Menghadiri
Konferensi Gastech, Bangkok 14–17 September 2026 (4)
|
PINTU GERBANG MENUJU SAMUDRA ENERGI YANG LAIN HIDROGEN Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 16 September 2026
|
Januari
2022, sebuah kapal bernama Suiso Frontier merapat di Australia. Ia datang
bukan untuk membawa minyak, batu bara, ataupun gas alam. Di
dalam perutnya tersimpan cairan bersuhu sekitar minus 253 derajat Celsius.
Hidrogen cair, sebuah musim dingin ekstrem yang dikurung manusia dalam
tangki. Kapal
itu kemudian berlayar menuju Jepang. Untuk pertama kalinya, liquid hydrogen
menyeberangi samudra sebagai bagian dari demonstrasi rantai pasok
internasional. Muatan
itu kecil tak seberapa jika dibandingkan tanker minyak raksasa. Namun sejarah
tidak selalu mengetuk pintu dengan gelegar. Kadang ia datang sebagai kapal
percobaan. Ketika
Suiso Frontier meninggalkan Australia, yang ikut berlayar bukan hanya
hidrogen. Sebuah pertanyaan besar tentang masa depan energi ikut menyeberangi
samudra. Mungkinkah
kapal sederhana itu kelak dikenang sebagai nenek moyang armada baru, seperti
tanker minyak dahulu mengubah perdagangan, geopolitik, dan wajah peradaban? -000- Sejak
hari pertama Gastech Bangkok, lalu berlanjut pada hari kedua, hidrogen hadir
berulang kali dalam percakapan mengenai masa depan energi dunia. Duduk
mengikuti berbagai sesi itu, saya merasakan perubahan suasana. Pertanyaannya
bukan lagi sekadar apakah hidrogen mungkin. Pertanyaannya semakin keras: kapan
ia ekonomis? Para
insinyur berbicara tentang tangki, tekanan, kapal, dan penguapan. Tetapi di
balik bahasa teknis itu, sesungguhnya mereka sedang membicarakan peta
peradaban. Saya
teringat minyak. Dahulu ia pun hanyalah cairan di bawah tanah, sebelum
teknologi, kapal, pasar, dan politik mengubahnya menjadi darah Revolusi
Industri. Apakah
hidrogen sedang berada di ambang perjalanan serupa? Belum tentu. Tetapi
kemungkinan itulah yang membuat percakapan di Bangkok terasa melampaui sebuah
konferensi. Ada
tiga alasan mengapa hidrogen layak memperoleh perhatian besar, meskipun
kepala harus tetap dingin ketika membayangkan masa depannya yang menggoda. Pertama,
hidrogen menawarkan kelimpahan elemental yang nyaris tak terbayangkan. Ia
unsur paling melimpah di alam semesta dan hadir sangat luas dalam berbagai
senyawa. Namun
di Bumi, hidrogen terutama terkunci dalam air, hidrokarbon, dan senyawa lain.
Kelimpahan unsur tidak boleh disamakan dengan cadangan energi siap digunakan. Air
mengandung hidrogen luar biasa banyak. Tetapi memisahkannya membutuhkan
energi. Karena itu, hidrogen hasil produksi lebih tepat dipahami sebagai
pembawa energi. Banyak
klaim menyatakan hidrogen merupakan cadangan energi puluhan kali lebih banyak
dibandingkan minyak dan gas dijadikan satu. Kedua,
hidrogen mulai meninggalkan dunia presentasi dan memasuki dunia proyek.
Investasi clean hydrogen yang telah committed secara global melampaui US$130
miliar pada 2026. Lebih
dari 570 proyek telah mencapai status committed. Ini belum revolusi yang
selesai, tetapi sudah terlalu besar untuk sekadar disebut eksperimen
laboratorium. Teknologi
liquefaction dan pengangkutan laut memperluas cakrawala tersebut. Jika LNG
mengglobalisasi perdagangan gas, liquid hydrogen mencoba membuka pintu serupa
bagi hidrogen. Ketiga,
Indonesia mempunyai alasan khusus untuk memperhatikannya. Di bawah tanah
negeri sendiri, telah ditemukan indikasi awal mengenai keberadaan sistem
natural hydrogen yang melimpah. Badan
Geologi menemukan rembesan dengan kandungan hidrogen sekitar 20 sampai 35
persen di Tanjung Api, Ampana, serta sekitar sembilan persen di Bahodopi. East
Sulawesi Ophiolite menarik karena serpentinisasi batuan ultramafik dapat
menghasilkan hidrogen alami. Bentangan geologi Indonesia menjadikan negeri
ini laboratorium raksasa yang layak diteliti. Namun
kata yang tepat saat ini adalah prospektif, bukan kaya cadangan. Rembesan
membuktikan sistem hidrogen ada, tetapi belum membuktikan reservoir komersial
besar. Jalan
menuju produksi masih panjang. Kita harus mengetahui sumbernya, jalur
migrasinya, tempat ia terperangkap, kemampuan reservoir mengalirkannya,
kemudian menghitung keekonomiannya. Dalam
eksplorasi, optimisme membuka pintu. Data menentukan apakah kita masuk ke
sana dengan terarah. -000- Di
antara percakapan Gastech, liquid hydrogen menarik perhatian karena ia
memperlihatkan dua wajah sekaligus: kecerdikan manusia dan kerasnya hukum
fisika. Hidrogen
sangat ringan. Sebagai gas, kepadatan energinya berdasarkan volume rendah.
Untuk mengangkutnya dalam jumlah besar, persoalan volume segera menjadi
tembok raksasa. Salah
satu jawabannya adalah liquefaction. Hidrogen didinginkan hingga sekitar
minus 253 derajat Celsius, memasuki wilayah temperatur yang terasa hampir
asing bagi kehidupan. Mencairkan
hidrogen memecahkan persoalan volume, tetapi sekaligus melahirkan persoalan
baru: kebutuhan energi, biaya, material, keselamatan, serta penguapan selama
penyimpanan dan perjalanan. Bayangkan
sebuah kapal membawa musim dingin buatan melintasi laut tropis. Setiap
serpihan panas dari luar adalah penyusup yang mencoba mencuri muatannya. Tangkinya
menyerupai termos raksasa berteknologi tinggi. Lapisan ganda, ruang vakum,
material kriogenik, pipa, dan struktur penyangga menjadi satu benteng melawan
panas. Pada
temperatur ekstrem, material berperilaku berbeda. Logam menyusut. Molekul
hidrogen sangat kecil. Kebocoran yang tampak sepele dapat berubah menjadi
persoalan keselamatan serius. Panas
tetap berusaha masuk. Sebagian liquid hydrogen akhirnya menguap kembali menjadi
gas. Fenomena inilah yang dikenal sebagai boil-off gas, atau BOG. Naluri
awal mengatakan seluruh BOG harus dihilangkan. Namun diskusi teknis di
Bangkok memperlihatkan kenyataan yang lebih menarik, lebih kompleks,
sekaligus lebih dewasa. Tujuan
ekonominya bukan mencapai penguapan nol dengan biaya berapa pun. Tujuannya
membuat hidrogen tiba kepada pelanggan dengan total delivered cost terendah. Sebagian
gas yang menguap dapat dimanfaatkan kembali. Menyelamatkan setiap kilogram
hidrogen justru tidak masuk akal apabila biaya penyelamatannya jauh lebih
mahal. Di
sinilah engineering bertemu kebijaksanaan ekonomi. Teknologi terbaik bukan
teknologi yang paling sempurna, melainkan teknologi yang menyelesaikan
persoalan dengan biaya paling masuk akal. -000- Perjalanan
liquid hydrogen kemudian berubah menjadi pertarungan panjang melawan panas.
Insulasi menjadi garis pertahanan pertama agar sebanyak mungkin muatan tetap
berbentuk cair. Namun
benteng yang semakin tebal mempunyai harga. Pada titik tertentu, biaya
tambahan untuk mengurangi penguapan dapat lebih besar daripada nilai hidrogen
yang diselamatkan. Pengelolaan
tekanan menawarkan jalan yang lebih cerdas. Tekanan dapat diatur sepanjang
penyimpanan, pemuatan, perjalanan kapal, pembongkaran, hingga hidrogen tiba
kepada pelanggan. Dengan
pengaturan tepat, sebagian panas dapat diterima sebagai perubahan temperatur
dan tekanan, bukan seluruhnya langsung mengubah liquid hydrogen menjadi gas. Ada
pelajaran menarik di sana. Terobosan besar tidak selalu lahir sebagai mesin
baru. Kadang ia hanyalah cara baru memahami perilaku alam. Keselamatan
menjadi ujian berikutnya. Kapal liquid hydrogen bukan sekadar kapal LNG
dengan tangki yang dibuat jauh lebih dingin. Karakter hidrogen menuntut
pendekatan berbeda. Material
harus tahan. Kebocoran harus cepat terdeteksi. Ventilasi harus bekerja.
