Tampilkan postingan dengan label Mesir - Teror di Masjid al-Rawdah al-Arish Sinai Utara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mesir - Teror di Masjid al-Rawdah al-Arish Sinai Utara. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 November 2017

Muslim Membunuh Muslim

Muslim Membunuh Muslim
Hasanudin Abdurakhman ;  Cendekiawan, Penulis;
Kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia
                                                DETIKNEWS, 27 November 2017



                                                           
Lebih dari 300 orang meninggal dalam serangan brutal ke sebuah mesjid di Sinai, Mesir. Pelakunya diduga gerombolan ISIS. Huruf I dalam ISIS itu singkatan dari Islam. Ya, mereka orang muslim, tapi sungguh banyak membunuh kaum muslim. Serangan di Mesir ini bukan serangan pertama mereka terhadap mesjid.

Lebih menyedihkan lagi, ISIS juga bukan satu-satunya kelompok yang menyerang mesjid. Bulan Maret tahun ini sebuah bom meledak di dekat mesjid bermazhab Syiah di Pakistan, menewaskan 60 orang. Pelakunya adalah kelompok Taliban. Selama periode 2002-2017, di Pakistan saja terjadi 103 serangan terhadap mesjid, menewaskan lebih dari 1300 orang, dan melukai lebih dari 2700 orang. Kalau kita kumpulkan data di seluruh dunia, kita akan makin tercengang dibuatnya.

Bukankah Islam itu agama damai? Terlebih, terhadap bukankah sesama muslim itu bersaudara? Tapi kenapa sesama muslim justru saling bunuh?

Kalau kita lakukan penelusuran pada sejarah Islam, wajah Islam sudah berdarah-darah sejak awal. Berselang 20 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad, umat Islam sudah mulai berpecah belah dan saling bunuh. Bermula dari ketidakpuasan atas gaya pemerintahan Usman yang dianggap nepotis, karena mengangkat kerabatnya untuk berbagai jabatan, terjadilah pemberontakan. Rumah Usman dikepung, lalu akhirnya Usman dibunuh.

Ali kemudian naik menjadi khalifah, menggantikan Usman. Tapi keadaan tidak tambah baik. Aisyah mengangkat senjata melawan Ali, lalu terjadilah Perang Unta. Pemberontakan itu bisa segera ditumpas oleh Ali. Tapi kemudian muncul kekuatan yang jauh lebih besar menantang Ali, dari kelompok Gubernur Syam (Suriah) Muawiyah. Terjadilah Perang Shiffin.

Dalam kekalutan itu, Ali dibunuh oleh penganut kelompok Khawarij. Kekuasaan sempat dipegang sebentar oleh anaknya Hasan, tapi kemudian segera beralih ke Muawiyah. Muawiyah kemudian membangun dinasti, dengan mengangkat anaknya Yazid sebagai khalifah. Selama masa selanjutnya keadaan tak pernah damai. Berulang kali Yazid mengirim pasukan untuk menggempur para pemberontak yang melawannya, termasuk ke Mekkah dan Madinah. Cucu Nabi, Husen, terbunuh di Karbala.

Masih panjang lagi daftar kekerasan sepanjang sejarah Islam. Banyak orang Islam yang merekam klaim bahwa orang Islam hanya berperang untuk mempertahankan diri. Namun kalau kita baca sejarah dengan benar, kita akan tahu bahwa klaim itu tidak benar.

Apa yang membuat sejarah Islam berdarah-darah? Pertama, karena pada masa awalnya umat Islam mengalami tekanan oleh orang-orang Quraisy Mekkah. Nabi Muhammad tadinya memilih jalan tanpa kekerasan. Ia mencoba menghindar, dengan hijrah ke Thaif, kemudian umatnya hijrah ke Habasyah, sampai akhirnya Nabi sendiri hijrah ke Madinah. Hijrah pun ternyata tak membuat orang-orang Mekkah berhenti menebar teror. Maka, akhirnya Nabi memutuskan untuk balik melawan.

Pada masa selanjutnya banyak turun ayat yang bernada keras, memberi legitimasi kepada umat Islam untuk melawan dengan senjata. Lalu perang demi perang terjadi. Tadinya hanya perang defensif melawan Quraisy Mekkah, tapi kemudian tidak terbatas di situ. Perang dengan suku-suku Yahudi di sekitar Madinah juga pecah. Juga terjadi perang-perang untuk menaklukkan berbagai suku di semenanjung Arab. Perang-perang ini disemangati oleh berbagai ayat. Maka di Quran kita temukan diksi-diksi "jihad" beriring dengan diksi "qitaal" yang bermakna perang atau membunuh.

Karakter orang-orang Arab di masa itu memang keras, sering berperang. Kemudian peperangan mendapat pembenaran suci. Maka ketika berhadapan dengan sesama muslim pun, mereka menggunakan dalil-dalil itu untuk menuding pihak lawan sebagai pihak yang layak diperangi.

Kedua, setelah mengangkat senjata dan menang pada Perang Badar, Nabi sudah bukan lagi hanya pemimpin agama. Ia memimpin sebuah negara dalam format sederhana. Kekuasaannya makin lama makin besar. Saat wafat, seluruh wilayah Hijaz sudah berada di bawah kontrolnya.

Setelah itu Islam tidak lagi sekadar hadir sebagai sebuah agama. Ia adalah kekuatan politik, juga kekuatan senjata. Sebagaimana layaknya kekuatan serupa, maka terjadilah berbagai intrik politik internal untuk memperebutkan kekuasaan. Situasi itu terus berlangsung sepanjang sejarah umat Islam, hingga kini.

ISIS dan sejenisnya itu adalah kelompok-kelompok yang hendak mendapatkan kekuasaan politik, dan memperalat dalil-dalil tadi untuk keperluan itu. Hasilnya, mereka menghadirkan kembali kekejian masa lalu ke zaman sekarang.

Ancaman ISIS dan sejenisnya, biarlah jadi beban aparat untuk menumpasnya. Untuk kita, ada tanggung jawab lain, yaitu menjauhkan umat Islam dari jangkauan tangan-tangan kotor politikus. Ada begitu banyak politikus yang memainkan ayat-ayat untuk kepentingan mereka. Mereka tampil seolah pejuang Islam. Tapi pada faktanya, dengan kekuasaan di tangan, mereka hanyalah orang-orang korup.

Mereka ini tega mengobarkan narasi-narasi yang mengadu domba, seolah ada umat lain yang sedang berusaha menghancurkan Islam. Tidak hanya itu. Mereka juga tega menuduh umat Islam lain sebagai antek kelompok-kelompok yang hendak menghancurkan Islam. Bahkan mereka tega menebar fitnah seolah pemerintah kita yang sah adalah musuh Islam.

Saya berdiri pada posisi bahwa umat Islam Indonesia bersaudara dengan sesama mereka, juga bersaudara dengan umat lain. Kita adalah saudara yang hidup bersama dalam rumah bernama NKRI. Kita hendak membangun, menuju kepada Indonesia yang lebih baik lagi. Tidak ada umat yang hendak menghancurkan umat lain, karena kita semua sadar bahwa kalau ada yang berniat begitu, maka sesungguhnya ia sedang menghancurkan dirinya sendiri.

Kita harus bersama menyebar gagasan itu, meyakinkan banyak orang bahwa delusi permusuhan umat lain itu adalah alat yang disebar oleh politikus busuk yang sedang berusaha merebut kekuasaan. ●

Terorisme dan Bom Masjid di Sinai

Terorisme dan Bom Masjid di Sinai
M Najih Arromadloni ;  Pemerhati Timur Tengah,  Penulis buku Bid'ah Ideologi ISIS
                                                DETIKNEWS, 27 November 2017



                                                           
Jumat 24 November 2017, tepat di hari peringatan dua tahun bom di ibu kota Tunisia, sebuah bom teroris kembali meledak di Mesir, tepatnya di Masjid al-Rawdah di Bi'r al-Abid, Kota al-Arish, Provinsi Sinai Utara. Bom yang disertai penembakan membabi buta ini menewaskan 235 orang dan mencederai 109 orang (detikcom, 24/11/2017). Ledakan bom ini terjadi di saat jamaah tengah menunaikan ibadah Salat Jumat. Dan, di saat sebagian jamaah berhamburan keluar masjid, para pelaku yang menunggu di luar masjid memberondong jamaah Salat Jumat tersebut dengan tembakan peluru, disertai teriakan takbir.

Para pelaku yang berjumlah sekitar 40 orang itu mengepung empat bagian sisi masjid dengan kendaraan ATV, juga menanam bom di luar masjid dan memblokir akses keluar masjid. Mereka bahkan menembaki ambulan yang mencoba mendekat ke lokasi. Penembakan ini berlangsung selama kurang lebih 20 menit (al-Watan, 24/11/2017). Serangan ini bisa dibilang amat brutal karena menarget warga sipil yang tengah beribadah dan tidak memperkirakan sama sekali akan adanya serangan.

Serangan ini juga bukan yang pertama kali terjadi di masjid yang sama. Pada Oktober setahun lalu, seorang imam masjid tersebut yang merupakan pemimpin tarekat sufi di Sinai, Syeikh Sulaiman Abu Haraz, diculik oleh kelompok teroris ISIS dan diumumkan tiga hari setelahnya. Satu bulan kemudian ISIS merilis video yang memperlihatkan syeikh tersebut disembelih oleh salah satu anggotanya dengan tuduhan telah musyrik dan menyebarkan khurafat.

Di sisi lain, Sinai utara merupakan kawasan yang dikenal sebagai basis berbagai kelompok militan, mulai dari Ikhwanul Muslimin, ISIS, sampai dengan al-Hazimiah. Mereka tidak membentuk afiliasi, karena satu sama lain saling mengkafirkan. Pertanyaannya adalah, kenapa mereka menyerang Masjid al-Rawdlah Sinai?

Sebelum ISIS dideklarasikan secara resmi pada November 2014, kelompok yang menjadi embrionya sudah ada di Sinai, dan pasca-deklarasi mereka menegaskan bahwa musuh utamanya adalah tiga; aparat keamanan, umat Kristiani, dan kelompok Sufi. Dan, Masjid al-Rawdlah ini adalah sebuah masjid besar yang merupakan pusat kegiatan tarekat al-Jaririah, sebuah kelompok tarekat sufi yang ada Sinai dan mempunyai pengikut puluhan ribu di Mesir, Palestina dan Yordania, serta negara-negara teluk.

Pendiri tarekat ini, Syeikh 'Id Abu Jarir merupakan salah satu tokoh sufi pertama di Sinai dan mempunyai peran penting dalam perlawanan rakyat Mesir terhadap pendudukan Israel atas Sinai.

Bagi ISIS, menyerang sebuah masjid kaum sufi mempunyai dua misi; ideologis dan politis-keorganisasian. Berkaitan dengan ideologi, menarget kaum sufi adalah bagian dari metodologi teror mereka, di wilayah mana pun. Bagi mereka kaum sufi berbahaya karena mempunyai kekuatan pengikut yang besar dan amat potensial menjadi basis perlawanan kultural bagi ideologi radikalisme-terorisme. Majalah al-Naba', resmi diterbitkan oleh ISIS, memuat ancaman mereka; "Kami mendeklarasikan, kepada semua surau-surau sufi, guru dan pengikut kaum sufi, baik di Mesir maupun di luar, kami melarang praktik tarekat sufi di Sinai secara khusus, dan di Mesir secara umum."

Adapun misi politik-keorganisasian atau kemiliteran, menyerang kaum sufi adalah bagian dari realisasi atas metodologi prioritas serangan terhadap musuh dekat (near enemy), dibanding musuh jauh (far enemy). Ini berarti mereka mengutamakan target musuh yang dekat, baik sipil maupun militer, dibandingkan dengan menyerang musuh yang jauh berupa negara-negara Barat.

Menyerang kelompok sufi ini juga merupakan tahapan pertama dari pedoman mereka dalam Manajemen Kekerasan (Idarat al-Tawahusy) oleh ideolog Abu Bakar al-Naji, yang disebut dengan al-Syawkah wa al-Nikayah, yaitu merealisasikan sebuah serangan teror terhadap kelompok tertentu yang mempunyai pengaruh dengan tujuan menggelorakan perpecahan dan gejolak sosial, dan di ujung tahapan ini adalah pendirian khilafah islamiyah.

Masjid al-Rawdah Sinai ini bukan merupakan masjid sufi yang pertama kali mendapatkan serangan dari kelompok-kelompok teroris berlabel Islam, karena sebelumnya kelompok teroris sudah berkali-kali melakukan penyerangan terhadap masjid dan menarget para ulama dan umat Islam yang taat serta berpendidikan. Mengutip 'Ala Abu al-'Azaim, ketua Persatuan Tarekat Sufi Internasional, "Serangan di masjid Sinai ini merupakan rangkaian dari rencana kelompok teroris menarget tarekat-tarekat sufi di dunia Islam. Mereka telah menarget guru-guru tarekat di Yaman, Libya, Pakistan, Somalia, Suriah, dan Irak."

Meneror Masjid

Terorisme bukan hanya tidak punya agama, tetapi juga musuh agama. Buktinya adalah serangan-serangan mereka atas banyak masjid dan tempat ibadah agama-agama selain Islam sejak awal sejarah, pembunuhan Sayyidina Ali sesaat setelah beliau menunaikan Salat Subuh di masjid bisa menjadi contohnya. Di Indonesia, serangan teror menarget masjid pernah terjadi di masjid Polresta Cirebon pada 15 April 2011. Dan, peristiwa paling mutakhir adalah 1 Juli 2017 ketika dua orang teroris menusuk dua jamaah Salat Isya di Masjid Falatehan di Kebayoran Baru Jakarta.

Sepanjang 2015 sampai dengan 2017, paling tidak ada tiga puluh serangan teror yang dilakukan di masjid di seluruh dunia, baik yang berbentuk pemboman, penusukan, maupun penembakan terhadap jamaah salat. Misalnya di sebuah masjid kota Mubi Nigeria (21 November 2017), terjadi serangan bom bunuh diri menewaskan sedikitnya 50 orang dengan target jamaah Salat Subuh. Pelakunya adalah kelompok teroris Boko Haram.

Sebuah serangan teror juga menyasar Masjid Dar al-Ri'ayah al-Islamiyah di London utara, ketika sebuah truk menabrak jamaah yang selesai menunaikan salat tarawih pada 19 Juni 2017. Begitu pula di Kanada; lima orang terbunuh dan banyak yang terluka, ketika terjadi sebuah serangan bersenjata ditujukan kepada jamaah Salat Isya di masjid Pusat Kebudayaan Islam pada 30 Januari 2017. Peristiwa teror di dalam masjid juga terjadi di Somalia, Afghanistan, Pakistan, Yaman, Arab Saudi, dan Kuwait.

Serangan teroris yang ditujukan kepada jamaah salat di masjid kemungkinan dilatarbelakangi keputusasaan dan ketidakmampuan mereka menyerang aparat keamanan di Mesir. Di Irak, teroris menarget pemboman jamaah masjid dengan memanfaatkan ideologi partisan Sunni dan Syiah yang bertikai di sana. Kasus di Mesir dan Irak bisa berbeda dengan di Indonesia, karena teroris di sini masih menjadikan target utamanya adalah polisi. Fakta ini bisa berubah apabila masyarakat bisa dengan mudah mereka pecah belah dengan propaganda dan fitnah, karena agenda utama terorisme adalah menimbulkan gejolak, kekacauan dan meruntuhkan tertib sosial.

Untuk mewujudkan agenda tersebut, mereka mempropagandakan bahwa aparatur pemerintah tidak becus mengelola dan menjaga keamanan negara, dan mereka bisa menggiring masyarakat untuk melawan pemerintah yang mereka anggap taghut.

Maka sejatinya, bagi teroris tidak ada beda menyerang umat muslim maupun non-muslim, karena yang menjadi musuh mereka adalah persatuan, kebhinnekaan, ketertiban, dan keamanan. Mereka sendiri tidak membedakan latarbelakang ormas atau agama target, karena bagi mereka, semua yang ada di luar kelompok adalah kafir dan berhak dijadikan musuh.

Teror di Hari-hari Besar Umat Islam

Sesuatu yang patut diamati pula dari serangan bom dan penembakan di Masjid al-Rawdlah Sinai utara ini adalah pelaksanaannya di hari Jumat, tepat di bulan Rabiul Awal, momentum lahirnya Nabi Muhammad SAW, di mana akan ada banyak perayaan Maulid Nabi di seluruh dunia. Tercatat, ada banyak peristiwa teror yang terjadi di hari Jumat dan di hari atau bulan istimewa umat Islam. Kenapa? Karena kelompok-kelompok teroris --secara keliru-- beranggapan bahwa hari Jumat adalah hari yang paling utama untuk memperoleh kesyahidan.

Faktanya, di bulan Ramadan biasanya tren amaliah terorisme juga meningkat. Lagi-lagi pertanyaannya adalah kenapa? Karena mereka menganggap bulan puasa adalah bulan ibadah dan dilipatgandakannya pahala. Dan, mereka percaya ibadah paling utama adalah jihad, sedangkan jihad diartikan oleh mereka pure serangan fisik. Pola pikir seperti ini tentu adalah pikir yang sesat dan menyesatkan. Bukankah bulan Ramadhan Nabi Muhammad dalam sejarahnya dipenuhi dengan salat, tadarus Alquran, menahan nafsu dan berbagi dengan orang yang membutuhkan?

Di Mesir misalnya, sepanjang 2016-2017 saja paling tidak terdapat dua puluh serangan teror yang dilakukan pada hari Jumat. Misalnya, pada 26 Mei 2017 terjadi serangan teror terhadap umat Koptik, dan pada 17 Ramadan terjadi pembantaian di Rafah, saat beberapa aparat keamanan Mesir berada di posnya sedang menunggu adzan Maghrib untuk berbuka, tiba-tiba muncul sekelompok anggota kelompok teror dan membantai 16 aparat keamanan tersebut. Media Mesir menyebut peristiwa ini dengan "Penjagalan Rafah I".

Serangan di bulan puasa juga terjadi di masjid Madinah saat aparat keamanan tengah berbuka puasa, pada 4 Juli 2016. Sehari berselang dari peristiwa tersebut, masih di bulan puasa, adalah upaya bom bunuh diri di Solo yang menewaskan pelaku di depan kantor Mapolresta Solo dan membuat salah satu petugas luka ringan (5 Juli 2016).

Dengan melakukan pengeboman dan penembakan di dalam masjid di hari-hari besar umat beragama, dengan target warga sipil sebuah negara berdaulat semakin menegaskan bahwa terorisme bukan hanya tidak punya agama, tidak punya rasa kemanusiaan dan tidak punya tanah air, melainkan ia adalah musuh agama, musuh kemanusiaan dan musuh negara! Al-Fatihah untuk para korban... ●