Tampilkan postingan dengan label Mansata Indah Dwi Utari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mansata Indah Dwi Utari. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Maret 2014

Sertifikasi Pranikah

Sertifikasi Pranikah

Mansata Indah Dwi Utari  ;   Wakil Ketua Fatayat NU Grobogan
JAWA POS,  16 Maret 2014
                                      
                                                                                         
                                                                                                             
ANGKA perceraian di Indonesia kian meningkat dari tahun ke tahun. Data Badan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung RI pada 2010 melansir bahwa selama 2005 sampai 2010, atau rata-rata satu dari 10 pasangan menikah berakhir dengan perceraian di pengadilan. Dari dua juta pasangan menikah pada 2010 saja, 285.184 pasangan bercerai. Tingginya angka perceraian di Indonesia itu adalah angka tertinggi se-Asia Pasifik (BKKBN.go.id, 24/12/2013).

Lebih lanjut data tersebut menunjukkan bahwa 70 persen perceraian itu karena gugat cerai pihak istri dengan alasan tertinggi ketidakharmonisan. Angka itu tidak mengalami deflasi. Ia terus stagnan bahkan sering mengalami inflasi. 

Dalam kacamata mana pun, perceraian lebih baik dihindari. Ini karena perceraian lebih banyak menimbulkan mudarat. Pertama, psikologi anak. Mental anak yang masih labil sangat mudah terpengaruh. Terutama pada anak usia remaja, kejadian seperti ini akan menjadi faktor dominan pembentukan sikap. Karena itu, tidak jarang kita sering melihat imbas negatif anak korban broken home. Belum lagi imbas lainnya, seperti masalah sengketa hak asuh anak.

Kedua, masalah sosio-ekonomi. Masyarakat Indonesia masih menganggap perceraian adalah aib. Tidak heran pasutri yang bercerai sering menjadi pergunjingan warga sekitar. Masalah ekonomi juga turut menjadi beban. Semula kebutuhan keluarga menjadi tanggung jawab bersama. Pasca perceraian kebutuhan menjadi tanggung jawab masing-masing. Apalagi, jika salah satu pihak tidak memiliki penghasilan sendiri, persoalan akan semakin pelik. 

Dalih ekonomi dan ketidakharmonisan rumah tangga yang menjadi latar belakang perceraian kiranya merupakan alasan klasik. Namun, juga tak bisa dimungkiri bahwa dua alasan tersebut merupakan faktor yang paling krusial. Tapi, di era digital modernisasi ini, ada faktor unik lain sebagai pemicu perceraian. Faktor tersebut adalah infotainment. 

Setiap jam televisi berlomba-lomba memperebutkan hati pemirsa. Semakin banyak pemirsa yang menyaksikan suatu program, semakin tinggi rating acara tersebut. Pebisnis media elektronik dengan cerdas membaca pangsa pasar. Infotainment yang menampilkan para selebriti idola masyarakat muda sekaligus menampilkan tayangan perceraian pun ramai dihidangkan. 

Artis sebagai figur publik memang selalu menjadi perhatian dan panutan publik. Ironisnya, bagi mereka bongkar pasang pasangan adalah hal lumrah, bahkan terkesan bangga. Karena setiap hari disuguhkan di layar kaca, fenomena perceraian seperti bukan masalah lagi. Fenomena yang tidak sehat ini, perlahan tapi pasti, telah menggeser norma dan cara pandang ma­syarakat terhadap institusi perkawinan ke arah negatif. 

Menikah merupakan sebuah ikatan sakral yang mestinya selalu dijaga. Faktor paling penting untuk menjaga kelanggengan pernikahan harus datang dari internal pasutri. Hal tersebut bisa direpresentasikan seperti mengingatkan kembali komitmen awal pernikahan dan menerima pasangan apa adanya. 

Orang tua juga turut bertanggung jawab menjaga keutuhan pernikahan anak. Salah satu keputusan orang tua yang kurang tepat adalah menikahkan anak di usia dini. Para orang tua berpikir jika anaknya sudah menikah, tanggung jawab sebagai orang tua untuk menafkahi anaknya sudah selesai. Karena itu, ketika anak menginjak umur tertentu dan sudah ada yang mendekati, mereka langsung dinikahkan.

Alasan lain orang tua adalah untuk menghindari perzinaan. Memang alasan ini cukup rasional. Tapi, pertanyaannya kemudian apakah pernikahan hanya masalah biologis? Kita pasti sepakat menjawab tidak. Sebab, pernikahan dibangun dari aspek yang kompleks dan semuanya perlu dipersiapkan masak-masak. 

Pemerintah wajib mengantisipasi maraknya perceraian. Kita patut mengapresiasi program pemerintah melalui Kementerian Agama berupa BP4 (Badan Penasihatan, Pembinaan, dan Pelestarian Perkawinan). Kendati demikian, Kemenag kiranya juga perlu mempertimbangkan untuk menerapkan kebijakan sertifikasi pranikah. 

Tujuan sertifikasi tersebut adalah meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan perilaku positif calon pengantin dalam membangun bahtera rumah tangga, baik secara agama maupun kesehatan. Sertifikasi ini juga bisa dijadikan bekal pasutri meminimalkan konflik di rumah tangga. 

Kebijakan sertifikasi dapat dilakukan bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) maupun lembaga di bawah naungan suatu organisasi kemasyarakatan, seperti Muslimat (NU), Aisyiah (Muhammadiyah), dan sebagainya. Pasutri yang dinyatakan lulus dan mendapat sertifikat dapat melangsungkan pernikahan. 

Persoalan mediator perceraian di Indonesia juga perlu diubah. Hingga kini hakim dipaksa merangkap menjadi mediator perceraian. Padahal, kapasitas hakim adalah individu yang paham masalah hukum. Sementara, untuk menjadi mediator butuh orang yang memahami psikologis pasangan. Untuk itu, selama proses gugatan dan persidangan dibutuhkan psikiater sebagai mediator. Dengan memahami psikis pasutri, sangat mungkin jalan damai bisa ditemukan.

Sabtu, 02 Maret 2013

Perempuan dan Bahaya AIDS


Perempuan dan Bahaya AIDS
Mansata Indah Dwi Utari ; Guru di Yayasan Assalam Kradenan, Grobogan, Jateng
SUARA KARYA, 01 Maret 2013


Kenyataan pahit harus diterima perempuan Indonesia. Dari laporan media massa, dewasa ini semakin banyak ibu rumah tangga di Indonesia terjangkit HIV/AIDS. Data Kementerian Kesehatan dan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia menyatakan selama Januari-Desember 2011, data kasus AIDS menjadikan ibu rumah tangga menjadi kelompok tertinggi dengan 622 kasus. Pada 2005, angka itu mencapai 19,5 persen dan melonjak hampir dua kali lipat pada 2011, yaitu 34 persen. (Perempuan.com, 26/5)
Bahkan di kota-kota besar seperti DKI Jakarta, angka perempuan pengidap HIV/AIDS terus meningkat. Data Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) DKI Jakarta menyebutkan, hingga triwulan II tahun 2012, tercatat sebanyak 9.883 kasus baru HIV di kalangan perempuan. Dari data sebelumnya, jumlah kasus HIV dan AIDS di kalangan perempuan juga terus meningkat cukup signifikan dari tahun ke tahun. (beritajakarta.com, 13/11)

Sebagai kaum hawa, kita patut prihatin menyaksikan kondisi ini. Pasalnya, hampir bisa dipastikan penyakit ini berpeluang besar menurun ke anak. Tentunya hal ini akan merugikan bagi si anak. Ia tak berdosa namun mengapa harus menanggung petakanya? Bahkan masa depan si anak itu pun dapat dip[astikan bakal terancam. Bagi si perempuan sendiri, kondisi tersebut memiliki konsekuensi sosial yang tidak ringan. Ia harus menerima perlakuan diskriminatif dari masyarakat bahkan mungkin dikucilkan.

Tiga Faktor

Perempuan lebih rentan terjangkit penyakit HIV/AIDS dibanding laki-laki. Paling tidak, ada tiga faktor yang memperkuat alasan tersebut. Pertama, faktor biologis. Secara biologis perempuan lebih rentan daripada laki-laki. Hal ini terjadi karena hubungan seks membuat alat reproduksi perempuan bisa terluka dan dengan gampang virus HIV masuk melalui luka tersebut.

Menurut penelitian, konsentrasi HIV dalam sperma seorang laki-laki pengidap HIV jauh lebih tinggi dibandingkan dalam alat reproduksi perempuan. Sehingga, penularan HIV dari laki-laki ke perempuan lebih besar dibandingkan sebaliknya. Apalagi, perempuan juga memiliki ancaman biologis lainnya, yakni pemerkosaan.

Kedua, faktor ekonomi. Kemiskinan sering menyeret perempuan untuk melakukan pekerjaan berisiko tinggi, seperti terpaksa menjadi pekerja seks komersial (PSK). Ketika pasokan sumber daya ekonomi, yang biasanya diperoleh dari laki-laki terputus, maka perempuan bisa nekat melakukan pekerjaan apa saja. Sehingga, semakin banyak pula yang terpaksa melakukan transaksi seks untuk survive. Singkatnya, perempuan tanpa akses ekonomi yang cukup, kehidupannya akan kian memburuk.

Ketiga, faktor sosial budaya. Perempuan tidak mendapat akses pengetahuan yang cukup. Masih banyak kita jumpai bahwa banyak di antara perempuan tidak mendapat pendidikan yang layak. Sebagian masyarakat pun masih menganggap bahwa perempuan harus menurut kehendak laki-laki (sang suami). Sehingga, tak perlu memperoleh pendidikan dengan baik. Hal ini yang menyebabkan perempuan mudah terkena tipu daya. Ia hanya manut tanpa bertanya apakah suaminya mengidap penyakit HIV/AIDS atau tidak.

Waspada

Sebagai kaum yang sering menjadi pihak korban dari penyakit HIV/AIDS, perempuan sangat perlu memberdayakan dirinya agar bisa terhindar dari infeksi HIV/AIDS. Untuk itu, perempuan perlu meningkatkan kewaspadaan mereka terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh HIV/AIDS. Salah satunya adalah dengan cara meningkatkan pengetahuan mengenai berbagai hal terkait HIV/AIDS.

Perempuan diharapkan paham betul dengan penyakit HIV/AIDS mulai dari penyebab penularan, bagaimana mencegahnya, sampai hal apa yang harus dilakukan saat terdeteksi terinfeksi virus ini. Hal ini perlu dilakukan semata agar dapat mengurangi atau meminimalkan laju pertumbuhan jumlah penderita HIV/AIDS.

Hal lain yang perlu diperhatikan perempuan adalah dengan meningkatkan kewaspadaan mereka. Salah satu bentuk kewaspadaan yang dapat dilakukan perempuan adalah dengan meningkatkan kemauan dan kemampuan mereka untuk saling terbuka dengan pasangan resmi mereka. Tujuannya agar dapat mendeteksi secara dini bila terdapat penyakit-penyakit tertentu termasuk HIV/AIDS pada salah satu pasangan.

