Tampilkan postingan dengan label FX Wikan Indrarto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FX Wikan Indrarto. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Agustus 2021

 

Mendukung Ibu Menyusui secara Eksklusif

FX Wikan Indrarto ;  Dokter Spesialis Anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S-3 UGM

KOMPAS, 7 Agustus 2021

 

 

                                                           

Pekan Menyusui Sedunia (The World Breastfeeding Week) 2021 dimulai Minggu, 1 Agustus dan berakhir pada Sabtu, 7 Agustus. Tema peringatan tahun 2021 adalah Dukungan Menyusui (Protect Breastfeeding) karena meskipun dukungan pada ibu sangat penting, menyusui harus dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat yang membutuhkan investasi di semua tingkatan, mencakup sistem kesehatan, tempat kerja, dan komunitas di semua lapisan masyarakat.

 

Tulisan Prof Cesar G Victora, MD pada the Lancet berjudul Menyusui di Abad Ke-21: Epidemiologi, Mekanisme, dan Efek Seumur Hidup, menjelaskan pentingnya menyusui di semua negara. Di negara berpenghasilan rendah dan menengah, hanya 37 persen bayi di bawah usia enam bulan yang disusui secara eksklusif. Durasi menyusui lebih pendek di negara berpenghasilan tinggi daripada di negara miskin sumber daya.

 

Meta-analisis menunjukkan perlindungan terhadap infeksi anak dan maloklusi gigi, mendukung peningkatan kecerdasan, pengurangan kelebihan berat badan dan diabetes. Tidak ditemukan hubungan menyususi dengan alergi seperti asma, dengan tekanan darah tinggi, atau peningkatan kadar kolesterol, dan peningkatan kerusakan gigi berkaitan dengan periode menyusui yang lebih lama.

 

Bagi ibu menyusui, menyusui memberikan perlindungan terhadap kanker payudara, kanker ovarium, dan diabetes melitus tipe 2, juga meningkatkan jarak kelahiran. Peningkatan cakupan pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif ke tingkat yang hampir universal dapat mencegah 823.000 kematian tahunan pada anak balita dan 20.000 kematian perempuan tahunan akibat kanker payudara. Selain itu, Lancet pada 30 Januari 2016 juga menyimpulan bahwa ASI membuat dunia lebih sehat, lebih pintar, dan lebih setara, bahkan penghematan ekonomi sebesar 300 miliar dollar AS.

 

Tingkat menyusui sangat bervariasi, terkait pola hidup sehat yang lebih umum di negara miskin daripada negara kaya. Di negara berpenghasilan rendah, sebagian besar bayi masih disusui pada usia satu tahun, dibandingkan dengan kurang dari 20 persen di banyak negara berpenghasilan tinggi dan kurang dari 1 persen di Inggris. Alasan mengapa ibu menghindari atau berhenti menyusui berkisar dari medis, budaya, dan psikologis, hingga ketidaknyamanan. Hal ini tidak boleh dianggap sepele, karena banyak ibu tanpa dukungan menyusui yang memadai beralih ke susu formula.

 

Dukungan menyusui secara politis dapat berupa ketentuan baru tentang cuti hamil dan menyusui, juga adanya polis asuransi untuk kesulitan menyusui yang diprediksi dapat meningkatkan cakupan menyusui sebesar 25 persen. Namun,  yang lebih penting adalah dukungan komitmen yang tulus dan mendesak dari pemerintah dan otoritas kesehatan di mana pun, untuk membangun norma baru di mana setiap ibu dapat menyusui dan mampu menerima setiap dukungan yang dia butuhkan untuk melakukannya.

 

Penelitian perilaku ibu menyusui selama masa pandemi Covid-19 di Indonesia oleh tim peneliti Health Collaborative Center (HCC) menunjukkan bahwa prevalensi keberhasilan pemberian ASI eksklusif di Indonesia pada tahun 2020 mencapai sebesar 89,4 persen. Dijelaskan oleh Ketua Tim Peneliti, Dr dr Ray Wagiu Basrowi bahwa hasil penelitian terbaru ini merupakan suatu keberhasilan yang terjadi di tengah keterbatasan akibat pandemi Covid-19. Pasalnya, pada tahun-tahun sebelum pandemi Covid-19 melanda, Indonesia tergolong negara yang rendah keberhasilan program ASI eksklusif di dunia, dengan prevalensi sekitar 30-50 persen saja secara nasional.

 

Namun, semakin banyak ibu menyusui yang terkonfirmasi Covid-19, dapat menurunkan cakupan pemberian ASI eksklusif, karena kekawatiran ibu untuk menularkan penyakitnya kepada bayi. Dukungan menyusui saat pandemi Covid-19 diperlukan oleh semua ibu yang positif Covid-19.

 

Ibu perlu diyakinkan bahwa menyusui dan memberikan ASI aman bagi bayi dari risiko penularan Covid-19, asalkan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Ibu harus selalu memakai masker saat menyusui dan merawat bayi, mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang bayi, dan membersihkan dengan cairan disfeksi permukaan dan benda yang sering disentuh ibu dan bayi.

 

Untuk ibu dengan gejala klinis sedang dan tidak mampu menyusui secara langsung, dapat melakukan pemberian ASI perah (ASIP). Ibu haruslah memastikan kebersihan saat memerah ASI. Gunakan cangkir bermulut lebar untuk memberikan ASIP pada bayi dan gunakan wadah dengan tutup untuk menyimpan ASIP.

 

ASIP dapat disimpan dengan beberapa cara, yaitu di freezer dengan suhu minus 18 hingga minus 20 derajat celsius, ASIP dapat bertahan selama empat bulan. Di lemari pendingin bawah dengan suhu 4-5 derajat celsius, ASI dapat bertahan 3-4 hari. Di kotak ice pack dengan suhu 15 derajat celcius, ASI dapat bertahan selama 24 jam, sedangkan di ruangan dengan suhu kamar, ASI dapat bertahan selama 3-4 jam.

 

Momentum Pekan Menyusui Dunia juga mengingatkan kita akan pentingnya memberikan Dukungan Menyusui bagi semua ibu untuk menyusui bayinya secara eksklusif, meskipun ibu terkonfirmasi Covid-19.

 

Apakah kita sudah bertindak bijak? ●

 

Senin, 19 April 2021

 

Kesehatan Anak Pascapandemi Covid-19

FX Wikan Indrarto ; Dokter Spesialis Anak di RS Panti Rapih Yogyakarta; Lektor Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana

KOMPAS, 19 April 2021

 

 

                                                           

Selama dua dekade terakhir, epidemiologi kesehatan anak global telah berubah secara signifikan, demikian pula kesejahteraan anak. Ketika semua negara berusaha membangun kembali negaranya setelah pulih dari ganasnya pandemi Covid-19, diperlukan evolusi substansial dalam berbagai program untuk memenuhi kebutuhan kesehatan anak yang berubah.

 

Pola kematian dan penyakit pada anak berubah secara dramatis. Tren menunjukkan bahwa kematian yang dapat dicegah sekarang tertinggi pada periode bayi baru lahir. Meski demikian, sebenarnya pneumonia, diare, dan malaria yang diperparah oleh malnutrisi masih juga terus berdampak besar pada anak balita. Ini terutama terjadi di antara populasi paling terpinggirkan di Sub-Sahara Afrika, di mana populasi anak justru diperkirakan tumbuh beberapa dekade mendatang.

 

Di beberapa negara, kematian pada remaja (berusia 15-19 tahun) justru meningkat karena kecelakaan lalu lintas di jalan raya, kekerasan fisik, dan melukai diri sendiri. Peningkatan jumlah anak dan remaja yang masih bertahan hidup banyak yang dipengaruhi oleh kejadian cidera, gangguan perkembangan, penyakit tidak menular, dan kesehatan mental yang buruk.

 

Kelebihan berat badan dan obesitas di kalangan remaja dengan cepat meningkat sehingga banyak negara menghadapi beban ganda malnutrisi, baik berupa kekurangan maupun kelebihan gizi. Tantangan ini cenderung diperparah oleh pergeseran demografis.

 

Peningkatan jumlah anak yang tinggal di pusat kota pada tahun-tahun mendatang membatasi kesempatan untuk mendapatkan udara bersih dan beraktivitas fisik sehingga menyebabkan tekanan serius pada berbagai fasilitas layanan kesehatan di daerah jika tanpa intervensi khusus.

 

Orientasi program

 

Kesehatan dan kesejahteraan anak dan remaja harus jadi pusat upaya untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) pada 2030. Dunia perlu mengubah orientasi program untuk mencapai SDGs.

 

Negara hanya dapat berkembang dan makmur jika berinvestasi untuk anak dan remaja, dan mengoptimalkan dukungan dalam momen penting pembentukan kesehatan anak di masa depan, dengan menggunakan pendekatan alur kehidupan (lifecourse approach).

 

Dengan pemikiran ini, meningkatkan kesehatan anak tak boleh lagi hanya dianggap semata masalah kesehatan. Kebijakan, layanan, dan edukasi harus ditempatkan sebagai bagian dari solusi oleh pemerintah dan masyarakat untuk mendorong agenda kesehatan anak dan remaja global, regional, dan nasional.

 

Hampir setahun setelah Covid-19 dinyatakan sebagai pandemi, peningkatan luar biasa terlihat pada pembalikan risiko kelangsungan hidup anak dan remaja. Kerangka SDGs yang diadopsi di 2015 memang telah mencakup pendekatan holistik untuk meningkatkan kesehatan anak/remaja dan masih relevan setelah pandemi berakhir, tetapi perlu penajaman fokus.

 

Kerangka kerja ini dulu disusun berdasarkan tren tingkat makro sehingga saat ini membutuhkan perubahan besar dalam paradigma tentang kesehatan anak dan remaja. Perlu peralihan dari fokus yang sebelumnya hanya tentang kelangsungan hidup anak di bawah lima tahun menjadi keterkaitan kesehatan ibu, bayi baru lahir, anak, dan remaja, dengan pemahaman tentang alur kehidupan manusia, tak hanya pada masa dini, tetapi juga harus berlanjut sepanjang kehidupan anak hingga dewasa.

 

Perubahan demografi dan beban penyakit telah memaksa setiap negara memperkuat sistem kesehatannya agar lebih responsif terhadap perubahan kebutuhan anak dan remaja.

 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Anak-anak (Unicef) telah memulai upaya untuk mengarahkan kembali strategi kesehatan anak, mengalihkan perhatian ke perspektif alur kehidupan, dan menjauh dari fokus eksklusif sebelumnya, yaitu hanya terkait kelangsungan hidup bayi dan anak balita.

