Tampilkan postingan dengan label M Anwar Djaelani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label M Anwar Djaelani. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Mei 2017

PII dan Wajah Pelajar Kita

PII dan Wajah Pelajar Kita
M Anwar Djaelani  ;   Aktivis di saat pelajar dan mahasiswa;  
Penulis buku ’’50 Pendakwah Pengubah Sejarah’’
                                                        JAWA POS, 08 Mei 2017



                                                           
’’STUDENT today, leader tomorrow’’ adalah ungkapan populer dan memiliki banyak bukti. Maka, kapan pun perkembangan pelajar harus kita cermati. Terkait ini, ketika pekan lalu Pelajar Islam Indonesia (PII) genap berumur 70 tahun, menarik jika kita ’’menengok’’-nya dan lalu menyandingkannya dengan kondisi pelajar sekarang.

Wajah Pelajar Kehadiran sebuah organisasi pasti tak terlepas dari situasi yang melatarbelakanginya. Di masa lalu, pengaruh pendidikan penjajah memiliki bekas negatif di banyak pelajar. Terasakan bahwa hasil pendidikan (lewat berbagai modus) berhasil menjauhkan pelajar Islam dari roh Islam dan jiwa kebangsaan.

Atas situasi itu, pemuka Islam berusaha membentengi umat dan terutama generasi muda dengan mendidiknya lewat pesantren.

Tak lama setelah Indonesia merdeka terbit persoalan baru: Ada jurang pemisah antara pelajar umum (hasil didikan pola Belanda) dan pelajar Islam (buah didikan pesantren). Lalu, lahirlah gagasan untuk mendirikan organisasi pelajar sebagai upaya menutup jurang pemisah itu. Maka, di Jogjakarta pada 4 Mei 1947 Pelajar Islam Indonesia (PII) lalu didirikan.

Sejak tanggal itu, momentum tersebut dijadikan sebagai Hari Kebangkitan PII. Istilah ’’bangkit’’ didasari fakta bahwa kehadiran PII dipicu oleh kesadaran para pelajar Islam.

Apa tanggung jawab pemuda-pelajar? Tentang itu bisa ditemukan di tujuan PII. Bahwa, organisasi ini berusaha mewujudkan ’’Kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan Islam untuk segenap rakyat Indonesia dan umat manusia’’. Tampak PII peduli kepada semua hal yang mendorong kepada terbinanya pendidikan secara sempurna.

Sementara, menurut Prof Syed Muhammad Naquib Al-Attas, pendidikan itu bertujuan utama membentuk manusia yang beradab. Adab, kata Al-Attas, adalah disiplin rohani, akli, dan jasmani yang memungkinkan seseorang dan masyarakat mengenal dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dengan benar dan wajar, sehingga menimbulkan keharmonisan dan keadilan dalam diri, masyarakat, dan lingkungannya. Hasil tertingginya, mengenal Allah dan beramal saleh pada tahap ihsan.

Orang beradab tahu yang hak dan yang batil. Maka, di pentas sejarah, lihatlah kontribusi PII dalam beramar makruf nahi mungkar. Berikut sekadar menyebut dua kontribusi besar PII.

Pada 1966 Indonesia bergolak. Rakyat menentang rezim Orde Lama. Di antara elemen perjuangan masya- rakat yang berperan sangat penting ketika itu adalah Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Di KAPPI –antara lain– bergabung PII (Pelajar Islam Indonesia). Sementara, di KAMI –antara lain– bergabung HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Kita tahu, hasil gerakan itu adalah tumbangnya Orde Lama.

Bagaimana situasi pelajar kini? Secara umum, banyak yang prihatin dengan perkembangan pelajar kita. Sisi-sisi negatif dari pelajar mencuat seperti berita ’’antar pelajar tawuran’’, ’’pelajar bacok guru’’, ’’pelajar arisan seks’’, atau ’’pelajar terlibat kasus narkoba’’. Tapi, apakah semua pelajar?

Pada 31 Maret 2017 sebuah media massa menurunkan hasil penelitian agama bertema ’’Transmisi NilaiNilai Keagamaan Melalui Organisasi Rohis’’. Di antara hasil penelitian dari Balai Litbang Agama Semarang itu menyebutkan bahwa pelajar mengidolakan Habib Rizieq Sihab dan Ustad Bachtiar Nasir. Dua nama itu menempati ranking tertinggi dalam daftar tokoh-tokoh idola para pengurus unit kegiatan sekolah kerohanian Islam (rohis) di beberapa SMA negeri favorit atau unggulan di Jawa Tengah dan DIJ.

Temuan itu menarik. Pertama, respondennya adalah pengurus rohis dari SMA negeri favorit. Asumsinya, responden adalah representasi dari pelajar-pelajar Islam. Asumsi lain, level intelektualitas responden di atas rata-rata sehingga pendapat mereka tentu sudah melewati pertimbangan yang rasional dan matang.

Kedua, tampak bahwa responden adalah pelajar yang aktif mengikuti perkembangan masalah-masalah sosial kemasyarakatan yang ada di sekitarnya. Mereka tampaknya tahu persis peran sentral Rizieq Sihab dan Bachtiar Nasir dalam menggerakkan jutaan orang di Aksi Bela Islam 411 dan 212 menuntut dipenjarakannya oknum penista agama. Hai PII, Halo Pemerintah! PII telah berusia 70 tahun. Sejarah telah ditorehkan dan insya Allah masih akan panjang catatannya. Dari PII telah lahir banyak tokoh bangsa. Sekadar menyebut, mereka antara lain adalah Jusuf Kalla (wakil presiden), Muhadjir Effendi (menteri pendidikan dan kebudayaan), Soetrisno Bachir (ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional –KEIN, sekarang), Abdul Malik Fadjar (mantan menteri agama).

Rasanya, para tokoh nasional yang disebut itu akan seragam berkesaksian bahwa kesuksesan yang mereka raih karena –antara lain– mereka pernah dibesarkan oleh PII. Lewat PII, mereka dikader untuk selalu tanggap memikirkan sekitar, cerdas dan kreatif mencari jalan keluar atas berbagai masalah yang dihadapi, serta dapat memimpin organisasi dalam mencapai tujuan-tujuannya.

Alhasil, pertama, dengan berbagai prestasinya, semoga PII tetap eksis dan bersemangat dalam mewarnai dunia pelajar di negeri ini. Kedua, kepada pemerintah, patut untuk menciptakan situasi sedemikian rupa organisasi ekstra sekolah semisal PII mendapat kemudahan untuk berkiprah di sekolah-sekolah dalam mewujudkan ’’Kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan Islam untuk segenap rakyat Indonesia dan umat manusia’’.

Kamis, 11 September 2014

Tuhan Membusuk Itu Sungguh Merisaukan

Tuhan Membusuk Itu Sungguh Merisaukan  

M Anwar Djaelani  ;   Pengurus Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Jatim dan dosen STAIL-Hidayatullah Surabaya
JAWA POS, 10 September 2014

                                                                                                                       
                                                      

TUHAN Membusuk. Itulah tema ospek (orientasi studi dan pengenalan kampus) di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri (FUF-UIN) Surabaya, 28–30 Agustus 2014. Publik pun bereaksi keras atas tema yang jauh dari rasa kepatutan itu.

Perkembangan berikutnya, Rektor, Dekan, dan Mahasiswa Dilaporkan dan Rektorat Bekukan Dema Fakultas Ushuluddin (Jawa Pos, 3-4/9). Dua berita tersebut cukup bisa ’’mendinginkan hati’’ masyarakat Islam. Sayangnya, lalu muncul artikel-opini di Jawa Pos (5/9) berjudul Memaknai Tuhan Membusuk yang ditulis Masduri, seorang akademisi teologi dan filsafat FUF-UIN Surabaya.

Lewat artikel tersebut, Masduri bertindak seperti Jubir panitia ospek itu. Atas tema tersebut, ’’berlebihan merisaukannya’’, padahal itu sebenarnya ’’sangat baik’’. Makna tema itu, ’’Kira-kira hampir sama dengan pernyataan Friedrich Nietzsche, Tuhan telah mati,’’ kata Masduri.

Artikel Masduri bisa menghidupkan lagi api keresahan masyarakat Islam yang sempat meredup. Lihatlah, Masduri membela panitia ospek yang nyata-nyata telah dianggap salah oleh pimpinan UIN Surabaya. Salah? Ini buktinya.

Pertama, atas spanduk bertulisan Tuhan Membusuk pada hari pertama ospek, ’’Kami meminta pihak senat untuk menurunkan atau menghapus tulisan itu. Pada hari pertama sudah dilaksanakan, tapi pada hari kedua muncul kembali,’’ kata Abd A’la, rektor UIN Surabaya. Apa pun, ’’Kami atas nama UIN Sunan Ampel memohon maaf atas kejadian ini,’’ lanjut Abd A’la (www.okezone.com, 1/9). Kedua, tidak berhenti di situ, rektorat pun membekukan Dema Fakultas Ushuluddin (Jawa Pos, 4/9).

Hal lain, tidak benar Masduri bilang bahwa atas tema ospek itu ’’Berlebihan merisaukannya’’. Mau bukti ketidakbenarannya? Tema ospek itu berpotensi menggoyang akidah. Bacalah fakta berikut ini. Ada mahasiswa baru yang diminta mundur dari UIN Surabaya oleh orang tuanya. Sangat mungkin karena si orang tua risau atas keselamatan akidah si anak.

Ceritanya, setelah mengikuti Oscaar (khusus di UIN Surabaya, ospek disebut Oscaar, yaitu Orientasi Cinta Akademik dan Almamater), mahasiswa itu pulang ke Tuban. Di rumah, dia berkaus Oscaar yang bertulisan Tuhan Membusuk. Dia pun dimarahi sang bapak. ’’Saya dimarahi Bapak. Saya disuruh pindah (kuliah). Pokoknya harus pindah,’’ ungkapnya. Sabtu (2/8) dia langsung meninggalkan UIN Surabaya (www.hidayatullah.com, 5/9).

Tidak benar Masduri bilang bahwa tema ospek (termasuk subtemanya, yaitu Rekonstruksi Fundamentalisme Menuju Islam Kosmopolitan) itu ’’sangat baik’’. Perlu bukti ketidakbenarannya? Bacalah fakta berikut ini.

Rupanya, selain kekerasan dalam bentuk pemikiran, ada juga peserta Oscaar yang mendapat kekerasan bentuk lain. Seorang mahasiswi jurusan perbandingan agama mengaku disekap di sebuah ruangan dan dibentak-bentak dengan perkataan kasar seperti ’’kamu bodoh’’ dan perkataan kotor lainnya. Itu terjadi karena dia berani membantah para senior yang membentak-bentaknya.

’’Saya berani melawan karena saya dilindungi undang-undang yang melarang Oscaar yang seperti ini. Saya saat itu berpuasa, namun saya dianggap mengada-ada agar saya tidak diberi sanksi,’’ katanya. Ketika www.voa-islam.com menurunkan berita tersebut pada Senin (1/9), mahasiswi itu terbaring sakit dan mengalami gangguan psikis sehingga perlu dirawat intensif.

Pertanyaannya, apakah membentak-bentak mahasiswa baru itu merupakan bagian dari Islam kosmopolitan? Apakah berkata-kata kasar kepada mahasiswa baru itu adalah bagian dari Islam kosmopolitan? Apakah menyekap mahasiswa baru di sebuah ruangan itu merupakan bagian dari Islam kosmopolitan?

Sekali lagi, terkait dengan kasus tersebut, Rektor UIN Surabaya Abd A’la telah meminta maaf secara terbuka. Memang, memaafkan itu hal mudah. Tapi, bisakah kita mengambil pelajaran dari kasus tersebut?

Karena itu, Koordinator Forum Silaturrahim Pejuang Ahlus Sunnah wal Jamaah Garis Lurus KH Lutfi Bashori (dari Malang) melaporkan perkara tersebut ke Kepolisian Daerah Jawa Timur. Begitu juga, FPI Surabaya dan FPI Jatim melapor ke polisi.

Sanksi yang menjerakan memang harus didapat semua pihak yang terlibat dalam ospek tersebut. Sebab, ternyata itu telah berlangsung lama. Cermatilah, pertama, tema yang bisa menggoyang akidah juga terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Jawa Pos (3/9) menurunkan kesaksian Ahmad Nizar, mahasiswa perbandingan agama UIN Surabaya. Bahwa –kata dia– pada tahun sebelumnya mahasiswa baru dijejali kalimat ’’Selamat Datang di Kampus Tak Bertuhan’’. Sebelumnya lagi, lanjut Nizar, ada kalimat ’’Tuhan pun Aku Tantang’’.

Kedua,ada ’’pengerdilan’’ syariat. Bacalah tabloid Nurani, September II Tahun 2012, yang menurunkan judul: Ada Pendangkalan Aqidah di Oscaar IAIN. Bahwa pada Oscaar di IAIN (nama lama UIN) Surabaya 3–5 September 2012, ada kejadian ini: Pertama, dalam acara, waktu salat Duhur dan makan terjadwal 1 jam. Kenyataannya, ada fakultas yang hanya memberikan 15 menit. ’’Pilih salat atau makan, terserah. Setelah itu harus kembali. Kalau tidak, dihukum,’’ ungkap seorang peserta Oscaar. Tidak sedikit yang lebih memilih makan ketimbang salat.

Kedua, saat azan Magrib berkumandang, Oscaar terus berlangsung. Bahkan, ketika salat Magrib ditegakkan di masjid kampus yang tidak jauh dari lokasi Oscaar, mereka tetap ramai dengan yel-yel dan ledakan petasan. Saking kerasnya ledakan, ada mobil yang diparkir dekat lokasi yang alarmnya berbunyi.

Kita layak menangisi semua itu. Di kampus Islam, Tuhan dihina. Jika di kampus yang dari situ kita berharap lahirnya ulama/pemimpin/tokoh Islam yang mumpuni dan ternyata isi pikiran mereka nyeleneh seperti paparan tersebut, apa yang bisa kita dapatkan kecuali kehancuran? Lihatlah, mahasiswa yang baru masuk sudah dikondisikan untuk menghina Tuhan.

Atas semua itu, (para) penanggung jawab negeri ini harus segera bersikap. Adalah kesalahan yang tak terbayangkan besarnya jika membiarkan hal tersebut terus berlangsung karena menyangkut rusaknya akidah, berantakannya syariat, dan runtuhnya akhlak. Sungguh, bersegeralah berbuat sesuatu untuk perbaikan! Sebab, jika tidak, buku Hartono Ahmad Jaiz yang terbit pada 2005 bisa menemukan pembenarannya. Yakni: Ada Pemurtadan di IAIN.

Sabtu, 09 Agustus 2014

Rukin, Guru, dan Gerakan Literasi

Rukin, Guru, dan Gerakan Literasi

M Anwar Djaelani  ;  Penulis buku Warnai Dunia dengan Menulis,
Dosen STAIL Hidayatullah Surabaya
JAWA POS, 08 Agustus 2014
                                                
                                                                                                                                   

OBITUARI Rukin Firda, Perginya Jurnalis Proedukasi. Obituari di Jawa Pos 3 Agustus 2014 itu mengabarkan berpulangnya redaktur Jawa Pos Rukin Firda karena sebuah kecelakaan lalu lintas. Banyak kalangan, terutama aktivis pendidikan, yang berduka. Bahkan, pegiat gerakan literasi di Surabaya merasakan sebuah kehilangan yang mendalam.

Sang Guru

Rukin yang lahir pada 1966 bercita-cita menjadi guru. Lihatlah, dia memilih SPG (sekolah pendidikan guru) dan IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Surabaya sebagai sarananya. Suratan nasib ”membelokkan” Rukin menjadi wartawan.

Naluri Rukin sebagai guru tak lalu terkubur karena berprofesi wartawan. Malah belakangan keterampilannya menulis berguna untuk mendorong gerakan literasi, termasuk di kalangan (calon) guru.Misalnya, dia tercatat sebagai pengajar di Sirikit School of Writing. Juga banyak terlibat di penerbitan buku-buku Unesa (nama baru IKIP Surabaya). Bahkan, bisa dibilang dia menjadi salah satu bagian penting atas cita-cita menjadikan guru (terutama produk Unesa) berkemampuan literasi yang andal. Ada catatan bahwa dia memiliki target agar para peserta Program Profesi Guru (PPG) Unesa bisa menulis artikel populer di koran.

Untuk gerakan literasi, pertama, Rukin telah sering memberikan pelatihan kepenulisan di berbagai kesempatan. Kedua, dari tangannya lahir sejumlah karya tulis, baik sebagai kompilator, editor, atau kontributor. Berikut karya-karya tulisnya.

Pertama, Ibu Guru, Saya Ingin Membaca. Di buku bertahun 2012 itu dia menjadi kompilator. Kedua, Mimpiku, Mimpimu, Mimpi Kita. Buku bertahun 2014 tersebut dieditori Rukin dan Luthfiyah Nurlaela. Nama yang disebut terakhir adalah direktur PPG Unesa. Isinya serial pengalaman dari program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) Unesa Angkatan II yang mengabdi di Sumba Timur, NTT. Ketiga, Ndoro, Saya Ingin Bicara. Buku bertahun 2011 itu berupa kumpulan cerpen karya alumni Unesa. Dari 21 cerpen, Rukin menyumbangkan dua karya, yaitu Ndoro, Saya Ingin Bicara dan Cerita tentang Bulan. Bahkan, cerpen yang disebut pertama dipilih sebagai judul buku karena esensinya cukup mewakili spirit dihadirkannya buku itu. Keempat, Pena Alumni: Membangun Unesa Melalui Budaya Literasi. Di buku bertahun 2013 itu Rukin menyumbangkan artikel-opini Menulis sebagai Strategi Building Image Unesa. Dia juga menyumbangkan puisi Literasi Cinta. Kelima, Boom Literasi: Menjawab Tragedi Nol Buku. Di buku bertahun 2014 itu Rukin mengajukan gagasan kocak, Menulis atau Menjomblo Seumur Hidup.

Artikel-opini Rukin yang berjudul Menulis sebagai Strategi Building Image Unesa layak diapresiasi secara khusus. Lewat tulisan itu, dia mendorong para akademisi untuk aktif menyampaikan pemikiran lewat tulisan. Sebab, hal itu akan membuatnya ”lebih dikenal dan lebih bernilai”. Bahkan, jika sang akademisi telah tiada, kata dia, pemikirannya ”akan tetap hidup dan bisa bisa dibaca”.  

Rukin sangat benar! Pertama, dia telah membuktikan untuk dirinya sendiri. Dia telah tiada, tapi warisan berupa berbagai karya tulisnya akan membuatnya ”kekal”. Kedua, harapan dia bahwa hendaknya para akademisi suka menulis sungguh beralasan.

Dosen/guru yang terampil dan rajin menulis (baik berupa artikel, resensi, atau buku) akan menguntungkan bagi –setidaknya– tiga pihak. Pertama, bagi si dosen/guru sendiri. Dosen/guru yang mampu menulis artikel, resensi, atau buku cenderung berkemampuan pula untuk menulis di jurnal-jurnal ilmiah. Tentu saja semua hal itu akan berpengaruh positif bagi perkembangan karirnya.

Kedua, bagi peserta didik. Dosen/guru yang suka menulis (artikel, resensi, atau buku) akan terpacu untuk selalu rajin membaca. Sebab, menulis dan membaca seperti dua sisi sebuah mata uang. Tulisan yang bagus hanya akan lahir dari seorang yang ”rakus” membaca. Sementara, semakin banyak yang dibaca oleh dosen/guru, pihak pertama yang diuntungkan adalah peserta didik. Sebab, bisa dipastikan dosen/guru yang bersangkutan akan jauh lebih berwawasan ketimbang guru yang tak suka membaca. Lalu, karena dosen/guru yang rajin membaca dan menulis dipandang lebih berwawasan, dosen/guru tersebut akan lebih diidolakan oleh peserta didik. Pada tahapan selanjutnya, kesukaan membaca dan menulis si dosen/guru akan diteladani peserta didik. Di titik ini, kita bisa menunggu lahirnya penulis-penulis muda potensial (dari kalangan peserta didik) yang juga akan berkontribusi positif bagi kemajuan bangsa.

Ketiga, bagi masyarakat umum. Kini kesadaran bahwa membaca itu penting sudah dirasakan masyarakat. Oleh sebab itu, masyarakat sekarang membutuhkan banyak bacaan yang bermutu. Terkait itu, jika dosen/guru rajin menulis, akan banyak naskah berkualitas yang tersedia, terutama yang bertema kependidikan.

Tampak keberadaan dosen/guru yang tidak hanya cakap mengajar, tapi juga terampil menulis, benar-benar sangat dibutuhkan. Masyarakat, terutama peserta didik dan orang tua/walinya, akan terbantu dengan tersedianya bahan-bahan bacaan bermutu karya dosen/guru.

Khusus untuk PPG Unesa, kepergian Rukin harus bisa menjadi pemicu untuk lebih berkobarnya semangat menjadikan PPG sebagai pusat gerakan literasi minimal di internal Unesa sendiri. Mengapa? Sebab, pada 26 Juni 2014 Direktur PPG-Unesa Prof Dr Luthfiyah Nurlaela bersama pegiat literasi Jawa Timur yang juga alumni Unesa telah mendeklarasikan PPG sebagai pusat penggerak literasi di Unesa. Hebatnya, di talk show ketika itu Rukin-lah yang bertindak sebagai pemandu acara.

Jejak Bagus

Rukin, selamat jalan! Engkau telah membuat jejak emas berupa sebuah rintisan gerakan literasi. Sungguh memperpanjang jejak itu adalah sebuah keharusan. Sungguh menyuburkan ”benih” yang telah engkau tanam demi terbangunnya sebuah peradaban yang mulia adalah sebuah kewajiban.

Jumat, 25 April 2014

Surabaya, Sokrates Award, dan Buku

Surabaya, Sokrates Award, dan Buku  

M Anwar Djaelani ;   Dosen Universitas Muhammadiyah Malang,
Pengurus Yayasan Bina Qolam Indonesia
JAWA POS, 23 April 2014
                                      
                                                                                         
                                                             
SURABAYA kembali meraih prestasi. "Kota Pertama Raih Socrates Award, Sisihkan 110 Kota Sedunia," tulis Jawa Pos 21/4/2014. Penghargaan itu adalah pengakuan dunia atas kemajuan Surabaya di aspek kenyamanan kota termasuk yang terkait dengan fasilitas pendidikan, sosial, dan budaya. Lalu, apa makna penghargaan ini bagi Surabaya dan Indonesia?

Bunga dan Buku

Surabaya adalah kota pertama di dunia yang mendapat 'Socrates Award' dalam kategori city of the future. Pemberinya adalah Europe Business Assembly (EBA). Dengan prestasi itu, Surabaya sejajar dengan kota-kota maju di dunia. Dua di antara berbagai keunggulan Surabaya adalah tersedianya banyak taman kota yang membuat warga lebih nyaman dan tersedianya 800 perpustakaan di berbagai lokasi. Konon, terutama untuk aspek yang disebut terakhir itu, para juri takjub.

"Surabaya itu cantik," kata banyak pihak. Penilaian itu tidak berlebihan. Sebab, memang nyaris di setiap sudut kota terdapat taman bunga yang elok. Predikat sebagai Kota Seribu Bunga juga pantas disandangkan kepada Kota Pahlawan ini lantaran sangat banyaknya taman bunga.

Hal yang membuat hati bertambah senang adalah semakin bertambahnya jumlah perpustakaan atau yang oleh warga Surabaya disebut Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Seperti yang telah disebut di depan, jumlahnya kini mencapai 800 dan tersebar di berbagai lokasi. Kita bahagia karena jika bunga bisa menjadikan warga kota lebih nyaman secara lahiriah, buku (yang bermutu) bisa menjadikan warga kota berperadaban mulia.

Dengan demikian, Surabaya -setelah dikenal sebagai 'Kota Seribu Bunga'- kini harus lebih sigap dalam membenahi ratusan TBM yang dimilikinya agar warga kota lebih sering lagi mengunjunginya.

Implikasinya, jika TBM semakin ramai dikunjungi warga kota, sangat boleh jadi banyak pihak akan tertarik untuk berpartisipasi membuat TBM-TBM berikutnya. Pihak-pihak yang dimaksud, antara lain, berbagai perusahaan (milik pemerintah ataupun swasta), yayasan, dan orang kaya. Kelak, jika jumlah TBM di Surabaya terus bertambah dan pengunjungnya selalu ramai, bisa jadi nanti gelar Surabaya menjadi lengkap, yaitu 'Kota Seribu Bunga' dan 'Kota Seribu Perpustakaan'.

Gelar 'Kota Seribu Perpustakaan' jelas bukan julukan yang main-main. Sebab, "Sulit membangun peradaban tanpa budaya tulis dan baca," kata T.S. Eliot (1888-1965), penyair Inggris. Artinya, kita berharap bahwa semakin banyaknya TBM akan membuat budaya baca-tulis meningkat dan itu akan berpengaruh positif bagi terbangunnya peradaban agung di Surabaya.

Halo Indonesia

Suka membaca buku harus kita budayakan. Dalam konteks kekinian, warga Jepang adalah contoh betapa membaca telah menjadi budaya. Warga di negeri itu sejak usia dini (kira-kira umur dua hingga tiga tahun) telah diperkenalkan dengan buku. Sedemikian bagus budaya membaca di Jepang, sampai ada anekdot, "Orang Jepang itu tidur sambil membaca, sedangkan orang Indonesia membaca sambil tidur."

Gemar baca buku harus kita tradisikan. Hal ini terutama karena sampai kini rata-rata warga Indonesia termasuk yang memiliki minat baca yang sangat rendah. UNESCO pada 2012 melaporkan bahwa indeks minat baca warga Indonesia baru mencapai angka 0,001. Artinya, dalam setiap 1.000 orang Indonesia, hanya ada satu orang yang memiliki minat baca (www.poskotanews.com 27/09/2013).

Kita prihatin bahwa keadaan ini tidak kunjung membaik. Mari sandingkan data di atas dengan tiga tahun sebelumnya. "Human Development Report 2008/2009" yang dikeluarkan UNDP menyatakan minat membaca masyarakat di Indonesia berada pada peringkat 96 dari negara di seluruh dunia. Ini sejajar dengan Bahrain, Malta, dan Suriname. Lalu, pada pertengahan 2009, Organisasi Pengembangan Kerja sama Ekonomi (OECD) mengatakan bahwa budaya baca masyarakat Indonesia menempati posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur.

Terkait dengan data di atas, jika panitia 'Socrates Award' kagum dengan adanya 800 perpustakaan di Surabaya, semoga kita bisa mengambil 'pesan' bahwa ratusan perpustakaan itu diharapkan akan mampu menaikkan minat baca masyarakat. Artinya apa? Kita harus meniru Surabaya untuk menyediakan TMB sebanyak-banyaknya.

Kita tahu, nilai lebih TBM, antara lain, lokasinya yang dekat dengan pusat-pusat kegiatan masyarakat (seperti di balai RW, stasiun KA, pusat perbelanjaan, rumah sakit). Harapannya, masyarakat tergoda untuk menghabiskan waktunya dengan membaca karena posisi bahan bacaan ada di sejangkauan tangan mereka.

Alhasil, kepada pemerintah kota mana pun di Indonesia, mari seriusi pembangunan dan pengembangan TBM seserius saat membangun taman-taman bunga. Ayo kita jemput peradaban mulia, antara lain dengan cara banyak membaca buku.

Rabu, 07 Agustus 2013

Menjaga Martabat Penerima Zakat

Menjaga Martabat Penerima Zakat
M Anwar Djaelani ;  Dosen Universitas Muhammadiyah Malang dan STAIL (Sekolah Tinggi Agama Islam Lukmanul Hakim) Hidayatullah Surabaya
          JAWA POS, 06 Agustus 2013


KASUS "zakat maut" di Pasuruan belum memberikan pelajaran kepada (sebagian) muzaki. Buktinya, masih ada muzaki yang membagikan zakat secara langsung kepada mustahik secara tidak patut. Misalnya, mustahik itu terlibat dalam antrean yang sangat panjang berjam-jam dan sebagian pingsan karenanya. 

Praktik pembagian zakat yang mirip kasus Pasuruan masih terus diulang. Lihatlah di Jogjakarta. Pada Minggu, 4 Agustus, sekitar 5.000 warga memadati rumah Probosutedjo untuk mengambil zakat. Di antara mereka yang berasal dari Jogjakarta, Klaten, Magelang, hingga Purworejo itu bahkan ada yang datang sejak pukul 05.00. Padahal, pembagian zakat senilai Rp 100 ribu per orang tersebut baru dilakukan sebelas jam kemudian, yakni sekitar pukul 16.00. Tak terelakkan, belasan orang pingsan. 

Di Malang, pada hari yang sama sekitar tiga ribu warga berdesak-desakan mengantre zakat yang diberikan seorang pezakat. Akibatnya, beberapa lansia maupun balita harus dievakuasi oleh petugas. Warga mengantre sejak pukul 11.00. Padahal, zakat senilai Rp 40 ribu baru dibagikan sekitar pukul 14.00.

Si muzaki mengatakan sengaja membagikan zakat langsung kepada masyarakat daripada harus melalui lembaga amil zakat. "Saya khawatir tidak sampai ke sasaran. Lebih baik begini, tetangga kanan-kiri bisa dapat dan diantar langsung ke yang berhak menerima," kata si pezakat (Jawa Pos dan jpnn.com kemarin).

Jika melihat praktik pembagian zakat seperti pada dua contoh itu, sungguh hal tersebut terasa sangat merendahkan martabat si mustahik. Pada contoh tersebut, mustahik terkesan sebagai pihak yang membutuhkan. Padahal, yang benar, justru si muzakilah yang membutuhkan. Dia butuh mengeluarkan zakat untuk membersihkan, menyucikan, dan menenteramkan dirinya. "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Dengan zakat itu, kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka (QS At-Taubah [9]: 103)." 

Ayat itu memberikan beberapa pesan. Pertama, harus ada pihak yang aktif mengambili zakat dari muzaki dan pihak itu biasa kita sebut sebagai amil zakat. Kedua, zakat itu bertujuan "membersihkan, menyucikan, dan menenteramkan" para muzaki.

Sungguh segera tunaikan zakat dengan cara yang patut. Jika zakat tak ditunaikan dengan baik, akan berakibat, pertama, bagi muzaki. Martabatnya akan jatuh di depan sesama manusia. Dia akan dicap sebagai si bakhil atau si kikir. Bahkan, bisa pula dilabeli si pemakan hak atau harta orang lain. Sementara di hadapan Allah, tak hanya martabatnya yang hancur, tapi siksa pedih juga telah disiapkan. 

Kedua, bagi mustahik. Dia tak akan kunjung beranjak dari "kelas" fakir miskin. Padahal, misalnya, jika menerima zakat dan kemudian atas usaha sendiri atau bantuan keterampilan dari badan/lembaga amil zakat, si mustahik bisa saja menjadikannya sebagai modal usaha yang secara bertahap memungkinkannya untuk mandiri. Bila usaha itu terus ditekuni, bukan tak mungkin si mustahik bisa "naik kelas" menjadi muzaki. 

Terkait dengan martabat, seperti pada dua contoh kasus itu, masih ada muzaki yang memilih cara-cara pembagian zakat ke mustahik yang terkesan sangat merendahkan. Hal itu terjadi karena muzaki membagikan zakat secara tidak patut.

Bagi mustahik, cara pembagian seperti itu sangat merendahkan martabatnya. Ketahuilah, mustahik berhak atas zakat. Semestinya dia berhak pula menerimanya dengan cara yang terhormat. Tapi, dengan praktik seperti yang dikisahkan di dua contoh tersebut, situasi berubah, seolah-olah si mustahik adalah pengemis atau peminta-minta yang butuh dikasihani. Jelas, itu sangat merendahkan martabat si mustahik. 

Mungkin saja si muzaki pada dua contoh itu sengaja mempertontonkan amal salehnya kepada orang lain (bahkan mungkin ada yang sampai mengundang media cetak atau elektronik untuk sebuah "pemberitaan yang baik"). Tapi, cara itu tak elok. Sungguh akan sangat lebih baik jika saat kita membayar zakat dalam jumlah berapa pun, kita rahasiakan. Kecuali itu, penyerahan zakat pun sebaiknya dilewatkan amil zakat. Amil zakat yang dimaksud bisa badan amil zakat (BAZ) yang dibentuk pemerintah atau lembaga amil zakat (LAZ) yang dibentuk masyarakat.

Ketahuilah, zakat adalah sebuah kewajiban yang utama. Bahkan, posisinya atau urgensinya setara salat. "Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat,... (QS An-Nuur [24]: 56)." Seharusnya kesigapan kita dalam mengamalkan zakat sama dengan saat kita bersungguh-sungguh menegakkan salat. Mestinya kebersegeraan kita untuk menunaikan zakat persis dengan saat kita mendengar muazin berseru hayya alash shalah (marilah salat).

Zakat didesain untuk turut memperkukuh "bangunan masyarakat Islam". Karena itu, sangat bisa kita mengerti jika Rasulullah SAW sangat serius mengurus masalah zakat. Kita pun mudah memahami jika Abu Bakar RA, khalifah pertama, sangat ketat (untuk tak menyebut keras) saat menangani masalah zakat.

Situasi "perzakatan" kita tergolong masih kelabu. Kecuali masalah (sebagian) pendistribusian zakat yang cenderung merendahkan mustahik, problem lain adalah potensi zakat yang baru tergali sekitar 1 persen saja. Padahal, pada 2011 potensi zakat nasional mencapai Rp 217 triliun (www.hidayatullah.com kemarin).

Karena itu, pertama, kesadaran berzakat harus terus ditingkatkan secara signifikan. Kedua, saat menyalurkan zakat, para muzaki disarankan untuk memercayakannya kepada badan amil zakat atau lembaga amil zakat. Sebab, mereka punya program yang telah terencana secara baik. Insya Allah, dengan cara itu, muzaki dan mustahik akan sama-sama hidup mulia. ● 

Sabtu, 22 Juni 2013

Aneh, Ribut Polwan Berjilbab

Aneh, Ribut Polwan Berjilbab
M Anwar Djaelani ;   Dosen Universitas Muhammadiyah Malang
dan Pesantren Hidayatullah Surabaya
JAWA POS, 21 Juni 2013



"Korps Polri larang polwan berjilbab" menjadi tema diskusi yang menarik. Dengan alasan masing-masing, banyak yang berdebat tentang boleh atau tak bolehnya polisi wanita (polwan) berjilbab saat berdinas. Perlulah kita mendudukkannya dari sisi pandangan hidup bangsa.

Soal polwan mengenakan jilbab (pakaian untuk menutup aurat wanita muslim), Wakapolri Komjen Nanan Soekarna pada 7 Juni lalu menyatakan, "Aturan di kepolisian tidak boleh." Dia menambahkan, "Jangan sampai pelayanan kepolisian terkendala sehingga tidak imparsial." Dia pun memberi pilihan keras, "Kalau keberatan, kita serahkan kepada yang bersangkutan, pensiun atau memilih tidak menjadi polwan." 

Banyak yang menyesalkan sikap Nanan. Saan Mustopa, anggota Komisi Hukum DPR, mengatakan bahwa larangan itu tidak masuk akal dan melanggar pasal 29 UUD 45 tentang hak warga negara. Saan juga mengatakan, Komisi III DPR akan memanggil Kapolri untuk membahas persoalan itu.

Sejatinya, debat soal penggunaan jilbab tersebut tak baru. Pertama, secara khusus di internal Polri. Pada 2009 Anton Bachrul Alam yang menjabat Kapolda Jatim mengimbau polwan mengenakan jilbab. "Ini kan mengajak ke jalan yang benar. Dengan memakai jilbab, berarti menutup aurat seorang wanita. Tapi, ini bukan paksaan," kata Anton (4/3/2009). Mabes Polri menanggapinya secara positif. "Polwan yang ada di jajaran Polda Jatim diimbau menggunakan jilbab sah-sah saja," kata Kadivhumas Mabes Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira keesokan harinya. 

Kedua, secara umum. Dulu, di zaman otoriter Soeharto pada 1980-an, wanita-wanita muslim (terutama mahasiswi dan siswi) harus rela berpayah-payah untuk bisa berjilbab. Saat itu kesadaran berjilbab baru dimulai dan dimotori oleh sejumlah aktivis Islam di "kampus-kampus nonagama" seperti ITB, UGM, UI, Unair, dan lain-lain. Lewat masjid kampus atau lembaga dakwah kampus, mereka gulirkan ghirahkeagamaan. Situasi seperti itu juga "menular" ke sejumlah SMA.

Fenomena itu dibaca rezim represif sebagai indikator kebangkitan (politik) umat Islam. Tapi, makin keras intimidasi, makin hebat semangat "para pejuang jilbab". Padahal, mereka harus berhadapan dengan larangan, pengusiran, dan sejumlah teror yang dilakukan oleh birokrasi-birokrasi sekolah, pabrik, dan perusahaan.

Itu dulu. Sekarang, seiring dengan bertambahnya pemahaman umat Islam atas syariat agamanya plus kesadaran atas hak mereka, leluasalah wanita muslim mana pun yang akan berjilbab. Kini cukup mudah menjumpai wanita-wanita muslim pemegang jabatan strategis seperti wali kota, hakim, jaksa, dosen, pengacara, notaris, dan lain-lain yang saat berdinas memakai jilbab. 

Di paragraf ketiga UUD 1945, jelas bangsa ini tidak sekadar mengakui keberadaan Allah, tapi juga pertolongan-Nya. Tertulis, "Atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya."

Kemudian, di UUD 1945 Bab XI tentang Agama, pasal 29 (2) jelas menyebutkan bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. 

Dari tiga landasan tersebut, pertama, siapa yang berani membuat peraturan perundang-undangan yang isinya berlawanan dengannya? Kedua, jika belum ada aturan, misalnya tentang jilbab bagi polwan, seharusnyalah aturan yang akan dibuat itu memperhatikan secara serius bagaimana Islam -sebagai salah satu agama di negeri ini- mengatur busana bagi para pemeluknya. Itu sejalan dengan spirit tiga landasan tersebut.

Cara busana adalah sebentuk ibadah Islam. Misal, busana bagi wanita muslim harus menutup auratnya, yaitu sekujur tubuh, kecuali muka dan telapak tangan (baca QS [33]: 59, QS An-Nuur [24]: 31, dan HR Abu Dawud yang terkait dengan busana muslimah).

Polri, yang belakangan mulai melunak, harus memutuskan. Sebab, "Sudah lebih dari tiga tahun hati nurani saya menjerit karena sepulang dari menunaikan ibadah haji, saya berkeinginan besar mengenakan seragam Polri dengan berhijab," kata seorang perwira polwan yang pernah bertugas di jajaran Polda Jawa Tengah (www.hidayatullah.com 4/6/2013).

Sungguh esensi dari tribrata polisi Indonesia akan memudahkan Polri memutuskan soal hijab/jilbab bagi polwan. Bukankah Polri itu dalam pengabdiannya, pertama, berdasar ketakwaan kepada Tuhan Yang Mahaesa? Kedua, berdasar Pancasila dan UUD 1945? Ketiga, senantiasa melindungi, mengayomi, dan melayani (termasuk anggotanya sendiri)? 

Aneh dan jahil, berjilbab diributkan, malah bermini-mini dan berketat ria direstui. ●

Jumat, 18 Januari 2013

Gelap Dunia jika Hakim Nakal


Gelap Dunia jika Hakim Nakal
M Anwar Djaelani ;  Dosen STAIL (Sekolah Tinggi Agama Islam Lukmanul Hakim) Pesantren Hidayatullah Surabaya
JAWA POS, 18 Januari 2013



"KY MINTA KPK Sadap Hakim Nakal" (Jawa Pos 17/1/2013). Bahwa, pada 16/1/2013 telah ditandatangani Memorandum of Understanding (MoU) antara Komisi Yudisial (KY) dan KPK. Inti MoU adalah memberikan akses kepada KPK untuk menyadap hakim yang terindikasi menyalahgunakan profesinya. 

Atas kabar itu kita patut berharap banyak. Kita berharap bahwa MoU itu bisa menjadi jalan agar KPK dan KY menjadi "pasangan strategis" yang akan membuat para hakim takut menyalahgunakan wewenang dan selalu menjaga kehormatan hakim.

Ikhwal kehormatan hakim -belakangan ini- memang mengenaskan. "Hakim Nakal Naik Lipat Dua" (Jawa Pos 21 Desember 2012). Bahwa berdasar jumlah pemeriksaan KY, praktik pelanggaran kode etik sepanjang 2012 naik hingga 98 persen. Pada 2012 KY memeriksa 160 hakim dari total 1.482 laporan. 

Mari bandingkan dengan masa sebelumnya: "Hakim Nakal Naik 40 Persen" (Jawa Pos 1 Januari 2011). Intinya -berdasar catatan akhir tahun MA- jumlah hakim nakal selama 2010 meningkat 40 persen jika dibandingkan dengan 2009.

Menurut catatan itu, selama 2010, terdapat pelanggaran disiplin oleh 107 hakim. Di antara hakim yang bermasalah itu, bahkan lima orang diberhentikan secara tidak hormat melalui MKH (majelis kehormatan hakim).

Jika cukup banyak hakim yang kinerjanya buruk sebagaimana laporan itu, pantas kita berduka. Kita sedih bahwa di negara yang berpenduduk mayoritas muslim ini, banyak hakim yang bermasalah.

Bagi masyarakat, kenakalan hakim yang paling mudah dirasakan adalah yang terkait dengan penyimpangan prinsip equality before the law, bahwa siapapun -tak pandang bulu- berkedudukan sama di depan hukum. Indikasinya, cukup banyak hakim yang berlaku diskriminatif.

Lihatlah sekeliling! Jika para elite tersandung masalah hukum, beragam cara dilakukan agar mereka bisa lepas. Tapi, jika rakyat kebanyakan yang -misalnya- terpaksa mencuri sekadar untuk bisa bertahan hidup, hukum menindaknya dengan tegas.

Kisah Minah, nenek berusia 65 tahun, adalah sebuah ironi. Pada sekitar November 2009, karena mencuri tiga kakao, Minah diadili. Padahal, pada saat kejadian itu, dia segera meminta maaf setelah seorang mandor memergokinya hendak memungut kakao yang hanya seharga Rp 2.000 itu. Artinya, si nenek -warga Desa Darmakradenan, Banyumas, Jawa Tengah- tidak jadi mengambil buah kakao tersebut. Namun, singkat cerita, Minah pun dihukum satu setengah bulan kurungan.

Sekarang bandingkan dengan situasi yang lain. Tak jarang, mereka yang tergolong kuat posisinya (entah karena kekuasaan politik yang dipegangnya atau uang yang digenggamnya bertumpuk-tumpuk) tampak menikmati perlakuan istimewa. Atas masalah hukum yang membelitnya, kerap mereka diputus tak bersalah atau divonis tak seberapa.

Intinya, inilah ironi itu: "Rakyat besar" sering sulit disentuh hukum, tapi sebaliknya hakim tampak lugas saat mengadili "rakyat kecil". Hal yang demikian menunjukkan bahwa praktik hukum masih diskriminatif. Lihatlah lagi cerita tentang sejumlah koruptor yang divonis bebas atau setidaknya ringan. Sementara, terhadap sejumlah kasus pencurian dengan nilai sangat kecil oleh orang kecil, hakim sigap menghukumnya.

Hukum diskriminatif inilah yang menghancurkan tatanan. Rasulullah SAW pernah menyatakan: kehancuran orang-orang atau bangsa terdahulu karena jika ada "orang besar" (elite) mencuri, mereka dibiarkan saja. Tetapi jika yang mencuri adalah kaum yang lemah (rakyat jelata), mereka dijatuhi hukuman berat.

Hukum itu tak boleh tebang pilih dalam penegakannya. Inilah prinsip keadilan yang harus ditegakkan walau itu menyentuh langsung kepentingan pribadi, keluarga, teman, atau penguasa.

Bersikap adil adalah salah satu inti dari amanah seorang hakim (pengadil). Dan, yang luar biasa, keadilan itu merupakan pokok kehidupan di dunia ini. Kehidupan akan hancur jika hukum tak tegak. Kehidupan akan rusak jika hukum tak bisa mendatangkan keadilan. Singkat kata, tiada kehidupan yang bermartabat dan sejahtera tanpa keadilan yang sejati.

Hakim adalah amanah yang strategis dan -karena itu- harus ditunaikan secara baik. Dengan demikian, keadilan harus ditegakkan kepada siapa pun oleh hakim, sekalipun itu berlawanan dengan kepentingan diri, keluarga, atau kelompoknya. Keadilan harus kita berikan, bahkan termasuk kepada pihak yang kita anggap sebagai musuh. Sungguh, like or dislike tak boleh mewarnai proses penegakan hukum. 

Dengan demikian, profesi hakim menuntut kehati-hatian yang ekstratinggi agar tak tergelincir ke arah perbuatan zalim. Sebab, begitu dia berbuat zalim (diskriminatif, misalnya), dia telah memilih setan sebagai sahabat karibnya.

"Semua mempunyai kedudukan yang sama di hadapan hukum" adalah salah satu prinsip utama penegakan hukum. Dengan mengamalkan prinsip itu secara ketat, keadilan sebagai tujuan penegakan hukum bisa (cepat) terwujud. Tapi, jika di sekitar kita banyak hakim nakal, akan mudah kita bayangkan seperti apa wajah dunia kita. Gelap! 

Sabtu, 24 November 2012

Menolong Palestina via Khotbah Jumat


Menolong Palestina via Khotbah Jumat
M Anwar Djaelani ;  Alumnus Pascasarjana Unair, Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Lukman Al-Hakim (STAIL) Pesantren Hidayatullah Surabaya
JAWA POS, 23 November 2012


JIKA kita cermati, isi khotbah Jumat di banyak masjid selama ini relatif kurang memadai. Setidaknya, menurut saya, sebagian besar khotbah itu kerap tak menyentuh secara langsung masalah-masalah aktual. Tema iman dan takwa sering disampaikan secara "apa adanya", tanpa dibawa ke persoalan-persoalan kekinian. Ini sangat disayangkan, sebab peluang untuk memperkukuh kualitas umat Islam (dalam arti luas) menjadi berkurang.
Aktualitas Khotbah 

Banyak khotbah Jumat yang tidak "nyambung" secara langsung dengan apa yang sedang atau baru saja terjadi di sekitar kita. Adapun yang dimaksud "sekitar kita" bisa dalam level kampung tempat masjid itu berada, level kota, level regional, level nasional, atau bahkan level dunia.

Seperti apa tema khotbah yang "nyambung" itu? Hemat saya, mulai Jumat 16 November lalu, di antara tema khotbah Jumat yang layak disampaikan adalah yang terkait dengan Palestina yang kembali dizalimi Israel. Ini tak lain karena sejak 14 November tindakan barbar Israel kepada Palestina kembali dipertontonkan.

Umat Islam (baca: jamaah masjid) patut segera mendapat penjelasan tentang apa yang terjadi di Palestina serta bagaimana perspektif Islam tentang ini. Misalnya, "siapa" Palestina dan nilai penting Masjid Al-Aqsha yang ada di wilayah itu. Jelaskan pula "siapa" Israel dan sejarah panjangnya yang suka melampaui batas.

Sampaikan bahwa "Israel Semakin Brutal" seperti judul yang ditulis 
www.gatra.com pada 21 Nov. Israel tak segan-segan menggunakan senjata terlarang. Kebengisan Israel adalah menjadikan sipil sebagai sasaran serangan. Banyak bayi, anak-anak, wanita, dan manula yang telah menjadi korban. Korban yang telah jatuh-saat tulisan ini dibuat-telah mencapai 143 orang dan 1.160 terluka (www.hidayatullah.com 22 November). Penargetan Israel terhadap anak-anak dan perempuan merupakan pelanggaran mencolok dalam hukum internasional. 

Ungkap bahwa atas kebiadabannya itu masyarakat internasional ramai-ramai mengecam dan mengutuk Israel. Demonstrasi menentang Israel berlangsung di berbagai tempat. Aktivitas itu tidak hanya di negara-negara yang mayoritas berpenduduk muslim seperti di Tunisia, Yaman, Mesir, Aljazair, dan Indonesia, tapi juga di Australia, Italia, Korea Selatan, Spanyol, dan lain-lain. 

Seorang warga Korea Selatan, misalnya, ikut berdemonstrasi di luar Kedutaan Besar Israel di Seoul. Sementara, Sylvia Hale -mantan anggota parlemen dari Partai Hijau di Australia- saat berdemonstrasi di Sydney berseru: "Israel tengah menerapkan kebijakan yang membantai banyak orang di Gaza." Bahkan, sebagian publik di Amerika Serikat pun menyuarakan simpati yang sama. Saat pemerintahnya menyatakan dukungan kepada Israel, tidak sedikit warga yang mengecam aksi Israel itu. Di New York, pada 18 November, sekitar 500 orang memprotes jatuhnya banyak korban di kalangan warga Palestina. Bahkan, ada pemuka Yahudi yang turut mengecam aksi Israel. Koran The New York Times mengabarkan bahwa Yisroel Dovid Weiss, seorang rabi yang sejak lama pro-Palestina, menyatakan simpati pula. 

Sebagai tambahan ilustrasi, boleh kita kutip puisi Taufiq Ismail yang berjudul "Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu". Meskipun dibuat pada 1989, isi puisi itu masih relevan untuk kita jadikan media renungan dalam usaha berintrospeksi atas peran apa yang telah kita lakukan untuk membantu Palestina.

... Aku pun berseru pada khatib dan imam shalat Jumat sedunia:/ doakan kolektif dengan kuat seluruh dan setiap pejuang yang menapak jalan-Nya,/ yang ditembaki dan kini dalam penjara,/ lalu dengan kukuh kita bacalah 'laquwwatta illa bi-Llah!'/ 

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu/ Tanahku jauh, bila diukur kilometer, beribu-ribu/ Tapi azan Masjidil Aqsha yang merdu/ Serasa terdengar di telingaku./ 

Membaca puisi Taufiq Ismail di atas akan semakin mudah kita resapi jika pada saat yang sama kita renungkan tiga sabda Nabi SAW ini: "Perumpamaan mukmin dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang adalah ibarat satu tubuh. Apabila satu bagian merasa sakit, seluruh tubuhnya turut merasakan hal yang sama" (HR Muslim). "Seorang mukmin dengan mukmin lain ibarat bangunan, satu sama lain saling menguatkan" (HR Bukhari-Muslim). "Barangsiapa menghilangkan kesusahan seorang muslim, niscaya Allah akan menghilangkan satu kesusahannya di hari kiamat. Barang siapa menutup aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutup aibnya di hari kiamat. Allah selalu menolong seorang hamba selama dia menolong saudaranya" (HR Muslim).

Uraian ringkas di atas sekadar contoh bahwa khotbah Jumat yang baik harus mampu mengangkat tema-tema aktual agar pengetahuan jamaah terbarui terus-menerus. Harapannya, mereka yang mendengar khotbah itu akan memiliki cara pandang yang benar tentang suatu hal. Nanti setelah keluar dari masjid, diharapkan jamaah bisa "menularkan" pengetahuan itu kepada umat Islam lain yang sekiranya belum mendapatkan "materi" itu.

Beri Tema ke Khotib 

Agar keadaan ideal seperti di atas -yaitu khotbah Jumat berkualitas karena mengupas hal-hal yang aktual-dapat terwujud, langkah-langkah sederhana berikut dapat dipertimbangkan. Pertama, takmir masjid jangan membuat daftar khatib plus temanya untuk setahun yang akan datang. Takmir masjid hendaknya memberikan tema kepada khotib sekitar Rabu (dua hari sebelum Jumat). Tentu saja, sebelumnya takmir mengadakan rapat kecil setelah mengikuti perkembangan keadaan lewat, misalnya, koran, majalah, televisi, internet, dan lain-lain. Dengan cara ini, banyak keuntungan yang didapat. Takmir masjid dan khatib akan rajin membaca (dalam arti luas). 

