|
KETIKA LAUT BERCERITA DAN SEPOTONG SEJARAH REFORMASI 98 -
Inspirasi dari Film Laut Bercerita (2026) Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 30 Oktober 2026
|
Di
sebuah rumah di Jakarta, setiap Minggu sore, seorang ayah menata empat piring
di meja makan, sementara sang ibu memasak makanan kesukaan putra sulungnya.
Tiga orang akan duduk. Satu kursi dibiarkan kosong. Putra itu telah lama
menghilang. Tahun
demi tahun berlalu. Presiden berganti. Indonesia berubah. Tetapi keluarga itu
tetap menyediakan tempat bagi anak yang tak pernah pulang. Harapan menjadi
tamu yang tak tega diusir. Barangkali
itulah bentuk penderitaan manusia yang paling sunyi. Bukan kehilangan
seseorang yang kematiannya telah diketahui, melainkan kehilangan seseorang
tanpa pernah memperoleh kepastian apakah ia masih hidup. Di
luar rumah, sejarah merayakan Reformasi. Di dalam rumah, waktu seolah
berhenti. Sebab bagi keluarga korban penghilangan paksa, sejarah tidak
selesai ketika seorang presiden turun. Sebuah
bangsa dapat mengumumkan kelahiran zaman baru. Namun bagi sepasang orang tua,
zaman lama belum berakhir selama nasib anak yang mereka cintai tetap menjadi
teka-teki. -000- Ketika Film Membuka Kembali Pintu Sejarah Pada
29 Oktober 2026, film Laut Bercerita mulai memasuki bioskop Indonesia. Pada
hari itu pula saya menontonnya, lalu membawa pulang pertanyaan yang tidak
sederhana. Film
ini mengembalikan ingatan saya kepada tahun-tahun terakhir Orde Baru. Masa ketika
perbedaan pendapat dapat membuat seseorang diawasi, ditangkap, disiksa,
bahkan dihilangkan. Film
tersebut diadaptasi dari novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori,
diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia pada Oktober 2017, hampir dua
dasawarsa setelah Reformasi. Yosep
Anggi Noen menyutradarai film berdurasi sekitar 135 menit ini, sekaligus
menulis skenario bersama Leila, menghadirkan tragedi politik melalui bahasa
sinema yang menggugah. Reza
Rahadian memerankan Biru Laut, mahasiswa yang mencintai buku dan kebebasan
berpikir. Yunita Siregar menjadi Asmara Jati, adiknya, sementara Christine
Hakim dan Arswendy Bening Swara memerankan kedua orang tua mereka. Dian
Sastrowardoyo memerankan Kasih Kinanti, aktivis yang mengajak Laut bergabung
dengan kelompok diskusi Winatra. Eva Celia menjadi Ratih Anjani, perempuan
yang dicintai Laut. Namun
kekuatan utama kisah ini tidak terletak semata pada kemampuan para aktornya
menghidupkan tokoh. Yang lebih mendasar adalah pertentangan antara kekuasaan
yang menindas dan cinta yang bertahan. Ada
penjara yang mengurung tubuh manusia. Ada pula penjara tanpa tembok, yang
mengurung sebuah keluarga dalam ketidakpastian selama bertahun-tahun, bahkan
puluhan tahun. Penjara
pertama mungkin berakhir ketika seseorang dibebaskan. Penjara kedua dapat
terus berdiri dalam ingatan, bahkan setelah rezim yang membangunnya lama
kehilangan kekuasaan. Lautan
menjadi metafora yang mengguncang. Ia dapat menyembunyikan jejak tubuh
manusia, tetapi tidak mampu menenggelamkan pertanyaan tentang siapa yang
bertanggung jawab atas kehilangan itu. Ombak
terus bergerak. Sejarah terus berjalan. Namun di pantai, sebuah pertanyaan
tetap tinggal, menunggu jawaban yang tidak pernah datang: ke mana mereka yang
hilang? -000- Biru Laut dan Generasi yang Menolak Diam Kisah
Biru Laut berakar pada pergolakan Indonesia menjelang Reformasi 1998, ketika
keberanian membaca, berpikir, dan mengemukakan pendapat dapat membawa risiko
yang mengerikan. Dalam
novel, perjalanan Laut membawa pembaca ke Yogyakarta pada 1991. Ia bergabung
dengan kelompok diskusi Winatra, bersama Bram, Kinan, Sunu, Daniel, Alex, dan
sahabat lainnya. Mereka
membaca buku, memperdebatkan demokrasi, membicarakan ketidakadilan, serta
mendampingi masyarakat yang menghadapi persoalan tanah. Aktivisme tumbuh dari
percakapan, persahabatan, dan keberanian mempertanyakan kekuasaan. Dalam
dunia mereka, membaca bukan sekadar kegiatan intelektual. Membaca menjadi
cara mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap tidak boleh
dipertanyakan oleh warga negara. Diskusi
bukan hanya pertukaran gagasan. Ia menjadi latihan keberanian, ketika
menyampaikan pendapat yang berbeda dapat membuat seseorang dicurigai sebagai
ancaman terhadap negara. Pada
1993, sebagaimana dikisahkan dalam novel, kelompok itu merencanakan aksi
menanam jagung di Blangguan, Jawa Timur, sebagai bentuk solidaritas kepada
petani yang terdesak. Aksi
sederhana tersebut menyimpan pesan politik. Ketika masyarakat kecil
menghadapi tekanan, mahasiswa tidak ingin menjadi penonton yang nyaman di
balik pagar kampus. Namun
keberanian mereka berhadapan dengan negara yang kehilangan kesabaran terhadap
kritik. Aktivis diburu, persahabatan diuji, dan kecurigaan mulai merusak
kepercayaan antarmanusia. Ada
penangkapan, penyekapan, interogasi, dan penyiksaan. Kekerasan tidak hanya
diarahkan kepada tubuh, tetapi juga kepada keyakinan bahwa manusia masih
dapat mempercayai sesamanya. Dalam
novel, tragedi mencapai puncaknya ketika Laut dan sejumlah sahabatnya kembali
ditangkap pada 1998. Sebagian dibebaskan, sementara sejumlah lainnya tidak
pernah pulang. Pembaca
bahkan mengikuti akhir kehidupan Laut. Tetapi orang tua dan adiknya tidak
memiliki pengetahuan yang sama, sehingga mereka harus hidup bersama harapan
yang menyiksa. Di
sinilah Leila membangun ironi yang menyakitkan. Pembaca mengetahui mengapa
kursi itu kosong, tetapi kedua orang tuanya masih menyiapkan tempat bagi anak
mereka yang hilang. Bagian
kedua novel, melalui Asmara Jati, memperlihatkan kehidupan setelah
kehilangan. Ia bersama keluarga, sahabat, dan Komisi Orang Hilang berusaha
mencari jejak mereka yang lenyap. Pencarian
membawa kisah menuju perairan Kepulauan Seribu. Dugaan tentang tubuh yang
ditenggelamkan dan kemungkinan temuan tulang membuka harapan, sekaligus
menghadirkan ketakutan baru. Namun
dugaan bukan kepastian. Keluarga kembali berhadapan dengan pertanyaan yang
sama, sementara harapan yang sempat tumbuh dapat berubah menjadi luka yang
lebih dalam. Novel
kemudian membawa pembaca menuju Aksi Kamisan pada 2007. Keluarga berdiri di
seberang Istana Merdeka, membawa foto dan payung hitam sebagai tanda
perlawanan. Film
mengadaptasi perjuangan dan kehilangan tersebut melalui bahasa sinema. Novel
memberikan ruang lebih panjang untuk mengikuti ingatan, percakapan, serta
pergulatan batin para tokohnya. Film
memilih alur yang bergerak lurus, berbeda dari novel yang maju mundur dalam
waktu. Film juga menambahkan adegan demonstrasi anak muda 1990-an yang
memprotes hukuman delapan tahun penjara bagi seorang pembaca buku Pramoedya
Ananta Toer. Adegan
itu tidak terdapat dalam novel, tetapi mempertegas zaman ketika membaca dapat
dihukum sebagai kejahatan. Yosep juga memilih tidak menampilkan kekerasan
secara grafis, sebagai penghormatan kepada korban dan keluarganya. Pilihan
itu menjadikan penantian, bukan penyiksaan, sebagai pusat rasa sakit film
ini. Keduanya
mempertemukan pembaca dan penonton dengan satu pertanyaan yang mengganggu
nurani. Bagaimana seseorang dapat dihilangkan, tetapi penderitaan akibat
kehilangannya justru terus tumbuh? -000- Ketika Negara Memiliki Kekuasaan, tetapi
Kehilangan Batas Moral Menonton
film ini, sebagaimana membaca novelnya, saya terus memikirkan tiga persoalan
besar: batas moral kekuasaan, penderitaan keluarga korban, dan tanggung jawab
Reformasi. Negara
memerlukan kekuasaan. Tanpa kekuasaan yang sah, hukum sulit ditegakkan dan
masyarakat sulit dilindungi. Namun kekuasaan hanya bermartabat apabila
bersedia membatasi dirinya sendiri. Ketika
membaca buku dianggap ancaman, kritik diperlakukan sebagai kejahatan, dan
aparat menggunakan kekerasan untuk membungkam perbedaan pendapat, negara
sedang kehilangan dasar moralnya. Negara
mungkin masih mempunyai senjata, penjara, dan aparat. Tetapi kewibawaan yang
dibangun melalui ketakutan berbeda secara mendasar dari penghormatan yang
lahir melalui kepercayaan. Sejarah
penculikan aktivis pada 1997–1998 tidak hanya menjadi latar dramatis sebuah
novel. Peristiwa tersebut merupakan kenyataan yang meninggalkan persoalan
hukum dan kemanusiaan hingga sekarang. Melalui
penyelidikan pada 2005–2006, Komnas HAM mencatat 23 orang menjadi korban
penghilangan paksa pada periode tersebut. Satu ditemukan meninggal, sembilan
dilepaskan, sementara 13 lainnya masih hilang hingga kini. Angka
itu bukan keseluruhan korban kekerasan politik pada masa itu. Namun angka
tersebut cukup untuk mengajukan pertanyaan mendasar tentang hubungan antara
negara dan manusia. Apa
arti negara yang kuat apabila sebagian warganya justru harus takut kepada
kekuatan negara sendiri, bahkan ketika mereka hanya menyuarakan pikiran dan
keyakinannya? Ukuran
peradaban bukan hanya kemampuan pemerintah menjaga ketertiban. Ukuran
peradaban juga terlihat ketika warga yang paling keras mengkritik tetap
memperoleh perlindungan hak. Kekuasaan
menjadi beradab bukan ketika semua orang takut kepadanya, melainkan ketika ia
tidak perlu menakut-nakuti siapa pun untuk memperoleh penghormatan dari
masyarakat. -000- Penghilangan Paksa Menghukum Seseorang dan
Seluruh Keluarganya Kematian
yang diketahui membawa kesedihan mendalam. Namun keluarga masih memiliki
kesempatan menguburkan jenazah, mendoakan orang tercinta, dan perlahan
menerima kenyataan bahwa perpisahan telah terjadi. Penghilangan
paksa menciptakan penderitaan berbeda. Keluarga tidak mengetahui apakah
seseorang masih hidup, sedang disiksa, telah dibunuh, atau disembunyikan di
tempat yang tak diketahui. Psikolog
Pauline Boss menyebut pengalaman semacam ini ambiguous loss, kehilangan tanpa
kepastian, ketika seseorang secara fisik tidak hadir tetapi secara psikologis
terus menempati kehidupan keluarga. Dalam
keadaan demikian, keluarga mungkin tidak sanggup sepenuhnya berduka karena
masih berharap. Namun mereka juga sulit melanjutkan kehidupan karena
kehilangan belum memperoleh kejelasan. Saya
kembali membayangkan meja makan dalam kisah Laut. Betapa anehnya benda
sederhana bernama piring, yang dapat berubah makna ketika seseorang yang
dicintai menghilang. Di
hadapan keluarga yang utuh, piring adalah tempat makanan. Tetapi bagi orang
tua yang kehilangan anaknya, piring dapat menjadi tempat menyimpan penantian. Sebuah
kamar kosong pun berubah menjadi sesuatu yang lebih besar daripada ruang
tidak berpenghuni. Ia menjadi alamat ingatan bagi seseorang yang tidak
diketahui keberadaannya. Betapa
beratnya hidup ketika seseorang tidak dapat memastikan apakah ia sedang
mengenang orang yang telah meninggal, atau menunggu orang yang mungkin masih
hidup. Setiap
suara kendaraan yang berhenti di depan rumah mungkin menghadirkan sekejap
harapan bahwa seseorang akhirnya pulang, sebelum kesunyian kembali mengambil
alih. Penderitaan
seperti ini tidak selalu terlihat dalam laporan resmi. Ia hidup dalam
kebiasaan sehari-hari, dalam percakapan keluarga, dan dalam keputusan kecil
yang menyakitkan. Karena
itu, penghilangan paksa bukan hanya tindakan terhadap seseorang. Ia dapat
menjadi hukuman berkepanjangan bagi keluarga yang tidak pernah diberi
kesempatan mengetahui kebenaran. -000- Reformasi Politik Belum Tentu Menyembuhkan Luka
Sejarah Pada
21 Mei 1998, Soeharto mengundurkan diri setelah lebih dari tiga dasawarsa
berkuasa. Indonesia kemudian memasuki era baru yang membuka berbagai
kesempatan perubahan politik. Kebebasan
pers berkembang. Kompetisi politik semakin terbuka. Berbagai lembaga
demokrasi diperkuat, meskipun perjalanan membangun negara hukum yang adil
tetap menghadapi tantangan. Semua
itu merupakan pencapaian penting. Namun pergantian pemerintahan tidak
otomatis menyelesaikan penderitaan yang diwariskan oleh kekerasan politik
pada masa pemerintahan sebelumnya. Pada
28 September 2009, Rapat Paripurna DPR menyetujui empat rekomendasi Panitia
Khusus: pembentukan Pengadilan HAM ad hoc, pencarian 13 aktivis yang masih
hilang, rehabilitasi dan kompensasi bagi keluarga korban, serta ratifikasi
konvensi antipenghilangan paksa. Rekomendasi
tersebut memperlihatkan bahwa persoalan ini telah menjadi agenda resmi
negara. Tetapi pengakuan atas persoalan tidak otomatis menghadirkan
penyelesaian bagi keluarga korban. Saya
melihat perbedaan mendasar antara kemenangan politik dan pemulihan kemanusiaan.
Kemenangan dapat terjadi pada suatu tanggal, tetapi pemulihan tidak mengikuti
kalender kekuasaan. Sebuah
bangsa dapat mengumumkan berakhirnya suatu zaman, sementara sebagian warganya
masih hidup dalam penderitaan yang ditinggalkan oleh zaman tersebut selama
bertahun-tahun. Reformasi
karena itu tidak cukup dipahami sebagai peristiwa jatuhnya seorang presiden.
Ia harus menjadi proses panjang membangun hukum dan melindungi martabat
manusia. Sebab
demokrasi bukan hanya persoalan siapa yang berhak memerintah. Demokrasi juga
menyangkut batas moral mengenai apa yang tidak boleh dilakukan oleh mereka
yang memerintah. -000- Antara Fiksi dan Sejarah: Ketika Mereka yang
Hilang Menuntut Ingatan Kisah
Laut Bercerita memiliki resonansi personal bagi saya, karena luka sejarah
yang sama pernah saya tulis dalam bentuk puisi esai. Dua
di antaranya adalah Sapu Tangan Fang Yin dan Kutunggu di Setiap Kamis.
Keduanya menghadirkan tokoh rekaan untuk menyuarakan penderitaan nyata dalam
pergolakan 1998. Karena
itu, ketika membaca novel Leila dan merenungkan filmnya, saya kembali
memikirkan hubungan antara sastra dan kenyataan, antara peristiwa historis
dan imajinasi pengarang. Seberapa
jauh kisah Biru Laut merupakan sejarah? Pertanyaan ini penting agar kita
mampu menghargai kekuatan sastra tanpa memperlakukannya sebagai dokumen
faktual yang sepenuhnya literal. Biru
Laut, Asmara Jati, keluarga mereka, kisah cinta, persahabatan, pengkhianatan,
serta percakapan yang dihidupkan Leila merupakan konstruksi sastra, bukan biografi
langsung korban tertentu. Namun
penderitaan historis yang menjadi dasar cerita benar-benar terjadi. Aktivis
prodemokrasi sungguh diculik, sebagian disiksa, dan sejumlah keluarga masih
menuntut kepastian nasib mereka. Aksi
Kamisan juga bukan ciptaan pengarang. Sejak 2007, keluarga korban dan pegiat
HAM berdiri setiap Kamis di seberang Istana Merdeka, membawa payung hitam,
menuntut kebenaran dan pertanggungjawaban negara. Itulah
kekuatan sastra yang saya lihat. Leila menciptakan manusia yang tidak pernah
hidup, untuk membuat kita merasakan kehilangan manusia yang benar-benar
pernah ada. Biru
Laut adalah fiksi. Penculikan itu nyata. Asmara adalah rekaan. Penantian
keluarga korban adalah sejarah yang masih menyimpan pertanyaan belum
terjawab. Sastra
tidak menggantikan dokumen hukum atau penyelidikan sejarah. Tetapi sastra
dapat memberikan sesuatu yang sering tidak sanggup dilakukan statistik, yakni
mengembalikan wajah kepada angka. Angka
13 dapat dibaca dalam satu tarikan napas. Namun di baliknya terdapat
keluarga, nama, kenangan, dan kehidupan yang seharusnya masih mempunyai
kelanjutan. Bagi
saya, tragedi terdalam bukan hanya ketika manusia direnggut dari kehidupan.
Tragedi juga terjadi ketika masyarakat perlahan berhenti bertanya mengapa
manusia itu menghilang. -000- Dua Buku untuk Memahami Sejarah dan Trauma Ada
dua buku yang membantu memperdalam persoalan dalam Laut Bercerita. Yang
pertama menjelaskan perubahan politik, sedangkan yang kedua menerangkan
mengapa luka manusia bertahan. Buku Pertama: Opposing Suharto: Compromise,
Resistance, and Regime Change in Indonesia Edward Aspinall. Stanford University Press, 2005. Edward
Aspinall menunjukkan bahwa kejatuhan Soeharto bukan hasil satu demonstrasi
atau satu kelompok. Perubahan terjadi melalui akumulasi konflik, tekanan
masyarakat sipil, dan perpecahan elite. Gerakan
mahasiswa, organisasi bantuan hukum, kelompok oposisi, serta perubahan
kesempatan politik saling berinteraksi dalam proses panjang yang akhirnya
mengguncang pemerintahan Orde Baru. Buku
ini membantu menempatkan aktivisme Biru Laut dalam konteks sejarah lebih
luas. Perlawanan terhadap otoritarianisme bukan hanya kisah keberanian
individu, tetapi juga perjuangan kolektif. Pelajaran
pentingnya, sebuah rezim mungkin tampak sangat kuat. Namun kekuasaan yang
kehilangan legitimasi dapat menjadi rapuh ketika masyarakat mulai menemukan
keberanian melawan ketakutan. -000- Buku Kedua: Trauma and Recovery: The Aftermath of
Violence, From Domestic Abuse to Political Terror Judith Lewis Herman. Basic Books, 1992. Judith
Herman menjelaskan bahwa trauma bukan sekadar pengalaman buruk yang
tertinggal dalam ingatan. Kekerasan dapat merusak rasa aman, kepercayaan, dan
kemampuan manusia mengendalikan kehidupan. Pemulihan
memerlukan keamanan, kesempatan mengingat dan berduka, serta pembangunan
kembali hubungan sosial. Proses tersebut tidak selalu cepat, sederhana, atau
berjalan dalam urutan yang lurus. Buku
ini membantu memahami penderitaan penyintas penyiksaan dan keluarga korban.
Kekerasan mungkin telah berhenti, tetapi dampaknya dapat bertahan jauh
setelah peristiwa itu berakhir. Pelajaran
penting Herman ialah bahwa pemulihan tidak identik dengan melupakan
penderitaan. Pemulihan berarti menemukan kembali kemampuan menjalani
kehidupan dengan rasa aman dan martabat. -000- Apakah Mengingat Luka Lama Menghambat
Rekonsiliasi? Ada
satu pandangan yang patut dipertimbangkan secara serius. Bukankah sebuah
bangsa juga perlu bergerak maju, tanpa selamanya membawa luka dan kemarahan
dari masa lalu? Apakah
terus mengingat kekerasan sejarah tidak berisiko memperpanjang permusuhan,
mewariskan kebencian kepada generasi baru, dan menghambat rekonsiliasi yang
diperlukan untuk membangun masa depan? Saya
memahami kekhawatiran tersebut. Sebuah bangsa memang tidak mungkin hidup
selamanya dalam dendam. Kita membutuhkan pendidikan, kesejahteraan,
kesempatan ekonomi, dan persatuan yang berkelanjutan. Namun
menurut saya, terdapat perbedaan mendasar antara mengingat dan membalas.
Mengingat tidak harus berarti memelihara kebencian, sebagaimana mencari
kebenaran tidak berarti menghidupkan permusuhan. Rekonsiliasi
bermartabat membutuhkan kesediaan mendengarkan korban, mengungkap fakta,
membedakan tanggung jawab individual dari kesalahan kolektif, serta
menegakkan hukum secara adil bagi semua pihak. Kita
tidak boleh menyatakan seseorang bersalah berdasarkan prasangka. Namun
kebutuhan menjaga persatuan juga tidak boleh digunakan sebagai alasan menutup
pencarian kebenaran sejarah. Kebenaran
yang dicari secara adil dapat membuka jalan menuju rekonsiliasi. Sebaliknya,
perdamaian yang dibangun dengan memaksa korban diam mungkin hanya
menghasilkan kesunyian sementara. Di
bawah kesunyian itu, luka masih bekerja. Ia dapat muncul sebagai
ketidakpercayaan, rasa takut, atau perasaan bahwa penderitaan seseorang tidak
pernah sungguh diakui. Laut
Bercerita bukan pengganti pengadilan, penyelidikan independen, atau
penelitian sejarah. Namun novel dan film dapat membangunkan kepekaan moral
masyarakat terhadap pengalaman para korban. Hukum
memerlukan bukti. Kemanusiaan memerlukan kemampuan mendengarkan. Keduanya
tidak perlu dipertentangkan, sebab bangsa yang beradab harus sanggup mencari
keadilan tanpa kehilangan empati. -000- Setelah Laut Bercerita, Apa yang Tertinggal? Ada
satu hal yang terus saya renungkan setelah menonton Laut Bercerita. Mengapa
kisah kehilangan hampir tiga dasawarsa lalu masih mampu mengguncang perasaan
kita sekarang? Barangkali
karena tragedi ini, pada tingkat paling mendasar, tidak hanya menyangkut
rezim, mahasiswa, atau gerakan politik, tetapi juga cinta manusia yang
terluka. Seorang
anak ingin pulang. Sepasang orang tua ingin mengetahui nasib anaknya. Seorang
adik ingin memahami mengapa kakaknya tidak kembali, sekalipun tahun terus
berganti. Keinginan
itu begitu sederhana. Tidak diperlukan teori politik yang rumit untuk
memahaminya. Justru karena begitu sederhana, kegagalan memenuhinya terasa
begitu menyakitkan. Saya
membayangkan seorang ibu yang semakin menua. Rambutnya memutih. Tangannya
tidak lagi sekuat dahulu, sementara kenangan tentang anaknya tetap hidup
dengan ketajaman yang sama. Ia
mungkin telah menyaksikan pergantian presiden, perubahan partai politik,
perkembangan teknologi, dan munculnya gedung-gedung baru yang mengubah wajah
kota tempat tinggalnya. Tetapi
di dalam dirinya, sebuah pertanyaan masih bertahan. Pertanyaan yang mungkin
tidak lagi selalu diucapkan, tetapi tidak pernah benar-benar meninggalkan
kehidupannya. Di
mana anak saya? Pertanyaan
itu mungkin hidup dalam cara seorang ibu memandang pintu, menyimpan pakaian,
membuka lemari, atau mendengar suara yang mengingatkannya kepada anaknya. Di
sinilah saya merasa Laut Bercerita melampaui perdebatan politik mengenai
Reformasi. Kisah ini memperlihatkan bahwa sejarah tidak hanya bergerak
melalui keputusan besar penguasa. Sejarah
juga hidup dalam hati manusia yang menanggung akibatnya, melalui kehilangan
yang tidak tercatat sepenuhnya dalam pidato, undang-undang, atau buku
pelajaran sekolah. Demokrasi
membutuhkan pemilihan umum, kebebasan berpendapat, pengadilan independen, dan
lembaga yang bekerja. Namun demokrasi juga membutuhkan hati nurani yang mampu
memahami penderitaan warga. Tanpa
hati nurani, demokrasi dapat menjadi sekadar prosedur yang rapi, sementara
sebagian manusia yang terluka tersisih dari perhatian masyarakat dan tanggung
jawab negara. Tanpa
keberanian menghadapi masa lalu, sebuah bangsa mungkin menjadi semakin
modern, tetapi belum tentu semakin bijaksana dalam memperlakukan manusia yang
berbeda pandangan. Saya
tidak ingin generasi muda hari ini mewarisi dendam dari generasi sebelumnya.
Saya berharap mereka mewarisi sesuatu yang lebih berharga daripada kebencian
sejarah. Mereka
perlu mewarisi keberanian menjaga kebebasan, menghormati martabat manusia,
dan menolak kekuasaan yang menganggap kritik sebagai ancaman yang boleh
dihadapi dengan kekerasan. Itulah
warisan Reformasi yang seharusnya terus kita rawat. Bukan kebencian terhadap
masa lalu, melainkan tanggung jawab agar kekelamannya tidak menjadi masa
depan siapa pun. -000- Sebuah Kursi yang Tetap Kosong Pada
akhirnya, pikiran saya kembali kepada gambaran yang membuka kisah ini. Sebuah
meja makan, empat piring, tiga orang duduk, dan satu kursi tetap kosong. Mungkin
kedua orang tua itu memahami bahwa harapan mereka semakin tipis. Mungkin
mereka menyadari bahwa waktu tidak akan mengembalikan semua yang telah
direnggut secara kejam dari kehidupan mereka. Tetapi
mereka tetap menyediakan tempat, bukan karena tidak memahami kenyataan,
melainkan karena cinta terkadang terus bekerja ketika semua penjelasan telah
kehabisan kata. Di
luar rumah, Indonesia terus bergerak maju. Namun selama keluarga korban belum
memperoleh kepastian, kemajuan itu masih menyimpan pertanyaan moral yang
belum sepenuhnya terjawab. Apa
arti kemenangan sejarah jika sebagian manusia yang membayar harganya
dibiarkan menanggung kehilangan sendirian, sementara masyarakat perlahan
melupakan nama dan penderitaan mereka? Lautan
dalam kisah ini mungkin tidak pernah mengembalikan tubuh Biru Laut. Namun
sastra membuat suaranya tetap terdengar, melintasi generasi yang tidak
mengalami zaman tersebut. Selama
suara itu masih didengarkan, mereka yang hilang tidak sepenuhnya lenyap dari
kesadaran kita. Ingatan menjadi bentuk kesetiaan terakhir kepada kemanusiaan. Sebab
manusia dapat dibunuh sekali oleh kekuasaan. Tetapi ia dibunuh untuk kedua
kalinya ketika bangsanya memilih melupakan bahwa ia pernah hidup. ● REFERENSI Edward Aspinall.
Opposing Suharto: Compromise, Resistance, and Regime Change in Indonesia.
Stanford University Press, 2005. Judith Lewis Herman.
Trauma and Recovery: The Aftermath of Violence, From Domestic Abuse to
Political Terror. Basic Books, 1992. Pauline Boss.
Ambiguous Loss: Learning to Live with Unresolved Grief. Harvard University
Press, 1999. Leila S. Chudori. Laut
Bercerita. Kepustakaan Populer Gramedia, 2017. Komnas HAM. Laporan
Penyelidikan Penghilangan Orang secara Paksa Periode 1997/1998.
https://perpustakaan.komnasham.go.id/opackomnas/index.php... Kompas.com.
"Daftar Aktivis yang Diculik dan Hilang Tahun 1997/1998." 28
Oktober 2021. https://www.kompas.com/.../daftar-aktivis-yang-diculik... Tempo. "Faisol
Riza Minta DPR Ambil Sikap soal Kasus Penghilangan Orang" (memuat empat
rekomendasi Pansus yang disetujui Rapat Paripurna DPR, 28 September 2009).
https://www.tempo.co/.../faisol-riza-minta-dpr-ambil... RRI. "Film Laut
Bercerita Rawat Ingatan Sejarah dan Harapan Anak Muda." 24 Oktober 2026.
https://rri.co.id/.../film-laut-bercerita-rawat-ingatan... Media Indonesia.
"Film Laut Bercerita Tayang 29 Oktober, Yosep Anggi Noen Soroti
Resiliensi dan Semangat Anak Muda." 26 Oktober 2026.
https://mediaindonesia.com/.../film-laut-bercerita-tayang... Karya
puisi esai terkait: Sapu Tangan Fang Yin dan Kutunggu di Setiap Kamis, karya
Denny JA. |