Kamis, 30 Juli 2026

 

Hantu Orwell

Bagja Hidayat :  Wakil Pemimpin Redaksi Tempo

TEMPO MINGGUAN, 26 Juli 2026

 

 

                                                           

·      Gawai dan algoritma telah menggantikan pengawasan Bung Besar dan Polisi Pikiran dalam novel 1984.

 

·      Meski George Orwell tak berniat meramal, isi novelnya makin relevan dengan keadaan dunia hari ini.

 

·      Distopia kekuasaan bertaut erat dengan pengendalian kebenaran melalui algoritma dan akal imitasi.

 

GEORGE Orwell tak berniat meramal ketika menulis dan menyodorkan manuskrip 1984 kepada penerbit Secker & Warburg di London pada 1948. Judul asli naskah yang ia tulis saat menyendiri di Pulau Jura, Skotlandia, dalam gempuran musim dingin yang menggigit sambil menahan sesak tuberkulosis adalah “The Last Man in Europe”.

 

Fred Warburg, editor dan pemilik penerbitan tersebut, merasa judul itu kurang menjual. Ia sudah membacanya dan tercengang akan ceritanya. Dalam catatan internal perusahaan, Warburg yang sudah menerbitkan karya-karya besar penulis besar semacam H.G. Well menulis komentar tentang novel itu sebagai “cerita paling menakutkan yang pernah saya baca”.

 

Ia cenderung memilih judul alternatif yang disodorkan Orwell, 1984, dengan alasan—bukan semata komersial—sekaligus menggambarkan isinya sebagai sebuah peringatan. Tak ada penjelasan meyakinkan mengapa 1984, kecuali bahwa latar ceritanya berkisar pada tahun itu. Melalui Winston Smith, tokoh utama novel ini, Orwell juga bertanya, untuk apa ia menulis masa depan. “Masa depan akan menyerupai masa kini, jika ia mengacuhkannya....” Warburg menyukai kalimat ini: ada misteri dan teka-teki.

 

Kini 1984 menjadi simbol kekuasaan represif. “Orwellian” bahkan menjadi kata sifat untuk memberi predikat kepada penguasa yang menindas. Terbit pada 8 Juni 1949, enam bulan sebelum Orwell—nama pena Eric Arthur Blair—wafat di usia 46, 1984 disambut gegap gempita pembaca sastra sejak hari pertama. Winston Churchill, Perdana Menteri Inggris 1940-1945 dan 1951-1955, mengaku membacanya dua kali begitu buku itu tiba di tangannya.

 

Di Goodreads, aplikasi ulasan buku, 1984 menjadi novel yang paling banyak dibahas setelah To Kill a Mockingbird, cerita tentang perbudakan dan rasialisme di Amerika pada abad ke-20, sampai pekan lalu. Pada 2007, dalam survei surat kabar Inggris The Guardian, responden menobatkan 1984 sebagai novel yang paling mewakili abad ke-20.

 

Barangkali karena apa yang ditulis Orwell terlalu dekat dan makin dekat dengan keadaan hari ini. Propaganda, manipulasi informasi, dan kekuasaan negara yang makin merasuk ke dalam hidup orang-seorang menjadi ciri khas zaman ini. Totalitarianisme tak semata berwujud penguasa otoriter atau politikus koppig yang antikritik, tapi juga teknologi yang membuat kita terjebak dan tak berkutik di dalamnya. Toh, di Oceania yang menjadi latar novel 1984, tetap ada tokoh oposisi semacam Emmanuel Goldstein yang dijuluki “Musuh Rakyat”.

 

George Orwell memang tak sedang meramal apa yang akan terjadi pada 1984. Oceania merujuk pada perpaduan Rusia di era Stalin dengan Jerman di masa Hitler. Winston, pegawai rendahan di Kementerian Kebenaran yang bertugas memeriksa artikel, menderita di bawah kekuasaan Bung Besar, pemimpin Oceania, yang tak pernah muncul secara fisik tapi mengendalikan hidup setiap orang detik per detik. Ia punya Polisi Pikiran dan alat pelacak untuk memantau gerak-gerik siapa saja.

 

Winston dipaksa menerima 2 + 2 = 5, menelan jargon-jargon bahasa ganda semacam “perang adalah kedamaian”, “kebebasan adalah perbudakan”, “ketidaktahuan adalah kekuatan”. Di Oceania, berpikir waras adalah kejahatan. Dengan intimidasi pikiran seperti itu, Winston yang memakai segenap tenaga membenci Bung Besar pun berakhir dengan mencintai dan mengaguminya. Ia tak bisa lagi bebas berpikir dan bertindak.

 

Di luar distopia kekuasaan, 1984 sesungguhnya memang novel yang meramal. Teknologi pengawas dan Polisi Pikiran kini berbentuk mesin algoritma yang membaca pikiran dan kecenderungan setiap orang di dunia digital. Bung Besar tak lagi mengacu pada Stalin atau Hitler, tapi para penguasa teknologi digital yang bersekutu dengan politikus menguasai ruang hidup baru kita saat ini.

 

Sementara Winston Smith sadar sedang dimanipulasi Bung Besar, miliaran Winston hari ini merayakannya sebagai tren dunia modern. Kita tak sadar sedang dimanipulasi mesin algoritma yang menyaring informasi berdasarkan preferensi. Bung Besar hari ini lebih sukses dibanding Bung Besar dalam 1984 dalam hal mengendalikan kebenaran. Atas nama kebebasan, kita terjebak di dalam gelembung informasi yang membuat kebenaran faktual bergeser menjadi kebenaran perspektif.

 

Polisi Pikiran masa kini adalah gawai dan robot-robot percakapan semacam ChatGPT atau Gemini. Mesin-mesin ini membaca dan menguping lalu menyodorkan informasi dan perspektif yang kita suka. Akal imitasi makin menguatkan bias alami manusia, yang disebut Daniel Kahneman dalam Thinking, Fast and Slow sebagai sindrom WYSIATI, what you see is all there is: apa yang kita percaya terbentuk oleh informasi yang terbatas sampai kita alpa bertanya apa yang tidak kita tahu sebelum membuat kesimpulan tentang sesuatu.

 

Winston Smith menulis diari pada 4 April 1984—di Oceania, menulis diari adalah tindakan ilegal karena membuat sejarah menjadi beragam. Ia membuat deskripsi yang mirip kita lihat di dunia nyata hari-hari ini: penonton terhibur oleh ribuan pengungsi yang meregang nyawa ketika kapal yang mereka tumpangi karam. Seorang pria tambun mencoba berenang, dikejar helikopter dan ditembaki hingga tubuhnya berlubang-lubang. “Penonton tertawa terbahak-bahak melihat ia tenggelam....”

 

Di dunia tanpa kebebasan dan informasi dikendalikan, kemanusiaan tak mati sendirian. ●

 

Sumber :   https://www.tempo.co/kolom/algoritma-george-orwell-1984-ai-2278165  

 

 

Kekuatan Bahasa dalam Semesta Kita

Darmawati M.R.  :  Peneliti pada Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas BRIN.

TEMPO MINGGUAN, 26 Juli 2026

 

 

                                                           

·      Kerusakan alam pertama-tama tak diakibatkan oleh palu atau eksavator, tapi kata.

 

·      Ketika pembangunan dilekatkan pada makna kemajuan, kerusakan alam dianggap sebagai pengganti yang sepadan.

 

·      Media massa tak kritis terhadap jargon-jargon yang membuat perspektif terhadap sesuatu berubah.

 

BAGAIMANA jika kerusakan alam tidak dimulai dari alat berat atau dipicu bencana, tapi dari kalimat yang sering kita dengar sejak kecil?

 

Pemikiran itu yang terlintas di kepala saya saat membaca Ecolinguistics: Language, Ecology and the Stories We Live By karya Arran Stibbe (Routledge, 2020). Buku setebal 260 halaman itu mengungkap kisah-kisah yang menemani manusia bertumbuh; menganalisis narasi dominan, teks-teks kunci, dan cara pandang yang menempatkan alam sebagai sumber daya yang mewarnai kehidupan.

 

Dalam pandangan profesor ekolinguistik dari University of Gloucestershire, Inggris, itu, bahasa mampu mengarahkan manusia untuk memahami apakah krisis lingkungan adalah perkara teknis (cuaca, bencana, teknologi), urusan ekonomi (produksi, pembangunan), atau anomali alam semata.

