Tampilkan postingan dengan label Marpuji Ali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Marpuji Ali. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Agustus 2013

Refleksi Idul Fitri untuk Membangun Peradaban Islam Berkemajuan

Refleksi Idul Fitri
untuk Membangun Peradaban Islam Berkemajuan
Marpuji Ali ;  Dosen Fakultas Agama Islam UMS
KORAN SINDO, 07 Agustus 2013

Allahuakbar, Allahuakbar, walillahilhamdu. Hari Raya Idul Fitri 1434 H telah datang. Umat Islam di seluruh penjuru dunia, dari yang tinggal di sudut-sudut kota megapolitan sampai yang tinggal di pelosok perkampungan, merayakannya dalam luapan kebahagiaan. 

Rona kebahagiaan itu terpancar sebagai cerminan dari kesucian jiwa/diri yang merupakan buah dari kemenangan dalam mengendalikan hawa nafsu saat menjalankan puasaRamadansebulanlamanya. Kesucian yang diperoleh setiap individu beriman melalui puasa ini bisa menjadi modal awal untuk mendisiplinkan masyarakat dalam kerangka membangun bangsa. 

Nilai-nilai yang dijalankan selama berpuasa, jika diimplementasikan pada prilaku kehidupan berbangsa dan bernegara, tentu bisa menjadi modal dan pembuka pintu gerbang peradaban Islam yang berkemajuan. Namun, kebahagiaan yang dirasakan di hari fitri tersebut tidak sepenuhnya dapat dinikmati oleh sebagian umat Islam, karena mereka sedang dirundung berbagai permasalahan. 

Mereka yang sedang berada di pengungsian karena bencana alam seperti tanah longsor, banjir bandang, gempa bumi, yang mengakibatkan kerugian harta benda dan bahkan merenggut jiwa. Juga terhadap mereka yang kini sedang menjalani masa binaan dalam lembaga pemasyarakatan (di penjara), baik berdasarkan keputusan pengadilan yang berkeadilan, ataupun karena difitnah. 

Semoga Allah SWT memberikan kekuatan iman dan kesabaran kepada mereka, dan segera mendapatkan jalan keluar dari penderitaan tersebut, amin. Bulan Ramadan 1434 H baru saja usai. Suatu bulan yang di dalamnya dipenuhi rahmat, berkah, maghfirah,dan pahalayang berlimpah. Rangkaian ibadah puasa, amalan-amalan sunah lain, ditutup dengan zakatul fitri dan salat idul fitri telah paripurna. 

Dengan berpuasa, jiwa terasa semakin kokoh, iman dan takwa semakin dalam, dan hati semakindekatkepada AllahSWT Semoga seluruh amal ibadah tersebut diterima Allah, sekaligus sebagai wahana menuju kehidupan yang lebih baik di masa depan. Pada titik inilah hakikat makna ”shiyam” dan “idul fitri” mampu menjadi energi untuk membangun peradaban islami yang lebih baik dan maju. Islam adalah agama yang memiliki ajaran yang sarat dengan semangat beramal untuk membangun. 

Pembangunan islami adalah pembangunan yang bercirikan peningkatan kualitas kehidupan manusia, sebagaimana disimbolkan dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW. Peristiwa hijrah itu memberi teladan untuk berupaya terus-menerus meninggalkan kehidupan jahiliyah (tidak beradab), menuju masyarakat madani sebagai simbol keberhasilan membangun peradaban Islam yang berkemajuan. 

Karenanya, bagi umat Islam semangat membangun peradaban Islam harus ditegakkan di sepanjang masa. Adapun karakteristik peradaban Islam berkemajuan dapat dirumuskan sebagai berikut. Pertama, akhlaqul karimah (keluhuran moral) sebagai basis utama. Bangunan peradaban Islam berkemajuan hanya bisa ditegakkan oleh para pemimpin yang memiliki akhlaqul karimah. 

Pemimpin demikian tidak hadir secara tiba-tiba, tetapi melalui proses demokrasi/ pemilihan umum di mana semua umat Islam terlibat dalam proses pemilihannya. Namun, justru di titik inilah umat Islam menghadapi persoalan sangat mendasar, yaitu sulitnya mencari pemimpin yang berakhlak mulia, maka sudah pada tempatnya kalau proses pembangunan peradaban Islam menghadapi tantangan yang sangat serius. Sebagaimana peringatan Allah SWT dalam Alquran, 

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orangorang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS 17:16) Kedua, penguasaan ilmu sebagai dinamisator. Ilmu dan teknologi merupakan energi yang menggerakkan peradaban. 

