Minggu, 16 Agustus 2026

 

Dear Cinta

Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos

DISWAY, 16 Agustus 2026

 

 

 

Saya lebih suka judul film laris itu dibuat agak mirip dengan judul aslinya: Dear Ah Ma. Bukan Dear You. Terlalu jauh dengan judul asli: Gei Ah Ma de Qing Shu (Surat Cinta untuk Nenek).

 

Dear You adalah film kedua yang saya tonton tahun ini: karena diundang untuk menontonnya. Bersama para pengusaha besar dan Konsul Jenderal Tiongkok di Surabaya: Ye Su.

 

Film itu memang sangat menyentuh, khususnya bagi keturunan para perantau. Anda sudah tahu: film pertama yang saya tonton tahun ini juga karena kebetulan.

 

Saat itu saya sedang dalam penerbangan lintas benua. Untuk mengatur agar tidak jetlag saya tidak boleh tertidur. Bacaan sudah habis. Menulis artikel sudah selesai. Kebetulan ada pilihan film ringan yang sudah lama ingin saya tonton: Michael! Tentang Michael Jackson.

 

Sambil nonton Dear You saya terus bertanya-tanya: mengapa untuk pasar internasional film ini diberi judul Dear You. Di Tiongkok memang sudah biasa: nama asing untuk sebuah merek tidak harus terjemahan dari bahasa asli. Mercy, misalnya, di Tiongkok disebut Benze. Toyota disebut Fengtian. Starbucks dibuat agak mirip dengan artinya: Xing Pa Ke.

 

Mungkin judul Dear You dimaksudkan untuk mendapatkan makna yang lebih luas tapi tetap ''menyasar'' ke hati: you! Pemakaian kata ''dear' juga begitu. Kata 'dear' sering dipakai sebagai pembuka sebuah surat di masa lalu.

 

Film Dear You memang bicara tentang surat-surat dari perantauan di zaman jauh belum ada WA. Tahun 1940-an. Surat-surat cinta itu banyak yang tidak sampai ke alamat.

 

Para perantau di zaman itu juga banyak yang tidak bisa baca tulis. Tapi cinta sejati bisa mencari jalan keluar yang unik. Ada perusahaan jasa membacakan surat. Termasuk jasa menuliskan surat. Sekaligus mengirimkannya. Di masa lalu cinta terlihat lebih suci: begitu sulit menyatakan cinta tapi tetap bisa melakukannya.

 

Kisah Dear You dimulai ketika seorang gadis cantik di desa Shantou –bernama Ye Shurao– dijodohkan oleh orang tuanyi. Tapi bukan calon suami itu yang dia cintai. Akhirnya dia kawin lari dengan pemuda idamannyi sendiri: Zheng Musheng.

 

Suami istri itu pun hidup bahagia. Punya anak tiga.

 

Sampai bencana tiba: perang candu. Kerajaan mewajibkan semua anak muda ke medan perang. Nama Musheng termasuk dalam daftar. Sang istri setuju suaminyi menghilang: merantau ke Nan Yang. Daripada ikut perang dengan risiko tewas di medan perang.

 

Berlayar ke Nan Yang memang amat populer zaman itu. Nan Yang adalah sebutan untuk wilayah yang sekarang disebut Asia Tenggara. Belum ada Malaysia, Singapura mau pun Indonesia saat itu. Semuanya disebut Nan Yang (laut selatan).

 

Dari pelabuhan Shantou, Musheng berlayar meninggalkan istri tercinta dan tiga anak kecilnya. Setelah sebulan di laut Musheng mendarat di tanah Melayu. Lalu pindah ke utara: ke Bangkok. Di Bangkok lebih banyak perantau sekampung: sama-sama bersuku Zhaozhou (Tiuchu). Di Bangkok Musheng bisa serasa di kampung sendiri. Di Bangkok juga lebih banyak perantau dari suku Hakka, tetangga Zhaozhou.

 

Di Tiongkok suku Zhaozhou tinggal di tiga kabupaten paling utara provinsi Guangdong. Lebih dekat ke Xiamen daripada ke ibu kota provinsnya sendiri: Guangzhou.

 

Maka dialog di film Dear You sendiri pakai bahasa Zhaozhou. Bukan Mandarin. Penonton terbantu oleh teks bahasa Inggris dan Indonesia.

