Tampilkan postingan dengan label Nurul Hidayah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nurul Hidayah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Agustus 2013

Miss World dan Tiang Negara

Miss World dan Tiang Negara
Nurul Hidayah ;   Ibu yang berprofesi Dokter
JAWA POS, 30 Agustus 2013



AJANG kontes kecantikan Miss World akan diadakan di Indonesia. Negeri kita tercinta bakal mendapat sorotan besar dunia. Indonesia tidak hanya terkenal karena korupsi atau TKI, tetapi juga yang positif; salah satu surga wisata dunia dengan keindahan alamnya. Setidaknya akan ada dua kota dan satu pulau di Indonesia yang di-bookmark: Jakarta, Bogor, dan Bali. 

Inilah ajang Miss World yang ke-63, suatu kontes kecantikan yang awalnya sekadar kontes pesta pantai, kemudian beranjak ke lantai dansa. Seiring dengan kemajuan pertelevisian, kontes tersebut menjadi bisnis pertunjukan mendunia yang sangat besar -selain Miss Universe sebagai kompetitornya. 

Satu yang mungkin di-highlight pada Miss World 2013 ini, tidak akan ada pertunjukan peserta menggunakan bikini. Padahal, bikini adalah hal yang sebenarnya menjadi pemandangan sehari-hari di pantai-pantai Bali. 

Kecaman maupun penolakan atas diselenggarakannya Miss World di Indonesia terlihat mengundang kontroversi tersendiri. Bisa kita katakan bahwa ini merupakan kontroversi kedua terkait dengan perempuan dalam satu bulan terakhir. Kontroversi pertama, jelas usul agar diadakannya tes keperawanan kepada remaja putri yang ingin masuk ke sekolah SMA atau sederajat. Untuk soal itu, Menteri Pendidikan M. Nuh telah bersuara jelas; menolak. 

Suara ''bulat'' bahwa tes keperawanan adalah ajang yang melecehkan atau setidaknya merendahkan perempuan, rupanya, telah tercapai. Tidak demikian halnya dengan ajang Miss World. Justru sebaliknya, bisa terbangun opini di publik bahwa ajang Miss World mendudukkan perempuan pada tempat yang terhormat.

Lebih jauh, kontes Miss World tidak hanya dikaitkan dengan didudukkannya perempuan sebagai duta perusahaan komersial (merek parfum, bedak, dan sebagainya) atau duta wisata suatu negara, tetapi juga gambaran betapa harkat perempuan diangkat ke tempat yang lebih tinggi. Sekalipun tidak dimungkiri bahwa ajang Miss World pada awal kemunculannya berfokus kepada keelokan fisik perempuan an sich, tetapi di tengah jalan sejumlah poin penilaian lain dimasukkan. Misalnya, kepribadian (personality), bakat, kemampuan bahasa, dan kepiawaian menyelesaikan soal yang dilontarkan oleh penguji (juri). 

 

Lebih dari itu, kesan bahwa ini merupakan acara milik ''Barat'', tampaknya, diupayakan dihapus. Perempuan cantik tidaklah mesti yang digambarkan dalam keindahan Barbie, berambut pirang dan kilau mata kebiruan. Kesan tersebut, tampaknya, hendak dikoreksi dengan dipilihnya Agbani Darego, gadis yang berasal dari negara Benua Tanduk Rusa Nigeria. Dia tidak berambut pirang, juga tidak berkornea mata kebiruan. Dengan nanti ditonjolkannya kebaya, tentunya semakin kuat bahwa ini membawa pesan-pesan mendunia, dari Afrika hingga Asia, bukanlah gambaran hegemoni budaya Barat atas makna cantik fisik khususnya.

Bahwa ajang tersebut atau yang serupa dengan itu adalah bagian dari terangkatnya derajat perempuan sepatutnya masih perlu dipertanyakan. Memang, ajang itu akan menempelkan gambaran pemandangan-pemandangan eksotis alam yang hendak diperkenalkan, tetapi menjadikan perempuan sebagai pemantiknya adalah pertanyaan terbesar yang seiring dengan logika. Hal itu seperti menempatkan perempuan di samping motor atau barang jualan lain. Terlepas dari produk atau pemandangan alam memang bagus, apakah benar dengan seperti itu harkat perempuan-perempuan menjadi lebih terangkat di tengah-tengah kaumnya atau di tengah-tengah umat manusia?

