Tampilkan postingan dengan label Andreas Maryoto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Andreas Maryoto. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Agustus 2021

 

Yuan Digital Bakal Bersaing dengan Dollar AS

Andreas Maryoto ;  Wartawan (Penulis Kolom “Industri Digital”) Kompas

KOMPAS, 19 Agustus 2021

 

 

                                                           

Dalam waktu dekat mata uang digital yang dikeluarkan oleh otoritas perbankan China tak lagi hanya untuk alat tukar domestik. Kabarnya mereka akan melintas batas negara alias bisa digunakan untuk transaksi internasional. Perubahan kebijakan ini kontan membuat negara-negara Barat tergagap. Dominasi dollar AS selama ini bakal menghadapi tantangan yuan digital.

 

Pertengahan Juli lalu, otoritas China atau PBOC mengumumkan bahwa pihaknya tengah mengkaji kemungkinan penggunaan yuan digital atau e-CNY untuk transaksi internasional. Sejumlah analis meyakini yuan digital akan meningkatkan status global mata uang itu. Mereka memperkirakan pada akhirnya China tengah berusaha untuk mematahkan dominasi sistem penyelesaian transaksi dengan menggunakan mata uang dollar AS.

 

Meski tengah dipakai terbatas di beberapa kota di China, pejabat PBOC mengatakan, secara teknis mata uang itu sudah siap digunakan secara internasional. Selama ini mereka telah melakukan uji coba penggunaan yuan digital di beberapa kota besar, seperti Beijing, Shanghai, dan Shenzhen. Uji coba dilakukan di beberapa lokapasar (marketplace). Bank sentral mendistribusikan yuan digital kemudian mereka yang memiliki mata uang itu boleh menggunakannya di lokapasar yang ditunjuk. Dalam uji coba, yuan digital belum boleh digunakan di luar ekosistem uji coba itu.

 

PBOC juga tengah mengeksplorasi kemungkinan pembayaran lintas batas berkoordinasi dengan bank sentral lainnya. Langkah ini dilakukan dengan saling menghormati kedaulatan dan aturan moneter negara yang akan diajak menggunakan mata uang digital itu. Mereka siap untuk berpartisipasi secara aktif dalam pertukaran pandangan dan pemikiran tentang mata uang fiat digital dan membahas penetapan standar.

 

Sebelumnya telah ada usulan untuk membuat kajian terhadap aturan dan juga mekanisme teknis (regulatory sandbox) internasionalisasi yuan digital. Seorang pejabat senior bank sentral telah mengusulkan pembentukan semacam lingkungan terkendali untuk menguji yuan digital China. Ia juga mendorong pertukaran arus modal yang lebih besar antara Shenzhen dan Hong Kong dengan menggunakan mata uang itu.

 

Proposal dari Xing Yujing, presiden People’s Bank of China cabang Shenzhen, itu muncul ketika Beijing tengah mempercepat promosi mata uang digitalnya, yang disebut pembayaran elektronik mata uang digital, dan mengambil langkah hati-hati untuk memungkinkan aliran modal yang lebih bebas dari dan ke luar negeri.

 

Meski demikian, ada beberapa kalangan yang meragukan kemampuan internasionalisasi yuan digital. Argumentasi para pendukung internasionalisasi terlalu dibesar-besarkan. Mereka ragu dengan kemampuan yuan digital dalam mengalahkan dominasi dollar AS dan juga ragu dengan kemampuan mata uang itu mendefinisikan ulang sistem pembayaran global. Sebagai gambaran, porsi yuan di dalam transaksi global sekitar 2,42 persen, sementara dollar AS mencapai 38,26 persen.

 

Salah satu pertanyaan yang muncul adalah apabila yuan digital dibutuhkan untuk transaksi lebih cepat, apakah sudah sebegitu penting kecepatan transaksi itu? Sistem keuangan China yang disebut masih tertutup juga menjadi alasan otoritas China sebenarnya tidak terlalu membutuhkan internasionaliasi mata uang itu. Mereka lebih membutuhkan untuk urusan domestik saja.

 

Di dalam negeri China, sejumlah kalangan juga memperingatkan tentang dampak internasionalisasi yuan digital. Mereka meminta agar otoritas China memperhatikan pro dan kontra langkah itu. Peringatan itu muncul karena China bisa kehilangan kendali atas modal begitu yuan digital masuk ke pasar internasional. Tak selamanya teknologi akan menguntungkan.

 

Di dalam laman Leader Insight disebutkan, kelemahan dari internasionalisasi yuan digital adalah relaksasi dalam kontrol modal dengan menggunakan mata uang untuk pembayaran lintas batas bisa membuat kondisi tidak stabil. Pada saat diluncurkan dan memunculkan ketidakpastian keuangan, yuan digital dapat mendorong arus modal keluar besar-besaran dari China. Keadaan ini akan menambah masalah.

 

”Langkah itu sebaiknya dilakukan dengan bertahap karena tindakan itu harus menyeimbangkan antara keuntungan dari arus modal terbuka dan risiko yang menyertainya,” kata Direktur Institute of Digital Finance di Peking University Yiping Huang, seperti dikutip laman itu.

 

Usulan lebih tegas meminta agar China seharusnya tidak terburu-buru menggunakan yuan digital untuk pembayaran lintas batas. Negara lain akan lebih berhati-hati merespons rencana China itu. Mereka bisa melihat langkah itu sebagai ancaman sehingga akan memunculkan reaksi.

 

Mantan kepala bank sentral China, Zhou Xiaochuan, di dalam sebuah forum yang dikutip Asia Financial mengatakan, hambatan aturan penggunaan mata uang digital dan kekhawatiran negara lain terhadap dampak globalnya menjadikan rencana itu tidak bakal mulus dan memunculkan risiko. Meski, sebenarnya ia mengakui bahwa mata uang digital yang dikembangkan oleh otoritas China tidak akan menimbulkan ancaman bagi sistem keuangan global.

