Tampilkan postingan dengan label André Möller. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label André Möller. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Mei 2021

 

Jangan Memakamkan Jenazah

André Möller ;  Penyusun Kamus Swedia-Indonesia

KOMPAS, 25 Mei 2021

 

 

                                                           

Akhir-akhir ini saya menyibukkan diri dengan belajar bahasa Arab. Harus diakui, bahasa ini membuat para peminatnya pusing dan kerap putus asa. Semangat saya pun akhirnya roboh bagaikan ranting dalam badai.

 

Meski demikian, selalu menarik untuk menelusuri hubungan antara bahasa Indonesia dan bahasa Arab. Ada banyak kata dan ucapan dalam bahasa Indonesia yang kita (sering kali) langsung menyadari berlatar Arab. Sebut saja kata seperti ilham, wahyu, ulama, dunia, mahir, abad, wabah, jawab, dan derajat.

 

Ada sejumlah kata yang sebelumnya tak pernah saya duga berasal dari bahasa Arab, misalnya walau, iklan, dan salju. Kata-kata ini tak langsung terdengar latar belakangnya, dan tak ada ikatan khusus pada agama Islam. Kata walau terdiri dari dua kata dalam bahasa Arab: wa (‘dan’) serta lau. (‘jika’).

 

Kata sabun selalu saya kira berasal dari bahasa Portugalnya sabao atau Perancisnya savon. Ternyata dua kata ini ini berasal dari bahasa Latinnya saponem. Dalam bahasa Arab juga ada kata sabun dengan asal-usul sama, jadi kemungkinan lebih besar bahasa Indonesia menyerapnya dari bahasa Arab.

 

Nah, yang paling menarik dan membingungkan ialah kata-kata serapan yang artinya agak menggeser dari arti aslinya. Kata-kata ini memiliki kaitan jelas pada kata asalnya, tapi beda maknanya.

 

Contoh paling tepat dalam sebuah kolom bahasa, barangkali kata logat. Kita mengenalnya sebagai 'dialek' atau 'cara mengucapkan kata (aksen) atau lekuk lidah khas' (KBBI). Dengan kata lain, sebuah bahasa bisa memiliki banyak logat. Kata logat justru berasal dari lughah yang artinya ‘bahasa’. Maka, logat Swedia dan lugah swidiyah bukan hal sama.

 

Kata wajib juga menarik untuk ditengok. Sesuatu yang wajib menurut KBBI ialah sesuatu yang 'harus dilakukan; tak boleh tidak dilaksanakan'. Berasal dari kata kerja wajaba dengan arti 'harus' atau 'keharusan', kata ini memiliki arti sama dengan bahasa asalnya. Hanya ada makna lebih luas.

 

Guru bahasa Arab saya mengingatkan para muridnya agar tak malas mengerjakan wajib-nya. Wajib di sini tidak lain ‘pekerjaan rumah’ atau ‘tugas’. Dan tugas yang diberikan guru, wajib dikerjakan.

 

Saya juga kerap bingung di kelas saat guru bahasa Arab mencoba menjelaskan sebuah kalimah. Kita mengenalnya dalam bentuk kalimat. Namun, arti dua kata ini tidak identik walaupun asal-usul kalimat merupakan kalimah. Dalam bahasa Arab, kalimah tak berarti kalimat, melainkan kata.

 

Lebih membingungkan lagi, sejumlah kalimah bisa digabungkan dalam bahasa Arab untuk menciptakan satu jumlah. Nah, apakah itu jumlah dalam bahasa Arab? Justru: kalimat atau ucapan. Ini tentu bisa dipelajari kalau kuliah bahasa Arab.

 

Kata kuliah (yang berasal dari bahasa tersebut) memiliki arti lain daripada yang kita biasa memberikan kepadanya, yakni 'perguruan tinggi' atau 'fakultas'. Tambah lagi, di kelas saya bingung saat guru menganjurkan mengeluarkan daftar kami, yang berarti 'buku catatan'.

 

Akhirulkalam, kata jenazah menggugupkan karena dalam bahasa Arab berarti '(upacara) pemakaman'. Jadi jenazah tak bisa dimakamkan di jazirah Arab sebab itu berarti upacaranya dikuburkan. Jenazah dalam bahasa Arab adalah juthah. ●

 

Selasa, 27 April 2021

 

Beberapa Masyarakat

André Möller ;  Penyusun Kamus Swedia-Indonesia, Tinggal di Lund, Swedia

KOMPAS, 27 April 2021

 

 

                                                           

Pandemi sudah menggagalkan banyak rencana perjalanan, dan kekecewaan umum makin menumpuk. Bagi kami yang sudah lama tidak bisa mengunjungi Indonesia, Nusantara serta penghuninya dalam khayal kami makin diagungkan dan dimuliakan. Begitu pula dengan makanan, minuman, tempat, kegiatan, dan cuaca yang kami rindukan. Untuk menyeimbangi rasa itu, ada gunanya mengingat-ingat beberapa ucapan yang selalu mengganggu, bagaikan goresan di zamrud.

 

Yang pertama adalah beberapa masyarakat. Sebenarnya tak ada yang salah dengan ucapan ini kalau digunakan secara tepat, tapi cukup sering justru diselewengkan. "Masyarakat" dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai 'sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama'. Dengan kata lain, suatu masyarakat bisa berupa suatu golongan etnisitas, tapi bisa juga terdiri dari orang-orang yang memiliki identitas lain yang sama. Maka, KBBI memberikan sejumlah contoh gabungan, seperti "masyarakat adat", "masyarakat perdesaan", dan "masyarakat modern". Tesaurus Bahasa Indonesia (Tesamoko) memberikan tiga definisi yang sedikit berbeda: ‘bangsa, khalayak’;  ‘komunitas, paguyuban’; dan  ‘asosiasi, kelompok’. Yang jelas, "masyarakat" itu banyak orang. Oleh karena itu, saya selalu menggaruk-garuk di kepala saya yang gundul ketika membaca kalimat seperti “saya bertanya kepada beberapa masyarakat”. Rupanya orang gemar menyamakan "orang" atau "manusia" dengan "masyarakat", tapi mereka menghilangkan arti ‘dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan’. Kabupaten Pati, di laman resminya, menulis bahwa ada “sejumlah masyarakat masih tak percaya Covid-19” dan bahwa ada “masyarakat yang enggan memakai masker.” Kompas pun menulis bahwa “masih ada beberapa masyarakat yang tak acuh dan tidak tahu tentang wacana pemindahan ibu kota negara.” Saya yakin, yang dimaksudkan bukan "masyarakat", melainkan "manusia" atau "orang".

 

Ucapan kedua yang sering mengganggu adalah air dalam kemasan yang juga cukup populer. "Kemasan" itu 'bungkus pelindung barang dagangan' menurut KBBI dan 'bungkusan, buntelan, paket' menurut Tesamoko. Di toko-toko dan restoran kita sebagai pelanggan kerap ditawari “air (mineral) dalam kemasan”. Iyalah, tentu saja airnya diwadahi. Bagaimana kita bisa membelinya kalau tidak? Apakah para kasir hendak menuangkan air mineral ke dalam saku-saku kita? Atau hendakkah kita membawa bungkusan sendiri? Orang yang menjual bensin di pinggir jalan dalam botol tidak pernah mengaku bahwa mereka menjual “bensin dalam kemasan” dan kita juga tidak pernah jumpai penjual yang menyuguhkan “coca-cola dalam kemasan” atau tukang bengkel yang menawarkan “oli dalam botol”. Kita juga tak pernah membeli “gula dalam kemasan”, “tepung dalam kemasan”, atau “minyak goreng dalam kemasan”. Sudah tentu dagangan ini diberi wadah yang tepat.

 

Yang ketiga yang sering mengganggu saya juga berhubungan dengan toko dan perniagaan. Setiap kali hendak membayar di kas, pastilah si kasir dengan penuh percaya diri bertanya: “Ada member-nya?” Saya selalu gelisah ketika menerima tanyaan ini. Bagaimana saya bisa tahu apakah ada anggota? Pasti ada, tapi bukan urusan saya membawa daftarnya. Mengapa saya yang ditanya? Di lain pihak, saya pernah mendengar pelanggan lain menjawab “nggak ada” ketika menerima tanyaan serupa, dan kenyataan itu langsung diterima si kasir.

 

Terakhir dan pendek-pendek saja, makanan berat itu juga ucapan yang mengganjal. Ya, ada “makanan ringan”, tapi itu tidak berarti harus ada lawanan dalam bentuk tersebut. Cukuplah “makanan” atau “makanan utama” kalau perlu dibedakan dengan hidangan-hidangan yang lain.

 

Nah, semoga ucapan-ucapan yang menjaili ini bisa mengurangi rasa rindu kami kepada Indonesia. ●

 

Selasa, 05 November 2019

Hemat Kata

BAHASA

Hemat Kata

Tidak jarang saya agak kesal menghadapi semua akronim dan singkatan yang ada dalam bahasa Indonesia. Dalam anggapan saya, cukup sering akronim dan singkatan ini tidak tepat, susah dimengerti, dan kadang-kadang bahkan menyesatkan. Selain itu, jumlahnya juga bertambah banyak setiap hari saking gemarnya orang Indonesia menciptakan dan memakainya, dan kita sebagai pengguna awam semakin bingung. Setidaknya saya.

Selasa, 13 Agustus 2019

Liburmah

BAHASA

Liburmah

Beriringan dengan membangkitnya kesadaran bahwa iklim kita dan kesehatan Bumi cukup banyak dipengaruhi oleh emisi dioksida karbon dari alat-alat transportasi (terutama pesawat), muncullah beberapa konsep dan kata yang tergolong baru di Eropa. Lambat laun kemungkinan besar kata-kata ini akan masuk ke dalam (bahasa) Indonesia juga. Mengingat itu, barangkali pantas kalau kita menengok beberapa alternatif sebelum penutur dan pekamus memeluk dengan erat secara langsung istilah-istilah tersebut dari bahasa-bahasa asing.