 

Ia juga berargumen, pengulangan narasi dominan secara terus-menerus dalam beragam teks membentuk cara berpikir dan mempengaruhi cara bertindak manusia terhadap sesamanya, juga terhadap alam. Ambil contoh bagaimana kita ditawari istilah “perubahan iklim” padahal sudah ada frasa “pemanasan global”.

 

Atau bagaimana kita diajari “pembangunan” berarti “kemajuan”, “tambang” adalah “lapangan kerja”, dan “banjir terjadi karena curah hujan yang tinggi”. Bahwa izin tambang diperlukan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat (sebagaimana amanat Pasal 33 ayat 3 Undang-Undang Dasar 1945) dikemas dengan ideologi canggih seperti “untuk mendukung program hilirisasi nikel pemerintah” atau “untuk menjadikan wilayah di Desa M sebagai pusat suplai material baterai kendaraan listrik dunia”.

 

Tidak mengherankan apabila terjadi sengkarut penegakan hukum di sektor sumber daya alam, seperti tingginya jumlah perkara pidana kejahatan lingkungan yang disidangkan di seluruh Indonesia pada 2019-2025 (Yayasan Auriga Nusantara mencatat ada 8.183 perkara).

 

Persoalannya bukan hanya pada memadai atau tidaknya peraturan perundang-undangan untuk menindak pelaku, melainkan juga berakar pada narasi yang dijejalkan sejak dulu: alam ada untuk memenuhi kebutuhan manusia.

 

Stories we live by, meminjam istilah Stibbe, yang sering dibingkai dan ditonjolkan inilah yang membuat kita pelan-pelan lupa bahwa “alih fungsi lahan” adalah “penggundulan hutan”, “relokasi warga” adalah “penggusuran”, dan “limbah” sebenarnya adalah “sampah beracun”.

 

Penguatan narasi tersebut diperparah oleh situs-situs institusi independen yang berdedikasi melestarikan lingkungan tapi tak sadar turut melanggengkan istilah “deforestasi” dalam berita dan laporan mereka, alih-alih menggunakan “penebangan pohon”.

 

Dari hasil penelusuran per 20 Juli 2026, di situs mongabay.co.id terdapat 2.086 cerita dengan judul yang memuat kata “deforestasi” dan di situs Greenpeace.org/indonesia terdapat 219 hasil pencarian.

 

Mari perhatikan kalimat yang sekilas tampak netral dalam materi geografi kelas XI ini: “Pemanfaatan Sumber Daya Alam telah menjadi fondasi utama pembangunan sejak awal peradaban manusia”.

 

Dari sudut pandang ekolinguistik rancangan Stibbe, kalimat itu problematis karena membuka interpretasi bahwa pembangunan memang memerlukan eksploitasi alam sehingga krisis lingkungan hanyalah efek samping yang wajar.

 

Ambil contoh lain, yakni judul berita saat konflik Iran-Amerika Serikat memanas yang berbunyi “Pertamina Pastikan Stok BBM Nasional Aman, Pasokan Operasional Dijaga Sekitar 21 Hari” (Maluku Post, 9 Maret 2026).

 

Judul itu bisa dimaknai bahwa keamanan sama dengan ketersediaan energi sekaligus membangun wacana bahwa bahan bakar minyak adalah penopang utama kehidupan. Selama BBM ada, keadaan aman dan masalah energi itu sebatas perkara pasokan, bukan soal lingkungan.

 

Di media, judul-judul berita kutipan tidak langsung dari lembaga, tokoh, atau pejabat pengambil kebijakan semacam itu dengan mudah ditemukan, dan pola tersebut telah lama berlangsung. Media pemberitaan secara tidak langsung merawat jargon-jargon yang diucapkan pemerintah untuk menenangkan publik, menormalkan kerusakan lingkungan, dan menyisihkan diskursus ekologis.

 

Sudah seharusnya kita dapat bersikap lebih kritis terhadap berita, kebijakan, dan informasi publik karena perubahan sikap untuk lebih menghargai bumi yang kita huni sering dimulai dari perubahan cara menyebut dan memahami sesuatu. Misalnya dengan mempertanyakan judul kolom ini: apakah berarti selama ini kita tidak hidup di alam? ●

 

Sumber :   https://www.tempo.co/kolom/kerusakan-alam-krisis-lingkungan-2278164