Tampilkan postingan dengan label Mengukur Keberanian SBY soal PKS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengukur Keberanian SBY soal PKS. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Juli 2013

Mengukur Keberanian SBY soal PKS

Mengukur Keberanian SBY soal PKS
Heri Budianto  ;  Dosen Fikom Universitas Mercu Buana,
Direktur Political Communication Institute
KORAN SINDO, 06 Juli 2013


Perseteruan politik yang melibatkan Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terus berlangsung. 

Pascakeputusan paripurna DPR yang mengesahkan Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2013, yang kemudian secara politis mengisyaratkan persetujuan DPR terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang akan dilaksanakan oleh pemerintah. Gonjang-ganjing politik yang melibatkan partai koalisi yang dimotori oleh Demokrat dengan partai oposisi yang dimotori oleh PDIP memanaskan konstelasi politik. 

Dua berbeda antara yang menerima kenaikan BBM dan menolak kenaikan BBM. Kontestasi politik semakin memanas tatkala PKS yang merupakan partai yang tergabung dalam Sekretariat Gabungan (Setgab) koalisi bersama Partai Demokrat, berseberangan sikap dengan kubu koalisi. PKS yang belakangan didera oleh persoalan suap impor daging sapi yang melibatkan Presiden Partai Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) tiba-tiba mampu membalikkan wacana publik dengan wacana penolakan harga BBM. 

Apa yang dilakukan PKS, kemudian menjadi strategi komunikasi politik ampuh untuk mengalihkan isu suap impor daging sapi ke penolakan harga BBM. Pergerakan PKS mengundang reaksi Partai Demokrat dan anggota Setgab koalisi lainnya, sehingga menimbulkan kegaduhan politik di dalam Setgab yang menginginkan PKS segara angkat kaki dari Setgab koalisi. 

Namun, desakan Partai Demokrat dan anggota koalisi lainnya tak diindahkan oleh PKS. Puncaknya, PKStetapbersikapkonsisten menolak kenaikan harga BBM saat paripurna DPR yang mengesahkan RUU APBNP 2013. Sikap mendua PKS tersebut bukanlah pertama. Menurut catatan penulis, sudah empat kali PKS berseberangan dengan Partai Demokrat. 

Pertama pada tahun 2010, saat Kasus Bank Century mencuat ke publik dan diputuskan juga melalui paripurna DPR. Saat itu belum ada Setgab, dan pembelotan bukan hanya dilakukan oleh PKS, namun juga Golkar dan PPP. Kemudian tahun 2011 PKS, kembali berseberangan soal kasus Mafia Pajak. Tahun 2012 juga kembali berseberangan dengan menolak kenaikan BBM dan itu kembali terulang di tahun 2013. 

Sikap mendua PKS dalam berkoalisi tentu bisa saja dilakukan dalam praktik politik. Sahsah saja setiap partai melakukan manuver dan strategi dalam mencapai tujuan partai. Namun dalam berpolitik, tentu ada etika politik yang harus dijalankan agar masyarakat juga dapat memaknai politik praktis sebagai sebuah pembelajaran politik. 

Pendidikan politik menjadi penting bagi masyarakat karena akan mendorong demokratisasi ke arah yang lebih baik. PKS tentu mempunyai alasan mengapa sikap mendua tersebut dilakukan. Akan tetapi sebagai partai politik, PKS bertanggung jawab untuk memberikan pendidikan politik bagi masyarakat. 

Menunggu SBY 

Persoalan PKS yang berseberangan dengan Setgab koalisi tak kunjung usai. Sampai saat ini PKS yang jelas-jelas secara realitas politik tak sejalan dengan Setgab koalisi pemerintahan tak juga mundur dari Setgab dan tidak juga menarik tiga menterinya, yakni Menkominfo Tifatul Sembiring, Menteri Pertanian Suswono, dan Menteri Sosial Salim Segaf Aljufri dari Kabinet Indonesia Bersatu II. 

PKS menganggap SBY yang merupakan pimpinan tertinggi Setgab memiliki kewenangan untuk mengambil langkah. Selain itu, sebagai presiden, SBY memiliki hak prerogatif untuk mengganti menteri di kabinet. Alasan-alasan yang diambil oleh PKS ini tentu sarat makna politik. Dengan sikap demikian, PKS ingin dikesankan ”terzalimi” apabila SBY mengeluarkan PKS dari koalisi dan memecat menteri asal PKS. 

Sementara itu, Partai Demokrat dan pihak Istana ingin PKS tahu diri, dan segera angkat kaki dari Setgab koalisi dan menarik menteri-menteri PKS. Sikap saling tunggu ini masih terus berlangsung menjadi kontestasi politik elite kedua partai. Mencermati sikap politik PKS, ada beberapa langkah penting yang harus dilakukan oleh PKS. 

Pertama, PKS telah mampu memainkan strategi komunikasi politik dengan mengalihkan isu suap impor daging sapi ke penolakan kenaikan harga BBM. Hal itu mampu menaikkan simpati publik yang tidak setuju terhadap kebijakan kenaikan harga BBM. Momentum ini mestinya digunakan oleh PKS untuk segera mengambil sikap untuk keluar dari koalisi. 

Kedua, PKS segera mengambil posisi oposisi pemerintahan dan menarik tiga menterinya di kabinet. Hal itu tentu berat, namun jauh lebih baik untuk meraih simpati publik untuk menghadapi Pemilu 2014. 

Mengukur Keberanian SBY 

Keberanian SBY kembali diuji. Kali ini sikap tegas tersebut adalah segera mengeluarkan PKS dari Setgab koalisi dan mencopot tiga menteri PKS di KI BII. Sebagai pimpinan tertinggi Setgab koalisi dan presiden tentu, SBY memiliki kewenangan untuk melakukan langkah tegas. Namun sampai saat ini, keberanian SBY tak kunjung datang. 

Ketegasan SBY dalam memimpin bangsa sering diperbincangkan, karena SBY dianggap sosok yang lamban dan tidak tegas. Ada beberapa alasan yang dapat dilihat dari sikap SBY ini. Pertama, SBY mengetahui strategi politik yang sedang dimainkan PKS. Kedua, ada kekhawatiran SBY dengan kekuatan politik yang ada di parlemen jika PKS dikeluarkan dari Setgab. 

Alasan ini mestinya tidak terlalu dipertimbangkan secara serius oleh SBY. Pasalnya, SBY secara politik sebagai ketua umum Partai Demokrat memiliki tanggung jawab menyelamatkan partainya yang terus melorot elektabilitasnya. Dengan bersikap tegas, mestinya SBY yakin akan dinilai positif oleh publik. Mengenai kalkulasi politik di parlemen, SBY tidak perlu khawatir, sebab jika SBY mampu mengendalikan dan membangun komunikasi politik dengan Partai Golkar maka kekuatan diparlemen tetap besar. 

Momentum ini mestinya dimanfaatkan oleh SBY untuk membuktikan diri sebagai pemimpin yang berani mengambil tindakan tegas. Mestinya SBY menyadari bahwa sisa satu tahun kepemimpinannya, merupakan momentum untuk menunjukkan kepada masyarakat Indonesia tentang pemimpin yang tegas. 

Telah lama publik menunggu sosok SBY yang cepat dan tegas? Namun, lagi-lagi SBY-lah yang paling tahu mengapa tak kunjung mengambil sikap terkait kisruh PKS dalam Setgab. ●

Selasa, 02 Juli 2013

Menanti Ketegasan SBY soal PKS

Menanti Ketegasan SBY soal PKS
Fathur Anas ;  Peneliti di Developing Countries Studies Center (DCSC) Jakarta
SUAR OKEZONE, 01 Juli 2013


Keputusan paripurna DPR yang mengesahkan Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) tahun 2013 ternyata belum juga meredakan suhu politik antara partai-partai koalisi pemerintahan dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Keputusan PKS yang sesungguhnya juga merupakan partai koalisi pemerintahan untuk berseberangan sikap dengan partai-partai koalisi lain terkait kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Dalam Sidang paripurna DPR pengesahan RAPBN-P tahun 2013, 51 legislator asal PKS bergabung dengan barisan oposisi untuk menolak kenaikan harga BBM bersubsidi.

Sikap penolakan PKS terhadap rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM bersubsidi tentu menarik untuk dicermati lebih jauh. Apalagi PKS merupakan salah satu partai politik koalisi pemerintahan. Alih-alih memberikan dukungan politik kepada pemerintah untuk menaikkan harga BBM bersubsidi, PKS justru mengambil sikap balik badan.
Penolakan PKS terhadap rencana pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi pun ditenggarai sarat dengan muatan politik. Sulit dimungkiri penolakan terhadap rencana kenaikkan harga BBM bersubsidi dijadikan sebagai sarana bagi partai dakwah tersebut untuk memulihkan kembali citra mereka yang tengah merosot di mata publik pasca badai hebat kasus korupsi impor daging sapi.

Sebagaimana diketahui bersama, dalam beberapa bulan terakhir ini PKS tengah dilanda badai hebat kasus korupsi impor daging sapi. Setelah Januari lalu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan mantan presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq sebagai tersangka kasus korupsi impor daging sapi, kini satu per satu elite partai dakwah tersebut mulai menghadapi panggilan KPK untuk dimintakan keterangan sebagai saksi. Ketua Dewan Syuro PKS ustadz Hilmi Aminuddin dan Presiden PKS Anis Matta tidak luput dari pemanggilan tersebut. 

Kasus korupsi impor daging sapi jelas menjatuhkan citra PKS di mata publik jelang pemilu tahun 2014. Apalagi selama ini PKS dikenal sebagai partai bersih karena tidak ada satu pun kader mereka yang tersangkut kasus korupsi. Merujuk pada hasil survei terbaru Centre for Strategic and Internasional Studies (CSIS) yang dilakukan pada tanggal 9-16 April 2013, tingkat elektabilitas PKS saat ini hanya sebesar 2,7 persen. 

Dalam konteks itu, PKS membutuhkan sebuah momentum politik untuk memulihkan kembali citra mereka yang tengah merosot tajam di mata publik. Rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM bersubsidi kemudian dilihat sebagai peluang untuk melakukan pemulihan citra di mata publik. 

Sikap berbeda PKS dalam masalah kenaikan harga BBM bersubsidi tersebut mengundang reaksi Partai Demokrat dan partai-partai koalisi (Partai Golkar, PAN, PKB, dan PPP) lain sehingga menimbulkan kegaduhan politik di jajaran koalisi pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono. Partai-partai koalisi mendesak PKS segara angkat kaki dari koalisi. 

Akan tetapi, desakan itu tidak diindahkan oleh PKS. Alih-alih menarik kader-kader mereka yang duduk di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II, PKS justru terus mempertahankan sikap medua. Di satu sisi, PKS menunjukkan sikap berseberangan jalan dengan partai-partai koalisi lain. Namun, di sisi lain PKS tidak menarik dan tetap mempertahankan kader-kader mereka yang menjabat sebagai menteri di KIB II.

Keberanian dan ketegasan SBY kembali diuji. Apakah SBY akan mengeluarkan PKS dari koalisi dan mencopot tiga menteri asal PKS di KIB II. Sebagai pimpinan tertinggi koalisi SBY memiliki kewenangan untuk melakukan hal tersebut. Namun, sampai dengan saat ini keberanian dan ketegasan sikap SBY tidak kunjung datang.

Boleh jadi hal itu lantaran saat ini ada beberapa pertimbangan yang berkecambuk di hati SBY. Pertama, SBY mengetahui strategi politik yang sedang dimainkan PKS untuk memperoleh kesan terdzalimi jika dikeluarkan dari koalisi. Kedua, ada kekhawatiran SBY dengan kekuatan politik di parlemen jika PKS dikeluarkan dari koalisi.

Dilema yang dihadapi SBY dalam menentukan nasib PKS memang tidak mudah. Namun, SBY tidak punya pilihan banyak kecuali menetapkan suatu ketegasan sikap demi soliditas kolaisi. Dua hal di atas sesungguhnya tidak perlu terlalu dipertimbangkan oleh SBY. 

Hal itu dikarenakan secara politik SBY  yang menjabat sebagai ketua umum Partai Demokrat memiliki tanggung jawab untuk menyelamatkan elektabilita partai yang terus melorot akibat perilaku korup elite-elite mereka dalam kasus wisma atlet dan pembangunan pusat olahraga Hambalang. Dengan mengambil sikap tegas dan keberanian untuk mengeluarkan PKS dari koalisi paling tidak SBY akan mendapatkan penilaian positif dari publik yang tentu akan juga berdampak pada pemulihan elektabilitas Partai Demokrat. ●

Selasa, 25 Juni 2013

Mengukur Keberanian SBY soal PKS

Mengukur Keberanian SBY soal PKS
Heri Budianto ;   Dosen Fikom Universitas Mercu Buana,
Direktur Political Communication Institute
KORAN SINDO, 25 Juni 2013
  


Perseteruan politik yang melibatkan Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terus berlangsung. 

Pascakeputusan paripurna DPR yang mengesahkan Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2013, yang kemudian secara politis mengisyaratkan persetujuan DPR terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang akan dilaksanakan oleh pemerintah. Gonjang-ganjing politik yang melibatkan partai koalisi yang dimotori oleh Demokrat dengan partai oposisi yang dimotori oleh PDIP memanaskan konstelasi politik. 

Dua berbeda antara yang menerima kenaikan BBM dan menolak kenaikan BBM. Kontestasi politik semakin memanas tatkala PKS yang merupakan partai yang tergabung dalam Sekretariat Gabungan (Setgab) koalisi bersama Partai Demokrat, berseberangan sikap dengan kubu koalisi. PKS yang belakangan didera oleh persoalan suap impor daging sapi yang melibatkan Presiden Partai Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) tiba-tiba mampu membalikkan wacana publik dengan wacana penolakan harga BBM. 

Apa yang dilakukan PKS, kemudian menjadi strategi komunikasi politik ampuh untuk mengalihkan isu suap impor daging sapi ke penolakan harga BBM. Pergerakan PKS mengundang reaksi Partai Demokrat dan anggota Setgab koalisi lainnya, sehingga menimbulkan kegaduhan politik di dalam Setgab yang menginginkan PKS segara angkat kaki dari Setgab koalisi. 

Namun, desakan Partai Demokrat dan anggota koalisi lainnya takdiindahkanolehPKS. Puncaknya, PKStetapbersikapkonsisten menolak kenaikan harga BBM saat paripurna DPR yang mengesahkan RUU APBNP 2013. Sikap mendua PKS tersebut bukanlah pertama. Menurut catatan penulis, sudah empat kali PKS berseberangan dengan Partai Demokrat. 

Pertama pada tahun 2010, saat Kasus Bank Century mencuat ke publik dan diputuskan juga melalui paripurna DPR. Saat itu belum ada Setgab, dan pembelotan bukan hanya dilakukan oleh PKS, namun juga Golkar dan PPP. Kemudian tahun 2011 PKS, kembali berseberangan soal kasus Mafia Pajak. Tahun 2012 juga kembali berseberangan dengan menolak kenaikan BBM dan itu kembali terulang di tahun 2013. 

Sikap mendua PKS dalam berkoalisi tentu bisa saja dilakukan dalam praktik politik. Sahsah saja setiap partai melakukan manuver dan strategi dalam mencapai tujuan partai. Namun dalam berpolitik, tentu ada etika politik yang harus dijalankan agar masyarakat juga dapat memaknai politik praktis sebagai sebuah pembelajaran politik. 

Pendidikan politik menjadi penting bagi masyarakat karena akan mendorong demokratisasi ke arah yang lebih baik. PKS tentu mempunyai alasan mengapa sikap mendua tersebut dilakukan. Akan tetapi sebagai partai politik, PKS bertanggung jawab untuk memberikan pendidikan politik bagi masyarakat. 

