Tampilkan postingan dengan label Bahasa Vicky Bahasa Kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Vicky Bahasa Kita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 September 2013

Perihal Vicky Prasetyo : Perabaan Awal atas Bahasa Politik “Awur-Awuran”

Perihal Vicky Prasetyo :
Perabaan Awal atas Bahasa Politik “Awur-Awuran”
I Gusti Agung Anom Astika  ;  Kontributor IndoPROGRESS
INDOPROGRESS, 19 September 2013


DI usiaku saat ini… ya TWENTY NINE MY AGE, aku masih merindukan APRESIASI karena basically aku suka musik walaupun KONTROVERSI HATIk-ku lebih menunjukkan KONSPIRASI KEMAKMURAN yang kita pilih, kita belajar pada HARMONISISASI pada hal yang terkecil sampai yang terbesar, ngga boleh ego terhadap satu kepentingan & MENGKUDETA apa yang menjadi keinginan. Ini bukan MEMPERTAKUT bukan MEMPERSURAM STATUTISASI kemakmuran keluarga dia tetapi menjadi CONFIDENT. Kita harus bisa MENSIASATI KECERDASAN itu untuk LABIL EKONOMI kita lebih baik; aku sangat bangga.’

Kutipan di muka adalah pernyataan seseorang yang mengaku eksekutif sukses, namun sesungguhnya adalah penipu ulung. Sejumlah artis dangdut, termasuk staf anggota DPR Ade Nurul, menjadi sebagian dari korban-korbannya. Korban terakhir, sebelum Vicky Prasetyo dibekuk oleh aparat kepolisian, adalah Zaskia Gotik yang sempat bertunangan dengan pelaku. Saat konferensi pers setelah bertunangan, kata-kata di muka lah yang diucapkan Vicky sebagaimana yang diunggah dalam klip youtube.1

Kegelian sontak tumbuh di kalangan pengguna media sosial, saat saya mengunggah transkrip teks tersebut di akun facebook. Ada yang mengatakan bahwa si Vicky ini kepalanya terbentur aspal sebelum berkata-kata. Ada juga yang menyamakannya dengan pelawak macam Toni Blank yang sempat populer beberapa tahun lalu. Banyak lagi cibiran, ejekan, atau apapun bagi si Vicky. Lebih-lebih diketahui kemudian bahwa si Vicky ini juga penipu ulung, yang pandai memainkan psikologi korban-korban perempuannya dengan berbagai macam identitas. Ia bisa mengaku sebagai dokter ahli bedah plastik, yang mengaku melakukan 30 operasi dalam sehari. Pun sebagai manajer keuangan ia perankan melalui identitas yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Sehingga ia bisa menampilkan diri sebagai dua atau tiga subyek yang berbeda, di hadapan korbannya. Semua modus penipuannya, dilakukan melalui beberapa perangkat ‘telepon pintar’ Blackberry yang dimilikinya, demi ‘memeras’ uang korban-korbannya. Seperti misalnya yang dikemukakan oleh Deasy Kitaro, salah satu korbannya:2

‘Ngakunya anggota DPR, pengusaha dan anak pejabat, itu semua bohong. Aku juga pernah ditelepon yang mengaku seorang dokter bedah bernama dokter Meda. Dokter Meda telepon aku, dia bilang sangat mendukung aku nikah sama Vicky. Tapi ternyata, dokter Meda itu Vicky sendiri.’

Lebih jauh lagi laporan dari sebuah media mengungkap sedikit keterangan dari Lurah Desa Karang Asih, Cikarang Utara, Bekasi, Jawa Barat yang merupakan tempat Vicky tinggal saat ini. Dari penuturan Lurah tersebut, diketahui jika nama asli Vicky adalah Hendriyanto bin Hermanto.3 Pun Vicky ternyata sudah menjadi buronan sejak Januari 2013 terkait penipuan surat tanah, dan juga pernah kabur ke Singapura karena kalah dalam pemilihan kepala desa di Bekasi.4

Saya sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan apa yang dia lakukan sampai menjadi buron selama berbulan-bulan, dan dibekuk kemudian oleh pihak Kepolisian dengan tuduhan pemalsuan sertifikat tanah. Tetapi bahasa ‘ngawur’ yang dipergunakan olehnya membuat saya terus bertanya-tanya.
Sekarang mari kita coba interpretasi bebas kalimat-kalimatnya:

·         • aku masih merindukan APRESIASI karena basically aku suka musik = [aku masih ingin dipuja-puja (sebagai artis?) karena pada dasarnya aku suka musik] atau mungkin [aku ingin tampil terbuka] –ini mengingat pernyataan ini dibuat seusai pertunangan yang dilakukan secara tertutup, tidak mengundang awak media.
·         • walaupun KONTROVERSI HATIk-ku lebih menunjukkan KONSPIRASI KEMAKMURAN yang kita pilih = [walaupun kegalauan hati ku lebih mengarah pada upaya mencipta kesejahteraan (kebahagiaan?) secara terselubung demi kita berdua]
·         • kita belajar pada HARMONISISASI pada hal yang terkecil sampai yang terbesar, ngga boleh ego terhadap satu kepentingan & MENGKUDETA apa yang menjadi keinginan = [kita belajar mengharmoniskan segala sesuatu, nggak boleh menang sendiri, dan menghilangkan keinginan bersama]
·         • Ini bukan MEMPERTAKUT bukan MEMPERSURAM STATUTISASI kemakmuran keluarga dia tetapi menjadi CONFIDENT = [ini bukan bertujuan untuk menakut-nakuti atau membuat status kehormatan keluarga dia lebih buruk, tetapi justru untuk membuat lebih percaya diri]
·         • Kita harus bisa MENSIASATI KECERDASAN itu untuk LABIL EKONOMI kita lebih baik & aku sangat bangga = [Kita harus bisa mengambil peluang dari situasi yang menekan (?) agar kondisi ekonomi kita yang labil menjadi lebih baik dan aku sangat bangga]

Menurut saya, tidak ada yang salah dengan bahasa Indonesia yang digunakannya. Kalimat-kalimatnya relatif terstruktur dengan baik, dalam makna struktur Subyek, Predikat dan Obyek. Dalam arti, bahasa yang dipergunakannya, tepat menempatkan subyek, tepat menempatkan predikat, tepat menempatkan obyeknya. Sehingga ketika saya mencoba menafsirkannya secara bebas, relatif tidak terlalu sulit kecuali penggunaan istilah-istilahnya yang ‘awur-awuran’ atau ngawur. Sebuah penafsiran lain coba dikemukakan oleh seorang blogger.5

1. Di usiaku saat ini ya twenty nine my age.
seharusnya: Usiaku saat ini 29.

2. Tapi aku tetap masih merindukan apresiasi, karena basicly aku seneng musik. Walaupun kontroversi hati aku lebih ditujukan kepada konspirasi kemakmuran dari yang kita pilih.
Yang ini bener-bener bikin kita garuk-garuk tapak kaki. Apa artinya ya? Apresiasi adalah penghargaan terhadap sesuatu, kontroversi adalah pertentangan, dan konspirasi adalah suatu rencana tersembunyi dibalik sesuatu. (definisi ini nggak lihat KBBI. Jadi mohon maaf kalau saya salah mengartikannya). Tapi, mari kita coba sederhanakan kata-katanya.
Mungkin begini ‘Aku menyukai karyanya (Zaskia) karena pada dasarnya aku senang musik. Tapi aku juga punya prioritas, yaitu karier’
Beugh! Jauh amat! Habis, untuk mengetahui apa arti sebenarnya, sesungguhnya kita harus tahu apa sih yang ditanyakan pada orang ini:

3. Kita belajar .. apa ya? harmonisisasi dari hal yang terkecil sampai terbesar
Mungkin dia ditanyai hal ihwal hubungan mereka. Tapi kesalahan Vicky adalah menyebut harmonisasi menjadi harmonisisasi. Mungkin kalimat lebih sederhana yang bisa ia moncongkan adalah, ‘kita belajar untuk sama-sama mengerti satu sama lain, dari yang terkecil sampai yang terbesar(?)’

4. Kita nggak boleh ego terhadap satu kepentingan dan kudeta dari apa yang kita miliki.
Inilah ‘scene’ paling bikin kita ngakak. Ketika dia menyeret kata ‘kudeta’. Sebagaimana kita tahu, kudeta berarti perebutan kekuasaan secara paksa. Biasanya dipakai dalam ‘bahasa; politik dan ketnegaraan. Jadi apa sih maksudnya Bung Vicky ini? Mungkin akan lebih dimengerti jika dia berkata ‘Kita nggak boleh saling egois dan terlalu mempertahankan apa yang kita miliki (kekayaan) (?)’

5. Dengan adanya hubungan ini bukan mempertakut dan mempersuram stasusisasi kemakmuran keluarga dia. Tapi menjadi confident.
Statusisasi? Wah, nggak semua kata bisa direkatkan dengan -isasi, lho. Lalu gimana kata sederhananya? Ah, pikir aja dalam hati:

6. Kita harus menyiasati kecerdasan itu untuk labil ekonomi kita akan lebih baik dan aku sangat bangga.
Labil ekonomi? Mungkin maksudnya agar kehidupan perekonomian yang bersangkutan bisa seimbang. Di video lain, Vicky bahkan menyebut kata enginering yang disangkutpautkannya dengan hobi mendengarkan musik.

Penafsiran barusan relatif juga tidak punya masalah dengan struktur bahasa Indonesia yang dipergunakan oleh Vicky, dan—lagi-lagi—hanya soal istilah-istilah yang dipakainya, yang—lagi-lagi—awur-awuran. Lebih-lebih ketika Vicky menggunakan istilah-istilah itu dengan awalan ‘me-’, ‘memper-’ ataupun akhiran ‘-isasi’, hingga menciptakan istilah maupun frasa yang hampir tak pernah ada dalam penggunaan bahasa Indonesia pada umumnya.

Seandainya ada penafsiran lain dengan penggunaan bahasanya pun tak masalah. Kalaupun seorang penulis Kompasiana, menyamakan Vicky dengan Tony Blank—pasien rumah sakit jiwa—yang dianggap filsuf beraliran ‘saparatosan,’6 ya tidak juga mengundang satu gangguan terhadap kehidupan kita.. Sehingga, kalaupun muncul pula anggapan bahwa Vicky adalah salah satu praktisi posmoderen, setelah Tony Blank, saya pun tak menganggapnya sebagai sebuah pencapaian dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan kata lain, adanya tokoh Vicky atau Tony Blank tidak berarti juga ada kenaikan Upah Minimum dan keamanan pekerjaan bagi kaum buruh, ataupun tidak berarti juga satu bentuk perwujudan jiwa-jiwa yang bebas dari cengkeraman roh-roh jahanam, yang menggelantung di leher bak sakit gondok—yang ternyata menurut penelitian kesehatan adalah akibat tubuh manusia kurang mengkonsumsi garam beryodium. Bagi saya, contoh bahasa Vicky adalah contoh penggunaan, dan atau penerjemahan istilah yang ngawur, sesederhana itu saja.

Namun, apabila diperhatikan baik-baik, bahasa yang dipergunakan Vicky sebenarnya seperti campuran antara bahasa gaul—yang kerap disisipi dengan kata-kata ataupun ungkapan bahasa Inggris—dan bahasa jurnalistik intelektual politik masa kini. Terutama pada pilihan-pilihan kata-katanya yang sangat khas bahasa intelektual politik di media massa. Coba perhatikan, ‘Apresiasi,’ ‘Kontroversi,’ ‘Konspirasi,’  ‘Kemakmuran,’  ‘Harmonisasi,’  ‘Ego,’  ‘Kepentingan,’ ‘Mengkudeta,’  ‘Confident,’ ‘Mensiasati,’ ‘Kecerdasan,’ ‘Labil,’ dan ‘Ekonomi.’ Kecuali kata ‘Statutisasi’  yang tidak terlalu jelas dari mana asal usulnya, hampir semuanya adalah kata-kata serapan dari bahasa Inggris yang biasa dipergunakan untuk kepentingan penulisan analisa berita-berita politik. Akan tetapi persoalan kemudian muncul, ketika Vicky menggunakan semua kata milik para ‘analis politik’ itu dalam konteks yang sangat personal, sebagai sebuah pernyataan publik. Lebih-lebih, bahasa tubuhnya saat berucap kalimat-kalimat di muka mengesankan adanya kepercayaan diri yang sungguh besar. Sehingga ketika banyak orang mengetahui bahwa bahasanya adalah selubung dari kegelisahannya sebagai pelaku tindak kriminal berbagai kasus penipuan, runtuhlah semua citra di balik kata-kata tersebut.

Problemnya bukan pada apa makna di balik kata-kata Vicky, melainkan pada bagaimana seorang penipu ulung semacam Vicky bisa berpikir untuk mempergunakan kosa kata ‘politik’ sebagai sarana untuk menyelubungi perilaku menipu pasangannya, keluarga pasangannya, maupun pemirsa televisi? Apakah perbendaharaan kosa kata Vicky begitu banyak mengingat salah satu modus penipuannya adalah menjadi dua atau tiga orang yang berbeda identitas dalam satu waktu untuk merayu korban-korbannya?
Boleh jadi jawaban untuk pertanyaan pertama adalah jawaban berdasar analisis sosio-politik, sementara untuk pertanyaan yang kedua adalah jawaban berdasar analisis psikologi.

Tetapi sebelum analisis ini bergerak menyelidiki, muncul beberapa fenomena baru yang saling berhubungan. Pertama, pemberitaan yang cukup besar mengenai pembelaan Vicky. Mulai dari Vicky sendiri sampai dengan pembelaan terhadap Vicky oleh keluarganya. Kedua, pemberitaan tentang begitu populernya bahasa Vicky itu dipergunakan. Dan ketiga, perihal media dan kaum intelektual yang mencoba mengambil pelajaran dari kasus Vicky.

Tentang Kritik dan Pembelaan

Jarak sehari setelah keramaian di dunia virtual, sebuah blog yang beralamat http://vickyprasetyo.wordpress.com, yang diduga blog milik Vicky Prasetyo mengajukan pembelaan terhadap segala macam kritik yang dialamatkan kepadanya:

This is my ungkapan dengan sepenuh keteguhan jiwa dan keabsahan kejujuran rasa, meminta dengan hormat pihak manapun yang seteganya mendeskreditkan kebagusan reputasi diriku melalui alam maya.

Aku sangat tidak mengharapkan konspirasi berita sehingga nama baik ku disengajakan menjadi buruk citra. Kosakatasime dan bahasaisasi komunikasi jangan dipermasalahkan lah
Kemajemukan masyarakat sepertinya tiada lagi di negeri pancasilais tercinta ini. Sungguh memalukan keintelektualitasan seorang aku menjadi ajang hiburan semata serta pemupusan harapan dan materi of futures. But somehow my precious company was CV Angkasa Mua at Karang Asih was become evidence of my glory.

I am can talking francis, jermany, and other asian things.
Please share this is my good will statement and verification for all them guys to know. Supaya seluruh masyarakat Indonesia tahu lah, pembenaran sikap ku.

Basically disebabkan ucapan dan statement ku dimuat di 9soul.com tanpa izin kontrak tertulis. Afterall, this is my rightous, merupakan hak individualistik untuk berbicara, berbahasa.
Kamis, 12 September 2013, adalah hari pembelaan Vicky oleh anggota keluarganya, melalui suara Dabby Lestari, adik perempuannya. Dabby menyatakan bahwa:7

Malahan Daby menilai kalau tata bahasa eks tunangan Zaskia Gotik tersebut kurang baik karena kuliah di Amerika. ‘Mungkin karena pernah kuliah di Amerika, bahasa Inggrisnya enggak terlalu bagus, enggak kayak di London. Ya mungkin gitu,’ kata Daby.

Daby juga mengaku kalau bahasa yang diungkap Vicky itu berfilosofi tinggi. ‘Tapi itu bahasa filosof sebenarnya. Kalau kita enggak nyampai ilmunya susah, sangkanya itu buat ejek-ejekan saja,’ bela Daby.

Pembelaan yang dikemukakan oleh Vicky, lagi-lagi menuai banyak kritik dan ejekan dari para pembacanya. Lebih-lebih ketika pembaca makin lama makin mengetahui asal-usul Vicky berikut tindakan kriminalnya. Sehingga walaupun pembelaan itu ditulis dengan bahasa yang sedikit lebih mudah dipahami, dan lebih tegas gagasannya, terutama pada kalimat terakhir ‘hak individualistik untuk berbicara, berbahasa’, tetap saja ia semakin diejek oleh khalayak pembaca blognya. Namun semua kritik yang dialamatkan kepadanya, terutama pada blog di muka adalah kritik-kritik tentang penggunaan tatabahasa Inggris dan tatabahasa Indonesia yang ngawur. Tidak ada yang mencoba menelaah apa gagasan yang hendak diajukan ketika ia mengalami ‘bullying’ dari masyarakat dunia virtual.

Sementara pembelaan yang diajukan oleh adik Vicky Prasetyo juga menjadi bahan ejekan yang selanjutnya. Sepertinya apa yang dikemukakan oleh Dabby Lestari adalah sebuah penegasan bahwa Vicky Prasetyo bukan berasal dari keluarga yang berpendidikan. Pastinya, ungkapan-ungkapan Vicky adalah cermin dari pengetahuan yang tidak cukup dari upaya memperbincangkan sesuatu secara serius dan ilmiah.

Mungkin ada benarnya jika pembelaan itu ditempatkan pada kerangka yang lebih luas, pada kerangka pemikiran tentang pembelaan sebagaimana yang diungkapkan oleh Socrates yang dituduh sebagai pemuja setan, di dalam teks Apologia:

‘….Akulah seorang guru yang meminta bayaran; tak ada yang lebih benar dari itu. Walaupun demikian, jika seseorang mampu untuk mengajar, aku menghormatinya karena ia dibayar. Ada Gorgias dari Leontium, dan Prodicus dari Ceos, ataupun Hippias dari Elis. Mereka yang berkeliling dari kota ke kota, dan mampu mempengaruhi orang-orang muda untuk meninggalkan warganya sendiri, demi mereka yang mungkin tidak mengajarkan apa-apa, dan mereka mendatangi orang- orang muda itu, kepada siapa orang-orang muda itu tidak hanya membayar, tetapi sungguh berterima kasih jika diperbolehkan untuk membayar guru-guru itu.’8

Memang, saya yakin baik Vicky Prasetyo, maupun adik Vicky Prasetyo tidak membaca, apalagi berpikir seperti Socrates. Sama halnya dengan banyak intelektual di Indonesia, yang belum tentu membaca dengan teliti, dan kalau pun membaca sebatas setengah membaca, atau setengah mendengar apa yang disampaikan oleh teman dari temannya dosen yang kebetulan nongkrong di kafe, dan tiba-tiba berbicara Socrates setelah gagal menaklukkan hati seseorang, lalu berbicara tentang Socrates sebagai pembelaan atas kegagalannya.

Tapi perhatikan lagi kalimat-kalimat pembelaan Vicky:
This is my ungkapan dengan sepenuh keteguhan jiwa dan keabsahan kejujuran rasa, meminta dengan hormat pihak manapun yang seteganya mendeskreditkan kebagusan reputasi diriku melalui alam maya.

Jika saya tafsirkan secara bebas ungkapan Vicky di muka: ‘Inilah ungkapanku …… meminta dengan hormat pihak manapun yang begitu tega mendiskreditkan …..’ berarti ‘Inilah aku yang bersedia berhadapan dengan kalian yang begitu tega mendiskreditkan reputasi diriku.

Sekarang coba bandingkan dengan kalimat pertama Socrates: ‘Akulah seorang guru yang meminta bayaran, tidak ada yang lebih benar daripada itu’. Ini bisa berarti, ‘aku seorang yang memiliki kemampuan mengajar, dan oleh karena kemampuanku aku meminta dibayar, dan demikianlah adanya diriku.’

Apabila diperhatikan sekilas, baik Socrates maupun Vicky sama-sama berani menyatakan diri berhadapan dengan, katakanlah, ‘musuh-musuhnya’. Tetapi jika diperhatikan lebih cermat, ‘Aku’ menurut Vicky adalah bagian dari ‘keteguhan jiwa’ dan ‘keabsahan kejujuran rasa’ dan ‘reputasi’. Entah apa pun itu pekerjaan Vicky kita tidak menangkapnya. Sementara Socrates, secara langsung menegaskan ‘Akulah seorang guru’. ‘Aku’ adalah ‘apa yang aku kerjakan’. Sama sekali Socrates tidak ada soal dengan keteguhan jiwa dan kejujuran rasa, oleh karena ia berhadapan dengan musuh-musuhnya sebagai seorang guru. Sementara Vicky berhadapan dengan musuh-musuhnya sebagai yang tidak punya pekerjaan tapi punya reputasi baik. Apa sebenarnya gagasan di balik ‘Tidak punya pekerjaan tetapi punya reputasi baik’? Apakah mungkin itu berarti ‘tidak punya pekerjaan tetapi memiliki keteguhan jiwa dan kejujuran rasa?’ Bukankah kalimat pernyataan seperti itu berarti ‘tampaknya nol (0) tetapi sesungguhnya satu (1)?’ Jikalau demikian, bukankah itu berarti juga senada dengan kalimat ‘Muka boleh kaya setan, tetapi hati tetap Rinto (Harahap)?9‘ Atau jika dibawa ke dalam konteks politik, dalam bahasa para aktivis seperti misalnya, ‘Kita sih memang kecil, tetapi besar pengaruhnya?’ Apakah itu sama juga dengan pernyataan seorang pengacara, dan aktivis politik generasi tua, ‘Abang sih ngga ada masalah, tapi yang di belakang abang itu ribut mulu?’ Ataukah itu sejenis dengan pernyataan tokoh kriminal John Kei ketika diinterogasi pihak kepolisian tentang mengapa dirinya membunuh polisi, ‘Saya tidak punya masalah dengan polisi, tetapi saya kebetulan punya teman yang punya masalah dengan polisi’? Apakah itu senada juga dengan ‘penghiburan’ yang diberikan oleh Hariman Siregar kepada aktivis PRD, seperti ‘PRD itu memang kecil tetapi ngasih contohnya itu lho…’ Apa sebenarnya logika dibalik ‘tampaknya nol (0) tetapi sesungguhnya (1)?’ Bukankah teks Proklamasi yang disusun di bawah ancaman militer Jepang, disusun dengan kalimat, ‘Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya’, atau posisi politik di dalam pembukaan UUD 45, ‘Bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa’, atau pernyataan Semaun di hadapan pengadilan Hindia Belanda, untuk menjawab pertanyaan tentang identitasnya, ‘Pekerjaan saya merencanakan revolusi?’

Boleh jadi pengamat politik yang harus menyatakan dan atau mendefinisikan siapa Vicky, dan pengamat politik juga yang bisa menilai dengan baik apa gagasan-gagasan politik kita secara obyektif, sementara kita sendiri seperti tak memiliki ruang untuk menyatakan apa pekerjaan kita dan apa gagasan politik kita. Dalam kasus Vicky, adiknyalah yang memberikan pembelaan secara obyektif, lepas dari benar atau salah, lepas dari soal apakah Dabby Lestari itu dungu luar biasa, ataupun kampungan, norak, sehingga pantas masuk neraka jahanam. ●

Kepustakaan
1Tampilan klip bisa dilihat dalam http://www.youtube.com/watch?v=YCYJY5X5KSM
2 _____, Calon Suami Zaskhia Shinta Sempat Mengaku Sebagai Anggota DPR, dalam situs http://www.kapanlagi.com/showbiz/selebriti/calon-suami-zaskia-shinta-sempat-mengaku-sebagai-anggota-dpr-ff13fc.html
3_____, Hati Zaskia ‘Gotik’ Kembali Terkoyak Dengan Foto Syur Vicky Bersama Ade Nurul, dalam situs http://www.aktualpost.com/2013/09/06/4132/hati-zaskia-gotik-kembali-terkoyak-dengan-foto-syur-vicky-bersama-ade-nurul/
5Saman Dayu, Menelisik Gaya Bahasa Absurd Vicky Prasetyo di dalam situs blog http://wanasedaju.blogspot.com/2013/09/menelisik-gaya-bahasa-absurd-vicky.html
6Saparatosan adalah sebuah aliran yang berupaya menjungkirbalikkan pemaknaan normatif ke dalam berbagai macam konteks penggunaan. Lihat,http://filsafat.kompasiana.com/2013/09/10/vicky-dan-manifestasi-ajaran-filsuf-toni-blank—591388.html.
7_____, ‘Vicky Prasetyo Dibela Keluarga Soal Bahasa Intelektual’, selengkapnya dapat dilihat di situs http://berita8.com/berita/2013/09/vicky-prasetyo-dibela-keluarga-soal-bahasa-intelektual
8Plato, Apology, diambil dari situs web http://classics.mit.edu/Plato/apology.html

9Tokoh Musisi, yang terkenal dengan berbagai lagu cintanya yang sangat mendayu-dayu

Rabu, 18 September 2013

Dekonstruksi Bahasa Ala Vickiisme

Dekonstruksi Bahasa Ala Vickiisme
Harry Bawono  ;    Peneliti di Pusat Kajian dan Pengembangan Sistem Kearsipan (Pusjibang Siskar)
DETIKNEWS, 18 September 2013


Kontroversi hati, statusisasi kemakmuran, hamonisisasi adalah rangkaian kata yang meluncur dengan begitu deras dari mulut seorang Vicky. Ya, Vicky dengan penuh percaya diri mendaraskan ujaran yang mencengangkan itu.

Khalayak pun di buat ramai, dunia sosial media menjadi gandrung dengan bermunculannya berbagai meme yang memparodikan teknik akrobatik kata ala Vicky.

Sebut saja gejala penggunaan bahasa kelas tinggi yang tidak ada juntrungannya ini sebagai Vickiisme, sebagaimana banyak tulisan sebelumnya yang menyoroti perkara Vicky memberikan label.

Persoalanya bukan kepada kata-kata tersebut melainkan pada bagaimana Vicky menggunakan kata-kata tersebut sehingga mengundang cibiran karena penempatannya yang dinilai tidak pas sama sekali.

Tulisan ini menyoroti kasus Vickiisme dalam kacamata sosiolinguistik yang membedah posisi makna dalam kaitannya dengan relasi penulis-pembaca, penutur-pendengar.

Penulis ingin menjelaskan bahwa Vickiisme pada dasarnya adalah tradisi dekonstruktif yang menempatkan posisi makna menjadi sedemikian bebas, tanpa pijakan dan pada akhirnya jika Vickiisme justru digunakan oleh banyak kalangan maka Vickiisme pada titik ini tengah membentuk suatu langgam bahasa tersendiri sebagaimana langgam bahasa gaul, bahasa alay atau langgam bahasa lainnya.

Bahasa: antara strukturalisme dan poststrukturalisme

Terdapat dua corak pemikiran besar yang membedah persoalan kebahasaan, strukturalisme dan poststrukturalisme. Strukturalisme memiliki logika bahwa bahasa merupakan keterkaitan antar tanda dalam keterkaitannya ini makna terjalin dan menjadi acuan tindakan manusia dalam membentuk lingkungannya.

Strukturalisme melihat struktur bahasa sebagai pemaksa orang bertindak. Terdapat struktur yang demikian sistemik tersusun dan ada inti yang berupa logosentrisme. Logosentrisme dapat berarti berpusat pada logos. Logos bisa dibayangkan sebagai unsur pokok atau sejati yang menjadi pusat dari struktur bahasa.

Misi utama strukturalisme adalah menyimpang logos ini yang berwujud sebagai makna sesungguhnya, arti sebenarnya, dari sinilah kemudian muncul mengenai perkara asli, murni, palsu.

Strukturalime memusatkan perhatian pada realitas tersembunyi dibalik ujaran, tuturan dan tulisan. Itulah mengapa, strukturalisme seringkali disebut menolak empirisme, karena dalam kepala strukturalisme rea litas bukanlah yang tampak melainkan suatu logika yang melandasinya.

Sementara strukturalisme berupaya menyibak makna transenden berupa logika yang mendasari sebuah perangkat bahasa, postrukturalisme justru tidak memandang adanya suatu makna hakiki dari suatu sistem bahasa. Logika poststrukturalisme berfokus pada ketidakkoheranan sistem dan ambiguitas.

Ketidakkoheranan merupakan implikasi logis dari cara pandang postrukturalisme yang melihat bahwa realitas merupakan semata-mata produk konstruksi melalui discourse. Itulah mengapa tidak ada makna tunggal dalam postrukturalisme, yang ada adalah keragaman makna yang begitu kaya dan berbeda.

Kedua corak pemikiran ini, strukturalisme dan postrukturalisme pada dasarnya berkutat pada usaha membedah antara langue dan parole. Langue adalah kaidah bahasa formal, sementara parole adalah bahasa aktual tutur kata. Langue merupakan kaidah hasil konvensi yang mendasari laku bahasa keseharian.

Itulah mengapa dalam tradisi strukturalisme melihat langue dengan melalui usaha menganalisa parole. Melalui parole inilah yang kemudian dirujuk kepada langue, makna sesungguhnya ditemukan dan diurai sedemikian rupa.

Berbeda dengan postrukturalisme, bahasa seakan adalah parole itu sendiri sebagaimana aktual dan dipergunakan dalam keseharian. Pada titik inilah parole tidak lagi menjadi linear dengan language melainkan bergerak begitu bebas sebagaimana pengguna berkuasa menggerakannya.

Posisi Pengarang (Penulis dan Penutur)

Sebagaimana telah dijelaskan diatas mengenai strukturalisme dan postrukturalisme yang secara sederhana dapat diungkap bahwa satu pihak melihat adanya makna hakiki trasenden yang berada dibalik yang terlihat dan terucap, sementara pihak lainnya melihat bahwa tidak pernah ada makna hakiki yang transenden itu.

Perkara ini perlu disandingkan dalam konteks pembedaan secara konseptual mengenai bahasa lisan dan tulisan. Kendati berbeda, dimana tulisan lebih ketat secara kaidah sementara tidak dengan lisan, namun inti dari kedua bahasa tersebut adalah posisi penulis-pembaca, penutur-pendengar.

Dalam relasi biner ini, muncul suatu usaha untuk membedah makna, sejauhmana makna dari suatu bahasa itu berada? Di penulis, di pembaca, di penutur, atau di pendengar? Dalam melihat hal ini, strukturalisme mengambil jalan dengan melihat bahwa makna terdapat di penulis atau penutur.

Sementara, postrukturalisme memposisikan diri melihat makna justru ada di pembaca atau pendengar. Usaha untuk membedah makna itu disebut sebagai hermeneutika. Hermeneutika secara sederhana dapat dikatakan sebagai usaha menafsirkan makna atau arti dari suatu kata.

Tradisi strukturalisme menggunakan hermeneutika guna mendapatkan tafsir sebagaimana dimaksud penulis atau penutur, sementara tradisi postrukturalisme menggunakan hermeneutikan justru untuk membredel segala makna universal dan menampilkan makna dalam suatu konteks sebagaimana pembaca konstruksikan.

Maka tidak ada garis linear antara makna yang digunakan penulis dengan makna yang ditangkap pembaca. Pola hermeneutika yang digunakan oleh postrukturalisme ini biasa disebut sebagai dekonstruksion(isme).

Melalui dekonstruksi ini maka yang eksis adalah keragaman makna, satu tulisan bisa membuahkan makna tak terbatas sebagaimana banyaknya pembaca yang melahap tulisan itu, dan hal ini mungkin saja terjadi juga dalam bahasa lisan, ketika banyaknya makna atas kata yang terucap sebanyak orang yang mendengarnya.

Menarik untuk menghadirkan ungkapan yang begitu terkenal dalam tradisi postrukturalisme yang dikemukakan oleh Barthes, "pengarang telah mati". Pengarang tidak lagi punya kuasa mendikte makna, pembaca atau pendengar telah mengambilalih kuasa itu. Pembaca atau pendengarlah sang perumus makna.

Pada posisi ini bagaimanakah tuturan Vicky lantas dapat dimaknai? Dengan melihat pidato kampanye yang menggunakan bahasa inggris ala dirinya sendiri. Dengan mamperhatikan akrobatik kata-kata ketika diwawancarai wartawan sesaat setelah acara tunangannya.

Dapat dilihat secara gamblang bahwa Vicky jelas mengkonstruksi maknanya sendiri tanpa peduli dengan kaidah umum atau langue. Vicky pada konteks ini, secara bebas atas pemahamannya sendiri merakit kata-kata "canggih" itu dalam kaidah makna versi dirinya sendiri.

Pada titik ini, Vicky pada dasarnya dekonstruksionis dengan berfokus pada kaidah pemaknaannya sendiri tanpa ambil pusing kaidah pokok atau langue dari bahasa yang dia tuturkan itu.

Dengan melihat pengarang yang merujuk ketat pada kaidah pokok atau langue saja, diversifikasi makna begitu tinggi. Bagaimana dengan Vicky sedemikian bebas mengkonstruksi makna? Nah, disinilah Vicky sedemikian bebas dan begitupun dengan pendengarnya.

Perkara cibiran dan segala bentuk hinaan yang muncul, menurut penulis pas untuk menghadirkan perspektif Durkhemian yang melihat bahasa sebagai salah satu fakta sosial. Fakta sosial dalam Durkhemian digambarkan sebagai sesuatu yang berada diluar individu dan bersifat memaksa individu.

Eksistensi fakta sosial bisa dilihat melalui adanya kontrol sosial, yakni dengan adanya perlawanan jika ditengarai ada sesuatu yang melenceng dari fakta sosial tersebut.

Cibiran dan hinaan atas Vicky menjadi mekanisme bagaimana bahasa sebagai fakta sosial melawan dan tegas menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Vicky adalah menyimpang.

Vickiisme Sebagai Langgam Bahasa

Telah jelas diuraikan Vickiisme sebagai suatu tindak dekonstruksionis karena akrobat bebas atas makna dan kata yang diracik sedemikian rupa. Pada titik ini pula patut dipertimbangkan mengenai leluasanya Vickiisme menjadi sedemikian populer dan bahkan bahasa akrobatik Vickiisme ini tengah digunakan banyak pihak.

Hal ini bisa dilihat dengan adanya Vickybulary yakni kamus besar bahasa Vicky yang disusun secara kreatif entah oleh siapa itu. Dengan melihat gejala ini, mari melihat gejala lain, seperti bahasa gaul atau bahasa alay. Bahasa gaul toh pada awalnya merupakan upaya dekonstruksionis guna memapankan suatu bahasa yang tidak sebagaimana bahasa baku. Kamus bahasa gaul pun muncul dan dijadikan sebagai acuan para pengguna bahasa gaul. Pun begitu dengan bahasa alay, bagi sebagai besar orang, bahasa alay jelas sekali ketidakjelasannya.

Tapi toh mereka punya kaidah kebahasaan dalam konteks para penggunanya. Bedanya langgam bahasa gaul dan alay, punya kapasitas kebebasan yang lebi h dengan menempatkan penggunan sebagai penguasa makna.

Dengan memperhatikan hal ini, maka hemat penulis, Vickiisme pada dasarnya tengah bergerak ke arah menjadi langgam bahasa tersendiri sebagaimana bahasa gaul dan bahasa alay.

Persoalannya kemudian adalah dalam konteks langgam bahasa Vickiisme apakah ungkapan "pengarang telah mati" masih relevan?

Atau ungkapan tersebut malah memperluas diri, dalam langgam bahasa Vickiisme justru ungkapan yang tepat adalah "pengarang sekaligus pembaca/ pendengar telah mati"? Silakan bergulat dengan pemaknaan masing-masing. 

Vicky dan Kita

Vicky dan Kita
Bre Redana  ;   Kolumnis “Udar Rasa” Kompas
KOMPAS, 18 September 2013


Di kalangan cyberspace banyak orang tengah tertawa-tawa mendapati penggunaan bahasa Indonesia ”gaya bebas” oleh seseorang bernama Vicky Prasetyo. Pertama kali muncul dalam sebuah segmen acara berita hiburan di televisi, segera klip itu menjadi tontonan ribuan orang begitu diunggah di Youtube pekan lalu.

Bagi yang tidak akrab dengan cybermedia perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa di Youtube itu dipertontonkan petikan wawancara, yang kalau menggunakan istilah televisi disebut ”pasangan selebritas”. Pasangan yang dimaksud adalah pedangdut Zaskia Gotik dengan Vicky Prasetyo. Yang disebut belakangan ini konon pengusaha, pernah berusaha terjun ke dunia politik, belakangan terjerat kasus hukum dengan tuduhan penipuan.
Di sini tak akan diperluas apa dan siapa mereka berikut kasusnya. Yang menarik (sumpah memang lucu melihat apa yang tampil di Youtube itu) adalah kata-kata yang diucapkan Vicky Prasetyo. Dia duduk, didampingi Zaskia.
Petikannya antara lain, ”Di usiaku saat ini... ee... ya twenty nine my age ya... tapi aku masih merindukan apresiasi karena basically aku seneng... seneng musik walaupun kontroversi hati. Aku lebih menyudutkan kepada konspirasi kemakmuran yang kita pilih.”
Anda tahu maksudnya? Sebagian besar orang dipastikan puyeng menghadapi kalimat itu. Ia melanjutkan dengan, ”Nggak... kita... kita belajar apa ya... harmonisasi dari hal terkecil sampai terbesar. Kupikir kita nggakboleh ego terhadap satu kepentingan dan kudeta apa yang kita menjadi keinginan ya. Dengan adanya hubungan ini bukan mempertakut, bukan mempersuram statusisasi kemakmuran keluarga gitu, tapi menjadi confident, tapi kita harus bisa mensiasati kecerdasan itu untuk labil ekonomi kita tetap lebih baik.”
Tanpa fokus
Meledaklah tawa di mana-mana. Di tengah kehidupan sehari-hari yang kini dipenuhi begitu banyak selingan hiburan, orang menemukan selingan lain lagi dari apa yang diucapkan Vicky. Komentar-komentar tak kalah lucu bermunculan. Temanya ”vickinisasi”. Kalau orang bicara ruwet, akan disebut ”korban vickinisasi”.
Kesantaian, main-main, olok-olok, bersifat sementara, memang khas dunia cyber. Tak ada yang serius di situ. Klip itu pun dalam waktu dekat juga akan segera ditinggalkan orang. Perpindahan minat dan fokus yang amat cepat menjadi sifat manusia di era cyberspace sekarang. Kehidupan sekarang ini seolah-olah tanpa fokus.
Begitupun pola komunikasi. Apakah komunikasi dalam dunia digital sekarang benar-benar nyambung? Twitter, misalnya—sebagaimana namanya—artinya ”kicauan”, ”celotehan”. Tiap-tiap orang berkicau, tak perlu kicauan terhubung satu sama lain atau tidak.
Dalam dunia televisi, siapa pun yang punya pengalaman ambil bagian dalam acara wawancara, bincang-bincang, talk show, dan lain-lain akan paham, yang penting bukanlah isi jawaban, melainkan bagaimana kita tampil membawakannya. Kadang ada semacam geladi bersih untuk komunikasi itu. Kru televisi memberi tahu terlebih dahulu, nanti mereka akan bertanya apa, selanjutnya pihak yang akan diwawancara diberi tahu kesempatan memberi jawaban sekian menit. Begitu kamera siap, pembawa acara melenggang. Bertanya, atau tepatnya sebenarnya berceloteh sendiri. Kita ngaco menjawab juga tidak apa. Belum tentu si pembawa acara mengurusi isi jawaban kita. Ia hanya memperhatikan hitungan, kapan jawaban harus berakhir. Kalau Anda sebagai pihak yang diwawancara berpikir bahwa isi jawaban Anda sebegitu pentingnya dan masih perlu diuraikan lebih lanjut, maka Anda akan dipotong. Silakan Anda terbengong-bengong. Iklan lebih penting daripada Anda.
Kita hidup di lingkungan yang mengondisikan pikiran tak perlu terlalu dianggap sebagai bagian penting dari kata-kata, ucapan, pun tulisan. Banyak orang yang duduk di profesi yang berhubungan dengan produksi kata-kata, bahkan tak paham subyek dan predikat dalam suatu kalimat. Kalau Anda bekerja di media massa sekarang, Anda bakal mudah frustrasi.
Ketika pikiran terbiasa tak terkondisikan dengan kata-kata atau ucapan, akan muncul kesenjangan antara pikiran dan ucapan. Kita pecah-pecah lagi bagian dari diri kita bahwa selain pikiran, juga ada tubuh alias badan, ada spirit atau roh, maka aktivitas tiap-tiap bagian itu tak lagi terhubung satu sama lain. Dengan kata lain, tidak ada keselarasan dalam diri.
Padahal, ada banyak pandangan, yang menganggap bahwa diri kita itulah dunia kecil atau mikrokosmos. Kalau dalam dunia kecil itu tidak ada keselarasan, apa yang kemudian terjadi? Ya persis kita hadapi sekarang: kebohongan, kekerasan, korupsi, lupa, dan lain-lain.
Kita tertawa-tawa melihat Vicky karena Vicky barangkali adalah kita.
Coba bayangkan cewek pacar Anda meminta dibelikan rumah.
”Aku belikan rumah ya sayang....”
”Ya kita komunikasi lagi,” kata Vicky dalam video itu. ●

Selasa, 17 September 2013

Konspirasi Kegilaan

Konspirasi Kegilaan
Amir Machmud NS  ;  Wartawan Suara Merdeka
SUARA MERDEKA, 16 September 2013


“MENIKMATI” Vicky Prasetyo jelas berbeda dari menyaksikan Thukul Arwana. Aksentuasi “Twenty nine my age...” terasa gimanaaa gitu dibandingkan dengan cara Thukul mengucapkan “Don’t go anywhe­re...”, atau mungkin ke­tika pada masa kecil kita sering mencelutukkan “no what-what” untuk menutupi kekurangan dalam kemampuan berbahasa Inggris.

Gimanaaa-nya Vicky sangat terasa sebagai cara untuk “tampil lebih” (intelek) ketimbang Thukul yang sengaja mengutip beberapa penggal kalimat Bahasa Inggris agar “tampil lebih” (gila), juga kita pada masa kecil agar “tampil lebih” (bergaya).

“Intelektualitas” Vicky yang kemudian banyak “dikaji” oleh para intelek sejati segera mengingatkan saya akan celetukan-celetukan guyon pada masa kecil kita dengan memelesetkan serangkaian kata menjadi kalimat yang “seolah-olah Inggris”, “se­akan-akan Belanda”, menjawakan Inggris, atau menging­griskan Jawa.

Anda yang seusia dengan saya, dan mengenang tahun 1960-an atau 1970-an, pastilah mengakrabi kalimat yang jika diucapkan dengan aksentuasi tertentu seolah-olah ber-taste Belanda, “Bur nas koppen”. Hehehe, itu “bubur panas kokopen”. Atau kemasan kalimat njawani ini, “Blek-ket-det-in-the-ceret”. Walah, ternyata itu berserempetan dengan gathuk-mathuk kata-kata Inggris, “Black cat death in the chair red”, “Kucing hitam mati di kursi berwarna merah”.

Hadeh! Ternyata strukturnya kok ya “ke-Vicky-Vicky-an”, seperti ketika dengan pe-de dia mengemukakan “Twenty nine my age”, atau “I am froms the birthday in Karang Asih city...
Saya juga masih ingat bagaimana mengasah kefasihan keinggris-inggrisan itu lewat kalimat, “Lut my ndhut, you my wrong” sebagai pelesetan “Welut omahe ngendhut, yuyu omahe ngerong”. Juga “Dhah bong leng you” untuk mengatakan, “Dhadhahe kobong celenge mlayu”.

Bahkan yang Inggris beneran “Lion on the table” ini ternyata untuk menyebut nama “Mbah Singo­dimejo”, dan “You get boy”, “Wong ayu joget ditabuhi”.

Ke-pede-an untuk “tampil lebih” lewat eksploi­tasi penggunaan simbol-simbol bahasa, terbukti dijadikan jalan oleh orang-orang tertentu untuk meraih target-target tertentu. Vicky jelas berbeda dari Thukul, dari aspek panggung kehidupan yang se­sung­guhnya dan dari rasa panggung komedi untuk membuat khalayak tertawa.

Vicky tampil senekat itu bukan supaya ditertawai, tetapi berorientasi pengelabuan, agar orang terkesan dengan kemampuan bahasa Inggrisnya, sedangkan Thukul sengaja menunjukkan kebelepotan bahasanya untuk memperkuat ke-ndesa-an tampilan yang memancing tawa orang, karena memang yang “dijual” adalah kesan kekatrokan.

PENGELABUAN lewat simbol kemampuan mengemas bahasa, sejatinya merupakan refleksi dari panggung kehidupan kita juga. Ya, banyak Vicky di sekitar kita. Di ranah kekuasaan misalnya, betapa banyak politikus yang mencoba membius publik dengan menghamburkan retorika penuh janji.

Lihatlah di pentas-pentas talk show televisi, kepintaran menekak-nekuk lidah untuk unjuk diri dan menohok lawan, sungguh mirip dengan gaya Vicky ketika masih bernama Hendrianto di panggung kampanye Pilkades Karang Asih.

Dalam interaksi sosial, modus “pembiusan” juga banyak dilakukan oleh orang-orang yang tampilannya mampu meyakinkan pihak lain. Kasus-kasus penggandaan uang, penyertaan modal yang rendah logika, hingga para calo pekerjaan dan jabatan jelas menggunakan kelihaian persuasi berbekal kemampuan masing-masing dalam mengemas simbol bahasa.

Di sisi lain, kondisi kehidupan keindonesiaan kita seperti dibuka lebar oleh kehadiran Vicky Prasetyo dan Zaskia Gotik. Antara fenomena orang yang pintar membius dengan tampilan yang dibuat “plus”, dan fenomena orang yang mudah terpesona oleh kulit luar.

Kepintaran memindah panggung ke kehidupan nyata itulah yang dimiliki oleh orang-orang seperti Vicky, juga mereka yang dari berbagai panggung masing-masing direfleksikan oleh munculnya “tokoh fenomenal” ini.

Saya, juga mungkin sejumlah teman di masa SD atau SMP yang sempat menikmati kreasi panggung masa lalu tentu masih ingat ketika dalam drama 17 Agustusan diberi kasting peran sebagai tokoh Kumpeni. Dengan mondar-mandir kita berlagak kikuk bicara, “En kowe orang ekstremis van Batavia ya?”, atau ada juga yang mati-matian bergaya cedal menirukan aksen Tionghoa, “Haiyyaaa, blek dudu tong, tong dudu blek...”

Nah, sekarang Vicky mampu meminggirkan sekaligus mengaduk kembali kenangan masa kecil kita itu dengan lagak yang lebih nekat dan tendensius. Bahkan perbendaharaan kata “akademis” seperti “konspirasi kemakmuran”, “labil ekonomi”, atau “kontroversi hati” saya perkirakan menciptakan kondisi betapa orang-orang akademis pun bakal mulai malu mengumbar kosa kata ilmiah karena takut dikesankan “terkena Vickynisasi”.

Ya, sudahlah. Dari sisi konspirasi kegilaan, tulisan ini mungkin sedikit melengkapi statusisasi tampilan-tampilan yang dile­bihkan, atau selanjutnya bisa kita komuni­kasikan untuk membangun harmonisisasi...  ●

Minggu, 15 September 2013

Bahasa Vicky, Bahasa Kita

Bahasa Vicky, Bahasa Kita
Ardi Winangun  ;   Anggota Departemen Komunikasi dan Informasi
Majelis Nasional KAHMI
JAWA POS, 14 September 2013



DI tengah hebohnya berita si Dul, penembakan polisi, serta aneka korupsi, kita dihibur dengan gejala berbahasa yang ''orisinal''. Yakni, tontonan dari jumpa pers pernikahan antara Vicky Prasetyo dan pedangdut Zaskia Gotik yang menggunakan bahasa mengejutkan. Bahasanya dicampur-campur, tidak sesuai dengan kaidah, dan membelokkan logika sehingga sangat menggemaskan, lucu, atau juga menjengkelkan.

Bahasa Vicky tersebut mewarnai jaringan antarmanusia di media sosial untuk berkomunikasi atau menyampaikan pesan kepada pengguna media sosial lainnya. Kata-kata itu, antara lain, ''kontroversi hati'', ''konspirasi kemakmuran'', ''statusisasi kemakmuran'', ''bukan mempertakut'', dan ''bukan mempersuram''. Kalimat itu tidak baru, namun terasa aneh didengar. 

Dengan tuturan Vicky, kita semua menertawakan, melecehkan, dan menganggap Vicky ingin disebut intelek sehingga menggunakan kata-kata asing. Padahal, sadar atau tidak, sebenarnya kita semua, mulai presiden, menteri, anggota DPR, kepala daerah, hingga orang awam sekalipun, pernah melakukan hal yang sama. Yakni, mencampuradukkan bahasa asing dan bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia.

Tuduhan Vicky ingin disebut intelek itu bisa jadi benar. Sebab, dalam sebuah kesempatan, di hadapan orang-orang desa di sebuah tempat di Bekasi, Jawa Barat, saat berkampanaye menjadi kepala desa, dia malah menggunakan bahasa Inggris meski juga dicampur dengan bahasa Indonesia dan bahasa Arab sehingga orang yang melihat di rekaman YouTube pun kembali dibuat tertawa.

Mungkin pria yang bernama asli Hendriyanto itu belajar bahasa Inggris hanya dari buku dan jarang bercakap-cakap langsung dengan orang asing yang menggunakan bahasa Inggris. Karena itu, tidak heran bila banyak ketidaktepatan dalam pengucapan kosakata. 

Lain halnya dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dia belajar bahasa Inggris dan pernah tinggal di luar negeri. SBY relatif benar dalam mengucapkan kosakata bahasa Inggris. Karena itu, ketika tokoh asal Pacitan, Jawa Timur, tersebut menggunakan bahasa campur-campur, tidak ada orang yang menertawakan, meski banyak orang yang menyesalkan. Mengapa sekelas presiden tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar? 

Dalam sebuah berita online (3/1/2011) diberitakan, saat membuka perdagangan Bursa Efek Indonesia, dalam pidatonya yang berdurasi 1 jam 8 menit, SBY telah menggunakan 54 kalimat yang bercampur dengan bahasa Inggris. Antara lain, ''Lebih baik yang realistic, achievable, attainable'' dan ''Sambil kita membangun diri menuju emerging power, emerging nation, emerging country, emerging economy, mari kita pastikan tiga pilar itu berjalan secara simultan.'' 

Bahasa SBY dan Alay 

Apa yang menjadi problem di antara kita sehingga penggunaan bahasa Indonesia tidak baik dan benar? Faktornya, pertama, tidak adanya pembinaan bahasa Indonesia yang memadai. Meski bahasa Indonesia diajarkan mulai 1 SD hingga perguruan tinggi, jam mata pelajaran atau mata kuliah yang tersedia tidak memadai. Kalau ada jam pelajaran atau mata kuliah bahasa Indonesia yang lebih, itu hanya pada program atau jurusan terkait, program atau jurusan bahasa Indonesia. 

Pemerintah sebenarnya telah memberikan pembinaan bahasa Indonesia kepada masyarakat. Kita ingat bagaimana TVRI pada masa Orde Baru menyiarkan program pembinaan bahasa Indonesia yang diasuh J.S. Badudu, ahli bahasa Indonesia dari Universitas Padjadjaran. Dalam Orde Baru, hanya ada satu stasiun televisi, yakni TVRI, sehingga banyak orang yang melihat acara itu. Namun, meski sekarang TVRI masih mempunyai program yang sama, apakah program pembinaan bahasa Indonesia masih ditonton banyak orang? 

Kedua, globalisasi dan banyaknya orang yang ingin disebut intelek membuat orang mencampurkkan bahasa asing saat berkomunikasi. Misalnya, bahasa Inggris dan bahasa Arab dengan bahasa Indonesia. Namun, bila SBY, misalnya, menggunakan bahasa campur-campur, apakah semua rakyat paham yang disampaikan itu? Seperti Vicky yang saat kampanye menjadi kepala desa menggunakan bahasa Inggris, mana orang desa paham (jangan-jangan Vicky sendiri juga tak tahu apa yang dia omongkan).

Penggunaan bahasa asing tidak hanya muncul dari mulut pejabat dan masyarakat, namun juga digunakan dalam nama tempat atau sarana-sarana umum. Istilah flyover, underpass, opening, car free day, ana, antum,  akhwat,  istiqomah, darussalam, dan banyak lainnya lagi menyeruak di tengah masyarakat. 

Ketiga, banyak bahasa alay atau bahasa gaul. Bahasa anak muda itu kian marak. Selain memang disukai anak muda, kehadirannya didukung media massa. Banyak media massa, terutama untuk kalangan anak muda, yang menggunakan bahasa itu. Di sini, media massa yang menggunakan bahasa alay juga turut merusak bahsa Indonesia. 

Bila ada orang yang menggunakan bahasa asing dalam bahasa Indonesia, sebenarnya mereka telah melanggar UU No 24 Tahun 2009, mulai pasal 25 hingga pasal 45. Misalnya, bila presiden sering menggunakan istilah asing yang membuat bahasanya campur-campur, berarti dia telah melanggar pasal 28: Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam pidato resmi presiden, wakil presiden, dan pejabat negara yang lain yang disampaikan di dalam atau di luar negeri, serta pasal 33 (1): Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam komunikasi resmi di lingkungan kerja pemerintah dan swasta. ●