Selasa, 18 April 2017

Jurnalis "Multitasking"

Jurnalis "Multitasking"
Ignatius Haryanto  ;   Direktur Institute for Development of Economics and Finance
                                                        KOMPAS, 17 April 2017


                                                                                                                                                           

Ketika membicarakan konvergensi media, hal terkait personel jurnalis seperti apa yang kita butuhkan di era konvergensi ini, kata multitasking journalist menjadi suatu istilah yang kerap disebut-sebut. Bagaimana sesungguhnya ide tersebut dalam cita-citng lebih cepat lewat saluran media sosial. Pertanyaannya: apakah semua kegiatan ini bisa dilakukan oleh satu jurnalis (yang multitasking tersebut)?

Di tengah kecemasan tentang makin turunnya oplah surat kabar, iklan yang makin menciut di halaman koran, kemunculan media digital (tetapi iklannya masih juga seret), perkembangan gawai yang makin canggih, maka pertanyaannya: jurnalis macam apa yang dibutuhkan? Betulkah jurnalis hari ini harus bisa melakukan semua: melaporkan peristiwa, menulis di media daring, membagikan berita lewat media sosial, memotret, mengambil video, dan wawancara sekaligus?

Tentu saja semua hal di atas bisa dilakukan oleh seorang jurnalis yang memiliki 10 tangan, persis seperti gambar Rahwana dalam kisah-kisah pewayangan. Tangan yang satu memegang alat rekam suara, tangan lain mengambil gambar video, tangan lain lagi mengambil foto, tangan lain menulis untuk media sosial, tangan lain lagi menulis butir-butir penting hasil wawancara atau reportase. Otak yang cuma satu ini harus dibagi-bagi konsentrasinya untuk mengendalikan semua perangkat tadi.

Pertanyaannya: betulkah bisa? Kalaupun memang bisa dilakukan, bagaimana dengan hasilnya? Istimewa, bagus, biasa saja, atau malah sangat buruk?

Jurnalis yang multitasking memang seperti mantra yang diucapkan bersamaan dengan kita membicarakan soal konvergensi media. Logikanya, jika platform medianya saling berbaur, si jurnalis sebagai aktornya harus memiliki kemampuan fungsional yang beragam dalam dirinya dan harus bisa dilakukan dalam satu kesatuan waktu.

Pertanyaannya: masuk akalkah? Bagaimana dalam kenyataannya?
Memang, jika konvergensi mau efektif, ia harus meleburkan pelbagai platform newsroom jadi satu atau menghasilkan suatu kolaborasi tanpa harus menanggalkan kekuatan dari masing-masing platform. Namun, konvergensi ini tak perlu menyingkirkan para penulis esai atau laporan berita yang bagus. Sebaliknya, konvergensi bisa memaksimalkan hasil foto yang kuat dan bercerita. Suatu kisah menarik yang diangkat dari kehidupan masyarakat bisa keluar dalam pelbagai platform sekaligus. Bahkan, yang lebih ekstrem, Josh Stearns dalam artikelnya menyebutkan bahwa di AS sudah berakhir era "kompetisi dan diganti dengan era kolaborasi"-hal ini sudah dibahas dalam Columbia Journalism Review pada 2009.

Yang penting dilakukan di sini adalah semangat bekerja sama, bahu-membahu, memahami "budaya" dari masing-masing platform yang ada dan mencoba untuk bekerja sama dari adanya kesepahaman budaya baru. Dan membangun kesepahaman baru ini membutuhkan rapat rutin untuk menyamakan persepsi sekaligus rapat rutin untuk merespons aneka peristiwa di sekitar kita dan bagaimana masing-masing platform bisa berkontribusi untuk kondisi ini.

Jurnalisme lebih baik?

