Tampilkan postingan dengan label ASEAN Community dan Kesiapan Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ASEAN Community dan Kesiapan Indonesia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Agustus 2014

Bracing for ASEAN Community

Bracing for ASEAN Community

CPF Luhulima  ;   A researcher at the Center for Political Studies,
Indonesian Institute of Sciences (LIPI), Jakarta
JAKARTA POST, 27 Agustus 2014
                                                


The establishment of an ASEAN Economic Community (AEC) should be viewed as a transformation of ASEAN’s connectivity through the widespread use of  information and communication technologies as prescribed by the ASEAN ICT Master Plan of 2015 and its slogan: “We go higher when we are connected.”

However, to “go higher when we are connected” requires an effective and efficient kind of interconnectivity. It requires infrastructural interconnectivity that solidly supports institutional interconnectivity in order to improve the compatibility of norms and values; and as a consequence, the compatibility of mind-sets among the people of the member states.

This is the basis for a “rules-based community of shared norms and values” as proclaimed by the ASEAN Political and Security Community 2015. It should be the basis for the other two communities as well. A focus on people within ASEAN, then, is a natural consequence of this endeavor.

It is, therefore, self-evident that Indonesia should take the initiative. It was former president Megawati Soekarnoputri, who together with Hassan Wirajuda as foreign minister, took the initiative in 2003 to advocate for an ASEAN Community comprising three pillars: political and security cooperation, economic cooperation and sociocultural cooperation. 

These three pillars should be closely intertwined and mutually reinforcing for the purpose of ensuring durable peace, stability and shared prosperity in the region. Together, they should nurture common values and help develop a set of sociopolitical principles that can foster a community of caring societies that in turn promotes a common regional identity and a “prosper thy neighbor” policy.

This will help ensure the long-term vibrancy and prosperity of the ASEAN region. Realizing and expanding the widespread use of information and communications technologies to achieve the maximum compatibility of norms, values and mind-sets is the only means of dependably achieving these objectives.

Indonesia’s weakest link in developing these three pillars is the economic one. The major problem here is an inefficient business environment hampered by inadequate infrastructure, connectivity and a low level of awareness regarding small- and medium-scale businesses (SME) within the general public.

This has resulted in Indonesia losing a competitive edge at the SME level.

President Susilo Bambang Yudhoyono’s administration issued Presidential Instruction No. 5/2008 and No. 11/2011, instructing relevant ministries and non-ministerial bodies to “execute the various commitments of the AEC” and “to take steps to effect the commitments of AEC’s blueprint”.

In 2012, another presidential decree was issued mandating the establishment of a national secretariat of ASEAN–Indonesia. The body reports to the President through the foreign minister and acts as the focal point of ASEAN affairs, coordinating the implementation of ASEAN decisions at the national level, expediting the establishment of the ASEAN Communities and accelerating Indonesia’s efforts in closing the gap, primarily between itself and the original ASEAN members.

 It is now August 2014. The ASEAN Communities will be launched on Jan. 1, 2016. The incoming government of  Joko “Jokowi” Widodo will have just 14 months to step up Indonesia’s capability to fulfill the requirements of the AEC and compete on a healthy basis within ASEAN.

The major problem here is to reach out to the 55,000 Indonesian SME entrepreneurs — constituting 95 to 98 percent of Indonesia’s total business ventures —  of whom the majority are unfamiliar with doing commercial business across borders.

These business owners need to be educated about the various consequences of the freer flow of goods, services, investment, capital and skilled labor that will follow the AEC launch.

 Development in the SME sector is crucial to achieving equitable economic development within ASEAN. 

 Reaching out to Indonesian business ventures and improving their communication linkages must be a priority for the new government. Furthermore, the government should upgrade Indonesia’s communications infrastructure in the following areas: broadband Internet connections (with larger bandwidth by using coaxial or fiber-optic cables), satellites, microwaves and infrared links access methods. It should also increase the number Internet service providers utilizing these technologies.

Additionally, the SMEs should be encouraged to computerize their firms and utilize Internet services to speed up their businesses, both domestically and on an ASEAN basis in order to close the competitiveness gap between Indonesian SMEs and their ASEAN counterparts. Once better connected, Indonesia can “go higher” together with the other ASEAN member states.

