Tampilkan postingan dengan label Amanda Adiwijaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amanda Adiwijaya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Mei 2015

Ade Armando dan Dialog Agama

Ade Armando dan Dialog Agama

Amanda Adiwijaya  ;  Pendeta  dan Facebooker
KORAN TEMPO, 27 Mei 2015


                                                                                                                                                           
                                                
Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Ade Armando, dilaporkan  ke Kepolisian Daerah Metro Jaya. Ade dilaporkan oleh Johan Kahn, 32 tahun. Ade dianggap melanggar Pasal 156 A dan atau Pasal 28 ayat 2 juncto Pasal 45 ayat 2 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik

Menurut Ade, laporan tersebut bermula dari tulisannya di laman Facebook yang mengapresiasi pembacaan ayat suci Al-Quran dengan langgam Jawa dalam perayaan Isra Mi'raj di Istana Negara. Ia mengatakan, di Indonesia, kegiatan keagamaan berdampingan dengan kultur.

Ade menjelaskan, ajaran Islam menyebar di Indonesia melalui media lokal-tradisional. "Allah kan bukan orang Arab. Tentu Allah senang kalau ayat-ayat-Nya dibaca dengan gaya Minang, Ambon, Cina, hip-hop, atau blues," demikian Ade menuliskan dalam status Facebook (Tempo.co, 23/5).

Laporan  Johan Kahn  memang berlebihan karena sebagai seorang muslim, Ade jelas mustahil punya intensi menistakan sesembahannya sendiri. Laporan tersebut, jika ditindaklanjuti oleh kepolisian dan dibawa ke pengadilan, jelas bisa membahayakan kebebasan berpendapat, khususnya di media sosial. Sebab, orang menjadi takut mengungkapkan pandangannya hanya karena terancam dilaporkan telah menodai agama.

Lepas dari kasus Ade, media sosial seperti Facebook seharusnya menjadi sarana yang mendekatkan orang yang satu dengan yang lain. Sebuah komunikasi, walau hanya di dunia maya, seharusnya bisa membina rasa saling pengertian, penghargaan, serta membangun toleransi dan semangat dialog.

Dialog di sini pertama-tama bukan dimaksudkan  untuk mengubah keyakinan pihak lain atau mengkompromikan ajaran  atau akidah keimanan yang sudah paten. Dialog di sini lebih merupakan upaya bertemu, menyapa dalam perjumpaan yang hangat dan saling menghargai, serta mendiskusikan berbagai macam isu kebangsaaan dan kemanusiaan dari sudut pandang agama yang kita imani. Dialog agama di sini juga tidak harus antar-agama yang berbeda. Dialog antar-penganut agama yang sama tapi berbeda aliran juga dianggap perlu.

Dengan kekuatannya yang dahsyat, kita sebenarnya bisa saling mendorong lewat media sosial agar setiap penganut agama bisa rukun, guyub, saling menghargai, dan akhirnya berkontribusi bagi kejayaan bangsa. Membangun dialog di tengah beragam perbedaan itu memang sebuah keniscayaan zaman. Apalagi, karakter media sosial atau negeri kita juga selalu heterogen. Maka, orang harus punya jiwa seluas lautan untuk bisa menerima segala macam pandangan yang berbeda tanpa mudah tersinggung, apalagi sampai melapor ke polisi seperti Johan Kahn.

Setiap pemeluk agama perlu terus  mendorong terjadinya dialog, kerja sama, dan segala bentuk interaksi positif demi persaudaraan sejati di dalam satu bumi yang sama yang diciptakan oleh Satu Pencipta. Media sosial, seperti Facebook, adalah produk teknologi yang bersifat netral dan ibarat dua sisi mata uang. Orang bisa memanfaatkan Facebook untuk membangun persaudaraan sejati sesuai dengan sebutannya sebagai media sosial. Namun sebaliknya, orang bisa saling menjatuhkan hanya karena berbeda pandangan serta menyeret agama untuk kepentingan ego yang destruktif bagi pihak lain yang berbeda. ●


Minggu, 17 Mei 2015

Dari Neraka Korupsi ke Surga Sejati

Dari Neraka Korupsi ke Surga Sejati

Amanda Adiwijaya   ;  Konselor keluarga di Surabaya dan Jakarta
JAWA POS, 15 Mei 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

YESUS yang telah menyelesaikan misi-Nya di dunia ini lewat kelahiran, kematian disalib, dan kebangkitan-Nya kerap digelari Raja Yang Mulia karena Dia menang atas kuasa kejahatan dan naik ke surga. Sehubungan dengan perayaan Kenaikan Yesus, Yesus telah menunjukkan bahwa surga bukan hanya persoalan eskatologi atau pada suatu saat kelak, namun harus dimulai sekarang. Ini tampak paling jelas dalam panggilan para murid-Nya untuk menghayati pola hidup dengan nilai-nilai surgawi.

Dalam Sabda Bahagia dan Khotbah di Bukit (Mat 5–7), Yesus mengajarkan, jika ada nafsu untuk memiliki dan ketakutan untuk memberi serta berkorban, Yesus menyerukan semangat kemiskinan di hadapan Allah. Jika ada ketakutan menghadapi kekuasaan yang sewenang-wenang, Yesus menjamin kebahagiaan bagi orang yang tidak takut dicela dan dianiaya dalam memperjuangkan kebenaran (bdk Mat 5:3.5.10–12).

Bukan dengan ajaran saja, Yesus juga menunjukkan surga dengan mukjizat. Orang buta dibukakan matanya, orang lapar diberi makan, orang lumpuh bisa berjalan, orang sakit disembuhkan, bahkan orang mati dibangkitkan-Nya. Hampir seluruh Injil penuh dengan tanda-tanda yang menunjukkan kuasa surga yang dibawa Yesus.