 

Selesai menonton saya hampiri seorang wanita kaya asal Singkawang. Dia bersuku Zhaozhou: separo Tionghoa Singkawang memang suku Zhaozhou. Separonya lagi suku Hakka.

 

Wanita itu istri seorang pengusaha terkaya Surabaya meski sang pengusaha selalu tampil seperti orang kebanyakan. Perusahaan kopinya terbesar di Indonesia. Punya pabrik kopi di beberapa negara.

 

"Apakah Anda mengerti sepenuhnya dialog di film tadi?" tanya saya.

 

"Mengerti separo," katanyi.

 

"Kan Anda orang Zhaozhou....".

 

"Iya, tapi itu bahasa asli di sana," jawabnyi.

 

Lalu saya menoleh ke suaminyi. Ia suku Fujian dari nenek moyang di Quangzhou.

 

"Anda mengerti berapa persen?"

 

"Hanya mengerti satu dua kata," jawabnya.

 

"Anda tadi menangis?" tanya saya lagi.

 

"Tidak," jawabnyi.

 

"Saya menangis...." kata saya.

 

Memang, dua kali saya berlinang air mata.

 

Cinta Musheng ke Ye Shurao sangat murni. Biar pun di rantau masih tetap miskin ia tetap kirim surat sebulan sekali. Di surat itu disertakan uang 20 dolar Hongkong. Sang istri juga selalu kirim surat balasan ke suami: mengabarkan keadaan dan perkembangan tiga anak mereka.

 

Di rantau Musheng kos satu kamar berdesakan empat orang. Juragan kos-kosan yang selalu mabuk itu punya anak gadis nan jelita. Namanyi: Xie Nanzhi. Gadis anak juragan itu juga buta huruf. Si gadis sangat terkesan dengan Musheng yang baik hati dan pekerja keras. Apalagi ketika rumah kos-kosan itu terbakar. Sang juragan sedang mabuk. Tidak sadar kalau rumahnya sedang dilalap api. Anak gadisnya, Nanzhi, sampai harus menggendong sang ayah, tapi selalu jatuh tersungkur di tengah nyala api yang berkobar.

 

Musheng masuk rumah menerobos api. Maunya menyelamatkan uang simpanan yang akan dikirim ke istri di kampung halaman. Tapi ia melihat si gadis kesulitan menyelamatkan ayahnyi. Ia gendong juragannya menerobos api. Selamat. Lalu ia bergegas balik menembus api: ingin selamatkan uangnya. Terlambat. Uang sudah terbakar.

 

Musheng pun mencari siapa yang membakar rumah itu: ketemu! Yakni investor yang pernah datang untuk membeli rumah kos-kosan itu. Harga tidak cocok. Ia akan menjadikannya real estate. Musheng pun menghajar investor itu. Babak belur. Musheng ditangkap polisi. Dimasukkan penjara.

 

Saat Musheng di penjara si gadis sudah mulai bisa membaca. Nanzhi diam-diam mengintip pelajaran membaca untuk anak-anak perantau di salah satu kamar kamar kos.

 

Setiap kali ada surat dari istri Musheng dia antarkan surat itu ke penjara. Sambil bawa makanan untuk Musheng yang telah berjasa menyelamatkan ayahnyi. Musheng minta si gadis membacakan isi surat istrinya. Dari surat menyurat itu si gadis pun tahu betapa murni cinta mereka.

 

Selama Musheng di penjara tentu tidak punya penghasilan. Musheng juga tidak mau istrinya tahu kalau suaminyi sedang kena musibah. Sang istri sendiri yakin suaminyi baik-baik saja di rantau. Buktinya tiap bulan masih kirim surat dan masih kirim uang dengan jumlah yang sama.

 

Sang istri tidak tahu kalau yang selalu kirim surat dan uang itu sebenarnya si gadis Nanzhi.

 

Sekeluar dari penjara Musheng dapat pekerjaan sebagai penarik becak. Becak gaya Thailand. Lama-lama hasilnya bisa untuk menyewa kapal kayu. Musheng pun punya kapal kecil. Ia mulai jadi pengusaha angkutan sungai.

 

Si gadis tahu Musheng sudah punya penghasilan. Sudah bisa kirim uang sendiri. Dia tidak perlu lagi menulis 'surat palsu' ke istri Musheng.

 

Musibah lagi. Di dermaga kapal itu ada perampokan. Di kegelapan malam Musheng membantu menangkap orang yang merampok perahu di sebelah perahunya. Musheng kalah. Tewas. Dibuang ke laut.

 

Si gadis anak juragan amat sedih kehilangan orang yang amat dia sayangi. Dia sampai bikin papan arwah (神主牌) Musheng. Papan arwah itu ditaruh di kelenteng. Si gadis sembahyangi terus papan arwah itu secara rutin.

 

Bertahun-tahun pula gadis Nanzhi selalu kirim surat ke istri Musheng seolah sang suami baik-baik saja. Nanzhi juga terus kirim uang seakan-akan dari suami.

 

Ketika usia gadis Nanzhi kian tua dia berada di satu dilema besar: apakah akan tetap terus menulis surat ke istri Musheng –seolah Musheng masih hidup. Atau mulai berterus terang bahwa Musheng sudah lama meninggal dunia.

 

Dia putuskan: tidak. Dia tidak sampai hati membayangkan betapa sedih istri Musheng. Maka, si gadis tiap bulan tetap kirim uang ke istri Musheng. Disertai surat cinta seperti biasanya. Sang istri juga selalu membalas surat itu.

 

Pernah uang kiriman itu dipakai sang istri ke kota: untuk berfoto keluarga. Sang istri ingin suaminyi tahu bahwa dia masih tetap cantik dan anak-anak mereka sudah mulai sekolah.

 

Si gadis sangat sedih setiap kali membaca surat balasan istri Musheng. Melihat foto anak-anak Musheng, si gadis tidak hanya kirim uang tapi juga kirim sepeda. Betapa senang mereka menerima kiriman sepeda. Anak-anak itu pun belajar naik sepeda. Pun sang istri.

 

Mereka pun berkesimpulan Musheng baik-baik saja, bahkan penghasilannya mulai besar. Bisa kirim sepeda.

 

Akhirnya si gadis yang mulai berumur memutuskan: saatnya berterus terang bahwa Musheng sudah lama meninggal dunia. Tapi itu harus dijelaskan dengan surat yang amat panjang. Dia sertakan pula foto ketika Musheng dan dirinyi berfoto bersama beberapa anak perantau yang belajar membaca di rumah kos-kosan.

 

Surat panjang itu tidak pernah sampai. Tukang pos-nya terpeselet masuk sungai yang airnya deras. Semua surat hanyut. Yang terselamatkan hanya satu foto tadi.

 

Foto itulah yang dikirim ke rumah sang istri. Bencana. Melihat foto itu sang istri mengira suaminyi kawin lagi di rantau dan sudah punya banyak anak. Habislah hatinyi. Hancurlah cinta sucinyi. Sangat kecewa.

 

Apalagi sejak itu dia tidak pernah menerima surat lagi dari sang suami. Si gadis memang tidak merasa perlu menulis surat lagi karena di surat terakhir sudah diberitahukan bahwa Musheng sudah meninggal.

 

Sang istri menderita batin sampai tua. Sampai sudah punya cucu. Zaman juga sudah berubah. Apalagi di Tiongkok. HP sudah jadi barang biasa.

 

Maka cucu yang di Shantou ingin mencari kakek mereka ke Bangkok. Dengan hati marah. Sang cucu ke Bangkok dengan niat merebut harta waris.

 

Berdasar alamat di surat-surat masa lalu ditemukanlah "istri" kakeknya. Punya rumah bagus. Sang cucu mendamprat habis wanita itu sebagai tidak berhak atas harta waris kakeknya. Istri yang sah, yang berhak atas warisan, adalah ibunya yang di Shantou.

 

Akhirnya si cucu tahu bahwa kakek mereka tidak pernah kawin di rantau. Tidak pula punya harta. Mati muda. Akhirnya tahu wanita yang didamprat tadi adalah wanita luar biasa baik pada keluarganya.

 

Sang cucu menghubungi neneknya lewat video call. Dijekaskanlah semuanya. Istri Musheng pun menyesal telah bersedih seumur hidupnyi. Cinta suami ternyata masih tetap murni sampai akhir hayatnya.

 

Akhirnya, setelah sangat tua, sang istri ingin bertemu wanita baik itu. Dia ke Bangkok. Pakai pesawat. Ketika akhirnya bertemu wanita baik tadi dia kecewa: wanita itu telah pikun. Tidak ingat apa pun, termasuk namanyi.

 

Tentu tidak semua perantau, kala itu, seperti Zheng Musheng. Banyak juga perantau yang kawin lagi dengan wanita lokal. Lalu terjadi masalah ketika istri yang di sana menyusul ke sini.

 

Dear You adalah film Tiongkok yang sangat sukses. Biaya pembuatannya hanya USD2 juta. Hasil sementaranya sudah USD260 juta. Memang masih kalah jauh dari film Avatar –yang hasilnya masuk hitungan miliar dolar.

 

Film Dear You, produksi Shenzhen, adalah kisah perjuangan berat para perantau. Bagi generasi sekarang itu bisa jadi pendorong semangat betapa berat kehidupan pendahulu mereka.

 

Di zaman ini yang seperti itu tidak bisa terjadi lagi. Istri zaman sekarang selalu bisa mengejar: sedang di mana, dengan siapa...

 

Sumber :    https://disway.id/catatan-harian-dahlan/963115/dear-cinta

 

Shivaji di Hati Khalid

Ahmadie Thaha :  Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an.

CATATAN CAK AT, 16 Agustus 2026

 

                                                

 

Seorang anak Muslim ingin menjadi Shivaji. Justru karena itu ia dipersoalkan. Film India ini membuka pertanyaan yang lebih besar: siapa sebenarnya pemilik sejarah?

 

Sejarah sering kali bernasib seperti rumah tua yang diwariskan kepada banyak anak. Selama semua sepakat merawatnya, rumah itu menjadi tempat berteduh bersama. Tetapi ketika masing-masing merasa sebagai pemilik tunggal, rumah yang sama berubah menjadi medan sengketa.

 

Yang diperebutkan bukan lagi dinding atau atapnya, melainkan hak untuk berkata, "Ini milikku." Begitulah nasib Chhatrapati Shivaji Maharaj di India hari ini. Semakin besar penghormatan kepadanya, semakin keras pula perebutan atas makna yang diwariskannya.

 

Dalam dua tahun terakhir, lahir dua film yang sama-sama berbicara tentang seorang raja besa India, bernama Shivaji, tetapi memilih jalan yang sangat berbeda. Bahkan sedang disiapkan film panjang Shivaji Raje Bhosale yang ditargetkan tayang tahun 2028.

 

Film Raja Shivaji (2026) menghadirkan kisah seorang raja sebagaimana lazimnya film epik: panglima perang, penakluk benteng, simbol kejayaan Maratha. Sebaliknya, film Khalid Ke Shivaji (2025) justru mengajak penonton melihat Shivaji, raja beragama Hindu, dari mata seorang anak Muslim kelas lima bernama Khalid.

 

Perbedaan sudut pandang itu tampak sederhana, tetapi justru di sanalah letak keberanian film Khalid Ke Shivaji. Ia tidak bertanya bagaimana Shivaji memenangkan peperangan, melainkan bagaimana nilai-nilai Shivaji dapat hidup di hati seorang anak yang berbeda agama.

 

Pilihan itu ternyata mengusik banyak pihak. Trailer film Khalid Ke Shivaji memicu protes dari kelompok-kelompok Hindu sayap kanan karena memuat dialog yang menyebut adanya pengawal Muslim dalam pasukan Shivaji serta keberadaan masjid di Raigad. Sebagian sejarawan sendiri mengingatkan bahwa beberapa klaim tersebut memang belum memiliki bukti primer yang kuat.

 

Perdebatan akademik seperti itu tentu wajar. Sejarah berkembang justru karena keberanian menguji sumber, bukan karena kesediaan menerima setiap cerita tanpa kritik. Masalah muncul ketika diskusi ilmiah berubah menjadi tuntutan pelarangan, tekanan politik, bahkan penyensoran karya seni sebelum masyarakat sempat menontonnya secara utuh.

 

Di sinilah kita perlu membedakan dua hal yang sering dicampuradukkan. Mempertanyakan akurasi sejarah adalah pekerjaan ilmuwan. Tetapi menolak sebuah gagasan hanya karena berusaha menghadirkan tokoh sejarah sebagai milik semua warga negara adalah persoalan yang berbeda.

 

Yang pertama menjaga integritas ilmu pengetahuan. Yang kedua berisiko mengubah sejarah menjadi pagar identitas. Padahal tokoh sebesar Shivaji tidak menjadi besar karena hanya dicintai satu kelompok, melainkan karena pengaruhnya melampaui batas-batas komunitasnya sendiri.

 

Yang menarik, kontroversi itu seakan meniru jalan cerita filmnya sendiri. Dalam dunia fiksi, Khalid dipersoalkan karena ia seorang Muslim yang mengagumi Shivaji. Di dunia nyata, Khalid Ke Shivaji juga mengalami nasib serupa.

 

Padahal pesan yang hendak disampaikan Raj Pritam More sesungguhnya sangat sederhana, bahkan selama puluhan tahun pernah menjadi pelajaran sejarah di sekolah-sekolah India: bahwa Shivaji adalah pemimpin yang berusaha mempersatukan rakyatnya tanpa membedakan agama, kasta, maupun kelas sosial.

 

Namun di tengah menguatnya politik identitas, gagasan yang dahulu dianggap biasa itu kini justru berubah menjadi kontroversi. Shivaji yang selama berabad-abad dipandang sebagai kebanggaan Maharashtra perlahan direbut menjadi simbol eksklusif Hindutva, sehingga setiap upaya menampilkan sisi inklusifnya segera dicurigai sebagai ancaman ideologis.

 

Film ini juga cerdas karena tidak memulai cerita dari pertikaian agama, melainkan dari persoalan yang jauh lebih membumi. Di sebuah desa kecil di Maharashtra, warga mengeluhkan jalan rusak dan kesulitan air bersih. Alih-alih menyelesaikan kebutuhan dasar itu, kepala desa justru menggagas pembangunan sebuah kuil.

 

Menariknya, warga Hindu maupun Muslim sama-sama mempertanyakan prioritas tersebut. Adegan singkat ini seolah menyindir kenyataan politik modern: masyarakat biasa sering kali lebih waras daripada para pemimpinnya.

 

Raj More seperti hendak mengatakan bahwa kehidupan sehari-hari sesungguhnya menyediakan ruang hidup bersama yang cukup luas, tetapi ruang itu terus dipersempit oleh politik identitas yang lebih sibuk mengurus simbol daripada kesejahteraan rakyat.

 

Dari titik itulah perjalanan Khalid menjadi semakin mengharukan. Ia tidak dibesarkan dalam keluarga yang fanatik. Orang tuanya hidup sederhana, bahkan tidak terlalu menekankan ritual keagamaan.

 

Namun sejak teman-temannya mulai mengejeknya sebagai "Afzal Khan", ia mendadak dipaksa memikul beban identitas yang terlalu berat untuk anak berusia sebelas tahun.

 

Guru sejarahnya, Salve, berusaha menghiburnya dengan mengatakan bahwa yang tidak memiliki sejarah tidak akan memiliki masa kini, bahkan menjawab pertanyaan Khalid tentang agama Afzal Khan dengan kalimat sederhana, "Memangnya kenapa?"

 

Akan tetapi, justru di situlah ironi film ini. Orang-orang dewasalah yang membuat pertanyaan itu menjadi penting. Raj More memperlihatkan bagaimana prasangka tidak lahir dari kebencian yang besar, melainkan dari ejekan yang dianggap biasa, dari label yang terus diulang, hingga akhirnya seorang anak belajar melihat dirinya sebagai "yang berbeda".

 

Ketika ayah Khalid berkata, "Raja yang sejati menempatkan kemanusiaan di atas agama," Khalid hanya menjawab lirih, "Seandainya kami hidup pada zaman itu." Kalimat sederhana tersebut menjadi kritik yang sangat tajam terhadap India hari ini: barangkali yang semakin jauh bukan warisan Shivaji, melainkan kemampuan masyarakat untuk mewarisi semangatnya.

 

Film ini sebenarnya tidak sedang berusaha mengislamkan Shivaji atau mengurangi kebesaran tokoh tersebut. Raj Pritam More, dengan Khalid Ke Shivaji, justru melakukan sesuatu yang jauh lebih menarik: mengembalikan Shivaji dari patung ke ruang kelas. Dari monumen ke buku pelajaran. Dari slogan politik ke rasa ingin tahu seorang anak.

 

Ketika Khalid mulai mengagumi Shivaji, ia tidak sedang berpindah agama ataupun mengkhianati identitasnya. Ia sedang belajar bahwa keberanian, keadilan, dan kepemimpinan bukanlah milik eksklusif siapa pun. Nilai-nilai itu dapat menginspirasi siapa saja yang bersedia mempelajarinya.

 

Puncak cerita menjadi begitu menyentuh ketika Khalid dipersiapkan memerankan Shivaji dalam pertunjukan sekolah. Ia berlatih dengan tekun, menghafal dialog, bahkan berusaha memahami watak sang raja. Namun kesempatan itu akhirnya direnggut bukan karena ia gagal memerankan tokohnya, melainkan karena ia bernama Khalid.

 

Adegan itu memang fiksi, tetapi daya gugahnya justru lahir karena terasa sangat dekat dengan kenyataan. Diskriminasi jarang dimulai dengan ledakan kebencian. Ia lebih sering hadir sebagai keputusan-keputusan kecil yang perlahan mengajari seseorang bahwa nama, agama, atau asal-usulnya lebih penting dari kemampuan dan integritasnya.

 

Ironinya, film Khalid Ke Shivaji menunjukkan bahwa fanatisme tidak mengenal agama. Kelompok ekstrem dari dua komunitas yang berbeda akhirnya berdiri di sisi yang sama: sama-sama menolak Khalid menjadi Shivaji.

 

Paradoks itu mengingatkan kita bahwa intoleransi mempunyai banyak wajah, tetapi selalu memakai logika yang serupa. Ia selalu membutuhkan "orang lain" untuk ditolak. Ia selalu merasa paling berhak menentukan siapa yang boleh mencintai sejarah dan siapa yang tidak.

 

Padahal, jika membaca berbagai kajian sejarah secara lebih utuh, sosok Shivaji jauh lebih kompleks daripada sekadar simbol perlawanan Hindu terhadap kekuasaan Mughal. Banyak peneliti mencatat sikapnya yang menghormati tempat-tempat ibadah, melindungi perempuan dalam wilayah konflik, dan memisahkan permusuhan politik dari permusuhan agama.

 

Detail-detail tertentu memang masih diperdebatkan para ahli, tetapi gambaran umum mengenai kepemimpinannya yang mengutamakan keadilan memperoleh tempat penting dalam historiografi India. Justru karena itulah warisan Shivaji tidak layak dipersempit menjadi alat mobilisasi identitas politik masa kini.

 

Fenomena ini sesungguhnya tidak hanya terjadi di India. Hampir setiap bangsa pernah mengalami godaan untuk "memonopoli" pahlawannya. Tokoh sejarah dipilih bukan berdasarkan keluasan gagasannya, melainkan berdasarkan kegunaannya dalam pertarungan politik hari ini.

 

Ketika itu terjadi, sejarah berhenti menjadi guru kehidupan dan berubah menjadi gudang amunisi. Orang tidak lagi datang untuk belajar, tetapi untuk mencari peluru bagi perdebatan yang sudah lebih dahulu mereka menangkan di dalam pikirannya.

 

Barangkali itulah sebabnya seorang anak sering kali lebih bijaksana daripada orang dewasa. Khalid tidak melihat Shivaji sebagai milik Hindu atau milik Muslim. Ia melihat seorang pemimpin yang pantas dikagumi. Sesederhana itu.

 

Justru kesederhanaan itulah yang hilang ketika orang dewasa mulai membungkus sejarah dengan pagar-pagar identitas. Mereka sibuk menjaga patungnya, tetapi lupa merawat nilai-nilai yang dahulu membuat tokoh itu layak dikenang.

 

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar yang diajukan film ini bukanlah apakah semua dialognya akurat secara historis. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah sebuah bangsa cukup percaya diri untuk membiarkan anak-anaknya mengagumi tokoh besar tanpa terlebih dahulu memeriksa agama mereka?

 

Sebab apabila seorang Khalid tidak lagi boleh mengagumi Shivaji, sesungguhnya yang kehilangan bukan hanya Khalid. Bangsa itulah yang perlahan kehilangan kemampuan menjadikan sejarah sebagai ruang perjumpaan, bukan arena permusuhan.

 

Dan ketika sejarah tidak lagi mampu mempertemukan manusia, ia hanya akan menjadi monumen yang dipenuhi karangan bunga, tetapi kosong dari jiwa yang dahulu melahirkannya. ●

 

Sumber :   Tulisan Cak AT ini diterima langsung dari Ahmadie Taha