Tampilkan postingan dengan label Adiwarman A Karim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adiwarman A Karim. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 April 2016

Disruptive Innovation

Disruptive Innovation

Adiwarman A Karim ;  Peneliti di Center for Indonesian Political Studies
(CIPS) Yogyakarta
                                                    REPUBLIKA, 21 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Clayton Christensen, profesor Harvard Business School, memperkenalkan istilah disruptive innovation dalam bukunya, The Innovator's Dilemma. Semakin mudahnya akses internet telah mendorong munculnya bisnis model baru yang memanfaatkan aplikasi teknologi.

Inovasi ini merusak tatanan pasar yang ada dengan menciptakan pasarnya sendiri, yang pada akhirnya akan menggusur para pelaku bisnis yang selama ini menjalankan bisnisnya secara tradisional. Dulu, satu rumah hanya ada satu telepon dan kita mengeluh tentang sulitnya mendapat sambungan baru serta tarif yang terus naik. Saat ini, satu orang memiliki lebih dari satu telepon genggam. Ketika kita mulai mengeluh jangkauan sinyal telepon genggam dan tarif SMS, teknologi baru memungkinkan mengirim pesan dan telepon melalui aplikasi.

Christensen menyimpulkan, bila penantang pasar memilih untuk melakukan strategi sustaining innovation, inovasi yang sekadar mengikuti dan menyempurnakan pemimpin pasar, kecil kemungkinannya dapat mengalahkan pemimpin pasar.

Sebaliknya, bila penantang pasar memilih untuk melakukan strategi disruptive innovation, inovasi yang memanfaatkan aplikasi sederhana menggarap segmen pasar bawah yang selama ini tidak digarap serius pemimpin pasar, maka besar kemungkinannya mengalahkan pemimpin pasar.

Disruptive innovation seringkali bergerak jauh lebih cepat daripada regulasi. Jean Tirole, profesor Universitas Toulouse dan pemenang Nobel tahun 2014, menjelaskan perlunya regulasi yang mengatur perusahaan yang melakukan disruptive innovation yang memanfaatkan satu platform bisnis untuk dua pasar yang berbeda. 

Google dapat digunakan secara gratis untuk mendapatkan sebanyak mungkin pengguna. Jumlah yang banyak ini dan profil pengguna sesuai kebiasaannya membuka laman tertentu kemudian menjadi daya tarik kuat bagi pemasang iklan Adwords dan Adsense. Pemasang iklan tertarik karena iklannya akan dibaca oleh pengguna yang sesuai profilnya dan biaya yang kecil, yaitu berapa kali iklan itu dibuka (pay per click).

Di pasar pertama digratiskan, di pasar kedua keuntungan diraih. Semakin sering suatu kata kunci diketik dalam pencarian semakin mahal biaya iklannya. Tiga kata kunci terbanyak adalah insurance (24 persen), loans/pinjaman (13 persen), mortgage/kredit rumah (sembilan persen).
Bank Syariah awalnya juga dipandang sebagai suatu disruptive innovation, walaupun saat ini tampaknya bank syariah lebih mengarah pada sustaining innovation. Meniru apa yang ada di perbankan konvensional. Keunikan bank syariah belum dimanfaatkan optimal karena keterbatasan teknologi. Deposito bagi hasil yang merupakan keunikan bank syariah malah mengikuti pergerakan kompetitif tingkat suku bunga.
Dengan sistem pool of fund, maka bank syariah membayarkan bagi hasil yang sama kepada deposannya berdasarkan jangka waktu, sebagaimana lazim di bank konvensional.
Beberapa laman crowd funding malah menawarkan sistem bagi hasil yang beragam, sesuai dengan bisnis yang dipilih. Pemilik dana dapat memilih bisnis tertentu dan mendapat bagi hasil sesuai dengan profitabilitas bisnis tersebut.
Dengan perkembangan teknologi saat ini, seyogianya bank syariah dapat melakukan disruptive innovation. Nasabah dapat mengalokasikan dana tabungannya ke deposito melalui telepon genggamnya, memilih sendiri bisnis apa yang akan dibiayai dengan tingkat bagi hasil dan risiko yang dikehendakinya. 
Untuk menjadi disruptive innovation ada dua cara. Pertama, menggarap segmen pasar kelas bawah yang diabaikan kebanyakan bank konvensional. Kedua, menciptakan pasar baru dengan menarik bukan nasabah bank menjadi nasabah bank.
Disruptive innovation yang berhasil memang memerlukan modal yang besar. Google Map dan Google Earth memerlukan modal yang besar, tetapi pada saat yang sama menciptakan halangan masuk yang besar sehingga pesaing tidak dapat meniru begitu saja. 
Untuk bank syariah, adanya dana haji sejumlah 70 triliun merupakan modal awal yang bagus. Sifat dana haji yang jangka panjang dan selalu bertambah dapat dipandang sebagai kuasi modal. Dengan regulasi kecukupan modal 12,5 persen berarti kemampuan tambahan bank syariah ekspansi mencapai delapan kali dana haji, yaitu 560 triliun. Tanpa disruptive innovation, maka dana haji itu hanya akan mendorong aset bank syariah dua kali lipat, yaitu tambahan 140 triliun.
Disruptive innovation juga terjadi dalam ilmu fikih. Setelah jatuhnya bani Abbasiyah di Baghdad dan dimusnahkan kitab-kitab khazanah keilmuan Islam oleh pasukan Hulagu Khan, para ulama fikih lebih banyak berkutat pada berlapis-lapis penjelasan untuk suatu masalah fikih kecil. Perdebatan fikih berputar-putar pada redaksional hadis, bahkan pada redaksional kitab fikih masing-masing mazhab. Sampai kemudian para ulama melakukan disruptive innovation berupa ilmu kaidah fikih yang menyusun rumus-rumus fikih dengan memahami maksud hakikinya.
Abdurrahman Jalaluddin Suyuti menulis buku Asybah wan Nazair merupakan tokoh utama ilmu kaidah fikih ini. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Umar bin Khattab RA ketika melantik Abu Musa al- Asy'ari menjadi qadi di Basra, "Pahami asybah wan nazair (penampakan dan kemiripan-- Red) suatu masalah, kemudian tetapkan qiyas untuk masalah yang serupa."
Disruptive innovation menuntut keyakinan untuk berjalan di depan, keberanian melakukan suatu yang baru, dan perhitungan yang cermat. Sustaining innovation jauh lebih mudah dilakukan, tetapi kita akan terus berada di belakang. Disruptive innovation memang lebih sulit dilakukan, tetapi besar kemungkinannya akan menjadi pemimpin pasar. Kaidah fikihnya, "Bila tidak dapat melakukan kebaikan sepenuhnya, jangan tinggalkan kebaikan itu sepenuhnya." Seberapa kecil pun disruptive innovation akan memberi inspirasi untuk inovasi berikutnya. Allah SWT berfirman dalam hadis qudsi, "Amalkan apa yang kalian ketahui, niscaya akan Aku beritahu apa yang belum kalian ketahui." ●

