Tampilkan postingan dengan label Dahlan Iskan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dahlan Iskan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 September 2021

 

Pertamina Sub-sub

Dahlan Iskan ;  Mantan CEO Jawa Pos

DISWAY, 11 September 2021

 

 

                                                           

PERTAMINA memasuki babak baru: benar-benar hanya jadi holding. Semua yang berbau operasional sepenuhnya diserahkan ke sub-sub-holding.

 

Itulah keputusan terbaru Menteri BUMN Erick Thohir. Yang mulai berlaku Jumat kemarin.

 

Anda sudah tahu: kini ada 6 sub-holding di bawah Pertamina. Yakni:

 

1. Upstream, yang menangani semua urusan hulu: ladang-ladang minyak dan gas.

 

2. Refining & Petrochemical, yang menangani lima kilang besar dan industri kimia.

 

3. Commercial & Trading, yang menangani penjualan BBM dan membeli minyak mentah.

 

4. Power & NRE, yang menangani geotermal dan energi baru seperti solar cell dan baterai lithium.

 

5. Gas. PGN (Perusahaan Gas Negara) berada di sini.

 

6. Shipping, yang mengurus kapal-kapal Pertamina, khususnya kapal-kapal tanker pengangkut minyak.

 

Awalnya tersiar kabar sub-holding itu akan ada tujuh. Yakni ditambah sub-holding urusan pelayanan. Yakni yang akan mengurus soal rumah sakit atau hotel Pertamina.

 

Ke mana rumah-rumah sakit dan hotel itu berinduk? Atau dijual saja?

 

Tentu reorganisasi Pertamina ini merupakan langkah yang amat besar. Itu tidak mudah. Mungkin di dalam tubuh grup Pertamina kini lagi meriang. Yang di pusat banyak yang kehilangan kekuasaan. Cukup besar. Banyak jabatan lama yang harus hilang. Mereka harus pindah ke anak perusahaan.

 

Yang di anak perusahaan juga harus menghadapi gelombang mutasi staf internal mereka. Ditambah harus mengakomodasi kiriman orang-orang dari pusat.

 

''Kapal besar'' Pertamina kini lagi mengarungi lautan baru yang penuh riak. Tapi layar sudah dikembangkan. Kapal harus tetap melaju.

 

Dalam masa pancaroba seperti itu tentu akan muncul banyak keluhan. Setidaknya gerundelan. Manajemen yang mau banyak mendengar tentu akan mengurangi keresahan seperti itu.

 

Saya dengar, restrukturisasi ini atas inisiatif penuh dari kementerian BUMN. Bukan dari inisiatif Pertamina. Berarti kementerian BUMN akan memonitor baik-baik apa yang terjadi setelah palu restrukturisasi diayunkan.

 

Saya tentu setuju –emangnya punya hak untuk setuju atau tidak setuju? –dengan langkah Erick Thohir itu. Secara struktur bisa lebih bagus. Lebih jelas.

 

Tapi apakah itu sudah menjawab tantangan masa depan Pertamina?

 

Rasanya belum. Itu baru ''menertibkan'' struktur di Pertamina. Bisnisnya masih biasa seperti yang lama.

 

Masa depan Pertamina adalah: apa yang akan dilakukan setelah mobil listrik menggantikan mobil bensin. Memang ada sub-holding bidang energi baru, tapi masih lebih berat ke geotermal. Sedang di proyek baterai lithium Pertamina hanya memegang 20 persen saham.

 

Saya juga mendengar ada selentingan ini: setelah restrukturisasi, Pertamina lebih bisa mencari uang. Terutama dari pasar modal. Sub-sub holding itu bisa go public. Satu per satu. Mereka sudah bukan BUMN. Mereka sudah berstatus anak perusahaan.

 

Bahkan anak-anak perusahaan sub holding –cucu Pertamina– juga bisa go public sendiri-sendiri.

 

Maka harus saya akui, langkah-langkah besar kini lebih mampu dilakukan oleh BUMN. Suasana politiknya adem ayem. Sangat memungkinkan untuk dilakukannya langkah besar.

 

Jangan harap yang seperti ini bisa dilakukan di masa lalu. Ketika peran DPR masih sangat besarnya.

 

Maka setiap kali dimintai pendapat soal restrukturisasi di BUMN, saya selalu mengatakan: lakukan segera. Sekarang. Mumpung Presiden Jokowi mampu mengendalikan politik hampir secara mutlak.

 

Tentu sehebat apa pun restrukturisasi, itu hanya alat. Hasilnya tetap di tangan orang yang memegang alat itu.

 

Misalnya: apakah dengan restrukturisasi ini produksi minyak Pertamina langsung  bisa naik. Mungkin tidak. Kalau toh naik itu karena blok Rokan kini menjadi milik Pertamina. Untuk menaikkan produksi minyak tetap harus menemukan sumur baru. Dan itu perlu waktu lama.

 

Atau: apakah setelah restrukturisasi mendadak kilang-kilang minyak Pertamina menjadi lebih efisien. Tentu tidak. Itu lebih dihasilkan oleh kinerja di lapangan –yang tetap di tangan tim yang lama.

 

Saya bayangkan di pusat Pertamina kini juga akan berubah total. Tidak ada lagi pekerjaan operasional. Proyek-proyek besar akan otomatis pindah ke sub-holding. Mestinya.

 

Demikian juga soal penataan aset. Apakah akan dilakukan sentralisasi aset? Kalau aset masih tetap di sub-holding bagaimana kalau sub-holding itu nanti go public?

 

Setahun ke depan kelihatannya Pertamina masih akan sibuk dengan urusan yang terkait restrukturisasi ini.

 

Tapi langkah besar telah diayunkan. Layar besar telah dibentangkan. Tinggal buaya-buaya akan lari ke mana. (Dahlan Iskan) ●

 

Sumber :  https://www.disway.id/r/2017/pertamina-sub-sub

Kamis, 09 September 2021

 

Hiburan Ummi

Dahlan Iskan ;  Mantan CEO Jawa Pos

DISWAY, 9 September 2021

 

 

                                                           

KECENDERUNGAN ''menjelekkan negeri sendiri'' ada di mana-mana. Orang Indonesia sering terdengar mengatakan ''kita kok tidak seperti Malaysia''. Atau Vietnam. Atau Tiongkok. Atau Amerika.

 

Sesekali dengarlah orang Malaysia bicara. Ternyata sama juga seperti kita. Suka menjelekkan negeri mereka sendiri. Kok kalah dengan Indonesia.

 

Yang juga beredar luas di Indonesia. Semula saya bertanya dalam hati: siapa perempuan itu. Kok kelihatan pintar.

 

Tidak ada teks di video itu. Tidak ada keterangan yang bisa menjelaskan siapa dia. Dia sendiri juga tidak memperkenalkan diri. Kebetulan yang bicara di video itu cantik –berapa pun 'i' - nya. Dia mengeluhkan perpolitikan di Malaysia. Yang pemimpin politiknya itu-itu saja. Usang semua.

 

Dia memuji setinggi langit Indonesia. Yang berhasil menampilkan pemimpin politik baru. Yang luar biasa. Yang sangat dicintai rakyatnya: Presiden Jokowi.

 

Saya pun ingin tahu siapa dia. Saya kirim video itu ke teman wanita saya di Kuala Lumpur. Tionghoa. Tidak kalah cantik dengan yang di video. Dia juga pintar. Dekat sekali dengan banyak penguasa di sana.

 

"Dia itu Ummi Hafilda," jawab Si Cantik. "Dia populer sekali di Malaysia, whatever," tambahnyi.

 

Ummi cakap bicara. Terlihat pengetahuannyi luas. Gaya cakapnyi seperti orator andal. Intonasi suaranyi juga memikat.

 

Ternyata Ummi adalah adik Azmin Ali dan Azwan Ali. Dua-duanya pesohor. Azmin adalah menteri di banyak periode. Siapa pun perdana menterinya, Azmin menterinya.

 

Azwan adalah presenter TV terkenal di Malaysia. Berarti keluarga ini benar-benar melek politik. Ummi mengeluh kok Malaysia belum juga menemukan pemimpin yang benar-benar dicintai rakyatnya.

 

Suara Ummi, kini 54 tahun, mewakili perasaan umumnya orang Malaysia: politiknya berputar-putar di situ saja. Pun ketika bulan lalu terjadi lagi pergantian pemerintahan. Dari UMNO, muter-muter sebentar, kembali ke UMNO. Golkar Indonesia kalah telak dengan UMNO Malaysia: sejak Pak Harto jatuh Golkar belum bisa comeback.

 

Di pemerintahan perdana menteri baru Ismail Sabri Yakoob sekarang ini Azmin menduduki jabatan Menteri Senior Perdagangan Internasional dan Industri.

 

Ummi menyerang siapa saja. Termasuk kakaknyi itu. Terakhir sang kakak dia hujat di Facebook: sebagai menteri yang melanggar UU negara. Yakni menerima banyak tamu di masa pandemi.

 

Ummi juga pernah menyerang Anwar Ibrahim. Kejam sekali. Praktis Ummi-lah yang ikut menjatuhkan Anwar. Sampai Anwar masuk penjara. Padahal kedudukan Anwar saat itu wakil perdana menteri: orang kedua setelah Mahathir Mohamad. Bahkan Anwar sudah dijanjikan akan menjadi perdana menteri berikutnya.

 

Baru di tengah persidangan Ummi, kala itu, mencabut pengaduan. Tapi Anwar sudah telanjur babak belur. Pencabutan itu dilakukan setelah seorang saksi membeberkan siapa Ummi. "Saya pernah main seks dengan Ummi sewaktu di London," ujar saksi di pengadilan. Nama saksi itu Norazman Abdullah Baginda. Jejak digital seperti itu terekam baik di media di Malaysia. Norazman, orang dekat Anwar Ibrahim, sekarang tidak lagi di politik. Ia jadi petani.

 

Saksi tersebut juga mengungkapkan Ummi mengadukan Anwar karena kecewa tidak dapat proyek bisnis di pemerintahan.

 

Ummi tidak mundur dari kebiasaannya mengeluhkan perpolitikan Malaysia. Sampai sekarang. Memang Malaysia baru saja mendapat perdana menteri baru. Baru sebulan. Tapi tanda-tanda akan jatuh lagi terlihat jelas.

 

UMNO sendiri, partai yang mengusung Ismail Sabri Yakoob tidak puas. Tidak cukup mendapat kursi di kabinet. Kini UMNO mulai menyuarakan Ismail Sabri harus diuji di parlemen. Minggu depan. Ketika parlemen memulai masa persidangannya 14 September.

 

Ketika Yang Dipertuan Agung Malaysia mengangkat Ismail Sabri sebagai PM, memang dibuktikan dengan dukungan tertulis dari mayoritas kursi di parlemen. Tapi setelah Ismail Sabri menyusun kabinet, banyak yang ingin mencabut dukungan. Itu akan dilakukan di sidang parlemen hari pertama.

 

Politik Malaysia begitu tidak stabilnya. Ekonominya juga lagi runyam. Covid-nya apalagi.

 

Menteri keuangan Malaysia lagi mengajukan persetujuan ke parlemen: agar rasio utang pemerintah bisa dinaikkan menjadi 70 persen GDP. Luar biasa tinggi persentase itu.

 

Selama ini rasio itu disetujui di angka 60 persen. Masih kurang tinggi. Utang Malaysia sudah mencapai 62 persen sekarang ini. Tapi, mereka merasa tidak khawatir. Semua utang itu dalam ringgit dan dilakukan di dalam negeri.

 

Sesekali wanita seperti Ummi bisa membuat video yang begitu menghibur kita di Indonesia. (Dahlan Iskan) ●

 

Sumber :  https://www.disway.id/r/1981/hiburan-ummi

Senin, 30 Agustus 2021

 

Otong Kace

Dahlan Iskan ;  Mantan CEO Jawa Pos

DISWAY, 29 Agustus 2021

 

 

                                                           

"Selamat ya. Anda wartawan pertama yang menemukan identitas lengkap siapa Muhammad Kace," tulis saya kepada Deni Mithun kemarin. Saya juga memuji pimpinan harian Radar Pangandaran yang memuat tulisan Deni dengan karya jurnalistik yang cukup baik.

 

Sudah seminggu saya mencari siapa sebenarnya Muhammad Kace yang menghebohkan itu (Disway: Miris Ngeri). Gagal. Saya hubungi banyak aktivis Islam. Tidak ada yang kenal. Saya hubungi banyak teman saya yang Kristen. Juga tidak tahu.

 

Saya benar-benar penasaran: siapa Muhammad Kace. Ternyata Deni-lah wartawan pertama yang menemukan identitas lengkapnya.

 

Deni beruntung. Jumat dua hari lalu ia ditelepon Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pangandaran H Otong Aminudin. Sang ulama baru saja nonton TV. Setelah salat Jumat. Ia melihat ada berita ditangkapnya Muhammad Kace oleh polisi. Ia lihat wajah Kace di layar TV. Langsung saja Otong menelepon Deni.

 

"Orang itu penduduk tetangga desa kita," ujar Otong kepada Deni.

 

Lalu Otong menceritakan bagaimana ia kenal Kace. Otong bersama warga desa sekitar itu pernah ''mengusir'' Kace dari desa itu.

 

"Tahun berapa?" tanya saya pada Otong. Saya sendiri ikut menelepon Otong kemarin.

 

"Tahun 1997 atau 1998. Sebelum moneter-moneter itu," ujar Otong. Maksudnya, sebelum krisis moneter 1998.

 

"Mengapa bapak ''usir'' Kace dari desa itu," tanya saya.

 

"Ia bikin masalah terus," ujar Otong.

 

Yang ia sebut ''bikin masalah'' ternyata mulai banyak warga desa itu yang pindah agama. "Sudah ada sekitar 25 orang," ujar Otong.

 

Waktu itu Pangandaran belum menjadi kabupaten. Masih kecamatan. Masih jadi bagian dari Kabupaten Ciamis. Baru tahun 2012, daerah di pantai Selatan Jawa Barat itu menjadi kabupaten. Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti berasal dari sini. Markas besar Susi Air di sini. Di sebuah landasan pinggir laut yang wujudnya hamparan rumput yang bisa didarati pesawat.

 

Kalau Kabupaten ini maju, kelak, pantainya ibarat Ipanema dan Copacabana di Rio de Janeiro, Brasil. Di lengkung timurnya bisa melihat matahari terbit. Di lengkung baratnya bisa melihat matahari tenggelam.

 

Sekarang pantai itu masih kumuh –untuk ukuran daerah wisata modern. Rumah-rumah dan pedagang kaki lima masih terlalu dekat ke pantai. Pangandaran juga masih jauh dari mana pun. Kelak, kalau sudah ada jalan tol jalur selatan, Pangandaran akan lebih menarik. Tapi ketika saat itu nanti tiba, mungkin, Pangandaran sudah kian sulit dibenahi.

 

Kini ada tiga gereja di seluruh Kabupaten Pangandaran. Satu gereja Katolik, dua gereja Kristen. Yakni Gereja Maranatha (Kerasulan Baru) dan gereja GPdI Parapat. Ke gereja yang dekat perbatasan Cilacap inilah warga desa yang dikristenkan Kace itu melakukan kebaktian di hari Minggu.

 

Nama desa kelahiran Kace itu adalah Limusgede. Masuk Kecamatan Cimerak. Tidak sulit Deni menemukan desa itu. Deni orang Pangandaran. Istrinya juga asli sana.

 

Dari Pangandaran, Deni naik motor ke arah barat. Sekitar 10 km. Lalu belok ke utara, menyusuri jalan desa, juga sekitar 10 km.

 

Deni saya minta balik lagi ke desa itu, kemarin. Alumnus informatika Universitas Siliwangi Tasikmalaya itu harus bertemu adik Kace yang masih tinggal di situ.

 

Universitas Siliwangi itulah yang sering dipelesetkan sebagai UGM –Universitas Gambar Macan, karena logonya yang berupa kepala harimau.

 

Deni juga harus bertemu teman sekolah Kace.

 

"Saya teman sekolah Kosman," ujar Asep Saipudin kepada Deni. Kosman adalah nama asli Kace di desa itu. "Sampai SMP saya masih bersamanya," ujarnya.

 

Ayah Kosman adalah kepala dusun di situ. Juga punya kebun kopi. Kosman sudah dibelikan sepeda motor ketika SMP. Ia satu-satunya murid SMP itu yang punya motor.

 

"Kelas 2 SMP Kosman berhenti sekolah. Saya tidak tahu penyebabnya," ujar Asep. Sejak itu Kosman pindah ke Pondok Pesantren Nurul Huda. Yang letaknya sekitar 10 Km dari desa itu.

 

Deni juga mendatangi Nurul Huda. Benar. Kosman pernah mondok di situ. Belajar agama. Juga belajar membaca kitab kuning, seperti kitab Jurumiyah.

 

Kosman hanya setahun di Nurul Huda. Kebiasaan yang ia suka di pesantren itu adalah salawatan –pujian kepada nabi yang dilagukan.

 

Tidak lama setelah keluar dari Nurul Huda, Kace kawin dengan gadis yang juga mantan santriwati Nurul Huda. Perkawinan itu terjadi sekitar 1986.

 

Belum jelas apa pekerjaan Kace setelah kawin itu. Yang jelas ia segera punya dua anak. Setelah itu sang istri menjadi TKW ke Arab Saudi. Berarti masa-masa ditinggal istri inilah Kace menjadi misionaris. Yang lantas jadi sorotan pemuka agama Islam di sana. Lalu Kosman diminta meninggalkan desa itu.

 

Kosman pindah ke kota Banjar, yang dulu juga masuk Kabupaten Ciamis, kini jadi kota sendiri.

 

Dari Banjar ia pindah ke Bekasi. Lalu ke Jakarta.

 

Dalam sebuah publikasi online KRISTIANI.NEWS disebutkan, Kosman menjadi Kristen karena ayahnya disembuhkan oleh doa seorang pendeta. Tapi tidak disebutkan itu terjadi kapan.

 

Yang jelas penasaran saya kini sudah terjawab oleh liputan Deni Mithun, wartawan Radar Pangandaran itu.

 

"Nama saya Deni Nurdiansah. Bukan Deni Mithun. Mithun itu nama pemberian teman-teman," ujar Deni.

 

Kata mereka, Deni itu mirip bintang film Bollywood Mithun Chakraborty. (Dahlan Iskan)  

 

Sumber :  https://www.disway.id/r/1782/otong-kace

 

 

 

 

 

 

 

 

Miris Ngeri

Dahlan Iskan ;  Mantan CEO Jawa Pos

DISWAY, 28 Agustus 2021

 

 

                                                           

Awalnya saya tidak tertarik mengikuti berita H. Muhammad Kace ini. Apa manfaatnya.

 

Tapi begitu ia ditangkap polisi barulah saya ingin tahu: mengapa?

 

Oh... klasik: penghinaan agama.

 

Saya pun kembali malas mengikuti berita itu.

 

Ups... Ada yang aneh. Kok kali ini jalur ''NU garis lurus'', tumben, ikut bersuara. Kenceng pula. Bahkan ikut melapor ke polisi. Biasanya NU garis lurus toleran dengan yang seperti itu. Apalagi NU yang garis lucu.

 

Rupanya Kace sering menyebut kitab kuning. Yang ia anggap menyesatkan umat Islam. Ajaran yang tidak ada dalam Alquran pun diada-adakan di kitab kuning.

 

Kitab kuning adalah istilah untuk buku-buku pelajaran agama dengan tulisan Arab tanpa tanda baca. Hanya yang pinter bahasa Arab yang bisa membacanya secara benar. Buku-buku tersebut begitu lamanya sampai warnanya sudah kuning. Maka buku sejenis itu, biar pun masih baru, disebut juga kitab kuning.

 

Misalnya soal keharusan khitan dalam Islam (memotong kulit yang menutup bagian ujung kemaluan laki-laki sepanjang sekitar 10 cm). Menurut Kace, khitan itu tidak diajarkan di dalam Quran maupun Hadis.

 

Ia menantang siapa pun untuk menunjukkan ayat mana yang mengharuskan khitan. Pun tidak ada satu Hadis yang mengharuskan khitan.

 

Saya pun teringat pelajaran di pesantren dulu: hadis adalah segala kata-kata yang pernah diucapkan Nabi Muhammad dan tindakan apa saja yang pernah dilakukan Rasul Allah itu.

 

Saya pun mencoba mendengarkan sendiri seperti apa kalimat utuh yang diucapkan Kace. Maka saya membuka YouTube.

 

Ya ampuuuuun. Banyak sekali Kace tampil di YouTube. Bukan sekali atau dua kali. Puluhan. Ratusan.

 

Berarti ini tidak sama dengan kasus BTP dulu, yang bersumber hanya satu penggal ayat di Quran. Yang begitu multitafsir pula.

 

Yang dilakukan Kace ini bukan salah ucap dan bukan pula salah tafsir. Juga tidak ada kepentingan politik sempit di baliknya. Entahlah kalau politik yang lebih luas.

 

Berarti Kace itu sudah YouTuber! Ia sengaja membuka channel di YouTube untuk mempersoalkan isi ayat-ayat Quran, menurut versinya. Hanya saja gayanya memang sangat menarik perhatian: pakai baju batik, kopiah hitam, dan lambang Garuda dengan ukuran cukup mencolok di kiri depan kopiah itu.

 

Ucapan pertamanya langsung menohok: Assalamu'alaikum WarahmatuYesus Wabarokatuh.

 

Kalimat keduanya masih mirip itu: AlhamdulilYesus....

 

Pengucapan bahasa Arabnya sangat fasih. Saya kalah fasih. Terlihat Kace pernah lama sekolah di pesantren. Ia sendiri mengaku sudah beberapa kali naik haji. Kini ia penganut Kristen. Dengan KTP tetap menggunakan nama lama: H. Muhammad Kosman.

 

Rupanya Muhammad Kace itu nama di YouTube saja. Jangan-jangan ia sengaja memakai nama panggilan Kace karena pernah diejek dengan kata itu.

 

Di Sunda –konon ia berasal dari Jawa Barat– tidak biasa orang pakai nama Kace. Tapi istilah ''kace'' sering dijadikan  bahan ejekan: kafir celaka.

 

Di YouTube-nya itu Kace juga menantang siapa pun untuk ikut muncul di forum live itu. Ia minta ditunjukkan ayat Quran yang mana yang menyebutkan orang Islam itu dijamin masuk surga.

 

Kace pun mengutip banyak ayat Quran dengan bacaan yang sangat fasih. "Yang oleh Quran dijamin masuk surga itu bukan orang Islam, tapi orang yang beriman dan beramal saleh", katanya.

 

Sebetulnya penilaian seperti itu tidak baru. Tapi tetap bikin penasaran.

 

Kami, di lingkungan aktivis Islam intelektual, sebenarnya juga sering mendiskusikan ayat-ayat Quran seperti itu. Biasa saja. Bahkan lebih sensitif dari itu: Tuhan itu ada atau tidak sih? Apakah orang yang bukan Islam, menurut doktrin Islam, bisa masuk surga? Di universitas seperti UIN –khususnya jurusan filsafat– mendiskusikan yang seperti itu makanan sehari-hari. Bisa sepanjang malam. Bisa mengalahkan drama Korea.

 

Bedanya, Kace menyelenggarakan itu di YouTube. Isi YouTube-nya itu  bukan ceramah. Bukan monolog. Kace sengaja membuka channel YouTube yang mirip Zoom. Live. Siapa saja bisa bergabung di channel itu. Untuk bicara bebas sesuai dengan tema hari itu.

 

Hanya saja Kace yang memegang ''mikrofon''. Ia bisa mematikan mikrofon siapa saja. Termasuk mikrofon  pembicara lain. Dengan cara ia mute.

 

Jangan harap yang bicaranya emosi tanpa dasar dibiarkan terus bicara. Langsung di-mute oleh Kace.

 

Saya pernah mengikuti rekaman YouTube-nya yang seperti itu. Tiga jam. Belum juga selesai. Begitu banyak WA dan email terabaikan. Padahal tidak melihat HP 30 menit saja,  WA yang harus dijawab begitu banyak. Saya begitu keasyikan menonton acara Kace itu –ingat pelajaran masa-masa di sekolah dulu.

 

Di forum itu, Kace juga memberikan pelayanan Quran online. Setiap ada yang mengutip ayat Quran ia tampilkan ayat dimaksud. Lengkap dengan terjemahannya. Lalu ia baca ayat itu dengan fasihnya. Ia baca pula terjemahannya. Tafsir Quran apa saja ia sediakan. "Kalau tidak puas dengan ini, buka saja Tafsir Jalalain. Atau tafsir Ibnu Katsir, atau Quraish Shihab...," kata Kace.

 

Saya melihat ada juga orang Islam yang gabung ke channel itu. Saya lupa namanya. Tapi kelihatannya ia intelektual. Mungkin hafal Quran. Orangnya sabar. Kalem. Banyak tersenyum. Sesekali tertawa bersama. Tidak pernah emosi. Termasuk ketika Kace begitu sinis padanya.

 

Banyak ayat Quran  didiskusikan di channel itu. Ada soal Mariam (Islam) atau Maria (Kristen). Yakni soal jenis roh yang ditiupkan ke perawan Maria. Yang dalam Kristen digunakan sebagai alasan untuk menyebut Yesus itu Tuhan.

 

Ada juga diskusi soal mengapa orang Islam mati-matian membela Tuhannya. Sampai bunuh-bunuhan. Seolah Tuhan itu tidak berkuasa membela diri Tuhan sendiri –seperti juga sering diucapkan Gus Dur dulu. Begitu banyak topik di banyak acara YouTube itu.

 

Cara Kace ini rupanya menginspirasi kelompok Kristen yang lain. Saya lihat, ada juga channel tantang-menantang di YouTube seperti itu. Bukan Muhammad Kace pemiliknya. Kace hanya tamu di situ.

 

Yang dipersoalkan, misalnya, ''siapa yang lebih dulu menghina agama lain''. Saya lihat ada juga orang Islam yang masuk ke channel itu, melayani tantangan itu.

 

Di layar itu juga ditampilkan ayat Quran. Dari surah Al Bayyinah ayat 6: orang-orang kafir dan musyrik akan masuk neraka jahanam selama-lamanya. Mereka itu seburuk-buruk makhluk.

 

"Bunyi ayat seperti itu  menghina atau tidak," tanya yang dari Kristen.

 

"Itu tidak ada hubungan dengan menghina atau menghargai. Itu doktrin Islam," jawab yang Islam.

 

"Itu kami anggap menghina, karena diucapkan di depan umum. Kalau diucapkan di dalam masjid itu tidak kami anggap menghina," kata yang Kristen. Saya lupa mencatat namanya. Tapi saya ingat yang dari Islam itu bernama Nasution.

 

"Di depan umum" yang dimaksud ternyata adalah di Toa. Semula saya sulit menangkap apa itu Toa. Saya pun ingat: di Indonesia Timur semua jenis pengeras suara  disebut Toa –apa pun mereknya.

 

"Kalau Toa itu hanya di dalam masjid tidak apa-apa. Tapi kan dipasang di atas masjid, kedengaran siapa saja," kata yang Kristen. Apalagi kalau masjid itu di kampung yang penduduknya multiagama.

 

Setelah lebih dari empat jam mengikuti channel seperti itu saya mblenger. Ketakutan. Ngeri. Jenuh. Kapok.

 

Sejak tadi malam saya tidak mau lagi membuka channel seperti itu. Miris. Hati saya menjadi tidak damai. Padahal saya ini tidak boleh lupa bahagia –hampir saja saya lupa.

 

Saya juga merenung: apa untungnya membuka channel seperti itu. Apa untungnya melihatnya. Apa manfaatnya bagi bangsa.

 

Saya saksikan di situ, sulit sekali bisa bersepakat. Tidak ada pendapat yang bisa bertemu. Saling klaim. Saling benar. Saling mau menang.

 

Saya miris. Ngeri.

 

Tapi di negeri seperti Amerika yang seperti itu biasa saja. Tidak sensitif.

 

Jangan-jangan ada baiknya juga yang seperti itu mulai dibuka di Indonesia. Asal tidak berantem. Biar mulai terbiasa. Toh yang seperti ini tidak bisa juga terlalu dibendung. Siapa pun bisa bikin channel seperti itu. Kalau tidak bisa dari Indonesia bisa dari negara mana saja, dengan bahasa Indonesia.

 

Tapi saya ngeri. Miris.

 

Mungkin perasaan saya saja. (Dahlan Iskan)  

 

Sumber :  https://www.disway.id/r/1758/miris-ngeri