Senin, 01 Januari 2018

Tragedi Neoholocaust

Tragedi Neoholocaust
Haedar Nashir ;  Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2015-2020
                                                 REPUBLIKA, 24 Desember 2017



                                                           
Masih ingat Adolf Hitler? Sejarah dunia melahirkan tragedi paling kelam dan mengerikan akibat ulah brutal Sang Fuhrer dari Jerman itu. Hitler-lah sosok paling berperan dalam mengobarkan Perang Dunia Kedua sebagai prahara abad modern.

Hitler berambisi besar membangun orde baru  hegemoni Jerman yang absolut di Eropa serta menjadi kekuatan adidaya di jagat raya. Dia dirikan Nazi (Nasional Sosialisme atau Nationalsozialismus), partai politik totaliter  berhaluan ekstrem kanan dan rasisme. Inilah mesin partai politik paling ganas, yang menjadi alat kekuasaan mengerikan saat itu.

Kanselir Jerman 1933-1945 ini sosok psikopat ultrarasialis yang menggelorakan kredo  Jerman “Uber Alles”. Tentang kedigdayaan kaum Jermanik sebagai bangsa Arya terunggul dibanding bangsa non-Arya yang dianggapnya rendah dan musti dimusnahkan. Nazi menjadi kekuatan raksasa yang menyebar teror dan kekejaman masif berbuah genosida.

Kekejaman Hitler dan Nazi telah mengakibatkan kematian sekitar 50 juta orang selama Perang Dunia II. Di dalam tragedi itu 6 juta kaum Yahudi dan 5 juta etnis "non-Arya" mengalami pmbantaian dan pemusnahan sistematis. Tragedi sejarah ini dikenal dengan Holocaust, yakni bencana pembunuhan dan pemusnahan massal di belahan Eropa yang meninggalkan trauma sejarah hingga saat ini.

Dalam tragedi Holocaust (bermakna “Seluruhnya terbakar”), jutaan orang sebagian besar umat Yahudi, dibunuh secara kejam oleh pasukan Nazi yang ultrakejam. Dalam peristiwa ini, termasuk ladang pembantaian di  kamp konsentrasi Auschwitz pada musim panas 1944 di kawasan barat daya Krakow Polandia, yang di kemudian hari dikenal sebagai tragedi kemanusiaan paling mengerikan dalam sejarah dunia modern.

Hasrat angkara kolonial

Warga dunia semestinya menjerit dan berteriak keras agar Holocauts, Auschwitz, Nazi, dan Hitler baru tidak dihadirkan dan direproduksi di abad ke-21 ini. Jangan ada Hitler baru, Nazi baru, dan Holocauts  baru apapun bentuknya, siapapun aktornya, dan di negeri manapun terjadinya. Tutuplah lembar sejarah hitam itu agar tidak menjadi tragedi baru yang lebih nestapa.

Samar maupun terbuka tindakan-tindakan agresi ala Zionis Israel plus ambisi politik ultraradikal Presiden AS Donald J Trump, jika tak terbendung muaranya akan mendaur-ulang tragedi Perang Dunia II yang mengerikan. Akankah dianggap wajar perilaku ugal-ugalan, gegabah, dan sewenang-wenang para petinggi Israel didukung AS dalam banyak peristiwa di jalur Gaza dan Palestina demi mengukuhkan hegemoni di Jerusalem dan Timur Tengah?

Perserikatan Bangsa-Bangsa jangan membiarkan tragedi demi tragedi itu terus terulang. Termasuk penetapan Jerusalem sebagai ibukota Israel oleh Trump dan Kongres AS sebagai kotak pandora menyumbat damai dan memicu bara konflik baru di negeri para Nabi itu. Tebuslah kesalahan tahun 1947 ketika PBB menyetujui dua negara yakni Israel dan Palestina di kawasan Laut Tengah dan Laut Mati itu sebagai awal bencana bangsa Palestina. Negara Israel makin kokoh, sementara Palestina terus terpinggirkan hingga suatu saat mungkin dimusnahkan di muka bumi.

Pertaruhan politik ugal-ugalan itu bukan sekadar nasib Jerusalem dan kawasan penuh gejolak di Timur Tengah yang telah berlangsung puluhan tahun itu. Tetapi sekaligus pertaruhan jiwa jutaan manusia, peradamaian, kemanusiaan, dan peradaban umat manusia. Bara perang terus mengancam kawasan Timur Tengah itu. Semestinya bangsa Yahudi sendiri belajar dari sejarah kelam mereka, darah dibayar darah, pengusiran dibalas pengusiran, dan agresi dengan agresi itu apa untungnya? Memang salahnya bangsa Palestina apa hingga harus menanggung beban derita yang mahaberat.