Penyebaran gas harus dipahami. Risiko kebakaran harus dimodelkan sebelum
kapal meninggalkan pelabuhan. Semuanya
harus melewati desain, simulasi, pengujian, demonstrasi, sertifikasi,
kemudian operasi berulang. Sebuah teknologi baru memperoleh kepercayaan
setelah berhasil menghadapi kenyataan. Sebab
industri energi tidak dibangun oleh teknologi saja. Ia dibangun oleh
keyakinan bahwa teknologi tetap aman ketika mesin menua dan manusia melakukan
kesalahan. -000- Dua
buku memberikan sepasang mata berbeda untuk melihat hidrogen. Yang satu
mengajak kita bermimpi. Yang lain memaksa kita menghitung harga mimpi. Jeremy
Rifkin, The Hydrogen Economy: The Creation of the Worldwide Energy Web and
the Redistribution of Power on Earth, Polity Press, 2002. Rifkin
melihat revolusi energi bukan sekadar pergantian bahan bakar. Batu bara,
mesin uap, listrik, dan minyak masing-masing pernah mengubah struktur
kekuasaan manusia. Hidrogen,
dalam imajinasinya, dapat mendorong sistem energi lebih tersebar. Karena itu,
perubahan energi berpotensi sekaligus menjadi perubahan ekonomi, sosial,
bahkan geopolitik. Bagian
paling berharga dari Rifkin bukan ramalan teknologinya. Ia mengingatkan bahwa
setiap kali manusia mengubah sumber energi, manusia ikut mengubah
peradabannya. Membaca
Rifkin memperlebar cakrawala. Pertanyaan hidrogen bukan hanya berapa dolar
per kilogram, tetapi siapa menguasai teknologi, jaringan, pasar, dan nilai
tambah. -000- Joseph
J. Romm, The Hype About Hydrogen, Revised Edition: False Promises and Real
Solutions in the Race to Save the Climate, Island Press, 2025. Jika
Rifkin mengajak kaki menginjak pedal gas, Romm mengingatkan keberadaan rem.
Hidrogen bukan sumber energi ajaib yang tersedia gratis menunggu manusia
mengambilnya. Dua
puluh empat tahun berlalu sejak Rifkin menjanjikan hydrogen economy. Sebagian
besar ramalannya belum terwujud. Justru penantian panjang inilah yang membuat
peringatan Romm terasa semakin bijaksana hari ini. Hidrogen
harus ditemukan atau diproduksi, kemudian dimurnikan, dikompresi atau
dicairkan, disimpan, diangkut, lalu akhirnya digunakan sebagai bahan baku
atau energi. Setiap
tahap membutuhkan modal. Setiap konversi membawa kehilangan energi.
Infrastruktur membutuhkan pembeli, sementara calon pembeli sering justru
menunggu infrastrukturnya tersedia dahulu. Romm
mengingatkan persoalan efisiensi dan kebocoran. Pesannya penting: jangan
memilih hidrogen ketika elektrifikasi langsung memberikan hasil ekonomi dan
energi yang lebih baik. Dari
dua buku itu lahir keseimbangan yang diperlukan. Rifkin mengajari kita
membayangkan masa depan. Romm memastikan masa depan itu tetap tunduk kepada
matematika. -000- Secara
matematis, tantangan terbesar hidrogen adalah menurunkan delivered cost dari
kisaran US$10–12 menjadi US$ 2 per kilogram, batas kritis agar mampu bersaing
secara komersial melawan bahan bakar fosil. Di
sinilah kontra-argumen terhadap euforia hidrogen harus didengarkan. Sejarah
energi dipenuhi teknologi menjanjikan yang akhirnya kandas pada karang
bernama economics. Mengapa
mengubah listrik menjadi hidrogen, mencairkannya, mengangkutnya, kemudian
mengubahnya kembali, apabila listrik dapat langsung digunakan atau disimpan
dalam baterai? Kritik
itu benar untuk banyak penggunaan. Hidrogen tidak perlu memenangkan setiap
pertandingan energi agar tetap memainkan peran penting dalam transisi energi
dunia. Kekuatannya
justru berada pada wilayah ketika elektrifikasi langsung sulit dilakukan,
termasuk beberapa industri berat, bahan baku kimia, serta penyimpanan energi
tertentu. Karena
itu strategi terbaik bukan hydrogen everywhere. Hidrogen seharusnya
ditempatkan ketika ia benar-benar menghasilkan nilai ekonomi sekaligus
manfaat dekarbonisasi yang terbesar. Teknologi
sering gagal bukan karena tidak bekerja. Ia gagal karena manusia jatuh cinta
kepadanya, lalu memaksanya bekerja di tempat yang tidak membutuhkannya. -000- Bagi
Indonesia, seluruh percakapan ini terasa lebih personal. Kita sebaiknya tidak
tergesa-gesa bermimpi menjadi eksportir liquid hydrogen sebelum memahami
keunggulan komparatif sendiri. Natural
hydrogen layak menjadi salah satu frontier eksplorasi. Namun perjalanannya
harus disiplin, dari ilmu geologi menuju pembuktian reservoir, produksi
percobaan, kemudian keekonomian. East
Sulawesi Ophiolite dan kawasan geologi lain membuka kemungkinan menarik.