Selain itu, hal yang pasti agar terhindar dari risiko terjangkit virus HIV-AIDS adalah selalu setia kepada pasangan resmi, bersikap saling menghargai, terbuka membicarakan semua masalah dengan cara lebih bijak, dan selalu mendekatkan diri pada Allah SWT.
Pemerintah juga perlu berperan aktif mengantisipasi semakin maraknya peredaran HIV/AIDS. Khususnya bagi perempuan. Peran pemerintah dapat dilakukan melalui penyuluhan bekerja sama dengan lembaga-lembaga keperempuanan setingkat desa. Tujuannya adalah untuk proses penyadaran bahwa penyakit HIV/AIDS adalah penyakit mematikan dan dapat menular kapan pun dan ke siapa pun.

Bagaimanapun juga mencegah lebih baik daripada mengobati. Perempuan adalah tombak estafet lahirnya generasi bangsa. Melalui tangan dingin kita, lahir generasi-generasi tangguh. Namun, bila kita sudah terjangkit HIV/AIDS bagaimana dengan nasib generasi selanjutnya? Terlalu banyak yang harus dikorbankan akibat HIV/AIDS. Waspadalah!

Minggu, 30 Desember 2012

Efek Industrialisasi Kecantikan


Efek Industrialisasi Kecantikan
Mansata Indah Dwi Utari ;   Perempuan,
Guru di Yayasan Assalam Kradenan, Grobogan
JAWA POS, 29 Desember 2012



PEREMPUAN dan kecantikan adalah duo sinonim. Dua hal tersebut selamanya tidak akan terpisah dan tidak boleh dipisahkan. Kecantikan adalah aset berharga sekaligus lambang kewanitaan. Itulah memang karakter generik perempuan. 

Urusan kecantikan bagi perempuan memang selalu menjadi prioritas utama. Apalagi ketika momen liburan atau perayaan tiba seperti akhir-akhir ini. Aneka cara diterabas untuk mempercantik diri. Mulai cara tradisional, modern, hingga yang irasional dilakukan guna memperoleh hasil cantik secepat-cepatnya. 

Globalisasi menggeser makna cantik pada konteks perempuan Indonesia yang berkulit sawo matang. Kini cantik bagi perempuan Indonesia adalah memiliki kulit seputih bengkuang karena terpengaruh ''koreaisme''. Tak pelak, produk-produk pemutih pun laris di pasaran. Selain pelangsing, produk paling laris biasanya adalah krim pemutih dan kosmetik.

Keserakahan Kapitalis 

Pasar kapitalistis menangkap pentingnya penampilan dan kecantikan sebagai peluang untuk menebar ''candu'' berupa produk yang menjanjikan kecantikan. Nilai dari dunia luar yang dicekokkan lewat berbagai sarana dan media membuat persepsi baru tentang pandangan hidup, termasuk kecantikan. Bahkan, manusia enggan menjadi tua, setidaknya enggan mengeriput alami. 

Karena itu, ditebarlah produk-produk pemutih kulit dan kosmetik dengan berbagai nama serta bentuk. Tak jarang pula, produk-produk tersebut mengandung zat-zat berbahaya. Tak kurang dari 48 kosmetik yang ditemukan di Jakarta dinyatakan tidak aman untuk dikonsumsi (Jawa Pos, 28/12).

Produk-produk pemutih diiklankan di berbagai media massa, mulut ke mulut, hingga ke jejaring sosial. Kaum kapitalis semakin leluasa karena penebarluasan iklan tersebut tak disertai meningkatnya ketelitian serta kesadaran konsumen. Karena itu, banyak produk pemutih hasil daur ulang yang dijual, hanya dibungkus dengan kemasan berbeda. Produk itu pun kerap tidak disertai informasi cukup tentang kontennya. 

Efek yang ditimbulkan oleh pemakaian produk pemutih tersebut pun beragam. Bagi perempuan yang cocok dengan produk itu, efek putih instan pun mudah didapat. Menurut Prof Nurul Ilmi Idrus dalam presentasi penelitiannya, setiap produk pemutih pasti menimbulkan efek samping, baik jangka pendek maupun panjang. Efek tersebut dapat berupa pedih, panas, serta kulit menghitam atau memerah. 

Banyak perempuan yang menganggap efek-efek itu sebagai proses wajar karena produk pemutih. Mereka percaya kulitnya akan menjadi putih setelah proses tersebut. Kalau tidak terjadi, para perempuan akan begitu saja beralih dari satu produk pemutih ke produk lain guna mendapat hasil kulit putih secara cepat. 

Jelas, itu merupakan perilaku tidak baik bagi kesehatan. Sebab, produk-produk yang digunakan tersebut mengandung zat-zat berbahaya seperti merkuri, hydroquinone yang dapat merusak kulit secara fatal, bahkan kanker kulit. Efek lain yang ditimbulkan oleh pemakaian produk tersebut adalah pemakaian yang berkelanjutan. Tak bisa dimungkiri, bila sehari saja kita mengabaikan pemakaian, kulit akan terlihat semakin hitam. Hal itu merupakan indikasi bahwa pemakaian pemutih harus dilakukan secara berkelanjutan. Pada gilirannya, timbul sebuah ketergantungan. 

Ketergantungan itu setidaknya berimbas pada dua aspek. Pertama, aspek kesehatan. Kesehatan menjadi taruhan lantaran zat kimia terus melekat di kulit setiap hari. Bila berhenti, malah semakin parah. Kulit memerah hingga terjadi jerawat. Kedua, aspek ekonomi. Memang, efek ketergantungan itulah yang diharapkan para kapitalis atau industrialis. Dengan demikian, pemutih yang diproduksi akan terus dikonsumsi.

Website Hotline di Kemasan 

Langkah utama untuk mencegah beredarnya produk pemutih berbahaya adalah perlunya tindakan tegas pemerintah. Melalui Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), pemerintah harus sering mengawasi peredaran produk pemutih berbahaya. Tak lupa, pemerintah juga harus tegas menindak oknum yang memproduksi serta menjual produk tersebut. 

Bila perlu, selain mewajibkan izin ke BPOM, harus dicantumkan website di masing-masing kemasan kosmetik agar info lengkap tentang profil produk bisa diperoleh. Yang tak kalah penting, pencantuman telepon hotline produsen atau BPOM di kemasan agar bisa diperoleh penjelasan langsung, terlebih bila ada efek samping yang memerlukan pengaduan atau penanganan cepat. 

Selain kuasa pemerintah untuk memperkuat aspek tanggung jawab industrialis, perempuan perlu memberdayakan diri. Tujuannya, mereka tidak ''diperalat'' oleh pelaku pasar. Mereka harus mempertimbangkan efek kesehatan untuk tampil cantik secara instan. Mereka juga perlu paham betul konten produk pemutih yang dikonsumsi. Tidak hanya terbuai hasutan penjual atau teman tanpa memahami produk.

Semua produsen dan pengimpor barang komestik juga diwajibkan mendaftarkan barang mereka supaya dapat dikenal dengan pasti kandungan bahan-bahan yang digunakan. Tujuannya, memastikan bahwa barang tersebut tidak berbahaya. Artinya, sesuai porsi mempercantik diri tapi juga aman digunakan. Sebab, setiap barang memiliki kandungan bahan kimia yang bermacam-macam. Meski biasanya produk itu dianggap aman digunakan, kandungan bahan kimia tentu menimbulkan mudarat bila salah guna.

Jangan termakan rayuan masal iklan yang menjanjikan cantik secara instan. Kadang memang kita bisa tampil cantik dengan waktu singkat. Namun, hal itu sering berlangsung dalam waktu singkat pula dan akhirnya berujung pada kerusakan kulit hingga penyakit. Kita harus teliti sebelum membeli produk. Cek legalitasnya dan pelajari kontennya. Hindari membeli produk jika mengandung zat-zat berbahaya atau tidak memiliki informasi produk.

