Tampilkan postingan dengan label Billy Boen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Billy Boen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Januari 2014

Mengejar Sukses di Tahun 2014

                                Mengejar Sukses di Tahun 2014

Billy Boen  ;   CEO PT YOT Nusantara; Director PT Jakarta International Management (JIM); Shareholder, Rolling Stone Café
KORAN SINDO,  03 Januari 2014
                                                                                                                       


Pertama-tama saya ingin mengucapkan Selamat Tahun Baru 2014 untuk Anda. Semoga tahun lalu adalah tahun yang mengesankan, dan tahun ini akan menjadi tahun yang lebih baik dari tahun lalu. Pada 31 Desember lalu, saya menulis artikel terakhir saya di tahun 2013 tentang enam hal yang harus dilakukan untuk membuat resolusi tahun baru (www.youngontop.com). 

Intinya, resolusi yang kita buat harus spesifik, optimistis-realistis, dan bermakna untuk diri kita sendiri sehingga kita akan terus termotivasi dalam proses pencapaiannya. Fokus, punya komitmen, dan tidak menyerah juga harus ada di dalam karakter kita agar apa yang kita targetkan untuk kita capai, bisa tercapai. Kita semua tahu bahwa kita kalau kita mau jujur terhadap diri kita sendiri, bahwa kita tidak akan bisa mendapatkan semua hal yang kita inginkan di dunia ini. Terlepas dari banyaknya kata-kata motivasi yang bilang, “Kalau Anda benar-benar menginginkannya, Anda pasti bisa.” 

Saya lebih memilih untuk realistis dan berpendapat bahwa kita tidak bisa mendapatkan semua yang kita inginkan, terlepas seberapa besar keinginan kita. Namun benar, semakin besar keinginan kita, semakin besar pula kesempatan yang kita miliki untuk bisa mendapatkannya. Bukan pasti, tapi peluangnya yang lebih besar. Beberapa hari yang lalu, saya membaca akun Twitter @Nike: The best resolutions are the ones we keep, artinya: resolusi terbaik adalah yang kita pegang teguh (dan terus dijalankan). Saya setuju. 

Tidak perlu membandingkan resolusi tahun baru yang kita buat dengan resolusi tahun baru yang dibuat oleh teman Anda. Tidak penting. Setiap individu punya kebutuhan dan keinginan yang berbeda. Kita semua juga berasal dari latar belakang keluarga, pendidikan, status sosial, agama, dan tempat kelahiran yang berbeda, yang membuat kita pun memiliki prioritas pencapaian dalam hidup yang berbeda pula. Kalau teman Anda ada yang memiliki resolusi tahun baru untuk membeli rumah baru, apakah lantas Anda juga harus memiliki resolusi tahun baru yang sama atau bahkan lebih tinggi dari resolusi tahun baru teman Anda tersebut? 

Tidak! Menurut saya, resolusi atau target-target yang Anda buat untuk dicapai di tahun ini, seharusnya berbasis dari apa yang Anda lewati di tahun lalu, baik pencapaian maupun kegagalan. Apa saja yang belum berhasil Anda capai tahun lalu, kalau dirasa tetap penting, coba masukkan kembali di resolusi Anda tahun ini. Dan di dalam proses pencapaiannya nanti, coba dengan cara yang berbeda dari apa yang Anda telah lakukan tahun lalu, supaya hasilnya tidak sama lagi. Dan, untuk hal-hal yang Anda telah capai tahun lalu, dan kalau Anda rasa hal tersebut masih penting untuk Anda lakukan lagi lebih baik lagi di tahun 2014 ini masukkan kembali ke dalam daftar resolusi Anda tahun ini.
Untuk Anda yang saat ini berstatus sebagai karyawan, di level apa pun, milikilah target untuk memiliki karier yang lebih baik di tahun ini. Entah apakah lewat promosi jabatan, atau mendapatkan pekerjaan yang lebih baik (dari segi tantangan, ruang lingkup kerja, jabatan, maupun gaji dan bonus) di tempat lain. Bagaimana caranya? 

Sebelum saya banting setir dari karyawan menjadi seorang pengusaha di tahun 2009 lalu, saya pernah merasakan promosi jabatan empat tahun berturut- turut. Di tahun kelima saya bekerja, saya berhasil melamar ke perusahaan baru dan langsung dipercaya untuk memimpin perusahaan tersebut. Menjadi general manager Oakley Indonesia di usia 26 tahun, yang menjadikan saya sebagai GM Oakley termuda di dunia saat itu, merupakan pencapaian yang tak terlupakan. 

Dan ketika berhasil menaikkan penjualan Oakley sekitar 280% selama tiga tahun saya menjabat, saya pun diminta untuk bergabung di MRA Grup untuk memimpin tiga perusahaan yang beroperasi di bawah naungan grup tersebut, memimpin sekitar 500 orang karyawan, di saat umur saya masih 29 tahun. Apa yang saya lakukan untuk bisa mencapai itu semua? Selain karena saya memang bekerja di area yang sesuai dengan “kecintaan” saya (passion), juga selalu memiliki target besar yang selalu saya berikan ke diri sendiri. 

Saya tidak pernah menunggu orang lain untuk memberikan tantangan untuk diri saya. Sebelum atasan memberikan perintah, sering kali saya yang berinisiatif untuk datang ke atasan dan berdiskusi atas apa-apa saja yang ingin saya capai. Saya selalu memastikan bahwa apa yang akan saya capai sesuai dengan apa yang diharapkan oleh atasan. Pernah tidak Anda merasa sudah melakukan yang terbaik, tapi atasan Anda tidak mengapresiasi hasil kerja Anda tersebut?
Sering kali ini disebabkan Anda tidak berada di “satu halaman” yang sama dengan atasan Anda. Pengharapan atasan akan hasil yang seharusnya Anda capai berbeda dengan interpretasi Anda akan hal yang seharusnya Anda capai. Jadi, penting di awal tahun ini, Anda duduk dan berdiskusi dengan atasan Anda untuk mengetahui apa-apa saja yang sebaiknya Anda lakukan dan capai. Jangan menebak-nebak, ini bukan permainan, ini pekerjaan. Keberhasilan Anda ditentukan oleh pencapaian Anda atas apa yang diharapkan oleh perusahaan untuk Anda capai.
Saya juga selalu memastikan bahwa saya tidak bekerja sendirian. Saya sadar bahwa keberhasilan ditentukan oleh keberhasilan rekan-rekan kerja. Bukan lantas saya mencoba mengatur atau sok memberikan arahan-arahan untuk rekan-rekan kerja saya, namun setidaknya saya sering berdiskusi dengan rekan kerja yang bahkan berbeda departemen dengan saya. Kita harus sadari bahwa kemajuan perusahaan tidak ditentukan oleh satu departemen saja. Jadi kalau di dalam perusahaan hanya satu departemen yang berhasil, sementara departemen yang lain gagal, maka kemungkinan perusahaan tersebut bangkrut tetap ada. 

Saya sering memberikan masukan-masukan kepada departemen lain (dalam kesempatan informal maupun formal), yang mana hal tersebut pastinya akan membantu kinerja saya maupun tim saya. Ini yang saya sebut sebagai penuh inisiatif dalam membantu orang lain. Dan percaya deh, kalau Anda terus menerus melakukan ini, dan dengan tulus, rekan-rekan kerja Anda pasti akan bisa merasakannya. Jangan kaget, kalau mereka sudah merasakan ketulusan Anda, mereka tidak akan segan-segan membantu Anda. Singkat kata, be nice ke rekan kerja. 

Untuk Anda yang sekarang adalah seorang entrepreneur, tidak banyak yang bisa saya sharing di sini kecuali, berikanlah tantangan terbesar untuk diri Anda maupun perusahaan Anda. Inilah yang saya lakukan di tahun ini. Setelah saya mengajak anak-anak muda Indonesia untuk #MakeItHappen (2011), #AchieveMore (2012), dan #FocusMore (2013), tahun ini saya menargetkan diri saya, dan mengajak Anda sekalian untuk membawa diri kita maupun perusahaan milik kita atau tempat kita bekerja untuk ke tempat yang lebih tinggi lagi, #NextLevel. Tentunya, dengan memberikan target yang besar saja akan sama saja “bohong”. Kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk mencapainya.
Akhir kata, sekali lagi saya ucapkan Selamat Tahun Baru 2014, let’s take it to the #NextLevel! See you ON TOP! Billy Boen  ●

Sabtu, 21 Desember 2013

Makna Olah Raga

Makna Olah Raga
Billy Boen  ;    CEO PT YOT Nusantara; Director PT Jakarta International Management (JIM); Shareholder, Rolling Stone Café
KORAN SINDO,  20 Desember 2013
  


Tanpa kita sadari, banyak yang bisa kita pelajari dari semua cabang olahraga yang ada, untuk kita aplikasikan ke dalam kehidupan kita ini. Tentunya saya tidak akan membahas semua cabang olah raga yang ada di dunia ini, tapi hanya sebagian. Dalam kesempatan ini, saya ingin mengajak Anda untuk dalam menjalani kehidupan ini, berpikir dan bertindaklah layaknya seorang atlet profesional. 

OK? Maraton 

Lari jarak jauh sepanjang 42,195 kilometer ini seperti kehidupan yang kita miliki. Atlet maraton tidak dianjurkan untuk berlari cepat di awal, karena mengingat perjalanan yang jauh. Yangmerekaharuslakukan adalah untuk menjaga kecepatan yang konsisten, dan untuk mencapai garis finis “strong”. Maraton bukan hanya menantang manusia secara fisik, melainkan lebih secara mental. Di kehidupan pun demikian, orang-orang yang sukses adalah mereka yang secara mental dapat menghadapi semua tantangan dan melewati semua rintangan yang ada. 