Menunggu SBY 

Persoalan PKS yang berseberangan dengan Setgab koalisi tak kunjung usai. Sampai saat ini PKS yang jelas-jelas secara realitas politik tak sejalan dengan Setgab koalisi pemerintahan tak juga mundur dari Setgab dan tidak juga menarik tiga menterinya, yakni Menkominfo Tifatul Sembiring, Menteri Pertanian Suswono, dan Menteri Sosial Salim Segaf Aljufri dari Kabinet Indonesia Bersatu II. 

PKS menganggap SBY yang merupakan pimpinan tertinggi Setgab memiliki kewenangan untuk mengambil langkah. Selain itu, sebagai presiden, SBY memiliki hak prerogatif untuk mengganti menteri di kabinet. Alasan-alasan yang diambil oleh PKS ini tentu sarat makna politik. Dengan sikap demikian, PKS ingin dikesankan ”terzalimi” apabila SBY mengeluarkan PKS dari koalisi dan memecat menteri asal PKS. 

Sementara itu, Partai Demokrat dan pihak Istana ingin PKS tahu diri, dan segera angkat kaki dari Setgab koalisi dan menarik menteri-menteri PKS. Sikap saling tunggu ini masih terus berlangsung menjadi kontestasi politik elite kedua partai. Mencermati sikap politik PKS, ada beberapa langkah penting yang harus dilakukan oleh PKS. 

Pertama, PKS telah mampu memainkan strategi komunikasi politik dengan mengalihkan isu suap impor daging sapi ke penolakan kenaikan harga BBM. Hal itu mampu menaikkan simpati publik yang tidak setuju terhadap kebijakan kenaikan harga BBM. Momentum ini mestinya digunakan oleh PKS untuk segera mengambil sikap untuk keluar dari koalisi. 

Kedua, PKS segera mengambil posisi oposisi pemerintahan dan menarik tiga menterinya di kabinet. Hal itu tentu berat, namun jauh lebih baik untuk meraih simpati publik untuk menghadapi Pemilu 2014. 

Mengukur Keberanian SBY 

Keberanian SBY kembali diuji. Kali ini sikap tegas tersebut adalah segera mengeluarkan PKS dari Setgab koalisi dan mencopot tiga menteri PKS di KI BII. Sebagai pimpinan tertinggi Setgab koalisi dan presiden tentu, SBY memiliki kewenangan untuk melakukan langkah tegas. Namun sampai saat ini, keberanian SBY tak kunjung datang. 

Ketegasan SBY dalam memimpin bangsa sering diperbincangkan, karena SBY dianggap sosok yang lamban dan tidak tegas. Ada beberapa alasan yang dapat dilihat dari sikap SBY ini. Pertama, SBY mengetahui strategi politik yang sedang dimainkan PKS. Kedua, ada kekhawatiran SBY dengan kekuatan politik yang ada di parlemen jika PKS dikeluarkan dari Setgab. 

Alasan ini mestinya tidak terlalu dipertimbangkan secara serius oleh SBY. Pasalnya, SBY secara politik sebagai ketua umum Partai Demokrat memiliki tanggung jawab menyelamatkan partainya yang terus melorot elektabilitasnya. Dengan bersikap tegas, mestinya SBY yakin akan dinilai positif oleh publik. Mengenai kalkulasi politik di parlemen, SBY tidak perlu khawatir, sebab jika SBY mampu mengendalikan dan membangun komunikasi politik dengan Partai Golkar maka kekuatan diparlemen tetap besar. 

Momentum ini mestinya dimanfaatkan oleh SBY untuk membuktikan diri sebagai pemimpin yang berani mengambil tindakan tegas. Mestinya SBY menyadari bahwa sisa satu tahun kepemimpinannya, merupakan momentum untuk menunjukkan kepada masyarakat Indonesia tentang pemimpin yang tegas. 

Telah lama publik menunggu sosok SBY yang cepat dan tegas? Namun, lagi-lagi SBY-lah yang paling tahu mengapa tak kunjung mengambil sikap terkait kisruh PKS dalam Setgab.