Rabu, 21 Juni 2017

Media Sosial dan Balkanisasi Siber

Media Sosial dan Balkanisasi Siber
Yohanes Widodo  ;   Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi
Universitas Atma Jaya Yogyakarta
                                                         KOMPAS, 20 Juni 2017



                                                           
Dalam beberapa kesempatan, Presiden Joko Widodo menyinggung keberadaan media sosial yang bisa mengancam persatuan.

"Ada materi media sosial yang bisa mengancam persatuan dan kesatuan bangsa dan negara. Bentuknya berupa hasutan, fitnah, berita bohong, dan ujaran kebencian. Kalau tidak waspada bisa memecah belah bangsa," kata Presiden.

Media sosial seolah menjadi ladang subur bagi muatan yang berisi hasutan, fitnah, berita bohong, dan ujaran kebencian. Di media sosial orang menjadi gampang marah dan bersumbu pendek. Hal ini terjadi karena sejumlah hal yang menjadi pemicu. Pertama, adanya anonimitas. Internet memungkinkan seseorang tampil secara anonim. Dalam kondisi tak mudah teridentifikasi dan sulit untuk dimintai tanggung jawab, membuat orang cenderung lebih permisif dan mudah lepas kontrol.

Kedua, internet memunculkan adanya jarak fisik. Ketika berjarak atau tidak berhadapan langsung, orang tidak perlu mempertimbangkan akibat dari kata atau perbuatannya. Adanya jarak juga menjadikan orang lebih cepat dan lebih mudah menentang dan agresif dibandingkan ketika bertatap muka. 

Ketiga, medium tulisan. Orang lebih mudah marah ketika menulis daripada berbicara. Di media sosial atau di kolom komentar, orang bisa menulis panjang, sehingga bisa memunculkan sudut pandang ekstrem. Berbeda dalam komunikasi lisan, meskipun orang sedang marah, dia harus berbicara bergantian sehingga terjadi percakapan.

Sebuah studi dari Universitas Beihang Beijing (2013) tentang penggunaan media sosial, Weibo, menemukan bahwa pengguna media sosial lebih suka membagikan kemarahan (viral anger) daripada perasaan lain, misalnya kesedihan atau kegembiraan. Orang cenderung hanya membagikan kebahagiaan kepada orang terdekat. Sebaliknya, orang akan mengungkapkan kemarahan atau kebencian kepada orang-orang tak dikenal.

Media penyaring algoritma

Dinamika politik dan kebangsaan kita mengindikasikan bahwa media sosial telah mengobarkan perpecahan dan mengarah pada disintegrasi. Pengaruh ini sering disebut balkanisasi untuk menggambarkan perpecahan sebuah kawasan di Balkan yang kemudian menjadi negara-negara kecil.  Satu sama lain tak pernah berdamai karena masing- masing memiliki budaya, bahasa, dan agama yang berbeda.

Balkanisasi siber merupakan fenomena di mana warga internet (netizens) terpecah menjadi kelompok-kelompok yang memiliki minat atau kepentingan sama. Mereka mencari orang yang sesuai pemikirannya dan menutup diri dan cenderung diskriminatif atau intoleran terhadap orang lain yang memiliki ideologi, pemahaman, dan pandangan berbeda.

Proses balkanisasi siber terjadi dan dipengaruhi oleh beberapa hal. Pertama, adanya proses disintermediasi atau berkurangnya peran middlemen (Jörg Hebenstreit, 2015). Untuk mendapatkan informasi, orang tak harus bergantung pada media. Orang bahkan bisa membuat media sendiri sesuai minat atau seleranya.

Kedua, adanya sistem penyaringan algoritma. Sistem ini mampu mengondisikan dan membatasi komunikasi kita hanya kepada orang-orang yang sesuai dengan minat kita.

Mesin pencari Google memiliki fasilitas informasi personal. Ketika seseorang mencari kata tertentu, Google mampu menyediakan hasil yang sesuai minat pengguna. Google mengumpulkan dan mengolah data pengguna dari jejak digital, informasi produk ataupun layanan Google serta data luar jaringan (luring) meliputi lokasi, jenis komputer, bahasa dalam sistem operasi, dan data lain. Facebook juga menyajikan feed berita personal berbasis perilaku pengguna. Apa yang muncul pada feed berita dipengaruhi oleh aktivitas pengguna.

Sistem penyaringan algoritma ini menjadikan pengguna tak lagi punya kuasa karena tak mampu menolak apa pun yang tersedia. Seseorang hanya mengonsumsi konten alias muatan yang dipilihkan sesuai minatnya. Tanpa sadar ia membangun terowongan sendiri karena media sosial jarang mengekspos pandangan yang berbeda. Hasilnya, pengguna media sosial akan menjadi korban dari biasnya.

Situasi ini menjadikan kita berada dalam echo chamber, yakni ruang di mana orang hanya mau melihat atau mendengar pendapat yang disukai atau sesuai dengan ideologi, sikap, atau sejalan dengan pemikirannya. Informasi, gagasan, atau suatu sikap akan diamplifikasi oleh komunikasi dan terus direpetisi. Informasi baru bukan lagi untuk menambah wawasan, tetapi lebih dimaksudkan untuk mengafirmasi pendapat serta keyakinan hingga makin membuat dirinya lebih percaya diri. Ujungnya, orang akan cenderung bergerak ke arah ekstrem.

Pedang bermata dua

Situasi ini bisa membahayakan ruang publik. Demokrasi deliberatif (Juergen Habermas) mengandaikan adanya komunikasi argumentatif dan terjadinya konsultasi antarwarga dengan pandangan beragam. Semua prakondisi ini sebenarnya telah dipenuhi oleh internet. Namun, idealisasi itu tampak masih jauh panggang dari api.

Sebuah studi menunjukkan, dari 60 situs partai politik yang diteliti, hanya 9 situs (15 persen) yang menyediakan tautan  ke situs yang berbeda pandangan politik, sementara 35 situs (60 persen) menyediakan tautan ke situs yang memiliki kesamaan pandangan politik. Lebih menarik lagi, tautan tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan betapa bodoh dan hina pandangan lawan politik mereka (Sunstein dan Wexler, 2000).

Media sosial sesungguhnya bak pedang bermata dua. Di satu sisi ia bisa digunakan untuk menyebarkan permusuhan, kebencian, intoleransi, dan hal-hal yang bisa menyulut konflik. Namun, di sisi lain, juga untuk menyebarkan nilai kebaikan, kebenaran, toleransi, persahabatan, dan kasih sayang.

Oleh karena itu, selayaknya pengguna internet dan media sosial menyadari bagaimana sistem penyaringan algoritma bekerja dan bahwa balkanisasi siber bisa menggiring kita ke arah perpecahan. Di sini dibutuhkan kesadaran, kecerdasan, kreativitas, dan literasi untuk memanfaatkan media sosial sebagai engines untuk menebar inspirasi kebaikan dan inspirasi. Jika tidak, siap-siap untuk dilibas oleh tangan-tangan tak kelihatan yang bekerja mengendalikan kita.