Tampilkan postingan dengan label Luhut B Pandjaitan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Luhut B Pandjaitan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Januari 2018

Medan Geopolitik Baru

Medan Geopolitik Baru
Luhut B Pandjaitan  ;  Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI
                                                      KOMPAS, 22 Januari 2018



                                                           
Lima tahun ke depan, kita harus mewaspadai sebuah tatanan politik baru dunia dengan munculnya beberapa pemimpin pemerintahan generasi baru bersamaan dengan semakin besarnya pengaruh teknologi pada daya saing sebuah negara.

Pengertian generasi baru tidaklah selalu identik berusia muda, tetapi bisa juga karena tokoh tersebut muncul dan melejit di luar perkiraan banyak kalangan, entah karena sebelumnya hanya berkiprah di daerah atau belum pernah jadi elite politik di tingkat nasional. Di kawasan Asia Tenggara, Presiden Joko Widodo dan Presiden Filipina Rodrigo Duarte masuk kategori tersebut. Meskipun keduanya berbeda usia cukup jauh, keduanya bukan pejabat di pusat pemerintahan, melainkan datang dari ”pinggiran”.

Para pemimpin politik generasi baru umumnya melakukan gebrakan atau mengambil keputusan politik di luar norma umum (out of the box) dan tindakannya berdampak strategis, baik di kawasan maupun di tingkat dunia, tergantung dari siapa aktor bermain. Namun, ini bisa memunculkan gesekan baru di antara dua negara yang sebelumnya tak ada atau tak timbul di permukaan. Graham Allison dari John F Kennedy School di Harvard menyebutnya ”Thucydides’s Trap” dalam bukunya teranyar, Destined for War (2017). Thucydides adalah sejarawan Yunani kuno yang mengamati penyebab meletusnya Perang Peloponnesia antara bangsa Athena dan Sparta pada 5 SM. Kesimpulannya, kalau ada kekuatan (baca: negara) baru muncul dan dianggap bisa mengancam kekuatan yang ada (ruling power), pasti terjadi bentrok dan kekerasan dari yang merasa terganggu hegemoninya.

China yang muncul sebagai kekuatan baru di dunia mengubah geopolitik masa kini. Daftar negara yang berhubungan erat secara politik dan ekonomi kian banyak, dan pada sisi lain AS kian ditinggalkan dan dianggap masa lalu. Presiden Xi Jinping dalam pidato awal 2018 secara tegas mengatakan, ”China dengan positif mendorong pembangunan bersama Satu Sabuk Satu Jalan (One Belt, One Road/OBOR) selalu menjadi pembangun bagi perdamaian dunia, kontributor perkembangan global, dan pemelihara tata tertib internasional….” Diakui atau tidak, keadidayaan AS kini meredup dan Washington terperangkap ”Jebakan Thucydides”.

Di kawasan lain, tindakan agresif Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman (32) di dalam negeri dan langkah politik luar negerinya membuat peta kawasan Timur Tengah berubah. Kunjungan Raja Salman ke China dan Rusia pertama kali dalam sejarah hubungan diplomatik mereka (diikuti kontrak dagang dan militer dalam jumlah besar) adalah bagian dari kebijakan baru Arab Saudi yang selama ini sangat konservatif dan berkiblat ke AS. Arab Saudi sudah lama tak nyaman dengan Iran karena penyebaran paham Syiah dan pengaruh politik mereka di Irak, Suriah, Yaman, dan Lebanon; kini mendekati Rusia dan China yang dikenal dekat dengan Iran.

Pangeran Salman (dikenal sebagai MBS) juga membekukan hubungan politik dan ekonomi dengan Qatar, padahal mereka sama-sama duduk di Dewan Kerja Sama Teluk. Dampaknya, Emir Qatar Sheik Tamin al-Thani (37) kemudian bersekutu erat dengan Iran dan Turki yang punya kepentingan strategis sejalan di kawasan itu mengingat Qatar yang hanya sepertiga luas Jawa Barat punya cadangan gas ketiga terbesar di dunia setelah Rusia dan Iran. Qatar juga aktif mencari sekutu dagang baru dan kawan politik yang sejalan dengan kepentingannya di Teluk dan di luar kawasan itu, seperti Indonesia.