Jumat, 05 Juni 2015

Weibull dan Umar Bin Khattab

Weibull dan Umar Bin Khattab

Adiwarman A Karim  ;   Peneliti di Center for Indonesian Political Studies
(CIPS) Yogyakarta
REPUBLIKA, 01 Juni 2015


                                                                                                                                                           
                                                
Waloddi Weibull lahir pada 1887 dari keluarga terpelajar di Schleswig-Holstein, dekat Denmark. Memulai kariernya sebagai tentara di Royal Swedish Coast Guard, Weibull kemudian menjelma menjadi peneliti dan guru besar teknik yang menemukan teori the Weakest Link. Teori yang menjadi dasar dari berbagai perhitungan statistik dalam merancang struktur bangunan dan mesin ini diterapkan secara luas dalam berbagai peralatan militer, bendungan, pipa minyak, dan gas.

Secara mudah, teori ini menjelaskan bahwa kekuatan suatu rantai terletak pada mata rantai yang paling lemah. Bendungan yang paling kokoh pun akan hancur bila ada satu titik terlemah di bendungan itu yang bocor. Teori ini kemudian dikembangkan dalam berbagai ilmu lainnya, termasuk sosial ekonomi.

Mark Granovetter, guru besar sosiologi Universitas Stanford, dalam kajiannya, Strength of Weak Ties, menjelaskan betapa penting mata rantai terlemah dalam distribusi informasi. Pada era Netizen ini, sebagian besar informasi penting tidak lagi didapat dari kerabat atau teman dekat, namun dari 'temannya teman' yang terhubung melalui jaringan media sosial, semisal Facebook. 'Teman di media sosial' menjadi sumber informasi penting.

Dalam ilmu sastra, Thomas Reid menulis the Intellectual Powers of Man pada 1786 bahwa kekuatan rantai logika ditentukan oleh mata rantai terlemahnya. Karya Reid ini kemudian menjadi ungkapan sehari-hari yang sangat populer di Inggris, "the chain is no stronger than its weakest link".

Ungkapan ini pula yang dijadikan judul salah satu artikel Lenin, diterbitkan jurnal Pravda pada 1917 yang sangat berpengaruh dalam mengubah wajah Rusia. Mengabaikan kaum terlemah dalam suatu negeri hanya akan membawa bangsa yang kuat sekalipun pada titik kekuatan serapuh kaum terlemah.

Dalam ilmu keuangan juga dikenal teori Weakest Link. Banyak lembaga keuangan global raksasa yang terpuruk ketika krisis keuangan di AS akibat satu saja dari sekian banyak line of business mereka yang merugi besar. Itulah the weakest link mereka. Ketika mereka mencoba bangkit dengan melakukan serangkaian aksi korporasi, pasar tidak memercayainya karena mata rantai terlemah yang menjadi akar masalah masih belum terselesaikan.

Ramkishen Rajan dan Graham Bird, masing-masing peneliti Universitas Adelaide dan Univesitas Surrey, dalam penelitian mereka, "Still the Weakest Link: The Domestic Financial System in East Asia" menemukan bahwa kebangkitan perekonomian Asia Timur ditentukan oleh kemampuan memperbaiki mata rantai terlemahnya, yaitu sistem keuangan domestik negara-negara Asia Timur.

Steven Levitt, guru besar Universitas Chicago, dalam kajiannya "Testing Theories of Discrimination: Evidence from Weakest Link" membedakan dua hal yang menimbulkan diskriminasi pada etnis tertentu dalam mendapatkan kesempatan bekerja di AS. Yang pertama, diskriminasi yang disebabkan tidak meratanya informasi yang sampai pada etnis tertentu yang disebutnya sebagai information based discrimination. Misalnya, karena sedikitnya etnis Afro Amerika dan Hispanik yang bekerja di bidang tertentu, etnis ini tidak mendapat informasi sebanyak etnis lain yang memang banyak bekerja di bidang tersebut. 

Yang kedua, diskriminasi yang disebabkan kecenderungan selera pada kelompok etnis atau kelompok umur tertentu yang disebutnya sebagai taste based discrimination. Misalnya, restoran yang menyasar segmen anak muda menyukai mempekerjakan anak muda. Perusahaan penerbangan yang banyak membawa jamaah umrah Indonesia menyukai mempekerjakan awak pesawat asal Indonesia.