Kedua, agar ide di atas dapat berjalan lebih bagus, lembaga-lembaga seperti MUI, NU, dan Muhammadiyah dapat mengeluarkan "panduan" tentang tema khotbah Jumat yang layak diangkat. 

Mari, kita bantu Palestina, antara lain, lewat khotbah Jumat!

Sabtu, 27 Oktober 2012

Pemuda, Wukuflah, lalu Bergeraklah…


Pemuda, Wukuflah, lalu Bergeraklah…
M Anwar Djaelani ; Aktivis Pelajar Islam Indonesia di akhir 1970-an,
Alumnus Pascasarjana Unair 
JAWA POS, 27 Oktober 2012
  

HARI ini semua jamaah haji melakukan wukuf di Arafah. Hikmah atas aktivitas wukuf dapat diperoleh semua orang, baik oleh yang sedang berhaji maupun yang tidak. Adalah menarik pelaksanaan wukuf sekarang ini hanya berselisih tiga hari sebelum peringatan Sumpah Pemuda di negeri ini. Seolah-olah ada pesan: Pemuda, wukuflah, lalu bergeraklah!

"Haji adalah Arafah". Karena itu, pada Hari Arafah sekarang ini semua jamaah haji wajib melaksanakan wukuf di Arafah. Wukuf adalah nama ibadah, yaitu bagian dari rukun haji. Sementara itu, Arafah adalah nama tempat wukuf harus dikerjakan.

Mengacu pada kata arafah yang bermakna mengenal, wukuf di Arafah adalah aktivitas berdiam diri dalam waktu tertentu yang bertujuan (lebih) mengenal Allah. Di saat para jamaah haji itu berefleksi untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, pada saat yang sama dapat dipastikan bahwa mereka juga akan bermuhasabah (berintrospeksi). Misalnya: Sudah benarkah saya dalam menjalankan amanah Allah sebagai khalifah di muka bumi ini? Sudah berusahakah saya untuk kafah mengikuti syariat Allah seperti yang telah diatur-Nya lewat Alquran dan hadis?

Menjadi menarik jika yang melakukan refleksi itu seorang pemuda: Apa pesan Alquran terhadap pemuda? Sudahkah saya sebagai pemuda mengambil peran sebagaimana contoh-contoh pemuda dan pemudi hebat yang nama dan prestasinya diabadikan Alquran?

Sekali lagi, refleksi tak hanya perlu dilakukan oleh pemuda yang sedang berhaji dan sekarang sedang menunaikan wukuf di Arafah. Pemuda yang di tahun ini belum berkesempatan berhaji bisa melakukan hal sama. Intinya, siapa pun bisa mengambil hikmah.

Ternyata, Alquran memberikan porsi yang cukup dalam menggambarkan siapa dan peran strategis apa yang bisa dimainkan pemuda. Misalnya, Alquran berkisah tentang Ibrahim, sosok pemuda yang kuat dalam berdakwah. Dia berani menghancurkan berhala-berhala buatan bapaknya. Juga, sebagai akibatnya, dia harus berhadapan dengan Namrudz -penguasa ketika itu- yang zalim. 

Teladan pemuda yang berakidah kuat, sabar, dan lembut ada dalam diri Ismail. Lihatlah ketika Ibrahim -sang ayah- menyampaikan mimpi (baca: wahyu Allah) bahwa Ismail harus dikurbankan. Ketika Ibrahim memberi Ismail waktu untuk berpikir, Ismail menggeleng, "Tak perlu. Mari kita segera tunaikan perintah itu." 

Musa adalah contoh lain. Dia pemuda yang haus ilmu. Kita ingat bagaimana sikapnya yang sangat antusias saat berguru kepada Nabi Khidir as. Kecuali itu, Musa pun dikenal sebagai pemuda tanpa pamrih. Dia tak suka "obral jasa", lalu menagih "biaya investasi"-nya. Lihatlah ketika dia membantu dua perempuan -anak Nabi Syu'aib as- saat mereka memberi minum ternaknya.

Cermatilah Yusuf. Dia pemuda yang mampu membendung godaan syahwat, sekalipun itu datang dari perempuan kaya dan terhormat. Untuk pilihan sikap yang teguh itu, dia pun ikhlas saat harus dipenjara karenanya.

Lalu, adakah contoh dari kalangan pemudi? Maryam adalah contoh perempuan muda yang mampu menjaga kehormatannya (tentang ini baca QS 21: 91 dan QS 66: 12). 

Semua kisah itu ada di Alquran. Jejak mereka terekam untuk menjadi i'tibar (pelajaran) bagi generasi selanjutnya dan terutama bagi para pemuda.

Di pentas sejarah, pemuda adalah pelopor pendobrak tatanan yang rusak. Mereka bergerak dan menggantikannya dengan tatanan baru yang jauh lebih baik. Karena itu, segenap pemuda Islam harus mampu mengikuti jejak sejarah emas tersebut.  

Lihatlah sejarah! Pemudalah yang kali pertama menyambut positif kehadiran Islam. Setelah Khadijah menyatakan keislamannya, Ali bin Abi Thalib RA menyusul di hari kedua kerasulan Muhammad SAW. Ketika itu Ali RA berusia sepuluh tahun. Selanjutnya, sebagai pemuda, Ali RA memiliki keberanian yang tidak tertandingi. Ali RA pun dikenal sebagai pemuda berilmu luas. "Jika saya adalah gudang ilmu, Ali adalah pintunya." Demikian Nabi SAW pernah memberikan tamsil tentang tingginya ilmu Ali RA.

Di samping Ali RA, banyak sahabat Nabi SAW dari kalangan muda lainnya yang juga memiliki peran serupa dengannya. Antara lain, Utsman bin Affan RA, Umar bin Khaththab RA, Khalid bin Walid RA, dan Ja'far bin Abi Thalib RA.

Bagaimana Indonesia? Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 adalah salah satu tonggak sejarah Indonesia. Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 sulit dipisahkan dari kontribusi besar "hasil karya" pemuda pada 1928 -yang ketika itu membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat orang Indonesia asli. Sebuah tekad yang lalu menjadi komitmen seluruh rakyat Indonesia untuk lebih bersungguh-sungguh meraih kemerdekaan.

Pada 1945 proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan. Di peristiwa itu sosok Mohammad Hatta berperan sangat penting. Dia lahir pada 12 Agustus 1902 dan wafat pada 14 Maret 1980. Di antara hal yang menarik, mulai usia 15 tahun, Hatta telah aktif berorganisasi. Dia memulainya di Jong Sumatranen Bond Cabang Padang.

Pada 1966 Indonesia bergolak. Rakyat menentang rezim Orde Lama. Di antara elemen perjuangan masyarakat yang berperan sangat penting ketika itu, ada KAMI dan KAPPI. Di KAMI, antara lain, bergabung HMI. Sementara itu, di KAPPI, antara lain, bergabung PII.

Sejarah menyebutkan bahwa sangat banyak di antara tokoh-tokoh penting yang turut "mewarnai dunia" adalah orang-orang yang di masa mudanya aktif berorganisasi. Lewat organisasi, pemuda terlatih menjadi tangguh dalam bergerak dan berjuang. 

Terakhir, saat kita "wukuf" (berefleksi) sekarang ini, mari ingatlah selalu nasihat Imam Syafi'i agar kita (terutama pemuda) terus beraktivitas dan berjuang. "Berlelah-lelahlah! Manisnya hidup terasa setelah berjuang. Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika mengalir air menjadi jernih dan jika tidak mengalir akan keruh."