Kita mengenal tokoh-tokoh besar dunia di berbagai bidang, sebut saja Ernest Rutherford (bapak fisika nuklir), Albert Einstein (sang genius), Isaac Newton (bapak teori gravitasi), Edward Jenner (penemu vaksin), Stephen Hawking (teoretikus black hole), atau B.J. Habibie (genius ilmu pesawat). Apakah kita mengenal siapa ibunda para tokoh tersebut? 

Hanya terkadang menonjol karena suatu sikapnya dalam hal tertentu. Misalnya, ibunda Thomas Alfa Edison yang memilih menjadi guru bagi anaknya sendiri karena sang anak ditolak bersekolah dan dicap sebagai bodoh. 

Jangan anggap ibu tokoh hebat itu seperti Halle Berry, aktris Hollywood yang pernah berkontes di Miss World. Jangan berharap pula seperti ratu ayu Angelina Sondakh atau Venna Melinda yang berpengalaman menjadi wakil rakyat di negaranya. Ibu-ibu tokoh besar dunia yang kita sebutkan di awal jelas sibuk dengan aktivitas utama sebagai ibu. Kita jarang menyorot itu. Tetapi, siapa bilang tugas itu, jika dilakukan sebaik-baiknya, tidak mulia dan berdampak besar bagi bangsa atau umat manusia?

''Perempuan itu tiang negara. Bila dia (perempuan) baik, baiklah negara itu. Tetapi, bila perempuan itu rusak, rusaklah negara itu.'' Tuturan hikmah tersebut masih relevan, bukan? ●  

Kamis, 11 April 2013

Ancaman Hipertensi Global


Ancaman Hipertensi Global
Nurul Hidayah ;  Dokter, PNS, Peminat Masalah Sosial-Politik 
REPUBLIKA, 11 April 2013


Dalam beberapa kurun terakhir ini, kita dikejutkan oleh berita meninggalnya tokoh-tokoh publik secara mendadak akibat serangan jantung. Menurut Riset Kesehatan Dasar 2007, serangan jantung menjadi penyebab kematian ketiga terbesar di Indonesia. Penyakit ini sebagian besarnya diawali oleh tekanan darah tinggi atau hipertensi. Bahkan, sebagian besar stroke berkaitan dengan hipertensi yang diderita. Stroke termasuk penyebab kematian terbesar di Indonesia. Penyakit ini, selain menyebabkan kematian, juga menyebabkan penderitaan berupa penurunan produktivitas dalam menjalani hidup. 

Pada semua penyakit ini, jelas kita menaruh perhatian besar. Setidaknya, kita berusaha mengobati penderita atau anggota keluarga yang tertimpa. Namun, kita jarang menaruh perhatian ke hipertensi yang menjadi awal malapetaka tersebut. Pengabaian ini karena umumnya hipertensi tidak memiliki gejala sehingga penderita tidak memiliki keluhan apa-apa, sampai suatu malapetaka datang. Apakah itu berupa serangan jantung, stroke, ataupun gagal ginjal. Maka, bisa kita katakan, penyakit hipertensi pembunuh yang diam-diam. 

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), dua dari tiga orang dewasa penduduk dunia saat ini adalah pengidap hipertensi. Karena itu, bukan hal yang berlebihan jika World Health Day tahun ini, yang jatuh pada 7 April 2013, menempatkan hipertensi sebagai tema. Tentu saja agar kita memberi perhatian pada penyakit hipertensi dan bahayanya. 

Perhatian dunia kesehatan sudah semestinya diarahkan pada pembunuh diam-diam ini. Masyarakat postmodern Masalah hipertensi bukan lagi masalah etnis ataupun hereditas. Bahaya hi pertensi sudah mengglobal, seluruh lapisan masyarakat bisa terjangkit hipertensi. Jika pada masa-masa sebelumnya hipertensi diidap oleh anggota masyarakat golongan umur yang sudah senja (sekitar 50 tahun atau lebih), sekarang ini hipertensi bisa menjangkiti mereka yang lebih muda. Mulai dari usia 25 tahun, ancaman hipertensi sudah bisa mendatangi.

