Selasa, 02 Agustus 2011

Taufiq Ismail



TAUFIQ ISMAIL

Profil

Taufiq Ismail (yang sering dikutip salah menjadi Taufik Ismail) lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 25 Juni 1935.  Ia merupakan salah seorang penyair terkenal di Indonesia.

Dilahirkan di Bukittinggi, menghabiskan masa SD dan SMP di Bukittinggi dan SMA di Pekalongan, ia tumbuh dalam keluarga guru dan wartawan yang suka membaca. Ia telah bercita-cita menjadi sastrawan sejak masih SMA. Dengan pilihan sendiri, ia menjadi dokter hewan dan ahli peternakan karena ingin memiliki bisnis peternakan guna menafkahi cita-cita kesusastraannya. Ia tamat FKHP-UI Bogor pada 1963 tapi gagal punya usaha ternak yang dulu direncanakannya di sebuah pulau di Selat Malaka.
Semasa belajar dan kuliah ia aktif sebagai aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII), Ketua Senat Mahasiswa FKHP-UI (1960-1961) dan WaKa Dewan Mahasiswa UI (1961-1962).

Di Bogor ia pernah menjadi guru di SKP Pamekar dan SMA Regina Pacis. Selain itu, ia juga mengajar di IPB. Karena menandatangani Manifesto Kebudayaan ia gagal melanjutkan studi manajemen peternakan di Florida (1964) dan dipecat sebagai dosen di Institut Pertanian Bogor. Ia menulis di berbagai media, jadi wartawan, salah seorang pendiri Horison (1966), ikut mendirikan DKJ dan jadi pimpinannya, Pj. Direktur TIM, Rektor LPKJ dan Manajer Hubungan Luar Unilever. Ia mendapatkan beasiswa AFS International Scholarship, sejak 1958 aktif di AFS Indonesia, dan menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Bina Antarbudaya yang menyelenggarakan pertukaran pelajar antarbangsa.  Selain itu, Taufiq juga terpilih menjadi anggota Board of Trustees AFSIS di New York, 1974-1976.

Taufiq sering membaca puisi di depan umum. Di luar negeri, ia telah membaca puisi di berbagai festival dan acara sastra di 24 kota Asia, Australia, Amerika, Eropa, dan Afrika sejak 1970. Baginya, puisi baru ‘memperoleh tubuh yang lengkap’ jika setelah ditulis dan dibaca di depan orang. Pada April 1993 ia membaca puisi tentang Syekh Yusuf dan Tuan Guru, para pejuang yang dibuang VOC ke Afrika Selatan tiga abad sebelumnya, di 3 tempat di Cape Town, Afrika Selatan. Pada Agustus 1994 ia membaca puisi tentang Laksamana Cheng Ho di masjid kampung kelahiran penjelajah samudra legendaris itu di Yunan, RRC, yang dibacakan juga terjemahan Mandarinnya oleh Chan Maw Yoh.

Karya Sastra Puisi

Dalam sejarah kesusastraan modern, Taufiq Ismail dikenal sebagai salah seorang tokoh Angkatan 66 yang memiliki pengaruh cukup populer dalam masyarakat. Popularitas ini tidak mungkin dapat diraih oleh Taufiq jika ia tidak memiliki karya puisi dan mempublikasikannya melalui berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik. Penyair yang mempublikasikan puisi pertamanya di majalah Bangkit pada tahun 1954 ini, sampai kini telah menghasilkan ratusan puisi.  Meski Taufiq telah menerbitkan banyak kumpulan puisi, dalam perkembangan terakhir ini hanya dua buku antologi puisi yang dikenal secara luas, yaitu Tirani dan Benteng  serta  Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

Buku kumpulan puisi Taufiq Ismail, antara lain, sebagai berikut :

2.      Tirani dan Benteng (1966)
3.      Tirani (1966)
4.      Benteng (1966)
5.      Buku Tamu Musim Perjuangan (1972)
6.      Sajak Ladang Jagung (1974)
7.      Kenalkan
8.      Saya Hewan
9.      Puisi-puisi Langit (1990)
10.  Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk (1995)
11.  Ketika Kata Ketika Warna (1995)
12.  Seulawah -Antologi Sastra Aceh

Banyak puisinya dinyanyikan Himpunan Musik Bimbo, pimpinan Samsudin Hardjakusumah, atau sebaliknya ia menulis lirik buat mereka dalam kerja sama. Iapun menulis lirik buat Chrisye, Yan Antono (dinyanyikan Ahmad Albar) dan Ucok Harahap. Menurutnya kerja sama semacam ini penting agar jangkauan publik puisi lebih luas.

Bosan dengan kecenderungan puisi Indonesia yang terlalu serius, di awal 1970-an ia menggarap humor dalam puisinya. Antologi puisinya berjudul Rendez-Vous diterbitkan di Rusia dalam terjemahan Victor Pogadaev dan dengan ilustrasi oleh Aris Aziz dari Malaysia.