Seharusnya, menikmati eksotika kulit sawo matang merupakan kebanggaan bagi perempuan Indonesia. Sebab, kulit tipe itu adalah made in Indonesia asli tanpa permak dan ''dempul''. Kulit itu juga tengah digandrungi orang-orang Eropa yang malah sibuk mencokelatkan kulitnya ketika berwisata ke wilayah tropis. Satu hal yang harus selalu diingat, kecantikan sejati adalah kecantikan budi pekerti, bukan kecantikan fisik semata. Inner beauty akan memperkuat outer beauty.

Mari berdandan dengan cermat dan cerdas. 

Kamis, 16 Agustus 2012

‘Mudik’ trigger for a better life


‘Mudik’ trigger for a better life
Mansata Indah Dwi Utari ; A Teacher at Assalam Junior High School
in Grobogan, Central Java
JAKARTA POST,  15 Agustus 2012


There is a long-held, unique tradition among Indonesian Muslims who have left their hometowns for work or other 
purposes. 

They always return home to celebrate Idul Fitri, an annual ritual popularly known as mudik, or return to one’s roots. 

Observing the post-Ramadhan festival is incomplete without struggling along the congested roads between their places of residence and hometowns, or jostling with each other for train, bus or ship tickets. 

Those who can afford to fly home care little about airfares that skyrocket as the festival approaches.

For those opting to reach their hometowns by car or bus, this year’s mudik is expected to be beset by many constraints due to infrastructure problems. (Suara Merdeka, July 30).

German sociologist Andre Moller, in his book Ramadan in Java (2002), says that the tradition of mudik is a distinctive and unique phenomenon that occurs in all parts of Indonesia ahead of the Idul Fitri celebration. 

Mudik can also be regarded as a form of local wisdom. It is not limited to certain groups. Rich and poor, young and old, and Muslims and non-Muslims practice this tradition.Keep in mind that mudik is not a new social trend in Indonesia.

Historically, the habit dates back in the prehistoric age. Indonesian people trace their roots to ethnic Melanesians who came from Yunnan in today’s China. This tribe was famous as nomadic people.

This orientation toward odyssey is the search for a better livelihood. After finding a suitable area to develop agriculture and livestock, they settled but like all human beings, they also had a sense of longing toward their family. 

So at a certain moment, they returned to their homeland. Often sacred activities, such as the worship of ancestral spirits, were used as an excuse to return home. 

When Islam arrived in the archipelago, mudik underwent a modification. The adjustment included changes in the motives and momentum. Now, mudik is considered an excellent way to retain ties with family and friends and share the happiness together. 

Once the reason for mudik was to make ritual offerings to the ancestors, but now its purpose is to observe the sacred festival of Idul Fitri. Many feel the tradition is in line with the human nature. 

Muslim scholar Komaruddin Hidayat, the rector of Jakarta State Islamic University, refers to humans as homo festivus or festival man. 

Festivals have a three-pronged mission. First, remembering the old culture and traditions. 

Second, introducing these traditions to the younger generations. Third, strengthening the culture for tomorrow.

Therefore, mudik can be regarded as an effort to commemorate the traditions of the past, introduce the traditions to children and preserve the value of the traditions for the future. Further, the phenomenon has become an integral part of Indonesian culture on two counts. 

First, returning home has emerged as an annual primary need of urban society. Second, it has developed into a universal tradition. Although it has a strong affiliation with Islam, in its development it also involves the whole society, including non-Muslims.

Mudik also contains nuances of social romanticism. Holiday revelers raised in a village will seek nostalgia in their native place. They return home to rediscover the warmth of togetherness and simplicity that is difficult to find in their place of residence. 

Such romanticism is increasingly felt when they gather with relatives whom they have not seen for a long time.

Most importantly, the tradition cannot be separated from Idul Fitri, which means a return to the purity of nature. Hence, both mudik and Idul Fitri have a basic meaning of “return”. The difference is, mudik is a physical return, while Idul Fitri is a spiritual return.

