Sabtu, 05 September 2026

 

MENUMBUHKAN KULTUR INOVASI DI KORPORASI KITA

- Para Komisaris sebagai Penjaga Cakrawala

Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI)

FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 05 September 2026

 

                                                

 

Pada 1971, sebuah mata bor menembus dasar laut Qatar. Yang ditemukannya bukan sekadar gas, melainkan kemungkinan baru yang kelak mengubah nasib sebuah bangsa.

 

North Field kemudian dikenal sebagai salah satu cadangan gas terbesar dunia. Namun ketika ditemukan, kekayaan sebesar itu sama sekali belum menjanjikan kemakmuran.

 

Lokasinya jauh di laut. Teknologinya mahal. Infrastruktur belum tersedia. Pasar LNG belum matang. Masa depan industri gas dunia pun masih penuh ketidakpastian.

 

Qatar menghadapi pilihan menentukan: menunggu dunia menjadi siap, atau ikut menciptakan masa depan yang belum tersedia. Mereka memilih jalan yang kedua.

 

Di situlah inovasi sesungguhnya dimulai. Bukan ketika seluruh jawaban tersedia, tetapi ketika manusia berani melangkah meskipun sebagian jawabannya masih tersembunyi.

 

-000-

 

Kisah itu membawa saya kepada buku berjudul From Black Gold to Frozen Gas: How Qatar Became an Energy Superpower, karya Michael D. Tusiani dan Anne-Marie Johnson.

 

Qatar adalah negeri kecil. Luasnya sekitar 11.600 kilometer persegi. Namun sejarah menunjukkan, ukuran sebuah negeri tidak pernah menentukan ukuran keberaniannya bermimpi.

 

North Field menyimpan sumber daya gas luar biasa. Data QatarEnergy mencatat cadangan terpulihkan sekitar 900 triliun kaki kubik gas, ditambah sekitar 70 miliar barel kondensat, kira-kira sepersepuluh cadangan gas dunia.

 

Sebagai perbandingan, lapangan Minas di Riau, kebanggaan lama industri minyak Indonesia, memiliki original oil in place sekitar 8,3 miliar barel. Skala North Field berkali-kali lipat di atasnya.

 

Tetapi yang lebih menarik bukan hanya besarnya cadangan. Kekayaan tersebut berada jauh di laut, sekitar 80 kilometer dari garis pantai Qatar.

 

Bayangkan Monas  di Jakarta sebagai garis pantai. Kita bergerak melewati Bogor menuju Purwakarta. Sepanjang perjalanan bukan daratan, melainkan laut tempat kekayaan itu tersembunyi.

 

Sebelum kekayaan itu dapat dinikmati, seseorang harus terlebih dahulu percaya bahwa sesuatu yang belum terlihat layak dicari, dipelajari, dan diperjuangkan.

 

-000-

 

Namun Qatar bukan awal kisah manusia mengejar energi menuju laut. Delapan dekade sebelumnya, Henry L. Williams melakukan sesuatu yang hampir tidak terpikirkan.

 

Williams bukan raksasa minyak ataupun geolog ternama. Ia seorang pengembang real estat yang melihat rembesan minyak di sekitar pantai Summerland, California.

 

Ia menemukan pola menarik. Semakin pengeboran mendekati laut, indikasi minyak semakin menjanjikan. Kemudian lahirlah sebuah pertanyaan sederhana yang mengubah sejarah.

 

Bagaimana jika formasi minyak tidak berhenti di pantai? Bagaimana jika kekayaan itu justru terus memanjang jauh ke bawah Samudra Pasifik?

 

Pada 1896, Williams dan rekan-rekannya membangun dermaga kayu sekitar 91 meter menjorok ke laut, kemudian menempatkan perangkat pengeboran di ujungnya.

 

Hari ini gagasan itu terlihat sederhana. Tetapi hampir setiap revolusi memang terlihat sederhana setelah seseorang memiliki keberanian menjadi manusia pertama yang mencobanya.

 

Williams mengajarkan sesuatu: inovasi tidak selalu berarti menciptakan teknologi baru. Kadang inovasi adalah membawa pengetahuan lama menuju kemungkinan yang sama sekali baru.

 

-000-

 

Apa yang menyatukan Qatar dan Williams, dua kisah yang dipisahkan samudra, zaman, teknologi, kekayaan, dan hampir delapan puluh tahun sejarah?

 

Mereka melihat sesuatu yang berbeda pada tempat yang sama. Ketika orang lain melihat batas, mereka justru melihat sebuah kemungkinan yang layak dikejar.

