tanpa batas, padahal kapasitas fisik manusia memiliki ambang batas yang nyata.

 

Kematian Dolly 17 bulan setelah wafatnya sang suami tidak perlu disederhanakan melalui narasi romantik seperti "meninggal karena patah hati". Secara medis, kematiannya disebabkan oleh penyakit kanker yang diidapnya.

 

Meski dalam literatur kedokteran dikenal fenomena widowhood effect —yaitu meningkatnya kerentanan kesehatan seseorang setelah kehilangan pasangan hidup— korelasi tersebut tidak dapat dijadikan kesimpulan kausalitas tunggal tanpa analisis medis yang faktual.

 

Poin krusial yang patut digarisbawahi dari pengalaman Dolly adalah perlunya perhatian sistemik terhadap kondisi kesehatan fisik dan psikologis para caregiver. Itu terutama ketika tugas perawatan berakhir akibat kematian pasien.

 

Ketika masa perawatan selesai dan pasangan yang dirawat meninggal dunia, seorang perawat keluarga tidak hanya kehilangan pendamping hidup, tetapi juga kehilangan seluruh struktur rutinitas harian yang selama bertahun-tahun membentuk ritme kesehariannya.

 

Hilangnya jadwal pengobatan, pendampingan medis, dan perawatan fisik sering kali menyisakan kekosongan psikologis yang mendalam. Dukungan lingkungan sosial dan keluarga besar semestinya tidak berhenti saat prosesi pemakaman usai, melainkan dilanjutkan dalam bentuk pendampingan bagi sang perawat yang baru saja kehilangan objek perawatannya.

 

Pengalaman hidup Dolly Parton memberikan perpektif mendalam mengenai pentingnya keberadaan infrastruktur sosial yang mendukung beban keluarga. Pengorbanan personal tidak seharusnya dijadikan standar tunggal dalam tata kelola perawatan keluarga.

 

Masyarakat yang berdaya membutuhkan dukungan sistemik yang rasional, seperti penyediaan layanan istirahat sementara (respite care), pelatihan dasar perawatan bagi keluarga, serta pembagian peran yang adil di antara anggota keluarga besar. Rumah tidak boleh dibiarkan menanggung seluruh beban perawatan medis tanpa adanya mitigasi dan bantuan dari negara serta komunitas.

 

Dolly Parton telah menyelesaikan perjalanan hidupnya dengan meninggalkan warisan yang melampaui karya seni suara. Ia membuktikan bahwa popularitas dapat dikonversi menjadi instrumen perubahan sosial yang terukur melalui pembagian ratusan juta buku, dukungan riset medis, dan pemulihan bencana.

 

Di sisi lain, fase akhir kehidupannya menunjukkan sisi kemanusiaan yang paling mendasar: bahwa setiap manusia, betapapun besar daya dan sumber daya yang dimilikinya, tetap membutuhkan jaring pengaman dan perawatan saat berhadapan dengan kerapuhan fisik.

 

Warisan terbesarnya tak hanya terdengar dari nada-nada lagu yang terus diputar. Itu justeru tersimpan dalam pesan bahwa kepedulian terhadap sesama harus diwujudkan dalam tindakan yang nyata, berkelanjutan, dan saling menopang. ●

 

Sumber :   Tulisan Cak AT ini diterima langsung dari Ahmadie Taha

 

 

Rampas Aset

Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos

DISWAY, 29 Agustus 2026

 

 

 

Saya kagum pada siapa pun yang berhasil membuat demo UU Perampasan Aset itu berakhir jauh sebelum matahari tenggelam. Saya pun memaklumi kalau banyak yang kecewa: kok demonya berakhir begitu saja.

 

Dari situ saya melihat kematangan Mas Botok, tokoh sentral demo yang dari Pati, Jateng itu. Ia teguh pada tujuan: agar UU Perampasan Aset disahkan oleh DPR. Tidak mau ada tuntutan yang melebar ke mana-mana. Ketika tujuan pokoknya sudah tercapai ia mengajak masa dari Pati untuk bubar. Pulang.

 

Mas Botok tidak peduli meski ia dimaki-maki banyak orang. Terutama oleh mereka yang merasa sudah berkorban menyokong demo itu lewat dana, air botol, roti, dan simpati. Lebih terutama lagi oleh para sutradara yang ingin demo berlanjut sampai matahari tenggelam: setelah gelap para sutradara itu bisa memainkan para stuntman untuk beraksi dalam kegelapan. Lalu bisa rusuh. Setelah rusuh terserah mereka: endingnya mau dibawa ke mana pun bisa. Kalau perlu sampai menyasar istana. Atau samping-samping istana.

 

DPR sebenarnya sudah mencoba meredam tuntutan Pati itu dua hari sebelum jadwal demo. Yakni dengan cara mengundang tokoh muda Pati ke DPR: Lukman Hakim. Didengarlah pendapatnya di DPR. Hasilnya? Justru bikin marah publik. Itu karena publik tahu Lukman Hakim bukanlah siapa-siapa di mata kelompok Mas Botok. Bahkan dianggap di seberang mereka.

 

Cara lain untuk mengurungkan demo juga sudah dilakukan: lewat ”pembekuan” rekening Mas Botok di Bank Mandiri. Itulah rekening penampungan dana dari simpatisan untuk mendukung perjalanan pendemo ke Jakarta. Maksudnya, mungkin, agar mereka tidak punya biaya untuk ke Jakarta. Bahkan siapa tahu bisa membuat orang takut mengirim donasi ke kelompok Mas Botok: kan bisa dicari-cari unsur pidananya.

 

Hasilnya?