 

Prinsip pemrograman ulang (redesign) kesehatan anak berupa program kesehatan anak dan remaja serta implementasi kebijakannya harus mengikuti pendekatan alur kehidupan (life course perspective), yang didasarkan pada data tentang beban penyakit.

 

Pemrograman ulang ini termasuk memastikan layanan kesehatan prakonsepsi yang baik, layanan kesehatan ibu hamil, serta intervensi medis yang berkualitas tinggi untuk anak sampai remaja yang berusia nol hingga 19 tahun.

 

Program baru harus berdasarkan hak dan adil sehingga intervensi dan layanan medis penting harus disediakan untuk semua anak, di mana pun mereka tinggal. Selain itu, program juga harus mencakup layanan terpadu yang berpusat pada keluarga, anak, dan remaja dalam bentuk mempromosikan kesehatan, pertumbuhan, dan kesejahteraan.

 

Implementasinya meliputi pembentukan ketahanan atau imunitas, mencegah paparan terhadap penyakit dan komplikasi selanjutnya, dan meminimalkan kerentanan atau faktor risiko sakit, dengan mempertimbangkan kebutuhan personal anak dan remaja.

 

Masyarakat dan keluarga harus diberdayakan untuk berpartisipasi dalam perancangan kebijakan pada anak dan remaja untuk penyediaan layanan kesehatan yang berkualitas pasca-pandemi Covid-19. ●

 

Senin, 09 April 2018

Berkontribusi Capai Cakupan Layanan Kesehatan Semesta

Berkontribusi Capai
Cakupan Layanan Kesehatan Semesta
FX Wikan Indrarto  ;   Sekretaris IDI Wilayah DIY; Dokter Spesialis Anak;
Lektor di FK UKDW Yogyakarta; Alumnus S-3 UGM
                                              MEDIA INDONESIA, 07 April 2018



                                                           
PADA Hari Kesehatan Sedunia (World Health Day), Sabtu, 7 April 2018, setiap orang diharapkan mengambil peran untuk berkontribusi mencapai dan mempertahankan universal health coverage (UHC) atau cakupan layanan kesehatan semesta. Apa yang sebaiknya dilakukan?

Hari Kesehatan Sedunia diselenggarakan untuk memperingati lahirnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 7 April 1948 sebagai badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa. WHO bermarkas di Jenewa, Swiss, dengan anggota hampir mencapai 200 negara. Badan tersebut melaksanakan program berskala dunia untuk mencegah dan melenyapkan penyakit.

Tujuannya ialah 'pencapaian tingkat kesehatan yang tertinggi untuk seluruh umat manusia di dunia', dengan kesehatan didefinisikan sebagai 'kesejahteraan yang seutuhnya baik fisik, mental, maupun sosial'.

Dengan UHC, WHO akan memastikan semua orang mendapatkan layanan kesehatan berkualitas, di mana pun dan kapan pun mereka membutuhkannya, tanpa menderita kesulitan keuangan. UHC ialah kunci terciptanya derajat kesehatan dan kesejahteraan bagi masyarakat dan bangsa sehingga UHC layak dilakukan. Semua negara akan mencapai UHC dengan cara yang berbeda.

Sedikitnya setengah penduduk dunia saat ini tidak dapat memperoleh layanan kesehatan esensial. Hampir 100 juta orang didorong ke dalam kemiskinan ekstrem, dipaksa bertahan hidup hanya dengan US$1,90 atau kurang sehari, karena mereka harus membayar layanan kesehatan dari kantong mereka sendiri.

Lebih dari 800 juta orang (hampir 12% dari populasi dunia) menghabiskan setidaknya 10% dari anggaran rumah tangga mereka untuk biaya kesehatan bagi diri mereka sendiri, anak yang sakit, atau anggota keluarga lainnya. Mereka menanggung apa yang disebut pengeluaran bencana atau catastrophic expenditures.

UHC tidak berarti cakupan gratis (does not mean free coverage) untuk semua layanan kesehatan karena tidak ada negara yang dapat memberikan semua layanan tanpa biaya secara berkelanjutan.

UHC tidak hanya menjamin paket layanan kesehatan minimum, tapi juga memastikan perluasan cakupan layanan kesehatan dan perlindungan finansial secara progresif karena tersedia lebih banyak sumber daya.

UHC bukan hanya tentang perawatan medis untuk individu, melainkan juga mencakup layanan untuk keseluruhan populasi seperti layanan kesehatan masyarakat, misalnya menambahkan fluorida ke air di kamar mandi atau mengendalikan tempat berkembang biak nyamuk yang membawa virus yang dapat menyebabkan penyakit dengue.

Perubahan kebijakan

Semua negara, termasuk di Indonesia, diharapkan membawa perubahan kebijakan mencapai UHC untuk memperbaiki derajat kesehatan, memacu pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan sosial. Komisi kesehatan parlementer, termasuk Komisi IX DPR, dan kelompok pemerhati kesehatan berperan menengahi antara pemerintah yang menyusun kebijakan dan yang menjalankannya. Ruang lingkup Komisi IX DPR meliputi tenaga kerja dan transmigrasi, kependudukan, dan kesehatan.

Selain itu, partai politik seharusnya juga terlibat dalam menyusun program untuk memenuhi kebutuhan kesehatan para pendukung partai dan konstituen. Asosiasi profesional kesehatan, seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), berperan untuk melindungi kesejahteraan anggotanya sebagai tenaga kerja profesional. Organisasi masyarakat sipil seperti LSM yang bekerja di lapangan dapat berperan untuk mewakili keprihatinan dari kelompok populasi yang berbeda, juga berperan mencapai UHC.

