|
Dear Cinta Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 16 Agustus 2026
Saya lebih suka
judul film laris itu dibuat agak mirip dengan judul aslinya: Dear Ah Ma. Bukan
Dear You. Terlalu jauh dengan judul asli: Gei Ah Ma de Qing Shu (Surat Cinta
untuk Nenek).
Dear You adalah
film kedua yang saya tonton tahun ini: karena diundang untuk menontonnya.
Bersama para pengusaha besar dan Konsul Jenderal Tiongkok di Surabaya: Ye Su.
Film itu memang
sangat menyentuh, khususnya bagi keturunan para perantau. Anda sudah tahu: film
pertama yang saya tonton tahun ini juga karena kebetulan.
Saat itu saya
sedang dalam penerbangan lintas benua. Untuk mengatur agar tidak jetlag saya
tidak boleh tertidur. Bacaan sudah habis. Menulis artikel sudah selesai.
Kebetulan ada pilihan film ringan yang sudah lama ingin saya tonton: Michael!
Tentang Michael Jackson.
Sambil nonton
Dear You saya terus bertanya-tanya: mengapa untuk pasar internasional film ini
diberi judul Dear You. Di Tiongkok memang sudah biasa: nama asing untuk sebuah
merek tidak harus terjemahan dari bahasa asli. Mercy, misalnya, di Tiongkok
disebut Benze. Toyota disebut Fengtian. Starbucks dibuat agak mirip dengan
artinya: Xing Pa Ke.
Mungkin judul
Dear You dimaksudkan untuk mendapatkan makna yang lebih luas tapi tetap
''menyasar'' ke hati: you! Pemakaian kata ''dear' juga begitu. Kata 'dear'
sering dipakai sebagai pembuka sebuah surat di masa lalu.
Film Dear You
memang bicara tentang surat-surat dari perantauan di zaman jauh belum ada WA.
Tahun 1940-an. Surat-surat cinta itu banyak yang tidak sampai ke alamat.
Para perantau
di zaman itu juga banyak yang tidak bisa baca tulis. Tapi cinta sejati bisa
mencari jalan keluar yang unik. Ada perusahaan jasa membacakan surat. Termasuk
jasa menuliskan surat. Sekaligus mengirimkannya. Di masa lalu cinta terlihat
lebih suci: begitu sulit menyatakan cinta tapi tetap bisa melakukannya.
Kisah Dear You
dimulai ketika seorang gadis cantik di desa Shantou –bernama Ye Shurao–
dijodohkan oleh orang tuanyi. Tapi bukan calon suami itu yang dia cintai.
Akhirnya dia kawin lari dengan pemuda idamannyi sendiri: Zheng Musheng.
Suami istri itu
pun hidup bahagia. Punya anak tiga.
Sampai bencana
tiba: perang candu. Kerajaan mewajibkan semua anak muda ke medan perang. Nama
Musheng termasuk dalam daftar. Sang istri setuju suaminyi menghilang: merantau
ke Nan Yang. Daripada ikut perang dengan risiko tewas di medan perang.
Berlayar ke Nan
Yang memang amat populer zaman itu. Nan Yang adalah sebutan untuk wilayah yang
sekarang disebut Asia Tenggara. Belum ada Malaysia, Singapura mau pun Indonesia
saat itu. Semuanya disebut Nan Yang (laut selatan).
Dari pelabuhan
Shantou, Musheng berlayar meninggalkan istri tercinta dan tiga anak kecilnya.
Setelah sebulan di laut Musheng mendarat di tanah Melayu. Lalu pindah ke utara:
ke Bangkok. Di Bangkok lebih banyak perantau sekampung: sama-sama bersuku
Zhaozhou (Tiuchu). Di Bangkok Musheng bisa serasa di kampung sendiri. Di
Bangkok juga lebih banyak perantau dari suku Hakka, tetangga Zhaozhou.
Di Tiongkok
suku Zhaozhou tinggal di tiga kabupaten paling utara provinsi Guangdong. Lebih
dekat ke Xiamen daripada ke ibu kota provinsnya sendiri: Guangzhou.
Maka dialog di
film Dear You sendiri pakai bahasa Zhaozhou. Bukan Mandarin. Penonton terbantu
oleh teks bahasa Inggris dan Indonesia.
Selesai
menonton saya hampiri seorang wanita kaya asal Singkawang. Dia bersuku
Zhaozhou: separo Tionghoa Singkawang memang suku Zhaozhou. Separonya lagi suku
Hakka.
Wanita itu
istri seorang pengusaha terkaya Surabaya meski sang pengusaha selalu tampil
seperti orang kebanyakan. Perusahaan kopinya terbesar di Indonesia. Punya
pabrik kopi di beberapa negara.
"Apakah
Anda mengerti sepenuhnya dialog di film tadi?" tanya saya.
"Mengerti
separo," katanyi.
"Kan Anda
orang Zhaozhou....".
"Iya, tapi
itu bahasa asli di sana," jawabnyi.
Lalu saya
menoleh ke suaminyi. Ia suku Fujian dari nenek moyang di Quangzhou.
"Anda
mengerti berapa persen?"
"Hanya
mengerti satu dua kata," jawabnya.
"Anda tadi
menangis?" tanya saya lagi.
"Tidak,"
jawabnyi.
"Saya
menangis...." kata saya.
Memang, dua
kali saya berlinang air mata.
Cinta Musheng
ke Ye Shurao sangat murni. Biar pun di rantau masih tetap miskin ia tetap kirim
surat sebulan sekali. Di surat itu disertakan uang 20 dolar Hongkong. Sang
istri juga selalu kirim surat balasan ke suami: mengabarkan keadaan dan
perkembangan tiga anak mereka.
Di rantau
Musheng kos satu kamar berdesakan empat orang. Juragan kos-kosan yang selalu
mabuk itu punya anak gadis nan jelita. Namanyi: Xie Nanzhi. Gadis anak juragan
itu juga buta huruf. Si gadis sangat terkesan dengan Musheng yang baik hati dan
pekerja keras. Apalagi ketika rumah kos-kosan itu terbakar. Sang juragan sedang
mabuk. Tidak sadar kalau rumahnya sedang dilalap api. Anak gadisnya, Nanzhi,
sampai harus menggendong sang ayah, tapi selalu jatuh tersungkur di tengah
nyala api yang berkobar.
Musheng masuk
rumah menerobos api. Maunya menyelamatkan uang simpanan yang akan dikirim ke
istri di kampung halaman. Tapi ia melihat si gadis kesulitan menyelamatkan ayahnyi.
Ia gendong juragannya menerobos api. Selamat. Lalu ia bergegas balik menembus
api: ingin selamatkan uangnya. Terlambat. Uang sudah terbakar.
Musheng pun
mencari siapa yang membakar rumah itu: ketemu! Yakni investor yang pernah
datang untuk membeli rumah kos-kosan itu. Harga tidak cocok. Ia akan
menjadikannya real estate. Musheng pun menghajar investor itu. Babak belur.
Musheng ditangkap polisi. Dimasukkan penjara.
Saat Musheng di
penjara si gadis sudah mulai bisa membaca. Nanzhi diam-diam mengintip pelajaran
membaca untuk anak-anak perantau di salah satu kamar kamar kos.
Setiap kali ada
surat dari istri Musheng dia antarkan surat itu ke penjara. Sambil bawa makanan
untuk Musheng yang telah berjasa menyelamatkan ayahnyi. Musheng minta si gadis
membacakan isi surat istrinya. Dari surat menyurat itu si gadis pun tahu betapa
murni cinta mereka.
Selama Musheng
di penjara tentu tidak punya penghasilan. Musheng juga tidak mau istrinya tahu
kalau suaminyi sedang kena musibah. Sang istri sendiri yakin suaminyi baik-baik
saja di rantau. Buktinya tiap bulan masih kirim surat dan masih kirim uang
dengan jumlah yang sama.
Sang istri
tidak tahu kalau yang selalu kirim surat dan uang itu sebenarnya si gadis
Nanzhi.
Sekeluar dari
penjara Musheng dapat pekerjaan sebagai penarik becak. Becak gaya Thailand.
Lama-lama hasilnya bisa untuk menyewa kapal kayu. Musheng pun punya kapal
kecil. Ia mulai jadi pengusaha angkutan sungai.
Si gadis tahu
Musheng sudah punya penghasilan. Sudah bisa kirim uang sendiri. Dia tidak perlu
lagi menulis 'surat palsu' ke istri Musheng.
Musibah lagi.
Di dermaga kapal itu ada perampokan. Di kegelapan malam Musheng membantu
menangkap orang yang merampok perahu di sebelah perahunya. Musheng kalah.
Tewas. Dibuang ke laut.
Si gadis anak
juragan amat sedih kehilangan orang yang amat dia sayangi. Dia sampai bikin
papan arwah (神主牌) Musheng.
Papan arwah itu ditaruh di kelenteng. Si gadis sembahyangi terus papan arwah
itu secara rutin.
Bertahun-tahun
pula gadis Nanzhi selalu kirim surat ke istri Musheng seolah sang suami
baik-baik saja. Nanzhi juga terus kirim uang seakan-akan dari suami.
Ketika usia
gadis Nanzhi kian tua dia berada di satu dilema besar: apakah akan tetap terus
menulis surat ke istri Musheng –seolah Musheng masih hidup. Atau mulai berterus
terang bahwa Musheng sudah lama meninggal dunia.
Dia putuskan:
tidak. Dia tidak sampai hati membayangkan betapa sedih istri Musheng. Maka, si
gadis tiap bulan tetap kirim uang ke istri Musheng. Disertai surat cinta
seperti biasanya. Sang istri juga selalu membalas surat itu.
Pernah uang
kiriman itu dipakai sang istri ke kota: untuk berfoto keluarga. Sang istri
ingin suaminyi tahu bahwa dia masih tetap cantik dan anak-anak mereka sudah
mulai sekolah.
Si gadis sangat
sedih setiap kali membaca surat balasan istri Musheng. Melihat foto anak-anak
Musheng, si gadis tidak hanya kirim uang tapi juga kirim sepeda. Betapa senang
mereka menerima kiriman sepeda. Anak-anak itu pun belajar naik sepeda. Pun sang
istri.
Mereka pun
berkesimpulan Musheng baik-baik saja, bahkan penghasilannya mulai besar. Bisa
kirim sepeda.
Akhirnya si
gadis yang mulai berumur memutuskan: saatnya berterus terang bahwa Musheng
sudah lama meninggal dunia. Tapi itu harus dijelaskan dengan surat yang amat
panjang. Dia sertakan pula foto ketika Musheng dan dirinyi berfoto bersama
beberapa anak perantau yang belajar membaca di rumah kos-kosan.
Surat panjang
itu tidak pernah sampai. Tukang pos-nya terpeselet masuk sungai yang airnya
deras. Semua surat hanyut. Yang terselamatkan hanya satu foto tadi.
Foto itulah
yang dikirim ke rumah sang istri. Bencana. Melihat foto itu sang istri mengira
suaminyi kawin lagi di rantau dan sudah punya banyak anak. Habislah hatinyi.
Hancurlah cinta sucinyi. Sangat kecewa.
Apalagi sejak
itu dia tidak pernah menerima surat lagi dari sang suami. Si gadis memang tidak
merasa perlu menulis surat lagi karena di surat terakhir sudah diberitahukan
bahwa Musheng sudah meninggal.
Sang istri
menderita batin sampai tua. Sampai sudah punya cucu. Zaman juga sudah berubah.
Apalagi di Tiongkok. HP sudah jadi barang biasa.
Maka cucu yang
di Shantou ingin mencari kakek mereka ke Bangkok. Dengan hati marah. Sang cucu
ke Bangkok dengan niat merebut harta waris.
Berdasar alamat
di surat-surat masa lalu ditemukanlah "istri" kakeknya. Punya rumah
bagus. Sang cucu mendamprat habis wanita itu sebagai tidak berhak atas harta
waris kakeknya. Istri yang sah, yang berhak atas warisan, adalah ibunya yang di
Shantou.
Akhirnya si
cucu tahu bahwa kakek mereka tidak pernah kawin di rantau. Tidak pula punya
harta. Mati muda. Akhirnya tahu wanita yang didamprat tadi adalah wanita luar
biasa baik pada keluarganya.
Sang cucu
menghubungi neneknya lewat video call. Dijekaskanlah semuanya. Istri Musheng
pun menyesal telah bersedih seumur hidupnyi. Cinta suami ternyata masih tetap
murni sampai akhir hayatnya.
Akhirnya,
setelah sangat tua, sang istri ingin bertemu wanita baik itu. Dia ke Bangkok.
Pakai pesawat. Ketika akhirnya bertemu wanita baik tadi dia kecewa: wanita itu
telah pikun. Tidak ingat apa pun, termasuk namanyi.
Tentu tidak
semua perantau, kala itu, seperti Zheng Musheng. Banyak juga perantau yang
kawin lagi dengan wanita lokal. Lalu terjadi masalah ketika istri yang di sana
menyusul ke sini.
Dear You adalah
film Tiongkok yang sangat sukses. Biaya pembuatannya hanya USD2 juta. Hasil
sementaranya sudah USD260 juta. Memang masih kalah jauh dari film Avatar –yang
hasilnya masuk hitungan miliar dolar.
Film Dear You,
produksi Shenzhen, adalah kisah perjuangan berat para perantau. Bagi generasi
sekarang itu bisa jadi pendorong semangat betapa berat kehidupan pendahulu mereka.
Di zaman ini
yang seperti itu tidak bisa terjadi lagi. Istri zaman sekarang selalu bisa
mengejar: sedang di mana, dengan siapa... ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/963115/dear-cinta