Mereka yang terus maju terlepas mereka mulai merasa lelah, mulai berpikir sulit dan bahkan tidak mungkin. Di lomba maraton, semua yang berada di garis start menginginkan satuhal: menyelesaikan lomba tersebut. Namun pada kenyataannya, banyak yang tidak mencapai garis finis. Di kehidupan pun demikian, ketika kita lahir dan mulai tumbuh dewasa, kita memiliki cita-cita yang besar (ingin jadi presiden, jadi Insinyur, jadi astronot, dan sebagainya). 

Dan anehnya, cita-cita itu mulai kandas, dan banyak yang akhirnya memilih untuk menyerah. Mereka memilih untuk menjadi orang yang biasa-biasa saja. Mereka tidak lagi berusaha keras untuk mencapai arti sebuah kesuksesan yang mereka inginkan. Seperti yang saya sering katakan, hanya “2%” orang yang akan merasakan arti sebuah kesuksesan. Ke mana yang “98%” lainnya? Ya jadi orang yang biasa-biasa saja. Anda pilih yang mana? 

Sepak Bola 

Cabang olahraga ini, beserta cabang olahraga beregu lainnya, sering kali dijadikan ilustrasi, contoh, dan dibahas di seminarseminar tentang teamwork. Kenapa? Ya, karena memang di dalam sebuah tim sepak bola, dibutuhkan kerja sama tim yang kompak, dan banyak elemen yang sama dengan kehidupan kita ini. Pernah mendengar pendapat yang mengatakan bahwa sebuah tim sepak bola yang berisikan semua pemain bintang, belum tentu akan memenangkan pertandingan apabila dihadapkan dengan sebuah tim yang hanya berisikan satu atau dua pemain bintang (dan sudah bermain selama bermusim-musim)? 

Di sini jelas bahwa sebuah tim hanya memerlukan beberapa pemain bintang, seorang kapten (pemimpin), dan sisanya adalah mereka yang mampu untuk mendukung timnya memenangkan pertandingan. Kekompakan adalah kuncinya. Ya, kapten atau pemimpinnya juga hanya perlu satu orang, tidak boleh lebih. Karena apa? Karena timnya akan bingung apabila mendengarkan instruksi dari dua orang yang berbeda. Mau sukses? Anda butuh orang lain, Anda butuh kerja sama dan kolaborasi dengan orang lain. Tidak ada Superman di dunia ini. Kita akan selalu butuh pertolongan dari orangorang di sekitar kita. Saran saya: Be nice. 

Formula 1 

Ini adalah ajang balap mobil tercepat di dunia yang sering kali dijuluki lomba “jet darat”. Dari puluhan lap yang harus mereka selesaikan, di tengahtengah perlombaan tersebut, mobil balap ini diharuskan untuk berhenti di pit stop untuk mengisi bahan bakar, menyetel hal-hal yang dirasa perlu untuk diperbaiki, dan untuk mengganti ban. Ini yang sering dilupakan oleh banyak orang yang sudah terjun ke dunia kerja. Apakah Anda adalah seorang karyawan atau seorang entrepreneur, Anda harus menyempatkan diri Anda untuk mengambil cuti atau liburan. 

Apakah 1–2 hari, atau beberapa minggu setiap tahunnya. Saya yakin cuti adalah hak setiap karyawan, dan di semua perusahaan pasti menyediakan hak cuti bagi karyawannya. Jangka waktunya memang berbeda- beda antarperusahaan. Sebenarnya apa sih tujuannya perusahaan membolehkan karyawannya untuk mengambil cuti? Sama seperti F1, kita manusia pun perlu untuk istirahat. Kita semua perlu untuk me-recharge diri kita, sehingga ketika kita melanjutkan “lomba”, kita bisa tetap melaju dengan kencang, atau bahkan lebih kencang dari sebelumnya. 

Saya sendiri tahun 2012 lalu tidak mengambil libur, karena kesibukan saya saat itu. Dan baru tahun ini saya mengambil libur. Ketika mengetik artikel ini, saya sedangberada diPhuket, dan sedang bersiap untuk menuju Phi Phi dan Krabi, untuk selanjutnya ke Bangkok, Chiang Mai, dan menutup liburan 22 hari saya di Singapura. Lomba Formula 1 juga memiliki satu nilai lagi: siapa yang tercepat, dialah yang pantas untuk naik podium dan dianggap sebagai pemenang. Di dalam kehidupan pun demikian, siapa yang mampu untuk bekerja dengan cepat, tidak menyia-nyiakan waktu, akan lebih sukses dibandingkan dengan mereka yang bekerja lambat. 

Semua yang pernah bekerja satu kantor dengan saya, atau yang pernah menjadi anggota dari tim saya pasti tahu bahwa salah satu kelebihan saya adalah “kecepatan”. Prinsip saya dalam bekerja dan berkarier: kalau bisa dilakukan lebih cepat, kenapa tidak? Ini bukan hanya sebuah teori belaka, karena saya telah buktikan dengan lulus S-1 2 tahun 8 bulan, lulus S-2 dalam kurun waktu satu tahun, dan cukup bekerja 4,5 tahun untuk akhirnya dipercaya menjadi General Manager Oakley Indonesia di umur 26 tahun. Di lomba balap Formula 1 juga tidak ada jalan pintas. Sama, di kehidupan pun demikian. Kita tidak bisa mengambil jalan pintas. Untuk sukses, kita harus melewati sebuah proses. Kita harus melewati lap 1, lap 2, lap 3, dan seterusnya, hingga lap terakhir. 

Catur 

Ini adalah salah satu olahraga berpikir yang ada di dunia ini. Bukan lantas olahraga lain tidak memerlukan otak. Yang saya maksud di sini adalah bahwa olahraga ini hanya memakai otak, bukan otot-otot yang lain. Meski demikian, setelah bermain catur, bisa dipastikan kita akan merasa lelah, kenapa? Ya karena kita akan dipaksa memikirkan strategi dan langkah apa yang akan kita ambil sepanjang pertandingan. Nah, sama kan dengan kehidupan ini? Saya sering bilang, “Kita nggakakan ke mana-mana kalau kita tidak tahu mau ke mana.” Orang-orang yang memilih untuk mengikuti arus, tidak akan mencapai hal-hal besar di dalam hidupnya. 

Kapan rencana hidup itu harus kita buat? Semuda mungkin. Karena kalau kita baru membuat rencana di tengah jalan, pastinya sudah banyak “salah langkah” yangtelahkitalakukan. Kita pasti sudah menyia-nyiakan waktu kita apabila kita mengubah strategi dan langkah kita di tengah jalan. Selain membuat rencana, kita juga perlu dan harus memiliki target yang ingin dicapai dalam hidup ini. Kalau di catur, target kita adalah mematikan raja milik lawan, kalau di kehidupan, kita juga pastinya punya target yang ingin dicapai, apa itu? Cita-cita. Sayangnya, banyak sekali orang yang saya temui yang tidak berani memiliki cita-cita. Kalaupun punya, mungkin cita-citanya ibarat di pertandingan catur: untuk memakan kuda milik lawan. Ini bukan cita-cita tinggi! Kalau punya citacita, harus yang besar; mematikan raja milik lawan! Itu baru cita-cita.

Tinju 

Semua atlet tinju (dan bela diri lainnya) pasti pernah merasakan pukulan yang keras dari lawannya. Terkadang pukulan ini hanya membuat kita tergores, atau bahkan membuat kita semaput dan terjatuh. Tapi apakah dengan terjatuh, kita langsung dikatakan kalah? Tidak. Di dalam kehidupan nyata, sering kali kita “dihajar” oleh hal-hal yang membuat kita sempoyongan. Terkadang kita terjatuh. Dan anehnya, banyak yang memilih untuk terus “terjatuh” dan tidak berusaha untuk bangkit dan melanjutkan pertandingan. Sudah banyak yang mengatakan peribahasa demikian (entah siapa yang mengatakan pertama kalinya): Sukses itu bukan soal berapa kali kita terjatuh, tapi berapa kali kita terjatuh kemudian bangkit. 

Kesimpulan 

Sampai kapan pun, selama kita masih bernapas, kita akan selalu dihadapkan oleh tentangan dan rintangan. Kalau mau sukses, ya kita harus tidak mengumpat dari tantangan tersebut. Kita harus hadapi tantangan dan melewati rintangan- rintangan yang ada. Randy Pausch PhD. (almarhum, Dosen Carnigie Mellon University, pengarang buku The Last Lecture) pernah bilang bahwa tembok yang ada di depan kita bukan untuk membuat kita berada di luar, namun untuk mengetes seberapa kita menginginkan kesuksesan. Tembok ini akan menjadi tolok ukur siapa yang benar-benar menginginkan untuk sukses, dan siapa yang tidak. See you ON TOP!
 ●

Sabtu, 14 Desember 2013

Apa Tujuan Anda?

Apa Tujuan Anda?
Billy Boen  ;   CEO PT YOT Nusantara;
Director PT Jakarta International Management (JIM); Shareholder, Rolling Stone Café
KORAN SINDO,  13 Desember 2013
  


Beberapa hari yang lalu saya baru mendengar ada ospek di sebuah perguruan tinggi di Indonesia yang dalam prosesnya merenggut nyawa seorang mahasiswa barunya. Sedih, kesal, marah, campur aduk di dalam benak dan hati saya saat itu. 

Di dalam hidup, kita harus punya tujuan yang ingin kita capai. Kita harus tahu apa tujuan tersebut. Seringkali saya katakan, “Kita tidak akan ke mana-mana kalau kita tidak tahu mau ke mana.” Begitu juga dalam bertindak. Semua hal yang kita lakukan di dalam keseharian kita pun harus punya tujuan yang jelas. Mengapa kita menggosok gigi? Ya, agar gigi kita bersih. Kenapa kita harus belajar? Supaya kita pintar. 

Kenapa harus olahraga? Supaya sehat. Dan seterusnya. Saya beruntung, ketika lulus SMA, saya kuliah di Amerika Serikat. Di sana ada yang namanya orientation week, agendanya: bertemu dosen dan mahasiswa tingkat II dan III untuk diberikan informasi letak gedunggedung di kampus beserta fungsinya masing-masing. Kami juga diberikan sejarah tentang kampus, diajak ke computer lab untuk diajari berbagai macam sistem jaringan yang ada untuk memudahkan pengerjaan tugas. 