Media massa termasuk para pengguna media sosial dapat membantu meningkatkan pemahaman masyarakat, tidak hanya tentang UHC, tetapi juga aspek transparansi dan akuntabilitas dalam pembuatan kebijakan. Awak media seharusnya kita dorong untuk menyoroti adanya inisiatif dan intervensi kebijakan publik, yang telah membantu memperbaiki akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas dan terlindung dari dampak buruk finansial bagi masyarakat. Caranya dengan menunjukkan apa yang terjadi bila warga masyarakat tidak mampu memerlukan dan mendapatkan layanan kesehatan yang mereka butuhkan.

Para pejabat pemerintahan disarankan untuk berdialog terstruktur dengan berbagai pemangku kepentingan guna memastikan terbentuknya UHC. Diharapkan, dapat dipastikan tuntutan, opini, dan harapan warga masyarakat mengenai hal-hal terkait dengan UHC untuk perbaikan kebijakan. Pendapat warga dapat diperoleh melalui dialog tatap muka, survei atau bahkan referendum, untuk mengeksplorasi solusi UHC yang layak.

Warga masyarakat sebagai individu dapat menggunakan suaranya sendiri untuk menuntut terciptanya sistem layanan kesehatan yang baik. Semua warga masyarakat sebagai individu, juga kelompok masyarakat sipil dan petugas kesehatan, diharapkan dapat mengomunikasikan kebutuhan, pendapat, dan harapannya kepada pembuat kebijakan, politisi, menteri, dan bahkan presiden.

Diperlukan kebulatan suara untuk memastikan kebutuhan kesehatan masyarakat diperhitungkan dan diprioritaskan di tingkat lokal, regional, atau bahkan nasional.

Hari Kesehatan Sedunia (World Health Day) 2018 pada hari ini mengingatkan kita bahwa di Indonesia UHC akan diwujudkan melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Apakah kita telah ikut mewujudkan?

Minggu, 21 Mei 2017

Peran Kebangsaan Dokter

Peran Kebangsaan Dokter
FX Wikan Indrarto  ;   Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta
                                                    KORAN SINDO, 20 Mei 2017



                                                           
Tanggal 20 Mei tidak hanya diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, tetapi juga sebagai Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI).
Mulai 2008 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) secara rutin menyelenggarakan HBDI, agar para dokter zaman seka - rang meneladani para dokter seniornya dalam berbakti un tuk negeri. Apa yang harus di laku - kan oleh para dokter? Dokter seharusnya tidak hanya mengobati (agent of treatment), tetapi juga menjadi agen perubahan (agent of change) dan agen pembangunan (agent of development).

Kebangkitan nasional tidak terlepas dari peran besar dokter sebagai agen perubahan dan pembangunan, yaitudrWahidinSoediro hoesodo, dr Soetomo, dan teman-teman dokter dalam pembentukan Boedi Oetomo pada 1908. Profesi dokter zaman se - karang sangat dipengaruhi oleh program besar Jaminan Ke - seha tan Nasional (JKN) yang diterapkan mulai 1 Januari 2014. Perubahan drastis dalam sistem pembiayaan pasien pada era JKN ini diduga telah menye - babkan perubahan besar pada alur pikir dan tindakan medik oleh dokter, bahkan pen dapatan finansial sebagian besar dokter.

Selain itu, pembatasan kebebasan profesi dokter sebagai agent of treatment dalam peng - ambilan keputusan medik pada pelayanan pasien diduga telah menimbulkan penolakan da - lam diam bagi banyak dokter, atas sistem JKN yang dirasakan belum adil. Para dokter se harus - nya mewujudkan baktinya un - tuk negeri dengan tidak sekadar mengkritik, tetapi juga me - nyumbangkan pemikiran, niat baik, dan kompetensinya, demi terwujudnya sistem JKN di Indonesia yang lebih baik. Selain itu, saat ini Indonesia sedang mengalami masalah besar, dalam kehidupan ber - bangsa dan bernegara.

Ancam - an terbesar adalah potensi kon - flik karena kepentingan dua kelompok besar dalam Pilkada 2017, yang menyebabkan polar - isasi hebat dan kita ham pir ter - belah. Keberagam an, kemaje - muk an, dan kebinekaan kita se - bagai sebuah bangsa besar justru terlihat berpotensi se - bagai awal perpecahan. Pada - hal, dalam semangat dan sem - boyan Bhinneka Tunggal Ika, sebenarnya kita justru ber - potensi menjadi negara maju seperti sudah semakin jelas ter - lihat dalam program Nawacita dan hasil kerja Presiden Joko Widodo, meskipun dalam ke be - ragaman.

Para dokter Indonesia tentu saja wajib mendukung kebinekaan kita sebagai sebuah bangsa, sebagaimana telah di - teladankan oleh dr Wahidin Soedirohoesodo. Dokter yang lahir pada 7 Januari 1852 di Mlati, Sleman, yang waktu itu menjadi wilayah Kesultanan Ngayogyakarta Hadi ningrat sangat senang ber - gaul dengan rakyat biasa se hing - ga mengetahui benar apa arti penderitaan rakyat. Dia juga sangat menyadari bagai mana terbelakang dan tertindasnya rakyat Hindia Belanda akibat kekejaman sistem penjajahan Belanda. Menurutnya, salah satu cara untuk membebaskan diri dari penjajahan, rakyat harus lah cerdas.

Untuk itu, rakyat harus diberi kesempatan mengikuti pendidikan di sekolah-sekolah resmi. Dua hal pokok yang menjadi perjuang - an dr Wahidin, dan seharusnya juga dilakukan para dokter za - man sekarang, ialah mem per - luas pendidikan dan pengajaran serta memupuk kesadaran ke - bangsaan. Gagasan tersebut dike mu - ka kannya kepada para pelajar School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) di Jakarta, yaitu sekolah untuk pendidikan dokter pribumi pada zaman kolonial Hindia Belanda.

Gagasan besar ter - sebut khususnya tentang per lu - nya mendirikan organisasi yang bertujuan memajukan pen - didikan dan meninggikan mar - tabat bangsa. Gagasan ini ter - nyata disambut baik oleh para pelajar STOVIA tersebut. Pada akhir tahun 1907 dr Wahidin ber temu Sutomo, seorang pelajar dari STOVIA di Jakarta. Berdasar pertemuan itu Sutomo menceritakan kepada teman-temannya di STOVIA maksud dan tujuan dr Wahidin. Akhirnya pada 20 Mei 1908 lahirlah Budi Utomo. Para dokter Indonesia zaman sekarang memang tidak harus sampai membentuk sebuah organisasi seperti Boedi Outomo, tetapi rasanya lebih pas dalam menyebarluaskan se - mangat dan paham kebangsaan di seluruh Indonesia.

Langkah besar tersebut telah dilakukan dr Wahidin waktu itu dengan berkeliling ke kota-kota besar di Pulau Jawa, mengunjungi tokoh-tokoh masyarakat, dan kalangan priayi Jawa antara tahun 1906-1907. Pengajaran tentang keberagaman, kema - jemuk an, dan kebinekaan kita sebagai sebuah bangsa dalam semangat dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, seharus - nya juga dilakukan oleh dokter.

Dalam bahasa Latin “Duco, ducere, duxi, ductus’ yang me - rupakan asal kata dokter berarti memimpin atau memper timbang kan, maka wajar saja kalau dokter memiliki kewajiban me - mimpin warga bangsa. Selain itu, dokter wajib mengajak mempertimbangkan hal yang terbaik tentang keberagaman, kemajemukan dan kebinekaan kita. Tentu demi terwujudnya Indonesia seperti yang di - rumus kan dan dicita-citakan oleh segenap pendiri bangsa.

Hal ini dapat dimulai dengan ikut serta secara aktif meredam perpecahan paham dan muncul nya pendapat yang sangat keras di sekitar kehidupan para dokter, baik di lingkup keluarga maupun komunitas pekerjaan. Para dokter dapat juga memanfaatkan luasnya pergaulan, mahirnya iptek, dan besarnya pengaruh atau kewibawaan profesi. Selain itu, menggalang kebersamaan dengan berbagai pihak yang memiliki keprihatinan serupa, agar potensi perpecahan dapat diredam.

Momentum 20 Mei 2017 seharusnya memunculkan para dokter dengan peran lain, yaitu peran perubahan dan pembangunan kebangsaan, sebagaimana telah dilakukan oleh dr Wahidin dalam pembentukan Boedi Oetomo dahulu. Apa kah sanggup?


( Mohon maaf, proses editnya belum diselesaikan )

Jumat, 13 Februari 2015

Hari Orang Sakit Sedunia

Hari Orang Sakit Sedunia

FX Wikan Indrarto   ;   Dokter Spesialis Anak RS Bethesda Yogyakarta,
Alumnus S-3 UGM
KORAN SINDO, 12 Februari 2015
                                                        
                                                                                                                                     
                                                

Hari Orang Sakit Sedunia (World Day of the Sick) ditetapkan oleh Sri Paus Yohanes Paulus II pada 13 Mei 1992 dan mulai dirayakan pada 11 Februari 1993.

Bapa Suci menetapkan Hari Orang Sakit Sedunia (HOSS) setahun setelah didiagnosa menderita penyakit parkinson pada awal 1991. Apa yang sebaiknya kita ketahui? Ketiga tema HOSS yang terus-menerus didengungkan setiap 11 Februari adalah mengingatkan semua orang beriman untuk berdoa secara khusyuk dan tulus bagi mereka yang sedang sakit.

Kedua, mengundang semua orang beriman untuk merefleksikan sakit dan penderitaan manusia. Ketiga, penghargaan bagi semua orang yang bekerja dalam bidang kesehatan. Subtema HOSS 2015 ini mengajak kita untuk merenungkan dari perspektif ”sapientia cordis ” (kebijaksanaan hati) seturut seruan Paus Fransiskus. Pertama, kebijaksanaan hati berarti melayani saudara-saudara kita yang sedang sakit, yang diawali dengan kemurnian hati, pelayanan dan bela rasa, sampai menghasilkan buah yang baik.

Dalam pelaksanaan melayani orang sakit tersebut, kita diharapkan mampu bersikap seturut semangat Ayub, ”Saya mata untuk orang buta, dan kaki bagi orang lumpuh” (Ayub 29:15) kepada sesama yang sakit, khususnya orang miskin, anak yatim, dan janda. Hari ini juga kita semua diajak untuk menunjukkan bukan dengan kata-kata, tetapi dengan kehidupan yang berakar dalam iman sejati bahwa kita mampu menjadi ”mata untuk orang buta” dan ”kaki bagi orang lumpuh”.

Pelayanan kita tidaklah harus dilakukan dengan menjadi petugas kesehatan bagi para pasien. Sebenarnya kita dapat sekadar dekat dengan orang sakit, terutama yang membutuhkan perawatan lama, membantu dalam memandikan, berpakaian, mencucikan dan menyuapkan makanan.

Layanan sederhana seperti ini terutama bila dilakukan berkepanjangan, pastilah dapat menjadi sangat melelahkan dan memberatkan. Apalagi pada pasien yang sakit berat sudah pasti tidak lagi mampu mengungkapkan rasa terima kasihnya, karena kesadarannya sudah jauh menurun. Meskipun tidak ada yang menginginkannya, setiap manusia akan mungkin mengalami sakit, penderitaan, bahkan dapat berlanjut dengan kematian.

Sakit yang ringan sekalipun sebaiknya digunakan sebagai sebuah momentum penting untuk mensyukuri sehat. Apalagi sakit berat, kronis, dan kemungkinan sembuhnya kecil seperti kanker, sudah seharusnya menjadi momentum untuk menyatukan kita semua umat manusia. Kita diingatkan untuk bersandar pada Tuhan menyadari pentingnya iman bagi mereka yang sakit dan berbeban berat untuk datang kepada Tuhan.

Dalam pertemuan dengan Tuhan melalui caranya masingmasing, mereka yang sakit akan menyadari bahwa dirinya tidak sendirian. Kita dapat membantu orang sakit agar masa penderitaannya dapat diubah menjadi masa rahmat. Sering kali dalam penderitaan sakitnya orang mudah terjatuh untuk menjadi putus asa dan kehilangan harapan.

Pada saat itulah kita yang sehat sebaiknya menekankan akan penyertaan Tuhan, sehingga masa sakit tersebut dapat diubah menjadi masa rahmat Ilahi dengan permenungan mendalam untuk mengevaluasi kembali hidup seseorang, mengakui kegagalan, buruknya perilaku hidup, dan kesalahan, serta membangkitkan kerinduan akan Tuhan dan mengikuti jalan menuju rumah-Nya.

 Kedua, kebijaksanaan hati seharusnya diartikan bahwa waktu yang kita habiskan dengan orang sakit, apalagi melayaninya, adalah waktu suci. Sering kali kita lupa nilai khusus tentang waktu yang dihabiskan di samping tempat tidur orang sakit, karena alasan terburuburu dan terjebak dalam hirukpikuk aktivitas rutin.

Kebijaksanaan hati berarti bahwa kita memberikan waktu mendampingi saudara yang sakit, karena kita secara bebas mengurus dan bertanggung jawab untuk orang lain. Ketiga, kebijaksanaan hati berarti menunjukkan solidaritas dengan saudara-saudara kita dan tidak menghakimi mereka atas sakit yang mereka alami.

Saat mengunjungi, merawat, dan menemani orang sakit, diam saja pun sudah mencukupi seperti teman-teman Ayub: ”Dan mereka duduk dengan dia di tanah tujuh hari tujuh malam dan tidak ada yang berbicara sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat bahwa penderitaannya sangat besar.” (Ayub 2:13). Bagi kita semua yang sehat, memberikan pendampingan, penghiburan dan perhatian untuk mereka yang sakit sangatlah berarti.

Selain itu, kita disadarkan akan pergerakan roda kehidupan. Pada saat sehat kita seharusnya meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan dana untuk membantu mereka yang sakit. Pada saat yang lain sangat mungkin kita sendiri justru menjadi orang yang sakit dan memerlukan hal sama dari semua orang di sekitar kita sebagaimana pergerakan dan putaran roda kehidupan.

Pada sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang sekarang berlaku di Indonesia, kendali mutu dan kendali biaya pelayanan kesehatan untuk pasien yang sakit akan lebih mudah terwujud. Kendali tersebut juga penjaminan pembiayaan pasien dilakukan oleh BPJS Kesehatan. Hal ini dapat terwujud karena kebebasan profesi dokter semakin mampu direduksi, kompleksitas masalah medis pasien makin dapat diabaikan, dan mutu pelayanan medik yang dilakukan semakin dapat disetarakan.

Jaminan pembiayaan pasien apabila tetap di dalam pengendalian akan dapat menjangkau seluruh rakyat Indonesia (universal health coverage) dengan dana BPJS Kesehatan yang tersedia. Terjadi perubahan besar dalam sistem pembiayaan kesehatan di Indonesia setelah sistem JKN diberlakukan sejak 1 Januari 2014. Jasa medis yang diterima petugas kesehatan pada umumnya terjadi penurunan nominal dibandingkan dengan pada saat sistem kesehatan yang lama.

Penghargaan bagi petugas kesehatan layak diberikan terutama karena dedikasinya yang tetap tinggi dan tidak berubah dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi para pasien sesuai ketentuan dalam program JKN.

Dengan momentum Hari Orang Sakit Sedunia 11 Februari 2015 kita diingatkan agar memiliki kebijaksanaan hati bagi para orang sakit. Sudahkah kita bertindak untuk meringankan beban orang sakit di sekitar kita?  

Rabu, 17 Desember 2014

Kekerasan Remaja

                                                   Kekerasan Remaja

FX Wikan Indrarto  ;   Dokter Spesialis Anak di RS Bethesda Yogyakarta,
Alumnus S-3 FK UGM
KORAN SINDO,  16 Desember 2014

                                                                                                                       


Ada data menarik yang bisa kita dapatkan dari Global Status Report on Violence Prevention 2014 dari 133 negara yang merupakan laporan tentang penganiayaan anak, kekerasan remaja, pelecehan seksual, dan penelantaran manula.

Sekitar 250.000 kasus pembunuhan remaja terjadi sepanjang tahun 2013, yaitu 43% dari total jumlah pembunuhan global setiap tahun. Apa yang sebaiknya kita sadari? Kekerasan remaja memiliki dampak serius karena sering kali berlangsung seumur hidup, tidak hanya pada aspek medis, tetapi juga pada fungsi psikologis dan sosial.

Wajar saja bila kekerasan remaja terbukti meningkatkan biaya pelayanan kesehatan, kesejahteraan, dan peradilan pidana, juga mengurangi produktivitas dan umumnya bahkan merusak struktur sosial di masyarakat. Untuk setiap kasus kekerasan remaja, 40% mengalami cedera berat, yang memerlukan perawatan di rumah sakit.

Cedera ini mencakup 24% gadis remaja yang mengalami kekerasan seksual. Kekerasan remaja merupakan masalah kesehatan masyarakat global. Ini mencakup berbagai tindakan dari bullying dan fighting secara fisik ataupun seksual hingga bahkan yang lebih parah adalah pembunuhan.

Tingkat pembunuhan remaja bervariasi. Namun di semua negara, remaja laki-laki merupakan mayoritas pelaku dan juga korban pembunuhan. Tingkat pembunuhan pada remaja perempuan jauh lebih rendah daripada laki-laki di hampir semua negara. Pembunuhan dan kekerasan remaja tidak hanya berkontribusi besar terhadap beban global kematian dini, cedera, dan cacat, tetapi juga memiliki dampak serius, sering kali bahkan seumur hidup, pada fungsi psikologis dan sosial seseorang.

Hal ini dapat memengaruhi keluarga korban, teman, dan masyarakat. Pada rentang tahun 2000-2012, tingkat pembunuhan remaja menurun di sebagian besar negara meskipun penurunan telah lebih besar di negara-negara berpenghasilan tinggi daripada di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Kekerasan seksual juga menduduki proporsi yang signifikan, yaitu 24% gadis remaja mengalami kekerasan dalam rumah tangga berupa kekerasan seksual pertama mereka. Laporan Multi-Country Study on Women’s Health and Domestic Violence menyebutkan bahwa kekerasan fisik dan intimidasi juga umum di kalangan remaja. Laporan dari 40 negara berkembang menunjukkan bahwa intimidasi terjadi pada 45,2% remaja laki-laki dan 35,8% gadis atau remaja perempuan.

Faktor yang dapat meningkatkan terjadinya kekerasan remaja sangat kompleks, meliputi diri remaja sendiri, keluarga, dan komunitas atau negara. Faktor risiko dalam diri individu remaja meliputi sifat hiperaktif, impulsif, agresif, kontrol perilaku yang buruk, kurang perhatian, keterlibatan awal atau kecanduan alkohol, obat-obatan dan rokok, keyakinan aneh, dan sikap antisosial.

Selain itu juga kecerdasan dan prestasi pendidikan yang rendah, rendahnya minat dan kegagalan di sekolah, berasal dari orang tua tunggal atau rumah tangga kurang harmonis, perceraian orang tua, dan paparan kekerasan dalam keluarga.

Faktor risiko dalam hubungan dengan orang dekat dalam keluarga atau teman meliputi kurangnya pemantauan dan pengawasan remaja oleh orang tua, pendidikan disiplin orang tua yang terlalu keras, kendur atau bahkan tidak konsisten, keterikatan antara orang tua dan remaja yang rendah, keterlibatan orang tua dalam kegiatan remaja yang rendah, dan orang tua terlibat dalam penyalahgunaan obat atau kriminalitas.

Selain itu juga pendapatan keluarga yang rendah dan bergaul dengan remaja lainnya yang sejenis. Faktor risiko dalam komunitas dan masyarakat yang lebih luas meliputi rendahnya tingkat kohesi sosial dalam masyarakat atau geng remaja dan pasokan senjata atau obat-obatan terlarang, tidak adanya alternatif nonkekerasan untuk menyelesaikan konflik antarremaja, ketimpangan pendapatan yang tinggi, perubahan sosial dan demografi yang cepat, urbanisasi, serta kualitas pemerintahan suatu negara.

Dalam hal ini meliputi penegakan hukum dan kebijakan pemerintah di bidang pendidikan dan perlindungan sosial. Program pencegahan kekerasan yang sudah terbukti efektif juga dapat dibaca pada Global Status Report on Violence Prevention 2014.

Pencegahan tersebut meliputi program keterampilan dan pembangunan sosial untuk membantu remaja mengelola kemarahan, menyelesaikan konflik, dan mengembangkan keterampilan sosial yang diperlukan untuk memecahkan masalah, kurikulum sekolah berbasis program pencegahan antiintimidasi, dan kurikulum prasekolah agar anak memiliki kemampuan akademik dan sosial sejak usia dini.

Dalam tataran hukum dan aspek keamanan, dapat berupa program untuk mengurangi akses remaja ke alkohol, obat, dan rokok, yaitu melalui peningkatan pajak dan pengurangan jumlah gerai penjualan. Yang terakhir, meningkatkan pengelolaan lingkungan, misalnya mengurangi kesempatan remaja berkerumun dan mengurangi konsentrasi kemiskinan dengan membantu keluarga pindah ke lingkungan sosial yang lebih baik.

Program pencegahan yang sudah terbukti berhasil di dalam Global Status Report on Violence Prevention 2014 layak kita contoh, juga dengan mengoreksi faktor risiko kekerasan yang ada. Tentunya agar remaja di sekitar kita terbebas dari ancaman kekerasan.

Kamis, 05 Desember 2013

Inspirasi untuk Dokter

Inspirasi untuk Dokter
Fx Wikan Indrarto ;   Dokter spesialis anak di RS Bethesda Yogyakarta,
Alumnus S-3 UGM
MEDIA INDONESIA,  03 Desember 2013

  

VONIS bersalah dan hukuman badan 10 bulan oleh Mahkamah Agung untuk tiga dokter spesialis kebidanan di Manado sudah berkekuatan hukum tetap. Kematian Julia Makatey pascaoperasi pada 2010 dianggap para hakim agung sebagai kesalahan dokter, yaitu tindak pidana perbuatan kealpaan, yang menyebabkan mat inya orang lain. Inspirasi apa yang sebaiknya kita cermati?

Aksi solidaritas dokter seluruh In donesia dan po lemik di media massa meman cing perdebatan tiada henti dan mudah mengaburkan hal yang paling penting, dari kejadian yang sesungguhnya. Munculnya sengketa hukum tersebut, serupa dengan banyak kasus yang lain, ternyata dipicu ketidakpuasan keluarga pasien atas kinerja dokter.

Ketidakpuasan tersebut sebenarnya berawal dari hal yang sepele, yaitu kesan keluarga atas tindakan membiarkan pasien Julia Makatey, yang mengalami kesakitan selama beberapa jam. Ketidakpuasan keluarga semakin memuncak karena terus bergulir termasuk tidak terpenuhinya persetujuan keluarga untuk tindakan operasi (informed consent), ketidakramahan dokter saat keluarga pasien menanyakan kejadian yang sesungguhnya setelah pasien meninggal, bahkan sampai usaha dokter menutup perkara dengan pemberian uang tali asih kepada keluarga.

Ketidakpuasan awal sebenarnya merupakan `kesalahpahaman' antara dokter dan pasien karena kesakitan hebat dalam awal proses persalinan merupakan hal yang alami dan secara medis cukup dilakukan pemantauan ketat. Pemantauan yang dilakukan dokter itu merupakan rutinitas dokter, tetapi merupakan hal yang asing untuk para pasien tertentu, terutama ibu muda yang belum pernah melahirkan.

Kalau dokter menganggap hal itu sepele dan tidak memberi penjelas secara memadai, tentu hal itu akan menimbulkan kesan pembiaran, yang memicu awal kekecewaan dan merusak hubungan baik dokter dengan pasien. Ketidakpuasan awal yang berlanjut tidak sesuai dengan prinsip hubungan dokter dengan pasien, yaitu hubungan yang berdasarkan atas kepercayaan. Keberhaa silan tata laksana penyakit dan pengobatan medis pasien banyak dipengaruhi juga oleh seberapa besar kepercayaan pasien kepada dokternya.

Selain kepercayaan, komunikasi merupakan hal pokok dalam hubungan dokter dengan pasien sehingg a komunikasi yang baik di antara keduanya memegang peran sangat penting. Komunikasi yang baik harus meliputi pemberian informasi tentang penyakit, tindakan medis yang akan dilakukan, termasuk risiko terburuk yang mungkin terjadi, kepada pasien dan keluarganya. Hal itulah yang sebenarnya merupakan inspirasi utama dari kasus Manado itu, yaitu bahwa dokter diingatkan untuk selalu mengedepankan komunikasi yang baik dan meningkatkan hubungan saling percaya dengan pasien dan keluarganya, meskipun dalam keadaan darurat.

Selain itu, munculnya kekecewaan awal pada keluarga pasien seharusnya dikenali dan segera dikoreksi dokter agar tidak semakin membesar. Pada setiap tahap pertemuan dengan pasien, dokter diharuskan memberikan informasi dan nasihat medis. Saat berperan dalam proses pengajaran nasihat medis itu, dokter seolah menjadi guru bagi pasien. Dokter diingatkan bahwa sebutan dokter berasal dari kata docere, docio, doctus dalam bahasa Latin yang berarti mengajar. Nasihat medis tersebut merupakan inti komunikasi dokter dengan pasien.

Polemik di media massa dan aksi solidaritas dokter di seluruh Indonesia memang ingar-bingar, tetapi janganlah menutup mata para dokter untuk menemukan inspirasi utama yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin.Bagaimanapun juga dokter tetaplah manusia biasa, yang kadang kala lengah dalam langkah, juga sering lemah dalam relasi dan menyepelekan komunikasi.

Momentum ini merupakan teguran untuk dokter agar tidak hanya berkonsentrasi dalam kompetensi medis, tetapi keterampilan berkomunikasi dokter selayaknya juga diasah, ditingkatkan, dan disempurnakan secara terus-menerus tentunya agar dapat terbina kebersamaan (partnership) dengan pasien, menghasilkan keluaran klinis yang memuaskan kedua pihak, meminimalkan kesalahpahaman dan ketidakpuasan keluarga pasien, bahkan dapat menghindarkan munculnya sengketa hukum yang tidak perlu.