Selasa, 23 Mei 2017

Integrasi Literasi Media ke dalam Kurikulum

Integrasi Literasi Media ke dalam Kurikulum
Ahmad Baedowi  ;   Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta
                                               MEDIA INDONESIA, 22 Mei 2017



                                                           
MELAKUKAN integrasi barang baru ke dalam kurikulum bukanlah hal mudah dan sederhana. Selain dibutuhkan kebijakan yang kuat di tingkat lokal atau sekolah, strategi implementasinya juga harus baik dan disepakati seluruh stakeholders sekolah, salah satunya dengan melibatkan secara intens peran guru dan kepala sekolah untuk terus melakukan upaya dan proses integrasi tersebut. Selain itu, komitmen terhadap kebijakan ini juga memerlukan kebebasan guru dalam berkreasi, terutama dengan menggunakan lokalitas kemampuan sekolah itu sendiri.

Hasil riset dari Jonathan Savage and William Evans dalam Developing a local curriculum: using your locality to inspire teaching and learning (2015) tentang alasan mengapa guru dan sekolah harus diberi kebebasan untuk mengembangkan kurikulum berbasis kebutuhan lokal dalam rangka menciptakan sistem evaluasi yang valid dan berdasarkan nilai dan lokalitas sebuah struktur masyarakat tempat sekolah berada di dalamnya.

Tiga dimensi kurikulum

Menurut Jonathan Savage dan William Evans, setidaknya ada tiga dimensi mengapa pengembangan kurikulum berbasis kebutuhan lokal sekolah menjadi penting dalam konteks program integrasi kurikulum.

Pertama ialah dimensi personal guru (teacher personal dimension) karena bagaimanapun kepribadian guru tidak tumbuh dan berkembang karena kompleksitas hubungan masyarakat yang jauh dan besar, melainkan karena guru tumbuh, hidup dan berkembang berdasarkan nilai-nilai hubungan kekerabatan yang secara genetis tumbuh di daerah mereka masing-masing.

Para guru tentu faham tentang apa yang terjadi dalam keseharian para siswa, orangtua dan lingkungan masyarakat sekitar tempat mereka juga hidup dan bersosialisasi.

Karena mengajar dan pengembangan kurikulum selalu beriringan, mempertimbangkan kebutuhan lokal sangat penting untuk diterapkan dan lebih dari sekedar muatan lokal (mulok) dalam sistem kurikulum kita yang terkesan apa adanya.

Kedua adalah dimensi politik (political dimension) dari kurikulum, yang dominasi negara selalu tak pernah bisa dikalahkan oleh kebajikan lokal (local wisdom) sekalipun.

Kurikulum selalu dipertimbangkan Kemendikbud sebagai sesuatu yang harus selalu dikonstruksi dan dilembagakan dari pusat sehingga jarak implementasi dan pengembangan kurikulumnya menjadi sangat jauh dari realitas sosial sekolah, siswa dan masyarakat sekitar sekolah.

Salah satu yang selalu merepotkan para guru adalah terlalu seringnya kurikulum diubah dan berubah sesuai selera pusat, tetapi lalai dalam menimbang kebajikan lokal (local wisdom).

Karena alasan politis inilah, sekali lagi, diperlukan pengembangan kurikulum lokal berbasis kebajikan lokal yang sesuai dengan norma dan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat.

Area based curriculum menjadi penting karena dimensi ketiga yang menjadi dasar pertimbangannya adalah aspek pedagogis (pedagogical dimension).

Mengapa? Karena menurut Facer (2004), "Teachers are the curriculum makers," guru ialah pencipta sekaligus pelaku implementasi kurikulum yang paling terdepan.

Bayangkan, karena alasan teknis kurikulum yang sangat formal dari tingkat pusat, puluhan tahun guru kita kehilangan semangat dan kesempatan untuk menjadi guru yang kreatif. Guru selalu dikejar setoran oleh para pengawas dan dinas pendidikan tentang aspek formal dari kurikulum, tetapi jaramg sekali memberikan guru kebebasan pedagogis yang memungkinkan kreativitas dan inovasi mengajar mereka berkembang secara signifikan.

Pentingnya menimbang tiga dimensi pengambangan area based curriculum dalam rangka menciptakan program integrasi literasi media ke dalam kurikulum secara berkesinambungan ialah kebutuhan jangka menengah Kemendikbud yang harus segera dibuat proyek percontohannya, terutama untuk sekolah-sekolah negeri.

Maraknya penggunaan media sosial yang memiliki potensi destruktif terhadap semangat belajar siswa dalam menimba ilmu, yang ujungnya pasti akan berdampak buruk juga terhadap masa depan bangsa.

Enam model integrasi

Agar program integrasi literasi media ke dalam kurikulum berjalan dengan baik tanpa mengubah dan menambah beban kurikulum yang telah ada di sekolah, Cyndy Scheibe dan Faith Rogow dalam Basic Ways to Integrate Media Literacy and Critical Thinking into Any Curriculum (3rd Ed, 2008), menjelaskan 6 langkah dan model integrasi kurikulum yang akan berguna bagi pengembangan daya kritis siswa.

Keenam model tersebut secara ringkas dapat dijelaskan dengan, pertama, memberikan kebebasan para siswa untuk bertanya dengan seluas-luasnya tentang apa yang terjadi di media sosial, tetapi tetap dalam konteks mata ajar yang sedang dibahas.

Agar pertanyaan tetap fokus, sebagai guru kita wajib menjelaskan sumber media mana yang kredibel dan mana yang hoaks, dengan cara memberikan penjelasan yang sesuai dengan sumber yang lebih dipercaya.

Sumber yang dipercaya tersebut kemudian disepakati sebagai basis pandangan kelas yang akan digunakan dalam proses belajar.

Dengan kesepakatan yang ada, agar siswa menjadi lebih kreatif, mintalah para siswa membuat berita tandingan yang lebih merepresentasi pandangan mereka dalam hal tertentu yang sedang dibahas.

Tugas kita sebagai guru ialah memastikan bahwa proses komunikasi berjalan baik dan terukur.

Kedua, pastikan bahwa setiap siswa mulai bisa memilih dan memilah informasi yang kredibel berdasarkan pandangan bersama.

Dalam rangka merangsang keinginan siswa untuk terus bereksplorasi secara positif, mintalah mereka untuk membuat riset-riset kecil berkaitan dengan informasi atau topik yang sedang dibahas.

Ketika melakukan riset, bimbing mereka dengan website-website tertentu yang sudah disiapkan agar mereka bisa membaca secara baik dan dapat membandingkan sumber informasi secara jernih. Kemudian bagilah para siswa menjadi kelompok-kelompok kecil untuk mendiskusikan sumber-sumber berita yang lebih banyak dan valid.

Ketiga, guru harus memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi tentang seberapa jauh dan besar berita-berita di media tersebut memengaruhi pola pikir anak-anak selama proses diskusi.

Mintalah anak-anak untuk membuat peta jaringan antar-link dari sebuah berita agar proses pelacakan informasi yang baik dapat berguna untuk membangun basis pandangan siswa dalam menerima sumber informasi secara baik dan benar.

Dengan demikian, artinya siswa sudah mulai belajar untuk terbiasa menerima dan mengolah informasi tidak dari satu sumber, melainkan beragam sumber dalam konteks pembelajaran.

Dengan menggunakan media sebagai standar pedagogical tool, langkah keempat yang bisa digunakan para guru ialah meminta para siswa untuk mulai belajar menuliskan pandangan mereka dari beragam sumber tersebut menjadi pandangan mereka.

Latihan menulis bagi para siswa akan sangat bermanfaat bagi guru dan siswa sekaligus dalam rangka menguji coba untuk berbeda pendapat secara bertanggung jawab.

Jika pandangan yang berbeda tersebut ditulis secara akademik, siswa akan belajar caranya bagaimana menjadi manusia yang bertanggung jawab secara luas.

Bagi guru, respons terhadap keberagaman sumber informasi juga akan membantu kreativitas guru menjadi lebih baik lagi karena keragaman sumber informasi biasanya akan menimbulkan banyak ide kreatif dalam belajar-mengajar.

Model atau langkah kelima adalah memberikan penilaian terhadap hasil kerja siswa secara tertulis dengan memberikan perspektif yang beragam pula.

Dalam konteks ini, guru dapat menunjukkan mana di antara pandangan siswa yang salah tentang sebuah informasi. Menunjukkan kesalahan pandangan juga akan melatih guru dan siswa untuk terbiasa melakukan cross-check sumber informasi secara serius dan berhati-hati.

Dengan menunjukkan kesalahan secara benar, proses penerimaan informasi menjadi lebih akurat dan valid serta sesuai dengan standar akademik yang harus dimiliki komunitas terpelajar di sekolah.

Keenam, guru diharapkan dapat mengembangkan kesadaran siswa bahwa di dalam sebuah berita yang bersumber dari media sosial, banyak hal harus diklarifikasi terlebih dahulu.

Membantu siswa untuk mengidentifikasi berita yang valid dan bukan hoaks adalah kemampuan lain yang harus dimiliki para guru, termasuk membedakan berita yang bersifat fiksi (khayal) dan bukan fiksi.

Karena itu, guru harus memiliki sumber berita yang beragam agar dapat menunjukkan perbedaan yang distingtif antara berita yang benar dan berita yang salah.