 

”Pada kenyataannya, langkah itu tidak akan terlalu serius mengancam sistem keuangan global,” kata Zhou menjelaskan bahwa yuan masih tertinggal dari dollar dalam hal konvertibilitas dan penggunaannya. Kecemasan global, apalagi sampai merasa terancam, tidak perlu terjadi karena porsi mata uang yuan sendiri masih kecil dalam transaksi global.

 

Kita perlu menunggu lebih lanjut perkembangan di China. Negara ini termasuk salah satu yang progresif melakukan uji coba penggunaan mata uang digital yang dikendalikan oleh bank sentral. Banyak bank sentral global yang melihat uji coba yang dilakukan China. Keberhasilan di dalam penggunaan teknologi digital untuk transaksi finansial yang dilakukan oleh swasta membuat mereka lebih percaya diri melangkah. ●

 

Sumber :  https://www.kompas.id/baca/opini/2021/08/19/yuan-digital-bakal-bersaing-dengan-dollar-as/

 

 

 

 

Sabtu, 14 Agustus 2021

 

Indonesia Kian Cantik di Mata Investor Teknologi

Andreas Maryoto ;  Wartawan (Penulis Kolom “Industri Digital”) Kompas

KOMPAS ,12 Agustus 2021

 

 

                                                           

Pandemi tidak menyurutkan investor mencari usaha rintisan di Indonesia untuk didanai. Aksi korporasi perusahaan teknologi di Indonesia membuat mereka mau melirik usaha-usaha rintisan di negeri ini. Di setiap masalah selalu ada peluang. Bahkan, peluangnya semakin besar.

 

Pekan lalu Aruna, usaha rintisan perikanan asal Indonesia, baru saja disuntik dana sebesar 35 juta dollar AS atau setara dengan Rp 500 miliar. Pendanaan ini dipimpin Prosus dan East Ventures, didampingi investor lain, termasuk AC Ventures, SIG, Vertex, dan MDI. Ini adalah pendanaan seri A terbesar untuk sektor teknologi pertanian dan maritim.

 

Aruna adalah salah satu contoh usaha rintisan yang didanai di tengah pandemi. Data yang dikeluarkan oleh Dailysocial menyebutkan, selama tahun ini saja sejumlah usaha rintisan di Indonesia telah mendapat pendanaan. Beberapa di antaranya bergerak di sektor tekfin sebanyak 25 perusahaan, layanan perangkat lunak atau SaaS (13), teknologi pendidikan (8), teknologi kesehatan (4), perdagangan (4), dan logistik (3). Nilai pendanaan sangat bervariasi, namun ada yang mendapatkan 35 juta dollar AS dan 100 juta dollar AS.

 

CEO Dailysocial Rama Mamuaya mengatakan, pasar Indonesia yang luar biasa besar secara perlahan mulai bergeser ke digital. Pandemi mengakselerasi proses ini, tidak lagi perlahan tetapi menjadi luar biasa cepat. Orang yang tadinya pergi ke kantor sekarang bekerja secara daring. Mereka yang tadinya ke sekolah menjadi belajar daring. Mereka yang tadinya berbelanja di mal kini cukup belanja dari rumah. Orang yang tadinya pergi ke restoran kini cukup memakai jasa pemesanan dan pengantaran makanan.

 

Head of Startupindonesia.co Erwin Arifin sependapat, investasi usaha rintisan malah naik saat pademi. Pandemi tidak berdampak buruk pada minat investor untuk mendanai usaha rintisan di Indonesia. Sebaliknya, investor asing malah berlomba mengeluarkan dananya untuk usaha rintisan.

 

”Faktor terbesarnya karena banyak kabar bagus dari usaha rintisan di Indonesia, seperti merger Gojek-Tokopedia, penawaran saham perdana Bukalapak, rencana Traveloka menawarkan saham melalui SPAC, kemarin Kredivo juga mengabarkan rencana menawarkan saham melalui SPAC,” katanya.

 

Indonesia menjadi tempat yang nyaman dan diburu perusahaan modal ventura. Di Startupindonesia.co, jumlah investor di jaringan itu naik sebesar 40 persen selama dua bulan terakhir. Dari mereka yang berinvestasi, sekitar 70 persen berasal dari luar negeri.

 

Di samping pendanaan langsung, investor juga melirik pendanaan melalui korporasi khusus untuk pencarian dana publik (special purpose acquisition company/SPAC). Mereka meminang usaha rintisan di dalam negeri kemudian melakukan merger. Setelah itu mereka mencatatkan saham di bursa efek. Langkah ini dilakukan agar publik bisa berinvestasi di perusahaan teknologi. Dua perusahaan yang dikabarkan akan mencari pendanaan dengan strategi ini adalah Kredivo dan Traveloka.

 

”Saya melihat kisah perjalanan bisnis mereka sudah siap  karena kebanyakan juga memang sudah mendapatkan dana dari investor multinasional dan ujung-ujungnya tetap tentang pasar digital Indonesia yang menarik. Memang masih banyak keraguan soal SPAC dari kalangan perusahaan bank investasi dan investor ritel. Namun, selama fundamental finansialnya kuat, saya merasa enggak ada yang perlu dikhawatirkan,” kata Rama Mamuaya.

 

Erwin Arifin mengatakan, banyak yang bilang Asia Tenggara dan Indonesia tengah berada di pertumbuhan perusahaan teknologi yang akan terus melaju (inflection point) karena banyak pengumuman aksi korporasi. Perkembangan ini berkebalikan dengan pandangan investor yang dulunya skeptis dengan pasar Asia Tenggara dan Indonesia di sektor teknologi.

