|
KETIKA BAYI-BAYI TANPA SUARA MENGUBAH KEBIJAKAN NEGARA -
Inspirasi dari Film The Girl with the Needle, 2024 Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 24 September 2026
|
Pada
Agustus 1920, Karoline Aagesen menyerahkan bayi perempuannya yang baru
berusia dua bulan kepada Dagmar Overby. Namun naluri seorang ibu kadang
mendengar sesuatu yang gagal didengar dunia. Hatinya
berubah. Ia kembali meminta anak itu pulang. Tetapi sebuah pintu telah
tertutup, dan di baliknya, maut sedang menyembunyikan jejaknya. Dagmar
mengelak. Karoline mendesak. Polisi akhirnya datang. Di dalam tungku
ditemukan abu dan serpihan tulang, seperti sisa terakhir kehidupan yang gagal
diselamatkan. Seorang
ibu memang datang terlambat bagi anaknya sendiri. Tetapi kegelisahannya
menjadi lonceng yang membangunkan sebuah negeri dan menyelamatkan bayi-bayi
berikutnya. Kelak
Denmark mengetahui kengerian yang lebih besar. Dagmar dihukum atas pembunuhan
sembilan bayi yang dipercayakan kepadanya sepanjang 1913 sampai 1920. Dalam
pemeriksaan, ia bahkan mengaku membunuh lebih banyak lagi. Namun
sejarah tidak berhenti di ruang pengadilan. Darah yang telah mengering
ternyata masih mempunyai perjalanan panjang, menuju kesadaran publik dan meja
pembuat undang-undang. Muncullah
pertanyaan yang lebih besar: bolehkah negara hanya menghukum pembunuh,
kemudian mencuci tangan dari keadaan sosial yang membuat begitu banyak bayi
mudah menjadi korban? Pertanyaan
itulah yang membuat kisah Dagmar melampaui kriminalitas. Kematian bayi-bayi
tanpa suara itu perlahan berubah menjadi suara yang tidak dapat diabaikan
negara. Kisah
mereka akhirnya sampai ke gedung parlemen. Tiga tahun kemudian, hukum Denmark
berubah. Dari sebuah tungku kematian, lahirlah sebagian arsitektur
perlindungan kehidupan. -000- The
Girl with the Needle terasa seperti mimpi buruk yang menemukan kamera. Magnus
von Horn menyutradarainya dan menulis skenario bersama Line Langebek Knudsen. Film
produksi Denmark, Polandia, dan Swedia tahun 2024 ini dibintangi Vic Carmen
Sonne sebagai Karoline, Trine Dyrholm sebagai Dagmar, dan Besir Zeciri
sebagai Peter. Film
berdurasi 123 menit itu berkompetisi memperebutkan Palme d'Or di Cannes.
Denmark kemudian mengirimkannya ke ajang Oscar, dan film ini masuk nominasi
Best International Feature Film pada Academy Awards 2025. Prestasi
visualnya bahkan lebih istimewa. Sinematografer Michał Dymek memenangkan
Golden Frog di Camerimage, salah satu penghargaan paling bergengsi dunia
untuk sinematografi film panjang. Hitam-putih
di sini bukan sekadar ketiadaan warna. Ia menjadi bahasa penderitaan, seolah
kehidupan telah terlalu lama menangis hingga dunia kehilangan seluruh
warnanya. Copenhagen
tampak seperti kota yang dinding-dindingnya perlahan bergerak mendekati
manusia. Lorong menjadi perangkap, kamar menjadi kurungan, dan jalanan
seperti kehilangan cakrawala. Wajah,
asap, bayangan, dan ruang sempit membuat kemiskinan hampir mempunyai bau.