Pola hidup masyarakat postmodern saat ini benar-benar telah berubah. Anak- anak kecil beraktivitas lebih banyak diam, seperti bermain gim ataupun menonton televisi. Tidak di desa dan tidak di kota, pola hidup yang immobile telah merambah ke mana-mana. Olahraga atau bergerak fisik seperti telah menjadi barang mewah di tengah kehidupan kita. Di kita, perbaikan dan penambahan jalan (di tengah kota) untuk kendaraan bermotor menjadi agenda utama. Tidak menjadi masalah dan memang sudah seharusnya dalam pembangunan, namun pada saat yang sama, berjalan kaki ataupun bersepeda seperti budaya yang mesti terpinggirkan. 

Dari waktu ke waktu, masyarakat menjadi kekurangan gerak fisik yang mencukupi. Ini membahayakan kesehatan, khususnya menjadi faktor munculnya tekanan darah tinggi. Olah raga dibutuhkan, di antaranya, untuk mempertahankan elastisitas pembuluh darah. Pada saat minim aktivitas fisik, pola konsumsi umumnya masyarakat kita juga tidak sehat. Anak-anak hingga orang tua lebih favorit pada menu-menu instan yang lebih yummy yang lebih memanjakan lidah. Fenomena seperti ini telah membudaya dari kota hingga pelosok desa. 

Pola makan tidak terkontrol. Menu junk food yang tinggi pemrosesan menyuplai kadar garam tinggi pada tubuh. Masyarakat konsumtif ini mengalami problema baru: obesitas dan tingginya garam darah. Ini dua faktor risiko terjadinya hipertensi. Pola konsumtif tersebut didongkrak oleh layanan-layanan pariwara produk makanan-minuman instan yang seolah sudah tidak bisa dikendalikan. Karena itu, faktor penyebab munculnya hipertensi sangat jelas sudah mengglobal.

Stres psikososial yang berkepanjangan (kronis) dalam berbagai studi jelas menunjukkan adanya korelasi untuk terjadinya hipertensi (secara independen). Mekanismenya, kemungkinan besar berangkat dari tingginya aktivitas saraf simpatik dan kelenjar adrenal. Hiperaktivitas simpatis mengontraksikan pembuluh darah (pembuluh mengecil) sehingga terjadilah hipertensi. Keadaan ini juga akan mempercepat kerusakan sel-sel dinding pembuluh darah sehingga mempercepat terbentuknya atheroma (penebalan) di lapisan dalam pembuluh darah. 

Apalagi, jika ternyata stres berkepanjangan juga memicu trombosit (keping darah) menggerombol, ia membentuk agregat. Demikian juga, dengan meningkatnya kortisol (hormon stres), pembentukan aterosklerosis akan lebih meningkat lagi. Walhasil, berkurangnya diameter arteri akan menurunkan pasokan oksigen ke organ-organ vital, seperti otak, jantung, dan ginjal. Ujung-ujungnya, stroke, serangan jantung, dan gagal ginjal menjadi ancaman lebih bagi penderita stres berkepanjangan ini, selain hipertensi itu sendiri. 

Secara psikologis, orang stres berkepanjangan juga dapat melampiaskan kebuntuan akalnya dengan aktivitas baru yang juga tidak sehat: merokok, mabuk-mabukan, dan makan berlebihan. Perilaku negatif ini semakin menambah panjang daftar faktor risiko hipertensi. 

Tekanan Darah Kita

Rata-rata masyarakat kita tidak mengetahui kalau ia berada dalam kondisi tekanan darah yang sudah membahayakan. Sebanyak tiga dari empat penderita hipertensi tidak mengetahui kalau ia terjangkit hipertensi. Karena itu, memeriksa tekanan darah merupakan anjuran rasional yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Kita sudah mengetahui bahwa tekanan darah yang `ideal' itu sekitar 120 mmHg/70 mmHg. Perlu pula diketahui, setiap kenaikan tekanan darah 20 mmHg/10 mmHg maka dua kali meningkatkan kemungkinan komplikasi tekanan jantung dan stroke. Sering-seringlah mengecek tekanan darah sekalipun Anda tidak memiliki keluhan kesehatan.

Sama pentingnya dengan tips di atas, pertahankan pola hidup sehat Anda. Itulah yang bisa kita lakukan dalam ranah pribadi. Dalam ranah sosial, dengan kita melihat kemunculan penyakit, itu merupakan sumbangsih dari banyak faktor. Momentum World Health Day tahun ini setidaknya ikut mengingatkan hal itu pada kita semua, anggota masyarakat dunia. Kepedulian kita kepada sesama juga menyehatkan kita. Semoga.