Jika Holocauts, Auschwitz, Nazi, dan Hitler bagi bangsa Yahudi menjadi hantu dendam kolektif maka jangan lampiaskan ke bangsa Palestina yang tak berdosa. Juga tidak pada kaum Muslimin dan Kristiani yang hidup di kawasan Jerusalam berabad-abad lamanya bersama bangsa Yahudi hingga kawasan bersejarah itu dikenal sebagai kota tiga agama. Kenapa Palestina dan Timur Tengah harus menanggung beban sejarah padahal bangsa Yahudi yang terusir dan kini menempati kawasan Zionis Israel itu menderita karena ulah Naszi dan Hitler di Jerman sana?

Negara-negara di Eropa perlu ikut bertanggungjawab atas tragedi Holocauts, Auschwitz, Nazi, dan Hitler agar tidak dicopy-paste ke kawasan dan benua lain, termasuk di bumi Palestina oleh Zionis Israel dan sekutu pendukungnya. Tidak-kah cukup negeri-negeri Barat menginvasi, mengagresi, dan menduduki negara atau wilayah yang bukan haknya terhadap bangsa Asia-Afrika dan Amerika Latin pada masa kolonialisme ratusan silam. Termasuk bangsa Indonesia yang dijajah ratusan tahun oleh Belanda berseling Portugis dan Jepang di era penjajahan yang penuh nestapa.

Amerika Serikat juga semestinya belajar pada sejarah kemerdekaan mereka dari belenggu Inggris. Para pemimpin dan warga negara AS, lebih khusus Donald Trump dan anggota Kongres, mestinya merasakan betapa menderitanya menjadi bangsa dan negeri koloni. Presiden AS dan anggota Kongrs AS bersama seluruh rakyatnya semestinya empati atas nestapa bangsa Palestina yang puluhan tahun terus diagresi Israel, bukan malah terus mendukung negara Zionis itu secara membabi buta. Bangsa Palstina itu untuk mempertahankan hidup di wilayah miliknya sendiri sungguh tak mudah, apalagi harus melawan keganasan Israel dengan dukungan AS yang superperkasa.

Kenapa anggota Kongres AS dan Trump masih mau bereksperimen dengan menentukan secara ilegal dan unilateral Jerusalem sebagai ibukota Israel, yang konsekuensinya bukan hanya menutup jalan damai tetapi membuka pandora konflik masif. Apakah tidak permah merasakan betapa malangnya menjadi koloni dari negara lain? Di mana sebenarnya denyut nadi jiwa demokrasi, hak asasi manusia, dan prinsip-prinsip kemerdekaan bangsa modern yang selama ini dijunjungtinggi di negeri Paman Sam itu? Untuk diri sendiri atau hanya untuk orang lain?

Inggris dan AS serta sebagian negara Eropa lainnya memang telah berbuat kesalahan fatal ketika mendukung dan menjadikan negara Israel di kawasan Palestina tahun 1948. Padahal khususnya Inggris juga telah berpengalaman dalam melakukan ekspansi penjajahan di kawasan Asia-Afrika. Tidak cukupkah hasrat kolonial itu untuk segera diakhiri demi masa depan peradaban umat manusia sejagat yang damai, demokratis, adil, makmur, bernartabat, dan berdaulat sebagaimana menjadi jargon hidup negara-negara Barat yang konon pro hak azasi kemanusiaan universal di era modern!

Akhir dunia modern

Kaum Yahudi tentu sangat menderita akibat Holocauts. Selain itu mereka yang terusir dari Eropa harus mencari tempat teraman hingga sayangnya sampai harus ke tanah Palestina yang kemudian mendirikan negara Israel secara sepihak. Mereka merasakan derita akibat ulah Hitler dan Nazi yang biadab. Namun jika bangsa Israel atau Yahudi Israel mau belajar “passing over” untuk merasakan derita yang sama, maka semestinya mereka tidak menimpakan penderitaan itu ke bangsa Palestina.

Kaum Yahudi dalam klaimnya merasa berhak hidup di tanah Palestina sebagai keturunan bangsa Yahuda dengan “tanah yang dijanjikan Tuhan”. Namun kenapa tidak memilih jalan hidup damai dengan bangsa Palestina dan menghentikan agrsi dan ekspansi yang tak berkesudahan? Zionis Israel bahkan terus melakukan pembantaian dan pemusnahan terhadap rakyat Palestina, sehingga menciptakan Holocauts baru atau “Neo-Holocaust” yang sama nestapanya. Karena Israel plus dukungan AS dan sekutu lainnya kuat segalanya, tentu jangankan mengagresi, bahkan memusnahkan Palestina pun bisa mereka lakukan. Tapi untuk apa? Apakah ingin meniru Nazi Jerman  yang membantai keturunan mereka di masa lalu!