 These goals demand the appointment of a capable and experienced person in ASEAN affairs to coordinate the implementation of ASEAN decisions at the national level and to accelerate Indonesia’s efforts at closing the gap, primarily with the original members of ASEAN.

That responsibility will fall to Indonesia’s foreign minister, so the immediate question is determining the most suitable person to fill this crucial post.

 In my opinion, there is but one person who can fulfill these requirements to assist the president in mobilizing Indonesia’s business community and the people at large.

The one person with sufficient knowledge of ASEAN and extensive utilization of the Internet is Marty Natalegawa, our current foreign minister. His experience in conducting ASEAN affairs is well known and indisputable, both at home and abroad.

Jokowi as the seventh president of Indonesia and Marty as foreign minister would provide the leadership and competence needed to successfully join the ASEAN Community that Megawati and Hassan initiated in 2003. ●

Jumat, 26 April 2013

ASEAN Community, Integrasi Ekonomi, dan Kesiapan Indonesia


ASEAN Community, Integrasi Ekonomi,
dan Kesiapan Indonesia
Abdul Hakim MS ;  Direktur Eksekutif Skala Survei Indonesia (SSI)
DETIKNEWS, 24 April 2013

  
Pada 24 – 25 Apil 2013, Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-22 The Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) kembali digelar di Brunei Darussalam. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) beserta delegasi pun sudah berada di Negeri Kesultanan itu untuk turut berpartisipasi dalam agenda tahunan tersebut.

Sedikit berbeda dengan pagelaran KTT ASEAN sebelumnya, pertemuan kali ini rasanya patut untuk dicermati secara seksama. Hal itu disebabkan adanya dua isu penting yang saat ini sedang menjadi bola panas di negara-negara Asia Tenggara. Isu pertama adalah terkait ketegangan yang meningkat di kawasan Laut Cina Selatan. Sementara isu kedua terkait rencana implementasi ASEAN Community yang akan menjadikan 10 negara ASEAN sebagai komunitas tunggal.

Sebagaimana diketahui, manuver China dengan mengerahkan angkatan lautnya ke Kepulauan Spratly pada Maret lalu, mengundang kemarahan banyak negara di Asia Tenggara. Sikap ini dipandang tidak menghormati proses yang sedang berjalan dalam menentukan negara mana yang paling berhak mengelola kawasan kaya mineral itu. Kepulauan Spratly sendiri, selain China, saat ini masih dipertentangkan kepemilikannya oleh Vietnam, Filipina, Taiwan, Malaysia dan Brunei Darussalam.

Namun hemat saya, selain masalah meningkatnya ketegangan di wilayah Laut China Selatan, rencana implementasi ASEAN Community juga harus menjadi perhatian utama. Sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, peran Indonesia tentu sangat diharapkan dan ditunggu agar pelaksanaannya betul-betul berjalan sesuai waktu yang ditentukan. Namun pertanyaannya, sudah siapkah Indonesia menghadapi ASEAN Community? 

ASEAN Economic Community

Sejatinya, banyak kalangan sangsi bahwa Indonesia akan mampu menghadapi rencana pengintegrasian kawasan ASEAN menjadi satu komunitas tunggal (Asean Community). Masih terbengkalainya penyediaan sarana infrastruktur, lemahnya daya saing, serta ketergantungan terhadap barang impor menjadi beberapa alasan utama. 

Padahal, rencana implementasi ASEAN Community tinggal satu setengah tahun lagi. Seperti tertuang dalam Declaration Of ASEAN Concord II (Bali Concord II) pada Oktober 2003, Komunitas Tunggal Masyarakat Asia Tenggara ini akan diberlakukan pada tahun 2015 mendatang. 

Kesepakatan ASEAN Community sendiri berisi komitmen pengintegrasian tiga sektor utama, antara lain ASEAN Security Community (ASC), ASEAN Economic Community (AEC), dan Asean Socio-Cultural Community (ASCC). 

Dari tiga pilar utama penyatuan di atas, sektor integrasi ekonomi atau ASEAN Economic Community (AEC) sepertinya menjadi perhatian tersendiri bagi Indonesia. Kesangsian banyak pihak bahwa kita mampu menghadapinya, membuat Presiden SBY harus membentuk komite khusus untuk menghadapinya. Dan tugas komite khusus ini diserahkan kepada Menko Perekonomian Hatta Rajasa sebagai ketua hariannya. 