Yang dilakukan Yesus kemudian menjadi inspirasi bagi banyak orang. Sayang, dalam contoh kehidupan umat kristiani dewasa ini, kita tidak selalu bisa menemukan surga dalam diri murid-murid Yesus. Bahkan, nama Yesus kerap disalahgunakan untuk hal-hal yang tidak terpuji.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, juga ada andil sebagian umat kristiani yang justru ikut berperan dalam menciptakan neraka dan keterpurukan bangsa, entah yang jadi koruptor, konglomerat hitam, spekulan beras, bandar narkoba, pelaku illegal logging/fishing, advokat atau pejabat yang hanya memikirkan uang dan mengabaikan keadilan, entah yang jadi pemilik modal dan lupa kepada kaum miskin, atau entah apa lagi yang hanya menambah bobrok keadaan serta menciptakan neraka bagi banyak orang, khususnya kaum lemah.

Kita yang masih punya nurani tentu sedih melihat Indonesia sebagai negeri dengan mayoritas umatnya beragama, namun tingkat korupsinya tetap tinggi. Berdasar catatan Transparency International Indonesia (TII); indeks persepsi korupsi (IPK) Indonesia 2,8 pada 2009 dan 2010; 3,0 pada 2011; 3,2 pada 2012 dan 2013; serta meningkat menjadi 3,4 pada 2014. IPK tersebut terus naik sejak 2009.

Praktik korupsi di negeri ini justru kian hari kian ganas, merebak luas mulai pusat sampai daerah-daerah. Tak peduli korupsi itu mendatangkan neraka bagi banyak orang lain.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr A. Syafii Maarif pernah mengatakan, ”Indonesia menjadi bangsa yang tidak putus dirundung malang akibat dosa kolektif yang dipertontonkan kepada dunia. Agama dimanipulasi dan dikutip untuk menipu. Agama yang tak mampu memerangi dosa kolektif semacam itu akan menjadi agama yang layu.” Cara hidup umat beragama seperti itu jelas hanya akan mendatangkan atau menciptakan neraka bagi sesama.

Umat kristiani perlu dengan rendah hati dan tulus mengakui telah ikut ambil bagian serta tidak bisa melepaskan tanggung jawab dalam rusaknya keadaban publik ini lewat korupsi. Simak saja para koruptor beragama Kristen yang kini mendekam di penjara. Dengan kesadaran demikian, kita bertekad mau ambil bagian bersama semua orang yang berkehendak baik dalam mengobati luka-luka dan membangun keadaban yang baru. Kita perlu terus-menerus bertobat, juga mengajak semua orang untuk terus-menerus bertobat.

Bangsa Indonesia harus bisa segera merekonstruksi peradaban untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman dan bisa bersaing dengan bangsa-bangsa lain yang lebih maju. Hal itu sangat diperlukan, mengingat moral dan nalar bangsa ini sudah berada dalam kondisi krisis yang amat gawat. Runtuhnya moral akibat merajalelanya korupsi harus cepat diatasi lewat tobat.

Bertobat berarti mengubah sikap dan hati, menentukan arah dasar hidup, serta menata ulang mentalitas. Revolusi mental seperti yang digembar-gemborkan lebih baik segera diimplementasikan. Proses pertobatan membawa orang dari jalan yang salah ke jalan yang benar. Dari arah neraka menuju surga.

Apalagi, pesan utama yang hendak disampaikan Yesus dalam kenaikan-Nya ke surga adalah siapa pun yang mengklaim sebagai murid Yesus seharusnya selalu membawa kabar baik (makna dari kata Injil) bagi sesama. Segala macam praksis kehidupan yang hanya menciptakan neraka seperti korupsi harus segera diakhiri.

Maka, mudah-mudahan perayaan Kenaikan Yesus tahun ini bisa dijadikan momentum untuk kembali ke jati diri agama sebagai agama yang membawa pesan kebaikan, bukan keburukan. Pesan penuh harapan dan bukan pesimisme penuh kutukan. Umat kristiani harus mengupayakan dan menghadirkan surga dalam konteks hic et nunc (sekarang dan di sini), bukan menghadirkan neraka bagi banyak orang. ●

Jumat, 20 Maret 2015

Nihilisme ISIS Berkedok Agama

Nihilisme ISIS Berkedok Agama

Amanda Adiwijaya  ;  Lulusan  International Biblical  College Yerusalem
KORAN JAKARTA, 19 Maret 2015

                                                                                                                                     
                                                                                                                                                           

Sejak tragedi 11 September 2001 yang menewaskan  3.000 jiwa, Amerika Serikat (AS) melancarkan perang global melawan  terorisme  dan sekutunya. Al Qaeda yang dipimpin  Osama  bin Laden  menjadi sasaran utama. Meski pada Mei 2011, Osama berhasil ditewaskan, terorisme tidak  terkubur. Justru kini dunia menghadapi Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang disebut-disebut lebih besar dan berbahaya dari Al Qaeda.

ISIS  sudah dirintis sejak 1999 oleh Abu  Musab al-Zarqawi dengan membangun kamp pelatihan militer di Kandahar Afghanistan dan  mendirikan ”Jund al –Sham (pasukan Syam). Pada 2006, Zarqawi sebagai pimpinan Al Qaeda Irak (AQI)  dibunuh AS. Di bawah penerusnya, Abu Ayyub al-Masri, AQI merger dengan lima kelompok lain dan membentuk Majlis Shura al-Mujahideen. Mereka inilah yang melahirkan ISIS.

Pada April 2013, ISIS di bawah kendali Abu Bakr al-Baghdadi yang pada 10 Juni 2014  memproklamasikan "kekhilafahan Islam" di wilayah yang mereka  kuasai di Irak dan Suriah. Proklamasi ISIS  disampaikan dalam lima bahasa guna mengundang para jihadis seluruh dunia. ISIS memang merindukan kejayaan kekhalifahan Islam.

Bila menengok sejarah, setelah empat khalifah pertama yang menggantikan Nabi Muhammad, kekhalifahan mencapai masa keemasan pada masa dinasti Umayah tahun 661-750, dan  dinasti Abbasiyah, 750-1517. Kekhalifahan dihapuskan tahun 1924 setelah kekaisaran Ottoman runtuh.

Berbeda dengan  kekhalifahan  era kejayaan Islam yang berspirit Islam  ”rahmatan lil alamin,” ISIS menjadikan  brutalitas dan kekejaman  sebagai karakter. Pemenggalan kepala, yang  di-upload di Youtube menjadi modus teror terbaru.

Contoh  video pemenggalan wartawan  Global Post James Foley yang digorok sampai enam kali pada bulan Agustus 2014. Demikian juga  wartawan Jepang, Kenjo Goto  pada awal Februari 2015. Yang terbaru adalah pekerja kemanusiaan Jerman Kayla Jean Mueller.

Kekhalifahan di era kejayaan Islam juga menghargai kaum minoritas, sehingga keberadaan nonmuslim dilindungi dan dihargai. Kafilah Al Makmun (830), misalnya, pernah minta Hunain bin Ishaq, seorang tabib Kristen,  mengoordinasi proyek penerjemahan risalah-risalah dari bahasa Aram, Pahlavi, dan Yunani ke dalam bahasa Arab.

Sayang kekalifahan baru  ISIS,  sangat antikeberagaman, sehingga kaum minoritas kian tertindas. Akhir Februari lalu, misalnya, kaum  militan ISIS telah menyerang 11 desa etnis Asiria yang beragama Kristen di provinsi al-Hasakah dan menculik 220 orang. Mereka dibawa dan disandera di pegunungan Abd al-Asiz. 

Madawi Al-Rasheed, profesor isu Timur Tengah di Universitas London School of Economics, mengatakan, warga Kristen di Suriah dan Irak amat ditindas  ISIS. Sekitar setengah juta warga Kristen Irak dan Suriah mengungsi ke Lebanon, Yordania, atau  negara lain.

Pertengahan Januari lalu, 21 pekerja asal Mesir di Libia yang kebetulan beragama Kristen Koptik, juga  dipenggal  ISIS di kota Darna, Libia Timur. Pemerintah Mesir langsung merespons lewat  serangan udara.

Minoritas lain juga menderita seperti kaum  Syiah atau Yazidi di daerah-daerah yang dikuasai ISIS juga sangat menderita. Demikian pula  penduduk Kurdi, yang tesebar di perbatasan Irak, Suriah dan Turki juga amat menderita. Namun warga  Kurdi berani melawan ISIS.

Kesatuan Pembebasan Rakyat atau  Peshmerga (Kurdi dari Irak)  dan Partiya Kerkeren Kurdistan (Kurdi  Turki,  didirikan 1974 oleh Abdoelah Ocalan) dan  Partai Buruh Kurdi juga memerangi ISIS. Total  yang ambil bagian mencapai  9.000 pejuang Kurdi.

Sikap Gereja Katolik, diwakili  Uskup Agung Tomasi. Katanya,   yang dibutuhkan  koalisi terkoordinasi  dan terencana dengan baik untuk melakukan segala yang mungkin demi  mencapai solusi politis, tanpa kekerasan.

Kebiadaban  ISIS  memang sudah melampaui batas. Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj saja menyebut ISIS lebih sadis dari Al Qaeda. Memang kita diliputi pertanyaan mengapa   ISIS  bergitu biadab.  Orang memang bisa mengaji  ini dari berbagai sudut pandang. Mungkin benar  pendapat Thomas Hobbes bahwa manusia merupakan serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Malah Robert Ardrey dalam bukunya  African Genesis menyatakan,  manusia adalah binatang buas yang naluri alamiahnya  membunuh dengan senjata. Pendapat Hobbes  atau Ardrey seolah cocok dengan aksi-aksi ISIS.

Berbagai Penjuru

Yang mencengangkan, ISIS mengaitkan perjuanganya dengan agama. Banyak kalangan menyebut terorisme yang dibawa ISIS adalah sebentuk nihilisme yang memperalat agama. Nihilisme merupakan pemikiran yang banyak dikaitkan dengan  Friedrich Nietzsche atau Martin Heidegger. Singkatnya, nihilisme menegaskan, hidup ini tanpa tujuan.

ISIS melihat keagamaan   sebagai pemahaman agama yang buta.  Dalam jargon Ludwig Wittgenstein,  kebutaan keagamaan merupakan kebutaan yang tak beragama.

Tak heran aksi biadab ISIS justru   dikecam  hampir oleh semua ormas Islam dan masyoritas umat Islam  dunia yang cinta damai. MUI saja menganggap  ISIS sudah menodai  citra Islam sebagai agama yang antikekerasan.

Menurut Abu Qatada, mantan tokoh Al Qaeda Yordania yang kini menetap di Eropa, ISIS itu mirip Khawarij, sebuah gerakan kegamaan Islam yang sangat ekstrem,   tidak patuh pada  pemerintahan Ali bin Abi Thalib pada abad ketujuh. Khawarij dikenal suka menghalalkan segala cara, termasuk cara-cara kekerasan (The Economist, 1/11/2014).

Anehnya, banyak pemuda  berbagai negara, termasuk Indonesia,  justru mau menjadi relawan ISIS. Kita baru dikejutkan  berita  17 WNI asal Surabaya yang memisahkan diri dari rombongan wisata  ke Turki. Mereka  mencoba menyeberang ke Suriah, lalu ditahan pemerintah Turki.  Badan Nasional Penanggulangan Terorisme  pada November 2014 pernah  menyebutkan  terdapat  500 WNI  bergabung  ISIS. BNPT mengingatkan masih  ada  WNI lain yang ingin bergabung  ISIS.