Masih banyak hal lainnya, termasuk malam keakraban dengan semua mahasiswa baru. Ada pentas tarinya, semua mahasiswa diwajibkan untuk memakai baju rapi. Orientasi selama satu minggu itu begitu berkesan. Kami semua bangga dan senang akhirnya masuk ke dalam sebuah jenjang pendidikan yang lebih tinggi, satu jenjang sebelum kami terjun ke masyarakat dan bertempur untuk menjadi orang-orang yang sukses. 

Nah, di Indonesia, kenapa masih ada ospek yang berbasis “plonco”? Mereka disuruh berpakaian aneh, dipermalukan di depan teman-temannya, bahkan ada yang dipukuli oleh yang senior. Kasihan, memalukan!

Saya orang yang rasional. Hampir semua tindakan saya berbasis pemikiran: masuk akal atau tidak? Kalau tidak masuk akal, saya akan tidak segansegan bilang: Tidak! Saya jadi teringat ospek ketika saya baru masuk ke bangku SMA kelas 1. Karena SMP dan SMA Tunas Karya tempat saya menimba ilmu itu berada di satu gedung sehingga ketika saya masuk SMA, saya sudah tahu bagaimana ospek yang dilakukan di SMA itu. 

Seperti kebanyakan sekolah, ya itu tadi, ospek dibuat sedemikian rupa untuk menunjukkan kesenioritasan kakak kelas terhadap anak-anak baru. Memang tidak ada pemukulan dan sebagainya. Tapi, seingat saya, mempermalukan atau membentak anak baru itu hal wajar yang terjadi di ospek SMA. Beberapa hari sebelum ospek dimulai, saya mengumpulkan temanteman dekat saya dan kami membahas maksud dan tujuan ospek serta pelaksanaannya. 

Menurut kami, tidak masuk akal. Tidak akan ada hal positif yang akan kami dapatkan selama satu minggu. Maka itu, kami putuskan untuk tidak mengikuti ospek. Saya lupa apa kegiatan kami selama tidak mengikuti ospek. Yang pasti kami “menertawakan” pelaksanaan ospek dan “mengasihani” teman-teman kami yang tidak berani untuk tidak mengikuti ospek serta tunduk pada sebuah tradisi yang tidak ada maknanya. 

Setelah masa ospek selesai kami dipanggil guru dan kepala sekolah. Mereka menanyakan kenapa kami tidak ikut ospek. Kami utarakan pendapat kami. Mereka pun bilang bahwa salah satu syarat kelulusan SMA adalah mengikuti ospek. Kami tidak ada yang mendebat hal tersebut. Kenapa? Karena kami tahu bahwa ketika tahun depannya kami ikut ospek, temanteman kami sudah menjadi anggota OSIS. 

Mereka menjadi panitia ospek dan mereka tidak akan membentak-bentak dan mempermalukan kami. Terlepas dari pengalaman ospek yang saya alami di SMA, saya mengasihani mereka yang mau mempertahankan tradisi yang tidak bermakna, yang tidak memiliki nilai positif. 

Buat apa dipertahankan? Saya juga mengasihani pimpinan yang seharusnya bisa menghentikan tradisi yang tidak bermakna tersebut. Susah? Kata siapa? Tinggal bilang, “STOP!” Bagi yang tidak menaati, beri surat peringatan dan sanksi. Mudah! Mungkin Anda berpikir, “Ah, Mas Billy, tidak semudah itu.” 

Menurut saya: Mudah! Pimpinan adalah orang yang mengambil keputusan, yang membuat atau setidaknya memengaruhi kultur sebuah organisasi, dan pastinya, orang yang bertanggung jawab. Jadi kalau ada rektor yang bilang bahwa apa yang terjadi itu tanggung jawab dekan, mari kita sama-sama mengasihani rektor tersebut. Dia masih memegang teguh prinsip: Mari menyalahkan orang lain.

Percaya atau tidak, merasa senior dan ingin menunjukkan bahwa dia punya power dengan “menindas” orang baru, erat ada di benak dan perilaku orangorang yang sudah kerja. Saya tahu dari mana? Perhatikan saja perusahaan-perusahaan yang menerima anak magang. Si anak magang harus melewati proses penerimaan karyawan baru, mengirim CV, melewati proses interviu, dan tes, kemudian kalau lolos, mereka diterima magang di area yang sesuai minat mereka. 

Tapi, apa yang terjadi di kebanyakan perusahaan di Indonesia? Pada awal-awal mereka disuruh membuat kopi bagi karyawan seniornya, hanya disuruh memfotokopi dokumen-dokumen, dan sebagainya. Ini tidak terjadi untuk anakanak magang di PT YOT Nusantara yang saya dirikan. Belajar dari perusahaan-perusahaan di luar negeri, saya beserta tim inti di perusahaan menghormati anak-anak magang yang ada. 

Kami percaya anak magang akan memberikan nilai tambah di dalam operasional perusahaan kami. Sebab itu, kami menghormati mereka dengan memberikan tugas-tugas layaknya mereka karyawan kami. Yang ingin di sosial media, akan menangani hanya sosial media. Yang ingin di sales, hanya menangani sales. Dan seterusnya. 

Mereka bahkan kami berikan tugas dan tanggung jawab yang berat layaknya seorang karyawan. Kenapa? Karena saya percaya, magang adalah proses di mana mahasiswa mempelajari etika dalam bekerja. Di dalam proses magang inilah, mereka seharusnya mempersiapkan diri secara mental untuk suatu hari ketika lulus kuliah, akan menjadi seorang karyawan yang produktif dan mampu berkontribusi terhadap perusahaan tempatnya bekerja. 

Jadi, seperti yang saya kemukakan di awal, kita harus punya tujuan dalam hidup. Apa pun yang kita lakukan, juga harus punya tujuan. Pada umumnya, kalau tujuan yang ingin kita capai tidak bermakna bagi diri kita, sebaiknya kita pikirkan ulang, apakah benar itu tujuan yang ingin kita capai? 

Jangan lakukan ihwal yang menurut Anda tidak memiliki tujuan yang jelas. Berani katakana: Tidak! Apa tujuan Anda? Twit pendapat Anda dengan mention @billyboen dan #MilikiTUJUAN. Saya akan RT twit Anda. See you ON TOP! 
●

Jumat, 06 Desember 2013

Peduli : Awal Perubahan

Peduli : Awal Perubahan
Billy Boen  ;   CEO PT YOT Nusantara;
Director PT Jakarta International Management (JIM); Shareholder, Rolling Stone Café
KORAN SINDO,  06 Desember 2013

  

Ketika Sir Richard Branson datang ke Jakarta beberapa tahun lalu, dia sempat bilang, ”Entrepreneur terlahir karena kekecewaannya. Dia bisa kecewa, karena dia peka dan peduli.” 

Maksudnya apa? Dia menjelaskan bahwa pada umumnya, seseorang menjadi pengusaha itu ketika dia melihat ada yang tidak beres (peka), kemudian ingin memperbaikinya (peduli). Karena saya bukan orang yang suka berteori, kembali saya akan mencoba untuk memberikan contoh dari apa yang pernah dan sedang saya jalankan. Buku Young On Top, yang merupakan cikal bakal PT YOT Nusantara, lahir karena rasa kecewa saya terhadap tim saya di kantor saat itu. 

Ketika ada rapat mingguan yang dijadwalkan pukul 10.00, saya selalu sudah ada di ruangan pukul 09.55, sementara tim saya baru datang ke ruangan pukul 10.00, atau beberapa menit setelahnya; itu pun, mereka masih keluar lagi untuk mengambil barang mereka yang tertinggal di ruangannya. Rapat pun menjadi tidak tepat waktu mulainya. Contoh lain, saya saat itu juga sering melihat banyak manajer muda yang tingkah lakunya arogan. 

Sementara, saya juga kenal beberapa direktur yang rendah hati (humble). Salah satu orang yang membuat saya terkesan adalah Pak Soetikno Soedardjo, CEO MRA Group. Ketika di suatu kesempatan, saya bertemu dengannya, saya disalami dengan kedua tangannya. Langsung terlintas di pikiran saya saat itu, ”Wow, orang sukses yang satu ini humble sekali!” Dan, masih ada ratusan contoh lain, yang akhirnya membuat saya menulis buku Young On Top ini. 

Saya kesal dan kecewa denganbanyakhalyangterjadidi lingkungan saya saat itu. Selain soal on time, humble, saya juga sering melihat banyaknya anakanak muda yang tidak tahu apa passion-nya, tidak berani bermimpi besar, malas, tidak mau berusaha lebih keras (extra mile), tidak berpikiran terbuka, selalu menilai segala sesuatunya dari sisi yang negatif, dan masih banyak lagi. Saya kesal. Saya kecewa. Nah, tapi kalau saya tidak peka, apakah itu semua akan membuat saya kesal dan kecewa? 

Tentu tidak. Apa yang baru saya sampaikan ini, mungkin bukan hal yang rahasia. Kita semua tahu banyak sekali orangorang yang seperti demikian. Tapi, apakah banyak yang memberikan perhatian khusus? Saya pun tidak berhenti hanya pada level kesal dan kecewa. Setelah saya melihat kenyataan itu semua (peka), saya memilih untuk peduli. Saya ingin melakukan sesuatu. Itulah kenapa buku Young On Top saya tulis. 

Saya tidak berhenti sampai di situ, karena kepekaan saya terhadap fakta bahwa orang Indonesia tidak suka membaca, maka lahirlah ide untuk membawa buku ini menjadi acara radio mingguan, menjadi rangkaian campus roadshow, menjadi acara TV mingguan, menjadi platform digital untuk anak-anak muda, menjadi komunitas di 46 kota, hingga menjadi konsultan brand activation yang khusus menargetkan anak-anak muda Indonesia. 

