Minggu, 09 Agustus 2026

 

DARI SATUPENA YANG PECAH MENUJU DANA ABADI BAGI PENULIS

- Slides Pertanggungjawaban Ketua Umum SATUPENA 2021–2026, Menyambut Kongres Satupena 2026

Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI)

FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 08 Agustus 2026

 

                                                

 

Ada organisasi yang selesai ketika pemimpinnya pergi. Ada pula organisasi yang justru semakin kokoh setelah nama para pendirinya hanya tersimpan dalam sejarah.

 

Perbedaannya terletak pada kemampuan mengubah energi pribadi menjadi kekuatan institusi, konflik menjadi kepercayaan, kegiatan menjadi tradisi, dan kemurahan hati menjadi sistem berkelanjutan.

 

Ketika menerima amanah memimpin SATUPENA pada 2021, saya tidak pernah membayangkan perjalanan lima tahun itu akhirnya membawa saya kepada sebuah pertanyaan sederhana.

 

Bagaimana membuat SATUPENA tetap hidup seratus tahun dari sekarang, ketika kita semua yang hari ini berkumpul bahkan sudah lama meninggalkan dunia ini?

 

Pertanyaan itu semakin penting menjelang berakhirnya masa kepemimpinan, karena keberhasilan pemimpin sesungguhnya baru terlihat ketika ia tidak lagi memegang kekuasaan organisasi.

 

Apa yang masih bekerja setelah dirinya pergi? Apa yang tetap tumbuh ketika tangan yang dahulu menanamnya tidak lagi berada di sana?

 

-000-

 

Dari Slide 1: Rumah Tanpa Dinding

 

Setelah konsolidasi organisasi, muncul pertanyaan yang lebih besar: untuk apa sesungguhnya organisasi penulis masih diperlukan ketika teknologi telah menghapus banyak batas geografis?

 

Dahulu organisasi mudah dibayangkan sebagai kantor, sekretariat, ruang rapat, lemari arsip, dan papan nama yang menunjukkan bahwa sebuah institusi berada di sana.

 

Teknologi mengubah pengertian itu. Orang tidak lagi harus berada di ruangan yang sama untuk merasa hidup dalam sebuah komunitas pengetahuan bersama.

 

Pada banyak malam, saya melihat puluhan wajah muncul di layar dari berbagai wilayah Indonesia, membawa pengalaman berbeda tetapi kegelisahan intelektual yang sama.

 

Mereka terpisah ribuan kilometer, namun selama beberapa jam berada di ruang yang sama, memperdebatkan buku, membaca puisi, dan saling memperkaya pemikiran.

 

Tidak ada tiket pesawat, hotel, atau perjalanan panjang. Yang berpindah hanyalah suara, wajah, pengalaman, pengetahuan, dan kehangatan persahabatan antarmanusia.

 

Slide pertama menyebut gagasan itu “Rumah Tanpa Dinding”, sebuah rumah yang hidup karena percakapan mampu menyatukan penulis dari berbagai daerah Indonesia.

 

Saya semakin percaya bahwa rumah sebuah organisasi penulis sesungguhnya bukan alamat sekretariatnya, melainkan percakapan yang terus hidup di antara para anggotanya.

 

Selama gagasan masih dipertukarkan, karya masih diciptakan, dan manusia masih bersedia mendengarkan manusia lain, rumah itu tidak pernah benar-benar kosong.

 

-000-

 

Dari Slide 2: Dua Menjadi Satu

 

Saya memasuki SATUPENA bukan ketika rumah ini sedang tenang. Saya datang ketika satu nama organisasi hidup di dalam dua kepengurusan berbeda.

 

SATUPENA sedang terbelah. Satu nama, satu akta notaris, tetapi dua kepengurusan yang sama-sama merasa paling sah.

 

Masing-masing membawa sejarah, legitimasi, pengalaman, luka, dan keyakinan sendiri mengenai jalan terbaik untuk menjaga rumah bersama para penulis Indonesia ini.

 

Slide kedua menggambarkan perjalanan itu melalui dua jalan berbeda, SATUPENA A dan SATUPENA B, yang pada akhirnya menemukan penyelesaiannya masing-masing.

 

Kerja pertama saya selaku Ketua Umum adalah memastikan SATUPENA yang saya pimpin menjadi satu-satunya SATUPENA yang sah secara hukum. Kepengurusan di seberang akhirnya memilih tumbuh dengan nama organisasi yang berbeda.

 

Bagi saya, gambar itu bukan hanya metafora visual. Ia menyimpan pengalaman emosional tentang betapa rumitnya memulihkan kepercayaan setelah perpecahan berlangsung lama.

 

Saya belajar bahwa konflik organisasi sering bukan muncul karena orang berhenti mencintai organisasi, tetapi karena masing-masing merasa paling memahami cara mencintainya.

 

Di dalam konflik ada harga diri, kenangan, persahabatan lama, kekecewaan, dan keyakinan bahwa jalan yang ditempuh sendiri merupakan jalan paling benar.

 

Karena itu, menyatukan organisasi tidak cukup hanya dengan memenangkan argumentasi. Kita juga harus menyediakan ruang agar setiap pihak merasa didengar dan dihormati.

 

Ada waktunya berbicara, ada waktunya diam, dan ada waktunya merasa benar tetapi tetap memberi ruang kepada orang lain menjelaskan kebenarannya sendiri.

 

Empat kata kemudian menjadi kompas perjalanan itu: dialog, saling hormat, konsolidasi, dan satu tujuan menuju masa depan literasi Indonesia yang lebih besar. Yang tidak dapat bersatu, kami lepas dengan ikhlas untuk menempuh jalannya sendiri.

 

Pada akhirnya SATUPENA kembali mempunyai satu arah. Saya tidak ingin menyebutnya kemenangan satu kubu atas kubu lain yang pernah berseberangan.

 

Saya lebih memilih melihatnya sebagai kemenangan sebuah rumah atas perpecahan penghuninya, karena organisasi kebudayaan tidak pernah dibangun untuk memenangkan konflik internal.

 

Organisasi kebudayaan dibangun agar energi terbaik manusia dapat dialihkan dari pertengkaran mengenai masa lalu menuju penciptaan sesuatu yang berarti bagi masa depan.

 

-000-

 

Dari Slide 3: Gerakan Setiap Pekan

 

Sebuah organisasi tentu tidak cukup hanya berhasil bersatu. Ia harus memiliki denyut kehidupan yang dapat dirasakan oleh anggota dan masyarakat sekitarnya.

 

Karena itu, kami berusaha membuat SATUPENA hadir bukan hanya ketika kongres datang, tetapi hampir setiap pekan melalui berbagai ruang percakapan intelektual.

 

Hasil perjalanan itu diringkas melalui tiga angka besar dalam slide pertanggungjawaban: 226 forum diskusi yang digelar hampir setiap pekan dan melintasi banyak provinsi, 223 video literasi tentang kehidupan penulis, serta 16 buku bersama yang ditulis beramai-ramai mengenai isu yang sedang menggugah publik luas.

 

Angka-angka memang penting untuk akuntabilitas. Namun di balik setiap angka terdapat manusia, percakapan, keberanian, kegelisahan, persahabatan, dan kemungkinan perubahan yang sulit diukur.

 

Di balik sebuah forum mungkin ada penulis muda yang pertama kali berbicara, lalu pulang membawa keberanian menulis sesuatu yang selama ini dipendamnya.

 

Di balik sebuah video mungkin ada mahasiswa di kota kecil yang menontonnya bertahun-tahun kemudian, lalu memperoleh gagasan yang mengubah arah hidupnya.

 

Di balik sebuah buku bersama terdapat penulis-penulis yang sebelumnya tidak saling mengenal, tetapi kemudian dipertemukan oleh kegelisahan yang sama terhadap zamannya.

 

Itulah keanehan sekaligus keindahan kerja kebudayaan. Dampaknya tidak selalu datang ketika acara selesai, tetapi sering tumbuh diam-diam bertahun-tahun kemudian.

 

Sebuah gagasan dapat tertidur lama di dalam buku atau video, kemudian tiba-tiba hidup kembali ketika ditemukan seseorang yang sedang membutuhkannya.

 

Karena itu dokumentasi bukan semata pekerjaan administratif. Ia merupakan cara sebuah generasi menyimpan ingatan dan mengirimkan percakapannya menuju masa depan.

 

-000-

 

Dari Slide 4: Hidupkan SATUPENA Daerah

 

Sejak awal saya mempunyai satu keyakinan: SATUPENA tidak boleh menjadi organisasi nasional yang secara nyata hanya berdenyut di Jakarta dan sekitarnya.

 

Indonesia terlalu besar, terlalu beragam, dan terlalu kaya pengalaman untuk membiarkan kreativitas kebudayaan hanya tumbuh dari satu pusat kekuasaan saja.

 

Gagasan tidak mempunyai ibu kota. Ia dapat lahir dari warung kopi Padang, kampus Makassar, komunitas Aceh, atau percakapan sederhana di Papua.

 

Karena itulah SATUPENA daerah perlu memperoleh ruang seluas-luasnya untuk tumbuh berdasarkan karakter, kebutuhan, kreativitas, dan kekuatan kebudayaan wilayah masing-masing.

 

Slide keempat menggambarkan jaringan itu dari Aceh sampai Papua, dengan Sumatera Barat menonjol melalui International Minangkabau Literacy Festival yang memasuki penyelenggaraan keempat.

 

Saya melihat perkembangan semacam itu sebagai tanda kesehatan organisasi, sebab pusat tidak seharusnya menjadi matahari tunggal bagi seluruh kegiatan anggotanya.

 

Pusat justru harus membantu lahirnya banyak matahari kecil, banyak pusat kreativitas, yang dapat menerangi daerahnya sendiri sambil tetap terhubung satu sama lain.

 

Organisasi besar bukan organisasi yang membuat semua orang bergantung kepada pusat, tetapi organisasi yang berhasil membuat banyak bagian mampu tumbuh secara mandiri.

 

Seperti orang tua yang baik, keberhasilan tertingginya justru tercapai ketika anak-anaknya dapat berjalan sendiri, bahkan suatu hari melampaui pencapaian generasi sebelumnya.

 

-000-

 

Dari Slide 5: Manusia di Era AI

 

Namun ketika organisasi bertumbuh, dunia bergerak lebih cepat. Kecerdasan buatan mulai memasuki wilayah yang selama berabad-abad dianggap sangat khas manusia: menulis.

 

AI sekarang dapat menerjemahkan, merangkum, melakukan riset, membuat gambar, mengolah data, bahkan menyusun draf tulisan dalam waktu yang hampir tidak terbayangkan sebelumnya.

 

Bagi organisasi penulis, perubahan ini bukan perkara teknis kecil. Ia menyentuh langsung pertanyaan mengenai identitas, kreativitas, otentisitas, bahkan makna menjadi seorang penulis.

 

Jika mesin sudah mampu menghasilkan kalimat yang indah, pertanyaannya kemudian menjadi semakin mendasar: apakah yang masih membuat tulisan manusia berbeda dari tulisan mesin?

 

Slide kelima mempertemukan manusia dan AI, dengan empat kata sebagai jembatan keduanya: kreativitas, nilai, makna, dan tujuan.

 

Pesan yang ingin disampaikan sederhana: teknologi mungkin semakin pandai menulis, tetapi manusialah yang harus tetap menentukan untuk apa tulisan itu dilahirkan.

 

Saya tidak melihat AI sebagai musuh penulis. Saya justru melihatnya sebagai salah satu alat paling kuat yang pernah diberikan sejarah kepada manusia.

 

AI mempunyai kecepatan, daya analisis, dan kemampuan mengolah informasi dalam skala yang mungkin tidak pernah sanggup dicapai seorang manusia sendirian.

 

Namun manusia mempunyai pengalaman yang berbeda. Kita mencintai, kehilangan, kecewa, memaafkan, menyesal, berharap, dan terkadang menangis tanpa mampu menjelaskan alasannya.

 

Dari pengalaman seperti itulah lahir kedalaman yang membuat kata-kata bukan hanya tersusun dengan benar, tetapi terasa bermakna bagi manusia lain.

 

Karena itu masa depan penulis bukan melawan AI, melainkan menggunakan kecerdasan mesin sambil menjaga empati, imajinasi, nurani, dan tanggung jawab moral manusia.

 

-000-

 

Dari Slide 6: Memberi untuk Literasi

 

Kemudian sampailah kita kepada pertanyaan yang harus berani dijawab setiap organisasi sehat: berapa biaya seluruh program tersebut, dan dari mana dananya berasal?

 

Selama periode kepengurusan ini, sekitar Rp4,09 miliar digunakan untuk menjalankan berbagai kegiatan SATUPENA, tanpa menjadikan iuran anggota sebagai sumber pembiayaan organisasi.

 

Saya menilai belum tercipta ekosistem yang cukup sehat dan mandiri bagi penulis Indonesia untuk diwajibkan membayar iuran organisasi. Namun organisasi penulis yang ingin merdeka juga sebaiknya tidak meminta dana kepada pemerintah atau konglomerat, karena di sana hampir selalu ada kepentingan yang menyertainya.

 

Pembiayaan tersebut berasal dari donasi pribadi saya selaku Ketua Umum, dan digunakan untuk mendukung forum, video, buku, penghargaan penulis, serta berbagai kegiatan literasi lainnya.

 

Mengapa saya memilih jalan itu? Jawabannya berhubungan dengan satu prinsip hidup sederhana yang semakin saya yakini ketika usia terus bertambah.

 

Saya menyebut prinsip itu The Power of Giving, keyakinan bahwa hidup bukan hanya tentang apa yang berhasil kita kumpulkan, tetapi apa yang kita bagikan.

 

Kita memang hidup dari apa yang kita ambil dari dunia, tetapi sering kali kebahagiaan terdalam justru datang dari apa yang kita berikan kembali.

 

Uang pada akhirnya hanyalah alat. Nilainya menjadi lebih dalam ketika ia berubah menjadi kesempatan, pengetahuan, karya, penghargaan, dan ruang pertumbuhan bagi orang lain.

 

Sebuah angka dalam rekening dapat memberikan rasa aman, tetapi angka yang berubah menjadi buku atau kesempatan belajar dapat memperoleh kehidupan yang jauh lebih panjang.

 

Jika sebagian rezeki yang saya peroleh dapat membantu gagasan lahir, penulis bertumbuh, dan percakapan intelektual berlangsung, saya tidak menganggapnya sebagai kehilangan.

 

Justru dari memberi itu saya sering merasakan sesuatu yang lebih sulit dibeli dengan uang sebanyak apa pun: rasa bahwa kehidupan mempunyai makna.

 

Namun pertanggungjawaban yang jujur harus mengakui paradoksnya: keberhasilan pembiayaan dari satu penyokong sekaligus menciptakan pertanyaan serius mengenai kemandirian organisasi pada masa depan.

 

Ketergantungan kepada satu penyokong, siapa pun orangnya dan sebesar apa pun kemurahan hatinya, tidak boleh menjadi fondasi permanen bagi organisasi berumur panjang.

 

Hari ini penyokong itu mungkin mampu memberi. Besok keadaan berubah, kepemimpinan berganti, dan generasi berikutnya menghadapi kondisi yang sama sekali berbeda.

 

Karena itu keberhasilan lima tahun terakhir melahirkan pekerjaan rumah baru: mengubah kemurahan hati pribadi menjadi kekuatan institusional yang tidak bergantung kepada individu.

 

Kejujuran menuntut pengakuan lain. Kaderisasi kepemimpinan belum berjalan sistematis, sebagian SATUPENA daerah masih bergantung pada satu dua penggerak, jangkauan pembaca kita belum jauh melampaui lingkaran sendiri, dan kita belum melahirkan sikap organisasi yang tegas mengenai hak cipta penulis di hadapan kecerdasan buatan. Semua itu tetap menjadi utang bersama.

 

Power of Giving yang menghidupkan kegiatan harus perlahan diterjemahkan menjadi Power of Institution, sehingga kebaikan personal akhirnya menjelma menjadi kemandirian organisasi.

 

-000-

 

Dari Slide 7: SATUPENA Hidup 100 Tahun

 

Di titik inilah gagasan dana abadi memperoleh makna. Ia bukan sekadar instrumen keuangan, tetapi ikhtiar memerdekakan organisasi dari ketergantungan kepada individu.

 

Slide terakhir menggambarkan buku terbuka yang menumbuhkan pohon raksasa, dengan akar kuat dan cabang menaungi para penulis dari generasi berikutnya.

 

Di sekeliling pohon itu terdapat lima gagasan: warisan keilmuan, dana abadi, generasi penerus, keberagaman, dan jejak dunia sebagai horizon SATUPENA.

 

Dana abadi tidak dibutuhkan agar SATUPENA menjadi organisasi kaya. Justru ia diperlukan agar SATUPENA tidak pernah bergantung kepada orang kaya tertentu.

 

Pokok dana dapat dijaga, sementara hasil pengembangannya digunakan secara transparan dan profesional untuk program, pengembangan penulis, serta kehidupan organisasi jangka panjang.

 

Secara teknis, gagasan itu perlu bentuk: pokok dana yang tidak boleh disentuh, maksimal empat persen hasil pengembangan yang dipakai setiap tahun, dewan wali independen di luar pengurus harian, audit publik tahunan, serta sumber majemuk dari royalti kolektif penulis, penerbitan bersama, filantropi kebudayaan, dan iuran sukarela publik pembaca. Dengan cara itu kemandirian tidak hanya dicita-citakan, tetapi dirancang.

 

Membangunnya mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun. Tetapi pekerjaan paling penting dalam sejarah sering memang tidak selesai pada masa hidup orang yang memulainya.

 

Kita menanam pohon bukan selalu agar kita sendiri duduk di bawah keteduhannya. Kadang pohon itu sengaja ditanam untuk orang yang belum lahir.

 

Itulah mungkin pengertian terdalam mengenai institusi: membangun sesuatu yang manfaatnya kelak dinikmati manusia yang namanya bahkan belum pernah kita dengar.

 

-000-

 

Tahun 2126

 

Mari membayangkan satu abad dari sekarang. Tahun 2126, ketika hampir semua nama yang hari ini memenuhi ruang Kongres hanya tersimpan dalam arsip sejarah.

 

Foto-foto kita mungkin telah menguning secara digital, perdebatan hari ini menjadi catatan kaki, dan jabatan yang sekarang terasa penting tidak lagi berarti banyak.

 

Namun di sebuah kota kecil, mungkin seorang penulis muda membuka laptop dan bergabung dengan diskusi SATUPENA bersama penulis dari berbagai penjuru Indonesia.

 

Seorang penyair Papua berdialog dengan novelis Sumatra. Penulis muda memperoleh bantuan menerbitkan buku pertama, sementara karya Indonesia diterjemahkan untuk pembaca dunia.

 

Dana abadi membiayai sebagian kegiatan itu, tanpa generasi tersebut mengetahui siapa Ketua Umum SATUPENA seratus tahun sebelumnya atau siapa penyumbang pertamanya.

 

Jika keadaan seperti itu benar-benar terjadi, saya justru akan menganggapnya sebagai salah satu bentuk keberhasilan paling indah yang dapat dibayangkan.

 

Sebab tujuan membangun institusi bukan membuat nama pendirinya dikenang selamanya, melainkan membuat nilai yang diperjuangkannya tetap bekerja setelah dirinya dilupakan.

 

Kepemimpinan selalu sementara. Jabatan mempunyai tanggal mulai dan berakhir, sedangkan gagasan dapat memiliki umur jauh lebih panjang daripada manusia yang pertama menyuarakannya.

 

-000-

 

Rumah yang Kita Titipkan

 

Jika perjalanan SATUPENA 2021–2026 diringkas, kisahnya dimulai dari sebuah rumah yang terbelah, lalu perlahan menemukan kembali satu arah perjalanan bersama.

 

Setelah bersatu, rumah itu dibuat hidup hampir setiap pekan melalui forum, video, buku, jaringan daerah, dan percakapan yang melintasi batas geografis.

 

Kemudian datang revolusi AI yang mengingatkan kita bahwa teknologi boleh berubah, tetapi empati, nurani, kreativitas, dan kebijaksanaan manusia harus tetap menjadi pusat.

 

Selama lima tahun, semangat memberi membantu membiayai perjalanan itu. Tetapi generasi berikutnya membutuhkan fondasi yang tidak bergantung kepada kemurahan hati seorang individu.

 

Karena itu perjalanan selanjutnya harus bergerak menuju dana abadi, agar SATUPENA mempunyai akar ekonomi yang mampu menopang kebebasan dan kreativitas organisasi.

 

Pada akhirnya SATUPENA bukan milik Ketua Umum, bukan milik pengurus, bahkan bukan hanya milik anggota yang hidup dan berkarya pada hari ini.

 

SATUPENA juga milik generasi penulis yang belum lahir, yang suatu hari akan menerima rumah ini tanpa pernah mengenal siapa yang dahulu membangunnya.

 

Mungkin warisan terbaik bukan gedung dengan nama kita terukir, melainkan pohon yang terus tumbuh ketika orang yang dahulu menanamnya sudah lama pergi.

 

Pohon itu berakar pada gagasan, disirami kemurahan hati, dijaga tata kelola, dan menaungi manusia yang kelak datang membawa kata-kata baru untuk zamannya.

 

Pemimpin boleh berganti dan generasi boleh berlalu, tetapi rumah gagasan harus terus menyala, seratus tahun dari sekarang, bahkan jauh melampaui itu.

 

Sumber :     https://www.facebook.com/share/p/1JPAtfjAP8/