|
Kacamata Mata Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 11 Oktober 2026
Kami, satu
meja, bergantian mencoba kacamata istimewa itu. Yang diminta mencoba pertama
adalah Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang baru: Gus Kikin (lihat
foto). Lalu pengusaha besar pemilik grup Maspion, Alim Markus. Pindah ke Wakil
Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak. Pindah lagi ke istri Wagub, artis yang
5i itu. Masih berpindah ke satu lagi: Indah Kurnia, anggota DPR dari
PDI-Perjuangan dapil Surabaya. Terakhir saya.
Awalnya kami
tidak tahu kalau kacamata yang dipakai Ye Su, konsul jenderal Tiongkok untuk
Jatim, Jateng, DIY, Maluku, dan Maluku Utara itu, istimewa. Terlihat seperti
kacamata biasa. Kami baru tahu setelah Ye Su turun dari podium –usai memberi
sambutan ulang tahun ke-75 RRT.
Begitu duduk
kembali di kursinya ia berkata: "Saya tadi pakai ini. Sedikit agak
besar". Ye Su berkata begitu sambil melepas kacamata itu. Sambil menikmati
hidangan hotel Vasa Surabaya saya memperhatikan penjelasan Ye Su tentang
kacamata itu. Waktu berpidato ia memang tidak terlihat membaca teks. Ia memang
terlihat tidak membawa teks.
Teks pidato
yang dibaca Ye Su ternyata ada di kacanya kacamata itu. Ia bisa membaca teks
pidato langsung di kacamata itu. Saya baru percaya setelah dapat giliran
mencobanya.
Begitu saya
mengenakannya langsung terlihat baris-baris kalimat pidatonya. Meski kaca di
kacamata itu sangat dekat di mata ternyata teksnya terlihat seperti jauh di
depan sana. Tidak ada bedanya dengan kita membaca teks film di layar lebar.
Bahkan terlihat lebih jelas.
Saya jadi ingat
mobil listrik BYD yang jenis sedan. Waktu kita mengemudikannya kita bisa
melihat angka kecepatan kita jauh di depan sana. Bukan di speedometer yang di
dashboard.
Angka kecepatan
itu terlihat seperti sekitar 10 meter di depan mobil. Kita tidak perlu menunduk
ke speedometer untuk mengecek kecepatan. Dengan tanpa perlu melihat dashboard
wajah, mata kita, tetap bisa fokus ke jalan raya. Mungkin seperti itu juga
kacamata istimewa Ye Su tadi.
Maka era
teleprompter segera lewat. Seorang presiden, termasuk presiden direktur
perusahaan, tidak perlu lagi membaca layar. Pun penyiar TV. Bahkan paparan
materi rapat tidak perlu lagi ditayangkan di layar. Cukup masing-masing peserta
rapat mengenakan kacamata jenis itu.
Tentu kacamata
seperti itu bukan baru. Sudah banyak negara yang memproduksinya. Negara pertama
adalah Amerika. Lalu Jepang. Tapi tidak segera memasyarakat: mahal. Kurang
praktis. Itu tahun 2012–2013.
Anda pun sudah
bisa menebak Tiongkoklah yang kemudian mengambil alih semuanya.
Menyederhanakannya. Membuatnya lebih praktis. Dan yang utama: murah. Seperti
yang saya coba itu adalah produk Tiongkok.
Saya tidak
bertanya mereknya. Juga tidak sempat mengamati –karena harus bergantian
mencoba. Hampir pasti kacamata itu disebut smart glasses teleprompter. Merek
yang paling terkenal adalah Rokid, bikinan Hangzhou. Ada juga merek Even G2.
Tiongkok memang
bukan yang pertama. Tapi yang bentuknya sangat mirip kacamata adalah buatan
Tiongkok. Sampai saya pun tidak menduga kalau yang dipakai Konsul Ye Su adalah
smart glasses teleprompter. Kita semua baru tahu setelah Ye Su memberi tahu
kami dengan cara melepas kacamata diplomasinya --untuk kita coba bergantian.
Selamat tinggal
teleprompter tradisional. Para penyiar TV pun bisa ganti ke smart glasses
teleprompter. Bagi investor itu berarti penghematan investasi bikin stasiun
televisi. Siapa tahu kelak Tiongkok juga memproduksi kacamata untuk melihat
berapa isi dompet para perusuh Disway. Atau isi tas yang dibagi-bagi dalam
sebuah Muktamar. Atau yang bisa memproduksi suara gemuruh tepuk tangan untuk
menambah semangat yang sedang berpidato. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/972888/kacamata-mata