Tampilkan postingan dengan label Yuswohady. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yuswohady. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Oktober 2015

Rudy

Rudy

Yuswohady ;   Managing Partner; Inventure www.yuswohady.com
                                                  KORAN SINDO, 04 Oktober 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Sudah sekitar tujuh bulan ini saya intens melakukan riset mengenai sosok business leader kebanggaan Indonesia. Salah satunya adalah Rudy Soetikno, pendiri Dexa Medica.

Riset itu mencoba mengungkap sosok Rudy sebagai seorang apoteker, tokoh prajurit TNI, dan tentu sosok seorang legendary business leader. Namun sayang, belum sepenuhnya tuntas riset dan penulisan buku tersebut, beliau sudah dipanggil Yang Mahakuasa pada Kamis, 30 Juli 2015 lalu. Judul buku tersebut adalah Old Soldier Never Dies. Rudy lahir dengan nama kecil Ko Khing Tik di Jalan Djuritan Kidul, Magelang, 2 Februari 1933.

Dia berasal dari keluarga yang menjunjung kesederhanaan, persaudaraan, dan pendidikan. Ibunya memiliki visi besar untuk membentuk anaknya menjadi orang besar dengan memberinya bekal pendidikan yang baik. Itu yang membawa Rudy masuk ke sekolah elite Hogere Burger School (HBS) dan kemudian Technische Hoogeschool, THS (sekarang ITB), hingga lulus sebagai apoteker pada 1959.

Tak lama setelah lulus, melalui radio, negara memanggil Rudy muda untuk wajib militer darurat (wamilda) sehingga harus masuk pendidikan tentara selama enam bulan di Cililitan, Jakarta, kemudian menerima penugasan di Sumatera Selatan. Begitu menginjakkan kaki di bumi Sriwijaya, ia menghadapi kenyataan pahit karena Sumatera Selatan mengalami kelangkaan obat parah.

Komandannya di Kesdam IV Sriwijaya pun kemudian memerintahkan Rudy untuk mengatasi masalah itu. Maka kemudian terpikir oleh Rudy untuk memanfaatkan sebuah gudang kecil di Kesdam untuk fasilitas produksi obat. Fasilitas produksi sederhana itu rupanya sangat berjasa bagi rakyat Sumatera Selatan, karena mampu mengatasi masalah kelangkaan obat yang terjadi. Prestasi Rudy ini bisa dibilang fenomenal hingga pangab waktu itu, M Panggabean, secara khusus berkunjung ke Palembang dan secara khusus memberikan penghargaan kepadanya.

Manusia Langka

Rintisan fasilitas produksi obat di gudang kecil itu rupanya menjadi cikal-bakal berdirinya Dexa Medica pada 1969. Sejak awal tak pernah terpikirkan oleh Rudy untuk membangun sebuah kerajaan bisnis yang menjadi mesin uang baginya. Dexa Medica didirikan sebagai wujud kepedulian Rudy terhadap persoalan kesehatan di masyarakat. Kepedulian inilah yang mendorong Rudy memberanikan diri membangun pabrik obat yang lebih besar untuk mengatasi masalah kesehatan di tanah air.

Bahkan sampai dengan meninggalnya, Rudy tak menganggap dirinya sebagai seorang businessman. ”Sejak awal, saya menganggap diri saya adalah seorang profesional yang harus mengabdikan ekspertis yang saya miliki sebagai apoteker untuk kepentingan masyarakat banyak. Jadi begitu lulus, yang terpikir di benak saya hanyalah bekerja menerapkan ilmu yang sudah saya pelajari di ITB untuk kepentingan masyarakat,” ujarnya.

Terus terang saya trenyuh mendengar ucapannya ini. Yang menarik, walaupun spirit mendirikan Dexa Medica adalah kepedulian terhadap persoalan- persoalan kesehatan masyarakat, bukan berarti bahwa perusahaan tidak berorientasi laba.

Menurutnya, laba sangat diperlukan karena dengan laba tersebut perusahaan akan tumbuh dan berkembang melalui investasi kembali laba yang dihasilkan, sehingga kemampuan perusahaan dalam menghimpun sumber daya akan menjadi lebih besar, dan kontribusi pada peningkatan kesehatan masyarakat juga akan semakin besar dan luas. Makanya saya katakan, Rudy adalah manusia langka di negeri ini. Businessman dengan spirit amat mulia seperti ini kian sulit kita temukan sekarang.

Prajurit Sejati

Rudy adalah sedikit warga Tionghoa yang sepenuh hati dan begitu bangga menjadi prajurit TNI. Pengalaman menjadi tentara selama sekitar 15 tahun begitu membekas di hatinya. Rudy harus memilih meninggalkan dinas ketentaraan pada tahun 1975 (pangkat terakhirnya letnan kolonel) untuk sebuah misi mulia membesarkan Dexa Media. Walaupun telah meninggalkan dunia ketentaraan untuk masuk dunia bisnis, naluri sebagai prajurit sejati tak meluntur sedikit pun.

”Old soldier never dies,” ujarnya. Seorang prajurit sejati tak pernah patah arang dan tak peduli di manapun ditugaskan. Pengabdian di mana pun adalah sama, untuk Merah Putih. Secara administratif memang ia pensiun, tetapi jiwanya tetap prajurit. Prajurit sejati selalu berkarya di medan apapun. Sejak itulah ia berjuang di medan kesehatan masyarakat. Dunia ketentaraan telah mengajarinya rasa cinta tanah air dan pengabdian kepada negara.

Spirit prajurit sejati inilah yang menjadi kompas bagi Rudy dalam mengoperasikan Dexa Medica selama 45 tahun terakhir. Salah satu terjemahan nasionalisme menurut Rudy adalah kemandirian industri farmasi nasional. Salah satu keresahannya adalah bahwa industri farmasi kita tak boleh bergantung pada impor dari negara lain. Jadi 40 tahun lebih sebelum Jokowi mengobarkan Nawacita, Rudy sudah menggagas dan memperjuangkannya.

Seperti diketahui, industri farmasi kita selama ini rapuh karena tergantung pada produk-produk obat off-patent dari raksasa obat asing. Praktis tak ada perusahaan obat nasional yang mandiri mengembangkan obat originator sendiri. Alasan itulah yang mendorong Rudy mendirikan DLBS (Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences). Tujuannya untuk melakukan riset dan pengembangan obat originator dengan memanfaatkan kekayaan keanekaragaman hayati (tumbuhan, hewan, tanah) Indonesia yang begitu kaya. Contohnya adalah Stimuno, fitofarmaka yang dikembangkan dari ekstrak meniran yang tersedia melimpah di bumi pertiwi.

