Selasa, 04 Agustus 2026

 

Dalam Dunia yang Hiruk, Kita Perlu Ibn Bajjah

Qaris Tajudin :  Wartawan Tempo, Sarjana Hadis dari Universitas Al Azhar Kairo

TEMPO MINGGUAN, 02 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Ibn Bajjah menawarkan konsep 'al-mutawahhid' (menyendiri) mengarungi dunia yang hiruk-pikuk.

 

·      Konsep itu tak mengacu pada upaya mengasingkan diri, tapi pada kemerdekaan pikiran dalam kekacauan.

 

·      Di dunia yang hiruk-pikuk sekarang, Ibn Bajjah layak kita tengok untuk mencari refleksi.

 

APA yang terjadi jika para filsuf Stoa hidup hingga hari ini, melewati Revolusi Industri dan dua Perang Dunia serta menatap media sosial yang hiruk-pikuk? Apakah mereka masih akan memiliki pendapat yang sama? Seorang teman memberondongkan pertanyaan ini dalam obrolan santai sambil menyantap mi Aceh pekan lalu.

 

Teman saya yang penulis buku laris itu melontarkan pertanyaan tersebut karena sedang kewalahan dengan kebisingan digital. Dia menghapus semua aplikasi media sosial dari telepon selulernya. “Saya tidak kuat lagi dengan semua hiruk-pikuk politik yang seperti tidak ada habis-habisnya,” katanya.

 

Entah mengapa, saat mendengar pertanyaan itu saya tidak teringat kepada Marcus Aurelius, filsuf Stoa yang mengatakan bahwa kita memiliki kendali atas pikiran kita, bukan kejadian di luar sana. Saya justru teringat kepada Ibn Bajjah (1085-1138), seorang filsuf Andalusia yang dikenal di Eropa dengan nama Avempace.

 

Ibn Bajjah lahir dan besar di Zaragoza, Spanyol, ketika atmosfer Andalusia dipenuhi oleh hiruk-pikuk politik. Kekhalifahan Córdoba runtuh, Andalusia pecah menjadi lebih dari 20 kerajaan kecil (taifa). Masing-masing memiliki raja sendiri, tentara sendiri, kepentingan sendiri. Setiap hari ada intrik politik, saling tikam, dan pengkhianatan.

 

Bajjah bukan hanya seorang filsuf, melainkan juga menteri, dokter, musikus, dan penasihat politik. Karena kedekatannya dengan penguasa, ia berkali-kali terseret konflik politik. Karena itu, dia berpindah-pindah dari Zaragoza, Sevilla, Granada, hingga akhirnya menetap dan meninggal di Fez, Maroko.

 

Meski terpengaruh oleh Al-Farabi, Ibn Bajjah tidak setuju dengan konsep Al-Madinah al-Fadilah (Virtuous City). Dalam konsep itu, Al-Farabi—seperti halnya Plato dalam “Republik”—membayangkan adanya Kota Ideal, yaitu masyarakat yang dipimpin para filsuf atau orang-orang bijak. Ibn Bajjah tampaknya jauh lebih pesimistis. Ia melihat bahwa kota atau negeri ideal hampir tidak ada.

 

Maka pertanyaannya bergeser: kalau negeri yang ideal tidak ada, bagaimana orang-orang yang berpikir lurus harus hidup di negeri yang kacau balau? “Ketika sebuah negeri tidak dalam kondisi ideal (fadilah), maka orang bijak akan menjadi ‘orang asing’ di dalamnya,” tulis Ibn Bajjah dalam Tadbīr al-Mutawaḥḥid atau Pengelolaan Sang Penyendiri.

 

Banyak filolog berpendapat bahwa Tadbīr al-Mutawaḥḥid kemungkinan besar tidak pernah diselesaikan karena Ibn Bajjah lebih dulu wafat diracun oleh musuh-musuhnya. Struktur pembahasan buku ini kadang meloncat, beberapa bagian tampak belum dipoles, dan manuskrip yang sampai kepada kita juga tidak utuh. Karena itu, edisi modern harus direkonstruksi dari dua manuskrip Arab yang tersisa serta kutipan-kutipan dalam terjemahan Ibrani Abad Pertengahan.

