|
Kikin Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 28 September 2026
Sepulang dari
Medan, Bali, dan Lombok saya ke Tebuireng, Jombang. Minggu siang kemarin. Ini
kali kedua saya bertemu Gus Kikin setelah terpilih sebagai ketua umum PBNU yang
baru.
Kali pertama
bertemu adalah pekan lalu: di acara ulang tahun ke-77 Republik Rakyat Tiongkok.
Acara besar itu diadakan konsulat RRT di Surabaya. Kami duduk satu meja dengan
Konsul Ye Su.
Ulang tahun RRT
yang sebenarnya tanggal 1 Oktober lusa. Namun biasanya konsul atau kedutaan
merayakannya seminggu lebih awal –sebelum di tanggal itu mulai libur satu
minggu.
Pertemuan kedua
dengan Gus Kikin kemarin bisa lebih khusus: di rumahnya di kompleks pondok
pesantren Tebuireng. Juga lebih lama –karena dilanjutkan dengan makan siang:
menunya soto daging.
Kami tidak
bicara muktamar –forum tertinggi NU yang memilihnya. Kami bicara soal NU
setelah muktamar –di bawah kepemimpinannya.
NU, kata Gus
Kikin, tidak hanya kembali ke khittah. Lebih dari itu: kembali ke khittahnya
khitttah. Yakni ke Qanun Azazi NU –ke hukum dasar mengapa NU didirikan.
Di masa yang
lewat, kata Gus Kikin, NU seperti terdegradasi seolah hanya sebagai sebuah
perusahaan tambang. "Itu penting tapi ke depan kami tidak akan
membicarakan tambang. Itu diurus terpisah. Tidak boleh mewarnai NU,"
katanya.
Qanun Azazi itu
ditulis oleh pendiri utama Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy'ari, yang tak lain
adalah buyut Kiai Kikin sendiri. Nenek Gus Kikin, adalah Nyai Khoiriyah Hasyim
putri pertama sang pendiri. Berarti nenek Gus Kikin adalah kakak dari kakeknya
Gus Dur, KH Wahid Hasyim, menteri agama pertama RI yang juga kakek presiden
keempat Indonesia itu.
Selama ini
Qanun Azazi jarang diperbincangkan di NU. Kalau pun ada, lebih banyak hanya
pembukaan dan bab satunya. Bahkan teks lengkap Qanun Azazi itu sendiri belum
jadi dokumen utuh di PBNU.
Sampailah pada
masa ketika istri Gus Kikin, Lelly Lailiyah Novianti, ingin mengambil gelar
doktor di Universitas Airlangga, Surabaya. Lelly sebenarnya ingin meraih doktor
sumber daya manusia –sebagaimana di S-2. Tapi kuota untuk bidang itu baru saja
habis. Jatah terakhir doktor SDM diambil kandidat lain seminggu sebelumnya.
Yang diharapkan
Unair adalah munculnya doktor pertama bidang hukum pembangunan. Lelly pun
mengambilnya, meskipun itu tidak linier. S-1 Lelly adalah pendidikan kimia di
IKIP Jakarta –sekarang Universitas Negeri Jakarta. Lelly yang adalah alumnus
SMAN 8 Jakarta lantas menjadi guru kimia di SMAN 1 Medan.
Contoh nyata
penerapan hukum pembangunan masih segar di ingatan Anda: seorang nenek miskin
ditangkap polisi karena mencuri singkong di kebun milik perusahaan besar. Di
persidangan ketahuan: Si nenek-miskin mencuri singkok untuk makan cucunyi yang
sedang kelaparan.
Hakim tetap
berprinsip itu kriminal. Maka hakim menjatuhkan hukuman dan denda kepada si
nenek. Setelah menjatuhkan vonis sang hakim membuka topi toganya: meletakkan
uang satu juta rupiah di topi itu, lalu minta semua yang hadir untuk juga
menaruh uang di situ masing-masing Rp 50.000. Terkumpullah uang yang cukup
untuk membayar hukuman –kelebihannya untuk sang nenek.
Lelly memilih
objek penelitian hukum pembangunan buyut sang suami sendiri: KH Hasyim Asy'ari.
Yakni bagaimana ada seorang manusia mempunyai pemikiran yang begitu mewarnai
kehidupan begitu banyak manusia di Indonesia. Pemikiran itu ditulis dan mewujud
dalam Qanun Azazi NU.
Maka Lelly
harus melakukan penelitian ilmiah soal Qanun Azazi. Namun dia tidak bisa
menemukan teks Qanun Azazi yang utuh. Yang ditemukan hanya pembukaan –terdiri
dari 41 ayat Quran dan delapan hadis Nabi Muhammad– serta bab satunya. Bab dua,
tiga, empat tidak ketemu.
Itu sekaligus
''alarm'' bagi NU: harus menemukan teks utuhnya.