Kajian ini dapat menjelaskan salah satu faktor mengapa etnis tertentu banyak yang menjadi pengusaha sukses. Banyaknya kerabat dan teman yang menjadi pengusaha memberikan mereka keunggulan dalam informasi (information based). Kesamaan etnis budaya juga memberikan kesamaan selera (taste based) untuk melakukan interaksi bisnis dalam ungkapan yang terkenal, "people do business with people they like".

Lembaga keuangan syariah dan bisnis syariah merupakan infant industry yang baru saja mengembangkan bisnisnya. Dari perspektif ini, lembaga keuangan merupakan the weakest link dibandingkan dengan lembaga keuangan dan bisnis lain yang telah mendominasi perekonomian.

Kemampuannya yang masih dalam fase pengembangan bisnis mendorong lembaga keuangan dan bisnis syariah menyasar segmen pasar yang belum digarap oleh lembaga keuangan dan bisnis konvensional. Biaya dana yang tinggi dan rasio biaya operasi yang masih tinggi mendorong mereka masuk ke segmen yang mau membayar margin tinggi, yaitu mereka yang tidak dapat masuk ke lembaga keuangan dan bisnis konvensional. Maka, jadilah the weakest serves the weakest, yang lemah bersama yang lemah, secarainformation based dan taste based.

Ditambah lagi, regulasi yang sama ketatnya untuk yang lemah maupun yang kuat. Prinsip regulasi one fits for all ini telah lama dirasakan tidak tepat dalam memberikan peluang bersaing yang sehat (fair competition). Jean Tirole, guru besar ekonomi pemenang Nobel 2014, telah menunjukkan perlunya regulasi yang secara cermat memperhitungkan kekuatan bisnis, khususnya perusahaan besar.

Di sini terasa relevansi teori Waloddi Weibull. The weakest link yang paling berbahaya adalah weakest link yang ada pada bendungan yang besar, alat militer yang canggih, pipa minyak, dan gas yang bertekanan besar. The weakest link yang berada dalam lembaga keuangan dan bisnis konvensional merupakan yang paling rentan dan berbahaya. Itu sebabnya dalam teori keuangan dikenal istilah "too big to fail, too complex to fail". Pemerintah terpaksa menolong bank yang terlalu besar untuk dibiarkan bangkrut, konglomerasi keuangan yang terlalu kompleks untuk dibiarkan bangkrut.

Keadaan di Amerika Latin tidak jauh berbeda. Akan lebih tepat menolong lembaga keuangan dan bisnis yang kecil dan sehat menjadi besar dengan regulasi yang sesuai profil bisnis dan profil risiko mereka daripada terpaksa menolong lembaga keuangan dan bisnis yang besar dari kebangkrutan. Small and beautiful jauh lebih prospektif daripada lazy fat cat, begitu ungkapan seorang guru manajemen.

Abu Hafsh Umar bin al-Khattab bin Naufail bin Abdul Uzza al-Quraisyi RA, pada hari pelantikannya menegaskan keberpihakannya pada orang-orang yang terlemah. Umar RA berkata, "Demi Allah. Orang yang terlemah di antara kalian akan menjadi yang terkuat dalam pandanganku sampai aku membuktikan hak-haknya bagiku. Sementara, orang yang terkuat di antara kalian akan kuperlakukan sebagai yang terlemah sampai ia mematuhi hukum." ●

Selasa, 26 Mei 2015

Merger Bank Syariah

Merger Bank Syariah

Adiwarman A Karim  ;  Peneliti di Center for Indonesian Political Studies
(CIPS) Yogyakarta
REPUBLIKA, 04 Mei 2015


                                                                                                                                                           
                                                
Pemikiran untuk melakukan merger di antara bank-bank syariah milik BUMN kembali mengemuka. Keinginan memiliki bank syariah BUMN yang besar, kuat, dan efisien menjadi alasan utama, apalagi menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN yang semakin dekat.

Keberhasilan merger beberapa bank BUMN sebelumnya yang menghadirkan sebuah bank yang besar, kuat, dan efisien menambah besar dorongan untuk mengulangi keberhasilan yang sama di antara bank-bank syariah. Beberapa keberhasilan merger bank-bank swasta yang juga kemudian menghadirkan bank yang besar, kuat, dan efisien menambah keyakinan kebaikan dan manfaat merger bank syariah.

Namun, keberhasilan merger harus didukung oleh banyak faktor yang meliputi strategi konsolidasi, waktu konsolidasi, biaya konsolidasi, dan yang paling penting kejelian dalam analisis kesiapan bank yang akan dimerger.

Kimie Harada dan Takatoshi Ito, masing-masing peneliti Universitas Chuo dan National Bureau of Economic Research AS, dalam kajian mereka, "Did Mergers Help Japanase Mega-Banks Avoid Failure?" menggunakan ukuran distance to default untuk mengukur peningkatan efisiensi pada bank hasil merger. Ada dua temuan penting mereka.

Pertama, merger di antara bank-bank yang lemah hanya akan menghasilkan bank yang lemah pula. Kedua, dalam beberapa bank hasil merger, distance to default malah memburuk.
                                      
Judith Montorial-Garriga, peneliti Bank Sentral AS di Boston, dalam kajian bersama dengan European Central Bank, "Bank Mergers and Lending Relationships", menemukan bahwa nasabah-nasabah peminjam berskala kecil akan terabaikan dalam proses merger. Secara keseluruhan, efisiensi terasa dalam penurunan tingkat suku bunga bank hasil merger.