Holiday revelers should not reduce mudik to its simple physicality as this will only lead to financial costs and exhaustion. The tradition needs a spiritual emphasis so as to trigger a better life for those who practice it.

If mudik truly results in our spiritual recovery, we may expect to no longer find corruption, intolerance, acts of violence and other vices.

Hopefully, this year’s mudik will bring wisdom to the Muslim community in particular and the nation in general. Have a nice homeward journey and take care.

Rabu, 01 Agustus 2012

Siraman Jasmani Dakwahtaintment

Siraman Jasmani Dakwahtaintment
Mansata Indah Dwi Utari ; Pendidik di SMP As-Salam, Kradenan, Grobogan, Jateng
JAWA POS, 01 Agustus 2012


DAKWAH melalui televisi sangat efektif karena bisa menjangkau hingga ke ruang tamu, ruang tidur, bahkan mobil. Apalagi dalam bulan Ramadan, hampir seluruh stasiun televisi menurunkan program dakwah dalam siarannya. Disadari atau tidak, konsep semacam itu telah memicu lahirnya ''dakwahtainment''. Dakwah bukan hanya wahana penyampaian pesan Islami, tapi juga kombinasi dengan nuansa hiburan. 

Lihat saja setiap menjelang subuh. Selalu ada ustad atau ustadah yang berceramah dengan dibumbui lelucon-lelucon. Warna ceramahnya sudah sebegitu populer di tengah masyarakat. Kalau komedian Sule terkenal dengan jargonnya ''prikitiw...'', para ustad pun seolah tak mau kalah membuat ciri khas masing-masing yang mudah diingat dan menarik saat berceramah. 

Untuk pembukaan, ucapan baku ''Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh'' dirasa belum cukup. Tetapi, perlu sapaan tambahan seperti yang dilakukan Ustad Nur Maulana di Trans TV. 

''Jamaaah...,'' sapa sang ustad.

''Yeee...,'' jawab jamaah yang kebanyakan ibu-ibu. ''Ooh, jamaaah...,'' ulang sang ustad.

''Alhamduuulillaaah...,'' tutup ustad.

Ustad Maulana selalu mengulang sapaan kepada jamaahnya sampai dua kali hingga jamaah menjawab dengan serempak. Begitupun saat akan jeda, dia kembali menyapa audiens dengan sapaan yang khas. Sang ustad mengatakan, ''Mau tahu jawabannya? Nantikan setelah lewat yang satu ini.'' Iklan pun bermunculan. 

Saking menancapnya jargon tersebut pada para pemirsa, tak jarang kata-kata ''trade mark'' Ustad Maulana itu menjadi bahan candaan di masyarakat.

Lain lagi Mamah Dedeh. Ustadah yang satu ini mampu menyentuh perhatian publik lewat stasiun Antv dengan sapaannya yang mudah diingat dalam acara Mamah Dedeh dan Aa. Jargon yang pasti kita ingat sebelum bertanya, audiens diwajibkan melontarkan lebih dulu kata kunci: ''Curhat dong, Mah'' atau ''Mamah, curhat dong...''. 

Pun demikian Ustad Sholeh Ahmad atau yang lebih dikenal dengan sapaan Ustad Solmed. Dia memakai jargon ''Are you ready'' agar ada yang khas dalam setiap ceramahnya.

Tak dapat dimungkiri, jargon yang menjadi ciri khas dalam bersyiar para ustad/ustadah telah mendongkrak nama mereka sebagai penceramah agama. Popularitas mereka melampaui para pendahulunya seperti dai sejuta umat, KH Zaenuddin M.Z. (almarhum), yang terkenal dengan jargon ''Betul?''-nya. Atau bahkan Aa Gym dengan ''Betul atau tidak?''. Jargon ''Jamaaah...'', ''Curhat dong, Mah...'', atau ''Are you ready'' ditambah aneka gerakan plus busana serta tata ruang yang entertaining menjadi magnet yang memiliki daya pikat luar biasa bagi publik.