17 Agustus

Kalau Anda datang ke pabrik Dexa Medica di Palembang, sejak lima tahun lalu halaman pabrik sudah direnovasi dan disulap menjadi tempat untuk upacara bendera 17 Agustus. ”Bagi saya itu adalah kebanggaan kami bisa melaksanakan upacara kemerdekaan setiap tanggal 17 Agustus. Setiap kali memperingati Hari Kemerdekaan, saya selalu bertanya, apa yang bisa saya kontribusikan kepada negara sampai dengan sekarang,” ujarnya.

Rudy ingin agar tradisi upacara bendera 17 Agustus terus dilestarikan di Dexa Medica agar spirit dan nilai-nilai cinta tanah air tetap menggelora. Saya merenung, mana ada perusahaan swasta memikirkan ini, apalagi di tengah karut-marut globalisasi yang meluluhlantakkan semangat nasionalisme dan kebangsaan kita. Rudy adalah prajurit sejati. Rudy adalah teladan kita semua.

Semangat pengabdiannya kepada Merah Putih tak pernah redup, bahkan ketika tubuhnya telah ringkih ditelan usia. Old soldier never dies.

Senin, 28 September 2015

Inovasi ”0 ke 1”

Inovasi ”0 ke 1”

Yuswohady ;  Managing Partner; Inventure www.yuswohady.com
                                                KORAN SINDO, 27 September 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Inovasi hebat hanya terjadi sekali. Karena itu, Bill Gates berikutnya tak akan membikin sistem operasi komputer. Larry Page-Sergey Brin berikutnya tak akan menciptakan mesin pencari internet.

Mark Zuckerberg berikutnya tak akan menghasilkan aplikasi jejaring sosial. Anda tak bisa meniru mereka kalau ingin menghasilkan sesuatu yang sama sekali baru. ”Kalau Anda meniru orang-orang hebat itu, Anda tak akan belajar apa pun dari mereka,” begitu kata Peter Thiel, pendiri PayPal, penulis Zero to One (2014) yang beberapa waktu lalu habis saya baca.

Begitulah tipikal inovasi ”0 ke 1”, inovasi yang menghasilkan sesuatu yang sama sekali baru, sesuatu yang fresh dan ganjil karena belum pernah ada sebelumnya. Inovasi ”0 ke 1” tentu saja jauh lebih rumit karena tak ada satu pun orang yang pernah melakukannya.

Ini berbeda dengan inovasi ”1 ke n” di mana kita cukup meniru atau menyempurnakan sesuatu yang telah ada. Untuk mewujudkan inovasi ”0 ke 1”, kita tak memiliki teori, formula, ataupun panduan yang bisa diikuti. Semuanya serbagelap, tak berpola, dan sarat ketidakpastian.

Dunia Baru

Inovasi ”0 ke 1” memang pekat dengan ketidakpastian sehingga sulit mewujudkannya. Namun, di balik kesulitan tersebut, ia menawarkan berbagai kemewahan. Ia menghasilkan pertumbuhan eksponensial yang luar biasa. eBay, Google, Facebook, atau YouTube mengalami pertumbuhan eksponensial yang tak tertandingi oleh perusahaan- perusahaan yang telah mapan sebelumnya.

Dalam waktu kurang dari 10 tahun nilai pasar mereka telah mengungguli raksasa-raksasa yang telah berusia ratusan tahun macam GE atau Coca-Cola. Tak hanya itu, inovator ”0 ke 1” umumnya juga memonopoli pasar. Tak ada pesaing kedua atau ketiga yang mampu menandingi mereka.

Google, PayPal, atau Amazon menjadi standar dan mendominasi seluruh industri. Layaknya mesin vacuum cleaner , seluruh pasar terhisap oleh mereka. Mereka menjadi the first mover sekaligus the last mover di industri yang mereka masuki. Menurut Thiel, ”They become creative monopolists that give customers more choices by adding entirely new categories of abundance to the world”.

” Inovasi ”0 ke 1” juga menghasilkan produktivitas yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Ia menciptakan apa yang disebut Thieln ”perbaikan 10 kali”. Ketika Amazon muncul, ia bisa mendisplay buku berlipat-lipat lebih banyak dari toko buku mana pun di dunia. Ketika Wikipedia muncul, ia bisa menampung artikel berlipat-lipat lebih banyak dari Ensiklopedia Britannica.

Ketika iPod muncul, ia mampu menampung lagu berlipat-lipat lebih banyak dari pemutar musik tradisional sebelumnya. Namun, di balik produktivitas luar biasa tersebut, tak jarang inovasi ”0 ke 1” memakan korban. Ia membawa dampak disruptive layaknya bom nuklir yang memorak-porandakan bangunan industri lama yang sudah obsolete. PC menghancurkan mesin ketik.

Napster (dan kemudian industri musik digital) menghancurkan industri rekaman. Amazon menghancurkan Barnes & Noble, toko buku terbesar di dunia. Lepas dari penghancuran tanpa ampun tersebut, inovasi ”0 ke 1” telah membuka cakrawala baru. Ia membuka dunia baru yang penuh harapan.

Ganjil

Keganjilan inovasi ”0 ke 1” menjadikannya sulit direncanakan dan dikelola. Peter Thiel yang berpengalaman puluhan tahun menyukseskan PayPal, Facebook, LinkedIn, SpaceX, hingga AirBnB pun tak mampu memetakannya. Ketika kita bicara inovasi ”0 ke 1”, formula sukses itu tak ada karena polanya tak menentu dan penuh ketidakpastian.

Formula sukses yang baku tak akan bakal kita temukan karena setiap inovasi selalu baru dan unik. Tak satu pun pakar yang bisa merumuskan panduan bagaimana mencipta inovasi ”0 ke 1”. Keganjilan ini mengharuskan kita melihat masa depan sebagai sebuah keacakan (randomness).

Kondisi ini memaksa kita untuk memiliki apa yang disebut Thiel, ”optimisme tak menentu” (indefinite optimism), di mana kita yakin bahwa masa depan bakal lebih baik, namun kita tak tahu sama sekali bagaimana bentuknya. Karena tak tahu, kita tak kuasa untuk mendesain dan merencanakannya.

Di mata indefinite optimist, masa depan adalah sebuah ketidakjelasan yang tidak bisa dikontrol. Dalam kebuntuan ini para genius visioner kemudian memainkan peran sejarahnya. Inovasi ”0 ke 1” selalu membutuhkan campur tangan para genius macam Edison, Einstein, Turing, atau Jobs yang memiliki imajinasi liar melintas batas.

Di tangan merekalah terkuak dunia baru dengan peluang dan harapan baru yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Namun, bagaimana para genius tersebut memecah kebuntuan inovasi ”0 ke 1” tetaplah merupakan rahasia yang tak pernah terungkap. Inovasi selalu baru dan unik.

Pertanyaannya, apakah sebuah organisasi bisa menciptakan iklim, budaya, dan beragam metode menciptakan inovasi ”0 ke 1”? Sama sekali tidak. Kenapa? Karena, eksplorasi untuk menciptakan sebuah inovasi ”0 ke1” bersifat unik.

Budaya, iklim, dan metode yang dikembangkan oleh organisasi tersebut bersifat unik. Karena itu, ia sulit dikopi dan digeneralisasi menjadi sebuah pola baku yang berlaku untuk semua perusahaan. Atau, dengan kata lain, formula sukses sebuah inovasi ”0 ke 1” tetap merupakan misteri yang tak kunjung terkuak.

”Mafia PayPal”

Peter Thiel punya pengaruh besar dan begitu dihormati di Silicon Valley karena dianggap sebagai inisiator dan pemimpin dari sekelompok wirausaha muda genius yang disebut ”Mafia PayPal”. Media bahkan menjulukinya ”The Don of PayPal Mafia ”, merujuk pada sosok Don Corleone dalam film mafia klasik The Godfather.

Di samping mendirikan PayPal, Thiel adalah investor awal di Facebook. Sebagai venture capitalist ia mendanai perusahaan- perusahaan sukses seperti: LinkedIn, Yelp, AirBnB, hingga SpaceX. Thiel kini seorang miliarder dengan kekayaan mencapai USD2,2 miliar.

Kenapa disebut Mafia PayPal? Karena, para pendiri dan karyawan awal Pay- Pal tetap menjalin koneksi dan jejaring bisnislayaknya mafia ketika mereka hengkang dari PayPal (setelah dibeli eBay pada 2002) dan kemudian melahirkan start-up yang belakangan mendominasi jagat internet.

Mereka antara lain Reid Hoffman (pendiri LinkedIn); Chad Hurley, Jawed Karim, dan Steve Chen (YouTube), Elon Musk (Tesla Motors dan SpaceX); Russel Simmon (Yelp), dan David Sach (Yammer). Sebagian besar mereka adalah para nerds nyentrik lulusan Universitas Stanford.

Mafia PayPal dianggap sebagai pemicu gelombang kedua munculnya perusahaan-perusahaan internet pascajatuhnya perusahaan dotcom (dotcom crash) pada 2000. Lahirnya PayPal menandai bangkitnya perusahaan-perusahaan internet baru yang lebih fokus pada konsumen dan tidak bubble seperti sebelumnya. PayPal Mafia sekaligus menjadi ”dewa penyelamat” jagat industri internet global kala itu.

Tiga Dewa Animasi

Tiga sosok Steve Jobs, Ed Catmull, dan John Lasseter pantas mendapat julukan dewa film animasi modern. Terobosan inovasi mereka telah menjadikan film yang kita tonton di gedunggedung bioskop demikian indah dan natural. Ketiganya adalah sosok berbakat yang memiliki keahlian masing-masing dan keahlian itu disinergikan menghasilkan terobosan terpenting dalam sejarah efek visual dan film animasi.

Jobs adalah inovator dan pebisnis visioner. Catmull adalah penemu teknologi komputer grafis. Sementara Lasseter adalah sutradara dan animator genius. Ketiganya menyatu di dalam Pixar, bahu-membahu saling mengisi untuk menghasilkan Toy Story (1995), inovasi terpenting dalam sejarah film animasi modern.

Pixar dirintis Steve Jobs dari unit komputer grafis Lucas Film milik sutradara George Lucas yang sudah tak terurus karena tak berprospek lagi. Begitu dibeli oleh Jobs pada 1986, pelan-pelan ia disulap menjadi sebuah butik film animasi dan efek visual berbasis komputer dengan teknologi terdepan di dunia.

Sebagai CEO, Jobs tak banyak turun ke lapangan. Ia memberikan keleluasaan penuh pada Catmull-Lasseter hingga terwujud mimpi- mimpi gila mereka dalam menghasilkan film indah. Terobosan Pixar terwujud dari kombinasi kepiawaian bisnis Jobs, visi teknologi Catmull, dan kreativitas Lasseter yang luar biasa.

Sejak awal ketertarikan Jobs membangun Pixar bukanlah film, tapi teknologi. Setahun setelah diambil alih Jobs, Pixar menciptakan perangkat lunak untuk memproses (rendering) film animasi yang belum pernah ada sebelumnya. Terobosan teknologi yang cikal bakalnya adalah disertasi doktor Catmull di Universitas Utah pada 1970-an ini kemudian dikenal luas di dunia perfilman animasi dengan: RenderMan.

Kini RenderMan menjadi standar industri dan digunakan oleh hampir semua film animasi Hollywood dari Jurassic Park, Transformer, hingga Guardians of the Galaxy . Di bawah tiga serangkai Jobs-Catmull-Lasseter, Pixar telah mengubah wajah dunia perfilman. ”They have changed animation and Hollywood forever .”

Selasa, 30 Juni 2015

Masjidpreneurship

Masjidpreneurship

  Yuswohady ;   Managing Partner Inventure
KORAN SINDO, 28 Juni 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Ide ”masjidpreneurship” muncul dari percakapan saya dengan Mas Yuli Pujihardi, Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa, suatu sore saat kami ngobrol di sebuah mal di bilangan Pejaten, Jakarta.

Awalnya ngobrol ngalor-ngidul, tapi nggak tahu kenapa, ujung-ujungnya kami sampai pada ngomongin seru mengenai potensi masjid sebagai hub untuk pengembangan ekonomi umat. Saya surprise luar biasa karena apa yang saya pikirkan selama ini mengenai peran strategis masjid ini rupanya nyambung dengan apa yang dipikirkan Mas Yuli. Seperti diketahui, seiring dengan munculnya kelas menengah muslim yang begitu pesat di Indonesia, kini kehidupan masjid kian modern, terbuka, dan inklusif.

Seperti saya tulis dalam buku Marketing to the Middle Class Muslim, masjid kini tak lagi sekadar menjadi tempat untuk menjalankan kegiatan ibadah mahdhah, tapi juga untuk menjalankan berbagai kegiatan positif yang membawa kemanfaatan universal kepada masyarakat luas. Di samping untuk ibadah dan dakwah, kini masjid juga digunakan untuk mengkaji ilmu, berkesenian, menjalankan kegiatan sosial, gaya hidup muslim modern, juga pusat kegiatan ekonomi umat.

Agen Kemakmuran

Pertanyaannya, kok bisa masjid menjadi hub untuk pemberdayaan ekonomi umat? By nature masjid di desa-desa, di kampong-kampung, di kompleks-kompleks, di kampus-kampus, bahkan masjid-masjid mentereng di kawasan elite Ibu Kota sesungguhnya adalah sebuah komunitas. Kenapa? Ya, karena masjid memiliki jamaah yang berkumpul secara reguler dan mereka memiliki satu kepentingan yang sama (common interest) untuk beribadah dan mencari kebaikan di jalan Allah.

Sebagai sebuah komunitas produktif, seharusnya masjid, takmir, dan jamaahnya bisa menjadi driver bagi pemberdayaan ekonomi di tingkat grass root. Masjid bisa menjadi agen kemakmuran. Masjid bisa menjadi hub untuk menjalankan beragam aktivitas ekonomi (valuecreating activities) yang memberikan kemanfaatan umat, termasuk di dalamnya aktivitas bisnis dan perdagangan.

Dengan menjadi unit ekonomi yang mandiri, komunitas masjid akan memiliki segudang kegiatan bermanfaat mulai dari kegiatan keagamaan, pendidikan, seni-budaya, sosial, atau bisnis yang bermanfaat bagi umat. Dan alangkah indahnya jika seluruh kegiatan itu dibiayai secara mandiri karena adanya pengelolaan bisnis dan keuangan yang profesional.

Harus diingat, dana zakat, infak, sedekah, wakaf (ziswaf) dari jamaah merupakan sumber pendanaan mandiri bagi masjid yang potensinya luar biasa. Kalau sumber dana ini bisa digalang dan dikelola secara profesional, fungsi masjid sebagai agen kemakmuran bukanlah sekadar mimpi di siang bolong.

Format organisasinya tentu saja bukan murni business enterprise yang melulu mencari laba (profit-making), tapi social enterprise di mana setiap keuntungan yang diperoleh harus sebesar-besarnya dikontribusi untuk kemanfaatan umat (social welfare). Format social enterprise ini menurut saya sudah dijalankan secara baik sekali oleh LAZ (lembaga amil zakat) modern seperti Dompet Dhuafa atau Rumah Zakat.

Lembaga-lembaga ini dengan sangat baik melakukan penghimpunan dana (fund raising) dan kemudian menggunakannya untuk berbagai aktivitas yang bermanfaat bagi umat. Menariknya, keseluruhan aktivitas tersebut dilakukan dengan sangat profesional layaknya business enterprise dengan manajemen yang tertata rapi. Nah, mestinya masjid-masjid di seluruh pelosok Tanah Air, besar maupun kecil, juga bisa mengambil model pengelolaan seperti halnya yang dijalankan LAZ modern tersebut.

Entrepreneurial

Lalu apa syaratnya agar semua skenario di atas bisa terwujud? Salah satu faktor kuncinya menurut saya adalah bahwa pengurus (takmir) masjid harus memiliki jiwa kewirausahaan yang mumpuni. Mereka harus bisa menggalang potensi dana ziswaf dari jamaah, mengelolanya secara profesional, dan kemudian menggunakannya untuk membesut beragam program kegiatan untuk memecahkan persoalan riil yang dihadapi jamaah dan masyarakat luas di sekitar masjid.

Dengan begitu masjid bukannya tercerabut dari persoalan aktual masyarakat sekitarnya, tapi menjadi solusi manjur bagi mereka. Saya optimistis dengan konsep masjidpreneurship karena role model-nya sudah ada. Beberapa masjid hebat (nggak mesti besar) dikelola dengan jiwa kewirausahaan yang luar biasa oleh takmirnya. Contohnya adalah masjid Jogokariyan di Yogyakarta.

Masjid ini dikelola dengan sangat profesional, terutama dalam pengelolaan bisnis dan keuangan. Menariknya, uang yang dihasilkan oleh sedekah Jumat tiap minggunya tak hanya disalurkan untuk pembangunan dan perawatan masjid, melainkan juga dikelola untuk berbisnis. Bisnis itulah yang kemudian terus memberikan penghasilan bagi kemakmuran masjid, bahkan untuk masyarakat sekitar masjid.

Melalui bisnis tersebut, disusunlah program-program sosial-kemasyarakatan bagi masyarakat sekitar Jogokariyan. Pesantren dan Masjid Daarut Tauhid (DT) di Geger Kalong Bandung adalah contoh lain komunitas masjid dengan spirit kewirausahaan yang luar biasa. Sejak dirintis oleh KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) di tahun 1990, kompleks masjid DT menjadi sebuah kampung wirausaha muslim yang tumbuh pesat.

Komunitas masjid ini mengembangkan unit-unit usaha seperti koperasi, jasa travel umrah, makanan/minuman, bahkan media, untuk menangkap pasar para jamaah dan santri yang sangat lukratif. Walaupun DT tidak seramai dulu, geliat kewirausahaan dan aktivitas ekonominya masih tetap terasa dan menjadi role model kewirausahaan masjid yang solid.

Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla pernah mengungkapkan bahwa jumlah masjid dan musala di Indonesia saat ini sudah mencapai sekitar 1 juta. Saya membayangkan, apabila 1 juta masjid tersebut, baik besar-kecil, di kota-desa, dari Sabang sampai Merauke, bisa dikelola dengan spirit dan kemampuan kewirausahaan ampuh seperti halnya di Masjid Jogokariyan atau Daarut Tauhid, dampaknya bagi perekonomian kita akan luar biasa. Masjid bisa menjadi agen kemakmuran yang pengaruhnya demikian masif bagi bangsa ini. Pertanyaannya: kapan kita akan mewujudkannya?

Selasa, 30 Desember 2014

2015 : (Still) Tough, Yet Challenging

2015 : (Still) Tough, Yet Challenging

Yuswohady   ;   Managing Partner Inventure www.yuswohady.com @yuswohady
KORAN SINDO, 28 Desember 2014

                                                                                                                       


Tak terasa kita sudah sampai di pengujung tahun 2014. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kini waktunya saya berbagi analisis mengenai prospek pemasaran di tahun 2015.

Saya surprise luar biasa begitu melihat tulisan saya persis setahun lalu “Marketing Outlook 2014: Menyalip di Tikungan”. Surprise karena prognosis tersebut rupanya banyak nyambungnya. Saya katakan di situ bahwa tahun 2014 adalah tahun berat, sehingga pemain harus jeli memanfaatkan “tikungan” yang ada untuk memenangkan persaingan.

Memang tahun 2014 adalah tahun berat karena pelaku bisnis “wait and see “ alias tiarap oleh Pemilu, rupiah masih loyo karena akutnya defisit transaksi berjalan, sementara ekonomi Amerika Serikat (AS) mulai menggeliat sehingga dolar kian kokoh (ingat kebijakan tapering off). Sebulan terakhir saya banyak bertemu dengan para pemimpin perusahaan di berbagai industri.

Banyak dari mereka mengeluhkan miss the target karena iklim bisnis yang masih belum bersahabat di tahun ini. Pertanyaannya, bagaimana dengan tahun 2015? Memang tahun 2015 tak akan seburuk tahun 2014, namun ranjau-ranjau masih banyak bertebaran sehingga para pelaku bisnis masih harus berpikir keras dan mengencangkan ikat pinggang.

Kondisi yang belum sepenuhnya baik tersebut tecermin dari prediksi Bank Dunia, IMF, dan ADB mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2015. Berbagai lembaga tersebut memprediksi pertumbuhan ekonomi kita di kisaran 5,1% sampai 5,5%, naik tipis dari posisi tahun ini. BI memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2014 sebesar 5,5% dan 2015 sebesar 5,8%.

Bank Dunia menyebut perekonomian RI pada 2014 sebesar 5,1% dan 2015 sebesar 5,2%. IMF memproyeksikan perekonomian RI pada 2014 sebesar 5,4% dan 2015 sebesar 5,1%. Adapun ADB memprediksi perekonomian RI pada 2014 sebesar 5,3% dan 2015 sebesar 5,8%. Untuk mengurai lanskap pemasaran 2015, saya membaginya dalam tiga bagian: macro landscape , smart strategy , dan killing tactics .

Macro Landscape: “Jokowinomics”

Di tingkat makro, beberapa perubahan mewarnai karut marut lanskap bisnis di tahun 2015. Di bidang politik saya meyakini bahwa turbulensi politik pascapemilu akan terus berlanjut dengan destruktifnya rivalitas antara Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi Merah Putih (KMP). Tahun lalu saya memperkirakan bahwa ontran-ontran politik pemilu akan menemukan “happy-ending “begitu Jokowi terpilih sebagai presiden di tengah tahun 2014.

Namun seperti kita lihat hingga sekarang, perseteruan itu terus berlanjut bahkan kian tajam. Masamasa “bulan madu” perseteruan tersebut masih akan terus berlanjut setidaknya hingga akhir tahun 2015 sehingga ketidakmenentuan politik akan tetap terjadi. Di bidang ekonomi, kebijakan-kebijakan ekonomi pemerintahan Jokowi- JK (sebut saja dengan istilah seksi: “Jokowinomics“) bakal mewarnai lanskap ekonomi Indonesia di tahun 2015.

Perlu diingat, di tahun pertama pemerintahannya, Jokowi-JK perlu “cari muka” untuk memikat hati rakyat. Beberapa kata kunci akan mewarnai pembangunan ekonomi di bawah pemerintahan baru seperti: revolusi mental, pengembangan sektor maritim, pembangunan infrastruktur, industri kreatif/UKM, efisiensi distribusi/logistik nasional, kemandirian pangan dan energi, dan lain-lain.

Kenaikan harga BBM berikut implikasi lanjutannya (tarif listrik, ongkos transportasi, dan harga barang-barang yang ikutan terdongkrak naik) akan benar-benar terasa impact-nya di tahun depan. Bagi konsumen, kita ini menjadi semakin berat karena diikuti tren kian melemahnya rupiah yang hampir menembus angka psikologis Rp13.000 akhir tahun ini.

Tak pelak lagi, produk/layanan bermuatan dolar yang menjadi konsumsi wajib konsumen kelas menegah kita (gadget , peralatan elektronik, furnitur, hingga liburan ke luar negeri) menjadi kian mahal. Ketika daya beli tersunat oleh kenaikan BBM dan pelemahan rupiah, dampaknya gampang ditebak, permintaan produk/layanan itu akan kian melemah.

Smart Value Strategy

Ketika daya beli konsumen melemah di tahun 2015 (oleh karena rupiah yang melemah, harga BBM naik, inflasi meninggi, sementara gaji jalan di tempat) maka marketer dituntut piawai memainkan value proposition dengan menawarkan best value ke konsumen. Dalam kondisi sulit seperti di atas konsumen dihadapkan pada pilihan-pilihan rasional dalam memilih produk/layanan dengan cara memaksimalkan manfaat yang diperoleh dan meminimalisasi biaya yang harus dikeluarkan.

Best value product ini sangat pas dengan karakteristik dan perilaku konsumen kelas menengah yang kini merupakan segmen pasar terbesar (mencapai 60%) di Indonesia. Ya, karena mereka adalah jenis konsumen yang sangat cerdas dan selalu mengulik fitur dan manfaat produk. Rule of tumb -nya: kualitas dipertahankan atau turun sedikit, tapi harga menjadi jauh lebih murah. Untuk mencapai best value, produk-produk dengan local content tinggi bisa mulai unjuk gigi melibas produk impor.

Cuma syaratnya satu: produk-produk tersebut harus tetap berkualitas dan memiliki brand image yang tak jauh beda (comparable) dibanding produk impor. Di samping menawarkan best value offering , untuk mengeksplorasi peluang pasar baru, marketer bisa mulai menjajaki segmen yang saya prediksikan bersinar di tahun 2015 yaitu pasar muslim.

Seperti kita tahu, beberapa tahun terakhir pasar muslim di Indonesia menggeliat begitu dahsyat. Lihat misalnya fenomena maraknya pasar fashion hijab, makanan-minuman halal, kosmetik halal, bank dan asuransi syariah, investasi syariah/emas, haji/ umrah, pendidikan bermuatan Islam, hingga hotel syariah yang mulai menjamur di seluruh penjuru Tanah Air.

Marketers harus mulai berani menawarkan apa yang saya sebut spiritual benefit untuk menarget segmen pasar lukratif yang kini mencakup 87% dari total populasi Indonesia. Saya meramalkan di tahun 2015 akan semakin banyak pemain yang cerdas memanfaatkan spiritual benefit untuk menaklukkan pesaing incumbent seperti yang dilakukan Wardah di industri kosmetik.

Killing Marketing Tactics

Di level taktik saya melihat akan muncul beberapa pendekatan taktik pemasaran mematikan yang bakal seru diterapkan oleh para pemain. Saya sebut “mematikan” karena taktik-taktik tersebut berpotensi memandulkan teknikteknik marketing konvensional yang boring dan costly seperti iklan atau sales promotion . Coba kita tinjau satu persatu.

Nationalism Branding

Begitu Jokowi naik dalam pentas politik nasional serta-merta nasionalisme kita terbangkitkan. Puncak euforia terjadi saat Jokowi-JK dilantik sebagai presiden dan wakil presiden bulan lalu. Karena itu, saya memprediksi nationalism branding bakal marak di tahun 2015 baik melalui above the line (ATL), below the line (BTL), aktivasi komunitas, maupun kampanye berbasis digital yang bertujuan mengaduk-aduk rasa nasionalisme dan kebangsaan kita.

Akan banyak brand yang cerdas memanfaatkan rasa nasionalisme dan kebangsaan untuk menjalin emotional connection dan engagement dengan konsumennya. Saya prediksikan juga pendekatan “branding as a movement“ melalui pelibatan konsumen dalam pemecahan persoalan bangsa dan negara akan kian masif dijalankan oleh pemilik brand.

Meme Marketing

Tahun ini cukup banyak taktik pemasaran yang menggunakan medium meme untuk menggulirkan viral pesan ke khalayak target. Lihat misalnya kasus-kasus meme marketing fenomenal seperti Mastin dengan “Kabar gembira untuk kita semua. Kulit manggis, kini ada ekstraknya “; Line dengan retro film “Ada Apa dengan Cinta”, hingga kasus bullying Bekasi yang memicu viral luar biasa.

Nah, di tahun depan heboh meme marketing bakal terus berlanjut dengan intensitas yang jauh lebih besar. Kampanye meme yang sangat kreatif ala Line bakal menjadi model yang akan ditiru dan dielaborasi oleh brand -brand lain di tahun 2015.

Apps Marketing

Pemasaran secara personalized melalui smartphone akan menjadi the next big thing dalam dunia pemasaran tak hanya di tingkat global, tapi juga di tanah air. Ketika Anda menggunakan smartphone sebagai saluran promosi, maka apps menjadi pilihan paling pas dan efektif. Nah, tahun depan apps marketing akan mulai menggelinding ditandai munculnya para pemain sebagai early adopter pendekatan baru ini.

Dua bulan lalu misalnya, Dulux meluncurkan inovasi teranyarnya, Visualizer Apps, yang menggunakan teknologi augmented reality untuk membantu konsumennya melakukan simulasi sebelum melakukan pengecatan rumah. Saya yakin tahun depan apps marketing bakal banyak diadopsi oleh para marketers.

Peer Power

Khusus untuk inovasi produk baru, konsep produk baru, atau model bisnis baru, edukasi konsumen melalui pendekatan peer-to-peer (P2P) di dalam medium komunitas merupakan pendekatan pemasaran yang paling ampuh. Inovasi konsep “ritel tempat nongkrong” (7-Eleven), kosmetik halal (Wardah), atau fenomena revolusi hijab mengalami sukses luar biasa karena menggunakan pendekatan ini. Beberapa tahun ke depan pendekatan baru ini akan menjadi mainstream dan bibit-bibitnya akan tumbuh subur di tahun depan. Selamat tahun baru 2015. ItIts a tough, yet challenging year . ?

Minggu, 14 Oktober 2012

Siapa Bilang Kelas Menengah Kita Apolitis


Siapa Bilang Kelas Menengah Kita Apolitis
Yuswohady ;  Pengamat Bisnis dan Pemasaran, Penulis Buku ”Consumer 3000
SINDO, 14 Oktober 2012
  

Benarkah kelas menengah kita konsumtif dan cuek bebek terhadap persoalan-persoalan negaranya? Benarkah mereka kelas hedonis yang bisanya cuma belanja di mal atau nongkrong diStarbucks,tanpa pernah peduli pada persoalan-persoalan sosial seperti korupsi atau dekadensi moral wakil rakyat?
Benarkah mereka “kelas penonton”yang cuma diam dan mandul sebagai elemen perubahan sosial? Awalnya saya menganggap begitu.Tapi dua peristiwa sebulan terakhir ini mengubah pandangansaya mengenaisisikepeduliansosial kelas menengah kita. Peristiwa pertama adalah Pilkada DKI dan terpilihnya Jokowi-Ahok sebagai gubernur baru DKI. Peristiwa kedua adalah heboh pendudukan kantor KPK oleh Polri minggu lalu. Dua peristiwa ini semakin menguatkan keyakinan saya bahwa, seperti pengalaman di negara lain, kelas menengah kita memang memiliki potensi amat dahsyat sebagai kekuatan pendorong demokratisasi dan pembentukan praktek politik yang lebih beradab.

Pilkada Kelas Menengah

Di harian ini beberapa minggu lalu saya menulis bahwa Pilkada DKI 2012 merupakan cerminan dari aspirasi kelas menengah.Ya, karena dengan pendapatan perkapita di atas USD10.000 pertahun pemilih DKI didominasi oleh kalangan masyarakat kelas menengah.Mereka cerdas dan rasional, mereka cenderung nonpartisan, dan mereka tahu betul kualitas pemimpin yang dipilihnya.

Sebagai “Pilkada kelas menengah” (sebut saja “Pilkada 3000”), saya melihat Pilkada DKI 2012 adalah Pilkada yang sangat istimewa. Kenapa? Karena inilah Pilkada dimana warga DKI, khususnya kelas menengahnya, serta-merta tergerak untuk peduli terhadap nasib daerahnya lima tahun ke depan. Inilah Pilkada dimana sekonyong-konyong kelas menengah Jakarta merasa bertanggung- jawab untuk menentukan siapa yang harus memimpin ibukota lima tahun ke depan.Mereka datang ke TPS (tingkat partisipasi putaran 2 cukup besar 67%) karena dorongan rasa tanggung-jawab itu.

Inilah Pilkada paling substansial dalam sejarah Pilkada di Indonesia. Pilkada DKI 2012 juga istimewa karena untuk pertama kalinya kita menyaksikan betapa ampuh kekuatan suara kelas menengah sebagai “mesin politik informal” melawan mesin politik formal yaitu partai. Kita tahu bahwaJokowi-Ahokhanya didukung 2 partai PDIP dan Gerindra,sementara Foke-Nara didukung koalisi partaipartai besar sekelas partai Demokrat, Golkar, PPP, PKB, PAN, PKS, hingga Hanura.

Secara hitungan di atas kertas harusnya Jokowi-Ahok kalah, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Itu artinya, kemenangan Jokowi- Ahok bukan digerakkan oleh mesin partai, tapi murni karena aspirasi politik kelas menengah Jakarta. Memang kebanyakan mereka tidak terlibat di partai, tapi bukan berarti mereka apolitis dan tak peduli pada persoalan sosial-politik masyarakat. Pilkada DKI kemarin secara gamblang menunjukkan kepedulian itu. Melihat fenomena ini saya menjadi optimis kelas menengah kita bisa betul-betul menjadi kekuatan demokratisasi yang ampuh.

Save KPK

Peristiwa kedua adalah pendudukkan gedung KPK oleh Polri Jumat malam minggu lalu. Selama ini kita semua resah oleh upaya-upaya sistematis untuk melemahkan KPK. Kasus demi kasus bertubi-tubi menghantam KPK mulai dari kasus Antasari, kasus Cicak vs Buaya, hingga yang terakhir revisi UU KPK oleh DPR dan kasus Novel Baswedan.

Yang menarik adalah kasus yang terakhir. Novel Baswedan, salah satu penyidik terbaik KPK, dituduh terlibat melakukan tindak pidana saat bertugas di Polda Bengkulu tahun 2004.Maka puluhan aparat kepolisian kemudian mendatangi gedung KPK untuk menjemput Novel.Langkah ini ditengarai sebagai bagian dari upaya sistematis untuk sekali lagi melemahkan KPK. Apa yang dilakukan kalangan kelas menengah untuk merespons kasus ini? Ini yang menarik.

Tindakan polisi langsung direspons dengan aksi dukungan di dunia maya. Tagar #saveKPK dan dan #presidenkemana pun dilahirkan untuk menggelembungkan isu dan membangun dukungan ke masyarakat yang lebih luas. Dalam ukuran detik kicauan berisi dukungan kepada KPK pun bergemuruh di linimasa Twitter.Dan dalam waktu singkat massa menyemut mendatangi gedung KPK Jumat malam. Situs saling mencatat, sepanjang Jumat,muncul sekitar 40 ribu kicauan dengan tagar #saveKPK. Aksi dukungan KPK tak hanya terjadi di Twitter.

Di situs change.org juga muncul inisiatif penandatanganan petisi yang dibuat aktivis anti korupsi Anita Wahid bertajuk “Serahkan Kasus Korupsi POLRI Ke KPK! Hentikan Pelemahan KPK!”. Sementara di Facebook dukungan serupa juga muncul dalam bentuk halaman bertajuk “Save KPK Save Indonesia”. Intinya mereka mendukung KPK dan mempertanyakan sikap SBY yang seharusnya turun tangan untuk menyelesaikan perseteruan KPK-Polri.

Peduli

Siapa sesungguhnya penggerak dari keseluruhan dukungan terhadap KPK di atas? Mereka tak lain adalah kalangan kelas menengah kita yang peduli terhadap persoalan-persoalan bangsanya.Mereka adalah kelompok strategis kelas menengah yang dengan kemampuan intelektualitasnya menginginkan Indonesia menjadi lebih baik. Mereka adalah anggota kelas menengah yang tak hanya bisa memborong barang-barang sale di mal atau kongkow-kongkow di kafe, tapi secara aktif berkontribusi bagi kemajuan bangsanya.

Bagi saya tagar #saveKPK dan #presidenkemana adalah fenomena yang istimewa karena inilah cara unik kelas menengah menyalurkan aspirasi politiknya dan membangun gerakan sosial untuk perbaikan negaranya. Ketika saluran formal seperti partai atau DPR mandul tak berkutik, maka Twitter bisa menjadi alat ampuh untuk memicu gerakan sosial yang massif dan powerful. Melalui Twitter, kelas menengah tak hanya piawai menyebarkan viral video Gangnam Style, tapi juga menggulirkan isu-isu politik-sosial bagi kebaikan bangsanya.

Saya meramalkan kepedulian kelas menengah terhadap isu-isu sosialpolitik seperti yang terjadi pada kasus Pilkada DKI dan kasus #saveKPK bakal terus berlanjut untuk kasus-kasus krusial kenegaraan yang lain. Dan saya melihat media sosial seperti Twitter dan Facebook akan menjadi tools yang ampuh bagi proses pendidikan politik kelas menengah kita. Jadi... Siapa bilang kelas menengah kita apolitis.

Minggu, 22 Juli 2012

Marketing Al-Amin vs Pencitraan


Marketing Al-Amin vs Pencitraan
Yuswohady ; Pengamat Bisnis dan Pemasaran
SINDO, 22 Juli 2012

Pilkada DKI Jakarta putaran pertama telah lewat. Bagi saya yang menekuni bidang marketing, kemenangan Jokowi-Ahok menyimpan sebuah pelajaran berharga yang bisa kita pakai untuk berkaca.

Sejak ajang pemilihan kepala negara, legislatior, dan kepala daerah tersulap menjadi sebuah industri yang bergelimang rupiah, marketing capres/caleg/ cagub-cabup kepada para stakeholdersnya dimaknai secara sempit sebagai proses pencitraan (image building). Celakanya, proses pencitraan di dunia politik telah mengalami pemerkosaan dan pembusukan. Begitu mendengar “pencitraan”, yang keluar di benak adalah pemolesan, pembedakan, atau penggincuan.

Dari caleg koruptor di mata publik dipoles menjadi malaikat. Dari capres yang aktivitas bisnisnya menyengsarakan rakyat dibedaki tebal dengan aktivitas social responsibility yang meneduhkan. Dari cagub pemarah dan suka tersinggung diberi gincu merah-merona menjadi sosok murah senyum dan penyabar. Dengan pencitraan, semua bisa diperoleh secara instan asal ada duit. Kalau sudah begitu lalu marketing disalahartikan sebagai pembohongan publik.

