Catatan
dari London (5)
|
IA PUN MUNDUR SEBAGAI RAJA DEMI PEREMPUAN YANG DICINTAINYA Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 26 Juli 2026
|
Tangan itu
sempat bergetar ketika menggenggam pena. Di atas meja kayu terbentang
beberapa lembar dokumen kerajaan. Di luar jendela, musim dingin menyelimuti
Inggris dengan langit kelabu yang nyaris tanpa cahaya. Beberapa
menit ke depan, ia tidak lagi menjadi raja. Tidak ada dentuman meriam. Tidak
ada pemberontakan. Tidak ada darah yang tertumpah. Yang hadir hanyalah
kesunyian yang terasa jauh lebih menggetarkan daripada hiruk pikuk
peperangan. Dalam
kesunyian itulah sejarah kadang mengambil keputusan yang paling dahsyat.
Beberapa goresan tinta mengakhiri sebuah pemerintahan yang baru berlangsung
sebelas bulan, tetapi sekaligus melahirkan kisah yang terus dikenang dunia. Sejak hari
itu, sebuah pertanyaan terus menggema melintasi zaman. Jika cinta dan
kekuasaan datang bersamaan, tetapi manusia hanya boleh memilih satu, pilihan
apakah yang paling layak dipertahankan? -000- Sudah hampir
lima abad St James’s Palace berdiri tenang di jantung London. Istana ini
dibangun atas perintah Raja Henry VIII antara tahun 1531 hingga 1536 di
lokasi bekas rumah sakit Santo Yakobus. Dari luar,
bangunannya tampak jauh lebih sederhana dibandingkan Buckingham Palace. Namun
dalam sejarah Inggris, justru di sinilah denyut konstitusi kerajaan berulang
kali berdetak dan menentukan arah perjalanan monarki. Hingga hari
ini, berbagai upacara resmi, penerimaan duta besar, dan Proclamation Council
masih berlangsung di kompleks istana ini. Ia bukan sekadar bangunan tua,
melainkan saksi hidup perjalanan panjang sebuah bangsa. Saya berdiri
cukup lama di depan gerbang bata merahnya. Wisatawan berlalu lalang,
kendaraan melintas tanpa henti, dan burung merpati sesekali turun di halaman
yang tenang. Namun batin
saya justru dipenuhi kesunyian. Bangunan tua memiliki kemampuan yang tidak
dimiliki manusia. Ia tidak pernah lupa kepada kemenangan, pengkhianatan, air
mata, maupun keputusan yang mengubah sejarah. Di tempat
inilah, pada 21 Januari 1936, Edward VIII diproklamasikan sebagai Raja
Britania Raya setelah wafatnya George V. Ia masih berusia empat puluh satu
tahun dan dipandang sebagai simbol generasi baru monarki Inggris. Edward
tampan, populer, dan modern. Banyak rakyat berharap ia akan membawa kerajaan
memasuki babak baru yang lebih segar. Harapan itu ternyata hanya bertahan
selama sebelas bulan. Semua
bermula dari seorang perempuan Amerika bernama Wallis Simpson. Edward
mengenalnya pada awal dekade 1930-an melalui lingkungan sosial aristokrat
London, lalu perlahan menjadikan perempuan itu pusat kehidupannya. Wallis bukan
bangsawan dan tidak memiliki darah kerajaan. Namun ia memiliki kecerdasan,
kehangatan, dan kemampuan membuat calon raja merasa diterima sebagai manusia
biasa, bukan sekadar simbol negara. Masalahnya
bukan karena Wallis berasal dari Amerika. Persoalan utamanya adalah ia telah
dua kali menikah, dan proses perceraian keduanya belum sepenuhnya selesai
ketika Edward menjadi raja. Pada masa
itu, Raja Inggris juga menjabat sebagai Supreme Governor of the Church of
England. Gereja tersebut tidak mengizinkan raja menikahi seseorang yang telah
bercerai apabila mantan pasangannya masih hidup. -000- Persoalan
pribadi itu segera berubah menjadi krisis konstitusional. Perdana Menteri
Stanley Baldwin menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mendukung pernikahan
tersebut, dan negara-negara Dominion pun mengambil sikap yang sama. Pilihan Edward
tinggal dua. Tetap menjadi raja dengan meninggalkan Wallis, atau menikahi
Wallis dengan meninggalkan mahkota. Tidak ada jalan ketiga yang dapat
diterima secara konstitusional. Malam
sebelum menandatangani surat itu, Edward hampir tidak tidur. Di mejanya
terdapat dua benda yang sama-sama berat: mahkota kerajaan yang tak terlihat,
dan foto Wallis yang selalu ia simpan. Seorang raja
ternyata juga dapat menjadi laki-laki yang takut kehilangan perempuan yang
dicintainya. Edward
memilih kemungkinan kedua. Pada 10 Desember 1936 ia menandatangani Instrumen
Abdikasi, mengundurkan diri sebagai raja. Keesokan
harinya, jutaan rakyat Inggris mendengarkan pidato radionya yang kemudian
menjadi bagian dari sejarah dunia. “Saya merasa
mustahil memikul tanggung jawab sebagai raja tanpa bantuan dan dukungan
perempuan yang saya cintai.” Kalimat itu hanya berlangsung beberapa detik,
tetapi gaungnya masih terdengar hingga hari ini. Sejak saat
itu, sejarah Inggris berubah. Adiknya naik takhta sebagai George VI, dan dari
garis suksesi itulah kelak lahir pemerintahan Elizabeth II yang berlangsung
selama tujuh puluh tahun. Abdikasi itu
tidak hanya mengubah nasib Edward. Ia mengubah seluruh garis suksesi kerajaan
Inggris. Dari keputusan itulah lahir pemerintahan George VI, kemudian
Elizabeth II, dan pada akhirnya Raja Charles III. Sulit
membayangkan bahwa perubahan sebesar itu bermula dari keputusan seorang
laki-laki terhadap perempuan yang dicintainya. Kadang sejarah ternyata tidak
digerakkan oleh meriam, melainkan oleh hati manusia. -000- Sejak hari
itu saya mulai memahami bahwa hidup tidak pernah meminta kita memilih antara
yang baik dan yang buruk. Hidup justru sering meminta kita memilih dua hal
yang sama-sama berharga. Inspirasi
dari kisah Edward VIII adalah kenyataan bahwa setiap pilihan besar selalu
meminta harga yang besar pula. Tidak ada keputusan yang sungguh bermakna
tanpa pengorbanan yang sepadan. Banyak orang
berharap dapat memiliki cinta, kekuasaan, kehormatan, dan kebebasan
sekaligus. Namun kehidupan hampir tidak pernah bekerja seperti itu. Setiap
pilihan selalu membawa sesuatu yang harus dilepaskan. Edward
memperoleh perempuan yang dicintainya, tetapi kehilangan mahkota, peran
sejarah, dan kedekatan dengan keluarganya. Andaikata ia mempertahankan
takhta, mungkin ia kehilangan cinta yang memberinya makna hidup. Kedewasaan
bukanlah kemampuan menemukan pilihan tanpa luka. Kedewasaan adalah keberanian
menerima harga dari pilihan yang diyakini, lalu memikul seluruh
konsekuensinya tanpa menyalahkan nasib. Juga
kekuasaan bukan selalu nilai tertinggi dalam kehidupan manusia. Banyak orang
rela mengorbankan keluarga, sahabat, bahkan nurani demi mempertahankan
jabatan yang mereka miliki. Edward
memilih arah yang berlawanan. Kita boleh menganggap keputusannya keliru,
tetapi kisahnya memaksa kita bertanya apakah jabatan tetap bernilai apabila
seseorang harus mengkhianati suara hatinya sendiri. Tidak semua
orang akan memberikan jawaban yang sama. Justru di sanalah letak kemanusiaan.
Nilai tertinggi setiap manusia ternyata tidak selalu identik, meskipun mereka
hidup dalam zaman yang sama. Inspirasi
lain: keputusan pribadi dapat mengubah sejarah dunia. Kita sering mengira
sejarah hanya berubah oleh perang, revolusi, atau penemuan teknologi yang
besar. Padahal
berkali-kali sejarah bergerak karena keputusan yang lahir dalam ruang yang
sunyi. Keputusan Martin Luther, Rosa Parks, Mahatma Gandhi, dan Edward VIII
semuanya berawal dari pilihan seorang manusia. Sejarah
ternyata adalah kumpulan keputusan pribadi yang akibatnya melampaui kehidupan
pribadi itu sendiri. Karena itulah, tidak ada keputusan yang benar-benar
kecil apabila diambil dengan keberanian dan keyakinan. -000- Ketika saya
meninggalkan St James’s Palace, saya tidak segera mencari kafe atau toko
suvenir. Saya justru berjalan perlahan menyusuri trotoar London yang basah
oleh gerimis musim panas. Entah
mengapa, kisah Edward VIII membawa saya kepada pertanyaan yang sangat
pribadi. Dalam hidup ini, apa sebenarnya mahkota yang selama ini kita
perjuangkan dengan begitu keras? Ada orang
yang mahkotanya adalah jabatan. Ada yang mengejar kekayaan. Ada pula yang
membangun nama besar selama puluhan tahun, seolah itulah ukuran akhir
keberhasilan hidup. Saya sendiri
pernah berada pada persimpangan ketika berbagai kesempatan datang bersamaan.
Semakin bertambah usia, saya justru belajar bahwa keberhasilan tidak selalu
berarti memperoleh lebih banyak. Kadang
keberhasilan berarti mengetahui apa yang harus dilepaskan agar kita tetap
menjadi diri sendiri. Tidak semua kehilangan adalah kegagalan. Sebagian kehilangan
justru menyelamatkan kita dari kehilangan yang lebih besar. Di depan
istana tua itu saya memahami satu hal. Manusia tidak benar-benar diuji ketika
memperoleh segala sesuatu, melainkan ketika harus memilih apa yang paling
layak dipertahankan. -000- Renungan di
trotoar London itu tidak berhenti sebagai getaran sesaat di dalam batin. Ia
membawa saya kembali kepada jejak tertulis sejarah, seolah hati perlu diuji
oleh fakta agar perasaan tidak berubah menjadi legenda. Karena itu,
saya menelusuri dua buku yang memandang kisah Edward VIII dari arah berbeda:
satu lahir dari suara seorang raja yang kehilangan mahkotanya, satu lagi dari
mata sejarah yang membongkar harga tersembunyi di balik cinta tersebut. Dua buku ini
menambah wawasan kita untuk memahami kisah di atas. Buku pertama
berjudul A King’s Story, ditulis
oleh Edward VIII sendiri, 1951. Tidak ada
buku yang lebih dekat kepada pergulatan batin Edward VIII selain memoarnya
sendiri. Buku ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan pengakuan seorang
manusia yang pernah berada di puncak kekuasaan dunia. Edward
menjelaskan bagaimana ia memandang tugas kerajaan, bagaimana cintanya kepada
Wallis tumbuh, dan mengapa ia merasa mustahil memisahkan kehidupan pribadinya
dari tanggung jawab sebagai raja. Dalam
memoarnya Edward VIII menulis dengan jujur: “Sementara itu telah terjadi
sesuatu yang, meski tidak saya sadari saat itu, ditakdirkan mengubah seluruh
arah hidup saya. Saya bertemu Wallis Warfield Simpson.” Satu kalimat
sederhana, namun di dalamnya bersembunyi mahkota yang kelak ia lepaskan. Pembaca
memang perlu menyadari bahwa setiap memoar mengandung sudut pandang
penulisnya sendiri. Namun justru di situlah nilai utamanya, karena kita
melihat manusia di balik simbol mahkota. Buku ini
mengajarkan bahwa sejarah besar sering kali lahir dari pergulatan batin yang
sangat pribadi. Sebelum mengubah arah bangsa, seseorang biasanya lebih dahulu
bergulat dengan dirinya sendiri. -000- Buku kedua
judulnya Traitor King: The Scandalous Exile of the Duke and Duchess of
Windsor. Ia ditulis oleh Andrew
Lownie, 2021. Buku ini
memberikan keseimbangan yang sangat penting. Jika memoar Edward berbicara
dari dalam dirinya, Andrew Lownie berbicara melalui arsip, surat pribadi, dan
dokumen sejarah yang sangat kaya. Lownie
menunjukkan bahwa kehidupan Edward dan Wallis setelah abdikasi jauh lebih
rumit daripada legenda romantis yang dipercaya publik selama puluhan tahun.
Mereka memang tetap hidup bersama hingga akhir hayat Edward. Namun mereka
juga mengalami pengasingan sosial, hubungan yang renggang dengan keluarga
kerajaan. Bayang-bayang kontroversi politik menjelang Perang Dunia Kedua yang
terus membayangi kehidupan mereka. Buku ini
mengingatkan bahwa cinta dapat menjadi alasan seseorang mengambil keputusan
besar. Namun cinta tidak pernah menghapus seluruh konsekuensi yang mengikuti
keputusan tersebut. -000- Sebagian
sejarawan berpendapat bahwa terlalu sederhana jika mengatakan Edward VIII
turun takhta hanya karena cinta. Mereka mengingatkan bahwa ia sejak lama
memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan pemerintah dan kurang menikmati
berbagai kewajiban kerajaan. Sebagian
peneliti juga menunjuk pandangan politik Edward yang kemudian hari dinilai
kontroversial, terutama sikapnya terhadap Jerman pada akhir dekade 1930-an.
Semua itu memang merupakan bagian penting dari konteks sejarahnya. Namun
konteks berbeda dengan penyebab langsung. Krisis konstitusional tahun 1936
pecah karena keputusannya menikahi Wallis Simpson. Tanpa persoalan itu, tidak
ada alasan hukum dan politik yang memaksanya turun takhta pada saat tersebut. Karena itu,
cinta memang bukan satu-satunya latar belakang kehidupan Edward. Namun
berdasarkan konsensus sejarah, cinta tetap merupakan penyebab utama yang
membawa kerajaan Inggris memasuki babak baru. -000- Saya
meninggalkan St James’s Palace dengan langkah yang lebih pelan daripada
ketika datang. Bukan karena istana itu lebih megah daripada bayangan saya,
melainkan karena saya pulang membawa pertanyaan yang lebih besar daripada
sebelumnya. Tidak semua
orang akan diminta memilih antara mahkota dan cinta. Namun setiap manusia
pada akhirnya akan diminta memilih antara apa yang tampak paling gemilang dan
apa yang sungguh memberi makna bagi hidupnya. Sejarah
akhirnya tidak mengingat Edward VIII semata karena ia pernah menjadi raja.
Sejarah mengingatnya karena ia berani memikul seluruh konsekuensi dari
pilihan yang dibuatnya sendiri. Pada
akhirnya, ukuran hidup bukanlah seberapa tinggi mahkota yang pernah kita
kenakan, melainkan seberapa jujur hati yang tetap kita pertahankan ketika
mahkota itu harus kita lepaskan. ● REFERENSI 1. Edward VIII. A King’s Story. Cassell, 1951. 2. Andrew Lownie. Traitor King: The Scandalous
Exile of the Duke and Duchess of Windsor. Blink Publishing, 2021. |