PT YOT Nusantara, yang saya dirikan untuk mengurusi semua hal yang berkaitan dengan kegiatan Young On Top pun lahir, karena kepekaan dan kepedulian saya terhadap apa yang terjadi pada anak-anak muda Indonesia. Dengan visi: to create the next stronger generation of Indonesia, perusahaan ini terbentuk tahun lalu. Contoh lain yang bisa saya ceritakan di sini adalah proses pemikiran saya dalam membentuk JIM Executive, sebuah manajemen pembicara profesional. 

Aneh? Jelas, karena mungkin saat ini, JIM Executive adalah satu-satunya, atau paling tidak, manajemen pembicara profesional terbesar di Indonesia. Apa rasional di belakang pendirian unit bisnis yang bernaung di bawah PT. Jakarta International Management (milik saya dan Rudhy Buntaram)? Kembali kepada kenyataan, bahwa banyak sekali saat ini orang-orang yang ‘galau’. Ternyata, yang merasakan kegalauan ini bukan hanya ‘ABG’, tapi juga orang-orang yang sudah bekerja. 

Dari mana saya tahu ini? Karena banyaknya kampus maupun perusahaanperusahaan yang memanggil pembicara luar untuk berbagi kepada puluhan atau ratusan karyawannya. Tujuan utama: membangkitkan motivasi para karyawan. Menurut saya: salah kaprah. Karena kekecewaan saya yang melihat banyak kampus dan perusahaan yang memanggil pembicara yang hanya bisa ‘cuap-cuap’, hanya bisa berteori; bermodalkan baca banyak buku kemudian dirangkum ke dalam sebuah Power- Point serta latihan public speaking, maka JIM Executive pun saya bentuk. 

Saya ingin, anakanak muda Indonesia mendengarkan inspirasi nyata dari orang-orang yang memang benar sudah sukses secara karier. Saya ingin, mereka yang menjadi pembicara adalah orangorang yang memang sudah pantas untuk berbagi. CEO, Direktur, GM, atau pengusaha (entrepreneur). Kini, JIM Executive sudah meng-handle sekitar 22 CEO/Direktur/GM/pengusaha yang memang sudah menyatakan siap untuk berbagi di berbagai kesempatan. 

Mulai dari Presiden Direktur Adidas Indonesia, Presiden Direktur Nutrifood, Presiden Direktur Koran SINDO, CEO Lynx Films, CEO SDV Logistics Indonesia, CEO Virtual Consulting, dan masih banyak lagi. Kecewa yang timbul karena kepekaan kita dalam melihat situasi adalah langkah awal kesuksesan kita. Langkah awal sebuah perubahan terjadi. Namun, kalau peka (melihat dan menyadari) saja, tidak cukup. 

Kita harus jangan menjadi orang yang hanya kecewa, marah-marah, tapi tidak melakukan apapun untuk memperbaikinya. Kita harus peduli. Tanya ke diri kita sendiri, ”OK saya sudah tahu bahwa hal-hal itu membuat saya kesal, mau tidak saya melakukan sesuatu untuk memperbaikinya? Seberapa peduli saya akan halhal tersebut?” Peka tapi tidak peduli, tidak akan melahirkan apa-apa. Sama saja bohong. 

Perubahan pun tidak akan pernah terjadi. Kombinasi kedua hal inilah yang sering kali membuat seseorang menjadi orang yang sukses. Bagaimana untuk melatih kepekaan dan kepedulian kita? Sejujurnya, saya tidak punya jawabannya. Menurut saya, bukan masalah bagaimana kita bisa peka atau peduli, tapi lebih kepada mau atau tidak kita untuk peka dan peduli. ”Mau” atau ”Tidak”? Tahun 2014 adalah tahun pemilu. 

Kita akan dihadapkan oleh banyaknya calon-calon presiden dan wakil presiden yang akan mengumbar janji. Satu hal yang mungkin bisa menjadi barometer untuk memilih: lihat sepak terjangnya selama ini (tidak harus di politik), apakah dia benar pemimpin yang peka dan peduli? Ingat, kesuksesan dan perubahan positif berasal dari kepekaan dan kepedulian. 

Mau sukses? Peka dan peduli dari sekarang! Tweet pendapat Anda dengan mention @billyboen dan #PemimpinPEDULI. Saya akan RTtweet Anda. See you ON TOP!  ●

Sabtu, 30 November 2013

Setia Kawan Perlambat Sukses

Setia Kawan Perlambat Sukses
Billy Boen  ;   CEO PT YOT Nusantara; Director PT Jakarta International Management (JIM); Shareholder, Rolling Stone Café
KORAN SINDO,  29 November 2013
  


Saya sering bilang, “Sukses sendirian itu ngga asyik.” Tapi judul tulisan saya kali ini seperti ini, apa maksudnya? Kalau dulu ketika saya masih sekolah, kata “setia kawan” begitu melekat di keseharian pergaulan saya. Rasanya sering sekali saya mendengar kata ini. 

Dan, jelas terlihat kalau ada teman yang mendapat julukan sebagai teman yang setia kawan, dia pasti merasa bangga. Tapi apa sebenarnya makna setia kawan? Apa korelasinya dengan kesuksesan dalam hidup? Yang saya tahu, kalau di pergaulan anak-anak muda, setia kawan artinya macam-macam, tergantung masingmasing individu. Namun di antaranya adalah ketika seorang teman sedang dalam kesusahan, ketika temannya membantu dan tidak meninggalkan yang sedang dalam kesusahan tersebut, maka si yang membantu itu boleh dibilang setia kawan. 

Nah, kalau dalam konteks meraih kesuksesan, menurut saya, setia kawan bisa memperlambat proses meraih sukses. Saya sering bertemu dengan teman-teman mahasiswa dan para first jobbers yang bertanya, “Mas Billy, saya ingin banget nolong teman saya yang masih malas-malasan, tapi kok susah ya? Karena dia adalah teman baik saya, maka saya maunya sukses bareng-bareng.” Nah, ini adalah contoh nyata kenapa saya bilang setia kawan bisa memperlambat proses meraih sukses. 

Sejalan dengan prinsip saya, “Sukses sendirian itu ngga asyik”, maka menolong orang lain untuk bisa meraih sukses itu baik. Tapi kalau kita sudah berusaha semaksimal mungkin menolong orang itu, baik dengan memberikan dorongan moral, material, jaringan, dan orang tersebut masih juga tidak mau berubah, masih malas-malasan, ya masa kita akan terus-terusan mencoba untuk menolong orang itu? Apakah hidup Anda yang hanya satu kali ini hanya untuk membuat teman Anda sukses? 

Kalau jawabannya “Iya”, ya silakan terus mencurahkan seluruh pikiran, fokus, tenaga, dan waktu Anda untuk menolong teman Anda hingga sukses. Kalau saya sih, jawabannya, “Tidak.” Hidup saya bukan untuk memastikan bahwa orang lain atau teman saya sukses. Ingat, kita tidak bisa menolong orang yang tidak ingin ditolong. Mungkin dari perkataannya, teman kita bilang bahwa dia memerlukan pertolongan. Tapi sering kali, dalam kenyataannya, dia sebenarnya hanya ingin dikasihani, bukan ditolong. 

Buktinya apa? Ya itu tadi, ketika kita sudah berusaha menolong teman kita yang katanya membutuhkan pertolongan, terus dianya sendiri tidak berusaha, tidak mengubah sifat negatifnya (malas), kan ini sama saja tidak ingin ditolong. Orang-orang semacam ini, tidak pantas untuk kita tolong. Saya punya teman yang ketika kami bertemu sesekali, dia bilang ingin memulai bisnis. Dia ceritakan idenya, dan kemudian bertanya ke saya, “Bill, elu bisa nolong gua ngga? Elu jadi partner bisnis gua deh” Karena dia adalah teman saya dan berbisnis itu termasuk ‘hobi’ saya, maka saya mengiyakan ajakannya. 

Tapi, setelah sekian minggu saya membuatkan business plan-nya, dia kembali bilang ke saya bahwa dia belum siap berbisnis, sibuk adalah salah satu dari sejuta alasan lainnya. Jadi, apakah lantas kalau kita punya teman baik, lantas kita harus tidak peduli dengan dia? Tentu tidak! Namanya juga teman baik, ya sudah sepantasnya kita peduli dengan keadaannya. Kalau dia malas, kita coba berikan dorongan. Kalau dia perlu modal, kalau kita bisa berikan pinjaman, ya sebaiknya kita bantu. Kalau dia perlu ide, dan kita bisa berikan itu, berikanlah. Tapi, bukan lantas kita harus terus menerus membantu dia hingga sukses. 

Bagaimana pun juga, kita harus mampu mengeset skala prioritas hidup kita secara tepat. Apa maksudnya? Menurut saya, dalam skala prioritas, membuat diri kita sukses itu berada di atas membuat teman kita sukses. Dengan pemikiran ini, saya berpendapat bahwa daripada setia kawan (menunggu teman, biar bisa sukses bareng-bareng), mending berusaha semaksimal mungkin untuk membuat diri kita sukses dulu. Tentunya, dalam proses mencapai kesuksesan, jangan lupakan integritas. Pastikan kita juga tidak ‘menikam kiri-kanan’ atau menjatuhkan pihak-pihak lain. Ini bukan cara yang terpuji. 

Kenapa membuat diri kita sukses dulu baru menolong teman kita itu lebih baik daripada menjadi setia kawan dan menunggu teman untuk supaya bisa sukses bareng-bareng? Karena kita tidak akan pernah tahu kapan teman kita akan bisa sukses. Kita juga sebenarnya tidak akan pernah tahu kapan diri kita akan sukses, tapi setidaknya, faktor yang di luar kontrol kitanya lebih sedikit; pikiran dan karakter kita ya kita sendiri yang tentukan. Sementara ketika kita ingin membantu teman kita untuk sukses, faktor penentu utamanya (pikiran dan karakter teman kita itu) tidak ada di dalam kontrol kita. 