Gus Kikin waktu
itu menjabat ketua NU wilayah Jawa Timur –menggantikan KH Anwar Iskandar yang
terpilih sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia pusat –menggantikan KH Ma'ruf
Amin yang dicalonkan sebagai wakil presidennya Jokowi untuk periode kedua.
Dibentuklah tim
pencari dokumen Qanun Azazi. "Akhirnya bab duanya ditemukan di
Kudus," ujar Gus Kikin. "Bab tiganya ditemukan di Banyuwangi,"
tambahnya. Sedang bab empat adalah bab penutup –berisi 40 hadis Nabi yang
kemudian dikenal sebagai hadis arba'in (40 hadis).
"Penutup
Qanun Azazi hadis arba'in?" tanya saya agak njondil –ingat pernah belajar
hadis arbain di sekolah aliyah dulu.
"Bukan
itu. Ini arba'in dalam pengertian khusus. Disebut juga Al Arba'in haditsan
nabawiyyan," jawab Dr Lelly.
Qanun Azazi
mengandung dasar-dasar kepemimpinan, tanggung jawab, kebenaran, dan etika
berorganisasi. Itu ditulis tahun 1927-1928 setelah satu tahun berpengalaman
menjalankan organisasi NU yang didirikan tahun 1926.
Usai makan
siang saya pamitan: ke museum Hasyim Asy'ari. Nama lengkapnya: Museum Islam
Indonesia ''KH Hasyim Asy'ari''. Lokasinya di sebelah barat pondok putri
Tebuireng. Bangunannya megah, arsitekturnya menarik, lahannya luas.
Museum ini
dibangun oleh pemerintah di atas tanah negara. Di sebelah sana halaman museum,
dibangun terminal bus –terminal khusus untuk peziarah makam Gus Dur. Minggu
kemarin terlihat orang berbondong berjalan satu kilometer dari terminal ke
makam.
Di lahan antara
terminal dan halaman museum dibangun masjid megah dengan dua menara menjulang
tinggi.
Masjid itu
terlihat mangkrak. Ternyata sudah lebih lima tahun tidak ada kegiatan
penyelesaian pembangunannya.
Semua orang
Tebuireng tahu mengapa masjid itu mangkrak. Itu bukan masjid yang dibiayai
negara. Bukan pula dibangun oleh pondok Tebuireng.
Masjid itu
dibangun oleh seorang pengusaha di Jombang. Si pengusaha sedang
ambisi-ambisinya ingin jadi calon bupati Jombang. Sebelum masa kampanye masjid
itu harus sudah selesai. Ia pasti menang.
Ternyata
berhasil jadi calon pun tidak. Ia tidak dapat ''kendaraan''. Tidak ada satu
partai pun yang mencalonkannya. Sejak itu pembangunannya tidak diteruskan.
Museum Hasyim
Asy'ari ini empat lantai. Liftnya dua. Yang dibuka untuk umum baru dua lantai.
Lantai satu
berisi diagram masuknya Islam ke Indonesia –lewat Aceh dan Barus di pantai
barat Sumut. Lalu ada foto ulama-ulama besar di abad itu: mulai Syeh Yusuf
Makassari dari Makassar, Syeh Syaikhona Kholil Bangkalan dari Madura, Syeh
Nawawi Bantani dari Banten, Syeh Arsyad Banjari dari Kalsel, Syeh Khatib
Sambasi dari Kalbar, Syeh Mahfudz Termasi dari Termas Pacitan, Syeh Sholeh
Darat dari Jateng dan Syeh Muhyi Pamijahan, Jabar.
Lalu ada patung
sembilan wali –walisongo di bawah pajangan punokawan Semar, Gareng, Petruk,
Bagong.
Kyai Hasyim
Asy'ari satu ruang tersendiri. Pun Gus Dur dan segala kiprah serta
pemikirannya.
Pemerintah
sebenarnya ingin menyerahkan museum ini untuk pesantren Tebuireng. Supaya
menjadi satu bagian dari keseluruhan kebesaran pondok itu. Tapi diserahkan ke
Tebuireng sama dengan membebankan biaya perawatan dan pemeliharaan ke pondok.
Itu terlalu besar. Bisa memakan biaya pendidikan pondok.
Dari museum
saya tidak kembali ke kediaman Gus Kikin. Sudah banyak tamu di kediaman itu.
Lelly menjadi istimewa karena sudah adakah istri kiai yang bergelar doktor.
Lelly adalah
doktor pertama hukum pembangunan. Cum laude pula.
"Sebenarnya
saya berdoa agar dia tidak cepat-cepat lulus," seloroh Gus Kikin tentang
istrinya itu. "Agar saya tetap bisa dibilang tidur dengan mahasiswi,"
lanjutnya. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/970667/kikin