Jumat, 05 Januari 2018

Pesan Politik Natal

Pesan Politik Natal
Otto Gusti ;  Alumnus Hochschule für Philosophie Muenchen, Jerman, Dosen Filsafat dan HAM di STFK Ledalero, Maumere, Flores
                                          MEDIA INDONESIA, 23 Desember 2017



                                                           
RENCANA penyelenggaraan Perayaan Natal Bersama di Lapangan Monas dengan biaya anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Provinsi DKI Jakarta sempat memicu kontroversi (Media Indonesia, 21/12). Sejumlah warga mangajukan protes atas rencana ini. Alasannya, sekali lagi agama di sini dipakai sebagai instrumen di tangan penguasa untuk kepentingan politik pencitraan dan kontestasi demokrasi elektoral pada 2019.

Tentu aneh dan seharusnya patut dicurigai jika negara berpura-pura dermawan untuk mengatur perayaan Natal. Secara historis dalam peristiwa Natal, umat Kristen memperingati kelahiran seorang bayi yang kehadiran-Nya ditolak negara. Bayi tersebut bernama Yesus Kristus dan umat Kristen dalam cahaya iman memandang-Nya sebagai putra Allah. Sejak awal kehadiran di tengah dunia, bayi Yesus dianggap sebagai ancaman bagi para penguasa politik, ekonomi, dan agama.

Berbela rasa dan provokasi

Esensi dari pesan Natal ialah peristiwa Allah menjelma menjadi manusia. Dalam peristiwa Natal, umat kristiani merayakan Allah yang meninggalkan kebesaran dan masuk ke kerapuhan sejarah manusia yang fana. Natal adalah simbol radikalitas solidaritas Allah dengan manusia dan terutama dengan para korban yang terpinggirkan.

Keterlibatan Allah dalam sejarah manusia bertujuan mengangkat martabat manusia dan memancarkan sinar pengharapan. “Bangsa yang berjalan dalam kegelapan telah melihat terang yang besar.” Harapan ini dinubuatkan Nabi Yesaya beberapa abad sebelum Yesus lahir.
Nubuat ini ibarat tetesan embun bagi bangsa Israel yang berada di tengah prahara ketakutan dan penjajahan di tempat pembuangan Asiria. Putra raja yang dijanjikan itu saleh seperti Musa dan para bapa bangsa, berani seperti Daud, dan bijaksana serta cinta damai seperti Salomo.

Kehadiran Yesus dipandang sebagai ancaman bagi para penguasa dunia lantaran cara hidup-Nya yang dipandang terlalu provokatif untuk dunia. Provokasi Yesus tidak bersifat kategorial, tapi total (Jon Sobrino, 2008). Bersifat total karena bertumbuh dari sebuah inkarnasi ke tengah dunia yang dikuasai kejahatan dan kegelapan dosa. Dalam dunia seperti ini tak mungkin Yesus bersikap netral, sebab bersikap netral berarti membiarkan kejahatan berkuasa. Atas nama Kerajaan Allah, Yesus beroposisi terhadap kerajaan kekelaman.

Penyaliban dan kematian Yesus merupakan konsekuensi logis dari cara hidup dan keberpihakan-Nya yang radikal kepada orang-orang miskin. Pewartaan dan praksis hidup Yesus adalah ancaman besar bagi para pemimpin agama dan politisi masa itu. Yesus adalah seorang figur kontroversial, bahkan provokatif. Hidupnya mengganggu kemapanan para penguasa, maka ia dibenci dan dihukum mati. Provokasi Yesus tidak bersifat artifisial untuk sebuah pencitraan, tapi eksistensial. Yesus atas nama Allah yang membebaskan dan berpihak pada orang-orang miskin membongkar berhala-berhala para pemuka agama yang berkolusi dengan para pengusaha hitam serta politisi korup berlagak santun dan saleh pada masanya.

Logos dan politik

Allah yang menjelma menjadi manusia dalam peristiwa Natal itu oleh penginjil Yohanes disebut sabda, bahasa, atau logos. Tanpa bahasa tak ada komunikasi antarmanusia, tak ada komunitas, agama, dan negara. Pemikir politik zaman Yunani Kuno, Aristoteles (384/383-322 SM), mengartikan manusia sebagai ‘zoon logon echon’–‘makhluk yang memiliki logos atau bahasa’. Bagi Aristoteles, manusia adalah makhluk berbahasa. Bahasa bagi Aristoteles adalah sarana komunikasi yang mempertemukan manusia dan membangun komunitas kolektif.

Aristoteles membedakan tiga tingkatan bahasa. Pada tingkatan pertama terdapat bahasa binatang berupa bunyi atau suara (phone). Lewat gonggongan, seekor anjing misalnya memberi tanda. Bahasa binatang hanya mengandung bunyi dan mengekspresikan nafsu atau rasa sakit. Pada level kedua dan ketiga terdapat bahasa manusia yang mengungkapkan asas manfaat (utilitarisme) dan kerugian, diskursus tentang yang baik dan buruk, yang adil dan ketidakadilan. Pada tingkat inilah muncul esensi dari yang politis pada manusia. Kesamaan pandangan bermuara pada lahirnya komunitas ekonomi dan politik.

Sebagai makhluk politis, manusia seharusnya melampaui gonggongan animalis ekspresi syahwat kekuasaan seperti dipertontonkan politisi. Politik harus mampu membangun komunikasi dan deliberasi rasional humanistis guna mencari kebenaran dan bertindak untuk kesejahteraan bersama. Dengan demikian, kebahagiaan sebagai tujuan akhir politik dapat tercapai. Untuk itu, logos atau bahasa politik harus steril terhadap manipulasi serta kebohongan publik. Bahasa politik adalah ekspresi kebenaran dan cahaya penuntun untuk bertindak etis. Kebenaran dan kebaikan sejati itu dalam bahasa Penginjil Yohanes hanya ditemukan dalam logos (Allah) yang merupakan sumber dan pencipta segala bentuk komunikasi yang memungkinkan terbangunnya solidaritas antarmanusia.

Dalam peristiwa Natal, logos itu menjelma menjadi manusia, mengangkat martabat manusia, dan menjadi terang yang menuntun perjalanan sejarah bangsa-bangsa. Semoga perayaan Natal dapat melampaui kesalehan privat-ritualistis, dan menjadi bara api spiritualitas yang membakar semangat guna menuntaskan masalah-masalah etika, sosial, dan moral yang tengah mendera bangsa Indonesia. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar