|
Satu Abad Gontor dan Pertanyaan yang tak
Pernah Usai Abd Rohim Ghazali : Senior Fellow Maarif Institute, Wakil Ketua Lembaga
Hikmah dan Kebijakan Publik Pimpinan Pusat Muhammadiyah. |
MEDIA INDONESIA, 23 September 2026
|
SABTU, 19 September 2026 Pondok Modern Gontor
genap berusia satu abad. Usia yang sudah tidak muda lagi, bahkan jauh lebih
tua daripada Republik. “Ini bukan perayaan,” kata KH Hasan Abdullah Sahal,
salah satu pemimpin pondok, “ini peringatan supaya kita tetap bersyukur.” Seratus tahun bukan perjalanan yang mudah.
“Gontor awalnya adalah singkatan dari nggon kotor alias tempat yang kotor.
Klenik, khurafat, bahkan semua kemaksiatan mo limo ada di sini,” lanjut Kiai
Hasan di hadapan Presiden Prabowo Subianto, para menteri, sejumlah duta besar
negara-negara sahabat, para alumnus, dan ribuan santri. “Alhamdulillah
sekarang jadi nggon (tempat) inspirator,” sambungnya disambut gemuruh tepuk
tangan hadirin. Dalam setiap memulai tahun ajaran baru, di
hadapan ribuan santri, pemimpin Pondok Modern Gontor selalu melontarkan
pertanyaan: Di Gontor, apa yang kau cari? Pertanyaan itu tidak pernah
benar-benar dijawab secara gamblang pada saat dilontarkan. Ia dibiarkan
mengendap di benak para santri, dibawa pulang ke kamar, kelas, masjid, dapur,
toilet, dan ke tahun-tahun panjang sesudahnya. Saya mendengarnya pertama kali pada 1983, saat
menjadi siswa baru dan terus berlanjut setiap tahun hingga meninggalkan
Gontor 1987. Empat puluh tahun kemudian saya baru sadar bahwa pertanyaan itu
memang dirancang untuk tidak pernah usai. Sejatinya, sebelum 19 September 1926, sudah ada
pondok di Gontor, tapi sudah meredup sampai nyaris tidak bersisa. Tiga
bersaudara, Kiai Ahmad Sahal, Kiai Zainuddin Fananie, dan Kiai Imam Zarkasyi,
memulai kembali dari yang tersisa. Mereka tidak mewarisi kejayaan. Mereka
mewarisi puing dan memutuskan untuk berjalan. Man sara 'ala ad-darbi washala. Siapa berjalan
pada jalannya, ia akan sampai. Itulah tekad tiga bersaudara yang kemudian
populer sebagai Trimurti. Sepuluh tahun kemudian, pada 1936, barulah
Kulliyatul Mu'allimin al-Islamiyah (KMI) berdiri. Sepuluh tahun bukan waktu
yang pendek untuk sebuah kesabaran yang belum tahu ujungnya. Namun, man
shabara zhafira, siapa yang bersabar akan beruntung. TIDAK BIASA Pada 1966, ketika Gontor baru berumur 40 tahun,
seorang peneliti bernama Lance Castles menulis catatan pendek tentang pondok
itu di jurnal Indonesia terbitan Cornell: Notes on the Islamic School at
Gontor, Indonesia. Tulisan itu tidak panjang, tetapi sampai hari ini
masih terus dirujuk orang. Alasannya sederhana. Castles menemukan sesuatu
yang tidak biasa, yang tak bisa dimasukkan ke kategori yang tersedia waktu
itu. Belakangan Zamakhsyari Dhofier (1982), dalam
Tradisi Pesantren, menyusun anatomi pesantren Indonesia ke dalam lima unsur:
pondok, masjid, santri, pengajaran kitab kuning, dan kiai. Ia juga
menunjukkan dunia pesantren tersambung oleh jaringan kekerabatan, dan
kepemimpinan mereka umumnya berpindah mengikuti garis keturunan. Terhadap gambaran itu, Gontor tergolong tak biasa
(khariqul ‘adah). Kitab kuning bukan porosnya. Bahasa Arab dan Inggris
diwajibkan sebagai bahasa sehari-hari, bukan sekadar mata pelajaran. Yang
paling menyimpang dari pola, kepemimpinan mereka tidak berpindah melalui
darah. Justru pada penyimpangan terakhir itulah, menurut saya, seluruh
penjelasan tentang Gontor bermuara. KEPUTUSAN YANG SULIT DIJELASKAN Pada 1958, Trimurti mewakafkan Gontor kepada umat
Islam. Coba renungkan sebentar apa artinya. Tiga orang membangun sesuatu dari
nyaris tidak ada, selama 32 tahun, dengan tenaga, harta, dan pikiran mereka
sendiri. Lalu pada saat lembaga itu mulai tegak, mereka menyerahkannya, dan
dengan itu melepaskan hak untuk mewariskannya kepada anak-anak mereka. Bertahun-tahun kemudian saya menemukan bahwa
persoalan yang mereka selesaikan hari itu punya nama di ruang kuliah. Max
Weber (1978) menyebutnya rutinisasi karisma, yaitu apa yang terjadi pada
sebuah gerakan ketika orang yang mewibawainya tidak ada lagi. Setiap gerakan
menghadapi ujian itu dan tidak semuanya lulus. Kewibawaan pribadi harus
berpindah menjadi aturan, jabatan, dan sistem, atau gerakan itu akan ikut
dikubur bersama pendirinya. Sebagian besar pesantren menjawab ujian itu
dengan cara yang paling alamiah, yaitu menyerahkannya kepada anak. Gontor
memilih jalan yang jauh lebih mahal. Ia mengubah dirinya dari milik menjadi
amanah dan menyerahkan kewenangan tertinggi kepada sebuah badan, bukan kepada
seseorang. Ada satu hal lagi yang membuat keputusan itu
menarik bahkan bagi orang yang tidak peduli pada pesantren. Timur Kuran,
dalam kajiannya tentang sebab-sebab kemunduran ekonomi dunia Islam, justru
menuduh wakaf sebagai salah satu penghambat karena harta yang diwakafkan
terkunci pada tujuan yang ditetapkan pewakaf dan sulit menyesuaikan diri
dengan zaman yang berubah. Gontor merumitkan tuduhan itu. Yang diwakafkan
Trimurti bukan sebidang tanah dengan peruntukan yang dibekukan, melainkan
sebuah lembaga berikut badan yang berwenang memutuskan. Wakaf di sini tidak
mengunci. Ia justru melepaskan. Ia tidak membekukan tujuan, tetapi
membebaskan lembaga dari kepemilikan pribadi, yang dalam sejarah kita justru
paling sering menjadi sebab kebekuan. Mereka melakukannya pada saat mereka masih cukup
berkuasa untuk memilih sebaliknya. Semboyan yang dilontarkan salah seorang
dari mereka, Kiai Ahmad Sahal, menjadi terang artinya dalam bingkai itu. Bondo, bahu, pikir, lek perlu sak nyawane pisan.
Harta, tenaga, pikiran, bila perlu sekalian dengan nyawa. Ada kalimat lain yang kami dengar berulang-ulang;
berjasalah, tetapi jangan minta jasa. Dulu kami mengangguk tanpa benar-benar
mengerti. Kemudian kami bekerja di dunia nyata dan mengerti bahwa
kalimat-kalimat itu termasuk perkara tersulit yang pernah diminta dari
seorang manusia. PANCAJIWA Keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah
Islamiyah, dan kebebasan. Itulah lima landasan pokok yang menjiwai Pesantren
Gontor. Philip Selznick pernah membedakan organisasi dari institusi dan
bedanya kira-kira begini: organisasi ialah alat untuk menyelesaikan
pekerjaan, sedangkan institusi ialah organisasi yang sudah disusupi nilai
sampai orang mempertahankannya bukan karena berguna, melainkan karena
bermakna. Pancajiwa ialah persis pekerjaan itu, dilakukan jauh sebelum
istilahnya sampai ke sini. Keikhlasan kami pelajari dari guru-guru muda yang
mengajar tanpa gaji, yang usianya hanya terpaut beberapa tahun dari kami, dan
yang tetap berdiri di depan kelas setiap pagi. Kesederhanaan kami pelajari dari lemari kayu,
dari antre mandi sebelum subuh, dan dari kenyataan bahwa anak pejabat dan
anak petani memakai sarung yang sama dan tidur di kamar yang sama, beralaskan
kasur tipis pembatas antara lantai yang dingin dan tubuh para santri, dengan
selimut ala kadarnya. Berdikari kami pelajari ketika menyadari bahwa
pondok ini menghidupi dirinya sendiri. Waktu itu kami mengira itu soal
berhemat. Belakangan baru terasa bahwa kemandirian ekonomi ialah syarat bagi
sesuatu yang jauh lebih mahal, yaitu kemampuan berkata tidak. Samuel
Huntington (1968) menyebut kemampuan sebuah lembaga menjaga nilai mereka
sendiri dari dikte pihak luar sebagai otonomi, dan menempatkannya sebagai
salah satu ukuran apakah lembaga itu sungguh melembaga atau sekadar bertahan. Ukhuwah kami pelajari dari kamar yang dihuni
santri dari Aceh sampai Papua, dari Miangas sampai Pulau Rote, dan tidak
sedikit pula santri dari mancanegara. Ia menjadi kalimat pengikat sekaligus
penanda Gontor yang berdiri di atas dan untuk semua golongan. Kalimat penanda itu perlu dibaca dalam suasana
zamannya. Pada dekade ketika hampir setiap lembaga keagamaan di negeri ini
ditarik masuk ke orbit partai, keputusan untuk tidak berpihak ialah keputusan
yang merugikan dalam jangka pendek. Itulah harga yang dibayar untuk otonomi
tadi. Otonomi itulah yang kemudian memungkinkan Gontor melintasi beberapa
pergantian rezim tanpa ikut tumbang bersama salah satunya. Kebebasan, jiwa kelima, yang paling sering
disalahpahami. Ia bukan kebebasan berbuat sesuka hati, melainkan kebebasan
berpikir dan menentukan masa depan sendiri, yang justru hanya tumbuh di dalam
disiplin yang ketat. Bertahun-tahun kemudian saya menemukan bahwa hanya orang
yang terlatih menahan diri yang benar-benar merdeka menentukan sikap. Moto pondok merangkum semuanya dalam empat baris:
berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, berpikiran bebas.
Perhatikan urutannya. Budi lebih dulu, kesehatan dan pengetahuan kemudian,
lalu pikiran dan wawasan dikembangkan seluas-luasnya. Urutan itu bukan
kebetulan. Al-'ilmu bila 'amalin kasy-syajari bila tsamarin.
Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah. PERTANYAAN YANG TIDAK NYAMAN Martin van Bruinessen pernah menulis tentang
jalan-jalan yang bercabang dari Gontor. Intinya, alumnus pondok yang sama
melangkah ke arah pemikiran yang sangat berbeda, sebagian ke pembaruan yang
terbuka, sebagian ke arah yang jauh lebih keras. Ia juga mencatat bahwa
percakapan publik tentang Islam di Indonesia hari ini banyak diisi
orang-orang yang pernah tidur di kamar-kamar itu. Pertanyaannya menjadi tajam. Kalau sistemnya
sekuat itu, mengapa hasilnya begitu beragam? Saya kira jawabannya justru
terletak pada apa yang memang diajarkan di sana. Gontor tidak menanamkan
mazhab. Ia menanamkan kemampuan. Membaca sumber tanpa perantara, berdiri di
depan orang banyak, mengelola organisasi, bertahan dalam disiplin. Kemampuan
bersifat netral terhadap arah. Ia menguatkan siapa pun yang memilikinya, ke
mana pun ia berjalan. Berpikiran bebas, kalau dipegang sungguh-sungguh,
memang berkonsekuensi demikian. Lembaga yang benar-benar membebaskan pikiran
tidak bisa sekaligus menjamin keseragaman hasil. Keragaman itu bukan
kegagalan sistem. Ia harga dari jiwa kelima. Yang tetap terbuka, dan menurut saya paling
pantas diperdebatkan pada usia seratus tahun, ialah apakah kemampuan tanpa
arah sudah cukup. Nurcholish Madjid, yang juga pernah menjadi santri di sana,
menghabiskan sebagian umurnya bergulat dengan pertanyaan itu dalam bentuknya
yang lebih luas. Ia tidak sendiri, dan pertanyaan itu belum selesai. Unzhur ma qala wa la tanzhur man qala. Lihatlah
apa yang dikatakan, dan jangan melihat siapa yang mengatakan. YANG DIBAWA PULANG Ada mahfuzhat yang baru benar-benar menagih
setelah kami keluar dari gerbang.Al-waqtu kas-saifi, in lam taqtha'hu
qatha'aka. Waktu itu laksana pedang, jika engkau tidak menebasnya, ia yang
menebasmu. Di pondok, waktu diatur untuk kami oleh bel dan
lonceng. Di luar, tidak ada yang membunyikan bel. Barulah terasa bahwa yang
sesungguhnya diajarkan bukan jadwalnya, melainkan kebiasaan memperlakukan
waktu sebagai sesuatu yang harus ditebas, bukan ditunggu. Satu lagi yang menjadi ukuran paling jujur bagi
seorang alumnus. Khairun-nas anfa'uhum lin-nas. Sebaik-baik manusia adalah
yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Ukuran itu tidak menanyakan
jabatan, gelar, atau kekayaan. Ia hanya menanyakan berapa banyak orang yang
hidupnya menjadi lebih baik karena keberadaan kita. Ukuran yang tidak bisa
dibeli dan tidak bisa diwakilkan. BUKAN GARIS AKHIR Usia panjang memang salah satu penanda bahwa
sebuah lembaga sudah matang dan mapan. Namun, ia bukan penanda yang paling
menentukan. Yang menentukan ialah apakah lembaga itu sanggup menghadapi
tantangan yang sama sekali baru tanpa kehilangan kepaduan nilainya. Ujian
terberat justru datang setelah ujian suksesi berhasil dilewati karena sejak
itu tidak ada lagi krisis yang memaksa orang kembali ke dasar. Lembaga yang berhasil selalu menghadapi godaan
yang sama, yaitu berubah dari gerakan menjadi warisan, dari amanah menjadi
milik, dari pengabdian menjadi kedudukan. Godaan itu tidak datang dari luar.
Ia datang justru dari keberhasilan itu sendiri. Ahmad Syauqi menulis bait yang juga kami
hafalkan: Innamal umamul akhlaqu ma baqiyat, fa in humu dzahabat akhlaquhum
dzahabu. Sesungguhnya suatu bangsa hidup selama akhlaknya masih ada. Apabila
akhlak mereka telah lenyap, lenyap pula bangsa itu. Yang diwakafkan Trimurti pada 1958 sebenarnya
bukan tanah dan bangunan. Yang mereka wakafkan ialah nilai, dan nilai tidak
diwariskan akta. Ia hanya bertahan kalau ada yang bersedia menanggungnya pada
setiap generasi, tanpa dibayar dan tanpa disebut namanya. Karena itu, pada usia seratus tahun, pertanyaan
'di Gontor, apa yang kau cari?' tidak berubah. Ia hanya berpindah alamat. Ia
tidak lagi ditujukan kepada santri baru yang sedang berbaris di lapangan. Ia
ditujukan kepada kita yang sudah lama keluar dan merasa sudah selesai. Apa yang kau cari? Barangkali jawabannya baru
lengkap kalau dibalik. Bukan apa yang kau cari di sana, melainkan apa yang
masih kau bawa dari sana hari ini, dan apa yang sudah kau tinggalkan di
tengah jalan. Laisal-fata man yaqulu kana abi, walakinnal-fata
man yaqulu ha anadza. Pemuda sejati bukanlah yang berkata inilah
ayahku, melainkan yang berkata inilah aku. Seratus tahun ialah warisan yang sangat berat.
Warisan hanya berhak disebut milik kita apabila kita menambahkan sesuatu di
atasnya. ● Sumber : https://mediaindonesia.com/opini/936460/satu-abad-gontor-dan-pertanyaan-yang-tak-pernah-usai
|