Menghadiri
Konferensi Gastech, Bangkok 14–17 September 2026 (5)
|
ENERGI LEBIH BANYAK, TAPI BUMI LEBIH BERSIH Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 17 September 2026
|
Malam
turun di sebuah ladang minyak. Di kejauhan, api raksasa menyala, seperti obor
yang lupa kepada siapa seharusnya ia memberikan cahaya. Gas
telah ditemukan dan diangkat dari perut bumi. Tetapi karena tak tersedia
jalan menuju manusia, energi berharga itu justru dibakar menuju langit. Ironinya
menyakitkan. Di tempat lain, keluarga menunggu listrik stabil, pabrik
membutuhkan energi, dan anak-anak masih belajar dengan cahaya yang tidak
selalu tersedia. Pada
2025, dunia membakar sekitar 167 miliar meter kubik gas melalui flaring. Apa itu? Flaring
adalah pembakaran gas yang muncul saat produksi minyak dan gas karena belum
dapat dimanfaatkan atau disalurkan. Energi berharga akhirnya menjadi api,
sekaligus melepaskan emisi ke atmosfer secara sia-sia. Gas
yang dibakar itu diperkirakan bernilai sekitar 54 miliar dolar AS. Volumenya
kira-kira setara dengan seluruh konsumsi gas tahunan di benua Afrika. Kita
takut kekurangan energi. Tetapi setelah menggali bumi dan menemukannya,
sebagian energi itu justru kita bakar tanpa memberikan manfaat kepada
kehidupan manusia. Di
situlah paradoks zaman ini dimulai. Manusia membutuhkan energi semakin
banyak, sementara bumi meminta kemakmuran tidak lagi dibayar dengan kerusakan
semakin besar. -000- Hari
ketiga mengikuti Gastech di Bangkok, percakapan mengenai gas terasa berbeda.
Yang dibicarakan bukan lagi sekadar cadangan, produksi, kontrak, harga, dan
kapal. Pertanyaan
baru memasuki ruangan. Seberapa besar metana yang bocor? Seberapa banyak gas
dibakar? Seberapa bersih LNG diproduksi, dicairkan, dikirimkan, dan
digunakan? Metana
adalah komponen utama gas alam. Jika bocor, ia menjadi gas rumah kaca, yaitu
gas di atmosfer yang memerangkap panas dan menghangatkan bumi. LNG,
singkatan liquefied natural gas, adalah gas alam yang didinginkan hingga
sekitar minus 162 derajat Celsius sehingga menjadi cair dan mudah diangkut. Karena
itu, LNG lebih bersih bukan hanya soal pembakarannya. Yang menentukan juga
seberapa sedikit metana bocor dan emisi dilepaskan sepanjang perjalanan
menuju konsumen. Dahulu,
sebuah molekul gas terutama mempunyai harga. Kini perlahan-lahan ia juga
mempunyai sejarah, jejak karbon, bahkan sesuatu yang menyerupai biografi
lingkungan. Asia
membuat persoalan semakin mendesak. Kawasan ini ingin tumbuh, memperluas kelas
menengah, membangun industri, memasang pendingin udara, dan mengembangkan
ekonomi digital. IEA,
Badan Energi Internasional, memperkirakan Asia Tenggara menyumbang lebih
seperempat pertumbuhan permintaan energi dunia hingga 2035 berdasarkan
kebijakan yang berlaku sekarang. Permintaan
listrik kawasan diperkirakan meningkat sekitar empat persen setahun. Gas
sendiri masih menyediakan sekitar seperlima kebutuhan energi Asia Tenggara
pada masa sekarang. Maka
persoalannya bukan memilih secara sederhana antara energi dan lingkungan.
Pertanyaan sesungguhnya jauh lebih sulit, sekaligus lebih manusiawi dan lebih
mendesak. Bagaimana
memberi manusia energi lebih banyak, tetapi meninggalkan bumi yang lebih
bersih? -000- Pertama, kemakmuran membutuhkan energi, tetapi
sejarah tidak boleh diulang dengan cara lama Energi
bukan sekadar minyak, gas, batu bara, atau listrik. Energi adalah kemampuan
manusia mengubah keterbatasan alam menjadi kemungkinan baru bagi kehidupan. Energi
memompa air, mendinginkan makanan, menggerakkan pabrik, menerangi sekolah,
menjalankan rumah sakit, menghidupkan internet, dan kini memberi tenaga
kepada kecerdasan buatan. Karena
itu, meningkatnya permintaan energi tidak selalu bercerita tentang
keserakahan. Sering kali ia justru bercerita tentang manusia yang ingin hidup
lebih baik. Sebuah
keluarga membeli pendingin udara. Sebuah desa membangun industri. Sebuah
negara mengembangkan pusat data. Kemakmuran memang mempunyai denyut nadi
bernama energi. Tetapi
hampir delapan puluh persen pertumbuhan kebutuhan energi Asia Tenggara sejak
2010 dipenuhi bahan bakar fosil, terutama batu bara. Di sinilah masalah
bermula. Jika
pola berlanjut, IEA memperkirakan emisi karbon dioksida terkait energi Asia
Tenggara pada 2050 masih sekitar sepertiga lebih tinggi dibandingkan tingkat
sekarang. Gas
dapat membantu menggantikan batu bara dalam penggunaan tertentu. Namun gas
tetap bahan bakar fosil, sehingga keunggulan iklimnya sangat bergantung pada
pengendalian emisi. Dalam
pembangkitan listrik, gas umumnya menghasilkan emisi lebih rendah daripada
batu bara. Namun keunggulan itu menyusut jika kebocoran metana sepanjang
rantai pasok terlalu besar. Karena
itu, membandingkan gas dengan batu bara saja menetapkan standar terlalu
rendah. Masa depan gas ditentukan oleh kemampuannya membersihkan jejaknya
sendiri. -000- Kedua, masa depan gas akan ditentukan oleh musuh
yang tidak terlihat: metana Karbon
dioksida mendominasi percakapan iklim. Metana lebih senyap. Ia tak terlihat
oleh mata, tetapi pengaruhnya terhadap pemanasan bumi sangat kuat. Metana
bertahan lebih singkat di atmosfer dibandingkan karbon dioksida. Namun selama
keberadaannya, kemampuan metana memerangkap panas jauh lebih kuat daripada
karbon dioksida. IEA
memperkirakan sektor bahan bakar fosil menghasilkan sekitar 124 juta ton
emisi metana pada 2025. Operasi gas alam sendiri menyumbang sekitar 36 juta
ton. Metana
bukan hanya persoalan gas. Produksi minyak, pertambangan batu bara,
peternakan, persawahan, tempat pembuangan sampah, dan limbah juga menghasilkan
emisi gas tersebut. Sekitar
delapan puluh persen emisi metana sektor minyak dan gas berasal dari
upstream, yaitu tahap pencarian dan produksi sebelum energi mencapai
konsumen. Karena
itu, membicarakan LNG lebih bersih berarti mengikuti perjalanan molekulnya.
Gas diproduksi, diproses, dicairkan, dikapalkan, diubah kembali menjadi gas,
kemudian digunakan. Setiap
tahapan mempunyai jejak. Pencairan membutuhkan energi. Kapal menghasilkan
emisi. Sebagian LNG menguap. Kebocoran metana juga dapat terjadi dari
berbagai peralatan. Penguapan
LNG disebut boil-off gas. Cairan yang sangat dingin menyerap panas dari
lingkungan sehingga sebagian kecil LNG kembali berubah menjadi gas. Di
sinilah teknologi bertemu etika. Tidak cukup mengatakan LNG lebih bersih
daripada batu bara. Industri harus mampu membuktikan seberapa bersih LNG
tersebut. Jepang
dan Korea bergerak ke arah itu. CLEAN Initiative menghimpun pembeli LNG untuk
meningkatkan transparansi emisi metana sepanjang rantai pasok menuju kedua
negara. Laporan
2025 mengumpulkan informasi mengenai intensitas metana, yaitu jumlah emisi
dibandingkan produksi, serta langkah yang dilakukan perusahaan untuk
mengendalikan kebocoran tersebut. Kelak
pembeli tidak hanya bertanya, “Berapa harga gas Anda?” Mereka juga bertanya,
“Berapa emisi yang mengikuti gas itu sampai ke pelabuhan kami?” Sebuah
molekul gas perlahan memperoleh paspor karbon. Produsen yang menunjukkan
paspor lebih bersih dapat memperoleh kepercayaan, akses pasar, dan legitimasi
lebih besar. -000- Ketiga, tragedi energi bukan hanya kekurangan,
tetapi kelimpahan yang disia-siakan. Keterlambatan
mengatasi flaring sejatinya bukan sekadar buntunya inovasi teknik, melainkan
cermin lambatnya insentif pasar dan regulasi menyelaraskan kepentingan
ekonomi dengan akuntabilitas lingkungan yang kian mendesak. Dari
semua angka dalam perdebatan energi, bagi saya angka mengenai gas flaring
termasuk yang paling sulit dilupakan karena paradoksnya begitu telanjang. Pada
2025, sekitar 167 miliar meter kubik gas dibakar melalui flaring. World Bank
menyebutnya tingkat tertinggi sejak 2019, setelah tiga tahun kenaikan. Gas
yang hilang diperkirakan bernilai sekitar 54 miliar dolar AS. Nilai ekonomi
sebesar itu secara harfiah lenyap menjadi panas dan cahaya. Penyebabnya
sering bukan ketiadaan teknologi. Pipa belum tersedia. Fasilitas pengolahan
kurang. Pasar belum terbentuk. Modal, regulasi, dan insentif belum cukup
kuat. Routine
flaring adalah pembakaran gas secara rutin dalam operasi normal karena gas
tersebut belum ekonomis atau belum mempunyai infrastruktur untuk dapat
dimanfaatkan. World
Bank memperkirakan penghapusan routine flaring global membutuhkan investasi
awal sekitar 70 sampai 100 miliar dolar AS. Teknologi dasarnya sebenarnya
telah tersedia. Kazakhstan
menunjukkan perubahan mungkin dilakukan. Sejak 2012, negara itu menurunkan
flaring sekitar 87 persen melalui kombinasi regulasi, investasi, dan komitmen
kelembagaan. Contoh
itu mengubah pertanyaan. Kita tidak lagi bertanya apakah flaring dapat
dikurangi, melainkan mengapa begitu banyak negara belum melakukannya secara
serius. Ada
perbedaan mendasar antara keterbatasan alam dan kegagalan institusi.
Teknologi menyediakan kemungkinan. Kepemimpinan, modal, regulasi, dan pasar
mengubah kemungkinan menjadi kenyataan. -000- Di mana Indonesia berdiri? Indonesia
berada di persimpangan menarik. Kita membutuhkan energi lebih banyak untuk
bertumbuh, tetapi hidup pada masa ketika aturan permainan energi dunia sedang
berubah. Kita
mempunyai gas dan batu bara. Kita juga mempunyai panas bumi, tenaga air,
surya, bioenergi, penyimpanan karbon, serta kemungkinan hidrogen pada masa
depan. Karena
itu, pertanyaan strategis Indonesia tidak perlu berhenti pada pertentangan
lama antara energi fosil dan energi terbarukan. Realitas lebih kompleks
daripada slogan. Pertanyaan
yang lebih produktif adalah bagaimana setiap tambahan kesejahteraan Indonesia
dapat dihasilkan dengan emisi semakin rendah untuk setiap unit nilai ekonomi. Gas
dapat memperoleh tempat dalam jawaban itu, tetapi dengan syarat. Indonesia
harus menjadikan setiap molekul gas yang diproduksi semakin dapat
dipertanggungjawabkan. Pertama,
metana harus diukur semakin akurat. Yang tidak diukur mudah diabaikan. Yang
tidak transparan akhirnya sulit diperbaiki dan semakin sulit dipercaya pasar. Kedua,
routine flaring harus ditekan agresif. Gas yang dibakar harus dipandang bukan
sebagai limbah biasa, melainkan kehilangan energi, uang, dan kesempatan
ekonomi. Ketiga,
gas sebaiknya diarahkan menuju penggunaan strategis, termasuk menggantikan
sumber lebih intensif karbon ketika penurunan emisinya memang dapat diukur
dan dibuktikan. Keempat,
infrastruktur gas harus dirancang bersama energi terbarukan, bukan
melawannya. Gas dapat menjadi penyangga ketika tenaga surya atau angin sedang
berfluktuasi. Kelima,
Indonesia perlu membangun reputasi baru. Bukan hanya sebagai produsen LNG
yang andal, tetapi produsen yang mampu menunjukkan intensitas metana semakin
rendah. Pasar
global bergerak menuju transparansi. Uni Eropa telah menetapkan aturan
bertahap mengenai pengukuran, pelaporan, dan pengurangan emisi metana pada
energi yang diimpor. Mulai
Agustus 2030, kontrak impor baru atau diperbarui menghadapi persyaratan
intensitas metana berdasarkan batas yang akan diberlakukan melalui regulasi
Uni Eropa. Kualitas
lingkungan perlahan menjadi kualitas dagang. Apa yang dahulu dianggap biaya
tambahan dapat berkembang menjadi syarat mempertahankan akses menuju pasar
bernilai tinggi. Bagi
perusahaan energi Indonesia, ini bukan sekadar ESG, singkatan untuk standar
lingkungan, tanggung jawab sosial, dan tata kelola perusahaan yang semakin
diperhatikan investor. Ia
berkembang menjadi persoalan daya saing, akses modal, dan ketahanan pasar.
Lingkungan perlahan berpindah dari laporan keberlanjutan menuju jantung
strategi bisnis. Indonesia
juga berpotensi mengembangkan CCS dan CCUS, teknologi menangkap karbon agar
tidak memasuki atmosfer, kemudian menyimpannya atau memanfaatkannya kembali
untuk keperluan tertentu. Namun
teknologi itu bukan izin menghasilkan emisi tanpa batas. Ia harus menjadi
bagian dari strategi penurunan emisi yang lebih luas, transparan, dan
terukur. Satu
prinsip semakin terasa setelah percakapan energi di Bangkok. Masa depan bukan
milik negara yang sekadar mempunyai sumber daya alam paling banyak. Masa
depan lebih mungkin dimiliki negara yang mampu mengubah sumber daya menjadi
teknologi, teknologi menjadi pengetahuan, dan pengetahuan menjadi institusi
yang bertahan lama. Minyak
akan berkurang. Gas akhirnya akan berkurang. Tambang akan kosong. Tetapi
pengetahuan yang dibangun selama era sumber daya dapat diwariskan lintas
generasi. -000- Dua buku untuk memahami dilema ini Vaclav
Smil, How the World Really Works: The Science Behind How We Got Here and
Where We’re Going, Viking, 2022. Smil
mengingatkan bahwa peradaban modern dibangun di atas fondasi material yang
sering dilupakan ketika manusia berbicara terlalu ringan mengenai transisi
energi dan dekarbonisasi. Dekarbonisasi
berarti mengurangi emisi karbon dari kegiatan ekonomi. Tantangannya besar
karena pangan, semen, baja, plastik, transportasi, dan listrik masih
bergantung pada energi fosil. Sistem
itu dibangun selama puluhan tahun. Ia tidak dapat diganti seketika hanya
karena teknologi ditemukan atau sebuah pemerintahan mengumumkan target baru. Pesannya
bukan mempertahankan bahan bakar fosil selamanya. Smil meminta kita memahami
skala fisik perubahan agar ambisi iklim tidak berubah menjadi retorika tanpa
kemampuan. Transisi
energi bukan mengganti aplikasi pada telepon genggam. Kita sedang mengubah
metabolisme peradaban sambil memastikan miliaran manusia tetap memperoleh
energi untuk hidup. Bagi
industri gas, pelajarannya penting. Jangan menganggap gas akan abadi. Tetapi
jangan membayangkan sistem energi raksasa dapat ditransformasikan hanya
melalui sebuah deklarasi. Perubahan
membutuhkan teknologi, investasi, infrastruktur, waktu, dan keberanian
politik. Kita membutuhkan optimisme yang tidak kehilangan ambisi, tetapi
tetap memahami hukum realitas. -000- Daniel
Yergin, The New Map: Energy, Climate, and the Clash of Nations,
Penguin Press, 2020. Yergin
menambahkan dimensi yang tidak cukup dijelaskan angka emisi. Energi bukan
hanya persoalan teknologi dan ekonomi. Energi selalu juga merupakan persoalan
kekuasaan. Siapa
mempunyai gas, menguasai pipa, membangun terminal LNG, dan menjaga jalur
pelayaran ikut menentukan bagaimana peta geopolitik dunia modern digambar. Perubahan
iklim menambahkan lapisan baru. Negara berlomba menguasai teknologi
terbarukan, mineral kritis, baterai, hidrogen, pengelolaan karbon, dan
jaringan listrik masa depan. Transisi
energi karena itu bukan sekadar perpindahan dari bahan bakar fosil menuju
energi terbarukan. Ia juga memindahkan teknologi, investasi, perdagangan, dan
kekuasaan. Gas
berada di tengah pergeseran tersebut. Ia tetap penting bagi keamanan pasokan,
tetapi legitimasi jangka panjangnya semakin bergantung pada kemampuan
menurunkan emisi. Bagi
Indonesia, pelajarannya terang. Jangan hanya membaca peta energi dunia.
Bangun kemampuan agar Indonesia mempunyai pengetahuan untuk ikut menggambar
peta tersebut. -000- Tentu
ada kontra-argumen kuat. Mengapa menginvestasikan modal membersihkan gas jika
uang yang sama dapat mempercepat surya, angin, penyimpanan listrik, dan panas
bumi? Argumen
itu layak dihormati. Energi terbarukan memang harus dipercepat. Dunia tidak
boleh memakai istilah “bahan bakar transisi” untuk memperpanjang
ketergantungan tanpa batas. Tetapi
jawabannya bukan gas selamanya. Jawabannya juga bukan berpura-pura bahwa
kebutuhan energi Asia, industri, sistem kelistrikan, dan infrastruktur dapat
berubah dalam semalam. Gas
memperoleh legitimasi hanya jika benar-benar menjadi jembatan. Sebuah
jembatan berguna karena membawa kita menuju tempat lain, bukan membuat kita
tinggal selamanya. Gas
yang membocorkan metana, membiarkan routine flaring, dan menghambat energi
terbarukan bukanlah gas transisi. Ia hanya energi fosil dengan nama yang
diperindah. Sebaliknya,
gas dengan kebocoran metana rendah, flaring minimal, transparansi tinggi, dan
fungsi jelas mendukung sistem rendah karbon dapat mempunyai peran
transisional rasional. -000- Tiga hari mengikuti
percakapan energi di Bangkok meninggalkan kesan sederhana. Perdebatan
terbesar ternyata bukan memilih antara kemakmuran manusia dan keselamatan
bumi. Kita
membutuhkan keduanya. Asia berhak tumbuh. Anak-anak berhak menyalakan lampu.
Industri berhak berkembang. Teknologi baru membutuhkan energi untuk mengubah
kehidupan manusia. Tetapi
bumi juga berhak menerima generasi yang lebih bijaksana, generasi yang tidak
lagi menyamakan kemajuan dengan kemampuan menghabiskan sumber daya
sebanyak-banyaknya. Abad
kedua puluh membuktikan energi besar dapat menciptakan kemakmuran besar. Abad
kedua puluh satu menghadapi ujian yang jauh lebih sulit. Bisakah
kita menciptakan kemakmuran lebih besar dengan luka lebih kecil kepada bumi,
tanpa meninggalkan mereka yang justru baru mulai menikmati kesejahteraan? Di
situlah gas menemukan ujian sejarahnya. Bukan apakah ia masih tersedia,
melainkan apakah ia cukup bersih membantu manusia menyeberang menuju sistem
berikutnya. Di
situlah Indonesia menemukan kesempatan. Bukan sekadar menjual kekayaan di
bawah tanah, tetapi mengubahnya menjadi kecerdasan yang bertahan setelah
cadangan berakhir. Minyak
akan menipis. Gas akan berkurang. Tambang akhirnya kosong. Namun teknologi,
manusia, riset, dan institusi yang dibangun dapat hidup jauh lebih lama. Itulah
transformasi terpenting negara kaya sumber daya. Kekayaan yang tersimpan di
bawah tanah harus diubah menjadi kekayaan yang tersimpan di dalam manusia. Sebab
tujuan terakhir kebijakan energi bukan menghasilkan sebanyak mungkin minyak,
gas, listrik, atau hidrogen. Tujuannya memperbesar kemungkinan manusia
menjalani kehidupan yang bermartabat. Kemajuan
sejati terjadi ketika semakin banyak rumah menyalakan lampu, semakin banyak
industri hidup, tetapi langit di atas semuanya justru menjadi semakin bersih. Peradaban
tidak akan dikenang karena berapa banyak energi yang berhasil kita gali,
melainkan seberapa banyak kehidupan kita nyalakan tanpa membakar masa depan. ● REFERENSI
BUKU Vaclav
Smil, How the World Really Works: The Science Behind How We Got Here and
Where We’re Going, Viking, 2022. Daniel
Yergin, The New Map: Energy, Climate, and the Clash of Nations, Penguin
Press, 2020. |