|
Akhir
Tahun Kelabu untuk Rupiah Yopie Hidayat
: Anggota
Tim Evaluator Editorial Tempo. |
TEMPO MINGGUAN, 27 September 2026
|
· Kurs rupiah sempat membaik pada awal
September, tapi melorot lagi menjelang akhir bulan. · Sejumlah faktor eksternal turut menekan
kurs rupiah, seperti melambungnya harga minyak dan bunga The Fed. · Belum ada faktor positif dari dalam
negeri yang dapat memastikan modal asing tetap bertahan. PENGUATAN rupiah selama Agustus hingga
awal September tahun ini ternyata cuma sementara. Kurs rupiah per dolar
Amerika Serikat yang sempat membaik di posisi sekitar 17.500 pada 10
September 2026 kembali merosot ke kisaran 18 ribu pekan lalu. Tren penguatan
rupiah ternyata hanya bertahan sekitar dua pekan. Berbaliknya kecenderungan itu
menegaskan satu hal: belum ada perbaikan faktor fundamental di dalam negeri
yang mampu menopang nilai rupiah secara permanen. Akibatnya, naik-turunnya
nilai rupiah sangat bergantung pada gejolak geopolitik ataupun pasar keuangan
global. Contoh paling jelas tampak pada
korelasi antara harga minyak dan rupiah. Setelah harapan pembukaan kembali
Selat Hormuz meredup dan ada serangan terhadap fasilitas ekspor minyak Arab
Saudi, harga minyak Brent melejit tinggi, melewati US$ 105 per barel. Kurs
rupiah pun melemah dengan cepat. Bagi Indonesia, mahalnya harga minyak
berarti bertambahnya kebutuhan dolar untuk impor. Kondisi ini menjadi pukulan
ganda karena neraca transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II mengalami
defisit US$ 12,5 miliar. Dengan kata lain, kenaikan harga minyak menjadi
malapetaka ketika Indonesia sedang kekurangan devisa. Indonesia dapat menutup defisit devisa
itu lewat beberapa cara. Misalnya jika ada devisa masuk karena investasi
langsung, utang, atau datangnya investasi portofolio. Dari ketiga sumber
devisa itu, aliran yang bisa datang paling cepat adalah investasi melalui
pasar keuangan, seperti saham atau obligasi. Sejak akhir 2023, ada pula
instrumen bank sentral yang makin berperan penting sebagai penjaga
stabilisasi kurs rupiah: Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Posisi SRBI per akhir Agustus 2026
sebesar Rp 1.063 triliun dan Rp 295 triliun di antaranya merupakan dana
investor asing. Sejak awal tahun hingga 10 September, jumlah dana asing yang
masuk ke SRBI (secara neto) mencapai Rp 172 triliun. Persoalannya, pergerakan modal kini
gonjang-ganjing. Terjadi perubahan arah investasi setelah The Federal Reserve
(The Fed) menaikkan suku bunga menjadi 3,75-4 persen. Pasar bahkan
mengantisipasi akan adanya kenaikan lagi sebelum akhir tahun. Penempatan dana
investasi portofolio sangat bergantung pada perkiraan kenaikan bunga itu.
Investasi asing yang sudah berada di dalam negeri mungkin saja tertarik
keluar, mencari imbal hasil lebih baik. Untuk mencegah kaburnya dana asing, BI
secara teknis masih dapat menerbitkan lebih banyak SRBI dengan bunga lebih
tinggi. Namun ongkos penggunaan SRBI untuk menjaga rupiah sangat besar. BI
harus membayar bunga tinggi agar tetap menarik dalam pertimbangan investor
asing. Kian besarnya porsi SRBI milik asing
juga mengandung risiko karena instrumen ini adalah surat utang jangka pendek.
Sebagian besar tenornya hanya satu tahun. Jika SRBI milik asing jatuh tempo,
BI harus mampu merayu mereka agar tetap menaruh dana di Indonesia. Caranya
adalah membeli lagi SRBI baru alias melakukan rollover. Upaya itu sungguh menantang ketika
bunga global sedang cenderung naik. BI tentu harus menaikkan pula bunga SRBI
agar investor tertarik. Lingkaran bunga tinggi ini akan terus mencekik BI dan
tentu ada satu titik balik. Ketika bunga tinggi di pasar global membuat SRBI
tak lagi menguntungkan bagi investor asing, SRBI yang kini menjadi penyangga
rupiah bisa berbalik fungsi menjadi pintu keluar modal asing dan memicu
penurunan nilai rupiah. Pembalikan itu sudah berlangsung di
pasar saham. Dana asing terus kabur belum terbendung. Sejak awal tahun hingga
24 September, modal asing yang keluar secara neto sudah mencapai Rp 72
triliun. Buruknya tata kelola pasar saham Indonesia membuat investor asing
tak betah. Pemicunya bukan cuma konsekuensi gejolak pasar global atau bunga
tinggi. Dalam waktu dekat, sepertinya belum
akan muncul faktor positif dari dalam negeri yang dapat memastikan modal
portofolio asing tetap bertahan dan tekanan terhadap rupiah mereda.
Satu-satunya harapan hanyalah harga minyak cepat mengendur dan bunga The Fed tak
jadi melejit. ● Sumber: https://www.tempo.co/ekonomi/rupiah-muram-menjelang-akhir-tahun-2292761
|