 

”Akhirnya sekarang kita mendapat bukti bahwa sektor teknologi bisa sangat menguntungkan dan pasar kita jadi makin menarik buat investor. Apalagi Indonesia punya ukuran pasar paling besar dari semua negara di Asia Tenggara. Di internal komunitas modal ventura, mereka bilang rute untuk menjadi unicorn itu cuma ada dua, yaitu menjadi besar di indonesia atau membuat rencana ekspansi regional ke Asia Tenggara,” kata Erwin.

 

Kita tentu bertanya-tanya, seusai mendapatkan dana, apa yang dilakukan oleh usaha rintisan itu? Kredivo kabarnya akan meluaskan pasar ke negara lain. Salah satunya adalah Vietnam. Aruna akan meluaskan jangkauan mereka kepada nelayan-nelayan di berbagai daerah.

 

”Dengan pendanaan yang ada, Aruna memperluas jangkauannya untuk bisa merangkul lebih banyak nelayan bergabung, melakukan pengembangan teknologi yang lebih masif, penambahan jumlah tim dan peluang kerja baru serta menjalankan inisiatif-inisiatif yang berfokus pada isu keberlanjutan,” ungkap Utari selaku chief sustainability officer dari Aruna.

 

Saat ini, Aruna sudah bekerja dengan berbagai pihak di dalam ekosistem perikanan nasional untuk mendorong pertumbuhan perikanan yang lebih masif, seperti dengan industri pengolahan ikan serta perusahaan distribusi dan logistik, untuk bisa menghasilkan produk olahan yang berkualitas dan bersaing di pasar global ataupun domestik.

 

”Dengan adanya pendanaan ini, Aruna berharap dapat memperluas dampak ekonomi dan juga sosial di berbagai wilayah pesisir Indonesia. Untuk itu, kami juga membuka ruang untuk berkolaborasi dengan berbagai pelaku industri demi mewujudkan misi untuk menjadikan laut sebagai sumber kehidupan yang lebih baik untuk semua,” kata Utari.

 

Bila saja investor global jeli melihat peluang di Indonesia, seharusnya investor dalam negeri juga bergairah untuk masuk ke usaha rintisan. Memang perlu dipahami, ini bukan investasi yang dalam semalam akan terlihat hasilnya. Mereka memberi harapan dalam jangka panjang. Melihat masalah di Indonesia yang beragam, peluang perusahaan teknologi untuk memberi solusi sangat besar. ●

 

Senin, 28 Juni 2021

 

Ada Hubungan Misterius antara China dan Uang Kripto

Andreas Maryoto ;  Wartawan (Penulis Kolom “Industri Digital”) Kompas

KOMPAS, 24 Juni 2021

 

 

                                                           

Dalam sepekan ini langkah China yang melakukan tindakan drastis dengan meminta penghentian penambangan bitcoin dan juga menghentikan transaksi mata uang kripto telah mengguncang bursa. Hampir semua mata uang kripto yang sering diperdagangkan mengalami penurunan nilai secara signifikan. Ada apa di balik tindakan keras China?

 

Investor aset kripto hanya bisa gigit jari sepanjang pekan lalu hingga pekan ini. Dalam beberapa hari ini aset mereka turun drastis karena nilai sejumlah mata uang kripto anjlok.

 

Secara total aset senilai 300 miliar dollar AS menguap dari pasar sejak Jumat pekan lalu menyusul tindakan China itu. Sejumlah mata uang yang turun drastis antara lain bitcoin, ethereum, dan dogecoin. Harga bitcoin anjlok dari 37.981 dollar AS per satu bitcoin pada Jumat pekan lalu menjadi 31.716 dollar AS pada Selasa lalu.

 

Jumat pekan lalu Pemerintah China meminta agar penambangan mata uang kripto di wilayah Sichuan ditutup. Wilayah ini merupakan tempat di mana banyak orang melakukan penambangan dengan membuat fasilitas yang menyerupai industri.

 

Tidak hanya Sichuan, ada beberapa tempat di China yang menjadi tempat penambangan, seperti Xinjiang dan Yunnan. Beberapa di antara mereka membuat pembangkit mandiri untuk memasok listrik bagi fasilitas penambangan. China menguasai sekitar 75 persen penambangan mata uang kripto global.

 

Tindakan Pemerintah China itu dilanjutkan dengan meminta agar seluruh transaksi dan penyelesaian jual beli aset kripto di lembaga keuangan dihentikan. Mereka juga meminta seluruh lembaga keuangan di negara itu tidak melayani pembukaan rekening dan layanan lainnya terkait dengan mata uang kripto.

 

Langkah China ini sebenarnya bukan hal baru. Mereka pernah menekan industri penambangan dan juga melarang perdagangan bitcoin pada 2013. Perusahaan-perusahaan keuangan tidak diperkenankan menangani perdagangan mata uang bitcoin. Namun, penambangan dan perdagangan aset kripto itu tetap berdiri.

 

Pada 2017, mereka mendorong agar usaha penambangan itu dilakukan di luar negeri. Saat itu, China juga sempat meminta penutupan bursa jual beli mata uang kripto. Alasan China melakukan tindakan itu karena ingin mengendalikan perdagangan mata uang kripto. Akan tetapi, tindakan tahun 2017 tidak juga menghentikan penambangan yang malah makin marak.

 

Sejak Mei tahun ini, China telah melakukan langkah keras dengan meminta penutupan aktivitas penambangan bitcoin. Saat itu harga bitcoin anjlok hingga 30 persen. Beberapa perusahaan yang melakukan penambangan dan juga menjalankan transaksi mata uang kripto menghentikan aktivitasnya. Sejumlah perusahaan yang memasok ”mesin penambangan” juga sudah tidak lagi mengirim fasilitas itu ke China.

 

Beberapa perusahaan penambangan bitcoin di China telah berpikir untuk berpindah keluar China agar bisa leluasa menambang bitcoin. Mereka memilih di tempat yang bersuhu rendah seperti Kanada atau tempat baru seperti Afghanistan. Langkah itu tidak seluruhnya menghentikan bisnis mereka hingga dilakukan tindakan keras pekan lalu.

 

Kita jadi menduga-duga, apa alasan di balik langkah-langkah yang dilakukan China? Beberapa kali tindakan keras dilakukan, tetapi juga tidak otomatis menghentikan penambangan dan transaksi mata uang kripto.

 

Sejumlah alasan China melakukan tindakan itu muncul di sejumlah media. Pada tahun 2017, China, seperti dikutip laman Time, mengatakan alasan penutupan aktivitas penambangan karena kehadiran mata uang kripto akan mengganggu stabilitas keuangan. Mereka ingin agar tidak ada guncangan-guncangan dalam pengelolaan industri keuangan di negara itu.

 

Namun, kebijakan ini agak aneh karena saat itu Pemerintah China terkesan tidak melarang atau tidak mendukung penambangan dan transaksi mata uang kripto. Mereka seperti tutup mata.

 

Alasan lainnya adalah Pemerintah China merasa terganggu dengan konsumsi energi oleh industri penambangan bitcoin. Beberapa waktu lalu banyak pihak menyebutkan bahwa konsumsi energi penambangan global sangat besar, yaitu sekitar konsumsi energi Argentina atau Norwegia.

 

Pemilik Tesla, Elon Musk, juga menghentikan penggunaan bitcoin dengan alasan ini. Penambangan bitcoin dikhawatirkan akan merongrong rencana program karbon netral China pada 2060. Tanpa langkah berarti, China memproduksi emisi karbon sekitar 130 juta ton karbon sampai 2024.

 

Meski demikian, berbagai alasan itu tidak membuat kalangan analis yakin dengan kebijakan China tersebut. Ada yang menyebut langkah China sebagai bagian untuk mengetes pasar. Ada pula yang menyebutkan bahwa ada hubungan misterius atau aneh antara China dan bitcoin. Sekian tahun mereka tidak mengeluarkan kebijakan yang tegas terhadap mata uang ini. Ada tarik-ulur dan kadang ada pula kebijakan yang keras, tetapi mereka juga terkesan tutup mata.

 

Ancaman penutupan telah berkali-kali dikeluarkan oleh otoritas, tetapi fasilitas penambangan masih saja bermunculan. Bahkan, fasilitas-fasilitas penambangan cukup besar malah berdiri.

 

Pemerintah pusat memang melarang operasi penambangan mata uang kripto, tetapi pemerintah daerah tidak juga menutup industri penambangan. Mereka seperti berbeda sikap. Perbedaan yang sangat jarang di negeri itu.

 

”Tidak ada yang pasti dari retorika yang dikeluarkan oleh otoritas China,” kata CEO Crypto Compare Charles Hayter, seperti dikutip laman CNBC. Oleh karena itu, ia memperkirakan dampak kebijakan China tidak akan besar. Apalagi ia memperkirakan volume perdagangan di China hanya sekitar 20 persen. Jumlah lebih besar berada di Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan.

 

Lama-lama orang juga sudah mengetahui bahwa langkah otoritas China itu berubah-ubah sehingga pasar pun lama-lama kebal. China terkesan melarang penambangan di dalam negeri, tetapi juga mendorong operasi di luar negeri. Di sini sebenarnya China masih punya kepentingan terhadap mata uang ini.

 

Tidak aneh apabila ulah China kali ini dianggap tidak beda dengan kicauan Elon Musk di Twitter. Keduanya mengguncang bursa dengan sejumlah pernyataan. Bedanya, kali ini yang melakukan adalah otoritas negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia, sementara Musk adalah pemilik perusahaan privat yang selalu melakukan inovasi.

 

Ucapan Musk menjadi semacam mantra yang kerap diikuti oleh investor. Keduanya seperti tengah melakukan tes pasar. China mungkin saja hendak memberi sinyal kepada dunia, ”saya juga bisa melakukannya”. Kita lihat saja ke depan apakah keduanya memang mirip. ●

 

Jumat, 18 Juni 2021

 

Kini Mereka Bertanding Membangun Kehidupan di Luar Angkasa

Andreas Maryoto ;  Wartawan (Penulis Kolom “Industri Digital”) Kompas

KOMPAS, 17 Juni 2021

 

 

                                                           

Perbincangan di kalangan perusahaan teknologi digital tidak lagi berkutat pada masalah bisnis digital murni. Sejak beberapa tahun lalu, diskusi tentang upaya membangun kehidupan di luar angkasa makin mengemuka. Mereka juga membuat inisiatif untuk terbang ke luar angkasa.

 

Kini pertandingan untuk membangun kehidupan baru di luar angkasa makin nyata di kalangan perusahaan teknologi digital.

 

Pekan lalu, pemenang lelang terbang dengan wahana New Shepard yang merupakan pesawat buatan Blue Origin, perusahaan milik CEO Amazon Jeff Bezos, sudah ditentukan meski namanya belum diumumkan ke publik. Pemenang dan Bezos serta saudaranya akan terbang pada 20 Juli nanti. Si pemenang kabarnya berhasil mengungguli 6.000 peserta lainnya setelah menawar dengan harga tertinggi, yaitu 28 juta dollar AS.

 

Penerbangan itu akan melengkapi prakarsa penerbangan oleh perusahaan swasta ke luar angkasa. Mereka yang memulai bisnis itu dari pemilik Virgin Galactic, Richard Branson, hingga pemilik SpaceX, Elon Musk. Tidak hanya mereka, perusahaan rintisan bernama Axiom Space ikut masuk ke dalam gelanggang. Perusahaan yang dibiayai secara komersial berhasil mendapatkan pendanaan seri B dengan nilai 130 juta dollar AS.

 

Pertandingan penerbangan ke ruang angkasa itu membawa bisnis industri ruang angkasa sudah tidak lagi sekadar berkait dengan satelit dan data saja. Saat ini sebenarnya adalah langkah awal dari eksplorasi untuk membangun kehidupan manusia masa depan di ruang angkasa.

 

Mereka mempunyai impian tentang kehidupan di luar angkasa setelah lebih dari 50 tahun yang lalu Neil Armstrong menjejakkan kaki di Bulan. Meski masih banyak yang belum terbuka, perusahaan-perusahaan penerbangan luar angkasa pasti memiliki impian yang jauh dari sekadar kita dengar dan kita baca.

 

Mereka tentu juga memikirkan aspek bisnis dari impian-impian itu. Morgan Stanley menyebutkan proyek ekonomi ruang angkasa dapat menghasilkan pendapatan hingga lebih dari 1 triliun dollar AS pada 2040. Angka ini melonjak dari 350 miliar dollar AS pada 2020. Oleh karena itu, ekonomi ruang angkasa akan membutuhkan sejumlah pekerjaan di luar pekerjaan teknis ruang angkasa.

 

”Kami membutuhkan ilmuwan dan juga perekayasa seperti sekarang ini, tetapi kami juga membutuhkan arsitek ruang angkasa, kami membutuhkan seniman ruang angkasa, desainer ruang angkasa, serta juga ahli hukum yang akan membantu kami berurusan dengan kebijakan dan pertanyaan legal yang akan muncul dalam dekade ke depan,” kata Ariel Ekblaw, pendiri dan Direktur MIT’s Space Exploration Initiative, kepada Yahoo Finance.

 

Pertandingan terbang ke luar angkasa dan impian membangun kehidupan di luar angkasa tentu membutuhkan ide-ide besar agar semua bisa terealisasikan. Ide-ide itu semisal mereka akan membangun kehidupan di planet lain, memunculkan program wisata luar angkasa, dan membangun penginapan di luar angkasa. Tidak mengherankan bila di internet telah bermunculan ide-ide untuk membuat kehidupan di luar Bumi. Saat ini kita masih menganggap ide-ide itu aneh dan mungkin tidak masuk akal. Namun, semua bakal berubah.

 

Saat ini penerbangan ke luar angkasa pasti sangat mahal, tetapi suatu saat harga tiketnya akan menurun. Mungkin saja pada saatnya penerbangan ke luar angkasa menjadi hal yang biasa. Hanya orang-orang ”gila” yang memikirkan semua ini. Pekerjaan-pekerjaan baru akan segera bermunculan dan kompetisi penerbangan ke luar angkasa sudah pasti akan memunculkan masalah. Tidak hanya antarnegara, tetapi juga perusahaan-perusahaan yang bersaing untuk memenangi bisnis di luar angkasa.

 

Seorang penulis lepas bernama Michael D Shaw di dalam laman Space menulis, jika perusahaan swasta mulai menjelajahi dan menggapai tujuan akhir, yaitu  membangun pos terdepan manusia di Bulan dan Mars, meluncurkan wisatawan ke luar angkasa, atau bahkan membangun hotel luar angkasa mewah di orbit, dunia akan membutuhkan undang-undang yang lebih jelas untuk mengatur penggunaan komersial ruang angkasa. Pengacara dengan keahlian lebih khusus diperlukan untuk memahami dan menafsirkan undang-undang tersebut.

 

Dunia memang telah memiliki beberapa perjanjian yang mengatur apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan oleh entitas pemerintah di luar angkasa, seperti Perjanjian Luar Angkasa Perserikatan Bangsa-Bangsa. Namun, perusahaan swasta tidak harus mematuhi aturan yang sama karena tidak mengikat mereka. Saat diluncurkan mungkin aturan itu dibuat tanpa mempertimbangkan perusahaan swasta masuk ke dalam industri penerbangan luar angkasa. Masalah akan muncul di sini dan bila dibiarkan, kompetisi akan makin merusak.

 

Oleh karena itu, Shaw mengatakan, setiap ilmuwan yang tengah mencari jawaban tentang misteri alam semesta harus mulai memperhatikan hukum yang mengatur tentang apa yang dapat kita lakukan di luar angkasa. Jika kebingungan terus berlanjut, tuntutan hukum dapat meningkat dan biaya penjelajahan ruang angkasa mungkin menjadi tawaran yang terlalu mahal. Gairah untuk terbang ke luar angkasa bisa saja menjadi berkurang.

 

Namun, di sisi lain, kerakusan yang bersumber pada kepentingan diri selalu ada dalam jiwa manusia sejak dulu. Karena itu, bila tidak diatur, kompetisi membangun kehidupan di luar angkasa akan merusak. Diam-diam banyak perusahaan berinvestasi di bisnis ini. Sebuah perusahaan modal ventura memperkirakan pada tahun 2019 saja telah ada investasi 5,8 miliar dollar AS di bisnis penerbangan ruang angkasa.

 

Ketika perusahaan swasta memasuki bisnis penerbangan luar angkasa, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang dulu menjadi pemain utama industri ini mulai mereposisi diri. Di lamannya, NASA menyebutkan berbeda ketika program luar angkasa dimulai di mana mereka menjadi perintis, sekarang NASA tidak akan berlomba dengan pesaing. Mereka memilih membangun komunitas kemitraan dengan kalangan industri, masyarakat internasional, serta kaum akademik yang ditempa untuk bekerja sama dan melakukan riset di stasiun luar angkasa.

 

NASA melihat perusahaan komersial kelak akan memainkan peran yang meningkat dalam industri luar angkasa. Swasta masuk ke dalam bisnis peluncuran roket dan satelit, mengangkut kargo dan awak, membangun infrastruktur di orbit rendah Bumi. Sementara NASA akan terus menjadi pemimpin global dalam penemuan ilmiah dan mendorong peluang untuk mengubah pengetahuan baru menjadi hal-hal yang meningkatkan kehidupan di Bumi.

 

Kita bisa melihat inovasi telah mengubah lanskap bisnis penerbangan luar angkasa. NASA tidak lagi dominan. Swasta makin berperan. Perusahaan-perusahaan yang kini secara teknologi dan finansial berkuasa pasti akan dominan di dalam bisnis ini.

 

Di samping itu, ide-ide liar yang selama ini telah diterapkan di industri digital akan makin mendapatkan tempat di dalam industri yang sangat padat teknologi. Tak sampai di sini, mereka tentu akan makin mendekatkan kita pada pengalaman hidup di luar angkasa dan planet lain. Impian yang tak lama lagi bakal terwujud. ●

 

Jumat, 11 Juni 2021

 

Jeff Bezos, dari Menjual Buku ke Penerbangan Luar Angkasa

Andreas Maryoto ;  Wartawan (Penulis Kolom “Industri Digital”) Kompas

KOMPAS, 10 Juni 2021

 

 

                                                           

Awal Juli nanti, Jeff Bezos akan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO Amazon. Lima belas hari kemudian, ia akan ikut dalam penerbangan ke ruang angkasa bersama saudaranya, Mark Bezos. Semua itu berawal dari bisnis penjualan buku secara daring pada tahun 1994 dengan mendirikan Amazon. Kini Bezos kembali memiliki impian lain.

 

Awal pekan ini media di berbagai belahan dunia mengabarkan rencana Bezos itu, yang diunggahnya di media sosial. Melalui akun Instagramnya, Bezos mengabarkan akan terbang dengan wahana New Shepard yang merupakan kapsul buatan Blue Origin, perusahaannya.

 

Penerbangan itu direncanakan dilakukan pada 20 Juli mendatang. Bezos melengkapi ”orang gila” yang memasuki prakarsa penerbangan swasta ke luar angkasa, mulai dari pemilik Virgin Galactic, Richard Branson, hingga pemilik SpaceX, Elon Musk.

 

Berbeda dengan keduanya, Bezos akan ikut terbang menggunakan pesawatnya. Dua lainnya sejauh ini belum akan terbang dengan pesawat yang diproduksi oleh perusahaan mereka. Selain akan mengajak saudaranya, ia juga mengajak seorang penumpang lainnya.

 

Siapakah orang ini? Orang yang akan ikut tengah ditawarkan melalui sebuah lelang yang ditutup pada 12 Juni nanti. Sejauh ini sudah terdapat 6.000 peserta lelang dari 143 negara dengan nilai total 2,8 juta dollar AS.

 

Rencana Bezos ini menambah berbagai keunikan dan juga pencapaiannya. Amazon, yang berdiri dengan modal 250.000 dollar AS dari orangtua Bezos, kini telah beranak pinak dengan berbagai jenis usaha, dari mulai komputasi awan, maskapai penerbangan, memiliki MGM, pemegang saham mayoritas perusahaan mobil elektrik Rivian, perusahaan jasa sistem keamanan hunian Ring, perusahaan ritel Whole Foods, menyelamatkan koran The Washington Post, dan lain-lain. Kita kemudian bertanya, apa lagi yang hendak dicari Jeff Bezos?

 

Blue Origin sesungguhnya sudah lama dimulai dan dikembangkan. Mereka sudah membangun perusahaan ini sejak 2000. Namun, perusahaan ini tergolong agak rahasia. Beberapa uji coba dilakukan secara tertutup. Mereka tidak ingin kecolongan sehingga rencana itu rapi dan tidak tersebar ke mana-mana. Setelah melalui sejumlah percobaan, mereka kemudian mengumumkan rencana peluncuran pesawat ruang angkasa pada Mei lalu.

 

Kita bisa menduga apa yang menjadi mimpi Bezos dari buku kedua tentang orang ini karya Brad Stone. Buku itu berjudul Amazon Unbound, Jeff Bezos and The Invention of Global Empire, yang terbit bulan lalu.

 

Di dalam diri Jeff Bezos yang memiliki kekayaan sekitar 190 miliar dollar AS, sepertinya pikiran-pikiran untuk mendisrupsi setiap saat selalu muncul. Ia telah menghancurkan bisnis ritel, industri hiburan, dan sekarang bisnis penerbangan ke luar angkasa. Banyak idenya yang tidak pernah terpikirkan orang lain. Bahkan, beberapa di antaranya menyanggah ide-ide yang sekarang telah menjadi kenyataan.

 

Bezos disebut orang yang selalu mendorong dunia agar memiliki masa depan yang mengagumkan. Ia mendorong kemunculan ide-ide besar. Namun, prosesnya tidak mudah. Semua ide besar di Amazon berujung di meja Bezos. Hampir setiap keputusan besar harus masuk ke dalam sebuah pertemuan yang dihadiri Bezos.

 

Mereka yang membuat ide itu bisa saja menahan napas dan ragu selama pertemuan. Ada berbagai kemungkinan. Ia mungkin saja akan mencaci maki dan merobek proposal yang disodorkan anak buahnya atau sebaliknya, menggandakan anggaran yang direncanakan sebelumnya.

 

Dalam buku Amazon Unbound juga terdapat informasi mengenai gaya inovasi di perusahaan itu. Penulis buku menyebut sebagai ”gaya inovasi yang berbeda”. Di Amazon, semua karyawan bekerja mendukung mundur intuisi Bezos dan melayani seleranya yang terkadang eklektik atau memiliki ide yang sangat luas dan bersumber pada informasi yang sangat banyak.

 

Intinya, mereka menerjemahkan ide Bezos yang terlalu maju ke dalam rincian-rincian detail yang bisa dilakukan secara operasional dengan mencari sumber daya yang dibutuhkan. Gaya ini berkebalikan dengan gaya konvensional di mana mereka melihat sumber daya yang ada baru menjalankan sebuah ide atau rencana.

 

Di mata banyak orang, Bezos mungkin dianggap kejam dan keras, tetapi ternyata ia tetap saja manusia biasa. Rasa kasihan sering juga muncul. Pikiran-pikirannya juga tidak kaku.

 

Di tengah kecaman sejumlah kalangan karena perlakuan yang tidak baik terhadap buruh-buruh yang bekerja di perusahaannya, ia mendorong perbaikan kondisi pekerja kerah birunya setelah berbagai berita tentang perusahaannya muncul di media secara terus-menerus. Rupanya ia mau mendengarkan kritik.

 

Ketika salah satu eksekutifnya mengusulkan sebuah investasi sederhana, yaitu pemberian fasilitas pendingin di gudangnya, Bezos sempat menolak gagasan itu karena dinilai terlalu mahal. Namun, kemudian media bernama Morning Call of Allentown di Pennsylvania melaporkan kejadian sejumlah pekerja pingsan di gudang Lehigh Valley. Lalu mereka diangkut ke rumah sakit dengan ambulans. Mereka juga menulis kalau Amazon tidak peduli dengan kondisi di gudang itu. Baru pada saat itulah Bezos menyetujui anggaran 52 juta dollar AS untuk memberi pendingin ruangan di berbagai gudang. Ia tidak tertutup dengan kritik.

 

Bezos juga mengembangkan kepedulian pada masa depan anak-anak muda. Uang dari orang yang kelak memenangkan lelang penerbangan ke luar angkasa dengan menggunakan New Shepard pada 20 Juli mendatang akan diserahkan ke yayasan milik Blue Origin, yaitu Club for The Future.

 

Yayasan ini memiliki misi untuk menginspirasi generasi masa depan agar memburu karier di bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika atau biasa disingkat STEM. Dana itu juga dipergunakan untuk membantu orang melakukan penemuan kehidupan pada masa depan di ruang angkasa.

 

Dengan segala pencapaiannya, Bezos tidak akan pernah berhenti. Ia yang disebut telah mengubah gaya hidup orang Amerika Serikat dan tentu masyarakat dunia akan terus melakukan inovasi sekalipun tidak duduk sebagai CEO. Amazon telah menjadi perusahaan favorit di kalangan warga Amerika Serikat.

 

Di dalam sebuah survei, perusahaan ini paling disukai di negara itu. Bezos pasti akan terus merevolusi berbagai sisi kehidupan matanya. Di matanya sangat mungkin setiap kesempatan akan digunakan untuk mendisrupsi berbagai aktivitas yang dianggap kuno dan berbiaya mahal. ●

 

Minggu, 06 Juni 2021

 

Kehidupan di Perusahaan Teknologi yang Menggiurkan

Andreas Maryoto ; Wartawan (Penulis Kolom “Industri Digital”) Kompas

KOMPAS, 03 Juni 2021

 

 

                                                           

Siapa tidak ingin bekerja di Google? Siapa yang tidak ingin bekerja di Amazon? Perusahaan teknologi menjadi impian banyak orang. Sementara di Indonesia, pencari kerja tentu mengincar perusahaan seperti Tokopedia, Gojek, dan Traveloka. Berbagai gosip dan impian bekerja di perusahaan teknologi menjadi sesuatu yang kerap diobrolkan. Realitasnya?

 

Orientasi para pencari kerja memiliki masa. Pada masa lalu bekerja menjadi pegawai negeri sipil dan aparat militer menjadi impian. Ketika pasar kerja berubah, bekerja di perbankan sempat menjadi tren. Semua telah berubah sejak beberapa tahun lalu. Orang lalu lebih melirik perusahaan teknologi. Perusahaan ini diburu seiring dengan perkembangan penggunaan teknologi digital.

 

Bekerja di perusahaan teknologi makin menjadi impian ketika kita mendengar orang-orang yang bekerja di dalamnya. Kemudian kita juga mendengar dari iklan-iklan yang disampaikan. Perusahaan teknologi membius banyak kalangan. Tidak aneh apabila lamaran pekerjaan ke perusahaan-perusahaan itu berjumlah ribuan tiap bulan. Pekerja senior pun banyak yang pindah ke perusahaan teknologi.

 

Untuk melihat seputar kehidupan di perusahaan teknologi, ada baiknya kita membaca penjelasan Richard Russel, seorang konsultan ternama yang pernah bekerja di Google dan Amazon, di laman Inc beberapa waktu lalu. Dari penjelasan dia mungkin kita bisa mengira-ngira pola pekerjaan di perusahaan teknologi Tanah Air dan juga membayangkan kehidupan yang bakal dijalani ketika kita diterima di salah satu perusahaan teknologi.

 

Perusahaan teknologi memiliki nilai-nilai yang kuat dan sangat menonjol sehingga mereka akan memilih karyawan yang sangat cocok. Oleh karena itu, pertanyaan pertama saat kita diwawancarai akan langsung menunjukkan kesiapan kita bekerja di perusahaan itu. Jawaban kita akan langsung memberikan gambaran tentang kita dan sangat mungkin merupakan ”pintu gerbang” untuk langkah selanjutnya.

