Tampilkan postingan dengan label Obama Menang Lagi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Obama Menang Lagi. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 November 2012

‘Obama’s victory, smart power and the US Awakening


‘Obama’s victory,
smart power and the US Awakening
Jennie S Bev ;   An Award-Winning Author and Columnist based in California
JAKARTA POST, 09 November 2012

I attended the US election vote-counting at the Kempinski Hotel Grand Ballroom on the morning of Nov. 7 in Jakarta at the invitation of the US Embassy. It was both a party and an affirmation of the US’ position as superpower in the world. It gave me a sense of pride knowing that the Americans in the room were not divided by political parties, but united under the image of “The Road to the White House”. 

The White House has been a symbol of power for over 200 years. And it still is. 

Students of the National University (Unas) and Borobudur University were among the invitees and they seemed mesmerized by the information presented and, of course, a model White House erected on the stage. Introducing young people to the building where the US president works and his family resides creates a mental image that lingers and, hopefully, will inspire them to visit this historical landmark someday. Thus, the seeds of future democratic leaders were planted. 

The embassy staffers were successful in presenting an image of the US as a “kind, smart and important” country. The fiesta looked like a Hollywood film set or a Bond movie. As an American residing in a vibrant city in California’s Silicon Valley, I did not feel a sense of “normalcy” with so many secret agents in batik and formal suits walking around the room and eyeing people. Back in my hometown, I would be lucky to find one or two men walking around in suits, as California is renowned for its laid-back and “collar-less” working class. 

Soon, I realized that the event was not intended for Americans. It was to impress people from here in Jakarta: Invited Indonesians and Indonesians who read the news from the invited press. It was a showcase of American “soft power”, a term popularized by Joseph Nye, a professor at the Kennedy School of Government at Harvard. For an American taxpayer, perhaps it was a bit too extravagant and costly, but the image of the White House must be preserved nonetheless. And on this, I agree.

The most interesting booth at the event was the one with a mock voting booth, which looked like the ones I had seen in Indonesia many years ago. It was a white-wooden booth with a navy curtain. Interestingly, I have never seen one like that in the US, as voting generally occurs in auditoriums, basketball playgrounds, and other public places. In certain states, electronic voting machines are also provided. 

Those who are visiting or residing in other countries can mail in or fax their absentee ballots. In Santa Clara County in California, for instance, there were 40 items on the ballot to vote for, including issues of school board director, water treatment, local sales tax, and other propositions. So the mailed in or faxed ballot came in several pages. Compared with a voting ballot in Indonesia, it looked way too complicated. The guidelines themselves covered more than 10 pages with descriptions of the propositions and each proposition’s pros and cons and “yes” and “no” impacts.

Obama’s victory was expected. He won both the electoral and popular votes. The world can breathe a sigh of relief knowing that the US is unlikely to start a new war under this revitalized administration. Americans can also be at peace knowing that various “welfare state” elements will stay in place, such as the controversial Obamacare bill. Despite Obama’s less-than-perfect score in economics, I am quite optimistic that he will be focusing on this “weakness”. 

I have never met Obama in person; thus, the only things I can write about him and his policies are based upon educated guesstimates. He and his administration will continue to be confronted by a Republican-majority House of Representatives, with which he has become familiar during the last four years. His liberal and populous policies will, therefore, continue to be compromised. 

The defense budget will continue to remain the highest in the world. Last year, it stood at US$700 billion. War in Afghanistan and Iran’s nuclear program might be wound down with sanctions instead of combat. Also, Europe may still be confused by Obama’s aloofness, which contradicts his 2009 visit to Berlin. He simply was not that interested in the eurozone crisis.

It might be too early to predict Barack Obama’s performance in handling the US economic crisis as his second term gets under way. High hopes for his success, of course, have not diminished, despite the downward spiral of his popularity worldwide because when this mammoth called “the US” awakes, the whole world will experience the ripple effects.

The questions now are: How can Obama play the “smart power” card while maintaining “soft power” as the core of his overall strategy? (“Smart power” is a term referring to a good mix between hard power and soft power). How can Obama and his administration be assertive enough in foreign policy without tipping the balance of domestic policies? ●

Kamis, 15 November 2012

Uji Sahih Obama


Uji Sahih Obama
Hery Sucipto ;  Direktur Pusat Kajian Timur Tengah dan Dunia Islam (PKTTDI) Universitas Muhammadiyah Jakarta
REPUBLIKA, 14 November 2012
  

