Tampilkan postingan dengan label Panggung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Panggung. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Juni 2016

Panggung

Panggung

Goenawan Mohamad ;   Esais; Mantan Pemimpin Redaksi Majalah TEMPO
                                                       TEMPO.CO, 13 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Nama samarannya "Prapanca". Ia menggambarkan dirinya sebagai lelaki yang tak disukai para perempuan istana, tak fasih bicara, parasnya tak riang. Tapi ia penulis reportase pertama dalam sejarah Indonesia: Desawarnana, yang rampung ditulisnya pada 1365, adalah laporan kunjungan perjalanan darat Hayam Wuruk, Raja Majapahit, ke pelbagai wilayah kekuasaannya.

Sayangnya, Prapanca seorang pencatat yang terbatas. Kakawinnya lebih merupakan rekaman kesan-kesan tentang tamasya dan tontonan dari tempat ke tempat. Desawarnana adalah travelogue abad ke-14. Ia bukan catatan peristiwa-peristiwa.

Mungkin karena Prapanca bukan sepenuhnya orang dalam istana. Kakawin yang hilang dan baru ditemukan lebih dari 500 tahun kemudian di Lombok ini ia tulis setelah ia tersingkir dari pusat kekuasaan. Diduga ia menyelesaikannya di sebuah desa di Bali. Deskripsi tentang dirinya di akhir kakawin menggambarkan profil seseorang yang tak merasa mampu bergabung dengan para penyair lain yang menulis seloka-seloka untuk memuja Raja. Bisa jadi ini menandai kepahitan dan kekecewaan yang dicoba disembunyikannya.

Apa gerangan yang terjadi? Mengapa ia tersingkir? Harus saya katakan, kakawin yang juga disebut Negarakertagama ini bukan informasi yang memadai tentang kehidupan politik masa itu. Prapanca dengan memikat menggambarkan tembok kota dari batu merah yang tinggi, gapura berukir, pohon-pohon tanjung berbunga lebat, taman bertingkat, dan arsitektur candi dengan menara yang menjulang. Perhatiannya lebih ke hal estetis ketimbang politis. Tentang sakit dan wafatnya Gajah Mada dan perundingan rahasia di istana untuk mengatasi kehilangan perdana menteri yang tak tergantikan itu Prapanca hanya menyebutnya dalam beberapa kalimat.

Penulis ini mungkin tak tahu. Kekuasaan dalam Negarakertagama-nya tak ditandai pangeran-pangeran yang berambisi atau para perwira yang siap dengan pasukan. Administrasi pemerintahan hanya kelihatan dalam klasifikasi pedesaan. Selebihnya, tanda hadirnya kekuasaan adalah kunjungan raja dan upacara meriah yang berulang kali. Tak ada konflik. Tak ada penaklukan. Satu-satunya yang mirip itu terjadi dalam perburuan; para hewan hutan kalah menghadapi pasukan Hayam Wuruk.

Tapi benarkah Majapahit hanya ibarat pesta yang berpindah-pindah?
Clifford Geertz memperkenalkan istilah yang kemudian terkenal: negara sebagai "theatre state", yang ia simpulkan dari pengamatannya tentang Bali abad ke-19. Di sana Negara memerintah dengan simbol dan ritual, bukan dengan kekuatan yang memaksa. Kerajaan berjalan bukan melalui administrasi yang efektif ataupun penaklukan, melainkan melalui "spectacle" yang dipertunjukkan dengan memukau.

Mungkin itu pula yang bisa dikatakan tentang Negarakertagama Prapanca: sebuah pentas. Upacara jadi tujuan utama. Kemegahan dan kemeriahan itu bukan buat melayani kekuasaan, melainkan kekuasaan itu yang justru untuk melayani kemegahan. Kata Geertz, "Power served pomp, not pomp power."

Ada yang mencatat bahwa "theatre state" itu tak hanya fenomena Bali dan Majapahit. Upacara dan peneguhan simbol bisa dilihat dalam tradisi Kerajaan Inggris dan mungkin di negara-negara di mana konstitusi belum dituliskan. Negara memerlukan panggung-dan ia jadi panggung.

Tapi saya kira Geertz mengabaikan satu hal: di panggung itu sebenarnya kita tak tahu di mana pomp mulai dan power berakhir. Seperti umumnya dalam sejarah, kekuasaan, kekerasan, dan pemaksaan selalu tersembunyi dalam diri Negara. Setidak-tidaknya dalam genealoginya. Dengan mengagungkan seorang ratu dari Singasari sebagai chattra ning rat wisesa ("pelindung bumi yang utama"), Prapanca menunjukkan pertalian Kerajaan Singasari di abad ke-13 dengan Majapahit di abad ke-14. Dan kita tahu Singasari didirikan Ken Arok; ia tumbuh dari pembunuhan dan penaklukan.

Dalam menafsirkan masa lalu sebagai bagian masa kini, dalam merangkai upacara Hayam Wuruk dari pentas ke pentas yang berbeda, Prapanca ingin menunjukkan Majapahit sebagai sebuah bangunan yang koheren dan konsisten. Seantero wilayahnya diibaratkan satu kota dalam telatah Raja: salwaning yawabhumi tulya nagari sasikhi ri panadeg. Tapi sejauh mana yang dianggap "satu kota" itu bisa mengingkari multiplisitas yang tak tepermanai, yang tak bisa konsisten? Negara mana pun, juga negara modern, tak akan bisa.