Di antara tugas komite khusus ini adalah membuat kajian masalah-masalah yang kemungkinan dihadapi dalam realisasi AEC sekaligus menyusun daftar peluang yang mungkin bisa dimanfaatkan secara baik. Komite khusus ini nantinya akan bekerja sama dengan HIPMI, Kadin, akademisi, dan praktisi-praktisi ekonomi lainnya di tanah air guna merumuskan persiapan yang lebih matang.

Rasanya, cukup wajar apabila pemerintah waspada terhadap AEC. Pengintegrasian wilayah ASEAN itu berarti menciptakan pasar dengan cakupan wilayah seluas 4,47 juta km persegi dengan jumlah penduduk mencapai kurang lebih 601 juta jiwa. Kondisi ini tentu menjadi peluang bagi Indonesia, sekaligus merupakan tantangan yang harus dihadapi.

AEC sendiri nantinya akan berisi empat hal penting. Pertama, ASEAN akan menjadi wilayah dengan aliran bebas barang, bebas jasa, bebas investasi, bebas tenaga kerja terdidik, dan bebas modal (single market and production base). Kedua, ASEAN diharapkan bisa menjadi kawasan dengan daya saing yang tinggi (a highly competitive economic region). Ketiga, ASEAN diharapkan menjadi wilayah dengan pengembangan ekonomi yang merata dengan elemen pengembangan usaha kecil menengah (a region of equitable economic development). Keempat, ASEAN menjadi wilayah yang betul-betul terintegrasi dengan perekonomian global (a region fully integrated in to the global economy).

Infrastruktur dan Daya Saing

Sejatinya, dengan catatan manis pembangunan ekonomi Indonesia saat ini, kita tak perlu terlalu hawatir dengan akan diberlakukannya AEC pada 2015. Pengalaman diberlakukannya Asean Free Trade Area (AFTA) sejak 2002 silam, ternyata makin mengangkat pertumbuhan ekonomi kita. Bahkan selama empat tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia tak pernah dibawah 6 persen. 

Baru-baru ini, lembaga riset bisnis dan ekonomi yang sangat terpandang di dunia, The McKinsey Global Institute, menerbitkan laporannya berjudul “The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia’s Potential”. Dalam laporan itu, Indonesia diprediksi akan mengalami kecenderungan kejayaan di masa depan terkait pembangunan ekonomi. McKinsey menyebut, pada tahun 2030 Indonesia diperkirakan akan menempati peringkat ke-7 ekonomi terbesar dunia, sesudah Cina, AS, India, Jepang, Brazil, Rusia.

Meski demikian, hal itu tak kemudian harus membuat kita jumawa. Masih lemahnya daya saing dan pembenahan infrastruktur, harus menjadi prioritas kewaspadaan. International Finance Corporation (IFC) pernah menyebut, untuk negara-negara yang berada di kawasan Asia Pasifik, daya saing Indonesia masih kalah jauh dengan Thailand dan Malaysia. Indonesia hanya menempati posisi 129, sementara Thailand dan Malaysia sudah ada diperingkat 17 dan 18. 

Selain itu, meski menjadi idola tujuan investasi, sejatinya iklim investasi di Indonesia juga belum begitu baik. Selama tahun 2012, Asia Business Outlook the Economist Corporate Network mengatakan bahwa Indonesia masih kurang luwes terhadap para investor. Besarnya beban logistic cost dan pelayanan birokrasi menjadi penyebab utamanya. 

Namun begitu, kita patut bersukur karena pemerintah sepertinya serius melakukan pembenahan. Dalam memperbaiki infrastruktur misalnya, tahun 2013, belanja infrastruktur dari pembiayaan APBN mencapai Rp 203 triliun, dari APBD mencapai Rp 90 triliun, dan dari swasta serta BUMN mencapai Rp 140 triliun. 

Memang sudah selayaknya pembenahan dilakukan oleh pemerintah. Kondisi yang terjadi di India bisa menjadi pembelajaran. Diproyeksi akan terus tumbuh, pembangunan ekonomi India saat ini malah mengalami penurunan akibat tak bisa menyelesaikan persoalan infrastruktur yang menjadi menu wajib penopang baiknya pembangunan ekonomi. Tentu kita tidak mengharapkan hal itu akan menimpa Nusantara. ●