Tampilkan postingan dengan label Manuver Diplomatik Tony Abbott. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manuver Diplomatik Tony Abbott. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Oktober 2013

Abbott’s pragmatism has set the scene

Abbott’s pragmatism has set the scene
Ross Taylor  ;  Chairman of the Indonesia Institute (Inc.) and A Former National Vice-President of the Australia-Indonesia Business Council
JAKARTA POST, 07 Oktober 2013



Australia’s new Prime Minister, Tony Abbott, during the recent visit to Jakarta, exercised great humility and pragmatism toward a country that will play an enormous role in our region in the future. The visit had the potential to be a bilateral relations “nightmare”, but with a measured approach by the Prime Minister and guidance and planning by a very professional team at the Australian Embassy the trip is being seen broadly as a success.

But now that Abbott has formally acknowledged Australia’s mistakes in the handling of some aspects of the bilateral relationship, the issue is whether Indonesia needs to do the same?

Indonesia was right to feel very aggrieved over Australia’s handling of the live cattle export crisis, and also be annoyed at some of the more “radical” policies from their then opposition suggesting Australia could pay Indonesian village wardens to “dob-in” people smugglers, and buy back fishing boats, so it was important that Abbott acknowledged the harm that has been done.

The real challenge now is for Indonesia to acknowledge some of the key issues facing its people — at the start of what will be a very “robust” election cycle where nationalism is on the rise — and to recognize that Indonesia also has taken actions that have worked against its own best interests, including building closer relations with Australia and the region.

Indonesia with a fast growing middle-class — estimated to rise from the current level of 45 million people to 135 million in 2030 — faces enormous challenges in a number of critical areas including infrastructure, energy, education, health and in general business where there is a need to improve living standards and opportunities for its country.

There is perhaps no greater example of where a “partnership” approach with Australia could prove highly successful than within the agriculture sector.

Indonesia’s agriculture sector enjoys superb soils, abundant rainfall and plentiful labor; already employing 41 million people. The productivity of farms however, is extremely low with farmers generating around US$3,000 per year per farmer compared to $9,000 in Malaysia for example. Over 70 percent of all fresh produce found in Indonesia’s major supermarkets is imported.

A recent McKinsey Report showed that Indonesia, on current projections, would produce around 185 million ton of food by 2030. Yet with improved productivity that figure could be 310 million tons each year, providing not only enough food for Indonesia’s growing and increasingly wealthy population but also — and this is the key point — being able (with Australian partners and branding) to add-value and export “surplus” foods to third-party countries in the Middle-East and Northern Asia.

But to do this, Indonesia must acknowledge that government red-tape and bureaucracy, including a policy of increasing tariffs designed to protect poor agriculture practices, will only hold back the huge and necessary structural change that must be implemented in this sector. 

So why is Indonesia’s food growing sector so unproductive? Indonesia lacks investment and expertise in rural infrastructure, training of farmers, cold supply chains, technology, irrigation, farm management and also access to good quality seed. 

Australia is very good at all of these things; in fact Australia is arguably the best in the world, so why not put Australian knowledge and skills together with Indonesia’s soil, rainfall, abundant labor and strategic location, so that both countries win?

By working with Australia to transform its agriculture sector, the impact would be enormous for both countries. Indonesia doesn’t really have a choice if it wants to feed its growing middle-class in the future and Australia is perfectly placed to partner its neighbor in this critical area. 

We should start with the cattle industry whereby Indonesia is now buying into Australian cattle stations, and Australian companies are being encouraged to take an interest in feedlots and processing companies in Indonesia. It makes good sense, and together we can meet Indonesia’s beef production needs well into the future whilst building a strong base for Australia-Indonesia “added value” produce to be exported around the region.

So following Abbott’s visit, the challenge is now not only for Australia, but for Indonesia to open-up this critical and large — but poor, over regulated and unproductive — agriculture sector, and in doing so create opportunities for business to form highly valuable partnerships.

The agriculture model can also apply to other critical areas facing Indonesia, including the resources sector, financial services, and manufacturing. It won’t be easy. Doing business here is not simple with, according to McKinsey, at least nine ‘procedures’ and an average of 33 days just to establish a commercial entity.

It will also need Indonesia to address the other “barriers-to-entry” that often act as a significant deterrent to doing business in Indonesia, including protectionist policies, inconsistent regulations and an unwieldy bureaucracy. 

This will be the challenge for the incoming president and government over the next 12 months at a time when the indications are that politics in Indonesia is being influenced by “economic nationalism”.

My comments are not meant to present an opinion that is sombong (arrogant) towards this country that — as a young man — stole my heart, but rather as constructive suggestion as to how Indonesia can build on its truly amazing transformation, since the end of the Soeharto reign, and realize the dreams and aspirations of its people. ●

Sabtu, 12 Oktober 2013

Perlu Kontra Isu Hadapi Manuver Diplomatik Tony Abbott

Perlu Kontra Isu
Hadapi Manuver Diplomatik Tony Abbott
Otjih Sewandarijatun  ;  Pengamat masalah Asia Pasific di Forum Dialog (Fordial),  Peneliti di Lembaga Analisa Politik dan Demokrasi, Jakarta
DETIKNEWS, 11 Oktober 2013


Memandang manuver politik Perdana Menteri Australia Tony Abbott terkait kebijakan pelarangan imigran gelap ke Australia, para pemangku kebijakan luar negeri RI harus bersikap dingin dan analitis untuk tidak terpancing pada isu yang ditebar oleh pihak Canberra. Sebab meskipun isu kebijakan pelarangan imigran gelap ke Australia merupakan isu strategis yang diangkat tim sukses Tonny Abbot untuk menggalang simpati para pendukung partai liberal, namun itu merupakan isu hilir.

Manuver Abbot harus dibaca dalam konteks yang lebih luas dan strategis. Dalam proyeksi konstalasi global antara 2015-2017, pergeseran konflik global antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutu blok barat yang tergabung dalam NATO versus China dan Rusia, nampaknya akan bergeser secara geopolitik dari kawasan Timur Tengah ke Asia Pasifik.

Hal ini ditandai dengan perkembangan aktual perpolitikan internasional saat ini yang mengisyaratkan terjadinya pergeseran sentral geopolitik dari Kawasan Timur Tengah menuju ke Asia Tenggara, khususnya Laut China Selatan. Isyarat peralihan tersebut terlihat dari beberapa indikasi, di antaranya AS ingin secepatnya membangun sistem pertahanan rudal di Asia guna melawan manuver Korea Utara. AS juga menyatakan akan memperluas pengaturan militernya di Asia Tenggara dan Samudera Hindia, termasuk peningkatan kerja sama dengan Australia dan penempatan kapal-kapal perang di Singapura.

Indikasi lain, sejak 2009 lalu, Departemen Pertahanan Australia merilis buku putih pertahanan Australia bertajuk Defending Australia in the Asia-Pasific Century Force 2030. Dari fakta ini jelas, Australia sudah menyatakan kesiapannya untuk menghadapi China ketika pergeseran konflik global AS versus China akan semakin menajam dalam periode 2015-2017.

Dalam buku putih tersebut terungkap, negara kanguru tersebut siap mengalokasikan anggaran untuk modernisasi dan pengembangan angkatan bersenjatanya sebesar Rp 720 triliun atau US$ 72 miliar. Suatu jumlah yang cukup fantastis. Dan ironisnya, pada 2009 ketika buku putih tersebut dirilis, ketika itu Australia di bawah pemerintahan partai buruh yang biasanya tidak terlalu mengedepankan aspeke Hankam dalam prioritas kebijakan-kebijakan strategis maupun program-programnya.

Kesiapsiagaan Australia menghadapi pergeseran geopolitik dalam konflik global AS versus China di Asia Pasifik, khususnya Asia Tenggara, dengan jelas tergambar melalui buku putih tersebut.

Sebagai misal, dengan anggaran sebesar itu, Australia siap membeli sistem persenjataan baru seperti 100 pesawat tempur F-35, yang dilengkapi dengan radar canggih, senjata dan sistem rudal yang tersembunyi. Serta dilengkapi persenjataan dua bom GBU-31, dua rudal udara AIM-12 dan senjata cannon 27 mm, 12 kapal selam, 8 kapal perang, 24 helikopter, dan pengembangan pasukan profesional.