Kalau saya memilih untuk fokus membuat diri saya sukses, baru saya akan menolong teman saya. Semakin sukses kita, semakin besar yang kita bisa lakukan untuk teman kita. Semakin banyak pula orang yang bisa kita tolong. Daripada kita berusaha untuk supaya bisa dipromosikan menjadi manajer secara bersamaan, mending kita fokus ke kinerja kita, sehingga kita dipromosikan menjadi manajer, kemudian menjadi direktur, dan di saat inilah, kita bisa membantu teman kita yang mungkin masih berada di level staf. 

Membantunya gimana? Misal dengan mengirimkan dia ke kelas-kelas pelatihan, memperkenalkan dia ke jaringan bisnis Anda, atau bahkan memberikan dia masukanmasukan terhadap pekerjaan dan tanggung jawab yang sedang dia emban. Kalau ini yang kita lakukan, kesempatan dia untuk dipromosikan dan menjadi ‘sukses’ akan semakin besar. Mungkin pemikiran setia kawan dengan menunggu teman agar bisa suksesnya barengan perlu ditinggalkan. 

Bagi Anda yang sempat berpikiran demikian, coba deh untuk mulai berpikir, “Saya harus sukses, supaya saya bisa membantu teman-teman saya (dan banyak orang di luar sana) yang membutuhkan pertolongan saya. Jangan takut dan malu untuk bilang, “Saya mau jadi orang yang sukses. Saya mau jadi orang yang kaya.” Karena, semakin sukses dan kaya kita, semakin banyak orang yang bisa kita bantu. Mau jadi orang yang dibilang setia kawan? Berusahalah semaksimal mungkin untuk jadi orang yang sukses, kemudian bantu teman (dan banyak orang) yang belum sesukses kita. See you ON TOP!  ●

Sabtu, 09 November 2013

Penghargaan Hanya Sebuah Bonus

Penghargaan Hanya Sebuah Bonus
Billy Boen  ;  CEO PT YOT Nusantara; Director PT Jakarta International Management (JIM); Shareholder, Rolling Stone Café
KORAN SINDO, 08 November 2013

Kita semua tahu bahwa anak muda itu erat dengan pengakuan diri, eksistensi. Kalau bahasa gaulnya, ”eksis”. Seolah semua berlomba untuk eksis. Apakah ini salah? Kalau menurut saya, ini wajar dan manusiawi. 

Tapi, kalau pencarian pengakuan dirinya dilakukan secara berlebihan, ya menjadi tidak wajar. Ketika masih duduk di bangku sekolah atau kuliah, banyak yang mengikuti banyak lomba, dengan tujuan ya itu tadi: pengakuan. Di dunia bisnis pun sekarang banyak lombalombanya. 

Semakin banyak perusahaan besar yang melalui corporate social responsibility (CSR) –nya yang membuat lomba-lomba business plan dengan tujuan untuk mengajak anak-anak muda Indonesia untuk menjadi entrepreneur sehingga jumlah pengusaha yang ada di Indonesia pun diharapkan akan meningkat. Apakah salah untuk mengikuti lomba-lomba semacam ini? Tidak. Saya tahu betul ada beberapa teman saya yang rajin mengikuti lomba-lomba semacam ini. 

Tujuannya pun beraneka ragam, ada yang tujuannya untuk mendapatkan bantuan modal usaha, untuk menjadi terkenal, atau sekadar menaikkan rasa percaya diri mereka dan berkenalan dengan orang-orang baru (networking). Kalau saya sendiri, seingat saya sih, saya hampir tidak pernah mengikuti lomba. Karena saya orangnya praktis, di mana saya lebih memilih untuk melakukan ihwal konkret, dan berusaha semaksimal mungkin. 

Saya percaya bahwa sebuah kerja keras akan menghasilkan hasil yang baik. Biasanya, hasil yang baik itu kanhasil penilaian orang lain, bukan semata penilaian dari diri kita sendiri. Jadi, kalau hasil kerja keras saya mendapatkan pengakuan yang baik dari orang lain, menurut saya, itu hanyalah sebuah bonus. Saya tidak mengejar hal tersebut ketika dari awal saya mengerjakan suatu hal. Bingung? OK, coba saya kasih ilustrasinya ya.. 

Tahu salah satu penghargaan ”terkeren” di dunia yang namanya Nobel Prize? Ini penghargaan tertinggi di dunia untuk mereka yang telah memberikan impact positif yang besar bagi dunia. Seringkali yang mendapatkan nobel adalah orang-orang yang melakukan ihwal yang extra ordinary atau yang tidak biasa dilakukan kebanyakan orang. Pada umumnya mereka orang-orang yang bergerak di kemanusiaan, perdamaian, dan inovasi medis; namun tidak tertutup pada ketiga hal ini saja.

Nah, mereka yang melakukan ihwal yang luar biasa ini, dari awal tujuannya bukan untuk mendapatkan Nobel Prize. Mereka melakukan ihwal tersebut karena mereka memang peduli dan memang karena mereka ingin membuat perubahan positif, menyumbangkan apa yang mereka bisa sumbangkan bagi dunia ini. Mereka ingin meninggalkan jejak positif selama mereka hidup. 

Nah, ketika mereka dinobatkan sebagai pemenang nobel, ini ”bonus” untuk mereka. Mereka diakui oleh dunia bahwa mereka telah berhasil melakukan hal yang luar biasa untuk dunia. Ingat, dari awal, mereka melakukan ini bukan untuk memenangkan nobelloh ya. Sejak awal 2010 saya diminta oleh teman saya, Antonny Liem, yang kala itu sedang membantu Kaskus, untuk mengisi sebuah forum di Kaskus. 

Mereka siap membuat sebuah forum khusus untuk Young On Top dan kami pun setuju untuk menamakan forum tersebut: Young On Top Kaskus Community (yotkc.kaskus. co.id). Saya merasa bersyukur karena saya dipercaya oleh Indonesian’s Largest Online Community untuk mengasuh sebuah forum di sana. 

Dengan kata lain, sejak saat itu saya memiliki sebuah media untuk berbagi lewat tulisan kepada anak-anak muda Indonesia pada umumnya, dan Kaskuser pada khususnya. Dari yang tidak pernah ”maen” Kaskus sampai akhirnya saya seminggu sekali menulis untuk forum YOTKC ini. Seperti ketika saya menulis untuk berbagai media, ketika menulis untuk YOTKC ini, saya selalu berusaha menulis sebaik-baiknya. 

Harapan saya adalah supaya pesan, pemikiran, atau apa pun yang ingin saya share bisa dimengerti dengan jelas dan diingat oleh para Agan dan Aganwati (panggilan untuk para Kaskuser). Apa relevansinya cerita saya menulis di Young On Top Kaskus Community dengan tulisan saya kali ini? Seperti yang saya katakan di atas, ketika saya berbagi di YOTKC, fokus saya adalah untuk menuliskan apa yang ingin saya bagikan dengan sebaik mungkin. 

Tujuan saya bukan untuk menjadi kontributor terbaik di Kaskus. Sama sekali tidak pernah terlintas di otak saya untuk mengejar predikat demikian. Namun, apa yang terjadi pada 2012 adalah ketika saya masuk menjadi salah satu kandidat ”Kontributor Paling OK di Kaskus”, dan saya mendapatkan predikat tersebut dengan jumlah suara 51% (seingat saya). Apakah saya senang? Jelas! Apakah saya bangga? 

Jelas! Tapi, setelah menerima piagam dan hadiah dari teman saya yang merupakan pendiri Kaskus, Andrew Darwis, ”kewajiban” saya untuk terus mengasuh forum YOTKC berlanjut dan tidak ada perasaan atau niatan yang berbeda yang saya miliki sebelum dan sesudah menerima predikat sebagai ”Kontributor Paling OK di Kaskus” pada 2012. Saya kembali berusaha untuk mengasuh forum YOTKC ini sebaik mungkin. 

Itu saja. Kenapa? Ya, karena saya merasa bersyukur diberikan kesempatan untuk berbagi di Kaskus, dan saya tidak ingin menyia-siakan kesempatan dan amanah yang diberikan kepada saya. Sesuai dengan visi saya dan YOT: to create a stronger next generation of Indonesia. Sudah puluhan tulisan saya di YOTKC yang menjadi Hot Threads. Bagi Kaskuser, ini sesuatu yang big deal. 

Karena demikian, saya semakin tertantang untuk menulis tulisan-tulisan yang bermakna dan bisa memberikan ihwal positif bagi para Kaskuser. Itu yang selalu ada di benak saya. Jadi ketika sekarang saya kembali masuk nominasi ”Kontributor Paling OK di Kaskus”, ini hanyalah sebuah bonus dari apa yang saya lakukan selama setahun terakhir. Saat ini hasil voting sementara, saya memimpin dengan 41% suara. 

Untuk yang ingin membantu perolehan suara saya, mohon ke yotkc.kaskus.co.id, kemudian pilih KaskusAward, dan Kontributor Paling OK. Thank you! Apakah Anda seorang karyawan, apakah Anda seorang pebisnis pemula, apakah Anda seorang self employed (dokter, MC, presenter, dan sebagainya), menurut saya, yang terpenting adalah Anda melakukan ihwal yang Anda tekuni sekarang ini sebaik mungkin. 

Percaya deh, kalau kita sudah melakukan ihwal yang kita tekuni sebaik mungkin, jangan heran kalau orang-orang semakin mengenal kita karena karya yang telah kita hasilkan. Kalau bisa menghasilkan karya yang luar biasa dan bermanfaat bagi banyak orang, kenapa harus hanya memburu pengakuan dari orang lain? See you ON TOP! ●

Sabtu, 02 November 2013

Pekerjaan vs Keluarga

Pekerjaan vs Keluarga
Billy Boen ;  CEO PT YOT Nusantara; Director PT Jakarta International Management (JIM); Shareholder, Rolling Stone Café
KORAN SINDO, 01 November 2013


Kalau digabungkan antara kaskus, kickandy.com, billyboen.com, youngontop.com dan rubrik “Semangat Baru with Young On Top” ini, rasanya saya sudah menulis semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan, bisnis, karakter, serta pola pikir yang bisa terbayangkan oleh saya. 

Jadi beberapahari yanglalu, saya melempar pertanyaan via akun Twitter saya: @billyboen, menanyakan apakah ada sebuah tema yang mereka ingin saya bahas. Dari sekian banyak ide tema yang diberikanke saya, ide tema tulisan saya hari ini datang dari seorang followersaya diTwitter@rozak_rosicky. Terima kasih Abdul. Menurut saya, di dalam hidup ini, tidak mungkin kita bisa hidup seimbang dengan sempurna. 

Seperti kiasan yang sering kita dengar, tidak ada hal yang sempurna di dunia ini; meski juga ada yang beranggapan bahwa semua di dunia ini yang merupakan ciptaan Tuhan adalah sempurna. Hmm, dalam kesempatan ini saya tidak akan membahas mana yang benar dan mana yang salah. 

Penilaian kehidupan seimbang dengan sempurna antara pekerjaan dan keluarga pun kalau dinilai ada, bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Maksud saya apa? Seseorang yang bekerja dari Senin hingga Jumat pukul 08.00–17.00, dan selalu bersama keluarga sejak pulang kantor hingga sebelum tidur, dan selalu menghabiskan akhir minggunya bersama keluarga mungkin bisa dianggap sebagai “seimbang”. 

Pasangan di rumah dan anak tidak pernah mengeluh. Ini termasuk seimbangkah? Mungkin iya. Tapi kalau dilihat dari sudut pandang jumlah jamnya antara dia berada di kantor dan ketika dia berada di rumah, jelas tidak seimbang. 

Nah, apalagi kalau Anda adalah seorang pekerja yang sering lembur di kantor, atau setelah pulang kantor pun Anda sering keluar bersama rekanrekan kantor atau harus pergi ke dinner meeting bersama atasan dan mungkin sering ditugaskan ke luar kota atau bahkan ke luar negeri, jelas keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga menjadi berat sebelah.

Seperti biasa, saya tidak akan menulis teori di sini. Saya akan coba ceritakan kehidupan saya dalam berkarier vs keluarga. Dari sejak saya kerja kali pertama di PT Berca Sportindo (distributor tunggal Nike di Indonesia saat itu), saya punya satu tujuan dalam berkarier: saya ingin menjadi pimpinan sebuah perusahaan yang memegang brand yang saya suka, karena passion saya adalah brand management. Tujuan saya jelas. 

Untuk supaya saya bisa meraih impian saya tersebut, saya bekerja semaksimal yang saya bisa. Saya terus mengasah interpersonal skill dan karakter saya. Beruntung saya kala itu bekerja sesuai passion saya. Saya adalah orang yang sangat driven (kalau mau sesuatu, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkannya). 

Karena dari kecil sering diingatkan oleh ayah saya, “Bill, kalau kamu mau sukses, kamu harus punya teman yang banyak”, maka ketika bekerja pun saya selalu berusaha menjalin relasi, kalau bahasa kerennya: Networking. Nah, hal ini saya lakukan sering kali setelah jam pulang kantor. 

Saya bersama teman-teman sering pergi hang out, dan bertemu orang-orang baru. Saya percaya bahwa ini saya perlukan untuk menunjang karier saya. Dan saya tidak salah berpikir demikian, karena saya bisa seperti hari ini, karena bantuan banyak dari temanteman saya. Tapi, apa yang saya lakukan itu jelas mengurangi waktu saya bersama keluarga. 

Beruntung istri dan anak saya bisa mengerti hal tersebut. Meskipun sekali-kali mereka komplain karena saya jarang di rumah. Ketika saya menjabat sebagai general managerOakley untuk Indonesia di usia 26 tahun, waktu saya untuk keluarga semakin berkurang. Saya dan keluarga yang kala itu pindah ke Bali pun semakin jarang bertemu. 

Saya yang berkantor di Nusa Dua, Bali harus ke Jakarta memimpin kantor cabang di sini, bertemu dengan rekan-rekan media dan retailer setidaknya 10 hingga 14 hari setiap bulannya. Mungkin karena istri dan anak saya “sudah terbiasa”, mereka pun jarang komplain. Tapi saya tahu betul, mereka pastinya menginginkan saya untuk bisa sering berada di rumah. 

Sekali lagi, jelas kehidupan saya antara bekerja vs keluarga, tidak seimbang. Sekarang saya sudah “banting setir”, saya sudah tidak lagi bekerja sejak akhir tahun 2009. Sekarang saya memiliki beberapa bisnis dan memimpin beberapa perusahaan milik sendiri. Waktu saya jelas lebih fleksibel. Saya bebas mau ke kantor jam berapa pun. 

Tidak ke kantor pun tidak akan ada yang menegur saya. Setiap hari saya pergi meninggalkan rumah pukul 09.00. Saya jarang bertemu dengan macet. Ketika saya ingin makan malam masakan istri di rumah, saya biasanya pulang sebelum jam 3-in-1, alias pukul 16.30 WIB. Jelas waktu saya di rumah pun lebih banyak dibandingkan dengan ketika saya masih bekerja kantoran.

Lalu, apakah lantas kehidupan saya antara bekerja vs keluarga sudah dapat dikatakan seimbang? Saya rasa belum, tapi yang pasti, sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya. Kenapa? Karena ketika saya di rumah pun, sering kali saya masih harus membuka laptop dan bekerja. 

Di akhir minggu pun, sering kali saya harus pergi meninggalkan rumah untuk memberikan seminar/workshop di berbagai perusahaan maupun kampus. Hidup saya belum seimbang. Jadi, dari tulisan saya kali ini, apa intisari yang bisa didapat? Menurut saya, keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga jangan semata hanya diukur dari jumlah waktunya saja.

 Jumlah waktu jelas merupakan salah satu faktor penentu apakah kehidupan pekerjaan Anda seimbang dengan kehidupan berkeluarga Anda. Maksudnya apa? Jelas kehidupan Anda tidak seimbang, kalau Anda tidak berada di rumah sebanyak 16 jam setiap harinya. Namun, bukan juga berarti kalau Anda hanya di kantor selama 8 jam lantas kehidupan Anda sudah bisa dibilang seimbang. 

Maksudnya apa? Percuma kalau ketika Anda di rumah pun, Anda tidak menghabiskan waktu bersama pasangan dan anak Anda. Kalau di rumah Anda sibuk di depan laptop Anda, ya sama aja ‘bohong’. Memperbanyak waktu di rumah itu satu langkah awal untuk membuat keseimbangan kerja vs keluarga lebih memungkinkan. 

Namun yang terpenting adalah kualitas dalam menjalani kehidupan di rumah lah yang juga menentukan. Seperti yang saya katakana di atas, saya pun masih berusaha untuk bisa hidup “seimbang”. Meski sekarang waktu saya untuk keluarga lebih banyak dibandingkan dulu, saya masih belum merasa bahwa saya telah memberikan kualitas waktu terhadap keluarga saya. Saya masih terus berusaha untuk memiliki kehidupan yang “seimbang”. 

Apakah ini tidak akan pernah bisa tercapai, it’s OK. Yang penting saya terus berusaha untuk mencapainya. Kalau bisa jadi orang yang sukses secara karier dan punya keluarga yang harmonis, kenapa tidak? Untuk anak saya yang berulang tahun hari ini: Happy Birthday, James! Proud of You, Love You! See you ON TOP!  ●

Sabtu, 26 Oktober 2013

Menulis adalah “Red Carpet” Kesuksesan

Menulis adalah “Red Carpet” Kesuksesan
Billy Boen  ;  CEO PT YOT Nusantara; Director PT Jakarta International Management (JIM); Shareholder, Rolling Stone Café
KORAN SINDO, 25 Oktober 2013



Beberapa jam sebelum saya mulai menulis artikel ini, saya berkesempatan untuk kembali bertemu, ngobrol, sambil ngopi-ngopi dengan seorang teman yang inspiratif. Ahmad Fuadi, penulis buku best seller Negeri 5 Menara.

Ini bukan kali pertama saya bertemu orang yang inspiratif ini. Saya ingat betul ketika kami bertemu untuk sekadar makan siang, berbagi dengan YOTers di Learning Lounge Plaza Semanggi, juga ketika beberapa kali saya mengundang Mas Fuadi untuk berbagi di program radio dan TV Young On Top. Setiap kali bertemu Mas Fuadi, saya selalu senang. Rasanya selalu ada yang saya dapatkan. 

Jadi, ketika minggu lalu Mas Fuadi mengajak bertemu pun, tidak pikir panjang, saya iyakan. Dan betul.. saya happy bisa ngobrol sama dia selama kurang lebih 2 jam! Apa yang diobrolin? Kebetulan tadi saya banyak share tentang bagaimana Young On Top bisa seperti sekarang ini. Tapi itu bukan yang ingin saya bahas di tulisan ini. Inti dari pertemuan tadi, Mas Fuadi ingin membalas budi seseorang yang telah mengajarkan dia untuk menulis. 

Membalas budi ke siapa? Kepada banyak orang yang ingin bisa menjadi penulis! Tunggu tanggal mainnya, dia pasti akan mengumumkan kapan dia akan mulai berbagi ilmu menulisnya. Kenapa Mas Fuadi mau membalas budi seseorang yang pernah mengajarinya menulis kepada banyak orang? Jawaban dia sederhana, ”Karena menulis itu bisa membuka jendela dunia.”

Artinya apa? Apakah ini hanya sekadar sebuah teori belaka? Tidak! Mas Fuadi itu bisa mendapatkan beberapa beasiswa sekolah di luar negeri itu karena menulis. Dia sekarang bisa enjoy life, tidak lagi bekerja di kantor karena dia memilih untuk hidup dari tulisannya. Dia sering berbagi pengalamannya tentang bagaimana menulis yang baik, bagaimana mendapatkan beasiswa, dan beda buku. semuanya karena dia menulis. 

Jadi, apa yang dia katakan itu, ya memang karena begitulah yang dia percaya dan sudah rasakan saat ini. Apa yang dilalui Mas Fuadi mirip dengan apa yang saya lalui. Bukan soal beasiswanya, tapi lebih kepada aktivitas dan bisnis saya yang berhubungan dengan Young On Top,ya karena saya menulis buku Young On Top. Kalau saya tidak pernah menulis buku Young On Top, entah seperti apa hidup saya saat ini. 

Yang pasti, saya tidak akan sedang mengembangkan PT. YOT Nusantara, tidak sedang pusing dan seru mikirin pengembangan Young On Top Mentorship Program, tidak sedang berbagi di Young On Top Metro TV, dan tidak sedang terus-terusan menginvestasikan uang saya untuk pengembangan digital network Young On Top (website, Facebook, Twitter, Insta gram). Dan pastinya, detik ini saya tidak sedang menulis artikel ini. 

Kalau saya tidak pernah menulis buku Young On Top, pastinya saya memiliki acara radio Young On Top yang mengudara selama 4 tahun, di mana saya berkesempatan untuk mengundang dan berkenalan dengan orang-orang yang telah sukses di karier. Saya tidak akan bisa ngobrol, menyerap ilmu, dan menjadi teman orang-orang dengan level general manager, direktur, serta CEO kalau saya tidak punya acara radio tersebut. 

Bayangkan, it’s truly priceless! Setelah empat tahun Young On Top ada di radio, ada sekitar 200 orang top yang telah saya undang dan menjadi teman saya, yang saya bisa kontak hampir kapan saja via mobile phone saya, untuk saya ajak makan siang, makan malam, atau sekadar ngopi-ngopi. Berkesempatan menjadi mitra bisnis Mas Andy Noya di Rolling Stone Café yang dibuka tahun 2010 pun juga karena saya menulis buku Young On Top yang sempat diangkat di Kick Andy Show 1 bulan setelah buku tersebut tersebar di seluruh toko buku di Indonesia pada bulan Mei 2009. 

Cukup contoh nyata yang saya sampaikan di sini untuk menguatkan pemikiran Mas Fuadi bahwa, ”Menulis itu bisa membuka jendela dunia?” Sejak 4 tahun lalu Young On Top Mentorship Program dibentuk, saya dan para mentor Young On Top menugaskan para Young On Top Campus Ambassador (YOT CA) untuk menulis dan mem-posting tulisannya di www.youngon top.com. 

Sesuai dengan motto Young On Top: Learn and Share, mereka diminta untuk belajar peka terhadap sekeliling supaya mereka bisa menulis, kemudian berbagi kepada YOTers di mana pun berada, dengan mem-posting tulisannya di web. Sempat ada YOT CA yang mengeluh, ”Mas Billy, saya kan ngga ingin jadi penulis. Kenapa YOT CA diwajibkan untuk menulis setiap bulan?” Saya menugaskan mereka untuk menulis 2 artikel setiap bulan karena saya sadar betul bahwa untuk menjadi orang yang sukses, kita harus ‘bisa’ menulis. 

Bukan sekadar bisa loh ya. Seseorang harus pandai menulis. Apa artinya? Orang yang pandai menulis itu adalah orang yang bukan sekadar mampu mengeluarkan ide atau pemikirannya, tapi juga mampu membawa pembacanya larut atau percaya serta setuju dengan apa yang dia tulis. Zaman sekarang, mana ada CEO yang tidak bisa menulis? Setidaknya, seorang CEO harus bisa menulis memo kepada seluruh karyawannya, dengan jelas. 

Mau jadi dosen? Mana ada dosen yang tidak bisa menulis? Mau jadi pengusaha? Saya pengusaha, dan saya bisa menulis. Apakah tulisan saya bagus, itu lain soal; saya selalu biarkan pembaca yang untuk menilai hal tersebut. Bagi saya, tulisan yang baik adalah tulisan yang dapat dimengerti dengan jelas oleh pembacanya sehingga message yang terkandung di dalam tulisan tersebut dapat diserap dan diingat oleh pembacanya. Mau jadi orang sukses? Belajar menulis. Biasakan menulis. 

Bingung mau nulis apa? Coba buat blog, dan mulai menulis. Apa saja. Ajak teman-teman Anda untuk membaca tulisan Anda. Jangan malu. Apapun komentar teman-teman Anda akan tulisan Anda, ambil intisarinya. Kali aja ada yang bisa kamu perbaiki, berdasarkan komentar-komentar dari teman-teman Anda? Menulis adalah ”red carpet” kesuksesan. Menulis membuka jendela kamu untuk bisa dan meng-explore dunia. See you ON TOP!
●

Jumat, 18 Oktober 2013

Mimpi Perlu Kaki

Mimpi Perlu Kaki
Billy Boen  ;  CEO PT YOT Nusantara; Director PT Jakarta International Management; Shareholder, Rolling Stone Café
KORAN SINDO, 18 Oktober 2013


Beberapa hari yang lalu saya beruntung kembali bisa bertemu dengan seseorang yang inspiratif, Mbak Ainun. Siapa dia? Dia adalah pendiri dari Akademi Berbagi yang sudah ada di puluhan kota di seluruh Indonesia. 

Judul dari tulisan ini pun saya kutip dari pemikirannya yang sederhana, ” Kasih kaki untuk mimpi-mimpimu.” Pemikiran sederhananyalah yang membuat dia memulai gerakan yang kemudian menjelma menjadi sebuah komunitas, Akademi Berbagi. Pemikiran seperti apa yang dia miliki di awal hingga Akber (sebutan akrab untuk Akademi Berbagi) terbentuk? Dia sempat berpikir bahwa dia ” stuck” ketika sudah lulus kuliah dan bekerja. Dia punya keinginan untuk belajar. 

Bukan dari dosen, tapi dari praktisi. Tapi gimana caranya? Karena media sosial sudah mulai booming beberapa tahun lalu, dia pun memberanikan untuk ” mencolek” (bahasa gaulnya mention sebuah akun di Twitter) Pak Subiakto. Dia ingin belajar copywriting. Ngga disangka, keinginannya disambut baik oleh Pak Subiakto, dan kelas pertama yang berisi 10 orang pun berjalan. Ini terus bergulir, hingga detik ini. Sudah banyak sekali praktisi yang berbagi, tanpa dibayar sepeser pun. 

Mereka berbagi tentang apa yang mereka kuasai, kepada mereka yang membutuhkan. Ini sudah berjalan beberapa tahun, dan di banyak kota di seluruh Indonesia. Salut! Memang benar apa kata Mbak Ainun bahwa kita harus kasih kaki untuk mimpi-mimpi yang kita miliki. Sejujurnya, saya sering sekali melihat banyak anak muda yang hanya ingin ” ina-itu-ina-itu” , alias yang dia inginkan banyak sekali, tapi tidak melakukan apa-apa untuk mencapainya. Teman dekat saya pun ada yang seperti demikian. Setiap kali ketemu, dia cerita mau melakukan ini, mau melakukan itu. 

Matanya berbinar-binar, bicaranya pun dengan penuh semangat. Semua yang diceritakan sering kali seolah akan sempurna sesuai rencana. Seolah ketika suatu saat dia lakukan hal itu, dia tidak akan menemukan masalah apa pun. Dan seperti selalu yang saya lakukan, adalah untuk memberikan masukan-masukan yang kali saja bermanfaat untuk dia, dan tentunya, men-support niatnya itu. 

Tapi,… setelah beberapa saat kemudian ketemu lagi, dan ketika saya tanya apakah dia sudah mulai melakukan hal yang dia ingin lakukan itu, selalu dia katakan, ” Belum” dan dengan sejuta alasan. Yang pasti, di antaranya: sibuk, belum ada waktu, susah, dan seterusnya. *** Mimpi akan selalu selamanya hanya menjadi mimpi, keinginan juga begitu, ide juga begitu. Kalau kita tidak melakukan apapun untuk mencapainya. Banyak orang yang bilang ide itu mahal. 

Menurut saya ide itu ” murah” kalau tidak diapa- apain. Saya juga sering bilang bahwa selama mimpi itu gratis, berm i m p i l a h yang tinggi. Kalau pun tidak sampai, setidaknya apa yang kita dapatkan kemungkinan besar masih lebih tinggi daripada mereka yang bermimpi ” rendah” . Nah, tapi kata kuncinya adalah untuk segera memulai proses penc a p a i a n mimpi yang kita punya itu! Kalau kita tidak memulai, ya kapan sampainya? Di dunia nyata ini tidak ada Sup e rma n . 

Kalau kita Superman, enak, bisa terbang dan langsung mencapai mimpi kita yang tinggi dalam hitungan detik. Kita tidak punya sayap. Yang kita punya adalah kaki. Dalam pencapaian sebuah mimpi, kita harus mulai melangkah. Langkah demi langkahlah yang akan membuat kita sampai ke tempat tujuan. Inilah proses pencapaian arti sukses yang sering kali saya bilang tidak ada yang instan. 

Kalau kita sudah berikan kaki untuk mimpi yang kita ingin capai, lalu apa? Ya mulai melangkah. Namun, seperti yang saya tulis di buku ” Young On Top” , tidak ada jalan yang semulus sutera. Artinya apa? Di tengah jalan, kita pasti akan harus melewati jalanan rusak, lubang, polisi tidur, atau bahkan pagar dan tembok. Yang harus kita lakukan setelah memberanikan diri kita untuk melangkah menuju pencapaian sebuah mimpi adalah untuk terus memiliki yang kuat untuk terus melangkah. 

Kita harus berpikir keras dan kreatif, karena sering kali rintangan yang ada di depan kita itu memang harus kita lewati. Rintangan yang ada itu bukan dibuat hanya untuk kita. Tapi untuk semua orang yang ingin mencapai suatu titik tujuan. Inilah yang sering kali membedakan antara orang sukses dengan yang gagal atau belum sukses. Mereka yang sukses, mampu melewati rintangan yang ada. 

Mereka tidak berhenti atau putar balik. Mereka berpikir keras dan kreatif untuk bisa melewati rintangan tersebut. Sementara mereka yang gagal biasanya setelah mencoba beberapa kali, menyerah. Dan apa yang terlintas di otaknya dan dilontarkan dari mulutnya: Ngga mungkin, mustahil, susah, berat, dan seterusnya. *** Young On Top (YOT) bisa seperti sekarang ini juga harus melewati proses yang tidak mudah. 

Dari hanya sebuah buku yang terbit April 2009, sekarang YOT sudah menjadi sebuah buku yang sudah dicetak sebanyak 12 kali, memiliki buku seri lainnya: TOP Words & TOP Words2, menjadi program radio mingguan, juga program TV mingguan, leadershape academy, konsultan, rangkaian seminar di kampus-kampus, rangkaian seminar tahunan, platform digital di website dan media sosial, serta komunitas di 39 kota di seluruh Indonesia. 

Bagaimana saya mengembangkan ini semua? Yang pasti dari sebuah mimpi (visi) dan action plan (misi) yang jelas, saya memberikan kaki untuk pencapaian ini semua. Pencapaiannya pun bertahap, sedikit demi sedikit. Di tahun pertama hanya beberapa yang terwujud. Di tahun kedua tambah beberapa hal terwujud. Di tahun ketiga dan keempat pun demikian. Tidak ada yang mudah, di setiap langkah yang saya beserta tim ambil, kami selalu menemukan rintangan. Tapi anehnya, kami tidak berpikir untuk menyerah. 

Kok bisa? Mungkin karena kami punya mimpi (visi) yang bukan kami tujukan demi kepuasan diri sendiri, tapi lebih untuk generasi muda Indonesia yang lebih kuat dan berintegritas. Saya praktisi. Saya tidak pandai untuk berteori. Semoga apa yang saya share di sini bisa memberikan gambaran kepada Anda, bahwa apa yang dikatakan oleh Mbak Ainun, pendiri Akber, itu benar: Kita harus memberikan kaki untuk mimpi yang kita ingin capai. See you ON TOP!  ●

Sabtu, 12 Oktober 2013

Jangan Copy Paste Kesuksesan

Jangan Copy Paste Kesuksesan
Billy Boen  ;  CEO PT YOT Nusantara; Director PT Jakarta International Management (JIM); Shareholder, Rolling Stone Café
KORAN SINDO, 11 Oktober 2013


Ketika saya memenuhi ajakan untuk berbicara di berbagai workshop dan training perusahaan maupun seminar di kampus, saya selalu menekankan kepada audience bahwa pengalaman yang saya ceritakan jangan di-copy paste (baca: ditiru habis-habisan). 

Setiap orang, termasuk Anda dan saya, punya idola atau orang yang menginspirasi kita. Biasanya, bukan hanya satu orang yang menginspirasi kita. Ada banyak. Bagi mereka yang terlahir dan besar bukan di zaman internet, pada umumnya idola mereka adalah ayah dan ibunya. Saya lahir pada 1978, jadi saya masih termasuk di generasi ini. Memang betul, salah satu idola saya adalah kedua orang tua saya. Kenapa? Karena hingga saya remaja, saya belum menikmati yang namanya internet. 

Jadi, orang sukses yang saya tahu saat itu yahanya ayah dan ibu saya. Belum ada Google. Saya belum tahu ada jutaan orang sukses di luar negeri yang pantas untuk menjadi sumber inspirasi bagi diri saya. Memang, harus saya akui, berkat teknologi yang ada, selain kedua orang tua saya, saat ini ada beberapa orang sukses yang juga menginspirasi saya. Mereka menginspirasi saya dari banyak hal. Donald Trump—Hampir semua bukunya sudah saya baca. 

Dia pernah bangkrut, bangkit dari kebangkrutannya, dan hingga saat ini dia memiliki kekayaan lebih dari Rp20 triliun. Yang menginspirasi saya adalah bagaimana dia bisa mem-brandingdirinya. Dia adalah ”celebrity entrepreneur” yang sukses. Bisnis utamanya hingga detik ini masih di properti. Tapi, acara reality show yang dibuat oleh Mark Burnett dan Donald bintangi, The Apprentice, juga sangat sukses. 

Dia sekarang pun punya merek baju dan parfum dengan nama ”Trump”. Namun, harus saya akui bahwa saya tidak lantas setuju 100% dengan semua perilaku atau karakternya dalam melihat beberapa hal. Dia terkenal sebagai orang yang: Kalau Anda mengganggu saya, saya akan balas jauh lebih keras dari yang Anda bisa bayangkan. Robert Kiyosaki—Saya memulai karier saya sebagai seorang karyawan. 

Pada tahun kelima saya berkarier, saya membaca buku karangan Robert Kiyosaki yang berjudul Rich Dad, Poor Dad. Pemikiran saya terbuka. Saya tidak mau terjebak di dalam ”rat race”, setiap bulan terima gaji, dan gajinya hanya habis untuk kebutuhan sehari- hari. Di situ saya mendapatkan inspirasi untuk menjadi pengusaha. Keluar dari kuadran ”E” (employee = karyawan) dan masuk ke kuadran ”B” (business owner= pemilik perusahaan). Untuk pertama kalinya saya berpikir, ”Wah, enak juga ya jadi pemilik perusahaan. Ketika lagi tidur ataupun berlibur, (kalau perusahaannya sudah menguntungkan) uang akan mengalir masuk terus ke kantong.”
Itulah salah satu alasan kenapa saya memberanikan diri mulai menggali entrepreneurial spirit saya dan mulai menciptakan perusahaan-perusahaan yang saya miliki sekarang ini. PT Jakarta International Management (2006), Rolling Stone Café (2010), PT YOT Nusantara (2012), dan De’HUB Jakarta (2013). 

Namun, seperti pandangan saya terhadap Donald Trump, saya juga tidak setuju 100% dengan pandangan dan tindakan yang dilakukan Robert Kiyosaki. Beberapa tahun yang lalu terdengar bahwa dia telah bangkrut. Saya sempat kaget, namun begitu saya Google, ternyata dia hanya ”membangkrutkan” salah satu perusahaannya karena dia tidak mau membayar fee kepada seorang promotor yang ikut mengorbitkan namanya sebagai pembicara kawakan pada awal-awal kariernya. 

Kekayaannya Rober Kiyosaki hingga saat ini masih diperkirakan sekitar Rp800 miliar. Andy F Noya—Siapa yang tidak kenal host berambut kribo ini? Eh, sekarang sudah botak ya?! Anyway, saya kali pertama bertemu dengannya ketika pada April 2009, saya diundang untuk menjadi salah satu narasumber di Kick Andy Show di Metro TV mengangkat tema ”Young On Top”, yang memang mengambil judul dari buku saya yang saat itu baru terbit. 

Seminggu setelah itu saya ditelepon oleh Mas Andy dan diajak untuk datang ke kantornya. Berbulan-bulan kami menjadi teman, akhirnya kami menjadi mitra bisnis, melahirkan Rolling Stone Cafe pada Juni 2010. Selama menjadi mitra bisnis, saya semakin kagum dengan dirinya. Apa yang kita lihat di televisi tidak berbeda dengan aslinya. Dia orang yang bijak, cerdas, dan berjiwa sosial sangat tinggi. 

Dia sosok yang berintegritas. Berkat dirinyalah, saya pun memutuskan untuk berbagi di Metro TV di program ”Young On Top”. Saya pun disarankan untuk mendirikan sebuah perusahaan supaya saya terus bisa berbuat sosial atas nama Young On Top, lahirlah PT YOT Nusantara setahun yang lalu.

Saya masih punya idola-idola lain. Namun, yang saya mau tekankan di sini adalah bahwa saya tidak meng-copy paste kesuksesan idola-idola saya ini 100%. Dari masing-masing individu yang saya anggap sebagai sumber inspirasi, saya hanya mengambil intisari inspirasi yang cocok dengan pola pikir dan karakter saya. Saya tidak ingin menjadi seorang Donald Trump. Saya juga tidak ingin menjadi seorang Robert Kiyosaki. 

Saya pun tidak ingin menjadi seorang Andy F Noya. Tapi, dari orang-orang inilah, saya terinspirasi akan ihwal positif yang mereka lakukan dan membentuk seorang Billy Boen. Saya adalah saya. Kenapa saya bilang, ”Jangan meng-copy paste kesuksesan seseorang?” Karena kita semua terlahir dari latar belakang keluarga yang berbeda-beda, baik dari ras, agama, finansial, tingkat pendidikan, maupun seterusnya. 

Donald Trump bisa seperti itu karena latar belakang keluarganya yang memang berbisnis dibidang properti. Diapun bisa setegas seperti sekarang ini karena didikan ayahnya. Saya tidak bilang bahwa seseorang yang bukan terlahir dari keluargayang berbisnis di bidang properti lantas tidak bisa memulai bisnis ini lohya! Begitu juga dengan Robert Kiyosaki dan Andy F Noya. 

Mereka menjadi masing-masing karena kehidupan yang menempa mereka menjadi seperti itu. Jadi, jangan ingin menjadi idola Anda. Jadikan idola Anda sebagai sumber inspirasi. Cermati apa yang baik dari mereka, tanyakan ke diri Anda, apakah Anda cocok dan mampu melakukan hal serupa, kemudian coba lakukan dengan cara Anda sendiri. 

Kehidupan setiap orang berbeda, apa yang dilalui masing-masing orang pasti berbeda. Jadi jangan berharap Anda bisa meng-copy paste 100% apa yang dilakukan seseorang dan mengharapkan hasil yang sama 100%. Itu mimpi namanya. 

Kalau bisa jadikan idola Anda sebagai sumber inspirasi dan melakukan hal serupa lebih baik dari yang idola Anda lakukan, kenapa harus meng-copy paste? See you on Top!  ●