Kita seperti dapat merasakan dingin yang menempel pada kulit Karoline. Saya
jarang menemukan film yang keindahan visualnya justru membuat penderitaan
semakin mengganggu. Gambarnya indah, tetapi keindahan itu seperti bunga yang
tumbuh di kuburan. Kritikus
di Cannes menyebut film ini dongeng yang puitis dan gelap. Von Horn sendiri
mengatakan ia ingin menjelajahi kemungkinan menjadi manusia baik ketika hidup
menyerupai neraka. -000- Film
ini cukup mencekam. Sepanjang film, saya seolah ikut hidup dalam denyut
sehari-hari para tokohnya. Perlu
dicatat, Karoline dalam film adalah tokoh rekaan. Namanya sama dengan ibu
sungguhan yang membongkar kejahatan Dagmar, tetapi kisah hidupnya diciptakan
untuk layar. Saya
seperti memasuki Copenhagen sesudah Perang Dunia Pertama. Karoline bekerja
sebagai penjahit di sebuah pabrik. Suaminya, Peter, menghilang dalam perang,
tetapi belum secara resmi dinyatakan meninggal. Tanpa
kepastian kematian Peter, Karoline tak memperoleh kompensasi janda. Ia
miskin, kehilangan tempat tinggal, lalu menjalin hubungan dengan Jørgen,
pemilik pabrik tempatnya bekerja. Karoline
hamil. Ia membayangkan perkawinan akan menjadi jembatan menuju keselamatan.
Tetapi ibu Jørgen menolak, dan jembatan itu runtuh sebelum sempat
diseberangi. Kemudian
Peter pulang dengan wajah rusak akibat perang. Lelaki yang dianggap hilang
itu kembali, tetapi kepulangannya justru membuat dunia Karoline semakin
kehilangan bentuk. Putus
asa, Karoline mencoba menggugurkan kandungannya dengan jarum di pemandian
umum. Di sanalah Dagmar datang, menolongnya, kemudian menawarkan jalan keluar
yang tampak manusiawi. Dagmar
menjalankan jasa rahasia untuk mencarikan keluarga asuh bagi bayi-bayi tak
dikehendaki. Karoline melahirkan, menyerahkan bayinya, lalu karena tak mampu
membayar, bekerja sebagai ibu susu bagi Dagmar. Perlahan
neraka memperlihatkan wajahnya. Karoline mengikuti Dagmar dan menyaksikannya
mencekik seorang bayi. Dagmar kemudian mengaku telah membunuh semua bayi yang
diterimanya, termasuk anak Karoline. Yang
lebih gelap, Karoline sendiri ikut terseret. Dalam sebuah pergulatan dengan
Dagmar, seorang bayi mati terbekap di antara mereka. Tangan yang ingin
menyelamatkan pun akhirnya tersentuh kematian. Dagmar
akhirnya tertangkap. Karoline kembali kepada Peter, lelaki berwajah rusak
yang ternyata masih menyimpan kelembutan, lalu mengadopsi Erena, anak yang
hidup bersama Dagmar. Ending
itu tidak menawarkan kebahagiaan sempurna. Film hanya memberikan sesuatu yang
lebih jujur: manusia tidak dapat menghidupkan korban, tetapi masih dapat
menghentikan korban berikutnya. -000- Keistimewaan
pertama film ini terletak pada keberaniannya mempertanyakan siapa sebenarnya
monster. Jawaban yang mula-mula terlihat sederhana perlahan berubah menjadi
teka-teki moral yang mengganggu. Peter
mempunyai wajah menakutkan karena perang, tetapi masih mampu mencintai.
Dagmar berwajah biasa, bahkan keibuan, tetapi tangannya mengantarkan
bayi-bayi menuju kematian. Lalu
muncul monster ketiga, tanpa wajah dan tanpa nama. Ia adalah lingkungan
sosial yang membiarkan perempuan miskin, ibu tunggal, dan bayi rentan jatuh
tanpa jaring. Namun
satu hal harus ditegaskan. Struktur sosial yang buruk dapat menjelaskan
konteks sebuah kejahatan, tetapi tidak pernah menghapus tanggung jawab
pribadi seorang pembunuh. Justru
kekuatan film terletak pada pembedaan itu. Kita dapat menghukum Dagmar
sepenuhnya, sambil bertanya mengapa begitu banyak bayi begitu mudah
diserahkan kepadanya. Keistimewaan
kedua adalah penggambarannya tentang kemiskinan sebagai penyempitan pilihan.
Karoline memang mengambil keputusan buruk, bahkan ikut terseret dalam sebuah
kematian, tetapi hampir setiap jalan di hadapannya telah dipersempit keadaan. Kemiskinan
dalam film ini bukan sekadar dompet kosong. Ia seperti ruangan yang udaranya
menipis setiap hari, sampai pilihan pun ikut habis. Akhirnya
manusia tidak lagi memilih antara baik dan buruk. Ia memilih antara dua luka,
dua kehilangan, dua jalan yang sama-sama meminta sesuatu dikorbankan. Antara
kelaparan dan kehilangan anak. Antara kehormatan dan keselamatan. Pada titik
tertentu, kebebasan hanyalah sebuah pintu yang dilukis indah pada tembok. Di
sini saya merasa film tersebut meninggalkan Denmark tahun 1920. Ia memasuki
zaman kita, mempertanyakan kebebasan yang sering dibicarakan tanpa menghitung
kesempatan nyata manusia. Keistimewaan
ketiga adalah tubuh perempuan sebagai arena kekuasaan sosial. Kehamilan
Karoline menentukan pekerjaan, perkawinan, kelas sosial, reputasi, bahkan
kemungkinan dirinya mempunyai masa depan. Karena
itu, jarum dalam judul film bukan sekadar benda tajam. Ia menjadi metafora
tentang manusia yang dipaksa mencari jalan keluar melalui tubuhnya sendiri. Adegan
itu sulit dilupakan, bukan terutama karena darahnya, melainkan karena
kesepiannya. Tak ada institusi yang hadir ketika seorang perempuan merasa
hanya jarum yang tersedia. Film
akhirnya mengajukan pertanyaan yang jauh melampaui aborsi. Apa jadinya ketika
moralitas menuntut seseorang bertanggung jawab, tetapi masyarakat
meninggalkannya sendirian menanggung seluruh konsekuensinya? -000- Benarkah
kisah nyata di balik film itu ikut memengaruhi kebijakan negara? Di
sinilah sejarah nyata menjadi lebih mencengangkan daripada film. Denmark
sebenarnya telah mengenal pengawasan anak asuh sebelum perkara Dagmar. Aturan
dan perdebatan tentang anak asuh sudah berjalan sejak akhir abad ke-19. Karena
itu, tidak tepat mengatakan perlindungan anak Denmark sepenuhnya bermula dari
Dagmar. Reformasi telah mempunyai sejarah, perdebatan, dan proses kelembagaan
sebelum kejahatannya terbongkar. Gagasan
pembaruan perlindungan anak pun sudah dibahas di lingkungan pemerintahan
sebelum perkara itu meledak. Sejarah hampir tidak pernah mempunyai satu ibu
kandung. Namun
kasus Dagmar menjadi katalisator luar biasa. Undang-undang tentang pengawasan
anak tahun 1923, yang berlaku sejak 1924, lahir sebagai buah dari kasus
tersebut bersama perdebatan publik yang mengikutinya. Perubahan
terpenting menyentuh kelompok yang sangat rentan. Semua anak yang lahir di
luar perkawinan masuk cakupan pengawasan, sebuah sistem yang kemudian
bertahan sampai 1965. Inilah
perubahan paradigma. Negara tidak lagi cukup menunggu kejahatan terjadi.
Negara mulai memasuki wilayah pencegahan, menjaga anak sebelum tragedi
berubah menjadi perkara pidana. Perdebatan
publik juga menyoroti kebutuhan mendesak akan rumah bagi para ibu serta
perlunya tanggung jawab sosial yang lebih besar terhadap ibu tunggal dan
anak-anak mereka. Namun
kebijakan itu mempunyai sisi problematis. Memasukkan seluruh anak di luar
perkawinan dalam pengawasan berpotensi menjadikan semua ibu tunggal sebagai
kelompok yang dicurigai. Di
sinilah keseimbangan diperlukan. Perlindungan anak jangan berubah menjadi
penghukuman ibu. Negara harus mengawasi risiko tanpa merampas martabat
keluarga yang sedang berada dalam kesulitan. Pelajaran
kebijakannya kuat. Hukum terbaik bukan hanya hukum yang datang membawa borgol
setelah kematian, tetapi perlindungan yang tiba sebelum seseorang berubah
menjadi korban. Ada
sesuatu yang sangat menyentuh di sini. Bayi-bayi yang tak pernah belajar
berbicara akhirnya mempunyai suara melalui perubahan sebuah institusi bernama
negara. -000- Refleksi
ini melampaui batas sejarah Denmark. Stigma, kemiskinan ekstrem, dan
ketiadaan jaring pengaman sosial bagi kelompok rentan tetap menjadi ancaman
nyata yang terus membayangi . Dua
buku berikut dapat membantu kita memahami isu ini lebih mendalam. Keduanya
memang tidak membahas Denmark, tetapi memotret dunia sosial yang serupa: kota
Eropa, perempuan miskin, stigma, dan bayi-bayi yang dianggap beban. Buku
pertama: Joshua G. Stuart-Bennett, Motherhood, Respectability and
Baby-Farming in Victorian and Edwardian London, Routledge, 2023. Ia
memberi kunci intelektual untuk memahami dunia sosial yang memungkinkan sosok
seperti Dagmar muncul. Buku
ini menunjukkan baby-farming sebagai pasar tersembunyi yang tumbuh bersama
stigma kehamilan di luar perkawinan dan obsesi masyarakat Victoria terhadap
kehormatan perempuan. Seorang
bayi dapat mengancam reputasi, pekerjaan, perkawinan, bahkan penerimaan
sosial ibunya. Maka muncullah perantara berbayar yang menawarkan pengasuhan
atau pelepasan anak secara tersembunyi. Stuart-Bennett
menolak penjelasan sederhana. Baby-farming bukan semata cerita beberapa
perempuan kejam, melainkan sisi gelap sistem sosial yang secara diam-diam
menghasilkan permintaannya sendiri. Di
situlah buku ini bertemu dengan film. Kejahatan memang mempunyai pelaku,
tetapi beberapa kejahatan juga mempunyai pasar, pelanggan, insentif, stigma,
dan ekosistem sosial. Monster
kadang lahir sebagai individu. Tetapi kadang masyarakat menyediakan kamar
gelap tempat monster tumbuh, sementara orang-orang terhormat memilih tidak
menyalakan lampu. -000- Buku
kedua: Rachel Fuchs, Poor and Pregnant in Paris: Strategies for Survival in
the Nineteenth Century, Rutgers University Press, 1992. Fuchs
memperluas persoalan dari kriminalitas menuju sejarah kemiskinan perempuan. Melalui
kesaksian pengadilan dan sejarah sosial, Fuchs menelusuri bagaimana perempuan
miskin Paris menghadapi pekerjaan rapuh, kehamilan, persalinan, bantuan amal,
aborsi, bahkan pembunuhan bayi. Yang
terpenting, buku ini memperlihatkan hubungan pengalaman perempuan biasa
dengan pertumbuhan negara kesejahteraan. Kebijakan sosial ternyata lahir pula
dari tubuh-tubuh yang pernah ditinggalkan. Membaca
Fuchs setelah menonton kisah Karoline menghasilkan pemahaman berbeda.