 

Anda sudah tahu: justru blunder besar. Justru kian besar saja simpati untuk Pati. Kian besar pula dukungan untuk demo itu. Kian terbakar hati mereka yang sudah membara.

 

Yang terbakar paling nyata adalah Bank Mandiri. Kemarahan publik kepada bank itu sudah sampai level yang sangat mengkhawatirkan. Terutama bagi bank milik negara itu sendiri. Ia jadi korban keputusan yang tidak dirancang dengan matang.

 

Publik justru emosi ketika pemblokiran itu ditutupi dengan alasan ”untuk melindungi pengirim uang maupun pemilik rekening”. Alasan seperti itu dengan mudah bisa dibaca: alasan yang dicari-cari secara tergopoh-gopoh.

 

Akhirnya disadari: sendi-sendi Bank Mandiri bisa goyah. Lalu keluarlah putusan pemblokiran itu dicabut. Goresan sudah melukai Bank Mandiri.

 

Sampailah datang waktu senja tanggal 26 Agustus 2026. Matahari tenggelam seperti lebih bergegas. Bulan purnama pun mulai menampakkan menornya di langit timur Jakarta. Kian gelap medsos kian riuh: demo Pati di Jakarta pasti terjadi. Kian malam kian panas. Puncak panas itu terjadi ketika Mas Botok diajak masuk ke mobil polisi. Atau sengaja dimasukkan. Mobil itu dihadang massa. Dikepung. Dipepet. Mas Botok harus dikeluarkan dari mobil. Mereka sangat mengkhawatirkan akan dibawa ke mana tokoh demo mereka. Polisi memenuhi permintaan itu. Selesai.

 

Pukul 02.30 --sudah tanggal 27 Agustus-- saya bangun. Biasa. Langsung buka HP. Muncul notifikasi: live channel. Kamera mengarah ke jalan raya depan DPR di Senayan. Beberapa orang terlihat duduk menunggu pagi. Seperti juga menunggu siapa lagi yang mau datang ke lokasi demo.

 

Narasi live itu tidak provokatif. Narasinya sangat simpatik. Pun terhadap komentar yang nadanya anti demo. Tidak reaktif. Tetap dingin. Tetap simpatik.

 

Ternyata sedini itu sudah banyak yang live lewat channel masing-masing. Saya pindah-pindah. Ketegangan sedikit muncul ketika narasi di situ menyebut mulai kesulitan sinyal. "Kami sudah tidak bisa menggunakan Indosat sama sekali," ujar salah satu narasi. Kesannya: pihak keamanan mulai membatasi gerak medsos. Mungkin agar tidak terjadi seperti di Nepal: pemerintah terguling akibat demo yang digerakkan oleh medsos. Rasanya Indosat tidak ada kepentingan apa-apa. Indosat sudah milik Ooredoo, Qatar.

 

Narasi lainnya memberi peringatan: "Kalau nanti kami tidak bisa live di channel ini Anda bisa pindah ke FB," katanya. Seolah semua jaringan selular terancam akan ditutup. Lalu bermunculan pertanyaan di layar HP: akun FB nya yang mana.

 

Sampai pukul 05.00 saya terus mengikuti live dari sarang demo di Jakarta. Untung ada Dismorning. Tiap jam lima pagi. Saya tinggalkan live itu untuk live sendiri di Dismorning. Saya bilang ke Sasa, host Dismorning: "Mungkin pagi ini tidak ada orang yang menyaksikan kita di Dismorning. Semua orang akan memilih menyaksikan live situasi Jakarta menjelang demo," ujar saya kepada Sasa. "Orang pingin mengukur suhu politik Jakarta. Aman atau tidak aman," kata saya lagi.

 

Selesai Dismorning saya harus berangkat olahraga. Di jalan saya ikuti lagi live. Belum banyak perkembangan. Setelah itu kesibukan lain susul-menyusul. Siangnya baru live lagi: begitu banyak yang mendukung demo. Terutama dari pengemudi ojek online.

 

Tengah hari saya balik ke live: demo tidak seberapa besar. Setidaknya tidak sebesar yang dikhawatirkan. Sekitar 3000 orang.

 

Tapi itu juga sudah besar. Dan akan benar-benar besar kalau tidak segera ada jalan keluar. Mereka bisa bermalam di jalan raya depan DPR. Simpati bisa kian besar. Bisa meluas. Bisa ditunggangi. Bisa rusuh. Apalagi kalau sampai senja digantikan gelap.

 

Bahaya itulah yang dibaca para politisi di DPR. Khususnya oleh Wakil Ketua DPR Don Dasco. Maka Mas Botok dan tim intinya diajak masuk ruang sidang DPR. Diajak bicara. Lalu keluarlah jaminan dari Don Dasco yang sangat terkenal itu: Kalau sampai 15 Desember UU Perampasan Aset tidak disahkan, ia akan mengundurkan diri. Pun para wakil ketua DPR lainnya: Cucun Ahmad Syamsurijal, Saan Mustopa, dan Sari Yuliati. Tidak jelas mengapa Ketua DPR Puan Maharani tidak melibatkan diri dalam penjaminan itu.

 

Demo pun berakhir. Jakarta selamat dari kerusuhan. Letupan kecil tetap terjadi di sana-sini. Tapi bisa diatasi. Rupanya skenario ”rusuh malam” kehilangan momentum. Kelihatannya tetap ada yang ingin memaksakannya. Sejumlah peristiwa terjadi di kegelapan. Tapi timing-nya sudah layu sebelum berkembang.

 

Don Dasco pantas dapat Piala Citra untuk kategori penyutradaraan terbaik di festival film mendatang.

 

Sumber :    https://disway.id/catatan-harian-dahlan/965442/rampas-aset