Perusahaan upstream masa depan mungkin tidak hanya mengebor hidrokarbon,
tetapi memburu molekul energi baru. Bertahun-tahun
industri minyak membangun kemampuan membaca batuan, patahan, reservoir,
tekanan, dan aliran bawah tanah. Pengetahuan lama itu mungkin memperoleh
kehidupan kedua. Saya
membayangkan ironi yang indah. Keahlian yang dibangun untuk mencari energi
masa lalu justru dapat menjadi kompas untuk menemukan energi masa depan. Namun
jangan melompat dari rembesan menuju valuasi triliunan dolar. Industri energi
mengenal disiplin sederhana: geologi memberi harapan, tetapi reservoir dan
pasar memberi keputusan. Jika
natural hydrogen Indonesia kelak terbukti besar dan murah, pertanyaan
berikutnya segera muncul: bagaimana membawanya dari reservoir menuju pusat
konsumsi domestik dan dunia? Di
sanalah eksplorasi bertemu liquefaction. Liquefaction bertemu shipping.
Shipping bertemu keselamatan. Keselamatan bertemu economics. Economics
akhirnya bersentuhan dengan geopolitik dan kekuasaan. Indonesia
tidak datang tanpa modal. Kita memiliki industri energi, insinyur, pelabuhan,
pasar domestik, geothermal, pengalaman upstream, dan bentang geologi yang
menjanjikan. Yang
diperlukan bukan demam hidrogen. Kita memerlukan keberanian bereksperimen,
kesabaran membaca geologi, disiplin engineering, serta ketegasan meninggalkan
proyek yang tidak ekonomis. Sebab
masa depan energi tidak dimenangkan negara yang paling cepat mengumumkan
mimpi. Ia dimenangkan mereka yang paling tekun mengubah kemungkinan menjadi
kenyataan. -000- Florida,
16 Juli 1969. Saturn V berdiri menjulang di Kennedy Space Center. Liquid
hydrogen menjadi bagian penting tenaga yang membawa Apollo 11 menuju Bulan. Beberapa
tahun sebelumnya, NASA menerbangkan AS-203 untuk memahami perilaku liquid
hydrogen dalam microgravity, pengetahuan yang kemudian membantu mematangkan
teknologi bagi program Apollo. Ada
puisi ganjil dalam sejarah teknologi. Cairan sedingin minus 253 derajat
Celsius bertemu oksigen, lalu melahirkan api yang mengangkat manusia
meninggalkan Bumi. Lebih
dari setengah abad kemudian, molekul yang membantu manusia mencapai dunia
lain kembali dipanggil untuk sebuah misi yang mungkin jauh lebih menentukan. Kali
ini tujuannya bukan meninggalkan Bumi. Tantangannya adalah membantu peradaban
memperoleh energi tanpa perlahan merusak satu-satunya rumah yang dimilikinya. Duduk
di Bangkok, mendengarkan para ahli berbicara tentang molekul, kapal, dan
reservoir, pikiran saya justru melayang kepada anak-anak yang akan mewarisi
planet ini. Mereka
mungkin kelak menganggap teknologi hari ini primitif. Tetapi setiap peradaban
membutuhkan generasi yang bersedia membuka pintu menuju sesuatu yang belum
sepenuhnya diketahui. Suiso
Frontier membuka tulisan ini dengan menyeberangi samudra. Apollo menutupnya
dengan menyeberangi langit. Di antara keduanya terbentang perjalanan panjang
imajinasi manusia. Kita
belum tahu apakah hidrogen akan menjadi samudra energi berikutnya. Tetapi
sejarah mengajarkan bahwa samudra baru ditemukan oleh mereka yang berani
berlayar. Dahulu
hidrogen membawa manusia meninggalkan Bumi menuju Bulan. Kini tantangannya
lebih besar: membuat hidrogen membantu manusia tetap layak tinggal di Bumi. ● REFERENSI
BUKU Jeremy
Rifkin, The Hydrogen Economy: The Creation of the Worldwide Energy Web and
the Redistribution of Power on Earth. Polity Press, 2002. Joseph
J. Romm, The Hype About Hydrogen, Revised Edition: False Promises and Real
Solutions in the Race to Save the Climate. Island Press, 2025. |