Memang ketika memproklamasikan pendirian kekhalifahan ISIS pada 10 Juni 2014, Abu Bakr al-Baghdadi, pimpinan ISIS, menyerukan kepada setiap muslim di mana pun bergabung dan berjihad melawan pemerintahan kafir yang tengah dimusuhi ISIS baik  Suriah ataupun  Irak.

Maka, sejak itu, berbondong-bondonglah kaum muda  Eropa, Amerika, Australia, dan Indonesia  merespons seruan Baghdadi. ISIS  pun berani menanggung segala kebutuhan para jihadis karena banyak sumber dananya seperti penjualan minyak di pasar gelap.

Sebagaimana kelompok radikal  dalam banyak agama,  para jihadis ISIS sangat yakin  sekarang  berlangsung   perang akhir  zaman.   ISIS yakin  pasti ”selamat” berhadapan  dengan musuh  kafir dan sesat.

Sebenarnya tidak masalah  para WNI berpindah  menjadi warga negara kekhalifahan ISIS. Persoalan akan runyam andai mereka  kembali ke Indonesia yang amat majemuk. Mereka bisa  mengimplementasikan ajaran  sangat antikemanusiaan, antikeberagaman dan anti-Pancasila.

Perlu mempertimbangkan atau  merespons seruan Raja Yordania Abdullah II. Dia  mengajak umat Islam dan Kristen  moderat berani melawan ISIS dan terus mempromosikan budaya serta   hidup  damai yang  menghargai keberagaman. ●

Jumat, 26 Desember 2014

Natal Pertama dan Rekonsiliasi Keluarga

                  Natal Pertama dan Rekonsiliasi Keluarga

Amanda Adiwijaya  ;   Konselor keluarga di Surabaya dan Jakarta
JAWA POS,  25 Desember 2014

                                                                                                                       


SECARA tradisional, di berbagai penjuru dunia, Natal dihayati sebagai pesta keluarga. Kebetulan, tema Natal Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia dan Konferensi Wali Gereja Indonesia pada 2014 adalah Berjumpa dengan Allah dalam Keluarga.

Sayang, dalam banyak keluarga, termasuk keluarga kristiani di negeri ini, kerap Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang tidak bisa dijumpai lagi. Mengapa? Pasalnya, institusi paling kuno dalam sejarah, yakni keluarga, justru sedang menghadapi beragam masalah yang pelik. Keluarga justru berada dalam bahaya karena berbagai ancaman yang bertujuan menghancurkan sendi-sendi kehidupannya.

Berbagai Ancaman

Beberapa ancaman sungguh amat menonjol dan nyata terjadi, misalnya kekerasan, ketidaksetiaan, kejahatan seks pada anak, narkoba, dan sebagainya. Kekerasan memang menjadi pandemi global yang paling meresahkan. Paus Fransiskus, misalnya, menyesalkan kian maraknya kekerasan domestik seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Bahkan, perkawinan secara kristiani pun tidak steril dari KDRT.

Ancaman lain yang cukup hebat adalah ketidaksetiaan kepada pasangan yang tecermin dari kian tingginya kasus perselingkuhan, prostitusi, dan hubungan seks berisiko lainnya. Padahal, hubungan seperti itu kian menyebarkan human immunodeficiency virus/acquired immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS). Yang menyedihkan, jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di kalangan ibu rumah tangga kian meningkat. Menyedihkan, seorang istri baik-baik, bahkan calon bayi yang belum mengenal dosa, harus mengidap HIV/AIDS karena sikap sembrono sang bapak yang notabene kepala keluarga.

Memang di kota besar seperti Jakarta atau Surabaya, tiap pria dengan mudah bisa mendapatkan akses ke hubungan seks berisiko. Demikian juga keberadaan internet, memunculkan pornografi yang bisa diakses di mana pun dan merangsang orang untuk mengkhianati pasangan serta keluarga. Transaksi seksual juga bisa dilakukan dengan mudah di dunia maya, misalnya lewat Facebook dan media sosial lain.

Sayang, dalam dunia nyata, kita juga melihat fenomena yang mengerikan ketika anak-anak harus menghadapi ancaman kejahatan seksual seperti yang dirasakan para korban di SDN Gubeng I, Surabaya, baru-baru ini. Ancaman lain bagi keluarga adalah narkoba. Sebab, menurut Badan Narkotika Nasional, sudah 4,2 juta warga kita yang menjadi korban. Bahkan, Wakil Rektor III Unhas Prof Dr Musakkir SH MH, guru besar fakultas hukum, malah ditangkap polisi karena diduga mengonsumsi narkoba. Jutaan orang, termasuk anak, juga dijadikan kurir narkoba.

Peristiwa guru besar nyabu itu sesungguhnya memberikan warning bahwa narkoba tidak bisa disepelekan. Sebab, narkoba berpotensi kuat menghancurkan bangsa, peradaban, dan keluarga kita.

Kita tahu, institusi keluarga adalah tempat persemaian nilai-nilai peradaban paling awal dan paling lama dalam sejarah. Nilai-nilai moralitas seperti baik dan buruk serta berbagai nilai luhur kemanusiaan bisa dipastikan kali pertama tersemai dalam keluarga.

Pesan Natal Pertama

Bahkan dalam konteks iman kristiani, Yang Mahatinggi dan Besar mau menjelma dan hadir di tengah keluarga kudus. Itu terjadi pada Natal pertama, ketika bayi Yesus lahir di kandang hewan di Bethlehem lewat rahim Bunda Maria dan dijaga oleh Yusuf atau Yosef, suami Maria.

