Tampilkan postingan dengan label Sobary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sobary. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 April 2015

Nabi Palsu Bisnis Tembakau

Nabi Palsu Bisnis Tembakau

Mohamad Sobary  ;  Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi
KORAN SINDO, 06 April 2015

                                                                                                                                                            
                                                                                                                                                           

Di dalam sejarah pertanian kita, belum pernah ada semangat memojokkan tembakau, termasuk produk olahannya, seperti terjadi saat ini.

Berbagai cara ditempuh, demi mencapai tujuan pokoknya. Tapi jika diamati baik-baik, tampaknya, alhamdulillah, semangat itu tidak mematikan, dan boleh jadi tidak akan pernah mematikan. Nafsu untuk— istilah mereka—memuseumkan ”keretek”, produk olahan tembakau tadi, tak bakalan bisa dicapai.

Kita tahu dasar pertimbangan yang disiarkan secara global semangat itu dibangun demi alasan yang begitu indah dan manusiawi: kesehatan masyarakat. Tapi jika ditelusuri secara lebih saksama dan lebih mendalam, semangat itu berdiri di belakang perang dagang.

Pemilik industri olahan tembakau di luar negeri, yang ingin mencaplok secara serakah bisnis di bidang itu, dengan canggih tapi penuh tipu muslihat, dan bohong, menggunakan isu kesehatan untuk memenangkan pertarungan di negeri kita. Isu bahwa merokok merusak kesehatan, dengan berbagai macam penjelasan yang menakutkan, di sini tidak mempan.

Para perokok tetap merokok. Kelihatannya mereka tak begitu takut pada ancaman itu. Ketika isu kesehatan tak mengubah keadaan, dipakailah isu ekonomi, yang kelihatannya sama saja. Suara mereka tak begitu didengar orang. Muncul isu lain, yang merupakan kalkulasi strategis, dengan melihat bahwa dilihat dari komposisi penduduk kita, mayoritas kita pemeluk Islam.

Di sana kata halal-haram menjadi isu moral yang luar biasa penting, karena hal itu langsung berhubungan dengan Tuhan. Maka strategicanggihmereka, disertai dana besar yang pendukung strategi itu, memandang penggunaankataharamakanmanjur. Lalu disebutlah bahwa merokok itu haram. Tapi pilihan langkah ini pun membentur tembok.

Para perokok tak peduli pada fatwa itu, karena ada fatwa lain, dari komunitasorang-orangberiman yang jumlahnya lebih besar, tidak mengharamkan merokok. Status hukum merokok bagi mereka hanya makruh. Ini pilihan pribadi. Strategi yang tak mempan ini membuat mereka kecewa. Sekarang, mereka kembali lagi ke alasan semula: alasan kesehatan.

Ancaman yang menyebutkan bahwa, dulu, merokok mengganggu kesehatan ini dan itu, kini diganti, merokok: ”membunuhmu”. Ini bukan bahasa ilmu pengetahuan, bukan pula kebijakan yang dilandasi oleh suatu temuan yang meyakinkan, melainkan cerminan dari bahasa politik dagang yang tak melarang menggunakan kebohongan di sana sini.

Bahasa ancaman, dan manipulasi di dalamnya, boleh dipakai, asal bisa dianggap mendukung langkah untuk menuju kemenangan. Kelihatannya perlu sekali diwaspadai, bahwa ancaman ”merokok membunuhmu”, yang dipasang di tiap-tiap bungkus keretek, disertai gambargambar mengerikan, itu contoh strategi politik dagang. untuk memenangkan persaingan di pasar bebas.

Sekali lagi, ”merokok membunuhmu”, merupakan ancaman agar industri olahan tembakau di negeri kita tidak berkembang. Untuk sementara, mereka dibunuh dulu, dengan dukungan para pejabat kita sendiri. Kalau industri kita sudah mati, gampanglah mengatur strategi baru, sesudah semuanya dikuasai dan sepenuhnya di tangan bangsa asing.

 Mungkin kelak mereka akan berteriak: merokok tanda orang sehat? Sekarang ini, ancaman ”merokok membunuhmu”, sebetulnya tidak lain dari sikap politik dagang, dan kebijakan pemerintah yang mendukung politik dagang bangsa asing itu, untuk memenangkan perang dagang yang didambakan bangsa asing di negeri kita ini.

Sikap pemerintah yang lebih mengutamakan impor tembakau sebesar-besarnya, jelas dirasuki semangat membunuh petani tembakau kita sendiri. Pejabat kita hanya tampil sebagai orang netral? Kalau mereka netral, tanpa unsur pengaruh kepentingan asing, itu sudah mulia.

Netral pun mereka tidak. Kecenderungannya jelas: mereka memojokkan petani tembakau kita sendiri. Selain itu, berbagai langkah ditempuh agar petani beralih ke pertanian lain yang bukan tembakau. Kalau mereka mendengar saran berbahaya ini—tapi tidak ada petani yang menggubris ajakan pejabat—tanaman tembakau mati.

Dan kelak, sebentar lagi, bangsa asing yang datang sesudahnya, akan menghidupkan kembali tanaman tembakau itu untuk kepentingan dagang yang sangat menguntungkan itu.

Langkah menaikkan cukai, dari tahun ke tahun selalu naik, dan kini cukai kita menghasilkan sumbangan ratusan triliun buat APBN, apa artinya bila bukan untuk membunuh industri kita sendiri, dan menggelar karpet merah bagi usaha dagang asing di negeri kita?

Semangat menaikkan cukai ini telah membunuh tiga ratusan ”home industries” di bidang pengolahan tembakau, yang merupakan kebanggaan daerah masingmasing, dan itu artinya juga kebanggaan bangsa kita. Tapi mengapa kekejaman ini ditempuh terusmenerus, hingga kini, jumlah industri kita tinggal ibarat ”segenggam”, dan jumlah pengusaha asing makin meningkat dan makin meningkat?

Dalam bulanbulan terakhir ini, isu menaikkan cukai dikutuk media, sebagai langkah pemerintahan yang malas, yang tak bisa mencari sumber APBN yang lain. DPR menyesalkan dan minta kenaikan cukai ditunda. Dan berbagai unsur masyarakat sipil menyuarakan semangat yang sama, sebagai tanda komitmen kebangsaan yang besar.

Omong kosong apakah yang ada di balik ”merokok membunuhmu” itu, ketika kita ketahui bangsa produksi tahunan industri keretek asing, yang ada di negeri kita ini malah meningkat dan meningkat menjadi produk maha raksasa yang keuntungannya menggiurkan para pedagang?

Merokok membunuh orang, tapi produk rokok mereka meningkat begitu mengerikannya. Apakah mereka sengaja mau mengabaikan peringatan itu? Tidak. Mereka orang baik dan sangat manusiawi. Pedagang bukan pembunuh. Mereka hanya ingin menggaet untung besar, sebesar-besarnya, tanpa saingan, tanpa musuh.

Pendeknya, mereka hanya akan melakukan monopoli datang. Hanya itu. Selebihnya, pemerintah kita membantu, dan siap berdiri di belakang kepentingan asing itu. Mereka bersuara seperti nabi-nabi yang ingin menyelamatkan manusia di dunia, tapi intinya bukan itu. Tujuan mereka jelas hanya satu: memenangkan persaingan dagang.

Dan bukan urusan kesehatan. Kelak, sesudah menang dalam persaingan, barulah bicara keuntungan yang pasti sudah ada dalam genggaman. Selain itu, kebohongan apa lagi yang ada di balik ”merokok membunuhmu” kalau kenyataannya, pengusaha demi pengusaha asing, kelihatan berebut lahan bisnis pengolahan tembakau di negeri kita, dengan keserakahan seperti serigala berebut mangsa di hutan belantara?

Apa mereka mau mengabaikan ancaman ”merokok membunuhmu” tadi? Tidak. Sama sekali tidak. Mereka tak peduli pada omongan itu. Apa yang mereka cari, dengan berbagai cara untuk menang, ialah keuntungan, duit, keuntungan dan duit, dan kejayaan.

Bangsa-bangsa asing yang jauh, dan bangsa-bangsa asing di Asia, yang dekat, hadir di sini, saling mencakar saling ”menubruk” untuk menguasai tembakau dan produk olahannya. Mereka bersuara seperti nabi-nabi baru, untuk menyelamatkan manusia di bumi. Tapi sebenarnya mereka tak punya rasa peduli apa pun kecuali berbisnis dan merebut keuntungan dan keuntungan.

Mereka nabi-nabi palsu di dalam bisnis tembakau yang kejam. Suara mereka seolah hendak menyelamatkan manusia di bumi ini, tapi sebenarnya mereka mencari selamat sendiri-sendiri. ●

Selasa, 13 Mei 2014

Kita Ini Hanya Boneka Belaka

Kita Ini Hanya Boneka Belaka

Mohamad Sobary  ;   Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia,
untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi
KORAN SINDO,  12 Mei 2014
                                                
                                                                                         
                                                      
Pak Gepeto menjadi terkenal di seluruh dunia karena dia membuat boneka dari kayu yang panjang hidungnya bukan main, lebih panjang dari hidung Mbah Petruk yang kita kenal. Boneka ciptaan Pak Gepeto itu diberi nama Pinokio. Anak-anak di seluruh dunia tahu siapa Pinokio.

Dia boneka yang tiba-tiba hidup. Popularitasnya membuat Pak Gepeto bisa numpangterkenal. Dalamduniasastradandunia penciptaan pada umumnya, tak terlalu aneh bila sang pencipta kalah terkenal dibandingkan ciptaannya. Hasil karya Pak Gepeto ini berkebalikan dengan idiom Jawa karena boneka ini menjadi manusia, sedangkan dalam idiom Jawa, manusia bisa ”dibikin” menjadi sekadar boneka. Orang Jawa yang kecerdasan batiniahnya tumpul sehingga dia menjadi bagaikan boneka tanpa perasaan bisa membuat orang menyebutnya––dengan rasa marah–– ”lempung kepanjingan nyowo”, boneka dari tanah liat yang bernyawa tapi tak memiliki perasaan.

Makin lama saya percaya, semua politikus kita, hampir tanpa kecuali, hanyalah boneka. Ada yang menjadi boneka bagi ambisi politiknya, ada yang menjadi boneka bagi nafsunya untuk terkenal, ada lagi yang menjadi boneka karena ingin menjadi orang kaya, syukur bila bisa menjadi kaya dalam waktu singkat. Tapi ada juga yang menjadi boneka bagi hasrat yang menggebu-gebu untuk menjadi orang terpandang dan ada pula yang menjadi boneka karena rasa penasaran yang menyalanyala: benarkah dia tak punya sedikit pun nasib baik untuk menjadi presiden?

Terhadap ambisi politik, nafsu untuk terkenal, keinginan untuk kaya, hasrat menjadi orang terpandang maupun rasa penasaran yang menggelisahkan, kita sering tak berdaya. Kita seperti diombang-ambingkantakmenentu. Denganbegitu kita sering tidak menjadi tuan bagi diri kita sendiri, melainkan menjadi hamba. Kita seolah menjadi mainan, seperti boneka. Ironi hidup sering agak memalukan: sebenarnya kita sudah menjadi budak, tapi kita merasa sebagai tuan. Sering kita masih merasa bahwa kita telah berada di suatu wilayah keabadian, padahal sebenarnya kita sudah nyungsep di dalam comberan kefanaan yang hina.

Tak mengherankan bila di sekitar kita ini selalu ada saja boneka yang tak menyadari bahwa dirinya hanyalah boneka. Boneka macam ini pun bisa saja dengan pongah menuding orang lain sebagai boneka. Tahukah kita ini jenis boneka macam apa? Aliansi politik mengubah manusia, politisi, menjadi boneka yang tak punya pilihan bebas. Ini jenis boneka demi ambisi politik, nafsu untuk terkenal, keinginan menjadi kaya, hasrat untuk menjadi terpandang, sekaligus menjadi boneka bagi rasa penasaran dalam memandang nasib pribadinya, mengapa tiap saat selalu kalah.

Apakah dirinya khusus dicipta untuk menjadi orang kalahan? Apa pun kategorinya, saya kira, boneka ya boneka. Dia telah mereduksi kemuliaan-kemuliaan dan keagungan sendiri. Dia bukan lagi individu yang mandiri dan otonom. Tapi mengapa di dunia ini ada saja orang yang bersikap seperti maling berteriak maling? Etika keagamaan dan politik itu intinya mengajak kita menghormati orang lain. Politisi yang terhormat memenuhi aturan etis itu. Di mata politisi yang terhormat, lawan politik pun dihormati. Itu dulu, ketika Indonesia belum bangkrut secara politik.

Kini politisi besar sudah pergi dan tak pernah kembali. Apa yang sekarang tersisa hanya politisi kecil. Kalau sekarang ada yang kelihatan besar, mungkin hanya suaranya, ambisinya, dan segenap keserakahannya. *** Saya bukan politisi, bukan orang partai, bukan pula suatu organ partai, dan bukan bagian apa pun dari apa yang disebut kampanye partai. Tapi sikap politik saya memihak secara tulus pada kebenaran yang saya yakini. Dengan begitu jelas, sikap ini tidak meminta bayaran uang atau hadiah jabatan karena ketulusan tak bisa dinilai dengan harta dunia dalam corak apa pun.

Juga tidak ditukar dengan puji-pujian dan tepuk tangan yang belum tentu tak menjebak. Pendirian politik ini boleh jadi juga merupakan gambaran bahwa saya pun hanya boneka. Tapi saya boneka bagi aspirasi kultural yang berkembang sejak lama, yang mendambakan agar negeri ini dipimpin lagi oleh orang yang siap untuk mengabdi pada kesejahteraan bangsa, khususnya kaum miskin yang hingga kini belum tahu bagaimana rasanya menjadi tidak miskin. Jika ada orang menilai sikap politik ini sebagai kampanye, ada baiknya ditegaskan, pemihakan ini lebih dalam dari sekadar kampanye yang kehilangan kiblat ideologis, yang sibuk menjelekkan pihak lain.

Sebagai warga negara saya sedang memainkan ideologi kerakyatan dan sikap yang jelas membela agar ideologi itu diterapkan dalam tindakan politik yang jelas. Apa salahnya bila ada politisi, yang diberi mandat oleh ketua partai atau suatu keputusan musyawarah partai, menjadi wakil suara nilai-nilai, suara ideologi, dan representasi perjuangan partainya? Jarang orang bersedia menjadi sejenis lilin yang siap menerangi kegelapan di sekitarnya dengan risiko punah di ”sini”, tapi abadi di ”sana”? Hanya politisi besar yang siap menjalani casting peran seperti itu.

Hanya partai yang masih agak waras yang masih ingat akan perlunya mengatur peran ini, peran itu, agar ideologi partai itu tak membekudanmenjadibatuyang bisu terhadap jerit kaum miskin dan rakyat pada umumnya, yang tersia-sia dalam masa kepemimpinan yang tak peduli pada negara, bangsa, dan rakyat sendiri. Mulialah boneka yang berperan demi kesejahteraan rakyatnya. Mulialah boneka yang menunjukkan bahwa dirinya masih merupakan wujud tersambungnya idealisme masa lalu, yang agung dan besar, dengan kehidupan politik partai hari ini. Boneka seperti ini berapa harganya? Ini pun tak diperjualbelikan.

Di dunia politik, masih ada idealisme yang mengambang di depan hidung, yang bisa diterjemahkan menjadi apa yang disebut ”praksis pembebasan” untuk bangsa. Duit tak selalu relevan dalam perjuangan sejati seperti itu. Ini baru menjadi boneka untuk partai, untuk golongan, untuk bangsa. Nabi-nabi, para rasul, dan orang-orang suci menjadi boneka Tuhan untuk menunjukkan bahwa hidup ini berada di bawah kendali kepemimpinan ”langit” yang agung dan mereka semua, yang mulia-mulia tadi, sungkem,

sujud dengan jiwa taat, sendiko dawuh, dan tak merasa hina menjadi boneka Tuhan. Jelas bahwa boneka itu barang agung dan mulia dan bukan kata benda, bukan kata jadian, bukan pula kata jadi-jadian. Boneka ini kata kerja, yang mengabdi, tapi memilih pengabdian mulia bagi kemuliaan manusia, negeri, dan warganya. Siapa mau menghina boneka sesudah tahu bahwa kita ini hakikatnya hanya boneka belaka? ●

Selasa, 08 April 2014

Korup yang Sopan Tidak Sopan

Korup yang Sopan Tidak Sopan

Mohamad Sobary  ;   Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi
KORAN SINDO, 07 April 2014
                                      
                                                                                         
                                                             
Kelihatannya para ahli politik tidak memiliki catatan khusus mengenai fenomena politik dalam pemilu tahun ini. Tidak ada yang meramalkan bakal datang calon-calon presiden yang sama sekali tak terduga.

Juga tidak ada catatan khusus yang menyatakan bahwa dalam pemilu ini warna lama masih tetap dominan. Bahkan tidak ada juga catatan khusus para ahli politik mengenai bagaimana akan jadinya nasib para calon yang sudah pernah ”nyalon” dan tetap ”nyalon” lagi. Sikap para pemilih yang sebetulnya sudah bosan memilih juga tidak menjadi perhatian khusus mereka. Apalagi sikap para pemilih muda yang dalam pemilu tahun ini akan memilih untuk pertama kalinya dan mereka tidak tahu apa-apa mengenai siapa yang bakal dipilih.

Fenomena mengenai pemilih yang tidak tahu menahu siapa yang bakal dipilih kelihatannya bukan sesuatu yang aneh. Banyak pemilih yang tak tahu sama sekali siapa sebaiknya yang harus dipilih. Sebaliknya, banyak pula pemilih yang telah memilih, tapi tak tahu menahu latar belakang tokoh yang dipilihnya. Memilih calon pemimpin kelihatannya tak semudah memilih calon mertua. Ahli politik tidak memiliki catatan mengenai situasi politik yang tak terduga seperti sekarang ini.

Para pemilih lama yang sudah berkali-kali memberikan suara mereka dalam pemilu kehilangan selera memilih karena mereka juga tidak tahu yang mana pilihan terbaik untuk kepentingan bangsa dan negara kalau calon terbaiknya tidak ada. Bosan memilih merupakan ”apatisme kritis” yang tak diperhatikan oleh pihak mana pun. Mungkin memang tidak ada pihak yang memiliki kompetensi khusus, dan yang bisa dipercaya oleh mereka yang sudah apatis itu, yang berhak tampil untuk menata jiwa masyarakat agar mereka bersemangat memilih.

Di mana-mana di kalangan ”aparat penegak pemilu” orang berkata bahwa setiap warga negara harus memilih. Berikan suara dan turutlah menentukan kebijakan publik. Turut memilih dianggap sikap yang paling bertanggung jawab. Bertanggung jawab kepada siapa? Bagaimana kalau turut memilih hanya berarti turut memperkuat kecenderungan menyimpang yang sudah melekat di dalam jiwa para tokoh yang dipilih?

Tidakkah yang begini ini lalu berarti bahwa turut memilih dengan segenap tanggung jawab tadi justru hanya berarti memperkuat keburukan demi keburukan di dalam masyarakat? Bukankah ini berarti bahwa turut memilih dengan segenap rasa tanggung jawab seperti disebut tadi ternyata malah berarti turut merusak kehidupan masyarakat? Kata orang tua, ”nasi memang telah menjadi bubur”, tapi pengalaman masa lalu ketika kita memilih tokoh, memilih partai, dan membuat mereka menang tidakkah itu patut dijadikan pelajaran politik yang berharga? Sesal kemudian tidak berguna.

Begitu kata pepatah. Tapi, ”menyesali pilihan kita” yang membuat partai dan orang-orang yang kita pilih korup besar- besaran juga tidak berguna? Partai dan orang-orangnya yang dulu kita pilih yang selama lima tahun tak berbuat sesuatu yang berarti dan korup secara mencolok dan membikin hidup rakyat makin susah tak boleh disesali? Siapa bilang hal ini tak berguna kalau kita menyesal dan kemudian kita tak bakal memilih mereka lagi? Bagaimana kalau penyesalan itu menjadi tindakan politik untuk menjauhi mereka, tak mau memilih mereka, dan kita menjadi apatis terhadap apa yang sekarang ada?

Apakah ”apatisme kritis” yang dibangun di atas landasan pengalaman buruk, atas rasa kecewa, dan kemudian mengambil tindakan berupa menarik kembali ”trust” politik kita pada mereka, bukan suatu sikap politik yang sehat wal afiat? Siapa yang menyatakan tidak? Kemunculan para calon, yang jelas tampak semata ”mencari pekerjaan”, membikin kita makin muak terhadap pemilu. Di dalam daftar calon anggota legislatif (caleg), yang terbuang dari bidang masing-masing, lalu masuk parlemen, apa gunanya orang-orang macam itu? Kompetensi nol. Pengalaman nol.

Wawasan nol. Sikap nol. Buat apa kita pilih calon-calon seperti ini. Mengapa kita tak harus apatis secara kritis melihat perkembangan keadaan yang makin hari makin buruk? Kita mencari dan berharap akan tampilnya tokoh-tokoh yang menawarkan solusi bagi kehidupan bangsa. Kita menanti para pemimpin yang bakal mampu memimpin bangsa yang tidak serakah, tidak mata duitan, dan tidak menyimpang dari kebijakan. Kita ingin pemimpin yang memimpin dengan baik. Bukan orang biasa yang sebentarsebentar menangis, menyanyi, dan menangis.

Politik kita bukan film India. Di film India menangis, menyanyi, dan menangis dianggap baik. Tapi, dalam politik kita itu barang buruk yang harus kita jauhi. Psikologi politik kita menggambarkan jiwa yang terluka. Kita kecewa. Kita marah. Kita muak. Kemudian kita menyusun kesadaran politik, menjadi pengetahuan politik yang baik: kelembutan yang korup bukan lagi kelembutan. Dia merupakan kekerasan. Kesopanan yang korup bukan kesopanan lagi. Dia merupakan watak munafik dan serakah yang tak bisa kita biarkan. Kita kecewa. Bahkan sangat kecewa.

Kita marah. Mungkin hingga ke puncak kemarahan yang tak kita ketahui berapa tingginya. Kebijakan demi kebijakan hanya melahirkan kata-kata, tapi bukan sabda agung yang bakal diikuti tindakan nyata. Tiba-tiba masa untuk memilih sudah ada di depan mata. Lalu, kita tak berselera memilih agar kita tak tertipu untuk kesekian kalinya. Apa yang mau dipilih dalam kondisi ketiadaan pilihan macam ini? Kita tak peduli tokoh-tokoh pilihan kita yang kita beri kepercayaan mengendalikan jalannya pemerintahan itu lembut sekali seperti Arjuna atau kurang lembut dan wataknya lebih mirip saudagar burung di Pasar Burung Jalan Pramuka.

Lembut dan tidak lembut di sini tidak menjadi faktor penting. Meskipun begitu, kalau sikapnya jelas brangasan, seruduk-seruduk menabrak sana menabrak sini, itu jelas buruk. Ukuran moral seperti ini agak konyol. Kita membutuhkan pemimpin yang bisa mengisi kehausan masyarakat akan kepemimpinan yang layak menjadi panutan yang patut kita dengar suaranya, kita ikuti langkahnya, dan kita percayai bahwa dengan kepemimpinannya persoalan mendasar yang kita hadapi akan kita selesaikan.

Kita tidak ingin ruwet seperti ini. Kita merindukan pemimpin yang sejak di dalam pikirannya sudah bersih, tidak menyimpang, tidak serong, dan tidak menipu. Kebijakan publik tidak boleh dibangun di atas landasan kebohongan semata demi kepentingan politik-ekonomi pribadinya sendiri. Kebijakan publik ya kebijakan publik: dia terbuka untuk dikoreksi secara publik dan diabadikan demi kepentingan publik, di dalam situasi politik yang begini rusuh. Mana makna keterbukaan?

Mana kebijakan antikorupsi yang didengung-dengungkan seperti suara lebah yang bising, tapi isinya malah sebaliknya: korup, korup, korup di manamana. Mengapa pemimpin tidak malu? Mengapa kehancuran seperti ini tak membuat para tokoh terpukul? Mengapa kebohongan masih dipertahankan? Bohong secara lembut dan halus, sehalus karpet istana, tetap bohong. Kebusukan, biarpun lembut, tetap berbau. Namanya bau kebusukan yang lembut. Korup, menyimpang, selingkuh, atau serong dari konstitusi dan aspirasi rakyat, biarpun sopan, tetap korup.

Korup yang sopan sekali pun namanya masih korup dan akan tetap masih korup. Korup yang sopan dikutuk rakyat biasa, dikutuk kaum rohaniwan, dan disumpahserapahi di mana-mana. Apalagi di mata KPK karena korup, biarpun dilakukan secara sopan, tetap tidak sopan. ●