Inggris juga tidak boleh kepas tangan. Dengan kuasa “Mandat Britania atas Palestina” negeri Ratu Elisabeth ini telah dengan sepihak mendirikan negara Israel pada 14 Mei 1948. Mandat Inggris itu mandat kolonial, bukan sesuatu yang luhur. Kolonialisme jangan didaur-ulang dan diabadikan. Apakah Inggris tidak meras bersalah atas segala kolonialismenya di India, Malaysia, Afrika Selatan, dan negara-negara Sahara dan Timur Tengah di masa lalu? Maka,  hentikan keganasan Israel dan jangan terus mendukung, karena korbannya justru Palestina yang tak bersalah. Cegah pula Trump agar membatalkan keputusannya yang sewenang-wenang. Cukuplah Holocauts terjadi sekali dalam sejarah, jangan lahir Holocauts baru.

Holocauts dan Auschwitz sebagai proyek brutal Nazi dan Hitler bagi pemikir posmodern seperti Jean-Francois Lyotard adalah wujud kegagalan proyek modernitas, yang menunjukkan dunia yang “irasional” atau nir-rasional. “Kejahatan nasional-sosialistik yang sangat nyata itu  ternyata sekali-kali tidaklah rasional”, ujar Lyotard. Bahkan,  setiap ideologi totaliter di manapun selalu mengandung kontradiksi yang membawa kehancuran. Anehnya, Inggris, Amerika Serikat, dan negara-negara sekutu Israel tidak mau belajar pada sejarah kelam Eropa yang antara lain melahirkan Holocauts itu.

Pembantaian dan pemusnahan jutaan manusia itu sungguh mengerikan karena dilakukan secara terprogram dan sistematis oleh pemimpin psikopat yang otaknya penuh dengan segala ambisi kacau dan melampaui batas. Menurut sejarawan Jerman, Eberhard Jäckel, belum pernah ada sebelumnya  bahwa sebuah negara dengan pemimpin yang sepenuhnya bertanggung jawab untuk memutuskan dan mengumumkan pembunuhan terhadap sekelompok manusia tertentu, termasuk wanita, anak-anak, dan bayi. Semestinya di era modern abad ke-21 jangan menciptakan area perang baru dan tragedi Holocauts di bumi Palestina serta kawasan lain.

Maka menjadi sangat ironis jika di era abad ke-21 saat ini masih bercokol manusia-manusia ala Hitler dan negara gaya Nazi yang haus tanah, kuasa, dan darah. Ironisnya, dunia posmodern saat ini justru melahirkan perangai haus agresi dan invasi yang berdampak pada pembantaian dan pemusnahan bangsa lain sebagaimana peoyek ambisiusnya para pemimpin Zionis Israel seperti Simon Perez, Golda Mier,  Netanyahu, yang memperoleh dukungan politik Donald Trump sang Presiden AS saat ini. Semua warga dunia wajib menolak nafsu kolonialisme baru dan Holocauts baru (Neoholocaust) di jazirah Palestina dan di bumi manusia mana pun. Perserikatan Bangsa-Bangsa jangan terdikte oleh negara adidaya itu demi tegaknya perdamaian dunia dan menghentikan neokolonialisme dan Holocauts baru.

Sunggyh, Neo-Holocaust dan Neo-Auschwitz bersama Neo-Nazi  dan Neo-Hitler seakan menjelma dalam beragam petualangan politik yang menghancurkan bukan saja terhadap sebuah bangsa lemah seperti rakyat Palestina. Kekejaman dan agresi pemusnahan yang buadab itu sekaligus mengancam masa peradaban umat manusia yang semestinya hidup damai, aman, merdeka, dan berdaulat.

Nalar rasional serendah apapun sulit mempercayai bahwa di era mutakhir masih ada ideologi, alam pikiran, dan sosok-sosok yang menebar nafsu angkara kolonial dan tragedi Holocauts yang memusnahkan kehidupan. Di sinilah akhir dari nalar dan peradaban modern yang dibangun di atas ideologi humanisme-sekuler dan proyek raksasa liberalisme, karena yang menyeruak ialah hasrat merah menyala untuk menginvasi dan memusnahkan kehidupan. Cukuplah nestapa kemanusiaan modern berhenti pada tragedi Holocauts 1933-1945, jangan direproduki di abad ini dan ke depan oleh para Hitler dan kekuatan Nazi baru dengan Tragedi Neo-Holocauts di jantung bumi ini! ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar