Senin, 01 Januari 2018

Donald Trump dan Yerusalem

Donald Trump dan Yerusalem
Amidhan Shaberah ;  Ketua MUI (1995-2015);  Komnas HAM (2002-2007)
                                               KORAN SINDO, 21 Desember 2017



                                                           
Donald Trump terhenyak. Ia tak mengira keputusannya mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel memicu kemarahan dunia. Teman dan musuh politiknya tiba-tiba bersatu, mengecam kebijakannya yang blunderitu. Ya. Rabu (6/12) lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Israel, kata Trump, adalah negara berdaulat .

Karenanya, Israel bebas menentukan di mana ibu kotanya. Dan Amerika mendukungnya. Keputusan Trump Rabu kelabu itu langsung memicu reaksi dunia. Liga Arab mendadak mengadakan pertemuan. Hasilnya: menolak pengakuan Trump perihal ibu kota Israel Yerusalem tadi. Malah lebih jauh menyatakan bahwa Liga Arab mendukung Yerusalem sebagai ibu kota Palestina.

Organisasi Konferensi Islam (OKI), juga menyatakan hal sama. Menolak pengakuan Trump bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel. OKI minta dunia internasional mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Palestina. Tak hanya Dunia Islam dan Arab yang menentang keras keputusan Trump.

Pemimpin Gereja Katolik Dunia di Vatikan, Paus Fransiskus, mengecam keras pernyataan sepihak Washington. Paus menegaskan, Ge reja Katolik sedunia menolak bila Yerusalem jadi ibu kota negara Yahudi, Israel. Kenapa? Karena Yerusalem merupakan tempat suci bagi umat Kristen, Yahudi, dan Muslim. Kedudukan Yerusalem sekarang, kata Paus, masih status quo.

Sampai ada perundingan yang diakui kedua pihak , Israel dan Palestina. Penetapan status quo ini penting untuk memberikan ruang perundingan yang ber jalan alot dan panjang tentang kedudukan Yerusalem selama ini. Tapi, akibat keputusan sepihak Trump, status quo itu terancam gagal. B ila AS tetap meng akui Yerusalem sebagai ibu kota Israel secara sepihak , Rusia pun bisa bertindak sama .

Rusia meng akui Yerusalem sebagai ibu kota Palestina . Hal yang sama dilakukan China. Jika itu terjadi, dunia makin tegang. Dua kekuatan raksasa—masing-masing dengan sekutunya—akan berhadapan. Kekerasan, bahkan perang global, pun bisa ter jadi. Indonesia telah secara tegas menyatakan Yerusalem bukan ibu kota Israel.

Presiden Joko Widodo sebagai pemimpin negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia telah berjuang keras meng galang persatuan negara-negara Islam dan negara-negara berkembang menolak keputusan AS tersebut. Untuk mengingatkan kita se mua: Indonesia termasuk negara pertama yang mengakui kemerdekaan Palestina.

De kla rasi Negara Palestina merdeka itu berlangsung 15 November 1988 di Aljazair. Sebagai wujud dukungan kemerdekaan Pa les tina itu, pada 19 Oktober 1989 di Jakarta telah ditan datangani “K omunike Bersama Pembukaan Hubungan Diplomatik“ antara Menlu RI, Ali Alatas, dan Menlu Palestina , Farouq Kaddoumi. Saat itu diresmikan pembukaan Kedutaan Besar Ne gara Palestina di Jakarta.

Duta Besar Palestina untuk Indonesia menyerahkan Surat-Surat Kepercayaannya kepada Presiden Soehar to pada 23 A pr il 1990. Sebaliknya , Pemerintah RI menetapkan bahwa duta besar RI di Tunis merangkap sebagai dubes RI untuk Negara Palestina. Sejak 1 Juni 2004, KBRI di Yordania merangkap sebagai KBRI di Palestina.

Sejak itu, melalui berbagai for um, termasuk PBB, OKI dan GNB (Gerakan Nonblok), Indonesia secara konsisten menyuarakan dukungan terhadap perjuangan bangsa Palestina untuk memperoleh kemerdekaan dan kedaulatan penuh. Indonesia juga mendukung Palestina men jadi anggota UNESCO— Organisasi Pendidikan, Keilmuan, d an Kebudayaan PBB (31/10/2011).

Selama 2015 Indonesia telah menjadi tuan rumah dua kon ferensi besar. Dalam konferensi itu, dukungan terhadap Palestina disuarakan Indonesia. Pada KT T Asia-Afrika, April 2015, di Bandung dalam rangka memperingati 60 Tahun Konferensi A sia-Afrika (KAA) 1955, dihasilkan deklarasi khusus mengenai dukungan terhadap kedaulatan Palestina.