Model-model syiar tersebut hanya sedikit contoh di antara sekian banyak keunikan syiar agama yang disiarkan televisi. Tidak hanya dalam bentuk jargon, ada juga yang dikemas dalam reality show seperti Ustad Jefri Albukhori (Uje) bersama Udin Nganga. Hal itu merupakan indikasi kuat bahwa syiar agama harus dikemas semenarik mungkin agar memenuhi standar populer sebuah tayangan bila ingin eksis.

Ceramah memang bukan satu-satunya metode dakwah. Namun, ceramah merupakan salah satu metode dakwah yang paling mudah dilakukan setiap orang. Ceramah yang menarik juga tidak hanya dilihat dari jargon dan isi ceramah yang bagus serta mudah dicerna, melainkan lebih pada proses dialektika antara sang ustad dan audiens. Saat ini, ustad humoris dan pembanyol lebih diminati ketimbang ustad yang serius.

Kita boleh menyebut fenomena tersebut sebagai dakwahtainment. Adanya paduan antara syiar agama dan hiburan. Mungkin sang ustad tidak mengorientasikan ceramahnya sebagai hiburan. Tetapi, jika dilihat dari segi proses, audiens tidak saja memperoleh pencerahan, namun juga mendapat hiburan. Bisa tersenyum, tertawa, sampai terbahak bersama. Ironisnya, tidak jarang pula hanya sisi humornya yang terlalu menonjol, sehingga menenggelamkan isi ceramahnya! Kalau itu yang terjadi, klop dengan fungsi televisi sebagai wahana hiburan.

Menurut hasil tafakur John Storey (1996), televisi merupakan media paling populer yang mentransformasikan kepentingan ideologi budaya massa. Ideologi tersebut mengartikulasikan pandangan bahwa budaya pop merupakan produk bagi produksi komoditas kapitalis dan merupakan subjek bagi hukum ekonomi pasar kapitalis. Gampangnya, semua di televisi harus dipopkan agar laku. 

Walhasil, sebagai bagian dari industri, televisi memosisikan khalayak sebagai konsumen komoditas. Sebagai konsumsi, televisi menawarkan berbagai kesenangan kepada khalayak agar tak mengalihkan remote control-nya. Karena itu, setiap tayangan pun dibuat semenarik mungkin untuk memuaskan dahaga kesenangan para penontonnya. Ibarat orang dahaga yang disodori minuman berwarna-warni dengan es meleleh di gelas cantik sehingga akan mudah tergoda menyeruputnya. Tentang sehat dan tidaknya minuman, itu urusan belakang.

Dakwah melalui tayangan televisi dimaksudkan untuk menarik massa ke dalam wilayah kesenangan. Yang penting senang dulu. Dakwah bukan lagi kekhidmatan atau kekhusyukan atau tafakur seperti yang ditradisikan agama. Parahnya, acara tersebut bisa terjebak pada permainan fisik alias kilau kemasan semata. Dakwah bukan hanya siraman rohani menuju nafs al-mutmainah atau jiwa-jiwa yang tenang, tapi juga pemanjaan jasmaniah mata dan telinga. 

Apakah bisa merasuk ke kalbu? Itu urusan sendiri-sendiri. Bagi sang pemangku program, yang penting acara bisa terus berlangsung dan mengundang banyak iklan. Tak perlu dipikir lebih dalam meski kadang-kadang iklannya tak sejalan dengan misi agama dan dakwah.

Alangkah indahnya bila dakwah di televisi ditempatkan dan dikhususkan dalam tayangan dan syiar agama. Jika perlu, tayangan agama seperti kuliah subuh menjadi program CSR (corporate social responsibility) sehingga iklannya disesuaikan dengan misi agama atau bahkan tak perlu ada iklan. Usul ini tak berlebihan karena frekuensi yang dipakai televisi adalah wilayah publik, bukan?