Selasa, 28 Februari 2017

Tujuh Puluh Lima Tahun Lalu

Tujuh Puluh Lima Tahun Lalu
Bambang Hidayat  ;    Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia
                                                     KOMPAS, 27 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Tanggal 27 Februari 1942 tercatat sebagai hari tenggelamnya kapal perang De Ruyter, Java, dan beberapa lainnya di Laut Jawa.  Armada gabungan yang dibangun Sekutu (Inggris, Amerika, Australia, dan Belanda) pada 2 Februari 1942 itu tak berumur panjang, terkoyak-koyak serangan udara Laksamana Takagi.

Meski demikian, kekalahan di Laut Jawa itu menyisakan kepahlawanan Admiral Karel Doorman, yang baru beberapa jam sebelumnya diangkat menjadi admiral penuh oleh pemimpin Angkatan Perang Belanda, Admiral Helfrich.

Sebagai panglima tempur, Doorman memancangkan bendera komando di kapal perang De Ruyter. Ia memimpin armada Sekutu, terdiri dari 8 kapal perang, 5 penyapu ranjau, 10 kapal selam, dan beberapa kapal perusak.

Tahun 1942 Nusantara masih dijajah dan menjadi tumpuan kesejahteraan  Belanda. Tak mengherankan kalau Karel Doorman mati-matian mempertahankan Jawa, yang menyimpan kekayaan bagi negaranya.

Doorman mencatat nilai kepahlawanan tidak hanya dalam ujud kepemimpinan yang tegas dan inovatif (istilah abad ke-21), tetapi juga usahanya melawan sampai titik darah penghabisan. Padahal, armada dan sumber daya pendukungnya kalah banyak dan kalah koordinasi.

Bayangkan kelelahannya memimpin armada yang belum kompak memahami bahasa sandi dalam sistem multikomponen Amerika, Inggris, Australia, Belanda. Kurangnya peralatan komunikasi membuat perintah disebar dengan kilatan lampu senter pada malam hari.

Doorman tak pernah meninggalkan kapalnya. Pada pukul 23.18, 27 Februari 1942, dia bersama sekitar 1.000 anggota angkatan lautnya terkubur di dekat Pulau Bawean. De Ruyter tenggelam setelah torpedo Laksamana Takahashi menembus lambung kapal. Hampir bersamaan, tenggelam pula kapal perang Java, tidak jauh dari De Ruyter.

Artikel ini tidak hanya memotret seorang panglima tempur, lebih dari itu mengajak kita mendalami  makna perintah menjalankan tugas, membela kehormatan wilayah.

Setelah berpatroli  beberapa hari di Laut Jawa, armada Sekutu yang tidak dikawal angkatan udara itu sebenarnya hendak mengisi amunisi dan bahan bakar. Doorman berniat  mengistirahatkan marinir, kelasi, dan awak kapal yang kelelahan dan kelaparan setelah beberapa hari dalam tekanan kewaspadaan.

Namun, pada 27 Februari 1942, belum sempat mengaso karena baru 2-3 jam tiba di Surabaya, datang perintah Panglima Helfrich dari markas besar di Bandung, bahwa armada perang, penahan serangan, harus segera kembali ke Laut Jawa. Sore itu, dalam keadaan kumuh, lesu, dan tanpa perlindungan pesawat terbang satu pun, para perwira dan marinir dengan perlengkapan seadanya kembali ke medan laga.

Menurut markas besar di Lembang, armada musuh sudah berada pada jarak 275 kilometer di sebelah utara Surabaya, dekat Pulau Bawean. Namun, sudah beberapa hari angkatan udara Belanda memang mati suri, lumpuh. Lapangan terbang Andir di Bandung (sekarang Husein Sastranegara) menjadi karang merah akibat serangan udara Jepang yang sistematis.

Belalai gurita angkatan perang Jepang memasuki wilayah dari timur: Lautan Maluku dan Selat Makassar. Armada pengangkut tentara kemaharajaan Jepang ke-16-yang bertugas merebut Jawa-bahkan sudah tiba di sekitar Pulau Bangka. Konvoinya, Java Convoy, berada 120 kilometer sisi barat laut Singkawang. Artinya, armada tempur itu sudah di utara Surabaya. Tinggal menunggu waktu menerkam.

Sikap permusuhan Jepang terhadap Barat sebenarnya diawali 9 jam sebelum Pearl Harbour dilumpuhkan lewat kelicikan yang pertama kali terjadi dalam sejarah diplomasi, oleh  armada Laksamana Naguno dan Admiral Isoroku Yamamoto.

Pada 8 Desember 1941 (tiga bulan sebelum pecah Perang Pasifik), benteng baja laut "tak terlumpuhkan" milik Britania Raya, yakni  kapal perang raksasa Prince of Wales yang baru beberapa hari dimiliki Armada Timur yang berpangkal di Singapura dan kapal perang Repulse, sudah ditenggelamkan  Jepang di dekat Kepulauan Anambas.

Kelumpuhan kedua kapal perang itu berkat kejelian  penerbang Jepang. Pada pukul 11.05, setelah beberapa hari Semenanjung Malaka tersaput kabut tebal, pilot-penerbang muda Hoashi melapor ke markas di Saigon, "Tampak dua kapal perang musuh, 100 kilometer di sebelah tenggara Kuantan. Keduanya bergegas ke tenggara."

Berita singkat itu mempercepat adrenalin para pilot dan menaikkan suhu perang  armada udara Jepang. Sebagai catatan, karena konfigurasi geografis dan pengaturan penggunaan jam lokal, Pearl Harbour belum mengalami serangan. Baru 9 jam kemudian Pearl Harbour diserang dan mulailah  "the day of infamy" , menandai Perang Dunia II.

Dengan tenggelamnya Prince of Wales dan Repulse, keseimbangan berubah. Pendulum bergulir. Kapal perang tak lagi diagungkan, bagaimanapun besar dan kuat persenjataannya. Tanpa lindungan pesawat, kapal perang hanya menjadi onggok sasaran.

Inilah yang dialami Karel Doorman karena armada udara Belanda mati suri, apalagi ada kesialan tak terduga. Pilot  (dari Andir, Jawa Barat) tak bisa berhubungan dengan satuan darat di Cikole karena  frekuensi radio penyiar dan penerima tidak sama.

Pesawat Dornier tergelincir, lepas dari landas pacu, tidak bisa diangkat lagi karena sopir truk derek lari. Peristiwa-peristiwa sepele itu membuat wajah pertahanan Belanda kian bopeng.

Perang heroik

Keluruhan armada Sekutu dalam Perang Laut di Jawa tercatat sebagai  epos perang  laut yang heroik, perang besar yang meminta tumbal 6 kapal perang, beberapa admiral, kolonel dan 2.000-an marinir yang terkubur di dasar laut. 27 Februari 2017, hari ini, pemerintah  dan masyarakat maritim  Belanda memperingati hari sial itu dengan kebanggaan bagi yang gugur.

Makam Kembang Kuning, Surabaya, menjadi saksi peringatan peristiwa 75 tahun lampau. Saya menundukkan kepala atas gugurnya Karel Doorman dan angkatannya.

Akan tetapi, sebagai orang Indonesia, mau tidak mau saya juga mencatat khidmat karena saat itulah awal pintu kemerdekaan terbuka, setelah melalui hinaan Jepang yang 3,5 tahun menjadi tuan di negeri ini.

Semenjak Churchil (PM Britania Raya) pada 25 Agustus 1941 menetapkan pembentukan Armada Timur yang berpusat di Singapura, lewat   1 Desember 1941 Dewan Kabinet Kekaisaran Jepang meratifikasi keputusan Perdana Menteri  Jepang Tojo (yang dibekali Doktrin Tanaka 1926), bahwa Jepang harus ke selatan menguasai wilayah itu untuk kesejahteraan rakyat Jepang.

Daerah "selatan" harus dikuasai karena kaya bahan mentah dan tambang. Siasat Jepang menguasai Singapura mengelabui mata dunia dan sekaligus strategis secara militer.

Penyerangan Pearl Harbour adalah untuk menelikung armada Amerika agar tak ikut campur usaha Jepang di Asia. Dari 15 Februari 1942, saat penyerahan Singapura oleh Jenderal Percival Lowel dari Inggris kepada Yamashita dari Jepang, tidak ada armada yang lebih kuat daripada armada laut dan udara Jepang.

Itu semua membawa kita kepada fase 8 Maret 1942, 75 tahun yang lalu, ketika di Kalijati, Jawa Barat, Letnan Jenderal Imamura menerima penyerahan tak bersyarat seluruh  Hindia Belanda dari Jenderal Ter Poorte.