Ke mudian pada Inter national Conference on the Question of Jerusalem (14-15 Desember 2015) dan UN Civil Society Forum on the Question of Palestine (16 Desember 2015) di Jakarta, dukungan terhadap kemerdekaan dan kedaulatan Palestina dikukuhkan kembali. Semua ini menunjukkan Indonesia selalu mendukung eksistensi Ne gara Palestina.

Jakarta pun, secara diplomatis, selalu mengarahkan dunia internasional untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Pales tina. Usaha keras Indonesia untuk mengarahkan dunia in ter na sional mengakui Yerusalem se bagai ibu kota Palestina nyaris sia-sia jika AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Soalnya , betapa pun besar kecaman dunia terhadap Washington, sejarah menunjukkan AS sebagai negara super power tetap punya pengar uh besar, baik terhadap aliansi strategisnya (seperti Eropa Barat, Australia, dan Jepang ), maupun terhadap badan-bad an dunia lain. Ingat, AS punya hak veto di Dewan Keamanan (DK) PBB, sehingga bisa menganulir ke putusan DK PBB apa pun bentuknya.

Termasuk mengakui kemerdekaan Palestina dengan ibu kota Yer usalem. Dari perspektif inilah kita bisa menger ti munculnya aj ak an boikot produk-produk Amerika. Dr Reni Marlinawati, Ketua Fraksi PPP DPR RI, misal nya, menyerukan rakyat dan Pe merintah Indonesia memboikot produkpro duk AS. Be tul, seandainya dunia mem boikot produk-produk industri AS, negeri itu akan kelimpungan. Perekonomiannya bisa ambruk.

Tapi, mungkinkah mem boikot ekonomi AS? Inilah yang harus kita pikirkan serius. Di saat ekonomi dunia sudah “saling-kait-mengait” memang sulit mengidentifikasi mana produk Amerika murni; mana produk Amerika hasil kerja sama dengan negaranegara lain. Mes ki demikian, kalau dunia sepakat untuk memboikot produk-produk Amerika, niscaya tetap ada hasilnya.

Paling tidak, AS akan merasakan betapa buruknya keputusan Tr ump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Minggu (16/12), umat Islam melakukan demo raksasa untuk menolak keputusan Trump di lapangan Monas, Jakarta. Menariknya, tak hanya umat Islam yang ikut demo di Monas, tapi seluruh umat beragama.

Ini karena umat manusia menganggap keputusan Tr ump sebagai skandal peradaban d an kemanusiaan. Mana mungkin manusia yang menetap di tanah airnya (Palestina) selama berabadabad, tiba-tiba diusir untuk memberikan tempat kepada diaspora Yahudi yang ada di seluruh dunia. Tragisnya , negeri yang basisnya diaspora orang Yahudi itu didukung kekuatan adikuasa Amerika dan Inggris.

Mereka menganggap pemilik tanah Pa lestina yang sebenarnya adalah orang Yahudi. Akibatnya, pen du duk asli Palestina diusir. Di pe rangi. Dibunuh. Dibantai. Hak-hak hidup orang Palestina dan peradabannya dihancur kan. Itulah yang kini sedang dibela di Monas.

Seluruh rakyat Indonesia berkumpul untuk mengecam dan menolak keputusan Donald Trump yang secara terang-terangan melakukan skandal kemanusiaan dan peradaban di Palestina. Aneh memang. Di dunia yang online, di mana setiap kejadian di muka bumi bisa ditampilkan di jagat maya secara real time, masih saja ada pihak-pihak tertentu yang tanpa malu bersembunyi di balik kenyataan.

Trump salah satunya. Ketika ekonomi Amerika terpuruk. Pengangg uran melambung. Popularitas terjatuh. Tiba-tiba Trump mengumumkan Washington akan mengalihkan kedubesnya di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem. Harapannya , nama Trump terkerek. Yang terjadi seba liknya. Namanya makin jatuh. Di dalam negeri nama Trump terpuruk.

Di luar negeri, lebih pa rah. Bahkan jadi musuh bersama. Musuh manusia yang peduli kemerdekaan, perdamaian, keadilan, dan kese jahteraan. Keputusan Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel niscaya memicu gelombang protes yang sangat-sangat besar di seluruh dunia. Karena di balik keputusan itu, Trump sedang menghina sejarah dan peradaban manusia.

Dam paknya, Trump menjadi paria politik internasional. Sayangnya, Trump tak akan peduli dengan semua itu. Kecuali ia masuk pusaran kesadaran yang datang dari langit. Tapi mana mungkin Trump bisa seperti itu? ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar