Minggu, 20 September 2026

 

Membaca Berhadiah Koin

Ahmadie Thaha :  Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an.

CATATAN CAK AT, 20 September 2026

 

                                                

 

Singapura sampai memberi koin agar warganya mau membaca. Indonesia punya masalah yang lebih besar: banjir informasi tanpa kedalaman.

 

Singapura rupanya sedang mengajari warganya membaca dengan cara yang agak ganjil: dibayar. Bukan dibayar besar, tentu saja. Untuk membaca sedikitnya 15 menit sehari, warga yang mengikuti ReadSG mendapat 20 koin virtual.

 

Seribu koin bernilai S$1. Jadi, untuk memperoleh satu dolar Singapura, seseorang harus membaca 15 menit selama 50 hari. Hadiahnya kecil, memang. Tapi pesannya besar: membaca sedang diperlakukan seperti olahraga yang perlu dilatih kembali.

 

Program lima tahun yang diluncurkan National Library Board (NLB) awal September 2026 itu muncul justru di negeri yang terkenal memiliki tradisi literasi kuat. Presiden Tharman Shanmugaratnam menetapkan September sebagai National Reading Month.

 

Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa orang Singapura sudah meninggalkan buku. Data NLB lebih menarik dari kesimpulan itu. Dalam National Reading Habits Study 2024, 89 persen orang dewasa Singapura membaca sesuatu lebih dari sekali seminggu.

 

Tetapi yang membaca buku hanya 28 persennya. Yang lebih populer justru berita, pembacanya 76 persen, dan artikel daring dengan jumlah pembaca 65 persen.

 

Jadi, masalahnya bukan semata-mata orang tak membaca. Masalahnya, apa yang dibaca, berapa lama dibaca, dan seberapa dalam perhatian diberikan kepada bacaan itu. Orang bisa membaca sepanjang hari tapi tetap kekurangan waktu membaca sebuah buku.

 

Di situlah ReadSG menjadi menarik. Singapura tidak sedang menjual buku dengan diskon. Mereka sedang mencoba menjual kembali sebuah kebiasaan duduk, diam, berkonsentrasi, dan membiarkan pikiran mengikuti gagasan yang tak selesai dicerna.

 

Hadiah 20 koin itu sebenarnya bukan upah. Ia lebih mirip uang receh yang dilempar ke mesin kebiasaan. Pemerintah tahu, kalau mau mengalahkan ponsel, buku tidak cukup hanya mengatakan, “Saya lebih bermutu.”

 

Ponsel punya notifikasi, video pendek, musik, komentar, algoritma, dan tombol yang selalu siap disentuh. Sementara buku hanya punya halaman. Pertarungannya memang tidak seimbang.

 

Buku seperti sumur. Kita harus menimba untuk mendapatkan air. Video pendek seperti keran otomatis. Tekan sedikit, air langsung mengalir. Masalahnya, kalau setiap haus kita hanya memilih keran, otot menimba lama-lama ikut pensiun.

 

NLB sendiri menyebut alasan yang lebih serius. Di tengah perubahan pola konsumsi informasi, membaca teks panjang dianggap penting untuk melatih perhatian, pemikiran kritis, imajinasi, dan kemampuan memahami perspektif.

 

Dengan kata lain, persoalannya bukan nostalgia terhadap buku. Persoalannya adalah kemampuan berpikir panjang di zaman yang memuja perhatian pendek.

 

Pertanyaan yang lebih menarik kemudian muncul: kalau Singapura saja merasa perlu menghidupkan kembali kebiasaan membaca, bagaimana dengan Indonesia?

 

Kita sebaiknya tidak menjawabnya dengan stereotip bahwa “orang Indonesia malas membaca”. Data tidak sesederhana itu. BPS mencatat, pada 2024, sebanyak 53,09 persen penduduk Indonesia berusia 10 tahun ke atas membaca dalam seminggu terakhir.

 

Angka ini juga sangat bervariasi antarprovinsi. Data Bali 69,52 persen, DKI Jakarta 65,20 persen, sementara Jawa Barat 51,12 persen dan Jawa Timur 48,74 persen. Papua Pegunungan bahkan tercatat 18,36 persen.

 

Angka 53,09 persen itu pun harus kita baca hati-hati. Ia tidak berarti hanya 53 persen orang Indonesia pernah membuka buku. Indikator BPS tersebut mengukur aktivitas membaca secara umum, bukan khusus membaca buku, apalagi membaca buku sampai tamat.

 

Karena itu, kita tidak boleh membandingkannya mentah-mentah dengan angka 28 persen pembaca buku di Singapura. Sebab, ada angka lain yang jauh lebih menggelisahkan. Dalam literasi membaca, level kita sangat rendah.

 

Menurut PISA 2022, hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia berusia 15 tahun yang mencapai Level 2. Rata-rata OECD mencapai 74 persen. Hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai Level 5 atau lebih, sementara rata-rata OECD mencapai 7 persen.

 

Pada Level 2 tingkat itu, siswa baru dituntut mampu menemukan gagasan utama teks dengan panjang sedang, mencari informasi berdasarkan kriteria tertentu, serta melakukan refleksi sederhana terhadap tujuan dan bentuk teks.

 

Persoalannya adalah kemampuan memahami dunia melalui teks. Dan dunia kita sekarang justru semakin penuh teks, meskipun teks itu sering menyamar sebagai video.

 

Indonesia sudah memasuki masyarakat digital dalam skala raksasa. Data Digital 2025 dari DataReportal memperkirakan 212 juta pengguna internet di Indonesia pada awal 2025, dengan 143 juta identitas pengguna media sosial.

 

Angka itu memberi kita gambaran tentang perubahan medan pertempuran. Anak Indonesia tidak hidup di padang pasir informasi. Mereka justru berenang di dalamnya.

 

Setiap hari mereka menerima berita, ceramah, tutorial, podcast, debat, dakwah, gosip, ulasan produk, video pendidikan, potongan film, dan entah berapa ribu potongan kehidupan orang lain.

 

Informasi tidak lagi perlu dicari. Informasi datang mengetuk pintu, lalu kadang-kadang mendobrak masuk. Pertanyaan yang kini lebih relevan, apakah orang Indonesia masih sanggup memberi perhatian cukup lama untuk memahami sesuatu?

 

Orang bisa menonton ceramah satu jam, tapi belum tentu mampu menjelaskan kembali argumennya. Orang bisa mendengar podcast dua jam, tetapi belum tentu mampu membedakan fakta, opini, asumsi, dan kesimpulan.

 

Itulah tantangan literasi baru. Maka mungkin Indonesia perlu belajar dari keberanian Singapura, tanpa harus meniru bentuk hadiahnya. Kita bisa membangun sistem yang membuat membaca menjadi bagian alami dari kehidupan. Misalnya, 15 menit membaca sebelum pelajaran dimulai.

 

Atau, wajib baca satu buku per bulan di pesantren, jurnal ringkas setelah membaca, klub diskusi berbasis buku. Format perpustakaan benar-benar menjadi ruang hidup, bukan gudang buku yang pintunya hanya dibuka ketika ada akreditasi.

 

Lebih penting lagi, kita perlu menghubungkan video dengan buku. Setelah siswa menonton video sejarah, misalnya, mereka diminta membaca dua halaman sumber sejarah dan menemukan bagian yang berbeda. Dengan cara itu, layar tidak menjadi musuh buku.

 

Kita bahkan bisa membuat “15 menit membaca” sebagai kebiasaan nasional. Bukan karena membaca harus dipaksa, melainkan karena kebiasaan baik jarang lahir dari pidato tentang pentingnya kebiasaan baik.

 

Singapura tampaknya memahami satu hal sederhana: kebiasaan membutuhkan desain. Indonesia memiliki masalah yang sedikit berbeda. Kita bukan kekurangan cerita. Kita bahkan kebanjiran cerita sejak di tempat tidur hingga warung kopi.

 

Dan di negeri yang penduduknya gemar mendengar cerita demikian, pekerjaan kita bukan mematikan pengeras suara. Kita perlu mengajari telinga untuk menyimak, mata untuk membaca, dan otak untuk memeriksa.

 

Sebab bangsa yang hanya pandai mengonsumsi cerita akan mudah menjadi penonton. Bangsa yang mampu membaca, membandingkan, memeriksa, lalu berpikir sendiri akan menjadi penulis ceritanya. Dan mungkin itulah nilai sebenarnya dari 15 menit membaca. ●

 

Sumber :   Tulisan Cak AT ini diterima langsung dari Ahmadie Taha

 

 

Doa Mahjong

Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos

DISWAY, 20 September 2026

 

 

 

Gara-gara ke Paputungan (Disway 17 September 2026: William Paputungan) saya tidak sempat mampir ke pabrik yang sangat top di Manado: pabrik minuman keras Cap Tikus. Padahal saya pernah berjanji ke pemiliknya, Johnny Lieke: kalau ke Manado akan mampir ke Cap Tikus.

 

Yang bisa saya paksakan adalah ke Bukit Doa: tapi sudah tutup. Jalan masuknya sudah diportal. Sudah terlalu gelap: pukul 19.30. Telat setengah jam. Maka kami belok kiri, menanjak lagi ke bukit di atasnya: bukit Makatete Hills. Ada kafe di situ: tutup satu jam lagi.

 

Masih ada tiga meja yang berisi pengunjung yang sedang minum-minum. Kami pilih ke teras samping yang luas dan tanpa atap. Kami angkat meja dan kursi-kursi ke dekat pagarnya: bisa melihat seluruh kota Manado di bawah sana. Manado di waktu malam.

 

Saya duduk di kursinya. Bukan untuk menikmati pemandangan tapi untuk menulis: redaksi sudah menunggu tulisan saya yang akan diterbitkan pukul 04.00 keesokan harinya. Ketika menulis dipepet waktu seperti itu kadang muncul omelan otomatis: menulisnya dicepat-cepatkan ketepatan terbit jam 04.00-nya sering diabaikan.

 

Saya tidak pernah bertanya kenapa terbit telat; kenapa tidak pakai AI saja. Biarlah AI yang disiplin mem-posting-nya pukul 04.00.00.00.

 

Begitu selesai menulis, pemberitahuan datang: kafe sudah harus tutup. Saya tengok Manado dari atas sekali lagi. Hanya kelihatan gemerlap lampu-lampunya. "Orang lain banyak ke bukit ini pukul 17.00. Menjelang matahari terbenam. Indahnya tak terpermanai," ujar staf di kafe itu.

 

Dari situ sebenarnya saya ingin memaksakan diri ke Bitung –lewat tol. Sekalian merasakan tol Manado-Bitung peninggalan Presiden Jokowi. Tapi juga sudah terlalu malam.

 

Akhirnya saya ke NDC. Hotel melati tua di situ kabarnya sudah disulap menjadi hotel baru: Hotel NDC.

 

Saya pernah ke Bunaken lewat dermaga NDC ini –Nusantara Diving Club. Masih serba sederhana. Sekarang sudah jadi primadona di Manado. Bukan yang paling ramai tapi paling baru.

 

Dermaga paling ramai untuk naik kapal ke Bunaken ada di Mega Mal. Teramai kedua di Marina Bay. Dua-duanya di Manado Boulevard –di daerah water front city yang dulunya laut lalu direklamasi. Saya pernah juga ke Bunaken lewat dua dermaga itu.

 

 

--

 

Benar adanya. NDC telah jadi hotel bintang empat. Gemerlap. Arsitektur lobi masuknya sangat mengesankan. Di balik arsitektur lobi itu ada dua kolam renang dengan fancy: di tengah kolam renang ada wahana permainan anak-anak.

 

Saya ingin menikmatinya sekejap: minum-minum di kafe pinggir kolam renang itu. Tidak ada pelayan. Saya pun naik ke lobinya yang indah gemerlap. Ada resto besar di situ: ingin makan salad sambil menikmati lobinya. Pilihan saya hanya salad agar tidak terlalu ''berat''. Timbangan badan sudah naik 2 kg tiga bulan terakhir. Apalagi siang sebelumnya saya sudah makan banyak sekali: ikan mas goreng, dabu-dabu, kangkung, dan tumis bunga papaya untuk jatah dua manusia.

 

"Sudah tutup, Pak. Last order-nya sudah lewat setengah jam lalu," ujar petugas di restoran itu. Ya sudah. Balik ke hotel. Tidur! Pukul empat pagi sudah harus meninggalkan hotel ke bandara. Kembali harus lewat Makassar. Dua jam lebih di Makassar. Tidak bisa apa-apa selain baca-baca di bandara.

 

Ups.... bisa! Bisa senam satu jam. Apalagi hari itu saya punya utang: pagi itu belum sempat senam, karena berangkat terlalu subuh. Maka saya ingat Nova Gosal, si pesenam lima 'i' itu. Saya WA dia: pakai huruf mandarin. Bisakah cari lokasi senam dekat dengan bandara. Bisa. Hanya 10 menit dari bandara.

 

"Di mana?"

 

"Di halamannya dealer Wuling Makassar," jawabnyi.

 

"Bisa diizinkan?"

 

"Pimpinannya teman saya," ujar Nova.

 

Maka saya kirim lagu-lagu senam ke Nova: agar di-install di sound system. Suaminyi yang menjemput saya ke bandara. Ternyata Nova mengajak teman-teman lima 'i' lainnya ikut senam.

 

Di depan deretan Wuling kami pun bersenam-senam. Ternyata Wuling juga menyediakan sarapan nasi kuning Makassar. Juga berbagai kue. Tapi tidak ada waktu memakannya.

 

Saya pun minta izin membawa sarapan gratis itu ke bandara. Kalau pun tidak sempat memakannya di ruang tunggu bisa saya makan di dalam pesawat: perut ini belum kemasukan apa pun sejak kemarin sore. Ups... ada. Air putih setengah liter saat bangun tidur dan setengah liter lagi yang diberikan Nova di tempat penjemputan.

 

Utang pun terbayar.

 

Tinggal satu utang lagi: menuliskan pengalaman pertama saya di Makassar saat transit lima jam dalam perjalanan pergi ke Manado dua hari sebelumnya.

 

Hari itu beberapa pengusaha gabung makan siang di Makassar. Di samping Nova dan suami ada David Gozal, Saiman Sutanto Chen, dan beberapa lagi. Termasuk teman-teman Disway Sulsel.

 

Saya pikir setelah melahap ikan kudu-kudu kami kembali ke bandara. Tidak.

 

"Mampir dulu ke kafe saya," ujar David.

 

"Sempat? Masih ada waktu?"

 

"Mampir sebentar saja. Harus mampir," ujar David.

 

"Saya kan pernah makan di sana?"

 

"Ada yang baru yang ingin saya pamerkan," katanya.

 

Sebagai pemain kafe yang sudah puluhan tahun David pusing melihat persaingan kafe yang menjamur belakangan ini. Semua orang bikin kafe. "Toko bahan bangunan pun bikin kafe," katanya. "Padahal saya tidak bisa buka toko bahan bangunan di kafe saya," seloroh David.

 

David terus berpikir agar bisnis kafenya tetap hidup. Lalu muncullah musim bisnis baru yang terbaru: permainan Mahjong. David pun mengombinasikan kafe dengan Mahjong. Ia beli 10 meja Mahjong.

 

Saya harus melihatnya.

 

"Bisa main Mahjong?" tanya David.

 

"Tidak bisa. Cara main pun tidak tahu," jawab saya.

 

"Hanya seperti remi, tapi ini pakai dadu," jawabnya.

 

"Kalau remi saya bisa. Mahjong....," saya tidak jadi meneruskan kalimat itu.

 

Sebagai orang pesantren, kata Mahjong itu sendiri sangat asing di telinga saya. Dulu, sesekali, saya dengar kata Mahjong kalau ada penggerebekan judi Mahjong oleh polisi. Jadi, di benak saya, Mahjong itu identik dengan judi: haram.

 

Pemahaman saya itu berubah berangsur. Ternyata apa saja bisa untuk judi. Termasuk golf, remi, dan sepak bola. Apa pun. Tergantung orangnya. Bukan salah Mahjongnya.

 

Waktu main remi di masa remaja dulu kami tidak pernah berjudi. Hanya untuk permainan antar teman. Ups... ternyata pernah judi juga: yang kalah harus menerima hukuman; telinganya dijepit dengan jepitan baju!

 

Perubahan kedua terjadi saat tiba-tiba seorang pengusaha melampiaskan kebahagiaannya kepada saya. Kenapa dia bahagia?

 

"Karena saya bisa membahagiakan ibu saya, tanpa mengganggu waktu saya untuk cari uang," ujarnyi.

 

"Dengan cara apa?"

 

"Setiap hari saya tinggal memberi uang ibu Rp 5 juta. Dengan uang itu beliau bisa mentraktir teman-teman seusia beliau; lalu seharian penuh main Mahjong," katanyi.

 

"Oh..... ," kata saya sambil menahan kaget di hati.

 

"Saya beruntung ibu saya suka main judi Mahjong. Saya lihat ibu bahagia sekali setiap hari bisa main Mahjong dengan teman-teman beliau," katanyi polos.

 

Saya manggut-manggut sambil terus menahan kaget.

 

Zaman itu Mahjong belum seperti sekarang. Setiap selesai satu game dadu-dadu itu dikumpulkan di tengah meja: dicampur baurkan agar saat dibagi ulang bisa lebih adil. Ketika memulai pun harus menata lagi dadu sebanyak 144 buah sedemikian rupa. Makan waktu.

 

Meja Mahjong sekarang sudah serba otomatis: selesai satu game, dadu-dadunya masuk sendiri ke balik meja. Lalu tinggal pijit tombol untuk mendapatkan satu set dadu yang baru --yang sudah teracak oleh sistem dan sudah tersusun rapi. Kini Anda bisa main Mahjong tiga kali lipat lebih banyak dari zaman dulu.

 

David pun mengajari saya main Mahjong. Satu game. Belum terlalu bisa tapi sudah harus ke bandara.

 

Sampai di Surabaya saya bercerita bagaimana di Makassar Mahjong tumbuh pesat. Dalam tiga bulan sudah ada 10 lokasi Mahjong.

 

Ternyata saya telat tahu. "Di Surabaya juga sudah menjamur," ujar teman itu. Pun di kota-kota lain.

 

Maka setelah musim kafe, musim padel, dan musim kemarau, kini lagi musim Mahjong.

 

Sumber :    https://disway.id/catatan-harian-dahlan/969350/doa-mahjong