 

Meski lahir dari reaksi terhadap kondisi politik yang kacau balau, buku ini bukan karya filsafat politik, melainkan refleksi eksistensial Ibn Bajjah, bagaimana tetap menjadi manusia yang utuh ketika dunia di sekeliling kita runtuh. Ada nada putus asa pada perjuangannya mengubah sistem saat dia mengatakan, “Pengelolaan yang benar adalah pengelolaan diri seorang individu.”

 

Meski demikian, konsep al-mutawaḥḥid (penyendiri) yang dia tawarkan bukanlah upaya mengasingkan diri dari keriuhan, melainkan bagaimana orang dapat menjaga kemerdekaan akal dan moralnya di tengah masyarakat yang kacau. Penyendiri adalah seseorang yang tetap tinggal di tengah keramaian tapi tidak membiarkan keramaian itu mengambil alih isi kepalanya.

 

Jika masih hidup, Ibn Bajjah mungkin akan heran melihat dunia hari ini. Namun mungkin pula ia akan segera mengenali segala keriuhan di sekitar kita. Sebab, kebisingan selalu memiliki watak yang sama. Ia tidak meminta kita untuk berpikir. Ia hanya meminta kita bereaksi. ●

 

Sumber :   https://www.tempo.co/kolom/al-mutawahhid-ibn-bajjah-kemerdekaan-2279665

 

 

Bahasa Sebagai Pengobatan Alternatif

Akhmad Idris  :  Dosen Bahasa Indonesia di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bina Insan Mandiri Surabaya.

TEMPO MINGGUAN, 02 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Pengobatan medis kini menjadi orotitas tunggal metode penyembuhan pelbagai penyakit yang diyakini secara ilmiah.

 

·      Ada pengobatan lain yang sesungguh bisa menjadi pembantu metode medis dalam cara menyembuhkan penyakit.

 

·      Bahasa bisa menjadi salah satu alternatif metode penyembuhan secara intrinsik.

 

PERINGATAN Hari Anak Nasional pada 23 Juli 2026 menjadi momentum kepedulian negara terhadap masa depan anak Indonesia. Peringatan ini sekaligus (seharusnya) menjadi renungan serius mengenai fakta bahwa Indonesia menempati peringkat pertama dalam jumlah kasus bunuh diri anak di Asia Tenggara sejak 2023 hingga 2026 berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia.

 

Menurut Yurika Fauzia Wardhani (2024), peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional, kasus bunuh diri anak di usia remaja disebabkan oleh masalah sosial, tekanan akademis, permasalahan keluarga, emosi, identitas diri, hingga perundungan digital. Secara garis besar, penyebab utama bunuh diri adalah masalah sosial, psikologis, dan spiritual. Ironisnya, kesehatan yang lebih diperhatikan adalah kesehatan fisik—mengabaikan kesehatan sosial, psikologis, ataupun spiritual.

 

Porat Antonius (2026) dalam karya mutakhirnya, Bahasamu Hidupmu atau Bahasamu Kematianmu, mengungkapkan bahwa sistem tunggal medis terlalu mendominasi sehingga menempatkan pengobatan medis menjadi satu-satunya penyembuhan—menafikan pengobatan yang lain. Padahal faktanya adalah pengobatan medis tidak pernah memberikan kepastian. Bahkan, menurut beberapa pakar, dunia medis kerap ditunggangi kepentingan politik-bisnis.

 

Lebih dari itu, sistem tunggal medis mengimani pandangan yang berbasis pada supremasi tubuh sehingga yang perlu dijaga kesehatannya hanyalah fisik—tanpa mempertimbangkan kesehatan sosial, psikologis, juga spiritual.

 

Berdasarkan fakta tersebut, kita patut mempertimbangkan pengobatan alternatif yang mampu mengakomodasi kesehatan nonfisik dan satu di antaranya, menurut Porat Antonius, adalah mulai menggunakan bahasa yang benar dan baik.

 

William James (1902), seorang filsuf, psikolog, dan dokter, dalam The Varieties of Religious Experience: A Study in Human Nature mengkritik ironi dalam dunia kesehatan. Kehidupan yang sehat ataupun cara penyembuhan penyakit yang telah berkembang sepanjang sejarah hanya diakomodasi dunia medis yang cenderung menghabiskan banyak biaya.

 

Di sisi lain, terdapat pendekatan-pendekatan alternatif dengan biaya lebih murah dan layak dipertimbangkan berdasarkan riset-riset ilmiah yang ironisnya tidak diakomodasi dalam kebijakan publik karena kepentingan politik-bisnis.

 

Satu di antara contoh pendekatan alternatif berbasis riset ilmiah adalah disertasi Elisa Rinihapsari (2022) yang menemukan metode ekoterapi untuk penyembuhan penyakit kanker. Metode ekoterapi ini pernah dibahas secara teoretis ataupun praktis oleh Martin Jordan dan Joe Hinds (2016) dalam Ecotherapy: Theory, Research and Practice.

 

Senada dengan William James, Peter Gotzsche (2013) dalam Deadly Medicines and Organised Crime: How Big Pharma Has Corrupted Healthcare mengungkapkan bahwa orientasi dunia medis telah berubah, dari nonprofit-karitatif menjadi politik-bisnis. Sisi gelap ini kerap ditutupi dengan penonjolan aspek positif sehingga memberi kesan ketiadaan efek negatif.

 

Sebut saja khasiat obat yang ditampilkan sebagai satu-satunya penyembuh, padahal William Osler (1892) dalam The Principles and Practice of Medicine menyebutkan pengobatan (medis) adalah ilmu ketidakpastian dan seni kemungkinan. Sederhananya, segala upaya medis seperti kemoterapi dan obat-obat antibiotik memiliki dua kemungkinan kontradiktif sekaligus, yakni berhasil dan gagal.

 

Satu di antara pendekatan (pengobatan) alternatif yang dapat digunakan untuk membangun kesehatan fisik, sosial, psikologis, dan spiritual adalah berbahasa dengan benar dan baik.

 

Porat Antonius memaknai “benar” dengan standar linguistik, sedangkan “baik” dengan standar moral. Kebenaran linguistik diperlukan untuk menghindari kerancuan hingga kekacauan makna yang secara otomatis berdampak pada kebenaran makna, sedangkan kebenaran moral dibutuhkan untuk mendapatkan bahasa sebagai nutrisi—bukan toksin.

 

Tidak berlebihan jika Suzanne O’Sullivan (2025) dalam The Age of Diagnosis menegaskan bahwa (bahkan) kesehatan fisik ditentukan oleh narasi yang disampaikan, narasi yang dipikirkan, dan narasi yang diterima.

 

Dalam kasus diagnosis dokter, narasi yang disampaikan pasien akan mempengaruhi resep yang akan diberikan dokter—bukti pentingnya berbahasa dengan “benar”. Begitu juga narasi yang disampaikan dokter akan mempengaruhi narasi yang bakal dipikirkan pasien sendiri dan hal ini, menurut O’Sullivan, dapat memperparah penyakit pasien jika dokter tidak menggunakan bahasa yang “baik”.

 

Pada akhirnya, kehadiran bahasa sebagai pengobatan alternatif tidak bermaksud menggeser, menyaingi, atau menggantikan pengobatan medis. Bahasa justru ingin menjadi “pembantu” agar pengobatan medis tidak memikul beban yang berat dengan label dominasi tunggalnya. ●

 

Sumber :   https://www.tempo.co/kolom/bahasa-pengobatan-alternatif-2279663