Kemiskinan bukan hanya kekurangan uang, tetapi dapat menjadi kekurangan
pilihan, perlindungan, bahkan masa depan yang terbayangkan. Namun
ada bahaya intelektual yang harus dihindari. Memahami tekanan sosial bukan
berarti menganggap orang miskin kehilangan agensi, apalagi menjadikan
kemiskinan sebagai pembenaran kekerasan. Justru
teori sosial berguna ketika membantu kita memisahkan dua pertanyaan: siapa
bertanggung jawab atas kejahatan, dan kondisi apa yang membuat kejahatan
lebih mungkin terjadi. Dua
pertanyaan itu tidak saling meniadakan. Yang pertama menjaga tanggung jawab
moral. Yang kedua menjaga masyarakat agar tidak terus memproduksi panggung
bagi tragedi berikutnya. -000- Seusai
menonton film ini, saya tidak segera memikirkan Dagmar. Yang menetap justru
Peter, Karoline, bayi-bayi itu, serta jarak mengerikan antara hukum dan
manusia rentan. Ada
film yang selesai ketika layar menjadi gelap. Ada pula film yang justru
dimulai sesudah layar gelap, ketika pertanyaannya mengikuti kita pulang. The
Girl with the Needle termasuk yang kedua. Jarumnya seperti tertinggal dalam
pikiran, menusuk satu pertanyaan yang semakin lama justru semakin sulit
dihindari. Berapa
banyak tragedi kita sebut kesalahan individual, padahal sebelum darah tumpah,
tanda-tanda kegagalan sistem sebenarnya sudah lama berdiri di hadapan kita? Kita
memang membutuhkan hukum yang menghukum pembunuh. Tanpa pertanggungjawaban
pribadi, belas kasih dapat berubah menjadi relativisme moral yang akhirnya
tidak sungguh-sungguh melindungi siapa pun. Tetapi
peradaban menuntut langkah kedua. Setelah menghukum pelaku, negara harus
bercermin: adakah kelalaian, stigma, kemiskinan, atau kekosongan perlindungan
yang ikut membuka jalan? Di
titik itulah sebuah tragedi dapat mempunyai dua kehidupan. Kehidupan pertama
berakhir di kuburan. Kehidupan kedua dimulai ketika masyarakat memutuskan
belajar darinya. -000- Itulah
warisan terbesar kisah Dagmar Overby. Tragedi tidak boleh hanya menghasilkan
kemarahan. Tragedi harus menghasilkan pembelajaran, lalu pembelajaran
menjelma menjadi institusi yang lebih manusiawi. Kebijakan
publik memperoleh martabat tertingginya ketika mampu mendengar mereka yang
tidak mempunyai kekuasaan, terutama anak-anak yang paling lemah di antara
kita. Mungkin
itulah paradoks paling memilukan dari kisah ini. Bayi-bayi itu harus
kehilangan kehidupan terlebih dahulu sebelum sebuah negara belajar melindungi
kehidupan dengan lebih baik. Mereka
tidak pernah berpidato. Tidak menulis petisi. Tidak berunjuk rasa. Bahkan
tidak sempat mengucapkan nama sendiri. Tetapi kematian mereka mengguncang
kesadaran sebuah negeri. Kisah
ini akhirnya bukan cerita tentang bagaimana seorang pembunuh mengubah negara.
Ini cerita tentang bagaimana korban-korban yang tak bersuara memaksa negara
belajar mendengar. Sebab
ukuran peradaban bukan seberapa keras negara menghukum setelah seorang bayi
mati, melainkan seberapa jauh negara bekerja agar bayi berikutnya tetap
hidup. ● REFERENSI Joshua
G. Stuart-Bennett, Motherhood, Respectability and Baby-Farming in Victorian
and Edwardian London. Routledge, 2023. Rachel
Fuchs, Poor and Pregnant in Paris: Strategies for Survival in the Nineteenth
Century. Rutgers University Press, 1992. Cecilie
Bjerre, “Making Policies: The History of the Danish Child Welfare System at
the Local Level”. Journal of Policy History, Vol. 34, No. 4, Cambridge
University Press, 2022. Los
Angeles Times, “Why Magnus von Horn avoided making ‘The Girl With the Needle’
seem too realistic”. 8 Januari 2025. |