|
Kita Adalah Makhluk Infosfer Ayu Utami : Bekerja di dunia sastra sebagai penulis,
kurator dan direktur Literature & Ideas Festival (LIFEs) di Komunitas
Salihara |
TEMPO MINGGUAN, 14
Juni 2026
|
·
Manusia tak lagi hidup di area biosfer
atau atmosfer, tapi infosfer, dalam informasi. ·
Akal imitasi pun bisa menjadi sesembahan
baru, terutama bagi mereka yang gemar memuja. · Kolonialisme
tak lagi menjajah tubuh, tapi melakukan apropriasi data yang mengubah
kehidupan personal menjadi informasi. FILSAFAT
yang dibutuhkan hari ini, menurut Luciano Floridi, bukan filsafat yang
timeless, melainkan filsafat yang timely. Bukan yang abadi, melainkan yang
inilah saatnya. Sekaranglah, kata dia, waktu kita menyadari dunia terbangun
di atas informasi. Kita hidup tak lagi dalam biosfer atau atmosfer, tapi
dalam “infosfer”. Makhluk di dalamnya adalah “organisme informasi” atau
“inforg”, yang bukan hanya manusia, melainkan juga nonmanusia. Yang dimaksud
nonhuman terutama adalah akal imitasi (AI). Floridi
filsuf berlatar sains komputer. Ia menulis tetralogi Filsafat Informasi,
Logika Informasi, Etika Informasi, dan, yang belum terbit, Politik Informasi.
Membaca buku-buku ini, saya seperti masuk ke alam yang digambarkan science
fiction, yang anehnya sudah terjadi tanpa saya sadari. Apa-apa yang dalam
kehidupan sehari-hari kita pahami secara intuitif coba ia rumuskan dalam
perhitungan matematis agar inforg nonhuman—organisme yang bukan manusia
ataupun hewan—bisa memprosesnya. Ia seperti mencoba menerjemahkan bahasa
manusia yang asosiatif ke dalam bahasa biner. Meski
menyebutnya organisme—ya, inforg—Floridi tidak melihat AI sebagai makhluk
yang berkesadaran (sentient being). Ini membedakan dia dengan Geoffrey E.
Hinton, pemenang Hadiah Nobel Fisika 2024. Penemu mesin pembelajaran dengan
jaringan saraf tiruan—teknologi yang memungkinkan AI—itu kini melihat AI
memiliki kesadaran sendiri yang tak bisa diprediksinya lagi. Dengan
mata yang tampak prihatin dan bernubuat, Hinton, dalam banyak wawancara,
mengatakan ia sedih terlibat dalam pengembangan teknologi ini, yang sangat
jelas menuju otoritarianisme. Hinton seperti Tuhan, atau setidaknya Dr
Frankenstein dalam novel Mary Shelley, menyadari ciptaannya bisa berpikir dan
bertindak di luar kendalinya dan menjadi buas. Floridi
berbeda. AI ia lihat sebagai augmented intelligence. Dalam istilah
ini—“kecerdasan yang ditambahkan atau dilipatkan”—ada makna ke luar, bukan ke
dalam. Eksterioritas, bukan interioritas atau batin. AI tidak benar-benar
berkesadaran. Meski bisa sangat cerdas, sangkil, dan mangkus, menurut
Floridi, AI hanya memproses informasi tanpa pengertian sesungguhnya. Floridi
ataupun Hinton toh sama-sama mendorong regulasi terhadap AI. Perbedaan
pandangan keduanya sebenarnya tak jadi masalah jika orang tidak digerakkan
oleh nafsu dan glorifikasi. Tapi, bagi siapa saja yang suka memuja, AI bisa
dengan segera menjadi berhala. Kita tahu, konsep Tuhan adalah perihal yang
melebihi, supra, dan maha. Maka segala yang super, termasuk
superintelligence, mudah menjadi kiblat baru. Kebenaran dan kebaikan
diukurkan kepadanya. Dua
tahun lalu, Floridi mengomentari tulisan Paus Fransiskus, “Kecerdasan
Artifisial dan Kebijaksanaan Hati: Menuju Komunikasi yang Sungguh Manusiawi”.
Ia menekankan tiga tegangan: antara netralitas dan tanggung jawab, antara
kebersamaan dan kesendirian manusia, antara regulasi dan spiritualitas. Tegangan
pertama mudah dijelaskan: teknologi tidak pernah netral, maka kita harus
bertanggung jawab. Dalam tetraloginya, tampaknya ia hendak menyediakan sistem
tempat inforg nonhuman juga bisa dibuat untuk bertanggung jawab. Etika tidak
hanya disematkan kepada manusia, tapi juga kepada sistem informasi. Ini
terobosan penting, yang keberhasilannya masih harus diharapkan. Tegangan
kedua dan ketiga lebih subtil, karena masuk ke batin manusia. Tampaknya ia
tahu dua tegangan ini bukan wilayah filsafat dan sains lagi, melainkan agama
dan spiritualitas. Tulisnya, “Kalau saja saya lebih berani dan beriman, saya
juga akan bilang begitu.” Maksudnya anjuran Paus Fransiskus bahwa regulasi
memang penting, tapi tidak cukup untuk menghadapi AI. Yang dibutuhkan
adalah—ia mengutip Romano Guardini—“manusia baru, yang dianugerahi
spiritualitas lebih dalam, serta kebebasan dan batin baru”. Manusia yang di
dalam batinnya ada roh kebebasan. Tapi filsafat perlu agnostik dan tidak
bicara atas dasar wahyu. Sebenarnya
“spirit” atau “roh” tidak harus dimengerti seperti dalam agama. Tradisi
filsafat Jerman memaknai “Geist” juga sebagai peradaban, terutama perihal
aspek nilai-nilainya, seperti dalam istilah Zeitgeist atau semangat zaman.
Maka kita bisa juga membaca ajakan Fransiskus, Guardini, atau baru-baru ini
Leo XIV, dengan sikap nonreligius, jika perlu. Yang
dibutuhkan adalah spirit zaman yang tak mau tunduk dan memuja kedigdayaan AI.
Spirit zaman itu, “spiritualitas” itu, dipelihara oleh sastra, seni,
filsafat, selain oleh sumber-sumber agama, dalam kehidupan bersama. Jika kita
tidak punya dasar yang sama untuk bicara mengenai kebebasan, setidaknya kita
masih punya dasar sama untuk menolak dominasi dan kolonialisme baru. Léocadie
Lushombo, teolog perempuan kulit hitam, berbicara dalam presentasi ensiklik
pertama Leo XIV, “Magnifica Humanitas”, di Vatikan: “Bahkan kini kolonialisme
mengambil bentuk baru. Bukan lagi hanya dominasi pada tubuh, melainkan dalam
bentuk apropriasi data yang mengubah kehidupan personal kita menjadi
informasi, yang bisa dieksploitasi.” Itulah
yang kita alami ketika mengakses teknologi digital. Tapi, bagi Lushombo,
kolonialisme yang lama pun belum hilang. Mengutip ensiklik, “Di banyak
belahan dunia, anak dan remaja bekerja dalam kondisi berbahaya, ketika unsur
langka bumi ditambang. Tubuh-tubuh dipaksa, dilukai, dan diauskan agar arus
komputasi bisa mengalir lancar.” Infosfer,
yang dibayangkan Floridi, pada akhirnya harus mengingat juga materialitas
yang memungkinkannya. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/planet-infosfer-akal-imitasi-2268929
|