Kelahiran dan kehadiran bayi Yesus sudah pasti menyucikan Maria sebagai ibu dan Yosef sebagai bapak keluarga. Keluarga yang sudah tersucikan itu membuat para tetangga juga ikut merasakan kehadiran Allah. Simak para gembala di Bethlehem pada malam Natal pertama. Mereka bergegas menjumpai keluarga Maria, Yusuf, dan kanak-kanak Yesus. Perjumpaan itu sungguh berkesan sehingga para gembala dan kawanannya memuliakan Allah (Luk 2:20).

Misteri inkarnasi Allah yang hadir dalam keluarga Maria dan Yusuf memang sulit dimengerti. Para imam dan ahli agama Yahudi pun tidak mengerti. Namun, para gembala yang sederhana, demikian orang-orang majusi yang notabene kafir atau tidak menganut agama Yahudi, juga bisa memahami misteri itu lewat perjalanan bintang.

Maka, di tengah berbagai ancaman kepada keluarga seperti yang sudah dibeberkan sebelumnya, mari keluarga-keluarga kristiani kembali menengok apa yang terjadi pada Natal pertama. Melalui keluarga Yusuf dan Maria, Allah mengutus Yesus ke dalam dunia yang begitu dikasihi-Nya. Dia datang semata-mata untuk menyelamatkan manusia dari kekuasaan dosa. Setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak akan binasa, tetapi akan memperoleh hidup yang kekal (Yoh 3:16-17).

Keluarga-keluarga yang mau kembali menengok Natal pertama sudah pasti akan diselamatkan dari beragam ancaman dan kembali dikuduskan sebagaimana keluarga Yusuf dan Maria. Maka, iman akan Juru Selamat harus kembali menjadi inspirasi bagi setiap keluarga. Jangan sampai Dia terusir dari hidup dan keluarga kita.

Semoga di Natal kali ini, Sang Juru Selamat kembali berkenan hadir dan lahir dalam keluarga kita, menjadi pusat hidup dan perisai dalam menghadapi beragam ancaman. Semoga Natal menjadi momentum bagi rekonsiliasi keluarga. Selamat Natal 2014. ●

Senin, 15 Desember 2014

Kembangkan Antikorupsi Tiap Saat

                          Kembangkan Antikorupsi Tiap Saat

Amanda Adiwijaya  ;   Lulusan l International College, Yerusalem
KORAN JAKARTA,  11 Desember 2014

                                                                                                                       


Beredar guyonan mengapa pemberantasan korupsi di Indonesia kurang maksimal? Sebab hanya ada satu Hari Antikorupsi, yaitu pada 9 Desember. Padahal, korupsi dilakukan setiap hari. Memang Hari Antikorupsi Sedunia kadang sekadar seremonial.

Agar pemberantasan lebih kencang, seharusnya tiap saat, tiap hari, selalu menjadi hari antikorupsi. Korupsi sesungguhnya masalah paling besar dan mendesak dituntaskan. Bila tidak, upaya untuk meraih kemajuan menjadi bangsa yang disegani hanya angan-angan.

Konyolnya lagi, berbagai institusi hukum seperti kepolisian, kejaksaan, atau kehakiman justru mandul menghadapi tindak pidana satu ini. Harapan rakyat kini tinggal pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tapi KPK selalu menghadapi upaya pelemahan dan berbagai intrik politik. Menurut Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU 31/1999), korupsi adalah “Perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain dengan melawan hukum yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara”.

Lanjutannya, korupsi itu “Perbuatan menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana karena jabatan atau kedudukan dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain serta dapat merugikan keuangan atau perekonomian negara”. Mengapa tindak pidana korupsi justru terjadi di negeri yang mengklaim diri mayoritas warganya beragama? Perintah Tuhan untuk tidak mencuri, mengambil milik orang lain atau korupsi yang ada dalam kitab suci semua agama tak berpengaruh lagi. Buktinya, para koruptor baru justru terus bermunculan.

Simak saja korupsi Ketua DPRD Bangkalan, Jatim Fuad Ami Imron, yang baru-baru ini ditangkap tangan KPK di rumahnya. Fuad mampu membangun politik dinasti demi kepentingan egonya sambil menampakkan diri ke publik sebagai sosok agamis. Menurut budayawan Emha Ainun Najib alias Cak Nun, bangsa ini begitu ahli menghancurkan diri sendiri lewat korupsi.

Bayangkan, lewat simbol-simbol agama yang meriah di luar, semarak pula korupsi di semua lini kehidupan. Publik pun bertanya, sejauh mana sebenarnya kaitan agama dan korupsi? Lalu, apa peran agama dan regulasi? Tidak mudah menjawab pertanyaanpertanyaan itu. Apalagi jika menilik negara- negara sekuler, bahkan mayoritas warganya tidak peduli pada agama, seperti Denmark. Namun negeri di Skandinavia ini justru praktik korupsinya nyaris tidak ada.

Hanya Kedok

Di sisi lain, para koruptor makin lihai. Praktik korupsi bisa ditutup rapi dengan ritual keagamaan. Dengan menunaikan ibadah haji bagi kaum muslim atau berziarah ke Israel bagi warga Kristen, mendirikan tempat ibadah atau menyantuni anak yatim yang dananya korupsi, seolah semua korupsi diampuni.

Ada pencucian uang hasil korupsi lewat aktivitas bernuansa agama. Beragama oke, korupsi juga oke. Memang bila merenungkan praktik korupsi yang tetap marak, bangsa ini layak mengelus dada. Apalagi aparat penegak hukum justru menjadi bagian dari permasalahan ini.

Simak saja, keberadaan pengadilan tipikor di daerah juga tak membawa perubahan signifikan. Padahal kerugian negara akibat korupsi tidaklah kecil. Menurut KPK, terhitung sejak tahun 2004 hingga 2011 negara telah menanggung kerugian 39,3 triliun rupiah. Menurutnya, dana sebesar itu dapat digunakan untuk membangun 393.000 unit rumah sederhana bagi warga miskin atau 311 unit sekolah dasar.

