Sabtu, 30 Desember 2017

Kidung Natal

Kidung Natal
Daoed Joesoef ;  Alumnus Universitas Pluridisciplinaires Pantheon-Sorbonne
                                                    KOMPAS, 23 Desember 2017



                                                           
Menjelang Natal di tahun 1818, Klerikus Joseph Mohr, berusia 22 tahun, menemukan kerusakan cukup parah dari orgel Gereja St Nicholas. Rumah ibadat ini kecil, terletak di Oberndorf, sebuah desa di dekat Salzburg, Austria.

Mohr bingung. Kalaupun montir di Salzburg sanggup mereparasi orgel, berhubung jalan bersalju, begitu dia tiba di gereja, misa Natal pasti sudah selesai. Bagi pendeta muda ini, Natalan tanpa kidung yang diiringi alunan musik pasti hambar. Apalagi dia punya talenta musik.

Mohr berasal dari keluarga melarat, tetapi tak mau pasrah begitu saja pada nasib. Dia memanfaatkan talentanya, mencari uang dengan jalan bernyanyi, bermain biola dan gitar di depan umum, serta mengadakan pertunjukan keliling. Kerja keras dan talentanya menarik perhatian seorang rohaniwan dan menganjurkan dia untuk masuk seminari.

Dia dibaptis menjadi pendeta di tahun 1815 dan ditugaskan di Oberndorf tahun 1817. Di sini dia tidak hanya memimpin kebaktian sesuai ketentuan religius. Dia menimbulkan kekaguman di kalangan kongregasinya berkat ketangkasannya bermain gitar dan kepiawaiannya beralih dari musik rakyat ke aneka himne.

Kidung bersejarah

Ketika menghadapi masalah kerusakan orgel inilah Mohr mengunci diri di kamar studinya. Menyadari bahwa kidung tradisional Natalan tidak akan baik kedengaran apabila didengungkan melalui petikan dawai gitar, dia memutuskan untuk menciptakan suatu kidung baru.

Sambil menindih secarik kertas dengan tangan memegang pena bulu ayam, dia teringat pada satu keluarga jemaatnya yang baru-baru ini dia kunjungi ketika datang memberkahi bayi mereka yang baru lahir. Kenangan mengenai ibu yang menyelimuti bayinya agar tak kedinginan membuat pikiran Mohr melayang ke kelahiran lain dua ribu tahun yang lalu, kelahiran Kristus, juru selamat manusia.

Dia mulai menulis. Pena bulu ayamnya bergerak bagai dituntun oleh tangan yang tak kelihatan. Suatu refrein yang sangat menggugah tampil di atas kertas: ”Stille Nacht, heilige Nacht”, ”malam kudus, sunyi senyap”. Dia menceritakan mukjizat Natal dalam enam stanza. Kata-katanya mengalir lancar bagai langsung dari surga.

Waktu semakin mendesak. Pantun ciptaannya sudah selesai, tetapi masih perlu disiapkan berupa kidung guna dinyanyikan dalam misa tengah malam. Mohr memutuskan mengunjungi sahabat karibnya, Franz Xaver Gruber, usia 31 tahun, seorang guru sekolah di dekat Arnsdorf dan merupakan komponis yang lebih terampil daripada dia sendiri.

Walau hampir tak ada waktu untuk latihan ala kadarnya, Mohr dan Gruber sepakat tampil bersama. Mohr memetik gitar dan bernyanyi tenor, sementara Gruber bernyanyi bas. Sesudah setiap stanza, penyanyi koor gereja akan melantunkan refrein.

Pada tengah malam, di tengah-tengah hujan salju, para anggota jemaat berdatangan. Mereka kira orgel sudah direparasi dan bisa mengiringi Kidung Natal yang sudah biasa mereka nyanyikan dari waktu ke waktu. Namun, Mohr menjelaskan bahwa orgel masih belum bisa berfungsi. Walaupun begitu, misa tengah malam tetap diadakan disertai iringan musik. Dia dan Gruber telah menyiapkan suatu Kidung Natal khusus bagi kongregasi.

Bersamaan dengan bunyi gitar, suara-suara gabungan mengisi setiap pelosok gereja. Lantunan koor gereja bergabung secara harmonis pada tiap refrein. Semua anggota jemaat yang mendengar dengan khidmat sungguh terpesona dan segera mengagumi kidung baru yang semurni dan sesegar air Pegunungan Alpen. Akhirnya Mohr beralih ke peringatan misa dan kongregasi berlutut sambil berdoa. Perayaan Natal di Gereja St Nicholas berakhir memuaskan seperti sediakala. Suatu sukses yang sungguh tak terlupakan, diucapkan dari mulut ke mulut. Mereka sepakat untuk mengatakan bahwa kidung tidak hanya baru, tetapi ini baru kidung.

Meninggal dalam sengsara

Kelompok penyanyi Tyrol yang secara teratur tampil di berbagai pentas Eropa menambahkan ”Stille Nacht, heilige Nacht” ke dalam repertoar mereka. Kidung Natal baru ini gemanya menyeberangi Lautan Atlantik dan memesona Amerika, menyeberangi Lautan Hindia dan memesona penghuni seluruh penjuru dunia. Kidung ini dinyanyikan dalam bahasa-bahasa lokal—Swahili, Jepang, Rusia, Korea, China, dan Indonesia—dengan khidmat sekaligus dengan rasa tenteram, damai, dan gembira. Beberapa penyanyi tenar pernah menyanyikannya.

Mohr tidak pernah menduga Kidung Natal yang digubahnya akan mencapai lubuk hati para insan di setiap pelosok dan penjuru dunia. Dia meninggal dalam kesengsaraan karena pneumonia pada usia 55 tahun. Ketika Herr Gruber meninggal tahun 1863, hak ciptanya masih diragukan.

Lama-kelamaan Kidung Natal sederhana ini terasa punya cukup kekuatan batin untuk mampu menciptakan kedamaian sejati. Ketika berlaku gencatan senjata dalam Perang Dunia I, para serdadu Jerman di parit-parit pertanahan mereka mulai menyanyikan ”Stille Nacht”, segera dijawab oleh para serdadu Inggris dengan lagu ”Silent Night” dari parit pertahanan mereka. Kata berjawab, gayung bersambut. Anggota setiap pihak kemudian bermunculan di permukaan medan dengan melambaikan tangan masing-masing.

Selama perang serupa, di kamp tawanan Siberia, ketika serdadu Jerman, Austria, dan Hongaria melantunkan koor ”Silent Night”, komandan Rusia mengatakan kepada para tawanan dengan bahasa Jerman seadanya bahwa ”… Malam ini, untuk pertama kalinya selama lebih dari setahun, saya mampu melupakan bahwa Anda dan saya dianggap bermusuhan….”

Ketika Cekoslowakia dikuasai oleh Nazi-Jerman tahun 1941, seorang perwira Jerman yang mengunjungi rumah anak yatim piatu bertanya apakah ada di antara mereka yang mampu menyanyikan ”Stille Nacht”. Dua anak maju dengan ragu-ragu, sebab di negeri ini yang berbahasa Jerman biasanya orang Yahudi. Melihat keraguan itu, sang perwira berkata lembut, ”Jangan takut, bernyanyilah!”

Menjelang Natal di masa Perang Korea, seorang serdadu jaga Amerika mendengar langkah dari daerah musuh yang semakin mendekat. Dengan jari siap menembak, dia lihat sekelompok orang Korea muncul dari kegelapan malam sambil tersenyum. Selagi serdadu Amerika itu terbengong-bengong menyaksikan sikap musuhnya itu, mereka bernyanyi ”Silent Night” dalam bahasa Korea, khusus untuk dia, seorang Amerika. Sesudah itu mereka mundur kembali, menyatu dengan kegelapan.

Suasana syahdu berkat sinergi kekuatan syair dan melodi Kidung Natal rupanya meresapi lubuk hati mereka, tak beda dengan suasana lubuk kalbu insan di seluruh dunia ketika seorang pendeta dan guru sekolah melantunkan Kidung Natal untuk pertama kalinya, 193 tahun lalu.

Malam kudus, sunyi senyap… Selamat Natal dan Tahun Baru…. ●

(Bahan tulisan ini diperoleh dari berbagai sumber otentik, di antaranya Per Ola dan Emily d’Aulaire)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar