|
DARI SATUPENA YANG PECAH MENUJU DANA ABADI BAGI PENULIS - Slides
Pertanggungjawaban Ketua Umum SATUPENA 2021–2026, Menyambut Kongres Satupena
2026 Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 08 Agustus 2026
|
Ada
organisasi yang selesai ketika pemimpinnya pergi. Ada pula organisasi yang
justru semakin kokoh setelah nama para pendirinya hanya tersimpan dalam
sejarah. Perbedaannya
terletak pada kemampuan mengubah energi pribadi menjadi kekuatan institusi,
konflik menjadi kepercayaan, kegiatan menjadi tradisi, dan kemurahan hati
menjadi sistem berkelanjutan. Ketika
menerima amanah memimpin SATUPENA pada 2021, saya tidak pernah membayangkan
perjalanan lima tahun itu akhirnya membawa saya kepada sebuah pertanyaan
sederhana. Bagaimana
membuat SATUPENA tetap hidup seratus tahun dari sekarang, ketika kita semua
yang hari ini berkumpul bahkan sudah lama meninggalkan dunia ini? Pertanyaan
itu semakin penting menjelang berakhirnya masa kepemimpinan, karena
keberhasilan pemimpin sesungguhnya baru terlihat ketika ia tidak lagi
memegang kekuasaan organisasi. Apa
yang masih bekerja setelah dirinya pergi? Apa yang tetap tumbuh ketika tangan
yang dahulu menanamnya tidak lagi berada di sana? -000- Dari
Slide 1: Rumah Tanpa Dinding Setelah
konsolidasi organisasi, muncul pertanyaan yang lebih besar: untuk apa
sesungguhnya organisasi penulis masih diperlukan ketika teknologi telah
menghapus banyak batas geografis? Dahulu
organisasi mudah dibayangkan sebagai kantor, sekretariat, ruang rapat, lemari
arsip, dan papan nama yang menunjukkan bahwa sebuah institusi berada di sana. Teknologi
mengubah pengertian itu. Orang tidak lagi harus berada di ruangan yang sama
untuk merasa hidup dalam sebuah komunitas pengetahuan bersama. Pada
banyak malam, saya melihat puluhan wajah muncul di layar dari berbagai
wilayah Indonesia, membawa pengalaman berbeda tetapi kegelisahan intelektual
yang sama. Mereka
terpisah ribuan kilometer, namun selama beberapa jam berada di ruang yang
sama, memperdebatkan buku, membaca puisi, dan saling memperkaya pemikiran. Tidak
ada tiket pesawat, hotel, atau perjalanan panjang. Yang berpindah hanyalah
suara, wajah, pengalaman, pengetahuan, dan kehangatan persahabatan
antarmanusia. Slide
pertama menyebut gagasan itu “Rumah Tanpa Dinding”, sebuah rumah yang hidup
karena percakapan mampu menyatukan penulis dari berbagai daerah Indonesia. Saya
semakin percaya bahwa rumah sebuah organisasi penulis sesungguhnya bukan
alamat sekretariatnya, melainkan percakapan yang terus hidup di antara para
anggotanya. Selama
gagasan masih dipertukarkan, karya masih diciptakan, dan manusia masih
bersedia mendengarkan manusia lain, rumah itu tidak pernah benar-benar
kosong. -000- Dari
Slide 2: Dua Menjadi Satu Saya
memasuki SATUPENA bukan ketika rumah ini sedang tenang. Saya datang ketika
satu nama organisasi hidup di dalam dua kepengurusan berbeda. SATUPENA
sedang terbelah. Satu nama, satu akta notaris, tetapi dua kepengurusan yang
sama-sama merasa paling sah. Masing-masing
membawa sejarah, legitimasi, pengalaman, luka, dan keyakinan sendiri mengenai
jalan terbaik untuk menjaga rumah bersama para penulis Indonesia ini. Slide
kedua menggambarkan perjalanan itu melalui dua jalan berbeda, SATUPENA A dan
SATUPENA B, yang pada akhirnya menemukan penyelesaiannya masing-masing. Kerja
pertama saya selaku Ketua Umum adalah memastikan SATUPENA yang saya pimpin
menjadi satu-satunya SATUPENA yang sah secara hukum. Kepengurusan di seberang
akhirnya memilih tumbuh dengan nama organisasi yang berbeda. Bagi
saya, gambar itu bukan hanya metafora visual. Ia menyimpan pengalaman
emosional tentang betapa rumitnya memulihkan kepercayaan setelah perpecahan
berlangsung lama. Saya
belajar bahwa konflik organisasi sering bukan muncul karena orang berhenti
mencintai organisasi, tetapi karena masing-masing merasa paling memahami cara
mencintainya. Di
dalam konflik ada harga diri, kenangan, persahabatan lama, kekecewaan, dan
keyakinan bahwa jalan yang ditempuh sendiri merupakan jalan paling benar. Karena
itu, menyatukan organisasi tidak cukup hanya dengan memenangkan argumentasi.