Marketing Al-Amin

Padahal, marketing yang saya pahami dan yakini selama ini bukanlah senista itu. Marketing adalah al-amin alias trusted dan dapat dipercaya. Kalau produknya jelek harus bloko dibilang jelek. Begitu pun kalau produknya bagus dibilang bagus dilandasi kejujuran dan bukti-bukti yang dapat dipercaya. Marketing juga adalah kesesuaian antara janji dengan bukti. Ketika selama kampanye seorang calon pemimpin berjanji kepada masyarakat pemilihnya , ketika terpilih ia harus bisa mewujudkan janji tersebut menjadi kenyataan. Marketing itu tidak ada yang instan.

Ya, karena produk yang betul-betul bagus adalah hasil perasan keringat, buah dari kerja keras bertahun-tahun, tak ada yang semalam jadi. Membuat produk jelek menjadi bagus melalui pe molesan/pembedakan/penggincuan di mata publik itu baru instan. Marketing pencitraan memang bisa dibuat instan, tetapi marketing al-amin butuh kerja keras bertahun-tahun disertai kejujuran dan kearifan.

Oleh karena itu saya memaknai marketing dalam konteks pemilihan capres/caleg/cagub-cabup sebagai proses menciptakan capaian (achievement) dan membangun karakter (character building) dari si calon. Me-marketing-kan capres atau cagub bukanlah memasang baliho foto si calon di antero negeri atau menayangkan spot iklan TV si calon 60 kali setiap hari menjelang hari pencoblosan.

Character Matters!

Aktivitas fundamental me-marketing-kan capres atau cagub adalah bagaimana si calon menciptakan legacy demi legacy prestasinya melalui kerja nyata dan bagaimana melalui perilaku sehari-hari sebagai pemimpin ia membentuk karakternya yang otentik (authentic character). Itu semua dibangunnya jauh sebelum si capres atau cagub menyongsong pencoblosan. Dari track record si calon tersebut terbentuklah ekuitas merek (brand equity) si calon yang baik di mata stakeholders-nya. Ekuitas merek kokoh inilah yang secara genuine akan mengantarkan si calon memenangi pemilihan.

Bagi saya kemenangan Jokowi-Ahok merupakan kasus menarik karena kemenangan tersebut merupakan cermin keunggulan “marketing al-amin” atas “marketing pencitraan”. Proses kemenangan Jokowi tidak diperoleh secara instan beberapa minggu menjelang pencoblosan, tetapi sudah dibangun bertahun-tahun sebelumnya melalui capaian-capaian luar biasa selama menjadi wali kota Solo. Kemenangan Jokowi juga bukan semata hasil dari aksi merakyat yang dilakukannya selama kampanye, tapi dari karakter kepemimpinan yang ia praktikkan selama menjadi wali kota Solo.

Namanya saja karakter, tak mungkin bisa diubah dalam kurun waktu tiga bulan, enam bulan, atau setahun menjelang pencoblosan. Mana bisa seumur-umur pongah tiba-tiba menjadi pemurah. Mana bisa seumur-umur tak pernah turun ke masyarakat tiba-tiba menjadi sosok merakyat. Mana bisa seumur-umur menyunat uang rakyat tiba-tiba menjadi malaikat.

Pelajaran Berharga

Kasus kemenangan Jokowi-Ahok mengandung pelajaran berharga bagi para capres/caleg/cagub-cabup yang akan maju untuk dipilih rakyat. Bagi mereka pelajarannya jelas bahwa me-marketing-kan diri (marketing yourself) si calon bukanlah ditempuh melalui proses pencitraan, apalagi politik uang, tapi melalui proses character building yang dipraktikkannya jauh sebelum hari pencoblosan.

Berkaitan dengan hal ini saya membagi marketing capres/caleg/ cagub-cabup menjadi tiga tingkatan. Tingkatan pertama adalah yang paling hina, yaitu dengan cara menyogok pemilih. Lebih hina lagi jika uang yang digunakan untuk menyogok itu adalah uang hasil korupsi. Tingkatan kedua adalah dengan cara melakukan pencitraan di mana muka bopeng-bopeng ditutup rapat dengan bedak dan lipstik. Dan tingkatan ketiga adalah yang paling al-amin, yaitu si calon mempersiapkan diri dengan membangun prestasi dan mengatur sikap dan perilakunya sehingga memiliki karakter arif-bijaksana.

Bagi tim sukses dan konsultan si calon, pelajarannya pun jelas bahwa marketing capres/caleg/cagub-cabup bukanlah sesederhana memasang poster/ baliho, menayangkan iklan TV si calon, atau melakukan serangan fajar menjelang hari pencoblosan. Upaya memenangkan seorang calon pemimpin adalah sebuah proses etis untuk menemukan sosok yang memiliki kompetensi teruji dan karakter yang agung. Seperti terlihat pada proses kemenangan Jokowi-Ahok, ketika kompetensi teruji dan karakter agung itu sudah terpenuhi, sesungguhnya marketing cagub itu nggak neko-neko.

Nggak perlu teknik marketing yang canggih. Cukup mengomunikasikan track record dan karakter yang sudah melekat pada si calon pemimpin secara autentik dan genuine, tanpa ditambah-tambah atau dikurang-kurangi. Bahkan mungkin tak perlu baleho besar-besar atau iklan TV yang menggemparkan.

Word of Mouth

Karisma pemimpin yang memiliki track record baik dan karakter agung secara natural akan memancar ke segala penjuru dan memicu promosi dari mulut ke mulut (word of mouth) dari para pemilihnya. Masyarakat pemilih menjadi ambasador si calon pemimpin yang secara sukarela menyebarkan pesan-pesan positif kepada pemilih lain. Harap diketahui, dalam konsep marketing, promosi dari mulut ke mulut ini adalah bentuk promosi yang paling murah tapi memiliki dampak luar biasa (low budget high impact).

Karena itu, kalau seluruh calon pemimpin cerdas menggunakan pendekatan marketing al-amin untuk menghasilkan promosi dari mulut ke mulut yang begitu powerful ini, wow alangkah indahnya negeri ini. Ya, karena dengan begitu tak akan ada lagi capres atau cagub yang repot-repot melakukan korupsi untuk mendanai kampanyenya.