Multitasking yang sering didengung-dengungkan sebagai kecakapan wartawan zaman sekarang memang terdengar enak di telinga. Namun, dalam kenyataannya sulit untuk mendapatkan hasil liputan aneka platform dengan kualitas yang sama. Penulis yang baik belum tentu seorang yang bisa menghasilkan tulisan cepat untuk media daring dan ia belum tentu orang yang bisa memaksimalkan operasi kamera foto, apalagi kamera video.

Memiliki kemampuan lebih dari kondisi minimal tentu saja baik. Akan tetapi, meminta semua wartawan memiliki kemampuan yang  multitasking demikian tidaklah realistis dan kerja semacam begini tak dapat dilakukan setiap hari. Harus ada perencanaan serius untuk suatu acara tertentu yang mau diliput dengan cara multitasking untuk multiplatform tersebut.

Tulisan Courtney Zwicker berjudul Does Multitasking means Better Journalism? membukakan mata kita bersama (http://thekjr.kingsjournalism.com/the-job- of-the-juggling-journalist/). Artikel itu menunjukkan bahwa jurnalis yang dituntut untuk bertugas pada lebih dari satu macam platform kerap mengalami gangguan (distraction) besar untuk mengelola platform yang ia layani. Hasilnya kemudian adalah: serba sedikit di sini dan serba sedikit di sana, dan akhirnya tak menghasilkan karya jurnalistik yang mumpuni.

Seorang psikolog yang dikutip dalam artikel itu mengatakan justru tugas ganda membuat jurnalis kebingungan untuk menyelesaikan tugasnya. Selain itu, berpindah-pindah tugas untuk menghasilkan berita bagi dua platform akan membuat jurnalis menguras pikiran lebih banyak dan ada kecenderungan konsentrasi pun memudar serta kesalahan pun kerap terjadi. 

Editor publik dari New York Times pun mengatakan bahwa kecenderungan jurnalis mengerjakan dua hal sekaligus membuat kesalahan makin sering dilakukan oleh jurnalis alias beritanya banyak yang tidak akurat.

Masih dari artikel yang sama, Prof Bill Grueskin, guru besar jurnalisme di Columbia University, menulis di Nieman Journalism Lab, bahwa sesungguhnya organisasi media membutuhkan "jurnalis yang menguasai hal-hal yang luar biasa untuk satu dua hal saja ketimbang jurnalis yang menguasai banyak hal tetapi biasa-biasa saja." (News orgs want journalists who are great at few things, rather than good at many.)

Harus realistis

Grueskin punya istilah menarik untuk jurnalis yang multitasking ini, yaitu Swiss army Knife" journalist. Kata Grueskin, "Swiss Army Knife sangat bermanfaat jika digunakan pada saat berkemah. Akan tetapi, kita tidak memerlukannya di dapur karena kita sudah memiliki masing-masing alat bagus yang kita butuhkan."

Tentu saja tidak ada salahnya wartawan koran mengetahui cara mengambil foto yang baik, memahami cara mengoperasikan kamera video, ataupun menyebarkan berita lewat media sosial secara efektif. Akan tetapi, dalam kenyataannya tak semua hal tersebut bisa dikerjakan satu orang. Kalaupun memang direncanakan demikian, pastilah tidak mungkin untuk meliput berita yang dikerjakan secara tergopoh-gopoh, tetapi berita yang lebih ringan ataupun lebih membutuhkan perencanaan panjang sebelumnya.

Apakah lalu ide soal konvergensi media dan jurnalis multitasking harus ditolak? Tidak juga, tetapi harus realistis dengan kondisi yang ada, dan dilakukan lewat suatu perencanaan yang matang. Jika tidak, jurnalistik tidak akan jadi lebih baik karenanya, padahal ide konvergensi ataupun multitasking tadi sebenarnya dimaksudkan untuk memperbaiki tampilan jurnalisme hari ini, dan juga bukan datang dari suatu ide tentang mengerucutkan jumlah jurnalis dari media yang terkonvergensi tersebut.