Berbicara tentang korupsi, memang bisa menggoda bangsa untuk apatis meski tidak boleh berputus asa atau menyerah. Mungkin benar tudingan budayawan dan wartawan senior Mochtar Lubis (almarhum), betapa munafiknya bangsa ini. Pencucian uang hasil korupsi lewat tindakan ritual keagamaan, seperti disebutkan tadi, jelas merupakan kemunafikan.

Persoalan korupsi memang kian menusuk nalar sehat manakala dikaitkan dengan praktik keagamaan. Memang pelaksanaan ritual keagamaan idealnya harus membuahkan perilaku yang terpuji, bukan perilaku tidak terpuji seperti korupsi. Sayangnya ritual keagamaan yang terjadi tidak menghasilkan buah perubahan hidup secara konkret.

Banyak yang melakukannya hanya untuk mencari pujian dari orang lain sehingga citranya terdongkrak serta korupsi yang dilakukan tidak ketahuan. Padahal manusia tidak bisa berpura-pura, apalagi di hadapan Tuhan. Segala topeng yang coba dipasang tidak akan bisa menutupi segala perilaku manusia yang tak terpuji.

Korupsi sesungguhnya sangat menyakitkan dan menganiaya banyak pihak, khususunya kaum miskin. Dengan uang negara yang terus dirampok dan masuk kantong pribadi, kesempatan menjadi hilang bagi anak-anak miskin yang bergizi buruk untuk mendapat asupan cukup. Akibat dirampok koruptor, banyak anak miskin tidak bisa masuk ke sekolah.

Jalan-jalan tambah rusak karena anggaran pembangunan disunat dan dibelikan material murah sehingga cepat rusak dan rawan kecelakaan. Ada rangkaian dampak buruk dari tindakan para koruptor sehingga sebenarnya harus dihukum seberat-beratnya. Tulisan ini tidak berpretensi menomorsatukan pendekatan agama, lalu menggeser peran hukum positif.

Agama lebih berperan sebagai early warning system agar orang jangan korupsi. Tapi bila orang sudah melakukan tindak pidana korupsi, hukum positif seharusnya tegas bertindak. KPK yang masih mendapat kepercayaan publik kini menghadapi ancaman diperlemah. Bahkan, ada yang menyebut terjadi serangan balik dari para koruptor bekerja dengan mafia hukum. Mereka ingin KPK tak bergigi lagi.

Dengan demikian, perampok uang negara bisa terus berpesta di atas kebangkrutan negara dan penderitaan rakyat, khususnya wong cilik. KPK harus dijaga benar agar jangan sampai diperlemah lewat berbagai cara. KPK sendiri perlu tegas dan membidik para koruptor kakap. Harus dicari mekanisme hukum agar para koruptor sungguh jera dan miskin sekeluar dari penjara. Segenap umat beragama harus menggalang semangat antikorupsi setiap saat, bukan hanya pada peringatan hari antikorupsi. ●

Jumat, 12 September 2014

Tetap Mewaspadai Terorisme

Tetap Mewaspadai Terorisme

Amanda Adiwijaya  ;   Alumnus International Biblical College, Jerusalem
KORAN JAKARTA, 11 September 2014

                                                                                                                       
                                                      

Semua tentu tak boleh melupakan tragedi kemanusian saat para teroris menyerang World Trade Center, New York, AS, pada 11 September 2001 yang menewaskan sekitar 3.000 orang. Meski pemerintah George W Bush sudah melancarkan perang global melawan terorisme, hingga kini terorisme tidak ada matinya.

Malah dunia kini tengah menghadapi teror amat mengerikan dari Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Kelompok ini tega memenggal wartawan AS, James Foley, dan ratusan tentara Suriah. Hal itu ditayangkan di Youtube. Negara-negara anggota Liga Arab baru menyatakan perang terhadap ISIS. Di negeri ini pun ISIS juga laku dan mendapat dukungan dari sebagian kalangan yang memuja terorisme.

Padahal, sejak tragedi 11 September 2001, Indonesia sudah kenyang dengan berbagai serangan teror. Ada Tragedi Bom Bali I dan II. Pada 12 Oktober 2002, terjadi serangan teroris di Paddy’s Pub dan Sari Club Legian, Kuta, Bali.

Ada 202 korban jiwa dan 209 luka. Kebanyakan korban wisatawan asing. Bom Bali I merupakan serangan terorisme terbesar dalam sejarah Indonesia. Tragisnya, malah ada sekuelnya, yaitu Bom Bali II pada 1 Oktober 2005, yang menewaskan 22 orang dan 102 lainnya luka-luka.

Didorong Tragedi Bom Bali I dan II, pemerintah menerbitkan UU No 15 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Terorisme. Lalu dibentuk Densus 88 Antiteror. Densus sudah menangkap 700 tersangka teroris, 60 lebih ditembak mati, termasuk para gembongnya. Namun, hingga kini, terorisme justru kian menjadi-jadi.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyaad Mbai, mengingatkan harus tetap waspada, terlebih setelah polisi dijadikan sasaran para teroris dua tahun belakangan.

Terorisme makin rumit karena kegemaran pelaku membawa-bawa agama sebagai motif utama. Ini bisa dibaca dalam buku karangan John W Morehead Armageddon Enters the New Age of Terroism: A Commentary on Terrorisme and Religon (September 2001).

Buku itu mengungkap banyak fakta tentang terorisme yang mengusung spirit dari berbagai macam agama. Morehead menampilkan kelompok teroris yang sangat terkenal di Amerika dengan sebutan Christian Identity Movement. Salah satu tokohnya Timothy McVeigh, tertuduh pengeboman Gedung Federal di Oklahoma 1995.

Terorisme yang mengusung bendera Islam dewasa ini paling menonjol seperti tampak dalam berbagai serangan teror tadi. Namun Charles Krauthammer (2001), dalam The philosophy of wartime, sudah mengingatkan bahwa Islam bukan musuh sebab para teroris yang mengusung bendera Islam juga memusuhi umat Islam lainnya yang berbeda aliran atau mazhab.

Pesan Agama

Maka, masyarakat harus mampu membedakan terorisme dan agama. Hasil terorisme hanya kehancuran manusia, termasuk pelaku. Para korban sering kali tidak tahu apa-apa dan tidak terkait dengan aspirasi perjuangan para teroris.

Jadi masyarakat bisa melihat terorisme benar-benar anti kemanusian dan perdamaian. Tidak masuk akal mereka mengklaim berjuang demi semata-mata hanya Sang Pencipta. Padahal, buah agama seharusnya hanya rahmat atau kebaikan bagi diri dan sesama.

Maka, menolak terorisme dan segala aksinya berarti harus kembali kepada esensi sejati agama. Apa pun agamanya, sejatinya selalu menghargai kehidupan sendiri dan sesama. Ajakan teroris yang memuja altar kematian dan kekerasan harus tegas ditolak.

Apalagi, jika menggali pesan semua agama, akan mendapat kesamaan bahwa kehidupan harus dihargai, bukan malah dilecehkan. Islam berpesan: tidak seorang di antara kamu bisa disebut orang beriman jika tidak mencintai saudaranya seperti diri sendiri (The Forty-Two Traditions of An-Nawawi).

Kristen, "Tuhan adalah pengasih, bukan pembenci. Tuhan adalah penyayang kehidupan bukan kematian. Dia mencinta damai, bukan kebencian. ”Yahudi, “Apa yang tidak kausukai sendiri, jangan kaulakukan pada sesamamu. Itulah inti dari semua Hukum Tuhan” (Talmud, Shabbat 31a). Hindu juga berpesan sama: Do not do to others what would cause you pain if done to you – kamu jangan melakukan sesuatu kepada orang lain jika itu kamu terapkan pada dirimu sendiri dan ternyata sakit (Mahabharata 5.15.17). Jadi terorisme hanya membawa pesan kematian, sementara agama membawa pesan kehidupan.

Kini menjadi tugas semua umat beragama apa pun untuk mengamalkan nilai-nilai luhur seperti itu. Selama nilai-nilai seperti itu tidak pernah dipraktikan dalam kehidupan nyata. Pada saat itulah orang akan gampang terbujuk mengikuti pemahaman ekstrem para teroris.


Namun, Kepala BNPT, Ansyat Mbai, menilai semua opini di media massa yang membahas terorisme percuma saja. Sebab banyak opini atau wacana tentang terorisme terlalu melingkar-lingkar dan tidak menyentuh inti masalah sesungguhnya.

Akar terorisme Indonesia ada pada para mastermind atau “guru” yang telah menanamkan ajaran teror dan kebencian di dalam diri anak-anak muda. Ini membuat mereka meyakini terorisme sebagai sebuah jalan perjuangan demi menegakkan kebenaran.

Ansyaad Mbai mempertanyakan posisi negara pada orang-orang yang telah mengajarkan bahwa membunuh, menyebabkan orang lain terluka, bahkan meninggal sebagai ajaran yang benar.

Baginya akan sangat sulit memberantas terorisme jika para guru terorisme tidak ditindak. Selama ini keberadaan para guru sama sekali tak pernah disentuh hukum. Polisi atau aparat keamanan terlalu memprioritaskan mencari pelaku lapangan, sementara aktor intelektualnya masih leluasa dan dibiarkan mencuci otak orang muda. ●

Sabtu, 19 Juli 2014

Mengakhiri Akar Konflik

                                         Mengakhiri Akar Konflik

Amanda Adiwijaya  ;   Lulusan International Biblical College, Yerusalem
KORAN JAKARTA,  17 Juli 2014
                                                


Israel pernah disebut Nabi Musa  sebagai bangsa  tegar tengkuk karena  kebebalannya pascaeksodus dari Mesir. Seusai  menyeberangi Laut Merah dan aman  dari kejaran tentara Firaun, bangsa itu justru musyrik luar biasa dengan menyembah patung lembu emas.

Rupanya sebutan tersebut berlanjut hingga kini dan kian nyata  dalam serangan  ke jalur Gaza. Ada beragam analisis terkait motif  serangan. Tapi yang boleh jadi paling tepat adalah  balasan atas kematian tiga remaja Israel  secara mengenaskan. Publik dan pemerintah Israel menuduh Hamas sebagai pelaku penyiksakaan. Hamas membantah tuduhan tersebut. Pemerintah Israel mendapat tekanan untuk membalas, sebagaimana hukum mata ganti mata dan gigi ganti gigi.

Perlu diketahui, di mata Israel, Hamas adalah  organisasi teroris. Jadi, menyerang Gaza yang merupakan sarang Hamas dianggap  pilihan logis. Bukti Hamas teroris tampak pada sikap kelompok itu  yang selalu mengganggu eksistensi Israel lewat berbagai aksi teror seperti menyiksa atau menyandera personel militer dan warga sipil Israel.

Israel  mengeluarkan pernyataan mengejutkan di tengah krisis Gaza yang semakin memburuk. Israel meyakini Palestina sudah mengubah fungsi tempat ibadah sebagai tempat perencanaan aksi teror. Hamas dan beberapa organisasi teroris lain telah menggunakan tempat seperti itu secara sistematis untuk keperluan militer dan politik. Demikian pernyataan resmi Pusat Intelijen dan Kontra Terorisme Israel, seperti dimuat  Israel Nation News, Selasa (15/7/2014).

Beberapa hari lalu, Israel melancarkan serangan atas  dua masjid di Gaza. Serangan tersebut sontak membuat Hamas naik pitam. Hamas pun belum mau menerima proposal terbaru Mesir untuk  gencatan senjata. Mereka juga terus meluncurkan roket ke Israel. Kabinet Israel, Selasa (15/7), juga membahas proposal gencatan senjata usulan  Mesir. Obama mendukung proposal tersebut.

Demikian pula Paus Fransiskus pun sudah mendesak  kedua belah pihak, Israel dan Hamas, mau menempuh jalan damai dan dialog, bukan perang. Paus jelas amat kecewa dengan banyaknya korban sipil akibat serangan. Padahal baru sebulan lalu, Paus  memprakarsai doa bersama di Vatikan dengan  mengundang Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, dan Presiden Israel, Shimon Peres.

Ayat Alquran, Injil, dan Taurat pun  dibacakan di sebuah taman di Vatikan, Minggu (8/6). Paus duduk di antara Peres dan Abbas. Sekitar 80 pemimpin agama hadir, selain wartawan. Ketiga tokoh lalu  membacakan doa.  Peres berdoa dalam bahasa Ibrani yang mengutip Taurat. Paus dalam bahasa Italia dan mengutip Injil. Terakhir,  Abbas berdoa dalam bahasa Arab dengan  mendaraskan ayat Alquran.

Selanjutnya, ketiganya memberi sambutan. Peres dan Abbas berpegangan tangan, lalu  berpelukan. Menurut Paus, perdamaian membutuhkan keberanian daripada  perang.

Acara doa  digagas Paus sejak kunjungan tiga harinya  ke Palestina pada bulan Mei. Dalam kunjugan itu, Paus sempat  mendatangi Masjid Al Aqsa di Yerusalem, Senin (26/5). Ketika di Yerusalem itu, Paus menyerukan umat Kristen, Yahudi, dan Muslim bekerja sama mengupayakan perdamaian.

Karena  perdamaian berdimensi spiritual, maka  perlu doa. Yerusalem sendiri bermakna sebagai kota damai. Di kota suci bagi tiga agama samawi ini, khususnya  Yerusalem Timur, sepanjang 24 jam juga terlantun doa-doa  dari sinagoga, gereja, dan  masjid. Doa dari ketiga umat beragama itu sudah berlangsung ribuan tahun.

Ironi

Ironisnya perdamaian menjadi sesuatu yang mewah dan mahal di Timur Tengah pada umumnya dan  Gaza khususnya. Memang, manusia  jangan pernah berpikir bahwa doa di Vatikan  bisa menyelesaikan segalanya atau membawa hasil cepat dan menuntaskan masalah.

John L Allen Jr menyebut doa adalah  awal  baik. Ibarat seorang petani, setelah doa, dia juga harus  membajak, menanam benih, memupuk, menyiangi, baru  memetik  panen. Menurut Pierrebattista Pizzaballa, Pemimpin Ordo Fransiskan di Timteng, doa bersama tiga tokoh itu sungguh awal yang baik bagi perwujudan  perdamaian.

Tanah Palestina khususnya, dan Timur Tengah umumnya, yang menjadi asal ketiga agama samawi,  kerap dilanda  konflik, permusuhan, dan kebencian. Tak terhitung jumlah korban. Padahal di kawasan itu, nama Tuhan paling sering disebutkan dan doa-doa  tiada putus disampaikan.

Selain  doa, akar masalahnya harus dirampungkan. Konflik Israel-Palestina  berakar dari klaim rebutan Tanah Air. Pada abad 19, muncul gerakan  rekayasa kelompok-kelompok Yahudi Eropa buah  kongres Basel (Swiss) 1897 yang dipimpin Theodore Herzl. Intinya, mereka ingin  membentuk sebuah Tanah Air bagi bangsa Yahudi yang diaspora  di seluruh dunia.

Keinginan  itu  tidak  masalah, andai  Menlu Inggris, James Arthur Balfour, tidak menjamin dalam  Deklarasi Balfour  1917. Isinya,  Inggris yang ketika itu menguasai  wilayah Timur Tengah termasuk Palestina menjamin berdirinya negara Yahudi di Palestina. Janji diberikan kepada seorang Yahudi Amerika bernama Baron Rothchild.

Dari tahun 1917,  hingga  pendirian  negara Israel  pada 15 Mei 1948, ratusan ribu  rakyat Palestina eksodus. Sebagian  hidup  di banyak kamp pengungsian seperti  Lebanon dan Yordania. Populasi warga Kristen Palestina yang sudah ada sejak zaman Yesus, misalnya, juga menyusut. Mereka lebih suka pindah ke mancanegara.

Sebelum menyerang Gaza,  Israel  terus memprovokasi dengan mendirikan permukiman baru  di Yerusalem Timur. Serangan ke Gaza kali ini pun dari perspektif perang yang adil, tak bisa dibenarkan karena banyak korban sipil. Israel memang berhak membela diri, setiap  diserang roket Hamas, tapi balasannya berlebihan.

Memang serangan Israel ke Gaza akan terus terulang, jika tak ada penyelesaian mendasar. Penyelesaian permanen bisa diwujudkan bila pemerintah Israel dan sekutunya, khususnya Amerika Serikat, yang gemar memveto di PBB, mau  menaikkan status otoritas Palestina sebagai negara merdeka  penuh.

Memang resolusi 181 (II) PBB  yang  mengatur pembagian Palestina menjadi dua:  negara Israel dan Palestina tetaplah menjadi solusi terbaik. Negara Israel sudah berdiri dan berdaulat, sedangkan otoritas Palestina belum.

PBB memang sudah  mengangkat status Palestina  sebagai “negara pengamat non-anggota” sama dengan status Vatikan. Jika status Palestina dinaikkan, mungkin saja  eskalasi kekerasan mereda. Selama otoritas Palestina hanya menjadi  setengah merdeka,  serangan seperti ini  bisa  terus terjadi. ●