Rabu, 22 Februari 2017

Mengasah Nalar di Era Digital

Mengasah Nalar di Era Digital
Fadly Rahman  ;    Sejarawan;  Alumnus Pascasarjana Sejarah UGM
                                                     KOMPAS, 21 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Pada sebuah kesempatan, sejarawan kondang Italia, Carlo Ginzburg, diwawancara oleh wartawan Ana Prieto dari harian Clarin, Argentina, perihal persoalan sumber-sumber pemberitaan (mana fakta mana hoaks) yang kini tengah jadi permasalahan global.

Dari wawancara yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh David Broder dan diterbitkan oleh versobooks.com itu, pernyataan Ginzburg dapat pula disiratkan bahwa tingginya hasrat dan kebutuhan manusia saat ini terhadap internet telah menggiring banyak dari mereka menuju ke arah kebodohan kolektif.

Melek aksara tumpul nalar

Ginzburg berujar bahwa pada satu sisi, mesin pencari di internet ibarat "sarjana idiot" (idiot savant). Dikatakan begitu karena materi apa pun-sekalipun hoaks, teror, dan kebencian-dapat masuk di dalamnya. Apalagi, kini, pada era manusia bernafsu untuk menjaring klik, like, comment, dan share sebanyak-banyaknya demi dan atas nama popularitas dan uang, maka bagi mereka yang sudi melacurkan kehormatan dan akal sehatnya, praktik hoaks, teror, dan ujaran kebencian pun menjadi dapat "dihalalkan".

Jika pelaku hoaks dan ujaran kebencian adalah public figure yang memiliki banyak massa atau follower setia, maka ini akan menjadi lebih mengkhawatirkan. Mengapa? Sebab, kebanyakan massa dan pengikut ini tidak menyadari atau taklid terhadap segala kebohongan dan fitnah yang dicetuskan oleh figur yang mereka hormati, panuti, dan kagumi. Pokoknya, segala ucapan dan laku sang figur adalah mutlak benar tanpa perlu disanggah, dibantah, dan dikritik.

Apa yang sebenarnya menyebabkan masyarakat mudah dibuai bual dan fitnah serta terhasut kebencian tanpa menyadari konsekuensi dari itu semua bagi dirinya dan orang lain? Tak bisa dimungkiri, kian pesatnya kebergantungan terhadap internet membuat manusia lalai lalu amin begitu saja terhadap seliweran informasi tanpa mempertanyakan kesahihannya adalah faktor yang menjadi sebab tumbuh suburnya fanatisme buta.

Bahkan, adagium kemelekanaksara atau perintah iqra, membaca, sebagai pembebas manusia dari kebodohan pun kini seakan hanya pepesan kosong. Dengan semakin banyaknya jumlah angka melek aksara, justru membuat manusia berpeluang terperangkap kebodohan. Apalagi, dengan semakin banyak membaca bahan-bahan bacaan yang tidak jelas sumber dan landasan penulisannya, bisa membuat nalar pembaca jadi menumpul.

Pada era serba digital, manusia memang kian instan dalam aktivitas berpikir. Mengetik kata-kata di layar gawai-yang disemat "pintar" itu-kini terus menggusur tradisi menulis di kertas. Siapa pun merasa bisa eksis berkata-kata di media sosial, bahkan sekalipun kata-kata penuh celaan dan fitnah bisa digandrungi oleh ratusan, ribuan, hingga jutaan pembacanya.

Menulis dan membaca akhirnya kini tak seluruhnya merupakan aktivitas kontemplatif. Sebagaimana dipikirkan Dennis Baron dalam tulisannya From Pencils to Pixels: the Stages of Literacy Technology (2000), digitalisasi literasi sesungguhnya telah memutus kesabaran manusia dalam berpikir melalui aktivitas menulis dan membaca.

Jutaan kata memang menghambur setiap detiknya di media sosial. Namun, banyak kata yang terhambur sia-sia begitu saja. Baron lantas membandingkan literasi era piksel sebagai teknologi literasi mutakhir dengan era pensil sebagai teknologi literasi klasik. Pada masa kini, pensil sepintas peranti sederhana untuk menulis. Akan tetapi, kisah filsuf Henri David Thoreau (1817-1862) yang dihadirkan Baron dapat menjadi inspirasi pada era internet ini.

Dalam karya terkemukanya Walden; or, Life in the Woods (1854), Thoreau mengemukakan kegelisahannya ketika telegraf elektrik pertama ditemukan Baron Schilling, 1832. Saat itu tradisi masyarakat berkorespondensi dengan jalan menulis sedikit tergeserkan oleh praktik mengirim pesan dengan menggunakan morse sebagai kode komunikasi. Melihat fenomena ini, Thoreau menyikapi inovasi telegraf ini sebagai "kemayaan tak berguna" (worthless illusions) seraya berkata, "They are but improved means to an unimproved end" (peranti ini ada, tetapi kegunaannya pada akhirnya tak berguna)."

Thoreau bukan berarti sinis atau menolak pada modernitas. Akan tetapi, ia merasa cemas modernisasi informasi dan komunikasi akan membuat masyarakat ingin menjadi serba instan dan gegas dalam berkabar dan mengomunikasikan kata-kata. Padahal, diseminasi kata-kata dalam tradisi penulis seperti Thoreau butuh kesabaran dan refleksi sunyi. Ketelatenan memilih diksi, mengatur tanda baca, panjang pendek kalimat hingga menyunting tulisan adalah serangkaian proses yang dicemaskan Thoreau akan terputus akibat tak tahan mengelola godaan inovasi teknologi komunikasi dan informasi.

Asah nalar

Kekhawatiran Thoreau kini menjadi kenyataan. Banyak orang bernafsu eksis berkata-kata di media sosial untuk sekadar berceloteh, berkabar bohong, mencaci maki, memfitnah, dan menghasut kebencian. Mulai dari yang awam, pelajar, guru, dosen, politisi, pejabat pemerintahan, hingga istri dan anak petinggi negara bisa mengumbar itu semua. Namun, sungguh, banyak dari mereka yang sebenarnya tak menyadari bahwa mereka sedang tidak menulis; apalagi jika yang bersangkutan tak paham bagaimana memilih diksi, menggunakan tanda baca, menyunting, dan kaidah-kaidah menulis yang harus dipatuhinya.

Maka, tentu, jika mendapati ciri-ciri seperti di atas, langkah paling sederhana yang mesti dilakukan untuk menihilkan eksistensi para peceloteh dan pengabar bohong adalah dengan mengabaikan untuk tak membaca serius apalagi membagikan kata-katanya. Dan untuk terhindar dari ancaman penumpulan nalar sendiri di era digital, asahlah terus diri untuk terus tertib menaati kaidah menulis yang baik dan benar sebagai sarana penajaman nalar.