|
Akrobat
Riskan Saldo Anggaran Editorial 3
: Redaksi Tempo Mingguan |
TEMPO MINGGUAN, 05 Juli 2026
|
· Penempatan dan penarikan dana saldo
anggaran lebih di bank memicu problem fiskal dan keuangan baru. · Penempatan dana SAL untuk proyek
prioritas membuat tata kelola anggaran publik makin goyor. · Kredibilitas kebijakan fiskal runtuh
dan kini membuat bank mendapat masalah baru. TARIK-SEROK
dana saldo anggaran lebih dari dan ke bank-bank negara menunjukkan tata
kelola anggaran yang serampangan. Dana SAL yang seharusnya menjadi bantalan
pada saat darurat dikucurkan ke bank dan bermuara di proyek favorit Presiden
Prabowo Subianto. Ketika dana sudah masuk ke bank, Menteri Keuangan Purbaya
Yudhi Sadewa menariknya lagi sehingga memicu persoalan baru. Sejak
September tahun lalu, Menteri Purbaya menyalurkan dana SAL Rp 200 triliun,
separuh dari simpanan di Bank Indonesia, ke bank negara. Purbaya berdalih
dana SAL ditarik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daripada menganggur di
rekening pemerintah. Nyatanya,
dana itu mengucur untuk proyek koperasi merah putih dan makan bergizi gratis
yang tak memberikan daya ungkit ekonomi. Setelah bank negara menyalurkannya
sebagai kredit bertenor tiga tahun, Purbaya memintanya kembali. Walhasil,
pengurus bank pusing tujuh keliling mencari sumber baru penambal SAL. Dampaknya
tak main-main. Selain terjadi tarik-menarik likuiditas antarbank, suku bunga
pinjaman antarbank naik. Jika sudah begini, alih-alih menggerakkan ekonomi,
dana SAL memicu problem baru di perbankan Indonesia. Sebelum ada dana SAL pun
bank sudah ribet menghadapi likuiditas yang tak terserap. Data
Bank Indonesia menunjukkan kredit yang belum dicairkan debitor umum mencapai
Rp 2.576 triliun atau 22,41 persen dari plafon. Para pengusaha tak berani
mencairkan utang karena daya beli sedang melemah dan biaya produksi meningkat
akibat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus merosot.
Laporan S&P Global tentang indeks manajer pembelian atau purchasing
managers’ index (PMI) manufaktur pada Juni 2026 mengkonfirmasi kelesuan
industri. Menurut
S&P, nilai PMI manufaktur Indonesia 46,9, anjlok dari 50 pada bulan
sebelumnya. Indeks di bawah 50 menunjukkan industri sedang menahan produksi
atau berhenti berekspansi. Ekonomi Indonesia makin dekat dengan tubir jurang
karena ancaman nyata lesunya industri manufaktur adalah pemecatan massal
pekerjanya. Maka
dalih Menteri Purbaya menarik dan menambah dana SAL untuk menggerakkan
ekonomi tak hanya menggantang asap, tapi juga mengelabui publik. Penarikan
dana SAL seyogianya diputuskan bersama Dewan Perwakilan Rakyat karena uang
ini bagian dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Tarik-serok dana SAL
ala Purbaya membuat tata kelola anggaran makin runyam. Sesungguhnya
inilah pangkal soal kelesuan ekonomi hampir dua tahun pemerintahan Prabowo
Subianto. Kredibilitas fiskal makin jatuh, yang membuat kepercayaan publik
terhadap kebijakan pemerintah anjlok. Pemilik modal tak lagi percaya bahwa
para pengurus negara bisa mengelola ekonomi dengan benar. Lembaga-lembaga
pemeringkat internasional, seperti S&P dan MSCI, terus menilai buruk
indikator-indikator ekonomi Indonesia. Tak ada
cara menyehatkan kondisi fiskal selain menyetop proyek-proyek boros dan
terindikasi korupsi seperti koperasi merah putih dan makan bergizi gratis.
Pemotongan anggaran dan penataan ulang proyek ini akan memberikan harapan
bahwa pemerintah mau mengoreksi kebijakan yang keliru. Walhasil, Menteri
Purbaya tak perlu berakrobat memakai tabungan negara sebagai bantalan darurat
menyuntikkan kredit perbankan dengan dalih mendorong pertumbuhan ekonomi. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/masalah-baru-penempatan-dana-sal-2273568 |