Tingkat penguasaan ilmu dan teknologi menjadi pembeda kemajuan suatu bangsa. Penguasaan ilmu membuka jalan lurus, yakni terbentuknya masyarakat produktif dan proses terbangunnya suatu peradaban. Secara normatif Islam mendorong umatnya untuk membaca, berpikir, merenungkan ciptaan-Nya, danmerefleksikan apa yang dilakukan. Namun, secara sosiologis situasi umat Islam masih jauh dari idealitas ajaran-Nya. 

Kondisi ini harus memacu umat Islam untuk belajar lebih keras lagi dan menata lembaga pendidikan lebih bersungguh-sungguh, sehingga idealitas ajaran Islam benarbenar bisa dibumikan, dalam rangka melahirkan insan cendekia yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Allah SWT berfirman dalam Alquran: “Allah menganugerahkan al-hikmah (kepahaman yang dalam tentang Alquran dan Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. 

Dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS2: 269) Ketiga, menjaga harmoni dengan alam. Ajaran Islam mendorong untuk mendayagunakan dan mengeksplorasi alam seluas-luasnya, namun dengan catatan bahwa cara yang dilakukan tidak boleh meninggalkan jejak kerusakan. 

Pengertian alam bukan hanya terkait alam kebendaan dan binatang, tetapi juga alam (atau hubungan dengan sesama) manusia, sebagaimana Allah mengisyaratkan dalam Alquran: “Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. 

Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orangorang yang beriman.” (QS 7: 85) Keempat, mewadahi berbagai kelompok lintas ras dan etnik. Bumi ini diperuntukkan untuk semua bangsa dengan beragam etnis, ras, bahkan agama. Hal ini mengandung makna bahwa variasi dan perbedaan itu menjadi keniscayaan dan semua itu agar menggerakkan umat manusia (Islam) untuk saling mengenal, bertukar pikiran, saling belajar, dan bekerja sama membangun bumi ini dengan membangun peradaban yang maju. 

Allah SWT berfirman dalam Alquran: “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersukusuku supaya kamu saling kenalmengenal. Seungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahamengenal.” ” (QS 49: 13)
Apabila keempat karakteristik di atas dapat terbangun dengan baik, proses pembangunan peradaban Islam berkemajuan akan dapat berjalan dengan lancar, sehingga peran dan kehadiran umat Islam akan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, sebagaimana firman Allah dalam Alquran, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orangorang yang fasik.” (QS 3: 110)

Dengan demikian, Idul Fitri tahun ini harus menjadi tonggak pembangunan peradaban Islam berkemajuan, sehingga kehidupan berbangsa dan bernegara di masa depan dapat memberi harapan. Secara formal, tonggak pembangunan peradaban Islam berkemajuan telah dicanangkan sejak diproklamasikan Kemerdekaan Republik Indonesia 68 tahun yang lalu. 

Sebagai penghuni mayoritas penduduk di negeri sendiri, umat Islam tidak boleh berpangku tangan menunggu datangnya pertolongan dari langit. Sikap terbaik bagi seorang muslim adalah melakukan usaha-usaha nyata dengan sikap ta’awun, atau kerjasama sebaik- baiknya dalam rangka meraih kebajikan yang dicita-citakan bersama. Karena itu, umat Islam Indonesia harus tetap kritis terhadap perkembangan pembangunan di negeri tercinta ini. 

Kebenaran harus ditegakkan, begitu pula kekeliruan harus diluruskan. Dengan catatan, sikap kritis harus tulus dan ikhlas, sehingga dapat terjaga dari sekedar semangat menjatuhkan yang tidak ada manfaatnya, begitu pula bukan sekedar alat mencari-cari kesalahan demi popularitas sesaat. 

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk dan kekuatan kepada para pemimpin bangsa Indonesia, dan melimpahkan rahmat dan barakah kepada seluruh rakyat Indonesia yang sudah cukup lama merindukan kedamaian, keadilan, kesejahteraan yang dicita- citakannya, amin. Nashrun minallah wafathun qariib. ● 

Sabtu, 21 Juli 2012

Merajut Ukhuwah di Tengah Perbedaan


Merajut Ukhuwah di Tengah Perbedaan
Marpuji Ali ; Sekretaris PP Muhammadiyah
SINDO, 21 Juli 2012


Mengingat ketinggian bulan belum mencapai 2 derajat, jauh-jauh hari sebelumnya sudah diprediksi bahwa awal Ramadan tahun ini ada perbedaan. Prediksi itu tidak meleset, akhirnya pemerintah menetapkan awal bulan Ramadan 1433 H jatuh pada Sabtu, 21 Agustus 2012.

Padahal sebelumnya berdasarkan hisab, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan awal Ramadan jatuh satu hari sebelumnya, Jumat, 20 Agustus 2012. Dengan demikian, umur bulan Ramadan bagi yang pertama berlangsung 29 hari, sedangkan yang sudah mulai berpuasa sejak Jumat akan genap 30 hari. Tampaknya perbedaan dalam menentukan awal dan akhir bulan Ramadan akan terus berlangsung di negeri ini, selagi belum ditemukan formula yang mampu menjembatani ragam metode dalam menentukan awal bulan.

Memang kenyataan ini terdengar tidak mengenakan, atau malah menjengkelkan. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang berpikiran kritis dan maju berseloroh demikian: Bagaimana mungkin orang lain dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sudah mampu mengeksplorasi dan bertamasya ke bulan, sementara umat Islam masih sibuk mendefinisikan dan mengintip bulan awal (hilal) itu.

Seolah-olah sinyal Ahmad Syafii Maarif, mantan ketua PP Muhammadiyah, benar adanya bahwa kita masih berada di buritan sejarah, berada di luar arus kemajuan peradaban modern yang dibangun dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, sekali lagi, inilah realitas umat Islam yang mana pihak-pihak yang berbeda pandangan itu harus tetap menjunjung tinggi perbedaan, termasuk keragaman dalam menentukan awal bulan.

Problematika keragaman penentuan awal bulan semakin rumit dan diperuncing oleh sikap pemerintah yang berpihak dan memilih salah satu metode, dan seolah-olah menafikan dan menganaktirikan pihak-pihak yang memiliki metode tidak sama dengannya. Dalam hal ini, pemerintah belum mampu menjadi model dan teladan dalam membangun ukhuwah dengan cara berdiri di atas semua golongan dan mengayomi semua anak bangsa yang demikian beragam.

Pada posisi demikian, ketika tidak ada model dari atas yang patut dicontoh, kekuatan- kekuatan masyarakat sipil harus mengambil peran yang lebih nyata dalam membangun komunitas yang bergiat dalam upaya menyulam keragaman.Kekuatan-kekuatan kultural inilah yang mampu meredam perbedaan dan menjadi minyak pelumas dalam membangun harmoni sosial keagamaan.

Perintah Berpuasa

Terlepas dari problem penentuan awal Ramadan sebagaimana dipaparkan di muka, perintah untuk menjalankan ibadah berpuasa bagi orangorang yang beriman tersurat secara jelas dalam Alquran: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas Kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum Kamu agar Kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu” (QS. [2] Al-Baqarah: 183-184). Yang dimaksud dengan “beberapa hari yang tertentu”, yaitu bulan Ramadan.

Pemahaman ini sejalan dengan bunyi ayat selanjutnya: “Karena itu, barangsiapa di antara Kamu shahida (mengetahui/menyaksikan) bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu” (QS. [2] Al-Baqarah: 185).Kata “bulan” dalam ayat itu sudah jelas merujuk pada bulan Ramadan. Untuk mengetahui datangnya bulan Ramadan secara garis besar dapat dilakukan dengan jalan yaitu rukyat dan hisab.

Rukyat adalah melihat atau hal melihat yaitu metode penentuan waktu dengan cara melihat langsung. Sedangkan hisab artinya perhitungan, yaitu metode penentuan waktu dengan melakukan perhitungan. Kedua-duanya memiliki landasan keagamaan yang kokoh dan merupakan bagian dari masalah ijtihadiyah sehingga terbuka ruang yang luas untuk terjadi perbedaan pendapat. Dalam kondisi demikian, yang perlu ditandaskan bahwa dalam masalah ijtihad masing-masing pihak tidak boleh saling menafikan.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Berpuasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah (beridulfitrilah) karena melihatnya, dan apabila dalam keadaan berawan, maka sempurnakanlah bulan Sakban 30 (hari)”. Hadits yang memiliki potongan kalimat demikian ini terdapat baik dalam Shahih Bukhari maupun Shahih Muslim.