 

Itulah spirit inovasi: keberanian memasuki wilayah tanpa peta, menguji sesuatu yang baru, bahkan menerima kemungkinan gagal demi menemukan jalan yang lebih baik.

 

-000-

 

Spirit itulah yang ingin saya hidupkan dalam peran komisaris. Komisaris tidak cukup hanya bertanya apakah sebuah proposal layak disetujui atau ditolak.

 

Kita juga harus bertanya: apakah korporasi sedang berjalan menuju masa depan yang benar, atau sekadar semakin efisien mengulangi keberhasilan masa lalu?

 

Direksi memegang kemudi operasional. Komisaris menjaga tata kelola dan arah strategis. Keduanya harus saling menguatkan tanpa mengambil alih kewenangan satu sama lain.

 

Komisaris terbaik bukan yang paling banyak mengintervensi. Ia memahami batas kewenangannya, tetapi tidak pernah kehilangan keberanian intelektual untuk mempertanyakan keadaan.

 

Sebab ancaman terbesar perusahaan besar kadang bukan keputusan yang salah, melainkan kenyamanan untuk terus mengulangi keputusan yang dahulu pernah benar.

 

-000-

 

Di titik inilah saya teringat The Innovator’s Dilemma: When New Technologies Cause Great Firms to Fail, karya Clayton M. Christensen, terbit pada 1997.

 

Christensen menunjukkan paradoks menggelisahkan: perusahaan hebat dapat gagal justru ketika manajemennya bekerja baik, mendengarkan pelanggan, mengejar keuntungan, dan mengalokasikan modal secara rasional.

 

Keberhasilan masa lalu perlahan membentuk cara perusahaan membaca masa depan. Inovasi disruptif sering bermula kecil, belum menguntungkan, bahkan terlihat tidak penting.

 

Karena itu, perusahaan mapan dapat mengabaikannya sampai terlambat. Bagi komisaris, pesannya penting: jangan hanya mengawasi risiko melakukan sesuatu yang baru.

 

Kita juga harus mengawasi risiko karena tidak melakukan sesuatu yang baru. Terkadang ancaman terbesar justru bersembunyi di balik kenyamanan keberhasilan hari ini.

 

Komisaris tidak memilih teknologi menggantikan direksi. Ia memastikan organisasi menyediakan ruang, sumber daya, eksperimen, dan kesabaran bagi kemungkinan yang belum matang.

 

Perspektif itu diperkaya Ram Charan dalam Boards That Deliver: Advancing Corporate Governance from Compliance to Competitive Advantage, terbitan Jossey-Bass pada 2005.

 

Charan mengajak kita meninggalkan gambaran para komisaris sebagai penjaga kepatuhan semata. Board terbaik ikut menciptakan keunggulan melalui dialog strategis berkualitas dengan manajemen.

 

Namun batasnya jelas. para komisaris tidak menjalankan perusahaan. Ia memperkaya keputusan melalui pertanyaan tajam, perspektif independen, pemahaman risiko, dan pandangan jangka panjang.

 

Di sinilah seni seorang komisaris: cukup dekat untuk memahami persoalan, tetapi cukup jauh untuk melihat sesuatu yang luput dari kesibukan operasional sehari-hari.

 

Dalam inovasi, komisaris tidak perlu menjadi penemu. Ia memastikan perusahaan tidak kehilangan kemampuan menemukan karena terlalu sibuk mempertahankan keberhasilan yang sudah dimiliki.

 

Christensen mengingatkan bahaya terperangkap masa lalu. Charan menunjukkan bagaimana board membantu menjaga masa depan. Keduanya membawa saya kepada satu metafora: penjaga cakrawala.

 

-000-

 

Saya sendiri merasakan dilema itu ketika menjalankan amanah sebagai komisaris. Di ruang rapat, saya menyadari betapa mudahnya jabatan membuat seseorang merasa sudah mengetahui.

 

Padahal semakin besar organisasi yang kita jaga, semakin luas pula wilayah yang tidak kita pahami. Saya memilih kembali menjadi murid: membaca, bertanya, mendengar ahli.

 

Ketika gagasan MNK, natural hydrogen, Business Judgment Rule, dan PHE Community mulai tumbuh, semuanya belum mempunyai jawaban sempurna. Ada keraguan, risiko, bahkan kemungkinan gagal.

 

Tetapi justru di sana saya merasakan makna amanah ini. Saya tidak ingin kelak meninggalkan jabatan hanya dengan deretan rapat yang pernah saya hadiri.

 

Saya ingin meninggalkan sesuatu yang lebih sunyi tetapi bertahan lama: keberanian organisasi untuk bertanya, mencoba, belajar, dan melihat kemungkinan sebelum orang lain melihatnya.

 

Suatu hari nama kita akan hilang dari pintu ruangan. Tetapi jika keberanian itu tetap hidup, mungkin sebagian kecil dari pengabdian kita masih tinggal.

 

-000-

 

Dari kesadaran itulah beberapa gagasan mulai didorong menuju kajian, dialog, dan kick-off. Bukan untuk mengambil kemudi direksi, tetapi membantu memperluas cakrawala kemungkinan.

 

Tantangan PHE bagi saya mempunyai dua medan: meningkatkan produksi hari ini, sekaligus membangun institusi yang mampu mempertahankan kebesarannya pada masa depan.

 

Aspirasi satu juta barel minyak per hari memaksa kita meninjau berbagai kemungkinan: eksplorasi, MNK, teknologi, kemitraan, serta pertumbuhan anorganik melalui M&A.

 

Kita juga mulai mengeksplorasi natural hydrogen. Studi awal diarahkan pada pemetaan struktur geologi yang berpotensi, dikaji bersama mitra akademis dan lembaga riset, sebelum masuk ke tahap uji lapangan yang lebih mahal.

 

Ketidakpastiannya masih tinggi. Justru karena itulah kita perlu mempelajarinya sebelum kepastian mengundang semua orang datang.

 

Inovasi bukan perlombaan menjadi paling nekat. Inovasi adalah keberanian memasuki ketidakpastian dengan pengetahuan lebih baik, eksperimen terukur, dan disiplin risiko lebih kuat.

 

-000-

 

Namun produksi besar tidak mungkin bertahan tanpa institusi kuat. Kita tidak dapat meminta manusia berinovasi apabila sistem justru membuat mereka takut mengambil keputusan.

 

Karena itu, ekosistem Business Judgment Rule penting. Keputusan bisnis yang jujur dan prudent tidak seharusnya otomatis dikriminalisasi hanya karena akhirnya mengalami kegagalan.

 

Tanpa perlindungan terhadap keputusan beritikad baik, lahirlah paradoks: semua orang berbicara tentang inovasi, tetapi semakin sedikit yang berani mengambil risiko.

 

Kita juga membutuhkan PHE Community. Pengetahuan terbaik tidak selalu berada di gedung sendiri. Ia dapat datang dari kampus, industri, teknologi, bahkan masyarakat.

 

Inovasi sering lahir ketika disiplin berbeda bertemu, pengalaman lama bersentuhan dengan teknologi baru, dan sebuah pertanyaan akhirnya menemukan pasangan intelektualnya.

 

-000-

 

Tetapi gairah inovasi harus mempunyai pagar. Setiap gagasan komisaris, termasuk gagasan saya sendiri, harus bersedia menjalani pengujian sekeras mungkin.

 

Intuisi boleh membuka pintu. Namun data, kajian akademis, teknologi, keekonomian, regulasi, risiko, serta pengalaman global menentukan apakah pintu tersebut layak dimasuki.

 

Saya tidak ingin sebuah gagasan hidup hanya karena disampaikan seseorang berpangkat. Semakin besar gagasannya, semakin keras pula gagasan itu harus bersedia diuji.

 

Jika keliru, kita harus mempunyai kerendahan hati intelektual untuk meninggalkannya. Jika terbukti kuat, kita harus memiliki keberanian moral untuk memperjuangkannya.

 

Di sinilah batas itu menjadi penting. Komisaris inovatif bukan direktur bayangan. Tetapi ia juga bukan penonton terhormat yang hanya mendengarkan presentasi.

 

Ia adalah penjaga cakrawala: cukup dekat untuk memahami perjalanan, cukup jauh untuk melihat badai, dan cukup merdeka untuk bertanya tentang arah.

 

Penjagaan itu harus nyata. Melalui komite audit dan risiko, komisaris memastikan inovasi mempunyai ruang untuk diuji secara terukur, tanpa mempertaruhkan keselamatan perusahaan.

 

Sebab tugas kita bukan menghapus semua risiko. Tugas kita adalah menjaga agar risiko tidak membunuh perusahaan, dan kehati-hatian tidak membunuh keberanian direksi untuk berinovasi.

 

-000-

 

Karena itu saya semakin percaya pada pentingnya pengetahuan. Kita tidak harus menjadi geolog, ekonom, reservoir engineer, ahli hukum, sekaligus pakar teknologi.

 

Tetapi kita harus terus belajar agar mampu mengajukan pertanyaan yang tepat. Dalam kepemimpinan strategis, kualitas pertanyaan kadang lebih menentukan daripada banyaknya jawaban.

 

Pengetahuan memperpanjang jarak pandang. Ia membantu membaca sejarah kegagalan, memahami teknologi baru, dan menangkap kemungkinan sebelum kemungkinan tersebut menjadi arus utama.

 

Komisaris pembelajar tidak pernah merasa mengetahui semuanya. Tetapi ia juga tidak pernah berhenti belajar hanya karena telah mencapai puncak sebuah jabatan.

 

-000-

 

Seratus tiga puluh tahun lalu, Williams berdiri di tepi Pasifik. Ia melihat laut yang sama seperti orang lain, tetapi menemukan kemungkinan yang berbeda.

 

Puluhan tahun kemudian, Qatar menatap lautnya sendiri. Di balik ombak dan ketidakpastian, mereka melihat sebuah masa depan yang ketika itu belum terlihat.

 

Hari ini kita berdiri di tepi laut kita sendiri: perubahan teknologi, transisi energi, kompetisi global, ketidakpastian geopolitik, dan tuntutan kemandirian energi.

 

Kita memang tidak mengetahui seluruh jawabannya. Tetapi sejarah tidak pernah meminta para pembaru mengetahui masa depan terlebih dahulu sebelum berani mencarinya.

 

Kelak jabatan berakhir. Nama kita meninggalkan ruang rapat. Generasi baru datang, dan sebagian besar perdebatan hari ini mungkin tidak lagi diingat.

 

Komisaris yang besar tidak mengambil alih kemudi. Ia menjaga cakrawala, agar korporasi tidak hanya selamat hari ini, tetapi berani berlayar menuju masa depan yang belum sepenuhnya terlihat.

 

(Esai ini perluasan Orasi Denny JA selaku Komisaris Utama Pertamina Hulu Energi dalam acara Retreat Board of Commisioners PHE, 3-6 Sept 2026 di Ubud, Bali)

 

REFERENSI

 

Michael D. Tusiani dan Anne-Marie Johnson. From Black Gold to Frozen Gas: How Qatar Became an Energy Superpower. Columbia University Press, 2023.

 

Clayton M. Christensen. The Innovator’s Dilemma: When New Technologies Cause Great Firms to Fail. Harvard Business School Press, 1997.

 

Ram Charan. Boards That Deliver: Advancing Corporate Governance from Compliance to Competitive Advantage. Jossey-Bass, 2005.

 

QatarEnergy. “Exploration and Production — North Gas Field.” qatarenergy.qa, 2025.

 

Sumber :     https://web.facebook.com/share/p/1EG6SajaN9/   

 

 

Karya Perkara

Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos

DISWAY, 05 September 2026

 

 

 

"Saya Ririe, istrinya Ibam yang terdakwa Chromebook. Tadi pagi saya baca Disway (Edisi kemarin. 4 September 2026: Lima Miliar). Mohon maaf, apakah kami boleh menanggapi? Ada beberapa analisis dan tafsir Pak Agustinus (Edy Kristianto) yang tidak sesuai dengan fakta sidang," tulis Ririe dalam WA untuk saya kemarin.

 

Tentu saya jawab ”boleh”. Hak Ibrahim Arief (Ibam) untuk menanggapi dan membela diri. Apalagi hukumannya diperberat di tingkat banding: dari empat tahun ke lima tahun. Dari tanpa mengembalikan uang pengganti kerugian negara menjadi harus bayar Rp 5 miliar.

 

Soal tambahan satu tahun penjara, itu subyektivitas hakim tingkat banding --sebagai wakil Tuhan. Tentu ada pertimbangan hukum untuk memperberatnya. Tapi untuk mengganti kerugian negara, ini sangat menarik. Apalagi nilai yang harus Ibam ganti Rp5 miliar. Dari mana hitungannya sampai pada angka itu. Maka aktivis bongkar-bongkar kejahatan pasar modal, Agustinus Edy Kristianto, membuat analisis dan tafsir. Kesimpulannya: nilai Rp5 miliar itu sesuai dengan jumlah gaji yang Ibam terima selama menjadi konsultan Yayasan Pusat Studi Pendidikam dan Kebijakan: Rp 163 juta/bulan. Mulai Januari 2020 sampai pertengahan 2022.

 

Ririe pun mengirim tanggapan: empat poin singkat:

 

1. Dari rangkaian persidangan, terungkap bahwa Ibam bekerja sebagai konsultan di yayasan hanya selama 6 bulan, yaitu Januari-Juni 2020. Bukan 3 tahun seperti yang beliau tafsirkan. Karena itu, angka Rp5 miliar yang menurutnya dari gaji konsultan selama 3 tahun adalah keliru dan tidak berdasar.

 

2. ⁠⁠Dalam sidang 13 Maret 2026, saksi dari pihak yayasan menjelaskan bahwa mereka menentukan penawaran gaji Ibam dengan melihat gaji Ibam sebelumnya di perusahaan swasta dan di luar negeri. Gaji yang Ibam terima dari yayasan turun dari yang Ibam terima dari swasta.

 

3. ⁠⁠Hal ini terlihat dalam sidang 7 April 2026, di mana terungkap bahwa tawaran kerja dari swasta yang Ibam tolak bernilai USD5 juta, dengan gaji Rp280 juta per bulan. Ini jauh lebih tinggi dari harta kekayaan yang kami sekeluarga miliki, namun kami tolak karena memprioritaskan misi bantu negara.

 

4. ⁠⁠Semua hakim sepakat bahwa Ibam tidak menerima keuntungan apa pun dari pengadaan. Bahkan dua hakim dissenting opinion menilai gaji Ibam dari yayasan masih wajar jika dibandingkan pengalaman kerjanya di swasta dan menekankan gaji Ibam tidak bisa disebut sebagai "suap terselubung".

 

"Yang menulis tanggapan itu Anda sendiri atau dibantu pengacara?" tanya saya kepada Ririe.

 

"Dibantu Mas Ibam," ujar Ririe, "Ini Mas Ibam ada di sebelah saya," katanyi sambil menyerahkan HP ke sang suami.

 

Saya pun bertanya soal kesibukan apa saja yang dilakukan Ibam selama ini. Saya bayangkan orang berprestasi seperti Ibam tidak bisa diam rebahan. Apalagi, pun hakim di Pengadilan Tinggi Jakarta, tetap memutuskan Ibam tidak perlu langsung masuk penjara. Ia tetap berstatus tahanan kota; dan masa tahanannya itu dihitung sebagai pengurang seandainya kelak tetap harus masuk penjara.

 

Apakah Ibam akan menjalani hukuman di penjara masih tergantung putusan kasasi Mahkamah Agung --bila Ibam menyatakan kasasi.

 

"Dengan status tahanan kota saya bisa tetap mengakses komputer saya," ujar Ibam. "Saya sedang membangun AI baru," tambahnya.

 

Artificial Intelligence yang dibangun Ibam ternyata terkait dengan proses peradilan. Itu berangkat dari pengalamannya sendiri saat diadili. Untuk membuat pembelaan Ibam harus membaca ribuan lembar dokumen. Baik dokumen yang diajukan jaksa sampai ke keterangan begitu banyak saksi di persidangan.

 

Ibam berkesimpulan tidak mungkin bisa memahami begitu banyak dokumen dalam waktu singkat. Pun para pengacaranya. Ibam lantas terpikir membangun otak buatan --satu hal yang memang menjadi keahliannya.

 

Program itu cepat sekali terbangun. Ibam hanya perlu waktu enam minggu. Ia terbantu oleh mesin scan. Semua dokumen bisa diubah menjadi format PDF. Lalu menjadi big data. Dari situlah AI yang dibangun Ibam bisa bekerja cepat. Dalam hitungan detik AI bisa ”membaca” ribuan dokumen sekaligus membuat poin-poin dan kesimpulan.

 

AI made in Ibam itu diberi nama "Perkara AI".

 

"Apakah Anda akan mematenkannya?"

 

"Saya sudah daftarkan," jawab Ibam.

 

Orang pinter, kreatif, dan pekerja keras tetaplah Ibam: di saat jadi pesakitan pun ia bisa mencipta dan menghasilkan karya penting. Sungguh, para pengacara sangat memerlukannya.

 

"Sudah satu perkara besar yang minta menggunakan Perkara AI," ujar Ibam.

 

"Boleh disebutkan perkara besar apa itu?"

 

"Boleh," jawabnya. "Perkara Gus Yaqut (Yaqut Cholil Qoumas, Red.), mantan menteri agama dalam persidangan kasus korupsi kuota haji itu," ujar Ibam.

 

Itulah Ibam. Perkara menghasilkan karya. Karya bisa menghasilkan apa saja.

 

Sumber :    https://disway.id/catatan-harian-dahlan/966747/karya-perkara