Turki tadinya, seperti Arab Saudi, adalah aliansi tradisional AS, kini di bawah Presiden Recep Erdogan menjadi sangat aktif di kawasan dan kebijakannya tak selalu sejalan dengan AS. Ungkapan populer di Arab, ”musuh dari kawanku adalah musuhku juga”, masih relevan hingga kini dan terlihat bagaimana Erdogan amat aktif dalam diplomasi masalah Palestina dengan antara lain jadi tuan rumah KTT Darurat OKI mengenai sikap AS yang memindahkan kedubesnya di Israel dari Tel Aviv ke Jerusalem. Baik Turki maupun Irak punya masalah serupa dengan suku Kurdi.

Hanya kondisi politik dan ekonomi dalam negeri yang bisa membuat Arab Saudi, Iran, dan Turki mengurangi ambisi persaingan pengaruh di kawasan itu, dan celakanya ketiga negara masih menyimpan bom waktu di dalam negeri masing-masing. Gerakan reformasi MBS memang menarik simpati generasi muda, tetapi membuat kelompok tradisionalis, bangsawan yang tersingkir dan kaum Wahabi, tak senang.

Di Iran, aksi-aksi unjuk rasa besar dengan alasan ketidakpuasan ekonomi oleh kaum muda tak bisa dipandang enteng dan di Turki tangan besi tak serta-merta menjamin keamanan dari bom dan teror. Gagalnya Arab Spring (Musim Semi Demokrasi) di Tunisia, Libya, dan Mesir menunjukkan dinamika dalam negeri bisa menunjukkan hasil tak terduga dan optimisme munculnya demokrasi dikalahkan oleh pertimbangan pragmatis penguasa yang baru.

Teknologi dan kekuasaan

Perkembangan teknologi berpengaruh pada nilai tawar dalam politik internasional. Menurut mantan Menlu AS Henry Kissinger dalam buku World Order (2014), yang pertama adalah teknologi senjata nuklir. Monopoli teknologi itu pecah tahun 1949 ketika akhirnya Uni Soviet berhasil melakukan percobaan bom nuklir pertamanya. Sejak itu anggota ”kelab nuklir” bertambah banyak, entah karena teknologinya dibagi dengan sukarela, dicuri, atau dibeli dengan cara tidak sah. Yang jelas sekarang Inggris, Perancis, Israel, China, India, Pakistan, dan Korea Utara, serta Iran sampai tingkatan tertentu, punya teknologi senjata nuklir.

Andaikata Korea Utara tak punya senjata nuklir, pastilah leverage Kim Jong Un (33) terhadap AS tak bisa seperti sekarang. Apabila Iran tak mendalami teknologi tersebut, negara itu tentu tidak akan dianggap sebagai pesaing yang menakutkan oleh Arab Saudi yang, walau kaya raya, tidak punya minat pada teknologi senjata nuklir.

Kedua, menurut Kissinger, adalah teknologi informasi (TI). Ia melihat bagaimana pilpres di AS yang mengoptimalkan TI sejak kampanye Obama pertama kali mengubah cara-cara dan keterlibatan tatap mata menjadi kontes antarpakar internet di dunia maya. Marketing of ideas dijalankan mesin-mesin yang mampu menyusup ke dalam pikiran dan hati (hearts and mind) individu secara massal dan fungsi kandidat sekadar pencari dana kampanye ketimbang pengelaborasi isu-isu politik.

TI juga telah mengubah proses demokrasi di banyak negara. Jika ada kelompok masyarakat yang hendak memberikan tekanan kepada pemerintahnya untuk berubah menjadi demokratis, kelompok masyarakat itu cukup menyebarluaskan tuntutannya dan pesan-pesan demokrasi secara digital, dan biasanya negara-negara Barat (termasuk AS) akan cepat merespons dengan dukungan politik dan juga dana pada ”gerakan digital” semacam yang dilakukan anak-anak muda di Iran sekarang, apa pun motif dukungan tersebut.

Akan tetapi, jangan lupa, teknologi canggih punya sisi lain yang memprihatinkan. Martin Ford dalam buku The Rise of the Robots (2016) mengatakan, akibat kemajuan teknologi, ada enam perkara besar yang dampaknya terasa di masyarakat, antara lain, pertama, kenaikan pendapatan masyarakat berpenghasilan tetap menjadi stagnan. Kedua, menurunnya lapangan kerja baru, sementara waktu tunggu untuk mencari pekerjaan semakin lama. Ketiga, para lulusan baru perguruan tinggi kian sulit mencari pekerjaan. Semua karena munculnya teknologi robotik yang kian canggih yang mampu menggantikan kerja manusia dengan produktivitas berlipat dan biaya menurun drastis karena robot tidak pernah menuntut kenaikan gaji!

Menurut Ford, tahun 1998, para pekerja di AS secara total bekerja selama 194 miliar jam. Lima belas tahun kemudian, nilai hasil kerja itu tumbuh menjadi 3,5 triliun dollar AS, naik 42 persen dibandingkan 15 tahun sebelumnya, tetapi jam kerjanya ternyata tetap 194 miliar jam. Bisa disimpulkan, dalam 1,5 dekade tak ada pertambahan jam kerja (no growth on man-hours) meski produktivitas naik akibat efisiensi dan penggunaan robotik besar-besaran, padahal penduduk AS bertambah 40 juta orang dan ribuan lapangan kerja baru tercipta. Penggunaan teknologi robotik secara masif membuat China jadi salah satu negara manufaktur termaju di dunia.

Namun, selain itu, ada yang tak disebutkan Kissenger, tetapi punya dampak strategis, yaitu teknologi gas serpih (shale gas) di AS. Dengan teknologi yang kian hari kian canggih dan membuat biayanya semakin murah, AS berubah dari negara importir neto minyak jadi eksportir minyak. Menurut Institute for Energy Research (IER, 2016) cadangan minyak AS sekarang 3,5 kali cadangan Arab Saudi berkat gas serpih tadi. Ini salah satu alasan mengapa Presiden Trump berani mengambil keputusan kontroversial memindahkan kedubesnya tanpa banyak mempertimbangkan pandangan sekutu-sekutunya di Timteng.

AS tak dibebani lagi tugas untuk mengamankan kawasan yang kaya minyak itu, seperti pada era pra-gas serpih di mana pasokan minyak dari Teluk adalah sumber utama untuk menggerakkan perekonomiannya. Kehadiran mereka di kawasan tersebut kini karena ada komitmen politik lama dan menjaga keseimbangan belaka, terutama karena faktor Iran. Sementara para penguasa di Teluk sadar betul ”kartu minyak” tak laku untuk dimainkan lagi untuk menekan AS, lebih-lebih pada masa harga minyak merosot tajam dari 112,70 dollar AS pada 2012 menjadi hanya sekitar 50 dollar AS per barrel sekarang ini, yang menyebabkan defisit pada APBN.

Arab Saudi mencoba mengalihkan dana APBN-nya, yang 90 persen dari minyak, ke sumber lain yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. Beberapa minggu lalu untuk pertama kali dalam sejarah, Arab Saudi menerapkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 5 persen pada semua jenis jualan dan sekaligus menaikkan harga BBM kendaraan di dalam negeri (Kompas, 5/1). Implementasi PPN pada 2018 akan memberikan pemasukan 21 miliar dollar AS, cukup signifikan untuk menambal defisit APBN-nya, negara-negara Teluk lain juga dalam tahun ini akan menerapkan PPN.

Posisi Indonesia

Kita di Indonesia harus pandai-pandai membaca peta baru ini dan lincah berselancar pada era ini untuk kepentingan nasional kita. Bung Hatta di depan Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat, 2 September 1948, membacakan pidatonya yang amat terkenal  ”Mendayung di antara Dua Karang”. Ia antara lain mengatakan, ”Tiap-tiap orang di antara kita tentu ada mempunyai simpati terhadap golongan ini atau golongan itu, akan tetapi perjuangan bangsa tidak bisa dipecah dengan menuruti simpati saja, tetapi hendaknya didasarkan kepada ’realitiet’ kepada kepentingan negara setiap waktu….”

Istilah ”kepentingan negara” yang didengungkan 70 tahun lalu sangat relevan dengan zaman sekarang karena atas nama ”kepentingan negara”, kita membina hubungan baik dan menerima investasi ekonomi dengan negara mana pun. Atas nama ”kepentingan negara” pula, politik luar negeri yang bebas dan aktif meluweskan posisi Indonesia dekat dengan sebanyak mungkin negara tanpa takut dicap sebagai anteknya. Di kawasan ini hanya Indonesia dengan jumlah penduduk 262 juta dan punya potensi ekonomi yang besar bisa menjadi counterweight bagi China, tetapi sekaligus mitra ekonomi baru bagi negara itu (Howard W French, 2017).

Presiden Jokowi memberikan arahan yang amat jelas mengenai siapa saja yang ingin berinvestasi di Indonesia. Pertama, teknologi yang dibawa ke Indonesia harus ramah lingkungan. Kedua, sebanyak mungkin menggunakan tenaga serta keahlian bangsa Indonesia. Ketiga, investor harus mendidik tenaga-tenaga Indonesia menjadi tenaga yang ahli di bidangnya. Keempat, harus ada alih teknologi dalam periode waktu tertentu.

Ini syarat-syarat yang jelas melindungi kepentingan negara dan jauh dari kepentingan pribadi atau golongan. Karena itu, sangat disayangkan masih ada pihak-pihak yang mencurigai hubungan ekonomi yang baik kita dengan satu atau dua kekuatan ekonomi baru di dunia sebagai ancaman ketimbang peluang. Di Indonesia, tiga tahun terakhir banyak kalangan lebih senang menyebarkan sikap-sikap pesimistis dan malahan sinis terhadap apa pun yang dilakukan pemerintah, sering tanpa argumentasi yang obyektif.

Pada era media sosial, penyebaran informasi yang tidak tepat malahan sering dianggap sebagai kebenaran oleh pembacanya, dan sayangnya pesimisme justru tumbuh dari data yang tidak benar tersebut meski banyak ”generasi now” sulit mengerti mengenai hubungan antara ancaman komunisme dan masa kelam Indonesia yang dulu. Apabila kita rela dan sepakat tak membuang energi untuk bertengkar soal isu-isu yang tak substansial, yakinlah tenaga berlebih itu bisa digunakan untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Tenaga yang berlebih sangat diperlukan karena untuk mengatasi ketertinggalan, Indonesia tak cukup melakukan lompatan katak (frog-leap), tetapi harus melakukan lompatan kuantum (quantum leap). Lompatan jauh ke depan. ●

Sabtu, 10 Oktober 2015

TNI Menuju 70 Tahun Kedua

TNI Menuju 70 Tahun Kedua

Luhut B Pandjaitan ;   Menko Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan RI
                                                       KOMPAS, 08 Oktober 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Dalam tulisan di harian ini satu tahun lalu (Kompas, 5 Oktober 2014), saya menceritakan bagaimana Presiden terpilih Joko Widodo—waktu itu belum dilantik—menggeleng-gelengkan kepalanya tanda kagum sekaligus prihatin. Ketika itu saya ungkapkan kepada beliau bahwa pesawat-pesawat jenis C-130B Hercules yang disaksikannya di Pangkalan TNI AU Abdurachman Saleh di Malang itu adalah yang sama yang saya gunakan untuk terjun di Timor Timur pada Desember 1975.

Belum setahun genap pemerintahannya, terjadi dua kecelakaan pesawat TNI AU. Satu F-16/52ID rusak total di ujung Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma pada Maret 2015, satu lagi sebuah C-130B jatuh di Kota Medan, akhir Juni 2015, menewaskan semua penumpangnya.

Setelah kecelakaan yang menimpa dua pesawat tua atau bekas pakai tersebut, Presiden RI langsung memerintahkan agar di masa mendatang TNI tidak membeli alat utama sistem persenjataan (alutsista) bekas atau refurbished lagi, sekalipun murahnya harga senjata tersebut. Alasan Kepala Negara logis. Peralatan militer bekas pasti tak 100 persen sama baiknya dengan yang baru, di samping usia pakai efektifnya jauh lebih pendek. Tentu saja, perintah tersebut baru akan diwujudkan pada pembelian atau pengadaan alutsista di tahun-tahun sesudah 2015.

Pada satu sisi perintah Presiden Jokowi di atas menunjukkan konsistensinya dengan janji yang disampaikan pada masa kampanye dahulu. Bahwa, secara bertahap dan sesuai dengan pertumbuhan ekonomi nasional, anggaran pertahanan TNI akan ditingkatkan hingga nantinya mencapai 1,5 persen dari produk domestik bruto (PDB) dibanding 0,89 persen saat ini. Tetapi pada sisi lain, kondisi perekonomian kita sekarang pada situasi yang memerlukan kalkulasi keuangan yang hati-hati karena ruang fiskalnya yang lebih sempit dibanding masa sebelumnya. Padahal, setiap pesawat terbang atau peluru kendali yang maudibeli dihitung dalam mata uang dollar.

Ini terasa sekarang pada saat berbagai kementerian/lembaga (K/L) mulai membahas APBN 2016. Kementerian Pertahanan (Kemhan) salah satu dari sedikit kementerian yang selama lima tahun terakhir menikmati peningkatan anggaran cukup tinggi. Bahkan untuk pertama kali sejak 1962, anggaran pertahanan tahun 2012 jadi nomor satu, senilai Rp 64,4 triliun, mengalahkan anggaran Kementerian Pekerjaan Umum (Rp 61,2 triliun) dan Kementerian Pendidikan Nasional (Rp 57,8 triliun). Setelah itu, hingga 2014 peningkatannya cukup signifikan sejalan dengan cita-cita membangun Minimum Essential Force (MEF).

Sekadar mengingatkan, MEF diartikan sebagai suatu standar kekuatan minimal yang harus dipunyai TNI untuk terlaksananya tugas pokok dan fungsi dalam menghadapi ancaman aktual. Kondisi MEF itu baru akan dicapai melalui tiga masa rencana strategis (renstra). Artinya, kalau dimulai tahun 2010, kekuatan MEF baru akan tercapai tahun 2024.

Dalam situasi sekarang kita memang harus lebih tajam melihat prioritas penggunaan anggaran. Sejumlah pemberitaan di media massa memang menyebutkan, untuk pertama kalinya anggaran pertahanan tahun 2016 diwacanakan mengalami penurunan cukup drastis, yaitu turun Rp 7 triliun dari anggaran yang sekarang Rp 96,91 triliun.

Tantangan dan ancaman

Institusi pertahanan di seluruh dunia dalam merancang postur pertahanan negaranya selalu memulai dengan melihat hakikat ancaman yang akan dihadapi sampai lima tahun di depannya. Semenjak peristiwa 11 September 2001, muncul format ancaman baru yang tidak pernah diperhitungkan. Ancaman itu adalah perang asimetris, di mana negara tidak lagi berperang melawan negara lain seperti perang konvensional, tetapi negara berperang melawan kelompok atau aktor non-negara yang punya kemampuan militer yang kuat serta punya personel yang militan.

Gerakan terorisme sejak peristiwa 11 September (di Amerika) atau peristiwa bom Bali (2002) mengalami metamorfosis yang sangat cepat. Sebelumnya ada empat ciri yang melekat pada gerakan teror dunia. Pertama, adanya penggunaan kekerasan di luar ketentuan hukum. Kedua, umumnya sasaran dari tindakan kekerasan itu adalah orang atau masyarakat yang tidak berdosa. Ketiga, akibat dari itu, timbul rasa takut, yang kemudian diikuti ketidakpercayaan kepada pemerintah. Keempat, tujuannya adalah untuk menarik perhatian atau semata-mata balas dendam. Tetapi sekarang ini gerakan seperti Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) membuat ciri mereka bertambah, yaitu keinginan kuat untuk mendirikan sebuah negara baru di wilayah yang mereka tentukan letaknya. Gerakan separatis di wilayah Poso dan sekitarnya juga berusaha mengadopsi apa yang dilakukan di Timur Tengah oleh NIIS.

Perhatian kita juga harus ditujukan pada Laut Tiongkok Selatan (LTS). Seingat saya, kawasan ini selalu menjadi wilayah praanggapan dari mana ancaman akan masuk ke Indonesia sejak dulu. Ancaman itu punya kata ganti bermacam, mulai dari ”merah” sampai ”rubah”, tetapi dideskripsikan sebagai negara yang mampu mengirim tentaranya jauh ke selatan, dengan tujuan akhir Pulau Jawa.

Praanggapan itu muncul dari logika sederhana. Pertama, lebih banyak negara tetangga di utara Indonesia daripada di selatan.

Kedua, sejak lama hubungan antarnegara di bagian utara, seperti Tiongkok-Jepang, Tiongkok-Taiwan, serta Korea Utara-Korea Selatan punya potensi besar memanas jadi konflik bersenjata.Tetapi sampai beberapa tahun lalu, hanya sedikit pihak yang memprediksi bahwa peta imajiner nine-dash line yang dikemukakan Tiongkok sejak 2009 punya efek politis dan militer kuat. Ini setelah perekonomian negara terbanyak penduduknya di dunia ini menjadi begitu maju dan secara otomatis menyebabkan belanja pertahanan mereka juga membesar. Belanja militer yang masif menjadikan kekuatan angkatan bersenjata Tiongkok mampu hadir di LTS yang bahkan membuat AS cemas.

Kondisi ketiga yang juga harus diwaspadai adalah perang siber. Dalam banyak kasus, perang siber menjadi perang masa depan karena menggabungkannya dengan perang asimetris sehingga menjadi sebuah kombinasi yang sangat ampuh sekaligus ditakuti. Salah satu pihak yang memanfaatkan media sosial secara sangat canggih adalah NIIS, mulai dari menarik simpati, melakukan perekrutan tenaga baru, hingga menabur ancaman. Perang siber tak menggunakan senjata konvensional, tetapi mampu menimbulkan kerusakan yang serius pada eksistensi sebuah negara dan masyarakatnya.

Ke depan

Langkah pertama TNI/Kemhan tentu menyesuaikan proyeksi ancaman serta postur pertahanan berdasarkan dinamika teranyar ketiga hal yang di atas.

Sebagai contoh, program pembelian alutsista baru harus bisa menjawab bagaimana kita mampu memproyeksikan kekuatan di wilayah Kepulauan Natuna. Apakah kita akan memperkuat pangkalan udara di sana, apakah kita perlu menambah skuadron pesawat tempur di Pontianak, dan pangkalan patroli udara di Pulau Bintan. Apakah kita harus menempatkan skuadron pesawat intai tanpa awak (drones) di salah satu pulau di Natuna? Dan, apakah juga kita membeli kapal selam canggih kelas Kilo.

Kedua adalah tindakan luar biasa dan out-of-the-box dalam menentukan alokasi dana untuk belanja pegawai. Selama beberapa tahun terakhir, 60 persen anggaran Kemhan habis untuk belanja pegawai, hanya 15 persen yang tersisa untuk membeli alutsista baru. Apabila Presiden tidak menetapkan zero growth bagi penambahan personel TNI karena belum terpenuhinya pagu kekuatan minimal, Menhan bersama Panglima TNI tentu harus punya argumentasi kuat agar DPR menyetujui tambahan anggaran yang memadai.

Ketiga, melakukan inovasi jangka menengah dan panjang dalam penyiapan alutsista yang tepat serta mengembangkan dan memanfaatkan keberadaan industri pertahanan dalam negeri secara optimal. Apabila Indonesia sudah mantap dengan pilihan pesawat Sukhoi SU-35 sebagai pesawat tempur pengganti F-5E, harus dijamin Rusia memberikan sebagian komponennya bisa dibuat di Indonesia. Program pembuatan kapal selam bekerja sama dengan Korea Selatan juga contoh yang baik bagaimana nantinya PT PAL mampu membuatnya secara mandiri. Demikian pula PT Pindad mampu menyempurnakan panser Anoa serta membuat tank yang sesuai kebutuhan TNI AD.

Kini TNI telah berusia 70 tahun. Selama periode itu pula TNI telah membuktikan mampu melaksanakan tugas pokok dan misinya secara baik, tentu saja dengan banyak kekurangan di sana-sini. Tantangan 70 tahun ke depan masih penuh misteri, tetapi saya yakin kita mampu melewati masa depan yang tidak ringan ini dengan mengambil hikmah dan pelajaran perjalanan 70 tahun yang telah dilalui. ●