Pernah Desawarnana Prapanca menampilkan pentas sebagai karnival: Hayam Wuruk ikut membanyol, rakyat datang berduyun, terkadang mabuk, tanpa diarahkan. Dalam karnival, seperti kata Mikhail Bakhtin, struktur, hierarki, dan hukum ditangguhkan. Mungkin di situ tampak sisi Negara yang hendak disembunyikan, tapi yang malah membuatnya hidup: selalu akan ada politik yang tak mengekalkan struktur, melainkan mengingatkan bahwa manusia itu setara.

Rabu, 16 September 2015

Panggung

Panggung

Bre Redana  ;  Penulis Kolom “Udar Rasa” Kompas Minggu
                                                     KOMPAS, 13 September 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Panggung adalah refleksi kehidupan, di mana dulu baik pada masyarakat tradisional di sini maupun pada zaman klasik dan modern di Barat orang berkaca diri. Pertemuan langsung antara pemain di panggung dan penonton itulah yang seketika membedakan antara panggung dan dunia film maupun televisi. Pada dua yang disebut terakhir, hubungan manusia dimediasi citra.

Untuk urusan panggung, proyek Indonesia Kita yang dimotori oleh Butet Kartaredjasa dan Agus Noor merupakan salah satu proyek tontonan paling sukses di TIM tahun-tahun belakangan ini. Setiap kali pentas, tiket selalu ludes. Kadang, jumlah pementasan harus ditambah.

Mereka telah menemukan sistem produksi yang efisien dan efektif. Di situ termasuk formula estetiknya, yang sebenarnya biasa dilakukan oleh kelompok-kelompok kesenian rakyat kita di masa lalu, entah wayang, ketoprak, maupun yang mutakhir kelompok lucu Srimulat pada zamannya.

Kelompok-kelompok panggung tradisional kita melakukan pengolahan keseniannya dalam tradisi yang berbeda dibanding tradisi berteater di Barat. Siapa saja yang mempelajari teater Barat tentu akrab dengan istilah reading, tafsir atas reading, blocking, moving, dan seterusnya. Proses reading alias membaca dan menafsir naskah bisa berlangsung berbulan-bulan sebelum berlanjut ke pengadeganan.

Sebaliknya pada teater rakyat kita, proses berlangsung terbalik. Yang diutamakan adalah posisi, gerak, sesuatu yang berhubungan dengan tubuh. Tak ada naskah, apalagi naskah yang rinci. Yang ada hanyalah apa yang mereka kenal dengan istilah penuangan, di mana sutradara atau pimpinan grup membagikan gagasan cerita pada para pemain. Kelompok Srimulat yang berpentas setiap malam di Taman Ria Senayan pada tahun 1980-an, melakukan penuangan beberapa menit sebelum pertunjukan dimulai. Setelah itu pemain mengembangkannya sendiri di atas panggung. Hal seperti itu pasti masih dilakukan oleh kelompok-kelompok kesenian rakyat yang masih tersisa sekarang.

Semua tadi bisa berjalan dikarenakan kecakapan, keterampilan, kemampuan merespons situasi, diandaikan telah melekat pada para seniman panggung. Spontanitas mereka tidak jatuh dari langit. Mereka terasah memproyeksikan diri sebagai tokoh untuk menghidupkan cerita, lewat proses panjang berkesenian yang mereka geluti dan tekuni bertahun-tahun. Ditambah energi yang muncul karena kehadiran penonton, lengkaplah panggung menjadi miniatur kehidupan.

Ya, pertemuan langsung alias sesrawungan selalu memunculkan energi. Hakikat manusia adalah makhluk sosial. Peradaban manusia sendiri berangkat dari kebutuhan bersosialisasi yang menjadi sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial. Kebudayaan lahir dari ritual, termasuk ekspresinya yang paling kuno, yakni tari. Waktu itu bahasa belum ada. Tubuh menjadi piranti sosial pertama.

Kini, signifikansi tubuh makin ditinggalkan orang. Politik tubuh digantikan istilah yang diucapkan banyak orang namun barangkali tak dipahami benar maknanya, yakni politik pencitraan. Dengan ditinggalkannya signifikansi tubuh yang berarti juga signifikansi tindakan, terjadi kesenjangan antara kata dan perbuatan. Terlebih ketika hubungan manusia dimediasi oleh citra, serta piranti-piranti teknologi informasi. Spontanitas tindakan diganti dengan spontanitas celetukan seperti Anda temui di Twitter.

Sejatinya, kesenian hanya sarana untuk mengungkap segi-segi terdalam manusia, termasuk antara lain kebutuhannya untuk bersosialisasi atau sesrawungan tadi. Pada titik itu, soal-soal teknis seperti menyangkut kriteria estetik kesenian bakal teratasi dengan sendirinya. Justru pamrih berkesenian itu yang dalam beberapa hal perlu dihilangkan. Meminjam paradoks Zen: karena aku berkesenian maka aku tidak berkesenian.

Jangan terlalu percaya pada televisi, dan lain-lain media kontemporer. Mereka telah menjadikan hidup sebagai reality show. Kita perlu kembali kepada kewajaran hidup.