Kita juga harus menyediakan ruang agar setiap pihak merasa didengar dan
dihormati. Ada
waktunya berbicara, ada waktunya diam, dan ada waktunya merasa benar tetapi
tetap memberi ruang kepada orang lain menjelaskan kebenarannya sendiri. Empat
kata kemudian menjadi kompas perjalanan itu: dialog, saling hormat,
konsolidasi, dan satu tujuan menuju masa depan literasi Indonesia yang lebih
besar. Yang tidak dapat bersatu, kami lepas dengan ikhlas untuk menempuh
jalannya sendiri. Pada
akhirnya SATUPENA kembali mempunyai satu arah. Saya tidak ingin menyebutnya
kemenangan satu kubu atas kubu lain yang pernah berseberangan. Saya
lebih memilih melihatnya sebagai kemenangan sebuah rumah atas perpecahan
penghuninya, karena organisasi kebudayaan tidak pernah dibangun untuk
memenangkan konflik internal. Organisasi
kebudayaan dibangun agar energi terbaik manusia dapat dialihkan dari
pertengkaran mengenai masa lalu menuju penciptaan sesuatu yang berarti bagi
masa depan. -000- Dari
Slide 3: Gerakan Setiap Pekan Sebuah
organisasi tentu tidak cukup hanya berhasil bersatu. Ia harus memiliki denyut
kehidupan yang dapat dirasakan oleh anggota dan masyarakat sekitarnya. Karena
itu, kami berusaha membuat SATUPENA hadir bukan hanya ketika kongres datang,
tetapi hampir setiap pekan melalui berbagai ruang percakapan intelektual. Hasil
perjalanan itu diringkas melalui tiga angka besar dalam slide
pertanggungjawaban: 226 forum diskusi yang digelar hampir setiap pekan dan
melintasi banyak provinsi, 223 video literasi tentang kehidupan penulis,
serta 16 buku bersama yang ditulis beramai-ramai mengenai isu yang sedang
menggugah publik luas. Angka-angka
memang penting untuk akuntabilitas. Namun di balik setiap angka terdapat
manusia, percakapan, keberanian, kegelisahan, persahabatan, dan kemungkinan
perubahan yang sulit diukur. Di
balik sebuah forum mungkin ada penulis muda yang pertama kali berbicara, lalu
pulang membawa keberanian menulis sesuatu yang selama ini dipendamnya. Di
balik sebuah video mungkin ada mahasiswa di kota kecil yang menontonnya
bertahun-tahun kemudian, lalu memperoleh gagasan yang mengubah arah hidupnya. Di
balik sebuah buku bersama terdapat penulis-penulis yang sebelumnya tidak
saling mengenal, tetapi kemudian dipertemukan oleh kegelisahan yang sama
terhadap zamannya. Itulah
keanehan sekaligus keindahan kerja kebudayaan. Dampaknya tidak selalu datang
ketika acara selesai, tetapi sering tumbuh diam-diam bertahun-tahun kemudian. Sebuah
gagasan dapat tertidur lama di dalam buku atau video, kemudian tiba-tiba
hidup kembali ketika ditemukan seseorang yang sedang membutuhkannya. Karena
itu dokumentasi bukan semata pekerjaan administratif. Ia merupakan cara
sebuah generasi menyimpan ingatan dan mengirimkan percakapannya menuju masa
depan. -000- Dari
Slide 4: Hidupkan SATUPENA Daerah Sejak
awal saya mempunyai satu keyakinan: SATUPENA tidak boleh menjadi organisasi
nasional yang secara nyata hanya berdenyut di Jakarta dan sekitarnya. Indonesia
terlalu besar, terlalu beragam, dan terlalu kaya pengalaman untuk membiarkan
kreativitas kebudayaan hanya tumbuh dari satu pusat kekuasaan saja. Gagasan
tidak mempunyai ibu kota. Ia dapat lahir dari warung kopi Padang, kampus
Makassar, komunitas Aceh, atau percakapan sederhana di Papua. Karena
itulah SATUPENA daerah perlu memperoleh ruang seluas-luasnya untuk tumbuh
berdasarkan karakter, kebutuhan, kreativitas, dan kekuatan kebudayaan wilayah
masing-masing. Slide
keempat menggambarkan jaringan itu dari Aceh sampai Papua, dengan Sumatera
Barat menonjol melalui International Minangkabau Literacy Festival yang
memasuki penyelenggaraan keempat. Saya
melihat perkembangan semacam itu sebagai tanda kesehatan organisasi, sebab
pusat tidak seharusnya menjadi matahari tunggal bagi seluruh kegiatan
anggotanya. Pusat
justru harus membantu lahirnya banyak matahari kecil, banyak pusat
kreativitas, yang dapat menerangi daerahnya sendiri sambil tetap terhubung
satu sama lain. Organisasi
besar bukan organisasi yang membuat semua orang bergantung kepada pusat,
tetapi organisasi yang berhasil membuat banyak bagian mampu tumbuh secara
mandiri. Seperti
orang tua yang baik, keberhasilan tertingginya justru tercapai ketika
anak-anaknya dapat berjalan sendiri, bahkan suatu hari melampaui pencapaian
generasi sebelumnya. -000- Dari
Slide 5: Manusia di Era AI Namun
ketika organisasi bertumbuh, dunia bergerak lebih cepat. Kecerdasan buatan
mulai memasuki wilayah yang selama berabad-abad dianggap sangat khas manusia:
menulis. AI
sekarang dapat menerjemahkan, merangkum, melakukan riset, membuat gambar,
mengolah data, bahkan menyusun draf tulisan dalam waktu yang hampir tidak
terbayangkan sebelumnya. Bagi
organisasi penulis, perubahan ini bukan perkara teknis kecil. Ia menyentuh
langsung pertanyaan mengenai identitas, kreativitas, otentisitas, bahkan
makna menjadi seorang penulis. Jika
mesin sudah mampu menghasilkan kalimat yang indah, pertanyaannya kemudian
menjadi semakin mendasar: apakah yang masih membuat tulisan manusia berbeda
dari tulisan mesin? Slide
kelima mempertemukan manusia dan AI, dengan empat kata sebagai jembatan
keduanya: kreativitas, nilai, makna, dan tujuan. Pesan
yang ingin disampaikan sederhana: teknologi mungkin semakin pandai menulis,
tetapi manusialah yang harus tetap menentukan untuk apa tulisan itu
dilahirkan. Saya
tidak melihat AI sebagai musuh penulis. Saya justru melihatnya sebagai salah
satu alat paling kuat yang pernah diberikan sejarah kepada manusia. AI
mempunyai kecepatan, daya analisis, dan kemampuan mengolah informasi dalam skala
yang mungkin tidak pernah sanggup dicapai seorang manusia sendirian. Namun
manusia mempunyai pengalaman yang berbeda. Kita mencintai, kehilangan,
kecewa, memaafkan, menyesal, berharap, dan terkadang menangis tanpa mampu
menjelaskan alasannya. Dari
pengalaman seperti itulah lahir kedalaman yang membuat kata-kata bukan hanya
tersusun dengan benar, tetapi terasa bermakna bagi manusia lain. Karena
itu masa depan penulis bukan melawan AI, melainkan menggunakan kecerdasan
mesin sambil menjaga empati, imajinasi, nurani, dan tanggung jawab moral
manusia. -000- Dari
Slide 6: Memberi untuk Literasi Kemudian
sampailah kita kepada pertanyaan yang harus berani dijawab setiap organisasi
sehat: berapa biaya seluruh program tersebut, dan dari mana dananya berasal? Selama
periode kepengurusan ini, sekitar Rp4,09 miliar digunakan untuk menjalankan
berbagai kegiatan SATUPENA, tanpa menjadikan iuran anggota sebagai sumber
pembiayaan organisasi. Saya
menilai belum tercipta ekosistem yang cukup sehat dan mandiri bagi penulis Indonesia
untuk diwajibkan membayar iuran organisasi. Namun organisasi penulis yang
ingin merdeka juga sebaiknya tidak meminta dana kepada pemerintah atau
konglomerat, karena di sana hampir selalu ada kepentingan yang menyertainya. Pembiayaan
tersebut berasal dari donasi pribadi saya selaku Ketua Umum, dan digunakan
untuk mendukung forum, video, buku, penghargaan penulis, serta berbagai
kegiatan literasi lainnya. Mengapa
saya memilih jalan itu? Jawabannya berhubungan dengan satu prinsip hidup
sederhana yang semakin saya yakini ketika usia terus bertambah. Saya
menyebut prinsip itu The Power of Giving, keyakinan bahwa hidup bukan hanya
tentang apa yang berhasil kita kumpulkan, tetapi apa yang kita bagikan. Kita
memang hidup dari apa yang kita ambil dari dunia, tetapi sering kali
kebahagiaan terdalam justru datang dari apa yang kita berikan kembali. Uang
pada akhirnya hanyalah alat. Nilainya menjadi lebih dalam ketika ia berubah
menjadi kesempatan, pengetahuan, karya, penghargaan, dan ruang pertumbuhan
bagi orang lain. Sebuah
angka dalam rekening dapat memberikan rasa aman, tetapi angka yang berubah
menjadi buku atau kesempatan belajar dapat memperoleh kehidupan yang jauh
lebih panjang. Jika
sebagian rezeki yang saya peroleh dapat membantu gagasan lahir, penulis
bertumbuh, dan percakapan intelektual berlangsung, saya tidak menganggapnya
sebagai kehilangan. Justru
dari memberi itu saya sering merasakan sesuatu yang lebih sulit dibeli dengan
uang sebanyak apa pun: rasa bahwa kehidupan mempunyai makna. Namun
pertanggungjawaban yang jujur harus mengakui paradoksnya: keberhasilan
pembiayaan dari satu penyokong sekaligus menciptakan pertanyaan serius
mengenai kemandirian organisasi pada masa depan. Ketergantungan
kepada satu penyokong, siapa pun orangnya dan sebesar apa pun kemurahan
hatinya, tidak boleh menjadi fondasi permanen bagi organisasi berumur
panjang. Hari
ini penyokong itu mungkin mampu memberi. Besok keadaan berubah, kepemimpinan
berganti, dan generasi berikutnya menghadapi kondisi yang sama sekali
berbeda. Karena
itu keberhasilan lima tahun terakhir melahirkan pekerjaan rumah baru:
mengubah kemurahan hati pribadi menjadi kekuatan institusional yang tidak
bergantung kepada individu. Kejujuran
menuntut pengakuan lain. Kaderisasi kepemimpinan belum berjalan sistematis,
sebagian SATUPENA daerah masih bergantung pada satu dua penggerak, jangkauan
pembaca kita belum jauh melampaui lingkaran sendiri, dan kita belum
melahirkan sikap organisasi yang tegas mengenai hak cipta penulis di hadapan
kecerdasan buatan. Semua itu tetap menjadi utang bersama. Power
of Giving yang menghidupkan kegiatan harus perlahan diterjemahkan menjadi
Power of Institution, sehingga kebaikan personal akhirnya menjelma menjadi
kemandirian organisasi. -000- Dari
Slide 7: SATUPENA Hidup 100 Tahun Di
titik inilah gagasan dana abadi memperoleh makna. Ia bukan sekadar instrumen
keuangan, tetapi ikhtiar memerdekakan organisasi dari ketergantungan kepada
individu. Slide
terakhir menggambarkan buku terbuka yang menumbuhkan pohon raksasa, dengan
akar kuat dan cabang menaungi para penulis dari generasi berikutnya. Di
sekeliling pohon itu terdapat lima gagasan: warisan keilmuan, dana abadi,
generasi penerus, keberagaman, dan jejak dunia sebagai horizon SATUPENA. Dana
abadi tidak dibutuhkan agar SATUPENA menjadi organisasi kaya. Justru ia
diperlukan agar SATUPENA tidak pernah bergantung kepada orang kaya tertentu. Pokok
dana dapat dijaga, sementara hasil pengembangannya digunakan secara
transparan dan profesional untuk program, pengembangan penulis, serta kehidupan
organisasi jangka panjang. Secara
teknis, gagasan itu perlu bentuk: pokok dana yang tidak boleh disentuh,
maksimal empat persen hasil pengembangan yang dipakai setiap tahun, dewan
wali independen di luar pengurus harian, audit publik tahunan, serta sumber
majemuk dari royalti kolektif penulis, penerbitan bersama, filantropi
kebudayaan, dan iuran sukarela publik pembaca. Dengan cara itu kemandirian
tidak hanya dicita-citakan, tetapi dirancang. Membangunnya
mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun. Tetapi pekerjaan paling penting
dalam sejarah sering memang tidak selesai pada masa hidup orang yang
memulainya. Kita
menanam pohon bukan selalu agar kita sendiri duduk di bawah keteduhannya.
Kadang pohon itu sengaja ditanam untuk orang yang belum lahir. Itulah
mungkin pengertian terdalam mengenai institusi: membangun sesuatu yang
manfaatnya kelak dinikmati manusia yang namanya bahkan belum pernah kita
dengar. -000- Tahun
2126 Mari
membayangkan satu abad dari sekarang. Tahun 2126, ketika hampir semua nama
yang hari ini memenuhi ruang Kongres hanya tersimpan dalam arsip sejarah. Foto-foto
kita mungkin telah menguning secara digital, perdebatan hari ini menjadi
catatan kaki, dan jabatan yang sekarang terasa penting tidak lagi berarti
banyak. Namun
di sebuah kota kecil, mungkin seorang penulis muda membuka laptop dan
bergabung dengan diskusi SATUPENA bersama penulis dari berbagai penjuru
Indonesia. Seorang
penyair Papua berdialog dengan novelis Sumatra. Penulis muda memperoleh
bantuan menerbitkan buku pertama, sementara karya Indonesia diterjemahkan
untuk pembaca dunia. Dana
abadi membiayai sebagian kegiatan itu, tanpa generasi tersebut mengetahui
siapa Ketua Umum SATUPENA seratus tahun sebelumnya atau siapa penyumbang
pertamanya. Jika
keadaan seperti itu benar-benar terjadi, saya justru akan menganggapnya
sebagai salah satu bentuk keberhasilan paling indah yang dapat dibayangkan. Sebab
tujuan membangun institusi bukan membuat nama pendirinya dikenang selamanya,
melainkan membuat nilai yang diperjuangkannya tetap bekerja setelah dirinya
dilupakan. Kepemimpinan
selalu sementara. Jabatan mempunyai tanggal mulai dan berakhir, sedangkan
gagasan dapat memiliki umur jauh lebih panjang daripada manusia yang pertama
menyuarakannya. -000- Rumah
yang Kita Titipkan Jika
perjalanan SATUPENA 2021–2026 diringkas, kisahnya dimulai dari sebuah rumah
yang terbelah, lalu perlahan menemukan kembali satu arah perjalanan bersama. Setelah
bersatu, rumah itu dibuat hidup hampir setiap pekan melalui forum, video,
buku, jaringan daerah, dan percakapan yang melintasi batas geografis. Kemudian
datang revolusi AI yang mengingatkan kita bahwa teknologi boleh berubah,
tetapi empati, nurani, kreativitas, dan kebijaksanaan manusia harus tetap
menjadi pusat. Selama
lima tahun, semangat memberi membantu membiayai perjalanan itu. Tetapi
generasi berikutnya membutuhkan fondasi yang tidak bergantung kepada
kemurahan hati seorang individu. Karena
itu perjalanan selanjutnya harus bergerak menuju dana abadi, agar SATUPENA
mempunyai akar ekonomi yang mampu menopang kebebasan dan kreativitas
organisasi. Pada
akhirnya SATUPENA bukan milik Ketua Umum, bukan milik pengurus, bahkan bukan
hanya milik anggota yang hidup dan berkarya pada hari ini. SATUPENA
juga milik generasi penulis yang belum lahir, yang suatu hari akan menerima
rumah ini tanpa pernah mengenal siapa yang dahulu membangunnya. Mungkin
warisan terbaik bukan gedung dengan nama kita terukir, melainkan pohon yang
terus tumbuh ketika orang yang dahulu menanamnya sudah lama pergi. Pohon
itu berakar pada gagasan, disirami kemurahan hati, dijaga tata kelola, dan
menaungi manusia yang kelak datang membawa kata-kata baru untuk zamannya. Pemimpin
boleh berganti dan generasi boleh berlalu, tetapi rumah gagasan harus terus
menyala, seratus tahun dari sekarang, bahkan jauh melampaui itu. ● |