|
Dalam
Dunia yang Hiruk, Kita Perlu Ibn Bajjah Qaris Tajudin : Wartawan
Tempo, Sarjana Hadis dari Universitas Al Azhar Kairo |
TEMPO MINGGUAN, 02 Agustus 2026
|
· Ibn Bajjah menawarkan konsep
'al-mutawahhid' (menyendiri) mengarungi dunia yang hiruk-pikuk. · Konsep itu tak mengacu pada upaya
mengasingkan diri, tapi pada kemerdekaan pikiran dalam kekacauan. · Di dunia yang hiruk-pikuk sekarang, Ibn
Bajjah layak kita tengok untuk mencari refleksi. APA yang
terjadi jika para filsuf Stoa hidup hingga hari ini, melewati Revolusi
Industri dan dua Perang Dunia serta menatap media sosial yang hiruk-pikuk?
Apakah mereka masih akan memiliki pendapat yang sama? Seorang teman
memberondongkan pertanyaan ini dalam obrolan santai sambil menyantap mi Aceh
pekan lalu. Teman
saya yang penulis buku laris itu melontarkan pertanyaan tersebut karena
sedang kewalahan dengan kebisingan digital. Dia menghapus semua aplikasi
media sosial dari telepon selulernya. “Saya tidak kuat lagi dengan semua
hiruk-pikuk politik yang seperti tidak ada habis-habisnya,” katanya. Entah
mengapa, saat mendengar pertanyaan itu saya tidak teringat kepada Marcus
Aurelius, filsuf Stoa yang mengatakan bahwa kita memiliki kendali atas
pikiran kita, bukan kejadian di luar sana. Saya justru teringat kepada Ibn
Bajjah (1085-1138), seorang filsuf Andalusia yang dikenal di Eropa dengan
nama Avempace. Ibn
Bajjah lahir dan besar di Zaragoza, Spanyol, ketika atmosfer Andalusia
dipenuhi oleh hiruk-pikuk politik. Kekhalifahan Córdoba runtuh, Andalusia
pecah menjadi lebih dari 20 kerajaan kecil (taifa). Masing-masing memiliki
raja sendiri, tentara sendiri, kepentingan sendiri. Setiap hari ada intrik
politik, saling tikam, dan pengkhianatan. Bajjah
bukan hanya seorang filsuf, melainkan juga menteri, dokter, musikus, dan
penasihat politik. Karena kedekatannya dengan penguasa, ia berkali-kali
terseret konflik politik. Karena itu, dia berpindah-pindah dari Zaragoza,
Sevilla, Granada, hingga akhirnya menetap dan meninggal di Fez, Maroko. Meski
terpengaruh oleh Al-Farabi, Ibn Bajjah tidak setuju dengan konsep Al-Madinah
al-Fadilah (Virtuous City). Dalam konsep itu, Al-Farabi—seperti halnya Plato
dalam “Republik”—membayangkan adanya Kota Ideal, yaitu masyarakat yang
dipimpin para filsuf atau orang-orang bijak. Ibn Bajjah tampaknya jauh lebih
pesimistis. Ia melihat bahwa kota atau negeri ideal hampir tidak ada. Maka
pertanyaannya bergeser: kalau negeri yang ideal tidak ada, bagaimana
orang-orang yang berpikir lurus harus hidup di negeri yang kacau balau?
“Ketika sebuah negeri tidak dalam kondisi ideal (fadilah), maka orang bijak
akan menjadi ‘orang asing’ di dalamnya,” tulis Ibn Bajjah dalam Tadbīr
al-Mutawaḥḥid atau Pengelolaan Sang Penyendiri. Banyak
filolog berpendapat bahwa Tadbīr al-Mutawaḥḥid kemungkinan besar tidak pernah
diselesaikan karena Ibn Bajjah lebih dulu wafat diracun oleh musuh-musuhnya.
Struktur pembahasan buku ini kadang meloncat, beberapa bagian tampak belum
dipoles, dan manuskrip yang sampai kepada kita juga tidak utuh. Karena itu, edisi
modern harus direkonstruksi dari dua manuskrip Arab yang tersisa serta
kutipan-kutipan dalam terjemahan Ibrani Abad Pertengahan. Meski
lahir dari reaksi terhadap kondisi politik yang kacau balau, buku ini bukan
karya filsafat politik, melainkan refleksi eksistensial Ibn Bajjah, bagaimana
tetap menjadi manusia yang utuh ketika dunia di sekeliling kita runtuh. Ada
nada putus asa pada perjuangannya mengubah sistem saat dia mengatakan,
“Pengelolaan yang benar adalah pengelolaan diri seorang individu.” Meski
demikian, konsep al-mutawaḥḥid (penyendiri) yang dia tawarkan bukanlah upaya
mengasingkan diri dari keriuhan, melainkan bagaimana orang dapat menjaga
kemerdekaan akal dan moralnya di tengah masyarakat yang kacau. Penyendiri
adalah seseorang yang tetap tinggal di tengah keramaian tapi tidak membiarkan
keramaian itu mengambil alih isi kepalanya. Jika
masih hidup, Ibn Bajjah mungkin akan heran melihat dunia hari ini. Namun
mungkin pula ia akan segera mengenali segala keriuhan di sekitar kita. Sebab,
kebisingan selalu memiliki watak yang sama. Ia tidak meminta kita untuk
berpikir. Ia hanya meminta kita bereaksi. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/al-mutawahhid-ibn-bajjah-kemerdekaan-2279665 |