Charles Calomiris dan Jason Karceski, masing-masing profesor ekonomi Universitas Columbia dan guru besar keuangan Universitas Florida, dalam kajian mereka bersama National Bureau of Economic Research, "Is the Bank Merger Wave of the 1990s Efficient?" menemukan empat hal penting dalam sembilan kasus merger bank di AS.

Pertama, secara keseluruhan, proses merger menciptakan nilai tambah bagi industri perbankan. Kedua, beberapa bank hasil merger mengalami kegagalan akibat penurunan drastis pendapatan selama proses konsolidasi.

Ketiga, perilaku manajemen bank yang akan dimerger menimbulkan kenaikan biaya yang tidak perlu. Menaikkan gaji dan pangkat sebelum merger agar mendapatkan posisi yang lebih baik setelah merger merupakan salah satu fenomena yang terjadi. Keempat, sinergi pendapatan terwujud walaupun tidak ada efisiensi biaya.

Jith Jayaratne dan Philip Strahan, masing-masing peneliti Compass Lexecon dan peneliti National Bureau of National Economic, dalam kajian mereka, "The Benefits of Branching Deregulation", menjelaskan, peningkatan efisiensi akibat aturan yang membolehkan ekspansi cabang bank. Namun, bank hasil merger yang memiliki cabang dengan lokasi tumpang tindih merupakan tantangan yang tidak mudah.

Keberhasilan merger bank di Indonesia di masa lalu, misalnya, didukung oleh kesabaran dan komitmen penuh pemegang saham dalam proses konsolidasi yang luar biasa. Pertama, kredit macet dalam jumlah yang signifikan dibersihkan dan ditangani lebih lanjut oleh BPPN. Hal ini sangat penting agar konsentrasi manajemen terfokus pada upaya konsolidasi proses merger dan tidak terganggu dengan beban masalah kredit macet.

Kedua, sejumlah besar surat berharga obligasi disuntikkan untuk memperkuat modal bank yang memberikan arus pendapatan selama proses konsolidasi berlangsung. Hal ini juga sangat penting untuk memberikan ketenangan kepastian pendapatan dengan risiko sangat kecil mendekati nihil.

Ketiga, sejumlah besar dana disediakan untuk memberhentikan kelebihan karyawan akibat proses merger tersebut. Keempat, inefisiensi akibat lokasi cabang yang tumpang tindih ditoleransi sampai waktu tertentu. Kelima, sejumlah besar dana disediakan untuk rebranding, training ulang, dan pembentukan budaya perusahaan yang baru. Keenam, sejumlah besar dana dialokasikan untuk menyamakan platform sistem teknologi.

Merger bank-bank syariah milik BUMN akan serta-merta menurunkan laju pertumbuhan industri perbankan syariah Indonesia selama masa konsolidasi tiga sampai lima tahun. Padahal, saat ini merupakan saat yang sangat krusial bagi pertumbuhan laju perbankan syariah di Indonesia untuk mengisi ruang-ruang potensi pasar sebelum diambil bank milik asing dengan diberlakukannya MEA.

Alternatif lain adalah dengan menyiapkan strategi merger dua tahap. Tahap pertama selama tiga tahun ini adalah dengan menetapkan target bagi bank induk untuk membesarkan bank-bank syariah anak perusahaan masing-masing, mencapai, misalnya, 20 persen dari aset induknya.

Tahap kedua adalah proses merger dan penambahan modal pemerintah atas bank hasil merger tersebut. Ketika tahap pertama selesai, maka bank-bank syariah milik BUMN tersebut telah sedemikan kuat dan besar sehingga bank induk pun akan kesulitan memenuhi kebutuhan modalnya dan modal anak perusahannya. Itulah saat yang tepat untuk melakukan merger sekaligus penambahan modal pemerintah kepada bank hasil merger.

Merujuk pada model distance to default yang digunakan Kimie Harada dan Takatoshi Ito, merger bank yang kuat menghasilkan bank hasil merger yang kuat pula serta meningkatkan efisiensi operasinya. Pada saat itu, bank syariah Indonesia bukan saja menjadi tuan di rumah di negeri sendiri, bahkan juga menjadi tuan rumah di Asia. Kejelian dalam menyusun strategi merger bank syariah akan menentukan keberhasilannya.

Sayidina Ali RA mengingatkan, kebaikan yang tidak terorganisasi akan dikalahkan oleh keburukan yang terorganisasi. Diperlukan kesabaran dalam mengembangkan industri keuangan syariah. Ingatlah kisah Thalut ketika kaum beriman yang jumlahnya sedikit dapat mengalahkan kaum yang jumlahnya jauh lebih banyak.

Ingat pula kisah Perang Badar. Allah SWT mengingatkan, "Berapa sering terjadi kaum yang sedikit dapat mengalahkan kaum yang banyak dengan izin Allah, dan Allah bersama orang-orang yang sabar." ●

Rabu, 17 Desember 2014

Widow’s Cruise, Currency Wars, dan Umar bin Khattab

Widow’s Cruise, Currency Wars,

dan Umar bin Khattab

Adiwarman A Karim  ;   Peneliti di Center for Indonesian Political Studies
(CIPS) Yogyakarta
REPUBLIKA,  15 Desember 2014

                                                                                                                       


John Maynard Keynes memperkenalkan istilah widow's cruse untuk pertama kalinya dalam ilmu ekonomi. Tepatnya di halaman 139 buku Treatise on Money, Keynes mengambil kisah Elijah dari bani Israil yang menumpang dengan seorang janda, kemudian menjadikan bejana janda itu selalu penuh dengan minyak yang tidak pernah habis.

Investasi yang terus meningkat pada satu titik akan jenuh dan menyebabkan over-investment yang selanjutnya akan membawa perekonomian pada keadaan tingkat tabungan neto mencapai titik nol. Keynes mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi ada batasnya karena investasi pun mengalami tingkat keuntungan yang semakin menurun (diminishing returns). Pertumbuhan ekonomi bukanlah widow\'s cruse yang da - pat terus meningkat tanpa batas.

James Tobin, pemenang Nobel ekonomi tahun 1981, mengulang penggunaan istilah widow's cruse ini dalam risetnya "Commmercial Banks as Creators of Money". Tobin mengingatkan, bank-bank, baik secara individu maupun kolektif, tidak memiliki keajaiban widow's cruse. Bank sebagai lembaga perantara keuangan dibatasi oleh skala ekonomi para pihak, di antaranya, penyimpan dana dan pengguna dana. Bahkan, dalam pidato penganugerahan Nobelnya yang berjudul "Money and Finance in the Macroe conomic Process", Tobin menekankan pentingnya keseimbangan pertumbuhan sektor keuangan dengan riil. Pertumbuhan sektor keuangan tanpa kendali sektor riil hanya akan memaksa pemerintah akhirnya melemahkan nilai mata uang itu sendiri.

Perang mata uang tidak dapat dihindarkan. Bank Sentral Jepang melakukan qualitative quantitative easing (QQE) dengan meningkatkan pembelian surat berharga exchange traded funds, real estate investment trusts, menambah jangka waktu obligasi pemerintah, dan menambah ekspansi moneternya. Langkah ini efektif melemahkan yen terhadap dolar AS sebesar 15 persen dalam tahun berjalan dan mendorong ekspor Jepang naik 9,6 persen dalam setahun, dua kali lipat daripada ekspektasi pasar sebelumnya.

Korea Selatan langsung terpukul akibat kebijakan Jepang ini. Yen Jepang melemah hingga 20 persen terhadap won Korea. Pertumbuhan ekspor Korsel melambat hanya pada 2,5 persen dari yang ditargetkan semula mencapai 6,9 persen. Bank Sentral Korsel menurunkan tingkat suku bunga untuk menyelamatkan ekonomi, diperkirakan pada tingkat 1,75 persen.

Cina juga mengalami hal yang sama. Menguatnya Renmibi Cina terhadap dolar AS dan terhadap yen Jepang telah mendorong Bank Sentral Cina menurunkan tingkat suku bunga kredit 0,4 persen menjadi 5,6 persen, tingkat suku bunga simpanan 0,25 persen menjadi 2,75 persen.

Barry Eichengreen, guru besar ekonomi Universitas Bekeley, dan Poonam Gupta, ekonom Bank Dunia, dalam riset mereka, "Tapering Talk: The Impact of Expectations of Reduced Federal Reserve Security Purchases on Emerging Markets", menunjukkan dampak signifikan kebijakan Bank Sentral AS terhadap nilai mata uang Brasil, Rusia, India, Indonesia, Cina, Afrika Selatan, dan Turki. Sepanjang April-Juli 2013, semua mata uang negara itu melemah terhadap dolar AS, kecuali Cina, karena mematok nilai tukarnya.

Eichengreen dan Gupta menyimpulkan, ukuran-ukuran makroekonomi seperti defisit anggaran, utang negara, tingkat cadangan devisa, dan pertumbuhan ekonomi, tidak terkait langsung dengan ketahanan ekonomi terhadap goncangan eksternal. Artinya, negara yang memiliki kinerja makroekonomi yang bagus tetap memiliki risiko mata uang yang selanjutnya dapat memukul sendi-sendi perekonomian lainnya. Mereka meng identifikasi tiga hal penting dalam menghadapi gejolak eksternal. Pertama, nilai tukar mata uang yang tidak direkayasa. Kedua, defisit neraca pembayaran yang dikelola baik. Ketiga, skala pasar keuangan negara tersebut.

Itu sebabnya, Joseph Stiglitz, guru besar ekonomi Universitas Columbia, peraih Nobel Ekonomi 2001, menegas kan bahwa yang diperlukan dunia adalah kerja sama menjaga nilai tukar mata uang, bukan malah perang mata uang dengan saling mendevaluasi.

Pada zaman Umar bin Khattab RA, tepatnya pada 17-18 H, terjadi krisis ekonomi panjang yang dikenal sebagai Tahun Ramadah, tahun abu karena padang pasir berubah menjadi warna putih seperti abu akibat kemarau yang panjang. Selama dua tahun tidak ada hujan, musim paceklik panjang. Ternak mati, 60 ribu kaum Arab Badui mendatangi Madinah karena kelaparan, berbagai penyakit mewabah.

Umar RA segera memperbaiki necara pembayaran dengan mendatangkan bantuan dari Mesir, Irak, dan wilayah Islam lainnya. Gubernur Abu Ubaidah bin Jarrah mengirim 3.000 unta membawa gandum, gubernur Saad bin Abi Waqash mengirim 3.000 unta membawa perlengkapan musim dingin, gubernur Abu Musa al-Asy'ari mengirim 2.000 unta membawa makanan dan roti, gubernur Amr bin Ash mengirim 3.000 unta membawa makanan.

Arab Badui yang mendatangi Madinah disediakan makanan setiap hari bersama dengan penduduk Madinah sehingga persaudaraan di an tara mereka semakin terjalin. Umar RA tidak ingin datangnya bantuan memanjakan rakyat karena mereka tidak tahu sampai kapan musim paceklik akan berakhir. Beliau memerintahkan untuk makan daging berselang hari, mengajarkan metode masak dengan lebih sedikit gandum, mengurangi porsi makan hanya setengah porsi, dan tidak belanja yang tidak diperlukan. ●

Kamis, 20 November 2014

Pretty Girls Contest

                                               ‘Pretty Girls Contest’

Adiwarman A Karim  ;   Peneliti di Center for Indonesian Political Studies
(CIPS) Yogyakarta
REPUBLIKA, 17 November 2014

                                                                                                                       


John Maynard Keynes, ekonom terbesar abad ini, dalam bukunya, The General Theory of Employment, Interest and Money, tepatnya dalam bab 12 menjelaskan fenomena menarik.  Bila diadakan suatu kontes kecantikan untuk memilih enam gadis tercantik dari 100 gadis dan mereka yang pilihannya sama dengan pilihan terbanyak akan mendapatkan hadiah.

Strategi yang paling primitif adalah memilih enam gadis tercantik menurut seleranya sendiri.  Bila seleranya sama dengan selera kebanyakan orang, ia mungkin menjadi salah satu pemenang hadiah. Strategi yang lebih jitu adalah memilih dengan memahami selera kebanyakan orang. Dengan cara itu, kemungkinan ia mendapatkan hadiah akan lebih besar. Memahami selera kebanyakan orang berarti memahami kriteria cantik yang selama ini menjadi pandangan umum.  Namun, bila terjadi pergeseran selera kebanyakan orang, perubahan kriteria cantik menurut pandangan umum, bisa jadi ia tidak akan mendapatkan hadiahnya.

Keynes melanjutkan, strategi yang lebih jitu lagi adalah memilih dengan mengantisipasi ekspektasi selera kebanyakan orang. Pada level ketiga ini, hanya yang dapat mengantisipasi ekspektasi kebanyakan orang yang akan mendapat hadiah. Keynes bahkan yakin ada orang yang memilih dengan strategi pada level keempat, kelima, dan seterusnya.

Ide dasar inilah yang mendorong Thomas Sargent, profesor ekonomi Universitas New York, pemenang Nobel Ekonomi pada 2011 untuk mengembangkan teori rational expectation.  Dalam risetnya berjudul "Interest Rates and Expected Inflation: A Selective Summary of Recent Research" dijelaskan pentingnya ekspektasi masyarakat dalam membentuk inflasi. Walaupun harga BBM belum naik, karena masyarakat sudah mengantisipasi kenaikan BBM pada November ini, sejumlah harga barang telah naik.

Adair Turner, mantan ketua OJK Inggris, dalam bukunya, Economics After the Crisis, menggarisbawahi pendapat Keynes bahwa pada hakikatnya, ilmu ekonomi adalah ilmu tentang moral (moral science).  Ekspektasi sekumpulan orang yang bermoral tentu akan menghasilkan dampak ekonomi yang berbeda dengan ekspektasi sekumpulan lain orang yang tidak bermoral. Turner menjelaskan bagaimana dampak ekspektasi masyarakat terhadap meletusnya krisis Asia pada 1997 dan krisis keuangan dunia pada 2007-2009.

Bila ada sekumpulan orang dengan kekuatan ekonomi yang besar, namun tidak bermoral, bahkan membentuk ekspektasi masyarakat untuk mengikuti mereka, tentu akan merugikan perekonomian. Lima bank raksasa dihukum denda karena memanipulasi pasar valas, sebagian bank lain dihukum denda karena memanipulasi tingkat suku bunga Libor. Baru saja pada Rabu lalu, regulator AS, Inggris, dan Swiss mendenda HSBC, Royal Bank of Scotland, Citigroup, JP Morgan Chase, dan UBS karena skandal valas.

Kenaikan harga BBM sebesar Rp 3.000 memang diperkirakan akan mendorong inflasi sampai sembilan persen dan bila dikombinasikan dengan akan naiknya tingkat suku bunga bank sentral AS, tekanan inflasi akan semakin besar karena harga domestik barang impor dan barang dengan bahan baku impor akan naik. Selanjutnya, barang-barang lain akan menyesuaikan harga juga ikut naik. Tekanan terhadap rupiah dan BI Rate juga semakin besar. Diperkirakan, dampak negatif kenaikan BBM ini masih akan terasa tiga-empat bulan setelah kenaikan.

Kondisi objektif ini dalam kenyataannya nanti akan lebih baik atau buruk dipengaruhi oleh ekspektasi masyarakat dan struktur pasar keuangan serta struktur pasar barang dan jasa. Bila ada sekumpulan orang berkekuatan ekonomi besar, baik di pasar keuangan maupun pasar barang dan jasa, dengan moral buruk membentuk ekspektasi masyarakat, dampak negatif kenaikan harga BBM dapat berkelanjutan enam-sembilan bulan setelah kenaikan.  

Sebaliknya, bila ekspektasi dibentuk oleh sekumpulan orang yang bermoral, dampak negatif akan terasa lebih ringan. Alan Blinder dan Jeremy Rudd, masing-masing profesor ekonomi Universitas Princeton dan ekonom bank sentral AS, dalam riset mereka, "Oil Shocks Redux", menjelaskan bahwa setiap kenaikan harga BBM mempunyai kondisi objektifnya masing-masing sehingga dampaknya pun akan berbeda-beda. Kenaikan harga BBM bersubsidi akibat kenaikan harga BBM dunia tentu berbeda dengan kenaikan harga BBM bersubsidi pada saat harga BBM dunia malah mengalami penurunan.

John Cochrane, profesor ekonomi Universitas Chicago, dalam risetnya, "Inflation and Debt", menggarisbawahi bahwa penanganan inflasi pada akhirnya adalah penanganan defisit fiskal, neraca pembayaran, utang luar negeri pemerintah dan swasta, serta cakrawala pandang untuk pertumbuhan jangka panjang. Kepentingan sesaat yang tidak bermoral hanya akan membawa pada kesulitan berikutnya.

Kemiskinan dan krisis ekonomi yang panjang pada zaman Bani Mamluk merupakan contoh bagaimana ulah segelintir orang yang tidak bermoral yang mengambil kesempatan dalam kesempitan telah mengakibatkan inflasi dan krisis pangan yang berkepanjangan di Mesir. Adam Sabra, profesor sejarah Universitas California, menjelaskan dalam bukunya, Poverty and Charity in Medieval Islam, Mamluk Egypt, 1250-1517.

Kondisi objektifnya memang terjadi kekeringan di sepanjang Sungai Nil sehingga produksi pangan menurun dan harganya meningkat. Kondisi objektif kedua menjangkitnya berbagai penyakit (al amrat al hadda) yang muncul mengiringi musim paceklik. Hal ini diperburuk oleh dua hal. Pertama, pemerintah mengatasi lemahnya daya beli masyarakat dengan mencetak uang baru, fulus. Dari pencetakan uang ini, pemerintah mendapat keuntungan untuk membiayai krisis. Kedua, pemerintah pada awalnya mencegah inflasi dengan menetapkan harga yang tentu saja gagal, kemudian pemerintah menyerahkan saja kepada pasar untuk menentukan harga. Para spekulan menimbun barang mereka untuk mendapatkan harga yang tinggi.

Untungnya, ada dua hal juga yang meringankan krisis. Pertama, pemerintah menyadari kekeliruannya, pencetakan uang baru dihentikan, dan pangan mulai didatangkan dari luar negeri.  Kedua, pemerintah mendekati pemimpin sufi untuk menanamkan kesabaran sekaligus menggalakkan semangat bersedekah. Buku-buku Imam Ghazali menjadi bacaan populer.  Tarekat Qalandariyya dan Haydariyya dengan paham selalu bersyukur dalam kesulitan, berkembang pesat.

Memperbaiki perekonomian yang telanjur rusak akibat segelintir orang yang tidak bermoral jauh lebih sulit daripada mencegahnya sejak awal. Pemenang ‘Pretty Girls Contest’ bukanlah yang memilih sesuai seleranya sendiri, melainkan = yang mampu mengantisipasi ekspektasi selera kebanyakan orang. Memengaruhi dan membentuk ekspektasi selera kebanyakan orang dengan ekspektasi yang bermoral akan berdampak besar bagi kemajuan perekonomian.

Kemenangan ekonomi syariah bukanlah ketika setiap orang memilih formalitas ekonomi syariah, melainkan ketika kita mampu memengaruhi dan membentuk ekspektasi selera kebanyakan orang dengan ekspektasi yang sesuai dengan nilai-nilai kebaikan walaupun hal itu harus dilakukan dengan susah payah. 

Umar bin Khattab RA pernah menasihati para sahabatnya, "Bila kita letih dalam berbuat kebaikan, ingatlah kebaikan itu akan tetap ada ketika keletihan itu telah hilang. Namun, bila kita bersenang-senang dalam berbuat maksiat, ingatlah dosa itu tetap ada ketika kesenangan itu telah hilang." ●

Rabu, 24 September 2014

Trilemma Negeri Atas Angin

Trilemma Negeri Atas Angin

Adiwarman A Karim ;   Peneliti di Center for Indonesian Political Studies
(CIPS) Yogyakarta
REPUBLIKA, 22 September 2014

                                                                                                                       
                                                      

Syed Muhammad al-Naquib al-Attas dalam bukunya Historical Fact and Fiction mengutip sebuah hadis Rasulullah SAW dari buku Hikayat Raja-Raja Pasai yang menarik untuk disimak. "Sepeninggalku, ada sebuah Negeri Atas Angin bernama Samudra. Datangilah negeri itu dan ajaklah mereka memeluk Islam. Allah akan menjadikan negeri itu tanah kelahiran banyak wali Allah."  Negeri Atas Angin Samudra itu kini dikenal dengan nama Indonesia.

Letak geografis Indonesia yang demikian terbuka telah membuat perdagangan internasional, pertukaran mata uang asing, dan pengaruh ekonomi internasional menjadi suatu keniscayaan. Di Negeri Atas Angin inilah, bertemu agama-agama besar dunia dengan damai. Namun, di negeri ini pula bertemu berbagai kepentingan ekonomi dunia yang tidak jarang pula memicu perebutan pengaruh di antara kekuatan besar dunia.

Menjadi tempat perebutan pengaruh tidak selalu enak. Di satu sisi, muncul keinginan untuk berdaulat secara moneter dengan menerapkan kebijakan moneter yang independen. Di sisi lain, juga muncul keinginan untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah, bahkan kalau bisa, menerapkan sistem kurs tetap. Namun, di sisi lainnya, pergerakan modal yang bebas merupakan suatu keniscayaan. Ketiga keinginan inilah yang menimbulkan trilemma.

Maurice Obstfeld dan Alan M Taylor, masing-masing guru besar ekonomi Universitas California Berkeley dan Universitas California Davis, yang memopulerkan istilah trilemma ini. Bahkan, profesor Robert Mundell dari Universitas Columbia mendapat hadiah Nobel ekonomi tahun 1999 karena risetnya di bidang trilemma ini.

Heinz Wolfgang Arndt dan Hal Hill, guru besar ekonomi di Australian National University, dalam bukunya Southeast Asia's Economic Crisis menyimpulkan bahwa krisis ekonomi Asia pada 1997-1998 disebabkan ketiga hal itu yang ingin dicapai semua bersamaan. Ila Patnaik dan Ajay Shah, peneliti pada International Institute of Public Finance and Policy, dalam risetnya "Asia Confronts the Impossible Trinity" juga menyimpulkan hal yang sama untuk krisis ekonomi yang melanda Asia Timur.

Pada periode itu, mata uang negara-negara Asia secara de facto dikaitkan langsung dengan nilai dolar AS sehingga investor asing berbondong-bondong masuk ke Asia tanpa kawatir risiko fluktuasi nilai mata uang. Mereka pun tidak khawatir kesulitan menarik dananya karena negara-negara Asia menerapkan kebijakan arus modal bebas. Maraknya modal asing yang masuk pada periode itu juga dipicu oleh tingginya tingkat suku bunga jangka pendek di negara-negara Asia dibandingkan dengan tingkat suku bunga di AS. Itulah periode emas sehingga Indonesia dijuluki menjadi salah satu Macan Asia, salah satu keajaiban Asia.

Keberhasilan ekonomi Asia itu telah melenakan banyak pihak bahwa mereka terjebak dalam trilemma, yaitu tiga tujuan makro ekonomi yang tidak dapat dicapai semuanya secara bersamaan. Hanya dua dari tiga tujuan itu yang dapat dicapai secara bersamaan dan negara-negara harus memilih dua hal tersebut. Keberhasilan semu itu mulai terbaca oleh investor asing karena nilai mata uang negara-negara Asia tidak mencerminkan nilai sebenarnya lagi.

Masuknya banyak modal asing seharusnya membuat nilai tukar mata uang negara-negara Asia jauh lebih kuat terhadap dolar AS, namun karena nilainya dikaitkan langsung, nilai mata uang negara-negara Asia tetap rendah. Ketika investor asing menarik dana mereka seketika, runtuhlah kekuatan ekonomi Asia.

Joshua Aizenman, guru besar ekonomi di Universitas Southern California, juga menyimpulkan bahwa memaksakan diri mencapai tiga tujuan sekaligus telah menyebabkan krisis mata uang Meksiko (1994-1995), krisis ekonomi Asia (1997-1998), dan krisis keuangan Argentina (2001-2002).

Melemahnya rupiah terhadap dolar AS sama sekali tidak ada kaitannya dengan penyusunan kabinet baru. Begitu pula sama sekali tidak ada kaitannya menguatnya dolar AS dengan pencalonan Jokowi ketika itu. Melemah dan menguatnya rupiah terhadap dolar AS adalah fenomena ekonomi yang merupakan akibat pemilihan dua dari tiga tujuan makroekonomi.

Bila kita ingin kedaulatan moneter dengan kebijakan moneter yang independen dan sistem arus modal bebas, implikasinya nilai tukar rupiah akan bergerak melemah dan menguat sesuai kekuatan neraca perdagangan dan pembayaran.

Ketika fulus diperkenalkan pada zaman Bani Mamluk dan digunakan luas pada zaman Bani Abbasiyah Baghdad, Bani Umayyah II Andalusia, Bani Fatimiyah II Sicilia, nilai tukar fulus juga bergerak melemah dan menguat.

Fulus adalah mata uang yang tidak lagi terbuat dari emas (dinar) atau perak (dirham), namun campuran atau bahkan seluruhnya terbuat dari tembaga yang nilai nominalnya ditentukan oleh gubernur yang mencetaknya. Alhasil, fulus Andalusia berbeda nilainya dengan fulus Baghdad, berbeda pula dengan fulus Sisilia.

Fulus sama sekali berbeda dengan dinar dan dirham yang nilainya terkait langsung dengan emas dan perak. Fulus merupakan awal dari mata uang kertas yang kita kenal saat ini yang nilainya sama sekali tidak lagi dikaitkan dengan nilai bahan baku yang membuatnya. Akibatnya, fulus dan mata uang yang kita kenal sekarang akan berfluktuasi nilainya.

Negeri Atas Angin, Negeri Samudra, Negeri Para Wali, demikian hadis yang dikutip profesor Naquib al-Attas dari buku Hikayat Raja-Raja Pasai, merupakan negeri harapan banyak umat Islam dunia. Begitu terbukanya bangsa ini terhadap budaya luar, bahkan setelah ratusan tahun dipecah belah oleh kekuatan asing, bangsa ini bangkit menjadi kekuatan ekonomi dunia saat ini. Bahkan, kita telah menjadi kekuatan ekonomi terbesar di antara negara-negara Islam.

Entah bagaimana kedudukan hadis tersebut di mata para ahli hadis, namun kita yakin Rasulullah SAW sangat mencintai umatnya, umat akhir zaman yang selalu rindu kepada Rasulullah SAW meskipun kita tidak pernah berjumpa dengan beliau.  Kita yakin Rasul SAW mencintai umatnya di Negeri Atas Angin yang tidak fasih berbahasa Arab, tapi selalu rindu membaca Alquran, yang tidak paham artinya, tapi selalu khusyuk bershalawat.

Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para sahabatnya tentang siapa makhluk yang paling dahsyat imannya. Sahabat menjawab, "Tentu para malaikat." Rasul SAW berkata, "Bukan, tentu saja mereka beriman karena diciptakan Allah untuk taat." Sabahat menjawab, "Tentu para rasul dan nabi." "Bukan, tentu saja mereka beriman karena mendapat wahyu sebagai utusan Allah."  Sabahat akhirnya menjawab, "Kalau begitu, kami, ya Rasulullah." Rasul SAW tersenyum, "Bukan, tentu saja kalian beriman karena berjuang bersamaku, melihat mukjizatku."  Kemudian, Rasul SAW melanjutkan, "Yang paling dahsyat imannya adalah umatku pada akhir zaman. Mereka tidak pernah berjumpa denganku, tapi mereka mencintaiku sebagaimana kalian mencintaiku, mereka membelaku sebagaimana kalian membelaku." ●