Kamis, 26 Mei 2011

Kisah Perjalanan Briptu Norman Camaru


Selama dua minggu lebih di bulan April 2011 sosok Briptu Norman Camaru, polisi muda asal Gorontalo yang tiba-tiba menjadi idola baru setelah video “Polisi Gorontalo Menggila” diunggah oleh Rienal Revaldi dan beredar di Youtube, mempunyai jadwal kegiatan yang luar biasa padat di Jakarta. Bukan hanya sibuk mengisi acara hiburan dari stasiun TV yang satu ke stasiun TV lainnya, tetapi ia juga sempat masuk dapur rekaman untuk menyiapkan single albumnya yang berjudul Cinta Farhat dan mengisi acara Opera van Java Trans7 di Bali.  Bahkan ketika sedang santai menikmati rekreasi di Taman Mini dan Dunia Fantasi bersama keluarga pun ia tak bisa menolak permintaan para penggemarnya untuk menyanyi dan berjoget “Chaiyya-Chaiyya”. Para penggemarnya yang rata-rata remaja puteri dan ibu rumahtangga pun saling berebut kesempatan untuk dapat foto bersama dengan Briptu Norman.  Termasuk Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Gubernur Gorontalo pun tak mau ketinggalan mendatangkan Briptu Norman ke rumah dinasnya untuk keperluan silaturahmi bersama keluarga pak Menteri.

Lepas dari sergapan media dan para penggemarnya di Jakarta Briptu Norman ternyata masih harus menghadapi sambutan para penggemarnya di Gorontalo yang melimpah ruah di pinggir jalan mengelu-elukan dirinya seperti seorang pahlawan yang baru pulang dari medan perang. Di sepanjang jalan menuju kantor Polda Gorontalo Briptu Norman mungkin masih nampak gagah duduk di atas mobil tank barracuda sambil tetap bersemangat membalas lambaian tangan dan teriakan histeris para penggemarnya. Namun tak bisa dibohongi, staminanya sebenarnya sudah habis terkuras. Belum sempat menemui keluarganya, segera usai perjalanan, Briptu Norman pun dilarikan ke rumah sakit. Acara syukuran Polda Gorontalo, yang semula diharapkan Briptu Norman akan bisa tampil menghibur warga Gorontalo, pun terpaksa dibatalkan dan diganti dengan acara doa bersama untuk kesembuhannya.

Mengamati kisah perjalanan Briptu Norman di dunia selebriti yang cukup fenomenal tersebut saya tertarik pada dua hal. Pertama, perubahan sikap pejabat Polri di Jakarta yang semula akan memberikan sanksi kepada Briptu Norman dan kemudian berubah menjadi mengapresiasinya.  Bahkan tak lama kemudian pimpinan Polri justru memberikan kesempatan kepada Briptu Norman untuk mengunjungi Jakarta dan tampil sebagai polisi selebriti yang berperan menghibur masyarakat. Tentunya dengan harapan aksi menghibur Briptu Norman tersebut dapat memperbaiki citra Polisi di mata masyarakat.

Saya yakin sekali ketika video “Polisi Gorontalo Menggila” mulai beredar luas di Youtube dan disiarkan oleh sejumlah stasiun TV nasional, maka hal yang pertama kali terlintas di kepala pimpinan Polri adalah bahwa Briptu Norman telah melakukan pelanggaran disiplin kepolisian.  Menurut ketentuan, bercanda berlebihan dan melepas baret dinas saat piket memang tidak diperbolehkan. Itulah sebabnya, menurut pengakuan Briptu Norman, pimpinan Polri menelpon dan memberikan teguran lisan kepadanya.  Ada rasa khawatir dari pihak institusi Polri bahwa tindakan indisipliner Briptu Norman yang diekspose secara luas di hadapan publik akan membuat citra Polisi semakin terpuruk di mata masyarakat.

Kekhawatiran pimpinan Polri tersebut ternyata meleset. Justru penyataannya yang akan memberikan sanksi kepada Briptu Norman menuai kritik dari publik.  Dukungan dari masyarakat kepada Norman pun meluas. Memberikan sanksi kepada Norman karena menyanyi dan berjoget “Chaiyya Chaiyya” saat piket dinilai masyarakat sebagai berlebihan. Mereka berdalih bahwa polisi juga manusia. Ia bisa merasa jenuh ketika sekian lama harus terus-menerus duduk berdiam diri, seperti patung, di pos jaga.  Oleh sebab itu, menurutnya, sekali-kali ia berhak untuk menghibur diri. Bahkan Wakil Ketua DPR Pramono Anung pun turut memberikan dukungan kepada Norman. Menurutnya, saat melakukan kunjungan kerja ke sejumlah daerah, Presiden SBY saja boleh bernyanyi untuk menghibur masyarakat. Mengapa Norman tidak boleh?  Bukankah aksi nyanyi dan joged Norman yang menghibur masyarakat tersebut justru dapat mendekatkan Polisi kepada masyarakat?   
        
Barangkali setelah melihat peluang untuk lebih mendekatkan Polisi kepada masyarakat itulah yang membuat institusi Polri tertarik untuk menghadirkan Briptu Norman di Jakarta dan mengijinkannya tampil mengisi acara hiburan “Chaiyya Chaiyya” di stasiun-stasiun TV.  Dan kita pun akhirnya menyaksikan aksi-aksi menghibur Briptu Norman yang mendapat sambutan luar biasa antusias dari masyarakat dan tak bisa disangkal pula telah membuat bangga pimpinan Polri, baik yang di Mabes Polri Jakarta maupun yang di Polda Gorontalo.  Dan rewards pun mengalir ke Norman bukan saja dari stasiun-stasiun TV dan studio rekaman yang telah mengundangnya tetapi juga dari institusi Polri yang merasa bangga karena Norman telah berhasil menjalankan tugasnya dalam rangka mendekatkan Polisi kepada masyarakat.

Namun, saya sungguh ingin mengajak kita semua untuk menggunakan akal sehat kita. Mungkinkah pimpinan Polri akan memberikan sanksi yang berat kepada Norman seandainya reaksi masyarakat ternyata bukan mendukung, melainkan mencemooh dan menghujat Norman yang telah melakukan tindakan indisipliner, bernyanyi dan berjoged-ria pada saat ia harus berjaga?  Pantaskah bila putusan apakah reward atau punishment yang akan diberikan kepada Norman tergantung pada apakah publik suka atau tidak suka?  
          
Hal lain yang menarik perhatian saya adalah munculnya kesadaran, termasuk dari pimpinan Polri, bahwa eksploitasi terhadap Briptu Norman sudah melampaui batas-batas kewajaran. Hampir dapat dipastikan, kalau dibiarkan, hal tersebut dapat merusak citra Polisi di masyarakat.  Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Satu hal yang harus kita sadari bahwa eksploitasi yang dilakukan oleh media terhadap Briptu Norman adalah untuk mendukung kepentingan bisnis media. Bagi media, sukses bisnis akan diperolehnya ketika popularitas Norman mampu menyedot perhatian semakin banyak orang yang kemudian diikuti oleh semakin banyak aliran iklan yang masuk ke media tersebut.  Oleh sebab itu, sepanjang masih ada peluang, media akan terus berusaha menggali dan menggali informasi menarik tentang Norman untuk mendukung kepentingan bisnisnya. Imbalan yang menggiurkan biasanya disediakan sebagai umpan oleh media atau pihak manapun yang ingin memanfaatkan popularitas Norman.

Membiarkan Briptu Norman masuk ke dalam jebakan infotainment (mengikuti selera bisnis media) selama lebih dari dua minggu, saya kira, merupakan hal yang di luar batas-batas kewajaran. Terlebih karena Norman adalah seorang polisi (bukan selebriti) yang masih terikat aturan jam-jam dinasnya sebagai polisi. Mereka yang sudah lama menggeluti profesi selebriti saja masih bisa menjadi bulan-bulanan gosip infotainment karena melakukan suatu kekhilafan. Padahal rata-rata mereka sudah mempunyai tim manajemen yang profesional. Lalu bandingkan dengan Norman, polisi muda yang penghasilannya hanya pas-pasan, yang hanya ditemani oleh atasannya AKBP Anang Sumpena, dan sama sekali belum punya pengalaman untuk menghindar dari jebakan. 

Dan apa yang dikhawatirkan oleh sebagian orang itu pun sudah terekam di mata kita.  Beberapa waktu lalu, kita tahu, telah beredar foto-foto Norman di dunia maya yang sedang beradegan “syur” dengan seorang perempuan. Kita juga menyaksikan berita-TV “ribut-ribut” seputar kontrak rekaman lagu-lagu Norman. Walaupun dalam dunia “bisnis selebriti” dua hal tersebut sudah merupakan bagian dari tradisi, tetapi citra dan popularitas Norman harus selalu dijaga supaya tidak berubah menjadi bahan ejekan. Hal tersebut perlu dilakukan karena Norman saat ini bukan lagi Norman yang dulu. Ia telah berubah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari institusi Polri. Pujian atau cemoohan yang ditujukan pada Norman pasti akan berdampak sama pada Polisi. Oleh karena itu keputusan Polri untuk mengakhiri “Kisah Perjalanan Norman di Jakarta”, walaupun agak terlambat, perlu diapresiasi.      
                           
Lalu, bagaimana kisah perjalanan Briptu Norman Camaru berikutnya? Benarkah Norman akan mendapatkan beasiswa pendidikan sarjananya dan akan berhasil menjadi Perwira Polisi?  Mungkinkah ia akan tampil kembali di stasiun TV di Jakarta, mengisi acara panggung hiburan dengan memperkenalkan kreasi (lagu dan joged) terbarunya, “Chaiyya Chaiyya jilid Dua”?

Sebaiknya kita tunggu saja kisah perjalanan Briptu Norman Camaru berikutnya. Yang jelas, Norman kini harus rela mengurbankan sebagian privasinya untuk para pengemarnya.  Kini ia harus merelakan dirinya diawasi, dipelototi, atau bahkan diteriaki oleh para penggemarnya, pada saat ia sedang jalan (sendiri atau berduaan) di mall, supermarket, atau ruang-ruang publik lainnya. Karena sesungguhnya merekalah yang telah “membayar” semua rewards yang telah diberikan kepada Norman dari stasiun-stasiun TV, studio rekaman, dan juga dari institusi Polri.