|
IKHTIAR MENJADI TENDA BESAR DI
INDONESIA - Daftar
Pengurus SATUPENA 2026–2031 dan Anggaran Dasar Baru Disahkan Menteri Hukum Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 21 Agustus 2026
|
Sebelum
Harry Potter menjadi fenomena dunia, J.K. Rowling adalah penulis yang belum
mapan. Ia membesarkan anak seorang diri. Dan ia berjuang menyelesaikan dunia
imajinasinya. Lalu
ekosistem sastra ikut bekerja. Scottish Arts Council memberinya hibah yang
membantu menyediakan ruang ekonomi untuk terus menulis. Penerbit kecil
Bloomsbury mengambil risiko menerbitkan karya yang sebelumnya ditolak
berkali-kali. Kita
tahu kelanjutannya. Harry Potter menjelma menjadi salah satu kisah paling
sukses dalam sejarah penerbitan modern. Kisah
Rowling mengingatkan kita pada sesuatu yang sering terlupakan: bakat memang
lahir pada individu, tetapi bakat membutuhkan ekosistem agar menemukan
jalannya. Kadang-kadang,
yang memisahkan sebuah manuskrip dari sejarah hanyalah hadirnya komunitas
yang percaya. -000- Tanggal
20 Agustus 2026 menjadi penanda penting dalam perjalanan Perkumpulan Penulis
Indonesia, SATUPENA. Sebuah babak kelembagaan baru dimulai. Menteri
Hukum Republik Indonesia mengesahkan perubahan Anggaran Dasar SATUPENA
melalui Keputusan Nomor AHU-0001453.AH.01.08.TAHUN 2026. Keputusan itu
ditetapkan di Jakarta. Keputusan
tersebut memberikan persetujuan terhadap perubahan Anggaran Dasar berdasarkan
Akta Nomor 07, tanggal 13 Agustus 2026. Kini landasan organisasi itu
memperoleh pengesahan pemerintah. Perubahan
Anggaran Dasar telah tercatat dalam Sistem Administrasi Badan Hukum.
Pengesahan itu berlaku secara administratif sejak keputusan Menteri
ditetapkan. Pengesahan
tersebut sekaligus mencatat kepengurusan baru SATUPENA. Saya, Denny JA,
kembali memperoleh amanah sebagai Ketua Umum. Namun
perubahan yang lebih mendasar bukanlah nama-nama itu. Yang lebih penting
adalah arsitektur organisasi yang hendak dibangun untuk menghadapi zaman baru
kepenulisan. Dewan
Penasehat ditiadakan. Struktur baru diperkuat melalui Dewan Pengawas dan
Dewan Pakar. Fungsi pengawasan dan pemikiran strategis kini memperoleh ruang
yang berbeda. Susunan
personalia lengkap masih terus disempurnakan. Termasuk di dalamnya
kepengurusan berbagai bidang dan Ketua SATUPENA daerah yang direncanakan
hadir di setiap provinsi Indonesia. Ini
penting. Indonesia bukan hanya Jakarta. Sastra dan dunia penulisan Indonesia
juga tidak pernah lahir hanya dari pusat kekuasaan, pusat penerbitan, ataupun
pusat kebudayaan nasional. Indonesia
ditulis dari Aceh, Padang dan Makassar. Dari Kupang, Manado, Pontianak,
hingga Papua. Ia juga ditulis dari desa, pesantren, kampus, dan kamar
sederhana. Suara
kebudayaan dapat datang dari mana saja. Bahkan, tidak jarang suara yang kelak
mengubah zaman justru pertama kali terdengar jauh dari pusat. Tenda
besar yang kami bayangkan memperoleh kekuatannya di sana. Suara-suara dari
pinggir tak perlu lagi meminta izin kepada pusat agar dapat terdengar. Susunan
sementara kepengurusan SATUPENA 2026–2031 dicantumkan pada bagian akhir
tulisan ini. -000- Mengapa Penulis Tetap Membutuhkan Tenda Besar? Pertama,
penulis membutuhkan modal sosial. Modal intelektual saja tidak cukup.
Kebutuhan ini justru membesar ketika teknologi memungkinkan manusia
menghasilkan karya dalam kesendirian. Robert
D. Putnam menyebut jaringan, kepercayaan, dan norma resiprositas sebagai
unsur penting modal sosial. Semua itu memungkinkan manusia mengerjakan
sesuatu bersama secara lebih efektif. Penulis
memang bekerja dalam kesunyian. Namun ekosistem kepenulisan tidak pernah
dibangun sendirian. Ada editor, penerjemah, penerbit, kritikus, pembaca,
festival, perpustakaan, dan komunitas. Sebuah
buku mungkin hanya mencantumkan satu nama pada sampulnya. Tetapi perjalanan
sebuah gagasan hingga memasuki kesadaran publik hampir selalu merupakan
perjalanan sosial. Di
sinilah asosiasi menjadi infrastruktur sosial. Ia mempertemukan orang yang
berbeda generasi, daerah, genre, keyakinan, selera artistik, bahkan berbeda
pandangan mengenai sastra. Perbedaan
itu tidak perlu dihapus. Justru sebaliknya. Sebuah komunitas intelektual akan
kehilangan denyut kehidupannya ketika semua orang diwajibkan memandang dunia
dengan cara seragam. Saya
semakin percaya pada prinsip sederhana. Sebuah forum penulis tidak perlu
menyatukan pikiran anggotanya. Keseragaman bahkan dapat menjadi musuh
kehidupan intelektual. Sebagai
forum, semakin beragam SATUPENA, semakin baik. Namun sebagai organisasi,
pengurusnya memerlukan kekompakan agar perbedaan gagasan tidak berubah
menjadi kelumpuhan tindakan. Lalu
datanglah AI. Ia mengubah permainan. Teknologi kini mampu memperbanyak teks
dengan kecepatan yang sebelumnya hampir mustahil dibayangkan dalam sejarah
kepenulisan manusia. Kelangkaan
teks mulai menghilang. Karena itu, nilai manusia bergeser. Yang menjadi
semakin berharga justru pengalaman, integritas, reputasi, perspektif,
keaslian suara, dan hubungan antarmanusia. Mesin
dapat membantu menemukan metafora. Mesin dapat menerjemahkan bahasa dan merangkum
pustaka. Ia bahkan dapat mengusulkan struktur tulisan. Tetapi komunitas
adalah perkara berbeda. Komunitas
bukan kumpulan kata-kata. Ia adalah jaringan kepercayaan antarmanusia. Ia
tumbuh melalui waktu, perjumpaan, perbedaan, pertolongan, penghargaan, bahkan
kenangan bersama. -000- Kedua,
tenda besar diperlukan untuk menjaga keberagaman. Ironisnya, kebutuhan itu
justru meningkat ketika teknologi digital membuat dunia semakin mudah
terhubung. Algoritma
dapat mempertemukan kita dengan dunia. Namun algoritma juga dapat terus
mempertemukan kita dengan mereka yang berpikir, membaca, menyukai, dan marah
seperti kita. Lahirlah
gelembung-gelembung kecil. Kita merasa melihat dunia. Padahal, mungkin kita
hanya sedang melihat pantulan diri sendiri yang diperbesar berkali-kali oleh
teknologi. Asosiasi
penulis yang sehat harus melakukan kebalikannya. Ia mempertemukan penyair
dengan novelis, penulis populer dengan akademisi, senior dengan pemula, pusat
dengan daerah. Bahkan
mereka yang tidak saling menyukai harus memiliki tempat. Mereka tetap dapat
mengakui satu sama lain sebagai bagian sah dari ekosistem kepenulisan
Indonesia. Karena
itu, metafora yang saya sukai bukan benteng. Saya memilih tenda besar.
Benteng membutuhkan musuh. Tenda besar membutuhkan ruang. Di
bawah tenda itu, penyair religius dapat duduk bersebelahan dengan humanis
sekuler. Novelis eksperimental dapat berbicara dengan penulis populer.
Masing-masing tetap menjadi dirinya. Mereka
tidak diwajibkan menyepakati estetika, politik, agama, ataupun filsafat
kehidupan. Tetapi mereka dapat memperjuangkan kepentingan bersama sebagai
manusia yang hidup melalui tulisan. Kepentingan
itu nyata. Kebebasan berekspresi. Perlindungan hak cipta. Penerjemahan.
Literasi. Akses penerbitan. Penghargaan karya. Kesejahteraan penulis. Juga
regenerasi dunia kepenulisan. Kebudayaan
besar tidak lahir karena semua orang menyanyikan nada yang sama. Ia tumbuh
ketika perbedaan memperoleh ruang tanpa harus saling menghapus. SATUPENA
harus menjadi salah satu ruang itu. Ia bukan organisasi yang menentukan
bagaimana penulis harus berpikir. Ia memungkinkan penulis berbeda tetap
bersaudara. -000- Ketiga,
revolusi AI menghadirkan persoalan baru. Martabat, kepemilikan, atribusi,
autentisitas, hak ekonomi, dan masa depan profesi penulis kini memasuki
wilayah yang semakin kompleks. Seorang
penulis akan kesulitan menghadapinya sendirian. Teknologi berubah cepat.
Regulasi hak cipta berkembang. Kontrak digital dan praktik industri
penerbitan pun terus bergerak. Organisasi
dapat mengumpulkan pengetahuan. Ia dapat menghadirkan pakar, membangun
jejaring internasional, menyelenggarakan pendidikan, dan menyuarakan
kepentingan penulis ketika suara bersama memang diperlukan. Tetapi
ada batas yang harus dijaga. Saya tidak ingin SATUPENA menjadi serikat
tuntutan yang menjanjikan akan menyelesaikan setiap persoalan pribadi
anggotanya. Organisasi
yang sehat justru memilih beberapa komitmen. Lalu mengerjakannya dengan
serius. Selebihnya, ia menciptakan ekosistem agar anggota berkembang melalui
kekuatan mereka sendiri. Pengalaman
memimpin SATUPENA membuat saya melihat satu hal sederhana. Teknologi digital
bukan musuh komunitas. Ia menjadi masalah hanya ketika menggantikan
kemanusiaan. Webinar,
misalnya, dapat mempertemukan penulis dari pulau berbeda tanpa tiket pesawat.
Penerbitan digital membuat karya menembus hambatan geografis yang dahulu
terasa begitu permanen. Dunia
berubah. Jarak menyusut. Percakapan yang dahulu membutuhkan perjalanan
berhari-hari kini dapat terjadi dalam hitungan detik melalui sebuah layar
kecil. Namun
teknologi hanyalah jalan raya. Manusia tetap menentukan arahnya. Jalan yang
sama dapat membawa kita menuju perjumpaan atau menuju kesepian yang semakin
canggih. Karena
itu, tantangan SATUPENA bukan melawan AI. Tantangannya adalah membantu
penulis menggunakan AI tanpa kehilangan sesuatu yang jauh lebih mahal: suara
manusianya sendiri. SATUPENA
akan menyusun panduan etik AI bagi penulis Indonesia. Isinya sederhana:
transparansi penggunaan, perlindungan hak cipta karya manusia, larangan
menjiplak suara penulis lain melalui mesin. Juga pengakuan bahwa gagasan tetap milik manusia
yang memikirkannya. Kami juga akan membuka pelatihan agar penulis daerah
tidak tertinggal. AI harus menjadi alat penulis, bukan sebaliknya, penulis
menjadi bayangan mesinnya. -000- Dua Buku yang Membantu Memahami Tenda Besar Robert
D. Putnam, Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community,
Simon & Schuster, 2000. Putnam
menunjukkan sesuatu yang mengkhawatirkan. Ketika partisipasi dalam
perkumpulan menurun, modal sosial ikut melemah. Jaringan, kepercayaan, dan
kebiasaan bekerja bersama perlahan ikut terkikis. Relevansinya
bagi penulis sangat kuat. Kreativitas memang personal. Tetapi kehidupan
sastra bersifat sosial. Ketika penulis kehilangan komunitas, mereka juga
kehilangan jaringan pembelajaran dan solidaritas. Asosiasi
bukan sekadar tempat berkumpul. Ia menciptakan hubungan. Melalui hubungan
itulah pengetahuan, kesempatan, pengakuan, dan pertolongan bergerak dari
seorang manusia kepada manusia lainnya. Dalam
perspektif Putnam, tenda besar penulis merupakan investasi modal sosial.
Nilainya justru semakin tinggi ketika kehidupan digital mendorong manusia
menjadi semakin individual. -000- Lewis
Hyde, The Gift: Imagination and the Erotic Life of Property, Vintage
Books, 1983. Hyde
mengajak kita melihat karya kreatif secara berbeda. Karya bukan semata
komoditas. Ia juga sebuah pemberian yang memperoleh kehidupan ketika bergerak
memasuki komunitas. Seniman
tentu harus hidup. Penulis berhak memperoleh pendapatan dan menikmati hak
ekonominya. Namun nilai kebudayaan sebuah karya sering jauh melampaui harga
transaksi pasarnya. Di
situlah paradoks muncul. Masyarakat membutuhkan karya penulis. Namun
mekanisme pasar tidak selalu mampu menjamin kehidupan yang layak bagi manusia
yang menciptakannya. Karena
itu kebudayaan membutuhkan institusi perantara. Ia membutuhkan filantropi,
penghargaan, dana bantuan, dan komunitas yang menjaga energi kreatif tetap
mengalir ketika pasar gagal menopangnya. -000- Dari Komunitas Menuju Dana Abadi Penulis Di
sinilah saya melihat salah satu pekerjaan besar SATUPENA pada masa mendatang.
Kita perlu perlahan membangun fondasi menuju sebuah dana abadi bagi penulis
Indonesia. Apa
itu dana abadi? Prinsipnya sederhana. Ia bukan rekening bantuan yang
dikumpulkan hari ini, kemudian seluruh uangnya dihabiskan besok. Dana
abadi adalah modal jangka panjang. Pokoknya dijaga dan dikembangkan. Hasil
pengelolaannya digunakan secara berkelanjutan untuk menjalankan misi yang
telah ditetapkan. Bagi
komunitas penulis, manfaatnya dapat beragam. Bantuan darurat, penghargaan,
penerjemahan, residensi, pendidikan, beasiswa, ataupun program lain dapat
dibiayai berdasarkan aturan yang transparan. Ada
preseden sejarah yang mengharukan. Salah satu yang paling menarik dapat
ditemukan pada perjalanan Royal Literary Fund di Inggris. Akar
lembaga itu bermula pada 1788. David Williams mendengar nasib Floyer
Sydenham, penerjemah Plato yang meninggal miskin setelah mengalami penjara
karena utang. Sebuah
kematian kemudian melahirkan kesadaran. Williams mengembangkan literary fund
untuk membantu pengarang yang menghadapi kesulitan keuangan. Misinya kemudian
bertahan melintasi dua abad. Bayangkan
kekuatan sebuah gagasan. Seseorang meninggal dalam kemiskinan pada abad
kedelapan belas. Namun tragedinya justru melahirkan institusi yang membantu
penulis berabad-abad kemudian. Di
situlah perbedaan bantuan dan institusi. Bantuan mengurangi penderitaan hari
ini. Institusi yang dirancang dengan baik dapat mencegah penderitaan berulang
pada generasi berikutnya. Saya
membayangkan SATUPENA suatu hari memiliki dana semacam itu. Ia dapat dibangun
perlahan melalui filantropi, donasi, warisan, kemitraan, serta berbagai
sumber sah lainnya. Tentu
ada syarat mutlak. Dana itu tidak boleh menjadi dompet pribadi organisasi. Ia
juga tidak boleh bergantung pada selera seorang ketua. Ia
harus profesional. Tata kelolanya transparan. Auditnya jelas. Kriteria
penerimanya terbuka. Mekanisme investasinya berhati-hati. Pertanggungjawabannya
harus dapat diperiksa publik. Jika
berhasil, kepengurusan akan datang dan pergi. Nama-nama berubah. Tetapi dana
tersebut tetap bekerja, seperti pohon yang terus memberi keteduhan setelah
penanamnya meninggalkan dunia. Bagi
saya, itulah ukuran tertinggi legacy sebuah organisasi. Bukan berapa banyak
acara dibuat. Bukan pula berapa sering nama pengurusnya muncul. Ukuran
yang lebih penting adalah ini: berapa banyak kebaikan tetap bekerja ketika
orang-orang yang dahulu membangunnya bahkan sudah tidak lagi berada di sana. -000- Tentu
ada kontra-argumen yang serius. Mengapa masih membangun organisasi besar
ketika seorang penulis kini dapat menerbitkan, mempromosikan, bahkan menjual
karyanya sendiri? Pertanyaan
itu masuk akal. Bukankah organisasi justru dapat melahirkan birokrasi,
hierarki, politik internal, dan perebutan jabatan yang akhirnya menghabiskan
energi para penulis? Kritik
itu sah. Bahkan perlu. Sejarah organisasi kebudayaan juga dipenuhi
pertengkaran, fragmentasi, dominasi kelompok, dan lembaga yang akhirnya hidup
hanya untuk pengurusnya. Bahaya
itu nyata. Kita tidak perlu menutupinya. Justru karena itulah desain
kelembagaan menjadi penting. Kesimpulan
yang tepat bukan menghapus organisasi. Yang diperlukan adalah organisasi yang
ramping, transparan, digital, terbuka, terukur, dan tidak mencampuri
kebebasan kreatif anggotanya. Kita
tidak membubarkan rumah sakit karena rumah sakit dapat menjadi birokratis.
Kita memperbaiki tata kelolanya karena kebutuhan terhadap kesehatan tidak
pernah menghilang. Begitu
pula organisasi penulis. Kegagalan sebuah organisasi bukan argumentasi
melawan komunitas. Ia adalah argumentasi untuk membangun komunitas dengan
tata kelola yang lebih sehat. Teknologi
memang memberi kemandirian luar biasa kepada individu. Justru karena individu
semakin berdaya, organisasi tidak lagi harus menjadi penguasa. Ia dapat
menjadi penghubung. Perubahan
paradigma itu penting. Organisasi tidak berdiri di atas penulis. Organisasi
berdiri di antara penulis, menghubungkan kekuatan yang sebelumnya
tercerai-berai. SATUPENA
tidak perlu menentukan siapa penulis terbaik. Ia juga tidak perlu menentukan
aliran mana yang benar atau bagaimana seseorang seharusnya membayangkan
dunia. Cukuplah
ia memperbesar kemungkinan. Penulis memperoleh jaringan. Penulis memperoleh
pengetahuan. Penulis memperoleh panggung. Penulis menemukan persahabatan.
Kadang-kadang, penulis juga menemukan pertolongan. Komitmen
ini bukan sekadar janji retoris. Ia adalah fondasi kelembagaan yang harus
dijaga bersama. Tenda besar hanya bernilai ketika ia menolak menjadi panggung
personal pimpinannya, dan justru menjadi ruang aman bagi kebebasan kreatif
setiap penulis di dalamnya. Keberhasilannya
tidak diukur dari megahnya struktur, melainkan dari keberanian para penulis
di bawah tenda itu menyampaikan kebenaran tanpa rasa takut. -000- Saya
sendiri sampai pada sebuah kesimpulan setelah bertahun-tahun hidup di sekitar
dunia gagasan. Karya besar memang dapat lahir dalam kesunyian. Saya
mengenal kesunyian itu. Menulis sering berarti berhadapan dengan halaman
kosong seorang diri. Tidak ada organisasi yang dapat menggantikan pergulatan
pribadi tersebut. Namun
saya juga belajar hal lain. Setelah sebuah tulisan selesai, ia membutuhkan
dunia. Ia membutuhkan pembaca, percakapan, kritik, penerbitan, penerjemahan,
dan ingatan kolektif. Seorang
penulis dapat menciptakan karya sendirian. Tetapi ekosistem yang memungkinkan
ribuan karya lahir, dibaca, diperdebatkan, diterjemahkan, dan diwariskan
membutuhkan kerja bersama. Karena
itu, periode 2026–2031 seharusnya tidak terutama dikenang sebagai periode
ketika saya kembali memperoleh amanah menjadi Ketua Umum SATUPENA. Jabatan
selalu sementara. Organisasi seharusnya lebih panjang daripada jabatan.
Gagasan bahkan seharusnya hidup jauh lebih lama daripada orang-orang yang
pertama kali memperjuangkannya. Saya
berharap periode ini kelak dikenang sebagai masa ketika tenda diperluas.
Daerah diperkuat. Teknologi dimanfaatkan. Tata kelola diperbaiki. Dana abadi
mulai diperjuangkan. Kita
tidak mengetahui siapa penulis besar Indonesia tiga puluh tahun mendatang.
Kita tidak tahu dari pulau mana ia datang atau bahasa apa yang membentuk
imajinasinya. Mungkin
ia sekarang bahkan belum lahir. Mungkin kelak ia tumbuh di sebuah kota kecil
yang hari ini nyaris tidak diperhitungkan dalam peta kebudayaan nasional. Tugas
kita bukan menentukan siapa orang itu. Tugas kita adalah memastikan bahwa
ketika ia datang, Indonesia mempunyai ruang yang cukup luas untuk mendengar
suaranya. Itulah
tugas organisasi kebudayaan. Bukan menciptakan keabadian bagi pengurusnya.
Bukan membangun monumen bagi mereka yang sedang memegang jabatan. Tugasnya
adalah menciptakan kemungkinan. Membuka jalan. Memperluas ruang. Menanam
pohon yang mungkin justru akan dinikmati oleh generasi yang belum kita kenal. Itulah
makna tenda besar. Semakin luas ruang yang kita bangun bersama, semakin
banyak suara berbeda dapat tumbuh tanpa harus kehilangan dirinya sendiri. SATUPENA
tidak harus membuat semua penulis sama. Justru sebaliknya. Ia harus membuat
keberagaman itu cukup kuat untuk bertahan, bertemu, dan menghasilkan
peradaban. Sebab
penulis mungkin menulis sendirian, tetapi sebuah peradaban hanya dapat
ditulis bersama-sama. ● LAMPIRAN SUSUNAN
SEMENTARA PENGURUS SATUPENA 2026–2031 A.
Dewan Pakar: Prof. Dr. Andi Muhammad Asrun
(Ketua) Anggota: -
Prof Dr. Nurhayati Rahman -
Prof. I Nengah Subadra, S.S., M.Par., PhD -
Dr. Budhy Munawar Rahman -
Dr. Dwi Cahyono Aji, M.A., -
Dr. Tarech Rasyid -
Berthold Damshàuser, M.A -
Indra Iswara, S.H, M.Kn -
Reiner Emyot Ointoe, DipLit -
Alex Runggeary, M.M -
Drs. Achmad Charis Zubair -
John Ohoiwirin (Dewan
pakar mewakili wilayah Indonesia dari Sumatra hingga
Papua) B.
Dewan Pengawas Ketua:
Dr. Satrio Arismunandar Anggota:
-
Anwar Putra Bayu -
Dhenok Kristianti, S.pd C.
Dewan Pengurus Ketua
Umum: Denny JA, Ph.D, MPA, SH Sekretaris
Jendral: Jonminofri Nazir, MSi Bendahara
Umum: Dra. Nita Chobah Lusaid, MBA Ketua
Pulau Sumatra: Dra. Hj. Sastri Yunizarti Bakry, Akt., M.Si., CA., QIA. Ketua
Pulau Jawa: Nia Samsihono, M.Hum Ketua
Bali, NTB, NTT: Dr Rai Utama Ketua
Pulau Kalimantan: Dr. Muhammad Thobroni Ketua
Pulau Sulawesi: Drs. Hamri Manopo Mpd. Ketua
Pulau Papua: Wilhemus Kolyaan (Ketua
masing- masing Provinsi sedang disusun) Direktur
Webinar: Elza Peldi Taher Anggota:
Mila Muzakkar M.M, Amelia Fitriani M.I.Kom, Anick HT, Erika Aiko Direktur
Publikasi Buku: Monica Anggi JR, MBA Direktur
Media: Yusrizal Karana, S.IP, M.IP Direktur
Hukum: Aji Satria Sulaemen, S.H, LL.M Direktur
Public Relation: Saskia Ubaidi, (Nama
dan gelar akademik akan disesuaikan kembali berdasarkan data resmi
masing-masing pengurus) REFERENSI 1.
Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community Robert D. Putnam Simon & Schuster, 2000. 2.
The Gift: Imagination and the Erotic Life of Property Lewis Hyde Vintage Books, 1983. |