|
Bau Makar di Alat Sadap Soleman B Ponto : Kepala Bais TNI 2011–2013. |
MEDIA INDONESIA, 05 November 2026
|
DALAM dunia intelijen, ancaman jarang datang
dengan wajah yang terang. Ia lebih dulu tercium: dari pola yang janggal, dari
waktu yang kebetulan terlalu pas, dari jejak yang sengaja dihapus. Tugas
orang intelijen ialah mengenali bau itu sebelum ancamannya menjadi kenyataan. Kasus penyadapan terhadap Presiden Prabowo, yang
kini menjerat tiga jenderal polisi sebagai tersangka, mengeluarkan bau yang
sangat menyengat. Bagi saya, sebagai orang yang pernah memimpin intelijen
strategis, ini bukan bau pelanggaran prosedur. Ini bau makar. Saya tidak menyimpulkan siapa yang bersalah. Itu
tugas penyidik dan pengadilan, dan para tersangka berhak atas proses hukum
yang adil. Akan tetapi, bau ini terlalu kuat untuk diabaikan, dan negara
wajib menelusuri sampai ke sumbernya. LIMA BAU YANG MENYENGAT Pertama, bau dari sasarannya. Yang disadap bukan
satu orang dalam satu perkara. Menurut penyidik, sasarannya ialah presiden,
pejabat negara, tokoh politik, media, tokoh ormas, LSM, dan pengusaha. Daftar
seperti itu bukan daftar penyelidikan kriminal. Itu peta kekuasaan nasional:
siapa pemimpinnya, siapa kawannya, siapa lawannya, siapa penyandang dananya,
dan siapa pembentuk opininya. Kedua, bau dari tujuannya. Penyidik menyebut
penyadapan dilakukan tanpa surat permohonan penyidik, tanpa laporan polisi,
dan tanpa kaitan dengan penegakan hukum. Jika tidak untuk penegakan hukum,
lalu untuk apa? Informasi tentang isi kepala kepala negara tidak dikumpulkan
tanpa tujuan. Ketiga, bau dari waktunya. Penyadapan berlangsung
sepanjang 2025 hingga 2026. Jejaknya dihapus pada Oktober 2026, bersamaan
dengan pergantian pucuk pimpinan Polri. Dalam intelijen, waktu yang terlalu
pas bukan kebetulan. Pertanyaannya: rencana apa yang terganggu oleh
pergantian itu sehingga jejaknya harus segera dihilangkan? Keempat, bau dari jejak yang dihapus. Orang yang
menjalankan tugas yang sah tidak perlu menghapus log. Penghapusan jejak
adalah pengakuan diam-diam bahwa ada sesuatu yang tidak boleh diketahui. Dan,
yang paling berbahaya bukan yang dihapus, melainkan yang mungkin sudah
disalin dan dibawa keluar sebelum penghapusan itu. Kelima, bau dari pola penempatan. Pada periode
yang sama, Perpol Nomor 10 Tahun 2025 membuka jalan penempatan polisi aktif
di 17 kementerian dan lembaga, termasuk OJK, PPATK, KPK, BIN, dan BSSN,
meskipun Mahkamah Konstitusi telah melarang polisi aktif menduduki jabatan
sipil. Penyadapan terhadap simpul kekuasaan dan penempatan personel di simpul
data negara adalah dua sisi dari pola yang sama: menguasai informasi untuk
menguasai keadaan. MAKAR TIDAK DATANG DENGAN TANK Banyak orang membayangkan makar sebagai pasukan
yang mengepung istana. Itu gambaran abad lalu. Makar hari ini bekerja jauh
lebih senyap. Untuk melumpuhkan seorang presiden, orang tidak perlu
menculiknya. Cukup kuasai informasinya. Ketahui setiap rencananya lebih dulu
daripada orang lain. Pegang kompromat atas para menteri, politisi, dan
pengusaha di sekelilingnya. Arahkan opini lewat media dan ormas yang sudah
dipetakan. Lalu kendalikan keputusan negara dari balik layar. Presiden tetap
duduk di kursinya, tetapi negara sudah tidak sepenuhnya di tangannya. Itulah sebabnya Pasal 191 KUHP tidak hanya bicara
tentang membunuh atau merampas kemerdekaan presiden. Pasal itu juga mengancam
makar dengan maksud menjadikan presiden tidak mampu menjalankan pemerintahan.
Pembuat undang-undang sudah memahami bahwa pemimpin bisa dilumpuhkan tanpa
disentuh secara fisik. Dan, pintu masuk menuju semua itu ialah alat sadap.
Bukan dengan tank, melainkan dengan data. HUKUM SUDAH MENYEDIAKAN JERATNYA Negara tidak perlu menunggu makar terlaksana
untuk bertindak. KUHP sudah menyediakan jeratnya. Pasal 191 mengancam makar
terhadap presiden, termasuk makar yang bermaksud menjadikan presiden tidak
mampu menjalankan pemerintahan, dengan pidana mati, penjara seumur hidup,
atau paling lama 20 tahun. Pasal 193 mengancam makar dengan maksud
menggulingkan pemerintah dengan penjara paling lama 12 tahun, dan 15 tahun
bagi pemimpin atau pengatur makar. Yang terpenting, Pasal 196 KUHP, sebagaimana
diubah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026, menyatakan bahwa permufakatan jahat
untuk melakukan makar sebagaimana dimaksud Pasal 191 sampai Pasal 193 sudah
dapat dipidana. Artinya, bila penyidik menemukan adanya kesepakatan untuk
memanfaatkan hasil sadapan guna melumpuhkan presiden atau menggulingkan
pemerintahan, hukum dapat bekerja sebelum rencana itu dijalankan. Saat ini para tersangka baru dijerat pasal penyadapan
ilegal, akses ilegal, dan UU ITE. Itu langkah awal yang benar. Akan tetapi,
penyidikan tidak boleh berhenti di situ. Pertanyaan yang menentukan ialah
satu: untuk apa dan untuk siapa hasil sadapan itu dikumpulkan? Jawaban atas
pertanyaan itulah yang akan memastikan apakah bau ini memang bau makar. YANG HARUS DILAKUKAN NEGARA Pertama, perlakukan kasus ini sebagai perkara
keamanan negara, bukan sekadar kejahatan siber atau pelanggaran disiplin.
Kedua, libatkan BIN, Bais, dan BSSN. BSSN memulihkan data yang dihapus dan
mengamankan seluruh barang bukti digital, termasuk data pembanding dari
operator telekomunikasi. BIN menjalankan kontra-intelijen untuk melacak ke
mana hasil sadapan mengalir. Bais menilai kerusakan atas informasi
pertahanan, karena yang disadap ialah Panglima Tertinggi TNI. Ketiga, ikuti aliran hasil sadapan sampai ke
ujungnya. Siapa penerimanya, berapa salinannya, untuk keputusan apa dipakai,
dan siapa yang membiayai. Keempat, uji unsur makar dan permufakatan jahat
berdasarkan Pasal 191, 193, dan 196 KUHP, berdasarkan bukti, bukan tekanan
politik. Kelima, telusuri keterkaitan dengan penempatan
polisi aktif di kementerian dan lembaga untuk memastikan tidak ada data
negara lain yang ikut mengalir. Terakhir, lindungi pelapor internal melalui
LPSK. Merekalah yang pertama mencium bau ini dan berani melaporkannya. PENUTUP Bau tidak selalu berarti api. Namun, orang yang
mencium bau asap di rumahnya dan memilih tidur kembali adalah orang yang
lalai. Negara pun demikian. Bau makar di alat sadap ini sudah tercium. Tugas
negara sekarang ialah memastikan dari mana bau itu berasal, siapa yang
menyalakan apinya, dan seberapa jauh api itu sudah menjalar. Jika ternyata
tidak ada makar, negara tetap telah menjalankan kewajibannya. Tetapi jika
ada, dan negara memilih menutup hidung, maka yang dipertaruhkan bukan lagi
nama baik institusi, melainkan keselamatan Republik. Dalam intelijen, ancaman yang sudah terlihat
berarti kita sudah terlambat. Jangan sampai kali ini kita terlambat. ● Sumber : https://mediaindonesia.com/opini/952492/bau-makar-di-alat-sadap
|