 

Russel menyebutkan pertanyaan pertama di Google adalah seberapa cerdas Anda? Pertanyaan ini muncul karena Google akan mempekerjakan orang dengan beban penuh dan juga masalah yang tidak ringan. Mereka melengkapi kehidupan kerja dengan berbagai fasilitas yang membuat karyawan nyaman dan senang sekaligus membuat mereka bisa membuat karya yang hebat.

 

Google tentu ingin mendapat karyawan yang mampu bekerja keras, tetapi ini bukan yang utama. Google ingin mendapatkan karyawan yang bekerja cerdas sehingga mereka ingin mendapat gambaran sejak awal ketika wawancara terhadap calon karyawan dilakukan. Kesalahan yang sering dilakukan adalah para calon karyawan lebih menonjolkan kesanggupan bekerja keras dibandingkan bekerja cerdas.

 

Sementara Russel mengatakan, ketika orang ingin bekerja di Amazon, mereka akan ditanya, apa yang telah Anda kerjakan selama ini? Amazon ingin mendapatkan karyawan yang telah mampu mengerjakan banyak hal dengan harapan mereka juga akan mengerjakan sejumlah beban ketika bekerja di Amazon. Mereka akan mendapat banyak masalah sulit, tetapi juga banyak menerima kebebasan.

 

Kisah Russel ini makin menarik ketika ia menceritakan detail kehidupan di dua perusahaan teknologi itu. Google berusaha menarik calon karyawan dengan memperlihatkan diri sebagai tempat yang nyaman untuk bekerja. Sementara Amazon ingin memperlihatkan diri sebagai tempat dan lingkungan yang pas untuk mereka yang mau bekerja dengan beban banyak. Ketika ditanya tentang pilihannya, Russel mengatakan, apabila urusan berkaitan dengan kenyamanan tempat kerja, ia memilih Google. Namun, apabila sejak awal berniat untuk menaikkan karier dan kemampuan, ia lebih memilih lingkungan Amazon.

 

Russel juga bercerita tentang fasilitas makanan, kepemimpinan, respons terhadap perubahan, gaya manajemen, dan lain-lain. Masing-masing perusahaan teknologi itu memiliki ciri tersendiri. Mereka juga memiliki sejumlah alasan terkait dengan pilihan kebijakan masing-masing. Russel cukup adil menilai kedua perusahaan itu dengan berbagai macam penjelasan. Pengalaman bekerja di kedua perusahaan itu membuat ia mempunyai wawasan yang lengkap tentang kedua perusahaan teknologi tersebut.

 

Melihat dua contoh perusahaan teknologi itu, maka lebih menarik apabila kita melihat kehidupan di perusahaan teknologi dalam negeri. Indonesia termasuk memiliki perusahaan teknologi dalam jumlah banyak. Kita hanya kalah dengan Amerika Serikat, China, dan India. Sayang sekali, belum ada konsultan yang memiliki informasi mencukupi tentang kehidupan di perusahaan-perusahaan teknologi di Indonesia. Kita masih mengandalkan informasi dari media dan juga mungkin segelintir karyawan yang berada di dalam perusahaan itu.

 

Kehidupan bekerja di perusahaan teknologi di Indonesia juga belum banyak menjadi bahan pemasaran di kalangan mereka. Mereka masih cenderung mempromosikan produk saja. Padahal, kehidupan di perusahaan teknologi semacam Life at Google atau Life at Amazon bisa menjadi bagian pemasaran yang membuat nama-nama perusahaan itu makin melambung. Perusahaan juga bisa memberi gambaran secara tidak langsung mengenai karyawan yang dibutuhkan melalui materi-materi pemasaran berbasis kehidupan di perusahaan teknologi.

 

Kita bisa menilai mulai dari para pendiri perusahaan teknologi itu. Siapakah mereka? Banyak wawancara sudah dilakukan oleh media dan kita bisa mengorek latar belakang mereka, visi, pengalaman hidup, pengalaman saat menghadapi masalah, dan bagaimana mereka mengendalikan perusahaan. Informasi kecil di dalam wawancara itu mungkin bisa menjadi informasi besar tentang gaya kepemimpinannya. Semisal, tentang pandangan dia tentang kompetitor dan sikap menghadapinya.

 

Lebih detail lagi kita bisa mendapat informasi tentang kebebasan di dalam perusahaan teknologi. Pilihan mereka untuk menetapkan waktu fleksibel atau jadwal yang ketat di dalam bekerja. Komposisi karyawan di dalam perusahaan dari mulai jenis kelamin, asal usul karyawan, pendidikan mereka, dan lain-lain. Data itu bisa memberikan gambaran umum suasana kehidupan di perusahaan teknologi.

 

Untuk lengkapnya kita memang perlu bertemu dengan karyawan perusahaan teknologi yang kita incar. Kita mendengarkan langsung dari orang dalam meski perlu hati-hati karena mungkin saja ada bias. Semakin banyak kita mendapat informasi tentang perusahaan itu, kita akan makin utuh mendapatkan gambarannya. Sekali-kali kita tetap kritis dengan informasi yang diberikan. Ujungnya kita perlu meyakinkan diri kita bahwa kita cocok di perusahaan A, bukan yang B atau yang C.

 

Mimpi bekerja di perusahaan teknologi tentulah sesuatu yang baik, tetapi kesiapan bekerja keras dan cerdas diperlukan. Bersiap menghadapi tantangan dan juga mau terus belajar lebih diperlukan lagi. Perubahan di teknologi digital akan terus terjadi sehingga potensi perubahan setiap saat harus disadari. Organisasi perusahaan tidak akan kaku. Mereka bisa berubah setiap saat ketika menyesuaikan perubahan kondisi internal dan eksternal. ●