Selasa, 23 Mei 2017

Orang-Orang Kasar

Orang-Orang Kasar
AS Laksana  ;  Esais dan Cerpenis, tinggal di Jakarta
                                                        JAWA POS, 22 Mei 2017



                                                           
Kami ke Kutoarjo berdua dari Jogjakarta dengan mobil travel. Beberapa jam sebelumnya, teman saya berinisiatif menelepon agen perjalanan, menanyakan jadwal keberangkatan dan berapa harga tiketnya. Petugas agen perjalanan menyebutkan jam keberangkatan yang masih tersedia dan berapa harga tiket Jogjakarta–Kutoarjo.

Saya tidak membeli tiket di agen itu. Teman saya mengantar kami langsung ke terminal dan saya membeli dua tiket di agen perjalanan yang ada di sana. ”Seratus dua puluh, Pak,” kata petugas agen perjalanan yang kami datangi.

”Jadi, tiketnya enam puluh?” tanya teman saya. ”Tadi saya menelepon agen, ia bilang empat puluh ribu.”

”Itu harga lima tahun lalu, Pak,” katanya.

Saya membayar harga yang ia sebutkan. Murah. Jumlah uang yang sama tidak cukup untuk membayar taksi dari rumah menuju Bandara Soekarno-Hatta. Sesaat sebelum mobil berangkat, seorang petugas meminta tanda pembayaran yang saya terima dari agen dan menukarnya dengan dua tiket perjalanan. Di tiket tersebut tertera empat puluh ribu rupiah. Agen perjalanan itu berbuat curang.

Itu kali pertama saya ke Kutoarjo, sebuah kota kecamatan di wilayah Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, mengantar anak saya yang merasa kangen kepada orang tua dan saudara angkatnya di sana. Pada Februari lalu, sekolahnya mengirimkan semua murid kelas dua untuk belajar di sekolah lain. Anak saya bersekolah seminggu di SMP 3 Kutoarjo dan tinggal bersama satu keluarga, yang ia sebut orang tua angkat, di desa yang hijau dan tenteram.

Ayah angkatnya, dua tahun di atas saya, pernah menjadi lurah selama dua periode di desa itu. Kami bercakap-cakap di teras rumah sampai larut, mula-mula tentang sekolah anak kami masing-masing, lalu tentang apa saja yang kira-kira nyambung untuk dijadikan obrolan. Pada dini hari, ia menceritakan bahwa di daerahnya ada tiga anak sekolah yang hamil dan melahirkan bayi.

Itu kejadian menyedihkan, tetapi bukan topik yang mengejutkan. Jika mengetikkan frasa ”anak smp porno” di mesin pencari, Anda akan disuguhi berita-berita tentang perbuatan cabul yang melibatkan murid SMP. Baik di Jakarta, Surabaya, Sukabumi, Cirebon, dan lain-lain. Di Klaten, tahun 2008, pernah beredar video porno seorang kepala desa dengan siswi SMP yang sengaja diumpankan ibunya.

Pembicaraan kami sampai ke soal itu karena kami sama-sama memiliki anak perempuan kelas dua SMP. Anak perempuannya sudah menstruasi sejak kelas lima SD. Anak saya baru mengalaminya beberapa bulan lalu. Waktu itu liburan semester hampir berakhir; anak saya terlihat gelisah. Tiga hari sebelum kembali bersekolah, ia mengeluarkan darah.

”Berarti kau sekarang sudah dewasa dan sehat,” kata saya. Ia terlihat sedikit lega dan gembira mendengar bahwa sekarang ia sudah dewasa. ”Dan perempuan dewasa yang sehat bisa hamil jika berhubungan seksual dengan lelaki dewasa,” kata saya lagi.

Saya menggunakan kesempatan menstruasi pertamanya untuk membicarakan hal-hal yang sebaiknya ia ketahui sebagai perempuan dewasa. ”Nanti akan ada anak lelaki tertarik kepadamu dan kau mungkin juga tertarik kepadanya dan kalian akan berpacaran. Lalu kalian akan saling berpegang tangan, mula-mula sambil gemetar, akhirnya menjadi biasa. Lalu akan muncul dorongan untuk lebih dari itu. Jadi sebaiknya kau menetapkan sendiri batasmu,” tutur saya.

”Jika nanti pacarmu memaksa melakukan sesuatu melebihi batas yang telah kautetapkan, itu artinya ia tidak menghormatimu. Kau boleh meninggalkannya.”

Besoknya ia masih gelisah. Saya menanyakan apa masalahnya dan ia menceritakan, dengan sangat hati-hati dan sedikit berbelit-belit, bahwa suatu hari ia berjalan berdua dengan temannya di lapangan sekolah dan berpapasan dengan guru agama Islam. Temannya mengenakan jilbab dan ia tidak. Guru agama menanyainya, ”Kapan memakai jilbab?” Anak saya menjawab, ”Nanti kalau sudah menstruasi.”

”Berarti nanti kau akan berjilbab ke sekolah?” tanya saya.

Ia terlihat bingung.

Saya ingat KH Mustofa Bisri pernah menulis status Facebook: ”Nabi Muhammad SAW menghargai ’pakaian nasional’ Arab, maka beliau bersorban dan berjubah. Kita ingin ittiba’, mengikuti jejak beliau, tapi tak punya pakaian nasional. Mudah-mudahan dengan memakai peci hitam seperti Bung Karno dan baju batik seperti Gus Dur, terhitung mengikuti jejak Nabi.”

Dengan ingatan itu, saya menyampaikan kepadanya: ”Kaum perempuan di negeri ini juga memiliki pakaian sendiri yang sopan dan bermartabat. Jika kau memutuskan mengenakan pakaian nasional kita, itu keputusan yang baik-baik saja. Tidak ada masalah. Kau tahu, batik kita ditetapkan PBB sebagai warisan budaya dunia.”

Saya tahu akan ada orang-orang yang kurang senang terhadap apa yang saya sampaikan kepada anak saya. Jangankan saya, KH Mustofa Bisri pun dihujat secara kasar karena pernyataan itu oleh situs web NU Garis Lurus, yang pengelolanya mengaku santri, tetapi menulis tanpa rasa hormat terhadap kiai. Mereka enteng saja membuat judul: ”Pernyataan GOBLOK Terbaru Said Agil Siraj Membela Syiah” atau ”Membuka Kedok Tokoh-Tokoh Liberal dalam Tubuh NU” (foto Gus Mus dan Gus Dur menjadi ilustrasi tulisan ini).

Orang-orang kasar itu, Anda tahu, tidak hanya membuat masalah. Mereka sendiri adalah masalah.