Dengan dikeluarkannya buku putih pertahanan Australia mengisyaratkan bahwa kelompok garis keras di Departemen Pertahanan dan Angkatan Bersenjata Australia mampu memberikan tekanan yang cukup efektif baik kepada pemerintahan partai buruh pimpinan Kevin Rudd dan Julian Gillard, maupun Perdana Menteri Tonny Abbot dari Partai Konservatif-Liberal. Berarti, ada skema bersama yang memandu kebijakan luar negeri maupun pertahanan Australia baik ketika pemerintahan Australia berada di bawah kekuasaan Partai Buruh ataupun koalisi Partai Konservatif-Liberal. 

Melalui buku putih tersebut, merupakan bukti nyata bahwa sasaran strategis penguasaan Geopolitik dan Geostrategi merupakan prioritas nasional yang menyatukan Partai Buruh dan Partai Konservatif-Liberal. Buku Putih tersebut mengindikasikan bahwa Australia sedang memprioritaskan kesiagaan militernya untuk menghadapi kedigdayaan China di kawasan Asia Pasifik. 

Rekomendasi

Dengan merujuk pada peta permasalahan di atas, para pemangku kepentingan kebijakan luar negeri tidak terpancing pada pro kontra isu pelarangan imigran gelap yang ditebar pihak Australia. Stakeholders Kebijakan Luar Negeri RI harus melakukan kontra isu. 

Misalnya dengan menggulirkan kembali isu agenda tersembunyi AS-Australia di Port Darwin. Seperti kita ketahui, Amerika membangun pangkalan militer di Port Darwin, Australia. Dengan kekuatan militer sekitar 2500 orang. Pertanyaannya adalah, apa benar memang membangun pangkalan militer memang tujuan sesungguhnya Amerika dan Australia?

Kita bisa mengangkat sebuah kontra isu: tentang efek-efek sosial yang berpotensi timbul menyusul adanya pangkalan militer AS di Darwin. Sebab bisa jadi justru itulah yang jadi agenda AS dan Australia sesungguhnya.

Efek sosial yang dimaksud, jika benar AS dan Australia bersepakat menghadirkan personel militer besar-besaran ataupun dalam jumlah terbatas, maka akan tercipta sebuah lingkungan sosial baru di daerah Port Darwin, yang saat ini praktis masih merupakan daerah yang relatif terpencil dan sedikit jumlah penduduknya. Sehingga dirasa perlu untuk menambah jumlah penduduk, untuk dapat membentuk sebuah unit masyarakat baru yang berjalan secara efisien dan terorganisasi.

Darimana manpower tersebut akan diambil? Besar kemungkinan adalah dari Indonesia. Yang berbahaya bagi Indonesia dari segi keamanan nasional jika skenario ini benar-benar ada di benak para perancang kebijakan pertahanan dan keamanan nasional AS dan Australia, maka daerah Port Darwin akan mempunyai daya hisap yang sangat besar terhadap penduduk Indonesia. Utamanya dari sektor tenaga kerjanya. 

Maka kontra isu yang bisa kita angkat: Ini merupakan aksi subversif sosial-ekonomi yang dilakukan Washington dan Canberra, untuk menjadikan daerah Northern Territory Australia itu sebagai tempat pemusatan dan pelaksanaan pembangunan besar-besaran. Sementara Indonesia akan kehilangan tenaga-tenaga kerja produktifnya dalam jangka pendek dan menengah.

Seraya mengingatkan Australia: Fakta bahwa di daerah Northern Territory Australia, bermukim sekitar 30 persen warga asli Aborigin, bisa bisa akan memicu konflik horizontal dengan warga negara Indonesia yang jadi tenaga kerja pendatang. Sehingga masuk dalam skenario politik adu domba AS dan Australia. Sehingga sama-sama dilemahkan sebagai potensi kekuatan baru di masa depan. 

Termasuk potensi menuju persekutuan baru Indonesia dengan ras Melanesia atau Melanesian Brotherhood yang sesungguhnya menguntungkan buat Indonesia dan ancaman bagi Amerika, Inggris dan Australia di kawasan Asia Pasifik.  ●