Barrack Hussein Obama kembali berjaya pada pilpres Amerika Serikat.
Jagoan Partai Demokrat itu berhasil mengalahkan rivalnya dari Partai Republik, Mitt Romney, pekan lalu. Dengan kemenangan ini, untuk kedua kalinya Obama menjadi presiden AS hingga empat tahun mendatang.
Bagi sebagian kalangan, kemenangan Obama telah memberikan harapan baru bagi perubahan dan terciptanya tatanan dunia yang lebih berkeadilan dan berperikemanusiaan. Namun, tak sedikit pula yang meragukan presiden kulit hitam pertama Amerika itu dapat mewujudkan harapan berbagai pihak mengingat banyaknya kepentingan, baik politik maupun ekonomi terkait eksistensi Obama maupun menyangkut masa depan Negeri Paman Sam tersebut.
Uji Sahih
Empat tahun periode pertama Oba- ma memimpin negara adidaya tentu memberikan banyak pelajaran, baik terkait dengan perubahan dan dinamika di dalam negeri maupun menyangkut kebijakan politik luar negerinya. Dua peristiwa domestik paling dirasakan se kaligus menjadi tantangan terbesar Obama adalah badai krisis moneter pada awal kepemimpinannya, yakni pada 2008. 
Tingkat pengangguran yang tinggi, hingga mencapai delapan persen lebih, atau sekitar 13 juta orang, belum lagi me- nurunkan daya beli masyarakat. Seakan berpacu dengan waktu, Obama hendak menaikkan pajak bagi orang-orang kaya untuk kepentingan rakyat AS. 
Meski hingga kini belum berhasil diwujudkan, soal pajak mendominasi tema kampanye Obama. Ia bahkan meng ancam akan segera menyetujui RUU Pajak ini jika kalangan "the have" tetap bersikeras menolaknya. Kini, perekonomian AS memang mulai membaik meski lambat. 
Dampak lainnya, krisis menyebabkan resesi ekonomi global, termasuk dirasakan Indonesia. Kegiatan ekspor-impor kedua negara sempat mengalami titik terendah. Bahkan, meski tidak langsung, juga "menginspirasi" bagi terjadinya krisis ekonomi di Eropa.
Sementara itu, kebijakan luar negeri Obama yang berdampak langsung pada stabilitas politik dalam negerinya, terutama adalah penarikan pasukan Amerika dari Irak dan Afghanistan secara bertahap. Hal ini berdampak positif, termasuk bagi naiknya popularitas sosok yang pernah bersekolah di Indonesia itu.
Dua hal tersebut bisa dikatakan uji sahih politik dan strategi Obama menghadapi persoalan bangsanya. Hanya pertanyaannya adalah, apakah kedua hal di atas dapat dijadikan patokan keberhasilan uji sahih strategi kebijakan politik Obama dalam memimpin AS? 
Mengatakan berhasil tentu saja terlalu dini mengingat kompleksitas persoalan yang dihadapi Amerika. Dalam konteks perannya di kancah internasional, Obama masih dibelit dengan banyak masalah, seperti sengketa Laut Cina Selatan, instabilitas politik di Timur Tengah dan dunia Arab, persoalan nuklir Iran dan Korut, hubungan dengan Rusia dan Cina yang lebih dominan kontradiktif.
Juga soal hasrat penguasaan negara-negara Asia Timur jauh (termasuk di dalamnya Indonesia) terkait ancaman dominasi Cina di kawasan tersebut, serta masalah hubungan Paman Sam dengan dunia Islam yang kerap diwarnai ketidakharmonisan terkait kasus-kasus HAM maupun kebebasan berekspresi yang sering memunculkan kasus berbau SARA.
Berbagai persoalan itu sekaligus akan menjadi uji sahih berikutnya, apakah Obama akan mampu melewati masa kedua kepemimpinannya ini dengan baik.
Hal ini penting pengingat negara adidaya tanpa tanding itu kerap memunculkan kebijakan kontroversial yang memicu kebencian banyak pihak. 
Jalan terbaik Di luar itu, masalah krusial yang menurut penulis mendesak diselesaikan adalah konflik dan perdamaian di Timur Tengah, khususnya Palestina-Israel, termasuk proses demokratisasi pasca-Arab Springs yang melanda negara-negara Arab beberapa waktu lalu. Perdamaian di Timur Tengah diyakini sulit terwujud tanpa peran nyata dan berkeadilan dari Amerika Serikat. Hanya masalahnya, selama ini kebijakan politik luar negeri AS terkait Timur Tengah cenderung membela dan mendukung Israel.
Jika akar persoalannya adalah masalah ketidakseimbangan politik AS terhadap Palestina dan Israel maka perdamaian akan sulit tercapai. Israel sejauh ini berani sewenang-wenang karena merasa didukung AS. Sementara, negara-negara Arab, dunia Islam, bahkan PBB juga tidak bisa banyak berbuat karena besarnya pengaruh AS dalam ranah politik negara-negara tersebut. 
Maka, jalan terbaik bagi Obama jika AS benar-benar beriktikad baik ikut mewujudkan tatanan dunia yang damai dan sejahtera adalah dengan menerapkan balance politic (politik keseimbangan) terhadap semua negara. 
Penerapan politik keseimbangan sekaligus akan mengantarkan Obama sebagai pemimpin AS yang teruji sahih dengan baik dan dikenang publik dunia sebagai pelopor sejati perdamaian dunia. Politik rasial dan kotor akan lenyap pada era kepemimpinannya. Tidak mudah me mang, tapi Obama harus mencoba merintisnya.
Bagi Indonesia, tampilnya Obama untuk kedua kali sebagai presiden AS harus bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin. Dalam politik tidak ada yang gratis. Prinsip kerja sama saling menguntungkan dan kesetaraan adalah bentuk ideal dalam hubungan internasional, baik bilateral maupun multilateral. Maka, dalam konteks Indonesia, pemerintah harus bekerja keras agar dapat mengambil keuntungan dari AS. 
Bargaining power kita selama ini lemah maka menjadi PR bagi pemerintahan Presiden SBY meningkatkan daya tawar tersebut. Perlu diingat, posisi Indonesia dalam percaturan internasional, dari sudut pandang apa pun, cukup strategis. Ini modal berharga. Tinggal kembali kepada pemerintah apakah mampu mengelola potensi tersebut untuk kemaslahatan rakyat. ●

Selasa, 13 November 2012

Kemenangan Obama, Peluang Indonesia


Kemenangan Obama, Peluang Indonesia
Kentos Artoko ;  Wartawan Suara Karya
SUARA KARYA, 09 November 2012

  
Hasil pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) menunjukkan Barack Obama dari Partai Demokrat yang juga petahana, mampu mengungguli seterunya Mitt Romney yang diusung oleh Partai Republik dengan perbedaan suara yang sangat tipis. Lalu, peluang apa yang bisa diambil oleh Indonesia dengan kemenangan Obama itu?
Secara statistik, AS di bawah Obama telah berhasil menunjukkan kemajuan dalam bidang ekonomi. Data dari Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan, di bawah kepemimpinan Obama, jumlah pengangguran menurun dari 9 persen (2011), 8,1 persen (2012) dan prediksi 7,9 persen pada 2013 mendatang. Pertumbuhan ekonomi pun mengalami peningkatan dari 2,1 persen (2012) dan pada 2013 mendatang bisa 2,4 persen.
Melalui data tersebut, harus diakui bahwa Obama masih harus terus berjuang untuk mengembalikan posisi perekonomian AS pada tingkatan atau level yang jauh lebih baik. Krisis moneter yang melanda Eropa juga memberikan imbas buruk terhadap ekspor AS ke kawasan ini yang secara langsung memberikan efek negatif perolehan negara.
Dari sisi utang luar negeri, tingginya beban utang yang harus ditanggung Pemerintah AS dibandingkan dengan perolehan negara, turut memengaruhi berbagai kebijakan dalam sektor moneter yang berbuntut tidak stabilnya nilai tukar greenback (dolar)
Kekuatan ekonomi domestik tentu saja sangat berpengaruh terhadap penerapan sistem politik luar negeri yang akan ditempuh oleh AS untuk mengamankan sejumlah kepentingannya di berbagai kawasan. Melalui sejumlah rencana yang dilontarkan Obama, tersirat bahwa AS akan jauh lebih realistis dalam melaksanakan kebijakan politik luar negerinya.
Di Timur Tengah, dominasi pengaruh AS terhadap seluruh negara di jazirah ini hanya tinggal menunggu waktu saja. Iran dan Suriah yang hingga kini masih belum bisa "ditaklukan", lambat tapi pasti bakal bisa dikuasai.
Berbagai tekanan dalam bidang ekonomi dan politik telah dilancarkan AS beserta sekutu-sekutunya. Embargo ekonomi pun sudah dicanangkan terhadap kedua negara itu.
Tumbangnya beberapa rezim, seperti Libia, Yaman dan Mesir yang selama ini menjadi 'duri dalam daging' telah memudahkan negeri Paman Sam untuk jauh lebih dalam lagi menancapkan kuku dan pengaruhnya. Politik hegemoni dan superioritas yang dianut oleh AS selama ini memang masih terus dijalankan oleh Obama, namun dilakukan dengan sangat hati-hati dan tidak mencolok. Kekuatan oleh militer di tiap regional terus dipertahankan dan ditambah.
Untuk kawasan Asia, kendala utama AS untuk menguasai wilayah ini terletak pada superioritas China. Sebagai satu entitas negara, China kini berubah menjadi satu kekuatan industri, militer dan ekonomi yang paling mapan di dunia.
Pertumbuhan ekonominya yang mencapai 8 persen mampu membuat negeri Tirai Bambu ini sebagai penguasa dunia dalam bidang ekonomi. Betapa tidak, hampir 80 persen surat utang yang dilempar oleh AS ke pasar keuangan dunia, diborong habis oleh China.
Oleh karena itu, secara tidak langsung, AS kini berada di bawah pengaruh yang sangat luar biasa dari China, apabila tidak ingin kembali pada jurang krisis moneter yang jauh lebih dalam lagi.
Kekuatan militer China yang juga terus berkembang, mengakibatkan politik hegemoni dan dominasi geopolitik China makin melebar di kawasan Asia Tenggara.
Perseteruan antara Filipina-Kamboja soal Teluk Beting yang mengakibatkan ketidakmampuan Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN) menghasilkan komunike bersama, Juli lalu telah menimbulkan sedikit faksi dalam tubuh organisasi ini.
Kamboja yang didukung China, serta Filipina yang didukung AS terus berseteru dengan tajam. Buntutnya, China melarang ekspor pisang Filipina ke negeri Tirai Bambu itu yang mengakibatkan kerugian besar dalam perolehan devisa Filipina, karena pisang merupakan andalan ekspor dan China adalah satu-satunya tujuan ekspor Filipina.
Perseteruan lain yang hingga kini masih terjadi adalah antara China dan Jepang soal kepulauan Diaoyu (sebutan China) atau Senkaku (sebutan Jepang). China menganggap wilayah itu merupakan bagian dari kedaulatannya, demikian pula sebaliknya.
Akibatnya, China melarang Jepang untuk memasok rare earth (bahan baku otomotif dan elektronika) ke wilayahnya, termasuk Hong Kong dan Taiwan. Pelarangan ini, menyebabkan Jepang meradang, mengingat rare earth adalah ekspor komoditas terpenting Jepang selain manufaktur, elektronika dan otomotif.
Usulan zero draft (draf nol) yang dibawa oleh Menlu Marty Natalegawa untuk menyelesaikan sengketa wilayah di Laut China Selatan bisa dijadikan bargaining power bagi Indonesia agar lebih diperhatikan oleh AS. Apabila negara-negara anggota ASEAN setuju terhadap zero draft itu, maka Indonesia punya kartu truf tambahan untuk menjalankan diplomasi ekonomi dan politik terhadap negeri Paman Sam.
Indonesia memiliki peluang untuk menekan AS dan sekutu-sekutunya agar lebih gencar lagi melakukan investasi di Indonesia. Investasi yang dilakukan, bisa secara langsung maupun tidak langsung, harus memberikan dampak langsung terhadap penambahkan dan perolehan devisa negara Di samping itu, Indonesia pun bisa meminta bantuan tambahan dalam bidang teknlogi teranyar serta militer, mengingat sejumlah persenjataan yang dimiliki negara telah usang dan tidak kompeten lagi untuk menjaga kedaulatan bangsa. ●

Kemenangan Obama Harus Dimanfaatkan


Kemenangan Obama Harus Dimanfaatkan
( Wawancara )
Christianto Wibisono ;  Ekonom dan Pengamat Hubungan Internasional
SUARA KARYA, 10 November 2012



JAKARTA (Suara Karya): Masyarakat internasional menyambut haru kemenangan Barack Obama yang terpilih kembali menjadi Presiden Amerika Serikat. Dalam pemilihan Selasa (6/11), Obama secara meyakinkan, mampu mengalahkan Mitt Romney dari Partai Republik. Apa makna kemenangan Obama bagi Indonesia?
Obama menjadi orang Demokrat kedua yang terpilih kembali menjadi Presiden AS sejak Perang Dunia II. Kemenangan Obama dipastikan ketika CNN melaporkan keunggulan Obama di Ohio yang memberi 18 suara elektoral sehingga ia memperoleh 274 suara, di atas syarat batas perolehan suara untuk menenangkan pemilihan yakni 270 dari 538 electoral vote.
Bagi kita di tanah air, kemenangan Barack Obama dalam Pilpres Amerika Serikat kali ini hendaknya menjadi momentum untuk lebih mempererat hubungan dengan Amerika Serikat.
Kedekatan emosional Obama dengan Indonesia seharusnya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi, pendidikan dan kebudayaan. Itulah makna kemenangan Obama, yang semestinya berfaedah besar bagi bangsa kita.
Obama adalah simbol multikulturalisme, kesetaraan dan perdamaian. Sikapnya yang menolak perang, dan lebih mengedepankan dialog dan diplomasi, sangat berlawanan dengan pendahulunya George Bush, membuat masyarakat AS sadar bahwa perdamaian jauh lebih signifikan ketimbang menggelar perang di Afghanistan (Asia Selatan) dan Irak (Timur Tengah) yang menguras sumber daya Amerika.
Bagi kita di tanah air, kemenangan Barack Obama dalam Pilpres Amerika Serikat kali ini hendaknya menjadi momentum untuk lebih mempererat hubungan dengan Amerika Serikat. Berikut petikan wawancara wartawan Suara Karya, Muhamad Kardeni dengan ekonom yang juga pengamat hubungan internasional Christianto Wibisono di Jakarta, Rabu (7/11), menanggapi hubungan Indonesia-Amerika pasca kemenangan Obama.
Bagaimana anda melihat kemenangan Barack Obama dalam pilpres AS kali ini?
Mudah-mudahan untuk periode kedua ini, dia (Obama-red) bisa melaksanakan program kerjanya dengan baik karena kalau tidak, Amerika Serikat akan menjadi negara yang lemah.
Apa mungkin negara adidaya seperti Amerika bisa menjadi negara yang lemah?
Bisa saja, program kerja utama Obama itu kan kayak Robin Hood. Kalau Obama terus menjadi Robin Hood, Amerika tidak akan maju. Karena pengangguran-pengangguran di Amerika akan senang karena dikasih duit oleh negara. Kalau di Indonesia itu istilahnya dapat Bantuan Tunai Langsung (BLT). Nah kalau dapat BLT terus, banyak orang yang milih untuk tidak bekerja. Kalau ini terus dibiarkan oleh Obama, itu bisa membahayakan anggaran keuangan negara.
Menurut anda apa yang menjadi kunci kemenangan bagi Obama untuk Pilpres ini?
Kuncinya karena Obama menjanjikan jaminan sosial bagi pengangguran apalagi sekarang Amerika mengalami resesi ekonomi. Kalau kampanyenya Mitt Romney (capres Partai Republik-red) kan, mereka (pengangguran-red) disuruh cari duit sendiri. Nah kalau Obama beda, negara akan kasih duit, negara kasih BLT buat pengangguran-pengangguran disana, ya makanya banyak yang pilih Obama.
Kemenangan Obama apa ada pengaruhnya untuk Indonesia?
Menurut saya, Obama itu harus dimanfaatkan. Amerika itu kan perlu berdamai dengan Timur Tengah. Nah Indonesia harusnya bisa menjadi juru damai disitu. Kita tahu perang teror Amerika Serikat sedikitnya menghabiskan anggaran dana 1 trilyun rupiah per tahun. Kalau Indonesia bisa menjadi juru damai, sedikitnya anggaran pengeluaran Amerika itu bisa terminimalisir, dan tentunya Indonesia sebagai juru damai bisa dapat fee, karena membantu mengurangi belanja perang Amerika itu tadi. Sekarang kan tidak, malah kita saja yang terus nyetor ke Amerika.
Artinya pemerintah kita yang harus pro aktif melihat peluang itu?
Ya, Indonesia sebagai negara Islam terbesar demokrasi dunia harusnya mampu memimpin kekuatan Islam dunia yang moderat dan toleran untuk mendamaikan Israel-Palestina. Seharusnya pemerintah kita meyakinkan Amerika, daripada ikutan perang habiskan 1 trilyun setahun, mendingan damai saja. Kalau damai kan uangnya bisa ramai-ramai membangun Timur Tengah, dan Indonesia bisa mendapat keuntungan dari situ.
Dalam jangka pendek, apa yang harus dilakukan pemerintah Indonesia melihat kemenangan kedua Obama ini?
Yang harus dilakukan adalah agar Obama dekat dan mengerti tentang . Yang kita tahu saat ini, Amerika masih tetap menghadapi perang teror di Timur Tengah. Dalam kondisi ini, Indonesia harus berani bicara soal Pancasila dan UUD 1945 di panggung internasional. Kita harus yakinkan dunia internasional khususnya Amerika bahwa Pancasila dan UUD 1945 bisa menciptakan perdamaian dunia, dan Indonesia bisa menjadi juru damai dalam konflik di Timur Tengah.
Apa negara-negara Timur Tengah itu mau berdamai, melihat perangnya sudah puluhan tahun?
Saya yakin Palestina-Israel sudah capek perang 50 tahun. Yang bisa menjadi juru damai itu cuma Indonesia sebagai negara Islam terbesar, tidak bisa Vladimir Putin atau Hu Jin Tao bahkan Amerika sendiri yang bisa mendamaikan. Dengan modal sebagai negara Islam terbesar dunia yang demokratis, Indonesia bisa mengambil peran itu.
Bagaimana meyakinkan Amerika, Indonesia bisa menciptakan perdamaian dunia, sementara kondisi di negara Indonesia sendiri masih sering terjadi konflik horizontal?
Betul, ini memang yang susah, konsepnya sudah bagus bahwa Pancasila dan UUD 1945 bisa menciptakan perdamaian. Cuma kalau kita melihat apa yang terjadi di Lampung, bagaimana orang saling serang, itu membuktikan bahwa kita hanya teori saja pada prakteknya kita bukan sebagai negara Pancasila. ●

Senin, 12 November 2012

The Devil We Know


The Devil We Know
Budiarto Shambazy ;  Wartawan Senior Kompas
KOMPAS, 10 November 2012



Presiden Amerika Serikat Barack Obama terpilih kembali dengan kemenangan telak, 303-206, atas Mitt Romney pada lapis utusan (electoral college) dari 50 negara bagian (plus satu daerah khusus Washington, DC)—kecuali Florida. Pada lapis pemilih, Obama sementara unggul 60,6 juta dibandingkan 57,7 juta suara.
Jumlah pemilih menurun cukup drastis, perkiraan sementara mencapai 126 juta (sekitar 57,5 persen dari total pemilih) dibandingkan 131 juta (sekitar 64 persen) tahun 2008. Ini tingkat partisipasi normal karena rakyat masih tertarik politik, tak seperti ketika Presiden Bill Clinton terpilih kembali tahun 1996 dengan jumlah pemilih di bawah 50 persen.
Artinya, mayoritas rakyat tetap optimistis meski diancam krisis anggaran (fiscal cliff) dengan defisit sekitar 1 miliar dollar AS per tahun dan utang publik menembus 16 triliun dollar AS. Belum lagi tingkat pengangguran hampir 8 persen (sekitar 23 juta orang) dan sekitar 50 juta warga miskin mengandalkan kupon makan gratis pemerintah.
Agak di luar dugaan mayoritas masih memercayai Obama yang popularitasnya terus turun. Apalagi, menurut berbagai survei, lebih dari tiga perempat responden mengaku faktor ekonomi menjadi pertimbangan utama memilih kali ini.
Lebih mencengangkan, Obama hanya kehilangan dua negara bagian (Indiana dan North Carolina) yang memang kubu konservatif dari 10-13 swing states. Kenapa bisa begitu?
Pertama, tim kampanye Obama kerja keras dengan strategi ampuh, iklan efektif, dan gerakan get-out-the-vote berskala masif. Sumbangan suara terbesar datang dari mayoritas perempuan, warga berusia 18-44 tahun, minoritas (hitam, Latin, dan Asia), kaum urban, dan homoseksual.
Kini kubu Romney sadar kurang konsentrasi ke kelompok-kelompok ini. Ia cuma unggul merebut mayoritas suara pria kulit putih di atas 45 tahun yang tinggal di pinggiran dan wilayah pertanian.
Kedua, Obama tak berpura-pura (apalagi berbohong) menangani misi perbaikan ekonomi. Ada kalimat yang sering diucapkan Obama dan Wakil Presiden Joe Biden yang mencerminkan watak dia, ”I say what I mean, I mean what I say.”
Krisis moneter dipicu KPR (subprime mortgage) yang macet akibat ulah dua kreditor raksasa, Freddie Mac dan Fannie Mae, tahun 2007. Setahun kemudian kredit macet menjalar ke sektor lain, termasuk keuangan dan otomotif.
Ada kebijakan bailout Presiden Obama yang sukses, seperti untuk General Motors. Ada pula bailout yang gagal, seperti untuk Wall Street—antara lain karena ulah para eksekutif yang boros bonus.
Ketiga, Obama mempraktikkan politik luar negeri asertif sekaligus manusiawi. Ia melenyapkan Osama bin Laden dan menewaskan teroris dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan yang ditewaskan Presiden George W Bush.
Betul Obama masih tetap pro-Israel dan belum banyak memprakarsai upaya perdamaian Timur Tengah. Namun, politik luar negeri AS saat ini lebih multilateralistis (tidak unilateralistis) yang menganggap para sekutu sebagai sahabat yang didengar.
Itu sebabnya kita di Asia Tenggara lebih nyaman karena Presiden Bush mengabaikan ASEAN. Obama menganggap China sebagai mitra—bukan adidaya pesaing—yang mau kerja sama dengan mematuhi aturan-aturan main yang disepakati.
Mitra strategis (strategic partners) AS di Asia Pasifik tetap Jepang, Korea Selatan, dan Australia. Empat tahun ke depan Indonesia tetap berstatus mitra komprehensif yang dianggap belum setara dengan AS dan oleh sebab itulah kita patut menjaga harga diri dan kedaulatan.
Keempat, Obama menang karena wajah Romney sesungguhnya masih belum terungkap sampai hari pencoblosan. Pemilih independen yang jumlahnya sekitar sepertiga dari total pemilih belum cukup kenal sosok Romney, sang konglomerat pemilik Bain Capital.
Romney sering dicap sebagai ”robot” kurang sensitif. Ia, misalnya, pernah keseleo lidah mengatakan 47 persen rakyat hidup seperti benalu karena mengandalkan berkah dari pemerintah.
Citra Romney sebagai konglomerat dirusak pula oleh Donald Trump yang sempat mencalonkan diri sebagai presiden. Trump yang suka asal bicara dan bertindak sesuka hati, misalnya, menuduh Obama pemalsu akta kelahiran sehingga tak memenuhi syarat sebagai capres tahun 2008.
Jangan lupa, persaingan Obama vs Romney adalah ajang pertempuran ideologis antara liberalisme vs kapitalisme. Obama bertekad membawa AS menjadi negara kesejahteraan mirip di Eropa, Romney penganjur kapitalisme yang menjunjung tinggi kerja keras.
Obamacare bertujuan membebaskan sekitar 60 juta rakyat dari beban biaya pengobatan yang supermahal, Romney malah ingin melenyapkannya. Obama ingin mengubah tax code menambah pajak bagi yang berpenghasilan di atas 250.000 dollar AS per tahun, Romney malah ingin memotong pajak orang kaya.
Empat tahun ke depan liberalisme ada di atas angin. Republik mesti berjuang keras agar tak terseret ideologi ultrakonservatif ala kaukus Tea Party yang konyol, dengan menyiapkan capres-capres-sentris seperti Romney atau John McCain.
Demografi AS berubah dan ada peluang tahun 2016 kedua partai mengusung cawapres Latin yang pemilihnya mencapai 11 juta orang. Dari Republik ada Senator Florida Marco Rubio, dari Demokrat ada Wali Kota San Antonio Juan Castro.
Tugas Obama makin berat meski dalam pidato kemenangan menegaskan akan mengulurkan tangan bekerja sama dengan DPR yang masih dikuasai Republik. Semoga ia tidak mengalami sindrom periode kedua yang cenderung membawa sial, tetapi malah menyiapkan warisan yang bakal dikenang manis.
Saya suka dengan istilah majalah Inggris, The Economist, yang mendukung Obama karena ia the devil we know. Agaknya masih lebih baik memilih orang jujur walau dipandang belum berhasil daripada memilih yang belum tentu jujur dan juga belum tentu berhasil. ●

Obama Menang Berita Gembira?


Obama Menang Berita Gembira?
Makmur Keliat ;  Pengajar Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia
KOMPAS, 09 November 2012



Barack Obama akan kembali memimpin Amerika Serikat untuk lima tahun yang akan datang. Sebagai negara dengan ukuran ekonomi terbesar di dunia, perhatian besar terhadap proses pemilihan di negeri itu tentu saja wajar.
Sebagai kekuatan ekonomi terbesar, kinerja ekonomi Amerika Serikat memang memberikan pengaruh cukup menentukan, baik terhadap kinerja ekonomi global maupun regional. Bagi sebagian pihak, terpilihnya kembali Obama menyampaikan berita baik. Diperkirakan tidak akan banyak perubahan dalam hubungan Amerika Serikat dengan dunia luar.
Kemenangan Obama berarti akan terdapat konsistensi dan kesinambungan kebijakan Amerika Serikat, seperti prioritas pada pendekatan multilateral dalam kerja sama internasional. Namun, di luar faktor kepemimpinan ini terdapat faktor obyektif yang perlu dicermati sehingga kita tidak menumbuhkan harapan terlalu tinggi tentang kesinambungan dan konsistensi kebijakan itu.
Menghindari ”Batu Karang”
Faktor obyektif itu terkait dengan persoalan defisit anggaran federal yang kini telah mencapai angka sekitar 9 persen dari produk domestik bruto (PDB) negeri itu. Angka ini sangat jauh di atas standar normatif Eropa.
Kesepakatan Maastricht, misalnya, telah menetapkan pagu defisit anggaran sebaiknya tidak melebihi angka 3 persen. Kata kunci untuk melihat betapa seriusnya persoalan defisit anggaran federal ini telah diungkapkan oleh Ben Bernanke, pimpinan Bank Sentral Amerika Serikat.
Melalui terminologi fiscal cliff yang disampaikannya dalam dengar pendapat dengan Kongres AS pada 7 Juli 2012, Bernanke bermaksud menyatakan bahwa AS ibarat sebuah kapal yang tengah berlayar mendekati suatu ”batu karang”. Agar kapal itu tidak celaka karena terbentur dengan batu karang, sesuatu tentu saja harus dilakukan.
Batu karang itu muncul sehubungan dengan semakin mendekatnya batas akhir berlakunya ”kesepakatan politik” yang dibuat sejak masa pemerintahan Bush. Konsensus politik itu tak lain adalah kebijakan pemotongan pajak yang bersifat temporer, yang telah menyebabkan defisit anggaran federal negeri itu sangat sukar untuk mematuhi standar baku internasional.
Jika sesuatu tidak dilakukan hingga 31 Desember mendatang, konsensus politik yang dibuat pada masa Bush itu memandatkan bahwa kebijakan pemotongan pajak itu harus dihentikan dan secara otomatis diberlakukan pula kebijakan pemotongan untuk pengeluaran anggaran. Karena itu, terdapat tiga opsi kebijakan yang akan dihadapi oleh Pemerintah Amerika Serikat untuk menghadapi persoalan fiscal cliff ini.
Opsi pertama adalah dengan menggunakan instrumen kebijakan peningkatan pajak (tax increase) sekaligus pengurangan pengeluaran pemerintah (government spending cut). Jika kedua instrumen kebijakan ini diambil sekaligus, Badan Anggaran Kongres Amerika Serikat (CBO) memproyeksikan bahwa ekonomi AS akan mengalami resesi pada 2013. Tingkat pengangguran di negeri itu pun akan meleset tajam di atas 9 persen. Namun, sisi baiknya adalah jika kebijakan ini diambil, defisit anggaran Amerika Serikat akan menurun secara drastis dan diperkirakan menjadi 1 persen dari PDB pada 2016.
Opsi kedua adalah melanjutkan instrumen kebijakan pemotongan pajak dan menunda pemotongan pengeluaran yang telah dijadwalkan. Jika Kongres dan Presiden sepakat untuk kembali melanjutkan penggunaan instrumen kebijakan yang telah dibuat sejak masa Bush ini, kehancuran ekonomi mungkin bisa dicegah untuk sementara waktu.
Dalam jangka pendek, ekonomi Amerika Serikat akan tetap tumbuh walau lambat dan tingkat pengangguran tidak akan setinggi dalam opsi pertama. Namun, defisit anggaran tetap tinggi dan diperkirakan utang pemerintah akan meningkat tajam dari angka 73 persen dari PDB untuk tahun ini menjadi hampir sebesar 90 persen dari PDB pada 2022.
Di luar dua opsi ini, tentu saja ada opsi kombinasi. Pilihan ini yang tampaknya akan dilakukan oleh Pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Obama pada tahun-tahun yang akan datang. Pilihan ini secara politik dianggap lebih dapat diterima. Hal ini mengingat pilihan pertama ataupun kedua mensyaratkan adanya dukungan penuh dari Kongres, baik itu yang berasal dari Senat maupun dari Majelis Rendah (House of Representatives).
Namun, pemilihan yang baru saja dilakukan menyampaikan pesan bahwa dukungan politik itu akan sangat sukar diperoleh oleh Obama. Walau perhitungan akhir tentang jumlah kursi belum dapat diperoleh hingga tulisan ini dibuat, kelompok Republik sudah dapat dipastikan tetap mengendalikan Majelis Rendah. Oleh karena itu, kebutuhan untuk melakukan kebijakan konsolidasi fiskal kemungkinan besar tidak akan ditempuh dengan opsi kebijakan pertama ataupun opsi kedua.
Konsekuensi
Ada beberapa konsekuensi dari pilihan kebijakan seperti ini terhadap lingkungan global dan regional. Pertama, keharusan untuk melakukan konsolidasi fiskal akan mengakibatkan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat akan berjalan dengan sangat lambat.
Laporan IMF (IMF Country Report No 12/213 Juli 2012) memproyeksikan bahwa ekonomi negeri ini akan tumbuh rata-rata sekitar 3 persen hingga 2017. Ini berarti pula bahwa kontribusi Amerika Serikat untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi global tidak terlalu dapat diandalkan pada masa lima tahun pemerintahan Obama yang akan datang.
Kedua, Amerika Serikat akan berusaha untuk mengintensifkan pendekatan regional dan bilateral untuk mengurangi beban konsolidasi fiskal ini. Salah satu wilayah yang sangat menjanjikan untuk pendekatan regional dan bilateral ini adalah kawasan Asia Timur dan Asia Pasifik.
Negara-negara di kawasan ini, Asia Timur dan Asia Pasifik, tetap mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Amerika Serikat tidak bisa menoleh dan mengandalkan wilayah Atlantik karena Uni Eropa tengah mengalami krisis keuangan. Hal ini sebagian bisa menjelaskan mengapa AS terlihat sangat aktif mempromosikan kerangka kerja sama regional, baik melalui KTT Asia Timur (East Asia Summit), Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC), dan Trans-Pacific Partnership ataupun melalui inisiatif-inisiatif diplomatik bilateral terhadap beberapa negara di kawasan untuk mengikuti kerangka perdagangan bebas (FTA) yang telah dibuatnya dengan Singapura, Australia, dan Korea Selatan.
Ketiga, kebutuhan untuk melakukan konsolidasi fiskal itu juga dapat mengakibatkan penurunan kapasitas daya serap impor Amerika Serikat dari China. Penurunan ekspor China ke Amerika Serikat ini tentu saja akan membawa dampak ke Indonesia.
Patut mencatat bahwa China kini adalah mitra perdagangan ketiga terbesar Indonesia setelah Jepang dan Singapura. Rentetan seperti ini, pada gilirannya, dapat memunculkan kejutan-kejutan yang tidak menyenangkan bagi pelaku-pelaku ekonomi Indonesia yang selama ini mengandalkan pertumbuhan ekspor China di pasar global.
Keempat, beberapa sektor usaha di Amerika yang terkena dampak dari kebutuhan konsolidasi fiskal ini akan berusaha untuk mencari jalan keluar (exit strategy). Salah satu sektor usaha itu adalah kelompok industri pertahanan.
Persoalan fiscal cliff diperkirakan akan mengakibatkan pengurangan alokasi pertahanan sebanyak 10 persen. Kontraktor industri pertahanan Amerika Serikat akan berusaha untuk mengatasi pemotongan anggaran pertahanan ini dengan menjalin kerja sama dengan industri pertahanan negara lain.
Situasi ini pulalah yang bisa menjelaskan mengapa telah terdapat sinyal positif dari Pemerintah Amerika Serikat untuk bersedia membantu Indonesia dalam mengembangkan industri pertahanannya. Oleh karena itu, Indonesia sebaiknya memanfaatkan momentum ini semaksimal mungkin untuk melakukan modernisasi pertahanannya. ●