Sejarah mencatat bahwa Nabi dan para sahabat memasuki bulan Ramadan dan Syawal setelah melihat atau ada laporan yang melihat hilal. Hadits inilah yang sering dijadikan rujukan para penganut metode rukyat.

Para penganut metode hisab di samping merujuk pada sabda Nabi di atas, juga melandaskan pada sabda Nabi Muhammad SAW yang berbunyi: Kami adalah umat yang ummy, tidak dapat menulis dan tidak dapat menghisab, bulan itu begini dan begini (menggunakan isyarat tangan), yakni sesekali dua puluh sembilan kali sesekali tiga puluh (HR.Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar).

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW diutus di tengah-tengah kaum yang belum bisa menulis dan menghisab.Tentu saja bukan berarti bahwa umat Islam selamanya seperti begitu. Bukankah ajaran Islam mendorong umatnya untuk terusmenerus mencari ilmu pengetahuan sebagai sarana menyingkap tanda-tanda kebesaran Allah?

Penentuan awal bulan dengan cara yang sederhana,melihat hilal dengan mata adalah yang paling cocok untuk kondisi umat Islam saat itu,mengingat ilmu hisab belum dikuasai. Jadi ’illah Hadits tersebut adalah umat yang belum mampu menulis dan membaca. Dalam kaitan ini terdapat kaidah usul fikih yang menyatakan bahwa “ketentuan hukum berlaku menurut ada atau tidaknya ‘illah”.

Karena itu,ketika ilmu hisab telah dikuasai oleh umat Islam sebagai alat perhitungan yang lebih akurat dan mantap untuk menentukan awal bulan,dengan sendirinya bisa digunakan untuk menyempurnakan cara rukyat,penentuan awal bulan secara tradisional. Inilah bangunan berpikir yang digunakan oleh golongan yang memakai metode hisab. Demikianlah landasan keagamaan dan cara berpikir masing-masing metode penentuan awal bulan.

Penjelasan singkat tersebut mudah-mudahan semakin memperjelas kedudukan setiap metode dan mampu menyingkap sisi-sisi permasalahan yang masih gelap.Meningkatnya saling pemahaman diharapkan mampu mempererat ukhuwah islamiah yang telah terjalin dengan baik selama ini. Allahberfirman: “Kemudian jika Kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (Sunah), jika Kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”( QS.[5] Al-Nisa’: 59).

Akhirnya, sebagai pamungkas, marilah kita sambut bulan Ramadan 1433 H ini dengan mengamalkan tuntunan agama Islam,baik yang wajib maupun yang sunah. Puasa Ramadan tentu saja wajib dilaksanakan dan disempurnakan dengan amalan-amalan sunah seperti qiyamul lail (tarawih), tadarus dan tadabbur Alquran, memperbanyak infak dan sedekah, itikaf, dan sebagainya.

Seluruh amalan tersebut kita lakukan dengan baik sesuai tuntunan agama Islam sehingga tujuan berpuasa untuk mentransformasikan orang-orang beriman menjadi orang-orang yang berkualitas takwa dapat terwujud. Produk ibadah puasa adalah lahirnya manusia berkualitas takwa, yaitu orangorang yang menyadari kehadiran Allah di mana pun mereka berada. Bukan hanya ketika di masjid tampak saleh, tapi juga saat di kantor,di tempat kerja mampu menunjukkan kesalehannya.

Kesadaran inilah yang mampu meredam korupsi yang sudah demikian menggurita, sampai-sampai pengadaan Alquran untuk menyemarakkan bulan Ramadan juga turut dikorupsi. Manusia berkualitas takwa inilah yang benar-benar dibutuhkan bangsa ini.
●

Jumat, 22 Juni 2012

Pendidikan yang Mencerahkan Bangsa


Pendidikan yang Mencerahkan Bangsa
Marpuji Ali ;  Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah        
Sumber :  SINDO, 22 Juni 2012


Persyarikatan Muhammadiyah sedang punya hajatan yang layak untuk diikuti dan dicermati hasil-hasilnya. Selama empat hari, mulai 21 sampai 24 Juni 2012 menyelenggarakan sidang tanwir di Bandung.

Tanwir, yang berarti “pencerahan”, menjadi agenda terbesar kedua setelah muktamar sehingga selalu dipandang sebagai momentum yang strategis untuk melahirkan gagasan-gagasan baru yang segar dan mencerahkan. Tanwir kali ini dinamakan “Tanwir Kerja” oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Din Samsuddin PhD. Penegasan ini dimaksudkan agar amanat muktamirin Yogyakarta yang baru lalu benar-benar dapat direalisasikan dan hasilnya dapat dirasakan oleh umat, masyarakat, dan seluruh bangsa Indonesia.

Ada yang menarik tatkala Wakil Presiden Boediono menyampaikan pidato pembukaan tanwir kemarin. Beliau menyampaikan kesaksiannya saat bersekolah di lembaga pendidikan Muhammadiyah pada era 1950-an. “Sekolah-sekolah Muhammadiyah tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga mendidikkan nilai-nilai yang pada urutannya membentuk karakter dan kepribadian siswa,” katanya.

Bekal itulah yang kemudian membingkai perjalanan hidupnya di kemudian hari, sampai saat ini masih terasa getarannya. Pengalaman Wakil Presiden di atas tentu tidak sendirian. Kesan serupa juga dirasakan berjuta-juta anak bangsa Indonesia yang sempat mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah Muhammadiyah.

Sudah sangat jelas bahwa kiprah Muhammadiyah di lapangan pendidikan dimaksudkan untuk berpartisipasi dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan mencerahkan masyarakat. Visi besar inilah yang mendorong dan memotivasi pengelola pendidikan Muhammadiyah untuk terus berkiprah dalam menanam benih-benih kebaikan kepada generasi penerus bangsa di mana pun mereka berada.

Membenahi Kualitas Pendidikan

Lembaga pendidikan Muhammadiyah menyapa anak-anak bangsa di perkotaan, di pinggiran kota, di pedesaan, bahkan sampai ke daerah pegunungan di mana tangan-tangan pemerintah tidak mampu menjamahnya. Keadaan ini tentu saja menimbulkan konsekuensi tersendiri. Kualitas pendidikan Muhammadiyah menunjukkan panorama yang beragam.

Ada yang bisa mencapai kualitas yang prima, tingkatan menengah, dan tidak sedikit yang berada atau tergolong kurang berkualitas. Kondisi ini tentu saja menjadi agenda yang patut dipikirkan secara serius. Tanwir kali ini merupakan momentum yang paling tepat untuk mengevaluasi dan merevitalisasi pendidikan Muhammadiyah sehingga kualitas lembaga pendidikannya benar- benar kualitas.

Di wilayah perkotaan tuntutan untuk berkualitas menjadi tantangan tersendiri. Tanpa upaya itu, tinggal menunggu waktu di mana sekolah Muhammadiyah akan ditinggalkan oleh pelanggannya. Jika masyarakat sebagai pelanggan sudah tidak percaya lagi, akibatnya tidak akan ada calon peserta didik yang datang mendaftarkan putra-putri mereka ke sekolahsekolah Muhammadiyah. Atau, setidaknya minat pendaftarnya berangsur-angsur akan terus menurun.

Persyarikatan Muhammadiyah yang didirikan oleh Kyai Ahmad Dahlan di Yogyakarta satu abad silam memang sejak awal menitikberatkan perhatiannya pada upaya mencerdaskan dan mencerahkan kehidupan umat dan bangsa. Upaya tersebut tidak diutarakan melalui serangkaian gagasan yang muluk-muluk, tapi langsung diaktualisasikan dalam bentuk pelayanan pendidikan, pelayanan kesehatan, dan pelayanan sosial, yang dikenal dengan istilah Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

Di antara ketiga upaya tersebut, bidang pendidikan merupakan Amal Usaha Muhammadiyah yang mengalami kemajuan paling nyata dan fenomenal. Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang pendidikan ini sangat mudah dilihat kiprahnya di seluruh penjuru Tanah Air, tidak hanya di daerah perkotaan, tetapi juga tersebar sampai ke pelosok pedesaan, bahkan di daerah pegunungan.

Dalam laporan Muktamar Ke-46 Muhammadiyah di Yogyakarta,jumlah lembaga pendidikan Muhammadiyah mulai dari tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) sampai perguruan tinggi (PT) sebagai berikut: TK/Bustanul Ahfal 4.623 unit, PAUD (6.723), SD/MI (2.257), SMP/MTs (1.748), SMA/MA (747), SMK (399), Mu’allimin/ Mu’allimat (7), pondok pesantren (101), madrasah diniyah (347), sekolah luar biasa (15), dan perguruan tinggi (172).

Angka ini sungguh merupakan jumlah yang sangat besar. Pilihan di bidang pendidikan jelas sangat strategis dan visioner. Karena melalui pendidikan dan pembelajaran, calon-calon pemimpin bangsa masa depan ditempa dan diasuh secara konsisten sehingga pada saatnya nanti siap mengambil peran yang tepat bagi pembangunan bangsa.

Dalam pandangan Muhammadiyah, pendidikan bukan sekadar mendidik generasi, melainkan juga dialamatkan mempersiapkan calon pemimpin dalam kedudukannya sebagai hamba Allah dan khalifatullah di muka bumi. Dengan posisi pendidikan yang sangat strategis tersebut, segenap jajaran persyarikatan harus benar-benar serius dalam mengelola bidang pendidikan ini. Karena itu, besarnya kuantitas lembaga pendidikan yang dimiliki hanya akan menjadi beban apabila kualitasnya rendah.

Tentu saja menjadi beban moral bagi persyarikatan karena tidak mampu mengoptimalkan amanah yang diterima dari masyarakat. Upaya peningkatan mutu pendidikan Muhammadiyah seiring dengan cita-cita pendidikan nasional. Pada puncak acara memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2012 beberapa waktu yang lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI mencanangkan Generasi Emas pada 2035, yaitu generasi yang memiliki ciri inovatif, kreatif, kompetitif, dan berkarakter kuat.

Bangunan pendidikan yang diletakkan Kyai Dahlan, yang kemudian menjadi petunjuk arah bagi perjalanan pendidikan Muhammadiyah selanjutnya, memiliki tiga pilar utama yaitu pendidikan keimanan (spiritual),pendidikan individu (intelektual-fisik), dan pendidikan sosial. Tiga pilar tersebut merupakan satu kesatuan organis, dan tidak bisa dipisahkan antara pilar satu dan pilar yanglain.

ProfilprodukMuhammadiyah yang diharapkan adalah seorang anak yang seluruh potensinya dapat berkembang secara penuh sehingga bisa tampil menjadi manusia yang berakhlak dan cerdas. Seluruh kemampuannya itu dicurahkan dan disumbangkan untuk membaguskan kehidupan masyarakat dan bangsa. Wajah pendidikan merupakan cerminan atau pantulan dari situasi masyarakatnya. Karena itu, pengelola pendidikan Muhammadiyah harus lihai membawa arah perkembangan dan gairah perubahan sesuai tuntutan masyarakat.

Dengan demikian, laju perkembangan pendidikan Muhammadiyah akan senantiasa bergandengan/maju seirama dengan perubahan masyarakat. Untuk mencapai kondisi tersebut, setidaknya diperlukan tiga langkah inovasi pendidikan dalam Muhammadiyah: Pertama, prakarsa yaitu melakukan inovasi pada aspek pengelola dan pemangku kepentingan yang ditunjukkan dengan visi bersama dan langkah-langkah yang akan ditempuh secara praktis. Kedua, implementasi yaitu mempraktikkan visi bersama itu secara praktis di lapangan dengan tetap mempertimbangkan fleksibilitas.

Ketiga, evaluasi yaitu melihat kembali prakarsa dan implementasi yang sudah dijalankan, dengan mencermati berbagai hambatan, tantangan, dan masalah yang muncul untuk dicarikan jalan keluarnya. Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa hampir tidak ada lembaga pendidikan Muhammadiyah yang melakukan inovasi, kemudian mengalami kegagalan. Adapun yang menjadi masalah adalah “keberanian berinovasi—sekolah dan Dikdasmen, PT dan DIKTI Muhammadiyah— masih rendah sehingga hampir-hampir tidak ada peningkatan signifikan ke arah perubahan yang lebih progresif.”

Sering juga sayup-sayup terdengar suara, “Begini saja sudah dapat berjalan,mau cari apa lagi?”. Selanjutnya, kapan dan dari mana harus memulai? Jawabnya, ya sekarang ini juga harus berani memulai, dari hal-hal yang sederhana, ditekuni secara cerdas, teliti, hati-hati, insya Allah mendapatkan hasil yang optimal. Nashurn minallah wa fathun qariib.
●