Rabu, 24 Mei 2017

Perlunya Dialog Nasional Teguhkan Pancasila

Perlunya Dialog Nasional Teguhkan Pancasila
Ahmad M Ali  ;   Anggota Komisi III DPR Fraksi NasDem
                                               MEDIA INDONESIA, 23 Mei 2017



                                                           
“ASAL mau sahaja tak kuranglah jalan menuju persatuan. Kemauan, percaya akan ketulusan hati satu sama lain, keinsafan akan pepatah ‘Rukun membikin sentausa’, (itulah sebaik-baiknya jembatan ke arah persatuan),” demikian petikan kalimat Soekarno tentang makna Persatuan Nasional yang ditulis dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi (1961).

Desas-desus distabilitas nasional makin tak berujung belakangan ini, political identity movement (gerakan politik identitas) makin menguat ke arah yang mengkhawatirkan. Sa­ling hujat mewarnai aktivitas media sosial. Hujan kritik hoax, informasi yang tidak akurat, berseliweran dan bergesekan satu sama lain, seperti tanpa ada rambu-rambu konstitusional.

Situasi bangsa kekinian telah menimbulkan suatu kecemasan yang meluas. Persilangan pendapat dipertajam sedemikian rupa melalui saluran media sosial. Pertengkaran pendapat itu telah makin mengkristal seolah-olah bangsa ini tidak lagi memiliki ikatan kearifan yang mendamaikan, menyejukkan, dan meng­inspirasi kemajuan. Bisa jadi, sebab musababnya karena politik kita, tata krama kehidupan sosial kita makin jauh dari ideologi bangsa; Pancasila. Kita sudah keterlaluan mencelupkan kehidupan bangsa dalam pragmatisme. Kita harus berubah.

Pada sisi yang lain, kita berhadap­an pada ketimpangan, penderitaan, dan kemiskinan rakyat yang tak kunjung berakhir. Hal itu membuat sebagian besar rakyat kita semakin hari menjadi apolitis. Mereka dipaksa kenyataan memisahkan politik dari kehidupannya sebagai sesuatu yang tercela. Padahal, di satu sisi, rakyat saat ini tengah menginginkan perubahan politik penghidupan yang mendasar.

Berdiri dalam sejarah

Zaman kolonial, di saat kita dipaksa menerima nasib apa adanya, politik yang kerdil, harapan sempit dan pergaulan hidup terbelakang, sudah berlalu. Segala pengekangan otoritas individu dan masyarakat telah berhasil kita lewati hingga mampu berdiri sebagai negara yang merdeka.

Pengalaman pahit warga antara pulau, agama, suku, dan ras, dijahit dalam kesamaan nasib sebagai bangsa terjajah, tanpa pengecuali­an. Nasib itulah yang sesungguhnya mendorong sikap kolektif dan kemauan bersama mewujudkan kemerdekaan. Lantas, apakah kita rela dengan mudah merusak keping­an sejarah itu? Olehnya, ingatan itu harus kita hidupkan kembali untuk menata haluan sejarah bangsa Indonesia.

Pada saat inilah masa di saat bangsa harusnya memiliki jiwa yang besar, punya ambisi, imajinasi, dan pergaulan dunia yang hebat. Kita adalah anak negeri yang berlayar di atas keringat sendiri dan memesona dunia. Kinerja dan integritas harus menjadi arus utama dalam kesadaran politik ke depan. Kita harus berani melangkah lebih maju, menilai, dan membuat terobosan kebudayaan politik yang bermartabat, efektif, dan substansial.

Tugas sejarah kita ialah me­nerangkan seluas-luasnya dan memberi teladan bahwa dalam politiklah penderitaan dan penciptaan kemakmuran itu ditentukan. Kekosongan perspektif dalam politik terjadi karena Pancasila tidak lagi menjadi sumber inspirasi dan pandangan hidup. Budi pekerti, toleransi, dan tolong menolong telah menjadi se­suatu yang langka.

Solusi kebangsaan

Harmonisasi sosial dan soliditas organik ialah dua kebutuhan bangsa yang bersifat urgen saat ini. Kita harus merangkul kembali seluruh elemen bangsa untuk bergerak bersama; bertindak sadar dan bahagia dalam bingkai NKRI. Kebutuhan akan itu tidak boleh lagi ditawar-tawar oleh garis kepentingan golongan, tetapi ditempatkan sebagai kebutuhan bangsa secara holistis (menyeluruh).

Dialog dan pencerahan kebangsaan perlu dirajut kembali agar semua elemen bangsa saling memberi kritis konstruktif. Menjauhkan sikap diri dari potensi pola destruksi sosial. Rakyat Indonesia memiliki kearifan, toleransi, dan sikap penerimaan terhadap perbedaan.

Kita semua harus percaya itu sebagai anugerah Yang Mahakuasa untuk kebaikan bersama. Keberagaman ialah fasilitas dari Tuhan untuk kita saling mengenal satu sama lain agar kita bisa belajar memahami dan menerima perbedaan sebagai kekuatan bangsa. Dialog kebangsaan merupakan pekerjaan merawat kebinekaan sekaligus suatu gerakan pemulihan nilai-nilai luhur kebangsaan dan akal budi Nusantara.
Politik dan kemanusiaan ialah dua sisi satu keping; seharusnya tidak terpisahkan satu sama lain. Kerja politik ialah suatu arena merebut kekuasaan untuk tujuan perikemanusiaan. Arena politik kita harus bergerak ke arah peradaban tersebut, meninggalkan ‘perang’ kepentingan sesaat individu politisi. Kita harus kembali pada jati diri sebagai bangsa.

Demokrasi yang sejati bisa diraih kalau ada persatuan rakyat. Menempatkan politik sebagai jalan damai untuk mengibarkan harapan bersama menuju perbaikan nasib. Meng­halau sifat-sifat pragmatis jangka pendek dalam diri dan meluaskan sikap keteguhan mengatasi masalah di bawah bimbingan Pancasila sebagai pandangan dunia berbangsa dan bernegara.