Sabtu, 30 Desember 2017

Kontestasi Perayaan Natal

Kontestasi Perayaan Natal
Sumbo Tinarbuko ;  Pemerhati Budaya Visual;
Dosen Komunikasi Visual ISI Yogyakarta
                                                    KOMPAS, 23 Desember 2017



                                                           
Bagi umat Kristiani, Desember adalah bulan kedua belas yang dinantikan semua pengikut Yesus Kristus untuk memperingati hari kelahirannya. Meski ditunggu-tunggu, sejatinya perayaan Natal menjadi biasa dirayakan dalam setiap tahun. 

Tahun ini perayaan Natal akan menjadi istimewa karena Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merencanakan menggelar perayaan Natal secara terbuka. Biaya untuk menyukseskan perayaan Natal tersebut konon ditanggung pemerintah lewat Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Lapangan Silang Monas dipilih secara aklamasi menjadi tempat diselenggarakannya perayaan Natal 2017. Namun, setelah muncul pro dan kontra, rencana tersebut dibatalkan dan perayaan Natal oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dipindahkan ke kawasan Kemayoran.

Kesederhanaan

Atas rencana tersebut telah muncullah fenomena kontestasi perayaan Natal. Ia berwujud  tanggapan, pendapat, dan komentar yang menyatakan setuju alias sepakat. Tidak sedikit pula yang secara terus terang menolak dengan menuliskannya menjadi status mereka di media sosial. Status mereka menjadi viral di media sosial. Perang komentar di antara pemilik akun media sosial menjadikan fenomena kontestasi perayaan Natal bersalin wajah berupa ritual ibadah nyinyirisme di media sosial.

Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) lewat Kepala Humas PGI Jeirry Sumampow, seperti dikutip Kompas.com (16/12/2017), juga menolak rencana itu. Penolakan didasarkan pada pendapat PGI yang menilai acara seperti itu tidak efektif dan cenderung boros.  ”Ini juga tidak terlalu sesuai dengan spirit kita untuk gereja merayakan Natal. Kita kan mendorong gereja itu merayakan Natal dengan sederhana,’’ tegas Jeirry Sumampow.

Rohaniwan Katolik, Romo Benny Susetyo Pr, juga tidak sependapat dengan rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar perayaan Natal di Lapangan Silang Monas. Menurut Romo Benny, seperti dikutip Kricom.id (16/12/2017), berdoa di gereja pada saat ibadah perayaan Natal sudah menjadi tradisi.

”Hal ini semata-mata mewujudkan kesederhanaan dalam beribadah. Natal bukan merupakan perayaan seremonial, melainkan perayaan dalam menyambut datangnya Yesus Kristus yang harus dirayakan dengan sederhana.” Ditambahkannya seraya menyarankan, ”Enggak perlulah dana APBD digunakan untuk ini, enggak penting. Mending untuk anak-anak miskin.”

Ideologi pasar

Fenomena kontestasi perayaan Natal tidak pernah lepas dari berbagai godaan duniawi dalam kemasan ritual jual: beli produk, barang, dan jasa. Hal itu ditengarai adanya kecenderungan sikap formalitas saat merayakan Natal.

Sudah menjadi rahasia umum, prioritas kaum formalis terletak pada bentuk perayaannya. Bukan esensinya. Mereka akan merasa terhormat dan tersanjung ketika merayakan Natal dengan ritual ”belanja-belanji” serta pesta pora bergembira ria. Dampaknya, inti perayaan itu menjadi miskin nilai spiritualitas dan mengaburkan makna Natal sesungguhnya.

Fenomena kontestasi perayaan Natal lainnya didominasi sihir ideologi pasar. Bagi pendukung ideologi pasar, perayaan Natal  lebih banyak diposisikan sebagai bulan terang membahagiakan. Mengapa demikian? Ketika gulungan kalender bulan Desember terbuka, para produsen penghasil ribuan komoditas berlomba mempromosikan produk, barang, dan jasa kepada masyarakat konsumen.

Setiap bulan Desember, situasi dan kondisinya disetel dengan ciamik untuk menjadi mesin belanja yang menggembirakan. Dengan memanfaatkan momentum perayaan kelahiran Yesus Kristus, mereka mampu mengendalikan semua media komunikasi visual.

Mereka menyewa media massa cetak, elektronik, dan media sosial berbasis internet. Media tersebut diprivatisasi untuk diwajibkan menyampaikan pesan verbal dan pesan visual. Mereka juga memprivatisasi ruang publik lewat tebaran iklan luar ruang untuk diteror dengan pesan komersial bernuansa Natal.

Dalam perspektif budaya visual, pesan utama yang dikumandangkannya berupa informasi produk, barang, dan jasa dalam kemasan perayaan Natal. Lewat pesan verbal dan pesan visual yang dilempar ke ruang publik, mereka mampu menyihir konsumen yang sebagian besar umat Kristiani. Jargon komersial bernuansa religius yang ditebarkan lewat jejaring ideologi pasar di antaranya ”Merayakan Natal tidak lengkap tanpa membeli produk, barang, dan jasa”.

Kembali menjadi bayi

Pertanyaannya, terhadap fenomena kontestasi perayaan Natal, sanggupkah perayaan Natal menjadi kekuatan antiklimaks? Sebuah kekuatan spiritual membangun kembali sikap manusia yang bersedia mengedepankan hidup sederhana. Bukan menjebakkan diri dalam arus gaya hidup. Sebuah arus bunuh diri yang menyebabkan manusia menjadi mati dalam hidup dan kehidupannya.

Pertanyaan tersebut sejatinya mengingatkan kita pada dongeng Natal. Sebuah narasi cerita representasi rakyat jelata. Sepenggal perwujudan suratan hidup warga masyarakat yang dalam hidup kesehariannya banyak diwarnai keterpaksaan.

Atas dasar situasi kepepet seperti itulah Yesus Kristus lahir di dunia. Diriwayatkan pula bahwa ia terpaksa dilahirkan di sebuah kandang hewan. Ia terpaksa ditidurkan di sebuah palungan (tempat makanan binatang) karena tidak ada lagi tempat bagi-Nya untuk bermalam di rumah penginapan.

Kisah Natal, yang melibatkan peristiwa kelahiran Yesus Kristus, ingin mengajarkan kepada kita untuk berlaku jujur terhadap kenyataan. Senantiasa mengedepankan hidup sederhana. Berani mengambil jarak dan sikap kritis terhadap gaya hidup yang memberhalakan  uang, pangkat, dan kekuasaan duniawi. Caranya, harus rela reinkarnasi kembali menjadi bayi. Berani? ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar